TENTANG
SEJARAH DAN PRODUK FRANCHISE
KELOMPOK 4
MARTHEN DJAWA
YESIANA MARIA HELENA BUIFENA
YOHANES TAMU AMA
CORSINA ALDONA BALAN
OKING O KABNANI
POLITEKNIK NEGERI KUPANG
2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,karena kami dapat meyelesaikan makalah ini dengan baik.Dan kami juga berterimakasih kepada dosen pengajar Aspek Hukum dalam Bisnis kami,yang telah memberikan tugas ini,yang membuat pengetahuan kami bertambah.
Tim penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu tim penuli sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman. Amin...
Kupang,20 Juni 2014 Tim penulis DAFTAR ISI Kata Pengantar... Daftar Isi………... BAB 1 Pendahuluan... Latar belakang... Rumusan Masalah... Tujuan Penulisan... Manfaat Penulisan... BAB 2
PEMBAHASAN
Pengertian Franchise... Istilah-istilah dalam Franchise... Jenis-jenis Franchise... Sejarah Franchise... Profil Coca-cola Company... BAB 3 PENUTUP Kesimpulan ... Saran Daftar Pustaka... BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Dalam rangka menghadapi dunia kerja pada era global diperlukan langkah yang kongkrit dalam mempersiapkan sumber daya manusia sebagai tenaga keja yang berkualitas, profesional, inovatif dan kreatif serta menguasai teknologi, pengetahuan dan ketrampilan . Dan dalam menghadapi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi,maka manusia membutuhkan suatu usaha yang sederhana tapi menghasilkan laba yang cukup besar.
Adapun pokok permasalahan yang kami ingin bahas adalah sebagaiberikut: a) Pengertian & Istilah-istilah penting dalam Franchisee
b) Keuntungan & Kerugian Franchisee c) Contoh Produk Franchisee
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagaiberikut: a) Memenuhi tugas mata kuliah aspek hukum dalam bisnis b) Mengetahui dan mengenal franchisee
c) Mengetahui produk-produk franchisee d) Mengetahui manfaat franchisee D. Manfaat Penulisan
a) Memberikan gambaran tentang manfaat franchisee b) Menyampaikan informasi tentang produk franchisee c) Menambah wawasan penulis dan pembaca
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1).Pengertian,Sejarah, & istilah-istilah Franchise
Pengertian Franchising
Franchising/waralaba adalah terjemahan bebas dari franchise dimana menurut peraturan pemerintah RI No. 16 tahun 1997 tanggal 18 Juni 1997 adalah suatu bentuk kerjasama dimana pemberi waralaba memberikan izin kepada penerima waralaba untuk menggunakan hak intelektualnya.Seperti nama,merk dagang,produk barang dan jasa dan sistem operasi usahanya.Sebagai timbal baliknya, penerima waralaba menerima suatu jumlah imbalan kepada sang pemberi izin usaha.
Namun ada juga yang berpendapat bahwauatu strategi pemasaran yang bertujuanuntukmengembangkanjaringanusaha
Suatu cara untuk mengemas suatu produk atau suatu usaha dengan tujuan untuk memenuhi keinginan atau kebutuhan konsumen yang lebih Iuas. (sesuai Peraturan
Menterino.12/2006tentangWaralaba)
Waralaba (Franchise) adalah perikatan antara Pemberi Waralaba dengan Penerima Waralaba dimana Penerima Waralaba diberikan hak untuk menjalankan usaha dengan memanfaatkan dan/atau menggunakan hak kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimiliki Pemberi Waralaba dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan oleh Pemberi Waralaba dengan sejumlah kewajiban menyediakan dukungan konsultasi
operasional yang berkesinambungan oleh Pemberi Waralaba kepada Penerima Waralaba. (sesuai rancangan Peraturan Pemerintah tentang Waralaba)
Waralaba adalah Sistem bisnis dan ciri khas usaha dalam rangka memasarkan barang dan/atau jasa yang dimiliki orang perseorangan atau badan usaha yang telah terbukti berhasil dan dapat dimanfaatkan dan/atau digunakan oleh pihak
lain.
Waralaba juga dapat diartikan sebagai duplikasi bisnis yang telah sukses, sehingga bagi mereka yang akan membeli bisnis franchise tidak perlu lagi bersusah payah menjalankan bisnis ini dari awal dan tidak perlu harus jatuh bangun untuk memulai bisnis ini. Mereka hanya menjalankan sistem yang telah berjalan tinggal start up langsung meneruskan bisnis yang memang telah teruji keberhasilannya.
