Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Puji syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, atas rahmat dan karunia-Nya sehingga Kajian Fiskal Regional (KFR) Provinsi Sulawesi Barat Triwulan I 2021 telah diselesaikan tepat waktu. Selain sebagai output atas pelaksanaan tugas dan fungsi Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Sulawesi Barat di bidang pengelolaan fiskal. Penyusunan kajian ini merupakan bentuk pelaporan manajerial kepada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan yang nantinya akan dikompilasi menjadi KFR Khatulistiwa. Konten kajian ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi strategis para mitra kerja kami.
Pandemi Covid-19 berdampak besar terhadap pengelolaan keuangan negara dan melahirkan berbagai kebijakan extra-ordinary. Efektifitas dalam implementasi berbagai kebijakan tersebut menjadi tantangan bersama, baik bagi kantor vertikal pemerintah pusat maupun pemerintah daerah sendiri. Sinergi yang kuat antara Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Sulawesi Barat dan para stakeholders diharapkan dapat menjadi jembatan untuk melewati masa recovery dari dampak wabah Corona.
Ucapan terima kasih yang tak terhingga kami haturkan kepada Gubernur Sulawesi Barat, para Bupati dan Sekretaris Daerah, Kepala BAPPEDA serta seluruh jajaran pemerintah daerah lingkup Sulawesi Barat, Kepala BPS Provinsi Sulawesi Barat, Kepala KPP Pratama lingkup Sulawesi Barat, Rektor Unsulbar, Direktur Poltekkes, dan berbagai pihak yang tidak dapat disebut satu persatu atas kontribusi dan kerja samanya dalam penyusunan laporan ini.
Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu, kami sangat menghargai saran dan kritik konstruktif guna peningkatan kualitas laporan pada periode berikutnya. Semoga kajian ini memberi manfaat bagi para pembaca dan pelaku pembangunan di Sulawesi Barat.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Mamuju, 6 Mei 2021 Kepala Kantor,
PERKEMBANGAN & ANALISIS EKONOMI REGIONAL
BAB I
BAB I
PERKEMBANGAN DAN ANALISIS EKONOMI REGIONAL
A. INDIKATOR MAKROEKONOMI FUNDAMENTALIndikator Ekonomi Target RKPD 2021 Realisasi (s.d. Q-1 2021) Realisasi Nasional (s.d. Q-1 2021) Pertumbuhan Ekonomi 5,71% -1,20% -0,74% Inflasi 2,54% 2,70% 0,57% IPM* 67,22 66,11 71,94 TPT 4,90 % 3,28% 6,26% Tingkat Kemiskinan** 10,70% 11,50% 10,19%
Sumber: RPJMD-P Provinsi Sulbar Tahun 2017-2022; BPS Sulbar dan Nasional, 2021 (diolah) Keterangan: *) Capaian IPM tahun 2020, capaian IPM tahun 2021 belum dirilis oleh BPS
**) Capaian Tingkat Kemiskinan tahun 2020 periode Februari 2021 belum dirilis BPS
1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
PDRB adalah penjumlahan nilai output bersih perekonomian yang ditimbulkan oleh seluruh kegiatan ekonomi di suatu wilayah tertentu (provinsi dan kabupaten/kota) dan dalam satu kurun waktu tertentu (satu tahun kalender).
a. PDRB Sisi Produksi (Lapangan Usaha)
PDRB triwulan I tahun 2021 di Sulawesi Barat (Sulbar) masih berada pada kondisi kontraksi sebesar -1,20%. Hal tersebut mencerminkan bahwa semenjak triwulan II tahun 2020 sampai dengan triwulan I 2021 kondisi ekonomi Sulbar masih berada dalam kondisi perlambatan ekonomi. Jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya kondisi PDRB Sulbar juga masih mengalami penurunan sebesar -2,73%, hal ini tak lepas dari masih adanya pandemi Covid-19 dan ditambah pada bulan Januari lalu Sulbar mengalami
Grafik 1.1 PDRB Lapangan Usaha Sulawesi Barat
musibah gempa bumi 6,9 SR yang cukup membuat kinerja perekonomian di berbagai sektor mengalami gangguan. Kemudian jika dilihat lebih jauh, secara q-to-q sektor berdasarkan lapangan usaha yang mengalami kontraksi paling dalam adalah administrasi pemerintahan sebesar -11,07% hal ini disebabkan oleh siklus penyerapan anggaran pemerintah pada triwulan IV merupakan puncaknya sehingga secara matematis pada triwulan I akan mengalami kontraksi yang cukup dalam, selain itu pada tahun 2021 pemerintah pusat masih menerapkan kebijakan refocusing anggaran untuk penangan covid dan pemulihan ekonomi nasional yang membuat pagu anggaran pemerintah mengalami perubahan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
b. PDRB Sisi Konsumsi (Pengeluaran)
Struktur PDRB Sulbar triwulan I dari sisi pengeluaran masih didominasi oleh konsumsi rumah tangga (PKRT) sebesar 54,77% tetapi sektor ini secara yoy mengalami perlambatan pertumbuhan sebesar -0,23% hal ini disebabkan oleh inflasi yang relatif tinggi selama triwulan I tahun 2021 dan juga turunnya jumlah pergerakan penduduk yang memasuki Sulbar, hal ini terlihat dari penurunan jumlah penumpang di pelabuhan dan bandara .Kemudian porsi terbesar PDRB kedua disusul oleh ekspor sebesar 48,74% hal ini disebabkan salah satunya kenaikan CPO sebesar 10,45% dibanding triwulan sebelumnya dan menguatnya kurs beli IDR terhadap USD, tetapi besarannya nilai ekspor ini diikuti oleh nilai impor yang juga cukup besar, yaitu sebesar 42,67% sehingga surplus perdagangan hanya sebanyak 6,07 poin. Pemerintah perlu untuk mendorong industri lokal agar Sulbar dapat mengurangi produk-produk impor. Kemudian dari sisi belanja
Grafik 1.2 PDRB Pengeluaran Sulawesi Barat
PERKEMBANGAN & ANALISIS EKONOMI REGIONAL
BAB I
Grafik 1.3 Inflasi Bulanan Sulbar & nasional (month to month)
Sumber: BPS Provinsi Sulbar dan BPS Nasional (diolah). 2021
Grafik 1.4 Inflasi tahunan Sulbar & nasional (year on year)
Sumber: BPS Provinsi Sulbar dan BPS Nasional (diolah). 2021 pemerintah (PKP) tercatat naik sebesar 22,19% yoy, hal ini disebabkan oleh naiknya belanja pegawai dan belanja modal masing-masing sebesar 34% dan 289%, kenaikan yang signifikan pada belanja modal ini diintensikan untuk pemulihan bangunan, gedung dan infrastruktur Sulbar yang sebelumnya terdampak gempa.
2. Inflasi
Inflasi yang terjadi pada triwulan I tahun 2021 di Sulbar cukup tinggi, pada awal tahun terjadi kenaikan yang cukup tinggi secara yoy Januari mencatatkan inflasi tertinggi sebesar
3,27% kemudian
melandai menuju bulan April menjadi 2,84% yoy. Jika dilihat secara bulanan, inflasi bulanan tinggi di Januari salah satunya disebabkan oleh adanya bencana alam gempa bumi yang turut mengganggu rantai pasokan barang dan jasa sehingga menipisnya pasokan barang dan jasa tersebut menyebabkan inflasi yang tinggi, lalu bergerak ke bulan April Sulbar mengalami deflasi sebesar -0,2%, deflasi ini merupakan fenomena yang cukup unik lantaran pada bulan tersebut merupakan bulan Ramadhan yang biasanya harga-harga mengalami kenaikan. Pada bulan April sektor-sektor
yang mengalami
deflasi diantaranya
adalah sektor
makanan, minuman, dan tembakau, jasa kesehatan, jasa keuangan dan jasa transportasi.
