• Tidak ada hasil yang ditemukan

BKM MAMIRI RENCANA TINDAK PENATAANN LINGKUNGAN PERMUKIMAN (RTPLP) DESA LABUHAN ALAS TAHUN 2013/2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BKM MAMIRI RENCANA TINDAK PENATAANN LINGKUNGAN PERMUKIMAN (RTPLP) DESA LABUHAN ALAS TAHUN 2013/2014"

Copied!
150
0
0

Teks penuh

(1)

RENCANA TINDAK PENATAAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN (R

ALAS TAHUN 2013/2014

PROGRAM PENATAAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN BERBASIS

KOMUNITAS PLP

NEIGHBOURHOOD DEVELOPMENT

RENCANA TINDAK PENATAAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN (RTPLP) DESA LABUHAN

ALAS TAHUN 2013/2014

BKM

MAMIRI

PROGRAM PENATAAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN BERBASIS KOMUNITAS PLP-BK NEIGHBOURHOOD DEVELOPMENT (ND)

TPLP) DESA LABUHAN

BKM ANGIN

MAMIRI

(2)
(3)
(4)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan YME yang telah menganugerahkan rahmat dan hikmah sehingga

dokumen Rencana Teknik Penataan Lingkungan dan Permukiman (RTPLP) Kawasan Prioritas

Desa Labuhan Alas Kecamatan Alas Kabupaten Sumbawa ini bisa diselesaikan dengan baik dan

tepat waktu. Dokumen RTPLP ini merupakan dokumen pelengkap dari Rencana Penataan

Lingkungan Permukiman (RPLP) Desa, yang berisi mengenai rencana penataan bangunan dan

lingkungan permukiman di Desa Labuhan Alas Kecamatan Alas Kebupaten Sumbawa,

khususnya pada kawasan Prioritas

Kawasan Prioritas merupakan sebuah potensi yang bila direncanakan dengan benar dapat

memberikan manfaat yang besar bagi penduduk Desa Labuhan Alas khususnya. Tujuan akhirnya

adalah mewujudkan kawasan tertata dari segi Lingkungan, aman didalam kawasan sera

menjadikan kawasan produktif dari segi ekonomi, sehingga terbentuklah sebuah pembangunan

yang seimbang dan berkelanjutan (sustainable development).

Dalam penyusunan dokumen RTPLP ini Tim Penyusun telah banyak mendapatkan masukan dari

berbagai pihak yang berkompeten demi kesempurnaan buku laporan ini, untuk itu Tim Penyusun

menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya. Akhir kata, semoga dokumen ini dapat

bermanfaat dan digunakan sebagaimana mestinya.

Tim Penyusun

BKM “ANGIN MAMIRI”

(5)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ...i

Daftar Isi ...ii

Bab I Pendahuluan

1.1.Latar Belakang ...1

1.2.Tujuan dan Sasaran ...2

1.3.Hasil Akhir...4

1.4. Strategi Pelaksanaan ...4

1.5. Tahap Pelaksanaan...5

1.6. Kriteria Kawasan Prioritas...6

1.7. Tinjauan Teoritis...7

Bab II Visi dan Misi

2.1. Visi – Misi Pengembangan Permukiman...25

2.2. Tahap Pelaksanaan...26

2.3. Visi –Misi...29

Bab III Review Kebijakan Terkait

3.1.Kebijakan RTRW Kabupaten Sumbawa ...35

3.2.Arti Pentig RPJP ...37

3.3.Kedudukan Desa Labuhan Alas...39

Bab IV Profil Desa

4.1. Kedudukan Kawasan Prioritas ...40

4.2. Kondisi Fisik Dasar ...41

4.3. Penggunaan Lahan ...42

4.4. Kependudukan...48

4.5. Kondisi Bangunan ...52

4.6. Sistem Transportasi ...54

(6)

4.9. Kebencanaan ...59

Bab V Review Pemetaan Swadaya

5.1. Peta Dasar Review Pemetaan Swadaya ...60

Bab VI Analisa Kawasan Prioritas

6.1. Analisa Fisik Dasar ...77

6.2. Analisa Kependudukan ...79

6.3. Analisa Mikro Kawasan Perencanaan ...80

6.4. Analisa Elemen Urban Design...90

6.5. Analisa Sosial Ekonomi...99

6.6. Analisa Sosial Budaya ...99

6.7. Analisa Sarana dan Prasarana ...100

6.8. Analisa Pengembangan Kawasan ...103

Bab VII Konsep dan Rencana Teknis Penataan Lingkungan Permukiman

7.1. Arahan Kawasan Prioritas...105

7.2. Rencana Perkembangan Permukiman...106

7.3. Rencana Peruntukan Lahan...107

7.4. Rencana Intensitas Pemanfaatan Lahan...108

7.5. Rencana Tata Bangunan ...109

7.6. Rencana Kualitas Lingkungan ...110

7.7. Rencana Pergerakan Transportasi...114

7.8. Rencana RTH...116

7.9. Rencana Jaringan Utilitas ...118

7.10. Rencana Mitigasi bencana ...122

Bab VIII Analisa Kawasan Prioritas

8.1. Aspek Pelaksanaan Pembangunan...133

8.2. Strategi Penyediaan Lahan...135

8.3. Sumber Pembiayaan dan Pola Kerjasama...136

8.4. Indikasi Program...138

Bab IX Penutup

9.1. Penutup ...140

(7)

DAFTAR TABEL

Tabel IV.1. Zona Kawasan Permukiman... 44

Tabel IV.2. Jumlah Penduduk ... 49

Tabel IV.3. Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur ... 50

Tabel IV.4. Jumlah Rumah ... 53

Tabel V.1. Fasilitas Pendidikan ... 55

Tabel V.2. Sumber Daya Manusia... 56

Tabel V.3. Sumber Daya Ekonomi ... 60

Tabel V.4. Prasarana Jalan dan Jembatan... 65

Tabel VI.3. Proyeksi Penduduk ... 88

(8)

DAFTAR PETA

Peta IV.1. Penggunaan Lahan... 43

Peta IV.2. Sebaran Penduduk Miskin ... 52

Peta V.3. Peta Dasar Administrasi... 60

Peta V.4. Pola Ruang ... 61

Peta V.5. Rencana Pola Ruang ... 62

Peta V.6. Sebaran Kemiskinan... 63

Peta V.7. Rumah Tidak Layak Huni... 64

Peta V.8. Sarana Sosial Ekonomi ... 65

Peta V.9. Fasilitas Perkantoran ... 66

Peta V.10. Fasilitas Ibadah... 67

Peta V.11. Sebaran Usaha dan Jasa ... 68

Peta V.12. Sebaran Air Limbah ... 69

Peta V.13. Jaringan Persampahan... 70

Peta V.14. Rencana Jaringan Persampahan ... 71

Peta V.15. Jaringan Drainase ... 72

Peta V.16. Rencana Jaringan Drainase ... 73

Peta V.17. Jaringan Jalan Lingkungan... 74

Peta V.18. RTH... 75

(9)
(10)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Program Pengembangan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (Neighbourhood Development) pada dasarnya merupakan bentuk stimulan bagi keberhasilan masyarakat di Kelurahan/Desa yang telah mampu membangun lembaga masyarakat ”BKM Angin Mamiri” mencapai kualifikasi serta telah melaksanakan kemitraan dengan Pemda atau dengaan pihak lain (channelling).

Kegiatan Pengembangan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas secara substansi merupakan implementasi konsep kemitraan dan ”channelling” program pada skala yang lebih kecil, yakni skala Kelurahan/Desa. Diharapkan, melalui kegiatan ini berlangsung proses pembelajaran, pengembangan dan pelembagaan kemitraan yang sinergis antara masyarakat, pemerintah kelurahan, pemerintah desa dan kelompok peduli setempat. Prosesnya lebih mengutamakan pada keswadayaan, kemandirian dan kerja keras untuk menggalang segenap potensi sumber daya yang dimiliki bersama dan mengakses berbagai sumber daya dari luar lainnya dalam upaya mengembangkan lingkungan permukiman yang sehat, tertib, selaras, berjati diri dan lestari menuju cita-cita masyarakat yang sejahtera. DIENKZ

Pemilihan RTPLP Kawasan Prioritas sudah selayaknya berasal dari daerah dan ditentukan oleh pemerintah daerah berdasarkan usulan-usulan yang telah ditampung, sesuai dengan batasan-batasan yang telah ditetapkan. Dengan demikian pada saat yang ditentukan, sudah sepatutnya pemerintah daerah memiliki gambaran alasan dari dipilihnya kawasan tersebut dan arah umum penataan yang akan dilakukan.

RTPLP Kawasan Prioritas adalah panduan rancangan bangunan suatu lingkungan/ kawasan yang dimaksud untuk mengarahkan jalannya pembangunan sejak dini., mengendalikan pertumbuhan dan perubahan fisik suatu lingkungan/kawasan, mewujudkan pemanfaatan ruang secara efektif, tepat guna dan spesifik setempat. Seluruh dokumen RTPLP yang telah disusun harus dapat diaplikasikan dan diterapkan menjkadi sebuah bentuk terapi bagi kawasan, menuju kawasan yang memiliki nilai ekonomis, estetika, dan memiliki tingkat kenyamanan huni dan aktivitas (livability) yang lebih baik tanpa melupakan karakter dan nilai lokalitas yang terkandung.

(11)

1.2 Tujuan dan Sasaran

1.2.1 Tujuan

Dokumen RTPLP bagi kawasan memiliki nilai yang penting agar dapat membumi, dapat dikatakan bahwa perlunya dokumen RTPLP antara lain :

1.Fenomena pertumbuhan kawasan yang cepat, tidak terarah dan tidak terkendali yang mendorong kearah keseragaman wajah/rupa kota.

2.Timbul tuntutan untuk mempertahankan keunggulan spesifik suatu kawasan sebagai kawasan yang berjati diri.

3.Kebutuhan integrasi atas berbagai konflik kepentingan dalam penataan  Antar bangunan

 Bangunan dengan lingkungan  Bangunan dengan prasarana kota  Lingkungan dengan konteks regional/kota  Bangunan dan lingkungan dengan aktivitas public  Lingkungan dengan pemangku kepentingan (stakeholder)

4.Kebutuhan tindak lanjut atas rencana tata ruang yang ada sekaligus manifestasi atas pemanfaatan ruang.