Sejarah Franchising
Waralaba diperkenalkan pertama kali pada tahun 1850-an oleh Isaac Singer, pembuat mesin jahit Singer, ketika ingin meningkatkan distribusi penjualan mesin jahitnya. Walaupun usahanya tersebut gagal, namun dialah yang pertama kali memperkenalkan format bisnis waralaba ini di AS. Kemudian, caranya ini diikuti oleh pewaralaba lain yang lebih sukses, John S Pemberton, pendiri Coca Cola[5]. Namun, menurut sumber lain, yang mengikuti Singer kemudian bukanlah Coca Cola, melainkan sebuah industri otomotif AS, General Motors Industry ditahun 1898[6]. Contoh lain di AS ialah sebuah sistem telegraf, yang telah dioperasikan oleh berbagai perusahaan jalan kereta api, tetapi dikendalikan oleh Western Union serta persetujuan eksklusif antar pabrikan mobil dengan penjual. Mc Donalds, salah satu pewaralaba rumah makan siap saji terbesar di dunia.Waralaba saat ini lebih didominasi oleh waralaba rumah makan siap saji. Kecenderungan ini dimulai pada tahun 1919 ketika A&W Root Beer membuka restoran cepat sajinya. Pada tahun 1935, Howard Deering Johnson bekerjasama dengan Reginald Sprague untuk memonopoli usaha restoran modern. Gagasan mereka adalah membiarkan rekanan mereka untuk mandiri menggunakan nama yang sama, makanan, persediaan, logo dan bahkan membangun desain sebagai pertukaran dengan suatu pembayaran. Dalam perkembangannya, sistem bisnis ini mengalami berbagai penyempurnaan terutama di tahun l950-an yang kemudian dikenal menjadi waralaba sebagai format bisnis (business format) atau sering pula disebut sebagai waralaba generasi kedua. Perkembangan sistem waralaba yang demikian pesat terutama di negara asalnya, AS, menyebabkan waralaba digemari sebagai suatu sistem bisnis diberbagai bidang usaha, mencapai 35 persen dari keseluruhan usaha ritel yang ada di AS. Sedangkan di Inggris, berkembangnya waralaba dirintis oleh J. Lyons melalui usahanya Wimpy and Golden Egg, pada tahun 60-an. Bisnis waralaba tidak mengenal diskriminasi. Pemilik waralaba (franchisor) dalam menyeleksi calon mitra usahanya berpedoman pada keuntungan bersama, tidak berdasarkan SARA. Kategori waralaba berbeda-beda antara lain : franchise dalam bentuk makanan, pendidikan dan lain-lain. salah satu bentuk nya adalah dan masih banyak lagi franchise yang berkembang di Indonesia ini.
Jenis-Jenis waralaba
Waralaba dapat dibagi menjadi dua:
a) Waralaba luar negeri, cenderung lebih disukai karena sistemnya lebih jelas, merek sudah diterima diberbagai dunia, dan dirasakan lebih bergengsi.
b) Waralaba dalam negeri, juga menjadi salah satu pilihan investasi untuk orang-orang yang ingin cepat menjadi pengusaha tetapi tidak memiliki pengetahuan cukup piranti awal dan kelanjutan usaha ini yang disediakan oleh pemilik waralaba.
Biaya waralaba meliputi:
1. Ongkos awal, dimulai dari Rp. 10 juta hingga Rp. 1 miliar. Biaya ini meliputi pengeluaran yang dikeluarkan oleh pemilik waralaba untuk membuat tempat usaha sesuai dengan spesifikasi franchisor dan ongkos penggunaan HAKI.
2. Ongkos royalti, dibayarkan pemegang waralaba setiap bulan dari laba operasional. Besarnya ongkos royalti berkisar dari 5-15 persen dari penghasilan kotor. Ongkos royalti yang layak adalah 10 persen. Lebih dari 10 persen biasanya adalah biaya yang dikeluarkan untuk pemasaran yang perlu dipertanggungjawabkan.
Istilah dari franchise (waralaba) sangat beraroma Perancis. Namun sebenarnya yang mempopulerkan nama itu adalah Amerika Serikat. Kata “farnchise” sendiri bermakna kebebasan. Dalam bahasa Indonesia, franchise diterjemahkan waralaba atau “lebih untung”. Wara berarti lebih sedengkan laba artinya untung. Dalam waralaba diperlukan kode etik agar menciptakan bisnis yang dapat dipercaya. Di saat itulah muncul IFA (International Franchise Association) pada tahun 1960 yaitu sebagai pedoman bagi anggota-anggotanya. Walau begitu, kode etik waralaba harus didukung oleh perangkat hukum. Pada tahun 1978, Federal Trade Commission (FTC) mengeluarkan peraturan agara setiap pewaralaba yang akan memberikan penawaran peluang waralabakepada public untuk memiliki UFOC (Uniform Franchise Offering Circular). UFOC bertujuan untuk menyampaikan informasi yang cukup mengenai perusahaan (waralaba) dan untuk membantu calon terwaralaba dalam mengambil sebuah keputusan.
