SKRIPSI
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM PERKULIAHAN DARING DI UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH MAKASSAR
Oleh :
HIJRAH S
Nomor Induk Mahasiswa : 1056 1111 6518
PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2022
PERKULIAHAN DARING DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Studi dan Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Administrasi Negara (S.AP)
Disusun dan Diajukan Oleh:
HIJRAH S
Nomor Induk Mahasiswa : 1056 1111 6518
Kepada
PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2022
ii
iii
iv
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama Mahasiswa : Hijrah S
Nomor Induk Mahasiswa : 1056 1111 6518
Program Studi : Ilmu Administrasi Negara
Menyatakan bahwa benar skripsi ini adalah karya saya sendiri dan bukan hasil plagiat dari sumber lain. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian hari ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar akademik dan pemberian sanksi lainnya sesuai dengan aturan yang berlaku di Universitas Muhammadiyah Makassar.
Makassar, 25 Juni 2022 Yang Menyatakan,
Hijrah S
v
ABSTRAK
HIJRAH S, Tahun 2022 Implementasi Kebijakan Pemerintah dalam Perkuliahan Daring di Universitas Muhammadiyah Makassar. Dibimbing oleh pembimbing I Burhanuddin dan pembimbing II Muhammad Yusuf.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesiapan sumber daya (dosen, mahasiswa dan sarana digital), komunikasi antar pemangku kepentingan dan penguatan aktivitas, kondisi sosial dan ekonomi mahasiswa serta disposisi implementor pada Universitas Muhammadiyah Makassar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Objek penelitian ini ialah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dengan informan yang terdiri dari Ketua LP2AI, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Ketua Program Studi Ilmu Administrasi Negara, Dosen dan Mahasiswa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan sumber daya dalam hal ini dosen mempersiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan serta memberikan materi dan tugas kepada mahasiswa menggunakan media yang ada. Mahasiswa mampu beradaptasi dengan penggunaan platform hanya saja kemampuan mahasiswa dalam menerima dan memahami materi perkuliahan tergantung daring masing- masing persiapan, kemampuan dan kendala yang berbeda dari setiap mahasiswa.
Pelaksanaan perkuliahan daring di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar menggunakan platform SPADA dan media daring seperti Zoom, Google Meet, Google Classroom, dan WA Group.
Komunikasi antar organisasi dan penguatan aktivitas sudah dilaksanakan oleh para agen pelaksana. Capaian pembelajaran dalam perkuliahan daring di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar hasilnya sama dengan tatap muka, hanya saja kurangnya keakraban yang terjalin mengingat situasi dan kondisi penggunanaan media perkuliahan secara daring. Kondisi sosial dan ekonomi mahasiswa dalam pelaksanaan perkuliahan dari segi lingkungan tempat tinggal mahasiswa yang kurang kondusif dan sinyal jaringan di setiap daerah juga masih belum optimal dalam mendukung proses perkuliahan daring sehingga mengganggu konsentrasi mahasiswa saat sedang melaksanakan perkuliahan. Disposisi implementor, implementasi perkuliahan daring di Universitas Muhammadiyah Makassar dilaksanakan berdasarkan Surat Edaran Rektor serta adanya dukungan dari pimpinan universitas, fakultas dan prodi dengan menyediakan fasilitas pembelajaran dan pelatihan bagi dosen.
Kata kunci: Implementasi, Kebijakan Pemerintah, Perkuliahan Daring.
vi ABSTRACT
HIJRAH S (2022) implementation of government policies in online lectures at the University of Muhammadiyah Makassar. Supervised by supervisor I Burhanuddin and supervisor II Muhammad Yusuf.
This study aims to determine the readiness of resources (lecturers, students and digital facilities), communication between stakeholders and strengthening activities, social and economic conditions of students and the disposition of implementors at Muhammadiyah University of Makassar. The research method used is a qualitative method with data collection techniques in the form of observation, interviews, and documentation. The object of this research is the Faculty of Social and Political Sciences with informants consisting of the Chairperson of LP2AI, the Dean of the Faculty of Social and Political Sciences, the Head of the State Administration Studies Program, Lecturers and Students.
The results of the study indicate that the readiness of resources, in this case the lecturer, prepares the necessary facilities and infrastructure and provides materials and assignments to students using existing media. Students are able to adapt to the use of the platform, it's just that the ability of students to receive and understand lecture material depends on each online preparation, different abilities and constraints of each student. Implementation of online lectures at the Faculty of Social and Political Sciences, University of Muhammadiyah Makassar using the SPADA platform and online media such as Zoom, Google Meet, Google Classroom, and WA Group. Communication between organizations and strengthening activities have been carried out by implementing agencies. Learning outcomes in online lectures at the Faculty of Social and Political Sciences, University of Muhammadiyah Makassar, the results are the same as face-to-face, it's just that there is a lack of familiarity that exists considering the situation and conditions of using online lecture media. The social and economic conditions of students in conducting lectures in terms of the environment where students live are not conducive and the network signal in each area is also still not optimal in supporting the online lecture process so that it interferes with student concentration while carrying out lectures. The disposition of the implementor, the implementation of online lectures at the University of Muhammadiyah Makassar is carried out based on the Chancellor's Circular and the support from the leadership of universities, faculties and study programs by providing learning and training facilities for lecturers.
Keywords: Implementation, Government Policy, Online Lectures.
vii
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Penulis panjatkan rasa syukur yang tidak terhingga kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikanskripsiyang berjudul “Implementasi Kebijakan Pemerintah dalam Perkuliahan Daring di Universitas Muhammadiyah Makassar”.
Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Allah SWT yang telah memberi segala rahmat dan karunia-Nya lah maka skripsi ini dapat diselesaikan.
2. Kedua orang tua saya, ayah Sampara dan ibu Hasni Latif yang telah menyemangati serta memberikan do’a untuk menyelesaikan penyusunan skripsi ini.
3. Bapak Dr. Burhanuddin S.Sos., M.Si selaku Pembimbing I dan Bapak Muhammad Yusuf, S.Sos., M.Si selaku Pembimbing II yang senantiasa meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan penulis sehingga skripsi dapat diselesaikan.
4. Bapak ketua LP2AI, Bapak/Ibu dosen serta Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik selaku informan dalam penelitian saya yang telah meluangkan waktunya serta memberikan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
viii
5. Ibunda Dr. Hj. Ihyani Malik, S.Sos., M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.
6. Bapak Dr. Nur Wahid, M.Si selaku Ketua Program Studi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.
7. Bapak dan Ibu Dosen Penguji Bapak Dr. Abdul Mahsyar, M.Si selaku ketua tim penguji, Ibunda Dr. Hj. Sudarmi,M.Si selaku penguji kedua, Bapak Muhammad Yusuf, S. Sos. M.Si selaku penguji ketiga, dan Bapak Hardianto Hawing, S.T., M.A selaku penguji keempat.
8. Bapak dan Ibu Dosen Ilmu Administrasi Negara yang telah memberikan ilmunya kepada penulis selama menempuh pendidikan dibangku perkuliahan serta staf Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.
9. Kepada teman saya Syamsinar, Nur Elisa dan Saltri Dewi yang telah membantu saya dalam pengambilan dokumentasi penelitian.
10. Teman-teman mahasiswa program studi Ilmu Administrasi Negara khususnya kelas D 2018.
Billahi fii Sabilil Haq, Fastabiqul Khairat, Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Makassar, 25 Juni 2022
Hijrah S
ix
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PENERIMAAN TIM ... iii
HALAMAN PERNYATAAN ... iv
ABSTRAK ... v-vi KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 7
C. Tujuan Penelitian ... 7
D. Manfaat Penelitian... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9
A. Penelitian Terdahulu... 9
B. Konsep Implementasi Kebijakan Publik ... 10
C. Kerangka Pikir ... 23
D. Fokus Penelitian ... 25
E. Deskripsi Fokus Penelitian ... 25
BAB III METODE PENELITIAN ... 29
A. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 29
B. Jenis dan Tipe Penelitian ... 29
x
C. Informan Penelitian ... 30
D. Teknik Pengumpulan Data ... 31
E. Teknik Analisis Data ... 32
F. Teknik Pengabsahan Data... 33
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 34
A. Deskripsi Objek Penelitian ... 34
B. Hasil Penelitian ... 37
C. Pembahasan Hasil Penelitian ... 79
BAB V PENUTUP ... 88
A. Kesimpulan ... 88
B. Saran ... 89
DAFTAR PUSTAKA ... 90
LAMPIRAN ... 92
xi
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1.Matriks Penelitian Terdahulu ... 9
Tabel 3.1.Informan Penelitian ... 29
Tabel 4.1. Tingkat Pendidikan Dosen ... 39
Tabel 4.2. Pangkat Akademik Dosen ... 42
Tabel 4.3. Tahun Angkatan Mahasiswa ... 48
Tabel 4.4.Sarana Digital yang Digunakan Dosen ... 53
Tabel 4.5. Lingkungan Tempat Tinggal mahasiswa ... 65
A. Latar Belakang
Kebijakan (policy) biasanya dikaitkan dengan keputusan pemerintah dalam memilih tujuan dan cara untuk pencapaian tujuan tertentu karena pemerintahlah yang memiliki wewenang dan kekuasaan untuk mengarahkan masyarakat, dan bertanggungjawab atas kepentingan umum. Sebagaimana defenisi kebijakan tentunya terkait erat dengan keputusan dan peraturan pemerintah ditengah wabah covid-19 yang berdampak pada sektor, mulai dari sosial, bidang ekonomi, hingga bidang pendidikan. Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB menyatakan salah satu sektor yang terdampak adanya wabah ini adalah dunia pendidikan (Purwanto et al., 2020) Sebagai upaya untuk mencegah penyebaran covid-19, World Health Organization (WHO) menyarankan untuk menghentikan sementara aktivitas yang dapat menyebabkan keramaian.
