• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN FORGIVENESS PADA REMAJA YANG TINGGAL DI PANTI ASUHAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "GAMBARAN FORGIVENESS PADA REMAJA YANG TINGGAL DI PANTI ASUHAN"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

108

GAMBARAN FORGIVENESS PADA REMAJA YANG TINGGAL

DI PANTI ASUHAN

Ria Damayanti

Stefanus Soejanto Sandjaja

Fakultas Psikologi

Universitas Kristen Krida Wacana Jakarta

[email protected]; [email protected]

Abstract

This research aimed to describe the forgiveness and the forgiveness mean of teenagers in the orphant care. The hypothetic was the forgiveness level of the teenager lower when compared with the population norm. The population in this study were boy and girl teenagers who live in the orphant house at least one year. Using the purposive random sampling methods, 87 students were selected as the participant. Data collected using forgiveness scale TRIM-18. The result was the alternative hypothetic rejected. Forgiveness level of teenagers in orphant house were higher ciompared with the standard norm. The result found that the mean of total score of forgiveness level is 57,20 which fall in high category.

Keywords: Forgiveness, teenager, orphant care

Pendahuluan

Keluarga merupakan unit sosial terkecil bagi setiap individu yang memberikan fondasi primer bagi perkembangan remaja (Sarwono, 2007). Baik buruknya struktur dalam keluarga dan masyarakat akan memberi pengaruh yang baik atau buruk pula terhadap perkembangan remaja (Kartono, 2008). Di dalam keluarga, remaja belajar mengenal makna cinta kasih, simpati, loyalitas, ideologis, bimbingan dan pendidikan (Kartono, 2008). Selain itu, remaja juga dapat mengenali peran masing-masing anggota yang ada di dalamnya, seperti ayah, ibu, dan saudara kandung (Fenny & Suwartono, 2010).

Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang mengalami banyak perubahan, baik secara anatomis, fisiologis, fungsi emosional, intelektual maupun hubungan sosial (King, 2007). Perubahan tersebut

(2)

109

menyebabkan remaja perlu melakukan penyesuaikan diri dengan banyak hal, yaitu yang berhubungan dengan kematangan emosional, mengembangkan ketertarikan terhadap lawan jenis, kematangan sosial, kemandirian di luar rumah, kematangan mental, menggunakan waktu luang secara tepat, cara memandang kehidupan, dan identifikasi diri sendiri (Sarwono, 2007).

Dalam proses penyesuaian diri inilah peran lingkungan keluarga, yakni suasana dan strukturnya, sangat diperlukan untuk memahami remaja di dalam sebuah keluarga (Papalia, Olds, & Feldman, 2009). Remaja yang tumbuh dan dibesarkan bersama keluarga dilingkungan yang kohesif dan adaptif akan cenderung lebih sehat baik secara fisik maupun mental. Lingkungan keluarga yang kohesif dan adaptif membuat remaja dapat berkomunikasi secara terbuka dengan anggota keluarga lainnya, dapat menunjukkan perhatian dengan memberikan bantuan ketika anggota keluarga yang sedang menghadapi kesulitan, serta membuat remaja relatif mudah dalam menyesuaikan diri di tempat yang baru atau bila berinteraksi di lingkungan yang baru.

Hal yang berbeda dialami oleh remaja yang tinggal di panti asuhan yang memiliki latar belakang keluarga yang tidak utuh dan memiliki masalah baik secara ekonomi maupun buruknya struktur dalam keluarga. Sebuah penelitian pada tahun 2007 dilakukan oleh anak panti asuhan tentang kehidupan mereka di panti asuhan. Penelitian tersebut memberikan gambaran tentang kehidupan sehari-hari remaja di panti dan luar panti. Sisi kehidupan yang mereka anggap menyenangkan adalah karena mereka memiliki banyak teman. Sisi yang menyedihkan umumnya adalah karena terpisah jauh dari keluarga, makanan yang buruk, keharusan bekerja di panti dan aturan yang ketat. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah kehidupan mereka di sekolah. Sekolah menghadapkan mereka pada kekhawatiran tentang masa depan mereka. Umumnya mereka mencemaskan kondisi setelah mereka menyelesaikan SLTA. Keterbatasan dukungan pada saat mereka berada di panti, ketidakdekatan dengan keluarga dan kehilangan teman di lingkungan rumah serta panti saat harus keluar panti, membuat remaja menjadi bingung dan cemas (Manguns, 2011).

Menempatkan anak pada panti asuhan dengan segala macam latar belakang yang ada dianggap seperti sebuah bentuk penolakan bagi diri si anak. Penolakan oleh

(3)

110

keluarga, khususnya orang tua atau ditinggalkan oleh salah seorang dari kedua orang tuanya akan menimbulkan emosi dendam, rasa tidak percaya karena merasa dikhianati, kebencian dan kemarahan. Remaja dengan emosi-emosi negatif seperti itu jelas akan merasa tidak bahagia. Remaja yang merasa tidak bahagia akan dipenuhi banyak konflik batin serta mengalami frustasi terus-menerus yang akan membuat remaja menjadi sangat agresif. Kemudian remaja mulai melakukan “serangan-serangan kemarahan” terhadap dunia disekitarnya, seperti menteror lingkungan, mengambil milik orang lain, dan lain sebagainya (Kartono, 2008).

Untuk mengatasi emosi-emosi negatif tersebut, remaja hendaknya dapat menerima keadaan dengan rasional. Remaja hendaknya mampu menerima kenyataan bahwa ia tidak dapat tinggal bersama keluarga intinya karena alasan tertentu, bahkah tidak semua remaja yang tinggal di panti asuhan pernah mengenal satu pun dari anggota keluarganya. Hal tersebut dapat dimulai dengan upaya pemaafaan (forgivesness), yaitu dengan memaafkan diri sendiri, memaafkan keadaan, dan memaafkan orang lain yang telah menimbulkan luka hatinya.

