95
BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A. Uji Statistik Deskriptif
Berdasarkan hasil analisis deskriptif statistik, maka berikut didalam tabel akan ditampilkan karakteristik sampel yang digunakan didalam penelitian ini meliputi: jumlah sampel (N), rata – rata sampel (mean), nilai maksimum, nilai minimum serta standar deviasi bagi masing – masing variabel.
Tabel 4.1
Diskripsi Variabel Penelitian
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
SIZE 50 25.33 32.08 28.5422 1.68142
ROA 50 -4.19 40.38 13.4824 11.89251
DER 50 .10 2.28 .7754 .57585
CSR 50 .14 .83 .4086 .21106
Valid N (listwise) 50
Sumber: Data sekunder Spss 16.0 di olah tahun 2015
Berdasarkan tabel 4.1 menunjukan bahwa jumlah pengamatan pada Perusahaan Barang Konsumsi yang terdaftar di Daftar Efek Syariah (DES) periode 2010-2014. Dalam penelitian ini sebanyak 50 data.
Ukuran Perusahaan (Size) memiliki nilai tertinggi (maximum) sebesar 32.08 yaitu pada PT. Indofood sukses Makmur tahun 2014 . Dan nilai terendah (minimum) sebesar 25.33 yaitu pada PT. Pyrindam farma tahun 2010 . sedangkan rata-rata (mean) pada periode 2010-2014 sebesar 28.5422.
Profitabilitas (ROA) memiliki nilai tertinggi (maximum) sebesar 40.38 yaitu pada PT. Unilever Indonesia tahun 2012. Dan nilai terendah
(minimum) sebesar -4.19 yaitu pada PT. Indofarma tahun 2013. sedangkan rata-rata (mean) pada periode 2010-2014 sebesar 13.4824.
Leverage (DER) memiliki nilai tertinggi (maximum) sebesar 2.28 yaitu pada PT. Tiga Pilar Sejahtera Food tahun 2010. Dan nilai terendah (minimum) sebesar 0,10 yaitu pada PT. Mandom Indonesia tahun 2010. sedangkan rata-rata (mean) pada periode 2010-2014 sebesar 0,7754.
CSR memiliki nilai tertinggi (maximum) sebesar 0.83 yaitu pada PT. Unilever Indonesia tahun 2012. Dan nilai terendah (minimum) sebesar 0,14 yaitu pada PT.Mandom Indonesia tahun 2010. sedangkan rata-rata (mean) pada periode 2010-2014 sebesar 0,4086.
B. Uji asumsi klasik
Uji asumsi klasik dilakukan sebagai persyaratan analisis regresi berganda. Dalam uji asumsi klasik ini meliputi uni normalitas, multikolenieritas, autokorelasi, heteroskedastisitas.
1. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi
variabel independen dan dependen mempunyai distribusi normal atau
mendekati normal. Model regresi yang baik adalah model yang
mempunyai distribusi normal atau mendekati normal. Uji normalitas dapat
dilihat dengan analisi grafik dan analisis statistik.
a. Analisis Grafik
Analisis grafik dilakukan dengan melihat grafik histogram dan
grafik P-Plot.Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan
pola distribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi
normalitas. Data yang baik adalah data yang memiliki pola distribusi
normal
Gambar 4.1 Grafik Histogram
Sumber: Hasil Olahan Data SPSS 16.0 tahun 2015
Dilihat dari tampilan grafik histogram tersebut dapat
disimpulkan bahwa kurva membentuk lonceng maka dapat dikatakan
model berdistribusi normal. Jika dilihat dari grafik normal P-Plot
Gambar 4.2 Grafik Normal Plot
Sumber: Data sekunder Spss 16.0 diolah tahun 2015
Dengan melihat tampilan grafik histogram maupun grafik
normal plot dapat disimpulkan bahwa grafik histogram memberikan
pola distribusi yang normal. Sedangkan pada grafik normal plot
terlihat titik-titik menyebar disekitar garis diagonal. Kedua grafik ini
menunjukkan bahwa model regresi tidak menyalahi asumsi
b. Analisis Statistik
Untuk memastikan apakah residual terdistribusi normal maka
dilakukan uji Kolmogorov-Smirnov (K-S). Data dikatakan
berdistribusi normal jika memiliki nilai signifikansi lebih dari 5%.
