FRASA NOMINA YANG TERDIRI DARI TIGA KATA DALAM BAHASA INDONESIA

104 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

DALAM BAHASA INDONESIA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia

Program Studi Sastra Indonesia

Oleh MARYONO NIM: 06 4114 021

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA

JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)
(3)

iii

(4)

iv

Skripsi ini kupersembahkan Kepada kakakku Darsih dan para sahabatku sebagai tanda terimakasih

(5)

v Yang bertandatangan di bawah ini, saya:

Nama : Maryono

NIM : 064114021 Program Studi : Sastra Indonesia

Judul Skripsi : FRASA NOMINA YANG TERDIRI DARI TIGA KATA DALAM BAHASA INDONESIA

Menyatakan bahwa skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri. Sepanjang pengetahuan saya, judul penelitian tersebut di atas belum ada atau dipergunakan orang lain sebagai persyaratan dalam penyelesaian studi.

Yogyakarta, 20 Maret 2010 Yang menyatakan,

(6)

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma : Nama : MARYONO

Nomor Mahasiswa : 06 4114 021

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :

FRASA NOMINA YANG TERDIRI DARI TIGA KATA

DALAM BAHASA INDONESIA

beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, me-ngalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya.

Yogyakarta, 24 April 2010 Yang menyatakan

(7)

vi

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat, hidayah, dan karunia-Nya karena penulisan skripsi yang berjudul “Frasa Nomina yang Terdiri dari Tiga Kata dalam Bahasa Indonesia´´ dapat penulis selesaikan setelah melampaui proses dan masa yang tidak pendek.

Selama penyusunan skripsi ini, penulis telah banyak mendapat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak baik secara moral maupun material. Sebab itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Dr.I. Praptomo Baryadi, M.Hum. selaku pembimbing I yang telah memberi pengarahan, bimbingan, dan semangat kepada penulis dalam menyusun skripsi.

2. Drs. Hery Antono, M.Hum. selaku pembimbing II yang memberi masukan dan saran dalam menyelesaikan skripsi ini.

3. Para Dosen Program Studi Sastra Indonesia yang telah meberikan ilmu dan pengalamannya kepada penulis selama kuliah di Universitas Sanata Dharma.

4. Segenap karyawan Sekretariat Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma yang selalu membantu proses kelancaran perkuliahan.

5. Segenap karyawan perpustakaan Universitas Sanata Dharma yang telah melayani dengan ramah dan menyediakan berbagai buku yang diperlukan sebagai dari sumber pustaka.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan skripsi ini jauh dari sempurna, sebab itu, penulis mengharapkan adanya kritik dan saran dari berbagai pihak untuk penyempurnaan skripsi ini. Selain itu, penulis juga berharap penyusunan skripsi ini dapat bermanfaat dan memberi sumbangan bagi peneliti lain.

Yogyakarta, …………2010 Penulis

(8)

vii

Maryono, 2010, “Frasa Nomina yang Terdiri dari Tiga Kata dalam Bahasa indonesia“.

Program Studi Sastra Indonesia, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma.

Dalam skripsi ini dibahas frasa nomina yang terdiri dari tiga kata dalam bahasa Indonesia. Ada dua masalah yang dijawab dalam penelitian ini: (1) bagaimana struktur frasa nomina yang terdiri dari tiga kata dan (2) apa saja makna gramatikal yang diungkapkan oleh pertemuan unsur-unsur pembentuk frasa tersebut. Dari segi struktur dipaparkan berbagai macam bentuk struktur frasa nomina terdiri atas tiga kata yang dihasilkan oleh perluasan nomina yang merupakan inti frasa ke arah kiri dan kanan. Selain itu, dijabarkan pula penentuan unsur-unsur pembangun yang berupa unsur pusat dan atribut serta kategori pengisi unsur tersebut sedangkan dari segi makna dipaparkan berbagai hubungan makna gramatikal yang dihasilkan oleh pertemuan unsur-unsurnya.

