KEDUDUKAN CLOSED CIRCUIT TELEVISION (CCTV) SEBAGAI ALAT BUKTI NONKONVENSIONAL MENURUT KUHP DIKAITKAN DENGAN
UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK
Oleh:
Suhendar, SH. Sunenti, SH.
Fakultas Hukum Universitas Wiralodra
The Evidence in criminal procedural law is stipulated in the Code of Criminal Procedure, namely Article 184 paragraph (1) of constitution No. 8 of 1981 that detailing the various items of evidence in criminal procedural law. Provisions governing evidence is a procedural law which is public law, the provisions of that evidence is legal force (dwingend recht). That is, any kind of evidence that it is set in the article can not be added or subtracted. However, helped by a bell that, both in the provision of evidence for criminal procedural law, there is evidence that models an open end (open end) which allows the introduction of new evidence, according to the development of technology, one of which is CCTV.
A. Latar Belakang
Meningkatnya kejahatan seiring dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih termasuk teknologi yang dipergunakan dalam melakukan kejahatan. Seperti adanya kejahatan biasa (konvensional) dilakukan dengan modus operandi yang canggih sehingga proses beracara diperlukan teknik atau prosedur khusus untuk mengungkap suatu kejahatan.
Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di era reformasi dan era globalisasi ini telah memberikan kontribusi yang sangat besar dalam mendorong perubahan sosial, ekonomi dan politik.
Perkembangan teknologi sangat mempengaruhi bentuk, sifat dan motif (modus operandi) dari kejahatan. Dengan adanya perubahan dari motif itu teknologipun berkembang dan menjadi latar belakang adanya kejahatan baru atau yang di luar kebiasaan (non-konvensional).
Seperti contohnya yang dilakukan oleh para narapidana di dalam Lembaga Permasyarakatan (selanjutnya disebut LP) dengan melibatkan orangorang di luar dan di dalam LP. Bahkan kejahatan yang menggunakan senjata api semakin marak, demikian pula kejahatan yang di luar kebiasaan (nonkonvensional) yang dilakukan
oleh orang bertopeng, ataupun dengan cara hipnotis, termasuk ketertiban berlalulintas dan kejahatan teroris pun sebagian besar dapat terungkap berkat adanya alat bukti yang dikenal dengan Closed Circuit Television (selanjutnya disebut CCTV) yang sudah diterima sebagaialat bukti nonkonvensional.
Kejahatan yang terekam oleh CCTV tentunya tidak lagi menjadi hambatan dalam proses pembuktian di pengadilan berkat perkembangan teknologi informatika di Indonesia. Sehingga setiap tindak kejahatan ataupun pelanggaran dapat semakin diwaspadai melalui kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (selanjutnya disebut IPTEK) tersebut.
Seperti diketahui bahwa salah satu tujuan politik hukum adalah untuk memberikan kepastian hukum, keadilan, serta kenyamanan bagi masyarakat di Indonesia. Oleh karenanya setiap kemajuan teknologi di atas perlu mendapat perhatian dan ditindaklanjuti oleh para penegak hukum dan tentu saja oleh para legislator dalam pengaturan hukum yang dapat diterapkan dalam mengantisipasi maupun memberikan perlindungan dan kepastian hukum bagi masyarakat dengan ancaman hukuman yang seberat-beratnya bagi siapapun yang melakukan tindak pidana, sebagaimana konsep dari Roscoe Pound yang mengatakan bahwa “Law as a tool of social engineering”, yang berarti hukum adalah alat atau sarana untuk merekayasa masyarakat. Atau dengan perkataan lain, dapat dikatakan bahwa hukum adalah alat atau instrument yang digunakan untuk menata masyarakat dan menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera. Hal senada dikemukakan pula oleh Donald Black dalam bukunya yang berjudul Behavior of Law yang menyatakan bahwa hukum adalah kontrol sosial dari pemerintah atau Negara (law is governmental social control), sebagai aturan dan proses sosial yang mencoba
perilaku, baik yang berguna atau mencegah perilaku yang buruk1.
