Rista Aldilla Syafri, S.E., M.M.
Dr. Idham Khalik, SE., M.M.
TATA KELOLA
MANAJEMEN BISNIS
INDUSTRI KECIL MENENGAH
Penulis: Dr. Dahmiri, S.E., M.M., Rista Aldilla Syafri, S.E., M.M., dan Dr. Idham Khalik, SE., M.M.
Editor: Nia Duniawati Desain Cover: Nurul Musyafak
Layouter: Fitri Diterbitkan oleh Penerbit Adab
CV. Adanu Abimata Anggota IKAPI: 354/JBA/2020
Jl. Kristal Blok H2 Pabean Udik Indramayu Jawa Barat Kode Pos 45219 Telp: 081221151025
Surel: [email protected] Web: https://Penerbitadab.id
Referensi | Non Fiksi | R/D viii + 96 hlm.; 14,5 x 21 cm No. ISBN: 978-623-497-253-5 Cetakan Pertama, Januari 2023
Hak Cipta dilindungi undang-undang.
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, secara elektronis maupun mekanis termasuk fotokopi, merekam, atau dengan teknik perekaman lainya tanpa izin tertulis dari penerbit.
All right reserved
D
engan mengucapkan syukur Alhamdulilah atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah- Nya sehingga buku ini dapat diselesaikan dengan baik.Buku ini bertujuan sebagai rujukan bagi kalangan akade- misi dan masyarakat umum terutama pelaku usaha industri kecil menengah, sehingga pada akhirnya akan meningkatkan kinerja usaha yang ditekuni.
Penulis sangat menyadari bahwa buku ini masih banyak kekurangan dan kelemahan, oleh karena itu penulis sangat ber- harap masukan dan kritik demi kesempurnaan buku ini. Semoga buku ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Aamiin.
Jambi, Januari 2023 Penulis
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR GAMBAR ... vii
DAFTAR TABEL ... viii
BAB I MANAJEMEN BISNIS INDUSTRI KECIL MENENGAH ... 1
BAB II TATA KELOLA MANAJEMEN BISNIS ... 5
A. Tata Kelola ... 6
B. Manajemen ... 9
C. Bisnis ... 17
D. Industri Kecil Menengah ... 20
E. Kinerja Usaha ... 27
F. Studi Pendahuluan ... 33
G. State of The Art ... 36
BAB III DESAIN PENGELOLAAN MANAJEMEN BISNIS INDUSTRI KECIL MENENGAH ... 39
A. Desain Studi Kasus ... 40
B. Metode Pengumpulan Data ... 42
C. Metode Analisis Data ... 42
D. Indikator Capaian ... 50
BAB IV SELUK-BELUK PROVINSI JAMBI... 53
A. Sejarah Provinsi Jambi... 54
B. Geografis ... 55
C. Demografi ... 57
D. UMKM dan IKM di Provinsi Jambi ... 58
BAB V HASIL BISNIS INDUSTRI KECIL MENENGAH ... 63
A. Karakteristik Responden ... 64
B. Analisis Data ... 65
C. Pembahasan ... 78
BAB VI PENUTUP ... 85
DAFTAR PUSTAKA ... 87
PROFIL PENULIS ... 93
Gambar 1. Matrik SWOT ... 49 Gambar 5.1. Diagram SWOT ... 77
Tabel 2.1. Riset Terdahulu Tentang Kinerja Usaha ... 34
Tabel 3.1. Ukuran Populasi dan Sampel ... 41
Tabel 4.1: Kontribusi Industri Sektor Kerajinan, mode dan Kuliner terhadap Pertumbuhan PDB dan Penyerapan Tenaga Kerja di Provinsi Jambi ... 62
Tabel 5.1: Data Responden ... 64
Tabel 5.2. Hasil Uji Validitas ... 66
Tabel 5.3. Pengujian Reliability ... 67
Tabel 5.4. Uji Secara Simultan ... 70
Tabel 5.5. Uji Secara Parsial ... 71
Tabel 5.6. Uji Koefisien determinasi ... 73
Tabel 5.7. Kekuatan dan Kelemahan IKM ... 75
Tabel 5.8. Peluang dan Ancaman pada IKM ... 76
Tabel 5.9. Faktor Internal dan Faktor Eksternal ... 78
MANAJEMEN
BISNIS INDUSTRI
KECIL MENENGAH
U
saha Kecil dan Menengah di Indonesia memegang peran yang sangat strategis, hal ini terlihat dari produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang terus meningkat setiap tahun dari kontri busi UKM. Berdasarkan hasil survei dan perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi UKM terhadap PDB pada Tahun 2017 tercatat sebesar 61,41 dengan jumlah UKM telah men capai 60 juta unit.Peran usaha kecil dan menengah dalam menopang dan me ningkatkan perekonomian suatu negara sangat besar, baik negara maju maupun negara berkembang. Kehadiran UKM sangat penting karena kelompok usaha tersebut merupakan ke lom pok yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga pada sisi lain kontribusinya terhadap pembentukan atau per tum buhan produk domestik bruto (PDB) adalah yang paling besar jika diban dingkan dengan kontribusi dari usaha-usaha besar.
Landasan dalam kebijakan pemerintah untuk mendorong usaha kecil dan menengah adalah Undang-Undang No 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Seperti disebutkan di dalam usaha ini perlu diselenggarakan secara menyeluruh, optimal, dan berkesinambungan melalui pe ngem- bangan iklim yang kondusif, pemberian kesempatan ber usaha, dukungan, perlindungan, dan pengembangan usaha seluas- luasnya. UKM diharapkan mampu meningkatkan kedu dukan, peran, dan potensinya seperti yang disumbangkan oleh usaha besar dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi, pemerataan dan peningkatan pendapatan rakyat, penciptaan lapangan kerja, dan pengentasan kemiskinan.
UKM termasuk Industri Kecil dan Menengah (IKM) kreatif pada kenyataannya sebagian besar sangat sulit berkembang, mereka kebanyakan hanya mampu bertahan. Sudah banyak upaya yang telah dilakukan oleh berbagai pihak termasuk pe- me rintah dalam upaya mendorong perekonomian masya rakat kearah yang lebih baik. Persoalan yang dihadapi bukanlah semata-mata persoalan dana meskipun dana tetap diperlukan oleh IKM kreatif. Faktor-faktor lain seperti pengelolaan kelem- banggan, input, proses, dan kualitas output yang relatif rendah diduga merupakan faktor-faktor penyebabnya. Oleh karena itu, agar IKM bisa optimal maka harus diupayakan penge lolaan yang baik sehingga pada akhirnya dapat ber dampak terhadap peningkatan kinerja usaha dan daya saing.
Riset yang telah dilakukan terkait tata kelola pemerintah dan perusahaan telah banyak dilakukan (Mulbert, 2010;
Crowther dan Seifi, 2010; Maman, Merita dan Mery, 2006), akan tetapi riset ini adalah yang pertama yang mengkaji mengenai tata kelola peningkatan kinerja usaha pada IKM di Provinsi Jambi dari segi pengelolaan keuangan, sumber daya manusia, operasional dan pemasaran.
Adanya wabah Covid 19 sangat berdampak pada perkem- bangan hampir pada semua jenis IKM baik secara global mau- pun secara nasional. Hasil survey pendahuluan menemukan bahwa penurunan kinerja dan kesulitan perkembangan IKM mencakup aspek keuangan, SDM, operasional dan pemasaran.
Urgensi riset ini adalah dalam upaya mencari solusi dengan mengkaji tata kelola aspek keuangan, SDM, operasional dan
pemasaran IKM sehingga akan meningkatkan kinerja di masa pandemi dan pasca pandemi covid 19. Hasil riset juga akan menjadi pedoman atau rujukan bagi IKM dan pihak lain yang terkait dalam peningkatan kinerja IKM di Provinsi Jambi dalam masa pandemic dan pasca pandemic covid-19 pada aspek keuangan, SDM, operasional dan pemasaran.
BAB II
TATA KELOLA MANAJEMEN
BISNIS
A. Tata Kelola
Organisation for Economic Co-operation and Development Staff. (1999) mendefinisikan tata kelola (corporate governance) sebagai berikut: “Corporate governance is the system by which business corporations are directed and controlled. The corporate governance structure specifies the distribution of rights and responsibilities among different participants in the corporation, such as the board, the managers, shareholder and otherstakeholders, and spells out the rules and procedure for making decisions and corporate affairs. By doing this, it also provides the structure through which the company objectives are sets and the means of attaining those objectives and monitoring performance”
Sesuai dengan definisi di atas, tata kelola adalah sistem yang dipergunakan untuk mengarahkan dan mengendalikan ke giatan bisnis perusahaan. Tata kelola mengatur pembagian tugas, hak, dan kewajiban pihak-pihak dalam organisasi terhadap kehidupan perusahaan, termasuk para pemegang saham, dewan pengurus, para manajer dan semua anggota stakeholders non-pemegang saham. Pembagian tugas, hak, dan kewajiban juga berfungsi sebagai pedoman pengevaluasian kinerja Board of Directors dan manajemen perusahaan.