Data penelelitian ini berupa kalimat yang mengandung frasa nomina yang terdiri dari tiga kata dalam bahasa Indonesia. Data tersebut diperoleh dari sumber tertulis dan lisan. Data tertulis diperoleh dari novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dan surat kabar harian Kompas sedangkan data lisan diperoleh dari ujaran-ujaran oleh peneliti dan orang lain sebagai penutur asli bahasa Indonesia. Frasa nomina yang terdiri dari tiga kata yang terdapat dalam data tersebut merupakan objek dalam penelitian ini.

Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap, yaitu (i) pengumpulan data, (ii) analisis data, dan (iii) penyajian analisis data. Dalam tahap pengumpulan data penulis menggunakan metode simak sedangkan teknik yang digunakan adalah teknik sadap yang merupakan teknik dasarnya. Selanjutnya teknik lanjutan yang digunakan adalah teknik catat, yaitu mencatat data baik dari sumber tertulis maupan lisan. Setelah pengumpulan data dirasa cukup, langkah berikutnya adalah menganalisis data dengan menggunakan metode agih (distribusional). Penerapan metode ini melalui teknik dasar dan lanjutan. Teknik dasar metode agih adalah teknik bagi unsur langsung sedangkan teknik lanjutan yang digunakan adalah teknik sisip, lesap, baca markah, ganti, dan ubah wujud (parafrasa).

(9)

viii

(10)

ix

Maryono, 2010, “Tree-words Nominal Phrases in Bahasa Indonesia”.

Indonesian Literature, Department of Indonesian Literature, Faculty of Letters, Sanata Dharma University.

This undergraduate thesis discusses about three-words nominal phrases in bahasa Indonesia. There are two problems that are going to be answered in this study, namely: (1) What is the structure of the three-word nominal phrases and (2) what are grammatical meanings revealed by the connection of the forming elements of the three-word nominal phrases in the discussion of the structure, various types of formal structure of the three-word nominal phrases produced by expansion of the noun heads to left and right sides of them are elaborated in addition, the determination of forming elements, namely the central element, attribute, and the categories of the element constructor is discussed. Meanwhile, as for the discussion on meaning, diverse connection of grammatical meaning, produced by the contacts their elements, are explained.

The data used in this study are sentences containing three-word nominal phrases in bahasa Indonesia. Those data were collected from written and oral resources. Written data were obtained from the Ahmad Tohari´s novel Ronggeng

Dukuh Paruk and Kompas daily newspaper. Meanwhile, the oral ones were

gathered from utterances produces by the researcher himself and ather bahasa Indonesia speakers. Three-word nominal phrases existing in those data are the object of this research.

This research was done through three phases, namely: (i) data collection, (ii) data analysis, and (iii) data analysis presentation. In the phases of data collection, the researcher used the scrutiny method, while the technique applied was tapping, which is the basic technique. Furthermore, the next technique utilized was note-taking, writing down both the written and oral data. After the data collected were sufficient, the next step was to analyze the data by using distributional method. The application of the method was done through basic and advanced techniques. The basic technique of distributional method is the technique of direct division, while the advanced ones are insertion, deletion, marh reading, substitution, and paraphrasing.

(11)

x

(12)

xi

(13)

xii S : subjek

UP : unsur pusat V : verba

B. Daftar Lambang

(14)

xiii

Halaman

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI ... iii

PERSEMBAHAN ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

KATA PENGANTAR ... vi

1.6.4 Unsur Frasa Menurut Kategori... 14

(15)

xiv

2.2 Frasa Nomina yang Berstruktur Frasa (Fr) + Kata Nomina (N) ... 22 2.3 Frasa Nomina yang Berstruktur Kata (K) + Frasa Nomina

(FN) ... 25 2.3.1 Frasa Nomina yang Berstruktur Kata Numeralia

(KNum) + Frasa Nomina (N+N)... 25 2.3.2 Frasa Nomina yang Berstruktur Kata Penggolong

(KPg) + Frasa Nomina (N+N) ... 28 2.3.3 Frasa Nomina yang Berstruktur Kata Penggolong

(KPg) + Frasa Nomina (N+Adj). ... 30 2.3.4 Frasa Nomina yang Berstruktur Artikel (Art) + Frasa nomina (N+Adj). ... 32 2.4 Frasa Nomina yang Berstruktur Frasa Nomina