Hasil uji K – S dapat dilihat pada Tabel 4.2 sebagai berikut:
Tabel 4.2
Uji Normalitas (Uji Kolmogorov-Smirnov)
Sumber: Data sekunder Spss 16.0 diolah tahun 2015
Berdasarkan hasil tabel 4.2 tersebut, nilai Kolmogorof –
Smirnov sebesar 0,646 dengan signifikansi 0,798. Data singnifikansi
tersebut menunjukkan lebih besar dari 0,05 yang menyatakan bahwa
residual terdistribusi secara normal atau dengan kata lain residual
berdistribusi normal.
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
SIZE
N 50
Normal Parametersa Mean 28.5422
Std. Deviation 1.68142
Most Extreme Differences Absolute .091
Positive .091
Negative -.071
Kolmogorov-Smirnov Z .646
Asymp. Sig. (2-tailed) .798
2. Uji Multikolinearitas
Masalah-masalah yang mungkin akan timbul pada penggunaan
persamaan regresi berganda adalah multikolinieritas, yaitu suatu keadaan
yang variabel bebasnya (independen) berkorelasi dengan variabel bebas
lainnya atau suatu variabel bebas merupakan fungsi linier dari variabel
bebas lainnya. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di
antara variabel bebas.
Untuk mendeteksi adanya multikolinieritas adalah dari besarnya nilai
VIF (Variance Inflating Factor) dan tolerance yang terdapat pada masing -
masing variabel bebas. Pedoman suatu model regresi yang bebas
multikolinieritas adalah:
a. Mempunyai Tolerance lebih besar dari 0,1.
b. Mempunyai nilai VIF lebih kecil dari 10.
Berikut ini akan disajikan hasil pengujian multikolinieritas yang
dilakukan dengan bantuan SPSS for windows, dapat dilihat pada Tabel 4.3
sebagai berikut:
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi
ditemukan adanya hubungan antar variabel independen. Jika variabel
independen saling berhubungan, maka nilai kolerasi antar sesama variabel
independen sama dengan nol. Untuk mengetahui uji multikolinearitas
dapat dilihat dari nilai Variance Inflation Factor (VIF) yang terdapat pada
Tabel 4.3
Hasil Uji Multikolinearitas
Sumber: Data sekunder Spss 16.0 diolah tahun 2015
Suatu regresi dinyatakan bebas dari multikolinearitas adalah
mempunyai niali Tolerance lebih besar dari 0,1 dan nilai VIF lebih
kecil dari 10. Dari data tersebut diperoleh bahwa semua variabel bebas
memiliki nilai Tolerance lebih dari 0,1 dan nilai VIF kurang dari 10.
Dengan demikian untuk uji multikolinearitas tidak terjadi masalah
antar variabel independen dalam model regresi. Coefficientsa Model Collinearity Statistics Toleranc e VIF 1 (Constant) SIZE .850 1.176 ROA .946 1.057 DER .861 1.161 a. Dependent Variable: CSR
3. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model
regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t
dengan kesalahan pengganggu pada periode t - 1 (sebelumnya). Jika terjadi
korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Model regresi yang
baik adalah regresi yang bebas dari aotukorelasi. Untuk mendeteksi gejala
autokorelasi menggunakan uji Durbin-Watson (DW). Sebagai berikut
Tabel 4.4 akan menampilkan hasil uji autokorelasi:
Tabel 4.4
Hasil Uji Autokorelasi
sumber: Data sekunder Spss 16.0 diolah tahun 2015
Dengan n = 50 dan k = 3 maka jika dilihat di tabel nilai durbin
watson, didapat dL = 1.4206 dan dU = 1.6739, sehingga nilai 4 – dU
sebesar 4 – 1.6739 = 2.3261 dan nilai 4 - dL sebesar 4 – 1.4206 = 2.5794
Berdasarkan tabel di atas, nilai Durbin-Watson sebesar 2,480 dan
berada daerah antara 4-dU dan 4-dL (2.3261 < 2,480 < 2,5794), maka
dapat disimpulkan bahwa pada model regresi tidak terjadi gejala
autokorelasi baik secara positif maupun negatif. Hal ini dapat dilihat pada
gambar 4.5 sebagai berkut:
Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .861a .741 .724 .11088 2.480
a. Predictors: (Constant), DER, ROA, SIZE
Gambar 4.3
Hasil Uji Durbin-Watson
Sumber: Data sekunder yang diolah tahun 2015
Tabel 4.5
Tabel Uji Autokorelasi
Hasil Perhitungan Klasifikasi
