• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

II-1 2.1 protokol jaringan

Menurut Mulyanta (2005, p. 5), “apabila dua buah sistem saling berkomunikasi, hal yang pertama dibutuhkan adalah kesamaan bahasa yang digunakan, sehingga dapat memahami alur proses komunikasi”. Untuk itu, dibutuhkan sebuah mekanisme pengaturan bahasa yang dapat dipahami oleh dua buah sistem tersebut sehingga pertukaran informasi antarsistem akan terjadi dengan benar. [2]

Sekumpulan aturan untuk mengatur proses komunikasi ini disebut sebagai protokol komunikasi data. Protokol ini diimplementasikan dalam bentuk program komputer (software) yang terdapat pada komputer dan peralatan komunikasi data lainnya. Untuk itu, badan dunia yang menangani masalah standarisasi IOS (International Organization for Standarization) membuat aturan baku yang dikenal dengan nama model referensi OSI (Open System Inerconnection).

Sedangkan sebuah protokol menjelaskan format dan urutan dari pertukaran pesan-pesan antara dua atau lebih entitas komunikasi dan juga perlakuan apa yang harus diambil pada saat transmisi dan atau saat penerimaan pesan. [3]

Protokol jaringan terbagi atas 3, yaitu model OSI (Open Systems Interconnection), model TCP/IP, dan model ATM (Asynchronous Transfer Mode). [4]

2.1.1 OSI Model

(Mulyanta, 2005). Model ini pertama kali dikemukakan oleh badan standarisasi dunia (International Organization for Standarization) atau biasa disebut dengan ISO, dan telah menjadi protokol standar yang digunakan pada berbagai lapisan jaringan. Model ini bernama Open Systems Interconnection (ISO) dan sesuai dengan namanya, protokol ini bertujuan untuk mengatur mekanisme komunikasi antara sistem (mesin) dalam jaringan komunikasi yang terbuka untuk berkomunikasi dengan sistem lainnya. OSI terbagi atas 7 layer/lapisan, diantaranya . [2]

(2)

Gambar 2.1. 7 Layer OSI

Setiap lapisan saling berhubungan dan memiliki tugas serta fungsi masing-masing. Berikut adalah penjelasan singkat mengenai ketujuh layer tersebut :

1. Application

Membuka komunikasi dengan user lain dan memberikan layanan seperti file transfer ataupun e-mail ke user lain dalam jaringan. Layer ini berfungsi menentukan format data yang akan dipindahkan antar aplikasi dan menyediakan layanan berupa transformasi format data, enkripsi, dan kompresi.

2. Presentation

Menentukan format data yang dipindahkan di antara aplikasi dan mengelola informasi yang disediakan oleh Application layer supaya informasi yang dikirim dapat dibaca oleh Application layer pada system lain. Layer ini juga menentukan syntax yang digunakan antar aplikasi.

3. Session

Lapisan ini bertanggung jawab atas sesi komunikasi antara berbagai tingkat yang lebih tinggi dalam komunikasi program, proses, dan user.

4. Transport

Berfungsi sebagai pemecah informasi menjadi paket-paket data yang akan dikirim dan menyusun kembali paket-paket data menjadi sebuah informasi yang dapat diterima. Dua protokol umum pada lapisan ini adalah TCP yang berorientasi koneksi dan UDP yang tidak berorientasi koneksi.

(3)

5. Network

Layer ini bertanggung jawab dalam routing paket data dari node sumber ke node tujuan. Selain itu, layer ini juga bertanggung jawab dalam pengalamatan node, sehingga DSR dan DSDV berada pada layer ini.

6. Data Link

Mengubah paket-paket data dalam bentuk frame, menghasilkan alamat fisik, pesan-pesan kesalahan, pemesanan pengiriman data. Layer ini juga mengupayakan agar physical layer dapat bekerja dengan baik dengan menyediakan layanan untuk mengaktifkan, mempertahankan, dan menonaktifkan hubungan.

7. Physical

Mentransmisikan data dalam bentuk bit antar devices melalui jalur komunikasi dengan cara mengatur karakteristik tinggi tegangan, periode perubahan tegangan, lebar jalur tegangan, jarak maksimuk komunikasi dan koneksi.

