PENGEMBANGAN MULTIMEDIA INTERAKTIF PADA MATA
PELAJARAN IPA KELAS VIII DI SMP NEGERI 2 SERIRIT
Kadek Oka Wira Satria
1, I Nym. Wirya
2, Desak Pt. Parmiti
3 1,2,3Jurusan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
e-mail: [email protected]
1, [email protected]
2,
[email protected]
3Abstrak
Permasalahan yang melandasi penelitian ini adalah keterbatasan media pembelajaran yang menarik dan sesuai dengan materi ajar untuk meningkatkan minat belajar siswa dan rendahnya kualitas belajar IPA pada siswa dari kriteria ketuntasan minimal. Penelitian ini bertujuan untuk 1) menghasilkan multimedia pembelajaran interaktif pada mata pelajaran IPA kelas VIII semester genap tahun pelajaran 2014/2015 di SMP Negeri 2 Seririt 2) mengetahui kualitas multimedia pembelajaran interaktif 3) mengetahui efektifitas penggunaan multimedia pembelajaran interaktif. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan, dengan menggunakan model pengembangan ADDIE. Penelitian ini melibatkan siswa kelas VIIID dan VIIIE SMP Negeri 2 Seririt. Data kevalidan uji ahli media, ahli isi, ahli desain, uji perorangan, uji kelompok kecil dan uji lapangan diperoleh dengan menggunakan angket. Data yang diperoleh tersebut dianalisis secara deskriptif kualitatif, analisis deskriptif kuantitatif dan analisis statistik inferensial. Hasil evaluasi ahli isi sebesar 94% berada pada kualifikasi sangat baik. Hasil evaluasi ahli media sebesar 87,27% berada pada kualifikasi baik. Hasil evaluasi ahli desain sebesar 85% berada pada kualifikasi baik. Hasil uji perorangan sebesar 94% berada pada kualifikasi sangat baik. Hasil uji kelompok kecil sebesar 92,83% berada pada kualifikasi sangat baik. Hasil uji lapangan sebesar 91,4% berada pada kualifikasi sangat baik. Penghitungan hasil belajar secara manual diperoleh hasil t hitung sebesar 19,048. Harga t tabel taraf signifikansi 5% adalah 2,0017. Jadi harga t hitung lebih besar daripada harga t tabel sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Maka terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar bahasa IPA siswa antara sebelum dan sesudah menggunakan multimedia pembelajaran interaktif. Nilai rata-rata setelah menggunakan media (89,07) lebih tinggi dibandingkan sebelum menggunakan media (60,27).
Kata kunci: Pengembangan, Multimedia interaktif, IPA
Abstract
The problem underlying this research is interesting learning media limitations and in accordance with the teaching materials to increase student interest and poor quality science learning in students from a minimum completeness criteria These research objectives are: 1) to produce multimedia interactive learning of science in second semester of class VIII academic year 2013/2014 in SMP Negeri 2 Seririt, 2) to know the quality of multimedia interactive learning ,3) to know the effectiveness of multimedia interactive learning. This research type is Research and Development, with ADDIE development model. This research involved graders VIIID and VIIIE SMP Negeri 2 Seririt. Data validity test media experts, content experts, expert design, individual testing, small group testing and field tests obtained using a questionnaire. The data obtained were analyzed by descriptive qualitative,
quantitative descriptive analysis and inferential statistical analysis. The result of the expert evaluation of the content was 94% at the excellent qualifications. The result of the expert evaluation of media was 87,27% at the good qualifications. The result of the expert evaluation of design was 85% at the good qualifications. Individual test results of 94% at the excellent qualifications. The test result of small group was 92,83% at excellent qualification. The result of field tests was 91,4% at excellent qualification. Manual counting of learning outcomes obtained t count value 19,048. Value of t table with 5% significance was 2,0017. So the value of t count is greater than the value of t table so H0 is rejected and H1 is accepted. So there are significant differences of science student learning outcomes between before and after the use of multimedia interactive learning. The mean value after using the multimedia interactive learning (89,07) was higher than before using the media (60,27).
Keywords: development, multimedia interactive learning, science
PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi informasi beberapa dekade belakangan ini berkembang dengan cukup pesat, sehingga berdampak pada perubahan paradigma masyarakat dalam mencari dan mendapatkan informasi yang tidak lagi terbatas pada informasi surat kabar, audio visual dan elektronik, tetapi juga sumber-sumber informasi lainnya. Salah satu bidang yang mendapatkan dampak yang cukup berarti dengan perkembangan teknologi ini adalah bidang pendidikan, dimana pada dasarnya pendidikan merupakan suatu proses komunikasi dan informasi dari pendidik kepada peserta didik yang berisi informasi-informasi pendidikan, yang memiliki unsur-unsur pendidik sebagai sumber informasi, media sebagai sarana penyajian ide, gagasan dan materi pendidikan serta peserta didik itu sendiri.
Kehadiran dan kemajuan teknologi
di era komunikasi global dewasa ini telah
memberikan
peluang
dan
perluasan
interaksi baik antara pendidik dan peserta
didik, maupun antara sesama peserta didik
dan sumber-sumber belajar dapat terjadi
kapan saja dan di mana saja tanpa dibatasi
oleh ruang dan waktu. Selain itu, dengan
penggunaan teknologi proses penyampaian
dan
penyajian
materi
pembelajaran
maupun gagasan dapat menjadi lebih
menarik dan menyenangkan.
