• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

13 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori

1. Tinjauan Tentang Perbankan a. Pengertian Hukum Perbankan

Hukum Perbankan (Banking Law) adalah hukum yang mengatur masalah perbankan. Hukum ini merupakan seperangkat kaidah hukum dalam bentuk perturan perundang-undangan, yurisprudensi, doktrin, dan lain-lain sumber hukum, yang mengatur masalah-masalah perbankan sebagai lembaga, dan aspek kegiatannya sehari-hari, rambu-rambu yang harus dipenuhi oleh suatu bank, perilaku petugas-petugasnya, hak, kewajiban, tugas dan tanggung jawab para pihak yang tersangkut dengan bisnis perbankan, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh bank, eksistensi perbankan, dan lain-lain yang berkenaan dengan dunia perbankan tersebut (Munir Fuady, 2003:14).

Menurut Muhamad Djumhana, hukum perbankan adalah kumpulan peraturan hukum yang mengatur kegiatan lembaga keuangan bank yang meliputi segala aspek, dilihat dari segi esensi, dan eksistensinya, serta hubungannya dengan bidang kehidupan lain. Berdasarkan rumusan inilah akan terungkap bahwa pengaturan dibidang perbankan, akan menyangkut diantaranya:

1) Dasar-dasar perbankan, yaitu menyangkut asas-asas kegiatan perbankan, seperti norma efisiensi, keefektifan, kesehatan bank, profesionalisme pelaku perbankan, maksud dan tujuan lembaga perbankan serta hubungan hak dan kewajibannya.

2) Kedudukan hukum pelaku di bidang perbankan, seperti kaidah-kaidah mengenai pengelolanya seperti dewan komisaris, direksi, karyawan, maupun pihak yang terafiliasi. Juga mengenai bentuk hukum pengelolanya, serta mengenai kepemilikannya. commit to user

(2)

3) Kaidah-kaidah perbankan yang secara khusus yang memperhatikan kepentingan umum seperti kaidah-kaidah yang mencegah persaingan yang tidak wajar, antitrust, perlindungan terhadap konsumen (nasabah), dan lain-lainnya. Di Indonesia bahkan mempunyai kekhususan tersendiri yaitu bahwa perbankan nasional harus memperhatikan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan unsur-unsur pemerataan pembangunan, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas nasional.

4) Kaidah-kaidah yang meyangkut struktur organisasi, yang mendukung kebijakan ekonomi dan moneter pemerintah, seperti Dewan Moneter, dan Bank Sentral.

5) Kaidah-kaidah yang mengerahkan kehidupan perekonomian yang berupa dasar-dasar untuk perwujudan tujuan-tujuan yang hendak dicapainya melalui penetapan sanksi, insetif, dan sebagainya. 6) Keterkaitan satu sama lainnya dari ketentuan dan kaidah-kaidah

hukum tersebut sehingga tidak mungkin berdiri sendiri, malahan keterkaitannya merupakan hubungan logis dari bagian-bagian lainnya (Muhamad Djumhana, 2000:1-2).

Sentosa Sembiring juga berpendapat bahwa hukum perbankan pada dasarnya adalah serangkaian norma yang mengatur tentang badan usaha perbankan. Norma yang dimaksud disini adalah baik yang terdapat dalam hukum positif maupun dalam praktik perbankan (Sentosa Sembiring, 2012:3). Dengan demikian dapat dilihat bahwa beberapa definisi diatas pada dasarnya menerangkan hal yang sama yaitu hukum perbankan merupakan hukum yang mengatur mengenai permasalahan perbankan.

b. Pengertian Bank

Bank berasal dari kata Italia, yaitu banci yang berarti bangku. Bangku tersebut digunakan oleh bankir untuk melayani nasabah dalam kegiatan operasionalnya. Oleh karena itulah, istilah banci secara resmi commit to user

(3)

dan populer berubah menjadi bank. Bank termasuk perusahaan industri jasa karena produknya hanya memberikan pelayanan jasa kepada masyarakat (Malayu S.P. Hasibuan, 2002:1).