Namun demikian,
Grafik 1.5 Tingkat Pengangguran Terbuka Sulbar 2020 dan 2021
Su mber: BPS Provinsi Sulbar dan BPS Nasional (diolah). 2021 cukup tinggi sebesar 2,84%. Jika mengacu pada target inflasi ytd sebesar 2,54% maka Pemerintah daerah dan lembaga perbankan perlu untuk bersinergi agar inflasi dapat terkendali hingga akhir tahun.
B. INDIKATOR KESEJAHTERAAN 1. Tingkat Pengangguran Terbuka
Pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga triwulan I 2021 cukup mendisrupsi dan mempengaruhi kondisi ketenagakerjaan di Sulbar. BPS Prov. Sulbar mencatat per Februari 2021 ada 56,82 ribu jiwa atas penduduk usia kerja di Sulbar yang terdampak pandemi Covid-19. Angka tersebut menujukan adanya perbaikan jika dibandingkan pada Agustus 2020 yang sebesar 120,52 ribu jiwa. Kemudian pada Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) per Februari 2021 mengalami peningkatan 1,52 basis poin dibanding Agustus 2020, lebih rinci TPAK perempuan justru mengalami peningkatan lebih tinggi 3,52% berbanding terbalik dengan TPAK pria yang justru mengalami penurunan 0,48%. Fenomena ini kemungkinan disebabkan oleh kondisi perekonomian yang belum stabil sehingga menyebabkan perempuan untuk ikut terjun ke pasar ketenagakerjaan.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Sulbar pada per Februari 2021 tercatat mengalami penurunan sebesar 0,04 basis poin dibandingkan per Agustus 2020 hal ini menujukan meskipun kedua periode tersebut masih terkendala pandemi, tetapi Sulbar mampu untuk mengurangi nilai TPT dan
dapat mencapai target RKPD 2021 yang menargetkan TPT maksimal pada nilai 4,90%, pemerintah daerah perlu untuk terus menjaga agar nilai TPT yang sudah
dibawah target
RKPD dapat terus terjaga hingga akhir tahun.
PERKEMBANGAN & ANALISIS EKONOMI REGIONAL
BAB I
2. Tingkat Kemiskinan
BPS mencatat pada September 2020 di Sulbar ada 7,03 ribu orang penduduk berkategori miskin naik 0,63 basis poin dibandingkan pada Maret 2020. Jika dibandingkan secara yoy kenaikan penduduk miskin naik sebesar 0,55 basis poin atau sebanyak 7,18 ribu orang. Hal ini menunjukan bahwa pandemi Covid-19 turut memberikan dampak pada naiknya penduduk berkategori miskin. Kemudian jika dilihat dari garis kemiskinan dalam kurun waktu Maret 2017 sampai September 2020, Sulbar belum mampu untuk mencapai angka yang sama dengan angka nasional, hal ini menujukan bahwa jumlah pengeluaran rata-rata per kapita sebulan penduduk Sulbar berada dibawah level nasional.
3. Gini Ratio
Gini ratio di Sulbar pada periode September 2020 tercatat sebesar 0,356 lebih baik 0,029 poin daripada nasional. Hal ini menunjukan bahwa ketimpangan ekonomi di Sulbar menuju ke arah yang lebih baik apabila dibandingkan pada periode Maret 2020 yang masih dalam kondisi pandemi
Covid-19. Capaian ini perlu untuk dipertahankan oleh Pemerintah daerah
melalui berbagai program-programnya. 4. Indeks Pembangunan Manusia
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Sulbar pada tahun 2020 tercatat sebesar 66,11 poin lebih kecil daripada IPM nasional yang tercatat sebesar 71,94 poin. Celah IPM antara Sulbar dengan Nasional ini menunjukan bahwa IPM Sulbar masih berada di bawah level nasional. Pemerintah daerah perlu untuk mendorong sektor Pendidikan dan Kesehatan masyarakat Sulbar agar capaiain IPM tahun 2021 dapat diperkecil celahnya dengan IPM nasional. 5. Nilai Tukar Petani dan Nelayan
Nilai Tukar Petani (NTP) yang mencerminkan kemampuan daya beli petani di Sulbar pada bulan April 2021 menunjukan adanya peningkatan 1,57%. Jika dilihat grafik sepanjang triwulan I menunjukan adanya peningkatan yang stabil baik untuk NTP maupun NTN. Hal ini menunjukan bahwa barang dan jasa yang di hasilkan oleh petani di Sulbar lebih tinggi nilainya daripada barang dan jasa yang diperlukan untuk produksi.
BAB II
PERKEMBANGAN DAN ANALISIS PELAKSANAAN APBN
Tabel 2.1 PagudanRealisasi APBN Sulbar s.d.akhirTriwulanI Tahun 2020dan2021(dalammiliarrupiah)
URAIAN Tahun 2020 Tahun 2021
Pagu Realisasi % Pagu Realisasi %
A. PENDAPATAN NEGARA 842,29 107,89 12,81 733,44 154,35 21,04
I. Penerimaan Dalam Negeri 842,29 107,89 12,81 733,44 154,35 21,04
1. Penerimaan Pajak 782,62 89,87 11,48 695,41 131,08 18,85
2. PNBP 59,67 18,02 30,21 38,04 23,27 61,18
B. BELANJA NEGARA 11.237,49 1.872,89 16,67 10.284,80 2.051,38 19,95
I. Belanja Pemerintah Pusat 3.822,84 421,29 11,02 3.753,78 679,46 18,10 1. Belanja Pegawai 1.113,72 209,71 18,83 1.083,36 188,60 17,41 2. Belanja Barang 1.333,79 161,87 12,14 1.335,98 166,81 12,49 3. Belanja Modal 1.369,43 49,00 3,58 1.331,26 324,05 24,34 4. Belanja Bantuan Sosial 5,91 0,71 11,95 3,18 0 0 II. Transfer ke Daerah dan Dana Desa 7.414,65 1.451,60 19,58 6.531,01 1.371,92 21,01 1. Transfer ke Daerah 6.839,70 1.446,92 21,15 5.954,57 1.330,87 22,35 a. Dana Perimbangan 6.690,16 1.446,92 21,63 5.857,45 1.330,87 22,72 1) DAU 4.502,45 1.345,65 29,89 3.990,29 1.085,31 27,20 2) DBH 74,98 3,20 4,26 69,99 30,01 42,88 3) DAK 2.112,74 98,07 4,64 1.797,17 215,55 11,99 a) DAK Fisik 1.228,41 13,11 1,07 870,34 24,79 2,85 b) DAK Non Fisik 884,32 84,97 9,61 926,83 190,76 20,58 b. Dana Non Perimbangan 149,54 0,00 0,00 97,12 0 0,00
2. Dana Desa 574,95 4,68 0,81 576,44 41,05 7,12
C. SURPLUS/DEFISIT (10.395,20) (1.765,00) (10.284,80) (2.051,38)
Sumber: OMSPAN, KPP PratamaMamuju, KPP PratamaMajene (diolah) A. PENDAPATAN NEGARA
1. PenerimaanPerpajakan
Grafik2.1 Realisasi Penerimaan Pajak s.d. Triwulan I 2021 per JenisPajak
Sumber: OMSPAN, KPP Pratama Mamuju, KPP Pratama Majene (diolah)
Total realisasi penerimaan pajak Sulbar pada triwulan I 2020 sebesar Rp131,08 miliar, dengan proporsi terbesar berasal dari PPN dan PPh masing-masing sebesar 60,28 % dan 36,15%. Pertumbuhan tertinggi pada komponen PPN sebesar 78,23% (yoy). Masih adanya Pandemi Covid 19 yang melanda, mengharuskan masyarakat untuk selalu menjaga protocol kesehatan. Beberapa poin dalam protocol kesehatan adalah menjauhi kerumunan dan membatasi mobilisasi dan interaksi. Hal ini menyebabkan
PERKEMBANGAN & ANALISIS PELAKSANAAN APBD
BAB II
perlambatan pertumbuhan ekonomi, yang akan berpotensi penurunan realisasi penerimaan perpajakan. Disamping itu, pandemi ini dapat menghambat proses pengadaan barang dan jasa pada kegiatan DAK Fisik dan proyek di sektor swasta sehingga berpotensi menurunkan setoran PPN dan PPh Final di Sulbar.
a. Pajak Penghasilan (PPh)
Grafik2.2 Realisasi PPh Sulbar Triwulan I 2021 (Rp miliar)
Sumber: OMSPAN, KPP Pratama Mamuju, KPP Pratama Majene (diolah)
Realisasi penerimaan PPh pada triwulan I 2021 sebesar Rp47,39 miliar, meningkat 12,13 % (yoy). Penerimaan PPh terbesar berasal dari Kabupaten
Mamuju senilai Rp24,25 miliar.