Forgiveness menurut McCullough, Root, & Cohen (2006) adalah sikap

menerima dengan keluasan hati peristiwa yang mengecewakan termasuk menerima kenyataan yang menyakitkan bagi diri. Ia juga menambahkan bahwa forgiveness merupakan salah satu cara agar individu dapat membuka diri untuk bersikap evaluatif serta mengembangkan nilai-nilai hidup yang positif. Nilai-nilai hidup yang positif dapat mengarahkan individu untuk mencapai sikap mental dan perilaku yang positif. Sebaliknya, kemarahan, perasaan dendam, kebencian, dan kekecewaan yang terus-menerus hanya akan membawa individu pada sikap mental dan perilaku yang negatif yang dapat berdampak buruk bagi dirinya dan orang lain.

Worthington menambahkan bahwa forgiveness mampu menghentikan perasaan marah, dendam, benci, sebal atau tidak suka terhadap pelaku (perpetrator) ketika suatu pelanggaran terjadi, bahkan pelaku tidak akan lagi merasa bersalah ataupun berusaha untuk memperbaiki hubungan dengan penyintas (survivor) yang telah terganggu atau rusak sebelumnya. Dengan kata lain, penyintas (survivor) memandang pelaku (perpetrator) yang telah menyakitinya tidak lagi dengan

(4)

111

kebencian dan dendam melainkan dengan kasih dan kemurahan hati (Fenny & Suwartono, 2010).

Berdasarkan penjelasan di atas, penulis tertarik untuk melihat bagaimana gambaran forgiveness pada remaja yang tinggal di panti asuhan? Apakah tingkat

forgiveness pada remaja yang tinggal di panti asuhan cenderung tinggi, sedang atau

rendah? Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan gambaran

forgiveness dan melihat rerata forgiveness pada remaja yang tinggal di panti asuhan.

Forgiveness

Forgiveness didefinisikan sebagai suatu proses yang bertujuan untuk

melepaskan kepahitan, kemarahan, kejengkelan serta kebencian terhadap orang lain atau sekelompok orang. Seringkali proses forgiveness dikaitkan dengan usaha individu untuk menyembuhkan luka hati melalui kemauan dan kemampuannya dalam melepaskan perasaan-perasaan negatif. Dengan kata lain, forgiveness adalah proses individu melepaskan haknya untuk membalas dendam kepada orang yang telah menciderainya (Hadriami, 2006).

McCullough mengatakan bahwa teori mengenai forgiveness didasari oleh dua konsep yaitu forgiveness sebagai sebuah konstruk motivasional dan forgiveness sebagai perubahan psikologis yang bersifat prososial (Daniel, 2011). McCullough, Sandage, Brown, Rachal, Worthington, dan Hight (1998) mendefinisikan forgiveness sebagai serangkaian perubahan motivasional pada seseorang di mana terjadi penurunan motivasi untuk membalas dendam terhadap pelaku pelanggaran, kemudian menurunnya motivasi untuk mempertahankan kerenggangan hubungan dengan pelaku pelanggaran, dan meningkatnya motivasi untuk berdamai dan berbuat baik terhadap pelaku pelanggaran.

McCullough et al. (1998) juga menambahkan bahwa forgiveness bukan sekedar perubahan motivasi belaka, namun juga merupakan sebuah konsep yang digunakan untuk menggambarkan transformasi yang terjadi di mana motivasi untuk membalas dendam dan menghindar menurun, sementara motivasi untuk berdamai meningkat. Menurut Worthington (Fenny & Suwartono, 2010) forgiveness adalah

(5)

112

sebuah upaya menghentikan perasaan marah, dendam, benci, sebal atau tidak suka terhadap pelaku ketika suatu pelanggaran terjadi.

McCullough, et al. (dalam Lestari, 2011) mengatakan ada lima faktor yang memengaruhi kondisi individu dalam proses forgiveness. Pertama, rasa empati yang merupakan faktor penentu utama dalam proses forgiveness pada diri individu. Melalui rasa berempati individu akan mampu memosisikan dirinya berada dalam situasi dan kondisi yang dialami oleh individu lain, termasuk juga merasakan gejolak jiwa yang terjadi dalam diri pelaku pelanggaran. Kedua, permintaan maaf. Individu akan menunjukkan sikap forgiveness jika pelaku pelanggaran meminta maaf kepadanya. Individu yang menerima permintaan maaf dari pelaku pelanggaran menumbuhkan empati kepadanya, sehingga dapat meningkatkan forgiveness individu terhadap pelaku pelanggaran tersebut.

Ketiga, luka yang ditimbulkan oleh pelaku pelanggaran. Semakin besar luka yang ditimbulkan, maka akan semakin sulit pula bagi individu untuk melakukan

forgiveness. Sebaliknya, semakin kecil luka yang ditimbulkan, maka akan semakin

besar kemungkinan bagi individu untuk melakukan forgiveness. Keempat, perenungan diri (rumination). Semakin individu merenungi kejadian pada saat ia menerima peristiwa yang menyakitkan (transgression), maka semakin ia menghindar dari pelaku pelanggaran dan menuntut untuk membalas dendam terhadapnya. Kelima, kedekatan hubungan dengan pelaku pelanggaran. Forgiveness melibatkan perubahan pada dorongan negatif menjadi lebih positif terhadap peristiwa yang menyakitkan, maka kedekatan individu dengan pelaku pelanggaran akan memengaruhi proses

forgiveness tersebut. Kedekatan hubungan di antara individu dengan pelaku

pelanggaran dapat meningkatkan empati pada kedua belah pihak, karena empati merupakan salah satu faktor utama dalam proses forgiveness, maka semakin dekat hubungan antara kedua pihak tersebut, semakin tinggi pula empati di antara mereka.