Guru sebagai
pelaku utama proses pembelajaran di kelas
merupakan potensi utama perkembangan
pendidikan, sudah selayaknya guru setiap
saat harus mengembangkan potensinya
dalam rangka meningkatkan kualitas
pembelajaran. begitu banyak cara yang
dapat ditempuh guru dalam rangka
meningkatkan kualitas pembelajaran, salah
satunya adalah dengan memanfaatkan
penggunaan media pembelajaran.
Dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga memperkaya sumber dan media pembelajaran dalam berbagai bentuk seperti buku teks, modul, transparansi OHP, slide Power Point, gambar/foto, animasi, film/video, siaran televisi, siaran radio, halaman Web, program pembelajaran berbantuan komputer, dan
software aplikasi pendukung
pembelajaran, maka pendidik yang profesional harus mampu memilih, mengembangkan dan memanfaatkan berbagai jenis media pembelajaran dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi tersebut. Kemajuan teknologi juga telah memungkinkan memanfaatan berbagai jenis/macam media secara bersamaan dalam bentuk multimedia pembelajaran. “Suatu istilah generik bagi suatu media yang menggabungkan berbagai macam media baik untuk tujuan pembelajaran maupun bukan disebut Multimedia. Keragaman media ini meliputi
teks, audio, animasi, video, bahkan simulasi” (Sudarma dan Oka, 2008).
Penggunaan multimedia interaktif yang memuat komponen audio-visual (suara dan tampilan) untuk penyampaian materi pembelajaran dapat menarik perhatian siswa untuk belajar. Munir (2013:7) menyatakan bahwa “Multimedia dapat memberikan nuansa baru dalam pemerolehan informasi. Multimedia bukan hanya menyediakan lebih banyak teks melainkan juga menghidupkan teks dengan menyertakan bunyi, gambar, musik, animasi dan video”. Apabila dirancang secara cermat, pengembangan multimedia pembelajaran interaktif dapat mempermudah guru untuk menyampaikan materi pelajaran dalam proses belajar mengajar. Namun, saat ini pengembangan multimedia pembelajaran interaktif masih jarang digunakan di sekolah-sekolah, seperti yang terjadi di SMP Negeri 2 Seririt.
SMP Negeri 2 Seririt merupakan salah satu sekolah menengah pertama yang sudah menerapkan proses pembelajaran berbasis TIK. Sekolah ini lebih menekankan penggunaan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar. Akan tetapi tidak semua guru mata pelajaran menekankan penggunaan teknologi informasi dalam proses belajar mengajarnya, salah satunya adalah dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). IPA adalah salah satu mata pelajaran wajib yang diberikan oleh guru di SMP Negeri 2 Seririt.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan di SMP Negeri 2 Seririt dengan guru mata pelajaran IPA kelas VIII yaitu Bapak I Made Liun pada tanggal 8 Desember 2014, ditemukan terdapat beberapa permasalahan yang ada, sehingga menyebabkan rendahnya kualitas proses pembelajaran IPA khususnya siswa kelas VIII di SMP Negeri 2 Seririt. Adapun permasalahan yang dihadapi adalah sebagai berikut. (1) Keterbatasan media pembelajaran yang menarik dan sesuai dengan materi ajar untuk meningkatkan minat belajar siswa, (2) siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran dikelas, dan (3) rata-rata hasil belajar siswa pada mata pelajaran
IPA rendah yaitu 71.47, sedangkan KKM yang di tetapkan pada mata pelajaran IPA yaitu 79. Hal ini membuktikan bahwa proses pembelajaran belum optimal sehingga berakibat pada hasil belajar siswa yang belum mencapai KKM, untuk membantu siswa dalam memahami mata pelajaran IPA, maka dipandang sangat perlu dikembangkan sebuah multimedia pembelajaran interaktif.
Berdasarkan pemaparan diatas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana desain multimedia pembelajaran interaktif pada mata pelajaran IPA kelas VIII semester genap tahun pelajaran 2014/2015 di SMP Negeri 2 Seririt; (2) Bagaimana validitas produk multimedia pembelajaran interaktif dengan model ADDIE pada mata pelajaran IPA kelas VIII semester genap tahun pelajaran 2014/2015 di SMP Negeri 2 Seririt menurut review para ahli dan uji coba produk; (3) Bagaimanakah efektivitas penggunaan produk multimedia pembelajaran interaktif dengan model ADDIE pada mata pelajaran IPA kelas VIII semester genap tahun pelajaran 2014/2015 di SMP Negeri 2 Seririt.
Berdasarkan rumusan masalah, adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu: (1) Mendeskripsikan desain pengembangan multimedia pembelajaran interaktif dengan model ADDIE pada mata pelajaran IPA untuk siswa kelas VIII semester genap tahun pelajaran 2014/2015 di SMP Negeri 2 Seririt.; (2) Menguji validitas hasil pengembangan multimedia pembelajaran interaktif dengan model ADDIE pada mata pelajaran IPA untuk siswa kelas VIII semester genap tahun pelajaran 2014/2015 di SMP Negeri 2 Seririt, menurut review ahli, uji coba perorangan, uji coba kelompok kecil dan uji coba lapangan.; (3) Mengetahui efektivitas penggunaan produk multimedia pembelajaran interaktif dengan model ADDIE pada mata pelajaran IPA kelas VIII semester genap tahun pelajaran 2014/2015 di SMP Negeri 2 Seririt.