(FN) + Kata (K)... 34 2.4.1 Frasa Nomina yang Berstruktur Frasa Nomina

(N+N) + Nomina (N). ... 34 2.4.2 Frasa Nomina yang Berstruktur Frasa Nomina

(N+N) + Pronomina (Pr) ... 36 2.4.3 Frasa Nomina yang Berstruktur Frasa Nomina

(N+N) + Adjektiva (Adj) ... 38 2.4.4 Frasa Nomina yang Berstruktur Frasa Nomina

(N+N)+Demonstrativa (Dm)... 40 2.4.5 Frasa Nomina yang Berstruktur Frasa Nomina

(N+Adj) + Pronomina (Pr) ... 42 2.4.6 Frasa Nomina yang Berstruktur Frasa Nomina

(N+Adj) + Demonstrativa (Dm) ... 44 2.5 Frasa Nomina yang Berstruktur Kata Nomina

(N) + Frasa (Fr). ... 46 2.5.1 Frasa Nomina yang Berstruktur Nomina

(16)

xv

2.5.3 Frasa Nomina yang Berstruktur Nomina

(N) + Frasa Adverbia (FAdv)... 50

2.5.4 Frasa Nomina yang Berstruktur Nomina (N) + Frasa Verba (FVer)... 52

2.6 Frasa Nomina yang Berstruktur Nomina (N) + Konjungsi (Knj) + Nomina ... 54

2.7 Frasa Nomina yang Berstruktur Nomina (N) + Konjungsi (Knj) + Kata Bukan Nomina ... 57

2.7.1 Frasa Nomina yang Berstruktur Nomina (N) + yang + Adjektiva ... 57

2.7.2 Frasa Nomina yang Berstruktur Nomina (N) + yang + Adverbia ... 59

2.8 Frasa Nomina yang Berstruktur Kata Yang ... 61

2.8.1 Frasa Nomina yang Berstruktur Kata Yang + Frasa Verba (FV) ... 61

2.8.2 Frasa Nomina yang Berstruktur Yang + Frasa Preposisi (FPr) ... 63

BAB III HUBUNGAN MAKNA UNSUR-UNSUR PEMBENTUK FRASA NOMINA 3.1 Pengantar... 66

3.2 Hubungan Makna Unsur-unsur Pembentuk Frasa Nomina yang Beratribut di Sebelah Kiri Unsur Pusat. ... 66

3.2.1 Hubungan Makna ´Jumlah´... 67

3.2.2 Hubungan Makna ´Jamak´ ... 68

3.2.3 Hubungan Makna ´Keseluruhan´ ... 68

3.3 Hubungan Makna Unsur-unsur Pembentuk Frasa Nomina yang Beratribut di Sebelah Kanan Unsur Pusat. ... 69

(17)

xvi

3.3.4 Hubungan Makna ´Asal Bahan´ ... 72

3.3.5 Hubungan Makna ´Proses´... 73

3.3.6 Hubungan Makna ´Perbandingan´ ... 73

3.3.7 Hubungan Makna ´Merek Dagang´ ... 74

3.3.8 Hubungan Makna ´Kelompok´ ... 75

3.3.9 Hubungan Makna ´Penjelas´... 75

3.3.10 Hubungan Makna ´Superlatif´ ... 76

3.3.11 Hubungan Makna ´Arah Tujuan´ ... 77

3.3.12 Hubungan Makna ´Penerima´ ... 78

3.3.13 Hubungan Makna ´Pembatas´ ... 78

3.4 Hubungan Makna Unsur-unsur Koordinatif Frasa Nomina... 79

4.1.1 Struktur Frasa Nomina yang Terdiri dari Tiga... 83

4.1.2 Hubungan Makna Gramatikal Unsur-unsur Pembentuk Frasa Nomina ... 85

4.2 Saran... 86

(18)

1 1.1Latar Belakang

Dalam skripsi ini dibahas tentang frasa nomina yang terdiri dari tiga kata

dalam bahasa Indonesia. Frasa nomina adalah frasa modifikatif yang terjadi dari

nomina sebagai induk dan unsur perluasan lain yang mempunyai hubungan

subordinatif dengan induk (Kridalaksana, 1988: 85).