Mengacu pada kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah yang terdapat dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 33 Tahun 2019 tentang Satuan Pendidikan Aman Bencana, maka dengan demikian Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengambil kebijakan melalui Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 Tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease-19 (Covid-19). Akibat dampak munculnya virus covid-19 di dunia pendidikan , dengan kebijakan tersebut pemerintah meminta agar sekolah dan perguruan tinggi meminta siswa juga
mahasiswa belajar dari rumah, sehingga pada awal Maret 2020 sekolah maupun perguruan tinggi mulai menerapkan metode pembelajaran atau perkuliahan secara daring (dalam jaringan) dan bekerja dari rumah (Work From Home) bagi guru dan dosen, sesuai Surat Edaran Mendikbud Nomor :36962/MPK.A/HK/2020.
Implementasi Kebijakan merupakan suatu proses keputusan kebijakan, yang biasanya dalam bentuk undang-undang, peraturan pemerintah, keputusan peradilan, perintah eksekutif, atau dekrit presiden. Bagaimanapun baiknya kebijakan, apabila tidak diikuti oleh implementasi, tidak akan menghasilkan tujuan yang diharapkan karena tidak akan berpengaruh apapun terhadap permasalahan yang dihadapi (Anggara, 2017) Pelaksanaan kebijakan pemerintah menuntut diadakannya tata cara dan keserasian agar pelaksanaan dapat berjalan dengan daya guna serta hasil guna yang optimal. Akan tetapi, dalam praktik suatu kebijakan tidak akan selalu dilakukan dengan rapi. Bila tiba pada saat pelaksanaan, kebijakan itu harus di sesuaikan lagi, semisalkan karena kebijakan dirumuskan terlalu umum, sarana tidak dapat diperoleh pada waktunya dan faktor waktu dipilih terlalu optimis, semua itu berdasarkan gambaran situasi yang kurang lengkap (Anggara, 2017).Perkuliahan daring merupakan sistem perkuliahan tanpa tatap muka secara langsung antara dosen dan mahasiswa tetapi dilakukan melalui online yang menggunakan jaringan internet.Pembelajaran yang dilakukan yaitu melalui aplikasi belajar dan komunikasi seperti zoom, google meet, google classroom, WhatsApp dan lain sebagainya.
Proses perkuliahan daring ini dilakukan oleh para stakeholder untuk mencapai tujuan pembelajaran (learning outcome).Namun perkuliahan daring adalah suatu metode pembelajaran yang baru dilakukan secara tiba-tiba tanpa diujicobakan terlebih dahulu, sehingga membuat dosen kesulitan beradaptasi di masa transisi dari luring ke perkuliahan daring.Dosen memerlukan penyesuaian materi pembelajaran yang harus diubah dalam format daring dengan kemasan yang menarik dan dapat dipahami dan dimengerti oleh mahasiswa sebagai audience.
Proses perkuliahan secara daring dilakukan dengan memanfaatkan berbagai platform aplikasi untuk memudahkan pembelajaran secara virtual diantaranya yaitu: aplikasi zoom, google meet, google classroom, whatshapp dan lainnya.
Melalui aplikasi tersebut tenaga pendidik dapat memberikan materi perkuliahan, melakukan diskusi, mempresentasikan materi yang akan dipelajari, serta memberikan dan memantau tugas mahasiswa.Sistem perkuliahan jarak jauh ini menuntut para dosen dan mahasiswa agar cakap dalam mengimplementasikan teknologi masa kini.Hal ini sejalan dengan pemanfaatan revolusi 4.0 dimana segala kegiatan bersentuhan dengan teknologi dan erat kaitannya dengan penggunaan internet dalam menunjang pemakaian teknologi tersebut.
Implementasi pembelajaran secara online ini waktunya yang tidak terduga sebelumnya dimana pandemi Covid-19 ini juga terjadi secara tiba-tiba hal ini berakibat pada perguruan tinggi yang harus siap beradaptasi melaksanakan pembelajaran melalui media online (fitri, 2020).Dampak pandemi covid-19
dirasakan oleh masyarakat Kabupaten Kepulauan Talaud yang memberi pengaruh langsung pada bidang pendidikan (Manongga et al., 2021)
Menindaklanjuti dari kebijakan pemerintah, kegiatan akademik khususnya ditingkat perguruan tinggi menyesuaikan dengan menerapkan proses perkuliahan daring bagi mahasiswa. Begitu juga yang dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Makassar, berdasarkan Surat Edaran Rektor Nomor 277/05/C.5-II/III/41/2020 tentang Kewaspadaan dan Upaya Prefentif Penyebaran Wabah Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) sebagai dasar implementasi perkuliahan daring di Universitas Muhammadiyah Makassar, yang isinya antara lain : 1). Kuliah tatap muka tidak diselenggarakan secara klasikal dikelas dan sebagai langkah taktis dilakukan dengan metode daring melalui SPADA (Sistem Pembelajaran Daring) yang telah dimiliki oleh universitas muhammadiyah makassar atau aplikasi lainnya, 2). Pimpinan fakultas dan Prodi berkoordinasi dengan Direktur AKSI dan LP2AI memberikan dukungan kepada para dosen untuk terselenggaranya proses pembelajaran daring melalui SPADA dan aplikasi lainnya, 3). Kegiatan praktikum, laboratorium, praktek lapangan, praktek industri dam institusi lain sedapat mungkin dilakukan tanpa pertemuan langsung atau dapat dilakukan penjadwalan ulang dengan menyesuaikan situasi perkembangan penularan infeksi Covid-19. Berdasarkan Surat Edaran Rektor tersebut mengamanatkan untuk menerapkan proses pembelajaran atau perkuliahan secara daring bagi seluruh mahasiswanya. Hal ini dilakukan untuk mendukung kebijakan dari pemerintah.
Pelaksanaan perkuliahan daring dalam menghadapi bencana pandemi covid- 19 berdampak pada menurunnya kualitas pendidikan di Indonesia.Terdapat kesenjangan kualitas pendidikan antar daerah dimana tidak semua daerah dapat melaksanakan pendidikan secara maksimal. Berdasarkan hasil jurnal penelitian mengenai perkuliahan daring oleh Gustiawan Raimanu (2020) diperoleh data bahwa hasil pengukuran responden memiliki persepsi yang relatif rendah terhadap manfaat pembelajaran daring. serta berdasarkan hasil penelitian oleh Hanum & Yanuarita (2020) proses belajar daring di Kabupaten Jombang masih belum mencapai tingkat efektivitas yang diharapkan.
Berdasarkan hasil observasi peneliti kepada mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Muhammadiyah Makassar diperoleh temuan bahwa dalam pelaksanaan perkuliahan daring biasanya terkendala oleh jaringan internet yang dipengaruhi oleh faktor cuaca kurang baik, kualitas kestabilan jaringan internet pada tiap daerah juga berbeda-beda. Pada daerah terpencil atau terpelosok biasanya sulit untuk mendapatkan jaringan internet yang stabil dan memadai.Selain itu, mahasiswa juga harus menambah pengeluaran yang lebih dari biasanya untuk membeli kuota internet. Pemakaian kuota internet banyak dihabiskan oleh beberapa aplikasi dalam menunjang proses perkuliahan maka mahasiswa tidak dapat mengikuti perkuliahan daring. Sistem perkuliahan daring akan terus diperpanjang hingga saat ini untuk menerapkan kebijakan physical distancing dan social distancing dalam mengatasi covid 19 dan mematuhi aturan dari pemerintah.