METODE
Model penelitian yang digunakan dalam pembuatan adalah penelitian pengembangan. Model penelitian pengembangan yang digunakan dalam pengembangan multimedia pembelajaran interaktif adalah model ADDIE. Pemilihan model ini didasari atas pertimbangan bahwa model ini mudah untuk dipahami, selain itu juga model ini dikembangkan secara sistematis dan berpijak pada landasan teoretis desain pembelajaran yang dikembangkan. Model ini disusun secara terprogram dengan kegiatan yang sistematis dalam upaya pemecahan masalah belajar yang berkaitan dengan media belajar yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. Tegeh & Kirna (2010) menyatakan tahapan penelitian pengembangan pada model ADDIE yaitu: (1) Analisis (Analysis), (2) Desain/ perancangan (Design),(3) Pengembangan (Development), (4) Implementasi atau eksekusi (Implementation), dan (5) Evaluasi/ umpan balik (Evaluation). Kelima tahap prosedur pengembangan tersebut dapat dilihat pada bagan tahap-tahap pengembangan sebagai berikut.
Gambar 1. Tahapan Model ADDIE (sumber Tegeh & Kirna, 2010) Sesuai dengan model yang dipilih, tahap 1 Analisis (Analysis). Analisis dilakukan dengan menentukan mata pelajaran, identifikasi mata pelajaran, merumuskan Kompetensi Dasar berdasarkan silabus serta menetapkan indikator. Mata pelajaran yang dipilih
untuk pengembangan media
pembelajaran ini adalah mata pelajaran IPA. Media yang dimaksud adalah
multimedia pembelajaran interaktif pada mata pelajaran IPA kelas VIII semester genap di SMP Negeri 2 Seririt tahun pelajaran 2014/2015. Mata pelajaran IPA pada jenjang SMP diharapkan siswa lebih difokuskan pada pembelajaran tentang kondisi geografis dan penduduk di suatu wilayah, maka sangat perlu dikembangkan suatu media yang relevan dan inovatif dalam mata pelajaran IPA, sehingga nantinya dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan mengatasi keterbatasan media disuatu lembaga pendidikan. Berdasarkan hasil analisis kurikulum di SMP Negeri 2 Seririt, maka dapat diidentifikasi kompetensi dasar mata pelajaran IPA kelas VIII semester genap yaitu menyelidiki tekanan pada benda padat, cair, dan gas serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Tahap 2 Desain/ perancangan (Design). Tahap perancangan adalah membuat spesifikasi secara rinci mengenai proyek, gaya, dan kebutuhan materi untuk produk. Dalam merancang atau mendesain produk dilakukan melalui dua tahap, yaitu (1) memilih dan menetapkan software/perangkat lunak yang digunakan, dan (2) mengembangkan flow chart dan storyboard untuk memvisualisasikan alur kerja produk mulai awal hingga akhir.
Tahap 3 Pengembangan
(Development). Pada tahap ini merupakan proses yang dilakukan untuk mewujudkan desain menjadi kenyataan atau disebut juga dengan tahap produksi media. Artinya, jika dalam desain diperlukan suatu software berupa multimedia pembelajaran, maka multimedia tersebut harus dikembangkan. Selain itu, pada tahap ini kegiatan yang dilakukan juga berupa pengumpulan bahan atau materi pelajaran yang diperlukan untuk pembuatan produk seperti: materi pokok, aspek pendukung (teks, gambar, video, audio dan animasi).
Tahap 4 Implementasi atau eksekusi (Implementation). Tahap produksi media sudah dilakukan, selanjutnya melanjutkan langkah nyata untuk menerapkan multimedia pembelajaran interaktif yang dibuat untuk mengetahui pengaruhnya
Analyze
Evaluate Design
Implementati on
terhadap kualitas pembelajaran yang meliputi keefektifan, kemenarikan dan efesiensi pembelajaran. Dalam penerapan produk hal yang harus dilakukan sebagai berikut: (a) Menghubungi para ahli, baik ahli isi, ahli desain pembelajaran, dan ahli media, untuk memberikan instrument penilaian kepada para ahli untuk uji validasi, (b) Berkoordinanasi dengan guru yang mengajar, sehingga terjadi kolaborasi yang baik antara pengembang dan guru, (c) Menyiapkan piranti yang diperlukan dalam penayangan media seperti komputer, LCD, dan sebagainya, (d) Pelaksanaan uji coba perorangan, uji coba kelompok kecil, uji coba kelompok besar dan uji coba lapangan untuk validasi produk, (e) Pelaksanaan uji efektivitas produk pada siswa yang memiliki nilai hasil belajar rendah dengan melakukan pretest dan postest.
Tahap 5 Evaluasi/ umpan balik (Evaluation). Tahap terakhir adalah melakukan evaluasi atau penilaian dari data yang telah terkumpul pada tahap penerapan. Evaluasi yang didapatkan berupa evaluasi formatif dan sumatif yang dilakukan untuk mengumpulkan data pada setiap tahapan yang digunakan untuk mengetahui tingkat validasi dan efektivitasnya terhadap hasil belajar dan kualitas pembelajaran. Evaluasi formatif dilakukan untuk mengukur atau menilai produk pembelajaran yang mencakup penilaian evaluasi validasi ahli, uji coba peorangan, kelompok kecil, dan lapangan, sedangkan evaluasi sumatif adalah suatu evaluasi yang berada pada tahap konklusi dari suatu produk pembelajaran (Yaumi, 2013). Evaluasi sumatif dilakukan untuk mengetahui produk yang dikembangkan efektif atau tidak dalam proses pembelajaran dengan melakukan tahap uji lapangan.