Penerimaan terendah berasal dari Mamasa sebesar Rp2,44 miliar. PPh pasal 21 menjadi kontributor terbesar yakni senilai Rp22 miliar dengan sumber utama dari subjek pajak pribadi dan subjek pajak badan.
b. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Grafik 2.3 Realisasi PPN Sulbar Triwulan I 2020 (Rp miliar)
Sumber: OMSPAN, KPP Pratama Mamuju, KPP Pratama Majene (diolah)
Penerimaan perpajakan terbesar di Sulbar adalah PPN, yaitu sebesar Rp79,02 miliar. Realisasi penerimaan PPN pada triwulan I 2021 meningkat 78,23 % yaitu sebesar Rp54,79 miliar dibanding periode yang sama pada tahun lalu yang tercatat sebesar Rp24,22 miliar.
Penerimaan PPN terbesar berasal dari Kabupaten Mamuju senilai Rp29,22 miliar. Sedangkan penerimaan terendah berasal dari Mamasa sebesar Rp2,03 miliar.
c. Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM)
Realisasi penerimaan PPnBM di Sulbar pada triwulan I 2021 naik sebesar 276,18% (yoy). Penerimaan PPnBM triwulan ini sebesar Rp398,23 juta sedangkan pada triwulan lalu sebesar Rp105,86 juta. Kabupaten Mamuju Tengah memperoleh
PPnBM tertinggi yaitu Rp226,83 juta. Sedangkan Kabupaten Majene hanya mendapat Rp1,7 juta.
Grafik 2.4 Realisasi PPnBM Sulbar Triwulan I 2020 (Rp miliar)
Kabupaten Mamasa dan Pasangkayu tidak terdapat penerimaan dari PPnBM. Bahkan di Kabupaten Polman terdapat restitusi (pengembalian) pajak PPnBM sebesar Rp61,12 juta pada bulan Januari 2021.
Sumber: OMSPAN, KPP Pratama Mamuju, KPP Pratama Majene (diolah)
d. Pajak Lainnya
Grafik 2.5Realisasi Pajak Lainnya Sulbar Triwulan I 2020 (Rp miliar)
Sumber: OMSPAN, KPP Pratama Mamuju, KPP Pratama Majene (diolah)
Penerimaan pajak lainnya di Sulbar naik sebesar 23,93 % (yoy), dari
Rp3,45 miliar menjadi Rp4,27 miliar pada triwulan ini. Kabupaten Mamuju memperoleh realisasi tertinggi sebesar Rp4,12 miliar. Lebih rinci, pendapatan penjualan benda materai menjadi penyumbang terbesar yakni sebesar Rp3,72 miliar, sedangkan Kabupaten
Pasangkayu menjadi penyumbang
terkecil pada penerimaan pajak lainnya, sebesar Rp15,86 juta.
e. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) PNBP berkontribusi sebesar 15,08 % dari total pendapatan APBN di Sulbar sampai dengan triwulan I 2021. Tercatat, realisasi PNBP Sulbar pada akhir Maret 2021 sebesar Rp23,27 miliar, naik Rp5,24 miliar atau 29 % (yoy). Pendapatan
Pendidikan, Budaya, Riset, dan Teknologi menjadi penyumbang terbesar yakni
Grafik 2.6 Realisasi Empat Jenis PNBP Terbesar di Sulbar s.d. Triwulan I 2021 (Rp milyar)
PERKEMBANGAN & ANALISIS PELAKSANAAN APBD
BAB II
Sumber: OMSPAN (diolah)
sebesar 59,83 % dari total realisasi PNBP atau sebesar Rp13,92 miliar. Tiga penerimaan terbesar selanjutnya adalah Pendapatan Administrasi dan Penegakan Hukum (Rp6,17 miliar), Pendapatan Jasa Transportasi, Komunikasi dan Informatika (Rp1,72 miliar), dan Pendapatan Lain-lain (Rp0,5 miliar).
B. BELANJA NEGARA 1. Belanja Pemerintah Pusat
Grafik 2.7 Tren Persentase Realisasi Belanja APBN Lingkup Sulbar Triwulan I 2021
Sumber: OMSPAN (diolah)
Realisasi Belanja Pemerintah Pusat pada triwulan I 2021 sebesar Rp679,46 miliar atau nai 61,28 % (yoy). Realisasi Belanja Pegawai dan Belanja Barang mengalami kenaikan secara konsisten selama triwulan I 2021. Sementara itu, Belanja Bantuan Sosial sampai bulan Maret 2021 sama sekali belum terealisasi. 2. Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD)
Grafik 2.8 Tren Persentase Realisasi TKDD Sulbar Triwulan I 2021
Sumber: SIMTRADA (diolah)
Pagu TKDD tahun 2021 sebesar Rp5.954,57 miliar atau mengalami penurunan sebesar 12,94 % (yoy). Total realisasi TKDD sampai dengan triwulan I 2021 sebesar Rp1.330,87 miliar atau 22,35 % dari pagu, lebih tinggi di banding tahun sebelumnya sebesar Rp1.446,92 miliar. Realisasi TKDD didominasi oleh realisasi DAU sebesar
Rp1,085 triliun atau 18,53 %. Sementara realisasi terendah adalah DBH sebesar Rp30,012 miliar atau 0,51% dari pagu.
3. Satuan Kerja yang Berpotensi Menjadi BLU
Tabel 2.2 Perkembangan Aset dan Realisasi PNBP Satker pengguna PNBP periode Triwulan I tahun 2019 – 2021 (dalam miliar Rupiah)
Nama Satker Aset PNBP TW 1 2019 TW 12020 TW 12021 Pertumbuhan TW 12019 TW 12020 TW 12021 Pertumbuhan Unsulbar 156,06 158,81 249,76 36,41% 3,81 0,39 12,41 96,86% Poltekkes 86,82 94,95 103,14 7,94% 2,11 2,46 0,69 -256,52%
Sumber: Laporan BMN pada Neraca Satker (diolah)
Sampai dengan triwulan I 2021, aset Poltekes Mamuju mengalami kenaikan senilai Rp8,19 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu. Hal ini karena telah selesainya pembangunan Gedung Keperawatan dan pengadan Alat Bantu Belajar Mengajar (ABBM).Sedangkan nilai aset Unsulbar Juga mengalamai kenaikan sebesar 90,95 miliar dibanding tahun lalu. Penambahan nilai aset yang signifikan disebabkan oleh adanya pembelian peralatan dan mesin berupa pembangunan gedung laboratorium terpadu beserta peralatannya.
Sementara dari sisi realisasi penerimaan PNBP Poltekkes disebabkan penurunan pendaftaran jumlah mahasiswa dan drop out nya beberapa mahasiswa.
Kenaikan PNBP pada Satker Unsulbar disebabkan karena adanya anggaran bidikmisi yang seharusnya cair di bulan Desember 2020 tapi menyeberang ke tahun 2021. Keterlambatan penyetoran ke kas negara oleh Bendahara Penerimaan karena ada pengembalian dana ke mahasiswa yang sudah terlanjur membayar UKT tapi ternyata mereka terdaftar sebagai mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi, juga menjadi alasan kenaikan PNBP di Triwulan I tahun ini.