5.Kebutuhan untuk merealisasikan, melengkapi dan mengintegrasikan berbagai peraturan yang ada pada suatu kawasan, ataupun persyaratan teknis lain yang berlaku.

6.Kebutuhan alternatif perangkat pengendali yang mampu dilaksanakan langsung di lapangan.

Secara umum, Pengembangan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas bertujuan untuk mewujudkan tatanan kehidupan masyarakat yang harmonis dengan lingkungan hunian yang sehat, tertib, selaras, berjatidiri dan lestari. Sedangkan secara khusus, PLPBK berusaha untuk mewujudkan:

 Masyarakat yang sadar pentingnya tinggal di permukiman yang tertata selaras dengan lingkungan yang lebih luas dan tanggap bencana.

 Masyarakat yang berbudaya sehat, bersih, dan tertib pembangunan.

 Masyarakat yang mampu secara kreatif dan inovatif melakukan perencanaan, dan pengelolaan pembangunan lingkungan permukiman mereka.

 Tata kelembagaan kelurahan yang efektif dan efisien dalam menerapkan tata kepemerintahan yang baik (good governance).

(12)

1.2.2 Sasaran

Sasaran secara khusus ditujukan bagi pemrakarsa dan pihak-pihak yang berperan dalam mengusulkan dan menentukan terpilihnya suatu kawasan yang akan ditata dan dikendalikan dengan dokumen RTPLP, dalam hal ini yaitu masyarakat setempat dan pemerintah baik pusat maupun daerah.

Tujuan ini diwujudkan dengan pencapaian sasaran sebagai berikut:

a. Penataan lingkungan permukiman pada kawasan terbangun dan tidak terbangun sesuai dengan standard perencanaan perumahan dan permukiman perkotaan. Penataan dilakukan dengan pembangunan lingkungan berkelanjutan, yaitu diwujudkan dengan menata dan mengendalikan perkembangan permukiman di area sempadan sungai/kali, sekitar perbukitan dan kawasan permukiman padat.

b. Peningkatan kualitas lingkungan dengan membentuk image sebuah kawasan, menata bangunan gedung dan jalur pejalan, ruang publik, jalur hijau, papan reklame (signage), terutama pada kawasan sepanjang pantai dan koridor jalan utama. Disamping itu merencanakan sarana dan prasarana jalan dan lingkungan untuk memberikan keamanan dan keselamatan bagi Pemilik dan Pengguna bangunan gedung di kawasan permukiman.

c. Peningkatan vitalitas ekonomi lingkungan dengan mendukung kegiatan usaha kecil dan retail dengan berbagai pengendalian, preservasi dan konservasi bangunan dan lingkungan. Diperlukan penyusunan arahan program investasi bangunan gedung dan lingkungannya, pada program jangka pendek, menengah dan jangka panjang.

Lab. Alas secara umum memiliki 3 (tiga) kawasan prioritas, yaitu Dusun Tarum ( Kawasan Prioritas I), Dusun Bangsal ( kawasan prioritas II), dan Dusun Galung (kawasan prioritas III). Di semua kawasan ini Permukiman berkembang tanpa memperhatikan persyaratan teknis tata bangunan dan lingkungan, sehingga menimbulkan berbagai permasalahan, antara lain :

Pertama, Bangunan di kawasan tepian sungai/kali tidak tertata dan tidak memperhatikan garis

sempadan sungai/kali.

Kedua, penataan drainase dan jalan yang kurang serta terjadinya tumpukan sampah dan tanah

disungai/kali membuat kawasan ini sering banjir .

Ketiga, kepadatan bangunan dan jarak bebas bangunan (garis sempadan bangunan) tidak sesuai

dengan RTRW Kabupaten Sumbawa. Tapak bangunan tidak teratur, termasuk jarak antar bangunan rumah dan batas persil.

(13)

Keempat, perumahan yang berkembang cenderung ke arah permukiman padat, padahal masih banyak

ruang atau kawasan yang masih kosong, sehingga terkesan tidak terarah (sprawl) dan tidak tertata.

Kelima, kawasan ini bisa diakses oleh kendaraan roda 4, namun tidak bisa saling berpapasan karena

kondisi jalan yang sempit.

Untuk merehabilitasi, menata seluruh atau sebagian kawasan yang memiliki permasalahan bangunan dan lingkungan tersebut di atas, perlu disusun pedoman Rencana Tindak Penataan Lingkungan Permukiman(RTPLP). Dalam Permen PU No. 06/PRT/M/2007, dijelaskan bahwa Rencana Umum dan Panduan Rancangan merupakan ketentuan tata bangunan dan lingkungan pada suatu lingkungan/kawasan yang memuat rencana peruntukan lahan makro dan mikro, rencana perpetakan, rencana tapak, rencana sistem pergerakan, rencana aksesibilitas lingkungan, rencana prasarana dan sarana lingkungan, rencana wujud visual bangunan, dan ruang terbuka hijau. Selain itu, RTPL juga memuat arahan program investasi, pengendalian rencana dan pengendalian pelaksanaan.

1.3 Hasil Akhir

Diakhir pelaksanaan kegiatan ini hasil yang akan dicapai di suatu kelurahan / desa adalah: 1) Rencana tindak penataan ligkungan permukiman (RTPLP) kawasan prioritas yang disusun

secara partisipatif oleh masyarakat bersama pemerintah.

2) Aturan tertulis tentang pembangunan / pengelolaan permukiman yang tanggap bencana yang disepakati masyarakat bersama pemerintah sebagai komitmen bersama

3) Kelembagaan pembangunan atau unit pengelola pembangunana SEL (sosial, ekonomi dan lingkungan) yang andal dan mampu berperan sebagai pusat pelayanan masyarakat (community services) dalam memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat di wilayahnya.

4) Terwujudnya atau terlaksananya pembangunan fisik kawasan prioritas yanag dilakukan oleh masyarakat dengan bimbingan pemerintah dan dukungan berbagai pihak dengan berbagai sumber daya.

1.4 Strategi Pelaksanaan

Untuk dapat mencapai hasil akhir seperti yang disebutkan di atas, maka salah satu strategi pelaksanaan yang digunakan adalah melalui pembangunan lingkungan sebagai pintu masuk untuk

(14)

yang secara sosial efektif dan secara ekonomi produktif yang pada gilirannya akan membangun masyarakat adil, maju dan sejahtera. Strategi ini akan diwujudkan dalam 3 cara utama sebagai berikut:

 Edukasi masyarakat dalam bentuk pembelajaran kritis, diskusi kelompok terarah, studi kasus, kunjungan lapangan, dll yang terkait dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat, tata kepemerintahan/ pelayanan publik, bencana alam, dsb

 Serangkaian musyawarah warga untuk menyepakati aturan pembangunan dan pengelolaan lingkungan, penataan ruang, penataan bangunan dan lingkungan, pelayanan publik, dsb.

 Menggunakan pembangunan lingkungan sebagai media praktek untuk pengembangan tata laku yang positif dan efektif (etika pembangunan).

1.5 Tahap Pelaksanaan

Terdapat empat tahapan pelaksanaan pengembangan lingkungan permukiman berbasis komunitas, yaitu:

1. Tahap Persiapan

Inti kegiatan dalam tahap ini adalah penetapan lokasi sasaran dan sosialisasi program melalui berbagai media dengan penekanan pada lokakarya orientasi program secara berjenjang dari tingkat nasional, propinsi dan daerah.

2. Tahap Perencanaan Partisipatif

Inti kegiatan pada tahap ini adalah membangun kolaborasi perencanaan dimana antar berbagai pihak (masyarakat, pemerintah dan pelaku usaha/swasta) dapat saling terbuka berbagi informasi, melakukan dialog dan konsultasi, dan bersepakat terhadap aturan bangunan setempat dan pokok– pokok perencanaan dan pembangunan. Para pemangku kepentingan tersebut kemudian berupaya menyusun berbagi pengaturan yang diperlukan, untuk mewujudkan tata kepemerintahan yang baik (good governance). Dasar pijakannya tetap konsisten pada pelembagaan nilai-nilai luhur (value

based development), prinsip kepemerintahan yang baik (good governance) serta

prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Tahap ini akan dibagi menjadi empat kelompok kegiatan sebagai berikut:

a. Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat b. Persiapan Proses Perencanaan Partisipatif

c. Perencanaan Lingkungan Makro yang termasuk penyusunan aturan bangunan setempat sebagai dasar perencanaan pengembangan lingkungan permukiman kelurahan/desa dan penataan tindak lingkungan permukiman serta lingkungan kawasan prioritas berbasis komunitas, dan

(15)

3. Tahap Pemasaran Kawasan Prioritas

Inti kegiatan pada tahap ini adalah melakukan proses pemasaran kawasan yang akan ditata kembali dan telah tersedia RTPLP-nya (Rencana Tindak Penataa Lingkungan Permukiman) kepada berbagai pihak seperti antaara lain dinas / instansi pemerintah (sumber dana APBN/APBD) maupun lembaga / instansi non pemerintah seperti lembaga bisnis, sosial, baik ditingkat nasional maupun multinasional sehingga terjadi kerjasama yang saling menguntungkan atau kontribusi sepihak seperti ”channelling” dari dinas/sektor lain.

Untuk membantu masyarakat melakukan hal tersebut diatas bila diperlukan dapat direkrut tenaga ahli pemasaran untuk mempersiapkan dan melaksanakan pemasaran kawasan tersebut termasuk menyiapkan dokumen rencana kerja pemasaran.sebagai persyaratan untuk mencairkan BLM ke-2. Pada tahap ini juga akan dilakukan pelaksanaan pembangunan fisik untuk mencoba dan memantapkan manajemen pembangunan oleh komunitas.

4. Tahap Pelaksanaan Pembangunan

Inti kegiatan pada tahap ini adalah proses pelaksanaan pembangunan fisik hasil perencanaan mikro (RTPLP) sebagai bentuk penyelesaian permasalah serta penggalian potensi yang dimiliki kelurahan/desa. Proses ini pun dilakukan untuk menumbuh kembangkan kemampuan serta proses bekerja dan belajar masyarakat dalam pelaksanaan dan pengelolaan kegiatan konstruksi.

