PENDAHULUAN
Kota Medan sebagai ibu kota Sumatera Utara mengalami perkembangan yang cukup pesat terutama di bidang sosial budaya, ekonomi, kependudukan, sarana, prasarana serta transportasi. Berkembangnya berbagai aspek tersebut menyebabkan bertambah pula tingkat pengguna jalan dan volume kendaraan, sehingga perlu adanya suatu penanganan terhadap kondisi ruas jalan, guna mewujudkan kegiatan lalu lintas dan angkutan jalan yang aman, cepat, lancar, tertib, nyaman dan efisien. Oleh karena itu, diperlukan manajemen ruas jalan dan skala prioritas perbaikan jalan kota yang diharapkan dapat melihat permasalahan secara komprehensif dan dapat digunakan untuk membandingkan permasalahan yang terjadi.
Metode yang digunakan dalam pengam-bilan keputusan untuk permasalahan dalam penelitian ini adalah metode AHP (Analitycal Hierarchy Process) yang menggunakan multi-kriteria dalam perumusan alternatif. Konsep metode AHP adalah merubah nilai-nilai kualitatif menjadi nilai kuantitatif. Sehingga keputusan-keputusan yang diambil bisa lebih objektif. Metode AHP menggunakan persepsi responden (expert sampling) sebagai perang-kat utama dalam penilaian bobot kriteria dan subkriteria, sehingga dianggap dapat
merepresentasikan proses pengambil kebijakan secara kolektif oleh pemangku kepentingan.
Batasan masalah penelitian ini adalah : a. Cakupan studi yaitu menentukan urutan
skala prioritas penanganan jalan pada jaringan jalan strategis kota Medan yang meliputi 5 ruas jalan dan merupakan mainstream Rencana Strategis Dinas Bina Marga Kota Medan Tahun 2013-2014. b. Penentuan skala prioritas penananganan
jalan menggunakan metode AHP. Kriteria yang digunakan dalam metode ini mengakomodir variabel yang diperguna-kan oleh metode Bina Marga yaitu aspek kondisi jalan dan aspek ekonomi serta ditambah dengan aspek lainnya yang mencakup aspek hirarki jalan.
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan peringkat skala prioritas perbaikan ruas jalan di Kota berdasarkan persepsi para responden sehingga nantinya dapat digunakan oleh Dinas Bina Marga dalam proses perbaikan jalan di Kota Medan.
TINJAUAN PUSTAKA
AHP dikembangkan oleh Prof. Thomas L. Saaty, seorang Guru Besar Matematika dari University of Pittsburgh pada tahun 1970.
MENGGUNAKAN METODE ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS (AHP)
Darsono Nababan
Jurusan Sistem Informasi, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Katolik Santo Thomas Medan ABSTRAKSI
Kota Medan merupakan ibukota propinsi Sumatera Utara sangat berkembang cukup pesat. Jumlah penduduk yang bertambah dari hari ke hari menyebabkan bertambah pula tingkat pengguna jalan dan volume kendaraan, sehingga perlu adanya suatu penanganan terhadap kondisi kinerja ruas jalan guna mewujudkan kegiatan lalu lintas dan angkutan jalan yang aman, cepat, lancar, tertib, nyaman dan efisien.
Dalam penelitian ini, metode AHP diaplikasikan untuk prioritas perbaikan jalan di Kota Medan. Kriteria yang digunakan dalam penelitian ini adalah faktor kondisi jalan. volume lalulintas, ekonomi dan kerusakan jalan. Berdasarkan permasalahan diatas akan dibangun suatu sistem pendukung keputusan dalam penentuan skala prioritas perbaikan jalan kota di Kota Medan menggunakan metode Analitical Hierarchy process (AHP). Hal ini bertujuan untuk menentukan prioritas perbaikan jalan sehingga nantinya dapat digunakan oleh Dinas Bina Marga dalam proses perbaikan jalan di Kota Medan.