2.1.2 TCP/IP (Transmission Control Protocol / Internet Protocol)

TCP/IP adalah sekumpulan protocol yang terdapat di dalam jaringan network yang digunakan untuk berkomunikasi atau bertukar data. TCP/IP merupakan protocol yang telah diterapkan pada hampir semua perangkat keras dan sistem operasi. TCP/IP hanya memiliki 4 layer yang diantaranya adalah host-tonetwork layer, internet/network layer, transport layer dan application layer dan berikut adalah penjelasan singkatnya. [3]

Tabel 2.1. Layer pada TCP/IP

Layer Keterangan

Application Layer Layer ini menangani representasi, encoding, serta control dialog. Pada layer ini terletak semua aplikasi yang menggunakan protokol TCP/IP.

Transport Layer Berisi protokol yang bertanggung jawab untuk mengadakan komunikasi antara dua host/komputer. Kedua protokol tersebut adalah TCP (Transmission Control Protocol) dan UDP (User Datagram Protocol).

Internet Protokol Layer ini bertanggung jawab dalam proses pengiriman paket ke alamat yang tetap. Pada layer ini terdapat tiga macam protokol, yaitu IP, ARP, dan ICMP.

(4)

Layer dari media fisik berupa kabel, serat optik, atau gelombang radio, sehingga protokol pada layer ini harus mampu menerjemahkan sinyal listrik menjadi data digital yang dimengerti komputer yang berasal dari peralatan lain yang sejenis.

2.2 Wireless Network

Wireless network atau jaringan tanpa kabel (Nirkabel) nirkabel merupakan jaringan yang terkoneksi dengan menggunakan gelombang udara atau nirkabel (wireless) sebagai jalur lintas datanya. Pada dasarnya hampir antara wireless dan LAN hanya yang membedakan adalah dalam pengriman paket datanya, jika wireless menggunakan media gelombang atau udara sedangkan LAN menggunakan kabel.

Jaringan nirkabel biasanya digunakan dalam perangkat seperti telepon selular, personal digital assistant (PDA), GPS, pembuka pintu garasi, wireless network, mouse wireless, keyboard wireless, headset, televisi satelit, telepon tanpa kabel, dan lainnya.

Jaringan nirkabel merupakan sebuah jaringan yang menggunakan gelombang radio untuk menghubungkan perangkat seperti laptop ke internet. Jaringan nirkabel mengacu pada semua jenis jaringan komputer yang tidak terhubung dengan kabel apapun. Jaringan telekomunikasi nirkabel umunya dilaksanakan dan dikelola dengan menggunakan sistem transmisi disebut gelombang radio. Implementasi ini berlangsung di tingkat physical layer pada struktur jaringan.

(http://www.cisco.com/cisco/web/solutions/small_business/resource_center/articles/work_fro m_anywhere/what_is_a_wireless_network/index.html, 18 Juni, 2014)

Menurut Geier, J. T. Dan Geier, J. (2005, p.4), jaringan nirkabel memiliki beberapa kategori, berdasarkan dari besarnya ukuran fisik dari suatu area yang dapat di-cover. [8] Berikut merupakan tipe-tipe jaringan nirkabel :

1. Wireless Personal Area Network; 2. Wireless Local Area Network;

3. Wireless Metropolitan Area Network; 4. Wireless Wide Area Network;

5. Jaringan Peer-to-Peer / Ad-Hoc Wireless LAN; 6. Jaringan Server Based / Wireless Infrastructure.

(5)

2.3 Wireless Sensor Network

Wireless sensor network merupakan sekumpulan sensor otomatis yang letaknya disebar berbagai tempat dimana setiap titik sensor di dalam jaringan sensor dilengkapi dengan radio transceiver atau semacam alat komunikasi wireless. Setiap sensor memiliki kemampuan untuk mengumpulkan data dan berkomunikasi dengan sensor lainnya Sensor tersebut bekerja bersama-sama dan biasanya digunakan unuk memonitor kondisi lingkungan fisik, antara lain : suhu, gerakan, suara, getaran, perubahan warna, dan lain-lain, setiap node sensor dilengkapi dengan mikrokontroler dan sember energi (baterai atau mungkin solarcell). [3]

Sebuah WSN umumnya terdiri atas bagian-bagian berikut : 1. Transceiver, Berfungsi untuk menerima / mengirim data dengan

menggunakan protokol IEEE 802.15.4 kepada device lain seperti concentrator, modem Wifi, dan modem RF.