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik menerangkan bahwa alat bukti elektronik berupa ITE dan persyaratan informasi elektronik, dokumen elektronik, dan hasil cetaknya dengan tegas diakui sebagai alat bukti yang sah dan penuh di pengadilan asalkan memenuhi persyaratan- persyaratan tertentu sebagaimana yang ditentukan dalam Undang-Undang2. Ketentuan yang diatur dalam undang-undang minimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 UU ITE3. CCTV termasuk ke dalam alat bukti elektronik.
1
Djoko Sarwoko, Biografi Toga 3 Warna, Pustaka Dunia. Jakarta, 2013. hlm. 10.
2 Munir Fuady, Teori Hukum Pembuktian Pidana dan Perdata, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2012, hlm. 168
3 Hukum Online, Perluasan Alat Bukti Hukum yang Sah dalam UU ITE, melalui http://www. hukumonline.com/berita/baca/lt4c47cc2381f7a/Talkhukumonline-discussion.
Sebagaimana diketahui bahwa alat bukti dalam hukum acara pidana diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, yaitu Pasal 184 ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 yang merinci macam-macam alat bukti dalam hukum acara pidana. Ketentuan yang mengatur alat bukti tersebut merupakan hukum acara yang merupakan hukum publik, ketentuan alat bukti tersebut bersifat hukum memaksa (dwingend recht). Artinya, segala jenis alat bukti yang sudah diatur dalam pasal tersebut tidak dapat ditambah atau dikurangi. Hanya saja, tertolong oleh lonceng bahwa, baik dalam ketentuan tentang alat bukti untuk hukum acara pidana terdapat model alat bukti yang terbuka ujung (open end) yang memungkinkan masuknya berbagai alat bukti baru, sesuai perkembangan teknologi, salah satunya adalah CCTV4.
B. Identifikasi Masalah
Beranjak dari uraian dalam latar belakang di atas, dirumuskan permasalahan- permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana kedudukan Closed Circuit Television (CCTV) sebagai alat bukti nonkonvensional menurut Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana dikaitkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik?
2. Apakah Closed Circuit Television (CCTV) dapat dijadikan sebagai alat bukti dalam Pembuktian Hukum Pidana?
C. Pembahasan a) Fungsi CCTV
1) Keamanan/Safety
Sejak diluncurkan ke ranah publik, fungsi utama dari CCTV adalah untuk meningkatkan keamanan. Berbicara mengenai keamanan tentu memiliki kaitan yang erat dengan pencegahan tindak atau aksi kejahatan. Bagaimana mungkin aksi kejahatan bisadicegah dengan CCTV. CCTV menampilkan sekaligus merekam gambar yang diambil oleh kamera pengintai dan ditampilkan melalui monitor merupakan aksi atau tindakan yang sedang terjadi.
Sebagai contoh misalnya, seseorang berusaha mencuri sebuah motor yang terparkir di halaman toko. Aksi orang tersebut terekam oleh kamera pengintai, maka aksi itu bisa langsung digagalkan oleh petugas yang melihatnya dari monitor. Jika tidak bisa langsung digagalkan, setidaknya
4
aksi pencuri itu telah terekam oleh kamera CCTV sehingga bisa digunakan sebagai alat bukti laporan kepada pihak kepolisian dan pelakunya bisa segera ditangkap.
2) Peningkatan Kinerja/Intensify
Selain untuk meningkatkan keamanan, CCTV juga difungsikan sebagai pemantau kinerja karyawan. Saat ini banyak gedung perkantoran bahkan instansi pemerintah yang memasang CCTV. Salah satu tujuannya adalah untuk memantau aktivitas kerja karyawan. Bukannya berburuk sangka, tetapi diakui atau tidak, ada
saja karyawan yang belum mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara penuh. Selama jam kerja, ada karyawan yang mengobrol, meninggalkan ruangan tanpa alasan jelas, bermain game, memainkan gadget, bahkan asik twitteran ataupun facebookan. Perilaku-perilaku tersebut jelas merupakan bentuk penyimpangan terhadap tanggung jawab pekerjaan. Akibatnya, pelaksaaan tugas terbengkalai dan tidak bisa diselesaikan tepat waktu sehingga hasil kerja menjadi tidak maksimal. Secara lebih lanjut, prestasi dan kualitas kerja karyawan menurun dan selanjutnya akan berimbas pada kinerja perusahaan yang menurun pula.