Istilah-istilah dalam waralaba
Franchisor: Adalah orang atau badan usaha yang memiliki konsep, merek produk dan , di mana franchisor menguasai, mengembangkan dan memberikannya melalui kontrak perjanjian franchise. Franchisor bertugas merekrut kandidat untuk menjadi bagian dalam jaringannya. Franchisor mengkontribusikan dan asistensi. Franchisor mengendalikan dan mengatur outlet franhisee dan menyediakan service/layanan sebelum grand opening dan selama aktivitas bisnis berjalan
Franchisee: Adalah orang atau badan usaha yang memperoleh hak mereproduksi konsep franchisor di mana franchisee terikat dengan kontrak perjanjian. Franchisee berkomitmen dalam menghormati konsep, spesifikasi dan peraturannya. Franchisee membayar kewajibannya sesuai dengan yang tertulis di kontrak (bersambung). Franchisee juga berkomitmen untuk tidak memvulgarisasi informasi yang dia dapat lewat franchise. Ini adalah komitmen kerahasiaan yang dituntut sejak pertama kali kotak dengan franchisor terjadi. Franchisee adalah pengusaha atau perusahaan independen franchisor.
Franchise fee: merupakan biaya yang dibayarkan oleh penerima waralaba (franchisee) kepada pemberi waralaba (franchisor) untuk membiayai pos pengeluaran/belanja iklan dari franchisor yang disebarluaskan secara nasional/international. Besarnya Franchise fee biasanya 3% dari penjualan. Tidak semua franchisor mengenakan Franchise fee kepada franchiseenya. Alasan dari adanya Franchise fee adalah kenyataan bahwa tujuan dari jaringan waralaba adalah membentuk satu skala ekonomi yang demikian besar sehingga biaya-biaya per outletnya menjadi sedemikian effisiennya untuk bersaing dengan usaha sejenis. Mengingat Franchise fee merupakan pos pengeluaran yang dirasakan manfaatnya oleh semua jaringan, maka setiap anggota jaringan (franchisee) diminta untuk memberikan kontribusi dalam bentuk Franchise fee.
Royalty fee (Biaya royalti): adalah satu set jumlah uang yang pemilik waralaba bisnis harus membayar untuk menjadi bagian dari sistem waralaba. Biasanya, biaya dihitung sebagai persentase dari penjualan kotor atau bersih dan dibayar mingguan, `m dan uang biasanya digunakan untuk membantu pemilik waralaba (atau perusahaan induk waralaba) offset dukungan administrasi dan fungsi.
2.2).Elemen-elemen penting & Tipe-tipe franchising Elemen penting dalam bisnis franchising :
a) Ada suatu perjanjian kontrak antara franchisee (perseorangan) dengan franchisor (perusahaan).
b) Ada suatu barang/jasa bermerek.
c) Operasi usaha dilakukan oleh pengusaha untuk tujuan mendapatkan profit.
d) Pengawasan dilakukan oleh franchisor agar prosedur standard an standarisasi produk barang dan
jasa digunakan.
Tipe-tipe/Karakteristik Franchise
Karakteristik dari franchising sifatnya berdiri sendiri (independen). Independen disini berarti franchisor berhak atas laba dari usaha yang dijalankan dan juga bertanggung jawab atas beban-beban usaha seperti pajak dan gaji pegawai. Selain itu franchisor terlibat oleh perjanjian dengan franchisee.
Tipe- tipe franchising
Dalam praktek pelaksanaan, tipe franchising dibagi menjadi 3, yaitu :
1) Trade name franchising
Dalam hal ini, franchisee memperoleh hak untuk memproduksi.
2) Product distribution franchising
Dalam hal ini, franchisee memperoleh hak untuk distribusi di wilayah tertentu.
3) Pure franchising/business format
Dalam hal ini, franchisee memperoleh hak seluruhnya mulai dari penjualan, metode operasi, pengendalian kualitas, dll.
2.3). Keuntungan & Kerugian Franchise dari Sisi (Orang yang membeli nama perusahan orang lain) Keuntungan:
1.Adanya program-program pelatihan dari Fanchisor (yang punya perusahaan)sehingga kurangnya skill dapat di tanggulangi.
2. Secara psikologis pihak Franchisee akan berusaha untuk dapat memajukan bisnisnya itu di samping mendapat bantuan dan bimbingan yang terus menerus dari pihak franchisor karena merasa telah memiliki perusaan yang besar.
3.Populer seketika.
Karena sudah populer maka tentu saja perusahaan baru tersebut tidak butuh dana besar untuk promo atau dana untuk kegagalan yang biasa dialami oleh perusaan yang baru berdiri.
a. Penyeleksian tempat,
b. Persiapan rencana perbaikan model gedung sehingga sesuai dengan rencana tata kota atau ketentuan lainnya yang berlaku,
c. Perolehan dana untuk sebahagian biaya akuisisi dari bisnis yang difranchisekan, d. Pelatihan staff,
e. Pembelian peralatan,
f. Seleksi dan pembelian suku cadang,
g. Bantuan pembukaan bisnis dan menjalankannya dengan lancar.
