• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Oleh NURWIDYA FITRIANTI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SKRIPSI. Oleh NURWIDYA FITRIANTI"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

i

PANGKAJENE DAN KEPULAUAN

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Mendapat Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh

NURWIDYA FITRIANTI

10533812815

PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2020

(2)
(3)
(4)
(5)

v

SURAT PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Nurwidya Fitrianti

Nim : 10533812815

Jurusan : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Judul Skripsi : Tindak Tutur Penjual dan Pembeli Pakaian di Pasar Sentral Pangkep Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan di depan tim penguji adalah hasil karya sendiri dan bukan hasil ciptaan orang lain atau dibuatkan oleh siapapun. Demikian pernyataan ini saya buat dan bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.

Makassar, Agustus 2020

Yang Membuat Pernyataan

Nurwidya Fitrianti NIM: 10533812815

(6)

vi

SURAT PERJANJIAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Nurwidya Fitrianti

Nim : 10533812815

Jurusan : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Judul Skripsi : Tindak Tutur Penjual dan Pembeli Pakaian di Pasar Sentral Pangkep Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan

Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:

1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesainya skripsi saya, saya akan menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun).

2. Dalam penyusunan skripsi saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing, yang telah ditetapkan oleh pimpinan fakultas.

3. Saya tidak melakukan penciplakan (Plagiat) dalam menyusun skripsi ini. 4. Apabila saya melanggar perjanjian saya seperti butir 1, 2, dan 3 maka saya

akan bersedia menerima sanksi sesuai aturan yang berlaku. Demikian perjanjian ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

Makassar, Agustus 2020

Yang Membuat Pernyataan

Nurwidya Fitrianti NIM: 10533812815

(7)

vii

Loyalty (Setia)menggunakan rasa, akal dan iman dengan begitu akan tercipta dedikasi yang baik untuk diri sendiri, lingkungan dan masyarakat secara luas

terlebih di dunia pendidikan _Nurwidya Fitriamti

Kupersembahkan karya ini buat: Kedua orang tuaku Ayahanda Suardi Kinas dan Ibunda Nurhaeda, saudara, dan sahabatku atas keikhlasan dan doanya dalam mendukung

(8)

viii

Pasar Sentral Pangkep Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan”. Skipsi Jurusan

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar. Dibimbing Oleh Syafruddin dan Aliem Bahri.

Tindak tutur merupakan suatu tindakan ketika penutur mengeluarkan ujaran sebagai suatu wujud tindak bahasa untuk menyatakan dan melakukan tindakkan, masalah utama dalam penel

itian ini adalah Bagaimana bentuk dan makna tindak tutur yang terdapat dalam komunikasi penjual dan pembeli pakaian di Pasar Sentral Pangkep Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan makna tindak tutur yang terdapat dalam komunikasi penjual dan pembeli pakaian di pasar sentral pangkep Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan.

Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif yang didesain melalui penelitian analisis data dengan metode deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan dan memberikan informasi tentang masalah yang diteliti, dengan pengumpulan data memalui tinjauan pustaka, Observasi langsung dengan rekaman. Penelitian ini dilaksanakan di Pasar Setral Pangkep Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan . Subjek pada penelitian ini adalah pedagang dan pembeli yang terdapat di pasar tersebut. Tindakkan yang dilakukan dimaksudkan untuk mengetahui bentuk dan makna tindak tutur yang terjadi dalam transaksi jual beli di Pasar Sentral Pangkep Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan.

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa bentuk dan makna tindak tutur yang digunakan oleh penjual dan pembeli adalah tindak tutur lokusi, ilokusi, perlokusi. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, yang didapatkan bahwa bentuk dan makna tindak tutur yang dimiliki penjual maupun pembeli merupakan salah satu strategi yang digunakan untuk menarik simpati pembeli maupun sebaliknya.

(9)

ix

Penulis mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah Swt. Atas berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Skripsi yang berjudul “Tindak Tutur Penjual dan Pembeli Pakaian di Pasar Sentral Pangkep Kabupaten Pangkejene dan Kepulauan” dirampungkan dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan akademis guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar.

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis telah banyak mendapat bantuan dalam bentuk bimbingan, saran, maupun dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, selayaknya apabila dalam kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah membantu penulis.

1. Dr. Syafruddin, M. Pd. pembimbing I yang telah membantu dan membimbing penulis, serta memberikan motivasi, saran, dan nasihat yang berharga bagi penulis.

2. Aliem Bahri, S. Pd., M. Pd. pembimbing II yang telah membantu, membimbing dan mengarahkan penulis, serta memberikan motivasi, saran, dan nasihat yang berharga bagi penulis.

3. Bapak dan Ibu dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah memberi penulis berbagai ilmu yang bermanfaat.

(10)

x

mencurahkan kasih sayang sepanjang hidup penulis.

5. Teman kost Nur Febrianti yang selalu setia menemani dalam proses menyelesaikan skripsi ini.

6. Teman-teman seperjuangan BSI.F angkatan 2015.

7. Semua pihak yang telah mendukung dan mendoakan penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

8. Almamater tercinta, Universitas Muhammadiyah Makassar

Terima kasih kepada saudara-saudara yang selalu membantu dan kepada seluruh keluarga dan teman-teman tanpa terkecuali serta semua pihak yang tidak sempat penulis sebutkan namanya satu persatu karena keterbatasan tempat, namun tidak mengurangi rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya atas segala jasa-jasa dan sumbangsi pemikiran yang telah diberikan selama ini.

Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penulis terbuka untuk menerima saran dan kritikan yang sifatnya membangun dan penyempurnaan penulisan skripsi. Harapan penulis semoga laporan sederhana ini dapat bermanfaat bagi para pembaca maupun penulis selaku pembuat skripsi, penulis berharap masalah yang diangkat di dalam skripsi ini tidak hanya diselesaikan dengan satu pendapat, semoga dari pihak lain juga dapat mengembangkan.

Makassar, Juli 2020

(11)

xi

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

SURAT PERNYATAAN ... iv

SURAT PERJANJIAN ... v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1 B. Fokus Penelitian ... 6 C. Rumusan Masalah ... 7 D. Tujuan Penelitian ... 7 E. Manfaat Penelitian ... 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS A. KAJIAN PUSTAKA 1. Penelitian Relevan ... 8 2. Pragmatik ... 10 3. Tindak Tutur ... 17 4. Pasar ... 28 B. Kerangka Pikir ... 30

(12)

xii

B. Lokasi dan Tempat Penelitian ... 32

C. Desain Penelitian ... 32

D. Instrumen Penelitian ... 32

E. Data dan Sumber Data ... 33

F. Teknik Pengumpulan Data ... 33

G. Teknik Analisis Data ... 34

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 39

B. Pembahasan ... 47

BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. SIMPULAN ... 36

B. SARAN ... 43

DAFTAR PUSTAKA ... 44

LAMPIRAN Lampiran 1 (Percakapan Pembeli dan Penjual) ... 49

Lampiran 2 (Hasil Analisis) ... 54

Lampiran 3 (Dokumentasi) ... 69

(13)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bahasa merupakan salah satu budaya manusia yang sangat tinggi nilainya karena dengan bahasa manusia dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Bahasa tumbuh dan dibutuhkan dalam segala aspek kehidupan masyarakat yang meliputi kegiatan bermasyarakat seperti perdagangan, pemerintahan, kesehatan, pendidikan, keagamaan, dan sebagainya. Bahasa mampu mentransfer keinginan, gagasan, kehendak, dan emosi dari seseorang kepada orang lain (Chaer, 2003:38).

Bahasa menurut Kridalaksana (Chaer 2003:32), bahasa adalah sistem lambang yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri.

Menurut Sudaryanto (2001:21) bahasa pada dasarnya memang merupakan alat atau sarana untuk komunikasi antar manusia. Bahasa juga merupakan salah satu ciri yang membedakan manusia dengan makhluk lain. Hal itu disebabkan karena manusia mempunyai kemampuan untuk berpikir dan kemampuan untuk mengembangkan akal budinya. Dengan kemampuan itu manusia mengembangkan suatu alat untuk berkomunikasi, guna mengungkapkan pikirannya, perasaannya, ataupun keinginannya, yaitu bahasa.

(14)

2

2

Adanya bahasa membuat kita menjadi makhluk yang bermasyarakat (makhluk sosial). Kemasyarakatan kita tercipta dengan bahasa, dibina dan dikembangkan dengan bahasa. Bahasa biasa digunakan oleh siapa saja dan dimana saja, baik dalam situasi formal maupun nonformal, dari tempat menuntut ilmu hingga tempat mencari nafkah.

Sebagai objek dalam sosiolinguistik, bahasa tidak dilihat atau didekati sebagai bahasa, sebagaimana dilakukan oleh linguistik umum, melainkan dilihat atau didekati sebagai sarana interaksi atau komunikasi di dalam masyarakat manusia. Setiap kegiatan kemasyarakatan manusia, mulai dari upacara pemberian nama bayi yang baru lahir sampai upacara pemakaman jenazah tentu saja tidak terlepas dari penggunaan bahasa. Dalam belajar bahasa tidak cukup hanya mempelajari pengetahuan tentang bahasa, tetapi lebih dari itu bagaimana bahasa itu digunakan. Bidang bahasa yang mengkaji bahasa beserta konteksnya disebut pragmatik.