3) Pemantauan/Monitoring
Kamera CCTV tidak hanya bermanfaat untuk kepentingan publik dan perusahaan saja, tetapi juga pribadi. Selain meningkatkan keamanan, pemasangan CCTV di rumah bisa untuk memonitor aktivitas anak. Hal ini diperlukan bagi para orang tua yang sibuk di luar rumah seharian, sehingga tidak memiliki waktu untuk menemani anak bermain. Agar bisa tetap memantau perkembangan anak, salah satu caranya adalah dengan memasang CCTV di rumah sehingga orang tua tetap mengawasi gerak-gerik dan segala aktivitas anak meski sibuk bekerja.
4) Penyelidikan/Investigation
Sistem CCTV berguna untuk menunjang penyelidikan tindak kejahatan yang telah terjadi. Dimana dalam penyelidikan bisa langsung melihat dari CCTV mengenai peristiwa yang telah terjadi. Dengan melihat peristiwa tersebut melalui CCTV dapat terlihat siapakah pelaku dan bagaimana peristiwa tersebut terjadi.
5) Bukti/Evidence
Hasil rekaman video CCTV dpat dijadikan bukti tindak kejahatan/ kriminal. Jika terjadi tindak kejahatan dan hal tersebut terekam oleh kamera,
maka kita dapat dengan mudah mencari rekaman pada jam, tanggal dan hari tertentu untuk digunakan sebagai alat bukti untuk mencari pelaku kejahatan.
b) Kedudukan CCTV sebagai alat bukti menurut Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam BAB II mengenai alat bukti bahwasanya alat bukti adalah segala sesuatu yang ada hubungannya dengan perbuatan, dimana dengan alat-alat tersebut dapat dipergunakan sebagai bahan pembuktian guna menimbulkan keyakinan hakim atas kebenaran adanya suatu tindak pidana yang telah dilakukan oleh terdakwa.
Adapun alat-alat bukti yang sah menurut KUHAP berdasarkan Pasal 184 ayat (1), adalah sebagai berikut:
1) Keterangan Saksi
Keterangan saksi adalah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan ia alami sendiri dengan menyebutkan alasan dari pengetahuan itu. 2) Keterangan Ahli
Keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan oleh seseorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan menurut cara yang diatur dalam Undang-Undang.
3) Surat
Pasal 187 KUHAP menyebutkan surat sebagaimana tersebut pada Pasal 184 ayat (1) huruf c dibuat atas sumpah abatan atau dikutipkan dengan sumpah, adalah:
a) Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang berwenang atau yang dibuat dihadapannya, yang memuat keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau yang dialaminya sendiri disertai dengan alasan yang jelas dan tegas tentang keterangannya itu,
b) Surat yang dibuat menurut ketentuan Perundang-undangan atau surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi tanggung jawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal atau sesuatu keadaan.
c) Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai suatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi daripadanya.
d) Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dari isi alat pembuktian yang lain.
4) Petunjuk
Petunjuk adalah perbuatan, kejadian atau keadaan yang karena persesuiannya, baik antara yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak pidana itu sendiri, menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya.
5) Keterangan Terdakwa
Keterangan terdakwa adalah apa yang terdakwa nyatakan di siding tentang perbuatan yang ia lakukan atau apa yang ia ketahui sendiri atau alami sendiri. Ketentuan yang mengatur alat bukti tersebut merupakan hukum acara yang merupakan hukum publik, maka ketentuan tentang alat bukti dalam hukum acara pidana bersifat hukum memaksa (dwigend recht).
Artinya, segala jenis alat bukti yang sudah diatur dalam pasal tersebut tidak dapat ditambah atau dikurangi. Hanya saja, tertolong oleh lonceng bahwa, dalam ketentuan hukum acara pidana terdapat model alat bukti yang terbuka ujung (open end), yang memungkinkan masuknya berbagai alat bukti baru, sesuai perkembangan teknologi, termasuk alat bukti yang sangat bersifat sainsifik dan/atau eksperimental. Alat bukti yang terbuka ujung tersebut adalah alat bukti petunjuk dalam hukum acara pidana.