Tidak dapat dipungkiri bahwa seiring dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi dalam beberapa tahun yang akan datang proses perkuliahan daring dapat diadopsi permanen terlepas dari adanya pandemi covid-19. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim dalam rapat kerja bersama komisi X DPR pada tahun 2020 juga mengungkapkan bahwa perkuliahan daring ini dapat diterapkan secara permanen setelah pandemi covid- 19 berakhir. Wacana tersebut juga ditanggapi positif oleh Presiden Jokowi dalam acara Konferensi Forum Rektor Indonesia dimana dengan adanya perkuliahan daring akan tumbuh normalitas baru yang lebih inovatif dan produktif.
Penelitian ini penting dilakukan oleh peneliti agar dapat dijadikan rekomendasi bagi Universitas Muhammadiyah Makassar untuk dapat mengetahui implementasi kebijakan pemerintah dalam perkuliahan daring sekaligus dapat dijadikan sebagai pedoman untuk meningkatkan capaian pembelajaran atau perkuliahan secara daring.
Menariknya penelitian ini karena akan mendeskripsikan dan menganalisis implementasi kebijakan pemerintah dalam perkuliahan daring pada Universitas Muhammadiyah Makassar dengan menggunakan teori-teori serta konsep-konsep terkait ilmu administrasi Negara.
Berdasarkan uraian latar belakang permasalahan yang dikemukakan diatas maka tepat kiranya jika peneliti mengangkat judul, “Implementasi Kebijakan Pemerintah dalam Perkuliahan Daring di Universitas Muhammadiyah Makassar”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dikemukakan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana kesiapan sumber daya (dosen, mahasiswa, dan sarana digital) dalam melaksanakan kebijakan pembelajaran daring di Universitas Muhammadiyah Makassar?
2. Bagaimana komunikasi antara pemangku kepentingan dan penguatan aktivitas perkuliahan dalam melaksanakan kebijakan pembelajaran daring di Universitas Muhammadiyah Makassar?
3. Bagaimana kondisi sosial dan ekonomi mahasiswa dalam merespon kebijakan pembelajaran daring di Universitas Muhammadiyah Makassar?
4. Bagaimanakah disposisi pimpinan universitas, fakultas dan program studi dalam melaksanakan kebijakan pembelajaran daring di Universitas Muhammadiyah Makassar?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan penelitian ini, adalah:
1. Untuk mengetahui kesiapan sumber daya (dosen, mahasiswa, dan sarana digital) dalam melaksanakan kebijakan pembelajaran daring di Universitas Muhammadiyah Makassar.
2. Untuk mengetahui komunikasi antara pemangku kepentingan dan penguatan aktivitas perkuliahan dalam melaksanakan kebijakan
pembelajaran daring di Universitas Muhammadiyah Makassar daring di Universitas Muhammadiyah Makassar.
3. Untuk mengetahui kondisi sosial dan ekonomi mahasiswa dalam merespon kebijakan pembelajaran daring di Universitas Muhammadiyah Makassar.
4. Untuk mengetahui disposisi pimpinan universitas, fakultas dan program studi dalam melaksanakan kebijakan pembelajaran daring di Universitas Muhammadiyah Makassar.
D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian yang telah dikemukakan, maka manfaat penelitian ini, adalah:
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis, penelitian ini diharapkan mampu memperluas wawasan keilmuwan dan sumbangan pemikiran bagi Universitas Muhammadiyah Makassar.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi sebagai bahan masukan bagi pemerintah maupun lembaga pendidikan dalam mengimplementasikan proses perkuliahan secara daring.
9
A. Penelitian Terdahulu
Beberapa hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini, adalah:
Tabel 2.1 : Penelitian Terdahulu
No Nama dan Judul Penelitian
Metode Penelitian
Hasil Penelitian
1. Raimanu (2020), dengan judul “ Persepsi
Mahasiswa Terhadap Implementasi
Pembelajaran Daring Pada Masa Pandemi Covid-19 (Studi Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Sintuwu Maroso)”.
Kuantitatif Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa belum memiliki kesiapan infrastruktur yang memadai untuk perkuliahan daring. Kemudian responden lebih menyukai pembelajaran gabungan antara self-paced learning dan video conferencing.
2. Sadikin (2020), dengan judul “ Pembelajaran Daring di Tengah Wabah Covid-19”.
Kualitatif Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran jarak jauh mendorong munculnya perilaku social distancing dan meminimalisir munculnya keramaian mahasiswa sehingga dianggap dapat mengurangi potensi penyebaran Covid-19 di lingkungan perguruan tinggi.
3. Hanum & Yanuarita (2020), dengan judul
“Efektivitas
Kualitatif Proses belajar daring di Kabupaten Jombang masih belum mencapai tingkat
Pembelajaran Dalam Jaringan (Daring) Selama Pandemi Covid- 19 di Kabupaten
Jombang”.
efektivitas yang diharapkan.
Keterbatasan sarana dan prasarana penunjang mejadi salah satu kendala yang menyebabkan ketidakefektifan belajar daring.
4. Gian Huryadhi (2021), dengan judul
“Implementasi
Kebijakan Pendidikan Nomor 4 pada Masa Pandemi Covid-19 di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Nusa Tenggara Barat 2020”.
Kualitatif Pada Implementasi kebijakan pendidikan masa pandemi Covid-19 terdapat beberapa faktor penghambat yaitu tidak maksimalnya pembelajaran dari rumah dikarenakan orangtua yang kurang mendampingi anaknya, minimnya antusias siswa, serta kendala kuota sinyal internet yang kurang memadai terutama di desa-desa.
5. Manongga et al. (2021), dengan judul
“Kebijakan Pemerintah Daerah Dalam
Penerapan Pembelajaran Daring Di Kabupaten Kepulauan Talaud”.
Kualitatif Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan yang diambil oleh Pemerintah Daerah yang terkait sudah tepat dalam menghadapi situasi pandemic covid-19 akan tetapi dalam penerapan tindakan dinilai masih kurang efektif dan belum optimal. Sesuai hasil penelitian peneliti dilapangan didapati masih minim perhatiannya terhadap pembelajaran daring.
B. Konsep Implementasi Kebijakan Publik 1. Defenisi Kebijakan Publik
Mengenai defenisi kebijakan ini, Dunn (dalam Anggara, 2016:499) menerangkan bahwa secara etimologis, istilah kebijakan (policy) berasal dari
bahasa Yunani, Sansekerta, dan Latin. Selanjutnya, Dunn menjelaskan bahwa akar kata dalam bahasa Yunani dan Sansekerta, yakni polis (Negara kota) dan dikembangkan dalam bahasa Latin menjadi politia (Negara) dan akhirnya dalam bahasa Inggris policie, yang berarti menagani masalah-masalah publik atau administrasi pemerintahan.
Agar defenisi tersebut dapat dimengerti dan dipahami dengan lebih komprehensif, perhatikan penjelasan Singadilaga (dalam Anggara, 2016:499) berikut ini.
1. Kebijakan publik, adalah ketetapan atas serangkaian atau sejumlah pilihan (set of choosing) yang berkaitan antar satu sama lain yang dimaksudkan agar mencapai sasaran atau tujuan tertentu.
2. Pelaku kebijakan, yaitu seorang atau sekumpulan orang ataupun organisasi yang memiliki peran atau fungsi tertentu dalam kebijakan dikarenakan mereka terletak dalam posisi mempengaruhi, baik pada perumusan kebijakan, pembuatan, pelaksanaan, serta pengawasan dan penilaian atas perkembangan pelaksanaannya.
3. Lingkungan kebijakan merupakan kondisi yang melatarbelakangi timbulnya kejadian yang menyebabkan issue atau masalah kebijakan yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh para pelaku kebijakan dan oleh kebijakan itu sendiri.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa kebijakan publik merupakan upaya yang ditempuh dalam mengatasi masalah tertentu untuk mencapai suatu tujuan.Salah satu permasalahan yang menjadi isu internasioanal
yang melanda banyak negara pada tahun 2019 hingga saat ini yaitu adanya virus covid-19.Penyebaran virus covid-19 yang memasuki Indonesia memaksa pemerintah untuk mengambil kebijakan yang tepat sebagai upaya untuk meminimalisir penyebaran virus tersebut.