Kurang dari 1,1 Ada autokorelasi
1,1 - 1,54 Tanpa kesimpulan
1,55 - 2,46 Tidak ada autokorelasi
2,47 - 2,90 Tanpa kesimpulan
Lebih dari 2,9 Ada autokorelasi
Sumber: Algifari, 2000
Berdasarkan table 4.3 menunjukkan bahwa nilai
Durbin-Watson sebesar 2.480, dengan membandingkan tabel uji
autokorelasi pada table 4.4 yang menunjukkan bahwa tida ada
autokorelasi. 1,3384 1,6579 2 2,3411 2,6616 2,480 Autokorelasi Positif Autokorelasi negatif Daerah keragu-raguan Daerah keragu-raguan
4. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk mengetahui apakah
dalam model regresi terjadi keasmaan varian dari residual satu
pengamatan yang lain. Hasil uji heteroskedastisitas dari model regresi
bisa dilihat dari garfik scatterplot yang diperoleh dari output spss. Jika
titik-titik dalam garfik menyebar diatas 0 dan juga dibawah 0, Serta
titik-titik tersebut tidak membentuk pola tertentu disatu titik tempat,
maka dapat disimpulkan bahwa model regresi yang dipakai dalam
penelitian ini terbebas dari masalah. Berikut hasil grafik yang
diperoleh dari regresi:
Gambar 4.4 Scatterplot
Berdasarkan hasil grafik scatterplot diatas terlihat bahwa titik-titik
menyebar secara acak serta tersebar baik diatas maupun dibawah angka 0
pada sumbu Y. hal ini dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi
heteroskedastisitas pada model regresi, sehingga model regresi layak
C. Analisis Regresi Berganda
Analisis regresi berganda digunakan untuk mengetahui dan
menganalisis pengaruh Ukuran Perusahaan (SIZE), Profitabilitas (ROA),
dan Leverage (DER) terhadap corporate sosial Responsibility (CSR).
Analisis regresi dan korelasi berkenaan dengan studi ketergantungan
variabel tidak bebas (dependent variable) pada suatu variabel bebas
(independent variable) dengan maksud untuk mengetahui arah hubungan
antara variabel independen dengan variabel dependen apakah positif atau
negatif dan untuk memprediksi nilai dari variabel dependen apabila nilai
variabel independen mengalami kenaikan atau penurunan.
Tabel 4.6
Hasil Perhitungan Regresi
Sumber: data sekunder spss 1.6 diolah tahun 2015 Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) -1.975 .283 -6.987 .000 SIZE .079 .010 .628 7.712 .000 ROA .006 .001 .349 4.526 .000 DER .066 .030 .179 2.213 .032 a. Dependent Variable: CSR
Berdasarkan tabel di atas dapat disusun persamaan regresi linier berganda
sebagai berikut:
CSR = -1,975 + 0,079 X1 + 0,006 X2 + 0,066 X3 + e
Persamaan tersebut mempunyai makna:
a. Konstanta α = -1,975 menunjukkan bahwa apabila variabel ukuran
perusahaan (X1), profitabilitas (X2), Leverage (X3) bernilai 0 atau tidak
ada maka variabel pengungkapan CSR akan mengalami penurunan sebesar
1,975
b. Koefesien β1 = 0,079 menunjukkan bahwa apabila variabel ukuran
perusahaan (X1) mengalami kenaikan sebesar satu persen dan dengan
asumsi variabel-variabel independen lainnya tetap maka variabel
pengungkapan CSR akan mengalami kenaikan sebesar 0,079.
c. Koefesien β2 = 0,006 menunjukkan bahwa apabila variabel profitabilitas
(X2) mengalami kenaikan sebesar satu persen dan dengan asumsi
variabel-variabel independen lainnya tetap maka variabel-variabel pengungkapan CSR akan
mengalami kenaikan sebesar 0,006
d. Koefesien β3 = 0,066 menunjukkan bahwa apabila variabel leverage (X3)
mengalami kenaikan sebesar satu persen dan dengan asumsi
variabel-variabel independen lainnya tetap maka variabel-variabel return saham akan
D. Uji Hipotesis 1. Uji Statistik t
Tabel 4.7
Hasil uji statistik t (parsial)
Sumber: data sekunder spss 1.6 diolah tahun 2015
Uji statistik t pada dasarnya menunjukan seberapa jauh
pengaruh satu variabel penjelas/independent. Kriteria pengujian
adalah membandingkan angka signifikansi. Jika nilai signifikan lebih
dari 0,05 atau 5% maka H0 ditolak. Sedangkan jika nilai signifikansi
kurang dari 0,05 atau 5% maka H0 diterima.