Governance kerap diterjemahkan sebagai pengaturan.
Adapun dalam konteks GCG, governance disebut tata kelola perusahaan. Effendi, M. A., & Tirtajaya, V. S. (2022) mendefinisikan tata kelola (governance) sebagai suatu sistem pengendalian internal perusahaan yang memiliki tujuan utama mengelola resiko yang signifikan guna memenuhi tujuan bisnisnya melalui pengamanan asset perusahaan dan meningkatkan nilai
investasi pemegang saham dalam jangka panjang. Lembaga Corporate Governance di Malaysia, yaitu Finance Commitee on Corporate Governance (GCCG) mendefinisikan corporate gover nance sebagai proses dan sruktur yang digunakan untuk mengarahkan dan mengelola bisnis serta aktivitas perusahaan ke arah peningkatan pertumbuhan bisnis dan akuntabilitas perusahaan (Muh Arief Effendi, 2022).
Penerapan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik merupakan landasan bagi terbentuknya sistem, struktur dan budaya perusahaan yang fleksibel serta adaptif atas perubahan ling kungan bisnis yang kompetitif serta mampu membangun sistem pengendalian internal dan manajemen risiko yang handal. prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik sesuai dengan PER-01/MBU/2011 tanggal 01 Agustus 2011 tentang pene rapan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) meliputi:
1. Transparansi (transparency), yaitu menerapkan prinsip trans paransi dengan menyediakan sarana komunikasi yang efektif dan responsif dalam memperoleh informasi mengenai perusahaan, kepentingan mampu memahami kinerja dan tindakan Perusahaan.
2. Akuntabilitas (accountability), yaitu menerapkan prinsip akun tabilitas dengan mengoptimalkan kinerja dan peran setiap individu Perusahaan sehingga seluruh aksi dan kegiatan Perusahaan berjalan dengan efektif dan efisien.
Akuntabilitas merupakan prasyarat yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan.
3. Pertanggung jawaban (responsibility), yaitu menerapkan prinsip pertanggungjawaban dengan bertanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan terkait, mematuhi peraturan yang berlaku, serta menghindari segala transaksi yang dapat merugikan pihak ketiga maupun pihak lain di luar ketentuan yang telah disepakati.
4. Kemandirian (independency), yaitu menerapkan prinsip independensi dengan mengelola peran dan fungsi yang dimiliki secara mandiri tanpa ada tekanan dari pihak mana pun yang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku dan prinsip serta tata nilai perusahaan.
5. Kewajaran (fairness), yaitu menerapkan prinsip kesetaraan dengan memperhatikan hak setiap pemangku kepentingan se cara adil sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.Perusahaan menerapkan prinsip kewajaran de ngan memenuhi hak setiap Pemangku Kepentingan dengan tetap memperhatikan kaidah dan peraturan perusahaan.
Tujuan utama dari pengelolaan perusahaan yang baik adalah untuk memberikan perlindungan yang memadai dan mem perlakukan pihak yang berkepentingan lainnya secara adil (Suprayitno, et al., 2005). Pedoman umum GCG dari KNKG menyatakan GCG diperlukan dalam rangka:
a. Mendorong tercapainya kesinambungan perusahaan melalui pengelolaan yang didasarkan pada prinsip transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, serta kesetaraan dan kewajaran,
b. Mendorong pemberdayaan fungsi dan kemandirian masing–masing organisasi perusahaan, yaitu Dewan Komisaris, Direksi, dan Rapat Umum Pemegang Saham, c. Mendorong pemegang saham, anggota dewan komisaris,
dan anggota direksi agar dalam membuat keputusan dan menjalankan tindakannya dilandasi oleh nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan perundang- undangan,
d. Mendorong timbulnya kesadaran dan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat dan kelestarian ling kungan terutama di sekitar perusahaan,
e. Mengoptimalkan nilai perusahaan bagi pemegang saham dengan tetap memperhatikan pemangku kepentingan lainnya,
f. Meningkatkan daya saing perusahaan secara nasional maupun internasional, sehingga meningkatkan kepercayaan pasar yang dapat mendorong arus investasi dan per tum- buhan ekonomi nasional yang berkesinambungan.
B. Manajemen
Manajemen secara bahasa (etimologi) berasal dari kata kerja “to manage’’ yang berarti mengurus, mengatur, mengemu- di kan, mengendalikan, menangani, mengelola, menyeleng- ga rakan, menjalankan, melaksanakan dan memimpin. Kata
“management” berasal dari bahasa latin “mano” yang berarti ta ngan, kemudian menjadi “manus” yang berarti bekerja berkali-kali. Sedangkan menurut istilah (terminologi) terdapat banyak pendapat mengenai pengertian manajemen. Berikut
ini disebutkan beberapa pendapat tokoh-tokoh dalam men- definisikan arti manajemen diantaranya:
Management is the coordination of aal resources through, the processes of planning, organizing, directing, and controlling in order to attainstated objectives, artinya manajemen adalah peroses pengkoordinasian seluruh sumber daya melalui peren- ca naan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian un- tuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Henry L. Sisk., 1969).
Menurut George R. Terry, manajemen adalah suatu proses khas yang terdiri atas tindakan-tindakan perencanaan, pengor- ganisasian, penggerakan, dan pengendalian untuk menentukan serta mencapai tujuan melalui pemanfaatan SDM dan sumber daya lainnya (Anton Athoillah (2010).
Menurut pendapat lain manajemen adalah melakukan suatu pekerjaan melalui orang lain. Definisi tersebut terlihat masih belum lengkap, karena manajemen adalah sebagai peng- gerak dalam organisasi untuk mencapai tujuan. Di samping itu, perlu juga dijelaskan bagaimana orang-orang lain itu mencapai tujuan melalui kerjasama. Jadi, manajemen adalah proses pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan dan kerjasama yang dilakukan oleh banyak orang. Sedangkan menurut Terry, manajemen adalah proses, yakni aktivitas yang terdiri dari empat sub aktivitas yang masing-masing merupakan fungsi fundamental. Keempat sub aktivitas itu yang dalam dunia ma naje men sebagai P.O.A.C. adalah Planning, Organizing, Actuating dan Controling. (Daryanto., 2013).
Dalam suatu manajemen terdapat beberapa tujuan sebagai berikut:
a. Melaksanakan dan mengevaluasi strategi yang dipilih secara efektif dan efisien dan efisien.
b. Mengevaluasi kinerja, meninjau, dan mengkaji ulang situasi serta melakukan berbagai penyesuaian dan koreksi jika terdapat penyimpangan di dalam pelaksanaan strategi.
c. Senantiasa memperbaharui strategi yang kita rumuskan agar sesuai dengan perkembangan lingkungan eksternal.
d. Senantiasa meninjau kembali kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman peluang yang ada.
e. Senantiasa melakukan inovasi atas kegiatan sehingga kita hidup kita lebih teratur (Novan Ardi Wiyani., 2012).
Adapun fungsi-fungsi manajemen menurut para ahli dapat dirangkum antara lain:
a) Perencanaan (Plainning)
Perencanaan adalah proses penyusunan dan penetapan tujuan dan bagaimana menempuhnya atau proses iden- tifikasi ke mana anda akan menuju dan bagaimana cara anda menem puh tujuan tersebut. Tujuan (objective) adalah hasil-hasil spesifik yang seorang akan capai. Selain
“objective” istilah lain yang bisa dipakai adalah “goal” (Azhar Arsyad., 2003). Selain itu, peren canaan merupakan tindakan memilih dan menetapkan segala aktivitas dan sumber daya yang akan dilaksanakan dan digu nakan dimasa yang akan datang untuk mencapai tujuan ter tentu (http://
blogku10061987). Manajer yang baik biasanya se lalu membuat perencanaan untuk maksud-maksud dibawah ini:
1. Plan for stability yaitu membuat perencanaan agar keberhasilan yang diraih selama ini dapat diperta han- kan dalam kondisi stabil misalnya.
2. Plan for adaptability yaitu anda membuat perencanaan agar dengan mudah anda bereaksi (menyesuaikan diri) terhadap munculnya perubahan-perubahan yang seringterjadi dalam kondisi lingkungan yang dinamis dan tidakmenentu.
3. Plan for contingency yaitu manakala anda membuat pe ren canaan dengan mengantisipasi hal-hal yang mung kin terjadi pada masa yang akan datang.
b) Pengorganisasian (Organizing)
Pengorganisasian adalah memilih tugas-tugas apa saja yang harus dikerjakan, siapa yang mengerjakannya, bagai mana tugas-tugas tersebut dikelompokkan, siapa yang melapor kepada siapa dan kapan serta dimana putusan- putusan harus dibuat (Azhar Arsyad. (2003). Pengor- ganisasian berarti seorang manajer mengoordinasikan sum berdaya manusia serta sumberdaya bahan yang dimiliki organisasi bersangkutan agar pekerjaan rapi dan lancar.
