commit to user BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Motivasi Akademik a. Definisi
Motivasi berasal dari kata Latin movere diartikan sebagai dorongan atau menggerakkan (Hasibuan, 2006). Sedangkan motivasi dalam Bahasa Inggris berasal dari kata motive yang artinya segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu guna mencapai tujuan tertentu (Shaleh dan Wahab, 2004). Menurut Shanks (2010), motivasi adalah suatu tindakan atau proses pemberian motif yang menyebabkan seseorang untuk mengambil beberapa tindakan. Termotivasi berarti bergerak untuk melakukan sesuatu. Seseorang yang merasa tidak ada dorongan atau inspirasi untuk bertindak dicirikan sebagai tidak termotivasi. Sedangkan seseorang yang mendapatkan dorongan untuk melakukan mencapai tujuan dinilai termotivasi (Ryan dan Deci, 2000).
Motivasi memainkan peran penting dalam prestasi seseorang (Eccles dan Wigfield, 2002). Ini terlihat dalam studi tentang motivasi bahwa motivasi merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi belajar (Horzum et al., 2015).
Motivasi yang memengaruhi kegiatan akademik disebut motivasi akademik. Motivasi akademik berarti seseorang merasa senang dalam melakukan aktivitas akademik seperti memecahkan permasalahan, rasa ingin tahu, dan menjawab tantangan dalam tugas yang sulit. Motivasi akademik sangatlah penting dikarenakan pengaruh untuk kegiatan akademik kepada tujuan yang jelas yang diharapkan dapat tercapai (Gottfried, 1990; Hamzah, 2009).
Teori motivasi yang menjelaskan tentang motivasi akademik dikemukakan oleh Ryan dan Deci (2000) yaitu Self Determination Theory (SDT). Dalam teori ini motivasi akademik dibagi menjadi tiga komponen motivasi yaitu: motivasi akademik intrinsik, motivasi akademik ekstrinsik, dan amotivasi (Vallerand et al., 1992).
Motivasi akademik intrinsik merupakan dorongan dari dalam diri seseorang yang memengaruhi keadaan motivasi akademik. Motivasi akademik intrinsik terdiri dari tiga unsur yaitu:
1) Mengetahui (to know): seseorang berusaha untuk mempelajari atau memahami sesuatu hal yang baru.
2) Menyelesaikan tugas (to accomplish): seseorang ingin menciptakan, mengerjakan, dan menyelesaikan sesuatu tugas. 3) Mendapatkan pengalaman (to experience stimulation):
seseorang senang untuk merasakan dorongan tertentu sebagai sebuah pengalaman.
Dari ketiga unsur tersebut yang paling menentukan motivasi akademik intrinsik seseorang adalah keinginan untuk mengetahui (to know) (Vallerand et al., 1992).
Motivasi akademik ekstrinsik terbentuk atas pengaruh dari luar individu yang memengaruhi keadaan motivasi akademik. Motivasi akademik ekstrinsik terdiri dari tiga unsur yaitu:
1) Pengaruh luar (external regulation): seseorang melakukan sesuatu dikarenakan dorongan dari orang lain.
2) Pengaruh internalisasi (introjected): seseorang melakukan sesuatu karena paksaan dari dalam dirinya sendiri.
3) Pengaruh identifikasi (identified): seseorang melakukan sesuatu walaupun sebenarnya orang tersebut tidak menyukainya.
Dari ketiga unsur tersebut yang paling menentukan motivasi akademik ekstrinsik adalah pengaruh dari luar (external regulation). Sedangkan amotivasi berarti seseorang tidak memiliki motivasi intrinsik maupun ekstrinsik serta seseorang tersebut tidak merasa mampu untuk mengerjakan sesuatu aktivitas (Vallerand et al., 1992; Ryan dan Deci, 2000)
Perilaku yang termotivasi secara intrinsik menggambarkan bentuk asli dari aktivitas yang berkedaulatan diri, yaitu seseorang dalam melakukan aktivitas secara alami dan spontan saat seseorang memiliki kebebasan sesuai apa yang seseorang inginkan (Ryan dan Deci, 2000). Mahasiswa diharapkan dapat menumbuhkan,
mengembangkan, dan memiliki motivasi intrinsik dikarenakan tuntutan dari Perguruan Tinggi mengharapkan mahasiswa untuk Self Directed Learning, tidak tergantung pada orang lain, dan self motivated (Compton dan Hoffman, 2005).
