• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFEKTIVITAS KLORANTRANILIPROL DAN FLUBENDIAMID PADA ULAT BAWANG MERAH (Spodoptera exigua Hubner) (Lepidoptera: Noctuidae)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "EFEKTIVITAS KLORANTRANILIPROL DAN FLUBENDIAMID PADA ULAT BAWANG MERAH (Spodoptera exigua Hubner) (Lepidoptera: Noctuidae)"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

ISSN : 2338 - 4336

103

EFEKTIVITAS KLORANTRANILIPROL DAN FLUBENDIAMID PADA ULAT BAWANG MERAH (Spodoptera exigua Hubner) (Lepidoptera: Noctuidae)

Ria Febrianasari, Hagus Tarno, Aminudin Afandhi

Program Studi Agroekoteknologi, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universtas Brawijaya Jl. Veteran, Malang 65145, Indonesia

ABSTRACT

Spodoptera exigua Hubner is one of important pest that can be obstacle the farmers from yielding the maximum production (20 ton/ha) and quality decline. The control of S. exigua by farmers have been done by spraying chemical insecticides. Insecticide group used by farmers for controlling S. exigua usually is flubendiamide. Chlorantraniliprole is alternative active compound that effective for controlling S. exigua. The objective of this research was to compare the efficacy of chlorantraniliprole and flubendiamide on larvae population S. exigua and shallots damage percent incident in Indonesia. The research was held in Sekaran village, Kayen kidul subdistrict, Kediri district, from November 2013 to February 2014. The treatment which used were control, chlorantraniliprole EC 12,5 l/ha, chlorantraniliprole EC 25 l/ha, chlorantraniliprole SC 12,5 l/ha, chlorantraniliprole SC 25 l/ha and flubendiamide WG 0,1 kg/ha. Among five treatment, there were two treatments that were categorized as effective to control S. exigua, designated a chlorantraniliprole EC 25 l/ha (86,62%) and chlorantraniliprole SC 25 l/ha (93,34%), since they were both above the EI standard (70%). The effectiveness percentage was value from intensity damage data. Best effectiveness of all variable observation was indicated by chlorantraniliprole SC 25 l/ha with 93,34% effectiveness.

Keywords: Spodoptera exigua Chlorantraniliprole, Flubendiamide, Control ABSTRAK

Spodoptera exigua Hubner menjadi salah satu hama penting yang mengakibatkan petani bawang merah tidak memperoleh hasil produksi yang maksimal (20 ton/ha) dan penurunan kualitas hasil tanaman. Pengendalian S. exigua oleh petani dilakukan dengan menyemprotkan insektisida. Golongan insektisida yang biasa digunakan oleh petani untuk mengendalikan S. exigua adalah flubendiamid. Klorantraniliprol merupakan salah satu bahan alternatif pengendalian yang terbukti efektif mengendalikan S. exigua. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan pengaruh klorantraniliprol dan flubendiamid terhadap populasi larva dan intensitas kerusakan tanaman bawang merah di Indonesia. Penelitian dilaksanakan di desa Sekaran kecamatan Kayen kidul kabupaten Kediri dimulai Nopember 2013 sampai Pebruari 2014. Perlakuan penelitian meliputi kontrol tanpa aplikasi insektisida, klorantraniliprol EC dosis 12,5 l/ha, klorantraniliprol EC dosis 25 l/ha, klorantraniliprol SC dosis 12,5 l/ha, klorantraniliprol SC dosis 25 l/ha dan flubendiamid WG dosis 0,1 kg/ha. Dari lima perlakuan, diperoleh perlakuan yang dikategorikan efektif mengendalikan S. exigua yaitu klorantraniliprol EC 25 l/ha (86,62%) dan klorantraniliprol SC 25 l/ha (93,34%) karena memiliki nilai efektivitas diatas 70%. Nilai efektivitas yang digunakan adalah data dari hasil pengamatan intensitas kerusakan. Efektivitas terbaik ditunjukkan oleh klorantraniliprol SC 25 l/ha dengan nilai efektivitas 93,34%.