Lembaga perbankan merupakan inti dari sistem keuangan dari setiap negara. Bank adalah lembaga keuangan yang menjadi tempat bagi orang perseorangan, badan-badan usaha swasta, badan-badan usaha milik negara, bahkan lembaga-lembaga pemerintahan menyimpan dana-dana yang dimilikinya. Melalui kegiatan perkreditan dan berbagai jasa yang diberikan, bank melayani kebutuhan pembiayaan serta melancarkan mekanisme sistem pembayaran bagi semua sektor perekonomian (Hermansyah, 2005:7).

Menurut O.P Simorangkir sesuai yang dikutip oleh Bambang Sunggono di dalam bukunya yang berjudul Pengantar Hukum Perbankan, bank merupakan salah satu badan usaha lembaga keuangan yang bertujuan memberikan kredit dan jasa-jasa. Adapun pemberian kredit itu dilakuakn baik dalam modal sendiri atau dengan dana-dana yang dipercayakan oleh pihak ketiga maupun dengan jalan memperedarkan alat-alat pembayaran berupa uang giral (Bambang Sunggono, 1995:7).

Dalam Black’s Law Dictionary yang dikutip oleh Hermansyah di dalam bukunya yang berjudul Hukum Perbankan Nasional Indonesia memberikan definisi bank, “an institution, usually incopated, whose business to receive money on deposit, cash, checks or drafts, discount commercial paper, make loans, and issue promissory notes payable to bearer known as bank notes.” (Hermansyah, 2005:7)

Tidak jauh berbeda dengan definisi di atas, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bank adalah usaha di bidang keuangan yang menarik dan mengeluarkan uang di masyarakat, terutama memberikan kredit dan jasa di lalu lintas pembayaran dan peredaran uang (Hermansyah, 2005:8). commit to user

(4)

Dalam Dictionary of Banking and Finance dari Jerry M. Rosenberg yang dikutip oleh Gunarto Suhardi di dalam bukunya yang berjudul Usaha Perbankan dalam Perspektif Hukum memberikan definisi bank sebagai berikut:

“Bank is an organization, normally a corporation, chartered by the state or federal government, the principal function of which are: (a) to receive demand and time deposits, honor instruments drawn against them, and pay interest on them as pay permited by law, (b) to discount note, make loans, and invest in government or other securities, (c) to collect checks, drafts, notes, etc, (d) to issues drafts and cashier’s checks, (e) to certify depositor’s checks, and (f) when authorized by a chartering government, to act in a fiduciary capacity.” (Gunarto Suhardi, 2003:17)

Rumusan mengenai pengertian bank yang lain dapat juga dapat ditemui dalam kamus istilah hukum Fockema Andreae yang mengatakan bahwa bank adalah suatu lembaga atau orang pribadi yang menjalankan perusahaan dalam menerima dan memberikan uang dari dan kepada pihak ketiga. Berhubung dengan adanya cek yang hanya dapat diberikan kepada bankir sebagai tertarik, maka bank dalam arti luas adalah orang atau lembaga yang dalam pekerjaannya secara teratur menyediakan uang untuk pihak ketiga (Hermansyah, 2005:8).

Prof. G. M. Veryyn Stuart, dalam bukunya Bank Politik, berpendapat bahwa bank adalah suatu badan yang bertujuan untuk memuaskan kebutuhan kredit, baik dengan alat-alat pembayarannya sendiri atau dengan uang yang diperolehnya dari orang lain, maupun dengan jalan mengedarkan alat-alat penukar baru berupa uang giral (Hermansyah, 2005:8).

Pengertian bank tentu saja juga diatur dalam Undang-Undang Perbankan, yaitu dalam pasal 1 butir 2. Dalam pasal tersebut dijelasakan bahwa bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. commit to user

(5)

c. Jenis-jenis Bank

Mengenai jenis-jenis bank yang ada di Indonesia dapat dilihat dari ketentuan pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Perbankan, bahwa menurut jenisnya bank terdiri atas:

1) Bank Umum

Bank umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. 2) Bank Perkreditan Rakyat

Bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayarannya.

