1 ABSTRAK
MODEL PENGEMBANGAN PUSAT KOTA DENPASAR SEBAGAI HERITAGE TOURISM
Pariwisata warisan budaya (heritage tourism) merupakan pariwisata yang memanfaatkan warisan atau peninggalan sejarah sebagai daya tarik wisata. Keberadaan warisan budaya (heritage) bagi Kota Denpasar dipandang sebagai sebuah tema pembangunan pariwisata pada masa mendatang. Pada saat ini keberadaan warisan budaya semakin tersingkir dan terlupakan akibat moderenisasi yang terjadi. Padahal apabila dikelola dan dimanfaatkan secara tepat, banyak manfaat yang akan dihasilkan. Sebagai langkah awal pemerintah Kota Denpasar mulai mengembangkan city tour di Kota Denpasar. Namun pengembangan city tour saat ini belum optimal, berbagai fasilitas pendukung pariwisata belum tersedia dengan baik. Untuk menanggulanginya, melalui penelitian ini mencoba membuatkan sebuah model pengembangan pariwisata dengan memanfaatkan warisan budaya sebagai daya tarik wisata.
Penelitian ini mengkaji dua persoalan yang berfokus pada bagaimana kondisi eksisting Kota Denpasar sebagai heritage tourism. Selain itu merencanakan sebuah model pengembangan heritage tourism di pusat Kota Denpasar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif. Penentuan informan yang digunakan adalah informan pangkal dan snowball
technique. Konsep dan teori yang digunakan dalam membahas penelitian ini
adalah konsep model pengembangan pariwisata, konsep pariwisata perkotaan, dan konsep Pariwisata Warisan Budaya (heritage tourism). Teori yang digunakan yaitu teori destination area life cycle.
Berdasarkan dari hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa, eksistensi warisan budaya di Pusat Kota Denpasar mulai digali dan dibenahi sesuai dengan tujuan manfaat yang dimiliki dari masin-masing warisan tersebut. Bahkan beberapa di antara warisan budaya yang ada sudah mulai dikembangkan menjadi sebuah daya tarik wisata. Model pengembangan heritage tourism yang di rencanakan saat ini di Pusat Kota Denpasar yaitu daily activity heritage tour (aktivitas warisan budaya sehari-hari).
ABSTRACT
THE DEVELOPMENT MODEL OF DENPASAR CITY CENTER AS HERITAGE TOURISM
Heritage tourism is a tourism that utilizes heritage or historical heritage as a tourist attraction. The existence of heritage for Denpasar is regarded as the theme of tourism development in the future. Nowadays, the existence of heritage sites are more neglected and abandoned due to the modernization effect. In fact, if it is managed and organized properly, it will contribute many positive benefits. As a first step, the government of Denpasar embarks to develop a city tour in Denpasar city. Meanwhile, the development of city tour is currently does not run optimally yet, various supporting tourism facilities are not well established. In order to overcome it, this research tried to make a model of tourism development by utilizing heritage as a tourist attraction.
This research analyses two research problems focusing on the existing condition of Denpasar city as heritage tourism. Besides, it is by planning the heritage tourism model in Denpasar city. The method used in this research is descriptive qualitative. The informants were chosen by base informants and snowball technique. Concepts and theories used in discussing this research are the development model of tourism concept, urban tourism concept, and the heritage tourism concept. The theories used for this research is destination area life cycle.
According to the results of the discussion, it can be concluded that, the existence of cultural heritage in Denpasar city is started to be explored and improved along with the objective and benefits owned by each heritage. Moreover, some cultural heritages are already developed into a tourist attraction. The development model of heritage tourism which is now planned in Denpasar city comprises daily activity heritage tour.