Ruang lingkup dari studi kebijakan publik sangat luas yang mencakup berbagai sektor diantaranya sektor sosial, politik, hukum, ekonomi, pertahanan dan keamanan, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, dan lainnya.Pada hakikatnya suatu kebijakan dilakukan oleh pejabat pemerintahan yang biasanya memiliki tujuan uama yakni meningkatkan kesejahteraan publik.Pembuatan kebiajakan publik saling berkaitan dan berpola yang mengarah pada tujuan tertentu, prosesnya meliputi formulasi kebijakan, implementasi kebijakan, dan evaluasi kebijakan.
2. Implementasi Kebijakan Pemerintah
Suatu kebijakan publik tujuannya tidak akan tercapai tanpa adanya realisasi atau implementasi dari kebijakan yang telah ditetapkan. Implementasi merupakan kegiatan integral dari pembentukan kebijakan. Menurut (Leo Agustino)menyebutkan bahwa implementasi merupakan suatu proses yang dinamis, dimana dalam pelaksanaan kebijakan melakukan suatu kegiatan sehingga pada akhirnya akan mendapatkan suatu hasil yang sesuai tujuan atau sasaran kebijakan itu sendiri. Menurut Lasswell dan Kaplan mendefinisikan kebijakan sebagai sarana untuk menggapai tujuan, dan kebijakan merupakan kegiatan yang berkaitan dengan adanya tujuan, nilai dan praktik. Andreas Hoogerwerf yang dikutip dalam Miriam Budiardjo, menyatakan bahwa suatu
objek dalam ilmu politik adalah kebijakan pemerintah, proses terbentuknya, dan akibat-akibatnya. Berdasrkan kutipan tersebut, kebijakan publik bermaksud membangun masyarakat secara terarah melalui pemakaian kekuasaan.
Implementasi kebijakan adalah suatu langkah yang tepat untuk melaksanakan suatu kebijakan yang benar agar mencapai suatu tujuan yang sudah disetujui atau ditentukan oleh pembuat kebijakan (Kadji, 2015:47) Selain itu implementasi kebijakan mengacu kepada tindakan untuk mencapai suatu tujuan yang telah disetujui dalam suatu keputusan. Hal ini merupakan suatu tindakan untuk merubah suatu keputusan menjadi pola operasional dan untuk mencapai suatu perubahan yang telah disetujui sebelumnya (Mulyadi, 2015:12) Implementasi kebijakan dilaksanakan Negara melalui suatu badan pemerintahan, karena ini adalah suatu cara atau langkah pemerintah dalam menjalankan tugas pokoknya, yaitu memberikan pelayanan publik kepada masyarakat (Suharno,2013: 169).
Implementasi kebijakan adalah proses keputusan kebijakan, yang berbentuk undang-undang, aturan pemerintah, keputusan peradilan, perintah eksekutif, ataupun dekrit presiden. Kebijakan yang sudah dibuat tentu akan dan harus di implementasikan, meskipun suatu kebijakan sudah baik akan tetapi tidak diikuti oleh implementasi maka tidak akan menghasilkan tujuan yang diinginkan karena tidak akan mempengaruhi apapun permasalahan yang dihadapi (Anggara, 2017).
Pelaksanaan kebijakan pemerintah memandang penting diadakannya tata cara dan keserasian agar pelaksanaan dapat terlaksana dengan daya guna dan hasil guna yang optimal. Sedangkan, dalam praktik, suatu kebijakan tidak
selamanya dilakukan dengan rapi. Jika tiba pada saat pelaksanaan, kebijakan itu harus di sesuaikan lagi, misalkan dikarenakan dengan kebijakan yang dirumuskan terlalu luas atau umum, sarana tidak dapat diperoleh pada waktunya dan sisi waktu yang dipilih terlalu optimis, semua itu berdasarkan kondisi atau situasi yang kurang lengkap (Anggara, 2017).
Terdapat beberapa model implementasi kebijakan publik menurut (Mulyadi, 2018:72) salah satunya yakni Model Donald S.Van Meter dan Carl E. Van Horn menguraikan ada 6 variabel yang berpengaruh terhadap keberhasilan implementasi, yaitu:
1. Standar dan sasaran kebijakan
Standar dan sasaran kebijakan haruslah jelas serta terukur, dengan demikian tidak akan menimbulkan interpretasi yang dapat menyebabkan terjadi permasalahan atau konflik di antara para agen implementasi.
2. Sumber Daya
Sumber daya merupakan faktor pendukung kebijakan baik itu sumber daya manusia maupun sumber daya non manusia.
3. Komunikasi antar organisasi dan penguatan aktivitas
Di berbagai kasus, implementasi sebuah program terkadang perlu didukung dan dikoordinasikan dengan instansi lain agar tercapai keberhasilan yang diinginkan.
4. Karakteristik agen pelaksana
Sejauh mana kelompok-kelompok memberikan support terhadap implementasi kebijakan. Termasuk didalamnya karakteristik para partisipan
yaitu mendukung ataupun menolak, yang kemudian juga bagaimana karakter opini publik yang ada di lingkungan dan apakah elite politik mendukung implementasi kebijakan.
5. Kondisi sosial, ekonomi dan politik
Kondisi sosial, ekonomi dan politik mencakup sumber daya ekonomi lingkungan yang dapat mendukung keberhasilan implementasi kebijakan.
6. Disposisi implementor
Disposisi implementor mencakup 3 (tiga) hal penting, yakni:
1) Respon implementor terhadap kebijakan, yang akan mempengaruhi kemauannya untuk melaksanakan kebijakan
2) Kognisi, yaitu pemahamannya terhadap kebijakan
3) Intensitas disposisi implementor yaitu preferensi nilai yang dimiliki implementor.
Sedangkan pandangan Edward III dalam (Widodo, 2018:96), keberhasilan atau kegagalan implementasi kebijakan dipengaruhi oleh empat variabel yakni:
1. Faktor Komunikasi
Ketercapaian implementasi kebijakan terdapat mensyaratkan agar implementor mengetahui apa yang harus dilaksanakan. Untuk mengurangi distorsi implementasi maka apa yang menjadi tujuan dan sasaran kebijakan harus ditranmisikan kepada kelompok sasaran (target group).
2. Sumberdaya
Edward (dalam Widodo,2018:98) menyatakan bahwa faktor sumber daya ini juga mempunyai peranan penting dalam implementasi kebijakan Meskipun
isi kebijakan sudah dibicarakan secara jelas dan konsisten, namun jika implementor kekurangan sumberdaya untuk melaksanakan, implementasi tidak akan berjalan efektif. Sumberdaya dapat berupa sumberdaya manusia yakni kompetensi implementor, dan sumberdaya finansial.
3. Disposisi
Edward III (dalam widodo, 2018:104) menjelaskan bahwa keberhasilan implementasi kebijakan bukan hanya ditetapkan oleh sejau hmana para pelaku kebiajakan (implementors) mengetahui apa yang harus dilaksanakan dan dilakukan dan mampu melakukannya tetapi juga ditentukan oleh keinginan para pelaku kebijakan tadi mempunyai disposisi yang kuat terhadap kebijakan yang sedang di implementasikan Disposisi merupakan watak dan karakteristik yang dimiliki oleh implementor, seperti komitmen, kejujuran, dan sifat demokratis. Jika implementor mempunyai disposisi yang baik, maka dia akan menjalankan kebijakan dengan baik pula seperti apa yang diinginkan oleh pembuat kebijakan. Dan sebaliknya jika implementor memiliki sikap ataupun perspektif berbeda dengan pembuat kebijakan, maka proses implementasi kebijakan juga menjadi tidak efektif.
4. Struktur birokrasi
Meskipun sumber-sumber untuk mengimplementasikan suatu kebijakan cukup dan para pelaksana (implementors) mengetahui apa serta bagaimana cara melaksanakannya maupun mereka memiliki keinginan unuk melakukannya.
Akan tetapi menurut Edward III (dalam Widodo, 2018 :106), implementasi kebijakan belum bisa efektif bisa jadi kerena adanya ketidakefisienan struktur
organisasi, pembagian kewenangan, hubungan antar unit-unit organisasi yang ada dalam organisasi yang berkaitan, dan hubungan organisasi dengan organisasi luar dan sebagiannya. Struktur yang berwenang mengimplementasikan kebijakan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap implemntasi kebijakan.Standard Operating Procedures (SOP) atau prosedur operasi yang standar merupakan salah satu aspek struktur penting dari setiap organisasi. SOP menjadi pedoman untuk setiap implementor dalam bertindak.
Menurut Marilee S. Keberhasilan implementasi dipengaruhi oleh isi kebijakan (content of policy) dan lingkungan kebijakan (context of implementation).Isi kebijakan tersebut meliputi hal-hal berikut (1) Kepentingan yang terpengaruhi oleh kebijakan, (2) Jenis manfaat yang dihasilkan, (3) Derajat perubahan yang diinginkan, (4) kedudukan pembuat kebijakan, (5) Siapa pelaksana program dan (6) Sumber daya yang dikerahkan.