4. Manajemen Investasi Pusat a. Penerusan Pinjaman
Sampai dengan periode triwulan I tahun anggaran 2021 tidak ada penerusan pinjaman (Subsidiary Loan Agreement) di wilayah Provinsi Sulawesi Barat.
b. Kredit Usaha Rakyat (KUR)
Sampai dengan periode triwulan I 2020 total penyaluran KUR sebesar Rp332,21 miliar dengan total debitur sebanyak 9.531 orang. Penyaluran terbesar
PERKEMBANGAN & ANALISIS PELAKSANAAN APBD
BAB II
debitur 3.588 orang. Sedangkan penyaluran terendah berada di Mamuju Tengah sebesar Rp18,43 miliar dengan total debitur sebanyak 152 orang. Sementara itu sektor usaha yang paling besar dalam hal penyaluran KUR adalah sektor pertanian, perburuan dan kehutanan sebesar Rp158,50 miliar.
Tabel 2.3 Penyaluran KUR Berdasarkan Wilayah di Sulbar Triwulan I Tahun 2019-2020
Kabupaten Penyaluran2019 2020 2021
(milyar) Debitur Penyaluran(milyar) Debitur Penyaluran(milyar) Debitur
Majene 57,03 1.317 72,54 1.545 33,61 1.414 Mamasa 72,48 2.370 82,55 2.361 21,61 790 Mamuju 19,52 921 19,45 860 66,55 2.093 Mamuju Tengah 75,16 2.813 84,74 2.770 18,43 152 Pasangkayu 25,66 1.322 28,30 1.203 83,99 1.494 Polewali Mandar 8,87 31 6,74 30 108,02 3.588 Total 258,72 8.774 294,32 8.769 332,21 9531 Sumber: SIKP
c. Pembiayaan Ultra Mikro (UMi)
Grafik 2.9 Empat Besar Penyaluran UMi di Sulbar Triwulan I Tahun 2021
Realisasi penyaluran Pembiayaan UMi di wilayah Sulbar sampai dengan triwulan I 2021 sebesar Rp3,55 miliar dengan jumlah debitur sebanyak 1.038 orang. Kab. Polman terbesar dalam hal realisasi penyaluran yaitu sebesar Rp2.132 miliar dengan debitur 617 orang. Sementara di Kabupaten Mamasa adalah wilayah dengan penyaluran terkecil, yaitu sebesar Rp17 juta dengan debitur 6 orang. Berdasarkan penyalur, realisasi Pembiayaan UMi masih didominasi oleh Koperasi Mitra Dhuafa (Komida) sebesar Rp3,54 miliar dengan total debitur 1.037 orang. Kemudian diikuti PT Permodalan Nasional Madani (PNM) sebesar Rp3 juta dengan total debitur 1 orang. Sedangkan PT Pegadaian belum menyalurkan dana di triwulan ini.
C. PROGNOSIS REALISASI APBN
Berdasarkan tren rata-rata realisasi APBN Sulbar selama tiga tahun terakhir, pendapatan dan belanja negara lingkup Sulbar sampai dengan akhir triwulan IV 2020 diproyeksikan akan terealisasi masing-masing sebesar 83,64% dan 87,47%
dari pagu. Proyeksi penurunan realisasi Belanja APBN tersebut berkorelasi dengan adanya penundaan atau pembatalan pelaksanaan beberapa kegiatan pemerintah yang terdampak oleh kebijakan penanganan wabah Covid-19.
Tabel 2.4 Perkiraan Realisasi APBN Lingkup Sulbar s.d. Triwulan IV 2021 (dalam Rp miliar)
Uraian Pagu Realisasi s.d. Triwulan I Realisasi s.d. Triwulan IV Rp terhadap Pagu% Realisasi Rp terhadap Pagu% Realisasi Pendapatan Negara 733,45 154,35 21,04% 613,45 83,64% Belanja Negara 10.284,79 2.051,38 19,95% 8.995,93 87,47% Surplus/Defisit (9.551,34) (1.897,03) (8.382,49)
Sumber: OMSPAN, MONEV PA (diolah)
Keterangan: (*) dihitung berdasarkan rata-rata tren realisasi dalam tiga tahun terakhir.
Secara tidak langsung hal tersebut diperkirakan akan berpengaruh terhadap penurunan realisasi pendapatan negara lingkup Sulbar, khususnya pada penerimaan perpajakan yang selama ini didominasi oleh penerimaan PPN dan PPh. Selain itu, pagu anggaran satker pemerintah pusat di Sulbar mulai triwulan II 2021 akan terkoreksi cukup signifikan sebagai dampak kejadian luar biasa tersebut yang pada gilirannya akan menyebabkan penurunan realisasi pendapatan dan belanja di Sulbar pada akhir tahun 2020.
PERKEMBANGAN & ANALISIS PELAKSANAAN APBD
BAB III
BAB III
PERKEMBANGAN DAN ANALISIS PELAKSANAAN APBD
Tabel 3.1 Realisasi APBD Lingkup Provinsi Sulawesi Barat s.d. Akhir Triwulan I Tahun 2020 dan 2021 (Miliar Rupiah)
Uraian Pagu Triwulan I 2020Realisasi % Pagu Triwulan I 2021Realisasi % PENDAPATAN DAERAH 8.615,46 1.527,30 17,73% 7.739,99 1.950,13 25,20%
PAD 854,25 82,82 9,70% 739,65 29,42 3,98%
Pajak daerah 408,58 67,40 16,50% 407,69 17,60 4,32% Retribusi daerah 79,01 7,60 9,62% 68,01 5,25 7,72% Hasil pengelolaan kekayaan
daerah yang dipisahkan 31,06 0,00 0,00% 31,26 0,00 0,00% Lain-lain PAD yang sah 335,59 7,82 2,33% 232,69 6,58 2,83%
Pendapatan Transfer 7.021,70 1.439,55 20,50% 6.235,15 1.910,27 30,64%
Dana Perimbangan 6.690,16 1.411,79 21,10% 6.000,94 1.881,76 31,36% Dana Bagi Hasil 74,98 3,19 4,26% 69,99 29,58 42,26% Dana Alokasi Umum (DAU) 4.502,45 1.345,65 29,89% 4.122,32 1.733,23 42,05% Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik 1.228,41 13,11 1,07% 882,00 25,19 2,86% Dana Alokasi Khusus (DAK) Non
Fisik 884,32 49,84 5,64% 926,64 93,76 10,12%
Non Dana Perimbangan 168,15 0,00 0,00% 97,12 0,00 0,00%
Transfer Dana Lainnya (DID) 168,15 0,00 0,00% 97,12 0,00 0,00%
Transfer Pemerintah Daerah 163,39 27,77 16,99% 137,09 28,52 20,80% Bagi Hasil Pajak Pemprov 163,39 27,77 16,99% 132,09 26,31 19,92% Bantuan Keuangan Pemda /
Pemerintah Provinsi 0,00 0,00 0,00% 5,00 2,21 44,20%
Dana Desa 574,95 4,68 0,81% 576,44 7,67 1,33%
Lain-lain Pendapatan Daerah
yang Sah 164,56 0,24 0,15% 188,74 2,78 1,47%
Hibah 161,83 0,00 0,00% 19,94 2,78 13,93%
Lain-lain 2,73 0,24 8,92% 168,81 0,00 0,00%
BELANJA DANA TRANSFER 8.676,29 794,58 9,16% 7.698,99 891,77 11,58%
Belanja Operasi 5.767,68 707,62 12,27% 5.197,56 760,22 14,63%
Belanja Pegawai 3.027,43 481,67 15,91% 2.752,30 665,40 24,18% Belanja Barang dan Jasa 2.167,09 154,67 7,14% 1.997,62 78,32 3,92% Belanja Bunga 18,48 10,70 57,89% 16,22 7,18 44,28% Belanja Hibah 548,26 60,39 11,02% 422,17 9,32 2,21% Belanja Bantuan Sosial 6,42 0,18 2,80% 9,26 0,00 0,00%
Belanja Modal 1.732,66 42,01 2,42% 1.376,42 35,07 2,55%
Belanja tidak terduga 15,02 4,41 29,36% 40,33 4,15 10,29%
Transfer 1.160,93 40,54 3,49% 1.084,68 92,33 8,51%
Transfer Dana Desa 574,95 4,68 0,81% 0,00 0,00 0,00% Transfer Bantuan Keuangan ke
Pemerintah Daerah/Desa (ADD) 423,30 2,16 0,51% 917,18 62,13 6,77% Transfer Bagi Hasil Pajak 162,68 33,70 20,72% 167,50 30,20 18,03%
Surplus/(Defisit) -60,83 732,72 41,00 1.058,36
Sumber: BPKAD, http://sikd.djpk.kemenkeu.go.id, SIMTRADA (diolah)
Realisasi pendapatan APBD Sulbar sampai dengan triwulan I tahun 2021 secara kumulatif sebesar Rp1,95 triliun, naik sebesar Rp422,83 miliar atau 27,68%
(yoy). Realisasi belanja dan transfer daerah juga naik sebesar Rp97,19 miliar atau
12,23% (yoy). Namun terdapat idle cash yang tinggi sebesar Rp1,06 triliun hingga akhir triwulan ini. Hal tersebut terjadi karena pendapatan APBD sudah terealisasi tinggi akibat percepatan penyaluran Transfer Ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) namun belum diikuti dengan akselerasi belanja APBD yang optimal.
