Sosialisme Ekonomi: Karl Marx dan Karl Polanyi dalam Perbandingan

36 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Sosialisme Ekonomi

Karl Marx dan Karl Polanyi dalam Perbandingan

Benyamin Molan

Abstraksi. Berbagai krisis yang melanda ekonomi pasar membuat cita-cita ekono-mi yang sejati, yakni membangun kesejahteraan bersama, semakin jauh panggang dari api. Kegagalan ekonomi dalam melahirkan kesejahteraan dan kebaikan bersama telah mendorong kita untuk mencari jalan keluar yang lain. Pemikiran Karl Polanyi dan para tokoh gerakan sosialisme ekonomi terkemuka lainnya menjadi bagian dari pilih-an. Tulisan ini secara khusus mau mendalami konsep Karl Marx sebagai salah satu tokoh sosialis terkemuka, dalam rangka memahami lebih jelas konsep dan pemikiran Karl Polanyi. Pendekatan Marx yang ideologis dan teknis serta kontekstual terhadap masalah ini, sebenarnya masih berkecimpung dalam koridor ekonomi pasar yang jus-tru menjadi sumber masalah. Sebaliknya Polanyi ingin melakukan satu gerakan yang menyeluruh dengan menyoroti akar ketercerabutan ekonomi dari realitas sosial. Kata Kunci : Sosialisme-ekonomi, kesejahteraan-bersama, komoditas fiktif,

feti-sisme, ideologi kontekstual, ekonomi-pasar, ketercerabutan

Abstract. Many crises hit the market-economy. They have made the original economic ideals in promoting common good, more and more unreachable. The failure of market-economy in promoting the common good has encouraged us to find another way out accord-ingly. Karl Polanyi and the other figures who lead economic socialism movement should be part of our focus. This paper specifically explores the concept of Karl Marx as one of the leading socialist figure, in order to understand more clearly the concept and the thought of Karl Polanyi. Marx’s ideological, technical, and contextual approach to this problem, was actually locked in the corridor of the market-economy itself. In his way, Polanyi wanted to suggest a more comprehensive movement. Viewing the economy was uprooted from social relation (dissembedded–economy) he then suggested the embedded economy for solving the market-economy’s problems.

Key Words : Economic socialism, common-good, fictitious commodity, fetishism, con-textual ideology, market-economy, disembeddedness.

(2)

1. Pendahuluan

Pembicaraan tentang Karl Polanyi, rasanya belum tuntas kalau belum menyinggung Karl Marx, bukan hanya karena sosialisme ekonomi adalah ka-pling yang “dianggap garapannya” Karl Marx, tetapi juga karena Polanyi banyak dipengaruhi oleh, atau sekurang-kurangnya mendapatkan banyak inspirasi dari pemikiran Karl Marx. Karl Marx berada di garda paling depan untuk menentang kapitalisme. Polanyi mendapat perhatian setelah Marxisme mulai redup, semen-tara kapitalisme yang semakin berkibar, ternyata tak putus membawa krisis.

Marx dan Polanyi termasuk dalam gelombang pemikir sosialisme eko-nomi yang berpengaruh. Gerakan sosialisme ekoeko-nomi muncul ketika pasar yang menjadi andalan kapitalisme, mulai bergerak liar dan meninggalkan kon-sep ekonomi sebagai kegiatan mencapai kebaikan bersama. Masyarakat ter-belah dan terpola menjadi kelompok kapitalis dan buruh, lalu menjadi borjuis dan proletar. Ekonomi bertumbuh, tetapi kesejahteraan bersama tidak ikut ber tumbuh.

Pada dasarnya ekonomi adalah bagian dari tindakan manusia untuk men-capai kesejahteraan bersama. Karena itu ekonomi masuk dalam bagian perilaku manusia yang diatur dalam etika atau filsafat moral.1 Dengan kata lain, konsep

dasar ekonomi sesungguhnya merupakan sarana untuk mencapai ke sejahteraan bersama. Ini cukup terlihat dengan jelas dalam perkembangan se jarah ekonomi sendiri. Misalnya, merkantilis muncul dengan konsep bahwa perdagangan akan membawa kesejahteraan bersama. Demikian halnya kelompok fisiokrat dengan konsep pertanian sudah mulai mengusung konsep bagaimana menumbuhkan ekonomi. Ada semacam keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi akan mem-bawa kesejahteraan bersama. Lalu muncul ekonomi pasar yang juga

(3)

diharap-kan bisa mewujuddiharap-kan keyakinan ini. Pada tataran ini harus dikatadiharap-kan bahwa pemikiran ekonomi pasar Adam Smith masih dalam konteks ekonomi sosial ini. Tetapi ekonomi pasar mulai bergerak untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan tercapai, tetapi muncul masalah baru, yakni ketidak-merataan.

Di sinilah ekonomi mulai meninggalkan akarnya. Dan sejak saat itu ge rakan-gerakan sosialisme ekonomi mulai bermunculan. Tokoh-tokoh se-perti Lord Luderdale (1759-1830), Adam Müller (1779 –1829), Saint Simon

(1760-1825), dan J. C. L. Simonde de Sismondi (1773-1842), Bastiat, Frédéric (1801-1850), Henry Charles (1793-1879) memprakarsai gerakan itu. Mereka terutama mengeritik konsep laissez-faire dalam bisnis. Menurut mereka tujuan untuk mencapai kesejahteraan bersama harus bersentuhan langsung dengan martabat manusia. Artinya pencapaian tujuan-tujuan ekonomi tidak boleh di-lakukan dengan mengorbankan martabat manusia.

Di kemudian hari Karl Marx memperjuangkan kesejahteraan para buruh. Dia melihat nasib buruh sebagai masalah paling urgen yang harus di-bereskan. Maka dia pun berkonfrontasi langsung dengan kaum kapitalis, dan menuntut perlakuan yang adil terhadap kaum buruh. Dengan teori surplus-val-ue, Marx menunjukkan bahwa laba dalam sistem kapitalis adalah perampokan dan penjarahan hak buruh. Apa yang dihasilkan sebagai laba bukan hasil dari modal, melainkan dari tenaga buruh yang dirampas oleh kaum kapitalis.

Marx mengkritik sistem kapitalisme sebagai sistem yang mengalie-nasi manusia dan karyanya. Hasil karya seseorang tidak lagi menjadi miliknya melainkan milik pemilik modal yang membiayai dia untuk mengerjakannya. Dengan teori tentang materialisme sejarah Marx berkeyakinan bahwa sistem

(4)

kapitalis akan termakan oleh perkembangan sejarah, dan sejarah akan mela-hirkan revolusi yang menghancurkan kapitalisme dan akan terlahir masyarakat tanpa kelas, tanpa negara. Dengan teorinya mengenai akumulasi modal, dia pun meramalkan bahwa dalam kapitalisme, modal akan perlahan-lahan teraku-mulasi pada pemilik modal tertentu akibat persaingan, maka akan tiba saatnya produksi berhenti dan akan terjadi revolusi, saat sistem kapitalisme mandek dan tidak bisa lagi berjalan.

Dalam perkembangan selanjutnya Marxisme meredup dan kapitalisme semakin berkibar dengan pasar swatata di bawah bayang-bayang neoliberal-isme. Tetapi kenyataan yang tak bisa dipungkiri juga bahwa kapitalisme diterpa berbagai krisis dan masalah. Pada 1637 ada krisis ”Tulip Mania” di Belanda, ”Mississippi Bubble” 1719-1720 di Perancis, ”South Sea’s Fantasy” 1720 di In-ggris, 1792 di AS. Krisis ini terus berulang di banyak tempat. Dekade 1820 di Amerika Latin, 1837 di AS, 1840 di Inggris, 1893 di AS, 1907 di AS, dan 1920 di AS. Pada 1929”the Great Depression” menghempaskan banyak sektor eko-nomis. 1986-1990 krisis “Japan Skins” melanda Jepang, disusul krisis Asia 1997, limbungnya Long-Term Capital Management pada 1998, ”the Dot Bomb” pada 2000, dan pada 2008 ada krisis karena transaksi derivatif yang menggila.2

Berhadapan dengan situasi buruk seperti itu pandangan Polanyi kem-bali mendapat perhatian. Konsep-konsep Polanyi yang tampil ramah tetapi tidak kalah tegas mulai dipelajari. Polanyi telah menimbulkan kesadaran bahwa ekonomi sesungguhnya telah tercerabut dari akarnya. Karena ekonomi telah dilepaskan dari relasi sosial, maka ekonomi perlu ditanam kembali.

Tulisan ini berbicara tentang bagaimana gerakan sosialisme muncul da-lam ekonomi untuk mengembalikan cita-cita luhur ekonomi membangun

(5)

ke-sejahteraan bersama, dan bagaimana Karl Polanyi dan Karl Marx ikut bergerak dan berkecimpung di dalamnya; bagaimana keduanya menganalisa persoalan, menemukan masalah dan bagaimana kritik dan ide yang mereka ajukan untuk memperbaiki ekonomi. Pandangan-pandangan mereka akan memberi kita in-spirasi untuk melihat ekonomi secara kritis dan tetap menjaga bintang pedo-man yang tak pernah boleh dilepaskan sebagai panduan bagi arah ekonomi kita sejak awal, yakni tetap berpatok pada upaya untuk mencapai kesejahteraan dan kebaikan bersama.

