1 Mahasiswa Jurusan Bimbingan dan Konseling FIP UNJ, [email protected] 2 Dosen Bimbingan dan Konseling FIP UNJ, [email protected]
3 Dosen Bimbingan dan Konseling FIP UNJ, [email protected]
STUDI KASUS DAMPAK PSIKOLOGIS BULLYING
PADA SISWA TUNARUNGU DI SMK NEGERI 30
JAKARTA
Oleh:
Ria Damayanti
1)Dra. Wirda Hanim, M.Psi.
2)Karsih, M.Pd.
3)Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah mengungkap berbagai fakta tentang dampak psikol-ogis bullying pada siswa tunarungu di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Neg-eri 30 Jakarta. Metode yang digunakan adalah studi kasus dalam pendekatan kualita-tif. Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 30 Jakarta, dengan dua responden yai-tu BA siswa kelas XI Busana 2 dan RNH XII Boga 3. Pengumpulan data dilakukan me-lalui wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Data hasil penelitian dianalisis se-cara deskriptif kualitatif melalui studi kasus, adapun penyajian data menggunakan narasi. Pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan triangulasi sumber data yai-tu dengan pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data yaiyai-tu responden, wa-li kelas, guru BK dan teman sebaya. Hasil penewa-litian keseluruhan menunjukan adanya perilaku bullying yang berdampak secara psikologis anak tunarungu. Dampak psikol-ogis yang dialami BA pada aspek dikucilkan, aspek reaksi emosional dan aspek keha-diran. Sedangkan RNH mengalami dampak psikologis bullying pada aspek dikucil-kan, aspek reaksi emosional, aspek dampak dalam pendidikan dan aspek bunuh diri Kata kunci: Bullying, Dampak psikologis bullying, Siswa tunarungu
Pendahuluan
Pemberitahuan pada media masa beberapa ta-hun terakhir ini selalu dipenuhi oleh berita seputar hubungan yang tidak sehat antara siswa-siswa se-nior dengan juse-nior di sekolah-sekolah menengah. Gejala perilaku yang tidak sehat antara senior terha-dap junior di lingkungan sekolah menengah, dikenal dengan istilah bullying. Bullying merupakan salah satu bentuk perilaku agresif yang bertujuan. Menya-kiti korban, dan terjadi secara berulang-ulang serta ada ketidakseimbangan kekuatan antara korban dan pelaku. Beberapa komentar dan analisis pakar me-nyoroti masalah bullying sebagai akibat tekanan ekonomi, masalah keluarga, dan kerapuhan psiko- logis pelaku. Namun, bullying itu sendiri adalah se-buah siklus, dalam arti pelaku saat ini kemungkinan besar adalah korban dari pelaku bullying sebelum-nya.
SMK Negeri 30 Jakarta sendiri merupakan salah satu sekolah yang menerima anak berkebutuhan
▸ Baca selengkapnya: contoh sk bullying smk
(2)khusus, artinya sekolah tersebut merupakan sekolah penyelenggara pendidikan inklusif. Anak berkebu-tuhan Khusus tidak memperoleh perlakuan khusus di SMK Negeri 30 Jakarta, misalnya pemberlakuan kurikulum khusus atau penyediaan Guru Pendam-ping Khusus (GPK). Pada tahun 2012 ketika per-gantian Kepala Sekolah, kepala sekolah yang baru menyatakan bahwa SMK Negeri 30 Jakarta tidak la- gi menjadi sekolah penyelenggara pendidikan inklu-sif dan tidak menerima siswa berkebutuhan khusus.
Kondisi keterbatasan yang dimiliki anak berke-butuhan khusus termasuk anak tunarungu yang mengikuti pendidikan di sekolah umum, tidak me-nutup kemungkinan dapat memunculkan perilaku seperti; dikucilkan, ejekan oleh anak-anak normal lainnya. Berdasarkan informasi awal tersebut, pene-liti melakukan studi pendahuluan guna mendapat- kan keterangan lain terkait bullying yang terjadi pa-da anak tunarungu di SMK Negeri 30 Jakarta.