DAFTAR ISI
Halaman
SAMPUL DALAM ... i
PRASYARAT GELAR ... ii
LEMBAR PEGESAHAN ... iii
PENETAPAN PANITIA PENGUJI ... iv
UCAPAN TRIMAKASIH ... v
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
RINGKASAN ... x
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR TABEL ... xvi
DAFTAR GAMBAR ... xvii
BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 9 1.3 Tujuan Penelitian ... 9 1.4 Manfaat Penelitian ... 9 1.4.1 Manfaat Akademik... 9 1.4.2 Manfaat Praktis ... 10
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP DAN TEORI ANALISIS ... 11
2.1 Kajian Pustaka ... 11
2.2 Konsep ... 21
2.2.1 Model Pengembangan Pariwisata ... 21
2.2.2 Pariwisata Perkotaan ... 24
2.2.3 Heritage Tourism ... 26
2.3 Teori... 29
Teori Destination Area Life Cycle ... 29
BAB III METODE PENELITIAN... 34
3.1 Rancangan Penelitian ... 34
3.2 Lokasi Penelitian ... 35
3.3 Instrumen Penelitian ... 37
3.4 Ruang Lingkup Penelitian ... 37
3.4.1 Kondisi Eksisting Heritage Tourism di Pusat Kota Denpasar ... 37
3.4.2 Model Pengembangan Pusat Kota Denpasar sebagai Heritage Tourism ... 38
3.5 Jenis dan Sumber Data ... 39
3.5.1 Jenis Data ... 39
3.5.2 Sumber Data... 40
3.6 Teknik Pengumpulan Data ... 40
3.6.1 Observasi... 41
3.6.2 Wawancara Mendalam... 41
3.6.3 Studi Kepustakaan ... 42
3.7 Teknik Penentuan Informan ... 42
3.8 Teknik Analisis Data ... 43
BAB IV GAMBARAN UMUM KOTA DENPASAR ... 45
4.1 Sejarah Kota Denpasar ... 45
4.4.1 Denpasar Pada Masa Kerajaan ... 45
4.1.2 Denpasar Pada Masa Kolonial ... 48
4.1.3 Denpasar Pada Masa Kemerdekaan ... 50
4.2 Kondisi Geografis dan Demografis ... 52
4.3 Warisan Budaya di Pusat Kota Denpasar ... 59
BAB V EKSISTENSI HERITAGE TOURISM DI PUSAT KOTA DENPASAR ... 79
5.1 Potensi Kota Denpasar Sebagai Heritage Tourism ... 79
BAB VI MODEL PENGEMBANGAN PUSAT KOTA DENPASAR
SEBAGAI HERITAGE TOURISM ... 93
6.1 Model yang sudah Berjalan ... 93
6.2 Model yang belum Berjalan ... 98
BAB VII SIMPULAN DAN SARAN ... 117
8.1 Simpulan ... 117
8.2 Saran ... 119 DAFTAR PUSTAKA
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pariwisata telah menjadi salah satu industri terbesar di dunia, dan merupakan andalan utama dalam menghasilkan devisa di berbagai negara. Pariwisata merupakan suatu lokomotif pembangunan yang menarik semua sektor untuk bergerak maju (Pitana, 2005). Banyak negara berlomba-lomba mengembangkan indutri pariwisata guna memperkenalkan daerah mereka agar lebih dikenal. Setiap negara mampu untuk mengembangkan industri ini, karena pariwisata merupakan industri yang multikompleks, sehingga potensi apapun yang dimiliki oleh negara tersebut dapat dikembangkan sebagai produk pariwisata. Pariwisata tidak harus mengutamakan modernisasi, namun dengan memanfaatkan alam, budaya, serta kearifan lokal masyarakat, pariwisata dapat terwujud. Produk pariwisata yang saat ini yang sedang gencar dikembangkan yaitu heritage tourism.
Heritage tourism merupakan sebuah pariwisata alternatif guna mengurangi mass tourism yang cenderung lebih kapitalis dalam mengembangkan industri
pariwisata. Menurut hasil studi, pariwisata warisan budaya kini ditengarai sebagai salah satu segmen industri pariwisata yang perkembangannya paling cepat. Hal ini dilandasi oleh adanya kecenderungan atau trend baru bagi wisatawan untuk mencari suatu yang unik dan autentik dari suatu kebudayaan (Ardika, 2015). Karakteristik wisatawan pun sangat berbeda dari wisatawan pada umumnya. Menurut hasil studi dari Travel Industry Association and Smithsonian Magazine
pada tahun 2003 menunjukkan bahwa wisatawan yang mengunjungi situs sejarah dan atraksi budaya pada umumnya berpendidikan tinggi, dengan pendapatan lebih banyak, tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya lebih banyak dibandingkan dengan jenis wisatawan pada umumnya (Ardika, 2015:17).