Pembahasan akan dimulai dengan menyimak riwayat Marx dan Polanyi untuk melihat latar belakang bagi seluruh konsep dan pemikiran mereka, kemu-dian dilanjutkan dengan uraian tentang sosialisme ekonomi yang dimaksudkan untuk memberikan sedikit gambaran tentang gerakan ini; disusul penyimakan terhadap konsep keduanya tentang sosialisme ekonomi.

2. Panggilan Sosialis

Karl Marx lahir di Trier, Prusia (Jerman) tanggal 5 Mei 1818, dari kelu-arga Yahudi. Ayahnya, seorang pengacara, yang ingin agar anaknya juga belajar hukum. Setelah menyelesaikan Gymnasium, Marx dikirim ke Universitas Bonn untuk belajar hukum. Dia kemudian pindah ke Friedrich-Wilhem Universität di Berlin agar bisa lebih serius belajar hukum sesuai harapan ayahnya. Ternyata Marx diam-diam belajar filsafat. Di sini dia banyak belajar dari Hegel yang ke-mudian cukup mempengaruhi pemikirannya. Keterlibatannya dalam gerakan radikal, membuat disertasinya ditolak di Berlin. Disertasinya kemudian diteri-ma di Universitas Jena, dan Marx meraih gelar doktor di sana.

(6)

Marx melamar untuk mengajar di Universitas Bonn, namun ditolak. Dia lalu terjun ke dunia jurnalistik dan menjadi editor surat kabar Rheinische

Zeitung di Köln. Ia menjadi editor kepala selama sepuluh bulan. Tetapi surat

kabar itu dibredel oleh pemerintah, karena sikap politik Marx yang radikal. Setelah menikah pada tahun 1843 Marx meninggalkan Jerman untuk menda-patkan suasana yang lebih liberal di Paris. Pertemuannya dengan Friedreich Engels, anak pengusaha pabrik tekstil yang menjadi seorang sosialis, melahir-kan kesepakatan kerja sama erat antara keduanya. Engels membantu membi-ayai kehidupan Marx sehingga Marx mencurahkan perhatian pada kegiatan intelektual dan politiknya.

Marx kemudian diusir dari Perancis (atas permohonan Prusia) pada ta-hun 1845 dan karenanya dia pun pindah ke Brussel. Dia semakin radikal dan terlibat sebagai anggota aktif pada gerakan revolusioner internasional. Bersama Engels dia menulis Manifesto Komunis 1848, karya yang terkenal dengan slogan-slogan politik yang provokatif misalnya “Buruh seluruh dunia, bersatulah!”.

Setelah revolusi yang tidak berhasil tahun 1848 Marx menetap di Lon-don dan mendapatkan sedikit uang dengan menjadi koresponden bagi New York Tribune. Di sana dia juga memulai kegiatan riset yang lebih rinci tentang sistem kapitalis. Lahirlah tiga jilid karya besarnya Das Kapital, yang terbit pada tahun 1867, 1885, dan 1894. Pada tahun 1883 Marx meninggal setelah dida-hului oleh isterinya (1881) dan anak perempuannya (1882).

Tiga tahun setelah Marx meninggal, tepatnya 25 Oktober 1886, lahir-lah Karl Polanyi di Vienna. Seluruh keluarganya kemudian pindah ke Budapest, Hongaria, mengikuti ayahnya seorang ahli dan kontraktor kereta api. Se telah tamat Gymnasium, pada tahun 1904 dia masuk universitas untuk belajar

(7)

poli-tik dan ilmu hukum. Rumahnya di Budapest, menjadi tempat perkum pulan kaum intelektual Hongaria. Di situ dia bertemu dengan para pemikir besar se-perti Georg Lukács, Oscar Jászi, and Karl Mannheim.

Kegiatan Polanyi menjadi semakin intensif ketika dia mendirikan Ling-karan Galilei (Galilei Circle) di Universitas Budapest. Tujuannya adalah “meng-angkat kesadaran sosial melalui belajar dan mengajar, sebuah renaisans filosofis dan ilmiah yang mengeritik ciri reaksioner dunia universitas dan iklim kultural pada umumnya.3 Polanyi meraih Ph. D dalam filsafat tahun 1908, dan meraih

sarjana hukum pada tahun 1912. Pada tahun 1914 dia membantu mendirikan Partai Radikal Hongaria dan aktif sebagai sekretaris.

Dia kemudian mengikuti wajib militer sebagai cavalry officer pada pasu-kan Austro-Hungarian dalam Perang Dunia I, tetapi dilepaspasu-kan setelah terluka. Sesudah perang, dia kembali ke Budapest di mana dia sekali lagi aktif dalam ke-giatan politis. Polanyi mendukung pemerintahan Republik Mihály Károlyi dan rezim Social Democratic-nya. Ketika Béla Kun menumbangkan pemerintahan Károlyi, Polanyi terpaksa lari ke Vienna. Di Vienna dia berjumpa dan menikah dengan seorang revolusioner Ilona Duczynska. Di sini dia bekerja sebagai jur-nalis, menulis komentar ekonomi dan politik (antara lain) pada Der Oester-reichische Volkswirt yang terkemuka. Saat inilah dia mulai mengeritik para ahli ekonomi Austrian school, yang menurut dia telah menciptakan model-model abstrak dan menghilangkan pandangan tentang realitas konkrit menyangkut proses ekonomi.

Polanyi kemudian meninggalkan Austria pada tahun 1933, ketika Re-publik Austria yang baru seumur jagung itu ambruk. Dia pindah lagi ke Lon-don, Inggeris, di mana dia mendapatkan pekerjaan sebagai seorang jurnalist dan

(8)

tutor. Polanyi melakukan seabrek penelitian yang kemudian melahirkan karya besarnya The Great Transformation. Akan tetapi dia belum mulai menulis buku ini sampai tahun 1940, ketika dia pindah ke New York City untuk mengajar pada Bennington College. Buku itu baru diterbitkan pada tahun 1944, dan mendapat sambutan besar.

Setelah perang, Polanyi mendapat kesempatan mengajar di Columbia University. Akan tetapi, latar belakang isterinya sebagai mantan komunis mem-buat dia tidak mungkin mendapatkan visa masuk Amerika Serikat. Akibatnya, mereka pindah ke Kanada, dan Polanyi pulang pergi dari Ontario ke New York City. Pada awal 1950-an, Polanyi menerima biaya besar dari Ford Foundation untuk mempelajari sistem ekonomi dari masa kuno. Seminarnya di Columbia menarik beberapa ilmuwan terkemuka dan mempengaruhi satu generasi guru, yang kemudian menghasilkan buku Trade and Market in the Early Empires

pada tahun 1957. Polanyi terus menulis pada tahun-tahun akhir hidupnya dan mengembangkan satu jurnal baru, berjudul Coexistence. Dia meninggal pada tahun 1964, di Pickering, Ontario, Kanada.

Dari riwayat hidup mereka tampak bahwa Marx dan Polanyi tidak hanya pernah hidup melainkan terpanggil untuk menjadi penggerak sosialisme ekonomi. Kisah-kisah mereka pun “agak mirip” dengan kisah-kisah panggilan para nabi dalam tradisi religius. Mereka menunjukkan ciri kenabian sekuler humanis sosialis yang dengan setia menekuni panggilannya dan menyerukan penghargaan terhadap kesetaraan manusia. Keduanya ulet dan konsisten ber-juang dengan konsep, pemikiran, dan langkah-langkahnya yang khas untuk menciptakan ekonomi yang mensejahterakan semua orang.

(9)

3. Sosialisme Ekonomi

Hampir mustahil sebenarnya untuk memberikan satu definisi yang meyakinkan dan menyeluruh tentang sosialisme dalam relasinya dengan prak-tik ekonomi, karena berbagai negara dan pemerintah di seluruh dunia mem-praktikannya dalam bentuk yang berbeda-beda. Akan tetapi, pada umumnya basis ekonomi dari hampir semua gerakan sosialis didasarkan pada tujuan yang sama, yakni menciptakan kesetaraan yang lebih besar untuk rata-rata pekerja dan warga negara. Ini biasanya mencakup upaya untuk mensentralisasikan sarana produksi di tangan pekerja atau sekurang-kurangnya membatasi peran yang dimainkan individu dan perusahaan swasta atau sebagai alternatif, sarana produksi bisa diserahkan pada modal privat, tetapi negaralah yang harus me-ngontrol, dan negara sosialis itulah yang akan berupaya menciptakan situasi yang menguntungkan semua sektor masyarakat, khususnya pekerja (sebagai la-wan bagi kelas elit yang berkuasa atas properti dan pemilikan produksi). Penger-tian ini mudah menimbulkan kesan bahwa sosialisme dalam lingkup ekonomi adalah pemberontakan terhadap kapitalisme dan juga struktur oligarki yang menjadi dominan dalam banyak bidang sebelum sekitar tahun 1850.