1.6 Kriteria Kawasan Prioritas

TIPP didampingi oleh Tim Teknis Pemda dan Tim Konsultan melakukan diskusi dan rembug warga, untuk menyepakati penetapan kawasan prioritas atau penetapan kawasan pembangunan Kelurahan/Desa berdasarkan skala prioritas. Kegiatan diskusi dan rembug warga tersebut diharapkan dapat melibatkan BKM, Perangkat Kelurahan/Desa, Pokja PLP BK, Masyarakat dan pelaku pembangunan lainnya. Langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk memilih dan menyepakati kawasan prioritas, adalah:

1. Pertama, TIPP bersama peserta diskusi dan rembug warga perlu menyepakati pengertian kawasan ditingkat Kelurahan/Desa. Pengertian kawasan secara umum, adalah:

• Area dengan fungsi dominan tertentu, seperti: Permukiman, Industri, agrowisata dll. • Kawasan biasanya memiliki batas-batas secara fisik (Sungai, jalan, saluran dll)

• Kawasan tidak selalu ditentukan berdasarkan batas-batas administratif RW, RT, Dusun, Kelurahan dll.

2. Kedua, TIPP bersama Tim Teknis Pemda dan TAPP merumuskan Kriteria kawasan prioritas, antara lain:

(16)

• Kawasan yang memiliki persoalan-persoalan pembangunan (fisik, sosial dan ekonomi) yang mendesak untuk ditangani (urgent).

• Kawasan yang memiliki potensi sumberdaya lokal yang lebih tinggi dibandingkan kawasan lainnya dan apabila potensi tersebut dididayagunakan, diperkirakan dapat membangkitkan perkembangan atau menjadi triger perkembangan pembangunan fisik, sosial dan ekonomi Kelurahan/Desa. • Kawasan potensi atau rawan bencana alam

• Kawasan terisolasi dan atau kawasan permukiman masyarakat miskin

3. Ketiga, TIPP bersama peserta diskusi atau rembug warga membahas dan menyepakati kawasan-kawasan diwilayah Kelurahan/Desa yang diprioritaskan penanganan dan pembangunannya.

4. Keempat, TIPP dibawah koordinasi tenaga ahli pendamping, menyusun laporan kegiatan diskusi dan musyawarah warga dalam menyepakati kawasan prioritas terpilih. Laporan tersebut dilengkapi berita acara kesepakatan warga.

1.7 Tinjauan Teoritis

1.7.1 Struktur Peruntukkan Lahan

Pengertian Struktur Peruntukan Lahan adalah komponen rancang kawasan yang berperan penting dalam alokasi penggunaan dan penguasaan lahan atau tata guna lahan yang telah ditetapkan dalam kawasan perencanaan tertentu berdasarkan ketentuan dalam rencana tata ruang wilayah.

Komponen Struktur Peruntukan Lahan terdiri dari beberapa hal sebagai berikut:

a. Peruntukan Lahan Makro. Merupakan rencana alokasi penggunaan dan pemanfaatan lahan pada suatu wilayah. Peruntukan lahan makro disebut juga dengan tata guna lahan. Peruntukan ini bersifat mutlak karena telah diatur pada ketentuan dalam rencana tata ruang wilayah.

b. Peruntukan Lahan Mikro. Merupakan peruntukan lahan yang ditetapkan pada skala keruangan yang lebih rinci termasuk secara vertikal berdasarkan prinsip keragaman yang seimbang dan saling menentukan. Hal yang diatur adalah Peruntukan lantai dasar, lantai atas, maupun lantai basement serta peruntukan lahan tertentu.

Peruntukan lahan tertentu berkaitan dengan konteks lahan perkotaan-perdesaan, konteks bentang alam atau lingkungan konservasi, ataupun konteks tematikal pengaturan pada spot ruang bertema tertentu.

Dalam penetapan peruntukan lahan mikro masih terbuka kemungkinan untuk melibatkan berbagai masukan desain hasil interaksi berbagai pihak seperti perancang atau penata kota, pihak pemilik

(17)

lahan, ataupun pihak pemakai atau pengguna atau masyarakat untuk melahirkan lingkungan dengan ruang yang berkarakter sesuai dengan konsep struktur perancangan kawasan. Penetapan ini tidak berarti mengubah alokasi tata guna lahan pada aturan rencana tata ruang wilayah yang ada, namun berupa tata guna yang diterapkan dengan skala keruangan yang lebih rinci.

Prinsip penataan struktur peruntukan lahan adalah sebagai berikut a. Secara fungsional meliputi:

 Keragaman tata guna yang seimbang saling menunjang (compatible) dan terintegrasi  Pola distribusi jenis peruntukan yang mendorong terciptanya interaksi aktivitas  Pengaturan pengelolaan area peruntukan

 Pengaturan kepadatan pengembangan kawasan dengan pertimbangan daya dukung dan karakter kawasan serta variasi atau pencampuran peruntukan.

b. Secara fisik meliputi:

 Estetika, karakter, dan citra kawasan

 Skala ruang yang manusiawi dan berorientasi pada pejalan kaki serta aktivitas yang diwadahi  Dari sisi lingkungan meliputi keseimbangan kawasan perencanaan dengan sekitarnya, keseimbangan peruntukan lahan dengan daya dukung lingkungan, serta kelestarian ekologis kawasan.

1.7.1 Intensitas Pemanfaatan Lahan

Pengertian Intensitas Pemanfaatan Lahan adalah tingkat alokasi dan distribusi luas lantai maksimum bangunan terhadap lahan atau tapak peruntukannya.

Komponen Intensitas Pemanfaatan Lahan adalah sebagai berikut :

a. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) merupakan angka persentase perbandingan antara luas seluruh lantai dasar bangunan gedung yang dapat dibangun dan luas lahan atau tanah perpetakan yang dikuasai.

b. Koefisien Lantai Bangunan (KLB) merupakan angka persentase perbandingan antara jumlah seluruh luas lantai seluruh bangunan yang dapat dibangun dan luas lahan atau tanah perpetakan yang dikuasai.

c. Koefisien Daerah Hijau (KDH) merupakan angka persentase perbandingan antara luas seluruh ruang terbuka di luar bangunan gedung yang diperuntukkan bagi pertamanan atau penghijauan dan luas tanah perpetakan yang dikuasai.

(18)

a. Secara Fungsional meliputi :

 Kejelasan distribusi intensitas pemanfaatan lahan.

 Skala ruang yang manusiawi dan berorientasi pada pejalan kaki  Kejelasan skala pengembangan

 Pengaturan kepadatan pengembangan kawasan (development density)

b. Secara fisik meliputi penataan estetika, karakter dan citra kawasan melalui :

 Penetapan kepadatan kelompok bangunan dalam kawasan perencanaan melalui pengaturan besaran berbagai elemen Intensitas Pemanfaatan Lahan yang ada seperti KDB, KLB, dan KDH yang mendukung terciptanya berbagai karakter khas dari berbagai sub area.  Pembentukan citra lingkungan yang tepat melalui pembatasan nilai-nilai dari elemen  Intensitas Pemanfaatan Lahan untuk membentuk lingkungan yang berjatidiri.

c. Secara Lingkungan meliputi :

 Keseimbangan kawasan perencanaan dengan wilayah sekitar  Keseimbangan dengan daya dukung lingkungan

 Pelestarian ekologis kawasan  Sisi pemangku kepentingan

1.7.2 Arsitektur dan Tata Bangunan

Pengertian Tata Bangunan adalah produk dari penyelenggaraan bangunan beserta lingkungannya sebagai wujud pemanfaatan ruang, meliputi berbagai aspek termasuk pembentukan citra atau karakter fisik lingkungan, besaran, dan konfigurasi dari elemen blok, kaveling atau petak lahan, bangunan, serta ketinggian dan elevasi lantai bangunan. Elemen tersebut ditata untuk menciptakan dan mendefinisikan berbagai kualitas ruang yang akomodatif terhadap keragaman kegiatan yang ada, terutama yang berlangsung dalam ruang publik.

Tata bangunan juga merupakan sistem perencanaan bagian dari penyelenggaraan bangunan beserta lingkungannya termasuk sarana prasarana pada suatu lingkungan binaan sesuai dengan peruntukan lahan yang diatur dengan aturan tata ruang yang berlaku dalam RTR Kabupaten atau Kecamatan dan rencana detilnya.

Komponen Tata Bangunan yaitu :

a. Pengaturan Blok Lingkungan yaitu perencanaan pembagian lahan dalam kawasan menjadi blok dan jalan, di mana blok terdiri atas petak lahan atau kaveling dengan konfigurasi tertentu. Pengaturan ini terdiri atas :

(19)

 Pengelompokan dan Konfigurasi Blok  Ruang Terbuka dan Tata Hijau

b. Pengaturan Kaveling atau Petak Lahan yaitu perencanaan pembagian lahan dalam blok menjadi sejumlah kaveling atau petak lahan dengan ukuran, bentuk, pengelompokan dan konfigurasi tertentu. Pengaturan ini terdiri atas :

 Bentuk dan ukuran kaveling

 Pengelompokan dan konfigurasi kaveling  Ruang terbuka dan tata hijau

c. Pengaturan Bangunan, yaitu perencanaan pengaturan massa bangunan dalam blok atau kaveling. Pengaturan ini terdiri atas :

 Pengelompokan bangunan  Letak dan orientasi bangunan  Sosok massa bangunan  Ekspresi arsitektur bangunan

d. Pengaturan Ketinggian dan Elevasi Lantai Bangunan yaitu perencanaan pengaturan ketinggian dan elevasi bangunan baik pada skala bangunan tunggal maupun kelompok bangunan pada lingkungan yang lebih makro (blok atau kawasan). Pengaturan ini terdiri atas:

 Ketinggian bangunan

 Komposisi garis langit bangunan  Ketinggian lantai bangunan

1.7.3 Sistem Sirkulasi dan Jalur Penghubung

Pengertian Sistem Sirkulasi dan Jalur Penghubung terdiri dari jaringan jalan dan pergerakan, sirkulasi kendaraan umum, sirkulasi kendaraan pribadi, sirkulasi kendaraan infromal setempat dan sepeda, sirkulasi pejalan kaki termasuk masyarakat penyandang cacat dan lanjut usia, sistem dan sarana transit, sistem parkir, perencanaan jalur pelayanan lingkungan, dan sistem jaringan penghubung.