Jelasnya makin terpadu dan terkoordinasi tugas-tugas sebuah organisasi, akan semakin efektiflah organisasi itu.
c) Penyusunan (Staffing)
Seperti fungsi-fungsi manajemen lainnya, staffing juga merupakan fungsi yang tidak kalah pentingnya. Tetapi agak berbeda dengan fungsi lainnya, penekanan dari fungsi ini lebih difokuskan pada sumber daya yang akan
melakukan kegiatan-kegiatan yang telah direncanakan dan diorganisasikan secara jelas pada fungsi perencanaan dan peng organisasian. Aktifitas yang dilakukan dalam fungsi ini, antara lain menentukan, memilih, mengangkat, membina, mem bimbing, sumber daya manusia dengan menggunakan berbagai pendekatan dan atau seni pembinaan sumber daya manusia.
d) Pengarahan (Directing)
Pengarahan adalah penjelasan, petunjuk, serta pertim- bangan dan bimbingan terhadap para petugas yang terlibat, baik secara struktural maupun fungsional agar pelak sanaan tugas dapat berjalan dengan lancar. Proses peng arahan diberikan kepada staff yang telah diangkat dan diper cayakan melaksanakan tugas dibidangnya masing- masing agar tidak menyimpang dari garis program yang telah ditentukan.
e) Koordinasi (Coordinating)
Koordinasi adalah mengimbangi dan menggerakkan tim dengan memberikan lokasi kegiatan pekerjaan yang cocok dengan masing-masing dan menjaga agar kegiatan itu dilaksanakan dengan keselarasan yang semestinya diantara para anggota itu sendiri. Koordinasi itu mengajak semua sumber daya manusia yang tersedia untuk bekerja- sama menuju ke satu arah yang telah ditentukan.
f) Pelaporan (Reporting)
Pelaporan dimaksudkan sebagai fungsi yang berkaitan dengan pemberian informasi kepada manajer, sehingga yang bersangkutan dapat mengikuti perkembangan dan ke majuan kerja. Jalur pelaporan dapat bersifat vertikal, tetapi dapat juga bersifat horizontal. Pentingnya pela- poran terlihat dalam kaitannya dengan konsep sistem infor masi manajemen, yang merupakan hal penting dalam pembuatan keputusan oleh manajer. Fungsi ini umumnya lebih banyak ditangani oleh bagian ketatausahaan. Hasil catatan ini akan digunakan oleh manajer untuk membuat laporan tentang apa telah, sedang dan akan dilakukan dalam upaya pencapaian tujuan. Fungsi recording dan reporting ini akan berhasil jika tata kearsipan dikelola secara efektif dan efisien.
g) Pembuatan Anggaran (Budgeting)
Penganggaran adalah fungsi yang berkenaan dengan pengendalian organisasi melalui perencanaan fiskal dan akuntansi. Sesuatu anggaran menunjukkan dua hal: per- tama sebagai satu pernyataan fiskal dan kedua sebagai suatu mekanisme (http://blogku10061987).
h) Pengawasan dan Pengendalian (Controlling)
Merupakan suatu aktivitas menilai kinerja berdasarkan standar yang telah dibuat untuk kemudian dibuat perubahan atau perbaikan jika diperlukan. Pengendalian berarti bahwa manajer berusaha untuk menjamin bahwa organisasi bergerak kearah tujuannya. Apabila ada bagian
tertentu dan organisasi itu berada pada jalan yang salah atau terjadi penyimpangan, maka manajer berusaha me- ne mukan penyebabnya kemudian memperbaiki atau melu- ruskan kejalan yang benar (Usman Effendi, 2014).
Pendapat lain terkait fungsi manajemen sebagaimana dike- mukakan oleh Siswanto (2006), ada lima fungsi utama dalam manajemen yaitu:
1. Perencanaan (planning) yaitu proses dan rangkaian ke- giatan untuk menetapkan tujuan terlebih dahulu pada suatu jangka waktu/periode tertentu serta tahapan/
langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut. Aktivitas perencanaan dilakukan untuk mene tapkan sejumlah pekerjaan yang harus dilaksanakan kemudian. Setiap pengelola dituntut terlebih dahulu agar mereka membuat rencana tentang aktivitas yang harus dilaku kan. Perencanaan tersebut merupakan aktivitas untuk memilih dan menghubungkan fakta serta aktivitas mem- buat dan menggunakan dugaan mengenai masa yang akan datang dalam hal merumuskan aktivitas yang direncanakan.
2. Pengorganisasian (Organizing) yaitu suatu proses dan rangkaian kegiatan dalam pembagian kerja yang direncana- kan untuk diselesaikan oleh anggota kelompok pekerjaan, pe nentuan hubungan pekerjaan yang baik diantara mereka, serta pemberian lingkungan dan fasilitas pekerjaan yang kondusif.
3. Pengarahan (directing) yaitu suatu rangkaian kegiatan yang memberikan petunjuk atau instruksi dari seorang atasan
kepada bawahan atau kepada orang yang diorganisasikan dalam kelompok formal dan untuk pencapaian tujuan bersama. Agar organisasi selalu dinamis, direktur haruslah mem berikan perintah dan saran kepada bawahan yang sudah ditempatkan pada posisi sesuai dengan kemam- puannya. Perintah dan saran yang diberikan oleh direktur kepada bawahan tersebut harusjelas dan realistis. Karena kesamaan perintah dan saran yang diberikan oleh manajer kepada bawahan akan memberikan dampak negatif dalam pelaksanaannya, Salah utunya adalah bawahan ragu melaksanakan kerja sehingga penyelesaian pekerjaan akan mengalami keterlambatan.
4. Pemotivasian (motivating) yaitu suatu proses dan rangkaian kegiatan yang dilakukanoleh seorang atasan dalam mem- berikan inspiransi, semangat, dan kegairahan kerja serta dorongan kepada bawahan untuk dapat melakukan suatu kegiatan yang semestinya. Direktur haruslah menyadari bahwa motivasi yang mendorong bawahan untuk mau bekerja dengan giat dan konsekuen berbeda antara individu yang satu dengan individu yang lainnya. Perbedaan tersebut diakibatkan oleh adanya perbedaan motif, tujuan, dan kebutuhan dari masing-masing individu untuk bekerja, juga karena perbedaan waktu dan tempat.
5. Pengendalian (controlling) yaitu suatu proses dan rangkaian kegiatan untuk mengusahakan agar suatu pekerjaan dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan dan tahapan yang harus dilalui. Dengan demikian, apabila ada kegiatan yang tidak sesuai dengan rencana dan tahapan tersebut, diadakan suatu tindakan
perbaikan. Pengendalian pelaksanaan pekerjaan yang diberikan kepada bawahan tidaklah dimaksudkan untuk mencari kesalahan bawahan semata-mata. Akan tetapi, hal itu dilakukan untuk membimbing bawahan agar peker jaan yang dikerjakan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, aktivitas pengendalian dimak sudkan untuk mencari penyimpangan sehingga tindakan perbaikan dapat dilakukan ke arah rencana yang telah ditetapkan. Aktivitas ini berarti bahwa dalam meng- operasikan fungsinya, direktur berusaha membimbing bawahan ke arah terealisasinya tujuan organisasi.
C. Bisnis
Pengertian bisnis secara umum dalam ekonomi yaitu bisnis adalah suatu organisasi yang menjual barang atau jasa kepada konsumen atau bisnis lainnya, untuk mendapatkan laba (Ibrahim Jones dan Sewu Lindawaty, 2007). Secara histori kata bisnis berasal dari bahasa Inggris business, dari kata dasar yang berarti “sibuk” dalam konteks individu, komunitas maupun masyarakat. Dalam keuntungan. Secara etimologi, bisnis berarti keadaan dimana seseorang atau sekelompok orang sibuk melakukan pekerjaan yang menghasilkan keuntungan. Kata
“bisnis” sendiri memiliki tiga penggunaan yang tergantung skupnya. Penggunaan kata bisnis dapat merujuk pada badan usaha yaitu kesatuan yuridis (hukum), teknis, ekonomis yang bertujuan mencari laba. Penggunaan yang lebih luas dapat merujuk pada sektor pasar tertentu, misalnya “bisnis pertelevisian”. Penggunaan yang paling luas merujuk pada
seluruh aktivitas yang dilakukan oleh komunitas penyedia barang dan jasa.
Bisnis adalah suatu bentuk aktivitas yang utamanya bertu- juan untuk memperoleh keuntungan bagi yang mengusahakan atau yang berkepentingan dalam terjadinya aktivitas tersebut.
Skinner (1992) mendefinisikan bisnis sebagai pertukaran barang atau jasa yang saling menguntungkan atau memberi manfaat (Madnasir, 2007). Bisnis adalah sebuah aktivitas yang mengarah pada peningkatan nilai tambah melalui proses penyerahan jasa, perdagangan atau pengolahan barang (produksi) (Muhammad dan Alimin, 2004). Sedangkan menurut arti dasarnya, bisnis me- miliki makna sebagai the buying and selling of goods and service.