Pada umumnya, tujuan sosialisme dalam lingkup ekonomi adalah men ciptakan pemerataan yang lebih besar dan tidak mengandalkan individu-individu atau institusi privat untuk mengelola sarana-sarana produksi. Walau-pun ada banyak fase dalam berbagai upaya sosialis, dari kaum utopian sampai Marxian, hampir semua revolusi dan gerakan yang terinspirasi-sosialis digerak-kan untuk menciptadigerak-kan keseimbangan antara kelas-kelas, keterlibatan negara yang lebih besar (hampir komplit) dalam pertumbuhan ekonomi nasional, dan komitmen pada cita-cita yang ditetapkan sebelumnya oleh para pemikir

(10)

awal seperti Karl Marx, dan juga gerakan-gerakan lain seperti yang dikemuka-kan oleh kelompok Fabian. Pada umumnya, teori sosialisme murni melibatdikemuka-kan unsur-unsur ini yang menciptakan pemerataan dan walaupun konsep ekonomi umum di balik banyak gerakan ini di negara-negara seperti China, Yugoslavia, dan mantan Uni Soviet sudah mulai digeser seiring perkembangan waktu, ken-datipun prinsipnya pada hakikatnya masih tetap sama.

Walaupun beberapa dari faktor-faktor penentu sosialisme itu tidak men-cakup kepemilikan privat atas sarana-sarana produksi, sistem ekonomi dan poli-tik yang diatur dan ditata oleh ruling elite atau aristokrat, atau ketergantung an pada negara yang menguasai hampir segala bidang kehidupan, namun ada saja sejumlah argumen yang mengangkat hal-hal tersebut untuk membidik sosial-isme. Kritik yang lazim dikemukakan adalah bahwa karena tidak ada pasar yang terbatas pada ekonomi kapitalis yang bersaing, maka tidak mungkin bisa diper-tahankan kalkulus ekonomi rasional bagi organisasi produksi yang efisien. Pa-dahal persaingan dan efisiensi itu penting bagi perkembangan dan dinamika ekonomi. Kekacauan dan kemelaratan universal akan menjadi satu-satunya out-come yang timbul menyusuli khayalan dari persekemakmuran kaum so sialis.

Pandangan seperti itu sudah lazim dikemukakan sebagai kritik ter-hadap sosialisme, khususnya bila dikaitkan dengan ekonomi. Ada keyakinan bahwa tanpa pasar, kekuatan pendorong di balik satu masyarakat akan lenyap dan selanjutnya akan membawa dampak negatif terhadap masyarakat secara keseluruh an, dan akan timbul satu masyarakat yang tidak dinamis dan secara ke-seluruhan melempem dan menggantungkan segala sesuatu pada peme rintah.

Walaupun mayoritas gerakan sosialisme awal diasosiasikan dengan per-lawanan terhadap kapitalisme, masih ada juga pemikiran lain yang tidak

(11)

mem-pertentangkan keduanya bahkan menganggap sosialisme sebagai kebutuhan. Contohnya, dalam Ideas and Opinions, sebuah kumpulan esai dari salah satu pemikir terkemuka dunia karya Albert Einstein, sosialisme bukan hanya satu alternatif politik dan ekonomi dari kapitalisme, melainkan suatu kebutuhan

yang pasti. Dia mengatakan “Dalam ekonomi, sarana produksi dimiliki oleh

masyarakat sendiri dan dimanfaatkan dalam satu mode yang terencana. Sebuah ekonomi yang terencana, yang menyesuaikan produksi dengan kebutuhan ko-munitas, akan mendistribusikan pekerjaan untuk dilakukan di kalangan se-mua mereka yang mampu bekerja dan akan menjamin satu mata pencaharian bagi setiap pria, wanita, dan anak-anak. Selain mempromosikan kemampuan bawaannya sendiri, pendidikan individual akan berusaha untuk menimbulkan dalam dirinya satu rasa tanggung jawab untuk sesama manusia ketika kekuatan dan sukses diagungkan dalam masyarakat kita sekarang”4. Meskipun banyak

wacana tentang sifat sosialisme dalam arti yang murni, pernyataan ini merang-kum secara cukup ringkas idealisme di balik gerakan itu.

Isu terkemuka dalam studi-studi tentang sosialisme ekonomi Marxian menyangkut juga teori nilai tenaga kerja, yang menegaskan bahwa nilai sebuah produk atau layanan tidak diasosiasikan dengan biaya melainkan dengan ju-m lah kerja yang dihabiskan untuk produksi. Lagi pula, dalaju-m sisteju-m kapitalis nilai apa pun yang ditambahkan pada produk atau layanan, tidak dikembalikan kepada pekerja melainkan masuk ke kantong kapitalis yang memiliki sarana produksi. Untuk mengambil satu langkah lebih maju, teori ini juga berpenda-pat bahwa teori nilai tenaga kerja tidak menaruh simberpenda-pati pada ide tentang harga relatif, dengan demikian keuntungan kapitalis sekali lagi diraup dari produk-produk atau layanan yang dihargai sesuai dengan penawaran dan permintaan,

(12)

bukan sesuai jumlah kerja yang dikerahkan untuk memproduksi barang atau jasa.

Dengan sistem semacam itu, kapitalis secara konstan mendapatkan ke-untungan dari tenaga pekerja dan upah yang dibayar kepada buruh. “Ketika nilai kerja hanyalah satu ekspresi irasional untuk nilai tenaga-kerja, tentu saja selanjutnya adalah bahwa nilai tenaga kerja harus selalu lebih kurang dari nilai yang diproduksinya, karena kapitalis selalu membuat buruh bekerja lebih lama untuk reproduksi nilainya sendiri”.5 Inilah ide kapitalis seperti diuraikan dalam

Das Kapital.

Juga perlu dikemukakan bahwa karya Marx dalam Das Kapital, juga karya-karya lain yang muncul setelah itu, memadukan gagasan tentang surplus

value, yang artinya perbedaan antara nilai yang diproduksi oleh seorang

bu-ruh dengan upahnya. Singkatnya, ini berarti bahwa seandainya pekerja mem-produksi satu barang atau menawarkan satu layanan yang bernilai tertentu di pasar, katakanlah misalnya, Rp10.000 dan pekerja hanya dibayar Rp 8.000 un-tuk kerja yang dituntut unun-tuk memproduksi 50 barang yang dapat dijual pemi-lik modal dengan harga Rp10.000 per potong, jumlah sisanya (yang disisihkan setelah pekerja dan bahan dibayar) adalah surplus value dan masuk ke kantong kapitalis sebagai laba dan bukan langsung ke pekerja dalam bentuk upah tam-bahan. Marx menetapkan ini sebagai wage slavery.

Teori lain tentang sosialisme ekonomi datang dari aliran Fabian. Masya-rakat Fabian didirikan pada tahun 1884, dengan mengambil nama seorang jenderal Romawi yaitu Quintus Fabianus Maximus Constator, Si “pengulur waktu” atau “penunda”. Motto awal dari masyarakat tersebut ialah “Anda harus menunggu saat yang tepat, kalau saat yang tepat itu tiba Anda harus melakukan

(13)

serangan yang dahsyat, sebab jika tidak, penundaan yang Anda lakukan itu sia-sia dan tidak akan membawa hasil”.

Pengertian awal dari reformasi ekonomi yang dikemukakan oleh aliran Fabian sangat berbeda dari Marxis. “Pada tahun 1884, Fabian Society didirikan di Inggris dengan tujuan menghasilkan satu masyarakat sosialis dengan sarana debat intelektual, publikasi buku dan pamflet, serta ‘penyerapan’ ide-ide sosialis ke dalam universitas, pers, lembaga pemerintah, dan partai politik. Ini sangat kontras dengan sarana-sarana lain yang ditempuh sosialisme yang diadopsi oleh partai Marxis, yakni menggunakan kekerasan dan revolusi untuk melenyapkan kapitalisme”.6 Variasi pemikiran baik Marxian maupun Fabian sepakat bahwa

ada masalah dengan kapitalisme, tetapi pertanyaannya, cara terbaik apa yang dapat ditempuh untuk melakukan reformasi? Walaupun para ahli ekonomi Marxian cenderung berfokus pada nilai kerja dan isu terkait lainnya, para Fa-bian memperhatikan ide-ide yang lebih halus tentang kapitalisme dan sosial-isme. Dalam arti ini, orang dapat memandang ideologi ekonomi Marxian seba-gai perangkat prinsip yang lebih koheren jauh melebihi apa yang dikemukakan para sosialis Fabian.

Para pendiri dan anggota pertama masyarakat Fabian adalah George Bernard Shaw, Sidney dan Beatrice Webb, H.G.Wells dan Grahan Wallas. Da-lam penelitian sejarah tentang landasan yang dilakukan oleh Sidney Webb, se-perti dalam Febian Esseys (1889), ditemukan filsafat dasar sosialisme. Webb menganggap sosialisme adalah hasil yang tidak dapat dielakkan dari demokrasi yang dilaksanakan secara penuh, tetapi ia menandaskan bahwa “kepastian yang datang secara bertahap” sangat berbeda dengan kepastian revolusi seperti yang dicanangkan oleh Marx.

(14)

Webb menekankan bahwa organisasi sosial hanya dapat terbentuk se-cara perlahan melalui perubahan-perubahan organisasi. Perubahan tersebut akan terjadi dengan adanya empat kondisi: pertama, perubahan itu harus bersi-fat demokratis; kedua, perubahan itu harus secara bertahap; ketiga, perubahan itu harus sesuai dengan moral masyarakat; keempat, perubahan tersebut harus melalui prosedur dan cara-cara yang damai.