Komponen penataan sistem sirkulasi dan jalur penghubung adalah sebagai berikut : 1. Sistem jaringan jalan dan pergerakan

2. Sistem sirkulasi kendaraan umum 3. Sistem sirkulasi kendaraan pribadi

4. Sistem sirkulasi kendaraan umum informal setempat 5. Sistem pergerakan transit

(20)

7. Sistem perencanaan jalur servis atau pelayanan lingkungan 8. Sistem sirkulasi pejalan kaki dan sepeda

9. Sistem jaringan jalur penghubung terpadu (pedestrian linkage) Prinsip penataan sistem sirkulasi dan jalur penghubung adalah sebagai berikut :

a. Secara Fungsional meliputi :  Kejelasan sistem sirkulasi  Mobilitas publik

 Aksesibilitas kawasan b. Secara Fisik meliputi :

 Dimensi sirkulasi dan standar aksesibilitas  Estetika, citra dan karakter kawasan  Kualitas fisik

c. Secara Lingkungan meliputi :  Peningkatan nilai kawasan

 Integrasi blok kawasan dan sarana pendukung

 Integrasi desain kawasan yang berorientasi pada aktivitas transit (Transport

Oriented Development = TOD)

Jejalur berupa jaringan jalan adalah penghubung antara komponen kegiatan dari daerah satu dengan daerah yang lain. Disamping itu jaringan jalan juga akan mempengaruhi struktur tata ruang suatu daerah.

a. Pola Jaringan Jalan

Rencana jaringan jalan merupakan penelahan pola jaringan jalan eksisting terhadap kecenderungan penduduk dari kawasan lain dari hasil pengamatan dapat ditentukan kelayakan pola jaringan yang telah ada, penggal-penggal jalan penunjang pola jaringan jalan, serta arahan bagi bentukan jalan yang baru, pola jaringan yang ada pada Desa Lab. Alas adalah berbentuk linier organik.

b. Hirarki jalan

Dalam menunjang pola pergerakan kendaraan, diperlukan jaringan jalan yang bersifat operasional. Untuk mendukung jaringan jalan yang operasional tersebut, diperlukan hirarki jalan yang ditentukan berdasarkan fungsi jalan tersebut sebagai lintasan pergerakan lokal, kota maupun regional, adapun persyaratan jalan menurut perannya :

Jalan Arteri Primer

Kecepatan strategi minimal 60 km/jam Lebar badan jalan minimal 8 meter

(21)

Kapasitas lebih besar daripada volume lalu lintas rata-rata

Lalu-lintas jarak jauh tidak boleh terganggu oleh lalu-lintas ulang-alik, lalu lintas lokal dan kegiatan lokal

Jalan masuk dibatasi secara efisien

Jalan persimpangan dengan pengaturan tertentu tidak mengurangi kecepatan strategi dan kapasitas jalan

Tidak terputus walaupun memasuki kota

Persyaratan teknis jalan masuk ditetapkan oleh menteri Jalan Kolektor Primer

Kecepatan strategi minimal 40 km/jam Lebar jalan minimal 7 meter

Kapasitas sama dengan atau lebih besar daripada volume lalu-lintas rata-rata

Jalan masuk dibatasi, distrategikan sehingga tidak mengurangi kecepatan strategi dan kapasitas jalan

Jalan Lokal Primer

Kecepatan strategi minimal 20 km/jam Lebar minimal 6 meter

Tidak terputus walaupun memasuki desa Jalan Arteri Sekunder

Kecepatan strategi minimal 20 km/jam Lebar badan jalan minimum 8 meter

Lalu-lintas cepat tidak boleh terganggu oleh lalu-lintas lambat

Persimpangan dengan pengaturan tertentu, tidak mengurangi kecepatan dan kapasitas jalan Jalan Kolektor Sekunder

Kecepatan strategi minimum 29 km/jam Lebar jalan minimum 7 meter

JalanLokalSekunder

Kecepatan strategi minimal 10 km/jam Lebar badan jalan minimal 5 meter

(22)

c. Bagian-bagian jalan : DaerahManfaatJalan(DAMAJA)

Ditetapkan oleh pembina jalan dan diperuntukkan bagi : - median

- perkerasan jalan - jalur pemisah - bahu jalan - saluran tepi jalan - trotoir

- talud

- ambang pengaman - timbunan dan galian - gorong-gorong - perlengkapan jalan - bangunan pelengkap BadanJalan

Diperuntukkan bagi arus lalu-lintas dan pengaman konstruksi jalan Lebar, tinggi dan kedalaman ruang bebas ditentukan oleh pembina jalan

Tinggi ruang bebas jalan arteri dan jalan kolektor minimal 5 meter dengan kedalaman lebih dari 1,5 meter

SaluranTepi/DrainaseJalan

Untuk penampungan dan penyaluran air, agar jalan bebas dari pengaruh air BangunanUtilitas

Pada sistem jaringan jalan primer dan sekunder dalam kawasan dapat ditempatkan dalam DAMAJA Untuk yang berada di atas tanah ditempatkan di luar jarak tertentu dari tepi paling luar bahu jalan atau perkerasan jalan sehingga tidak menimbulkan hambatan samping bagi pemakai jalan.

Untuk yang berada di bawah tanah, ditempatkan di luar jarak tertentu dari tepi paling luar bahu jalan atau perkerasan jalan, sehingga tidak mengganggu keamanan konstruksi jalan. Jarak ditentukan oleh pembina jalan.

(23)

Pohon-Pohon

Pada sistem jaringan primer dan sekunder dalam kota, pohon-pohon dapat ditanam di batas DAMAJA, median atau di jalur pemisah

Di luar ketentuan di atas harus disetujui oleh pembina jalan. Pengelompokan jalan menurut status/wewenang pembinaan:

Jalan Nasional Jalan Propinsi Jalan Kabupaten/Kota Jalan Desa Jalan Khusus Pembina jalan

Jalan Nasional adalah Menteri Kimpraswil PU atau pejabat yang ditunjuk Jalan Propinsi adalah Pemda Provinsi atau Instansi yang ditunjuk Jalan Kabupaten adalah Pemda Kabupaten atau Instansi yang ditunjuk Jalan Kotamadya adalah Pemda Kotamadya atau Instansi yang ditunjuk Jalan Desa adalah Pemerintah Desa/Kelurahan

Jalan Khusus adalah Pejabat atau orang yang ditunjuk

1.7.4 Sistem Ruang Terbuka dan Tata Hijau

Pengertian Sistem Ruang Terbuka dan Tata Hijau. Merupakan komponen rancang kawasan, yang tidak sekedar terbentuk sebagai elemen tambahan ataupun elemen sisa setelah proses rancang arsitektural diselesaikan, melainkan juga diciptakan sebagai bagian integral dari suatu lingkungan yang lebih luas.

Penataan sistem ruang terbuka diatur melalui pendekatan desain tata hijau yang membentuk karakter lingkungan serta memiliki peran penting baik secara ekologis, rekreatif dan estetis bagi lingkungan sekitarnya, dan memiliki karakter terbuka sehingga mudah diakses sebesar-besarnya oleh publik. Ruang terbuka digunakan sebagai tempat berkomunikasi dan berinteraksi antar penduduk disekitar kawasan. Penataan ruang terbuka dimaksudkan guna memenuhi kebutuhan kawasan atas ketersediaan ruang terbuka sehingga standar kawasan dapat terpenuhi serta memberikan pengaruh terhadap psikologis berupa bermain, berkumpul dan bersosialisasi.

(24)

Ruang terbuka ini dilingkupi oleh pelingkup yang lunak berupa tanaman peneduh dan tamanan estetika sehingga memberikan kenyamanan thermal dan keindahan visual pada lingkungan. Batasan pola ruang umum terbuka adalah : bentuk dasar dari ruang terbuka diluar bangunan, dapat digunakan oleh publik (setiap orang), menampung berbagai macam jenis kegiatan. Contoh ruang terbuka adalah : jalan , pedestrian, taman,plaza, lapangan terbang dan lapangan olah raga.

Komponen penataan sistem Ruang Terbuka dan Tata Hijau adalah sebagai berikut : a. Sistem ruang terbuka umum (kepemilikan publik aksesibilitas publik) b. Sistem ruang terbuka pribadi (kepemilikan pribadi aksesibilitas pribadi)

c. Sistem ruang terbuka privat yang dapat diakses oleh umum (kepemilikan pribadi aksesibilitas publik)

d. Sistem pepohonan dan tata hijau

e. Bentang alam meliputi pantai dan laut, sungai, lereng dan perbukitan, puncak bukit dan pegunungan

f. Area jalur hijau meliputi kawasan sepanjang sisi dalam daerah milik jalan, sepanjang bantaran sungai, sisi kiri kanan jalur kereta, sepanjang area di bawah jaringan listrik tegangan tinggi, jalur hijau yang diperuntukkan sebagai jalur taman kota.

Prinsip penataan sistem Ruang Terbuka dan Tata Hijau adalah sebagai berikut : a. Secara fungsional meliputi :

Pelestarian ruang terbuka kawasan Aksesibilitas publik

Keragaman fungsi dan aktivitas

Skala dan proporsi ruang yang manusiawi dan berorientasi bagi pejalan kaki Sebagai pengikat lingkungan atau bangunan

Sebagai pelindung, pengaman dan pembatas lingkungan atau bangunan bagi pejalan kaki.

b. Secara Fisik dan Non-Fisik meliputi :

Peningkatan estetika, karakter dan citra kawasan Kualitas Fisik

c. Dari sisi lingkungan meliputi :

Keseimbangan kawasan perencanaan dengan sekitar Keseimbangan dengan daya dukung lingkungan Kelestarian ekologis kawasan

(25)

Tata hijau dapat dibagi menjadi tiga menurut fungsinya, yaitu : a. Tata hijau pada hutan desa

b. Tata hijau pada taman (park) c. Tata hijau pada ruang jalan

1.7.5 Tata Kualitas Lingkungan

Pengertian Tata Kualitas Lingkungan merujuk pada upaya rekayasa elemen kawasan yang sedemikian rupa sehingga tercipta suatu kawasan atau sub-area dengan sistem lingkungan yang informatif, berkarakter khas, dan memiliki orientasi tertentu.