Ketika seseorang berkomunikasi, ia juga harus melihat situasi dan kondisi saat berbicara, serta unsur-unsur yang terdapat di dalam situasi tutur. Subyakto (1992:1) mendefinisikan unsur-unsur yang terdapat dalam tindak tutur dan kaitannya dengan bentuk dan pemilihan ragam bahasa, antara lain siapa berbicara, dengan siapa berbicara, tentang apa, dengan jalur apa, dan ragam bahasa yang mana.

Setiap individu memiliki cara berkomunikasi dan berbahasa yang berbeda-beda atau beragam yang berfungsi untuk mempertahankan ciri

(15)

3

kepribadiannya. Bentuknya dapat berupa diksi dan dapat pula berupa cara berekspresi. Dalam konteks itu, bahasa merupakan cermin penuturnya.

Leech (dalam Putrayasa B.I, 20014:1) menyatakan bahwa fonologi, sintaksis, dan semantik merupakan bagian dari tata bahasa dan gramatika. Sedangkan pragmatik itu merupakan bagian dari penggunaan tata bahasa (languange use). Levinson (dalam Putrayasa B.I, 20014:1) mendefinisikan pragmatik sebagai studi bahasa yang mempelajari relasi bahasa dengan konteksnya. Adapun hal yang dimaksud pada penjabaran tersebut adalah sesungguhnya satuan lingual tertentu dapat digunakan dalam komunikasi yang sebenarya. Pakar bahasa ini dengan tegas membedakan sosok pragmatik dengan studi tata bahasa yang dianggapnya sebagai studi seluk beluk bahasa internal.

Tindak tutur merupakan analisis pragmatik, yaitu cabang ilmu bahasa yang mengkaji bahasa dari aspek pemakaian aktualnya. Tindak tutur memiliki rangkaian yang berupa peristiwa tutur. Tindak tutur lebih melihat pada makna atau arti tindakan dalam tuturannya, tetapi peristiwa tutur lebih melihat pada tujuan peristiwanya. Tindak tutur dan peristiwa tutur merupakan dua gelaja yang terdapat pada satu proses, yakni proses komunikasi (Chaer, 2003:65). Dalam penelitian ini, peneliti memilih pasar sebagai subjek penelitian, pasar merupakan tempat berkumpulnya penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi. Adapun sarana yang digunakan dalam proses transaksi tersebut adalah bahasa, sehingga dalam proses transaksi yang belangsung dapat berupa proses tawar menawar.

(16)

4

Peristiwa tindak tutur dalam wacana jual beli di pasar mempunyai peranan yang sangat penting, yaitu menyampaikan maksud dan tujuan berbagai pihak. Penjual dan pembeli menggunakan bahasa sebagai sarana dalam melakukan transaksi tawar menawar demi mencapai kesepakatan bersama. Proses transaksi antara penjual dan pembeli di pasar dengan menggunakan bahasa inilah yang dimaksud sebagai peristiwa tutur.

Berdasarkan uraian di atas, penelitian akan mengkaji tindak tutur yang digunakan oleh penjual dan pembeli pakaian di pasar sentral Pangkep Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan dengan menggunakan pendekatan sosiopragmatik, yaitu telaah mengenai kondisi yang lebih khusus tentang prinsip kerja sama dengan prinsip kesopanan yang berlangsung secara berubah-ubah dalam situasti sosial yang berbeda-beda serta berhubungan lambang dan makna dengan penafsiran. Hal yang dimaksud dengan lambang adalah suatu ujaran baik berupa satu kalimat atau lebih yang membawa makna tertentu, yang di dalam pragmatik ditentukan atas hasil penafsiran sipendengar atau mitra tutur.

Peneliti memilih tindak tutur penjual dan pembeli pakaian di pasar sentral Pangkep Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan sebagai subjek penelitian karena pembeli di pasar sentral Pangkep memiliki ragam latar belakang sosial, ekonomi, budaya dan sebagainya. Perbedaan latar belakang pengunjung tersebut dapat memengaruhi bentuk tuturan misalnya, intonasi pengucapan dari penutur yang satu dengan yang lain bisa membedakan maksud dari tuturan. Misalnya, ketika transaksi jual beli yang terjadi antara

(17)

5

penjual yang berasal dari suku Bugis dan pembeli berasal dari suku Makassar. Intonasi tutur pada kedua suku tersebut memiliki perbedaan, yakni suku Bugis yang cenderung memiliki intonasi tuturan yang lemah lembut sedangkan bentuk tuturan dari suku Makassar cenderung keras. Pasar sentral Pangkep yang terletak di jantung kota pangkep yang merupakan pasar terbesar yang terdapat di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan sehingga banyak pengunjung yang berbelanja kebutuhan sehari-hari di pasar ini. Hal ini juga memicu banyaknya ragam bahasa dan situasi atau tindak tutur yang terjadi dan menarik untuk diteliti.

Selain itu, penelitian juga membatasi subjek penelitian ini. Peneliti memilih subjek penelitian yakni penjual dan pembeli pakaian saja, karena populasi pada subjek tersebut cenderung lebih banyak dibanding dengan penjual dan pembeli lainnya. Hal ini, bertujuan untuk memudahkan peneliti dalam melakukan penelitian sehingga menghasilkan sebuah temuan yang akurat.

Penelitian ini dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada pembaca maupun masyarakat terkait makna tuturan yang sering terjadi pada transaksi jual beli di pasar sentral Pangkep Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Karena tanpa disadari tindak tutur penjual dan pembeli sering memiliki makna yang berbeda dari apa yang diucapkannya. Penyampaian pesan secara implisit dalam tindak tutur para penjual dan pembeli juga dapat menyebabkan salah pengertian atau dalam transaksi jual beli (antara penjual dan pembeli) terkadang muncul komunikasi yang tidak disadari sehingga

(18)

6

mengakibatkan batalnya proses transaksi. Sehubungan dengan hal tersebut, maka peneliti beranggapan bahwa penelitian tentang analisis tindak tutur penjual dan pembeli dalam transaksi jual beli pakaian di pasar sentral Pangkep Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan menarik untuk diteliti secara mendalam sehingga lebih komprehensif.

B. Fokus Penelitian

Fokus penelitian merupakan hal-hal yang berkaitan dengan wujud tindak tutur dalam transaksi jual beli antara penjual dan pembeli di pasar sentral Pangkep Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Dalam hal ini, fokus penelitian dapat berkembang atau berubah sesuai perkembangan masalah penelitian di lapangan. Segala sesuatu dalam penelitian ditentukan dari hasil akhir pengumpulan data yang mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa fokus penelitiannya adalah bagaimana wujud tindak tutur dalam transaksi jual beli di pasar Sentral Pangkep Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Objek penelitian ini adalah wujud tuturan yang terjadi pada proses transaksi jual beli pedagang pakaian. C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah “Bagaimanakah wujud tindak tutu, ilokusi yang terdapat dalam komunikasi penjual dan pembeli pakaian di pasar sentral Pangkep Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan?”.

(19)

7 D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan wujud tindak tutur yang terdapat dalam komunikasi penjual dan pembeli di pasar sentral Pangkep Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. E. Manfaat Penelitian

1. Manfaat teoretis

Secara teoretis, penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan yang berhubungan dengan pragmatik dan sosiopragmatik. Selain itu, penelitian ini mempunyai manfaat mengetahui secara konkrit mengenai wujud tindak tutur dalam komunikasi penjual dan pembeli di pasar sentra Pangkep Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan.

2. Manfaat praktis

Secara praktis, penelitian ini mempunyai manfaat untuk mengetahui kekhasan tuturan komunikasi yang terjadi antara penjual dan pembeli di pasar sentral Pangkep Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan.

(20)

8 BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

A. Kajian Pustaka

1. Penelitian yang Relevan

Penelitian yang dilakukan oleh A. Indahsary (2018) yang berjudul “Tindak Tutur Pappaisseng Masyarakat Kajuara Kabupaten Bone”. Penulis menunjukkan bahwa tindak tutur yang digunakan pappaisseng sebagi salah satu tuturan hormat secara pribadi kepada keluarganya dalam mengundang/mengharapkan hadir dalam suatu acara. Dalam tuturan tersebut, ditemukan beberapa jenis bentuk tindak tutur yaitu tindak tutur lokusi, tindak tutur ilokusi, dan tindak tutur perlokusi. Tindak tutur ilokusi yang ditemukan pada pappaisseng berupa tindak tutur memberikan informasi. Selain tindak tutur lokusi, ditemukan juga tindak tutur ilokusi berupa tindak tutur asertif (menyatakan dan menyarankan), direktif (meminta dan memesan), komisif (memanjatkan doa dan menjanjikan), ekspresif (meminta maaf dan berterima kasih), dan deklaratif (menamai). Selain itu, ditemukan pula tindak tutur perlokusi yang berupa tindak tutur dalam wujud tuturan yang berefek rasa khawatir mitra tutur terhadap apa yang dituturkan oleh penutur atau pappaisseng.