Uji coba produk dalam penelitian ini terdiri atas : 1) rancangan uji coba, 2) subyek coba, 3) jenis data, 4) instrumen pengumpulan data, dan 5) teknik analisis data. Hasil dari penelitian pengembangan ini diuji tingkat validitas dan keefektifannya. Tingkat validitas media pembelajaran diketahui melalui hasil analisis dari : a) validasi oleh ahli isi bidang studi atau mata pelajaran, ahli
desain pembelajaran dan ahli media pembelajaran. b) uji coba yang dilakukan meliputi uji perorangan, uji kelompok kecil, dan uji coba lapangan. Sedangkan tingkat efektivitas diketahui melalui hasil pre-test sebelum menggunakan multimedia pembelajaran interaktif dan pos-test yang dilakukan setelah menggunakan multimedia pembelajaran interaktif. Desain penelitian pada tahap efektifitas produk menggunakan one group pretest and posttest design. Desain ini digunakan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai yaitu ingin mengetahui efektifitas media yang dikembangkan dilihat dari hasil belajar siswa setelah menggunakan multimedia pembelajaran interaktif.
Jenis data pada penelitian ini dikelompokkan menjadi dua, yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data Kualitatif dihimpun dari hasil penilaian, masukkan, tanggapan, kritik, dan saran perbaikan melalui angket terbuka yang diperoleh dari hasil angket tanggapan dari review para ahli dan review siswa, sedangkan data kuantitatif yang dikumpulkan melalui angket tertutup yaitu hasil dari (1) penilaian ahli isi bidang studi atau mata pelajaran, ahli desain pembelajaran dan ahli media pembelajaran, (2) review siswa (tahap uji perorangan, tahap uji kelompok kecil, dan tahap uji lapangan), dan (3) hasil tes (pre-test dan pos- (pre-test). Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data pada penelitian ini berupa laporan pencatatan dokumen dalam bentuk atau format perkembangan produk, angket , dan tes hasil belajar.
Dalam penelitian pengembangan ini digunakan tiga teknik analisis data, yaitu 1) Analisis deskriptif kualitatif yaitu suatu cara analisis/pengolahan data dengan jalan menyusun secara sistematis dalam bentuk kalimat/kata-kata, kategori-kategori mengenai suatu objek (benda, gejala, variabel tertentu), sehingga akhirnya diperoleh simpulan umum” (Agung, 2012:67). 2) Analisis deskriptif kuantitatif, teknik analisis ini digunakan untuk mengolah data yang diperoleh melalui angket dalam bentuk deskriptif persentase. Rumus yang digunakan untuk
menghitung persentase dari masing-masing subyek adalah :
Presentase = ( 𝑗𝑎𝑤𝑎 𝑏𝑎𝑛 𝑥 𝑏𝑜𝑏𝑜 𝑡 𝑡𝑖𝑎𝑝 𝑝𝑖𝑙𝑖 ℎ𝑎𝑛 )𝑛 𝑥 𝑏𝑜𝑏𝑜 𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑡 𝑖𝑛𝑔𝑔 𝑖 𝑥 100% Keterangan:
Σ = Jumlah
n = Jumlah seluruh item angket
Selanjutnya, untuk menghitung persentase keseluruhan subyek digunakan rumus:
Presentase = F : N
Keterangan:
F = Jumlah presentase keseluruhan subyek N = Banyaknya subyek
Analisis data yang terakhir yaitu 3) Analisis statistik inferensial, analisis ini digunakan untuk mengetahui tingkat efektivitas produk terhadap hasil belajar siswa pada siswa SMP Negeri 2 Seririt di kelas VIII E sebelum dan sesudah menggunakan produk pengembangan multimedia pembelajaran interaktif. Data uji coba kelompok sasaran dikumpulkan dengan menggunakan pre-test dan post-test terhadap materi pokok yang diuji cobakan. Hasil pre-test dan post-test kemudian dianalisis menggunakan uji t untuk mengetahui perbedan antara hasil pre-test dan post-test. Pengujian hipotesis digunakan uji t berkorelasi dengan bantuan program komputer Microsoft Office Excel 2010 dan pentashihan hasil dengan penghitungan manual. Adapun rumus untuk uji-t berkorelasi yaitu.
2 2 1 1 2 2 2 1 2 1 2 1 2 n s n s r n s n s X X t (Sumber: Koyan, 2012:29) Keterangan: 1
X = rata-rata sampel 1 (sebelum
menggunakan e-learning)
2
X = rata-rata sampel 2 (sesudah
menggunakan e-learning) S1 = simpangan baku sampel 1
(sebelum menggunakan e-learning)
S2 = simpangan baku sampel 2
(sesudah menggunakan media)
S12 = varians sampel 1
S22 = varians sampel 2
r = korelasi antara dua sampel Sebelum melakukan uji hipotesis (uji t berkorelasi) dilakukan uji prasyarat yaitu uji normalitas dan homogenitas. Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan rumus Chi-kuadrat, sedangkan untuk uji homegenitas varian antar kelompok digunakan uji Barltlett.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah multimedia pembelajaran interaktif. Sebelum memproduksi pengembangan perlu dibuatkannya storyboard terlebih dahulu.
Storyboard bertujuan untuk
mempermudah tampilan desain dan pengaturan tata letak konten di dalam media.