2. Mikrokontroler, Berfungsi untuk melakukan fungsi perhitungan, mengontrol dan memproses device-device yang terhubung dengan mikrokontroler. 3. Power Source, Berfungsi sebagai sumber energi bagi sistem WSN secara keseluruhan.

4. External Memory, Berfungsi sebagai tambahan memory bagi sistem WSN, pada dasarnya sebuah unit mikrokontroler memiliki unit memory sendiri.

5. Sensor, Berfungsi untuk men-sensing besaran-besaran fisis yang hendak diukur.

(6)

Gambar 2.2 Arsitektur Seserhana Wireless Sensor Network.

2.3.1 Fungsi Dari Wireless Sensor Network (WSN)

Wireless Sensor biasanya digunakan untuk fungsi-fungsi berikut : 1. Monitoring

WSN akan mengukur suatu besaran fisis misal : suhu, tekanan, kelembaban, dan lain-lain dan mengirimkan datanya kepada sebuah data concentrator.

Berdasarkan data yang terkumpul tersebut, kemudian data bisa ditampilkan dalam bentuk grafik, diambil keputusan tertentu berdasarkan event-trigger.

2. Controll

Fungsi pengontrolan pada WSN ini jarang dilakukan, dan umumnya dilakukan pada penggunaan WSN dengan skala kecil dan umumnya fungsi kontrolnya terbatas. Fungsi kontrol dilakukan jika pin output dari mikrokontroler dihubungkan langsung dengan aktuator pada plant.

2.3.2 Karakteristik Dari Wireless Sensor Network (WSN)

Wireless sensor network memiliki karakteristik yang unik, antara lain :

Daya / power yang dapat disimpan terbatas, oleh karena itu sangat penting untuk menggunakan device yang hemat energi.

Kemampuan menahan kondisi lingkungan yang keras. Device yang digunakan kemungkinan diletakkan di daerah yang mungkin saja bersuhu ekstrim atau di daerah berbahaya, sehingga kemampuan ini sangat penting menjaga sensor tetap bisa digunakan meskipun kondisi lingkungan sangat ekstrim.

(7)

Mobilitas dari node dan topologi jaringan yang dinamis. Device yang digunakan bisa saja lokasinya berpindah-pindah, misalnya sensor yang diletakkan pada armada truck pengiriman barang yang mana digunakan untuk tracking posisi dari armada pengiriman tersebut.

Adanya kemungkinan kegagalan komunikasi ataupun kesalahan operasi.

Heterogenitas dari node, baik dari segi hardware (ukuran sensor. Device yang digunakan, dan lain-lain) maupun software. Selain itu kemampuan yang dimiliki oleh device pun juga bisa beraneka ragam.

Jumlah node dalam wireless sensor network bisa diperbanyak, yang membatasi jumlahnya adalah bandwidth dari gateway.

Wireless sensor network bisa diterapkan diberbagai bidang, umumnya digunakan untuk melakukan aktivitas monitoring dan tracking. Dalam bidang antisipasi dan pencegahan bencana, sensor dapat digunakan untuk mendeteksi kemungkinan bencana. Sensor diletakkan di berbagai daerah, ketika kemungkinan adanya bencana terdeteksi maka sensor akan mengirimkan data ke stasiun pusat. Selanjutnya di stasiun pusat terjadi pengolahan data, memberikan early warning system akan adanya bencana kepada para penduduk. Pemberitahuan dapat melalui berbagai media, melalui internet, ataupun sms. Selain itu, informasi dari sensor dalam wireless sensor network digabungkan dengan Geographic Information System dimungkinkan untuk mengetahui dimana titik aman yang terlindung dari bencana. Para penduduk selanjutnya bisa mengambil informasi tersebut dan mengeceknya pada GPS untuk melihat peta lokasi dari daerah yang aman bencana. Pada bidang pertanian, wireless sensor network dapat diterapkan untuk memonitor tanaman atau areal pertanian, misalnya saja tanaman teh. Tanaman teh dimana daun siap dipetik dengan daun belum siap dipetik memiliki warna yang berbeda. Sensor dapat memonitor citra daun teh, mengirimkan ke stasiun pusat melalui wireless, kemudian dengan teknik image processing dapat diketahui daerah mana dari areal perkebunan yang sudah siap untuk dipetik.