Penelitian yang dilakukan oleh Rosmala Dewi (2014) yang berjudul “Analisis Tindak Tutur Dalam Proses Pernikahan Adat Makassar Di Desa Bungung Loe Kecamatan Turatea Kabupaten Jeneponto (Suatu Analisis Pragmatik)”.

(21)

9

Peneliti menunjukkan bahwa di dalam upacara pernikahan ada empat jenis tindak tutur yaitu tindak tutur akkkutaknnang (bertanya), tindak tutur anyikko kana (mengikat pembicaraan), tindak tutur mengantar maharm tindak tutur pada saat upacara pernikahan.

Penelitian yang dilakan oleh Megawati (2016) yang berjudul “Tindak Tutur dalam Novel Ayat-Ayat Cinta Karya Habibburahman El-Shirazy”. Peneliti menemukan bahwa novel Ayat-Ayat Cinta karya Habibburahman El-Shirazy banyak atau sarat dengan bentuk-bentuk tindak tutur, dalam hal ini berupa tindak tutur lokusi, tindak tutur ilokusi, dan tindak tutur perlokusi. Novel Ayat-Ayat Cinta karya Habibburahman El-Shirazy, menceritakan tentang kisah percintaan yang islami sesuai dengan ajaran agama Islam yang di dalamnya seperti aqidah, fiqh, hubungan lelaki dan perempuan, hubungan non-muslim dan sebagainya antara Fahri, Maria, dan Aisya. Latar yang digunakan dalam novel tersebut adalah negara Mesir. Alur yang digunakan pengarang adalah alur maju dengan sudut pandang orang pertama sebagai pelaku utama. Bahasa yang terdapat dalam novel tersebut adalah bahasa indonesia, Arab, Inggris, dan Jerman.

Persamaan dari tiga penelitian di atas dengan penelitian yang akan peneliti lakukan adalah mengkaji tentang tindak tutur. Dari ketiga penelitian yang mengenai tindak tutur tersebut memiliki perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan. Perbedaan antara penelitian sebelumnya dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah terletak pada objek penelitian dan lokasi penelitiannya.

(22)

10 2. Pragmatik

Leech (dalam Putrayasa B.I, 2014:1) menyatakan bahwa fonologi, sintaksis, dan semantik merupakan bagian dari tata bahas atau gramatik. Sedangkan pragmatik itu merupakan bagian dari penggunaan tata bahasa (languange use). Levinson (dalam Putrayasa B.I, 2014:1) mendefinisikan pragmatik sebagai studi bahasa yang mempelajari relasi bahasa dengan konteksnya. Adapun hal yang dimaksud pada penjabaran tersebut adalah bagaiman sesungguhnya satuan lingual tertentu dapat digunakan dalam komunikasi yang sebenarnya. pakar bahasa ini dengan tegas membedakan sosok pragmatik dengan studi bahasa yang dianggapnya sebagai studi seluk beluk bahasa bahasa internal.

Menurutnya, studi tata bahasa itu tidak perlu dikaitkan dengan konteksnya, sedangkan studi pragmatik mutlak harus dikaitkan dengan konteksnya. Berkenan dengan hal itu, maka studi tata bahasa dapat dianggap sebagai studi bahasa yang bebas konteks atau tidak terkait konteks.

Pragmatik sebagai salah satu cabang liguistik. Sesungguhnya baru mulai mencuat dan kemudian berkembang sejak tahun 1970-an. Sementara itu, istilah ilmu bahasa pragmatk, yang semula disebut prakmatik, sebenarnya sudah mulai dikenal sejak masa hidupnya seorang filsuf sangat ternama, yakni Charles Morris. Berdasarkan gagasan dan pemikirannya. Sosok pragmatic lalu dapat dikatakan mulai terlahir di dunia, dan mulai bertengger di atas bumi lingustik dan hingga kini kian terbukti, bahwa sosok ilmu bahasa pragmatic

(23)

11

berkembang secara amat signifikan dan menjadi bagian dari ilmu bahasa yang tidak dapat diabaikan (Rahadi, 2003:3-8).

Rahadi (2003:16) mengatakan bahwa ilmu bahasa pragmatik sesungguhnya mengkaji maksud penutur di dalam konteks situasi dan lingkungan social budaya tertentu. Kemudian, Cruse (dalam Cummings 2007: 2) memaparkan bahwa pragmatik dapat diangggap berurusan dengan aspek-aspek informasi yang disampaikan melalui bahasa yang tidak di kode oleh konvensi yang terima secara umum dalam bentuk-bentuk linguistik yang digunakan tetapi yang juga muncul secara alamiah dari dan tergantng pada makna-makna yang di kodekan secara konvesional dengan konteks tempat penggunaan bentuk-bentuk tersebut.

Suatu hal yang disepakati oleh para pakar ialah pragmatik berkembang sebagai reaksi terhadap cara penelitian bahasa yang berdasarkan aliran Chomsky yang menganggap bahasa sebagai suatu yang abstrak, suatau kemampuan mental yang terpisah dari pemakaian dan fungsi bahasa.

Yule (2006:3-6) merangkum empat ruang lingkup yang tercakup dalam rakmatik. Pertama, Pragmatik adalah studi tentang maksud penutur . Kedua, pragmatic adalah studi tentang makna kontekstual. Ketiga, Pragmatik adalah studi tentang bagaimana agar lebih banyak yang disampaikan dari pada di tuturkan. Keempat, pragmatik adalah studi tentang ungkapan dari jarak hubungan. Pragmatik semakin menarik karena melibatkan bagaimana orang saling memahami satu sama lain secara linguistic, tetap pragmatik dapat juga merupakan ruang lingkup studi yang menyatahkan semangat karena studi ini

(24)

12

mengharuskan orang untuk saling memahami apa yang ada dalam pikiran mereka.

Pragmatik perlu juga menyelidiki bagaimana cara pendengar dapat menyimpulkan tentang apa yang dituturkan agar sampai pada suatau interpetasi makna yang disampaikan oleh penutur. Pargmatik juga menkaji maksud ujaran dengan satuan analisisnya berupa tindak tutur (speech act), misalnya dalam komunikasi, satu maksud atau satu fungsi dapat di ungkapkan dengan berbagai bentuk atau struktur. Untuk maksud “Menyuruh” orang lain, penutur dapat mengungkapkannya dengan kalimat imperative, Kalimat deklaratif, atau bahkan dengan kalimat interogatif.

Pragmatik merupakan telaah penggunaan bahasa untuk menuangkan maksud dalam tindak komunikasi sesuai dengan konteks dan keadaan pembicara. Dengan kata lain pragmatik menelaah bentuk bahasa dengan mertimbangan satuan-satuan yang “menyertai” sebuah ujaran: konteks lingual (co-text) maupun konteks ekstralingual: tujuan, situasi, pratisipan dan lain sebagainya. Bedasarkan konsep dasar tersebut, lingkup pragmatik adalah:

a. Variasi Bahasa

Bahasa menpunyai bentuk sesuai dengan situasi dan keadaan. Berdasarkan faktor penentunya, ada 4 kelompok variasi :

1) Regional variety: variasi bahasa yang dipakai pada daerah tertentu. 2) Social variety : variasi bahasa yang disebabkan perbedaan strata

(25)

13

3) Functional variety : variasi bahasa akibat fungsi penggunaan bahasa itu. Variasi mumcul karena faktor: tujuan, setting, partisipan, media, topik, dll.

4) Tempora/chronological variety: variasi bahasa yang disebabkan perbedaan kurun waktu (diakronis) dalam perjalanan bahasa itu. b. Tindak Berbahasa

Austin, mengucapkan sesuatu adalah melakukan sesuatu. austin secara khusus mengemukakan bahwa tuturan-tuturan tidak semata-mata hendak mengkomunikasikan suatu informasi, melainkan meminta suatu tindakan atau perbuatan.

Contoh: Bilamana seseorang mengatakan, “saya minta maaf” ; “saya berjanji” artinya, permintaan maaf dilakukan pada saat orang itu minta maaf dan bukannya sebelumnya. Janji atau kedatangan kelak harus dipenuhi, dan bukan sekarang ini.

Dalam menganalisis tindak ujaran atau tuturan, dikaji tentang efek-efek tuturan terhadap tingakah laku pembicara dan lawan bicaranya. c. Implikatur percakapan

Implikatur percakapan merupakan salah satu ide yang sangat penting dalam pragmatik. Implikatur perckapan pada dasarnya merupakan suatu teori yang sifatnya inferensial, suatu teori tentang bagaimana orang menggunakan bahasa, keterkaitan makna suatu tuturan yang tidak terungkapkan secara literal pada tuturan.