Menurut J.S. Nimpoena (1985), pengertian bisnis dapat dibedakan dalam pengertian yang sempit dan pengertian yang luas. Jika kita berorientasi pada pengertian sempit maka bisnis tidak lain dari fiksi. Sedangkan dalam arti yang luas, bisnis merupakan usaha yang terkait erat dengan dunia ekonomi dan juga politik. Hal ini di sebabkan dunia ekonomi dan dunia politik pada dasarnya merupakan suatu hubungan yang saling tergantung, dan yang turut mencerminkan efektivitas suatu masyarakat dalam gerak usahanya. Bisnis juga dapat diarti kan sebagai seluruh kegiatan yang diorganisasikan oleh orang-orang yang berkecimpung di dalam bidang perniagaan dan industri yang menyediakan barang dan jasa untuk mem- pertahankan dan memperbaiki standar serta kualitas hidup masyarakat (Sutarno (2012).
Menurut pendapat A.Kadir (2013), bentuk ekonomi dari suatu bisnis terdiri dari:
1. Bisnis horizontal (horizontal business), suatu bisnis yang mengfokuskan diri pada aktivitas tunggal, misalnya pro- duksi roti;
2. Bisnis vertikal (vertical business), suatu bisnis yang meng ga- bungkan dua atau lebih aktivitas yang berhubungan se cara vertikal, misalnya pembuatan gandum dan roti;
3. Bisnis konglomerat atau bisnis terdiversifikasi (conglomerate atau diversified business), suatu bisnis yang menggabungkan sejumlah aktivitas produksi yang tidak berhubungan, misalnya produksipembuatan roti dan jasa keuangan.
Sumber daya ekonomi yang dikelola secara efektif dan efisisen dengan berbagai aktivitas bisnis bertujuan, yaitu:
1. Menciptakan dan pengadaan barang atau jasa yang dibutuhkan oleh manusia, baik individu, komunitas maupun masyarakat.
2. Mendapatkan pendapatan yang di inginkan lebih besar daripada biaya atau ongkos yang telah dikeluarkan oleh pengelola bisnis.
3. Menciptakan nilai tambah bagi pengelola bisnis dan masyarakat.
4. Menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat.
5. Meningkatkan kesejahteraan bagi seluruh pihak-pihak yang terlibat(pemilik, pejerja dan lain-lain) (Madnasir dan Khoiruddin, 2012).
Secara umum tujuan dari bisnis yang disebut di atas adalah menyediakan produk berupa barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan konsumen serta memperoleh keuntungan dari aktivitas yang dilakukan.
D. Industri Kecil Menengah
Badan Pusat Statistik (BPS, 2021), mendefinisikan Industri Kecil dan Menengah (IKM) sebagain berikut:
1) Industri kecil, yaitu suatu kegiatan ekonomi yang melakukan kegiatan mengubah barang dasar menjadi barang jadi/
setengah jadidan atau barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebihtinggi nilainya, yang memiliki tenaga kerja sebanyak 5-19 orang.
2) Industri menengah, yaitu suatu kegiatan ekonomi yang melakukan kegiatan mengubah barang dasar menjadi barangjadi/setengah jadi dan atau barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya, yang memiliki jumlah tenaga kerja sebanyak 20-99 orang.
Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Desperindag) mendefinisikan Industri Kecil dan Menengah (IKM) sebagai berikut (Elabe Pinti., 2013):
1) Industri kecil, adalah suatu kegiatan ekonomi yang meng- olah bahan mentah, bahan setengah jadi dan atau barang jadi menjadi barang lebih tinggi untuk penggunaannya dan memiliki nilai investasi antara Rp. 5.000.000,-(lima juta rupiah) sampai Rp. 200.000.000,-tidak termasuk tanah dan bangunan usaha.
2) Industri menengah, adalah suatu kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan setengah jadi dan atau barang jadi menjadi barang lebih tinggi untuk peng gu naannya yang memiliki investasi antara Rp.
200.000.000,-sampai 10 milyar, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
Dalam pengertiannya, UKM adalah jenis usaha yang bertujuan untuk menjual kembali barang yang diproduksi oleh IKM, seperti misalnya toko kelontong, hingga warung-warung di sekitar rumah kita. Namun bidang usaha UKM tak berhenti sampai di situ saja. Ada juga UKM yang usahanya berkutat pada jasa, seperti jasa servis elektronik, jasa laundry, dan masih banyak lagi lainnya.
Sementara itu IKM adalah sebuah usaha yang memproduksi berbagai jenis produk yang diperlukan oleh berbagai jenis makhluk hidup seperti manusia, binatang, dan tumbuhan. Jika aktivitas yang dijalankan oleh sebuah perusahaan meliputi produksi dan pemasaran sekaligus maka perusahaan tersebut bisa dikategorikan sebagai IKM dan UKM sekaligus (https://
biztech.proxsisgroup.com/industri-kecil-menengah/).
Perbedaan UKM dan IKM
Selain memiliki perbedaan dalam aspek usaha yang dijalankan, perbedaan UKM dan IKM juga terdapat dalam se- jum lah aspek lainnya. Berikut ini beberapa perbedaan UKM dan IKM dari aspek aset dan penghasilan atau omzet menurut Undang-undang Nomor 3 Tahun 2014 dan Permenperin 64/M-IND/PER/7/2016:
a. Dilihat dari nilai asetnya, usaha kecil memiliki aset dengan nilai Rp50 juta sampai dengan Rp500 juta. Dari segi omzet, sebuah perusahaan dikategorikan usaha kecil jika memiliki penghasilan Rp 300 juta hingga Rp 2 miliar.
b. Menurut undang-undang, sebuah bisnis masuk kategori usaha menengah jika memiliki aset dengan nilai Rp500 juta hingga Rp10 miliar. Untuk aspek omzet, usaha menengah
memiliki penghasilan mulai dari Rp2 miliar hingga Rp50 miliar.
Berdasarkan Peraturan Menteri No. 64/M-IND/PER 7/2016, aturan mengenai kegiatan industri dijabarkan sebagai berikut:
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1. Industri adalah seluruh bentuk kegiatan ekonomi yang meng olah bahan baku dan/atau memanfaatkan sumber daya industri sehingga menghasilkan barang yang mem- punyai nilai tambah atau manfaat lebih tinggi, termasuk jasa industri.
2. Tenaga Kerja adalah tenaga kerja tetap yang menerima atau memperoleh penghasilan dalam jumlah tertentu secara teratur.
3. Nilai investasi adalah nilai tanah, bangunan, mesin, pera- latan, sarana dan prasarana, tidak termasuk modal kerja yang digunakan untuk melakukan kegiatan Industri.
Sementara kegiatan usaha Industri meliputi industri kecil, industri menengah, dan industri besar, yang ditetapkan berdasarkan jumlah Tenaga Kerja dan/atau Nilai Investasi.
Kegiatan IKM
Dalam prakteknya untuk mendukung aktivitas IKM tentu diperlukan beberapa langkah yang perlu agar Industri Kecil Menengah ini juga bisa bersaing dan berkembang dengan baik.
Strategi yang dapat dilakukan diantaranya:
• Memanfaatkan Teknologi, Inovasi dan Kreativitas Kreativitas yang mendukung adanya penemuan-penemuan sederhana dan pemanfaatan teknologi untuk menciptakan produk baru sangat diperlukan dalam ranah Industri Kecil Menengah yang memiliki modal dan tenaga kerja terbatas.
Dengan cara ini, IKM mampu menghasilkan produk dengan biaya relatif rendah namun memiliki kualitas yang memadai.
• Melakukan Penyerapan Tenaga Kerja
IKM memiliki potensi padat karya yang cukup besar, maka dari itu kegiatan produksi dalam industri ini dapat menjadi sarana penyerapan tenaga kerja dalam waktu yang relatif singkat dan membuka lapangan kerja dalam bidang yang lebih luas.
• Memanfaatan Potensi Bahan Baku Lokal
Indonesia memiliki beragam sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku. Sebagian sumber daya alam efektif jika dimanfaatkan dalam skala usaha tertentu. Dengan memanfaatkan beragam bahan baku yang potensial, IKM dapat berperan signifikan dalam mem- berikan nilai tambah ketika memanfaatkan bahan-bahan tersebut.
Sebagai pelaku IKM dan UKM, pastikan untuk selalu disiplin dalam mengelola pajak. Online Pajak sebagai mitra resmi DJP memberikan kemudahan pelaku Usaha Kecil dan Menengah dalam pengelolaan invoice, bukti potong, hingga PPh Final.
Bentuk dan Jenis-Jenis Industri
Secara garis besar badan pusat statistik mendefinisikan industri dibedakan atas industri pengolahan dan industri jasa.