(2)

104 PENDAHULUAN

Gangguan organisme pengganggu tanaman (OPT) menjadi permasalahan utama budidaya bawang merah. Spodoptera exigua menjadi salah satu OPT penting yang mengakibatkan petani tidak memperoleh hasil produksi maksimal (20 ton/ha). S. exigua tersebar luas khususnya di daerah tropis dan subtropis, menyerang sepanjang tahun dan serangannya tinggi dimusim kemarau (Moekasan et al., 2012., Rauf, 1999). Serangan S. exigua dalam budidaya bawang merah menjadi penting apabila dikaitkan dengan penurunan kuantitas dan kualitas produksi (Putrasamedja et al., 2012). Serangan S. exigua pada fase pertumbuhan vegetatif bisamengakibatkan kehilangan hasil 57-100% (Putrasamedja et al., 2012) dan penurunan kualitas hasil bawang merah yaitu umbi berukuran kecil dan berwarna putih (Rauf, 1999).

Pengendalian S. exigua oleh petani dilakukan dengan menyemprotkan insektisida. Golongan insektisida yang digunakan oleh petani untuk mengendalikan S. exigua ialah bahan aktif flubendiamid. Flubendiamid sudah digunakan oleh petani selama bertahun-tahun. Cara kerja dari flubendiamid yaitu menyerang saraf. Klorantraniliprol merupakan bahan dari golongan dan cara kerja yang sama dengan flubendiamid yaitu golongan diamida dengan cara kerja menyerang saraf, namun kedua bahan ini memiliki fenomena resistensi yang berbeda.

Klorantraniliprol terbukti efektif mengendalikan S. exigua (Zhang et al., 2014). Klorantraniliprol lebih unggul dibandingkan dengan flubendiamid karena selain untuk mengendalikan lepidopteran, klorantraniliprol juga aktif mengendalikan beberapa coleoptera, diptera dan isoptera. Berdasarkan penelitian sebelumnya (Zhang et al., 2014), klorantraniliprol dan flubendiamid berbeda tingkat efektivitasnya dalam mengendalikan S.

exigua pada pertanaman bawang merah di Tiongkok. Namun belum ada penelitian serupa di Indonesia, sehingga dibutuhkan penelitian lebih lanjut tentang perbedaan efektivitas pengendalian oleh kedua bahan aktif tersebut di pertanaman bawang merah di Indonesia.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk 1) membandingkan pengaruh klorantraniliprol dan flubendiamid terhadap populasi S. exigua pada pertanaman bawang merah di Indonesia, 2) membandingkan pengaruh klorantraniliprol dan flubendiamid terhadap kerusakan tanaman bawang merah pada pertanaman bawang merah di Indonesia.

METODE Tempat dan Waktu

Penelitian dilaksanakan di Desa Sekaran, Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri. Penelitian dimulai bulan November 2013 sampai Pebruari 2014. Luas lahan yang digunakan untuk penelitian 588 m2 dengan luasan masing-masing petak perlakuan 4 x 4 meter. Ordinat wilayah dari lahan penelitian S 7.75869° dan T 112.13308°. Suhu dan kelembaban nisbi selama penelitian rata-rata 28,1°C dan 87,5% dengan kecepatan angin rata-rata 0,8 m/s.

Pelaksanaan Penelitian Rancangan Penelitian

Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) terdiri dari 6 perlakuan dengan 4 ulangan.

Kegiatan penelitian dimulai dengan persiapan lahan meliputi pengolahan lahan, pemupukan dasar, pembuatan bedengan dan penanaman bibit bawang merah. Selama penanaman dilakukan perawatan seperti pengairan, pemupukan susulan dan penyiangan. Dalam penelitian, aplikasi insektisida dilakukan sebanyak dua kali, aplikasi pertama dilakukan setelah ditemukannya ambang

(3)

105 ekonomi serangan S. exigua yaitu 0,1 kelompok telur per tanaman dan 5% kerusakan pada 10 tanaman contoh. Aplikasi kedua dilakukan dua minggu setelah aplikasi yang pertama. Teknik aplikasi yang dilakukan yaitu melakukan penyemprotan pada tanaman uji sesuai perlakuan yang sudah dibagi di setiap plot.