(26)

14 d. Teori deiksis

Deikisi adalah gejala semantik yang terdapat kata atau kontruksi yang hanya dapat ditafsirkan acuannya dengan mempertimbangkan konteks pembicaraan. Dengan kata lain adalah kata saya, sini, sekarang, misalnya, tidak memiliki acuan yang tetap melainkan bervariasi bergantung pada berbagai hal. Acuan dari kata saya menjadi jelas setelah diketahui siapa yang mengucapkan katau itu. Kata sini memiliki rujukan yang nyata setelah diketahui dimana kata itu diucapkan. Demikian pula, kata sekarang ketika diketahui kapan kata itu diujarkan.

e. Praanggapan

Praanggapan atau preposisi adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur sebagai kejadian sebelum menghasilkan suatu tuturan. Yang memiliki pranggapan adalah penutur, bukan kalimat. Kita dapat mengidentifikasi sebagai informasi yang diasumsikan secara tepat yang akan diasosiasikan dengan tuturan seperti yang tampak berikut ini:

Sepupu laki-laki Raminra membeli sebuah rumah mewah.

Ketika menghasilkan tuturan dalam kalimat diatas,penutur tentunya diharpkan memiliki praanggapan bahwa seseorang bernama Raminra ada dan dia memiliki seorang sepupu laki-laki. Penutur juga menyimpan praanggapan yang lebih khusus bahwa Raminra hanya memiliki seorang sepupu laki-laki dan dia memiliki banyak uang. Sebenarnya semua praanggapan ini menjadi milik penutur dan semua praanggapan itu boleh jadi salah.

(27)

15 f. Prinsip Kerja Sama

Bahasa salah satu alat bekerja sama dan aktivitas sosial. Grice merumuskan 4 maksim (aturan) kerja sama yaitu:

1) Maksim kuantitas : setiap peserta memberikan informasi secukupnya. 2) Maksim kualitas : setiap peserta wajib mengatakan hal yang

sebenarnya.

3) Maksim relevansi : setiap peserta harus mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan topik.

4) Maksim cara mengatur bagaimana sesuatu itu diungkapkan. g. Prinsip Kesopanan

Pada hubungan interpersonal diperlukan prinsip kesopanan (plitness principle), yang terdiri atas beberapa maksim,yaitu:

1) Maksim Kebijaksanaan, maksim ini diungkapkan dengan tuturan imposif “mengagumkan” dan konisif, yaknimeminimalkan kerugian pada orang lain atau memaksimalkan keuntungan pada orang lain. 2) Maksim Penerimaan. Maksim ini menwajibkan penutur untuk

memperbesar kerugiaan pada diri sendiri atau mengurangi keuntungan diri sendiri.

3) Maksim Kemurahan. Memaksimalkan rasa hormat pada orang lain mengurangi rasa hormat pada diri sendiri .

4) Maksim Kerendahan hati. Maksim ini meminimalkan ke tidak hormatan pada orang lain dan meminimalkan rasa hormat pada diri sendiri.

(28)

16

5) Maksim kecocokan. Setiap penutur dan mitra tutur wajib memaksimalkan kecocokan diantara mereka dan meminimalkan ke tidak cocokan di antara mereka.

6) Maksim kesimpatisan. Setiap penutur wajib memaksimalkan rasa simpati dan meminimalkan rasa antipati kepada lawan tuturnya. 3. Tindak tutur

a. Pengertian tindak tutur

Tindak tutur merupakan analisis pragmatik, yaitu cabang ilmu bahasa yang mengkaji bahasa dari aspek pemakaian aktualnya. Tindak tutur memiliki rangkaian yang berupa peristiwa tutur. Tindak tutur lebih melihat pada makna atau arti tindakan dalam tuturannya, tetapi peristiwa tutur lebih melihat pada tujuan peristiwanya. Tindak tutur dan peristiwa tutur merupakan dua gejala yang terdapat pada satu proses, yakni proses komunikasi (Chaer,1995:65 dalam Syafruddin, 2018:47).

Tindak tutur adalah fenomena pragmatik yang berkenaan dengan tindakan penutur yang ditunjukkan melalui tuturan. Tindak tutur menurut Yule (2006:82-84) adalah tindakan-tindakan yang ditampilkan lewat tuturan biasanya disebut tindak tutur. Tindakan yang ditampilkan dengan menghasilkan suatu tuturan akan mengandung tiga tindak yang saling berhubungan.

Tindak tutur merupakan gejala individual yang bersifat psikologis dan keberlangsungan ditentukan oleh kemampuan bahasa si penutur

(29)

17

dalam menghadapi situasi tertentu. Dalam tindak tutur lebih dilihat pada makna atau arti tindakan dalam tuturannya.

Tindak tutur atau pertuturan (speech act) adalah seluruh komponen bahasa dan nonbahasa yang meliputi perbuatan bahasa yang utuh, yang menyangkut peserta di dalam percakapan, bentuk

penyampaian amanat, topik, dan konteks amanat tersebut.

Tindak tutur atau tindak ujar (speech act) merupakan entitas yang bersifat sentral dalam pragmatik sehingga bersifat pokok di dalam pragmatik. Tindak tutur merupakan dasar bagi analisis topik-topik pragmatik lain seperti praanggapan, prinsip kerja sama, dan prinsip kesantunan.

Yule (1996) (dalam Syafruddin, 2018:48) mendefinisikan tindak tutur sebagai tindakan yang dilakukan melalui ujaran. Sedangkan Cohen (dalam Hornberger) dan McKay (1996) (dalam Syafruddin, 2018:48) mendefinisikan tindak tutur sebagai sebuah kesatuan fungsional dalam komunikasi. Jadi dapat disimpulkan bahwa tindak tutur merupakan suatu ujaran mengandung tindakan sebagai suatu kesatuan fungsional dalam komunikasi yang mempertimbangkan aspek situasi tutur.

b. Peristiwa tutur

Peristiwa tutur adalah terjadinya atau berlangsungnya interaksi linguistik dalam satu bentuk bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak yaitu penutur dan lawan tutur, dengan satu pokok tuturan, di dalam, tempat, dan situasi tertentu. Peristiwa ini mungkin termasuk suatu tindak

(30)

18

tutur sentral yang nyata, seperti “keluhan”, tetapi peristiwa ini juga termasuk tuturan-tuturan lain yang mengarah padanya dan sesudah itu beraksi pada tindakan sentral tersebut. Pada kebanyakan kasus, suatu “permohonan” tidak dibuat dengan tindak tutur tunggal yang secara tiba-tiba diucapkan. “permohonan” merupakan sebuah tindak tutur secara khusus.

Yang dimaksud dengan peristiwa tutur adalah terjadinya atau berlangsungnya interasi linguistik dalam satu bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak yaitu penutur dan lawan tutur, dengan satu pokok tuturan, di dalam waktu, dan situasi tertentu. Jadi, interaksi yang berlangsung antara seorang penjual dan pembeli pada waktu tertentu dengan menggunakan sebagai alat komunikasinya adalah tutur.

Dikatakan oleh Gumperz dan Hymes membuat akronim SPEAKING untuk menjelaskan aspek atau komponen tutur dalam kajian sosiolingistik yaitu:

S = setting : tempat dan waktu terjadi pertuturan, termasuk di dalamnya kondisi psikologi dan cultural yang menyangkut pertuturan tersebut. P = participants : menyangkut peserta tutur

E = ends : menunjuk pada tujuan yang ini dicapai dalam suatu situasi tutur.

A = acts of sequence : menunjuk pada saluran tutur yang merupakan tuturan lisan atau tertulis.

(31)

19

K = key : menunjukkan cara ataupun jiwa dari pertuturan yang dilangsungkan.

I = instrmentalities : menujukkan penggunaan kaidah berbahasa dalam pertuturan.

N = norms : menunjuk pada norma atau aturan dalam berinteraksi.

G = genre : menunjukk pada kategori tuturan yang dapat merupakan puisi, surat, artikel,dan lain sebagainya.

Sumbangan terbesar Austin dalam teori tindak tutur adalah perbedaan tindak lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Menurut Austin, setiap kali penutur berujar, dia melakukan tiga tindakan secara bersamaan, yaitu (a) tindak lokusi (locutionary acts), (b) tindak ilokusi (illocutionary), dan (c) tindak perlokusi (perlocutionary).. Bila si penutur berniat mengutarakan sesuatu secara langsung, dengan menggunakan suatu daya yang khas, yang membuat penutur bertindak sesuai dengan apa yang dituturkannya, niatannya disebut tindak tutur ilokusi. Dalam pernyataan lain, tindak ilokusi adalah tindak dalam menyatakan sesuatu (performatif) yang berlawan dengan tindak menyatakan sesuatu (konstansif). Ketiga macam tindak tutur itu secara berturut-turut dapat disebutkan seperti berikut:

1) Tindak tutur lokusi (locutioaru acts)

Tindak tutur lokusi adalah tindak tutur dengan kata, frasa, dan kalimat, sesuai dengan yang dikandung oleh kata, frasa, dan kalimat itu sendiri. Sebagai contoh, ikan paus adalah binatang mamalia

(32)

20

terbesar di Samudra. Pada kalimat tersebut diutarakan semata-mata hanya menginformasikan sesuatu tanpa terdensi untuk melakukan sesuatu, apalagi untuk mempengaruhi lawan tuturnya. Kalimat tersebut hanya berupa informasi yang tidak berdampak apa-apa terhadap mitra tuturnya.

