• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rancangan Penelitian Ekperimental. Hadi Sarosa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Rancangan Penelitian Ekperimental. Hadi Sarosa"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

Rancangan Penelitian

Ekperimental

(2)

Rancangan Penelitian Ekperimental

Mempunyai Ciri

Manipulasi suatu variabel

Monitor perubahan pada variabel lain

Pengendalian pengaruh variabel yang tidak

dikehendaki dengan rancangan penelitian atau

dengan pengujian statistik

(3)

Pembagian Variabel dalam Rancangan Eksperimental

Variabel (V) tercoba (V. tergantung, V. terpengaruh,

efek, criterion variable, post test) : V. yg dipelajari

performance-nya (efek) akibat perlakuan pada

variabel lain

V. Eksperimental : V. yang dimanipulasi

performance-nya untuk dipelajari efeknya pada

variabel tercoba

(4)

Variabel non-eksperimental

V yang diketahui atau secara teoritis mempunyai

pengaruh terhadap variabel tercoba, tetapi tidak

diinginkan pengaruhnya

Dikenal 2 macam

V terkendali : V luar yang dapat dikendalikan

pengaruhnya oleh peneliti

V tak terkendali : V yang pengaruhnya tidak dapat

dikendalikan

(5)

Variabel non-eksperimental

Pengendalian variabel luar dapat dilakukan dengan

Pengujian statistik

Rancangan penelitian : pengendalian yang diupayakan

untuk menyamakan kondisi variabel tersebut pd

subyek-subyek perlakuan dengan subyek-subyek-subyek-subyek kontrol. Dapat

dilakukan dengan berbagai alternatif

Dengan pembatasan subyek

Dengan randomisasi

Dengan matching

(6)

Kapasitas Vital

Paru

Tinggi Badan Olah Raga Berat Badan Umur Genetik Jenis Kelamin H1 : ada pengaruh olah raga terhadap besarnya kapasitas vital paru

Ho : tidak ada pengaruh olah raga terhadap besarnya kapasitas vital paru

: rancangan penelitian : statistik

(7)

Macam Perlakuan (manipulasi)

Perlakuan eksperimental lawan tanpa

perlakuan

Perlakuan eksperimental lebih banyak lawan

perlakuan eksperimental lebih sedikit

Perlakuan eksperimental lawan perlakuan

lain

KP : X  Op KK : (-)  Ok KP : XXX  Op KK : X  Ok KP : X  Op KK : Z  Ok

(8)

Validitas Rancangan Eksperimental

• Gangguan terhadap validitas Interna

– Faktor history

– Faktor maturasi : perubahan fisik maupun psikis

– Faktor pengujian : rancangan pre-post

– Faktor instrumentasi

– Faktor mortalitas

– Faktor seleksi diferensial : peneliti sejak awal

menggunakan subyek yang mempunyai variabel

tercoba yang berbeda

(9)

Validitas Rancangan Eksperimental

• Gangguan terhadap validitas eksterna

– Interaksi uji awal dengan perlakuan : pada

rancangan ulang

– Interaksi antara seleksi dangan perlakuan : bias

pemilihan subyek

– Keadaan atau pengaturan yang terlalu spesifik :

subyek diperhatikan atau diberikan perlakuan

khusus  menimbulkan motivasi yang tidak wajar

– Faktor perlakuan ganda : washing kurang efektif

(10)

Dihindari

Rancangan Penelitian palsu (Praekperimental)

– Rancangan “perlakuan” tunggal

(x)  O

– Rancangan “perlakuan” ulang

O  (x)  O

– Rancangan “perlakuan’ statik

(x)  O

(11)

Rancangan Penelitian Eksperimental

Rancangan Eksperimental Murni

Rancangan dengan 1 variabel perlakuan

 Rancangan perlakuan sederhana  Rancangan Pra-pasca perlakuan  Rancangan Perlakuan Solomon

 Rancangan Perlakuan Random Silang

Rancangan dengan 2 atau lebih variabel

Rancangan Eksperimental Kuasi (semu)

Rancangan pra-pasca perlakuan non random

Rancangan pengamatan Seri

Rancangan pengamatan Seri berkontrol

Rancangan perlakuan sama subyek

Rancangan silang non random

(12)

Rancangan Penelitian Eksperimental

( satu variabel)

Rancangan

eksperimental

sederhana

Rancangan

eksperimental Ulang

(13)

Rancangan Penelitian Eksperimental

( satu variabel)

Rancangan eksperimental Solomon

O-1 O-4 O-2 O-3 (X) (-) R R R (X) (-) O-5 O-6

(14)

Desain Uji Klinik Menyilang

SUBYEK R Kelompok Perlakuan Kelompok Kontrol Kelompok Kontrol Kelompok Perlakuan Efek ? Efek ? Efek ? Efek ? B A B” A”

(15)

Rancangan Penelitian Eksperimental

( dua / lebih variabel)

Perbedaan Pengaruh

berbagai dosis antara

dopamin dengan

dobutamin terhadap

aliran darah ginjal

Jenis obat

Dosis obat

(16)