Dari design yang ada, yang jelas, sensor dalam wireless sensor network bisa digunakan untuk mendapatkan data secara real time. Dan dengan adanya wireless, memberikan keuntungan sehinga alat bisa diletakkan dimana saja dan dapat dipantau meskipun dari jarak jauh, contoh device yang digunakan dalam WSN dapat dilihat pada gambar 2.4. [8]

(8)

Gambar 2.3. Contoh device yang digunakan sebagai sensor dalam Wireless

Sensor Network

2.3.3 kelebihan dan kekurangan wireless sensor Network (WSN) Kelebihan dari Penggunaan WSN ini diantaranya adalah :

1. Simpel / praktis / ringkas karena tidak perlu ada instalasi kabel yang rumit dan dalam kondisi geografi tertentu sangat menguntungkan dibanding WSN. 2. Sensor menjadi bersifat mobile, artinya pada suatu saat dimungkinkan untuk

memindahkan sensor untuk mendapat pengukuran yang lebih tepat tanpa harus khawatir mengubah desain ruangan maupun susunan kabel ruangan. Kekurangan ddari WSN adalah :

1. Beban / Load yang lebih tinggi dibanding wired sensor, menjadikan data rate menjadi lebih rendah.

2. Semakin banyak sensor semakin besar collision domain, menjadikan sisi keamanan menjadi semakin rendah, dan transfer rate semakin menurun lagi. 3. Adanya maintenance rutin untuk mengganti baterai yang telah habis. [8]

2.4 Routing Protocol

Routing protocol adalah protokol atau aturan yang menentukan bagaimana router berkomunikasi antara satu dengan yang lainnya dalam menyebarkan informasi, yang memungkinkan router untuk memilih rute yang harus dilalui oleh paket pada jaringan komputer. Rute yang baik tergantung pada beban jaringan dan panjang datagram, Pemilihan rute dilakukan berdasarkan routing protocol yang digunakan. Pada wireless sensor network ada dua tipe routing protocol yaitu proactive routing protocol dan reactive routing protocol. 2.4.1 Proactive (Table Driven Routing Protocol)

Pada table driven routing protocol (proactive routing protocol), masing-masing node memiliki routing table yang lengkap. Artinya sebuah node akan mengetahui semua route ke node lain yang berada dalam jaringan tersebut. Setiap node akan melakukan update routing table yang dimiliki secara periodik sehingga perubahan topologi jaringan dapat diketahui

(9)

setiap interval waktu tersebut. Contoh table driven routing (proactive routing protocol) : DSDV (Destination Sequenced Distance Vector), CGSR (Clusterhead Gateway Switch Routing), dan WRP (Wireless Routing Protocol).

2.4.2 Reactive (On-Demand Routing Protocol)

Berbeda dengan proactive routing protocol, reactive routing protocol bekerja ketika dibutuhkan. Ketika node ingin mengirimkan paket data ke node lain, reactive routing protocol bekerja mencari dan menetapkan jalur yang tepat dengan koneksi stabil dengan cara awalnya node asal melakukan broadcast request sampai request tersebut sampai ke node tujuan, kemudian node tujuan membalas dengan mengirimkan. reply. Dari proses inilah ditentukan mana jalur yang akan digunakan untuk mengirimkan data.

Beberapa contoh reactive routing protocol adalah DSR (Dynamic Source Routing), TORA (Temporary Ordered Routing Algorithm), SSR (Signal Stability Routing), dan ASR (Associativity Based Routing).

2.4.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Performa Routing Protocol

Berikut ini beberapa faktor-faktor secara umum yang mempengaruhi performa routing protocol :

1. Throughput

Throughput merupakan nilai rata-rata pada pengiriman data yang sukses melalui sebuah komunikasi antarsistem. Data ini dapat dikirim melalui sebuah link physical maupun logical, atau melalui sebuah node tertentu. Biasanya throughput diukur dalam satuan bit/detik (bit/s). semakin tinggi nilai throughput maka semakin baik performa jaringan tersebut.