Tabel 1. Dosis dan konsentrasi perlakuan klorantraniliprol dan flubendiamid Perlakuan Dosis Konsen

trasi BA Kontrol (tanpa perlakuan) 0 0 Klorantraniliprol EC 12,5 l/ha 3,125% Klorantraniliprol EC 25 l/ha 6,25% Klorantraniliprol SC 12,5 l/ha 3,125% Klorantraniliprol SC 25 l/ha 6,25% Flubendiamid WG 0,1 kg 0,025% Pengamatan

Pengamatan dilakukan sebanyak empat kali yaitu 7 hari setelah aplikasi (7 HSA) I (aplikasi pertama), 14 HSA I, 7 HSA II (aplikasi kedua) dan 14 HSA II. Variabel yang diamati adalah populasi larva S. exigua dan intensitas kerusakan tanaman bawang merah. Pada pengamatan populasi larva dilakukan dengan mengambil sepuluh daun contoh yang bergejala serangan S. exigua. Sampel daun bergejala disobek dan dihitung populasi larva yang ada didalamnya. Variabel pengamatan yang kedua yaitu intensitas kerusakan, dengan melakukan penilaian secara langsung skala kerusakan tanaman. Skala kerusakan tanaman ditentukan berdasarkan besarnya bagian yang terserang dibandingkan dengan keseluruhan daun dalam satu rumpun (Tabel 2).

Tabel 2. Indikator dan kriteria skala serangan S. exigua pada tanaman bawang merah Skala Persentase serangan Kriteria intensitas 0 0% Tidak ada serangan 1 >0 - ≤10% Sangat rendah 2 >10 - ≤20% Rendah 3 >20 - ≤40% Sedang 4 >40% - ≤60% Tinggi 5 >60% - ≤100% Sangat tinggi Sumber : Moekasan et. al., 2012 (diolah) Efektivitas Insektisida

Perhitungan efektivitas insektisida dilakukan untuk mengetahui persentase efektivitas yang dihasilkan suatu bahan aktif dalam mengendalikan hama. Data hasil pengamatan digunakan untuk menghitung efektivitas insektisida yang diuji dengan rumus Abbot (Ciba-Geigy, 1981) dalam Rahmawati dan Handoko, 2011 yaitu:

EI = Efektivitas insektisida yang sedang diuji (%)

Ca = Intensitas serangan/ populasi ulat pada petak kontrol setelah aplikasi insektisida

Ta = Intensitas serangan/ populasi ulat pada petak perlakuan setelah aplikasi insektisida

Suatu formulasi insektisida dikatakan efektif bila tingkat efektivitas insektisida tersebut (EI) ≥ 70% (Rizal et al., 2011).

Analisis Data

Data diuji normalitas menggunakan SPSS versi 15.0 dan apabila menunjukkan data normal, dilanjutkan dengan analisis sidik ragam (anova) dan dilanjutkan dengan Uji Duncan taraf 5% apabila menunjukkan ada beda nyata.

(4)

106 HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Aplikasi Insektisida terhadap Populasi Larva S. exigua

Populasi larva yang ditemukan tidak berbeda nyata pada 7 HSA I dan 14 HSA II serta berbeda nyata pada 14 HSA I dan 7 HSA II. Populasi larva terendah (1,44 ekor) ditunjukkan oleh klorantraniliprol SC 25 l/ha dan tertinggi (3,94 ekor) ditunjukkan oleh flubendiamid WG 0,1 kg/ha. Populasi larva pada klorantraniliprol SC lebih rendah dibandingkan dengan klorantraniliprol EC dan dosis klorantraniliprol 25 l/ha mampu menekan populasi terendah (1,44 ekor) bila dibandingkan dengan petak tanpa perlakuan insektisida dengan populasi 2,75 ekor.

Tabel 3 menunjukkan bahwa populasi larva pada klorantraniliprol lebih sedikit dibandingkan dengan flubendiamid. Aplikasi insektisida dilakukan setelah ditemukan infestasi telur S. exigua yang sudah mencapai ambang ekonomi yaitu 0,1 kelompok telur pada 10 tanaman yang diamati secara acak. Kondisi lingkungan pada saat penelitian adalah musim hujan sehingga

kecenderungan populasi pada masing-masing plot rendah. Pada waktu pengamatan, populasi larva S. exigua belum mencapai ambang ekonomi. Populasi larva pada semua perlakuan menunjukkan nilai lebih rendah dari kontrol, kecuali pada flubendiamid. Rendahnya populasi kontrol dibandingkan dengan flubendiamid diakibatkan populasi pada petak-petak yang diamati relatif rendah, sehingga ketika dibandingkan tidak memberikan data hasil yang signifikan.