Dari hasil Uji t pada tabel 4.6 tampak bahwa dari ketiga
variabel berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan CSR karena
ketiga variabel memiliki tingkat nilai signifikansi kurang dari 0,05. Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) -1.975 .283 -6.987 .000 SIZE .079 .010 .628 7.712 .000 ROA .006 .001 .349 4.526 .000 DER .066 .030 .179 2.213 .032 a. Dependent Variable: CSR
Nilai signifikansi masing-masing variabel adalah, 0,000, 0,000 dan
0,032.
1) Pengujian hipotesis pertama (Ha1)
H01 = SIZE tidak berpengaruh secara signifikan terhadap
pengungkapan CSR.
Ha1 = SIZE berpengaruh secara signifikan terhadap pengungkapan
CSR.
Berdasarkan tabel 4.6 dapat kita ketahui bahwa variabel
SIZE menghasilkan nilai t hitungsebesar 7,712 dengan nilai t tabel
sebesar 1,67591. Sehingga t hitung lebih besar dari t tabel
(7,712<1,67591) dengan nilai signifikan 0,000 yang mana nilai
tersebut lebih kecil dari 0,05. Hal ini berarti bahwa Ha1 diterima
sedangkan H01 ditolak. Dari hasil uji t tersebut dapat disimpulkan
bahwa SIZE berpengaruh signifikan terhadap variable
pengungkapan CSR.
2) Pengujian Hipotesis ke dua (Ha2)
H02 = ROA tidak berpengaruh secara signifikan terhadap
pengungkapan CSR.
Ha2 = ROA berpengaruh secara signifikan terhadap
pengungkapan CSR.
Berdasarkan tabel 4.7 dapat kita ketahui bahwa variabel
sebesar 1,67591. Sehingga t hitung lebih besar dari t tabel
(4,526<1,67591) dengan nilai signifikan 0,000 yang mana nilai
tersebut lebih kecil dari 0,05. Hal ini berarti bahwa Ha2 diterima
sedangkan H02 ditolak. Dari hasil uji t tersebut dapat disimpulkan
bahwa ROA berpengaruh signifikan terhadap variable
pengungkapan CSR.
3) Pengujian Hipotesis ke tiga (Ha3)
H03 = DER tidak berpengaruh secara signifikan terhadap
pengungkapan CSR.
Ha3 = DER berpengaruh secara signifikan terhadap pengungkapan
CSR.
Berdasarkan tabel 4.6 dapat kita ketahui bahwa variabel
DER menghasilkan nilai t hitungsebesar 2,213 dengan nilai t tabel
sebesar 1,67591. Sehingga t hitung lebih besar dari t tabel
(2,213<1,67591) dengan nilai signifikan 0,032 yang mana nilai
tersebut lebih kecil dari 0,05. Hal ini berarti bahwa Ha3 diterima
sedangkan H03 ditolak. Dari hasil uji t tersebut dapat disimpulkan
bahwa DER (Leverage) berpengaruh signifikan terhadap variable
pengungkapan CSR.
2. Uji Statistik F
Uji Statistik uji F pada dasarnya untuk menguji apakah semua
dependent secara berasam-sama (simultan). Hasil pengujian uji F
dapat dilihat pada gamabr berikut:
Tabel 4.8
Hasil perhitungan Uji F
Sumber: data sekunder Spss 16.0 diolah tahun 2015
H04 = SIZE, ROA dan DER secara simulatan tidak berpengaruh terhadap
pengungkapan CSR.
Ha4 = SIZE, ROA dan DER secara simulatan berpengaruh terhadap
pengungkapan CSR.
Berdasarkan tabel 4.8 hasil perhitungan uji ANOVA atau
Uji-F dengan nilai Uji-F hitung sebesar 43,843 dan nilai Uji-F tabel sebesar 2,81
dengan signifikansi 0,000 lebih kecil dari 5% atau 0,05 maka dapat
disimpulkan bahwa Ha4 diteima dan H04 ditolak. Hal ini berarti
bahwa variabel independen berpengaruh secara bersama-sama
terhadap variabel dependent. Maka dapat dikatakan bahwa SIZE, ANOVAb
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
1 Regression 1.617 3 .539 43.843 .000a
Residual .566 46 .012
Total 2.183 49
a. Predictors: (Constant), DER, ROA, SIZE
ROA, dan DER secara bersama-sama berpengaruh terhadap
pengungkapan CSR.