A. PENDAPATAN DAERAH 1. Pendapatan Asli Daerah
Realisasi pendapatan asli daerah (PAD) se-Sulbar sampai dengan triwulan ini sebesar Rp29,42 miliar, turun 64,48% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Penurunan terjadi pada semua komponen PAD, secara yoy, pajak daerah turun 73,90%, retribusi daerah turun 30,95%, dan lain-lain PAD yang sah turun 15,91%.
a. Penerimaan Pajak Daerah
Realisasi penerimaan pajak daerah lingkup Sulbar sebesar Rp17,60 miliar, turun Rp49,81 miliar (yoy). Penurunan terjadi hampir pada semua komponen pajak daerah kecuali pajak penerangan jalan yang naik 21,09%, pajak mineral bukan logam dan batuan naik sebesar Rp886,68 juta, pajak reklame naik 20,36%, dan pajak sarang burung walet naik Rp12,10 juta (yoy). Pajak penerangan jalan menjadi sumber penerimaan pajak daerah terbesar pada triwulan ini dengan realisasi sebesar Rp11,18 miliar. Penyumbang terbesar pajak penerangan jalan dari Pemda Mamuju sebesar Rp5,76 miliar.
Sementara itu penerimaan pajak di Pemprov Sulbar pada triwulan I bersumber dari pajak kendaraan bermotor (PKB) dan pajak bea balik nama kendaraan bermotor (BBNKB) masing-masing sebesar Rp273,60 juta dan Rp22,20 juta.
b. Penerimaan Retribusi Daerah
Realisasi penerimaan retribusi daerah se-Sulbar pada triwulan ini sebesar Rp5,25 miliar, turun Rp2,53 miliar (yoy). Retribusi terbesar
Grafik 3.1 Realisasi Penerimaan Pajak Daerah se-Sulbar s.d. Triwulan I 2021
PERKEMBANGAN & ANALISIS PELAKSANAAN APBD
BAB III
bersumber dari retribusi pelayanan kesehatan sebesar Rp4,32 miliar dan menjadi satu-satunya sumber retribusi yang tumbuh positif sebesar 2,85% (yoy).
c. Penerimaan Hasil Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan (HKDYD)
Realisasi penerimaan hasil kekayaan daerah yang dipisahkan Pada triwulan ini di Sulbar masih nihil. Hal ini terjadi hampir setiap tahun dimana realisasi penerimaan hasil kekayaan negara yang dipisahkan masih nihil pada triwulan I dan mulai ada realisasi pada triwulan II. Penerimaan ini bersumber dari realisasi pembagian laba atas penyertaan modal pemda pada PMD/BUMD, BUMN, dan Swasta. Diperkirakan pembagian laba PMD/BUMD di Sulbar akan terealisasi pada triwulan II tahun 2021 berkisar 70-80 persen dari target penerimaan.
2. Pendapatan Transfer
Realisasi pendapatan transfer dan Dana Desa di Sulbar pada triwulan ini sebesar Rp1,92 triliun, naik 32,80% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan realisasi terjadi karena adanya percepatan penyaluran TKDD untuk pencegahan dan/atau penanganan pandemi Covid-19. Realisasi DAU se-Sulbar sebesar Rp1,73 triliun, naik 28,80% (yoy). Realisasi Dana Bagi Hasil (DBH) juga mengalami kenaikan sebesar Rp26,38 miliar (yoy). Hal ini terjadi karena terjadi kenaikan di hampir setiap komponen DBH, selain itu mulai adanya realisasi pada DBH PBB Bagian Daerah untuk Provinsi, DBH PBB Biaya Pemungutan untuk Provinsi, DBH PBB Bagi Rata, dan DBH SDA Kehutanan - Dana Reboisasi yang pada triwulan I 2020 nihil.
Grafik 3.2 Realisasi Penerimaan Retribusi Daerah se-Sulbar s.d. Triwulan I 2021
Realisasi DAK Fisik triwulan ini se-Sulbar sebesar Rp25,19 miliar, angka ini lebih besar dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar Rp13,12 miliar. Namun secara persentase masih kecil, hanya sebesar 2,86% dari pagu. Berdasarkan LRA, pemda yang sudah menyalurkan DAK Fisik pada triwulan ini yaitu Pemda Provinsi Sulbar sebesar Rp9,46 miliar, Pemda Pasangkayu sebesar Rp15,63 miliar, dan Pemda Mamuju Tengah sebesar Rp95,6 juta. Pemda diharapkan dapat
berkoordinasi dengan OPD dan APIP untuk mempercepat penyaluran DAK Fisik.
Dana Desa tahun 2021 digunakan untuk BLT Desa, penanganan Covid-19 (minimal 8% pagu), dan penggunaan lainnya (Dana Desa Reguler). Berdasarkan data pada realisasi APBD, total realisasi penyaluran Dana Desa yang tercatat sebesar Rp7,67 miliar, angka tersebut berasal dari Pemda Pasangkayu. Namun pada OMSPAN, realisasi penyaluran Dana Desa triwulan ini sebesar Rp41,05 miliar yang terdiri dari Rp353,40 juta untuk BLT Desa, Rp37,59 miliar untuk penanganan Covid-19, dan sisanya Rp3,11 miliar untuk Dana Desa Reguler. Pemda agar mencatatkan penerimaan Dana Desa pada LRA, karena masih terdapat selisih dengan realisasi pada OMSPAN.
Realisasi penyaluran DAK Non Fisik pada triwulan ini yang tercatat di APBD se-Sulbar sebesar Rp93,76 miliar. Namun pada SIMTRADA realisasi agregat DAK Non Fisik Lingkup Sulbar sebesar Rp190,76 miliar. Selisih tersebut salah satunya terjadi karena belum dicatatnya realisasi penyaluran Dana BOS sebesar Rp77,69 miliar.
Grafik 3.3 Realisasi Penerimaan Pendapatan Transfer se-Sulbar s.d. Triwulan I 2021
PERKEMBANGAN & ANALISIS PELAKSANAAN APBD
BAB III
3. Penerimaan Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah
Realisasi penerimaan Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah sampai dengan triwulan ini sebesar Rp2,77 miliar, berasal dari Hibah dan jauh lebih besar dibandingkan dengan tahun lalu karena realisasi penerimaan hibah tahun lalu masih nihil.