Kelompok Fabian memusatkan perhatiannya untuk meyakinkan seke-lompok kecil orang yang memenuhi dua kualifikasi: pertama, orang-orang tersebut secara permanen mempunyai pengaruh dalam kehidupan masyarakat demi keberhasilan dan pemanfaatan; kedua, mereka harus bersikap dan bertin-dak wajar sehingga kelompok Fabian tibertin-dak dianggap sebagai kaum ekstrimis. Orang-orang dengan kualifikasi seperti itu dapat dijumpai dalam semua partai politik. Untuk itu kelompok Fabian tidak hanya menggarap kaum konservatif, tetapi juga kaum liberal.

Walaupun sosialisme Fabian didasarkan pada beberapa prinsip umum yang sama dengan pemikiran Marxian, ada beberapa perbedaan yang berarti antara keduanya. “Sosialisme Fabian berbeda dari sosialisme Marxian terkini bukan hanya dalam doktrin, melainkan lebih dalam spirit dan pemahamannya tentang pengaruh yang menciptakan sosialisme. Yang pokok pada Marx adalah bukan teori tentang nilai melainkan tekanannya pada perjuangan kelas sebagai satu-satunya instrumen kemajuan yang efektif. Marx yakin bahwa sosialisme akan muncul tidak hanya karena itu merupakan sistem yang lebih baik dari kapitalisme, melainkan juga karena di belakangnya ada kelas yang dipicu oleh kondisi ekonomi. Kelas ini akan mendorong tercapainya sosialisme.

(15)

Di pihak lain literatur Fabian tampaknya sering tidak sadar akan re-levansi distingsi kelas dan sama sekali tidak menunjukkan keyakinan terhadap perjuangan kelas sebagai instrumen perubahan. Bagi para Fabian, reformasi ekonomi sosialis sejati akan muncul sebagai hasil dari aksi legislatif untuk se-cara bertahap mengambil sarana produksi dari kapitalis dan mengembalikan-nya kepada pekerja. Seperti pemikiran Marxian, Fabian juga didasarkan pada pengertian idealistik tentang negara yang sempurna di mana para buruh bekerja untuk kebaikan masyarakat dan bukannya keuntungan orang kaya.

Meskipun organisasinya kecil, namun masyarakat Febian membawa pengaruh yang besar. Pemilihan tahun 1945 menampilkan untuk pertama ka-linya pemerintahan Partai Buruh yang didasarkan pada mayoritas dalam par-lemen. Dari 394 anggota parlemen dari Partai Buruh, 229 orang berasal dari kelompok Febian dan lebih dari separuh pejabat pemerintah, termasuk Attlee (Perdana Menteri 1945-1951) juga orang-orang Febian. Polanyi sendiri tertarik pada Fabianisme dan karya-karya G.D.H. Cole. Selama periode ini Polanyi juga tertarik pada Sosialisme Kristiani.

Ketika menguji versi-versi kontemporer sosialisme, apakah versi-versi tersebut termasuk dalam pandangan Marxian atau Fabian, topik tentang ekono-mi campuran tak pernah diabaikan, terutama karena sosialisme ekonoekono-mi pun bukan tanpa kelemahan. Keyakinannya bahwa penghapusan hak milik priba-di saja akan menghilangkan kesenjangan dan menciptakan kesetaraan hanya akan menjadi utopi sosialisme, terutama karena mengabaikan kebebasan dan meng andalkan kepercayaan. Sosialisme bahkan menjadi sinonim dengan “stag-nasi, inefisiensi, birokratisme, mumpungisme, korupsi, pekerjaan tak mutu dan seenaknya, polusi dan kerusakan lingkungan”.7 Bisa dimengerti bahwa orang

(16)

mulai melirik pada ekonomi campuran. Ada ekonomi yang mula-mula sosialis sekarang sudah bergerak ke arah ekonomi campuran, sebagian karena mening-katnya globalisasi. Singmening-katnya, ekonomi campuran adalah ekonomi di mana in-dividu dan organisasi privat memiliki sarana produksi sementara sarana-sarana lain dikontrol oleh pemerintah. Walaupun tidak selalu terlibat dalam aspek-aspek tertentu dari keputusan-keputusan ekonomi privat, pemerintah masih memegang sejumlah besar pengaruh dan kadang-kadang dapat membatalkan

(trump) keputusan-keputusan individu privat. Lagi pula, ekonomi ini,

walau-pun “campuran” bukan satu distribusi yang merata dari kapitalisme dan so-sialisme (misalnya), tetapi umumnya lebih condong ke satu atau yang lainnya. Poinnya adalah, tidak ada teori murni entah kapitalisme, sosialisme, atau sistem ekonomi lain yang menguasai negara, melainkan satu paduan dari aspek-aspek dan tingkatan berbeda dari keduanya (atau bahkan lebih dari dua).

Oleh karena itu konsep sosialisme ekonomi harus dilihat bukan sebagai satu konsep ideologis murni yang punya tujuan sendiri melainkan satu gerakan etis yang menginginkan agar ekonomi menjadi alat untuk kesejahteraan dan ke-baikan bersama.8 Dalam lingkup ini juga Polanyi bergerak, dengan konsepnya

tentang ekonomi yang embedded. Kekhasan dari sosialisme ekonomi Polanyi ada pada konsepnya tentang embeddedness bahwa ekonomi harus tertanam da-lam relasi sosial. Dada-lam kapitalisme ekonomi telah tercerabut dari relasi sosial. Ekonomi tidak lagi menjadi sarana untuk kesejahteraan bersama. Relasi sosial tidak lagi menentukan ekonomi melainkan ekonomi telah menentukan relasi sosial.

(17)

4. Marx dan Polanyi: Beberapa Perbandingan

Walaupun sama-sama berbicara tentang sosialisme ekonomi, Marx dan Polanyi seringkali dipertentangkan. Pertanyaan yang sering diajukan, apakah Polanyi seorang Marxis? Ada yang bahkan sudah mengubah pertanyaan ini menjadi pernyataan.9 Para pengikut Polanyi bahkan menganggap Marx sebagai

rival Polanyi dan mengeritik habis-habisan pandangan Marx tentang material-isme historis dan kecamannya terhadap kapitalmaterial-isme yang secara ekonomi (atau teknologis) dianggap deterministik, mekanistik, dan reduksionis. Tetapi ada juga yang menganggap bahwa kritik-kritik itu telah memposisikan Marx secara vulgar dan tidak menggambarkan posisi Marx sesungguhnya, walaupun tidak disangkal bahwa pendekatan ini pun ada manfaatnya.10

Lagi pula terkesan bahwa upaya mempertentangkan Marx dengan Po-lanyi lebih tampak pada para pengikutnya ketimbang pada konsep Marx dan Polanyi sendiri. Marx yang hidup sebelum Polanyi tentu tidak punya komen-tar tentang Polanyi, semenkomen-tara sikap Polanyi sendiri terhadap Marx sebenarnya juga tidak sangat konfrontatif.

Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam alur gerakan sosialisme ekonomi, ada hubungan yang erat dan saling melengkapi antara Marx dan Polanyi, walau-pun tentu saja ada juga perbedaannya. Menyangkut kritik terhadap kapitalisme, perbedaan antara keduanya itu tidak begitu berarti dan bahwa secara substansi-al keduanya mempunyai konsep dasar yang sama tentang manusia, masyarakat, dan kapitalisme. Berikut beberapa perbandingan.

(18)

a. Fictitious Commodity dan Commodity Fetishism

Ide tentang fictitious commodities11 dalam The Great Transformation,

tampaknya memiliki kekerabatan dengan analisis Marx tentang commodity fe-tishism,12 walaupun Polanyi berargumentasi bahwa penegasan Marx tentang

karakter fetish dari nilai komoditi merujuk pada nilai tukar komoditi sejati dan tidak ada hubungannya dengan fictitious commodities. Namun kiranya proses fetishisme dan alienasi itu merupakan akibat dari fictitious commodity. ‘Komo-difikasi’, atau juga bisa dikatakan ‘fetishization’, merupakan proses yang men-cirikan masyarakat kapitalis, karena dalam proses inilah manusia “dialienasi-kan” baik dari lingkungan alam sekitarnya maupun dari aktivitas kesadarannya sendiri. Jika interpretasi Polanyi semacam itu benar, maka ada kesamaan antara analisis Marx dan analisis Polanyi tentang kapitalisme, walaupun ada beberapa perbedaan terminologi kecil di antara mereka.

Bagi Marx, kapitalisme dicirikan oleh komodifikasi tenaga kerja, yang menuntut kategori tenaga kerja diuraikan dari manusia. Dalam Marx, komodi-fikasi tenaga kerja melandasi teori dan keseluruhan analisis tentang tenaga kerja. Proses komodifikasi ini mewarnai fetisisme komoditas. Fetishisme ini menempelkan dirinya pada produk-produk tenaga kerja segera setelah dihasil-kan sebagai komoditi, dan oleh karena itu tak dapat dipisahdihasil-kan dari produksi komoditi. Fetishisme dunia komoditas muncul dari karakter abstrak sosial yang khas, karakter abstrak dari tenaga kerja yang memproduksinya.13

Oleh karena itu, fetisisme (dan alienasi dibaliknya) — melalui menjadi komodifikasi tenaga kerja — memberikan karakter utama bagi kapitalisme. Artinya, dalam kapitalisme “kita berada dalam dunia yang menyerupai

(19)

spek-trum, tetapi spektrumnya itu real. Bagi pseudo-kehidupan komoditi, karakter obyektif dari nilai tukar itu bukan ilusi”.14 Dengan kata lain, dalam kapitalisme

realitas sesungguhnya itu terbalik.15 Commodity fetishism adalah proses yang

mencirikan inversi (pembalikan): subyek (manusia) menjadi predikat (tenaga kerja) dan predikat menjadi subyek. Tenaga kerja manusia, sebuah predikat, menjadi entitas yang “teralienasi”; satu hal, yang mentransformasikan subyek yang real, manusia, menjadi “benda”.