Komponen penataan kualitas lingkungan terdiri dari:

a. Konsep identitas lingkungan, yaitu perancangan karakter lingkungan yang dapat diwujudkan melalui pengaturan dan perancangan elemen fisik dan non-fisik lingkungan atau sub-area tertentu. Pengaturan ini terdiri dari:

Tata karakter bangunan atau lingkungan

Tata penanda identitas bangunan atau lingkungan

Tata kegiatan pendukung secara formal dan informal (supporting activities)

b. Konsep orientasi lingkungan, yaitu perancangan elemen fisik dan non-fisik guna membentuk lingkungan yang informatif sehingga memudahkan pemakai untuk berorientasi dan bersirkulasi. Pengaturan ini terdiri atas:

o Sistem tata informasi (directory signage system)

o Sistem tata rambu pengarah (directional signage system)

c. Wajah Jalan yaitu perancangan elemen fisik dan non-fisik guna membentuk lingkungan berskala manusia pemakainya pada suatu ruang publik berupa ruas jalan yang akan memperkuat karakter suatu blok perancangan yang lebih besar. Pengaturan ini terdiri atas :

o Wajah penampang jalan dan bangunan o Perabot jalan (street furniture)

o Jalur dan ruang bagi pejalan kaki (pedestrian) o Tata hijau pada penampang jalan

o Elemen tata informasi dan rambu pengarah pada penampang jalan o Elemen papan reklame komersial pada penampang jalan

Prinsip penataan tata kualitas lingkungan adalah sebagai berikut : a. Secara Fungsional meliputi :

(26)

o Integrasi pengembangan skala mikro terhadap makro o Keterpaduan atau integrasi desain untuk efisiensi o Konsistensi

o Mewadahi fungsi dan aktivitas formal maupun informal yang beragam o Skala dan proporsi pembentukan ruang yang berorientasi pada pejalan kaki o Perencanaan tepat bagi pemakai yang tepat.

b. Secara fisik dan non-fisik meliputi :

o Penempatan pengelolaan dan pembatasan yang tepat dan cermat. o Pola, dimensi dan standar umum

o Peningkatan estetika, karakter dan citra kawasan o Kontekstual dengan elemen penatan lain

o Kualitas fisik menyangkut kenyamanan pejalan kaki, kenyamanan sirkulasi udara, sinar matahari dan klimatologi.

o Kelengkapan fasilitas penunjang lingkungan seperti elemen jalan (street furniture) berupa kios, tempat duduk, lampu, material, perkerasan dan sebagainya

c. Secara lingkungan meliputi :

o Keseimbangan kawasan perencanaan dengan sekitar o Pemberdayaan berbagai kegiatan pendukung

informal

d. Dari sisi pemangku kepentingan meliputi : o Kepentingan bersama antar pelaku kota o Berorientasi pada kepentingan publik

1.7.6 Sistem Prasarana dan Utilitas Lingkungan

Pengertian Sistem Prasarana dan Utilitas Lingkungan adalah kelengkapan dasar fisik suatu lingkungan yang pengadaannya memungkinkan suatu lingkungan dapat beroperasi dan berfungsi sebagaimana mestinya.

Sistem prasarana dan utilitas lingkungan mencakup jaringan air bersih dan air limbah, jaringan drainase, jaringan persampahan, jaringan listrik, jaringan telepon, sistem pengamanan kebakaran dan sistem jaringan jalur penyelamatan atau evakuasi. Komponen Sistem Prasarana dan Utilitas Lingkungan antara lain mencakup sektor berikut ini :

a. Sistem jaringan air bersih yaitu sistem jaringan dan distribusi pelayanan penyediaan air bagi penduduk suatu lingkungan, yang memenuhi persyaratan bagi operasionalisasi bangunan

(27)

atau lingkungan, dan terintegrasi dengan jaringan air bersih secara makro dari wilayah regional yang lebih luas.

b. Sistem jaringan air limbah dan air kotor yaitu sistem jaringan dan distribusi pelayanan pembuangan atau pengolahan air buangan rumah tangga, lingkungan komersial, perkantoran, dan bangunan umum lainnya yang berasal dari manusia, binatang atau tumbuh-tumbuhan untuk diolah dan kemudian dibuang dengan cara sedemikian rupa sehingga aman bagi lingkungan, termasuk di dalamnya buangan industri dan buangan kimia.

c. Sistem jaringan drainase yaitu sistem jaringan dan distribusi drainase suatu lingkungan yang berfungsi sebagai pematus bagi lingkungan yang terintegrasi dengan sistem jaringan drainase makro dari wilayah regional yang lebih luas.

d. Sistem jaringan persampahan yaitu sistem jaringan dan distribusi pelayanan pembuangan atau pengolahan sampah rumah tangga, lingkungan komersial, perkantoran dan bangunan umum lainnya, yang terintegrasi dengan sistem jaringan pembuangan sampah makro dari wilayah regional yang lebih luas.

e. Sistem jaringan listrik yaitu sistem jaringan dan distribusi pelayanan penyediaan daya listrik dan

f. jaringan sambungan listrik bagi penduduk yang memenuhi persyaratan bagi operasionalisasi bangunan atau lingkungan dan terintegrasi dengan jaringan instalasi listrik makro dari wilayah regional yang lebih luas.

g. Sistem jaringan telepon yaitu sistem jaringan dan distribusi pelayanan penyediaan kebutuhan sambungan dan jaringan telepon bagi penduduk suatu lingkungan yang memenuhi persyaratan bagi operasionalisasi bangunan atau lingkungan yang terintegrasi dengan jaringan instalasi listrik makro dari wilayah regional yang lebih luas. h. Sistem jaringan pengamanan kebakaran yaitu sistem jaringan pengamanan lingkungan

atau kawasan untuk memperingatkan penduduk terhadap keadaan darurat, penyediaan tempat penyelamatan, membatasi penyebaran kebakaran dan atau pemadaman kebakaran. i. Sistem jaringan jalur penyelamatan atau evakuasi yaitu jalur perjalanan yang menerus

termasuk jalan keluar atau koridor atau selasar umum dan sejenis dari setiap bagian bangunan gedung termasuk di dalam unit hunian tunggal ke tempat aman yang disediakan bagi suatu lingkungan atau kawasan sebagai tempat penyelamatan atau evakuasi.

(28)

Prinsip Penataan Sistem Prasarana dan Utilitas Lingkungan. a. Secara Fungsional meliputi :

Strategi penetapan sistem yang tepat Kualitas dan taraf hidup pengguna Integrasi

b. Secara Fisik meliputi :

Aspek estetika, karakter dan citra kawasan Efisiensi sistem jaringan dan operasi pemeliharaan c. Secara Lingkungan meliputi :

Lingkungan yang berkelanjutan

Keseimbangan jangka waktu pembangunan Keseimbangan daya dukung lingkungan d. Dari sisi pemangku kepentingan meliputi :

Penetapan sistem yang dikelola berdasarkan kesepakatan dari, oleh dan untuk masyarakat.

Penetapan kewenangan yang jelas pada saat penyediaan, pengelolaan dan perawatan yang terkait dengan peraturan daerah dan instansi atau pun pemangku kepentingan terkait.

1.7.7 Infrastruktur dengan Konsep Hijau

Penghijauan di lingkungan kota akan meningkatkan kualitas kehidupan dalam kota karena manusia dapat hidup erat dengan alam (melihat tumbuhnya tanaman, burung dan binatang lain serta dapat mengerti fungsi ekosistem). Kota yang memiliki keteduhan dengan banyaknya pohon besar yang rindang dapat mengurangi lalu lintas bermotor karena penduduk lebih bersedia jalan kaki, serta kurang berkehendak untuk keluar kota atau ke tempat hiburan. Di samping hal-hal tersebut, penghijauan dapat pula meningkatkan produksi oksigen yang mendukung kehidupan sehat bagi manusia, mengurangi pencemaran udara dan meningkatkan kualitas iklim mikro.

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan untuk merencanakan suatu kota yang alami, guna meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan:

a. Meningkatkan kualitas udara dengan vegetasi, karena dapat mereduksi polusi udara, serupa filter debu. Sesuai Watson (2001) pohon dapat menyerap karbon.

b. Modifikasi microclimate dengan konsep hijau, karena sangat signifikan terhadap control dan reduksi panas. Penghijauan dengan pohon dapat berfungsi sebagai pelindung

(29)

matahari. Warna hijau pada atap dapat mereduksi panas 4oF (reduksi energi)

c. Manajemen kehilangan air dengan Infrastruktur konsep hijau, memberi dampak pada sistim hidrologi perkotaan. Pengerasan permukaan jalan menyebabkan intensitas air mengalir dan memberi dampak pada polusi air, atau pengikisan sungai. Sebaliknya dengan penghijauan, air masuk dalam tanah dan mengalir, meningkatkan kualitas air tanah.

d. Mempertahankan kekayaan flora dan fauna dapat meningkatkan kualitas lingkungan setempat, oleh sebab itu penghijauan kota dengan cara konservasi dapat mempertahankan keragaman habitat perkotaan.

Jenis pohon yang direkomendasi adalah sesuai ukuran dan keteduhan pohon, serta sesuai dengan ruas jalan di pusat kota, tepi kota dan kawasan spesifik serta rural.

Tabel 3-1. Fungsi Tanaman sebagai elemen peningkatan kualitas lingkungan. Sumber: Frick, 2006

Fungsi tanaman 1 pohon berumur ± 100 thn Tanaman seluas 1 Ha

Produksi oksigen 1.7 kg/jam 600 kg/hari

Penerimaan karbon dioksida 2.35 kg/jam 900 kg/hari

Zat arang yang terikat 6 ton

(30)

Pada dasarnya tanaman dapat dibagi menurut jenis tanaman, penggunaan dan menurut fungsinya.