Penelitian ini difokuskan pada “Dampak Psiko-logis Bullying pada Siswa Tunarungu”. Bullying merupakan tindakan yang dilakukan oleh indivi-du atau kelompok indiviindivi-du terhadap indiviindivi-du atau kelompok lainnya dengan tujuan untuk menimbul-kan rasa takut, sakit dan tertekan secara fisik atau pun perasaan dengan cara kekerasaan fisik maupun non fisik. Hasil penelitian ini diharapkan memberi-kan manfaat sebagai masunon fisik. Hasil penelitian ini diharapkan memberi-kan bagi peneliti untuk melihat gambaran mengenai dampak psikologis pa- da siswa tunarungu di SMK N 30 Jakarta, juga ma- suk-an bagi kepala sekolah dan guru untuk melaku- kan upaya pencegahan dan penanganan terhadap ka-sus bullying yang dialami siswa tunarungu di SMK Negeri 30 Jakarta.
Kajian Teori
Sejiwa (2007:2) Bullying berasal dari kata bull (Bahasa Inggris) yang berarti banteng, dan diketa-hui banteng adalah hewan yang senang menyeruduk kesana dan kemari. Dalam artian bahwa pelaku bul- lying adalah orang yang sering atau suka melaku-kan penyerangan dengan tujuan untuk menyakiti orang lain baik secara fisik maupun mental. Bul-lying merupakan sebuah situasi dimana terjadinya penyalahgunaan kekuatan atau kekuasaan yang di- lakukan oleh seseorang atau sekolompok orang. Pi-hak yang kuat disini tidak hanya berarti kuat dalamukuran fisik, tapi bisa juga kuat secara mental. Coloroso (2007:47) membagi bullying menjadi menjadi tiga bentuk umum yaitu verbal, fisik dan
relasional. Bullying secara verbal, merupakan ben-tuk bullying yang sering terjadi dan paling mudah dilakukan. Bentuk bullying secara verbal melipu-ti memanggil dengan panggilan tertentu yang me- miliki asosiasi negatif, misalnya si pincang, si ca-cat, mengambil benda (uang, makanan), menghina, mengeluarkan kata-kata yang sifatnya rasis. Bully-ing secara fisik merupakan bentuk bullymengeluarkan kata-kata yang sifatnya rasis. Bully-ing yang mudah untuk dideteksi dan kasat mata. Hal ini me-liputi memukul, menampar, menendang, mencekik, dan lain-lain. Bullying relasional adalah pelemah- an harga diri korban yang dilakukan melalui peng-abaian. Bentuk bullying ini sukar dideteksi. Sifat bullying ini adalah menghilangkan kepercayaan diri orang dengan cara menjauhkan individu dengan ke-lompok permainan, menganggap ketidak beradaan korban dalam lingkungan pergaulan dan menyebar-kan gossip tentang korban.
Bullying memiliki dampak fisik dan psikologis, secara fisik Sullivan (2000:27) menjelaskan bahwa perilaku bullying diantaranya adalah dampak yang mengakibatkan sakit secara fisik seperti patah tu-lang, gigi rusak, gegar otak, luka dimata bahkan kerusakan otak permanen. Perilaku bullying yang dirasakan oleh korban akan memberikan dampak yang tidak baik bagi perkembangan korban. Keti-ka siswa menjadi korban bullying mengakui bah- wa mereka sangat terganggu dengan perlakuan bul-lying. Dampak psikologis bullying menurut Rigby (2007:47-57) adalah harga diri, dikucilkan, ketidak-hadiran, reaksi Emosional, efek domino, dampak dalam pendidikan dan bunuh diri.