Kualitas multimedia pembelajaran interaktif dapat dilihat dari hasil uji coba awal (uji coba ahli isi, ahli media pembelajaran dan ahli desain pembelajaran), uji coba perorangan, uji coba kelompk kecil dan uji coba lapangan. Untuk hasil evaluasi dari masing-masing tahapan uji coba dapat dipaparkan sebagai berikut. (1) Berdasarkan hasil evaluasi dari ahli isi, multimedia pembelajaran interaktif memperoleh presentase tingkat pencapaian 94%. Setelah dikonversikan dengan tabel konversi, presentase tingkat pencapaian 94% berada pada kualifikasi sangat baik, sehingga multimedia pembelajaran interaktif tidak perlu direvisi. (2) Setelah selesai melaksanakan uji coba ahli isi, validasi ahli kedua adalah uji coba ahli media pembelajaran. Uji coba produk kepada ahli media pembelajaran ditujukan untuk mengetahui kelayakan produk dilihat dari segi media pembelajaran. Setelah dikonversikan dengan tabel konversi, persentase tingkat pencapaian 87,27% berada pada kualifikasi baik. (3)
Berdasarkan hasil evaluasi dari ahli desain, multimedia pembelajaran interaktif memperoleh presentase tingkat pencapaian 85%. Setelah dikonversikan dengan table konversi, presentase tingkat pencapaian 85% berada pada kualifikasi baik (4) Responden pada uji coba perorangan adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Seririt. Jumlah responden pada uji coba perorangan berjumlah 3 orang dengan 1 siswa berprestasi belajar tinggi, 1 siswa berprestasi belajar sedang, dan 1 siswa berprestasi belajar rendah. Dari analisis data dan analisis komentar yang diberikan responden saat uji coba perorangan, diperoleh persentase jawaban siswa untuk tiap komponen penilaian adalah 94 % dan berada pada kualifikasi sangat baik. (5) Uji coba kelompok kecil dilakukan kepada 12 orang siswa SMP Negeri 2 Seririt dengan kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Dari data yang diperoleh, persentase tingkat pencapaian multimedia pembelajaran interaktif pada saat uji coba kelompok kecil memperoleh nilai sebesar 92,83% dan berada pada kualifikasi sangat baik. sedangkan untuk uji coba yang terakhir yaitu (6) uji coba lapangan yang dilakukan di kelas VIII E dengan jumlah responden sebanyak 30 orang siswa, memperoleh hasil uji coba lapangan yang dilakukan terhadap multimedia pembelajaran interaktif pada mata pelajaran IPA yaitu memperoleh nilai sebesar 91,4% dan berada pada kualifikasi sangat baik.
Efektifitas produk penelitian pengembangan dalam penelitian ini di ukur dengan melakukan tahap pra eksperimen dengan menggunakan pretest dan posttest terhadap 30 orang peserta didik kelas VIII E SMP Negeri 2 Seririt. Berdasarkan nilai pretest dan posttest 30 orang siswa tersebut, maka dilakukan uji-t untuk sampel berkorelasi. Sebelum melakukan uji hipotesis (uji t berkorelasi) dilakukan uji prasyarat yaitu uji normalitas dan homogenitas.
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah sebaran skor pada
setiap variabel berdistribusi normal atau tidak, untuk itu dapat digunakan rumus Chi-Kuadrat. Setalah dihitung dengan rumus Chi-Kuadrat maka diperoleh hasil perhitungan pre-test untuk X2hitung = 7,06,
dk = 7 – 2 – 1 = 4. Pada tabel X2 untuk taraf signifikansi 5% = 9,488. Dengan demikian, harga X2hitung = 7,06 < harga
X2tabel = 9,488, sehingga H0 diterima. Jadi
dapat disimpulkan bahwa sampel pre-test berasal dari populasi berdistribusi normal. Sedangkan hasil uji normalitas pada post-test memperoleh hasil perhitungan untuk
X2hitung = 2,66, dk = 7 – 2 – 1 = 4. Pada
tabel X2 untuk taraf signifikansi 5% = 9,488. Dengan demikian, harga X2hitung =
2,66 < harga X2tabel = 9,488, sehingga H0
diterima. Jadi dapat disimpulkan bahwa sampel post-test berasal dari populasi berdistribusi normal.
Uji homogenitas varians antar kelompok digunakan uji Barltlett, untuk uji Bartlett digunakan statistik Chi-Kuadrat. Setelah dihitung dengan rumus Chi-Kuadrat, maka diperoleh hasil X2hitung
=3,09. Untuk taraf signifikansi 5% dan dk = k – 1 = 2 – 1 = 1; X1
tab = 3,481. Dengan
demikian, harga X2hitung = 3,09 < harga
X2tabel = 3,481, sehingga H0 diterima.
Kesimpulannya, kedua kelompok data berasal dari populasi yang homogen.
Setelah dilakukan pengujian normalitas dan homogenitas, dilanjutkan dengan pengujian hipotesis. Hasil analisis Uji-t dengan berbantuan Microsoft Office Excel 2010 adalah sebagai berikut. Thitung
= 19,048. Selanjutnya harga t hitung dibandingkan dengan harga t pada tabel dengan db = n1 + n2 – 2 = 30 + 30 – 2 = 58. Harga t tabel untuk db 72 dan dengan taraf signifikansi 5% (α = 0,05) adalah 2,0017. Dengan demikian, harga t hitung (19,048) lebih besar daripada harga t table (2,0017). Sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Ini berarti, terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA antara sebelum dan sesudah menggunakan multimedia pembelajaran interaktif. Dengan demikan dapat
disimpulkan bahwa multimedia pembelajaran interaktif berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas VIII di SMP Negeri 2 Seririt.