Industri pengolahan adalah suatu kegiatan ekonomi yang melakukan suatu kegiatan barang dasar secara mekanis atau dengan tangan sehingga menjadi barang setengah jadi atau barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya dan sifatnya yang lebih dekat kepada pemakai akhir, ter masuk dalam kegiatan ini adalah kegiatan jasa industri dan pekerjaan perakitan. Sedangkan industri jasa adalah kegiatan industri yang melayani keperluan pihak lain, sementara pihak lain pengelola hanya melakukan pengolahannya dengan mendapat imbalan sejumlah uang atau barang sebagai jasa, misalnya perubahan penggilingan padi atau gabah petani yang dibalas jasa dengan diperhitungkan secara bagi hasil (Zulkarnain., 2001).
Menurut pemerintah (Departemen perindustrian dan per- dagangan) industri secara nasional dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Industri dasar (hulu)
Yaitu meliputi industri mesin dan logam dasar serta industri kimia dasar. Industri dasar ini membawa misi per- tum buhan ekonomi, dan penguatan struktur ekonomi. Ciri industri dasar adalah teknologi tepat guna yang digunakan sudah maju dan teruji, serta tidak padat karya. Industri mesin dan logam dasar terdiri atas industri mesin dan peralatan pabrik, mesin perkakas, mesin listrik dan tenaga
elektronika profesional, kendaraan bermotor, kereta api, pesawat terbang, kapal, besi baja, dan industri kimia dasar.
2. Industri hilir
Yang termasuk ke dalam industri hilir adalah usaha industri yang bahan bakunya bertumpu pada produk dari industri dasar. Misalnya aneka industri, yang terdiri atas industri pangan, tekstil, kimia, alat-alat listrik dan logam, bahan bangunan dan umum (perkayuan, keramik, asbes, marmer, gelas, botol, alat musik, dan alat-alat tulis). Aneka industri membawa misi pertumbuhan ekonomi, dan peme- rataan ekonomi. Teknologi tepat guna yang diguna kan adalah teknologi maju, teruji, dan teknologi madya.
3. Industri kecil
Bidang usaha yang dicadangkan untuk kelompok industri kecil adalah pemotongan hewan dan pengawetan daging, industri susu dan makanan dari susu, industri pengolahan, pengawetan buah-buahan dan sayur-sayuran, industri pengolahan dan pengawetan ikan, makanan dari tepung, gula dan pengolahan gula, es, makanan dari ke- delai dan kacangkacangan, dan pengolahan tembakau, rokok, pemintalan tenun dan pengolahan hasil tekstil, pera jutan, pengawetan dan penyamakan kulit, barang dari kulit. Industri kecil ini menggunakan teknologi madya dan teknologi sederhana serta mempunyai tenaga kerja yang banyak. Misi yang dibawa oleh industri kecil adalah peme- rataan (Ratna Evy, dkk, 2005).
Kategori industri kecil menurut Departemen Perindustrian seperti yang tertulis menurut Wulandari N. (2006) adalah seba- gai berikut:
1. Industri Kecil Modern.
Industri kecil modern meliputi industri kecil yang meng- gunakan teknologi proses madya (intermediate process technologies), mempunyai skala produksi yang terbatas, tergantung pada dukungan industri besar dan menengah dan dengan system pemasaran domestic dan ekspor, meng gunakan mesin khusus dan alat-alat perleng kapan mo dal lainnya. Dengan kata lain, industri kecil yang modern telah mempunyai akses untuk menjangkau system pema- saran yang relatif telah berkembang baik di pasar domestik ataupun pasar ekspor.
2. Industri Kecil Tradisional.
Industri kecil tradisional pada umumnya mempunyai ciri-ciri antara lain, proses teknologi yang digunakan secara sederhana, mesin yang digunakan dan alat perlengkapan modal lainnya relatif sederhana, lokasi di daerah pedesaan, akses untuk menjangkau pasar yang berada di luar lingkungan yang berdekatan terbatas.
3. Industri Kerajinan Kecil.
Industri kecil ini sangat beragam, mulai dari industri kecil yang menggunakan proses teknologi yang sederhana sampai industri kecil yang menggunakan teknologi proses madya atau malahan sudah menggunakan proses teknologi yang tinggi.
E. Kinerja Usaha
Pengertian kinerja adalah sebagai ukuran kuantitatif dan kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi (Moeheriono, 2012). Kinerja merupakan serangkaian kegiatan mana jemen yang memberikan gambaran sejauh mana hasil yang sudah dicapai dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab nya dalam bentuk akuntabilitas publik baik berupa keber- hasilan maupun kekurangan yang terjadi. Pencapaian hasil serangkaian kegiatan yang dimaksud meliputi standar hasil kerja, target atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan sejak awal dimulainya usaha.
Rue dan Byars (dalam Riyanti, 2003) juga mengatakan bahwa kinerja dapat diartikan sebagai tingkat pencapaian hasil ataupun tujuan organisasi. Sehingga dapat dikatakan bahwa kinerja usaha merupakan serangkaian capaian hasil kerja seorang pelaku usaha dalam melaksanakan kegiatan usahanya, baik dalam pengembangan produktivitas dan dalam hal pemasaran, dalam konteks wewenang dan tanggung jawabnya.
Menurut Melin, L., Nordqvist, M., & Sharma, P. (Eds.). (2013), kinerja usaha terdiri dari inovasi, pembaruan, penciptaan bis- nis baru, dan kesuksesan sosial. kinerja usaha tidak hanya men cakup ekonomi dan aspek moneter (misal laba, laba atas investasi, modal, dll.) tetapi juga aspek non-ekonomi dan non-keuangan (misal kelangsungan hidup bisnis, jumlah para karyawan).
Kinerja usaha berarti memperoleh pertumbuhan penjualan yang lebih tinggi, pangsa pasar yang lebih besar, status pasar
yang lebih baik, lebih banyak karyawan, dan hasil keuangan yang lebih baik. Kinerja usaha mengacu pada kemampuan untuk ber inovasi, menerima risiko dan mengidentifikasi dan meng eksploitasi peluang wirausaha (Hayton, J. C., 2003).
Ada tiga dasar pengembangan ukuran kinerja sebagai alat untuk meningkatkan efektivitas organisasi (Armstrong, M., &
Baron, A., 2005), yaitu sebagai berikut:
a. Apa yang diukur semata-mata ditentukan oleh apa yang dipertimbangkan oleh pelanggan.
b. Kebutuhan pelanggan diterjemahkan menjadi prioritas strate gis dan rencana strategis mengindikasikan apa yang harus diukur.
c. Memberikan perbaikan kepada tim dengan mengukur hasil dari prioritas strategis, memberikan kontribusi untuk perbaikan lebih lanjut dengan mengusahakan motivasi tim, dan informasi tentang apa yang berjalan dan tidak berjalan.
Menurut Wibowo (2014) banyak faktor yang dapat dijadi- kan ukuran kinerja, namun ukuran kinerja harus relevan, signi fikan, dan komprehensif. Berikut ini faktor yang dijadikan ukuran kinerja:
a. Produktivitas
Produktivitas biasanya dinyatakan sebagai hubungan antara input dan output fisik suatu proses. Oleh karena itu, produktivitas merupakan hubungan antara jumlah output dibandingkan dengan sumber daya yang dikonsumsi dalam memproduksi output. Ukuran produktivitas misalnya adalah
output sebanyak 55 unit diproduksi oleh kelompok yang terdiri dari empat orang pekerja dalam waktu seminggu.
b. Kualitas
Pada kualitas biasanya termasuk baik ukuran internal seperti susut, jumlah ditolak, dan cacat perunit, maupun ukuran eksternal rating seperti kepuasan pelanggan atau pe nilaian frekuensi pemesanan ulang pelanggan.
c. Ketepatan Waktu
Ketepatan waktu menyangkut persentase pengiriman tepat waktu atau persentase pesanan dikapalkan sesuai yang dijanjikan. Pada dasarnya, ukuran ketepatan waktu mengukur apakah orang melakukan apa yang dikatakan akan dilakukan.
d. Cycle Time
Cycle time menunjukkan jumlah waktu yang diperlukan untuk maju dari satu titik ke titik lain dalam proses.
Peng ukuran cycle time mengukur berapa lama sesuatu dila kukan. Misalnya adalah berapa lama waktu rata-rata diperlukan dari pelanggan menyampaikan pesanan sampai pelanggan benar-benar menerima pesanan.
e. Pemanfaatan Sumber Daya
Pemanfaatan sumber daya dapat diterapkan untuk mesin, komputer, kendaraan dan bahkan orang. Tingkat peman faatan sumber daya tenaga kerja 40% mengin- dikasikan bahwa sumber daya manusia baru dipergunakan
secara produktif sebesar 40% dari waktu mereka yang tersedia untuk bekerja. Dengan mengetahui tingkat peman- faatan, organisasi menemukan bahwa tidak memerlu kan lebih banyak sumber daya.
f. Biaya
Ukuran biaya terutama berguna apabila dilakukan kal- ku lasi dalam dasar per unit. Namun, banyak perusahaan hanya mempunyai sedikit informasi tentang biaya per unit.
Pada umumnya dilakukan kalkulasi biaya secara menye- luruh.