Menurut McCullough, Root, & Cohen (2006), forgiveness memiliki dimensi-dimensi yang terbagi menjadi tiga oleh dibagi menjadi tiga bagian, meliputi motivasi membalas dendam (revenge motivations), motivasi menghindar (avoidance

(6)

113

Motivasi membalas dendam merefleksikan kecenderungan individu untuk melakukan balas dendam (revenge motivations). Setelah terjadi pelanggaran, korban yang memiliki kecenderungan tinggi untuk membalas dendam akan berusaha menyakiti pelaku pelanggaran dengan tujuan agar pelaku merasa sakit sama seperti apa yang dirasakan oleh korban. Saat individu melakukan forgiveness, maka perilaku membalas atau menyakiti pelaku pelanggaran menjadi berkurang, serta lebih termotivasi untuk bertingkah laku dengan cara yang lebih menguntungkan bagi pelaku pelanggaran tersebut. Kecenderungan individu untuk membalas dendam bertolak belakang dengan forgiveness yang dilakukannya. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kecenderungan individu untuk membalas dendam maka semakin rendah orang tersebut memberikan maaf kepada pelaku pelanggaran.

Motivasi menghindar (avoidance motivations) merefleksikan kecenderungan seseorang untuk menghindari pelaku pelanggaran. Bentuk menghindar ini dilakukan dengan cara yang berbeda-beda, antara lain tidak mau melakukan kontak personal maupun psikologis dengan pelaku, tidak mau berdekatan dengan pelaku, mengabaikan keberadaan pelaku, tidak mau menunjukkan keramahan terhadap pelaku dan yang lebih ekstrim yaitu memutuskan hubungan yang selama ini terjalin dengan pelaku. Kecenderungan individu untuk menghindar ini bertolak belakang dengan forgiveness yang dilakukannya. Semakin tinggi kecenderungan individu untuk menghindar maka semakin rendah forgiveness yang akan dilakukannya.

Motivasi Berdamai (benevolence motivations) ditandai dengan dorongan untuk berbuat baik terhadap pelaku. Dengan kehadiran motivasi berdamai ini, berarti menghilangkan kedua dimensi sebelumnya. Oleh karena itu, individu yang melakukan

forgiveness memilki benevolence motivations yang tinggi, namun disisi lain memiliki revenge motivations dan avoidance motivations yang rendah.

Remaja

Steinberg (2011) mengungkapkan bahwa istilah remaja (adolescence) berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti tumbuh menuju kedewasaan. Masa remaja merupakan tahap kehidupan yang berlangsung antara masa kanak-kanak (childhood) dan masa dewasa (adulthood). Menurut Rice (dalam Valentini &

(7)

114

Nisfiannoor, 2006), masa remaja adalah tahapan perkembangan dari masa kanak-kanak menuju kedewasaan yaitu kematangan dalam hal fisik, emosi, sosial, intelektual, dan spiritulitas.

Pengertian remaja menurut WHO (dalam Sarwono, 2007) adalah individu yang berkembang dari saat pertama kali menunjukkan tanda seksual sekundernya sampai pada saat mencapai kematangan seksual, individu yang mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari kanak-kanak menuju dewasa, dan individu yang mengalami peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi menjadi suatu kemandirian. Beberapa peneliti memiliki pandangan yang berbeda mengenai rentang usia pada remaja. Menurut Monks, Knoers, dan Haditono (dalam Marliyah, Dewi, & Suyasa, 2007) remaja adalah individu yang berusia antara 12-21 tahun yang sedang mengalami masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa dengan pembagian 12-15 tahun masa remaja awal, 15-18 tahun masa remaja pertengahan, dan 18-21 tahun masa remaja akhir.

Hall (Santrock, 2003) mengatakan bahwa remaja adalah masa periode dari 12-23 tahun yang dikarakteristikkan sebagai masa dimana ketegangan emosi meningkat sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Menurut Papalia et al. (2009), individu pada masa remaja berada pada usia antara 11 tahun sampai dengan 20 tahun. Menurut Sarwono (2007), usia remaja berkisar antara 13 tahun sampai dengan 19 tahun. Namun, pengertian remaja bagi masyarakat Indonesia adalah individu yang berusia antara 11 tahun sampai dengan 24 tahun dan belum menikah.

Hurlock (1991) mengatakan bahwa remaja memiliki ciri-ciri yang khas pada masa perkembangannya. Masa remaja merupakan masa ambang batas antara anak-anak dan dewasa. Masa remaja merupakan sebuah periode yang penting, periode peralihan, perubahan, dan pencarian identitas diri. Remaja mulai terlibat dalam permasalahan yang menimbulkan ketakutan serta pemikiran yang tidak realistik. Pada masa ini pun, remaja juga memiliki tugas perkembangan seperti menerima keadaan fisik tubuhnya, memiliki hubungan yang matang dengan teman sebaya, melakukan peran gender, melepaskan diri dari ketergantungan emosi terhadap orang tua dan orang dewasa lain, mempersiapkan kari, kehidupan berkeluarga, merencanakan tingkah laku sosial yang

(8)

115

bertanggung jawab, dan mencapai nilai tertentu sebagai pedoman tingkah lakunya (Havighurst dalam Sarwono, 2007).