Kota merupakan jenis destinasi pariwisata yang paling penting di dunia sejak tahun 1980-an (Law, 1996). Sebagai salah satu fenomena kepariwisataan dunia, kota dipandang sebagai suatu proses kompleks yang terkait dengan budaya, gaya hidup, dan sekumpulan permintaan yang berbeda terhadap liburan dan perjalanan wisata (Page, 1995). Laporan terakhir dari World Bank menjelaskan bahwa perkembangan jumlah penduduk perkotaan relatif tinggi, dan bahkan diprediksi pada tahun 2050, terdapat 85% penduduk dunia akan hidup di daerah perkotaan. Diperkirakan pada tahun 2020 persentase jurnlah penduduk kota di Indonesia mencapai 50% dari jumlah penduduk seluruh Indonesia (Nawir, 2008). Hasil ini menunjukkan bahwa kota sangat berpotensi dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata. Pariwisata perkotaan memiliki karakteristik yang khas, berbeda dengan pariwisata konvensional pada umumnya yang daya tarik wisatanya memang ditujukan hanya untuk mereka yang berwisata. Orang-orang yang berwisata ke kota memiliki berbagai motivasi seperti, keperluan bisnis, mengunjungi sanak saudara, atau memenuhi kebutuhan pribadi lainnya.
Wisatawan perkotaan menggunakan fasilitas perkotaan yang juga digunakan oleh penduduk kota sebagai daya tarik wisatanya (Law, 1996).
Heritage Tourism merupakan wisata yang memanfaatkan warisan dan
daya tarik tertentu seperti, sosial budaya, puri (kerajaan), ziarah, situs arkeologi dan bersejarah penting (Inskeep, 1991).
Keberadaan heritage saat ini semakin tersingkir dan terlupakan akibat modernisasi yang terjadi (Ardika, 2015). Padahal apabila dikelola dan dimanfaatkan secara tepat, tidak menutup kemungkinan heritage tourism dapat menjadi sumber pendapatan daerah yang dapat mendorong pertumbuhan perekonomian kota. Pariwisata Kota (Urban Tourism) pada dasarnya adalah konsep wisata, yang di dalamnya terdapat konsentrasi berbagai bentuk atraksi, amenitas dan kemudahan aksesibilitas yang dapat menarik pengunjung baik dari domestik maupun international, termasuk wisatawan dan para pelaku bisnis (Priono, 2012).
Wisata warisan budaya (heritage tourism) memanfaatkan potensi peninggalan sejarah, budaya dan purbakala yan terdapat di pusat Kota Denpasar. Keberadaan warisan budaya ini merupakan sebuah hasil evolusi sejarah Kota Denpasar yang cukup panjang (Darma, Syamsul, Widiastuti, 2016). Namun pengembangan heritage tourism di Kota Denpasar belum maksimal, hampir sama halnya dengan program city tour. Pemerintah Kota Denpasar mulai menunjukkan komitmennya dalam menjaga dan menyelamatkan potensi heritage di Kota Denpasar. Hal ini terbukti dari keikutsertaan Kota Denpasar dalam berbagai organisasi yang berkaitan dengan heritage seperti: Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI), Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI), dan yang terakhir merupakan organisasi yang bertaraf internasional yaitu, Organization of World
Pada saat ini Kota Denpasar mulai meningkatkan upaya untuk mencari dan menemukan kembali identitasnya sebagai sebuah kota yang terbentuk dari wilayah Kerajaan Badung. Untuk menemukan identitas itu pemerintah dihadapkan dalam sebuah permasalahan yaitu modernitas. Dalam menjaga identitas sebuah kota khususnya Kota Denpasar, modernitas perlu dihadapi dan disikapi bersama agar akar jati diri dari sebuah kota tersebut tidak hilang (Salain, 2011). Seperti halnya kota-kota lain di Indonesia, Kota Denpasar memiliki potensi dan keunikannya sendiri dalam hal heritage site (Mardika, dan Laksmi, 2008).