2. Packet Loss

Packet loss terjadi ketika satu paket data atau lebih yang melintas pada sebuah jaringan gagal mencapai tujuan. Menurut Faishal (2013, p. II-9), “packet loss dibedakan sebagai salah satu dari tiga tipe error yang dihadapi dalam komunikasi digital, dua yang lain adalah bit error dan paket yang bersifat seperti tiruan oleh karena noise”. 3. End to end Delay

End to end delay merupakan waktu rata-rata yang ditempuh paket data untuk mencapai tujuan termasuk didalamnya semua kemungkinan delay yang dikarenakan buffering selama penemuan rute latency, dan antrian di interface queue. [7]

(10)

2.4.4 DSDV ( Destination-Sequenced Distance-Vector)

DSDV merupakan algoritma routing protocol ad-hoc proaktif, kontribusi algoritma ini adalah untuk mengatasi routing loop. Dalam routing DSDV setiap node yang berada dalam jaringan akan memelihara tabel routing ke node tetangganya, tabel routing yang dimiliki oleh setiap node berisi tentang: alamat tujuan node, jumlah hop yang diperlukan untuk mencapai tujuan.

DSDV cocok untuk jaringan yang berskala kecil dengan jumlah node yang sedikit. Karena kinerja DSDV sangat dipengaruhi oleh semakin lama waktu dan semakin sedikit stepnya maka kinerja DSDV semakin tinggi.

DSDV merupakan salah satu proactive routing protocol yang membutuhkan setiap node untuk mengirimkan paket routing update ke seluruh node tetangganya secara periodik.

Penerapan protocol DSDV memiliki kelebihan, yaitu: DSDV menjamin tidak ada looping route.

DSDV dapat menghindari traffic lebih dengan kenaikan drastis update penuh untuk dump.

DSDV hanya memaintenance path terbaik menuju tujuan, dari sekian banyak path tujuan.

Kekurangan dari algoritma DSDV, yaitu:

Banyak memakan alokasi bandwith untuk broadcasting informasi yang tidak terlalu berguna.

DSDV tidak mensupport multi path routing.

Sangat sulit untuk mendeterminasi waktu delay saat broadcasting ke semua node.

Untuk cara proses kerja routing DSDV dapat dilihat digambar 2.4.

(11)

2.4.4.1 Route Table Managment

Selain sequnce number sumber dan tujuan, informasi lain yang berguna juga disimpan di entri tabel routing dan disebut dengan soft-state yang terkait dengan antri. Bagian yang terkait dengan entri routing reverse path adalah timer, yang disebut route request expiration timer. Tujuan dari timer ini adalah untuk membersihkan entri routing reverse path dari node-node yang tidak terletak pada jalur dari sumber ke tujuan. Expiration timer bergantung pada ukuran jaringan ad hoc. Parameter penting lain yang berkaitan dengan entri routing adalah route caching timeout, atau waktu setelah rute diangga valid.

Di dalam entri tabel routing, alamat node tetangga yang aktif dimana paket untuk tujuan diterima juga akan dipertahankan. Sebuah node tetangga dianggap aktif jika node tersebut menyambungkan setidaknya sebuah paket untuk tujuan dalam periode waktu aktif terbaru. Informasi ini dipertahankan sehingga semua node sumber dapat diberi tahu ketika link disepanjang jalur ke tujuan mengalami break. Sebuah entri rute dianggap aktif jika entri dalam penggunaan node tetangga. Jalur antara node sumber ke node tujuan yang disertai dengan paket di sepanjang entri rute yang aktif disebut jalur yang aktif (active path).

Sebuah node mempertahankan entri tabel rute untuk setiap tujuan yang penting. Setiap entri tebel rute berisi informasi sebagai berikut :

Tujuan (destination) Next hop

Jumlah hop

Nomor urut destinasi

Active neighbour untuk rute ini. Batas waktu entri tabel rute

Setiap kali entri rute digunakan untuk mengirimkan data dari sumber menuju node tujuan, timeout entri diatur ulang menjadi waktu saat proses tersebut ditambah dengan active_route_timeout.