CCTV merupakan alat bukti yang tujuannya adalah untuk mencari kebenaran dan keadilan materil, sistem pembuktian pidana indonesia yang ada pada Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) masih menganut Sistem Negatif (Negatief Wettelijk Bewijsleer), sebagaiaman diatur dalam Pasal 183 KUHAP dinyatakan Hakim tidak boleh menjatuhkan seseorang apabila sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah sebagaimana asas yang dianut adalah unus testis nullus testis (satu saksi bukanlah) yaitu asas yang menolak kesaksian dari satu orang saksi saja, keterangan seorang saksi saja tanpa dukungan alat bukti lain tidak boleh dipercaya atau tidak dapat digunakan sebagai dasar bahwa dalil gugatan secara keseluruhan terbukti.
c) Kedudukan CCTV sebagai alat bukti menurut Undang-undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
Alat bukti nonkonvensional adalah pembuktian yang belum tercantum dalam ketentuan yang telah ada di dalam KUHAP, akan tetapi sudah memiliki Undang baru dalam pengaturannya seperti halnya di dalam
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Telah dijelaskan di atas bahwa alat bukti yang sah untuk diajukan dalam Undang- Undang Nomor 11 Tanun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik disebutkan:
1) Informasi Elektronik dan/ atau Dokumen elektronik dan/atau hasil cetaknya merupakan alat bukti hukum yang sah.
2) Informasi Elektronik dan/ atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupaka perluasan dari alat bukti yang sah sesuai dengan Hukum Acara yang berlaku di Indonesia.
3) Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dinyatakan sah apabila menggunakan sistem elektronik sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang ini.
4) Ketentuan mengenai Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku untuk:
Surat yang menurut Undang-undang harus dibuat dalam bentuk tertulis, dalam bentuk notaril atau akta yang dibuat oleh pejabat pembuat akta.
Melalui Pasal 5 ayat (1) dan (2) jelas dinyatakan terdapat 3 buah alat bukti baru yaitu: Informasi elektronik, dokumen elektronik dan hasil cetak dari keduanya, sehingga dalam pembuktian tindak kejahatan yang pembuktiannya dengan menggunakan alat bukti berupa CCTV seabagaimana alat bukti yang tercantum dalam Pasal 184 KUHAP dikaitkan Pasal 5 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, sesuai dengan rumusan Pasal 44 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 yaitu:
a. Alat bukti sebagaimana dimaksud dalam ketentuan perundang-undangan, dan
b. Alat bukti lain berupa Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 dan angka 4 serta Pasal 5 ayat (1), (2), dan ayat (3).
Dalam Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik apa yang dimaksud dengan Informasi Elektronik adalah:
“Satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, electronic data
interchange (EDI), surat elektronik (electronic mail), telegram, teleks, teleopy, atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, kode akses, symbol, atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya”.
Sedangkan yang dimaksud Dokumen Elektronik dalam Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik adalah:
“Setiap Informasi Elektronik yang dibuat, diteruskan, dikirimkan, diterima, atau disimpan dalam bentuk analog, digital, elektromagnetik, optikal, atau sejenisnya, yang dapat dilihat, ditampilkan, dan/ atau didengar melalui Komputer atau Sistem Elektronik, termasuk tetai tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, kode, akses, simbol atau perforasi yang memiliki makna atau arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya”.
Pengguna alat bukti elektronik dalam sistem hukum pembuktian didasari atas asas-asas berikut:
1. Asas kepastian hukum 2. Asas manfaat
3. Asas kehati-hatian 4. Asas i’tikad baik
5. Asas kebebasan memilih teknologi atau netral teknologi.
Beberapa persyaratan yuridis di Indonesia agar suatu informasi elektronik, dan hasil cetaknya dapat diakui sebagai alat bukti yang sah dan penuh adalah sebagai berikut:
1. Para pihak yang melakukan transaksi elektronik harus beritikad baik dan dapat menuangkan transaksi elektronik tersebut dalam suatu kontrak elektronik.