Selanjutnya, dikatakan bahwa tindak lokusi adalah tindak tutur yang relatif paling mudah untuk didentifikasikan karena pengidentifikasikannya cenderung dilakukan tanpa menyertakan konteks tuturan yang tercakup dalam situasi tutur. Jadi, dari perspektif pragmatik tindak lokusi sebenarnya tidak atau kurang penting.

2) Tindak tutur ilokusi (illocutionary acts)

Tindak tutur ilokusi adalah tindak tutur yang melakukan sesuatu maksud dengan maksud dan fungsi tertentu dalam kegiatan bertutur yang sesungguhnya.

Tindak tutur ilokusi disebut sebagai The Act of Doing

Something (Rahardi, 2009). Tindak ilokusi adalah apa yang ingin

dicapai oleh penuturnya pada waktu menuturkan sesuatu dan dapat merupakan tindakan menyatakan, berjanji, minta maaf, mengancam, meramalkan, memerintah, meminta, dan tindak tutur. Perhatikan kalimat (i) sampai (ii) misalnya, cenderung tidak hanya digunakan untuk menginformasikan sesuatu, tetapi juga melakukan sesuatu sejauh sitausi tuturnya dipertimbangkan secara seksama.

(33)

21 i. Saya tidak bisa datang. ii. Ada anjing galak.

Kalimat (i) jika diutarakan oleh seseorang kepada temannya yang baru saja berulang tahun, kalimat (i) tidak hanya berfungsi untuk menyatakan atau menginformasikan sesuatu, tetapi juga untuk melakukan sesuatu. Yakni bermaksud untuk meminta maaf karena tidak bisa hadir dalam pesta ulang tahun. Informasi ketidakhadiran penutur dalam hal ini kurang begitu penting karena besar kemungkinan lawan tutur sudah mengetahui hal tersebut. Pada kalimat (ii) yang biasa ditemui di pintu pagar atau bagian depan rumah pemilik anjing tidak hanya sekadar untuk menginformasikan kepada seseorang, tetapi juga untuk memberikan peringatan. Akan tetapi, bila ditunjukkan kepada pencuri, tuturan itu digunakan untuk menakutinya.

3) Tindak tutur perlokusi (perlocutionary acts)

Tindak tutur perlokusi adalah tindak tutur yang menumbuhkan pengaruh terhadap mitra tutur oleh penutur. Sebuah tuturan yang diutarakan oleh seseorang sering mempunyai daya pengaruh, atau efek bagi yang mendengarkannya. Efek atau daya pengaruh ini dapat secara sengaja atau tidak sengaja dikreasikan oleh penuturnya. Tindak tutur yang pengutaraannya dimaksudkan untuk mempengaruhi lawan tutur disebut tindak tutur perlokusi.

(34)

22 c. Strategi tindak tutur

Dalam komunikasi satu fungsi dapat dinyatakan atau diutarakan melalui berbagai bentuk ujaran. Untuk maksud atau fungsi “menyuruh”, misalnya menurut Blum-Kulka (1987) (dalam Syafruddin, 2018:56): dapat diungkapkan dengan menggunakan berbagai ujaran sebagai berikut:

1) Kalimat bermodus imperatif: meja ini mempersempit jalan laluan. 2) Performatif eksplisit: bisa minta tolong menggeserkan meja. 3) Performatif berpagar: bisa tidak kita pindahkan meja ini? 4) Pernyataan keharusan: anda harus memindahkan meja ini. 5) Pernyataan keinginan: aku ingin memindahkan meja ini. 6) Rumusan saran: bagaimana ya kalau meja ini dipindahkan? 7) Persiapan pertanyaan: anda bisa memindahkan meja ini?

8) Isyarat: meja ini harus dipindahkan karena menghalangi jalan laluan. 9) Isyarat halus: jalan laluan ini kok sempit ya?

Dari sembilan bentuk ujaran tersebut diperoleh sembilan tindak tutur yang berbeda-beda derajat kelangsungannya dalam menyampaikan maksud „menyuruh memindahkan meja‟ itu. Hal ini berkaitan dengan tindak tutur langsung (tindak tutur-l) dan tindak tutur tidak langsung (tindak tutur-tl). Derajat kelangsungan tindak tutur dapat diukur berdasarkan “jarak tempuh” antara titik ilokusi (di benak p) ke titik tujuan ilokusi (di benak mt). Derajat kelangsungan dapat pula diukur berdasarkan kejelasan pragmatisnya: makin jelas maksud ujaran makin langsunglah ujaran itu, dan sebaliknya. Dari kesembilan ujaran tersebut,

(35)

23

yang paling samar-samar maksudnya adalah bentuk ujaran kesembilan berupa isyarat halus. Karena kata “meja” sama sekali tidak disebutkan oleh p dalam ujaran kesembilan, maka mt harus mencari-cari konteks yang relevan untuk dapat menangkap maksud p.

d. Tindak tutur langsung vs tindak tutur tidak langsung

Secara formal, berdasarkan modusnya, kalimat dibedakan menjadi kalimat berita (deklaratif), kalimat tanya (inteogatif), dan kalimat perintah (imperatif. Secara konvensional kalimat berita digunakan untuk memberikan sesuatu (informasi), kalimat tanya untuk menanyakan sesuatu, dan kalimat perintah untuk menyatakan perintah, ajakan, permintaan, atau permohonan. Bila kalimat berita difungsikan secara konvensional untuk mengatakan sesuatu, kalimat tanya untuk bertanya, dan kalimat perintah untuk menyuruh, mengajak, atau memohon, dan sebagainya, tindak tutur yang terbentuk adalah tindak tutur langsung (direct speech act). Dari uraian di atas skema penggunaan modus kalimat dalam kaitannya dengan kelangsungan tindak tutur. Selain itu juga menunjukkan bahwa kalimat perintah tidak dapat digunakan untuk mengutarakan tuturan secara tidak langsung, dapat digambarkan sebagai berikut:

Modus Tindak tutur

Langsung Tidak langsung

Berita Memberitakan Menyuruh

Tanya Bertanya Menyuruh

Perintah Memerintah -

(36)

24

Selain tindak tutur-l dan tindak tutur-tl, p dapat juga menggunakan tindak tutur tindak tutur harafiah (tindak tutur-th) di dalam mengutarakan maksudnya. Jika kedua hal itu, kelangsungan dan keharafiahan ujaran, digabungkan maka akan didapatkan empat macam ujaran, yaitu:

1) Tindak tutur-lh: “buka mulut”, misalnya diucapkan oleh dokter gigi kepada pasiennya.

2) Tindak tutur-lth: “tutup mulut”, misalnya diucapkan oleh seseorang yang jengkel kepada mt-nya yang selalu “cerewet”.

3) Tindak tutur-tlh: “bagaimana kalau mulutnya dibuka?”, misalnya diucapkan oleh dokter gigi kepada pasien yang masih kecil agar anak itu tidak takut.

4) Tindak tutur-tlth: “untuk menjaga rahasia, lebih baik jika kita semua sepakat menutup mulut kita masing-masing”, misalnya diucapkan oleh p yang mengajak mt-nya untuk tidak membuka rahasia.

Dengan demikian, secara ringkas, berdasarkan uraian di atas dapat dicatat ada delapan tindak tutur sebagai berikut:

1) Tindak tutur langsung (tindak tutur-l)\ 2) Tindak tutur tidak langsung (tindak tutur-tl) 3) Tindak tutur harafiah (tindak tutur-h) 4) Tindak tutur tidak harafiah (tindak tutur-th) 5) Tindak tutur langsung harafiah (tindak tutur-lh) 6) Tindak tutur tidak langsung harafiah (tindak tutur-tlh) 7) Tindak tutur langsung tidak harafiah (tindak tutur-lth)

(37)

25

8) Tindak tutur tidak langsung tidak harafiah (tindak tutur-tlth) apabila seseorang menggunakan bahasa, maka ada tiga jenis tindakan atau tindak tutur yaitu, lokusi, ilokusi, dan perlokusi.

e. Aspek-aspek tindak tutur dan situasi tutur 1) Aspek-aspek tindak tutur

a) Konteks tuturan

Konteks tuturan linguistik adalah konteks dalam semua aspek fisik atau latar sosial yang relevan dari tuturan bersangkutan. Konteks adalah situasi lingkungan dalam arti luas yang memungkinkan peserta pertuturan untuk dapat berinteraksi, dan yang membuat ujaran mereka dapat dipahami.

b) Penutur dan mitra tutur

Aspek-aspek yang berkaitan dengan penutur dan mitra tutur ini adalah usia, latar belakang sosial, ekonomi, jenis kelamin, tingkat keakraban, dan sebagainya. Terkait dengan aspek tutur penutur dan penutur mitra tutur, Leeach (dalam Putrayasa,B.I, 2014:94) menegaskan bahwa mitra tutur atau penutur adalah orang yang menjadi sasaran tuturan dari penutur.