Menurut Ryan dan Deci (2000) dalam teori SDT, ada tiga kebutuhan dasar yang mendasari motivasi intrinsik pada setiap individu yaitu:
1) Otonomi (autonomy), yaitu kebutuhan seseorang untuk bebas mengintegrasikan tindakan yang dijalankan dengan diri pribadi tanpa terikat atau mendapat kontrol dari orang lain. Individu dapat membuat keputusan yang bebas dalam kehidupan yang penting bagi individu tersebut.
2) Kompetensi (competence), yaitu kebutuhan seseorang untuk memiliki suatu kekuatan untuk mengontrol dan menguasai tindakan yang dijalankan.
3) Pertalian dengan orang lain (relatedness), yaitu kebutuhan seseorang akan hubungan interpersonal yang mendukung secara pribadi.
Menurut Wlodkowski (1985), motivasi akademik intrinsik dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:
1) Kemampuan
Kekuatan untuk mendorong seseorang dalam melakukan kegiatan akademik dan merespon kegiatan akademik.
2) Kebutuhan
Kebutuhan diartikan sebagai suatu kondisi kekurangan yang berarti ada sesuatu yang kurang apabila seseorang tidak melakukan sesuatu kegiatan akademik. Oleh karena itu muncul kehendak untuk memenuhi dan mencukupinya sehingga mencapai tujuan tertentu.
3) Minat
Kecenderungan dan ketertarikan seseorang terhadap sesuatu serta merasa senang dalam bidang tersebut. Apabila minat terhadap kegiatan akademik tinggi akan menyebabkan seseorang lebih cepat dan mudah dalam menjalankan kegiatan akademik.
4) Emosi
Emosi mengacu pada pengalaman seseorang selama proses kegiatan akademik.
5) Sikap
Kecenderungan seseorang untuk mereaksikan senang atau tidak senang terhadap kegiatan akademik.
b. Academic Motivation Scale (AMS)
Academic Motivation Scale (AMS) terdiri dari 28 item yang terdiri dari motivasi akademik ekstrinsik, motivasi akademik intrinsik dan amotivasi. Motivasi akademik ekstrinsik mengandung 3 unsur utama yaitu pengaruh identifikasi (4 subskala), pengaruh internalisasi (4 subskala), dan pengaruh luar (3 subskala). Sama halnya dengan motivasi akademik ekstrinsik, motivasi akademik intrinsik juga mengandung 3 unsur yaitu untuk mengetahui (3 subskala), untuk menyelesaikan tugas (4 subskala) dan untuk mendapatkan pengalaman (4 subskala). Sedangkan amotivasi terdiri 4 subskala (Vallerand et al., 1992-1993).
Motivasi akademik intrinsik dapat diukur dengan Academic Motivation Scale. Kuesioner ini dengan 7 poin skala Likert. Skala 1 untuk tidak sesuai sama sekali, skala 2 untuk sedikit-sedikit, skala 3 untuk antara sedikit-sedikit dengan netral, skala 4 untuk netral, skala 5 untuk banyak sesuai, skala 6 untuk antara banyak sesuai dengan benar-benar sesuai, dan skala 7 untuk benar-benar sesuai (Vallerand et al., 1992-1993).
2. Self Directed Learning (SDL)
a. Definisi Self Directed Learning (SDL)
Knowles mendefinisikan SDL pertama kali sebagai gambaran suatu proses seseorang individu mengambil inisiatif, dengan atau
tanpa bantuan orang lain, dalam menentukan kebutuhan belajar, merumuskan tujuan pembelajaran, mengidentifikasi sumber daya manusia dan material untuk belajar, memilih dan menerapkan sesuai strategi pembelajaran serta mengevaluasi hasil belajar (Williams et al., 2013). Sementara Guglielmino (1977) mendefinisikan SDL terdiri dari sikap, nilai, dan kemampuan yang memungkinkan seorang individu mampu belajar secara mandiri.
SDL merupakan suatu pembelajaran yang dapat meningkatkan pengetahuan, keahlian, prestasi, dan pengembangan diri dimana individu menggunakan banyak metode dalam banyak situasi dalam setiap waktu. SDL diperlukan karena dapat memberikan kemampuan seseorang individu untuk mengerjakan tugas, untuk mengkombinasikan perkembangan kemampuan dengan perkembangan karakter dan mempersiapkan individu untuk mempelajari seluruh kehidupannya. SDL mencakup bagaimana seseorang individu belajar setiap harinya, bagaimana seseorang individu dapat menyesuaikan dengan keadaan yang cepat berubah, dan bagaimana seseorang individu dapat mengambil inisiatif sendiri ketika suatu kesempatan tidak terjadi atau tidak muncul (Gibbons, 2002). Sementara Guglielmino (1997) berpendapat bahwa kemampuan SDL setiap mahasiswa dalam pembelajaran memiliki tingkatan kemampuan berbeda-beda. Selain itu, dikemukakan bahwa SDL dapat terjadi dalam berbagai macam situasi seperti dosen secara
langsung terfokus di ruangan kelas (teacher directed), mahasiswa sendiri merencanakan belajar (self planned), dan mahasiswa sendiri melakukan belajar (self conducted).
