HIDUP KOMUNITAS KOLONIAL DI JAWA PADA ABAD
XX
Oleh Yusana Sasanti Dadtun1
Parfum: Satu Di Antara Pilihan Gaya Hidup Komunitas Elit Eropa
Parfum adalah sesuatu yang tidak asing lagi dalam kehidupan keseharian, tersedia dengan beragam aroma yang ditawarkan. Seperti disebutkan di muka bahwa fungsinya pun
bermacam-ma-1 Dosen Jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Sastra dan Seni Rupa, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
cam, mulai dari terapi kesehatan hingga
pick up line2—memikat lawan jenis. Istilah parfum berasal dari bahasa Latin “per fumus” yang berarti melalui asap (per artinya through atau merebak; fumus artinya smoke atau asap.). Oleh karena itu, istilah ini tidak lepas dari definisi parfum sebagai bahan alami yang diba-kar untuk menghasilkan aroma tertentu. Namun kini pengertian tersebut
ber-2 www.lintasberita.com. Juga http://
Fumeryscent.blogspot.com./2010/12/parfum&gaya hidup.html. Ensiklopedi Indonesia, Jilid 5 (Jakarta: Penerbit Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1990), hlm. 2560-2561. Parfum atau minyak wangi adalah campuran minyak esensial dan senyawa aroma (aroma compound), dan pelarut yang digunakan untuk memberikan bau wangi untuk tubuh manusia, obyek, atau ruangan. Jumlah dan tipe pelarut yang bercampur dengan minyak wangi menentukan apakah suatu parfum dianggap sebagai ekstrak parfum,
kembang menjadi wewangian berupa cairan atau minyak wangi dan tidak lagi harus berbentuk zat padat seperti bal-sem atau harus dibakar lebih dahulu seperti kemenyan.
Beberapa sumber menyebut dari mana parfum pertama kali diproduksi. Perancis, Mesir, Mesopotamia, bahkan Barus (suatu daerah di Sumatera Utara) adalah sejumlah wilayah yang disebut. Juga terdapat sumber mengatakan bah-wa Mesopotamia adalah sebagai wila-yah pembuat parfum pertama, dan Tapputi adalah nama pembuat parfum pertama.3 Hal ini sebagai tambahan ca-tatan dalam beberapa sumber yang menyebut juga tentang asal mula pem-buatan parfum adalah Mesopotamia dan Mesir, namun dikembangkan di Roma dan Persia sekitar abad 16. Masya-rakat Mesir dikenal dengan pemakaian minyak wangi dalam berbagai ritus-nya4, dan masyarakat Romawi percaya akan daya penyembuhan yang terkan-dung di dalam parfum.
Artika Maya dalam PARFUM: Zo-diak,
Karakter, dan Kesehatan menyebutkan
bahwa Mesirlah negara pertama yang memproduksi parfum, tepatnya pada abad ke-2 SM. Bukti sejarah tentang penggunaan parfum ditemukan dalam makam batu Firaun Mesir 3000 tahun yang lalu. Pengawetan mumi para
3 Tentang Tapputi lihat dalamwww.lintasberita.com. 4
The Encyclopedia Americana. Volume 10. (Amerika: American Coorporation, 1980), hlm. 42. Disebutkan bahwa pada masa Mesir Kuno parfum telah menjadi bagian gaya hidup ketika mereka menikmati musik, dansa, dan kostum yang bertabur berlian. Juga lihat dalam www.lintasberita.com.