Tindak tutur yang dilakukan oleh penutur selalu ditujukan kepada seseorang atau sekelompok orang tertentu. Hubungan antara anak dengan orang atau sekelompok orang tersebut memiliki tingkat kedekatan yang berbeda-beda.

(38)

26

Demikian juga dengan status sosial anak dibandingkan dengan mitra tutur yang dihadapinya pun berbeda-beda, tingkat kedekatan hubungan antara anak dengan mitra tutur dan status sosial anak dibandingkan dengaj mitra tutur tersebut berpengaruh terhadap strategi yang digunakan oleh anak dalam bertutur. c) Tujuan tuturan

Tujuan penuturan tidak lain adalah maksud penutur mengucapkan sesuatu atau makna yang dimaksud penutur dengan mengucapkan sesuatu.

d) Tindak tutur sebagai bentuk tindakan atau aktivitas

Dalam hubungan ini pragmatik menangani bahasa dalam tingkatannya yang lebih konkret dibanding tata bahasa. Tuturan sebagai entitas yang konkret jelas penutur dan lawan tuturnya, serta waktu dan tempat pengutaannya.

e) Tuturan sebagai produk tindak verbal

Dalam hubungan ini dapat ditegaskan bahwa terdapat perbedaan mendasar antara kalimat dengan tuturan. Kalimat adalah entitas gramatikal sebagai hasil kebahasaan yang diidentifikasi lewat penggunannya dalam situasi tertentu. 4. Pasar

Pasar adalah salah satu dari berbagai sistem, institusi, hubungan sosial dan infrastruktur dimana usaha menjual barang,jasa dan tenaga kerja untuk orang-orang dengan imbalan uang. Barang dan jasa yang dijual menggunakan

(39)

27

alat pembayaran yang sah seperti uang. Kegiatan ini merupakan bagaian dari perekonomian. Dalam ilmu ekonomi mainstream, Konsep pasar adalah setiap struktur yang memungkinkan pembeli dan penjual untuk menukar jenis barang, jasa dan informasi.

Pertukaran barang dan jasa untuk uang disebut transaksi. Pasar terdiri dari atas penjual dan pembeli yang memengaruhi harganya. Pasar dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Pasar Tradisonal

Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transakasi penjual dan pembeli serta di tandai dengan adanya transaksi penjual dan pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar menawar, bangunan biasanya terdiri dari kios atau gerai, los dan dasaran terbuka yang dibangun oleh penjual maupun suatu pengelola pasar.Pasar tradisional ini kebanyakan menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan makanan berupa ikan, sayur, bumbu dapur, daging, telur, ayam dan lain sebagainya.

b. Pasar modern

Pasar modern tidak banyak berbeda pasar tradisional, namun pasar jenis ini penjual dan pembeli tidak melakukan transaksi secara langsung melainkan pembeli melihat label harga yang tercantum pada barang. Pasar jenis ini berbeda dalam bagunan dan pelayanannya dilakukan secara mandiri atau dilayani oleh pramuniaga. Contoh dari pasar modern adalah hypermart, supermarket dan minimarket.

(40)

28 B. Kerangka Pikir

Bahasa tumbuh dan berkembang dalam konteks sosial. Interaksi antar bahasa dan konteks sosial menciptakan warna tertentu pada bahasa. Sedangkan bahasa menegaskan dan menegkspresikan konteks sosial.

Dunia sosial terdiri atas individu dengan karateristik yang berbeda-beda kemudian dalam interaksinya mereka membentuk masyarakat. Karateristik individu memberi corak atau ciri tertentu pada tampilan bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi. Ciri tertentu dalam bahasa, ada yang bersifat individu (idiolek) dan ada pula yang bersifat sosial (sosiolek). Ciri tersebut bersifat internal pada dua kategori subjek bahasa tersebut.

Salah satu lingkungan sosial yang memiliki sudut idiolek sosiolek dapat dijumpai dalam lingkup masyarakat, seperti yang terjadi pada proses jual beli antara penjual dan pembeli pakaian di pasar sentral Pangkep Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Oleh karena itu, dalam penelitian ini, peneliti berusaha mengetahui tindak tutur yang terjadi antara penjual dan pembeli pakaian di pasar sentral Pangkep Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Untuk lebih jelasnya, kerangka pikir yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada bagan berikut:

(41)

29

Bagan 1.1

Bagan Kerangka Pikir

BAHASA PRAGMATIK ILOKUSI ANALISIS DATA TEMUAN

ILOKUSI

(42)

30 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif karena data penelitian berupa jenis dan fungsi tindak tutur yang digunakan secara apa adanya oleh penjual dan pembeli di pasar sentral Pangkep Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Selain pendekatan kualitatif, penelitian juga menggunakan metode deskriptif dalam menjelaskan hasil temuan dari penelitian yang dilakukan.

B. Lokasi dan Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Pasar Sentral Pangkep Kecamatan Pangkajene Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Waktu penelitian ini berlangsung selama dua bulan, mulai dari Juni 2019 sampai bulan Agustus 2019.

C. Desain Penelitian

Adapun desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain penelitian deskriptif untuk mengumpulkan data mengenai tindak tutur dalam transaksi penjual dan pembeli penulis melakun observasi, rekaman dan teknik simak libat cakap.

D. Instrument Penelitian

Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi instrument utama adalah penelitian sendiri atau anggota tim peneliti. Untuk itu perlu dikemukakan

(43)

31

siapa yang akan menjadi instrumen penelitian, atau mungkin setelah permasalahannya dan fokus jelas peneliti akan menggunakan instrumen. Instrument yang akan digunakan perlu dikemukakan pada bagian ini.

Adapun instrument penelitian yang digunakan antara lain : 1. Instrumen utama adalah peneliti itu sendiri.

2. Instrumen pendukung, adapun instrumen pendukung yang dimaksud adalah alat-alat yang digunakan dalam menunjang penelitian yang terdiri dari kamera HP (Handphone) , alat perekam (Handphone), dan lembar observasi (diisi selama penelitian). Observasi adalah catatan tentang pengamatan yang dilakukan oleh penelitian terhadap objek penelitian kemudian mencatat hal-hal yang dianggap perlu sehubungan dengan masalah yang deteliti.

E. Data dan Sumber Data

Data dalam penelitian ini tindak tutur ilokusi penjual dan pembeli di pasar sentral Pangkep Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan.

Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah semua informasi atau bahan yang dikemukakan oleh penutur dalam proses jual-beli yang harus dicari atau dikumpulkan dan dipilih oleh peneliti baik secara lisan maupun tulisan.

F. Teknik Pengumpulan Data

Memperoleh data atau informasi yang diperlukan dalam penelitian ini, penelitian menggunakan metode penelitian dengan dengan beberapa teknik pengumpulan data sebagai berikut:

(44)

32 1. Observasi (pengamatan)

Observasi dilakukan untuk mengamati secara langsung ungkapan ungkapan atau tuturan yang dianggap representative untuk data primer. 2. Simak Libat Cakap

Teknik ini dilakukan dengan cara menyimak percakapan dan tuturan masyarakat yang sedang melakukan transaksi jual beli.

3. Teknik Rekam

Setelah melakukan rekaman terhadap percakapan dan tuturan masyarakat yang melakukan transaksi jual beli, data yang semula berbentuk rekaman kemudian penulisan mengubahnya menjadi data tertulis.

4. Teknik Catat

Setelah melakukan simak libat cakap kemudian dilakukan pencatatan, sehingga data yang semula berwujud lisan menjadi dat yang berwujud tertulis. Untuk menambah dukungan data ini, peneliti memperoleh data yang bersumber dari bahan tertulis.

G. Teknik Analisis Data

Data yang di peroleh dari hasil simak dan catatan yang diperoleh tindak tutur penjual dan pembeli adalah berupa suara/tuturan langsung objek penelitian.

Adapun prosedur penelitian dalam mengabalisi data penelitian anatara lain : 1. Memahami secara keseluruhan data penelitia

(45)

33

2. Mengidentifikasi dan mengklasifikasikan data tersebut berdasarkan butir-butir masalah dan tujuan penelitian.

3. Mengkasifikasikan tindak tutur, sebagai dasar dalam menelaah data. 4. Menganalisis tindak tutur berdasarkan data penelitian.

5. Mendeskripsikan hasil analisis dalam bentuk laporan penelitian.

Bila hasil penelitian sudah sesuai dan dianggap sesuai maka hasil tersebut dianggap sebagai hasil akhir.

(46)

34 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

Hasil dan analisis data penelitian ini dibuat berdasarkan hasil observasi dari kegiatan proses percakapan antara pembeli dan penjual yang direkam menggunakan alat komunikasi yaitu gawai. Dari hasil rekaman video tersebut kemudian disusunlah dalam sebuah teks percakapan yang dapat dilihat pada lampiran 1.