Pembelajaran mandiri atau disebut dengan SDL adalah mahasiswa berperan aktif dalam merencanakan (planning), memantau (monitoring), dan mengevaluasi (evaluating) proses belajar. Planning adalah kegiatan mahasiswa memahami segala peluang yang dimilikinya, menentukan tujuan, dan membuat strategi untuk mencapainya serta mengidentifikasi hambatan yang akan dihadapi. Monitoring adalah kegiatan mahasiswa untuk menyadari apa yang sedang dilakukannya dan sudah bisa mengantisipasi hal yang akan terjadi setelahnya dengan cara melihat lagi ke belakang serta ke depan apa yang telah dipelajarinya. Evaluating dengan kata lain dapat disebut refleksi. Refleksi penting untuk pengaturan diri karena dalam hal keilmuan sebagai motivasi keduanya memiliki aspek untuk membentuk proses belajar yang self regulated. SDL memungkinkan mahasiswa belajar secara aktif dalam memperoleh informasi serta mahasiswa memiliki peran dalam kebutuhan belajarnya sehingga dapat memilih strategi belajar yang paling sesuai dengannya dan menentukan sejauh mana mahasiswa mengerti (Secondaria et al., 2009)
Self Directed Learning memiliki beberapa manfaaat penting menurut Gibbons (2013), yaitu :
1) Mengetahui kemampuan diri-sendiri dan cara menggunakannya dengan efektif.
2) Mengetahui bidang yang digemari dan memahami bidang tersebut.
3) Mandiri dalam mencari sumber belajar.
4) Dapat mencari ide baru yang terkait dengan bidang yang diminati.
5) Terampil dalam merumuskan tujuan belajar. 6) Mengetahui cara mendapatkan tujuan belajar.
7) Menemukan cara yang sesuai dengan diri-sendiri untuk mendapatkan tujuan belajar.
8) Mengerti cara menyelesaikan kegiatan dengan baik.
9) Dapat menguasai dan menyelesaikan masalah yang muncul selama proses belajar.
10) Mengetahui cara untuk memotivasi diri menjadi produktif. 11) Mengetahui cara belajar dengan cepat dan efektif.
12) Mengetahui cara membagi waktu, sumber daya, dan tenaga dengan efektif serta efisien.
b. Definisi Self Directed Learning Readiness (SDLR)
SDLR didefinisikan sebagai suatu tingkat dari sikap, kemampuan, dan karakteristik personal yang dimiliki seorang individu yang dibutuhkan untuk melakukan SDL (Wiley, 1983). SDLR dipengaruhi oleh pengelolaan diri, motivasi akademik, dan pengendalian diri (Baumgartner, 2003; Idros et al., 2010).
Setiap individu dalam menjalankan SDL memiliki SDLR yang berbeda karena sistem pembelajaran anak-anak dan dewasa sangat berbeda. Teori tentang pembelajaran dewasa menganggap bahwa saat anak-anak bertumbuh dan berkembang menjadi dewasa, seseorang berubah dari manusia yang dependen menjadi yang mandiri. Dewasa secara umum memiliki pengalaman yang sangat lama di lingkungan pembelajaran teacher-dependent, mereka tidak siap untuk SDL tanpa perubahan cara pembelajaran. Knowles mengatakan bahwa titik dimana seseorang menjadi dewasa adalah saat seseorang menganggap diri self directing secara keseluruhan dan menginginkan orang lain menganggap dia self directed (Hsu, 2005).
Menurut Frisby (1991), seseorang dikatakan memiliki SDLR yang tinggi dikarakteristikan sebagai berikut:
1) Seseorang mengambil inistiatif sendiri tanpa tergantung oleh orang lain dan tekun dalam belajar.
2) Seseorang yang memiliki tanggung jawab atas belajarnya serta memandang masalah sebagai tantangan yang harus dihadapi bukan sebagai hambatan.