2. Pembuktian dengan sistem alat bukti elektronik tidak berlaku terhadap: 1. Pembuktian yang oleh Undang-Undang diisyaratkan dalam bentuk
tertulis.
2. Pembuktian yang oleh Undang-Undang diisyaratkan dalam bentuk akta notaries atau akta yang dibuat oleh pejabat pembuat akta.
3. Menggunakan sistem elektronik sebagaimana yang ditentukan oleh Undang-Undang, yakni sistem elektronik yang berupa serangkaian peragkat dan prosedur elektronik yang berfungsi mempersiapkan,
mengumpulkan, mengolah, menganalisis, menyimpan, menampilkan, mengumumka, mengirim, atau menyebarkan informasi elektronik.
4. Informasi yang terdapat dalam informasi elektronik atau dokumen elektronik dapat diakses, ditampilkan, dijamin keutuhannya, dandapat dipertanggungjawabkan sehingga menerangkan suatu keadaan.
5. Jika dipergunakan “sertifikat elektronik” untuk mendukung suatu tanda tangan elektronik, penanda tangan harus memastikan kebenaran dan keutuhan semua informasi yang terkait dengan sertifikat elektronik tersebut. Sertifikat elektronik ini diberikan oleh Penyelenggara Sertifikat Elektronik yang diakui secara sah dengan tujuan untuk memastikan keabsahan suatu tanda tangan atau keterkaitan suatu tanda tangan elektronik dengan pemiliknya.
6. Tanda tangan elektronik baru mempunyai kekuatan hukum jika:
a. Data pembuatan tanda tangan elektronik hanya terkait dengan pihak penanda tangannya.
b. Pada saat proses penandatanganan elektronik, maka data pembuatan tanda tangan elektronik hanya berada dalam kuasa pihak penanda tangan.
c. Segala perubahan terhadap tanda tangan elektonik atau perubahan terhadap informasi elektronik yang terkait dengan tanda tangan elektronik tersebut, yang terjadi setelah waktu penandatanganan, dapat diakui.
d. Tersedianya cara-cara tertentu yang dipakai untuk mengidentifikasi siapa pihak penandatangannya.
e. Tersedianya cara-cara tertentu untuk menunjukkan bahwa penanda tangan telah memberikan persetujuan terhadap informasi elektronik yang terkait.
Beberapa kriteria atau ketentuan dasar yang harus dipertimbangkan dalam hubungannya dengan pengakuan terhadap alat bukti digital adalah sebagai berikut5:
1. Perlakuan Hukum Terhadap Data Elektronik
Dalam hal ini ditentukan bahwa siapa pun, termasuk pengadilan tidak boleh menolak efek hukum, validitas hukum, dan pelaksanaan hukum semata-mata karena hal tersebut merupakan data elektronik. Disamping itu, pengadilan
tidak boleh pula menolak efek hukum dari dokumen jika para pihak memang tidak mungkin mendapatkan naskah asli dari dokumen tertentu.
2. Prinsip Otentisitas
Prinsip praduga otensitas (presumption of authenticity) merupakan suatu ketentuan yang sering digunakan untuk membuktikan keaslian suatu dokumen/data digital atau keaslian tanda tangan digital dianggap asli, kecuali dapat dibuktikan sebaliknya. Yang dilakukan dalam hal ini adalah suatu pembuktian terbalik (omkering van bewijslast). Artinya, barang siapa yang menyatakan bahwa alat bukti tersebut palsu, dialah yang harus membuktikannya. Dengan demikian, sebagai konsekuensi dari prinsip praduga otentisitas ini adalah bahwa pengadilan tidak boleh menolak alat bukti digital hanya karena itu adalah alat bukti digital, tetapi jika mau ditolak, pihak yang berkeberatan atas bukti tersebut harus mengajukan alasn- alasan yang rasional, misalnya, dengan membuktikan bahwa alat bukti digital tersebut sebenarnya adalah palsu atau hasil rekayasa saja.
3. Notarisasi Bisnis
Notarisasi bisnis terhadap suatu alat bukti digital juga sering dipersyaratkan oleh hukum pembuktian. Yang dimaksud dengan notarisasi bisnis adalah pelibatan notaris atau petugas khusus untuk itu, yang setelah dilakukan penelaahan, pemeriksaan pemakaian standar tertentu, kemudian notaries atau petugas khusus tersebut adalah benar ditandatangani oleh pihak yang tertulis sebagai penandatangannya.