Kemudian teks percakapan yang telah di susun selanjutnya di analisis yang merujuk pada fokus penelitian yaitu tindak tutur ilokusi. Menurut Searle (dalam Syafruddin, 2017:55) menggolongkan tindak tutur ke dalam lima kategori yaitu asertif, direktif, ekspresif, komisif dan deklaratif. Dalam penelitian ini yang akan dianalisis adalah tindak tutur direktif yaitu tindak tutur yang membuat pengaruh agar si mitra tutur melakukan tindakan misalnya memesan, memerintah, memohon, menasehati, merekomendasikan. Penelitian yang telah dilakukan di lapangan yaitu di pasar Sentral

Pangkep Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, dengan melakukan percakapan dengan penjual pakaian di pasar Sentral Pangkep Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Penuturan mengatakan bahawa bahasa yang digunakan oleh penjual dan pembeli menggunakan bahasa Bugis, bahasa Makassar, tetapi lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia adalah bahasa umum, dengan menggunakan bahasa Indonesia komunikasi antara pembeli dan penjual lebih mudah di pahami.

(47)

35

Adapun hasil analisis percakapan pembeli dan penjual di pasar sentral pangkep kabupaten pangkajene dan kepulauan yang dianalisis menggunakan beberapa teori untuk mendukung penguatan analisis berdasarkan fokus penelitian yaitu tindak tutur ilokusi direktif sebagai berikut.

1. Meminta

Pembeli : 60 mo kak

Penjual : Tidak bisa kak. ada ji kalau mauki iya tapi 80 beda ki bahannya sama yang 100

Berdasarkan kode data pada tabel analisis Dir/02/Neg percakapan di atas menunjukkan bahwa tindakan yang dilakukan oleh pembeli (pn) kepada penjual (mt) merupakan tindak meminta.

Pembeli : kalau 150?

Penjual : Tidak na sampai modalnya, 180 mo coba mi dulu pasangki Pembeli : Pas mi itu 180?

Penjual : Iye

Pembeli : (menyetujui penawaran penjual tadi)

Berdasarkan kode data Dir/04/Pasca menunjukkan bahwa percakapan di atas merupakan tindak meminta. Awalnya pembeli meminta agar harga baju tersebut Rp. 150.000 namun penjual tidak bisa memberikan harga tersebut karena tidak sesuai dengan modal dan disarankan untuk pasang

(48)

36

harga. Kemudian pembeli memperjelas lagi untuk diberikan harga baju Rp. 180.000 dan akhirnya disetujui oleh penjual.

2. Memohon

Pembeli : bisa 100 ?

Penjual : kalau yang ini bisa ji (Sambil menunjuk baju)

Berdasarkan kode data pada tabel analisis Dir/03/Neg menujukkan bahwa percakapan di atas merupakan tindak memohon. Karena penjual (mt) sudah mengatakan kepada pembeli (pn) bahwa harga baju tersebut Rp. 130.000 dan tidak bisa kurang karena baju tersebut merupakan pengeluaran terbaru. Namun pembeli masih mengingkan agar baju tersebut dapat dibeli dengan harga Rp. 100. 000 (didukung ekspresi pembeli) yang nampak memohon kepada penjual.

3. Bertanya

Pembeli: (memperhatikan baju) “warnana ini ?” Penjual : “iye ini ji pink sama biru”

Berdasarkan kode data pada tabel analisis Dir/01/Pra menunjukkan bahwa percakapan merupakan tindak bertanya yang awalnya dilontarkan oleh pembeli (pn) kepada penjual (mt) tentang sebuah baju yang dipegangnya kemudian penjual (mt) merespon sesuai dengan yang ditanyakan oleh pembeli.

(49)

37

Pembeli: Tidak ada warna lain na ini kak (Sambil memegang baju

tersebut)? “100 ini kak ”.

Penjual : Ini warna lainnya (Menunjukkan warna baju yang

ditanyakan)

Berdasarkan kode data pada tabel analisis Dir/02/Pra menunjukkan bahwa percakapan ini merupakan tindak bertanya yang awalnya pembeli (mt) mempertanyakan warna lain dari baju yang di pegangnya. Kemudian penjual (mt) menjawab sesuai keinginan pembeli bahwa ada warna lain dari baju yang dipegangnya.

Pembeli : tidak ada itu piama-piama yang sekarang yang bermotif, baju tidur yang warna ungu?

Penjual : adaji ini, 95 (Menunjukkan piama yang tergantung)

Berdasarkan kode data pada tabel analisis Dir/02/pasca percakapan di atas merupakan tindak bertanya. Pembeli yang mempertanyakan sebuah barang yang di carinya apakah kepada penjual (mt) menjual barang tersebut. Kemudian penjual (mt) merespon dengan menunjukan barang yang ditanyakan.

Pembeli : Satu warna ji ini? (Menunjuk baju tersebut) Penjual : Iye satu warna ji, belum pi banyak pake masih barui

Percakapan di atas merupakan tindak bertanya. Karena ketika pembeli (pn) menuturkan sebuah pertanyaan atau mengekspresikan keinginan kepada

(50)

38

penjual (mt) yang kemudia dijawabnya sesuai dengan yang ditanyakan oleh pembeli (pn).

Pembeli : Berapa baju gamis jeans ta yang ini ? (Menunjuk baju) Penjual : 195

Pembeli : bisa 140 ini ?

Penjual : ai tidak bisa, ada warna agak gelapnya ini

Berdasarkan kode data Dir/04/Neg pada tabel analisis menunjukkan bahwa percakapan tersebut merupakan tindak bertanya karena pembeli mempertanyakan sebuah baju dan penjual menjawab sesuai dengan apa yang ditanyakan oleh pembeli.

Pembeli : Berapa bleser ta ini? (Sambil menunjuk baju) Penjual : 160

Pembeli : Tidak 100 mi ini ?

Penjual : Tidak dapatki, 130 mi ambilkan ki menghabisan mi itu

Percakapan di atas merupakan tindak bertanya berdasarkan kode data Dir/05/ Neg pada tabel analisis. Dibuktikan dengan sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh pembeli tentang harga sebuah bleser kepada penjual yang kemudian dijawab sesuai keinginan pembeli. Kemudian pembeli bertanya ulang dan penjual masih menjawab sesuai dengan keinginan pembeli.

(51)

39 Pembeli : Tidak ada warna lain? Penjual : Ada! Mau kiliat ki ?

Percakapan di atas merupakan tindak bertanya berdasarkan kode data Dir/05/Neg pada tabel analisisi menunjukkan bahwa pembeli mempertanyakan warna lain dari baju yang diingingkan dengan model baju yang sama. Kemudian penjual merespon dengan mengatakan iya dan menunjukkan baju tersebut.

4. Memerintah

Pembeli: (memperhatikan baju yang seharga 80) “liat bede yang itu” Penjual : (menggambilkan barang yang ingin dilihat pembeli)

Berdasarkan kode data pada tabel analisis Dir/ 02/Neg percakapan diatas merupakan sebuah tindak memerintah. Pembeli (pn) memerintahkan penjual (mt) untuk menggambilkan sebuah baju yang ingin dilihatnya.

Pembeli : liat ki bedeng !

Penjual : Sini ki di depan bu ee, ada creamnya Pembeli : Sama harganya ini ?

Penjual : Iye (Pembeli berlalu menin-ggalkan stand baju tersebut)

Berdasarkan kode data Dir/05/Pasca percakapan di atas merupakan tindak memerintah. Pembeli ingin melihat baju yang ditanyakan

(52)

40

sebelumnya dengan warna lainya dan penjual merespon dengan meunjukkan baju tersebut dengan harga yang sama.

5. Menyarankan

Pembeli : “kalau itu kaftan ta yang pink itu”

Penjual : “250” “kalau ini 300, ada warnanya, ini warna warnanya”

Berdasarkan kode data pada tabel analisis Dir/01/Pra menunjukkan bahwa percakapan tersebut merupakan tindak menyarankan karena pembeli (pn) mempertanyakan tentang sebuah baju kaftan berwarna pink yang kemudian penjual (mt) merespon dengan menyarankan warna lain dari baju yang dipertanykan oleh pembeli.

Pembeli : Yang ini berapa? (Memegang baju tersebut)

Penjual : 100 bisa ji kurang atau mau ki itu 120 mo

Percakapan di atas merupakan tindak menyarankan. Karena penjual (mt) menyarankan untuk membeli baju yang lain saja dengan harga Rp. 120. 000 karena baju tersebut kainnya lebih bagus meskipun model yang lama dibandingkan baju yang harganya Rp. 100.000.

B. Pembahasan

Berdasarkan penyajian hasil analisis data dapat diuraikan hasil penelitian tentang tindak tutur yang digunakan pada transaksi jual beli pakaian di Pasar Sentral Pangkep Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Berdasarkan hasil

(53)

41

penelitian tindak tutur ilokusi yaitu direktif yang terbagi atas lima yaitu memintah, memohon, bertanya, menyarankan dan memerintah.

Data-data yang diperoleh dan dibahas merupakan tindak tutur yang digunakan dalam transaksi jual beli yang terjadi di pasar sentral Pangkep Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Pembagian jenis tindak tutur dalam penelitian ini berdasarkan klasifikasi yang dilakukan Ibrahim 1993 (dalam Ida bagus, 2015) bahwa direktif mengekspresikan sikap penutur terhadap tindakan yang akan dilakukan mitra tutur misalya meminta, memohon, bertanya, memerintah dan menyarankan.