Sementara itu Amstrong (1994) mengklasifikasikan ukuran kinerja dalam empat tipe ukuran, yaitu sebagai berikut:
a. Ukuran uang, dipergunakan untuk mengukur memaksi- malkan income, meminimalkan pengeluaran dan mening- katkan tingkat pendapatan.
b. Ukuran waktu, mengekspresikan kinerja dengan jadwal waktu kerja, jumlah jaminan simpanan dan kecepatan aktivitas.
c. Ukuran pengaruh, termasuk pencapaian standar, perubahan dalam perilaku (kolega, staf atau pelanggan), pelengkap fisik kerja dan tingkat penerimaan layanan.
d. Reaksi, menunjukkan bagaimana orang laim menilai pekerja dan oleh karenanya kurang objektif. Reaksi dapat diukur dengan dengan penilaian oleh rekan kerja, pelanggan atau analisis terhadap keluhan.
Menurut Khanka (2009) ukuran indikator kinerja usaha terdiri dari tiga indicator:
1. Pertumbuhan penjualan
Pertumbuhan penjualan adalah peningkatan jumlah penjualan dari tahun ke tahun.
2. Pertumbuhan laba
Pengertian laba secara operasional merupakan perbe- daan antara pendapatan yang direalisasi yang timbul dari transaksi selama satu periode dengan biaya yang berkaitan dengan pendapatan tersebut.
3. Pertumbuhan modal
Pertumbuhan dalam kaitannya dengan pengukuran pertumbuhan perusahaan adalah apabila skala perusahaan tersebut semakin besar. Mengukur pertumbuhan perusahaan antara lain dapat dilakukan melalui pertumbuhan modal sen diri karena melalui pertumbuhan modal sendiri ter sebut telah melibatkan semua keputusan dalam fungsi mana- jemen keuangan yaitu pertumbuhan yang diakibatkan oleh ke putusan tentang investasi, keputusan tentang penda- naan dan keputusan tentang dividen. Perusahaan yang meng harapkan laju pertumbuhan tinggi, harus menye- diakan modal yang cukup untuk membiayai pertumbuhan yang diinginkan tersebut, makin cepat laju pertumbuhan yang diinginkan maka besar kebutuhan dana untuk mem- biayainya.
Pengukuran hanya berkepentingan untuk mengukur apa yang penting dan relevan. Untuk itu, perlu jelas tentang apa yang dikatakan penting dan relevan sebelum menentukan ukuran apa yang harus digunakan. Hal-hal yang diukur ter- gantung pada apa yang dianggap penting oleh stakeholders dan pelanggan. Menurut Wibowo (2014) pengukuran kinerja yang tepat dapat dilakukan dengan cara:
1. Memastikan bahwa persyaratan yang diinginkan pelanggan telah terpenuhi
2. Mengusahakan standar kinerja untuk menciptakan per- bandingan.
3. Mengusahakan jarak bagi orang untuk memonitor tingkat kinerja.
4. Menetapkan arti penting masalah kualitas dan menentukan apa yang perlu prioritas perhatian.
5. Menghindari konsekuensi dari rendahnya kualitas.
6. Mempertimbangkan penggunaan sumber daya.
7. Mengusahakan umpan balik untuk mendorong usaha perbaikan.
Dalam organisasi masalah pengukuran kinerja merupakan hal yang penting dalam manajemen program secara keselu- ruhan, karena kinerja yang dapat diukur akan mendorong pencapaian kinerja tersebut. Pengukuran kinerja yang dilaku- kan secara berkelanjutan memberikan umpan balik yang merupakan hal yang penting dalam upaya perbaikan secara terus-menerus dan mencapai keberhasilan dimasa mendatang.
Menurut Ismail, Parisa & Ralf (2017) manfaat pengukuran kinerja sebagai berikut:
a. Memastikan pemahaman para pelaksana akan ukuran yang digunakan untuk pencapaian kinerja.
b. Memastikan tercapainya rencana kinerja yang telah dise- pakati.
c. Memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan kinerja dan membandingkannya dengan rencana kerja serta melakukan tindakan untuk memperbaiki kinerja.
d. Memberikan penghargaan dan hukuman yang objektif atas prestasi pelaksana yang telah diukur sesuai dengan sistem pengukuran kinerja yang telah disepakati.
e. Menjadi alat komunikasi antar bawahan dan pimpinan dalam rangka upaya untuk memperbaiki kinerja organisasi.
f. Mengidentifikasikan apakah kepuasan pelanggan sudah terpenuhi.
g. Memastikan bahwa pengambilan keputusan dilakukan secara objektif.
h. Menunjukkan peningkatan yang perlu dilakukan.
i. Mengungkapkan permasalahan yang terjadi.
F. Studi Pendahuluan
Tema studi tantang IKM sudah banyak dilakukan sebelum- nya pada lokasi yang beragam. Adapun riset tentang kinerja IKM pada masa pandemic dan pasca pandemic covid-19 terkait keuangan, SDM, operasional dan pemasaran di Provinsi Jambi belum pernah dilakukan. Riset terdahulu yang terkait dengan buku ini antara lain adalah:
Tabel 2.1. Riset Terdahulu Tentang Kinerja Usaha NO Peneliti/
Tahun Konsep Dimensi
PK PS PO PP 1. Santosa, A.
(2020)
Pengembangan IKM dilakukan melalui penguatan branding, Promosi dan Pemasaran digital; dan memetakan faktor-faktor internal maupun eksternal, memperkuat iklim usaya yang sehat, bantuan modal usaha, proteksi usaha dari pemerintah, kerjasama yang setara.
√ √ √
2. Sugiri, D.
(2020)
Penyelamatan UMKM dapat dilakukan dengan: pemberian bantuan, insentif pajak, relaksasi dan restrukturisasi kredit, perluasan pembiayaan modal kerja, pelatihan secara e-learning
√ √
3 Fitriyani, I., Sudiyarti, N.,
& Fietroh, M.
N. (2020)
Strategi manajemen bisnis pasca Covid-19 bagi pelaku UMKM dapat memberikan peningkatan dan pengembangan keberlanjutan usaha yang baik dengan menerapkan penguatan manajemen di bidang pemasaran, SDM, keuangan dan operasional sebagai langkah strategis untuk menciptakan eksistensi usaha yang efisien dan efektif
√ √ √ √
4 Alfrian, G. R.,
& Pitaloka, E.
(2020
Strategi bertahan untuk UMKM di masa pandemic covid-19 yaitu:
melakukan pemasaran dengan digital marketing, memperkuat SDM, melakuan inovasi kreatif dan peningkatan pelayanan kepada konsumen
√ √ √
NO Peneliti/
Tahun Konsep Dimensi
PK PS PO PP 5 Yurianto, Y.
(2020)
Pemerintah dalam membantu UMKM dimasa pandemic covid-19 dapat elakukan kolaborasi antara UKM dengan pemangku kepentingan lainnya, pemebrian dana, pengembangan sumber daya manusia, membantu upaya pemasaran produk
√ √ √
6 Pakpahan, A.
K. (2020)
Upaya pemerintah yang dapat dilakukan dimasa pandemic covid-19 adalah bantuan keuangan, pengenalan dan penggunaan teknologi digital bagi UMKM
sekaligus persiapan untuk memasuki era Industri 4.0.
√ √ √
7 Damuri, Y. R., Aswicahyono, H., Hirawan, F., Setiati, I., &
Simanjuntak, I. (2020)
Untuk membantu UMKM dimasa pandemi diperlukan perbaikan pada penguatan sistim keuangan, bantuan dan dukungan untuk UMKM, perbaikan iklim bisnis UMKM, percepatan adopsi teknologi yang tepat guna untuk UMKM, dan penyiapan sumber daya manusia yang berkecimpung di UMKM.
√ √ √
Sumber: survei Literatur
Keterangan: PK= pengelolaan keuangan, PS= pengelolaan SDM, PO= pengelolaan operasional, PP= pengelolaan pemasaran
Riset-riset terdahulu yang ditampilkan pada Tabel 2.1.
jika kita cermati terlihat bahwa aspek pengelolaan keuangan, SDM, operasional dan pemasaran merupakan aspek yang mempengaruhi kinerja UMKM dan IKM. Namun demikian
dari riset-riset tersebut belum ada yang menggabungkan semua variable seperti yang ada, semua yang sudah dilakukan menggunakan beberapa variable yang sama, jadi dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan empat variable aspek pengelolaan keuangan, SDM, operasional dan pemasaran secara bersama-sama belum pernah dilakukan, sehingga riset ini dibutuhkan untuk menganalisis secara komprehensif pengaruh semua variable terhadap kinerja usaha.
G. State of The Art
Keberadaan IKM secara nasional dilihat dari sisi kontibusinya terhadap perekonomian nasional masih termasuk dalam kategori kecil (Syuhada, A. A., & Gambetta, W., 2013; Kim, A. J.,
& Ko, E., 2012). Pada masa sebelum terjadi pandemic covid-19 pertumbuhan jumlah IKM di Provinsi Jambi cukup banyak baik jumlah maupun variasi jenis usahanya. Akan tetapi ketika dunia dilanda wabah covid-19 dampaknya berimbas juga pada IKM secara global dan khususnya di Provinsi Jambi.