Panti asuhan

Kamus Bahasa Indonesia Online mendefinisikan panti asuhan sebagai rumah tempat memelihara dan merawat anak yatim atau yatim piatu dan sebagainya. Departemen Sosial Republik Indonesia (dalam Febriasari, 2007) mendefinisikan panti asuhan sebagai suatu lembaga usaha kesejahteraan sosial yang mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pelayanan kesejahteraan sosial kepada anak terlantar dengan melaksanakan penyantunan dan pengentasan anak terlantar, memberikan pelayanan pengganti fisik, mental dan sosial pada anak asuh, sehingga memperoleh kesempatan yang luas, tepat dan memadai bagi perkembangan kepribadiannya sesuai dengan yang diharapkan sebagai bagian dari generasi penerus cita-cita bangsa dan sebagai insan yang akan turut serta aktif di dalam bidang pembangunan nasional.”

Tujuan pendirian panti asuhan menurut Departemen Sosial Republik Indonesia (dalam Febriasari, 2007) adalah memberikan pelayanan yang berdasarkan pada profesi pekerja sosial kepada anak terlantar dengan cara membantu dan membimbing mereka ke arah perkembangan pribadi yang wajar serta mempunyai keterampilan kerja, sehingga mereka menjadi anggota masyarakat yang dapat hidup layak dan penuh tanggung jawab, baik terhadap dirinya, keluarga dan masyarakat. Tujuan penyelenggaraan pelayanan kesejahteraan sosial anak di panti asuhan adalah terbentuknya manusia-manusia yang berkepribadian matang dan berdedikasi, mempunyai keterampilan kerja yang mampu menopang hidupnya dan hidup keluarganya.

Menurut Departemen Sosial Republik Indonesia (dalam Febriasari, 2007) panti asuhan memiliki fungsi sebagai pusat pelayanan kesejahteraan sosial anak. Panti asuhan berfungsi sebagai pemulihan, perlindungan, pengembangan dan pencegahan, sebagai pusat data dan informasi serta konsultasi kesejahteraan sosial anak, serta sebagai pusat pengembangan keterampilan

(9)

116 Dinamika Penelitian

Remaja yang tinggal di panti asuhan memiliki latar belakang keluarga yang tidak utuh, buruknya pengasuhan yang nampak dari ketidakmampuan orang tua memelihara anak secara psikologis, dan memiliki masalah baik secara ekonomi maupun buruknya struktur dalam keluarga. Selain itu, remaja yang tinggal di panti asuhan harus hidup dengan banyak keterbatasan, mulai dari mereka yang lebih dipandang sebagai makhluk biologis daripada sebagai makhluk psikologis dan makhluk sosial, norma-norma dan peraturan yang cukup ketat serta adanya hukuman fisik, merasa tidak berdaya, sampai pada timbulnya perasaan bahwa mereka ditolak dan dianggap tidak berharga oleh orang tua mereka. Keterbatasan-keterbatasan inilah yang akhirnya menimbulkan rasa frustasi, emosi dendam, kebencian dan kemarahan. Remaja dengan emosi-emosi negatif seperti itu jelas akan merasa tidak bahagia. Remaja yang merasa tidak bahagia akan dipenuhi banyak konflik batin yang akhirnya menimbulkan luka hati.

Agar dapat mengatasi emosi-emosi negatif tersebut, remaja hendaknya dapat menerima keadaan dengan rasional. Hal tersebut dapat dimulai dengan upaya pemaafaan (forgivesness), yaitu dengan memaafkan diri sendiri, memaafkan keadaan, dan memaafkan orang lain yang telah menimbulkan luka hatinya.

Forgiveness adalah sikap menerima dengan keluasan hati peristiwa yang

mengecewakan termasuk menerima kenyataan yang menyakitkan bagi diri. Kemarahan, perasaan dendam, kebencian, dan kekecewaan yang terus-menerus hanya akan membawa remaja pada sikap mental dan perilaku negatif yang dapat berdampak buruk bagi dirinya dan orang lain. Forgiveness juga mampu menghentikan perasaan marah, dendam, benci, sebal atau tidak suka terhadap pelaku ketika suatu pelanggaran terjadi.

Metode Penelitian Partisipan

Subyek pada penelitian ini adalah remaja yang memiliki karakteristik yaitu, berjenis kelamin laki-laki atau perempuan, tinggal di panti asuhan minimal sudah 1

(10)

117

tahun, dan berusia 12 hingga 21 tahun. Jumlah sampel yang digunakan adalah sebanya 87 subyek remaja.

Pengukuran

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive random sampling. Peneliti membuat undian dengan menggunakan kertas yang dipotong ukuran kecil lalu menuliskan lima wilayah pada kertas tersebut. Wilayah yang terpilih adalah wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Timur. Setelah kedua wilayah tersebut didapatkan dengan cara random, peneliti lalu mencari data di internet tentang panti asuhan yang terletak di kedua wilayah tersebut. Akhirnya, peneliti menemukan dua panti asuhan yakni Yayasan Berkat Kasih Immanuel dan Panti Asuhan Bersinar.. Pangukuran variabel

forgiveness dilakukan dengan menggunakan skala TRIM-18 (McCullough, Root, &

Cohen, 2006). Penelitian sebelumnya menggunakan skala forgiveness memperoleh nilai koefisien validitas antara 0,360 sampai 0,627 dan reliabilitas sebesar 0,889 dengan mengikutsertakan subjek sebanyak 102 orang (Sandjaja, 2011).