Dalam frasa yang terdiri dari tiga kata, nomina yang sebagai induk dapat

berupa kata maupun frasa. Berikut ini contohnnya:

(1)Dua ekor burung melayang meniti angin, berputar-putar tinggi di

langit.

(2)Perawan kecil itu sedang merangkai daun nangka dengan sebatang lidi untuk dijadikan sebuah mahkota.

Frase dua ekor burung (1), kata nomina burung merupakan induk dan

frasa dua ekor merupakan unsur perluasan yang mempunyai hubungan subordinatif

dengan induk, yaitu burung yang termasuk kategori nomina, sehingga frasa dua

ekor burung termasuk golongan frasa nomina. Hal ini dapat dibuktikan melalui

teknik lesap.

(1a) Φ Burung melayang meniti angin, berputar-putar tinggi di langit.

Frasa Perawan kecil itu (2), frasa perawan kecil merupakan induk

sedangkan kata itu merupakan unsur perluasan yang mempunyai hubungan

subordinatif dengan induk, yaitu perawan kecil yang temasuk kategori nomina,

sehingga frasa perawan kecil itu termasuk golongan frasa nomina. Hal ini dapat

(19)

(2a) Perawan kecil Φ sedang merangkai daun nangka dengan sebatang lidi untuk dijadikan sebuah mahkota.

Dalam menentukan unsur-unsur dan kategori kata pada frasa nomina yang

terdiri dari tiga kata diperlukan adanya hirarki dalam bahasa yang berupa diagram

pohon. Pada diagram di bawah ini dipaparkan proses pembentukan frasa.

Frasa dua ekor burung dalam kalimat (1) terdiri dari tiga kata, yaitu kata

dua, ekor, dan burung . Kata burung berkaitan dua sehingga frasa dua ekor burung

terdiri atas dua unsur, yaitu frasa dua ekor dan kata . Begitu pula frasa perawan

kecil itu (2) terdiri dari tiga kata, yaitu kata perawan, kecil dan itu. Kata itu

berkaitan dengan perawan sehingga frasa perawan kecil itu terdiri atas dua unsur,

yaitu frasa perawan kecil dan kata itu. Berikut ini diagramnya.

(1b)

dua ekor burung

dua ekor

dua ekor burung

(20)

(2b)

perawan kecil itu

perawan kecil

perawan kecil itu

Kata burung (1b) dan frasa perawan kecil (2b) masing-masing sebagai

induk atau unsur pusat, sedangkan frasa dua ekor (1b) dan kata itu (2b)

masing-masing sebagai unsur perluasan atau atribut berkategori frasa numeralia dan kata

penunjuk (demonstrativa). Selanjutnya, frasa numeralia dua ekor (1b) terdiri atas

numeralia dua dan kata penggolong ekor dan perawan kecil (2b) terdiri atas

nomina perawan dan adjektiva kecil.

Dari uraian kedua contoh tersebut dapat dikatakan bahwa frasa dua ekor

burung merupakan frasa nomina yang berstruktur frasa numeralia (FNum) + kata

nomina (KN) sedangkan perawan kecil itu merupakan frasa nomina yang

berstruktur frasa nomina (FN) + kata demonstrativa (Dstr). Dari kenyataan tersebut

timbul permasalahan, yaitu bagaimana struktur frasa nomina yang terdiri dari tiga

kata dalam bahasa Indonesia.

Dari sudut makna gramatikal, penggabungan unsur kata atau frasa nomina

yang merupakan unsur pusat dengan unsur kata atau frasa nomina atau bukan

nomina yang merupakan atribut membentuk frasa nomina yang terdiri dari tiga

(21)

kalimat (1), frasa dua ekor yang merupakan unsur atribut menyatakan hubungan

makna ´jumlah´ bagi kata burung yang merupakan usur pusat. Hal ini dapat

dibuktikan dengan kalmat tanya yang menanyakan jumlah seperti di bawah ini:

(1) Berapa burung yang melayang meniti angin, berputar-putar tinggi di langit?