Pada masa pandemic covid-19 ini jumlah IKM berkurang drastis sebagai dampak dari pandemic. IKM yang masih bertahanpun juga mengalami masalah dari aspek keuangan, SDM, operasional dan pemasaran. Pada aspek keuangan IKM makin sulit memperoleh pinjaman dana, SDM yang tangguh makin berkurang, operasional IKM menjadi lemah dan pemasaranyapun menjadi menurun.
Dari hasil penelusuran literature review berkaitan dengan riset-riset terdahulu maka dapat dikemukakan bahwa tingkat orisinalitas ini tinggi karena terdapat perbedaan dengan riset terdahulu dalam hal variable yang digunakan, subjeknya (Kinerja
IKM), Objek (IKM di Provinsi Jambi) dan pada aspek pendekatan yang digunakan (pendekatan kuantitatif research). Jadi dapat disimpulkan bahwa riset yang akan dilakukan ini sebenarnya dalam rangka mengisi gap of knowledge yang belum dilakukan secara komprehensif sebelumnya, sehingga merupakan riset pertama untuk membangun model pengembangan yang tepat dalam meningkatkan kinerja IKM di Provinsi Jambi.
BAB III
DESAIN PENGELOLAAN MANAJEMEN BISNIS
INDUSTRI KECIL
MENENGAH
A. Desain Studi Kasus
Cara pengumpulan dara dari para responden menggunakan metode survey. Survey dilakukan dengan menentukan sampel dari populasi yang ada dan sebagai alat pengumpul data berupa kuesioner (Arikunto, S., 2016). Dalam riset ini akan dilakukan uji statistik dan uji hipotesis sehingga dapat dikemukakan bahwa meto denya adalah kuantitatif. Sebagai variabel ada 2 macam yaitu varibael X dan variabel Y, secara rinci adalah sebagai berikut:
X1 = pengelolaan keuangan X2 = pengelolaan SDM X3 = pengelolaan operasional X4 = pengelolaan pemasaran Y = Kinerja IKM
Adapun populasinya adalah seluruh pelaku usaha yang masuk kategori IKM di Provinsi Jambi dari berbagai jenis usaha dan lokasi usaha. Menurut data yang diperoleh dari Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Provinsi Jambi dipero leh data bahwa jumlah IKM di Provinsi Jambi sebanyak 19.726 IKM.
Mengingat banyaknya jumlah populasi dan adanya berbagai keterbatasan penulis, maka penulis akan menggunakan sampel sebagai sumber data. Sampelnya adalah jumlah karakteristik suatu subjek yang menjadi perwakilan atas suatu populasi untuk diteliti lebih lanjut (Quinlan, C., Babin, B., Carr, J., &
Griffin, M., 2019). Pengambilan sampel menggunakan rumus
Slovin (Sevilla, C., 2014) dimana perhitungannya adalah sebagai berikut:
Sehingga diperoleh jumlah sampel N = 19.726/{ 1 + 19.726 (0,05)² } = 400
Penentuan jumlah sampel untuk masing-masing IKM dengan memperhatikan perimbangan (proporsional) yaitu:
Tabel 3.1. Ukuran Populasi dan Sampel
Sumber: data olahan, 2021
STudi ini dilakukan di seluruh kabupaten dan kota dalam Provinsi Jambi yang berjumlah 11 kota/kabupaten, yaitu Batanghari, Bungo, Kabupaten Kerinci, Kota Jambi, Kota Sungai
Penuh, Muro Jambi, Merangin, Sarolangun, Tebo, Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur.
B. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan, antara lain di lakukan wawancara terstruktur, observasi dan dokumentasi serta studi dokumentasi. Untuk memperoleh data primer, meng gunakan beberapa teknik pengumpulan data yang me - ru pakan kombinasi dari teknik pengumpulan data primer yak ni melalui kuesioner, wawancara, observasi, dokumentasi. Ada pun data sekunder Data sekunder diperoleh dengan mene laah do- kumen-dokumen yang ada pada Dinas UMKM Provinsi Jambi, serta literatur-literatur yang berhubungan dengan buku ini.
Teknik pengumuplan data yang digunakan, yakni: (1) Pertanyaan terstruktur (kuesioner) (2) pengumpulan data sekun- der dan (3) Fokus Group Disscution (4) Regresi linier berganda.
Buku ini menggunakan metode kombinasi (mixed method), yaitu kombinasi metode kualitatif dan kuantitatif. Adapun tipe kombinasi yang digunakan adalah Sequential Exploratory Design, yaitu pada tahap awal menggunakan metode kualitatif dan tahap berikutnya menggunakan metode kuantitatif. Buku ini juga melakukan Tehnik Focus Group Discussion (FGD), selanjutnya digunakan analisis regresi berganda.
C. Metode Analisis Data
Alat analisis yang digunakan untuk menguji hipotesisnya adalah Regresi Linear Berganda dengan menggunakan ting- kat signifikan 5%. Regresi linear berganda dilakukan untuk
mengetahui sejauh mana variabel Independen mempengaruhi variabel dependen dengan langkah berikut:
a. Uji Validitas (Test of Validity)
Untuk uji validitas yang digunakan dengan menggu- nakan uji factor/R kritis sesuai dengan teori di buku Sugiyono (2015). Syarat yang di gunakan adalah pearson correlation lebih besar dari r kritis 0,3, jika kurang dari 0,3 maka poin isntrumen yang r correlationnya kurang dari 0,3 kita anggap gugur/tidak dipakai.
b. Uji Reliabilitas (Test of Reliability)
Uji reliabilitas dilakukan dengan rumus Croanbach’s Alpha. kriteria dari nilai Croanbach’s Alpha kurang dari 0,600 berarti buruk, sekitar 0,700 diterima dan lebih dari atau sama dengan 0,800 adalah baik.
Analisis Deskriptif
Digunakan untuk menggambarkan karakteristik responden dari variabel tanpa melakukan pengujian. Caranya adalah dengan menyusun tabel distribusi frekwensi untuk melihat apakah tingkat perolehan nilai (skor) variabel yang diteliti masuk dalam kategori sangat tidak baik, tidak baik, cukup baik, baik dan sangat baik untuk variabel dalam penelitrtian ini. Untuk sampai pada kriteria tersebut, maka dilakukan peng- kategorisasian menjadi lima kategori berdasarkan skor rata-rata untuk setiap indikator dan dimensi sebagai berikut:
Penentuan rentang skala n (m–1)
RS =--- M Dimana:
RS = Rentang skala n = Jumlah sampel
m = Jumlah alternatif jawaban item Sehingga:
(5-1) RS =---= 0,8 5
Menentukan kategorisasi
Nilai Kategorisasi
1–1,7 Sangat rendah/Sangat Buruk 1,8–2,5 Rendah/Buruk
2,6–3,3 Cukup/Sedang 3,4–4,1 Tinggi/Baik
4,2–5 Sangat Tinggi/Sangat Baik
Dalam hal ini yang menjadi variable independen adalah pengelolaan keuangan (X1), pengelolaan SDM (X2), pengelolaan operasional (X3) dan pengelolaan pemasaran (X4), sedangkan yang menjadi varibel dependen adalah Kinerja IKM Kerajinan (Y). Untuk mendapatkan hasil yang baik, regresi linear berganda mensyaratkan untuk melakukan uji asumsi klasik. Adapun bentuk umum persamaan regresi linear berganda yang digunakannya adalah sebagai berikut:
Rumus:Y = β0+ β1 x1+ β2 x2 + β3 x3+ β4 x4+ ei Dimana:
Y = Kinerja IKM β = konstanta
X1 = pengelolaan keuangan X2 = pengelolaan SDM X3 = pengelolaan operasional X4 = pengelolaan pemasaran e = error
Uji Hipotesis
Untuk menguji ada tidaknya hubungan antara variabel X dan variabel Y, maka dilakukan uji statistik dengan nilai kritis distribusi t, pada tarif signifikansi α = 0,05 dengan derajat kebebasan dk= n-2.
Hipotesis:
a. H0: b = 0 (pengelolaan keuangan (X1), pengelolaan SDM (X2), pengelolaan operasional (X3) dan pengelolaan pemasaran (X4) tidak berpengaruh terhadap Kinerja IKM Kerajinan (Y) baik secara parsial maupun simultan.
b. Ha; b ≠ 0 (pengelolaan keuangan (X1), pengelolaan SDM (X2), pengelolaan operasional (X3) dan pengelolaan pemasaran (X4) berpengaruh terhadap Kinerja IKM Kerajinan (Y) baik secara parsial maupun simultan.
1. Uji Simultan (F)
Uji F digunakan untuk mengetahui tingkat siginifikansi pengaruh variabel-variabel independen secara bersama- sama (simultan) terhadap variabel dependen (Imam,2013).