3) Seseorang yang mampu menerapkan sikap percaya diri, kedisiplinan, dan memiliki keinginan kuat untuk belajar terhadap perubahan yang baik.
4) Seseorang yang mampu menggunakan keterampilan belajar, mengatur waktunya, dan menyesuaikan langkah untuk belajar. 5) Seseorang yang mampu mengembangkan sebuah rencana untuk
menyelesaikan pekerjaan.
6) Seseorang yang menikmati proses belajar dan berorientasi kepada tujuan yang jelas.
c. Faktor-faktor yang memengaruhi Self Directed Learning Readiness (SDLR)
Menurut Fisher et al. (2001), dalam pembentukan SDLR dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu pengelolaan diri, motivasi akademik dan pengendalian diri. Pengelolaan diri atau self management menurut Garrison (1977) menggambarkan seorang pembelajar menetapkan tujuan, mendukung dan mengelola sumber daya yang tersedia. Sedangkan motivasi mengacu pada pengaruh internal dan eksternal. Motivasi merupakan salah satu konsep yang paling penting dan dipercaya dalam keberhasilan seorang
pembelajar. Pengendalian diri merupakan kemampuan seseorang yang diperlukan dalam menambah pengetahuan yang ada untuk mencapai tujuan seorang pembelajar.
Menurut Leach (2000) dan Huang (2008), faktor – faktor yang memengaruhi kemauan dan kemampuan dalam SDLR sebagai berikut :
1) Lingkungan pembelajaran
Dalam hukum law of readiness disebutkan bahwa apabila individu dihadapkan dengan stimulus berupa lingkungan belajar yang menuntut kemandirian belajar dan keaktifan mempelajari banyak hal, maka dibutuhkan kesiapan dari individu menjadi Self Directed Learners untuk merespon stimulus tersebut sehingga proses belajar menjadi lancar dan akhirnya meraih prestasi yang memuaskan (Zulharman et al., 2008). Lingkungan pembelajaran meliputi waktu yang tersedia untuk belajar dan aksesibilitas sumber belajar.
a) Waktu yang tersedia untuk belajar
Waktu adalah faktor kunci dalam kemauan individu untuk menjadi Self Directed Learners. SDL akan membutuhkan lebih banyak waktu. Oleh karena itu, dengan lebih banyaknya waktu yang tersedia untuk belajar, individu akan lebih mampu menjadi Self Directed Learners.
b) Aksesibilitas sumber belajar
Aksesibilitas sumber belajar sangat penting dalam hal SDLR. Terbatasnya akses terhadap sumber belajar akan membatasi kesempatan untuk menjadi Self Directed Learners.
2) Metode pembelajaran PBL
Metode pembelajaran PBL merupakan metode pembelajaran menerapkan prinsip-prinsip pendidikan orang dewasa sehingga dapat membentuk kematangan psikologis dalam proses belajar yang ditandai dengan karakter SDL pada diri pembelajar (Williams, 2001). Penerapan metode PBL menuntut mahasiswanya lebih banyak belajar mandiri dan mahasiswa dituntut untuk aktif mencari pembaharuan ilmu pengetahuan sehingga dapat meningkatkan SDLR seseorang. 3) Konteks pembelajaran
Kemauan dan kemampuan orang-orang dalam hal SDL tampaknya bervariasi dari situasi ke situasi. Individu yang bukan Self Directed Learner dalam konteks pembelajaran formal dapat menjadi Self Directed Learners dalam konteks pembelajaran non formal.
4) Pengetahuan dasar dan tingkat pengetahuan
Apabila seseorang memiliki pengetahuan dasar yang relevan, seseorang akan merasa lebih mampu mengatur pembelajarannya sendiri.
5) Sosialisasi/pengalaman sebelumnya
Kemampuan SDL dibentuk dari pengalaman pada masa lampau, melalui pengalaman di sekolah. Model pembelajaran Teacher Directed Learning membatasi kebebasan individu untuk menjadi Self Directed Learners.
6) Kepercayaan diri
Individu yang kurang memiliki kepercayaan diri, seringkali tampak sebagai pribadi yang ragu terhadap dirinya sendiri. Hal ini merupakan penghalang untuk menjadi Self Directed Learners.
7) Motivasi
Individu dengan motivasi yang tinggi cenderung lebih mengetahui apa yang ingin dipelajari. Hal ini sangat penting untuk menjadi Self Directed Learners.