Menurut jenis tanaman Menurut penggunaan Menurut Fungsinya

Semak belukar sebagai penutup tanah

Penghijauan Privat (tanaman berguna)

Fungsi sosial sebagai ruang komunikasi

Perdu sebagai penghias tanah Penghijauan semiprivat (pohon di pinggir jalan)

Fungsi Higiene mental (kreatifitas, imajinasi) Pohon peneduh dan pemberi

manfaat lainnya

Penghijauan umum (taman kota)

Fungsi peristirahatan untuk melepas lelah

Tabel 3-2. Klasifikasi tanaman. Sumber: Frick, 2006

1.7.8 Analisa Perencanaan dan Permasalahan Desa Lab. Alas

1.7.8.1. ANALISIS TOPOGRAFI DAN GENANGAN AIR

Wilayah Desa Lab. Alas berkonfigurasi dataran rendah dengan topografi relative datar. Adapun wilayah- wilayah yang lebih rendah pada umumnya pada spot-spot tertentu dan menyebar. Seringkali pada spot-spot ini terjadi genangan air hujan terutama apabila hujan turun dengan deras. Penyebab terjadi demikian karena belum adanya saluran drainase di hampir seluruh wilayah desa serta kondisi tanah yang kurang menyerap air dengan cepat. Sehingga terjadi aliran air mengalir alami ke dataran rendah yaitu sungai, dimana Desa Lab. Alas memang dilewati sebuah sungai. Namun hal ini harusnya diantisipasi, sebab apabila air hujan langsung mengalir ke sungai maka lama- kelamaan sumur warga dapat mengering. Hal ini karena sumber air bersih utama warga adalah sumur, baik sumur dalam maupun sumur dangkal.

Dengan demikian perlu dipikirkan model saluran drainase yang tetap dapat menjaga air tanah serta kondisi eksisting mengenai topografi dan jalur sirkulasi. Selain itu perlu dipertimbangkan solusi biopori pada spot-spot dimana terdapat banyak genangan air hujan untuk membantu terserapnya air ke dalam tanah.

(31)

1.7.8.2. ANALISIS PEMANDANGAN (VIEW)

Desa Lab. Alas masih sangat kental nuansa pedesaannya sehingga view/pemandangan yang mayoritas terlihat adalah areal pertanian berupa persawahan.

Desa Lab. Alas juga dilalui sebuah sungai view bantaran sungai juga kuat terlihat namun kondisinya cukup memperhatikan. Sebagian besar tidak terawat dan hanya sebagai tempat pembuangan sampah. Padahal view sungai cukup berpotensi menjadi alternative rekreasi bagi warga.

1.7.8.3. ANALISIS FUNGSI LAHAN

Belum adanya penzoningan fungsi lahan di wilayah Desa Lab. Alas dimana ± 60% masih berupa lahan pertanian, untuk lahan terbangun masih tercampur antara home industry, permukiman serta fasum dan fasos. Untuk fasum dan fasos posisinya tidak seluruhnya berada pada jalan utama desa, namun menyebar di dalam permukiman penduduk.

1.7.8.4. ANALISIS JARINGAN JALAN DAN JEMBATAN

Akses menuju Desa Lab. Alas berada di sebelah utara yaitu jalan Pendidikan. Dikarenakan akses jalan masih terasa sempit dan minimnya perawatan infrastruktur seperti talud jalan dan penerangan jalan, maka wilayah Desa Lab. Alas sulit diakses oleh kendaraan besar, sekalipun dilihat dari peta wilayah Sumbawa, letak Lab. Alas cukup strategis. Selain itu kondisi akses jalan utama desa pun, masih kurang dengan penerangan.

1.7.8.5. ANALISIS JARINGAN SANITASI

Mayoitas warga menganggap sungai sebagai septiktank sehingga pipa pembuangan limbah padat dialirkan ke sungai. Hal ini menunjukkan perlunya penyuluhan mengenai kesehatan serta dibuatnya septiktank komunal di lokasi-lokasi yang menjangkau saluran pembuangan warga terutama di sepanjang sungai.

Selain itu pembuangan limbah padat rumah tangga kondisinya lebih memperhatikan. Sampah tersebar di pekarangan atau tanah-tanah kosong bahkan bantaran sungai. Maka penanganan terhadap sampah harus terpadu baik system pembuangannya maupun pengelolahannya, mengingat sampah tidak hanya sebagai masalah namun sampah bisa menjadi potensi, sehingga perlu adanya wilayah tertentu memiliki system pengelolahan sampah yang mandiri.

(32)

1.7.8.6. ANALISIS JARINGAN PERSAMPAHAN

Desa Lab. Alas belum memiliki jaringan persampahan, sehingga menambah pelik persoalan sampah. Dilain sisi kesadaran warga akan kebersihan lingkungan amatlah kurang. Dalam hal ini perlunya menegakkan akan pentingnya kebersihan lingkungan dan menjadikan sampah sebagai potensi yang baik dan kebersihan menjadi kebiasaan.

1.7.8.7. ANALISIS KELEMBAGAAN

Lembaga-lembaga yang berada di lingkup Desa Lab. Alas memiliki fungsi dan peran yang beragam, yaitu yang berperan dalam bidang pembangunan, bidang ekonomi, bidang kesenian, bidang keagamaan dan bidang social kemasyarakatan. BKM, LKMD dan RW/RT merupakan lembaga yang fungsinya berhubungan langsung dengan kegiatan pembangunan di wilayah desa. Kinerja lembaga-lembaga tersebut sangat berpengaruh dalam keberhasilan pelaksanaan program-program pembangunan desa.

Keberadaan lembaga-lembaga yang fungsinya memberikan pelayanan kepada masyarakat dikaji dengan kreteria- kreteria yang harus dipenuhi dalam penyelenggaraan pemerintah yang baik (Good Governance) diantaranya :

1. Partisipasi

2. Kesempatan masyarakat berpartisipasi dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan. 3. Peraturan yang berlaku

4. Peraturan yang berlaku harus diketahui oleh masyarakat dan harus dipatuhi bersama 5. Transparansi

6. Seluruh proses dari system yang dijalankan dapat dikeltahui oleh public 7. Responsif

8. Adanya tanggapan terhadap masukan atau pertanyaan yang diberikan oleh masyarakat. 9. Keadilan

10. Tidak ada perbedaan dalam pemberian pelayanan 11. Efektifitas dan efesiensi

12. Program suatu lembaga dibuat sesuai dengan kebutuhan dan dikelolah dengan tepat. 13. Akuntabilitas

(33)

Hasil dari analisis dan rembug warga menghasilkan beberapa konsep perencanaan, yaitu : Perubahan fungsi lahan dari tanah desa dan persawahan sebagai jalur alternatif dusun Tarum – dusun Galung

Normalisasi Sungai dan pembuatan jalan di sepanjang tepian sungai sebagai jalur lingkar desa Lab. Alas.

Pemberian Lampu jalan untuk jalur alternatif, sebagai pendukung kawasan yang baik dan aman.

perlu adanya Biopori diwilayah perkampungan agar fungsi tanah dikembalikan dengan baik sebagai resepan air. Hal ini dilakukan hampir diseluruh wilayah Desa Lab. Alas. Memanfaatkan fungsi lahan di area permukiman/Badan Jalan dengan penghijauan. Penunjukkan tempat sampah sementara pada lahan yang kosong.

Mengembalikan fungsi sungai sebagai sumber air dan perlindungan sungai. Pemanfaatan lahan pemakaman sebagai kawasan RTH

(34)

B

AB II

VISI & MISI

2.1. Menggali Visi & Misi Desa Labuhan Alas

Tujuan hadirnya Program PLP-BK merupakan penataan lingkungan permukiman adalah guna menciptakan tatanan kehidupan dan hunian yang tertata selaras, sehat, produktif, berjatidiri, dan berkelanjutan. Fokus utamanya adalah pada penguatan dan pengembangan sosial kapital melalui pengokohan nilai-nilai universal dan kearifan lokal (perilaku), penguatan pelayanan masyarakat di bidang ekonomi, lingkungan dan sosial (community services), serta dengan membuka ruang kreativitas dan inovasi di masyarakat untuk menciptakan sumberdaya pembangunan permukiman mereka (Community Entrepreneurship).

Perlunya sebuah visi dalam sebuah perencanaan dimaksudkan agar perencanaan dapat diarahkan dengan cara menguraikan gagasan, keinginan dan harapan masyarakat pada wilayah perencanaan untuk mewujudkan kegiatan pembangunan wilayah kelurahan/desa yang akan dituju pada masa yang akan datang.

Visi merupakan bentuk dari tujuan bersama dalam sebuah perencanaan atau pembangunan wilayah, sedangkan Misi adalah sasaran untuk mencapai visi. Menggali Visi dan Misi biasanya hanya dilakukan melalui pengamatan atau memahami kondisi permasalahan dan persoalan yang ada di wilayah perencanaan serta peluang-peluang pembangunan sebagai isue strategis yang akan mempengaruhi pembangunan dimasa yang akan datang . Namun menggali visi dan misi dapat dilakukan dengan cara menguraikan gagasan dalam bentuk gambar atau sketsa. Hasil gagasan dari sebuah gambar atau sketsa kemudian dirembuk dan dirumuskan secara singkat untuk menyepakati gagasan sehingga visi dirumuskan secara singkat sesuai dengan gagasan dan isue- isue strategis yang berkembang. Selain itu perumusan visi dan misi dalam melakukan musyawarah, harus melibatkan warga masyarakat sebanyak-banyaknya (seperti kelompok perempuan dan kelompok marjinal dan rentan) untuk membahas bersama-sama dan menyepakati gagasan pengembangan desa dimasa yang akan datang.

(35)

2.2. Tahap Pelaksanaan

Jenis kegiatan yang dilakukan dalam menggali Visi dan Misi diwilayah perencanaan melalui berbagai bentuk kegiatan warga Desa Lab. Alas, seperti menggali visi dan misi dari tingkat anak-anak, menggali visi dan misi warga masyarakat tingkat dewasa (kelompok perempuan dan rentan) dan menggali visi dan misi dengan mencermati persoalan-perseoran dan potensi Desa Lab. Alas melaui maket. Berikut pelaksanaan kegiatan dalam menggali Visi dan Misi Desa Lab. Alas :

A. Menggambar Kawasan Impian dan Sketsa Tata Ruang Dusun

a. Menggambar Kampung Impian Desa Lab. Alas

Menggambar kampung impian melalui lomba menggambar tingkat anak-anak, dimana anak-anak diberikan kesempatan untuk menuangkan ide-ide atau gagasan atau segala impian tentang Desa Lab. Alas dimasa yang akan datang. Anak-anak diminta untuk menceritakan tentang apa yang digambarkan,sehingga dapat memperoleh catatan kritis dari hal-hal menarik yang ditemukan pada gambar untuk dapat dirumuskan menjadi sebuah Visi Desa Lab. Alas. Sehingga hasil kegiatan dapat dijadikan materi pembahasan / diskusi perencanaan.