Dalam frasa perawan kecil itu (2), kata itu yang merupakan unsur atribut

menyatakan hubungan makna ´bukan yang lain´ (´penentu´) bagi frasa perawan

kecil yang merupakan unsur pusatnya karena demonstrativa itu digunakan sebagai

penunjuk kata atau frasa yang merupakan unsur pusatnya.

Dari kedua contoh tersebut dapat dikatakan bahwa penggabungan unsur

pusat dan atribut dalam frasa nomina menghasilkan makna tertentu. Dari kenyataan

inilah muncul permasalahan yaitu makna gramatikal apa saja yang dapat dihasilkan

dari pertemuan kedua unsur tersebut dalam frasa nomina.

Frasa nomina yang terdiri dari tiga kata perlu diteliti mengingat unsur pusat

dapat diperluas ke arah kiri dan kanan. Perluasan ini membuat penulis antusias

untuk menjadi wadah ide kreatif dalam merangkai kata dalam satu frasa. Dari

perluasan tersebut dapat diketahui kategori kata atau frasa apa saja yang dapat

mengisi unsur sebagai atribut.

Selain alasan tersebut, frasa nomina yang terdiri dari tiga kata perlu diteliti

karena belum ada ahli linguistik yang meneliti secara khusus. Chaer (1988: 350 –

365) dalam bukunya yang berjudul Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia

membahas tentang macam-macam frasa nomina, tetapi tidak membahas secara

khusus kategori pengisi atribut dan makna yang dihasilkan dalam frase nominal.

(22)

secara mendalam membahas penentuan unsur pusat dari frase nominal yang terdiri

tiga kata atau lebih tetapi unsur pengisi atribut tidak dijelaskan secara khusus.

1.2Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang, masalah dapat dirumuskan

sebagai berikut:

a. Bagaimanakah struktur frasa nomina yang terdiri dari tiga kata?

b. Makna gramatikal apa sajakah yang diungkapkan oleh hubungan

unsur-unsur pembentuk frasa nominal yang terdiri dari tiga kata?

1.3Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan struktur frasa nomina yang

terdiri dari tiga kata dalam bahasa Indonesia. Tujuan tersebut dapat dirinci sebagai

berikut:

a. Mendeskripsikan struktur frasa nomina yang terdiri dari tiga kata dalam

bahasa Indonesia.

b. Mendeskripsikan makna gramatikal yang diungkapan oleh hubungan

unsur-unsur tersebut dalam frasa nomina yang terdiri dari tiga kata dalam

bahasa Indonesia.

1.4Manfaat Penelitian

Secara umum hasil penelitian ini berupa kaidah-kaidah struktur, kategori

(23)

terdiri dari tiga kata. Kaidah tersebut diharapkan dapat memberi sumbangan bagi

pengembangan tata bahasa Indonesia khususnya struktur frasa bahasa Indonesia.

Manfaat yang lebih khusus lagi yaitu hasil penelitian ini dapat digunakan alat

bantu penerjemahan bahasa asing khususnya bahasa Inggris ke dalam bahasa

Indonesia. Dalam bahasa Indonesia, frasa nomina yang terdiri dari tiga kata dapat

dibentuk dengan memperluas inti frasa ke kiri (pewatas depan) dan ke kanan

(pewatas belakang). Begitu pula dalam bahasa Inggris, namun yang menjadi masalah adalah urutan penyusunan kategori kata pengisi pewatas depan dan

pewatas belakang berbeda.

Dalam bahasa Indonesia, pewatas yang dapat mendahului nomina sebagai

unsur pusat hanyalah kategori kata numeralia dan kategori kata penggolong,

sedangkan dalam bahasa Inggris kurang lebih ada enam kategori kata yang dapat

mendahului nomina sebagai unsur pusatnya. Kategori kata tersebut tidak harus ada

semua, namun urutan pewatas harus dipatuhi. Berikut contoh perbandingan frasa

nominal yang terdiri dari tiga kata dalam Bahasa Indonesia dan Inggris.

(3) Tiga lembar kertas di atas meja.

(4) Three sheetss of papers on the table.