Metode analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis statistik deskriptif, di mana peneliti menyajikan data melalui tabel dan perhitungan mean, serta perhitungan penyebaran melalui perhitungan rata-rata atau mean, standar deviasi, dan perhitungan persentase. Mean atau rerata dibandingkan dengan norma yang sudah ada.

Prosedur

Penelitian dilakukan di Panti Asuhan Bersinar dan Yayasan Berkat Kasih Immanuel pada tanggal 30 Mei dan 1 Juni 2012. Tahap pertama yang dilakukan oleh peneliti ialah merumuskan masalah yang akan diteliti. Setelah merumuskan masalah, peneliti melakukan studi literatur yaitu dengan mencari dan mempelajari buku-buku dan jurnal-jurnal yang terkait dengan topik penelitian, serta hasil penelitian sejenis yang pernah dilakukan oleh orang lain sebelumnya. Pada tahap selanjutnya, peneliti lalu membuat hipotesis penelitian atau dugaan sementara.

(11)

118

Berikutnya peneliti melakukan identifikasi dan memberi nama pada variabel penelitian yang digunakan. Setelah itu, peneliti membuat definisi operasional yang nantinya akan memudahkan peneliti dalam melakukan pengukuran. Lalu peneliti menyusun desain penelitian. Selanjutnya, peneliti menentukan subjek penelitian dan karakteristik yang sesuai untuk penelitian ini. Kemudian peneliti menyiapkan instrumen penelitian yaitu skala TRIM-18 yang berpedoman pada teori-teori yang telah dibahas pada bab sebelumnya.

Setelah itu, peneliti mulai menyiapkan surat ijin penelitian yang dibutuhkan untuk pengambilan data di panti asuhan. Setelah memperoleh surat ijin, peneliti mulai melakukan pengambilan data pada remaja yang tinggal di panti asuhan dengan memberikan skala TRIM-18 yang telah disiapkan sebelumnya. Setelah mendapatkan data dari responden, selanjutnya data akan diolah dan dianalisis dengan menggunakan program SPSS 17 for windows. Kemudian peneliti akan melakukan beberapa wawancara singkat sebagai data tambahan yang terkait dengan hasil penelitian.

Hasil

Berdasarkan hasil perhitungan statistik diperoleh rerata sebesar 57,20 dan standar deviasi sebesar 7,838. Berdasarkan norma yang ada, jumlah rerata 57,20 termasuk dalam kategori tinggi. Ada tiga dimensi yang diukur pada penelitian ini yakni motivasi membalas dendam dengan rerata 15,16; motivasi menghindar dengan rerata 21,44; dan motivasi berdamai dengan rerata 20,59. Skor perdimensi dapat diukur dengan menghitung rata-rata hipotetik. Motivasi membalas dendam dengan rerata 15,16 termasuk dalam kategori rendah; motivasi menghindar dengan rerata 21,44 termasuk dalam kategori rendah; dan motivasi berdamai dengan rerata 20,59 termasuk dalam kategori tinggi. Maka, remaja yang tinggal di panti asuhan dapat dikatakan memiliki tingkat forgiveness yang tinggi karena motivasi membalas dendam dan motivasi menghindarnya rendah, sedangkan motivasi berdamainya tinggi. Hal tersebut sesuai dengan teori yang dikemukan oleh McCullough et al. (1998) yang mendefinisikan forgiveness sebagai serangkaian perubahan motivasional pada seseorang, di mana terjadi penurunan motivasi untuk membalas dendam dan motivasi

(12)

119

untuk menghindar dari pelaku pelanggaran, dan meningkatnya motivasi untuk berdamai dan berbuat baik terhadap pelaku pelanggaran.

Pembahasan

Panti Asuhan Bersinar dan Yayasan Berkat Kasih Immanuel menanamkan nilai-nilai kerohanian yang sangat tinggi kepada seluruh penghuni panti. Hal ini dapat terlihat dari banyaknya pertemuan-pertemuan ibadah yang sering mereka lakukan di panti maupun di gereja, seperti doa pagi, persekutuan doa, kebaktian remaja dan muda-mudi, dan ibadah minggu. Dengan adanya pembinaan kerohanian di panti asuhan mampu membentuk rasa empati dan simpati mereka. McCullough et al. (1998) mengungkapkan bahwa empati merupakan faktor penentu utama dalam proses forgiveness pada diri individu. Dengan berempati, individu akan mampu memosisikan dirinya berada dalam situasi dan kondisi yang dialami oleh individu lain, termasuk juga merasakan gejolak jiwa yang terjadi dalam diri pelaku pelanggaran.

Forgiveness mensyaratkan tumbuhnya rasa hormat akan hakekat kemanusiaan

pelaku pelanggaran, dan empati dapat menjadi sarana untuk bisa menumbuhkan rasa hormat tersebut (Hadriami, 2006).

Selain itu, kedua panti tersebut merupakan panti asuhan Kristen, meskipun ada beberapa anak yang tidak beragama Kristen. Semua tradisi religius menjunjung tinggi nilai tindakan forgiveness (Hadriami, 2003). Tindakan forgiveness telah menjadi bahasan sepanjang sejarah filsafat dan refleksi dalam berbagai agama dan budaya (Hadriami, 2006). Perilaku mengampuni cukup banyak diajarkan dalam tradisi Kristiani melalui perayaan Paskah, Natal, persekutuan doa dan ibadah mingguan yang sering dilakukan baik di panti (Sandjaja, 2011). Dalam agama Kristen semua orang diajarkan untuk saling menghargai sesama manusia dan saling mengampuni kesalahan orang lain seperti mengampuni kesalahan dirinya sendiri. Menurut Mawan (dalam Selly, 2012) umat Kristiani menyatakan kasih dengan cara memandang orang tersebut berharga tanpa melihat perbuatan dan kesalahannya.