Pembahasan dalam penelitian pengembangan ini akan menganalisis hasil-hasil pengembangan untuk menjawab pertanyaan dalam pengembangan multimedia pembelajaran interaktif pada mata pelajaran IPA untuk siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Seririt semester genap tahun pelajaran 2013/2014. Secara umum ada 3 pertanyaan ilmiah yang akan dianalisis dalam penelitian pengembangan ini, yaitu. (1) Bagaimana desain multimedia pembelajaran interaktif Bagaimanakah desain Multimedia Interaktif pada Mata Pelajaran IPA untuk siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Seririt semester genap tahun pelajaran 2014/2015?, (2) Bagaimanakah validitas hasil pengembangan Multimedia Interaktif pada Mata Pelajaran IPA untuk siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Seririt semester genap tahun pelajaran 2014/2015? dan (3) Bagaimanakah efektifitas penggunaan multimedia interaktif terhadap hasil belajar siswa pada Mata Pelajaran IPA untuk siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Seririt semester genap tahun pelajaran 2014/2015?.
Dengan menggunakan Model ADDIE, melalui lima tahapan yaitu: (1) analisis (analysis), (2) desain/ perancangan (design) (3) pengembangan (development), (4) implementasi/eksekusi (implementation), dan (5) evaluasi/umpan balik (evaluation) dihasilkan media pembelajaran berupa Multimedia pembelajaran Interaktif pada Mata Pelajaran IPA Kelas VIII Semester Genap Tahun Pelajaran 2014/2015. Adapun Desain multimedia interaktif pada mata pelajaran IPA seperti storyboard yang menampilkan desain produk, desain tersebut dikembangkan sehingga menghasilkan bahan ajar sesuai tingkat
kebutuhan dan
kompetensi yang diharapkan. Komponen bahan ajar disusun secara sistematis, dirancang dalam bentuk yang menarik, sehingga pada akhirnya multimedia
interaktif pada mata pelajaran IPA ini mampu meningkatkan pemahaman siswa. Storyboard multimedia interaktif dapat digunakan dalam antar muka grafik pengguna untuk rancangan desain multimedia interaktif dalam bentuk visual untuk perencanaan isi dan penggunaan diagram aktivitas untuk merencanakan arsitektur informasi, navigasi, links, organisasi dan pengalaman pengguna, terutama urutan kejadian yang susah diramalkan atau pertukaran audiovisual kejadian menjadi kepentingan desain sebuah multimedia interaktif (Purwanto, 2004). Storyboard merupakan terjemahan berupa gambar cerita (komik) dari naskah yang sudah dibuat, dan digunakan dalam proses perancangan sebuah produk multimedia. Bentuk Storyboard bisa bermacam-macam, diantaranya berupa gambar visual, keterangan percakapan, keterangan adegan, keterangan special effect, dan durasi serta kesinambungan (Fangwu, 2003).
Salah satu keuntungan membuat rancang bangun menggunakan storyboard adalah pengguna mempunyai scope/wawasan yang lebih luas untuk mengatur alur desain sehingga mendapatkan efek atau ketertarikan yang lebih kuat. Selain itu, dengan adanya visualisasi, sekelompok orang atau oganisasi pengembang multimedia mampu bertukar pikiran bersama-sama menempatkan ide pada storyboard dan mengatur kembali storyboard tersebut (Reinald, 2011).
Pembahasan kedua, yaitu validitas multimedia pembelajaran interaktif pada mata pelajaran IPA. Validitas multimedia pembelajaran interaktif pada mata pelajaran IPA berdasarkan hasil evaluasi para ahli (expert judgement) dan uji coba produk kepada siswa menunjukkan. (1) Berdasarkan hasil evaluasi dari ahli isi, media multimedia pembelajaran interaktif memperoleh presentase tingkat pencapaian 94% dengan kualifikasi sangat baik, Media berada pada kualifikasi sangat baik dilihat dari aspek Materi yang disajikan di dalam multimedia pembelajaran interaktif harus sesuai dengan indikator pembelajaran yang terdapat dalam RPP yang digunakan pada
multimedia pembelajaran interaktif. Kriteria ini memperoleh skor 5 (sangat baik) karena materi pada media sudah mencakup keseluruhan indikator pembelajaran. Berdasarkan hasil tersebut, ketepatan materi dengan indikator sudah sangat baik. (2) Berdasarkan hasil evaluasi dari ahli media pembelajaran, multimedia pembelajaran interaktif memperoleh presentase tingkat pencapaian 87,5% berada pada kualifikasi baik. Dari hasil penilaian ahli media, menyatakan bahwa produk media pembelajaran sudah bagus dan sudah dapat di terapkan di SMP Negeri 2 Seririt. multimedia pembelajaran interaktif pada mata pelajaran IPA dikatakan baik disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya tingkat interaktifitas siswa dengan media tinggi, Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh warsita (dalam Hikmah, 2014:8) media yang efektif dirancang berdasarkan tiga prinsip perancangan media yaitu (a) Belajar harus menyenangkan, yaitu dengan memperhatikan tiga unsur seperti menantang, fantasi dan ingin tahu, (b) Interaktivitas, yaitu dengan mempertimbangkan unsur-unsur seperti dukungankomputer yang dinamis, dukungan sosial yang dinamis, aktif dan interaktif, keluasan, dan power. (c) Kesempatan berlatih harus memotivasi, cocok, dan tersedia feedback, yaitu dengan memperhatikan beberapa faktor dalam perancangan latihan dengan bantuan komputer. Dari hasil penilaian oleh ahli media, media ini memperoleh skor 5 dengan kategori sangat baik pada kriteria tingkat interaktifitas siswa dengan media. Oleh karena itu, media ini dapat dikatakan mempunyai interaktifitas yang tinggi. (3) Berdasarkan hasil evaluasi dari ahli desain, multimedia pembelajaran interaktif memperoleh presentase tingkat pencapaian 85% berada pada kualifikasi baik. Multimedia pembelajaran interaktif pada mata pelajaran IPA ini dikatakan baik karena Isi media pembelajaran secara keseluruhan dapat memotivasi peserta didik untuk belajar IPA dan cara penyajian materi yang bervariasi serta pemberian latihan untuk pemahaman konsep yang tepat. Berdasarkan hasil
penilaian uji coba, kriteria media dapat memotivasi siswa dan penyajian materi yang bervariasi pada kuesioner memperoleh skor 5 (sangat baik), ini menunjukkan bahwa multimedia pembelajaran interaktif pada mata pelajaran IPA yang dikembangkan sangat memotivasi siswa dan mempunyai penyajian materi yang bervariasi. Menurut Moh. User Usman (dalam Aswin 2012), kegiatan pembelajaran yang bervariasi dalam konteks proses interaksi belajar mengajar yang dapat mengatasi kebosanan siswa sehingga, dalam situasi belajar mengajar, siswa senantiasa menunjukan ketekunan, antusiasme, serta penuh partisipasi.