Apabila ditinjau lebih lanjut dilihat dari segi kemampuannya dalam melayani masyarakat, maka bank umum dapat dibagi ke dalam 2 (dua) macam. Pembagian jenis ini disebut juga pembagian berdasarkan kedudukan atau status bank bank tersebut. Kedudukan atau status ini menunjukkan ukuran kemampuan bank dalam melayani masyarakat baik dari segi jumlah produk, modal dan kualitas pelayanannya. Oleh karena itu untuk memperoleh status tersebut diperlukan penilaian-penilaian dengan kriteria tertentu. Status bank yang dimaksud adalah:

1) Bank Devisa

Merupakan bank yang dapat melaksanakan transaksi ke luar negeri atau yang berhubungan dengan mata uang asing secara keseluruhan, misalnya transfer ke luar negeri, inkaso ke luar negeri, pembukaan dan pembayaran letter of credit dan transaksi lainnya. Persyaratan untuk menjadi bank devisa ini ditentukan oleh Bank Indonesia.

2) Bank Non Devisa

Merupakan bank yang belum mempunyai izin untuk melaksanakan transaksi sebagai bank devisa, sehingga tidak dapat melaksanakan commit to user

(6)

transaksi seperti halnya bank devisa. Jadi bank non devisa merupakan kebalikan dari bank devisa dimana transaksi yang dilakukan masih dalam batas-batas Negara (Johannes Ibrahim, 2004:41).

Jenis-jenis bank juga dapat dibedakan berdasarkan segi kepemilikannya. Kepemilikan ini dapat dilihat dari akte pendirian dan penguasaan saham yang dimiliki bank yang bersangkutan. Jenis bank dilihat dari segi kepemilikannya, antara lain:

1) Bank milik pemerintah; 2) Bank milik swasta nasional; 3) Bank milik koperasi;

4) Bank milik asing;

5) Bank milik campuran (Kasmir II, 2004:20).

d. Kegiatan Usaha Bank

Menurut sistem Undang-Undang Perbankan, kegiatan suatu bank dibedakan ke dalam:

1) Kegiatan Bank Umum, yang terdiri dari kegiatan utama dan kegiatan tambahan, dan

2) Kegiatan Bank Perkreditan Rakyat (Munir Fuady, 2003:6).

Kegiatan usaha bank umum diatur dalam pasal 6 dan 7 Undang-Undang Perbankan. Pasal 6 menyatakan usaha Bank Umum meliputi:

1) Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan, dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu;

2) Memberikan kredit;

3) Menerbitkan surat pengakuan utang;

4) Membeli, menjual, atau menjamin atas resiko sendiri maupun untuk kepentingan dan atas perintah nasabahnya:

(7)

a) Surat-surat wesel termasuk wesel yang diakseptasi oleh bank yang masa berlakunya tidak lebih lama daripada kebiasaan dalam perdagangan surat-surat dimaksud;

b) Surat pengakuan utang dan kertas dagang lainnya yang masa berlakunya tidak lebih dari kebiasaan dalam perdagangan surat-surat dimaksud;

c) Kertas perbendaharaan negara dan surat jaminan pemerintah; d) Sertifikat Bank Indonesia (SBI);

e) Obligasi;

f) Surat dagang berjangka waktu sampai dengan 1 (satu) tahun; g) Instrumen surat berharga lain yang berjangka waktu sampai

dengan 1 (satu) tahun.

5) Memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan nasabah;

6) Menempatkan dana pada, meminjam dana dari, atau meminjamkan dana kepada bank lain, baik dengan menggunakan surat, sarana telekomunikasi maupun dengan wesel unjuk, cek, atau sarana lainnya;

7) Menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan melakukan perhitungan dengan atau antar pihak ketiga;

8) Menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga; 9) Melakukan kegiatan penitipan untuk kepentingan pihak lain

berdasarkan suatu kontrak;

10) Melakukan penempatan dana dari nasabah kepada nasabah lainnya dalam bentuk surat berharga yang tidak tercatat di bursa efek; 11) Dihapus;

12) Melakukan kegiatan anjak piutang, usaha kartu kredit, dan kegiatan wali amanat;

13) Menyediakan pembiayaan dan atau melakukan kegiatan lain berdasarkan Prinsip Syariah, sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia; commit to user