Pada penelitian ini juga dilakukan analisa tambahan dengan menggunakan analisis Chi-Square. Penggunaan metode Chi-Square sebagai alat untuk melakukan pengujian statistik pada umumnya dilakukan dengan menggunakan cross-tabulation.

(13)

120

Tujuannya adalah untuk membandingkan atau melihat hubungan antara dua variabel atau lebih. Pengambilan keputusan didasarkan pada probabilitas (signifikansi) 0,05. Jika nilai p < 0,05 maka terdapat hubungan pada variabel tersebut, sementara jika nilai p > 0,05 maka tidak terdapat hubungan (Rangkuti, 2008). Hasil pengujian menunjukkan tidak ada hubungan antara forgiveness dengan jenis kelamin, usia, agama, suku, keberadaan orang tua, dan lama tinggal. Pada gaya pengasuhan ditemukan adanya hubungan dengan forgiveness.

Remaja yang tinggal di panti mendapatkan perlakuan yang sama baik laki-laki maupun perempuan, begitu juga dengan remaja awal, remaja madya maupun remaja akhir. Contoh yang peneliti temukan ketika berada di lapangan adalah kerja bakti atau piket yang dilakukan di gedung sekolah. Anak laki-laki maupun perempuan sama-sama membersihkan halaman sekolah dengan menyapu dan mengumpulkan sampah lalu membuangnya ke tempat sampah. Kegiatan tersebut dilakukan bersama-sama tanpa ada perasaan risih atau menganggap bahwa pekerjaan tersebut lebih pantas dikerjakan oleh anak perempuan dan tidak pantas dikerjakan oleh anak laki-laki, begitu pula sebaliknya.

Makna forgiveness dan pelaksanaannya dapat berbeda dalam budaya yang berbeda pula. Takaku et al. (dalam Hadriami, 2008) dalam penelitiannya pada orang Jepang dan Amerika menemukan bahwa motivasi untuk memaafkan bagi orang budaya individualistik (Amerika) adalah bagaimana memelihara keadilan dan integritas pribadinya, sedangkan orang Jepang (kolektivistik) memutuskan untuk memaafkan demi memelihara hubungan baik dan menjaga norma sosial. Masyarakat Indonesia disebut sebagai masyarakat kolektivistik yang mengutamakan kerukunan hidup bersama. Pada budaya Jawa, untuk menjaga kerukunan orang berusaha tidak menunjukkan marahnya secara terang-terangan (Harsono & Wijayani, dalam Hadriami, 2008). Kadang-kadang seseorang tidak saling menyapa atau menghindar dari orang yang bersangkutan sehingga tampak dari luar tidak terjadi konflik yang terbuka. Konflik yang terbuka dan emosi yang terekspresikan dengan gamblang bagi budaya Jawa dianggap tidak sopan (Hadriami, 2008).

Pada budaya Batak terdapat nilai-nilai kehidupan yang telah diajarkan secara turun-temurun oleh nenek moyang dan salah satunya adalah marsisarian yang artinya

(14)

121

saling mengerti, menghargai, dan saling membantu. Prinsip marsisarian ini merupakan antisipasi dalam mengatasi konflik atau pertikaian dengan orang lain (Kustianti, dalam Agustinus, 2012). Selain nilai marsisarian, etnis Batak juga mengenal Dalihan Na Tohu, di mana merupakan prinsip nilai tahanan kebudayaan Batak. Dalihan Na Tohu menanamkan nilai-nilai kehidupan, seperti kemandirian, keterbukaan, kesadaran diri, dan kebiasaan untuk bermusyawarah. Nilai-nilai dalam

Dalihan Na Tohu menuntun orang Batak untuk mau menyelesaikan pertikaian atau

konflik dengan keterbukaan dan kesadaran diri melalui musyawarah (Harapan & Siahaan, dalam Agustinus 2012).

Panti Asuhan Bersinar dan Yayasan Berkat Kasih Immanuel mengasuh anak dari beragam latar belakang suku dan budaya. Pengurus panti berasal dari suku dan etnis yang beragam pula. Pelaksanaan praktik-praktik kebudayaan menjadi minim atau memudar karena seluruh penghuni telah berbaur dengan adanya keseragaman yang tertuang dalam aturan-aturan dan tata tertib yang ada di panti. Meskipun ada beberapa suku yang dominan pada kedua panti, seperti suku Batak pada Yayasan Berkat Kasih Immanuel dan suku Ambon pada Panti Asuhan Bersinar, namun hal tersebut tidak membuat mereka mendapatkan perlakuan yang istimewa lantaran jumlah mereka yang lebih banyak dibandingkan dengan suku lain di masing-masing panti. Perlakuan yang sama menyebabkan adanya kesetaraan antar semua suku yang ada di panti.

Pada penelitian ini, ada sebanyak 80,2% yakni 65 subyek yang masih memiliki kedua orang tua. Berdasarkan wawancara yang peneliti lakukan dengan pengurus panti, remaja yang masih memiliki kedua orang tua tersebut berasal dari latar belakang keluarga miskin. Kebanyakan para orang tua menitipkan anak mereka di panti asuhan agar dapat memperoleh pendidikan yang layak dan sampai ke jenjang SMA. Remaja yang masih memiliki kedua orang tua juga mendapatkan perlakuan yang sama dengan remaja yang hanya memiliki satu orang tua dan yang tidak memiliki kedua orang tua. Pengurus panti tidak pernah membeda-bedakan mereka atau lebih sayang dengan remaja yang sudah yatim-piatu atau pun sebaliknya. Pengurus panti memberikan kasih sayang dan perhatian yang sama bagi para remaja tersebut.