Metoda ini merupakan alat bantu sistem pendukung keputusan yang dinilai luas untuk penyelesaian problem keputusan multikriteria. Metode ini mensintesis perbandingan ‘judgement’ pengambil keputusan yang berpasangan pada setiap level hirarki keputusan yang berpasangan pada setiap level hirarki keputusan. Caranya dengan menetapkan bobot prioritas relatif setiap elemen keputusan, dimana bobot ini merepresentasikan intensitas preferensi atas suatu keputusan (Saaty, 1993). Dalam penyelesaian per-soalan dengan metode AHP (Saaty, 1986 dalam Putri, 2011), dijelaskan beberapa prinsip dasar AHP sebagai berikut (Gambar 1) :
Gambar 1. Struktur hirarki model AHP
1. Dekomposisi
Setelah mendefinisikan permasalahan, maka perlu dilakukan dekomposisi yaitu memecah persoalan utuh menjadi unsur-unsurnya sampai yang sekecil-kecilnya. 2. Comparative Judgment
Prinsip ini berarti membuat penilaian tentang kepentingan relatif dua elemen pada suatu tingkat tertentu dalam kaitannya dengan tingkat di atasnya. Penilaian ini merupakan inti dari AHP, karena akan berpengaruh terhadap prioritas elemen-elemen.
3. Synthesis of priority
Dari setiap matriks pairwise comparison vectoreigen mendapat prioritas lokal, karena pairwise comparison terdapat pada setiap tingkat, maka untuk melakukan global harus dilakukan sintesis di antara prioritas lokal. Prosedur melakukan sintesis berbeda menurut bentuk hirarki. 4. Logical consistency
Konsistensi memiliki dua makna. Pertama, obyek-obyek yang serupa dapat
dikelompokkan sesuai kera-gaman dan relevansinya. Kedua, tingkat hubungan antarobyek yang didasarkan pada kriteria tertentu. Setelah masalah terdekomposisi maka ada dua tahap penilaian atau mem-bandingkan antar elemen yaitu perban-dingan antar kriteria dan perbanperban-dingan antar-pilihan untuk setiap kriteria. Perbandingan antar kriteria dimaksudkan untuk menentukan bobot untuk masing-masing kriteria (Sembiring, 2008).
Untuk mengkuantifikasi pendapat kuali-tatif maka digunakan skala 1- 9 yang merupakan skala terbaik dalam meng-kualifikasikan pendapat. Akurasinya berdasarkan nilai RMS (Root Mean Square Deviation) dan MAD (Median Absolute Deviation) (Saaty, 1993 dalam Sembiring, 2008) (Tabel 1 [Suryadi, 1998 dalam Juanda, 2010]).
Tabel 1. Skala matriks perbandingan berpasangan Inten-sitas Kepen tingan Definisi Penjelasan 1
Elemen yang sama pentingnya dibanding dg elemen yang lain (Equal importance) Kedua elemen menyumbang sama besar pd sifat tersebut. 3
Elemen yang satu sedikit lebih penting dari pada elemen yg lain (Moderate more importance) Pengalaman menyatakan sedikit berpihak pd satu elemen 5
Elemen yang satu jelas lebih penting dari pada elemen lain (Essential,
Strong more importance)
Pengalaman menunjukan
secara kuat memihak pada satu elemen
7
Elemen yang satu sangat jelas lebih pentingdari pada elemen yg lain (Demonstrated importance) Pengalaman menunjukan secara kuat disukai dan dominannya terlihat dlm praktek
9
Elemen yang satu mutlak lebih penting dari elemen yg lain (Absolutely more importance)
Pengalaman
menunjukan satu elemen sangat jelas lebih penting
2,4,6,8
Apabila ragu-ragu antara dua nilai ruang berdekatan (grey area)
Nilai ini diberikan bila
diperlukan kompromi
Bila dalam suatu sub sistem operasi terdapat ‘n” elemen operasi yaitu elemen- elemen operasi A1, A2, A3, ...An maka hasil perbandingan secara berpasangan elemen-elemen tersebut akan membentuk suatu matriks pembanding. Perbandingan berpasangan dimulai dari tingkat hirarki paling tinggi, dimana suatu kriteria digunakan sebagai dasar pembuatan perbandingan (Tabel 2)
Tabel 2 Matriks perbandingan berpasangan bobot elemen A1 A2 …. An A1 A11 Ann … A1n A2 A21 A22 …. A2n … … .. …. …. An An1 An2 …. Ann Bila elemen A dengan parameter i, dibandingkan dengan elemen operasi A dengan parameter j, maka bobot perbandingan elemen operasi Ai berbanding Aj dilambangkan dengan Aij maka : a(ij) = Ai / Aj,
dimana : i,j = 1,2,3,...n ... Pers. (1) Bila vektor-vektor pembobotan operasi A1,A2,... An maka hasil perbandingan berpasangan dinyatakan dengan vektor W, dengan W = (W1, W2, W3....Wn) maka nilai Intensitas kepentingan elemen operasi Ai terhadap Aj yang dinyatakan sama dengan aij. Dari penjelasan tersebut diatas maka matriks perbandingan berpasangan (pairwise compari-son matriks), dapat digambarkan menjadi matriks perbandingan preferensi (Tabel 3).