(8)

14) Melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan oleh bank sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pada Pasal 7 ditentukan bahwa selain melakukan kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Bank Umum dapat pula: 1) Melakukan kegiatan dalam valuta asing dengan memenuhi

ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia;

2) Melakukan kegiatan penyertaan modal pada bank atau perusahaan dibidang keuangan, seperti sewa guna usaha, modal ventura, perusahaan efek, asuransi, serta lembaga kliring penyelesaian dan penyimpanan, dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia;

3) Melakukan kegiatan penyertaan modal sementara untuk mengatasi akibat kegagalan kredit atau kegagalan pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah, dengan syarat harus menarik kembali penyertaannya, dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia; dan

4) Bertindak sebagai pendiri dana pensiun dan pengurus pensiun sesuai dengan ketentuan dalam peraturan perundangan-undangan dana pensiun yang berlaku.

Berdasarkan ketentuan di atas dapat pula dilihat bahwa Bank Umum mempunyai jenis usaha yang luas, tetapi Pasal 10 Undang-Undang Perbankan menentukan mengenai usaha yang dilarang oleh Bank Umum, yaitu:

1) Melakukan penyertaan modal kecuali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf b dan huruf c;

2) Melakukan usaha perasuransian;

3) Melakukan usaha lain di luar kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dan Pasal 7.

Berbeda halnya dengan Bank Umum yang biasa melakukan berbagai kegiatan usaha sebagaimana dikemukakan di atas, maka di commit to user

(9)

Bank Perkreditan Rakyat kegiatan usaha yang dapat dilakukan terbatas (Hermansyah, 2005:23). Kegiatan usaha Bank Perkreditan Rakyat diatur dalam Pasal 13 Undang-Undang Perbankan, yaitu:

1) Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa deposito berjangka, tabungan, dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu;

2) Memberikan kredit;

3) Menyediakan pembiayaan dan penempatan dana berdasarkan Prinsip Syariah, sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia;

4) Menempatkan dananya dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI), deposito berjangka, sertifikat deposito, dan/atau tabungan pada bank lain.

Terdapat pula kegiatan yang dilarang dilakukan oleh Bank Perkreditan Rakyat. Hal ini diatur dalam Pasal 14 Undang-Undang Perbankan, yaitu:

1) Menerima simpanan berupa giro dan ikut serta dalam lalu lintas pembayaran;

2) Melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing; 3) Melakukan penyertaan modal;

4) Melakukan usaha perasuransian;

5) Melakukan usaha lain di luar kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13.

Kegiatan umum bank campuran dan bank asing di Indonesia antara lain:

1) Dalam mencari dana, bank asing dan bank campuran dilarang menerima simpanan dalam bentuk simpanan tabungan;

2) Kredit yang diberikan lebih diarahkan ke bidang-bidang tertentu seperti perdagangan internasional, bidang industri dan produksi, penanaman modal asing atau campuran, kredit yang tidak dapat dipenuhi oleh bank swasta nasional; commit to user

(10)

3) Untuk jasa-jasa lainnya juga dapat dilakukan oleh bank umum campuran dan asing sebagaimana layaknya bank umum yang ada di Indonesia, seperti jasa transfer, kliring, inkaso, jual beli valuta asing, dll (Kasmir, 2004:43).

Dari semua kegiatan bank seperti tersebut di atas, maka pada prinsipnya kegiatan suatu bank (baik Bank Umum maupun Bank Perkreditan Rakyat) terdiri dari tiga golongan sebagai berikut:

1) Kegiatan penyaluran dana kepada masyarakat; 2) Kegiatan penarikan dana kepada masyarakat;

3) Kegiatan pemberian jasa tertentu yang dapat menghasilkan fee based income (Munir Fuady, 2003:8).

e. Prinsip-prinsip dalam Pengelolaan Bank

Konsiderans menimbang huruf b dalam Undang-Undang Perbankan menyatakan bahwa perbankan yang berasaskan demokrasi ekonomi dengan fungsi utamanya sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat, memiliki peranan yang strategis untuk menunjang pelaksanaan pembangunan nasional, dalam rangka pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas nasional, kearah peningkatan taraf hidup rakyat banyak. Dalam melaksanakan kemitraan antara bank dan nasabahnya untuk terciptanya sistem perbankan yang sehat, kegiatan perbankan perlu dilandasi dengan beberapa asas hukum (khusus), yaitu:

1) Asas demokrasi ekonomi;

2) Asas kepercayaan (fiduciary principale);

3) Asas kerahasiaan (confidential principale) (Rachmadi Usman, 2003:14).

f. Pengertian dan Pengaturan Bank Gagal

Suatu bank yang tidak dapat lagi memenuhi kewajibannya kepada deposan maupun kreditur, maka bank tersebut dapat dikatakan commit to user

(11)

sebagai bank gagal (failure bank). Jika mengacu pada Undang-Undang Perbankan serta Undang-Undang Bank Indonesia, tidak akan menemukan definisi bank gagal.

Setidaknya, ada dua aspek sumber masalah yang dihadapi bank sebagai unit usaha bisnis yang tak lepas dari berbagai risiko. Kedua aspek itu bisa karena persoalan di internal bank atau eksternal. Faktor internal bank bisa menjadi sumber bank mengalami masalah bila bank itu dikelola dengan tidak hati-hati khususnya dalam manajemen risiko, lemahnya pengendalian internal, campur tangan pemilik dalam operasional bank atau adanya kesalahan penetapan strategi yang bermuara bank mengalami kerugian. Sedangkan faktor eksternal bank seperti perubahan lingkungan bisnis. Contoh senyatanya adalah krisis moneter yang mendera medio tahun 2008 hingga memasuki tahun 2009 yang banyak memukul kinerja usaha debitor bank yang mengalami kesulitan untuk membayar bunga dan pokok kredit mereka. Gagal bayar debitor bank ini memukul tingkat pendapatan bank dari bunga kredit (fee based income) dan memaksa bank untuk menyisihkan pencadangan yang menguras likuiditas hingga struktur permodalan pun terancam melorot (Bank Indonesia, 2010:29).

Definisi bank gagal dapat ditemukan pada pasal 1 angka 7 Undang-Undang LPS dikatakan bahwa Bank Gagal (failing bank) adalah bank yang mengalami kesulitan keuangan dan membahayakan kelangsungan usahanya serta dinyatakan tidak dapat disehatkan oleh Lembaga Pengawas Perbankan sesuai dengan kewenanganan yang dimilikinya. Definisi bank gagal juga dapat juga ditemukan pada pasal 1 angka 9 Perpu Nomor 4 Tahun 2008 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan, dikatakan bahwa bank gagal adalah bank yang mengalami kesulitan keuangan dan membahayakan kelangsungan usahanya serta dinyatakan tidak dapat lagi disehatkan oleh Bank Indonesia sesuai dengan kewenangan yang dimilikinya.

(12)

Menurut George G. Kaufman dalam presentasinya di conference on Public Regulation of Depository Institutions, Koc University, Istanbul, Turkey, November 1995 merumuskan tentang bank gagal, yaitu: “A bank fails economically when the market value of its assets declines below the market value of its liabilities, so that the market value of its capital (net worth) becomes negative. At such times, the bank cannot expect to pay all of its depositors infull and on time”. (George G. Kaufman, 1996:19)

Menurut Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) menyatakan bahwa “A bank failure is the closing of a bank by a federal or state banking regulatory agency. Generally, abank is closed when it is unable to meet its obligations to depositors and others (FDIC, www.fdic.gov/deposit/deposits/insured, diakses pada hari Selasa, tanggal 5 Maret 2013 pukul 23.15).

Dari beberapa definisi tersebut diketahui bahwa suatu bank gagal lahir jika bank tersebut tidak mampu memenuhi kewajibannya kepada pihak deposan ataupun kepada pihak kreditur. Kesulitan-kesulitan itu dapat membahayakan kelangsungan hidup dari bank tersebut.