(5) Gadis cantik itu pacarku.

(6) That prity girl is my girl friend.

Dari contoh frase tiga lembar kertas kalimat (3) dan three sheets of paper

(4) mengalami perluasan ke depan sebagai unsur pusatnya adalah kata kertas dan

kata paper. Jika diperhatikan urutan kategori kata yang mendahului unsur pusat

(24)

tiga diikuti kata penggolong lembar dan kata numeralia three diikuti preposisi of

dan kata penggolong peaces. Jadi dalam hal ini dapat dikatakan pewatas yang dapat

mendahului nomina dalam bahasa Indonesia dan Inggris dengan kategori kata

numeralia dan penggolong sama urutanya.

Lain halnya frasa gadis cantik itu (5) dan frase that prity girl (6). Kata

penunjuk (demonstrativa) itu yang merupakan unsur atribut terletak di sebelah

kanan dari frasa gadis cantik yang merupakan unsur pusat sedangkan kata that yang

merupakan unsur atribut terletak di sebelah kiri frasa prity girl yang merupakan

unsur pusat. Selanjutnya frasa gadis cantik terdiri atas nomina gadis yang diikuti

adjektiva cantik sedangkan frasa prity girl terdiri atas adjektiva prity yang diikuti

nomina girl.

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa frasa nomina yang terdiri dari

tiga kata dalam bahasa Indonesia, kata demonstrativa yang merupakan unsur

atribut terletak di sebelah kanan unsur pusat sedangkan dalam bahasa Inggris

terletak di sebelah kiri unsur pusat. Begitu pula urutan kategori kata dalam frasa

nomina yang merupakan uinsur pusat terdiri atas nomina diikuti adjektiva

sedangkan dalam bahasa Inggris sebaliknya, yaitu adjektiva diikuti nomina.

1.5Tinjauan Pustaka

Pembicaraan tentang frasa nomina dalam bahasa Indonesia oleh para ahli

tata bahasa dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu (1) batasan atau pengertian

(25)

pengisi atribut dalam frasa nomina. Para ahli tata bahasa tersebut adalah Verhaar

(1996), Kridalaksana (1988), Ramlan, (1983), dan Chaer (1988).

Verhaar (1996: 293) menjelaskan batasan frasa nomina. Frasa nomina

terdiri dari atas nomina sebagai induk dan atribut. Atribut dapat berupa nomina (N)

maupun bukan nomina (nN).

Kridalaksana (1988) dalam bukunya yang berjudul Beberapa Prinsip

Perpaduan Leksem dalam Bahasa Indononesia menyebutkan bahwa frasa nomina

merupakan frasa modifikasif yang terjadi dari nomina sebagai induk dan unsur

perluasan lain yang mempunyai hubungan subordinatif dengan induk, yaitu

adjektiva, verba, numeralia, demonstrativa, pronominal, frasa preposisi, frasa

dengan yang, konstruksi yang … nya, serta frasa lain. Mengenai hubungan makna

gramatikal yang terjadi antara komponen-komponen (unsur) frasa dijabarkan secara

matematis, seperti ´a penyebab b´ dalam frasa kuman penyakit, sedangkan

penjabaran tentang kategori pengisi unsur frasa tidak dijelaskan secara rinci

khususnya tentang frasa nomina yang terdiri dari tiga kata.

Ramlan (1983) dalam bukunya yang berjudul Sintaksis: Ilmu Bahasa

Indonesia menjelaskan frasa nomina ialah frasa yang memeliki distribusi yang sama

dengan kata nomina. Selain itu pememaparan tentang frasa nomina dikupas sangat

rinci baik dari segi struktur, hubungan makna antar unsur-unsurnya dan pengisi

unsur atribut. Dari segi struktur dipaparkan bagaimana cara menentukan unsur

pusat maupun atribut untuk frasa nomina yang terdiri atas lebih dari dua kata.

namun mengenai frasa nomina yang terdiri dari tiga kata tidak dibahas secara

(26)

Chaer (1988: 350 – 361) dalam bukunya yang berjudul Tata Bahasa Praktis

Bahasa Indonesia mengatakan bahwa unsur-unsur pembentuk frasa nomina dapat

berstruktur diterangkan – menerangkan (D-M) dan menerangkan – diterangkan

(M-D). Unsur D adalah nomina dan M adalah kata yang menerangkan nomina.