Teknik Sampling

(Cara Pengambilan Sampel)

2 cara :

probabilistik (random)

(17)

Tidak bertujuan generalisasi/inferensi

Analisis deskriptif

Macam :

Accidental Sampling

Judgmental (Purposive) Sampling

Quota Sampling

(18)

SAMPLING PROBABILISTIK (RANDOM)

1. Sampling random sederhana

(

Simple Random Sampling

)

2. Sampling random sistematik

(

Systematic Random Sampling

)

3. Sampling random berstrata

(

Stratified Random Sampling

)

4. Sampling random rumpun

(19)

SIMPLE RANDOM SAMPLING

Prinsip :

mengambil sejumlah n elemen dari

sejumlah N elemen secara random

kerangka sampling atau ”frame”

tabel bilangan random atau

komputer atau kalkulator

(20)

SIMPLE RANDOM SAMPLING

POPULASI SAMPEL LOTRE/ BIL. RANDOM

****

* *************

* * * ********* *****

* ** ***********

* * ****

* * *

* * *

*

(21)

SYSTEMATIC RANDOM SAMPLING

Mirip Simple Random Sampling

Menggunakan Cara Sistematis

Unit Sampel 1

: Simple Random

Unit Sampel 2, 3, ..., dst secara

sistematis dengan interval tertentu

(22)

1 k 2k 3k 4k 5k 6k ... N-k N Subyek ke-1  Simple random Su by ek ke - n k k k k k k

Populasi sebesar N  diambil sampel sebesar n

Membuat n subpopulasi dengan jumlah anggota

tiap subpopulasi = k = N/n  tiap subpopulasi

diambil 1 subyek

Dari subpopulasi pertama diambil 1 subyek secara

simple random

Subyek berikutnya diambil dengan interval k

sesudah subyek pertama  diperoleh sampel

sebesar n

(23)

STRATIFIED RANDOM SAMPLING

- + * - + *

* * - + + - *

* - - * + + -

+ + + * - * -

* - - *

* * *

* * *

- - -

- - - -

+ + +

+ + +

+ - +*

* - - *

+ + - -

stratifikasi randomisasi

(24)

STRATIFIED RANDOM SAMPLING

populasi bisa dipisah menurut

stratifikasi tertentu

STRATA :

subpopulasi dari populasi awal

tiap strata homogen

antar strata heterogen

Contoh : kelas perawatan (VIP, Kelas

(25)

CLUSTER/AREA RANDOM SAMPLING

populasi bisa dipisah menurut rumpun/

cluster tertentu

CLUSTER/RUMPUN :

subpopulasi dari populasi awal

tiap rumpun heterogen

antar rumpun homogen

Contoh : rumpun (blok) rumah (RT, RW)

(26)

CLUSTER/AREA RANDOM SAMPLING

- + * + * - - * * - + - + - - - + ** * -+ * - +

1

2

* * + - + - + * * - +

-

+ + - - - + * * * * + + - -

3

4

+ * * - - + + - - + *

+

+ + - - + - * * + - + * + - - + * * + - - + + *

*

+ - - - * * + + * * - - + -

5

6

7

8

- - - + + + * * * - + * -

+

+ - - - * * + + * * - - + - RANDOMISASI CLUSTER

SAMPEL

(27)

TWO STAGE RANDOM SAMPLING

- + * + * - - * * - + - + - - - + + + * * * - + * - +

1

2

* * + - + - + * * - + - + + - - - + * * * * + + - -

3

4

+ * * - - + + - - + * + + + - - + - * * + - + * + - - + * * + - - + + * * + - - - * * + + * * - - + -

5

6

7

8

- - - + + + * * * - + * -

+

+ - - - * * + + * * - - + -

2

8

+ + - - * * - * + - * RANDOMISASI CLUSTER RANDOMISASI UNIT SAMPEL

SAMPEL

(28)

RANCANGAN EKSPERIMENTAL KUASI

Tidak dapat melakukan

randomisasi subyek

Rancangan

eksperimental ulang

non random

Rancangan

eksperimental seri

Rancangan

eksperimental seri

ganda

(29)

Identifikasi variabel penelitian

Penetapan subyek dan populasi penelitian

Pemilihan sampel

Pemilihan rancangan eksperimental

Pemberian perlakuan dan observasi

Analisis hasil

(30)

Trial klinik

Medik-klinis : Aspek diagnostik, aspek preventif,

aspek kuratif, aspek rehabilitatif

Intervensi

Medik non klinis

Persepsi masyarakat mengenai ikwal penyakit,

pengobatan dls

(31)

Peneliti setelah dilakukan randomisasi dari populasi terjangkau, mencobakan obat A pada 10 sukarelawan, dan

obat B pada 10 sukarelawan yang lainnya, kemudian dicacat selang waktu antara minum obat dengan saat tidur