4. Perlakuan Hukum Terhadap Tulisan Elektronik
Sebagaimana diketahui bahwa hukum di Negara mana pun mensyaratkan transaksi tertentu dilakukan secara tertulis. Tujuan persyaratan tertulis bagi transaksi tertentu adalah sebagai berikut:
a. Membantu para pihak untuk waspada dan sadar sepenuhnya akan isi dan konsekuensi dari kontrak yang ditandatanganinya.
b. Untuk mempermudah pembuktian tentang maksud dan niat tertentu dari para pihak yang bertransaksi.
c. Untuk mendapatkan suatu kontrak atau dokumen yang tidak berubah- ubah.
d. Untuk memperkuat keotentikan data tersebut dengan adanya pembubuhan tanda tangan dan materai.
f. Agar dokumen tersebut dapat diterima oleh pihak yang berwenang atau pengadilan.
g. Untuk memungkinkan agar kontrak atau dokumen tersebut dapat digandakan lagi untuk kepentingan semua pihak yang berkepentingan. h. Untuk memfasilitasi maksud para pihak dalam bentuk tulisan sekaligus
menyediakan catatan bagi maksud tersebut.
i. Untuk menyimpan data dalam bentuk yang dapat terbaca.
j. Untuk memberikan hak dan kewajiban hukum bagi para pihak terhadap transaksi yang diisyaratkan oleh Undang-Undang.
Tentang persyaratan dokumen tertulis sebagaimana banyak diharuskan untuk transaksi tertentu, maka dalam hubungannya dengan transaksi elektronik ditentukan bahwa persyaratan tertulis bagi data elektronk dianggap dipenuhi jika data tersebut berisi informasi yang dapat doakses langsung dapat digunakan pada kepentinga-kepentingan selanjutnya. 5. Persoalan Tanda Tangan pada Dokumen Sebagaimana diketahui bahwa
tanda tangan bagi suatu dokumen memainkan peranan yang sangat penting dalam hukum pembuktian. Pada prinsipnya, akan sangat tidak berarti bagi suatu kontrak jika kontrak tersebut tidak pernah ditandatangani.
Beberapa Negara di dunia ini sudah mengadopsi perkembangan teknologi digital ke dalam hukum pembuktiannya, seperti6:
Hong Kong telah memiliki Undang-Undang tentang Transaksi Elektronik sejak tanggal 7 Januari 2000.
Inggris telah memiliki the Electronic Communication Bill sejak tanggal 26 Januari 2000.
Jepang telah memiliki Undang-Undang tentang Tanda Tangan Elektronik dan Notarisasi Bisnis Nomor 102, tanggal 31 Mei 2000, yang mulai berlaku sejak tanggal 1 April 2001.
Di samping berbagai Negara yang telah memulai mengikuti transaksi elektronik, termasuk cara pembuktiannya, maka Perserikatan Bangsa-Bangsa juga telah membuat Uncitral Model Law terhadapat alat bukti komersil (Uncitral Model Law on Electronic commerce). Uncitral Model Law ini telah resmi dipublikasikan sejak tahun 1996, dengan Bahasa aslinya dalam bahasa Arab, Cina, Inggris, Perancis, Rusia, dan Spanyol.
Model Law ini diharapkan dapat diterapkan pada setiap informasi dalam bentuk “data elektronik” (data message) yang digunakan dalam hubungannya dengan aktivitas komersil. Yang dimaksud dengan data elektronik (data message) dalam hal ini adalah setiap informasi yang dihasilkan, dikirim, diterima, atau disimpan dengan sistem elektronik, optikal, atau dengan cara-cara yang serupa, termasuk tetapi tidak terbatas pada sistem pertukaran data elektronik (computer to computer), surat elektronik, telegram, teleks, atau telekopi. Banyak ketentuan yang diatur dalam model law tersebut, baik yang bersentuhan secara langsung maupun yang tidak langsung dengan hukum pembuktian.