penguasa Mesir dilakukan dengan menggunakan bahan wewangian alami dari kayu dan resin dicampur minyak dan air yang dioleskan sebagai balsem ke seluruh tubuh jenazah. Orang Mesir kuno menggunakan parfum untuk upacara kelahiran dan kematian. Mere-ka menghormati para dewa dengan kemenyan, salep, dan minyak we-wangian balsem untuk mumi agar jasad tersebut tidak berbau. Selain untuk membalsem mumi, orang Mesir meng-gunakan wewangian untuk acara penyembahan terhadap dewa-dewa mereka serta upacara kelahiran. Intinya bahwa parfum digunakan untuk ke-giatan ritual keagamaan. Detail formula awal parfum yang digunakan orang Mesir dapat dilihat dari tulisan hierog-liph di Edfou dan Phile.5
Demikian pula berbagai hal yang berkenaan dengan parfum yang ber-kembang pada masa kolonial di Jawa. Deferensiasi profesional masyakarat Jawa yang terdiri dari Eropa, Timur Asing, dan pribumi melahirkan aspirasi masyarakat dan membuka kesempatan kebutuhan parfum sebagai bagian dari kultur yang berkembang di Jawa. Me-masuki awal abad XX, Batavia menga-lami perkembangan pesat sebagai kota
5
Artika Maya. PARFUM: zodiak, karakter, dan kesehatan (Yogyakarta: Pinus Book Publisher, 2009),
hlm. 12-14. Fungsi parfum kemudian mengalami perkembangan dan semakin popular di Mesir. Ratu Cleopatra misalnya menggunakan parfum untuk merayu atau mendapatkan perhatian dari laki-laki. Ia memiliki pengaruh terhadap ramuan wewangian yang berkemampuan menguap dengan lambat (irit) dan bereaksi dalam skala kecil sehingga memungkinkan aromanya lebih tahan lama.
perdagangan, pusat pemerintahan, juga tempat percampuran kebudayaan.6 Berdasarkan struktur sosialnya, pada awal abad XIX di Batavia terdapat 4 kelompok masyarakat. Pertama, adalah kelompok orang Eropa yang didominasi oleh orang-orang Belanda; kedua, adalah kelompok masyarakat Indo; ketiga, adalah kelompok masyarakat Timur Asing yang terdiri dari orang Cina dan Arab; dan
keempat, adalah kelompok masyarakat
pribumi yang terdiri dari orang-orang Betawi dan para penda-tang dari luar kota maupun dari luar Pulau Jawa.7 Pada masa ini pula, kultur yang berkembang memberi ruang pili-han gaya hidup pada masyarakat Bata-via, termasuk di antaranya adalah par-fum. Bagaimana dan mengapa parfum juga menjadi bagian dalam pemben-tukkan citra diri masyarakat pendu-kungnya di Batavia pada masa kolonial ini? Berikut diuraikan tentang sampai sejauh mana parfum menjadi bagian pilihan gaya hidup pada masa kolonial.
6
LihatEncyclopedie van Nederlandsch-Indie,Jilid I,Cet. 2 (‘S-Gravenge: Martinus Nijhoff, 1917), hlm. 187. Kota di suatu negara, apalagi kota-kota besar, selalu menjadi pintu gerbang bagi imigran pendatang. Batavia sebagai pusat pemerintahan kolonial pun menjadi tempat pertemuan berbagai macam golongan etnis atau suku bangsa, orang-orang, kebudayaan-kebudayaan sehingga merupakan suatu daerah strategis bagi tumbuhnya kehi-dupan baru dan lahirnya suatu kebudayaan baru.
7
Umumnya dalam pembahasan mengenai kelom-pok masyarakat, hanya terbagi dalam 3 bagian, yakni: Eropa (termasuk Indo), Timur Asing, dan Pribumi. Dalam tulisan ini, kelompok masyarakat Batavia ter-sebut dikelompokkan ke dalam 4 bagian. Hal itu dika-renakan masyarakat Indo diletakkan dalam posisi ter-pisah dengan masyarakat Eropa. Masyarakat Indo menduduki kelas tersendiri di dalam masyarakat Batavia pada masa itu dengan posisi di bawah kelas Eropa tetapi di atas kelas Timur Asing. Orang Indo tidak mau diper-samakan kelasnya dengan masyarakat Timur Asing.
Gambar 1.
Iklan parfum produk Crown Company di Surat Kabar Soerabaiasch Handelsblad
13 Februari 1898 Sumber:
Sumber: Sumber:
Sumber: Bedjo Riyanto, Iklan Surat Kabar dan
Perubahan Masyarakat di Jawa Masa Kolonial 1870-1915. Yogyakarta: Tarawang, 2000.
Mengapa Parfum?
