KOPI - Negara, satu kata ini dapat memunculkan berbagai interpretasi dan definisi. Miriam Budiardjo –Guru besar politik indonesia—mengemukakan, bahwa negara adalah suatu daerah teritorial yang rakyatnya diperintah (governed) oleh sejumlah pejabat yang berhasil menuntut dari warga negaranya ketaatan dan peraturan perundang-undangannya melalui penguasaan (kontrol) monopolistis dari kekuasaan yang sah (Budiardjo, 1985: 40-41).
Para filsuf dan beberapa sarjana mungkin memiliki interpretasi masing-masing mengenai definisi sebuah negara, namun kesemuanya pasti memiliki kesepakatan mengenai unsur-unsur mutlak berdirinya sebuah negara. Unsur-unsur tersebut meliputi: Wilayah atau daerah teritorial yang sah, rakyat sebagai pendukung pokok negara, serta pemerintahan yang sah dan
berdaulat.
Wilayah Sebagai Daerah Teritorial yang Sah Dalam berdirinya suatu negara, keberadaan wilayah jelas menjadi suatu kebutuhan yang mutlak. Tanpa adanya wilayah, negara tidak dapat didirikan. Sebab wilayah inilah yang nantinya akan menampung rakyat, juga yang akan
menampung segala bentuk pemerintahan yang berada di atasnya.
Rakyat Sebagai Pendukung Pokok Negara Bukan suatu negara, jika di dalamnya tidak terdapat orang-orang yang menduduki wilayahnya. Maka unsur yang harus dipenuhi setelah tersedianya suatu wilayah adalah rakyat. Rakyat menjadi sangat penting dalam sebuah negara karena dari rakyat segala macam aturan berkehidupan di bentuk, rakyat dalam arti ini tidak hanya
menunjuk pada satu etnis saja melainkan dapat terdiri dari multi etnis.
Pemerintahan yang Sah dan Berdaulat Untuk menciptakan suatu tertib pemerintahan diperlukan pengaturan sedemikian rupa, sehingga dinamika kekuasaan dalam proses pemerintahan dapat dibatasi dan dikendalikan (Hamilton, 1931: 255). Gagasan mengenai pengaturan kehidupan bernegara ini muncul secara alamiah demi terciptanya masyarakat yang berkesinambungan dan memiliki keseimbangan dalam bernegara.
Indonesia sebagai negara demokrasi memberlakukan sistem kekuasaan tertingi berada di tangan rakyat, hal tersebut secara sah termaktub dalam UUD 1945 hasil amandemen 2002 (pasal 1 ayat 2). MPR hanya memiliki kekuasaan dalam melakukan perubahan UUD, melantik presiden dan wakil presiden, serta memberhentikan presiden dan wakil presiden bila telah
Presiden sendiri merupakan pemimpin suatu negara. Sebagai kepala negara, dalam menjalankan tugasnya seorang presiden dibantu oleh wakil presiden dan menteri-menteri dalam kabinet. Di Indonesia, presiden (dan wakil presiden) menjabat selama lima tahun dalam satu kali masa jabatan dan setelahnya dimungkinkan untuk menjabat kembali. Berdasarkan UUD 1945 hasil amandemen 2002, presiden merupakan penyelenggara pemerintahan tertinggi di samping MPR dan DPR. Karena presiden dipilih langsung oleh rakyat (UUD 1945 pasal 6A ayat 1), maka kini presiden tidak lagi mandataris MPR, bahkan sejajar dengan DPR dan MPR. Hanya saja, MPR masih mempunyai kewenangan untuk melakukan impeachment apabila presiden melakukan pelanggaran terhadap UU maupun UUD. Meskipun kepala negara tidak bertanggung jawab kepada DPR, kekuasaan yang dimiliki oleh presiden tetap tidak ‘tak
terbatas’. Artinya presiden tidak dapat melakukan perannya sebagai diktator dalam memimpin negara.
Melihat berbagai peran sentral yang dimiliki oleh seorang presiden, maka sebuah negara
secara murni memerlukan sosok presiden yang ideal. Sosok presiden ideal inilah yang nantinya akan mampu menciptakan stabilitas nasional, menyumbangkan perkembangan perekonomian, dan mengatur negara dengan baik. Kriteria kepala negara yang ideal dikemukakan dalam beberapa point di bawah ini:
1. Beriman dan bertakwa
Carut marut permasalahan politik yang tengah terjadi di kalangan atas pimpinan negara saat ini merupakan bentuk implikasi langsung dari kurangnya iman dan takwa pemimpin terhadap Tuhannya. Iman dan takwa harus menjadi dasar bagi seorang pemimpin dalam melaksanakan kewajibannya, tanpa adanya landasan iman dan takwa seseorang tidak akan sungkan
melakukan perbuatan dosa (dalam kajian pemimpin berarti meninggalkan kewajiban negara). Inilah yang menjadikan politik di bumi pertiwi dalam keadaan kritis, disebut demikian karena para pimpinan negara tak lagi merasa diawasi oleh Tuhan dalam bertindak-tanduk. Korupsi dilakukan dimana-mana secara besar-besaran, lantas kemanakah hati nurani yang
melakukannya? Tidakkah melihat pada rakyat yang berada jauh di bawah garis kemiskinan? Inilah ironi gambaran iman dan takwa pemimpin saat ini.
2. Amanah dalam Melakukan Kewajiban Amanah (credible) berarti dapat dipercaya.
menggadaikan nasib pada pemimpin yang telah ditunjuknya, tentu secara penuh berharap pemimpinnnya dapat melakukan segala sesuatu yang sesuai dengan harapan rakyat.