Asep Supena (2012:89) Istilah tunarungu diam-bil dari kata “tuna” dan “rungu”, tuna artinya kurang dan rungu artinya pendengaran. Orang dikatakan tu-arungu apabila ia tidak mampu mendengar atau kurang mampu mendengar suara. Secara fisik, in- dividu tunarungu tidak berbeda dengan individu de-ngar pada umumnya, sebab orang akan mengetahui bahwa individu menyandang ketunrunguan pada saat bicara atau berkomunikasi, mereka bicara tanpa suara atau dengan suara yang kurang atau tidak jelas artikulasinya, atau bahkan tidak dapat bicara sama sekali, mereka hanya berisyarat.
Bullying bisa menjadi bagian dari kehidupan in- dividu yang mengalami hambatan pendengaran (tu-narungu). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh the National Fondation For the Deaf (NFD), yang dilakukan dilingkungan rumah maupun ling- kunan kerja, baik terhadap laki-laki maupun perem-puan bullying yang terjadi pada individu tunaru-ngu terjadi dari hal yang paling sederhana misal- kan panggilan dan kata-kata yang menghina, kare- na mereka tidak dapat mendengar dengan baik se-hingga dapat dipanggil dengan sebutan si tuli, dan lain sebagainya.
Kehilangan kemampuan pendengaran merupa-kan kehilangan yang sanggat besar pada kemam- puan sensoris, sehingga individu tunarungu meng-alami berbagai masalah ketidakmampuan dalam berkomunikasi dengan lingkungan sosial sehingga mereka rentan mejadi korban bullying. Sikap peno- lakan dari lingkungan sosial pada keberadaan indi- vidu tunarungu itu sendiri merupakan perilaku bul-lying.
Perilaku bullying tersebut dapat menimbul-kan dampak fisik dan dampak psikologis. Dampak fisik dari perlakuan bullying mudah diketahui kare-na dampaknya bisa dilihat secara kasat mata berupa kondisi lebam, lacet, luka, dan mungkin cedera. Akan tetapi dampak perlakuan bullying dalam psikologis remaja lebih sulit diungkap karena tidak kasat mata. Dampak perlakuan bullying dalam hal psikologis ini menimbulkan dampak yang amat besar dan meru-sak bagi kehidupan maupun sisi akademik remaja yang menjadi korbannya. Dampak psikologis bully- ing tersebut diantaranya; harga diri, dikucilkan, keti-dakhadiran, reaksi emosional, efek domino, dampak dalam pendidikan dan bunuh diri,.
Metode Peneltian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kua-litatif dengan metode studi kasus tujuannya untuk memperoleh gambaran mengenai dampak psikolo-gis bullying pada siswa tunarungu di SMK Negeri 30 Jakarta. Penelitian berlangsung sejak bulan Ok-tober 2012 sampai dengan Juli 2013. Sampel penelitian berjumlah dua orang, ditentu- kan dengan teknik emergent sampling design. Me- lihat adanya responden yang sesuai dengan perma-salahan penelitian yang dilakukan, maka penelitian
membatasi responden yang diambil yaitu dua re-sponden. Responden yang diteliti dalam penelitian ini adalah dengan kriteria sebagai berikut berada pa-da fase remaja berstatus siswa SMK, siswa sebagai korban bullying di sekolah, siswa yang mempunyai hambatan pendengaran (tunarungu). Data dikumpulkan melalui wawancara, observa-si dan studi dokumentasi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi (pengamatan), interview (wawancara), dan dokumentasi. Wawancara menurut Esterberg merupakan pertemuan dua orang untuk ber- tukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehing-ga dapat dikonstruksikan maka suatu topik terten- tu. Pada penelitian ini menggunakan observasi ter-us terang atau tersamar, peneliti dalam melakukan pengumpulan data menyatakan terus terang kepa- da sumber data, bahwa ia sedang melakukan penel- itian. Jadi mereka yang akan diteliti mengetahui se-jak awal sampai akhir aktivitas peneliti, tetapi dalam suatu saat peneliti juga tidak terus terang atau ters-amar dalam observasi, dalam hal ini untuk meng-hindari kalau suatu data yang dicari merupakan data yang masih dirahasiakan. Kemungkinan kalau dilakukan dengan terus terang, maka peneliti tidak akan diijinkan untuk melakukan observasi. Marshall & Roosman mengatakan proses analisa data mencakup tiga aktivitas yaitu reduksi data yai-tu berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari te- ma dan polanya, display (penyajian data) melaku-kan analisis dan penarima dan polanya, display (penyajian data) melaku-kan kesimpulan, dan peng-ambilan keputusan atau proses verifikasi.