C. BELANJA DAERAH
Belanja dan transfer agregat lingkup Provinsi Sulbar triwulan ini terealisasi sebesar Rp891,77 miliar atau 11,58% pagu. Namun persentase realisasi tersebut masih di bawah target sebesar 25%. Pemda diharapkan dapat mempercepat belanja produktif sehingga idle cash di kas pemda tidak tinggi.
1. Belanja Pegawai, Belanja Barang, dan Belanja Modal
Belanja pegawai lingkup Sulbar pada triwulan I terealisasi sebesar 24,18%, namun belanja barang dan jasa serta belanja modal realisasinya masih di bawah 10%. Belanja barang dan jasa dengan tiga realisasi terbesar pada triwulan ini yaitu belanja jasa kantor (Rp27,14 miliar), belanja bahan pakai habis (Rp20,89 miliar), dan belanja perjalanan dinas (Rp11,28 miliar). Belanja perjalanan dinas turun sebesar 70,21% (yoy). Sementara itu realisasi pada belanja modal agregat se-Sulbar triwulan ini turun 16,53% (yoy). Penurunan terjadi pada semua komponen belanja modal. Dua belanja modal tertinggi pada triwulan ini yaitu belanja modal jalan, irigasi dan jaringan (Rp16,74 miliar) dan belanja modal gedung dan bangunan (Rp16,46 miliar).
Grafik 3.4 Pagu dan Realisasi Per Jenis Belanja se-Sulbar s.d. Triwulan I 2021 (Miliar Rupiah)
2. Belanja Daerah Berdasarkan Klasifikasi Urusan
Data yang digunakan pada belanja berdasarkan klasifikasi urusan berasal dari lima pemda yaitu Pemda Mamuju, Mamuju Tengah, Pasangkayu, Mamasa, dan Polewali Mandar. Data dari Pemda Provinsi Sulbar dan Pemda Majene belum tersedia. Realisasi belanja tertinggi terdapat pada urusan pendidikan sebesar Rp137,85 miliar atau 15,46% dari total realisasi belanja dan transfer pada triwulan ini. Pada urutan kelima belanja terbesar yaitu belanja urusan pekerjaan umum dan penataan ruang sebesar Rp24,72 miliar. D. PROGNOSIS REALISASI APBD SAMPAI DENGAN AKHIR TAHUN 2021
Berdasarkan tren realisasi pendapatan APBD Sulbar enam tahun terakhir (2015-2020), diproyeksikan bahwa sampai akhir tahun 2021 pendapatan APBD Sulbar sebesar Rp7,50 triliun atau 96,95% dari pagu. Di sisi lain, realisasi belanja hingga akhir tahun diproyeksikan mencapai 94,02% dari pagu belanja. Namun demikian perhitungan prognosis ini dilakukan dengan mengasumsikan bahwa pagu tidak berubah dan belum melibatkan faktor eksternal seperti adanya pandemik COVID-19.
Tabel 3.2 Perkiraan Realisasi APBD Lingkup Provinsi Sulawesi Barat Sampai Dengan Triwulan IV Tahun 2021 (Miliar Rupiah)
Uraian Pagu
Realisasi Perkiraan Realisasi s.d.Triwulan I s.d.Triwulan IV Rp % Realisasi Terhadap Pagu Rp % Perkiraan Realisasi Terhadap Pagu Pendapatan Daerah 7.740 1.950 25,20% 7.504 96,95% Belanja Daerah 7.699 892 11,58% 7.239 94,02% Surplus/Defisit 41 1.058 265
Grafik 3.4 Realisasi dan Proporsi Lima Belanja Klasifikasi Urusan Tertinggi se-Sulbar s.d. Triwulan I 2021 (Miliar Rupiah)
PERKEMBANGAN & ANALISIS KONSOLIDASIAN APBN & APBD
BAB IV
BAB IV
LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH KONSOLIDASIAN
A. LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH KONSOLIDASIANTabel 4.1Laporan Realisasi Anggaran Konsolidasian Tingkat Wilayah Provinsi Sulbar s.d. Triwulan I Tahun 2021 (dalam Rp. miliar)
Uraian Triwulan I 2021 Triwulan I 2020
Pusat Daerah Konsolidasi Kenaikan Konsolidasi
Pendapatan Negara 154,35 1.921,62 704,05 284,94% 182,90
Pendapatan Perpajakan 131,08 17,60 148,68 -5,46% 157,27
Pendapatan Bukan Pajak 23,27 11,82 35,09 36,94% 25,63
Hibah 0,00 2,78 2,78 100% 0,00 Transfer 0,00 1.889,42 517,50 100% 0,00 Belanja Negara 2.051,38 861,62 1.541,08 30,62% 1.179,83 Belanja Pemerintah 679,46 799,44 1.478,90 26,30% 1.170,94 Transfer 1.371,92 62,18 62,18 599,17% 8,89 Surplus/(Defisit) -1.897,03 1.060,00 -837,03 -16,04% -896,93 Pembiayaan 0,00 -23,11 23,11 91,71% -12,06
Penerimaan Pembiayaan Daerah 0,00 0,00 0,00 0,00% 0,00
Pengeluaran Pembiayaan Daerah 0,00 23,11 23,11 91,71% 12,06
Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran -1.897,03 1.036.89 -860,14 -14,75% -1.008,99
Sumber: LKPK dan LRA Kanwil DJPb Sulbar Triwulan I 2021. 1. Pendapatan Konsolidasian
a. Analisis Proporsi dan Perbandingan
Pada triwulan I tahun 2021, pendapatan perpajakan mendominasi sumber pendapatan konsolidasian sebesar 80%, lebih detail pendapatan pajak pusat menjadi penyumbang terbesar daripada pajak
daerah, paling banyak dari
penerimaan perpajakan
pusat adalah dari PPh 21 sebesar Rp22 M kemudian dari PPh Final Rp15,8 M. Pendapatan Bukan Pajak
(PNBP) menjadi
pendapatan konsolidasian terbesar kedua, dengan
Daerah Pusat
lebih detail pada PNBP pusat paling banyak adalah dari pendapatan biaya pendidikan sebesar Rp 13 M lalu disusul pendapatan atas uang ganti tindak pidana korupsi Rp1,8 M lebih besar daripada Pendapatan BPKB Rp1,2 M sedangkan dari sisi pemda PNBP paling banyak adalah dari Pendapatan hibah hanya disumbang dari APBD dengan proporsi 1% dari keseluruhan pendapatan konsolidasian, lebih detail pendapatan hibah tersebut berasal dari hibab pemda lainnya sebesar Rp2 M dan Rp0,7 M dari lembaga swasta dan kelompok masyarakat yang ditujukan untuk bantuan atas bencana alam gempa bumi pada Januari 2021 lalu.
b. Analisis Perubahan
Pada triwulan I tahun 2021, agregat pendapatan pusat mengalami penurunan sebesar 4% dibandingkan triwulan I tahun 2020 sedangkan untuk daerah mengalami kenaikan 4%. Jika dilihat lebih detail ke akun-akun pendapatan, maka terlihat bahwa yang mengalami kenaikan adalah PNBP sebesar Rp9,46 M dan Hibab sebesar Rp2,78 M. Kenaikan hibah ini seluruhnya dari APBD yang bersumber dari sumbangan lembaga,swasta, dan kelompok masyarakat. Pendapatan Transfer konsolidasian sebesar Rp517,5 M tersebut merupakan sisa saldo setelah eliminasi akun transfer pusat ke daerah, sisa saldo tersebut adalah saldo bulan April yang oleh beberapa pemkab di Sulbar diakui di Mei 2021.
c. Analisis Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Kenaikan Realisasi Pendapatan Konsolidasian
Rasio Pendapatan Pajak Konsolidasian terhadap PDRB (ADHB) Sulbar pada triwulan I tahun 2021 terhitung sebesar 1,30%, jika dilihat dari struktur PDRB, maka sektor
Grafik 4.2 Perubahan Pendapatan Konsolidasian dalam miliar ruppiah.