3. Memiliki Karakteristik Positif
Seorang pemimpin yang baik tentunya diharapkan memiliki sebuah karakter yang kuat, tidak mudah terombang-ambing kemana arah angin bergulir. Salanjutnya, tentu tidak sembarang karakter yang diharapkan muncul di sini, melainkan sebuah karakter yang bernilai positif.
4. Memiliki Keberanian terhadap yang dianggap Benar
Wajib hukumnya bagi seorang pemimpin untuk memiliki keberanian.Berani untuk
mengungkapkan pemikiran, berani untuk membela yang benar, berani pula untuk mengungkap kekeliruan yang terjadi dalam sebuah negara.
5. Menjalin Simbiosis Mutualisme antara Pemimpin dan yang dipimpin
Simbiosis mutualisme adalah sebuah hubungan yang saling menguntungkan, dalam artian ini simbiosis mutualisme antara presiden dan rakyat yang dimaksud adalah terjalinnya komunikasi secara lancar. Terjadi arus hubungan positif antara presiden dengan rakyat, lebih lanjut akan tercipta presiden yang mencintai rakyat dan yang dicintai pula oleh rakyatnya.
6. Dapat Menjadi Teladan
Tak hanya sekedar mempimpin, seorang pemimpin yang ideal juga diharapkan mampu menjadi contoh yang baik (teladan) bagi kalangan masyarakat yang dipimpinnya, baik untuk generasi muda sebagai penerus bangsa maupun teladan bagi sesamanya.
7. Memiliki Kecerdasan dan Kecapakan
Kecerdasan adalah kemampuan menalar, merencanakan, dan menyelesaikan masalah. Seorang pemimpin diharapkan memiliki kecerdasan yang mumpuni, sehingga dapat bertindak cepat dan mengambil renspon yang baik terhadap setiap permasalahan yang mucul. Prof. Howard Gardener, seorang ahli riset dari Amerika mengemukakan bahwa sedikitnya terdapat delapan jenis kecerdasan, yakni: kecerdasan linguistik, kecerdasan logik matematik,
kecerdasan visual dan spasial, kecerdasan musik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan kinestetik, dan kecerdasan naturalis. Seorang presiden tentu tak harus memiliki kedelapan tipe kecerdasan tersebut, yang terpenting adalah memiliki
kecerdasan yang secara langsung berhubungan dengan kecakapan penyelesaian suatu masalah serta pengambilan keputusan.
8. Dapat Bersikap Adil
Adil yang dimaksudkan adalah dapat menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Indonesia sebagai negara hukum (rechsstaat) mengandung arti bahwa negara termasuk di dalamnya pemerintahan dan lembaga-lembaga negara lainnya dalam melaksanakan tindakan apapun harus dilandasi oleh peraturan hukum . Maka sesuai dengan pernyataan tersebut, setiap penduduk yang berdiam di atas wilayahnya tak satupun yang dapat diperlakukan secara
khusus di mata hukum. Segenap jajaran pemerintahan dan lapisan masyarakat memiliki status yang sama di mata hukum, tidak ada seorangpun yang kebal hukum. Seorang presiden yang baik hendaknya dapat mengimplementasikannya dengan sesuai dan adil.
9. Bijksana dan Berwibawa
Kebijaksanaan diperlukan dalam penyelesaian taktis permasalahan negara, sedangkan wibawa diperlukan secara tidak langsung untuk melahirkan hubungan positif secara visual antara
masyarakat sebagai yang dipimpin dengan presiden sebagai sang pemimpin.
Tanggung jawab mutlak diperlukan dalam melaksanakan tugas-tugas negara yang diemban oleh presiden. Tanggung jawab ini merupakan syarat wajib yang harus dimilikinya.
11. Memiliki Rasa ‘Memiliki’
Presiden memiliki tugas utama memimpin berdirinya sebuah negara, maka seorang presiden terlebih dulu harus menanamkan rasa ‘memiliki’ pada negara yang dipimpinnya. Yang terjadi setelahnya adalah seorang pemimpin akan mampu melakukan kewajibannya secara maksimal, karena ia sadar benar akan kelanjutan nasib bangsa yang dimilikinya.
12. Mampu Melahirkan Inovasi
Inilah yang sering kali terlewatkan oleh pandangan khalayak umum, negara tidak memerlukan pemimpin yang hanya bisa melanjutkan kinerja pemimpin-pemimpin sebelumnya saja. Negara memerlukan adanya sebuah inovasi, terobosan-terobosan terbaru demi lahirnya peradaban yang dinamis dan terus berkembang, tidak hanya statis. Dengan terpenuhinya kedua belas kriteria presiden yang ideal tersebut, niscaya setitik angan yang dulunya hanya berupa asa akan bermetamorfosis menuju sebuah realita.
BIODATA
Tempat, tanggal lahir : Bojonegoro, 26 Juli 1992
Nama Universitas : Universitas Airlangga
Alamat Universitas : Jl. Mulyorejo Kota, Propinsi : Surabaya, jawa Timur
Kode Pos : 60115
Alamat Rumah : Jl. Sultan Agung Ds. Magersari 1 No. 24 RT/ RW : 02/01
Kota, Propinsi : Sidoarjo, Jawa Timur Kode Pos : 61211
Nomor HP : 085730448797
Alamat email : [email protected]
Akun Facebook : [email protected]