Tabel 3. Matriks perbandingan berpasangan bobot elemen W1 W2 …. Wn W1 W1/W1 W1/W2 … W1/Wn W2 W2/W1 W2/W2 …. W2/Wn … … .. …. …. … …. …. … …. Wn Wn/W1 Wn/W2 …. Wn/Wn Nilai Wi/Wj dengan i,j = 1,2,…,n dijajagi dengan melibatkan responden yang memiliki kompetensi dalam permasalahan yang dianalisis. Matriks perbandingan preferensi tersebut diolah dengan melakukan perhitungan pada tiap baris tersebut dengan menggunakan rumus :
…Pers. (2) Matriks yang diperoleh tersebut merupakan eigen vector yang juga merupakan bobot kriteria. Bobot kriteria atau Eigen Vektor adalah ( Xi), dimana :
Xi = (Wi / Σ Wi) ………...Pers. (3) Dengan nilai eigan vector terbesar (λmaks) dimana :
λmaks=Σ aij.Xj …………...Pers. (4) Penyimpangan terhadap konsistensi dinyatakan dengan indeks konsistensi didapat rumus :
λ maks. – n
CI= ...Pers. (5) n -1
Matriks random dengan skala penilaian 1 sampai dengan 9 beserta kebalikannya sebagai Indeks Random (RI). Dengan Indeks Random (RI) setiap ordo matrikss (Tabel 4).
Tabel 4. Random indek Ordo matriks 1 2 3 4 5 6 RI 0 0 0,58 0,9 1,12 1,24 Ordo matriks 6 7 8 9 10 RI 1,24 1,32 1,41 1,45 1,49
Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan 500 sampel, jika keputusan numerik diambil secara acak dari skala 1/9, 1/8, ..,1, 2, …,9 akan memperoleh rata-rata konsistensi untuk matrikss dengan ukuran berbeda. Perbandingan antara CI dan RI untuk suatu matrikss didefinisikan sebagai Ratio Consistensi (CR).
Untuk model AHP matriks perbandingan dapat diterima jika nilai ratio konsisten tidak lebih dari 10% atau sama dengan 0,1
CI
CR = ≤ 0,1 (OK) ... Pers. (6) RI
Model matematis adalah suatu sistem persamaam matematik yang digunakan untuk
meyelesaikan suatu permasalahan, sehingga penyelesaiannya lebih sederhana. Dari pembobotan kriteria total responden diatas setelah dihitung rata-ratanya selanjutnya dihitung prioritasnya dengan sistem persamaan matematis ( I Brodjonegoro, 1991 dalam Putri, 2011).
Y= A (a1 x bobot a1 + … + a6 x bobot a6 +…
+D(d1 x bobot d1 +… + d5 x bobot d5) ... ...……….….. Pers. (7)
Dimana :
Y = Skala prioritas
A s/d D = Bobot Alternatif level 2 (berdasar analisa responden)
a1, a2, , ….d4, d5 = Bobot Alternatif level 3 (berdasar analisa responden) bobot a1, bobot a2, …., bobot d5 =
Bobot Alternatif level 3 (berdasarkan analisis data) METODE PENELITIAN
Metode AHP diawali dengan penyusunan struktur hirarki menjadi beberapa kriteria dan subkriteria, membuat matriks per-bandingan berpasangan, selanjutnya total level lokasi ruas jalan akan ditentukan dengan menga-gregrasi kepentingan (bobot) relatif melalui hirarki. Tahapan dalam metode AHP sebagai berikut :