Dasar pengambilan keputusannya adalah dengan meng gunakan angka taraf signifikan 0, 05, yaitu:
a. Jika Fhitung> Ftabel, maka H0 ditolak, berarti masing- masing variabel independen (X) secara bersama sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen (Y).
b. Jika Fhitung< Ftabel, maka H0 diterima berarti masing- masing variabel independen (X) secara bersama sama tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen (Y).
2. Uji Parsial (t)
Uji t dilaksanakan untuk melihat signifikansi dari pe- ngaruh independent secara individu terhadap variabel dependent dengan menganggap variabel lain bersifat konstan. Tingkat signifikansinya (Sig t) masing-masing variabel independent dengan taraf sig α = 0,05. Menurut Imam (2013), Cara melakukan uji t dengan membandingkan nilai statisktik t dengan titik kritias menurut tabel.
Kriteria pengujian:
a. Jika thitung> ttabel maka H0 diterima dan Ha ditolak (tidak berpengaruh),
b. Jika thitung< ttabel maka H0 ditolak dan Ha diterima (berpengaruh)
3. Koefisien determinasi (R²)
Koefisien determinasi (R²) pada intinya mengukur sebe- rapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependent.Koefisien determinan (R²) dimaksudkan untuk mengetahui tingkat ketepatan paling baik dalam analisis regresi, dimana hal yang ditunjukkan oleh besarnya koefisiensi determinasi (R²) antara 0 (nol) dan 1 (satu).
Koefisien determinasi ini ditunjukan dengan R Square dalam Model Summary yang dihasilkan oleh program SPSS.
Apabila nilai R² semakin mendekati angka 1, maka model regresi dianggap semakin baik karena variabel inde penden yang dipakai ini mampu menjelaskan variabel depen den- nya. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel inde penden memberikan hampir semua informasi yang dibu tuhkan untuk variasi variabel dependen (Imam, 2013).
4. Analisis SWOT
Pengamatan ini juga akan dilakukan FGD dengan ber- bagai pihak yang terkait dengan IKM pada kabupaten/kota yang menjadi objek. Selanjutnya hasil FGD akan menjadi data tambahan selain data hasil pengumpulan data melalui kusioner. Langkah pertama adalah memberi skor dari masing-masing faktor internal dan eksternal; dan memberi bobot atas faktor-faktor internal dan eksternal tersebut dengan berururat berdasarkan tingkan kepentingan. Lang- kah kedua melakukan pengurangan pada faktor internal yaitu jumlah total strength dikurangi jumlah total weakness (d = S–W), kemudian melakukan pengurangan pada faktor
eksternal yaitu jumlah total Opportunity dikurangi jumlah total treath (e = O–T).
Untuk SWOT dengan pendekatan kualitatif menggu- nakan faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal dimasukan kedalam matrik yang disebut matrik faktor IFAS (Internal Strategic Faktor Analisis Summary). Faktor eksternal dimasukan kedalam matrik yang disebut matrik faktor eksternal atau EFAS (Eksternal Strategic Faktor Analisis Summary). Setelah matrik faktor strategi internal dan ekster nal selesai disusun kemudian hasilnya dimasukan kedalam model kualitatif yaitu matrik SWOT untuk meru- muskan strategi kompetitif perusahaan. Matrik faktor strategi internal (IFAS) dan eksternal (EFAS).
Alat analisis yang sangat penting dalam menganalisis Kekuatan, Kelemahan, Peluang, dan Ancaman adalah Matrik SWOT yang diterapkan dalam empat tipe strategi yaitu SO (Strengths-Opportunities), WO (Weaknesses-Oppor- tunities), ST (Strengths-Threats), dan WT (Weaknesses- Threats). Dalam Strategi SO yang dilakukan adalah menggunakan kekuatan yang ada pada internal perusahaan untuk memanfaatkan peluang secara eksternal. Strategi WO bertujuan untuk memperbaiki kelemahan yang ada di inter nal perusahaan dengan memanfaatkan peluang secara eksternal. Adapun strategi ST adalah dengan menggunakan semua kekuatan perusahaan secara internal untuk meng- hindari atau mengurangi pengaruh dari ancaman yang dating secara eksternal. Strategi SWOT pada dasarnya meru pakan taktik defensif yang tujukan pada upaya
pengurangan kelemahan secara internal dan menghindari ancaman secara eksternal (Gürel, E., & Tat, M., 2017).
Gambar 1. Matrik SWOT
Dari gambar 1. matrik SWOT, masing-masing strategi dapat jelaskan sebagai berikut:
1. Strategi Strengths-Opportunities (SO)
Pada strategi ini dilakukan penggunaan kekuatan internal yang dimiliki perusahaan untuk mencapai peluang yang terdapat diluar perusahaannya.
2. Strategi Weaknesses-Opportunities (WO)
Pada strategi ini dilakukan dengan tujuan untuk memperkecil segala kelemahan pada internal perusahaan yang dilakukan dengan cara memanfaatkan peluang yang terdapat pada eksternal perusahaan.
3. Strategi Strengths-Threats (ST)
Pada strategi ST yang dilakukan perusahaan adalah ber- usaha menghindari dan mengurangi kelemahan yang terdapat pada internal perusahaan serta menghindari segala bentuk ancaman dari luar perusahaan.
4. Strategi Weaknesses-Threats (WT).
Pada strategi WT adalah upaya dan taktik untuk melakukan upaya bertahan yang dengan cara mengurangi kelemahan pada internal perusahaan serta menghindari ancaman dari luar perusahaan.
Dalam membentuk matrik SWOT maka dapat dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: (1). Tentukan apa saja yang menjadi faktor kekuatan internal perusahaan, (2). Tentukan apa saja faktor kelemahan internal perusahaan, (3). Tentukan faktor peluang eksternal perusahaan, (4). Tentukan faktor ancaman eksternal perusahaan, (5). Melakukan upaya penyesuaian antara kekuatan internal dengan peluang eksternal dalam upaya mem peroleh strategi S-O, (6). Melakukan kegiatan berupa penye suaian antara kelemahan dari internal dengan peluang eksternal agar diperoleh strategi W-O, (7). Melakukan kegiatan berupa penyesuaian antara kekuatan internal dengan ancaman dari eksternal agar memperoleh strategi S-T, (8). Melakukan kegiatan berupa penyesuaian antara kelemahan dari internal dengan ancaman dari eksternal perusahaan agar memperoleh strategi W-T.
D. Indikator Capaian
1. Teridentifikasinya kendala-kendala yang dialami IKM di Provinsi Jambi pada masa Pandemi Covi-19 dari aspek keuangan, SDM, operasional dan pemasaran yang meng- hambat perkembangan IKM.
2. Terumuskan model peningkatan kinerja IKM di Provinsi Jambi di masa pandemic dan pasca covid-19 dengan
pendekatan aspek keuangan, aspek SDM, spek operasional dan aspek pemasaran.
3. Diterapkannya model peningkatan kinerja IKM di Provinsi Jambi pada masa pandemic dan pasca pandemic covid-19 dengan pendekatan aspek keuangan, aspek SDM, spek operasional dan aspek pemasaran.
BAB IV
SELUK-BELUK
PROVINSI JAMBI
A. Sejarah Provinsi Jambi
Provinsi Jambi merupakan sebuah daerah yang ada di pulau Sumatra, dimana sebelum datangnya pengaruh asing yaitu kekuasaan Belanda dan Jepang terdapat kerajaan yang berdiri sendiri, setelah Indonesia merdeka daerah Jambi ber bentuk daerah kerasidenan yang terdiri atas Kabupaten Merangin, Kabupaten Batang Hari, dan Kotapraja Jambi. hal ini berda- sarkan keputusan sidang KNI Sumatera yang berlangsung pada tanggal 18 April 1946 di Gedung Nasional Bukit Tinggi, Sumatera dibagi atas tiga Sub Provinsi yaitu Sub Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Tengah dan Sub Provinsi Sumatera Selatan. Daerah keresidenan Jambi dimasukkan ke dalam Sub Sumatera Tengah. Kemudian Undang-undang No. 10 Tahun 1948 menetapkan bahwa Sumatera dibagi atas tiga Provinsi, yakni Provinsi Sumatera Utara, Provinsi Sumatera Tengah dan Provinsi Sumatera Selatan, dalam hal ini keresidenan termasuk kedalam Provinsi Sumatera Tengah (Jambi Selayang Pandang (1985).
Pada tanggal 9 Agustus 1957 ditanda tangani Undang- undang Darurat No. 19 Tahun 1957 oleh Presiden RI di Denpasar Bali, tentang pembentukan Daerah Tingkat I Sumatera Barat, Jambi dan Riau, sekarang Undang-undang tersebut menjadi Undang-undang No. 61/1958. Dengan adanya Undang-undang No. 61/1958 maka Provinsi Jambi telah menjadi Provinsi Defenitip, dan berdasarkan peraturan Daerah Provinsi Daerah TK. I Jambi No. 1 Tahun 1970 tanggal 17 Januari 1970 ditetapkan bahwa tanggal 6 Januari 1957 sebagai hari jadi Provinsi Jambi.