Musim berpengaruh terhadap tingginya populasi larva S. exigua, Rauf (1999) melaporkan bahwa populasi larva pada musim kemarau 78 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan musim penghujan. Pada musim kemarau, ketahanan tanaman lebih rendah karena temperatur yang tinggi mengakibatkan penurunan kualitas vigor dan fisiologis tanaman serta merupakan suhu yang optimum untuk perkembangan S, exigua.

Penelitian Zhang et al., (2014) menunjukkan klorantraniliprol 200 SC efektif mengendalikan S. exigua dengan resistensi yang rendah atau sangat rendah dibandingkan flubendiamid 20 WDG. Tabel 3. Rata-rata populasi larva S. exigua setelah aplikasi klorantraniliprol dan

flubendiamid pada bawang merah Perlakuan

Waktu Pengamatan Rata-rata 7 HSA I 14 HSA I 7 HSA II 14 HSA II

Kontrol 0,50 2,75 b 4,25 a 3,50 2,75 ab Klorantraniliprol EC 12,5 l/ha 0,75 0,25 a 3,75 a 3,75 2,13 ab Klorantraniliprol EC 25 l/ha 0,25 1,25 a 2,50 a 5,75 2,38 ab Klorantraniliprol SC 12,5 l/ha 0,50 0,50 a 2,25 a 4,25 1,88 a Klorantraniliprol SC 25 l/ha 0,00 0,50 a 1,75 a 3,50 1,44 a Flubendiamid WG 0,1 kg/ha 0,00 0,50 a 8,25 b 7,00 3,94 b Keterangan : Angka yang diikuti tanda huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Duncan pada

taraf 5%.

(5)

107 Rendahnya populasi larva S. exigua didukung oleh penggunaan bahan aktif, dosis dan formulasi yang tepat. Dari hasil pengamatan, klorantraniliprol SC 25 l/ha mampu menekan populasi sampai dengan 1,39 ekor. Perbedaan hasil yang diperoleh dari penelitian terjadi karena perbedaan konsentrasi klorantraniliprol dan flubendiamid. Klorantraniliprol memiliki konsentrasi bahan aktif senilai 3,125% pada dosis 12,5 l/ha dan 6,25% pada dosis 25 l/ha, sedangkan pada flubendiamid

hanya 0,025% pada dosis 0,1 kg/ha. Pengaruh Aplikasi Insektisida terhadap

Kerusakan Tanaman Bawang Merah Pengaruh nyata klorantraniliprol dan flubendiamid setelah aplikasi terhadap intensitas kerusakan terlihat pada 14 HSA I, 7 HSA II dan 14 HSA II kecuali pada 7 HSA I yang tidak berpengaruh nyata. Data intensitas kerusakan ditunjukkan pada tabel 4. Intensitas kerusakan terendah (0,21%) ditunjukkan oleh klorantraniliprol SC 25 l/ha dan tertinggi (1,22%) pada klorantraniliprol SC 12,5 l/ha. Diantara semua perlakuan, klorantraniliprol SC 25

l/ha menunjukkan hasil terbaik karena mampu menekan intensitas kerusakan sampai 0,21% bila dibandingkan dengan petak tanpa perlakuan insektisida (2,60%). Aplikasi insektisida dilakukan setelah terjadi kerusakan yang mencapai ambang ekonomi yaitu 5% pada 10 tanaman yang diamati secara acak, tetapi kondisi lingkungan pada saat penelitian adalah musim hujan sehingga kecenderungan kerusakan pada masing-masing plot rendah dan belum mencapai ambang ekonomi.

Rendahnya intensitas kerusakan didukung oleh konsentrasi bahan aktif yang dilengkapi dengan dosis dan formulasi yang tepat. Dari hasil pengamatan intensitas kerusakan, klorantraniliprol juga lebih baik daripada flubendiamid kecuali pada perlakuan klorantraniliprol SC 12,5 l/ha yang lebih tinggi 0,01% dari tingkat kerusakan tanaman pada flubendiamid. Formulasi dan dosis yang terbaik dalam menekan terjadinya kerusakan tanaman juga ditunjukkan oleh klorantraniliprol SC 25 l/ha.