Hasil dan Pembahasan Penelitian
BA mengalami dampak psikologis bullying pa- da aspek dikucilkan, reaksi emosional, dan keha- diran di sekolah. Akibat dikucilkan, dampak psiko- gis yang dialami BA merasa kesepian dan merasa ti- dak diterima oleh teman-teman lain di kelasnya. Se- bagai dampak psikologis bullying pada aspek reak-si emosional BA sering menunjukkan sikap marah terhadap pelaku bullying kepadanya. Sedangkan pa- da aspek kehadiran, BA pernah pura-pura sakit un- tuk tidak masuk sekolah karena sedang marah pa-da perlakuan bullying dari teman-temanya. Meski mengalami perlakuan bullying dikucilkan, BA ti-dak mengalami dampak psikologis pada aspek harga
diri, efek domino, dampak dalam pendidikan, dan upaya bunuh diri.
RNH mengalami dampak psikologis bullying pada aspek dikucilkan, reaksi emosional, dampak dalam pendidikan, dan upaya bunuh diri. Pada as-pek dikucilkan menyebabkan RNH sering terlihat murung, sedih, bahkan menangis karena merasa se-lalu dijauhi oleh teman-teman di kelasnya. Sebagai reaksi emosional dari sikap dan perlakuan bullying dari teman-temannya, RNH sering diam, manangis, dan kadang-kadang marah-marah. Pada aspek dam- pak dalam pendidikan, prestasi belajar RNH men-galami penurunan dibandingkan dengan prestasi RNH saat masih di jenjang Sekolah Menengah Per-tama (SMP). RNH juga pernah mencoba bunuh diri di depan teman-temannya dengan menggunakan pisau dan gunting. Akan tetapi BA tidak mengalami dampak psikologis bullying pada aspek harga diri, ketidakhadiran di sekolah, dan efek domino.
Berbagai kesulitan dan keunikan dalam mene-mukan fakta tentang dampak psikologis bullying pada kasus BA dan RNH masing-masing berbeda. Kesulitan yang dialami untuk menemukan fakta ten- tang dampak psikologis bullying pada kasus BA di- antaranya, karena BA merupakan tunarungu dari la-hir, oleh karena itu BA lebih sulit berkuminikasi dua arah sehingga harus mengulang-ulang pertanyaan dan pernyataan saat wawancara untuk mengerti apa yang dimaksud. Sedangkan kesulitan untuk mene-mukan fakta tentang dampak psikologis bullying pada kasus RNH diantaranya karena RNH tunaru- ngu bukan sejak lahir sehingga untuk berkomunika-si dua arahnya lebih mudah dimengerti dengan RNH sehingga tidak harus berulang-ulang untuk mem-berikan pertanyaan dan peryataan saat wawancara. Meskipun dengan berbagai kesulitan yang diala-mi seperti dijelaskan di atas, pada akhirnya peneliti dapat menganlisis ksimpulan umum secara keselu- ruhan bahwa dalam dampak psikologis bullying pa-da aspek dikucilkan adalah teman-teman tidak mau berteman dengan siswa tunarungu, mereka hanya berteman dengan siswa lain yang sama-sama tuna- rungu. Di samping itu juga merasa kesepian, mera-sa tidak diterima oleh teman-teman lain di kelasnya dan sering terlihat murung.