8) Usia
Individu yang lebih tua dan lebih berpengalaman akan lebih memiliki kemampuan dan kemauan menjadi Self Directed Learners.
d. Self Directed Learning Readiness Scale for Nursing Education (SDLR-NE)
Self Directed Learning Readiness dapat diukur dengan skala Self Directed Learning Readiness Scale (SDLRS) yang pertama kali dikembangkan oleh Guglielmino pada tahun 1977. Akan tetapi SDLRS memiliki kekurangan dalam validitas dan reabilitas sehingga pada tahun 2001 Fisher et al. mengembangkan menjadi Self Directed Learning Readiness Scale for Nursing Education (SDLR-NE). SDLR-NE digunakan untuk mengukur kesiapan SDL pada mahasiswa keperawatan, yang juga bisa digunakan untuk mengukur kesiapan SDL mahasiswa kedokteran dan mahasiswa kesehatan lainnya.
SDLRS-NE terdiri dari 40 item yang di dalamnya mengandung 3 unsur utama SDLR yaitu pengelolaan diri (13 subskala), motivasi akademik (12 subskala), dan pengendalian diri (15 subskala). Hasil uji validitas kuesioner SDLR-NE menunjukkan bahwa kuesioner tersebut valid dengan uji reabilitas menggunakan Cronbach’s Alpha diperoleh hasil 0,924. Selain itu kuesioner SDLR-NE ini dialih bahasakan oleh Wijayanti (2014) ke dalam bahasa Indonesia dengan hasil validitas menunjukkan bahwa kuesioner tersebut valid dengan uji reabilitas menggunakan Cronbach’s Alpha didapatkan hasil 0,945468. Kuesioner ini dengan 5 poin skala Likert. Skala 1 untuk tidak pernah, skala 2 untuk jarang, skala 3 untuk kadang – kadang,
skala 4 untuk sering, dan skala 5 untuk selalu. Individu disebut memiliki kesiapan untuk SDL apabila skor menunjukkan lebih dari 150 sedangkan individu disebut tidak memiliki kesiapan untuk SDL apabila skor menunjukkan kurang dari 150 (Fisher et al., 2001; Mead, 2011).
3. Hubungan Motivasi Akademik Intrinsik dengan Self Directed Learning Readiness (SDLR)
Dalam pelaksanaan metode pembelajaran Problem Based Learning, kemampuan SDL dianggap efektif dan efisien untuk mahasiswa kedokteran dikarenakan kemampuan SDL dapat membuat seseorang mahasiswa tetap belajar dan memperbaharui ilmu pengetahuan. Mahasiswa kedokteran dan praktisi profesi kesehatan dituntut untuk memiliki sifat long life learning (Murad et al, 2010).
Pola dan kebiasaan belajar mahasiswa ditentukan oleh peranan motivasi akademik. Motivasi akademik intrinsik merupakan faktor yang sangat penting dalam pencapaian kesuksesan belajar (Shia, 1998). Akan tetapi, walaupun motivasi akademik intrinsik kuat, belum tentu semua mahasiswa dapat menemukan motivasi akademik intrinsiknya (Hidi dan Harackiewicz, 2000)
Motivasi akademik merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam kemandirian belajar maupun kesiapan dalam menjalankan SDL. Mahasiswa dengan motivasi akademik tinggi cenderung lebih
mengetahui apa yang ingin dipelajarinya. Hal ini sangat penting untuk menjadi Self Directed Learners. Apabila SDLR mahasiswa dapat ditingkatkan maka kesiapan belajar mandiri akan meningkat. Diharapkan dengan meningkatnya kesiapan belajar mandiri, seseorang mahasiswa dapat leluasa mempelajari lebih banyak hal sehingga dapat tercapainya kepuasan dan kesuksesan dalam belajar (Fisher et al., 2001; Leach 2000).
B. Kerangka Pemikiran
Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran
Keterangan : : diteliti : tidak diteliti : memengaruhi Motivasi Akademik Intrinsik 1. Kemampuan 2. Kebutuhan 3. Minat 4. Emosi 5. Sikap
Self Directed Learning (SDL) Self Directed Learning Readiness (SDLR) Pengelolaan Diri Pengendalian Diri 1. Lingkungan Pembelajaran 2. Metode Pembelajaran PBL 3. Konteks Pembelajaran 4. Pengetahuan Dasar dan Tingkat Pengetahuan 5. Sosialisasi/ Pengalaman Sebelumnya Rasa Keingintahuan
Faktor Internal 1. 2. Kepercayaan Diri Usia Faktor Eksternal
C. Hipotesis
Semakin tinggi motivasi akademik intrinsik seseorang mahasiswa semakin tinggi juga Self Directed Learning Readiness (SDLR).