1. Menyusun struktur hirarki.
2. Membuat matriks perbandingan berpasangan.
3. Perhitungan eigen vektor.
4. Kontrol terhadap indeks konsistensi. 5. Pembobotan kriteria
Penelitian ini dilakukan di Kota Medan dengan mengambil 5 ruas jalan yang bernaung dibawah pengawasan Dinas Bina Marga Kota Medan, alternatif lokasi tersebut yaitu : (1) Jl. Binjai Raya, (2) Jl.Sunggal, (3) Jl. Setia Budi, (4) Jl. DR.Mansyur dan (5) Jl. Gatot Subroto.
Untuk mendapatkan data persepsi stakeholder terkait dengan prioritas penanganan jalan, maka disiapkan kuisioner yang kemudian didistribusikan ke stake-holder. Pembuatan kuesioner didasarkan pada parameter-parameter sebagai berikut:
1. Identifikasi faktor-faktor yang berpengaruh Berdasarkan indentifikasi dari kajian dan
studi sebelumnya (Ardiyanti, 2006), faktor-faktor yang dihipotesiskan mempunyai pengaruh terhadap penanganan kerusakan jalan di Kota Medan adalah sebagai berikut:
a.
Kondisi jalan, kriteria kondisi jalan meliputi tingkat kemiringan jalan, bahu jalan dan legokan.b.
Volume lalu lintas, tingkat lalu lintas harian pada jalan tersebut misalnya jumlah sepeda motor, bus, truk yang melewati jalan tersebut.c.
Ekonomi, manfaat kelayakan dan biaya yang digunakan dalam proses perbaikan jalan .d.
Kerusakan jalan, kondisi jalan yang meliputi lubang-lubang, retak-retak dan amblas.2. Penentuan jumlah responden
Responden (stakeholder) untuk penentuan prioritasi penanganan kerusakan jalan dengan teknik AHP adalah sebanyak 10 orang diantaranya dari Dinas Bina Marga, Bappeda, Dinas Perhubungan, Kecamatan (Tabel 4 )
Tabel 4. Daftar nama responden
N
o Nama Jabatan Instansi
1
Ir.N.Soaloon Silitonga, MAP
Sekrtaris Dinas
Bina Marga Dinas Bina Marga 2 Muradi Sofianto Kasi Pembangunan Jalan&Jembatan Dinas Bina Marga 3 Wan SyahramuddinKasi. Pemeliharaan Jalan& Jembatan Dinas Bina Marga 4 Budiansyah Amd Staff BAPPEDA Kota Medan BAPPEDA KotaMedan 5 Lidia Staff BAPPEDA Kota Medan BAPPEDA KotaMedan 6 Eva Sub.Bag.Umum Dinas Perhub. Dinas. Perub. Kota Medan 7 Rizki Ananda Staff Dinas Perhubungan Dinas Perub. Kota Medan 8 Siti Khalifah Kasubbag Umum Umum BAPPEDA BAPPEDA Kota Medan 9 Sofia Lisa Staff Bagian Jalan& jembatan Dinas Bina Marga 1
0 Tetty Tambunan SH
Kasubbag Umum
Kec.medan Petisah Masyarakat
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil analisis perhitungan, maka didapatkan kriteria-kriteria yang dominan yang menjadi dasar dalam analisis AHP untuk menentukan prioritasi pembangunan. Kriteria tersebut adalah: (a) Kondisi jalan, (b)Volume Lalu lintas (c) Ekonomi dan (d) Kerusakan Jalan.
Gambar 2. Rasio AHP untuk tiap faktor penanganan kerusakan jalan
Kuisioner untuk AHP memasukkan kriteria-kriteria diatas dan didistribusikan ke stakeholder. Tabel 6 menampilkan hasil analisis AHP beserta nilai CR nya. Sedangkan Gambar 2 menampilkan nilai bobot dari hasil analisis AHP
Kuisioner untuk AHP memasukkan kriteria-kriteria diatas dan didistribusikan ke stakeholder. Tabel 6 menampilkan hasil analisis AHP beserta nilai CR nya.