Sementara Polanyi menekankan pentingnya baik uang maupun tanah, yang diperlakukan sebagai komoditi, Marx memperhalus analisisnya pada te-naga kerja saja. Namun, ide Marx tentang alienasi/fetishisme tidak dapat di-batasi pada tenaga kerja saja. Jika komoditi mengatur kehidupan individual, ia harus diperlakukan sebagai satu proses yang menyerap-semuanya.16 Itu

menun-jukkan bahwa Marx dan Polanyi menunjuk pada hal yang sama dengan sudut pandang berbeda. Dengan demikian pandangan keduanya justru memperkaya dan mengukuhkan pendapat tentang adanya ketidak-beresan dalam kapital-isme menyangkut komodifikasi.

b. dehumanisasi Kapitalisme

Selanjutnya, aspek dehumanisasi kapitalisme diangkat dan dijadikan landasan kritik terhadap kapitalisme baik oleh Karl Marx maupun Karl Po-lanyi. Dalam keduanya, kapitalisme adalah “pelanggaran” atas kekuatan hakiki manusia. Artinya, keduanya berpikir bahwa hakikat atau esensi manusia itu dikontradiksikan oleh esensinya di bawah kapitalisme. Asumsi yang melatarbe-lakangi ini adalah bahwa dalam kapitalisme, lingkup “ekonomi” menjadi terpi-sah dan mendominasi kehidupan individual. Dengan kata lain, dalam

(20)

kapital-isme, “totalitas” manusia, sebagai kesatuan dari berbagai aspek, telah dipecah menjadi entitas terpisah dan otonom, dan di antara entitas-entitas ini, ekonomi menjadi dominan, atau orang menjadi “economic being” (makhluk ekonomi). Keduanya juga menekankan fakta bahwa manusia pada hakikatnya adalah “

po-litical animal” (hewan yang hidup dalam polis) dan oleh karena itu keduanya

menggambarkan pendekatan “societal”, meminjam istilahnya Polanyi.

Selain itu George Dalton17 berpendapat bahwa baik Marx maupun

Po-lanyi menganggap semua masyarakat dan ekonomi prakapitalis sebagai bidang tunggal untuk investigasi. Artinya, antropologi ekonomi mulai dengan sejarah ekonomi awal; dan juga antropologi ekonomi berbeda dari “ekonomi konven-sional”, yang menggambarkan tradisi dari Ricardo dan Samuelson. Akan tetapi ketika kita melihat perbedaannya, dia berargumentasi bahwa, walaupun Marx benar tentang determinisme ekonomi dari kapitalisme industrial abad ke-19 dan ke-20, dia salah mengandaikan bahwa keunggulan ekonomi juga benar un-tuk masyarakat prakapitalis; dia juga salah dalam meramalkan apa yang akan terjadi dengan kapitalisme.

J.R.Stanfield melihat Marx dan Polanyi saling melengkapi namun ba-ginya Polanyi mendeteksi fatalism determinisnme dalam Marx18. Meskipun

de-mikian, sayangnya, dia tidak menjelaskan tentang Marx sendiri, dan pemikiran-nya terhadap Marx hapemikiran-nya menyentuh sana sini.19 Menurut Sievers, alasannya

mungkin karena sulitnya terlibat dalam polemik Marxis sambil mengupayakan karya konstruktif sepanjang garis yang independen. 20

Dari diskusi di atas jelas bahwa konsep Marx tentang dehumanisasi itu sama hakikinya dengan konsep Polanyi, walaupun Polanyi mempertahankan pemahaman ini berdasarkan data anthropologis, sementara perhatian Marx

(21)

pada dasarnya filosofis. Dengan kata lain, kedua konsep itu komplementer, bu-kannya saling menggantikan.

Selain itu Marx berfokus pada akumulasi modal yang tergantung ter-utama pada relasi tenaga kerja-modal, dan berujung pada dehumanisasi, se-mentara Polanyi berfokus pada aspek dehumanisasi dari kapitalisme itu sendiri, yang sama sekali tidak sekadar masalah ekonomi. Namun, keduanya berbicara kurang lebih tentang masalah yang sama. Dalam hal ini, bisa juga dikatakan bahwa Marxis memang memberi perhatian pada proses dehumanisasi yang berasal dari penciptaan komoditi fiktif, dan tidak perlu dibatasi pada tenaga kerja saja, sementara Polanyi melihatnya lebih luas. Ia tidak hanya melihat dari konteks ekonomi, tetapi juga dari konteks non-ekonomi. Karena bagi Polanyi masalah paling dasar adalah ketercerabutan ekonomi dari relasi sosial, dan bu-kan karena ekonomi kapitalis dikelola secara salah. Dengan demikian mereka akan sampai pada konsep sosialisme ekonomi yang sedikit berbeda. Sosialisme ekonomi pada Marx berarti menolak kapitalis (eksklusif ), pada Polanyi artinya menanam kembali ekonomi pada relasi sosial (inklusif ).

c. Human Nature21 dan Materialisme Historis22

Ada kesan kuat bahwa konsep Marx tentang human nature itu sebe-narnya cocok dengan keseluruhan kerangka Polanyi, karena unsur penyatu antara dua kerangka itu adalah sama-sama penganut faham Aristotelian, yang mengakui manusia sebagai political animal.

Bagi Marx manusia adalah satu kesatuan dari partikular dan umum; atau dalam bahasa Manuscript 1844, a species-being: Manusia adalah species-being, bukan hanya karena dia secara praktis dan teoritis membuat species — baik

(22)

speciesnya sendiri maupun spesies lain — menjadi tujuannya, melainkan seba-gai spesies yang hidup, sekarang sebaseba-gai makhluk yang universal dan karena itu makhluk yang bebas.23Artinya, orang adalah satu kesatuan dari individualitas

dan sosialitas, atau lebih tepat, individu adalah makhluk sosial; bahkan eksis-tensinya juga adalah aktivitas sosial: “Saya masih aktif secara sosial karena saya aktif sebagai manusia. Itu bukan hanya material dari aktivitas saya …. yang saya terima sebagai produk sosial. Eksistensi saya sendiri adalah aktivitas sosial. Oleh karena itu apa yang saya ciptakan dari diri, saya ciptakan untuk masyarakat, yang sadar akan diri saya sebagai makhluk sosial”.24

Dalam Grundrisse, Marx mengatakan “dalam pengertian paling harafiah manusia adalah political animal, tidak hanya hewan yang suka hidup berkelom-pok (gregarious), melainkan makhluk yang dapat mengindividuasikan dirinya hanya di tengah masyarakat”.25Oleh karena itu, aktivitas manusia sendiri,

in-teraksinya dengan alam, adalah juga aktivitas sosial yang dimediasikan melalui kerjanya dan dalam aktivitas atau praxis inilah dia mentransformasi baik alam maupun dirinya. Dengan kata lain, aktivitas ini adalah suatu aktivitas di mana kemanusiaan, secara individual dan kolektif, menciptakan dirinya dengan men-transformasi alam secara sosial. Aktivitas ini dapat terlihat entah sebagai society-mediated interchange atau nature-mediated interchange antara individu dengan masyarakat. Ini hanyalah dua cara memandang aktivitas-kehidupan manusia, bahwa relasi manusia dengan alam adalah langsung merupakan relasinya de-ngan manusia, persis seperti relasinya dede-ngan manusia adalah langsung meru-pakan relasinya dengan alam.

Gambaran atau konsepsi tentang praxis ini, atau aktivitas dengan tujuan bebas manusia untuk mentransformasi alam dan dirinya adalah gagasan yang

(23)

penting dalam pemikiran Marx. Dalam aktivitas ini, menurut Marx manusia mengobyektivasikan esensinya. Oleh karena itu obyek kerja (labour) adalah

obyektifikasi kehidupan-species manusia: karena manusia mereproduksi dirinya

tidak hanya secara intelektual, dalam kesadarannya, melainkan secara aktif dan aktual, dan oleh karena itu dia dapat mengkontemplasikan dirinya dalam satu dunia yang diciptakannya sendiri.26 Lagi, dalam German Ideology Marx dan

Engels berpendapat bahwa kesadaran tidak bisa menjadi apa saja selain eksis-tensi yang sadar, dan eksiseksis-tensi manusia adalah proses-hidup aktual mereka.27

Menurut mereka, produksi kehidupan tampaknya merupakan relasi ganda: di satu pihak sebagai relasi alamiah, di lain pihak, sebagai relasi sosial.28 Sama

hal-nya dalam Das Capital, bab 7, Marx berargumentasi bahwa tenaga kerja adalah proses yang mengambil bentuk interaksi dengan alam dalam setting sosial. Da-lam proses ini, manusia bertindak atas aDa-lam dan mengubahnya, dan dengan cara ini dia secara simultan mengubah dirinya sendiri. Dia mengembangkan potensi yang tidur dalam alam, dan sekaligus mengembangkan potensinya sendiri.