Tabel 4. Intensitas kerusakan tanaman setelah aplikasi klorantraniliprol dan flubendiamid pada bawang merah

Perlakuan Waktu Pengamatan Rata-rata

7 HSA I 14 HSA I 7 HSA II 14 HSA II

Kontrol 1,22 2,17 b 3,40 b 3,60 b 2,60 b Klorantraniliprol EC 12,5 l/ha 0,82 1,00 ab 1,05 a 1,12 a 1,00 ab Klorantraniliprol EC 25 l/ha 0,10 0,35 a 0,48 a 0,55 a 0,37 a Klorantraniliprol SC 12,5 l/ha 0,95 1,22 ab 1,35 a 1,35 a 1,22 ab Klorantraniliprol SC 25 l/ha 0,17 0,17 a 0,32 a 0,32 a 0,21 a Flubendiamid WG 0,1 kg/ha 0,70 0,95 ab 1,45 a 1,75a b 1,21 ab Keterangan : Angka yang diikuti tanda huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Duncan pada

(6)

Gambar 5. Efektivitas Insektisida Perlakuan Berda Efektivitas Insektisida

mengendalikan S. exigua

Persentase efektivitas klorantrani liprol dan flubendiamid ditunjukkan pada gambar 7. Efektivitas insektisida tertinggi pada pengamatan intensitas kerusakan senilai 93,3% ditunjukkan oleh klorantraniliprol SC dosis 25 l/ha dan terendah ditunjukkan pada klorantranili prol SC dosis 12,5 l/ha dengan 47,22%.

Nilai efektivitas yang digunakan adalah nilai efektivitas dari data intensitas kerusakan. Penggunaan data intensitas kerusakan dipilih berdasarkan alasan data pada kerusakan tanaman lebih signifikan dibandingkan pada data populasi larva exigua dikarenakan populasi larva yang rendah pada masing-masing plot pengamatan.

Nilai efektivitas yang digunakan adalah nilai efektivitas dari data intensitas kerusakan. Penggunaan data intensi kerusakan dipilih berdasarkan alasan data pada kerusakan tanaman lebih signifikan dibandingkan pada data populasi larva

0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 90.00 100.00 EI Intensitas kerusakan 108

Gambar 5. Efektivitas Insektisida Perlakuan Berdasarkan Data Intensitas Kerusakan Efektivitas Insektisida dalam

Persentase efektivitas klorantrani-liprol dan flubendiamid ditunjukkan pada gambar 7. Efektivitas insektisida tertinggi pada pengamatan intensitas kerusakan senilai 93,3% ditunjukkan oleh klorantraniliprol SC dosis 25 l/ha dan ndah ditunjukkan pada klorantranili-prol SC dosis 12,5 l/ha dengan 47,22%.

Nilai efektivitas yang digunakan adalah nilai efektivitas dari data intensitas kerusakan. Penggunaan data intensitas kerusakan dipilih berdasarkan alasan data n lebih signifikan dibandingkan pada data populasi larva S. dikarenakan populasi larva yang masing plot Nilai efektivitas yang digunakan adalah nilai efektivitas dari data intensitas kerusakan. Penggunaan data intensitas kerusakan dipilih berdasarkan alasan data pada kerusakan tanaman lebih signifikan dibandingkan pada data populasi larva S.

exigua dikarenakan populasi larva yang rendah pada masing-masing plot pengamatan. Efektivitas terbaik ditunjukkan oleh klorantraniliprol SC 25 l/ha dengan nilai efektivitas 93,3%.

KESIMPULAN 1. Rata-rata populasi S. exigua

diperoleh dari perlakuan klorantraniliprol SC 25 l/ha

2. Intensitas kerusakan tanaman bawang merah terendah diperoleh dari perlakuan klorantraniliprol SC 25 l/ha 3. Klorantraniliprol SC 25 l/ha efektif

mengendalikan S. exigua DAFTAR PUSTAKA

Moekasan, Basuki R.S dan Prabaningrum, L. 2012. Penerapan ambang pengendalian organism pengganggu tumbuhan pada budidaya bawang merah dalam upaya mengurangi penggunaan pestisida. J. Hort

47-56.

Putrasamedja, S., Setiawati, W., Lukman, L., dan Hasyim, A.,. 2012. EI Intensitas kerusakan Klorantraniliprol EC 12,5 l/ha Klorantraniliprol EC 25 l/ha Klorantraniliprol SC 12,5 l/ha Klorantraniliprol SC 25 l/ha Flubendiamid WG 0,1 kg/ha

sarkan Data Intensitas Kerusakan dikarenakan populasi larva yang

masing plot pengamatan. Efektivitas terbaik iliprol SC 25 l/ha dengan nilai efektivitas 93,3%.

exigua terendah diperoleh dari perlakuan Intensitas kerusakan tanaman bawang merah terendah diperoleh dari perlakuan klorantraniliprol SC 25 l/ha Klorantraniliprol SC 25 l/ha efektif

DAFTAR PUSTAKA

R.S dan Prabaningrum, L. 2012. Penerapan ambang pengendalian organism pengganggu tumbuhan pada budidaya bawang merah dalam upaya mengurangi J. Hort. 22(1): ., Setiawati, W., Lukman, L., dan Hasyim, A.,. 2012.