3. Koefisien Determinasi
Koefisien ini dinyatakan dalam R2. Nilai R2 menunjukkan
tingkat kemampuan semua variabel bebas untuk mempengaruhi
variabel terikat, sedangkan sisanya ditentukan oleh variabel lain di
luar variabel bebas. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol
sampai dengan satu. Semakin tinggi nilai koefisien determinasi, maka
akan semakin baik pula kemampuan variabel independen dalam
menjelaskan variabel dependen. Berikut merupakan hasil koefisien
determinasi pada penelitian ini.
Tabel 4.9
Hasil Uji koefiesien Determinassi (R2)
Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1 .861a .741 .724 .11088
a. Predictors: (Constant), DER, ROA, SIZE
b. Dependent Variable: CSR
Sumber: data sekunder Spss 16.0 diolah tahun 2015
Dilihat dari hasil pengujian tersebut dapat diketahui nilai Adjusted
R2 sebesar 0,724 yang berarti variabilitas variabel dependen yang dapat
sisanya 27,6% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak masuk dalam
variabel regresi dalam penelitian ini.
E. Pembahasan
Hasil uji signifikan parameter individual (Uji t), pengaruh
masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Pengungkapan CSR
Terima H0, jika signifikansi >α = 0,05dan t hitung < t tabel : Tidak ada
pengaruh secara parsial antara Ukuran Perusahaan Terhadap CSR.
Terima Ha, jika signifikansi <α = 0,05 dan t hitung > t tabel : Ada
pengaruh secara parsial antara Ukuran Perusahaan Terhadap CSR
Bahwa variabel size menghasilkan nilai t hitungsebesar 7,712
dengan nilai t tabel sebesar 1,67591. Sehingga t hitung lebih besar dari t
tabel (7,712 > 1,67591) dengan nilai signifikan 0,000 yang mana nilai
tersebut lebih kecil dari 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa Ukuran
Perusahaan (SIZE) berpengaruh signifikan terhadap variable
pengungkapan CSR. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai t hitung
yaitu sebesar 7,712 dengan tingkat signifikansi sebesar 0.000, yang
menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh signifikan
terhadap Pengungkapan CSR.
Jadi Semakin besar suatu perusahaan maka akan semakin besar
perusahaan akan mudah dikenal oleh para investor dan masyarakat.
Pada zaman sekarang ini perusahaan diharapkan tidak hanya
mementingkan kepentingan manajemen dan pemilik modal, tetapi juga
karyawan, konsumen, dan masyarakat. Sebagai perusahaan besar
mereka juga telah menyediakan dan mempunyai dana khusus yang
digunakan untuk melakukan kegiatan CSR, yang kemudian perusahaan
akan menyampaikan kegiatan CSR mereka didalam laporan tahunan.
Dengan melakukan kegiatan CSR perusahaan berharap
keberadaan perusahaan dapat tumbuh dan berkelanjutan serta
mendapatkan citra (image) yang positif dari masyarakat luas, sehingga
akan lebih mudah untuk memperoleh akses terhadap modal, dan dapat
mempertahankan sumber daya manusia yang berkualitas yang ada di
dalam perusahaan. Hasil penelitian mendukung hasil penelitian yang
dilakukan oleh Rahmawati Rica (2011) yang menyatakan bahwa
perusahaan besar yang lebih banyak melakukan aktivitas, kemungkinan
mempunyai lebih banyak pemegang saham, yang bisa jadi peduli
dengan kegiatan sosial dan lingkungan, dan perusahaan akan
menggunakan laporan tahunan sebagai sarana penyampaian informasi.
Namun, hasil penelitian ini tidak didukung penelitian yang telah
dilakukan oleh Anggraini (2006), yang menyatakan bahwa ukuran
2. Pengaruh Profitabilitas terhadap pengungkapan CSR
Terima H0, jika signifikansi >α = 0,05dan t hitung < t tabel : Tidak ada
pengaruh secara parsial antara ProfitabilitasTerhadap CSR Terima Ha, jika signifikansi <α = 0,05 dan t hitung > t tabel : Ada pengaruh secara parsial antara profitabilitas dengan Pengungkapan CSR.