PERKEMBANGAN & ANALISIS KONSOLIDASIAN APBN & APBD
BAB IV
periodenya, hal ini perlu menjadi perhatian otoritas perpajakan untuk melakukan tinjauan potensi perpajakan pada sektor tersebut, mengingat Sulbar adalah salah satu penghasil CPO terbesar di Indonesia.
Kemudiian Rasio total pendapatan konsolidasian terhadap PDRB adalah sebesar 1,60%.Selisih 0,3% dari Rasio Pajak terhadap PDRB, hal ini mencerminkan bahwa memang potensi PNBP lebih
kecil jika dibandingkan dengan potensi perpajakan berdasarkan perbandingan
rasio tersebut. Dengan
demikian maka diperlukan usaha yang lebih ekstra untuk melakukan tinjauan potensi perpajakan pada
sektor pertanian dan
perkebunan yang menjadi dominasi PDRB Sulbar. 2. Belanja Konsolidasian
a. Analisis Proporsi dan Perbandingan
Porsi belanja konsolidasian terbesar paling banyak adalah belanja pegawai dari APBD dengan nilai sebesar Rp 665,40 M, kemudian Belanja Modal dari Pusat sebesar Rp 324,05 M, belanja modal dari pusat ini mengalami kenaikan yang cukup besar karena adanya bencana gempa bumi cukup membuat infrastruktur pemerintah mengalami
Grafik 4.3 Perubahan Pendapatan Konsolidasian dalam miliar ruppiah.
Uraian Realisasi dalam Rpmiliar Pend. Pajak Konsolidasian 148,68 PNBP Konsolidasian 35,09
Total 183,77
PDRB (ADHB) c to c 11.467,19
Rasio Pajak 1,30%
Rasio Pend. Konsolidasian pada PDRB 1,60%
Sumber: LKPK Kanwil Sulbar Tw I 2021 (diolah)
Grafik 4.4 Perubahan Pendapatan Konsolidasian dalam miliar ruppiah.
Grafik 4.5 Perubahan Belanja Konsolidasian dalam miliar ruppiah.
Sumber: LKPK Kanwil Sulbar Tw I 2021 (diolah)
Modal dari sisi APBD, terlihat hanya 9,8% saja porsi belanja modal dari sisi APBD sehingga perlu adanya kekompakan dari sisi pemerintah daerah untuk fokus pada perbaikan infrastruktur.
b. Analisis Perubahan
Pada triwulan I tahun 2021 terlihat bahwa terjadi kenaikan pada Belanja Pegawai sebesar Rp 162,62 M dan Belanja Modal sebesar Rp 268,1 M. Belanja Transfer dari Pusat yang menjadi Pendapatan Transfer daerah juga mengalami kenaikan, lebih detail paling banyak adalah Transfer untuk Dana Alokasi Umum. Perlu menjadi perhatian oleh pemerintah daerah adalah masih kecilnya alokasi Belanja Modal dari APBD yang hanya sebesar Rp 35 M jika dibandingkan dengan Belanja Modal dari APBN sebesar Rp 324 M mengingat pentingnya pembangunan infrastruktur bagi perkembangan ekonomi regional maka perlu untuk memberikan ruang yang lebih besar bagi Belanja Modal.
c. Analisis Dampak Kebijakan Fiskal Terhadap Indikator Ekonomi Regional
Pertumbuhan ekonomi masih minus 1,20% pada triwulan I tahun 2021 ini
nampaknya masih perlu untuk
mendapatkan perhatian oleh
pemerintah daerah. Jika dilihat dari rasio belanja konsolidasian terhadap
PDRB yang sebesar 13,44%
Grafik 4.6 Dampak Belanja Konsolidasian terhadap Indikator Makro Ekonomi Regional.
Uraian 2021Triwulan I
Belanja Konsolidasian (RHS) 1.541,08 Pertumbuhan ekonomi c to c -1,20%
Inflasi ytd 2,70%
TPT 3,28%
PERKEMBANGAN & ANALISIS KONSOLIDASIAN APBN & APBD
BAB IV
indikator makro lain terdorong ke arah yang lebih baik, seperti nilai TPT yang berada di bawah target RKPD 2021 dan inflasi yang mulai terkendali jika dibandingkan awal tahun.
d. Analisis Kontribusi Pemerintah terhadap PDRB
Berdasarkan data dari laporan
Government Finance Statistic (GFS) Kanwil DJPb Sulbar,
Pengeluaran atas konsumsi
pemerintah Sulbar adalah
sebesar Rp 666,10 M
berkontribusi terhadap PDRB
sebesar 5,81%. Konsumsi
pemerintah paling banyak adalah
dari Kompensasi Pegawai
dengan nilai sebesar Rp854,01 M disusul oleh penggunaan
barang dan jasa sebesar
Rp200,63 M. Investasi
pemerintah tercatat dari data
GFS sebesar Rp359,11 M
dengan dominasi transaksi atas akuisisi aset tetap senilai Rp357,64 M kemudian disusul oleh transaksi atas aset non produksi senilai Rp1,48 M. Kontribusi atas Investasi pemerintah terhadap PDRB sebesar 3,12% lebih kecil jika dibandingkan dengan kontribusi konsumsi pemerintah terhadap PDRB, selisih 2,69%. Pemerintah daerah dan pusat perlu untuk bersinergi dalam melakukan kontribusinya terhadap perekonomian regional. Pemerintah perlu untuk memilih prioritas antara meningkatkan konsumsi pemerintah atau investasi, mengingat saat ini kondisi infrastruktur di Sulbar sedang mengalami kerusakan akibat gempa bumi. Di sisi lain, pandemi Covid-19 sedang berlangsung sehingga perlu untuk memberikan stimulus seperti belanja sosial untuk menangani dampak ekonomi dari pandemi tersebut. Ancaman gelombang kedua Covid-19 juga perlu menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah untuk menyiapkan segala skenario kebijakan fiskal agar dapat mencegah kontraksi ekonomi yang makin dalam.
Grafik 4.7 Kontribusi Konsumsi dan Investasi Pemerintah terhadap PDRB Sulbar.(Rp Miliar)
PDRB (ADHB) Sulbar s.d. Triwulan II 2020 11.467,19
Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 666,10
a. Kompensasi Pegawai 854,01
b. Penggunaan barang dan jasa 200,63
c. Konsumsi aset tetap 0,00
d. Bunga 7,18
e. Subsidi 0,00
f. Hibah -453,69
g. Manfaat sosial 0,00
h. Beban lainnya 57,97
Transaksi Aset Non Keuangan Neto 359,11
a. Aset tetap 357,64
b. Persediaan 0,00
c. Barang berharga 0,00
d. Aset non produksi 1,48
Kontribusi Konsumsi Pemerintah terhadap PDRB 5,81%
Kontribusi Investasi Pemerintah terhadap PDRB 3,12%
BERITA DAN ISU REGIONAL TERPILIH
A. PENDAHULUANBelum lepas dari wabah Covid-19, Sulawesi Barat harus menghadapi bencana gempa bumi dengan magnitudo 6,2 SR yang terjadi pada tanggal 15 Januari 2021. Sehari sebelumnya gempa dengan kekuatan 5,9 SR telah mengguncang Sulawesi Barat pada pukul 13.35 WITA. Daerah terdampak paling parah berada di Kecamatan Malunda dan Kabupaten Mamuju. Akibat gempa tersebut sebanyak 105 orang meninggal dunia, kerusakan pada gedung-gedung pemerintah serta rumah penduduk (merdeka.com, 2021). BNPB mencatat total kerugian gempa bumi tersebut per 26 Januari 2021 mencapai Rp829,1 miliar.