Seperti diurai di muka, bahwa peru-bahan lingkungan fisik akibat moder-nisasi di sisi lain juga menyebabkan perubahan pada tata nilai, perilaku, maupun gaya hidup bagi masyarakat di Batavia. Suatu perubahan dari pera-daban dalam kehidupan masyarakat akan diikuti oleh spiritual elements atau sistem nilai dari masyarakat maupun gaya hidup dari masyarakat, dan keduanya saling mempengaruhi, khu-susnya pada masyarakat Batavia.8 Parfum menjadi bagian di dalam proses pilihan dalam pembentukkan citra diri. Eropa: Standar Hidup Pilihan
Masyarakat Eropa di Batavia hidup 8 Sartono Kartodirdjo,Perkembangan Peradaban
Priyayi (Yogyakarta: Gadjah Mada Press, 1987), hlm. 53.
di tengah-tengah rakyat Indonesia bukan dalam ukuran kehidupan
masya-rakat Batavia pada masa itu. Hal ini mengakibatkan munculnya perasaan sentimen golongan Eropa terhadap orang Indonesia sampai pada hal
seke-cil-kecilnya. Hanya sebagian kecil dari mereka yang mempunyai perhatian terhadap kehidupan orang pribumi dan hanya berhubungan dengan kehidupan bangsa ini melalui pembantu-pembantu rumah tangga atau orang-orang gajian.9 Seperti diulas di muka, bahwa pada abad
XIX masyarakat Batavia telah terstratifikasi dan dilihat dari hubungan antarkelompok dalam struktur sosial di Batavia, orang-orang Eropa berada pa-da
jenjang tertinggi. Hal itu dikare-nakan tingkat kemapanan ekonominya. Lebih dari itu, umumnya mereka sangat berperan dalam kehidupan politik dan
kekuasaan.10
9 Robert van Niel,Munculnya Elite modern Indonesia (Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1984), hlm. 27-28.
10
Jumlah penduduk pada akhir tahun 1878 untukorang Eropa 6066 jiwa; dibandingkan pada tahun 1879 sebanyak 6.534 jiwa. Orang-orang Eropa yang disibuk-kan dengan perdagangan pada umumnya menemukan mata pencaharian yang baik. Juga orang-orang Eropa yang bekerja di toko dan perusahaan menerima penda-patan yang memadai. Beberapa orang menerima gaji tinggi sehingga mereka bisa hidup mewah. Di kare-sidenan ini orang menemui banyak orang Eropa sebagai pengusaha perkebunan di sini. Di tanah-tanah yang digarap oleh mereka banyak beras ditanam dan hanya di beberapa tempat juga produk untuk pasaran Eropa dijual seperti kopi, teh, dan gula. Industri pertanian di sini menemukan kemajuan yang baik. Banyak dari mereka yang sebaliknya selama tahun berjalan sebagai akibat penyakit ternak mengalami kesulitan karena kelangkaan kerbau yang digunakan untuk menggarap lahan yang disiapkan bagi pertanian padi. Beberapa pekerjaan dan usaha oleh orang-orang Eropa ditekuni seperti kerajinan besi, emas dan kulit, pembuatan kereta kuda, penjahit, pembuat sepatu, pengelola losmen, persewaan pedati, pembuat roti dsb. Persaingan dengan orang Cina menjadi
Kelompok komunitas kolonial di Batavia menjadi pusat pendukung masalah konsumerisme ini. Mereka telah sampai pada selera sosial go-longan kelas menengah Eropa. Pada waktu itu orang Eropa berdatangan seiring dengan perkembangan kota Batavia.11 Pusat-pusat kota dan juga Batavia menjadi pusat komunitas kolo-nial. Masyarakat ini hidup dengan kebudayaan mereka yang eksklusif di antara kelompok masyarakat lainnya. Dengan latar belakang pendidikan dan ekonomi yang kuat, dan merupakan lapisan menengah yang mengembang-kan solidaritas di antara mereka.12 Oleh karenanya, maka Eropa menjadi stan-dar hidup pilihan terutama bagi masya-rakat yang berada di antara masyamasya-rakat yang hidup pada masa itu.