Keberadaan Heritage di Kota Denpasar ini sudah sangat lama sekali, namun pengembangan terhadap potensi tersebut belum maksimal dilakukan oleh pemerintah. Potensi tersebut harus dimanfaatkan sebaik mungkin khususnya dalam bidang pariwisata. Selain untuk melestarikan keberadaanya juga dapat meningkatkan lapangan pekerjaan bagi masyarakat kecil menengah. (Griya, 2006) dalam (Mardika, dan Laksmi, 2008) menyatakan bahwa secara umum tinggalan sejarah di Kota Denpasar meliputi: pura, arca, candi, puri, museum, hotel, balai banjar, pasar, dan kompleks pertokoan.
Peninggalan sejarah tidak hanya berupa peninggalan fisik, namun kebudayaan serta tradisi, dan aktivitas tradisional masyarakat yang terdapat di Kota Denpasar merupakan potensi heritage tourism. Dalam upaya menghadapi modernitas, tradisi serta aktivitas tradisional masyarakat juga harus dijaga keberadaanya. Karena tinggalan sejarah dan aktivitas tradisional masyarakat tidak bisa lepas dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bali.
Seperti halnya di dalam sebuah pasar tradisional, kita dapat menemukan berbagai aktivitas tradisional masyarakat Bali khususnya seperti: tradisi jual beli dengan cara tawar menawar, tradisi dimana setiap pedagang menghaturkan sesajen (mebanten) sebelum berjualan, tukang sun (orang yang membantu membawa barang belanjaan seorang pembeli). Lain halnya di pura ataupun puri, aktivitas tradisional yang biasa dilakukan seperti: mebanten, (menghaturkan sesajen) untuk para leluhur.
Kota Denpasar saat ini termasuk salah satu anggota Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI). Sebagai kota dengan konsep "budaya unggul dan kreatif" melestarikan pusaka atau warisan sungguh-sungguh sangat perlu dilakukan. Hal ini sebagai penguatan identitas, refrensi nilai-nilai leluhur, dan karakter positif agar tercegah dari dislokasi, disintegrasi, dan disharrmoni (Geriya, 2011). Kota Denpasar saat ini dan nanti hendaknya meningkatkan upaya untuk menemukan kembali identitas kebudayaanya melalui keberadaan benda-benda warisan yang masih terjaga keberadaanya hingga saat ini. Karena citra sebuah kota ditentukan oleh sejarah kota itu sendiri termasuk benda-benda bersejarah yang terdapat di dalamnnya (Salain, 2011:25).
Keberadaan warisan (heritage) bagi Kota Denpasar dipandang sebagai sebuah tema pembangunan pada masa mendatang. Karena potensi ini dapat membantu mengendalikan berbagai pengaruh negatif. Pengembangan warisan (heritage) juga bertujuan untuk pelestarian, mengembangkan ekonomi kreatif, pariwisata, pendidikan, tentunya juga rasa kebanggaan dan menumbuhkan rasa nasionalisme (Murjana, 2011).
Pengembangan industri pariwisata tidak lepas dari peran stakeholder yaitu pemerintah, investor, dan masyarakat. Pemerintah sebagai regulator yang membuat kebijakan tentang pembangunan tersebut. Investor atau swasta sebagai badan pengelola atau pemodal. Terakhir masyarakat sebagai aktor atau subyek yang menjalankan pengembangan tersebut. Masing-masing elemen tersebut memiliki tugas dan tanggung jawab dalam menjalankan sebuah sistem pengembangan.
Tujuan dari sebuah pengembangan pariwisata berorientasi pada kesejahteraan dan keterlibatan masyarakat dalam sebuah proses pengembangan pariwisata tersebut. Pada dasarnya industri pariwisata diharapkan mampu membuka banyak lapangan pekerjaan serta mampu mengentaskan kemiskinan. Namun kenyataan dilapangan fakta itu belum dapat menjawab asumsi tersebut. Apalagi pembangunan pariwisata sekarang lebih cenderung ke arah moderenisasi beberapa mata pencaharian masyarakat lokal seperti petani, kebun, dan nelayan sudah tergusur akibat alih fungsi lahan.
Model pengembangan heritage tourism merupakan sebuah pengembangan pariwisata alternatif di Kota Denpasar. Model ini merupakan sebuah pariwisata yang memanfaatkan dan memberdayakan peninggalan-peninggalan sejarah baik yang bersifat tangible dan intangible termasuk masyarakatnya sendiri sebagai daya tarik wisata. Seperti di ketahui, keberadaan masyarakat Kota Denpasar sangat beragam, berbagai etnis, dan ras terdapat di dalamnya. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat Kota Denpasar sangat multikultur (Murjana, 2011).