Sedangkan Gambar 2 menampilkan nilai bobot dari hasil analisis AHP.
Berdasarkan hasil tersebut, dapat dilihat bahwa kriteria ekonomi merupakan kriteria yang paling dominan sedangkan volume lalulintas merupakan kriteria paling rendah.
Dari perhitungan alternatif rata-rata dari seluruh responden, diketahui bobot alternatif total masing-masing alternatif. Urutan priori prioritas penanganan kerusakan jalan dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 5. Tabel matriks berpasangan dan nilai eigennya
Kondisi Jalan
Volume Lalu
Lintas Ekonomi Kerusakan
NILAI EIGEN Kondisi Jalan 1.000 1.600 1.100 0.700 0.2518 Volume Lalu Lintas 0.625 1.000 0.400 0.500 0.1396 Ekonomi 0.909 2.500 1.000 1.300 0.3121 Kerusakan 1.429 2.000 0.769 1.000 0.2965 JUMLAH 3.963 7.100 3.269 3.500 1.000 Emaks 4.047798 CI 0.015933 CR 0.017703
Tabel 6. Bobot final dan rangking alternatif Kondisi Jalan Volume Lalu Lintas Ekonomi Kerusakan Bobot 0.2518 0.1396 0.3121 0.2965 Bobot Final Prioritas Jln.Gatot Subroto 0.2245 0.2299 0.1828 0.2161 0.2097 2 Jln.DR.Mansyur 0.2056 0.2117 0.1747 0.1854 0.1908 4 Jln.Binjai Raya 0.2607 0.1852 0.2501 0.2049 0.2303 1 Jln.Setia Budi 0.1563 0.1714 0.1935 0.1453 0.1668 5 Jln.Sunggal 0.1530 0.2018 0.1988 0.2483 0.2024 3
KESIMPULAN
1. Hasil validasi dari kuisioner yang dibagikan menggunakan nilai konsistensi dibawah < 0,01, hal ini menunjukkan bahwa konsistensi penilaian cukup baik.
2. Kriteria yang berpengaruh terhadap prioritas perbaikan jalan di Kota Medan adalah kriteria ekonomi dengan nilai 0,3121 (31,21%), kemudian faktor kerusakan jalan dengan nilai 0,2965 (29,65%), kondisi jalan 0,2518 (25,18%) dan yang terakhir adalah volume lalulintas dengan nilai 0,1396 (13,96 %).
3. Dari hasil analisis matrik AHP diperoleh model keputusan, dengan prioritas yaitu untuk seluruh bobot / prioritas kriteria dan alternatif yang menjadi prioritas perbaikan jalan di Kota Medan adalah Jl.Binjai Raya dengan nilai 0.2303 (23,03%), Jl.Gatot Subroto dengan nilai 0,2097 (20,97%), Jl.Sunggal dengan nilai 0,2024 (20,24%), Jl.DR.Mansyur dengan nilai 0,1908 (19,08%), dan yang terakhir adalah Jl.Setia Budi dengan nilai 0,1668 (16,68%).
4. Metode AHP dapat digunakan dalam proses prioritas perbaikan jalan pada Dinas Bina Marga Kota Medan.
DAFTAR PUSTAKA
I Dewa Ayu Ngurah Alit Putri (2011). Penentuan Skala Prioritas Penanganan Jalan Kabupaten Di Kabupaten Bangli. Denpasar. Universitas Udayana Bali
Supriono (2012). Prosiding Seminar Nasional Ilmu Komputer Universitas Diponegoro. Yogyakarta. Penerbit Graha Ilmu.
Saaty, T.L. 2001. Decision Making For Leaders. Forth edition. University of Pittsburgh. RWS Publication, Pittsburgh.
Wan Zulfikar (2010). Manajemen Ruas Jalan dan Skala Prioritas Penanganan Jalan di Kota Sukadana. Universitas Tanjung Pura. Jurnal Teknik Sipil Untan / Volume 13 Nomor 1 – Juni 2012
Iwan Suranta Sembiring (2008). Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus: Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten Samosir). Medan. Universitas Sumatera Utara Kusrini (2007). Konsep dan Aplikasi Sistem
Pendukung Keputusan. Yogyakarta. Penerbit Andi.