5. Iklan yang ditayangkan di TV, di billboard atau dimanapun mewakili seluruh jaringan Franchise, (iklan gretongan. hehehe)
6. Keuntungan bagi franchisee dari adanya daya beli yang besar dan negosiasi yang dilakukan pihak franchisor atas nama seluruh jaringan franchisee,
7. Risiko dalam bisnis franchise umumnya kecil
8. Franchise mendapatkan hak untuk menggunakan merek dagang, paten, hak cipta, rahasia dagang, serta proses, formula dn resep rahasia milik franchisor,
9. Franchisee memperoleh jasa-jasa dari staff lapangan pihak franchisor,
10. Franchisee mengambil mamfaat dari hasil riset yang dilakukan secara terus-menerus oleh franchisor, sehingga dapat memperkuat daya saing.
11. Informasi dan pengalaman dari seluruh jaraingan franchisee yang ada lewat franchisor dapat disebarkan ke seluruh jaringan yang ada.
12. Seringkali terdapat jaminan exclusivitas bagi franchisee untuk bergerak dalam usaha yang bersangkutan dalam sesuatu territorial tertentu.
13. Lebih mudah bagi franchisee utnuk memperoleh dana dari penyandang dana karena nama besar dan keberhasilan dari pihak franchisor.
Kerugian:
1. Peran yang dimainkan oleh Franchisor sangat besar dengan kontrol yang tinggi sehingga pihak franchisee hilang kemandiriannya;
2. Pihak franchisee harus membayar berbagai macam fee kepada pihak franchisor, yang terms and conditionsnya therefore harus jelas dan dinegosiasi siapa yang harus memikul biaya tersebut: a. Royalty; pembayaran oleh pihak franchisee kepada pihak franchisor sebagai imbalan dari pemakaian hak franchise oleh franchisee.
b. Franchise fee: biasanya dilakukan sekali saja dan dengan jumlah tertentu pada saat penandatangan akte franchise,
c. Direct expenses: Biaya langsung yang harus dikeluarkan sehubungan dengan pembukaan/
pengembangan suatu bisnis franchise seperti biaya pemodokan pihak yang akan menjadi pelatih dan feenya, biaya pelatihan dan biaya pada saat pembukaan;
d. Biaya sewa: apabila franchisor menyediakan tempat bisnis,
e. Marketing dan advertising fees; Karena franchisor yang melakukan marketing dan iklan, maka pihak franchisee mesti juga ikut menanggung beban biaya tersebut dengan menghitungnya baik secara persentase dari omset penjualan ataupun jika ada marketing atau iklan tertentu.
f. Assignment fees; biaya yang harus dibayar oleh pihak franchisee kepada pihak franchisor jika pihak franchisee tersebut mengalihkan bisnisnya kepada pihak lain biasanya untuk kepentingan persiapan pembuatan perjanjian penyerahan, pelatihan pemegang franchise yang baru dsb. 3.Kesukaran dalam menilai kualitas franchisor;
4. Biasanya kontrak franchise berisikan juga pembatasan-pembatasan terhadap bisnis franchise dan ruang gerak dari pihak franchisor,
5. Kebijakan-kebijakan pihak franchisor tidak selamanya berkenaan di hati pihak franchisee, 6. Franchisor bisa jadi membuat kesalahan dalam kebijakannya,
7. Turunnya reputasi dan citra dari merek bisnis franchisor karena alasan yang tidak terduga-duga sebelumnya.
Jenis-jenis Usaha yang potensial untuk di franchising :
1. Produk dan jasa otomotif
2. Bantuan dan jasa bisnis
3. Produk dan jasa konstruksi, perawatan dan poerbaikan rumah
4. Jasa pendidikan
5. Rekreasi dan hiburan
6. Fast food dan take away
7. Stan makanan/food stalls
8. Perawatan kesehatan, medis, dan kecantikan
9. Jasa pembersihan
10. Eceran/retailing
2.4).Contoh Franchise
1.1 Sejarah Coca-Cola Dunia
Minuman ringan Coca-Cola diciptakan oleh Dr.John S.Pemberton, seorang ahli farmasi dan ahli minuman dari Atlanta, Georgia, Amerika serikat pada bulan mei 1889. Ia mencampurkan suatu ramuan khusus dengan gula murni menjadi sirup yang beraroma segar dan berwarna caramel, kemudian diaduk bersama air murni, Minuman ini dilakukan dengan menempatkan minuman ringan tersebut didalam guci besar yang diletakan ditempat strategis, namun adanya peningkatan jumlah dengan kemasan botol yang lebih praktis.
The Coca-Cola Company didirikan tahun 1892 oleh Asa G.Chandlerdi Atlanta, yang juga mempatenkan
merek dagang Coca-Cola, Perusahaan ini merupakan induk dari semua perusahaan pembotolan yang memiliki merek dagang Coca-Cola diseluruh Negara didunia dengan menyediakan bahan baku consetratnya. Mulai tahun 1893, The Coca-Cola Company membangun pabriknya diluar Atlanta.Presiden The Coca-Cola Company (1919-1955) Robert W. Wouldruff, merupakan orang yang pertama kali mencetuskan gagasan agar minuman coca-cola tersebut dapat dinikmati tidak hanya oleh orang amerika saja, tetapi juga untuk dikonsumsi oleh seluruh bangsa didunia. Untuk merealisasikan gagasan tersebut, maka pada tahun 1929 didirikan The Coca-Cola Cooperation , yaitu perusahaan yang menangani proses penjualan minuman keseluruh pelosok negeri didunia dengan ciri, mutu, rasa dan kesegaran yang sama.