(15)

122

Subyek pada penelitian ini rata-rata sudah tinggal di panti asuhan selama kurang lebih 1-9 tahun. Beberapa remaja yang peneliti wawancarai mengaku telah menerima keadaan mereka yang harus terpisah dengan orang tua dengan alasan apa pun. Bagi remaja yang masih memiliki orang tua dan dititipkan agar mendapatkan pendidikan yang layak mengatakan senang dan bersyukur masih dapat bersekolah, sekalipun hal tersebut harus membuat mereka tidak bisa tinggal bersama orang tua mereka karena harus tinggal di asrama. Pengurus asrama mengijinkan mereka untuk pulang ke rumah orang tua mereka pada waktu liburan. Namun, sangat sedikit dari mereka yang akhirnya pulang ke rumah orang tua. Alasannya beragam, ada yang mengatakan di asrama lebih enak karena ada banyak teman yang bisa diajak bermain bersama. Remaja lain mengatakan bahwa fasilitas di asrama lebih baik dari fasilitas yang ada di rumah, khususnya fasilitas bermain seperti lapangan dan alat-alat olahraga seperti bola basket, kok, raket badminton, dan lain sebagainya. Ada juga remaja yang mengatakan tidak ingin pulang ke rumah karena tidak ingin disuruh bekerja oleh orang tua mereka. Alasan yang beragam ini menunjukkan dinamika hubungan antara orang tua dan anak yang unik dan dipengaruhi dengat kuat oleh gaya pengasuhan orang tua mereka.

Ada empat gaya pengasuhan yang digambarkan oleh Baumrind (dalam Santrock 2007) yaitu pengasuhan otoriter, pengasuhan auotoritatif, pengasuhan yang mengabaikan, dan pengasuhan yang menuruti. Dua dari empat gaya pengasuhan tersebut ada pada penelitian ini yaitu pengasuhan otoriter dan pengasuhan autoritatif.

Pengasuhan otoriter adalah gaya yang membatasi dan menghukum anak, di mana orang tua mendesak anak untuk mengikuti arahan mereka dan menghormati pekerjaan dan upaya mereka (Santrock, 2007). Anak dengan pengasuhan otoriter sering kali tidak bahagia, ketakutan, minder ketika membandingkan diri dengan orang lain, tidak mampu memulai aktivitas, dan memiliki kemampuan komunikasi yang lemah. Pengasuhan autoritatif mendorong anak untuk menjadi mandiri, dewasa, namun masih menempatkan batas dan kendali pada tindakan mereka (Santrock, 2007). Anak dengan pengasuhan otoritatif memliki pengalaman interaksi yang hangat dan terbuka dengan orangtuanya. Mereka biasa berdiskusi, bertukar pikiran, ide dan cerita dengan orang tuanya sehingga mengimbulkan karakteristik anak yang akan

(16)

123

cenderung ceria, dapat mengendalikan diri dan mandiri, berorientasi pada prestasi, cenderung untuk mempertahankan hubungan yang ramah dengan sebaya, bekerja sama dengan orang dewasa, dan bisa mengatasi stres dengan baik (Santrock, 2007).

Anak dengan pengasuhan otoritatif akan menunjukkan kedewasaan dalam berpikir dan bertindak. Kedewasaan bukan hanya mengimplisitkan adanya perjalanan waktu tetapi juga pengakuan bahwa seseorang menjadi orang yang berbeda yang telah tumbuh melalui pengalamannya. Dengan bertambahnya kedewasaan, maka korban akan melampaui luka hatinya. Dengan kedewasaan pula rasa marah akan mereda, dendam menghilang, dan korban tampak berbeda, tidak lagi melakukan reaksi yang sama, atau reaksi negatifnya menghilang (Hadriami, 2003).

Kekurangan pada penelitian ini terletak pada obyek pemafaan (individu yang telah menimbulkan luka hati) yang tidak jelas. Hal ini terjadi karena peneliti tidak mengeksplorasi hal tersebut secara mendalam pada diri subyek. Ketidakjelasan obyek pemaafan dapat memengaruhi seseorang dalam memaafkan. Selain itu, pernyataan-pernyataan pada alat ukur yang digunakan juga perlu diperjelas agar mudah dipahami oleh subyek penelitian. Kesimpulan dari penelitian ini adalah hipotesis Ha ditolak, dengan pernyataan “tingkat forgiveness pada remaja yang tinggal di panti asuhan lebih tinggi dari rerata dibandingkan dengan norma yang sudah ada”. Penelitian ini menunjukkan bahwa remaja yang tinggal di panti asuhan memiliki tingkat forgiveness yang tinggi.

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini, peneliti memberikan saran bagi para remaja tersebut agar dapat mempertahankan tingkat forgiveness yang telah dimilikinya, bahkan dapat meningkatkannya menjadi sangat tinggi. Tingkat

forgiveness tersebut dapat ditingkatkan dengan mempertahankan sikap-sikap positif

yang sudah ada dan terus mengembangkan diri serta mengeksplorasi diri ke arah yang positif. Bagi orang tua dan panti asuhan, peneliti menyarankan untuk lebih menggunakan gaya pengasuhan otoritatif disamping gaya pengasuhan yang sebelumnya telah digunakan selama ini. Bagi penelitian selanjutnya dapat lebih memerhatikan kelemahan dari alat ukur yang digunakan khususnya pada skala TRIM-18 yang digunakan pada penelitian ini. Kata-kata pada pernyataan-pernyataan yang

(17)

124

terdapat dalam skala tersebut dapat diperjelas dan disesuaikan dengan usia subyek agar lebih mudah dalam memahami setiap pernyataan yang ada.