Ini mengindikasikan bahwa ada satu kontinuitas pemikiran dalam Marx. Dalam kontinuitas ini, tiga aspek kondisi manusia dapat ditekankan.

Pertama, manusia adalah makhluk sosial, yang memperlakukan alam dalam

set-ting sosial. Kedua, istilah “tenaga kerja” dan “produksi” merujuk pada aktivitas umum, apa yang kita dapatkan di sini adalah “production of live” dan bukannya hanya produksi barang-barang material. Ketiga, dan paling utama, aktivitas ini, atau “proses tenaga kerja” adalah kondisi umum. Ini merupakan kondisi uni-versal untuk interaksi antara orang dan alam, dan oleh karenanya independen dari setiap bentuk eksistensi manusia; artinya, itu umum bagi semua bentuk masyarakat.

(24)

Dalam analisis ini, kita mendapatkan dua klaim yang saling berelasi;

pertama, proses tenaga kerja sebagai aktivitas yang sadar merupakan satu ciri esensial dari kehidupan manusia, independen dari kondisi historis spesifik mana pun; kedua, ini tidak berimplikasi bahwa bentuk organisasi dari aktivitas ini tetap sama sepanjang sejarah. Sebaliknya, itu merupakan keistimewaan dari bentuk-bentuk organisasi ini, atau mode produksi, yang memberikan karakter-istik yang spesifik kepada satu masyarakat secara historis.

Dengan demikian kita memasuki konsepsi Marx tentang “materialisme historis”. Materialisme historis terutama menekankan aspek-aspek yang umum, namun tak pernah meremehkan bentuk-bentuk spesifik historis dari organisasi aktivitas ini. Dalam hal ini, mudah untuk menunjukkan bahwa Marx tak per-nah komit pada “economistic fallacy”29, artinya, dia selalu terus menerus

mem-bedakan antara apa yang spesifik historis dan apa yang tidak. Juga, perlu dite-kankan bahwa konsepsi Marx tentang materialisme historis bukan determinis tekonologis, juga bukan determinis ekonomi yang cacat karena ada semacam “fatalisme”.

Konsepsi Marx justru menekankan tak-terpisahnya basis dan superstruk-tur dan bahwa basis itu bukan causa prima bagi suprastruktur. Dengan kata lain hubungan antara basis dan suprastruktur bukan dalam bentuk sebelum dan

se-sudah. Manusia itu kreator yang bebas atas dirinya dan dunianya dalam satu

setting sosial, namun pada saat yang sama dia merupakan efek yang tidak terlalu bebas, pasif, dan tak berdaya. Karena alasan ini, aktivitas manusia harus dipa-hami dari segi, baik material causation maupun teleological causation, bukan dalam arti pembentangan sejarah yang tak terelakkan, melainkan dalam arti aksi-bertujuan yang dilakukan seorang pribadi tertentu.30 Oleh karena itu, kita

(25)

harus menganggap aktivitas manusia sebagai “baik kausalitas maupun finalitas, baik kausa material maupun kausa final/ideal; itulah aksi manusia dan berefek pada alam, dan pada saat yang sama, aksi alam dan berefek pada manusia”.31

Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa tidak ada pemisahan antara material dan ideal.

Dengan demikian, materialisme historis menyajikan satu metode yang memadukan aktivitas historis manusia. Dalam hal ini, kategori materialisme historis harus digunakan sebagai pertanyaan, atau penyelidikan untuk mema-hami pola yang tidak dapat dikenal dalam sejarah dan tidak harus dianggap sebagai hukum kanon atau “undang-undang” yang tegas yang menjelaskan se-gala sesuatu, tanpa peduli terhadap aspek-aspek yang spesifik32. Menyangkut

masalah ini, penting untuk mengutip Marx sendiri, dalam jawabannya terhadap salah satu kritik yang mempertahankan bahwa Marx memberikan satu teori filosofis-historis tentang nasib yang ada pada setiap orang, di lingkungan historis mana pun: “Peristiwa-peristiwa yang analog, tetapi terjadi di lingkungan histo-ris berbeda, menunjukkan hasil yang sama sekali berbeda. Dengan mempela-jari setiap bentuk evolusi secara terpisah dan selanjutnya membandingkannya, orang dapat menemukan petunjuk kepada kenyataan, tetapi orang tak pernah akan tiba di sana dengan paspor universal dari teori historis-filosofis, kebajikan utama yang bisa dicapai dengan menjadi superhistoris”.33

Konsep tentang human nature dan materialisme historis dalam Marx itu sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan pandangan Polanyi. Congdon (1976) serta Polanyi-Lewitt dan Mendell (1987), misalnya, melaporkan ada-nya kaitan antara Marx dan Polanyi. Pada masa mudaada-nya (tahun 1913) Polanyi menolak “fatalisme” materialisme sejarah berdasarkan pada tidak diberikannya

(26)

peran pada aktivitas manusia yang bertujuan: “Pengetahuan ilmiah pasti dapat membantu dalam mendiagnosa masalah politik dan sosial, tetapi ia tidak dapat memproyeksikan tujuan, apa lagi memastikan realisasinya. Untuk mengubah masyarakat, orang harus menetapkan tujuan moral dan menggunakan sarana politik untuk mencapai tujuan itu.”34

Sama halnya, dia berpendapat (pada tahun 1919) “bahwa burung terbang tinggi meskipun dan bukan karena hukum gravitasi” dan “bahwa masyarakat terbang tinggi meraih cita-cita luhur meskipun dan bukan karena kepentingan material”.35 Dalam kritik ini Polanyi menekankan kehendak

be-bas dan tanggung jawab moral individual, karena menurut Congdon, Polanyi meyakini bahwa isu sentral untuk manusia abad duapuluh adalah antara deter-minisme dan kehendak moral yang bebas.36

Kemudian, pada 1920-an, menurut Polanyi-Lewitt dan Mendel Polanyi kembali mengomentari Marx, kali ini tentang commodity fetishism-nya Marx dalam Das Kapital. Polanyi mengatakan bahwa teori tentang ciri fetish pada komoditas dianggap sebagai kunci bagi analisis Marx tentang masyarakat kapi-talis. Teori ini yang nantinya menjadi pusat kritik Polanyi tentang kapitalisme. Polanyi menyatakan bahwa teori fetish tentang nilai komoditas memang meru-pakan aplikasi prinsip dari pengasingan diri (self-estrangement) dari fenomena ekonomi di bawah kapitalisme.

Tetapi yang paling signifikan adalah pembicaraannya tentang Marx, setelah publikasi karya Marx, 1844 Manuscripts. Menurut Polanyi-Lewitt dan Mendel, Polanyi tidak sepakat dengan mereka yang mengatakan bahwa Marx tua bertentangan dengan Marx muda. Hanya ada satu Marx, dia menegaskan, dalam Economic and Philosophic Manuscripts of1844, Marx menguraikan

(27)

se-cara tepat aspek-aspek commodity fetishism, obyektifikasi dan alienasi yang su-dah lama dianggap Polanyi sebagai sentral, dan yang kemudian dieksplorasinya dalam dimensi historis mereka dalam GreatTransformation .... kebencian pada kapitalisme — yang dia anut bersama dengan Marx — yang terutama tidak disebabkan oleh fakta bahwa pekerja dieksploitasi, melainkan karena mereka direndahkan, dihina, diperlakukan secara tidak berbudaya, direduksi menjadi pekerja keras (toilers) di “tengah pabrik brengsek yang gelap” menurut istilah-nya William Blake dalam puisiistilah-nya Jerusalem.”37

5. Penutup

Uraian tentang Sosialisme Ekonomi Polanyi dan Marx bisa ditutup de-ngan menekankan kembali bahwa sosialisme ekonomi memiliki cita-cita luhur untuk menciptakan ekonomi yang mensejahterakan seluruh masyarakat. Ini merupakan cita-cita awal yang dicanangkan Aristoteles dan ditunjukkan oleh Polanyi dalam penelitiannya pada kultur dan masyarakat suku. Tujuan luhur ini pun sebenarnya menjadi cita-cita Adam Smith. Tetapi dalam perjalanannya kapitalisme melenceng jauh dari cita-cita awal. Gerakan sosialisme ekonomi ingin mengembalikan konsep awal, walaupun tidak tanpa masalah.38 Berbagai

upaya dan refleksi telah dilakukan, mulai dari yang radikal sampai yang lebih ramah. Marx dan Polanyi ikut bersama dengan gerakan ini. Keduanya sama-sama menghargai manusia. Ekonomi tidak boleh mengalienasikan manusia, ekonomi tidak boleh menciptakan diskriminasi dan penindasan. Karena itu ekonomi harus dikembalikan pada relasi manusia, dibangun di atas dasar etika, dan berjalan di atas prinsip keadilan.