1.2 Sejarah PT. Coca-Cola di Indonesia
PT. Coca-Cola hadir di Bumi Persada ini sekitar tahun 1927, ketika De Nederland Indische Mineral
Water Fabriecj (Pabrik Air Mineral Hindia Belanda) membotolkannya untuk pertama kali di Batavia
(Jakarta). Pada tahun 1971 didirikan pabrik pembotolan modern pertama di Indonesia dengan nama baru PT. Djaya Beverages Bottling Company. Di Indonesia, The Coca-Cola Company melalui PT. Coca-Cola Indonesia bermitra dengan Coca-Cola Amatil, salah satu jaringan pabrik pembotolan yang memiliki lisensi dari merk-merk dagang The Coca-Cola Company yang terbesar.
PT. Coca-Cola Bottling Indonesia (CCBI) mengoperasikan 10 pabrik pembotolan: Medan, Padang, Bandar Lampung, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Bali, Makasar dan Banjar Baru. Sementara pabrik pembotolan Coca-Cola Ke-11 berdomisili di Menado, dimiliki oleh PT. Bangun Wenang Beverages Company. Untuk wilayah Jawa Barat, pabrik pembotolan PT. CCBI yang dibangun pada tahun 1982 berlokasi di Jalan Raya Bandung-Garut KM. 26, Kabupaten Sumedang. Di Area seluas 5 Ha ini diproduksi Diet Coke, Coca-Cola, Sprite dan Fanta.
1.3 Sejarah PT. Coca-Cola Bottling Indonesia Jawa Barat
Pada tanggal 7 Agustus 1979 berdiri PT. Tirta Mukti Indah Bottling Company dengan status Perusahaan Modal Dalam Negri (PMDN) yang mendapat kepercayaan dari PT. Coca-Cola Indonesia untuk memproduksi dan memasarkan minuman Coca-Cola, Fanta, Sprite untukpabrik PT. Tirta Mukti Indonesia Bottling Company mulai dilaksanakan tanggal 2 Februari 1982 dengan lokasi Jl. Raya Bandung Garut Km. 26 Kabupaten Sumedang Jawa Barat.
Dengan usaha yang memakan waktu, tenaga, pikiran, dan uang, maka selesailah pembangunan pabrik yang diresmikan pada tanggal 15 Oktober 1983. Pada tanggal 8 November 1991 PT. Tirta Mukti Indah
Bottling Company resmi berubah menjadi PT. Coca-Cola Tirtalina Bottling Company dengan status
Perusahaan Modal Asing (PMA). Perubahan status ini disebabkan sebagian saham dari PT. Tirta Mukti Indah Bottling Company dibeli oleh pihak asing dalam hal ini Allied Manufacturing and Trading
Industries Limited atau biasa disingkat Amatil.
Pemasaran dan penjualan produk PT. Tirta Mukti Indah Bottling Company diserahkan kepada PT. Ranca Agung Luhur sebagai distributor tunggal sejak tanggal 22 September 1983 yang kemudian berganti nama menjadi PT. Coca-Cola Bayu Argo Unit Jawa Barat pada tanggal 8 November 1991 bersamaan dengan pergantian nama PT. Tirta Mukti Indah Bottling Company menjadi PT. Coca-Cola Tirtalina Bottling
Company.
Baik PT. Coca-Cola Banyu Argo maupun PT. Coca-Cola Tirtalina Bottling Company pada tahun 1995 berafiliasi dengn Coca-Cola Amatil, satu grup perusahaan Coca-Cola di kawasan Asia Pasifik dan Eropa Timur yang bermarkas di Sydney Australia. Dan pada tanggal 1 Januari 2000, terjadi merger perusahaan Coca-Cola di seluruh Indonesia dengan pergantian
nama menjadi PT. Coca-Cola Amatil Indonesia Bottling untuk perusahaan pembotolan dan PT. Coca-Cola
Kemudian pada tanggal 1 Juli 2002, PT. Coca-Cola Amatil Indonesia Bottling berubah nama menjadi PT. Coca-Cola Bottling Indonesia dan PT. Coca-Cola Amatil Indonesia berubah menjadi PT. Coca-Cola
Distribution
Indonesia. Sedangkan untuk hal-hal yang bersifat penggabungan antara perusahaan pembotolan dan perusahaan distributor nama perusahaan yang dipergunakan adalah PT. Coca-Cola Bottling Indonesia. Perubahan nama ini diharapkan dapat membuat masyarakat Indonesia merasa lebih akrab dengan Coca-Cola.