2. Tinjauan Tentang Lembaga Penjamin simpanan a. Sejarah Terbentuknya Lembaga Penjamin Simpanan

Pada tahun 1998, krisis moneter dan perbankan yang menghantam Indonesia, yang ditandai dengan dilikuidasinya 16 bank, mengakibatkan menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat pada sistem perbankan. Untuk mengatasi krisis yang terjadi, pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan diantaranya memberikan jaminan atas seluruh kewajiban pembayaran bank, termasuk simpanan masyarakat (blanket guarantee). Hal ini ditetapkan dalam Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 1998 tentang Jaminan Terhadap Kewajiban Pembayaran Bank Umum dan Keputusan Presiden Nomor 193 Tahun commit to user

(13)

1998 tentang Jaminan Terhadap Kewajiban Pembayaran Bank Perkreditan Rakyat (Adrian Sutedi, 2010:5).

Dalam pelaksanaannya, blanket guarantee memang dapat menumbuhkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan, namun ruang lingkup penjaminan yang terlalu luas menyebabkan timbulnya moral hazard baik dari sisi pengelola bank maupun masyarakat. Untuk mengatasi hal tersebut dan agar tetap menciptakan rasa aman bagi nasabah penyimpan serta menjaga stabilitas sistem perbankan, program penjaminan yang sangat luas lingkupnya tersebut perlu digantikan dengan sistem penjaminan yang terbatas. Dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan mengamanatkan pembentukan suatu Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebagai pelaksana penjaminan dana masyarakat (Jamal Wiwoho, 2011:142).

Pendirian lembaga penjamin simpanan pada dasarnya dilakukan sebagai upaya memberikan perlindungan terhadap dua risiko yaitu irrational run terhadap bank dan systemic risk. Dalam menjalankan usaha, perbankan biasanya hanya menyisakan bagian kecil dari simpanan yang diterimanya untuk berjaga-jaga apabila ada penarikan dana oleh nasabah. Sementara, bagian terbesar dari simpanan yang ada dialokasikan sebagai pemberian kredit. Keadaan ini menyebabkan perbankan tidak dapat memenuhi permintaan dalam jumlah besar dengan segera atas simpanan nasabah yang dikelolanya, bila terjadi penarikan secara tiba-tiba dan dalam jumlah besar. (Zulkarnain Sitompul, 2004:1).

Pada tanggal 22 September 2004, Presiden Republik Indonesia mengesahkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 tentang Lembaga Penjamin Simpanan. LPS meruapakan lembaga yang independen, transparan, dan akuntabel dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya.

(14)

b. Dasar Hukum Lembaga Penjamin Simpanan

Amanat pembentukan lembaga penjamin simpanan telah mendapatkan dasar hukum yang kuat, yaitu pasal 37b Undang-Undang Perbankan, yang menyatakan bahwa setiap bank wajib menjamin dana masyarakat yang disimpan pada bank yang bersangkutan. Tindak lanjut dari pasal 37B Undang-Undang Perbankan adalah pembentukan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dengan tujuan utama, melaksanakan penjaminan dana masyarakat (LPS, 2011:11).

LPS dibentuk berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan yang ditetapkan pada 22 September 2004. Dalam perkembangannya, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan diubah dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan Menjadi Undang-Undang (Jamal Wiwoho, 2011:143). Adapun perubahan ini adalah mengenai nilai simpanan yang dijamin untuk setiap nasabah pada satu bank yang semula berdasarkan Pasal 11 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan ditetapkan paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah), berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan Menjadi Undang-Undang diubah menjadi paling banyak Rp. 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).

Selain pengaturan pokok tentang LPS yang diatur dalam Undang-undang LPS, terdapat pula dasar pengaturan tambahan, yaitu: 1) Undang-undang terkait

(15)

a) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004;

b) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998.

2) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (PERPU)

a) PERPU Nomor 4 Tahun 2008 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK);

b) PERPU Nomor 3 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan.

3) Peraturan Pemerintah (PP)

a) PP Nomor 43 Tahun 2005 tentang Pengakhiran Jaminan Pemerintah Terhadap Kewajiban Pembayaran Bank Perkreditan Rakyat;

b) PP Nomor 66 Tahun 2008 tentang Besaran Nilai Simpanan yang Dijamin Lembaga Penjamin Simpanan;

c) PP Nomor 39 Tahun 2005 tentang Penjaminan Simpanan Nasabah Bank dengan Prinsip Syariah;

d) PP Nomor 32 Tahun 2005 tentang Modal Awal Lembaga Penjamin Simpanan.