Politik diskriminasi rasial masih dipertahankan dalam rangka menegas-kan perbedaan kelas atau status sosial antara golongan penguasa atau penjajah dengan golongan yang dijajah. Diskri-minasi sosial dalam kehidupan sehari-hari tampak dalam tata cara berpakaian dari golongan elit Eropa (kulit putih) pada masa itu mengenakan busana pria modern Barat seperti celana panjang (pantolan), jas terbuka atau tertutup dengan kemeja lengan panjang atau pen-penyebab bahwa mereka hanya bisa menduduki posisi kelas menengah. Dengan naiknya jumlah penduduk Eropa di wilayah ini, juga di antara mereka kemiskinan semakin meningkat, persaingan orang-orang Cina dan semakin mahalnya harga makanan serta rumah terutama menjadi penyebabnya. Lebih jauh lihat Algemeen Verslag der Residentie Batavia Over het Jaar 1880.
11
Lihat Sartono Kartodirdjo,Op. cit.,hlm. 72.12 Robert van Niel,Op. cit.,hlm. 20-21.
dek. Para wanita golongan Eropa berbusana menurut trend mode Inggris dan Paris, yaitu rok atau gaun panjang sampai mata kaki yang disebut japon. Dominasi mode busana modern Eropa berkiblat di pusat mode dunia Paris di kalangan masyarakat elit Eropa menye-babkan perdagangan impor pakaian dan bahan-bahan pakaian, serta berba-gai asesorisnya berkembang pesat di Jawa pada masa itu13, terutama Batavia yang pada masa itu menjadi pusat peme-rintahan.
Gaya busana modern Eropa yang menjadi kecenderungan mode paling populer pada zaman itu memerlukan asesoris tambahan sebagai barang per-hiasan atau barang mewah simbol sta-tus sosial kaum elit yang tentunya berni-lai ekonomis tinggi. Berbagai asesoris mahal dan mewah sebagai pelengkap busana menjadi mode saat itu seperti alroji (jam tangan), kacamata, atau pulpen yang terbuat dari emas, perak, atau platina menjadi kegemaran kaum elite pria. Untuk para wanita, berbagai perhiasan bergengsi pada saat itu seperti cincin, kalung dengan liontinnya, ant-ing-anting, bros, peniti dan sebagainya yang bahannya terbuat dari jamrud atau batu-batu mulia lainnya. Asesoris lain yang digemari wanita saat itu seperti topi, tas, selendang, sarung tangan, kor-set, payung dan sebagainya. Di samping asesoris penunjang status sosial kaum elite pada masa itu adalah pemakaian
parfum atau wewangian dengan jenis-jenis parfum. Semua produk parfum tersebut adalah merk-merk terkenal dan banyak melakukan iklan pada masa itu seperti Ed-Pinaud, Cherry Blossom, dan, LT
Piver semuanya diimpor dari Paris.14
Iklan parfum Ed Pinaud di Surat Kabar De
Nieuwe Vorstenlanden, 17 Oktober 1900
Sumber: Sumber: Sumber:
Sumber: Bedjo Riyanto, Iklan Surat Kabar dan
Perubahan Masyarakat di Jawa Masa Kolonial 1870-1915. Yogyakarta: Tarawang, 2000.
Seiring dengan pemenuhan kebu-tuhan akan konsumerisme golongan kelas menengah atas Eropa atau komu-nitas kolonial pada masa ini, iklan yang ada di dalam surat kabar pada masanya, yang ditulis dengan tulisan indah yang berisi informasi itu lebih dari publikasi pemerintah yang bersifat komersial, ter-masuk di dalamnya adalah iklan par-fum. Bahwa iklan yang didefinisikan sebagai media komunikasi yang bersifat komersial telah membayar ruang yang
13
Bedjo Riyanto,Iklan Surat Kabar dan Perubahan Masyarakat di Jawa Masa Kolonial 1870-1915
(Yogyakarta: Tarawang, 2000), hlm. 187-188.
14 Ibid.hlm. 190-191. Juga diulas dalam artikel Retno HY. Wartawan Pikiran Rakyat, sumber tulisan: Pikiran Rakyat Online, Rabu 24 Desember 2008.
dipakainya untuk menghubungkan kepentingan produsen dan konsumen akan produk dan kebutuhan masya-rakat akan kebutuhan parfum.