Gambar

Lomba Menggambar Kampung Impian Desa Lab. Alas

(36)

Ide atau gagasan yang dituangkan kedalam gambar melalui Lomba Impian Lab. Alas yaitu :  Dengan Konsep Air Bersih Lab. Alas yaitu : Peserta menceritakan impiannya pada masa

yang akan datang tentang adanya perhatian pemerintah guna seluruh warga masyarakat Desa Lab. Alas dapat menikmati aliran Air Bersih dari PDAM, dengan demikian masyarakat tidak lagi membeli air bersih dari pengecer untuk kebutuhan sehari harinya.  Dengan konsep penataan kawasan permukiman yang nyaman, yaitu : Peserta Lomba

menginginkan adanya penyediaan fasilitas yang lengkap, seperti : taman bermain yag asri (RTH), tersedia tempat sampah agar lingkungan menjadi bersih dan nyaman serta penerangan jalan lingkungan dan MCK umum.

 Dengan konsep Pulau Wisata yang Indah dan Nyaman yaitu : dimana impian masyarakat ingin menjadikan Kawasan Pantai dan Laut yang terdapat di Desa Lab. Alas menjadi objek wisata yang bersih dan indah, sehingga dapat menarik minat pengunjung untuk berwisata ke Desa Lab. Alas.

Namun masih banyak lagi konsep yang dituangkan kedalam sebuah gambar kampung impian, dan sebagian besar peserta menginginkan lingkungan hunian yang nyaman baik untuk mereka bermain maupun untuk mereka belajar dan beraktivitas sehari-hari. Dalam menggali visi melalui menggambar inilah menjadi salah satu bentuk bagi anak-anak untuk menggali potensi secara inovatif dan kreatif.

a. Menggambar Sketsa Tata Ruang Antar Dusun

Menuangkan ide-ide atau gagasan dalam bentuk sketsa berdasarkan kondisi eksisting pada masing-masing dusun, penjelasan tentang masalah dan potensi yang dimiliki dan impian kedepan. Sehingga diperoleh ide-ide atau gagasan konsep seperti :

1) Dusun Bangsal dengan konsep kawasan permukiman yang bersih dan tertata rapi yang merupakan area pengembangan kawasan Desa Lab. Alas kedepan, sehingga dapat menjadi suatu lingkungan hunian yang berkelanjutan dengan kawasan yang indah dan tertata serta menjadi kawasan wisata Kabupaten Sumbawa.

2) Dusun Galung dengan konsep lingkungan hunian yang bersih dengan dilengkapi segala bentuk fasilitas yang dapat menunjang seperti pembangunan jalan baru, penempatan area-area kawasan public sehingga masyarakat kedepannya merasa nyaman.

3) Dusun Tarum dengan konsep yang dituangkan ingin menciptakan kawasan perumahan dan permukiman yang asri, serta kawasan fasilitas umum karena Dusun Tarum

(37)

merupakan sentra pemerintahan Desa Lab. Alas dengan demikian kedepannya kawasan ini dapat dijadikan area penerima yang baik, indah dan nyaman.

B. Mengamati Kawasan Dengan Maket

Maket merupakan Media Bantu “Tri Matra” / Tiga dimensi, yang merupakan “mock-up ataupun tiruan dalam skala kecil dari sebuah benda yang besar. Dalam Konteks perencanaan partisipatif, Maket merupakan mock-up atau tiruan dengan skala kecil terhadap kondisi lingkungan yang sesungguhnya. Merekam proses perencanaan dan pembangunan yang telah dilakukan, dengan cara membubuhkan notasi lokasi2 yang telah diperbaiki dan mana yang belum. Secara periodik, Maket dapat dimanfaatkan lagi untuk melihat proses perencanan,serta realisasi yang telah dilakukan, sehingga dapat dijadikan sebagai alat untuk merumuskan Visi dan Misi wilayah Desa Lab. Alas. Maket yang dihasilkan bersumber dari hasil pemetaan swadaya yang dilaksanakan dan telah melakukan proses sosialisasi dalam bentuk media dan dokumen.

C. Rembuk Perumusan Warga

Penggalian visi dan misi melalui rembuk perumusan, dengan melibatkan banyak pihak dari masyarakat mulai dari kelompok perempuan dan rentan, sampai dengan perumusan di tingkat basis. Penggalian visi dan misi seperti ini bertujuan mendengarkan ide-ide dan gagasan masyarakat yang diinginkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang masih kurang ataupun kebutuhan yang belum terpenuhi. Sehingga bentuk penataan pada kawasan perencanaan disesuaikan dengan jenis kebutuhan yang diharapkan. Sehingga visi yang dirumuskan dapat mencakup semua aspek yang dibutuhkan dan milik semua masyarakat Desa Lab. Alas.

Adapun bentuk ide atau gagasan yang banyak dikemukakan oleh masyarakat seperti :

 Adanya fasilitas-fasilitas pendukung sarana dan prasarana lingkungan seperti RTH, ruang public. Yang memungkinkan kedepan menjadi tempat wisata local masyarakat Desa Lab. Alas.

 Penataan kawasan tepi pantai, yang merupakan salah satu potensi yang dapat dikembangkan untuk kelanjutan masyarakat Desa Lab. Alas, dimana selama ini banyak yang menggantungkan diri sebagai nelayan.

 Penyediaan fasilitas umum, seperti MCK umum, tempat pembuangan sampah sementara (TPS), peremajaan jalan lingkungan dan penerangan jalan.

 Dan fasilitas-fasilitas lainya yang dapat menunjang kehidupan di lingkungan kawasan Desa Lab. Alas.

(38)

Sehingga hasil dari ide-ide dan gagasan yang yang telah disampaikan, semua akan dapat dirumuskan dalam bentuk sasaran untuk mencapai tujuan yang diinginkan masyarakat baik sekarang maupun yang akan datang.

2.3. VISI dan MISI

Tujuan rencana penataan lingkungan permukiman adalah upaya peningkatan kualitas permukiman yang dilakukan secara holistik dan terpadu pada tingkat kawasan/lingkungan permukiman melalui pemberdayaan manusia dengan memperhatikan tatanan sosial kemasyarakatan, pengembangan ekonomi masyarakat, serta penataan lingkungan dan kualitas hunian.

Oleh karena itu dengan disusunnya rencana penataan lingkungan permukiman Desa Lab. Alas diharapkan akan dapat memberikan pedoman untuk mencapai tujuan pokok kehidupan masayarakat, antara lain :

 Meningkatkan kualitas lingkungan permukiman dengan mampu mendukung transformasi menuju masyarakat madani

 Meningkatkan kualitas lingkungan permukiman melalui sejumlah intervensi pembelajaran kemitraan dan sinergi antara Pemerintah, masyarakat dan kelompok peduli setempat

 Meningkatkan kualitas lingkungan permukiman melalui kegiatan membangun kemitraan sebagai upaya untuk mengakses berbagai peluang dan sumber daya yang dibutuhkan masyarakat.

 Mendukung pembangunan fisik lingkungan semata yang diharapkan mampu mengembangkan komunitas yang berbasis nilai sehingga mendorong pengembangan ekonomi masyarakat.  Menciptakan lingkungan permukiman yang memberikan rasa aman dan nyaman bagi

masyarakat Desa Lab. Alas.

Seiring dengan hal tersebut diatas maka dalam perencanaan suatu wilayah harus berdasarkan pada pentingnya rencana penataan yang akan membantu dalam pelaksanaan perencanaan suatu wilayah khususnya Desa Lab. Alas pada rencana penataan lingkungan permukiman melalui program Pengembangan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PL-BK), salah satu program yang sangat mendukung proses perencanaan penataan lingkungan permukiman. Sehingga perlu adanya Visi dan Misi untuk mengarahkan proses penataan pada kawasan perencanaan. Berikut penjabaran Visi dan Misi pada perencanaan lingkungan pemukiman Desa Lab. Alas yang merupakan hasil dari rembuk perumusan melalui berbagai bentuk kegiatan yang telah dilaksanakan untuk menemukan suatu tujuan bersama.

(39)

VISI dan MISI

Visi :

“Terwujudnya Desa Labuhan Alas sebagai Kawasan wisata bahari Menuju Masyarakat BERSAMA ( Bersih , Elok , Rapi, Sehat, Aman dan Madani )”

Misi :

1. Terwujudnya masyarakat yang pancasilais yang didukung dengan pengamalan ajaran agama dengan keimanan dan ketaqwaan yang berkualitas.

2. Pengentasan kemiskinan yang akan berdampak terhadap perekonomian masyarakat.

3. Peningkataan kualitas SDM, yang berdampak pada tersedianya lapangaan kerja yang seluas-luasnya.

4. Peningkatan mutu sarana dan prasarana pelayan public yang berpartisipatif dan berkelanjutan demi kesejahteraan generasi sekarang dan dimasa yang akan datang.

5. Penegakaan terhadap HAM dan supremasi hukum, demi rasa aman bagi seluruh masyarakat Desa Lab. Alas.

6. Menumbuhkan kepercayaan, prinsip kejujuran, ikhlas/rela, keperdulian, keadilan, kesejahteraan, kebersamaan, dan keberagaman.

7. Masyarakat dan pemerintah dapat bekerja sama dengan baik dalam menyukseskan Desa Lab. Alas sebagai kawasan Bahari.

2.1.1 Identifikasi Masalah

Masalah penyebab kemiskinan di Desa Lab. Alas dikelompokkan dalam 3 (tiga) kategori, sebagai berikut :

1. Permasalahan di bidang social a. Dibidang Kesehatan.

Masih terdapat balita dengan asupan gizi yang kurang. Lingkungan sekitarnya yang berpotensi menularkan penyakit dan wabah malaria.

(40)

b. Dibidang Pendidikan.

Kurangnya eksplorasi terhadap kemampuan anak disebabkan biaya yang kurang bahkan terdapat anak yang putus sekolah serta fasilitas pendidikan sedikit dan jauh dengan sarana transportasi yang terbatas.