4) Peraturan LPS (PLPS)

a) PLPS Nomor 3/PLPS/2011 tentang Perubahan Kedua Atas PLPS Nomor 4/PLPS/2006 tentang Penyelesaian Bank Gagal Yang Tidak Berdampak Sistemik;

b) PLPS Nomor 3/PLPS/2008 tentang Perubahan Atas PLPS Nomor 5/PLPS/2006 tentang Penyelesaian Bank Gagal Yang Berdampak Sistemik;

c) PLPS Nomor 2/PLPS/2008 tentang Likuidasi Bank;

(16)

d) PLPS Nomor 1/PLPS/2008 tentang Laporan Bank Perkreditan Rakyat;

e) PLPS Nomor 2/PLPS/2007 tentang Perubahan Atas PLPS Nomor 4/PLPS/2006 tentang Penyelesaian Bank Gagal Yang Tidak Berdampak Sistemik;

f) PLPS Nomor 1/PLPS/2007 tentang Perubahan Atas PLPS Nomor 1/PLPS/2006 tentang Program Penjaminan Simpanan; g) PLPS Nomor 5/PLPS/2006 tentang Penyelesaian Bank Gagal

Yang Berdampak Sistemik;

h) PLPS Nomor 4/PLPS/2006 tentang Penyelesaian Bank Gagal Yang Tidak Berdampak Sistemik (Jamal Wiwoho, 2011:144).

c. Fungsi, Tugas, dan Wewenang Lembaga Penjamin Simpanan

Fungsi, tugas, dan wewenang LPS telah disebutkan di dalam Undang LPS. Fungsi LPS terdapat pada Pasal 4 Undang-Undang LPS, yaitu:

1) Menjamin simpanan nasabah penyimpan;

2) Turut aktif dalam memelihara stabilitas sistem perbankan sesuai dengan kewenangannya.

Dalam menjalankan fungsinya, LPS mempunyai tugas yang diatur di dalam Pasal 5 Undang-Undang LPS, yaitu:

1) Merumuskan dan menetapkan kebijakan pelaksanaan penjaminan simpanan;

2) Melaksanakan penjaminan simpanan;

3) Merumuskan dan menetapkan kebijakan dalam rangka turut aktif memelihara stabilitas sistem perbankan;

4) Merumuskan, menetapkan, dan melaksanakan kebijakan penyelesaian bank gagal yang tidak berdampak sistemik;

5) Melaksanakan penanganan bank gagal yang berdampak sistemik.

(17)

Dalam rangka melaksanakan tugasnya sebagaimana di sebut di atas, LPS mempunyai wewenang yang diatur dalam Pasal 6 Undang-Undang LPS, yaitu:

1) Menetapkan dan memungut premi penjaminan;

2) Menetapkan dan memungut kontribusi pada saat bank pertama kali menjadi peserta;

3) Melakukan pengelolaan kekayaan dan kewajiban LPS;

4) Mendapatkan data simpanan nasabah, data kesehatan bank, laporan keuangan bank, dan laporan hasil pemeriksaan bnk sepanjang tidak melanggar kerahasiaan bank;

5) Melakukan rekonsiliasi, verifikasi, dan/atau konfirmasi atas data simpanan nasabah;

6) Menetapkan syarat, tata cara, dan ketentuan pembayaran klaim; 7) Menunjuk, menguasakan, dan/atau menugaskan pihak lain untuk

bertindak bagi kepentingan dan/atau atas nama LPS, guna melaksanakan sebagian tugas tertentu;

8) Melakukan penyuluhan kepada bank dan masyarakat tentang penjaminan simpanan;

9) Menjatuhkan sanksi administratif.