(28)

Kendati bisa dilakukan demarkasi antara pemikiran Marx dan Polanyi, namun perbedaan-perbedaan itu lebih merupakan perbedaan interpretasi ter-hadap pemikiran mereka yang terlalu kompleks dan kaya. Bisa saja orang me-ngatakan bahwa Marx lebih teknokratis sementara Polanyi lebih intelektualis, karena ide tentang menanam kembali ekonomi membutuhkan satu konsep yang lebih komprehensif dan pengkajian lebih panjang ketimbang mengeritik kelemahan-kelemahan kapitalisme dan memberikan jalan keluar teknis meno-lak kapitalisme. Polanyi menunjukkan masalahnya. Seolah-olah bagi Polanyi berlaku pepatah lama “A well-defined problem is a problem half solved,” (peng-identifikasian masalah secara tepat sebenarnya merupakan separuh jalan menu-ju penyelesaian). Maka dengan menemukan masalahnya Polanyi telah menyele-saikan separuh masalahnya, dan selanjutnya bagaimana teknik penyelesaiannya diserahkan kepada pihak-pihak berkepentingan.39

Ibaratnya Polanyi sudah mendiagnosa masalahnya dan mengajak kita untuk mengubah pola hidup kita agar menjadi sehat kembali. Penyakit yang didiagnosa Polanyi tidak membutuhkan obat, melainkan niat kita untuk me-nata kembali pola hidup kita agar seluruh fungsi metabolisme bisa berjalan dengan baik dan semua bagian-bagian fungsional dalam tubuh kita bisa bekerja kembali secara maksimal. Itulah tugas kita.40 Sementara langkah Marx jelas dan

radikal, pertentangan kelas dan revolusi.

Pendekatan Marx juga cenderung eksklusif dan konfrontatif. Sosial-isme adalah lawan dari ekonomi pasar dan kapitalSosial-isme. Maka hanya ada ke-mungkinan eksklusifikasi: Sosialisme atau Kapitalisme. Sedangkan pendekatan Polanyi cenderung lebih inklusif. Kalau kita menggunakan analogi ikan dan lautan atau rajawali dengan alam bebas, maka Polanyi ingin mengembalikan

(29)

ikan ke lautan, dan rajawali ke alam bebas, Marx sebenarnya hanya berbicara tentang bagaimana memperbaiki nasib ikan yang sudah lepas dari lautan dan rajawali yang sudah lepas dari alam bebas. Marx berupaya agar kehidupan ikan yang sudah lepas dari lautan itu ditata menjadi satu kehidupan bersama yang mensejahterakan semua, dan bukan hanya sekelompok ikan atau rajawali yang punya kapital. Marx menginginkan agar ada sharing yang adil bagi semua ikan atau rajawali.

Karena itu konsep sosialisme ekonomi Marx lebih bersifat konteks-tual. Marx prihatin dengan masalah konkrit dan kontekstual yang dialami oleh masyarakat zamannya terutama masyarakat buruh. Karena itu dia dianggap keliru mengidentifikasi ekonomi sebagai pasar.41 Sedangkah jalan pemikiran

Polanyi adalah konseptual. Dia tidak berhadapan dengan pasar, melainkan dia menempatkan konsep sosialisme dan pasar dalam satu kerangka pemikiran. Po-lanyi tidak menempatkan diri di pihak Marx melainkan dia membangun satu konsep yang dia sebut embeddedness (ketertanaman) dan disembeddedness (ke-tercerabutan), dan menemukan bahwa sosialisme ekonomi Marx dan kapital-isme bergelut dalam ekonomi pasar yang sudah tercerabut.42

Namun seperti sudah dikatakan sebelumnya, pemikiran keduanya lebih bersifat komplementer daripada substitusional. Karena itu di balik perbedaan-perbedaan pandangan mereka ada tujuan luhur bersama, yakni menempatkan ekonomi sebagai upaya untuk mencapai kebaikan dan kesejahteraan bersama. Bahkan hal yang sama harus juga dikatakan untuk kapitalisme awal. Karl Po-lanyi, Karl Marx bahkan Adam Smith dapat menjadi inspirasi kita untuk kem-bali belajar sejarah, belajar dari Aristoteles, untuk melangkah lebih bijaksana, membangun ekonomi yang lebih manusiawi, sosialis, etis, dan berkeadaban.43

(30)

Aristoteles menanam, Adam Smith menyiram, Polanyi merawat dan Marx melindungi pertumbuhannya.44 Dari Aristoteles kita belajar tentang konsep

dasar ekonomi. Dari Adam Smith kita belajar tentang bagaimana menum-buhkan ekonomi. Dari Polanyi kita belajar tentang bagaimana menjaga agar pertumbuh annya sehat dan tak tercerabut, dan dari Marx kita belajar untuk melindunginya dari ancaman dan hama.

Catatan Akhir

1 Aristoteles berbicara tentang ekonomi dalam konteks etika. Adam Smith yang dianggap sebagai pencetus kapitalis justru adalah seorang dosen filsafat moral. Maka perkembangan kapitalisme yang berujung pada ekonomi yang tercerabut dari akarnya, pasti sudah melenceng dari ide dasar Adam Smith yang tidak hanya bicara tentang pasar bebas melainkan juga tentang moral sentiments.

2 Mohammad Eri Irawan, Krisis dan Kapitalisme Etis dalam Kompas, Sabtu, 4 Desember 2010 .

3 Polanyi-Levitt & Mendell, ‘Karl Polanyi: His Life….’ 1987, hal. 18-19 yang dikutip dalam Herry-Priyono, B, “Karl Polanyi: Menanam Ekonomi”, dibawakan dalam Orasi Ilmiah, 28 Oktober 2010, Unika Atma Jaya, hal. 3.

4 Albert Einstein, Ideas and Opinions. Reprint ed. (New York: Wings 1998), hal. 102. Dikutip dalamhttp://www.articlemyriad.com/economics_of_socialism_4.htm.

5 Marx, Karl, and Eds. Earnest Mandel, Das Kapital. Reprint ed. (New York: Penguin Classics, 1998), hal. 140. Dikutip dalam http://www.articlemyriad.com/ economics_of_socialism_4.htm.

6 Lihat H.G. Wilshire, Fabian Essays in Socialism. (New York:The Humboldt Publishing Co. New York, 1891). First edition: 1889, hal. 12. Dikutip dalam http://www. articlemyriad.com/economics_of_socialism_4.htm.

7 Lihat Magnis-Susen,. Berfilsafat Dari Konteks (Jakarta: Gramedia, 1992), hal. 74 8 Magnis-Suseno, op. cit., hal. 78: Kegagalan sosialisme di negara-negara Sosialis itu adalah kegagalan ideologis bukan kegagalan cita-cita etis.

(31)

9 Tentang hal ini Rhoda Halperin, Rhoda Halperin menulis: “Relasi antara Marx dan Polanyi itu kompleks. Dalam beberapa hal, karya Polanyi merupakan interpretasi dari Marx; dalam hal lain merupakan kritik. Membaca Polanyi memungkinkan kita untuk membaca Marx secara berbeda. Begitu juga sebaliknya. Isunya bukan sekadar apakah Polanyi itu seorang Marxist atau tidak”.( Bdk. Rhoda Halperin, “Polanyi, Marx, and the Institutional Paradigm in Economic Anthropology,” dalam B. L. Isaac (ed.) Research in Economic Anthropology, vol. 6, 1984, hal 268).

10 Magnis Suseno dalam bukunya Berfilsafat Dari Konteks, justru berpendapat bahwa Marx memang bukan untuk dipercayai melainkan untuk digeluti. Ia jangan dijadikan guru melainkan lawan debat. Ia jangan didekati secara konsensus melainkan secara konflik. Didekati secara kritis Marx memang dapat sangat memperkaya pengertian kita tentang masyarakat.

11 Menurut Polanyi, tenaga kerja, tanah, uang adalah komoditas fiktif karena komoditas adalah barang-barang yang diproduksi, sementara tenaga, kerja, tanah, dan uang, bukan merupakan hasil produksi.

12 Fetishism diambil dari istilah anthropologi untuk pemujaan, digunakan untuk komoditas yang mendapatkan nilai berhala baru yakni nilai tukar dan bukan nilai berdasarkan tenaga yang dipakai untuk memproduksi. Seperti dijelaskan Marx, komiditi hanya terikat pada nilai pakai. Ketika sepotong kayu diubah menjadi meja melalui tenaga kerja manusia, nilai-pakainya jelas dan, sebagai produk, meja tetap terikat pada kegunaan materialnya. Tetapi sekonyong-konyong meja berubah jadi komoditi dan mendapatkan nilai yang lebih tinggi.

13 Karl Marx, Capital, v. I, diterjemahkan oleh B. Fowkes, (London: Penguin,1976), hal. 165.. (Merujuk pada ozel@hacettepe.edu.tr erdalyilmaz_21@mynet.com

14 Karl Polanyi “The Essence of Fascism”in Christianity and The Social Revolution, J. Lewis, K., 1935 hal. 375-376. (Merujuk pada ozel@hacettepe.edu.tr erdalyilmaz_21@ mynet.com)

15 Lucio Colletti, Marxism and Hegel, translated by L. Garner, (London: New left Books, 1973) hal. 232-233). (Merujuk pada ozel@hacettepe.edu.tr erdalyilmaz_21@ mynet.com)

(32)

16 Di samping itu, keseluruhan bab (27) dalam Das Kapital, diberi judul The Expropriation of the Agricultural Population from the Land” yang menunjukkan komodifikasi tanah di Inggris. (Merujuk pada ozel@hacettepe.edu.tr erdalyilmaz_21@ mynet.com).