Bahwa variabel Profitabilitas (ROA) menghasilkan nilai t hitung
sebesar 4,526 dengan nilai t tabel sebesar 1,67591. Sehingga t hitung
lebih besar dari t tabel (4,526 > 1,67591 ) dengan nilai signifikan 0,000
yang mana nilai tersebut lebih kecil dari 0,05. Maka dapat disimpulkan
bahwa Profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap variable
pengungkapan CSR. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai t hitung
yaitu sebesar 4,526 dengan tingkat signifikansi sebesar 0.000, yang
menunjukkan bahwa Profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap
Pengungkapan CSR.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perusahaan yang
mempunyai profitabilitas tinggi belum tentu lebih banyak melakukan
pengungkapan informasi CSR. Hal ini dikarenakan manajemen
perusahaan akan tetap mengungkapkan laporan yang diperlukan
walaupun profitabilitas perusahaan turun atau naik, karena perusahaan
perlu untuk mengungkapkan informasi yang dibutuhkan oleh para
investor. Halini sesuai dengan teori stakeholder, karena kelompok
inilah yang menjadi pertimbangan utama bagiperusahaan dalam
laporan keuangan (Fatayaningrum, 2011). Dan penelitian ini konsisten
dengan hasil penelitian Cahyono (2010) yang menunjukkan bahwa
profitabilitas berpengaruh terhadap pengungkapan CSR. Penelitian ini
menghasilkan temuan berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh
Sembiring (2003 dan 2005), Anggraini (2006)80, bahwa profitabilitas
tidak terbukti mempunyai pengaruh terhadap CSR.
3. Pengaruh Leverage terhadap Pengungkapan CSR
Terima H0, jika signifikansi > α = 0,05dan t hitung < t tabel : Tidak ada
pengaruh secara parsial antara Leverage terhadap Pengungkapan CSR
Terima Ha, jika signifikansi <α = 0,05 dan t hitung > t tabel : Ada pengaruh secara parsial antara Leverage terhadap Pengungkapan CSR.
Bahwa variabel Leverage (DER) menghasilkan nilai t hitung
sebesar 2,875 dengan nilai t tabel sebesar 1,68385. Sehingga t hitung
lebih besar dari t tabel (2,875<1,68385) dengan nilai signifikan 0,007
yang mana nilai tersebut lebih kecil dari 0,05. Maka dapat disimpulkan
bahwa Leverage berpengaruh signifikan terhadap variable
pengungkapan CSR. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai t hitung
yaitu sebesar 3,692 dengan tingkat signifikansi sebesar 0.001, yang
80
Anggraini,F.F, dalam Rimba Kusumadilaga. 2010. “pengaruh CSR terhadap Nilai
Perusahaan dengan Profitabilitas Sebgai Variabel Moderating”,(Semarang: Universitas
Diponegoro, 2006)
menunjukkan bahwa Leverage berpengaruh signifikan terhadap
Pengungkapan CSR.
Tingkat leverage perusahaan yang tinggi akan mendorong
perusahaan melakukan pengungkapan sosialnya. Dikarenakan
berdasarkan teori keagenan memprediksi bahwa perusahaan dengan
rasio leverage yang lebih tinggi akan mengungkapkan lebih banyak
informasi. Hal ini karena rasio leverage digunakan untuk memberikan
gambaran mengenai struktur modal yang dimiliki perusahaan, sehingga
dapat dilihat tingkat resiko tak tertagihnya suatu utang. Tambahan
informasi diperlukan untuk menghilangkan keraguan pemegang
obligasi terhadap dipenuhinya hak-hak mereka sebagai kreditur. Oleh
karena itu perusahaan dengan rasio leverage yang tinggi mempunyai
kewajiban lebih untuk mengungkapkan tanggung jawab sosialnya.81
Hasil Penelitian ini sesuai dengan Penelitian Ira Robiah Adawiyah
tahun 2012.
81
Ira Robiah Adawiyah, “Pengaruh Tipe Industri, Ukuran Perusahaan, Profitabilitas Dan
Leverage Terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility (Studi Empiris Pada Perusahaan Go Public Yang Terdaftar Di Jakarta Islamic Index Periode 2008-2012)” Skripsi,
(Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah,2013)