Daftar Pustaka

Agustinus, S. (2012). Pengaruh inner healing terhadap forgiveness pada mahasiswa ukrida beretnis batak (Unpublished thesis). Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta.

Azwar, S. (2000). Metodelogi penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Azwar, S. (2007). Reliabilitas dan validitas. (3nd ed.). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Daniel. (2011). Perbedaan pemaafan antaran pria dengan wanita pada mahasiswa ukrida dan untar (Unpublished thesis). Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta.

Fenny & Suwartono, C. (2010). Hubungan antara kedekatan hubungan antarsaudara kandung dengan kecenderungan memaafkan. Jurnal Ilmiah Psikologi Mind Set, 1(2), hal. 124-130.

Hadriami, E. (2003). Meminta maaf dan memaafkan. Psikodimensia, 4(1), hal. 52-60. Hadriami, E. (2006). Pemaafan dalam konseling. Jurnal Psikodimensia, 5(1), hal. 97-108. Hadriami, E. (2008). Pemaafan dalam kaidah kerukunan hidup orang jawa. Psikodimensia,

7(1), hal. 12-25.

Hurlock, E.B. (1991). Psikologi perkembangan suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. (Istiwidayanti dan Soedjarwo, Trans.). Jakarta: Erlangga.

Kamus Bahasa Indonesia Online. (n.d.). Retrieved from www.KamusBahasaIndonesia.org Kartono, K. (2008). Patologi sosial II: Kenakalan remaja. (1st ed.). Jakarta, Indonesia: PT

RajaGrafindo Persada.

King, L.A. (2008). The science of psychology: An appreciative view. New York: McGraw-Hill. Lestari, E.S. Pengaruh memaafkan terhadap stress pada istri yang suaminya berselingkuh

(Unpublished thesis). Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta.

Manguns. (2011, Februari 22). Forward Info: Penelitian tentang anak di panti asuhan [Web log post]. Retrieved from http://www.sabdaspace.org

Marliyah, L., Dewi, F.I.R., & Suyasa, P.T.Y.S. (2004). Persepsi terhadap dukungan orangtua dan pembuatan keputusan karir remaja. Jurnal Provitae, 1(1), hal. 59-81.

McCullough, M. E., Sandage, S. J., Brown, S. W., Rachal, K. C., Worthington, E. L., & Hight, T. L. (1998). Interpersonal forgiving in close relationship II. Journal of personality and social psychology, 75(6), 1586-1603.

McCullough, M.E., Root, L.M., & Cohen, A.D. (2006). Writing about the benefits of an interpersonal transgression facilitates forgiveness. Journal of counseling and clinical psychology, 74(5), 887-897.

Papalia, D.E., Olds, S.W., & Feldman, R.D. (2009). Perkembangan manusia (10th ed.). (Brian Marswendy, Trans.). Jakarta: Salemba Humanika.

Sandjaja, S., S. (2011). Analisa faktor pengampunan (Research report). Jakarta: Universitas Kristen Krida Wacana.

Santrock, J.W. (2003). Adolescence: Perkembangan remaja. (Shinto B. Adelar dan Sherly Saragih, Trans., Wisnu C. Kristiaji, Ed.). Jakarta: Erlangga.

Santrock, J.W. (2007). Perkembangan anak. (Mila Rachmawati dan Anna Kuswanti, Trans., Wibi Hardani, Ed.). Jakarta: Erlangga.

Sarwono, J. (2006). Metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. (1st ed.). Yogyakarta: Graha Ilmu.

Sarwono, S.W. (2007). Psikologi remaja. (Rev.ed. 11). Jakarta, Indonesia: PT RajaGrafindo Persada.

(18)

125

Selly. (2012). Efektivitas inner healing terhadap pemaafan pada mahasiswa etnis Tionghoa di Ukrida. (Unpublished thesis). Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta.

Steinberg, L. (2011). Adolescence. (9th ed.). New York: McGraw-Hill.

Valentini, V. & Nisfiannoor, M. (2006). Identity achievement dengan intimacy pada remaja SMA. Jurnal Provitae, 2, 1, hal. 1-12.

Referensi

Dokumen terkait

Para wisatawan bisa mencari informasi lengkap tentang biro wisata maupun paket wisata yang ditawarkan sehingga dapat membantu para wisatawan untuk merencanakan

Pengukuran perkembangan kinerja keuangan pemerintah desa Argodadi tahun anggaran 2010 – 2013 diketahui melalui rasio efisiensi dan rasio efektivitas tahun bersangkutan

Analisis statistik deskriptif menggunakan microsoft excel untuk menganalisis data yang diperoleh dari hasil angket validasi yang diisi oleh validator dari segi

Dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 5/PUU-IX/2011, bertanggal 20 Juni 2011 mengenai pengujian Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana

Dalam pelaksanaan kegiatan, saya selaku anggota Pengawas Satuan Pendidikan dari tanggal 16 s.d 23 April 2011, selalu datang lebih awal daripada para peserta

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model Learning Cycle dapat meningkatkan pemahaman konsep mahasiswa pada Kapita

( market-based view ); (4) Masukan bagi konsumen jasa pendidikan tinggi swasta sebagai bahan evaluasi apakah keinginan mereka ( voice of the customers ) telah

Pembelajaran berjalan dengan lancer, yang diawali dengan presentasi kelompok yang bertugas dalam menjadi pemateri, kemudian ada sesi tanya jawab sekaligus diluruskan oleh