1.4.1 Visi PT. Coca-Cola Bottling Indonesia
Visi PT. Coca-Cola Bottling Indonesia Jawa Barat adalah menjadikan produk Coca-Cola “pilihan utama” minuman siap saji yang tersedia “dimana saja” melalui pengembangan organisasi yang “sehat dan kuat” dengan karyawan yang “cakap” serta berorientasi ke “customer”.
The become the “preferred” RTD beverage and we are “everywhere” by developing a “strong and healthy” organization with “capable” and customer oriented employees.
PT. Coca-Cola Bottling Indonesia Jawa Barat adalah bagian dari keluarga besar Coca-Cola yang terdiri dari orang-orang yang dinamis, berdedikasi tinggi, selalu bekerja sama dan mampu memberikan produk dan layanan yang berkualitas tinggi kepada para pelanggan dan konsumen.
Kami siap menjadikan Coca-Cola sebagai perusahaan minuman ringan yang paling maju diseluruh Indonesia melalui efektifitas dan 5 efisiensi dalam distribusi, pelaksanaan basis salesmanship yang konsisten, pengembangan pasar yang kreatif & inovatif, pelaksanaan program marketing yang tepat dan benar serta mampu menjadikan Jawa Barat sebagai penyumbang keuntungan yang selalu meningkat.
1.4.2 Misi PT. Coca-Cola Bottling Indonesia
Di Coca-Cola Indonesia, kita bertekad untuk memberikan nilai terbaik bagi pemegang saham dengan menjadi perusahaan yang tumbuh terdepan dalam pasar minuman. Kita sangat menghargai karyawan. Berbagai merek dari The Coca-Cola Company dan karyawan kita yang berdedikasi serta berdisiplin memberikan Coca-Cola suatu unggulan bersaing yang berkesinambungan. Kita mengembangkan kemitraan sejati dengan para pelanggan untuk memuaskan lebih dari 200 juta konsumen yang dahaga.
1.4.3 Profil PT. Coca-Cola Bottling Indonesia
PT. Coca-Cola Bottling Indonesia merupakan salah satu produsen minuman ringan terkemuka di Indonesia. Kami memproduksi produk-produk berlisensi dari The Coca-Cola Company.
Coca-Cola Bottling Indonesia merupakan nama dagang yang terdiri dari perusahaan-perusahaan patungan (joint venture) antara perusahaan-perusahaan lokal yang dimiliki oleh pengusaha-pengusaha independen dan Coca-Cola Amatil Limited, yang merupakan salah satu produsen dan distributor Coca-Cola di dunia. Coca-Cola Amatil pertama kali berinvestasi di Indonesia pada tahun 1992. Mitra usaha Coca-Cola Amatil saat ini merupakan pengusaha 6
Indonesia yang juga adalah mitra usaha yang memulai kegiatan usahanya di Indonesia.Produksi pertama Coca-Cola Di Indonesia dimulai pada tahun 1932 di satu pabrik yang berlokasi di Jakarta. Produksi tahunan pada saat itu hanya sekitar 10.000 krat. Saat itu perusahaan baru memperkerjakan 25 karyawan dan mengoperasikan tiga buah kendaraan truk distribusi. Sejak saat itu hingga tahun 1980-an, berdirilah 11 perusahaan independen di seluruh Indonesia guna memproduksi dan mendistribusikan produk-produk The Coca-Cola Company. Pada awal tahun 1990-an, beberapa diantara perusahaan-perusahaan tersebut mulai bergabung menjadi satu, dan tepat pada tanggal 1 Januari 2000, sepuluh dari perusahaan-perusahaan tersebut bergabung dalam perusahaan yang kini dikenal sebagai Coca-Cola Bottling Indonesia Saat ini, dengan jumlah karyawan lebih dari 9.000 orang, jutaan krat produk kami didistribusikan dan dijual melalui lebih dari 420.000 gerai eceran yang tersebar diseluruh Indonesia.
1.5 Logo PT.Coca-Cola Bottling Indonesia Gambar 1.1 Logo PT.Coca-Cola Bottling Indonesia
PT. Coca-cola Bottling Indonesia - Jawa Barat adalah perusahaan yang bergerak di bidang pembotolan dan pendistribusian minuman ringan bermerek Coca-Cola, Sprite, Fanta, Frestea, Ades dan lainnya. Untuk menjaga agar mutu minuman yang dihasilkan sesuai dengan standar, perusahaan PT. Coca-Cola Company menerapkan dengan ketat proses produksi yang diakui secara internasional.
Sementara itu untuk pendistribusian produk-produk tersebut dilakukan secara khusus oleh PT. Coca-Cola Amatil Indonesia - Jawa Barat. Di dalam menjalankan perusahaan ini tentulah didukung oleh seluruh karyawan yang menciptakan suatu tata kerja yang paling baik, teratur, dan rapi sebagai alat pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dan digariskan oleh perusahaan sebelumnya.