Sedangkan hasil uji coba produk kepada siswa yaitu menunjukan (4) Responden pada uji coba perorangan adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Seririt. Jumlah responden pada uji coba perorangan berjumlah 3 orang dengan 1 siswa berprestasi belajar tinggi, 1 siswa berprestasi belajar sedang, dan 1 siswa berprestasi belajar rendah. Dari analisis data dan analisis komentar yang diberikan responden saat uji coba perorangan, diperoleh persentase jawaban siswa untuk tiap komponen penilaian adalah 94 % dan berada pada kualifikasi sangat baik. (5) Uji coba yang kedua adalah uji coba kelompok kecil. Uji coba kelompok kecil dilakukan kepada 12 orang siswa SMP Negeri 2 Seririt dengan kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Dari data yang diperoleh, persentase tingkat pencapaian multimedia pembelajaran mandiri pada saat uji coba kelompok kecil memperoleh nilai sebesar 92,83% dan berada pada kualifikasi sangat baik karena cara penyajian materi yang bervariasi dan kemenarikan tampilan fisik dari media yang dikembangkan. Multimedia pembelajaran interaktif pada mata pelajaran IPA merupakan produk pengembangan yang telah direvisi berdasarkan masukan siswa dalam uji coba kelompok kecil, selanjutnya diberikan kepada 30 orang siswa kelas VIII E untuk melasanakan uji coba lapangan. (6) Pada uji coba lapangan Multimedia pembelajaran interaktif digunakan secara langsung oleh 30 orang
siswa, baru kemudian siswa memberi penilaian dengan angket yang sudah disediakan. Hasil uji coba lapangan yang dilakukan terhadap Multimedia pembelajaran interaktif pada mata pelajaran IPA yaitu memperoleh nilai sebesar 91,4% dan berada pada kualifikasi sangat baik.
Efektifitas produk penelitian pengembangan dalam penelitian ini di ukur dengan melakukan tahap pra eksperimen dengan menggunakan pretest dan posttest terhadap 30 orang peserta didik kelas VIII SMP Negeri 2 Seririt. Berdasarkan nilai pretest dan posttest 30 orang siswa tersebut, maka dilakukan uji-t untuk sampel berkorelasi. Rata-rata nilai pretest adalah 60,27 dan rata-rata nilai posttest adalah 89,07. Setelah dilakukan penghitungan secara manual diperoleh hasil t hitung sebesar 19,048 Kemudian harga t hitung dibandingkan dengan harga t pada tabel dengan db = n1 + n2 – 2 = 30 + 30 – 2 =58. Harga t tabel untuk db 58 dan dengan taraf signifikansi 5% (α = 0,05) adalah 2,0017. Dengan demikian, harga t hitung lebih besar daripada harga t tabel sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Ini berarti, terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA siswa antara sebelum dan sesudah menggunakan multimedia pembelajaran interaktif.