Jika sebuah rute baru ditawarkan kepada sebuah node, node tersebut akan membandingkan nomor urut destinasi yang baru dengan yang lama. Rute dengan nomor urut yang lebih besar akan digunakan. Jika nomor urut bernilai sama, rute yang baru akan dipilih hanya jika memiliki hop yang lebih sedikit. [5]

(12)

2.4.4 DSR ( Dynamic Source Routing)

Subir Kumar (2008) menyatakan bahwa Dynamic Source Routing atau yang biasa disingkat DSR, adalah routing protocol yang tergolong bersifat on-demand. Dalam protokol routing DSR, tiap node yang ada dapat menemukan beberapa rute menuju node tujuan secara dinamis. Setiap paket data yang dikirim dari node sumber, terdapat informasi lengkap tentang urutan node yang harus dilalui pada header paket, dengan tujuan menghindari kemungkinan terjadinya looping rute pengiriman paket.

Didalam Protokol DSR ini terdapat 2 mekanisme yang dapat bekerja secara bersamaan yaitu route discovery dan route maintenance. Route discovery adalah mekanisme yang mana node sumber ingin mengirim paket kepada node tujuan, tanpa mengetahui rute sebelumnya. Kemudian, route maintenance adalah mekanisme yang dijalankan pada saat node sumber sudah mengetahui rute menuju node tujuan dan menentukan apakah rute yang sedang dipakai saat ini masih berlaku atau tidaknya, karena apabila terjadi perubahan topologi yang mempengaruhi rute menuju node tujuan, maka rute tersebut tidak bisa dipakai kembali. Pada saat route maintenance mengindikasikan adanya rute yang rusak, maka node sumber dapat mencoba untuk menggunakan rute lain yang sudah diketahui oleh node sumber sebelumnya atau dapat melakukan route discovery kembali dari node sumber menuju node tujuan. Route maintenance dijalankan hanya pada saat node sumber mengirimkan paket ke node tujuan. Baik route maintenance maupun route discovery, keduanya dijalankan secara on-demand. DSR tidak melakukan pencarian rute secara berkala, status hubungan antar node, atau pendeteksian node tetangga melalui paket yang dikirim secara berkala. Oleh karena perilaku yang secara keseluruhan bersifat on-demand dan kurangnya aktifitas pengiriman paket yang dilakukan secara berkala, menjadikan jumlah dari paket yang overhead bisa diminimalisir hingga tidak ada sama sekali, hanya saja apabila semua node sudah stabil dan semua rute yang dibutuhkan untuk komunikasi yang sedang berlangsung sudah ditemukan.

Pada saat proses route discovery berlangsung, setiap node dapat menyimpan dan mengingat rute-rute alternatif menuju ke node manapun. Hal tersebut memungkinkan perubahan rute yang cepat apabila rute yang saat itu digunakan mengalami gangguan atau kerusakan dan juga dapat menghindari routing overhead apabila dilakukan kembali route discovery yang baru setiap adanya rute yang rusak.

Cara kerja dari algoritma routing ini pada awalnya node sumber akan melakukan proses route discovery dengan mengirimkan paket RouteRequest (RREQ) ke node

(13)

tetangganya. Saat node tetangga itu mendapatkan paket RREQ tersebut, node tersebut meneruskan paket tersebut kepada node tetangganya yang belum menerima paket RREQ tersebut. Apabila ada satu node yang menerima 2 paket RREQ, maka salah satu paket RREQ tersebut akan dibuang. Paket RREQ tersebut akan terus diteruskan melalui node perantara sampai menemukan node yang dituju. Pada saat paket RREQ tersebut sampai pada node yang dituju, maka node tujuan akan mengirimkan kembali paket RouteReply (RREP) melalui rute yang memungkinkan pada saat proses route discovery sebelumnya.