Dari kedua permasalahan tersebut diidentifikasikan sebagai berikut:  Tingginya biaya pengobataan

 Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya pendidikan untuk masa depan anak dan kurangnya pengetahuan orang tua tentang kesehatan anak demi mendapatkan yang berkualitas dimasa yang akan dating

 Terbatasnya pengetahuan masyrakat tentang program pemerintah dibidang kesehatan dan pendidikan

 Kondisi masyarakat sehinggatidak mampu memperhatikan pentingnya masalah kesehatan dan pendidikan anak

2. Permasalahan di Bidang Ekonomi

Permasalahan di bidang ekonomi yang terjadi di Desa Lab. Alas, yang mengakibatkan warga tidak mampu meningkatkan pendapatan dan adanya warga usia produktif yang tidak mempunyai pekerjaan dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

 Keterbatasan wawasan manajemen, sehingga UKM yang ada tidak mampu berkembang

 Sektor permodalan yang kurang mendukung  Tidak mempunyai keahlian khusus

 Terbatasnya informasi lapangan kerja  Tempat yang kurang strategis 3. Permasalahan di Bidang Lingkungan

Masih banyak terdapat sarana dan prasarana lingkungan yang kurang memadai bahkan rusak berat, seperti prasarana perhubungan darat (jalan dan gang Desa), prasarana air bersih, prasarana pembungan air limbah/air hujan, perumahan warga yang kumuh dan tidak layak huni dan lain sebagainya, yang sangaat erat kaitannya dengan masalah kesehatan lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada tingkat kemiskinan di Desa Lab. Alas.

Dalam hal ini kondisi lingkungan tersebut angat erat kaitannya dengan kemampuan warg yang secara rata-rata berasl dari keluarga miskin dan kurang mampu, sehingga tidak mampu mendanai rehabilitasi dan pembangunan prasarana lingkungan.

(41)

2.1.2 Analisis Potensi

1. Komponen Potensi Desa

Tujuan analis potensi Desa adalah untuk mengetahui potensi SDA, potensi SDM, potensi kelembagaan, potensi sarana dan prasarana yang dimiliki oleh Desa dan kemudian dari potensi-potensi tersebut, dapat diketahui perkembangaannya dimasa yang akan datang. Selain itu analisis potensi juga untuk mengetahui faktor-faktor penghambat perkembangan pembangunan Desa, baik dari faktor-faktor alam, faktor-faktor manusia,faktor kelembagaaan, faktor ekonomi dan faktor lingkungan.

Dari analisis potensi desa dapat diketahui atau dirumuskan beberapa hal yaitu: a. Potensi sumber daya alam

b. Potensi sumber daya manusia c. Potensi perekonomian d. Potensi kelembagaan e. Potensi perikanan

f. Potensi sarana dan prasarana lingkungan 2. Analisis Potensi Umum

Analisis potensi sumber daya alam didasarkan pada potensi-potensi yang terdapat pada daerah binaan. Analisis potensi daya manusia didasarkan pada potensi jumlah penduduk, potensi umur, potensi pendidikan, potensi agama, potensi keragaman etnis dan potensi tenag kerja. Analisis potensi kelembagaan didasarkan pada potensi lembaga pemerintah, potensi lembaga kemasyarakatan, potensi lembaga politik, potensi lembaga ekonomi, potensi lembaga hukum, potensi lembaga pendidikan, dan potensi lembaga keamanan. Sedangkan untuk analisis potensi sarana dan prasarana didasarkan pada potensi sarana dan prasarana transportasi, potensi sarana dan prasarana komunikasi, potensi sarana dan prasarana kesehatan, potensi sarana dan prasarana pemerintahan, potensi sarana dan prasarana peribadataan, potensi sarana dan prasarana irigasi, potensi sarana dan prasarana pendidikan dan potensi sarana dan prasarana olahraga.

3. Tujuan Utama

Tujuan utama dari analisis tingkat perkembangaan Desa Lab. Alas renta adalah untuk merumuskan masalah-masalah yang dihadapi desa yang akan dijadikan penyusunan rencana strategis atau PJM Pronangkis dalam renta satu atau tiga tahun mendatang.

(42)

Dari hasil tingkat perkembangan desa dapat diperoleh :

a. Status kemajuan masyarakat (swasembada, swakarya dan swadaya) yang diukur dari indikator bidang pendidikan, bidang kesehatan, bidang pembangunan, dan bidang kamtibmas.

b. Kategori desa yaitu permasalahan prioritas yang perlu mendapat pemecahan dalaam pembangunan desa tersebut.

c. Permasalahan-permasalahan yang dihadapi desa dan prioritas pembangunan dalm renta satu atau tiga tahun berikutnya.

Untuk mengetahui tingkat kemajuan masyarakat, maka indikator yang digunakan adalah indikator ekonomi masyarakat, indikator kesehatan masyarakat, indikator pendidikan masyarakat, indikator kamtibmas, dan indikator kepribadian masyarakat. 3. Hasil Visi dan Misi

Kawasan Wisata Bahari merupakan visi pengembangan jangka panjang Desa Lab. Alas,

yaitu kawasan yang kegiatan masyarakatnya berbasis pada pesisir atau bahari meliputi kegiatan perikanan, proses pengolahan dan pemasaran hasil perikanan sehingga Desa Lab. Alas menjadi area atau kawasan wisata yang dituju oleh wisatawan local maupun mancanegara. Kawasan Kampung Wisata yang menjadi simbol Desa Lab. Alas merupakan proses transformasi kehidupan masyarakat dari proses pemerdayaan masyarakat itu sendiri kearah peningkatan kualitas dan nilai tambah yang berorientasi peningkatan keterampilan (skill) masyarakat pesisir. Peningkatan kualitas dapat berasal dari tenaga-tenaga kerja yang professional melalui pelatihan dan penyuluhan serta sosialisasi kepada masyarakat dalam pengembangan kawasan dimana tempat mereka tinggal. Menciptakan suatu lapangan kerja berkaitan erat dengan pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan kapasitasnya sebagai seorang profesional. Aktivitas kawasan kampung wisata meliputi seluruh rangkaian kegiatan dan keunikan masyarakat pesisir menuju kawasan wisata. Bentuk kegiatan yang diharapkan meliputi, penataan kawasan transit, penyediaan sarana dan prasarana menuju kawasan wisata melalui. Sehingga memberikan penciptaan nilai tambah sehingga mempercepat terwujudnya masyarakat yang dicita-citakan, yaitu masyarakat mandiri menuju masyarakat madani.

 Konsepsi Kampung Nelayan

Tidak hanya mencakup aspek dari sekedar keunikan masyarakat dan kondisi kawasan yang berada di kawasan pulau, namun mencakup aspek yang lebih luas. Sebagaimana dipahami bahwa masyarakat Desa Lab. Alas sebagian besar kegiatan

(43)

ekonomi di dominasi oleh perikanan, karena masyarakat bermata pencaharian sebagai nelayan. Kata kunci kampung nelayan adalah kondisi faktual masyarakat sebagai nelayan, yaitu kondisi ini merupakan bentuk kegiatan perekonomian yang ada dan mampu berkembang di Desa Lab. Alas. Tujuan akhir dari kampung nelayan adalah pengembangan potensi yang dimiliki.

 Konsepsi bersih dan nyaman

Dimana diharapkan dengan adanya penataan kawasan kampung wisata dalam penataan lingkungan permukiman dapat menjadikan masyarakat memiliki kesadaran akan pentingnya lingkungan kawasannya.

 Konsepsi budaya lokal

Rencana penataan akan tetap mengacu pada nilai-nilai yang selama ini dijalankan masyarakat Desa Lab. Alas, sehingga dapat memberikan bentuk nilai-nilai luhur yang menjadikan landasan hubungan masyarakat pesisir khususnya dan semua masyarakat Desa Lab. Alas dari hubungan kekerabatan sampai dengan bentuk kerjasama dalam membangun suatu hubungan kerja yang baik.

 Konsepsi menuju masyarakat madani

Terkait dengan terwujudnya individu dan sosial dalam kehidupan masyarakat Desa Lab. Alas. Tidak ada diskriminasi dalam bentuk apapun baik antar individu, gender, dan wilayah serta mempunyai kesempatan yang sama dalam meningkatkan taraf hidupnya dan memperoleh lapangan pekerjaan, mendapatkan pelayanan sosial, pendidikan dan kesehatan, mengemukakan pendapat dan melaksanakan hak politiknya, serta perlindungan dan persamaan di depan hukum sehingga merupakan masyarakat yang maju dan sejahtera.

Gambar

Tabel 3-2. Klasifikasi tanaman. Sumber: Frick, 2006
Tabel VI-1 Kelas Kelerengan
Tabel VI-2 Kelas Tanah
Tabel VI-3
+4

Referensi

Dokumen terkait

Dari fenomena yang muncul berdasarkan simulasi software elemen hingga, penulis termotivasi untuk melakukan penelitian tentang tegangan yang bekerja pada kait

Selain itu, secara khusus penelitian yang dilakukan oleh Spevack (2013) menyebutkan bahwa setelah menggunakan KB suntik dalam 2 tahun, sebanyak 70% pengguna Depo Provera

Kemudian hasil analisis deskriptif terhadap pada variabel pergantian auditor memiliki nilai minimum sebesar 0 dan nilai maksimum sebesar 1 (dummy) dengan nilai

Yang juga biasa disebut sebagai stone kelas I atau Hydrocal memiliki nilai minimum kekuatan tekan 20,7 Mpa (3000 psi) (tabel 1.1), tapi tidak melebihi 34,5 Mpa (5000 psi). Bahan

Spiritia tetap yakin bahwa ketersediaan informasi yang jelas dan benar tentang penyakit dan pengobatannya adalah unsur penting bagi Odha untuk mengatur kehidupan dan kesehatan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai folklor Jepang pada umumnya dan khususnya gambaran mengenai kepercayaan mengenai hal hal supernatural

Hubungan yang diciptakan dengan kehangatan dan kepedulian akan menimbulkan persepsi dari anak bahwa mereka dicintai oleh orangtuanya dan hal ini dapat meningkatkan

Merujuk pada permasalahan yang telah dipaparkan diatas melalui hasil wawancara dan diskusi awal bersama ibu-ibu rumah tangga di Jalan Hiu Putih dalam kaitannya agar dapat