17 Dalton, George (ed.) (1981) Research in Economic Anthropology, vol. 4, Greenwich: JAI Press; Pembahasan oleh Maurice Godelier: pp. 64-69; kemoentar oleh Dalton: hal. 75-77

18 Stanfield, J. Ron (1980) “The Institutional Economics of Karl Polanyi,” Journal

of Economic Issues, vol.14, no.3, September, hal. 594.

19 Lihat Allen M. Sievers, Has Market Capitalism Collapsed? A Critique of Karl

Polanyi’s New Economics, (New York: Columbia University Press, 1949), hal. 307. 20Ibid., hal.307.

21 Istilah yang digunakan Marx adalah Gattungswesen, yang umumnya diterjemahkan menjadi ‘species-being’ (makhluk spesies) atau ‘species-essence’ (esensi spesies). Yang dimaksudkan Marx adalah bahwa manusia mampu menciptakan dan membentuk alamnya (nature) sendiri.

22 Materialisme historis adalah aplikasi Marxis terhadap perkembangan sejarah. Proposisi fundamental dari materialisme historis dapat dirangkum dalam satu kalimat: “Bukan kesadaran manusia yang menentukan eksistensi mereka, melainkan, sebaliknya, eksistensi sosiallah yang menentukan kesadaran mereka.” (Marx, dalam Preface to A Contribution to the Critique of Political Economy.)

23 Marx, Karl (1975) Early Writings, diterjemahkan oleh R. Livingstone, London: Penguin, hal. 327. Lihat ozel@hacettepe.edu.tr erdalyilmaz_21@mynet.com

24 Marx, Karl (1975), op. cit., hal. 350.

25 Marx, Karl (1973) Grundrisse, diterjemahkan oleh M. Nicolaus, London: Penguin.hal. 84. Lihat ozel@hacettepe.edu.tr erdalyilmaz_21@mynet.com

26 Marx, Karl (1975), op.cit., hal. 329.

27 K. Marx and F. Engels, The German Ideology, C. J. Arthur (ed.), New York: International Publishers, 1970, hal. 47. Dikutip dari ozel@hacettepe.edu.tr erdal y-ilmaz_21@mynet.com.

(33)

28 Lihat K. Marx dan F. Engels, op. cit., hal. 50.

29 Istilah Polanyi untuk menunjukkan adanya kesesatan konseptual tentang ekonomi, yang dipahami begitu saja sebagai sama dengan pasar bebas. Inilah bagian konseptual dari ketercerabutan ekonomi.

30 E.K. Hunt, “The Importance of Thorstein Veblen for Contemporary Marxism,”

Journal of Economic Issues, vol. 13, no. 1, Maret 1979, hal. 115.

31 Colletti, Lucio (1973) Marxism and Hegel, diterjemahkan oleh L. Garner, London: New left Books, hal. 228. Dikutip dari ozel@hacettepe.edu.tr erdalyilmaz_21@ mynet.com.

32 Leonard Krieger, “The Uses of Marx for History,” Political Science Quarterly, vol. 75, no. 3, 1962, hal. 375. (Dikutip dalam ozel@hacettepe.edu.tr erdalyilmaz_21@ mynet.com)

33 [M&E, Selected Correspondences, pp. 353-5]Dikutip dalam P. Manicas A History

and Philosophy of the Social Sciences, New York: Basic Blackwell, 1987, hal. 115.

34 Congdon, Lee (1976) “Karl Polanyi in Hungary, 1900-19,” Journal of

Contemporary History, vol. 11, hal. 175. (Dikutip dalam ozel@hacettepe.edu.tr erdalyilmaz_21@mynet.com)

35 Congdon, op. cit., hal. 178 36Ibid.

37 “And did those feet in ancient time/ Walk upon England’s mountains green?/……… And was Jerusalem builded here/ Among these dark Satanic mills?” Puisi selengkapnya William Bllake berjudul Jerusalem dapat dibaca di http://wonderingminstrels.blogspot. com/1999/03/jerusalem-william-blake.html

38 Masalah-masalah menyangkut pasang surutnya gerakan sosialis dapat disimak dalam buku, Magnis-Susene. 1992. Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, hal. 46-80.

39 R. Ristyantoro dalam simposium tentang Karl Polanyi menjelaskan bahwa Polanyi sebenarnya memberikan contoh jalan keluar dengan merujuk pada New Deal yang dicanangkan mendiang Presiden Amerika Serikat Roosevelt pada tahun 1920.

40 Menurut McCloskey (1997), Polanyi mengajukan pertanyaan yang tepat, tetapi memberikan jawaban yang salah ketika dia mengatakan bahwa pasar tidak memainkan

(34)

peran penting pada masyarakat manusia zaman dulu. Sebagai bukti McCloskey menya takan bahwa, semakin jauh sumber batu gunung (yang dipakai untuk membuat pisau) dari tempat tinggal orang Ma ya pembuat pisau, semakin kecil rasio bobot pisau dengan panjangnya keping pisau. Bagi McCloskey, ini mengindikasikan bahwa mereka juga memperhitungkan laba juga. (http://www.newworldencyclopedia.org/entry/Karl_Po lanyi).

41 Memang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa Marx sebenarnya tidak begitu saja menyamakan ekonomi dan pasar bebas, tetapi detail ini tidak cukup eksplisit untuk ditangkap kalau tidak diangkat oleh Polanyi. Pantas kalau ada anggapan bahwa Marx terperangkap dalam economistic fallacy.

42 Di sinilah letak masalah economistic fallacy, karena menyamakan mengidentikkan ekonomi dengan pasar. Tidak adanya pembedaan antara ekonomi formal dan ekonomi substantif.

43 Dengan demikian, kita tidak perlu studi etika ke negeri bangkrut Yunani yang juga sedang sekarat karena korupsi. Lebih tepat adalah masuk perpustakaan dan belajar dari Aristoteles, Adam Smith, Polanyi, dan Marx.

44 Inspirasi dari kerja sama antara Paulus dan Apolos dalam 1 Kor 3: 6.

Daftar Pustaka

Baum, Gregory. (1996). Karl Polanyi on Ethics and Economics. Montreal & Kingston: Mc-Gill-Queen’s University Press.

Colletti, Lucio. (1973). Marxism and Hegel, translated by L. Garner, London: New Left Books.

Dua, Mikhael. (2008). Filsafat Ekonomi. Upaya Mencari Kesejahteraan Bersama.

Yogyakarta: Kanisius.

Halperin, Rhoda. (1994). Cultural Economies: Past and Present, Austin. University of Texas Press.

Hüseyin Özel and Erdal Yýlmaz. (2005). What Can Marxists Learn From Polanyi?, Paper presented to the 10 th International Polanyi Conference: “Protecting Society and Nature from Commodity Fiction”, October 13-16, 2005, Bo ð aziçi University, Istanbul, Turkey.

(35)

Magnis Suseno, Franz. (1992). Berfilsafat dalam Konteks. Jakarta: Gramedia Magnis Suseno, Franz. (1999). Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke

Perselisihan Revisionisme. Jakarta: Gramedia.

Manicas, P. (1987). A History and Philosophy of the Social Sciences. New York: Basic Blackwell.

Marx, Karl. (1973). Grundrisse, diterjemahkan oleh M. Nicolaus. London: Penguin.

Marx, Karl . (1975). Early Writings, diterjemahkan oleh R. Livingstone. London: Penguin.

Marx, Karl .(1976). Capital, v. I, diterjemahkan oleh B. Fowkes, London: Penguin.

Marx, Karl dan Engels. F. (1970). The German Ideology. C. J. Arthur (ed.). New York: International Publishers.

Marx, Karl, dan Engels, F. (1970). The German Ideology. C. J. Arthur (ed.). New York: International Publishers.

Marx, Karl. (1981). Capital, v. III, diterjemahkan oleh D. Fernbach. London: Penguin.

Polanyi, Karl. (2001). The Great Transformation. The Political and Economic Origins of Our Time. Foreword by Joseph E. Stiglitz, Introduction by Fred Block. Boston: Beacon Press.

Stanfield, J. Ron. (1986). The Economic Thought of Karl Polanyi: Lives and Livelihood, New York: St. Martin’s Press.

Wilshire, H.G. (1891). Fabian Essays in Socialism. New York: The Humboldt Publishing Co.

Thomas Kirkup. (2006). History of Socialism. London: Adam and Charles Black. Bahan dari Internet

http://www.articlemyriad.com/economics_of_socialism_4.htm (History & Pers-pectives on the Economics of Socialism, by Nicole Hemsoth.)

(36)

http://www.articlemyriad.com/marx_kapital_chapter_summary_analysis.htm (Analysis and Chapter by Chapter Summary of Das Kapitalby Karl Marx, oleh Nicole Smith)

http://www.newworldencyclopedia.org/entry/Karl_Polanyi (Polanyi and Karl Marx)ozel@hacettepe.edu.tr erdalyilmaz_21@mynet.com (What Can Marxists Learn From Polanyi?, by Hüseyin Özel and Erdal Yýlmaz)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...