Sedangkan lingkungan kebijakan meliputi : (1) Kekuasaan, kepentingan dan strategi aktor yang terlibat, (2) Karakteristik lembaga dan penguasa, (3) Kepatuhan dan daya tanggap.
3. Perkuliahan Daring
Belajar daring merupakan sistem perkuliahan yang menggunakan akses internet sebagai sarana pembelajaran yang dirancang dan ditampilkan dalam bentuk modul perkuliahan, rekaman video, audio, atau tulisan dari akademisi/universitas. Menurut Thorme dalam (Kuntarto,2017:102) menguraikan pembelajaran daring sebagai pembelajaran yang menggunakan teknologi multimedia, kelas virtual, CD-ROM, video streaming, voice mail, e-
mail, dan konferensi telepon, teks animasi daring, serta video steraming daring.
sementara itu, Menurut Ghairardi dalam (Kartika,2018:27) menerangkan bahwa internet menawarkan model atau metode pembelajaran yang efektif, misalnya praktik terkait umpan balik, menggabungkan kegiatan kerjasama dengan pembelajaran mandiri, mempersonalisasi pembelajaran berdasarkan keperluan mahasiswa, dan penggunaan simulasi dan permainan.
Berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi memberikan perubahan dan kemajuan diberbagai sektor, utamnya dalam sektor pendidikan.
Fungsi teknologi informasi dan komunikasi di bidang pendidikan sangat penting dan dapat membuat dosen dan mahasiswa merasa senang dalam proses pembelajaran. Terutama pengaplikasian perkuliahan atau pembelajaran daring ini dapat dilakukan kapan dan dimana saja, sehingga tidak terkendala waktu dalam penggunaan bahan ajar (Suradji, 2018:132).
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa perkuliahan daring merupakan pembelajaran yang menggunakan teknologi dengan penggunaan internet yang dimana proses pembelajarannya tidak dilaksanakan secara tatap muka (face to face) tetapi dengan menggunakan media elektronik yang memudahkan mahasiswa dalam belajar kapan dan dimanasaja.
Tung dalam (Mustofa. et al. 2019:154) menyebutkan ciri-ciri pembelajaran daring, diantaranya :
1. Bahan ajar disajikan berbentuk teks, grafik dan berbagai elemen multimedia
2. Komunikasi dilakukan secara simultan dan tidak bersamaan, misalnya video conference, chat room, atau ruang diskusi.
3. Untuk belajar mengunakan waktu dan tempat virtual.
4. Berbagai elemen pembelajaran pada CD-ROM yang digunakan untuk peningkatan komunikasi pembelajaran.
5. Bahan ajar yang relatif mudah diperbarui.
6. Meningkatkan interaksi antara mahasiswa dan fasilitator.
7. Memungkinkan bentuk komunikasi pembelajaran baik formal maupun informal.
8. Dapat menggunakan berbagai macam sumber belajar daring
Berdasarkan permendikbud No. 109/2013 pembelajaran daring atau Pembelajaran Jarak jauh mempunyai tujuan yaitu: (1) memberikan layanan pendidikan tinggi bagi kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka (2) memperluas akses serta memudahkan layanan pendidikan tinggi dalam pendidikan dan pembelajaran.
Pelaksanaan e-learning yang berbeda dengan pembelajaran tatap muka secara langsung memerlukan beberapa komponen penting agar pelaksanannya dapat berjalan dengan lancar. Menurut (Romi Satria Wahono : 2008) komponen- komponen yang membentuk e-learning adalah sebagai berikut:
1. Infrastruktur e-learning yaitu dapat berupa personal computer (PC), jaringan computer, internet, dan perlengkapan multimedia.
2. Sistem dan aplikasi e-learning yaitu sistem perangkat lunak yang memvirtualisasi proses belajar mengajar konvensional. Bagaimana
manajemen kelas, pembuatan materi atau konten, forum diskusi, sistem penilaian (rapor), sistem ujian online dan segala fitur ang berkaitan dengan manajemen proses belajar mengajar. Sistem perangkat lunak tersebut sering disebut Learning Management System (LMS).
3. Konten e-learning yaitu konten yang berisi bahan ajar dalam bentuk Multimedia-based Content (konten berbentuk multimedia inteaktif) atau Text-based Content (konten yang bentuknya teks seperti pada buku pelajaran biasa.
Beberapa hal yang mendasari pentingnya e-learning diterapkan dalam pembelajaran yaitu:
1. Fleksibilitas tempat dan waktu, jika pembelajaran konvensional atau tatap muka dikelas mengharuskan mahasiswa untuk hadir dikelas sesuai waktu yang telah ditentukan, maka dengan menggunakan e-learning dapat memberikan fleksibiltas dalam memilih waktu dan tempat untuk mengakses pelajaran.
2. Independent learning, e-learning dapat memberi kesempatan bagi pelajar untuk memegang kendali atas keberhasilan belajar masing-masing.
3. Biaya, biaya yang bisa dihemat dari cara pembelajaran dengan e-learning.
Secara finansial, biaya yang bisa dihemat anataralain biaya transportasi ke tempat belajar, biaya administrasi pengelolaan, penyediaan sarana dan fasilitas fisik untuk belajar.
4. Fleksibilitas kecepatan pembelajaran, pada sistem e-learning dapat dilaksankan penyesuain dengan kecepatan belajar masing-masing mahasiswa.
5. Standarisasi pengajaran, pelajaran e-learning selalu mempunyai kualitas sama setiap kali diakses dan tidak tergantung susasana hati pengajar.
6. Efektivitas pengajaran, penyampaian pelajaran e-learning dapat berupa simulasi dan kasus-kasus, menggunakan bentuk permainan dan menerapkan teknologi animasi canggih.
7. Kecepatan distribusi, e-learning dapat dengan cepat menjangkau ke seluruh penjuru, tim desain hanya perlu menyiapkan bahan pelajaran dengan cepat dan menginstal hasilnya di server pusat e-learning.
8. Ketersediaan On-Demand, e-learning dapat diakses kapan dan dimana saja.
9. Otomatisasi proses administrasi, e-learning menggunakan suatu LMS yang fungsinya sebagai platform pelajaran-pelajaran e-learning. LMS berfungsi menyimpan data-data pelajar, pelajaran, dan proses pembelajaran yang berlangsung. (Hartanto, 2016)
Manfaat pembelajaran atau perkuliahan daring menurut Bates dan Wulf dalam Mustofa, Chodzirin & Sayekti (2019, hlm.154) terdiri dari 4 hal yakni:
1. Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara mahasiswa dengan dosen atau instruktur (enhance interactivity).
2. Memungkinkan terjadi interaksi pembelajaran darimana dan kapan saja 3. Menjangkau mahasiswa dalam cakupan yang luas.
4. Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran.
Dapat disimpulkan bahwa manfaat dari proses perkuliahan daring diantaranya yaitu adanya kemajuan dalam bidang teknologi yang mampu meningkatkan mutu pendidikan serta mampu meningkatkan interaksi, memudahkan proses pembelajaran karena dapat dilakukan dimanpun dan kapapun selain itu juga mudah mengakses materi pembelajaran dan mampu menjangkau peserta didik dengan cakupan yang luas.
Selain kelebihan atau manfaat yang dimiliki e-learning, adapun kekurangan yang harus diketahui antaralain:
1. Pelajar harus mempunyai komputer dan akses internet.
2. Pelajar juga harus mempunyai kemampuan atau keterampilan komputer dengan programnya, seperti internet browser, email, dan apikasi office.
3. Koneksi internet yang memadai karena sangat diperlukan dalam pengambilan materi pelajaran.
4. Dengan tidak adanya rutinitas yang ada dikelas, maka pelajar mungkin akan berhenti belajar atau bingung terkait aktivitas belajar dan tenggang waktu tugas, yang akan membuat pelajar gagal.
5. Pelajar akan merasa sangat jauh dengan instruktur. Karena instruktur tidak akan selalu ada dalam membantu pelajar, sehingga pelajar harus disiplin dan menyelesaikan tugas secara mandiri tanpa adanya bantuan instruktur.
6. Pelajar juga harus mempunyaai keterampilan atau kemampuan menulis dan berkomunikasi yang baik, karena pengajar dan pelajar tidak bertatap
muka sehingga memungkinkan terjadinya salah pengertian dalam beberapa hal.