Hakim Mohammed Chawki dari Computer Crime Research Center mengklasifikasikan bukti elektronik menjadi tiga katagori, sebagai berikut7:
1) Real Evidence
Real Evidence atau Physicial Evidence ialah bukti yang terddiri dari objek-objek nyata/berwujud yang dapat dilihat dan disentuh. Real Evidence juga merupakan bukti langsung berupa rekaman otomatis yang dihasilkan oleh komputer itu sendiri dengan menjalankan software dan recipt dari informasi yang diperoleh dari alat (device) yang lain. Edmon Makarim mengemukakan bukti elektronik sebagai suatu alat bukti yang sah dan berdiri sendiri (realevidence), tentunya harus dapat diberikan jaminan bahwa suatu rekaman/salinan data (data recording) berjalan sesuai dengan prosedur yang berlaku (telah dikalibrasi dan deprogram) sedemikian rupa sehingga hasil print out suatu data dapat diterima dalam pembuktian suatu kasus.
2) Testamentary Evidence
Testamentary Evidence juga dikenal dengan istilah Hearsay Evidence dimana keterangan dari saksi maupun expert witness, yaitu keterangan dari seorang ahli dapat diberikan selama persidangan, berdasarkan pengalaman dan pengamatan individu. Peranan dari keterangan ahli sesuai dengan peraturan perundang-undangan kita yaitu Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang KUHAP, bahwa keterangan ahli dinilai sebagai alat bukti yang mempunyai kekuatan pembuktian jika keterangan yang diberikan tentang sesuatu hal berdasarkan keahlian khusus dalam bidang yang dimilikinya dan yang serupa keterangan “menurut pengetahuannya” secara murni. Perkembangan ilmu dan teknologi sedikit banyak membawa dampak terhadap kualitas metode kejahatan, memaksa kita untuk mengimbanginya dengan kualitas dan metode
7
Budi Santika Astriadi, Skripsi: Pengelolaan Barang Bukti Elektronik (Digital Evidence) Hasil Tindak Pidana Cyber Crime di Lembaga RUPBASAN Dihubungkan Dengan Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang informasi Dan Transaksi Elektronik, hlm. 82.
pembuktian yang memerlukan pengetahuan dan keahlian (skill and knowledge). Kedudukan seorang ahli dalam memperjelas tindak pidana yang terjadi serta menerangkan atau menjelaskan bukti elektronik sangat penting dalam memberikan keyakinan hakim dalam memutus perkara kejahatan dunia maya.
3) Circumstantial Evidence
Pengertian dari Circumstantial Evidence ini adalah merupakan bukti terperinci yang diperoleh berdasarkan ucapan atau pengamatan dari kejadian yang sebenarnya yang mendorong untuk mendukung suatu kesimpulan, tetapi bukan untuk membuktikannya. Circumstantial evidence atau derived evidence ini merupakan kombinasi dari realevidence dan hearsay evidence.
d) Analisis Closed Circuit Television (CCTV) sebagai alat bukti dalam pembuktian hukum pidana
Walaupun penggunaan alat bukti berupa teknologi elektronik, sistem elektronik, informasi elektronik, transaksi elektronik, dan dokumen elektronik di dalam penyelesaian suatu peristiwa hukum tidak dikenal dalam KUHAP bukan berarti upaya penegakan hukum menjadi terhenti, karena dalam perbuatan tertentu, alat bukti elektronik atau alat bukti digital dikenal dan pengaturannya tersebar pada beberapa peraturan perundang-undangan seperti:
1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1997 Tentang Dokumen Perusahaan
Dengan dikeluarkannya Undang-Undang No. 8 Tahun 1997 tanggal 24 Maret 1997 tentang Dokumen Perusahaan, pemerintah berusaha untuk mengatur pengakuan atas microfilm dan media lainnya (alat penyimpan informasi yang bukan kertas dan mempunyai tingkat pengamanan yang dapat menjamin keaslian dokumen yang dialihkan atau ditransformasikan. Misalnya Compact Disk – Read Only Memory (CD-ROM), dan Write-Once-Read-Many (WORM), yang diatur dalam Pasal 12 Undang-Undang tersebut sebagai alat bukti yang sah. 2. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Terorisme
Dalam Pasal 27 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menyatakan bahwa alat bukti pemeriksaan tindak pidana terorisme meliputi:
a. Alat bukti sebagaimana dimaksud dalam Hukum Acara Pidana
b. Alat bukti lain berupa informasi yang diucapkan, dikirimkan, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu.
c. Data, rekaman, atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan/atau didengar, yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang diatas kertas, benda fisik apapun selain kertas, atau yang terekam secara elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada:
1) Tulisan, suara, atau gambar.