Pada aspek ketidakhadiran, dampak psikologis bullying pada anak tunarungu di SMK Negeri 30 Ja- karta adalah pernah pura-pura sakit untuk tidak ma-suk sekolah karena tidak nyaman akibat sikap dari teman-temannya. Pada aspek reaksi emosional yai-tu sering menujukkan sikap marah, sering diam dan menangis.
Pada aspek dampak dalam pendidikan dampak psikologis bullying pada anak tunarungu di SMK Negeri 30 Jakarta adalah prestasi belajar di sekolah ini dan kurang konsentrasi, dan pada aspek bunuh diri pernah merasa putus asa, sempat ingin bunuh diri dan mencoba bunuh diri.
Kesimpulan dan Saran
Dalam tujuh aspek dampak psikologis bullying yaitu harga diri, dikucilkan, ketidakhadiran, reak- si emosional, efek domino, dampak dalam pendidi-kan, bunuh diri, BA mengalami dampak psikologis bullying pada aspek dikucilkan, reaksi emosional, dan kehadiran di sekolah sedangkan RNH mengala- mi dampak psikologis bullying pada aspek dikucil-kan, reaksi emosional, dampak dalam pendidimi dampak psikologis bullying pada aspek dikucil-kan, dan upaya bunuh diri.
Saran untuk Seluruh guru yang ada di SMK Ne-geri 30 Jakarta sebaiknya selalu memberi nasehat kepada seluruh siswa bahwa setiap siswa mempu- nyai kelebihan dan kekurangan masing-masing se-hingga tidak boleh ada bullying. Saran untuk Gu- ru Bimbingan melakukan Konseling Individu teru- tama siswa yang rentan menjadi korban bullying ter-masuk siswa tunarungu serta melakukan Konseling kelompok juga sebaiknya dilakukan untuk mem-berikan penyadaran bahwa perilaku bullying tidak dibenar-kan. Saran untuk Sekolah yaitu sebaiknya memberi sanksi yang tegas dan jelas terhadap siswa yang melakukan perbuatan bullying pada siswa lainnya, termasuk perilaku bullying terhadap siswa tunarungu. Selain itu sebaiknya disediakan guru pendamping khusus untuk siswa yang mengalami hambatan pendengaran atau tunarungu. Saran untuk Orangtua Siswa Tunarungu yaitu sebaiknya mam-pu menjalin komunikasi yang baik dengan anaknya, sehingga siswa tunarungu mau terbuka dan berterus terang pada orangtuanya jika dia mendapatkan per-lakuan bullying di sekolah.
Daftar Pustaka
Asep Supena dan Murni Winarsih. (2012). Pendidi-kan Anak Berkebutuhan Khusus Jakarta: 28 Jaya Printing&Publisher,. Coloroso, Barbara. (2007). Stop Bullying. Jakarta: Ser-ambi Ilmu Semesta. Jurnal the National Fondation For the Deaf (NFD) New Zealand2011 (www.nfd.org.nz/siteresources/library/ Hearing_Week_2011?Bullying_Media_Release. pdf&sa). (Diakses pada tanggal 7 Februari 2013) Rigby, Ken. (2007). Bullying in School and what to do about it. Australia: ACER Press, an imprint of Aus-tralian Council for education research Ltd 19 prospect hill road, Cambenwel Sugiyono. (2008). Memahami penelitian kualitatif Band-ung: Alfabeta. Sullivan, Keith. (2001). The Bullying Handbook Second-ary School. Australia : Oxford University Press. _______, Mark Cleary, and Ginny Sullivan. (2005). Bul-lying in Secondary Schools London: Paul Chapman Publishing Yayasan Semai Jiwa Amini. (2007). Bullying : Panduan Bagi Orangtua dan Guru. Jakarta : Grasindo