Ketiga rumusan masalah telah terjawab dan terbukti bahwa multimedia pembelajaran interaktif efektif. Hal ini tidak terlepas dari penggunaan multimedia pembelajaran interaktif dalam pembelajaran. Multimedia pembelajaran interaktif sebagai suatu komponen sistem pembelajaran, mempunyai fungsi dan peran yang sangat vital bagi kelangsungan pembelajaran, itu berarti bahwa media memiliki posisi yang stategis sebagai bagian integral dari pembelajaran. Integral dalam konteks ini mengandung pengertian bahwa media itu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembelajaran. Tanpa adanya media, maka pembelajaran tidak akan pernah terjadi (Sudatha & Tegeh, 2009:10). Dengan demikian media pembelajaran memiliki kontribusi yang cukup besar dalam peningkatan hasil belajar siswa.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan rumusan masalah, hasil analisis data dan pembahasan pada penelitian ini, maka dapat diambil simpulan sebagai berikut. (1) Dengan menggunakan model ADDIE, melalui lima tahapan yaitu: (1) analisis (analysis), (2) desain/perancangan (design) (3) pengembangan (development), (4) implementasi/eksekusi (implementation), dan (5) evaluasi/umpan balik (evaluation) dihasilkan multimedia pembelajaran interaktif pada mata pelajaran IPA kelas VIII di SMP Negeri 2 Seririt semester genap tahun pelajaran 2014/2015. (2) Validitas multimedia pembelajaran interaktif pada mata pelajaran IPA berdasarkan hasil evaluasi para ahli (expert judgement) dan uji coba produk kepada siswa menunjukkan (1) riview ahli isi mata pelajaran IPA berada pada kualifikasi sangat baik (94%), (2) riview ahli media pembelajaran berada pada kualifikasi sangat baik (85%), (3) riview ahli desain pembelajaran berada pada kualifikasi sangat baik (87,27%), (4) uji coba perorangan berada pada kualifikasi sangat baik (94%), uji kelompok kecil berada pada kualifikasi sangat baik (92,83%), uji coba lapangan berada pada kualifikasi baik (91,4%). (3) Penggunaan multimedia pembelajaran interaktif efektif untuk meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa kelas VIII di SMP Negeri 2 Seririt. Hal ini dapat dibuktikan berdasarkan hasil uji t dari nilai rata-rata hasil belajar diperoleh 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 > 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙
(19,048 > 2,0017) dengan taraf signifikansi 5% (α = 0,05), dengan demikian 𝐻𝑜 ditolak dan 𝐻1 diterima.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat diajukan beberapa saran sebagai berikut. (1) saran pemanfaatan, Multimedia pembelajaran interaktif ini tentunya masih memiliki keterbatasan, untuk itu disarankan dalam pemanfaatan multimedia ini hendaknya didukung oleh sumber belajar lain yang relevan, sehingga tidak dijadikan satu-satunya sumber belajar oleh siswa. (2) saran diseminasi, Multimedia pembelajaran interaktif ini dikembangkan berdasarkan karakteristik siswa SMP
Negeri 2 Seririt, sehingga bila digunakan pada siswa lain yang mempunyai karakteristik berbeda atau bila ditemukan kesalahan dan ketidaksempurnaan yang perlu diperbaiki, maka disarankan untuk merevisi seperlunya. (3)saran pengembangan produk lebih lanjut, Produk pengembangan ini sebaiknya dikembangkan lebih lanjut pada SMP yang mempunyai karakteristik siswa berbeda, karena pengembangan media ini tidak dimaksudkan untuk mengatasi
semua permasalahan dalam
pembelajaran. Agar penelitian bisa dilaksanakan secara optimal, pilihlah sekolah yang memiliki fasilitas yang memadai untuk melakukan penelitian. Buatlah desain yang menarik dengan materi yang berkualitas dan menyenangkan sehingga siswa tertarik untuk menggunakannya.
UCAPAN TERIMAKASIH
Puji syukur di panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa, karena berkat rahmat-Nya, artikel ini terselesaikan. Artikel ini disusun guna memenuhi persyaratan tugas akhir perkuliahan. Dalam penyusunan artikel ini tentu ada bantuan dari beberapa pihak yang ikut membantu dalam menyelesaikannya, untuk itu di sampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang terkait. Adapun pihak yang ikut membantu baik itu dari dukungan dan bimbingan dalam penyelesaian artikel ini, yaitu:
1)
Dr. I Nyoman Jampel, M.Pd., selaku Rektor Universitas Pendidikan Ganesha (UNDIKSHA) yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengikuti pendidikan pada Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan.2)
Drs. I Dewa Kade Tastra, M.Pd., selaku Ketua Jurusan Teknologi Pendidikan yang telah memberikan motivasi petunjuk dalam pelaksanaan penelitian.3)
Drs. I Nyoman Wirya, M.Pd., selaku Pembimbing I yang telah banyakmemberikan bimbingan, petunjuk, dan saran dalam penyelesaian artikel ini.
4)
Dr. Desak Putu Parmiti Ms., selakuPembimbing II yang telah banyak memberikan bimbingan dan sarannya sehingga artikel ini dapat diselesaikan.
5)
I Nyoman Suyasa, S.Pd., selaku Kepala SMP Negeri 1 Seririt yang telah memberikan ijin untuk melakukan penelitian dan membantu pelaksanaan uji coba media pembelajaran.6)
Semua siswa kelas VIII D dan E SMP Negeri 2 Seririt yang telah menjadi subyek dalam penelitian ini.7)
Rekan-rekan mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan yang telah banyak memberikan dukungan dan bantuannya dalam pelaksanaan penelitian ini.8)
Semua pihak yang telah banyak membantu dalam pelaksanaan penelitian dan penyelesaian artikel ini.DAFTAR RUJUKAN
Agung, Anak Agung Gede. 2012. Metodologi Penelitian Pendidikan. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha.
Koyan, I Wayan. 2011. Asesmen dalam Pendidikan. Singaraja: Undiksha. Muslich, Masnur. 2011. Authentic
Assessment: Penilaian Berbasis Kelas dan Kompetensi. Bandung: PT Refika Aditama.
Suartama, I Kadek. 2010. “Pengembangan Mutimedia Untuk
Meningkatkan Kualitas
Pembelajaran Pada Mata Kuliah MediaPembelajaran”. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, Volume 43, Nomor 3 (hlm. 253-262).
Sudarma, I K dan Gde Putu Arya Oka. 2008. Teknik Produksi &
Pembelajaran. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha. Sudatha, I Gde Wawan dan I M Tegeh.
2009. Desain Multimedia
Pembelajaran. Singaraja:
Universitas Pendidikan Ganesha. Tegeh, I Made dan I Made Kirna. 2010.
Metode Penelitian Pengembangan Pendidikan. Singaraja: Undiksha.