Tabel 5.1 Total Kerugian Gempa Sulawesi Barat per 26 Januari 2021
Sektor Jumlah (juta rupiah)
Kabupaten Majene
Total kerusakan Rp449,8 miliar
Permukiman 365.300 Sosial 76.900 Ekonomi 5.130 Lintas sektor 2.200 Infrastruktur 270 Kabupaten Mamuju
Total Kerusakan Rp379,3 miliar
Permukiman 270.200 Sosial 17.400 Ekonomi 50.400 Lintas sektor 39.900 Infrastruktur 1.400 Sumber: sulbar.bpk.go.id
Berdasarkan data tersebut, kerugian paling besar yang diakibatkan oleh gempa adalah permukiman penduduk. Hal tersebut menyebabkan sebanyak 27.850 orang mengungsi di beberapa titik pengungsian (bnpb.go.id, 2021). Selain itu, dampak lain yang muncul pasca gempa adalah munculnya trauma pada kondisi psikologis masyarakat dan terganggunya aktivitas perekonomian yang tentunya akan membawa dampak keseluruhan
BAB V
BERITA & ISU REGIONAL TERPILIH
B. KONDISI PEREKONOMIAN PASCA GEMPAPada bulan Januari hingga Februari 2021, Sulawesi Barat mengalami angka inflasi yang cukup tinggi, yaitu masing-masing sebesar 1,43% dan 1,12%. Angka inflasi tersebut merupakan angka tertinggi inflasi dari seluruh provinsi di Indonesia. Jika dilihat dari penyumbang terbesar angka inflasi tersebut adalah makanan, minuman, dan tembakau. Keadaan tersebut tentunya sangat wajar sebagai konsekuensi dari dampak gempa sehingga masyarakat akan menunda pengeluaran untuk makan minum di luar.
Berdasarkan rilis data BPS tanggal 5 Mei 2021, ekonomi Sulawesi Barat masih mengalami kontraksi sebesar 1,20% (yoy) dan 2,73% (qtoq). Pada tingkat nasional, pertumbuhan ekonomi mencatat kontraksi sebesar 0,74% (yoy) dan 0,96% (qtoq).
Grafik 5.1 Laju Pertumbuhan Ekonomi Quarter to Quarter dan Year on Year
Sumber: BPS Indonesia dan BPS Provinsi Sulawesi Barat (diolah)
Dari data tersebut dapat terlihat bahwa pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat masih di bawah angka pertumbuhan ekonomi nasional, baik secara year on year maupun quarter to
triwulan I tahun sebelumnya maka memang terlihat perbedaan yang sangat jauh. Salah satu faktor penyebabnya adalah pada periode yang sama tahun sebelumnya belum ada pandemi Covid-19. Jika dilihat dari kategori lapangan usaha, tiga kategori dengan andil terbesar penyebab kontraksi adalah jasa pendidikan (-0,68%), pertanian, kehutanan, dan perikanan (-0,66%), dan konstruksi (-0,50%). Sebenarnya lapangan usaha administrasi pemerintahan secara year on year mampu tumbuh secara positif, sebesar 1,14%, hanya tidak mampu mengimbangi akumulasi kategori lainnya yang mengalami kontraksi.
Lebih jauh lagi, dari sisi PDRB pengeluaran, kontraksi 1,20% (yoy) disebabkan oleh hampir semua komponen pengeluaran, kecuali dua komponen lainnya, yaitu Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PKP) dan Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang melayani Rumah Tangga (PKLNPRT), masing-masing sebesar 22,19% dan 8,58%. Angka PKLNPRT bisa tumbuh secara signifikan karena setelah terjadinya bencana gempa bumi, banyak lembaga nonprofit memberikan bantuan kepada masyarakat. Selain PKLNPRT, PKP juga mampu tumbuh dengan pesat. Hal ini tentunya merupakan indikator yang baik dalam penyaluran APBN pasca gempa. Memang jika dilihat dari kerusakan gedung-gedung pemerintahan dapat mengakibatkan terhambatnya operasional pemerintahan serta layanan kepada masyarakat. Namun, dengan langkah yang cepat dan tepat, kondisi tersebut dapat pulih dengan segera, sehingga penyaluran APBN dapat berjalan dengan lancar.
C. PENYALURAN APBN PASCA GEMPA
Dalam upaya percepatan
pemulihan kondisi Sulawesi Barat
setelah gempa, pemerintah
menetapkan beberapa prioritas
layanan yang berdampak
langsung kepada pemulihan
kondisi pasca gempa, salah
satunya adalah layanan yang terkait dengan penyaluran dana
APBN. KPPN Mamuju sebagai
BAB V
BERITA & ISU REGIONAL TERPILIH
berkantor di Gedung Keuangan Negara Mamuju mengalami kerusakan cukup parah, KPPN Mamuju berkantor sementara di Makassar selama kurang lebih satu bulan. Meskipun demikian, dapat terlihat pada grafik 5.2 bahwa penyaluran belanja pemerintah selama bulan Januari hingga Maret 2021 tetap dapat berjalan dengan baik, bahkan melebihi realisasi pada tahun sebelumnya.
Grafik 5.3 Persentase Realisasi Per Jenis Belanja Triwlan I Tahun 2020 & 2021 (Tidak Akumulasi)
Sumber: OMSPAN (diolah)
Berdasarkan grafik di atas, pada bulan Januari 2021 belanja modal telah terealisasi sebesar 15,85%. Angka tersebut jauh melebihi realisasi pada periode yang sama pada
awal tahun tentu merupakan hal yang sangat baik dan menunjukkan adanya perubahan ke arah yang lebih baik dalam mekanisme pengadaan oleh kementerian terkait, mengingat proses untuk merealisasikan belanja modal perlu melalui beberapa tahapan yang cukup memakan waktu. Selain itu, realisasi yang cukup cepat juga ditunjukkan pada belanja transfer. Pada bulan Maret 2021 telah terealisasi secara akumulasi belanja transfer dengan capaian 8,12%.
Sebagaimana kita ketahui bahwa pemerintah telah berupaya sedemikian rupa supaya realisasi belanja pemerintah dapat dilakukan di periode awal tahun, sehingga pola belanja pemerintah yang menumpuk di kuartal tiga dan empat dapat dihindari. Demi mewujudkan hal tersebut, tentu perlu adanya usaha dari kementerian terkait sebagai pengguna anggaran untuk mengubah pola kerjanya supaya bisa sejalan dengan upaya yang telah dilakukan oleh Kementerian Keuangan.
Berdasarkan penjelasan di atas, ada beberapa hal yang mendukung terwujudnya penyaluran APBN dapat dilakukan dengan baik, antara lain:
1. Akses komunikasi dan internet pulih dengan cepat pada daerah terdampak gempa. 2. Adaptasi kebiasaan yang baru, salah satunya adalah work from home (WFH). WFH
yang merupakan kebijakan baru dalam menghadapi pandemi Covid-19 membawa hikmah tersendiri dalam penyaluran dana APBN pasca gempa. Para pegawai di lingkup Ditjen Perbendaharaan telah terbiasa menjalankan tugasnya tanpa harus hadir di kantor secara fisik.
3. Kesiapan dukungan teknologi informasi dalam pelaksanaan tugas di Ditjen Perbendaharaan. Hal tersebut memberi kemudahan bagi para pegawai melakukan tugasnya di mana pun berada.
29
LAMPIRAN
1. Nilai Tukar Petani dan Nelayan Sulbar31
DAFTAR PUSTAKA
Udin, Ahmad. 2021. “Korban Meninggal Akibat Gempa di Sulbar Mencapai 105 Orang”.
Merdeka.com, 27 Januari 2021 8.28 WIB. Tersedia darihttps://www.merdeka.com/
peristiwa/korban-meninggal-akibat-gempa-di-sulbar-mencapai-105-orang.html[diakses pada 3 Mei 2021].
Badan Nasional Penanggulangan Bencana. 2021. “[Update] - Sebanyak 73 Orang Meninggal Akibat Gempa M6,2 di Sulawesi Barat”, 17 Januari 2021 16.24 WIB. Tersedia dari https://bnpb.go.id/berita/-update-sebanyak-73-orang-meninggal-akibat-gempa-m6-2-di-sulawesi-barat[diakses pada 4 Mei 2021]
Badan Pemeriksa Keuangan Sulawesi Barat. 2021. Tersedia dari