Dengan demikian penerapan e-learning bagi perguruan tinggi atau dikenal dengan sebutan “Perkuliahan Daring” diharapkan dapat memberikan manfaat lebih bagi mahasiswa maupun dosen.Perkuliahan daring dimungkinkan dapat meningkatkan kualitas dalam mengakses informasi tanpa batas melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi.
Meskipun pelaksanaannya saat ini karena kepentingan mendesak akibat penyebaran virus Covid-19 tentunya mahasiswa dan dosen harus mampu beradaptasi dan menerapkan perkuliahan daring sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
C. Kerangka Pikir
Penelitian ini dilakukan di Universitas Muhammadiyah Makassar khususnya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik untuk mengetahui implementasi kebijakan pemerintah dalam perkuliahan daring dimana masih didapati beberapa permasalahan berupa dosen dan mahasiwa kesulitan beradaptasi dimasa transisi dari luring ke perkuliahan daring dikarenakan metode pembelajaran yang baru dilakukan di era pandemi covid-19.
Penelitian tentang implementasi kebijakan pemerintah dalam perkuliahan daring di Universitas Muhammadiyah Makassar ini akan dianalisis berdasarkan indikator yang dikemukakan Donald S. Van Meter dan Carl E. Van Horn (dalam Deddy Mulyadi,2018) yaitu : (1) Standar dan sasaran kebijakan, (2) Sumber daya, (3) Komunikasi antar organisasi dan penguatan aktivitas, (4) Karakteristik
atau sifat badan/instansi pelaksana, (5) Kondisi sosial, ekonomi, dan politik, (6) Disposisi implementor. Peneliti akan fokus meneliti pada 4 indikator yaitu Sumber daya, Komunikasi antar organisasi dan penguatan aktivitas, kondisi sosial dan ekonomi dan disposisi implementor untuk indikator standar sasaran kebijakan peneliti melihat indikator tersebut sudah mencakup keseluruhan dari 4 indikator yang ada sedangkan pada indikator karakteristik atau sifat badan/instansi pelaksana, pada indikator tersebut susah untuk mengukurnya sesuai judul peneliti terkait perkuliahan daring.
Berdasarkan urain diatas yang telah dikemukakan maka peneliti menyusun bagan kerangka pikir sebagai berikut :
Implementasi Kebijakan Pemerintah dalam Perkuliahan Daring di Universitas Muhammadiyah
Makassar
Capaian Pembelajaran dalam Perkuliahan Daring di Universitas Muhammadiyah Makassar Indikator Implementasi Kebijakan
Van Meter Van Horn (dalam Daddy Mulyadi, 2018)
1. Sumber daya
2. Komunikasi antar organisasi dan penguatan aktivitas
3. Kondisi sosial dan ekonomi 4. Disposisi Implementor
D. Fokus Penelitian
Fokus penelitian ini berasal dari latar belakang masalah, kemudian dirumuskan dalam rumusan masalah dan dikaji berdasarkan teori dalam tinjauan pustaka.Adapun fokus penelitian yang bersangkutan dari rumusan masalah adalah Implementasi kebijakan pemerintah dalam perkuliahan daring di Universitas Muhammadiyah Makassar.
E. Deskripsi Fokus Penelitian
Adapun sub-sub fokus dari fokus penelitian implementasi kebijakan pemerintah dalam perkuliahan daring di Universitas Muhammadiyah Makassar adalah:
1. Sumber daya adalah ketersediaan sumber daya (dosen, mahasiswa, dan sarana digital) baik secara kuantitas maupun kualitas dalam melaksanakan kebijakan pembelajaran daring di Universitas Muhammadiyah Makassar.
a. Dosen yaitu kemampuan dosen melakukan pembelajaran daring sesuai dengan standar kebijakan yang ditetapkan pemerintah untuk dilaksanakan dalam proses perkuliahan di Universitas Muhammadiyah Makassar.
b. Mahasiswa yaitu kemampuan mahasiswa untuk beradaptasi dengan teknologi serta menerima dan memahami materi perkuliahan daring sebagai sasaran baik pemerintah maupun universitas dalam pelaksanaan perkuliahan daring untuk mencapai tujuan pembelajaran di Universitas Muhammadiyah Makassar.
c. Sarana Digital yaitu media pembelajaran digital yang digunakan dalam proses mengajar atau fasilitas untuk keberhasilan dan kelancaran dalam memberikan kemudahan dilingkup pendidikan terutama sangat diperlukan
dalam mendukung proses pembelajaran daring di Universitas Muhammadiyah Makassar.
2. Komunikasi antar organisasi dan penguatan aktivitas perkuliahan adalah komunikasi yang yang dijalankan antara agen pelaksana (Pimpinan Universitas) dengan aktor-aktor yang terlibat (Fakultas, Prodi, Dosen, dan Mahasiswa) untuk dapat disiplin peraturan kebijakan pembelajaran daring dalam dunia pendidikan telah terlaksana dengan baik. Tidak ada kesalahpahaman atau penyelengaraan yang terjadi selama kebijakan pembelajaran daring tersebut.
a. Komunikasi antara pimpinan universitas dengan fakultas yaitu berdasarkan kebijakan pemerintah dalam pelaksanaan perkuliahan daring maka jenis komunikasi yang berwujud pemberian petunjuk, pengarahan, penjelasan tentang tugas dalam pelaksanaan perkuliahan daring.
b. Komunikasi antara Fakultas dengan Prodi yaitu berkoordinasi dalam mendukung, mengelola, serta mengawasi pelaksanaan perkuliahan daring.
c. Komunikasi antara Prodi dengan Dosen yaitu berinteraksi dalam mendukung, mengelola serta menyiapkan metode yang bervariasi untuk pelaksanaan perkuliahan daring.
d. Komunikasi antara Dosen dengan Mahasiswa yaitu proses komunikasi yang dilakukan antara dosen dan mahasiswa adalah berkaitan dengan penyampaian materi perkuliahan. Yaitu terkait metode yang digunakan dalam pembelajaran daring serta dalam memanfaatkan aplikasi berbasis online.
3. Kondisi sosial dan ekonomi mahasiswa adalah lingkungan yang kondusif dengan adanya kebijakan pembelajaran daring selama pandemi covid 19 ini menunjukkan pelaksanaan model pembelajaran daring ini berjalan sesuai tujuan. Namun, lingkungan sosial dan ekonomi yang terkadang masih tidak kondusif dapat menjadi terkendalnya penerapan pembelajaran daring tersebut.
a. Lingkungan tempat tinggal mahasiswa adalah ligkungan yang kondusif atau aman dari kebisingan dapat mendukung pelaksanaan perkuliahan daring.
b. Kuota internet adalah faktor ekonomi terkait biaya kuota internet selama penerapan perkuliahan daring.
4. Disposisi pimpinan universitas, fakultas dan program studi adalah sikap penerimaan atau penolakan dari agen pelaksana sangat mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan penerapan perkuliahan daring di Universitas Muhammadiyah Makassar.
a. Disposisi Pimpinan Universitas yaitu sikap dan respon Rektor dan Wakil Rektor dalam menjalankan tugas, pokok dan fungsinya masing-masing dari pemerintah dalam penerapan perkuliahan daring.
b. Disposisi Fakultas yaitu sikap, respon dan kognisi atau pemahaman Dekan dan Wakil Dekan dalam menjalankan tugas terhadap kebijakan dari pimpinan universitas dalam penerapan perkuliahan daring.
c. Disposisi Program Studi yaitu peran ketua jurusan dalam mendampingi dengan baik dosen maupun mahasiswa serta memberikan responsif terkait
metode pembelajaran daring ataupun fast respon terkait kendala dosen dan mahasiswa dalam melaksanakan proses belajar mengajar secara daring.
29
A. Waktu dan Lokasi Penelitian
Waktu penelitian yang dibutuhkan pada penelitian ini kurang lebih selama 2 (dua) bulan. Lokasi penelitian berada di Universitas Muhammadiyah Makassar khususnya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik karena peneliti melihat kegigihan dosen melaksanakan proses perkuliahan secara daring meskipun masih terdapat beberapa permasalahan berupa dosen dan mahasiwa yang masih kesulitan beradaptasi dimasa transisi dari luring ke perkuliahan daring dikarenakan metode pembelajaran yang baru dilakukan di era pandemi covid-19.
B. Jenis dan Tipe Penelitian 1) Jenis Penelitian
Berkaitan dengan tujuan penelitian adalah untuk memberikan gambaran mengenai implementasi kebijakan pemerintah dalam perkuliahan daring di Universitas Muhammadiyah Makassar.Maka penelitian ini harus dapat menilai secara langsung bagaimana pencapaian pembelajaran mahasiswa dalam perkuliahan daring.Sehingga peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif.