2) Peta, rancangan, foto, atau sejenisnya.
3) Huruf, tanda, angka, simbol, atau perforasi yang memiliki makna atau dapat dipahami oleh orang yang mampu membaca atau memahaminya. 3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 Tentang Tindak Pidana Pencucian
Uang Pasal 38 huruf b, yaitu “alat bukti lain berupa informasi yang diucapkan, dikirimkan, diterima atau disimpan secara elektronik dengan alat optik yang serupa dengan itu”.
4. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Berdasarkan Undang-Undang ini, ada perlusan mengenai sumber perolehan alat bukti yang sah berupa petunjuk. Berdasarkan KUHAP, alat bukti petunjuk hanya dapat diperoleh dari keterangan saksi, surat dan keterangan terdakwa, tetapi menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2001, bukti petunjuk juga dapat diperoleh dari alat bukti lain yang berupa informasi yang diucapkan, dikirim, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu tetapi tidak terbatas pada data penghubung elektronik (electronic data interchange), surat elektronik (e- mail), telegram, teleks, faksimili dan dari dokumen, yakni setiap rekaman atau informasi yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang di atas kertas, benda fisik apapun selain kertas, maupun yang terekam secara elektronik, yang berupa tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, huruf, tanda, angka, atau perforasi yang memiliki makna. 5. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Perdagangan Orang
Pasal 29 mengatur mengenai alat bukti selain sebagaimana ditentukan dalam KUHAP, dapat pula berupa:
a. Informasi yang diucapkan, dikirimkan, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau serupa dengan itu, dan
b. Data, rekaman atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan/atau didengar yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana,
baik yang tertuang di atas kertas, benda fisik apapun selain kertas atau yang terekam secara elektronik, termasuk tidak terbatas pada:
1) Tulisan, suara atau gambar
2) Peta, rancangan, foto atau sejenisnya
3) Huruf, tanda, angka, simbol atau perforasi yang memiliki makna atau dapat dipahami oleh orang yang mampu membaca atau memahaminya.
D. Penutup
Bahwa dalam pembuktian dengan alat bukti berupa CCTV di dalam KUHAP (konvensional) tidak mengatur alat bukti elektronik sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 184 ayat (1) menerangkan alat bukti adalah berupa keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa. Akan tetapi dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (nonkonvensional) sebagai lex specialis, memiliki kekhususan secara formil dibandingkan KUHAP. Salah satu kekhususan tersebut adalah terkait penggunaan alat bukti elektronik yang merupakan ius cosntituendum terhadap alat bukti konvensional dalam KUHAP.
Bahwa CCTV di dalam KUHAP tidak dapat dijadikan alat bukti akan tetapi bisa masuk di dalam petunjuk sebagaimana dalam pasal 184. Serta alat bukti digital peraturannya tersebar pada beberapa Perundang-undangan dalam ruang lingkup pidana yaitu Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1997 Tentang Dokumen Perusahaan, Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Daftar Pustaka
Budi Santika Astriadi, Skripsi: Pengelolaan Barang Bukti Elektronik (Digital Evidence) Hasil Tindak Pidana Cyber Crime di Lembaga RUPBASAN Dihubungkan Dengan Undang-Undang No. 11 Tahun
2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Djoko Sarwoko, Biografi Toga 3 Warna, Pustaka Dunia. Jakarta, 2013.
Munir Fuady, Teori Hukum Pembuktian Pidana dan Perdata, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2012Hukum Online, Perluasan Alat Bukti Hukum
yang Sah dalam UU ITE, melalui http://www. hukumonline.com/berita/ baca/lt4c47cc2381f7a/Talkhukumonline- discussion,