Klorantraniliprol EC 12,5 l/ha Klorantraniliprol EC 25 l/ha Klorantraniliprol SC 12,5 l/ha Klorantraniliprol SC 25 l/ha Flubendiamid WG 0,1 kg/ha

(7)

109 Penampilan beberapa klon Bawang merah dan hubungannya dengan intensitas serangan organisme pengganggu tumbuhan. J. Hort. 22(4):349-359.

Rahmawati, D dan Handoko, H. 2011. Pengujian lapangan efikasi insektisida profenofos 500 g/l terhadap hama ulat grayak Spodoptera exigua Hbn. Pada tanaman bawang merah. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Jawa Timur. Hlm 303-308.

Rauf, A. 1999. Dinamika populasi Spodoptera exigua Hubner (Lepidoptera : Noctuidae) pada pertanaman Bawang merah di dataran rendah. Buletin hama dan

penyakit tumbuhan 11(2):39-47 (1999).

Rizal, M., Laba, I.W., Mardiningsih, T.L., Darwis, M., Sugandi, E., Sukmana, C. 2011. Pemanfaatan pestisida nabati untuk menurunkan serangan hama wereng coklat Nilaparvata lugens pada padi >80%. Laporan teknis penelitian. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Malang Rusdy, A. 2009. Efektivitas Ekstrak nimbi dalam pengendalian ulat brayak (Spodoptera litura F.) pada tanaman selada. Jurnal Floratek 4 : 41-54. Zhang, P., Gao, M dan Mu, W. 2014.

Resistant level of Spodoptera exigua to eight various insecticides in Shadong, China. J. pestic. Sci. 39(1), 7-13 (2014).

Gambar

Tabel  2.  Indikator  dan  kriteria  skala  serangan  S.  exigua  pada  tanaman bawang merah  Skala  Persentase  serangan  Kriteria  intensitas  0  0%  Tidak ada  serangan  1  >0 - ≤10%  Sangat rendah  2  >10 - ≤20%  Rendah  3  >20 - ≤40%  Sedang
Tabel  3  menunjukkan  bahwa  populasi larva pada klorantraniliprol lebih  sedikit  dibandingkan  dengan  flubendiamid
Tabel  4.  Intensitas  kerusakan  tanaman  setelah  aplikasi  klorantraniliprol  dan  flubendiamid pada bawang merah
Gambar 5. Efektivitas Insektisida Perlakuan Berda Efektivitas  Insektisida

Referensi

Dokumen terkait

Saya mengikutsertakan saudari dalam penelitian ini yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap remaja putri di Desa Tanjung Selamat mengenai risiko kehamilan

Dari hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa konseling kelompok kognitif perilaku dapat digunakan untuk menurunkan kecenderungan menarik diri (withdrawl)

Menurut Imam Malik ‘iddah bagi wanita yang tidak mengalami haid sedang ia masih dalam usia haid dan tidak ada keraguan adanya kehamilan atau sebab lain (menyusui atau sakit), maka

Pada studi proses-proses reversibel, yang diobservasi saat pemanasan dan pendinginan sampel, sangat umum untuk mengamati histeresis; misalnya, eksoterm yang tampak

Pada tahun 1839, ahli kimia Jerman Robert Whilhelm Bunsen menggunakan larutan encer sebagai media dan menempatkannya dalam tabung pada keadaan temperatur di atas

Informasi yang didapat oleh peneliti ketika menanyakan mengenai viral marketing yang dilakukan oleh tim pemasaran Indihome melalui media sosial yaitu

Terlebih dengan memahami kebudayaan balas budi (on) dapat membantu pembelajar dalam berinteraksi dan bersikap terhadap orang Jepang. Selain itu, pembelajar yang

”Benar apa yang dikatakan oleh Bapak Hukum Tua tersebut, bahwa pada Desa Kanonang I melakukan akuntabilitas pelayanan kepada publik dengan tujuan untuk menjaga