Banyak orang berpindah tempat ke Kota Denpasar untuk mencari pekerjaan. Pengembangan heritage tourism sangat sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh Kota Denpasar. Prinsip pengembangan heritage tourism harus bertumpu kepada masyarakat. Mereka merupakan aktor dalam setiap kegiatan tersebut. Mereka harus mampu membangun sebuah sistem sendiri untuk melindungi heritage yang mereka miliki. Inilah yang nantinya akan timbul rasa memiliki yang sangat kuat atas apa yang mereka miliki, sehingga mereka mampu mengelola warisan budaya mereka secara sendiri (Murjana, 2011).
Melihat potensi heritage tourism di lapangan, banyak hal yang dapat dilakukan guna memberdayakan masyarakat dalam model pariwisata ini. Salah satunya transportasi tradisional seperti dokar dan sepeda ontel. Transportasi ini bisa digunakan untuk mengelilingi kawasan heritage yang ada di Pusat Kota Denpasar. Namun para kusir dokar sekarang sudah mulai berkurang keberadaannya. Hal ini membuktikan bahwa pemberdayaan serta partisipasi masyarakat kurang diperhatikan.
Model pengembangan heritage tourism ini merupakan suatu rancangan dalam mengembangkan industri pariwisata dengan memanfaatkan segala elemen yang terdapat di Kota Denpasar khususnya warisan dan peninggalan sejarah serta masyarakat yang ada di Kota Denpasar. Sejak tahun 2008 Pemerintah Kota Denpasar melalui Dinas Pariwisata Kota Denpasar membuat sebuah program city
tour dengan megunjungi situs-situs sejarah di Pusat Kota Denpasar.
Pengembangan program city tour ini belum berjalan secara optimal, bahkan sarana dan prasarana yang mendukung program ini belum terealisasi
dengan baik seperti; sarana transportasi, pemandu wisata, dan pusat informasi tentang daya tarik wisata yang ada di Kota Denpasar. Dalam upaya pengembangan suatu daya tarik wisata, sarana dan prasarana pendukung pariwisata harus tersedia dengan lengkap. Hal ini ditujukan agar wisatawan merasa nyaman dan senang berkunjung ke suatu daya tarik wisata khususnya di pusat Kota Denpasar.
Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan city tour Kota Denpasar
belum terorganisasi. Keterlibatan mereka memiliki suatu daya tarik yang sangat menarik dalam mengembangakan heritage tourism di pusat Kota Denpasar. Pemerintah belum membuatkan sebuah regulasi tentang keterlibatan masyarakat dalam pengembangan heritage tourism di pusat Kota Denpasar. Pengembangan
heritage tourism di pusat Kota Denpasar hadir untuk menghadapi modernitas dan
untuk menjaga warisan budaya yang terdapat di dalamnya (Salain, 2011). 1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas yang menjadi pokok permasalah dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana kondisi eksisting heritage tourism di Pusat Kota Denpasar? 2. Bagaimana model pengembangan Pusat Kota Denpasar sebagai heritage
tourism?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengkaji kondisi eksisting heritage tourism di Pusat Kota Denpasar.
2. Untuk membuat model pengembangan Pusat Kota Denpasar sebagai
1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1Manfaat Akademik
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan ilmu bagi mahasiswa atau akademisi. Dapat dijadikan rujukan bagi pemerintah sebagai pelaksana kebijakan pengembangan kepariwisasataan dalam merencanakan dan mengembangkan produk pariwisata, khususnya pariwisata kota. Menambah wawasan berpikir dalam mengidentifikasi dan menganalisis masalah-masalah kepariwisataan khususnya tentang identifikasi produk pariwisata kota.
1.4.2 Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan masukan dan bahan pertimbangan bagi pihak penyusun dan pelaksana kebijakan pengembangan kepariwisasataan dalam merencanakan dan mengembangkan produk pariwisata, khususnya pariwisata kota. Karena dengan mengidentifikasikan potensi yang dimiliki, maka dapat lebih mudah merencanakan dan mengembangkan model pariwisata, khususnya dalam hal ini adalah model pengembangan pariwisata perkotaan.