Kemudian dilakukan pengukuran dengan cara yang sama

Kelompok observasi : 2 kelompok data “kecepatan tidur” tidak berpasangan,

(32)

peneliti ingin mengetahui efek obat tidur. Setelah ditentukan populasi terjangkau sampel dirandom, besar sampel : 10 sukarelawan,

diberikan obat A pada 10 sukarelawan

pada suatu hari, kemudian dicacat selang waktu antara minum obat dengan saat tidur pada hari yang lain terhadap 10 orang yang sama

dicobakan obat B,

Setelah minum obat B kemudian dilakukan pengukuran dengan cara yang sama

Kelompok observasi : 2 kelompok data “kecepatan tidur”, Berpasangan, Sama Subyek, rancangan ulang

(33)

Mahasiswa FK ingin mengetahui perbedaan pengaruh antara teh hijau dengan tepung kedelai terhadap kolesterol darah, 10 tikus jantan galur wistar

diberikan teh hijau, 10 tikus jantan galur wistar diberikan tepung kedelai

Populasi terjangkau di “match” secara ketat pada banyak variabel, dan dilakukan randomisasi

kemudian dengan cara yang sama diukur kadar kolesterolnya

Dalam praktek, ke dalam istilah

sama subyek

juga dimasukan

Data yang berpasangan

, yang

berasal dari lain subyek

tetapi kondisinya identik atau hampir identik

Data berpasangan jumlah anggota kelompok harus sama

Kelompok observasi : 2 kelompok data “kadar kolesterol” berpasangan, Sama Subyek

(34)

Peneliti ingin mengetahui pengaruh obat x terhadap

tekanan darah sistolik, obat dicobakan pada

20 sukarelawan homogen, kelompok dibagi menjadi

2 secara random yaitu kelompok kontrol tanpa perlakuan dan

kelompok perlakuan. kelompok perlakuan :

sebelum minum obat diukur tekanan darahnya

kemudian setelah minum obat diukur tekanan darahnya tiap

30 menit sekali selama 2 jam. Dengan pengamatan yang sama

dilakukan pada kelompok kontrol.

(35)

Peneliti ingin mengetahui pengaruh obat x dan obat y

terhadap tekanan darah sistolik, 10 sukarelawan minum obat x,

dan 12 sukarelawan lainnya minum obat y, sebelum minum obat

tekanan darahnya diukur, kemudian setelah minum obat

tekanan darah diukur tiap 30 menit sekali selama 2 jam

(36)

Pengamatan Ulang

jangan dikaburkan dengan

Sama subyek

Pengamatan Ulang dan Sama Subyek memperoleh

data dari

subyek yang sama

Pengamatan Ulang

Perlakuannya 1 kali

, efeknya diamati lebih dari satu kali

maka kelompok pengamatannya lebih dari satu

Sama Subyek

Karena

perlakuannya 2 kali/>,

maka kelompok

(37)

3 kelompok observasi, Sama subyek, Rancangan Ulang

Peneliti mencobakan obat A pada 10 sukarelawan pada suatu hari, kemudian dicacat selang waktu antara minum obat dengan saat tidur

pada hari yang lain terhadap 10 orang yang sama dicobakan obat B, Setelah minum obat B kemudian dilakukan pengukuran, dengan

cara yang sama dilakukan pada obat C.

Peneliti mengetahui pengaruh obat A, obat B, dan obat C terhadap Lamanya tidur. Subyek penelitian Mahasiswa FK di Semarang

Setelah ditentukan jumlah sampel kemudian dibagi menjadi 3 kelompok Dengan random. Kelompok I minum obat A, kelompok II minum obat B

Dan kelompok 3 minum obat C kemudian dilakukan pengukuran lamanya tidur

Referensi

Dokumen terkait

Teknik pengukuran pasut air laut dapat dilakukan baik dengan cara tradisional.. maupun dengan

Apakah anda berhenti minum obat ketika anda merasa gejala yang dialami telah teratasi.. Meminum obat setiap hari merupakan sesuatu ketidaknyamanan untuk beberapa

dan malam hari. c) 3 (tiga) kali sehari, berarti obat tersebut harus diminum pada pagi, siang dan malam hari. 4) Minum obat sampai habis, berarti obat harus diminum sampai

Keluarga paham tentang tanda bahaya yang dijelaskan dan mengerti tindakan yang harus segera dilakukan apabila itu terjadi. 10) Menjelaskan cara minum obat-obatan yang

dan malam hari. c) 3 (tiga) kali sehari, berarti obat tersebut harus diminum pada pagi, siang dan malam hari. 4) Minum obat sampai habis, berarti obat harus diminum sampai

Hasil pengukuran kadar kolesterol serum marmot dilakukan setelah marmot dipuasakan selama 10-18 jam, tetapi tetap diberi minum sebelum marmot diinduksi kolesterol dengan

Pengukuran luas daun dilaksanakan pada saat tanaman berumur 30 hari setelah tanam dengan menggunakan aplikasi Image J. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara

Pemberian air minum dilakukan setiap hari secara ad libitum, air minum dan sisa air minum dihitung volume setiap hari pada waktu yang sama dan dinyatakan dalam satuan