2) Tipe Penelitian
Tipe penelitian adalah fenomenologi.Hal ini didapati dari sebuah fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar sehingga menghasilkan suatu informasi yang diperlukan.Peneliti bermaksud untuk mendeskripsikan mengenai masalah-
masalah yang ada yang berkaitan dengan implementasi kebijakan pemerintah dalam perkuliahan daring di Universitas Muhammadiyah Makassar.
C. Informan Penelitian
Informan penelitian ini akan diwawancarai untuk mendapatkan jawaban yang berkaitan dengan implementasi kebijakan pemerintah dalam perkuliahan daring di Universitas Muhammadiyah Makassar. Teknik pemilihan informan yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling yaitu teknik penentuan informan berdasarkan karakteristik tertentu mengenai siapa saja cocok untuk dijadikan informan. Adapun informan dalam penelitian ini berjumlah 13 orang yaitu sebagai berikut:
Tabel 3.1 Informan Penelitian
No. Nama Informan
Inisial Jabatan
1. Nasrun, S.Pd., M.Pd. NS Ketua LP2AI
2. Dr. Hj. Ihyani Malik, S.Sos., M.Si. IM Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 3. Dr. Nur Wahid, S.Sos., M.Si. NW Ketua Prodi Ilmu
Administrasi Negara 4. Dr. Jaelan Usman, M.Si. JU Dosen Ilmu Administrasi
Negara
5. Ahmad Harakan, S.IP., M.H.I. AN Dosen Ilmu Pemerintahan
6. Hardianto Hawing, S.T., M.A. HN Dosen Ilmu Pemerintahan
7. Syukri, S.Sos., M.Si. SY Dosen Ilmu Komunikasi
8. Arni, S.Kom., M.I.Kom AI Dosen Ilmu Komunikasi
9. Diva Fhadillah Azzahra DV
Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara
10. Busri BS Mahasiswa Ilmu
Administrasi Negara
11. Muh Yusril YS Mahasiswa Ilmu
Pemerintahan
12. Muslihah Muhayyan MN Mahasiswa Ilmu
Pemerintahan
13. Irmawan Putra Dawan IN Mahasiswa Ilmu
Komunikasi
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini, menggunakan: (1) Observasi; (2) Wawancara dan (3) Dokumentasi.
1. Observasi
Observasi lapangan merupakan pengawasan dan pencatatan yang sistematis terhadap gejala-gejala dalam objek penelitian, observasi dilakukan dengan cara melihat secara langsung ketersediaan sarana prasarana dalam pelaksanaan perkuliahan daring di Universitas Muhammadiyah Makassar.
2. Wawancara
Wawancara yaitu memperoleh makna yang rasional dengan melakukan percakapan secara berhadapan langsung (face to face) dengan
informan.Kegiatan ini dilakukan secara santai namun sistematis, dimana informan dapat mengeluarkan ide, pandangan dan perasaan secara natural.
3. Dokumentasi
Dokumentasi yaitu bukti yang mendukung penelitian, dokumentasi dalam bentuk foto, rekaman maupun catatan hasil wawancara pada saat melakukan penelitian dengan pihak-pihak yang bersangkutan.
E. Teknik Analisis Data 1. Reduksi Data
Data yang didapatkan di lapangan dengan jumlah yang banyak sehingga mengharuskan peneliti mencatat dengan keseluruhan dan secara rinci.
Semakin lama peneliti di lapangan, maka jumlah datanya akan semakin banyak pula. Mereduksikan data artinya merangkum, memilih yang pokok-pokok yang pentingnya saja atau berfokus pada hal-hal yang penting.
2. Penyajian Data
Penyajian data yaitu suatu tatanan informasi yang memungkinkan kesimpulan peneliti bisa dilakukan dalam bentuk menguraikan secara singkat, bagan, hubungan antar kategori dan semacamnya.
3. Penarikan Kesimpulan
Pada tahap pertama mengumpulkan data, peneliti berusaha telah memahami apa arti dari berbagai hal yang ditemuinya dengan mulai melakukan hal pencatatan struktur-struktur, pernyataan-pernyataan, konfigurasi-konfigurasi, alur sebab-akibat dan berbagai proposisi.
F. Teknik Pengabsahan Data
Teknik pengumpulan data triangulasi diartikan suatu cara pengumpulan data dengan menggabungkan beberapa cara seperti teknik mengumpulkan data dan sumber data yang ada. Ada tiga macam triangulasi, yakni:
1. Triangulasi Sumber, untuk menguji kebenaran sebuah data dilakukan dengan teknik pengecekan data yang sudah didapatkan melalui beberapa sumbernya.
2. Triangulasi Teknik, untuk menguji kebenaran sebuah data dilakukan dengan teknik pengecekan data kepada sumbernya yang serupa dengan cara lain atau berbeda. Seperti data yang diperoleh dari observasi, kemudian di cek melalui wawancara, dan dokumentasi.
3. Triangulasi Waktu, waktu sering mempengaruhi kredibilitas data. Data dikumpulkan dengan cara wawancara di pagi hari saat narasumbernya masih sangat segarnya, belum banyak dipengaruhi oleh lingkungan sekitar sehingga akan memberikan data yang benar dan valid sehingga data itu dapat dipercaya.
34
1. Gambaran Umum Universitas Muhammadiyah Makassar
Universitas Muhammadiyah Makassar, atau biasa disingkat Unismuh Makassar adalah salah satu Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang merupakan amal usaha Muhammadiyah dalam mengembangkan pendidikan khususnya pada jenjang pendidikan tinggi. Universitas Muhammadiyah Makassar sekarang ini sudah menjadi salah satu kampus yang memiliki daya tarik tersendiri dimasyarakat.Universitas Muhammadiyah Makassar juga terkenal dengan mahasiswa terbanyak yang ada di Sulawesi Selatan.
Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) adalah perguruan tinggi swasta yang berdiri pada tanggal 19 Juni 1963.Universitas Muhammadiyah Makassar ini dulu memiliki 3 kampus. Kampus I alamat di jl. Sultan Alauddin No 259 makassar 90221. Fax (0411)860. Kampus II di jl. Letjen A. Mappaodang II No 17 Makassar 90221.Telp.0411- 851914 dan Fax 0411- 865588. Kampus III di jl. Ranggong Dg. Romo No. 21 Makassar 90112.Telp (0411)318791.Tapi sekarang sudah disatukan secara keseluruhan di Jalan Sultan Alauddin di Kampus Universitas Muhammadiyah Makassar.
Fakultas yang telah disediakan oleh Pihak Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) adalah:
1. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)
2. Fakultas Agama Islam (FAI) 3. Fakultas Ekonomi dan Bisnis 4. Fakultas Pertanian
5. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) 6. Fakultas Teknik
7. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan 8. Program Pascasarjana
2. Deskripsi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas Muhammadiyah Makassar
a. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar mengelola tiga program studi diantaranya: S1 Ilmu Administrasi Negara (IAN) dengan jumlah dosen ada 24 orang dilhat dari tingkat pendidikannya S3 ada 14 orang, dan S2 terdapat 10 orang. Jumlah mahasiswa ilmu administrasi secara keseluruhan terdapat 1363 orang.S1 Ilmu Pemerintahan (IP) dengan jumlah dosen ada 17 orang dilihat dari tingkat pendidikannya terdapat 2 orang S3 dan 15 orang S2.Jumlah mahasiswa ilmu pemerintahan secara keseluruhan terdapat 674 orang.
Selanjutnya S1 Ilmu Komunikasi (IKOM) dengan jumlah dosen ada 11 orang dengan tingkat pendidkan S3 2 orang dan S2 9 orang dengan jumlah mahasiswa 294 orang. Dari ketiga program studi tersebut jumlah dosen secara keseluruhan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik terdapat 52
orang.dan dari keseluruhan terdapat 2,331 orang mahasiswa. Ketiga program studi itu telah mendapatkan akreditas dari BAN-PT program studi Ilmu Administrasi Negara (IAN), Ilmu Pemerintahan (IP), dengan masing- masing mendapatkan nilai A sedangkan program studi Ilmu Komunikasi (IKOM) dengan nilai B. langkah yang ditempuh fakultas dan program studi yaitu menggencarkan promosi dan sosialisasi ketiga program studi ditengah masyarakat menggunakan media massa dan media sosial, kerjasama dilakukan diberbagai kalangan termasuk desa-desa binaan ketiga program studi juga menjadi faktor ketiga program studi lebih dikenal ditengah masyarakat termasuk jaringan alumni ketiga program yang menyebar di Sulawesi Selatan dan sekitarnya.
b. Visi dan Misi Fisip Unismuh Makassar a) Visi
Fakultas yang unggul, terpercaya dan mandiri dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat serta pengembangan pemikiran dan pengkajian ilmu-ilmu sosial dan politik yang bernuansa islam berkemajuan tahun 2024.
b) Misi
Adapun Misi Fisip Unismuh Makassar sebagai berikut:
1. Menyelenggarakan proses pendidikan dan pengajaran yang berkualitas dan akuntabel.
2. Membangun kemitraan dengan institusi diluar kampus demi tercapainya sinergitas antara ilmu sosial dan politik dengan dunia kerja.