Tuturan yang berwujud direktif bersifat meminta, memohon, bertanya, memerintah dan menyarankan.. Hampir semua penjual yang terdapat di pasar sentral pangkep ini menggunakan kelima tuturan yang berwujud direktif. Hal ini dilakukan untuk menarik minat pembeli untuk membeli barang dagangannya.

Adapun contoh hasil penelitian tindak tutur direktif pada penelitian ini yaitu sebagai berikut.

1. Tindak tutur meminta : Pembeli : 60 mo kak

Penjual : Tidak bisa kak. ada ji kalau mauki iya tapi 80 beda ki bahannya sama yang 100

2. Tindak tutur memohon :

3. Tindak tutu bertanya

PePembeli : bisa 100 ?

Penjual : kalau yang ini bisa ji (Sambil

menunjuk baju)

Pembeli: (memperhatikan baju) “warnana ini ?”

(54)

42

4. Tindak tutur memerintah Pembeli: (memperhatikan baju yang

seharga 80) “liat bede

yang itu”

Penjual : (menggambilkan barang

yang ingin dilihat pembeli)

5. Tindak tutur menyarankan Pembeli : “kalau itu kaftan ta yang pink itu”

Penjual : “250” “kalau ini 300, ada warnanya, ini warna warnanya”

Hal demikian senada dengan pendapat Ibrahim 1993 (dalam Putrayasa,B.I 2014:91) bahwa tindak tutur direktif mengekspresikan sikap penutur terhadap tindakam yang akan dilakukan oleh mitra tutur, misalnya meminta, memohon, mengajak, bertanya, memerintah, dan menyarankan. Persamaan dari tiga penelitian relevan dengan penelitian yang telah peneliti lakukan adalah mengkaji tentang tindak tutur. Perbedaan antara penelitian sebelumnya dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah terletak pada objek penelitian dan lokasi penelitiannya.

Meskipun objek dan lokasi penelitiannya berbeda namun hasil dari penelitian tersebut memiliki letak persamaan yaitu menemukan tindak tutur direktif seperti bertanya dalam penelitian yang dilakukan oleh Rosmala Dewi (2014). Kemudian tindak tutur direktif menyarankan dalam penelitian yang dilakukan oleh A. Indahsary (2018) . Serta penelitian yang dilakukan oleh Megawati (2016) pula menemukan tindak tutur ilokusi seperti direktif.

Hal ini membuktikan bahwa tindak tutur merupakan kegiatan seseorang menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi kepada mitra tutur.

(55)

43

Kalimat yang dituturkan tidak semata-mata mengatakan sesuatu namun tuturan tersebut memiliki makna dan maksud tertentu sesuai konteks pembicaraan menyatakan tindakan. Oleh sebab itu, tindak tutur merupakan salah satu kajian penting yang harus diketahui karena tuturan tersebut tidak hanya pajanggan saja namun ada maksud dan tujuannya.

(56)

44 BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan dari tuturan hasil penelitan dapat disimpulkan hasil penelitian tentang tindak tutur yang terjadi pada transaksi jual beli pembeli dan pembeli pakaian di pasar sentral pangkep. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa tindak tutur yang digunakan oleh penjual di pasar sentral Pangkep merupakan suatu usaha untuk menarik perhatian pembeli begitupun sebaliknya. Dalam tuturan tersebut, ditemukan beberapa macam tindak tutur direktif yaitu meminta, memohon, bertanya, memerintah dan menyarankan.

Peristiwa tindak tutur dalam transaksi jual beli di pasar sentral Pangkep kabupaten Pangkajene dan Kepuluan mempunyai peranan yang sangat penting, yaitu menyampaikan maksud dan tujuan berbagai pihak. Penjual dan pembeli sama-sama menggunakan bahasa sebagai sarana untuk menyampaikan maksud dan tujuan untuk mencapai suatu kesepakatan bersama.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian maka peneliti memberikan saran yaitu sebagai berikut.

1. Diharapkan kepada para penjual dan pembeli agar lebih meningkatkan penggunaan tindak tutur yang bernilai positif agar dapat menujang proses transaksi jual beli sehingga tuturan yang disampaikan dapat dengan mudah

(57)

45

dimaknai tidak menyinggung perasaann kedua belah pihak yakni penjual dan pembeli.

2. Dalam proses jual beli diharapkan penjaulan pembeli menggunakan tuturan yang mudah dipahami agar transaksi jaul beli dapat berjalan dengan lancar.

Adapun harapan penulis semoga peneliti yang dilakukan dapat menambah wawasan bagi yang bergelut didunia pendidikan untuk menambah cakrawala pengetahuan tentang tindak tutur ilokusi. Sehingga, ada inovasi yang tercipta untuk menciptakan pembaharuan terkhususnya dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia baik di sekolah maupun tinkat universitas.

(58)

46

DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2003. “Linguistik Umum. Jakarta”: Rineka Cipta.

Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2010. Sosiolingistik: Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.

Chumming, Louise.Pragmatik: SebuahPerspektifMultidispliner.Yogyakarta:

PustakaPelajar.

Dewi, Rosmala. 2014. “Analisis Tindak Tutur Dalam Proses Pernikahan Adat Makassar Di Desa Bungung Loe Kecamatan Turatea Kabupaten Jeneponto (Suatu Analisis Pragmatik)”. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Makassar.

Indahsary, A. 2018. “Tindak Tutur Pappaisseng Masyaraakat Kajuara Kabupaten Bone”. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Makassar.

Megawati. 2016. “Tindak Tutur Dalam Novel Ayat-Ayat Cinta Karya Habibburahman El- Shirazy” Skripsi. Universitas Muhammadiyah

Makassar

Pateda, Mansoer. 1990. “Aspek-aspek Psikolinguistik”.Flores-NTT: Nusa Indah Putrayasa,B.I.2014.”Pragmatik”. Yogyakarta: GrahaIlmu

Putrayasa, Ida Bagus.2014. “Pragmatik”, Yogyakarta: Graha Ilmu Rahardi, Kunjana.2009.”Sosiopragmatik”, Jakarta: Erlangga.

Rohmadi, Muhammad. 2010. “PragmatikTeoridanAnalisis”, Surakarta: Yuma Pustaka.

Rahardi, Kunjana. 2003. BerkenalandenganIlmuBahasaPragmatik. Malang: Doima

Subyakto-Nababan, S. U. 1992. “Psikolinguistik: Suatu Pengantar”. Jakarta: Depdikbud.

(59)

47

Sudaryanto. 2001. “Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa”. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Sugiyono.2018. “Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,

Kualitatif, dan R&D”. Bandung: Alfabeta.

Syafruddin.2018. “Membangun Bahasa Santun”, Makassar, Universitas Muhammadiyah Makassar. Sigodang.2008.Ringkasan,(Online) (http://sigodang.blogspot.com/2008/10/pengertian-sosiolinguistik-selengkapnya.html(1-2-2019) Wikipedia.2017.“PengertiandanKlasifikasiPasar”(online). https:id.mWikipedia.org/wiki/pasar&ei=,diakses 3 Januari 2019. Wikipedia.2015.”TindakTutur”(online).

https://id.wikipedia.org/wiki/Tindak_tutur, diakses 28 April 2019. Yule,George. 2006. Pragmatik. Yogyakarta: PustakaPelajar.

Gambar

TABEL TRANSKIP BENTUK DAN FUNGSI TINDAK TUTUR DIREKTIF  Keterangan : Dir : Direktif

Referensi

Dokumen terkait

Strategi yang didapatkan adalah memberikan panduan kepada masyarakat tentang cara memesan GO-JEK menggunakan aplikasi.Strategi WO diterapkan berdasarkan perbandingan

Empat belas Pasal dalam Permenhub 26/2017 yang telah dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat oleh MA karena telah bertentangan dengan Pasal 3,

Dalam konteks penelitian ini, maka yang dimaksud dengan sikap pengemudi angkutan taksi (taksi blue bird) adalah ungkapan perasaan seorang pengemudi terhadap

Penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan di kelas XI T1 SMK N1 Kasihan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pembelajaran PPKn dengan menerapkan model

Hal ini dapat dijelaskan bahwa tidak ada hubungan antara luas lahan pengurus dengan peranan pengurus Poktan, disebabkan karena luas lahan pengurus berkelompok

Nira tanaman palem yang manis mengalami fermentasi spontan yang mengubah gula menjadi etanol, asam laktat, dan asam asetat (Urbina & Terán, 2014).. Pembuatan minuman

disebabkan oleh balutan yang tidak lembab. Warna dasar luka merah artinya jaringan granulasi dengan vaskulerisasi yang baik dan memiliki kecendrungan mudah berdarah. Warna

the variants of curriculum such as Competence Based Curriculum (KBK), School Based Curriculum (KTSP), Reflective Educational Paradigm (PPR), Character.Based Syllabus, the