Selanjutya dalam melaksanakan penyelesaian dan penanganan bank gagal, LPS memiliki kewenangan:

1) Mengambil alih dan menjalankan segala hak dan wewenang pemegang saham, termasuk hak dan wewenang RUPS;

2) Menguasai dan mengelola aset dan kewajiban Bank Gagal yang diselamatkan;

3) Meninjau ulang, membatalkan, mengakhiri, dan/atau mengubah setiap kontrak yang mengikat Bank Gagal yang diselamatkan dengan pihak ketiga yang merugikan bank; dan

4) Menjual dan/atau mengalihkan aset bank tanpa persetujuan debitur dan/atau kewajiban bank tanpa persetujuan kreditur.

(18)

B. Kerangka Pemikiran

Gambar 1. Kerangka Pemikiran

Penjelasan:

Undang-Undang LPS menjadi dasar pembentukan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). LPS diciptakan untuk mendukung sistem perbankan yang sehat dan stabil. Dalam Undang-Undang LPS dijelaskan fungsi LPS, yaitu untuk melaksanakan penjaminan nasabah penyimpan. Namun, banyak yang tidak mengetahui bahwa LPS juga mempunyai fungsi untuk turut aktif menjaga stabilitas perbankan.

LPS dalam fungsinya turut aktif menjaga stabilitas perbankan mempunyai tugas untuk merumuskan dan menetapkan kebijakan dalam rangka turut aktif memelihara sistem perbankan serta merumuskan, menetapkan, dan melaksanakan kebijakan penyelesaian bank gagal yang

Undang- undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan Lembaga Penjamin Simpanan Melaksanakan penjaminan simpanan nasabah penyimpan

Turut aktif menjaga stabilitas perbankan

Penetapan Bank Gagal

Upaya penyelamatan Bank Gagal oleh LPS

Bank Indonesia melakukan Pengaturan dan Pengawasan Bank

(19)

berdampak sistemik maupun tidak berdampak sistemik. Dalam tugasnya ini LPS mempunyai peran yang sangat penting, sebab kegagalan suatu bank akan mengakibatkan kerugian negara apabila tidak tertangani dengan maksimal.

Sebelum LPS melakukan tugasnya dalam upaya penyelamatan Bank gagal, terlebih dahulu Bank Indonesia melakukan salah satu tugasnya yaitu Pengaturan dan Pengawasan Bank. Dalam tugasnya ini Bank Indonesia mempunyai kewenangan untuk menilai tingkat kesehatan sebuah bank dan melakukan penetapan status serta tindak lanjut terhadap bank bermasalah sesuai dengan ketentuan yang dikeluarkan Bank Indonesia. Maka dengan itu, penting untuk diketahui mengenai ketentuan-ketentuan Bank Indonesia dalam hal penetepan Bank Gagal. Selanjutnya, penting untuk diketahui juga mengenai peran LPS dalam upaya penyelamatan bank gagal berdasarkan Undang-Undang LPS.

Referensi

Dokumen terkait

The Chakra engine uses the Windows Metadata during this process, making the installed WinRT components available to the Metro style apps written in JavaScript.. Windows

Subyek ini dipilih untuk mengetahui bagaimana implementasi strategi queen card dalam mata pelajaran PAI, pemahaman guru terhadap pendekatan saintifik,

about previous study and supporting theories consist meaning of teaching English in Indonesia, teaching English in junior high school, speaking, cooperative

CPNS KEJAKSAAN TINGGI SULAWESI SELATAN TAHUN ANGGARAN 2019 RABU, 02 SEPTEMBER 2020.. YUNUS AHLI

Penelitian ini sejalan dengan penelitian Andinurchairiah (2014) dalam penelitian tentang “Efektifitas kompres dingin terhadap intensitas nyeri pada pasien

Untuk mengetahui kegiatan petani dalam melakukan budidaya tanaman input yang diperoleh digunakan sebagai bahan menyusun rekomendasi jangka panjang. 4) Memantau pupuk

Suplementasi tepung kunyit atau tepung kayu manis dalam ransum puyuh petelur menghasilkan kinerja yang sama, baik konsumsi pakan, produksi telur, konversi pakan dan

Berkaitan dengan ajaran pertama, gradasi esensi, menurut Suhrawardi, apa yang disebut sebagai eksistensi adalah sesuatu yang hanya ada dalam pikiran, gagasan umum