3. Menciptakan atmosfer akademik yang kondusif dengan dunia keilmuan melalui perwujudan tridarma perguruan tinggi.
4. Mengintegrasikan proses pembelajaran dengan realita sosial politik dengan mengedepankan nilai-nilai islam berkemajuan.
B. Hasil Penelitian
Peneliti menjelaskan hasil penelitian yang telah dilakukan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar mengenai Implementasi Kebijakan Pemerintah dalam Perkuliahan Daring.
Adapun hasil menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi, peneliti mengacu kepada identifikasi masalah yang peneliti menurut (Van Meter dan Van Horn dalam Daddy Mulyadi 2018) Implementasi Kebijakan meliputi : (1) sumber daya yakni kemampuan memanfaatkan sumber daya yang tersedia baik sumber daya manusia maupun sumber daya non manusia.
(2)komunikasi antar organisasi dan penguatan aktivitas yaitu proses penyampaian informasi kepada parapelaksana yang konsisten dan seragam dalam mengimplementasikan kebijakan. (3) kondisi sosial dan ekonomi yakni lingkungan eksternal yang berpengaruh besar bagi mahasiswa dalam melaksanakan perkuliahan daring dan (4) disposisi implementor yakni sikap para pelaksana dalam menerima atau menolak keputusan dalam melaksanakan implementasi kebijakan.
1. Kesiapan Sumber daya
Sumber daya merupakan suatu nilai potensi yang dimiliki yang dapat mendukung keberhasilan dari proses implementasi kebijakan sehingga
keberadaannya memiliki nilai yang sangat penting.Hal ini didukung pula oleh pengertian sumber daya menurut Van Meter dan Van Horn menyatakan bahwa sumber daya merupakan faktor pendukung kebijakan baik itu sumber daya manusia maupun sumber daya non manusia.Sumber daya dalam proses implementasi kebijakan perkuliahan daring yang diterapkan oleh Universitas Muhammadiyah Makassar meliputi sumber daya manusia dan non manusia yaitu dosen, mahasiswa serta sarana digital. Dari pelaksanaan perkuliahan daring tersebut maka dosen mempunyai kewajiban untuk tetap memberikan materi dan juga penjelasan kepada mahasiswa. Proses pembelajarannya tetap sama seperti perkuliahan tatap muka hanya saja dengan menggunakan media dari sesuai dengan pilihan dari dosen masing- masing pengampu mata kuliah. Hasil wawancara penulis dengan dosen diFakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar dapat diketahui bahwa selama perkuliahan daring berlangsung maka perkuliahan dilaksanakan dengan memanfaatkan media yang ada.
Dosen mempunyai tugas untuk upload materi dan memberikan penugasan kepada mahasiswa serta memberikan penjelasan materi sesuai dengan jadwal dengan memanfaatkan media yang ada.
a. Sumber daya Dosen
Dosen memiliki peran yang sangat penting dalam proses perkuliahan.
Karena dosen adalah pihak yang secara langsung memberikan materi kuliah kepada mahasiswa ketika dilaksanakannya proses perkuliahan.Dari hasil wawancara peneliti lakukan terlihat bahwa kesiapan dosen dalam
melaksanakan perkuliahan daring sudah cukup mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik.Dosen mempersiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam pelaksanaan perkuliahan daring selain itu pihak univeritas juga telah memfasilitasi dosen untukmelakukan perkuliahan secara daring.bahkan Universitas memberikan pelatihan tentang penggunaan media khususnya SPADA untuk membekali dosen dalam melaksanakan perkuliahan daring.Meskipun masih ada beberapa dosen yang belum menggunakan platform SPADA dikarenakan dosen belum maksimal dalam mengakses platform tersebut dan atas pertimbangan kondisi mahasiswa yang ada di daerah yang susah sinyal sehingga tidak dapat mengakses platform tersebut dengan baik. Disamping itu juga, dari hasil wawancara peneliti dapat diketahui bahwa dosen memiliki kemampuan dalam memilih dan menyajikan materi ajar yang lebih menarik kepada mahasiswa serta memberikan kuis sehingga dalam proses perkuliahan tidak terkesan menoton. Dengan sistem perkuliahan yang demikian membuat para mahasiswa memiliki motivasi dan semangat belajar dalam perkuliahan yang dilakukan melalui daring/online.
1) Kualitas Dosen
Kualitas dosen dalam pelaksanaan perkuliahan daring berhubungan erat dengan kompetensi dosen dalam menggunakan teknologi.Berdasarkan hasil observasi serta wawancara peneliti dari informan penelitian menyatakan bahwa beberapa dosen sudah sangat mahir menggunakan media pembelajaran online dikarenakan beberapa dosen memang sudah menguasai
teknologi sebelum adanya pandemi Covid 19.Meskipun demikian masih ada beberapa dosen yang masih belum mahir dalam menggunakan teknologi khusunya penggunaaan platform SPADA dikarenakan belum maksimal mengikuti pelatihan yang telah disediakan oleh pihak kampus.Dosen juga dituntut untuk kreatif dalam menyusun media pembelajaran sebagai inovasi penggunaan media daring. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara peneliti dengan informan penelitian pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar dapat diketahui bahwa Google Meet dan Zoom paling banyak digunakan dalam proses perkuliahan karena memudahkan dalam pengoperasiannya. Google Meet dan Zoom digunakan dosen sebagai sarana penilaian mahasiswa dan interaksi umpan balik, namun selama proses perkuliahan berlangsung jumlah kehadiran memang sangat baik akan tetapi ada yang tidak serius dalam belajar.
Penggunaan kelas virtual dirasa belum cukup efektif dikarenakan banyak mahasiswa yang mematikan camera saat perkuliahan berlangsung, sehingga dosen tidak mampu memantau mahasiswa tersebut apakah sedang fokus belajar atau melakukan kegiatan lain. Para dosen memiliki kemampuan dan kompetensi yang baik dibidangnya masing-masing yang sangat menunjang dan berpengaruh terhadap hasil capaian pembelajaran.Berdasarkan penelitian penulis dapat diketahui tingkat pendidikan dosen sebagai berikut:
Tabel 4.1
Tingkat Pendidikan Dosen
Tingkat Pendidikan Program Studi Jumlah S3 Ilmu Administrasi Negara 14 orang
Ilmu Pemerintahan 2 orang Ilmu Komunikasi 2 orang S2 Ilmu Administrasi Negara 10 orang
Ilmu Pemerintahan 14 orang Ilmu Komunikasi 9 orang Dari hasil wawancara yang telah dilakukan penulis terhadap dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik proses perkuliahan daring hampir sama dengan perkuliahan yang sudah biasa dilakukan sebelumnya yaitu adanya penyampaian materi dari dosen dan mahasiswa melalui tanya jawab dan juga pemberian tugas.
Adapun hasil wawancara peneliti dengan JU selaku Dosen Ilmu Administrasi Negara sebagai berikut :
“Perkuliahan daring dilaksanakan dengan memanfaatkan aplikasi yang difasilitasi kampus. Google Classroom untuk upload materi dan memberikan tugas ke mahasiswa, sementara Google Meet untuk presentasi, penjelasan materi. Perkuliahan ini dilakukan sesuai jadwal yang ada.”(Hasil wawancara dengan JU selaku Dosen Ilmu Administrasi Negara, 29 Juni 2022).
Pernyataan dari bapak JU selaku Dosen Ilmu Administrasi Negara metode pembelajaran adalah cara melakukan atau menyajikan, menguraikan dan memberi latihan isi pelajaran kepada mahasiswa untuk mencapai tujuan tertentu. Metode pembelajaran yang ditetapkan dosen memungkinkan mahasiswa untuk belajar proses, bukan hanya belajar terhadap materi yang diberikan. Belajar terhadap materi pada umumnya hanya menekankan pada segi kognitif sedangkan belajar proses dapat memungkinkan tercapainya tujuan belajar baik segi kognitif, afektif, maupun psikomotor. Oleh karena