Salah satu cara untuk menciptakan suatu tata kerja yang baik, teratur, dan rapi adalah dengan menyusun struktur organisasi perusahaan sebagai hirarki dalam pemisahan tugas, tanggung jawab, dan wewenang yang jelas dan tegas pada setiap bagian yang ada dalam perusahaan. 8
Struktur Organisasi PT. Coca-Cola Bottling Indonesia Jawa Barat
Pimpinan tertinggi dari PT. Coca-cola Botling Indonesia Unit Jawa Barat di pegang oleh General Manager. General Mnager ini membawahi dua perusahaan , yaitu PT. Coca-cola Bottling Indonesia Unit Jawa Barat sebagai perusahaan pembotolan dan PT.Coca-cola Distributor Indonesia Unit Jawa Barat sebagai pemasaran produknya untuk wilayah jawa barat dan sekitarnya. General Manager bertugas sebagai perencana fungsi organisasi serta wakil perusahaan untuk berhubungan dengan dunia luar perusahaan, masyarakat, dan pemerintah.
Di kedua perusahaan tersebut, General Manager membawahi langsung enam manager yang memimpin masing-masing departemen ,yaitu Finance Manager, Human Resources Manager yang membawahi Public Relations Manager, General sales, Business Service manager, Technical Operation. Setiap Manager departemen membawahi seorang atau beberapa supervisor atau officer.
1.7 Job Descriptions
Secara garis besar wewenang dan tanggung jawab ( Job Description) masing- masing bagian adalah sebagai berikut:
1. Finance Manager
a) Bertanggung jawab atas penggunaan dan pengawasan dana perusahaan. b) Mengatur sumber-sumber pembiayaan perusahaan.
c) Bertanggung jawab atas tertib administrasi yang berhubungan dengan sistem dan prosedur akuntansi. d) Di dalam menjalankan tugsnya dibantu langsung oleh:
e) Examiner Officer, yang melakukan pemeriksaan (audit) di seluruh wilayah kerja.
f) Management Accounting Manager, yang menganalisis semua penggunaan dana yang terjadi di perusahaan. g) Financial Account Manager, yang bertanggung jawab atas a;iran kas yang terjadi di perusahaan.
h) Tax & Account Receivable Manager, yang bertanggung jawab atas segala sesuatu yang berhubungan dengan pajak dan account receivable yang terjadi kepada perusahaan.
i) Purchasing Officer, yang bertanggung jawab atas segala sesuatu yang berhubungan dengan pemesanan barang kebutuhan dari seluruh bagian perusahaan.
2. Human Resources Manager
a) Menentukan kebutuhan tenaga kerja, pelaksanaan mutasi atau promosi b) karyawan, dan bertanggung jawab atas kelancaran tugas operasional.
c) Bekerjasama dengan bagian bagian lain untuk membina stabilitas kerja, tata tertib kerja, disiplin kerja, keamanan dan kenyamanan dalam lingkungan kerja.
d) Di dalam menjalankan tugasnya dibantu langsung oleh:
Gener al Secretary Busin ess Servic General Sales Human Resource s Human Resource Financ e Manag Public Relations Manager
e) Industrial Relation Manager, yang bertanggung jawab atas segala sesuatu yang ditimbulkan akibat hubungan kerja antara karyawan dan perusahaan.
f) Learning & Develovment Manager, yang bertanggung jawab atas perekrutan dan pengembangan karyawan. g) Remuneration Manager, bertanggung jawab atas imbalan dan benefit yang diterima karyawan
3. General Sales Manager
Merencanakan dan menentukan strategi penjualan dan pemasaran.
Mengkoordinir bagian-bagian di bawahnya atas tanggung jawab untuk ketetapan dan kebenaran laporan. Di dalam menjalankan tugasnya dibantu langsung oleh: 11 a) Key Account Manager, yang bertanggung jawab atas pelanggan khusus yaitu supermarket, minimarket, hotel, restoran, dan café.
b) Customer Service System Manager, yang bertanggung jawab kelancaran proses distribusi di seluruh wilayah kerja.
c) Area Marketing Manager, yang bertanggung jawab membuat program pemasaran untuk meningkatkan penjualan dan menyediakan informasi penjualan dan pemasaran perusahaan kepada pihak-pihak yang membutuhkan sebagai dasar pengambilan keputusan.
d) Regional Sales Manager, yang bertanggung jawab atas seluruh kinerja wilayah kerjanya.
e) Traditional Food Service Manager, yang bertanggung jawab atas pelanggan khusus yaitu para pengusaha makanan yang mobile / berpindah-pindah
4 . Business Service Manager
Bertanggung jawab terhadap jalannya arus informasi di perusahaan.
Membantu seluruh kelancaranTechnical Operations & Logistic Managerinformasi yang berhubungan dengan teknologi software dan hardware di seluruh bagian.
a) Maintenance & Engineering Manager, yang bertanggung jawab atas seluruh peralatan produksi. b) Quality System Manager, yang bertanggung jawab atas seluruh system pada proses produksi.
c) Demand Operation & Planing Manager, yang bertanggung jawab atas rencana produksi sesuai dengan permintaan.
d) Warehousing & Transportation Manager, yang bertanggung jawab atas stok di distribusi. e) Production Manager, yang bertanggung jawab atas seluruh proses produksi.
f) Quality Assurance Manager, yang bertanggung jawab atas segala sesuatu yang berhubungan dengan kualitas produksi.
g) General Technical Service Manager, yang bertanggung jawab atas seluruh mesin-mesin secara umum.