Gambar 2.5. RREQ dan RREP pada routing DSR

Dalam proses pengiriman RREP tersebut, node sumber akan menerima beberapa paket RREP berdasarjan rute yang mungkin menuju node tujuan, maka akan dipilih berdasarkan yang paling optimal, sedangkan rute lainnya akan disimpan pada route cache yang apabila terjadi kerusakan atau hubungan yang terputus pada rute yang sedang digunakan, maka node yang mengalami masalah dalam pengiriman paket tersebut akan mengirimkan paket Route Error yang kemudian akan diterima oleh node sumber. Pada saat node sumber menerima paket Route Error tersebut maka rute akan dialihkan ke rute yang sebelumnya telah ditemukan yang kemudian digunakan untuk pengiriman paket menuju node yang dituju.

Kelebihan dari protokol ini adalah tidak adanya pengiriman paket secara berkala seperti “hello” message yang bertujuan untuk memeriksa apakah ada hubungan antar node yang rusak di dalam jaringan, yang mana dapat meminimalisir routing overhead dan penghematan energi tiap node.

Walaupun DSR bekerja cukup baik pada lingkungan jaringan yang bersifat statis atau mobilitasnya rendah, performa DSR akan terus menurun seiring dengan pergerakan node yang semakin besar. [4]

(14)

2.4.5 Topologi Star

Topologi Star Topologi ini mempunyai karakteristik sebagai berikut:

setiap node berkomunikasi langsung dengan central node, traffic data mengalir dari node ke central node dan kembali lagi.

mudah dikembangkan, karena setiap node hanya memiliki kabel yang langsung terhubung ke central node.

keunggulannya adalah jika satu kabel node terputus yang lainnya tidak terganggu.

dapat digunakan kabel yang “lower grade” karena hanya menghandel satu traffic node,

Gambar 2.6. Topologi Star

2.5 NS 2 (Network Simulator)

Network simulator merupakan alat simulasi jaringan yang bersifat open source yang banyak digunakan untuk mempelajari struktur dinamik dari jaringan komunikasi. NS2 pertama kali dibangun sebagai varian dan real network simulator pada tahun 1989 di University of California Barkeley. Sejak tahun 1995 Defense Advanced Research Project Agency (DARPA) mendukung pembangunan NS untuk proyek Virtual InterNetwork Testbed (VINT) dan sekarang National Science Foundation (NSF) bergabung untuk pengembangannya. [6]

2.5.1 Arsitektur Dasar NS2

NS2 terdiri dari dua bahasa pemrograman, yaitu C++ dan Object-oriented Tool Command Language (OTcl). Ketika C++ mendefenisikan mekanisme internal dari objek simulasi, OTcl menyiapkan simulasi dengan merakit dan mengkonfigurasi objek serta

(15)

Gambar

Gambar 2.1.  7 Layer OSI
Tabel 2.1. Layer pada TCP/IP
Gambar 2.2 Arsitektur Seserhana Wireless Sensor Network.
Gambar 2.3. Contoh device yang digunakan sebagai sensor dalam Wireless  Sensor Network
+4

Referensi

Dokumen terkait

overweight dan obesitas pada penelitian tidak ada yang memiliki skor PASI ringan dan sedang, untuk skor PASI berat sebanyak 9 orang pada pasien dengan IMT

Hal yang sama juga terjadi pada kesenian tari gandrung tradisi dengan pendukung Islam wetu telu di Desa Dasan Tereng, Lombok Barat sebagai pusat tarian ini.. Islam wetu

Hasil produksi, varietas tahan hama penyakit, daya tumbuh benih, pemupukan sesuai rekomendasi, pengendalian hama dan penyakit dengan pengendalian hama terpadu, tanam

Namun hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Putra (2017) dan Lubis, et al (2017) bahwa kebijakan hutang tidak berpengaruh terhadap nilai

Modal Intelektual yang meliputi Modal Manusia; Modal Struktural dan Modal Hubungan berpengaruh positip terhadap Struktur Modal Peusahaan dan

Penangkapan ikan tuna terutama untuk je- nis tuna madidihang, tuna mata besar dan cakalang antara lain dengan menggunakan alat tangkap pan- cing tuna (tuna handline) dengan alat

Kepuasan kerja dan komiten organisasi sangat berkaitan dengan kinerja karyawan, karena dengan adanya kepusan kerja yang tinggi dan komitmen yang kuat maka akan