Iklan parfum Ed Pinaud di Surat Kabar
Soerabaiasch Handelsblad, 7 Desember 1908
Sumber: Sumber: Sumber:
Sumber: Bedjo Riyanto, Iklan Surat Kabar dan
Perubahan Masyarakat di Jawa Masa Kolonial 1870-1915. Yogyakarta: Tarawang, 2000.
Iklan parfum merk LT Piver dan Corylopsis du Japon pada Surat Kabar De Locomotief, 4 Maret 1878. Sumber:
Sumber: Sumber:
Sumber: Bedjo Riyanto, Iklan Surat Kabar dan
Perubahan Masyarakat di Jawa Masa Kolonial 1870-1915. Yogyakarta: Tarawang, 2000.
Parfum: Cermin Kepribadian Dan Gaya Hidup
Parfum mencerminkan kepribadian dan gaya hidup para penggunanya. Kaum Elite Eropa khusnya, baik pria maupun wanita, pada abad XX di Bata-via menjadi sentra trend mode gaya hidup dari strata sosial masyarakat yang ada. Parfum menjadi pilihan dari beberapa bagian berbagai asesoris impor yang ada yang berfungsi sebagai produk pencitraan kepribadian dengan gaya hidup yang pada masa kolonial yang berkembang pada masa itu yang sengaja dibentuk atau sebagai produk dari dis-kriminasi sosial.
Pada masa kolonial, masyarakat Ero-pa yang ada di Batavia memiliki ke-mampuan ekonomi lebih dibandingkan masyarakat pribumi yang notabene hidup di bawah mereka. Mereka mene-tapkan garis pemisah yang jelas antara masyarakat Eropa dan pribumi, terma-suk di dalamnya adalah kemampuan ekonomi yang berdampak pada daya beli atau konsumerisme pribumi. Pun demikian halnya bahwa kemampuan tersebut terlihat pada daya beli mereka terhadap barang-barang impor yang pada masanya parfum yang tertera pa-da produk iklan di surat kabar adalah termasuk barang eksklusif. Kesemuanya diimpor dari Paris.
Hingga kini parfum impor masih menjadi barang yang bercita rasa tinggi. Nilai belinya pun memiliki harga tinggi yang berbanding lurus dengan kualitas barang. Kini banyak ditemui parfum isi
ulang dengan berbagai aroma yang tidak kalah harumnya dengan produk asli, namun dari segi kualitas tentunya berbeda dengan kualitas pasrfum asli.
Pemilihan parfum memang bergan-tung pada selera dan ketersediaan keuangan masing-masing individu. Meski banyak pilihan, namun mayoritas mengatakan parfum mahal dapat me-ningkatkan gengsi dalam hal lifestyle.
Anda pilih mana?
Tentunya disesuaikan kebutuhan, bukankah demikian?
Daftar Pustaka A. Arsip
Algemeen Verslag der Residentie Batavia Over het Jaar 1880.
B. Buku
Artika Maya. PARFUM: zodiak, karakter,
dan kesehatan. Yogyakarta: Pinus
Book Publisher, 2009.
Bedjo Riyanto. Iklan Surat Kabar dan
Perubahan Masyarakat di Jawa
Masa Kolonial 1870-1915.
Yogyakarta: Tarawang, 2000.
Ensiklopedi Indonesia, Jilid 5. Jakarta: Penerbit Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1990.
Encyclopedie van Nederlandsch-Indie,
Jilid I, Cet. 2. ‘S-Gravenge: Martinus Nijhoff, 1917.
The Encyclopedia Americana. Volume
10. Amerika: American
Coorporation, 1980.
Robert van Niel. Munculnya Elite
mod-ern Indonesia. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1984.
Sartono Kartodirdjo. Perkembangan
Peradaban Priyayi. Yogyakarta: Gadjah Mada Press, 1987.
C. Artikel
Retno HY. Wartawan Pikiran Rakyat, sumber tulisan: Pikiran Rakyat
Online, Rabu 24 Desember 2008.
D. Internet
www.lintasberita.com.
http://Fumeryscent.blogspot.com./