5. Technical Operations & Logistic Manager
a) Bertanggug jawab atas penyedian barang yang cukup sesuai
b) dengan permintaan pasar menurut standar kualitas yang sudah ditentukan dengan efesiensi kerja secara
optimal.
c) Bertanggung jawab atas semua masalah yang terjadi di pabrik. d) Bertanggung jawab atas posisi keungan produksi.
e) Di dalam menjalankan tugasnya dibantu langsung oleh:
f) Maintenance & Engineering Manager, yang bertanggung jawab atas seluruh peralatan produksi. g) Quality System Manager, yang bertanggung jawab atas seluruh system pada proses produksi.
h) Demand Operation & Planing Manager, yang bertanggung jawab atas rencana produksi sesuai dengan permintaan.
i) Warehousing & Transportation Manager, yang bertanggung jawab atas stok di distribusi. j) Production Manager, yang bertanggung jawab atas seluruh proses produksi.
k) Quality Assurance Manager, yang bertanggung jawab atas segala sesuatu yang berhubungan dengan kualitas produksi.
l) General Technical Service Manager, yang bertanggung jawab atas seluruh mesin-mesin secara umum.
6 Public Relations Officer
Public Relations Officer bertugas membantu General manager sebagai wakil perusahaan untuk berhubungan dengan dunia luar perusahaan, masyarakat, dan pemerintah, selain itu juga bertanggung jawab dalam penyelesaian pengaduan konsumen dan melakasanakan kegiatan sosial atas nama perusahaan.
Membantu menyampaikan berita atau promosi kepada pihak pers baik elektronik maupun surat kabar.
1.8 Sarana Dan Prasarana
Pada dasarnya semua perusahaan ada beberapa sarana dan prasana salah satu hal yang harus diperhatikan selain kualitas dalam perusahaan kuantitas 14
sumber daya manusia juga perlu diperhatikan, peralatan dan fasilitas yang harus dimiliki seperti gambar di bawah ini
Sarana PT.
Coca-Cola Amatil Indonesia
NO Keterangan NO Keterangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Costumer Service Marketing Telepone Faximile Sistim Pendingin Ac Pengharum Ruangan Mesin Photocopy Mesin Print Komputer Alat Scan Close Circuit Televisiob (CCTV) Media Promosi 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Papan Pengumuman untuk informasi lowongan kerja Meja Kerja
Majalah Antar Kita LemariEs (Minuman Produk coca-colaa) Dapur
Tempat Sampah Coke Farm
Alat Pelindung diri (Helm.Sevty,Sepatu)
.
BAB 3
PENUTUP
3.1).Kesimpulan
Waralaba adalah suatu bentuk kerjasama dimana pemberi waralaba memberikan izin kepada penerima waralaba untuk menggunakan hak intelektualnya.Seperti nama,merk dagang,produk barang dan jasa dan sistem operasi usahanya.Sebagai timbal baliknya, penerima waralaba menerima suatu jumlah imbalan kepada sang pemberi izin usaha.
Tipe-tipe franchising
Trade name franchising
Product distribution franchising Pure franchising/business format
Keuntungan dan kerugian melakukan bisnis franchise Keuntungan
Populer seketika Resiko relatif kecil
. Informasi dan pengalaman dari seluruh jaraingan franchisee yang ada lewat franchisor dapat disebarkan ke seluruh jaringan yang ada.
Kerugian
. Peran yang dimainkan oleh Franchisor sangat besar dengan kontrol yang tinggi sehingga pihak franchisee hilang kemandiriannya;
Kesukaran dalam menilai kualitas franchisor
Turunnya reputasi dan citra dari merek bisnis franchisor karena alasan yang tidak terduga-duga sebelumnya
3.2).Saran
Demikianlah penulisan makalah ini,tim penulis menyadari bahwa makalah ini masih sangat jauh dari sempurna,oleh karena itu kritik & saran yang membangun dari pembaca sekalian sangat-sangat kami harapkan,demi kesempurnaan makalah ini kedepanya.Segala bentuk kekeliruan dan kesalahan dalam penulisan makalah ini mohon dimaafkan.Akhir kata tim penulis mengucapkan limpah terimaksih kepada semua pihak yang membantu penyelesaian makalah ini dan semoga makalah ini bias menambah wawasan dan memberikan manfaat yang baik untuk kita semua.
http://agungkurniawan96.wordpress.com/2013/04/26/kelebihan-dan-kekurangan-dalam-menjalankan-bisnis-franchise/
http://www.kerjausaha.com/2013/02/keuntungan-dan-kerugian-dalam-bisnis.html http://alfinasj.blogspot.com/2010/11/pengertian-franchising.html