Dalam frasa nomina yang terdiri dari tiga kata, kemungkinan unsur D

dapat berupa kata nomina sedangkan unsur M berupa frasa atau unsur D berupa

frasa nomina sedangkan unsur M berupa kata. Perhatikan contoh berikut: frase

sepasang burung bangau. Kata sepasang (M) menerangkan frasa burung bangau

(D). Sedangkan frase perawan kecil itu (2) terdiri dari frasa perawan kecil (D) dan

kata itu (M). Kata itu menerangkan kata perawan kecil pada frase perawan kecil itu.

Selain itu, penelitian frasa nomina pernah dilakukan oleh Ernawati (2003)

yang berjudul Frasa Nominal yang Terdiri dari Dua Unsur dalam Bahasa

Indonesia. Dalam penelitianya dipaparkan tentang kategori dan makna gramatikal

frasa nomina yang terdiri dari dua kata tetapi tidak membahas struktur frasa. Selain

itu, dalam penentuan unsur frasa nomina yang terdiri dari tiga kata berbeda dengan

unsur frasa nomina yang terdiri dari dua kata.

1.6Landasan Teori

Landasan teori yang digunakan untuk memecahkan masalah penelitian ini

adalah (1) pengertian frasa, (2) jenis frasa, (3) unsur-unsur frasa menurut jumlah

(27)

1.6.1 Pengertian Frasa

Sebuah kalimat dapat dibagi menjadi beberapa bagian, dan bagian-bagian

tersebut terdiri atas kata atau gabungan kata yang mengacu pada satu makna.

Gabungan kata tersebut oleh para ahli linguistik disebut frasa, dan diberi pengertian

sebagai berikut:

a. Frasa adalah satuan gramatikal yang terdiri atas dua kata atau lebih yang

tidak melampaui batas fungsi (Ramlan, 1986: 142).

b. Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang sifatnya tidak predikatif;

gabungan itu dapat rapat dan renggang (Kridalaksana, 1983: 46)

c. Frasa adalah satuan linguistik yang secara potensial merupakan gabungan

dua kata atau lebih yang tidak mempunyai ciri-ciri klausa atau tidak

melampaui batas subjek atau predikat (Tarigan, 1984: 50).

Dari ketiga padangan tersebut dapat disimpulkan bahwa frasa adalah satuan

linguistik (gramatika) yang terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak mempunyai

ciri klausa atau tidak batas fungsi. Yang dimaksud tidak melampaui batas fungsi

mengandung arti bahwa satuan gramatik tersebut selalu berada di dalam satu fungsi

unsur klausa yaitu subjek (S), predikat (P), objek (O), pelengkap (Pel), atau

keterangan (Ket).

1.6.2 Jenis Frasa

Ramlan, (1982) dalam bukunya yang berjudul Sintaksis disebutkan bahwa

jenis frasa berdasarkan distribusinya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu frasa

(28)

distribusi yang dengan unsurnya, baik semua unsurnya maupun salah satu dari

unsurnya sedangkan frasa eksosentrik adalah frasa yang tidak mempunyai distribusi

yang sama dengan semua unsurnya.

Menurut Kridalaksana (1987: 81) dalam bukunya yang berjudul

Beberapa Prinsip Perpaduan Leksem dalam Bahasa Indonesia disebutkan bahwa

frasa endosentrik yang beriduk satu terdiri atas frasa nomina, adjektiva, pronomina,

numeralia, dan verba sedangkan yang beriduk banyak terdiri atas frasa koodinatif

dan apositif. Frasa endosentrik adalah frasa yang mempunyai distribusi yang sama

dengan unsurnya, baik semua unsurnya maupun salah satu dari unsurnya (Ramlan,

1983: 140)

Seperti dikemukakan pada awal bab I, frasa nomina adalah frasa modifikatif

yang terjadi dari nomina sebagai induk dan unsur perluasan lain yang mempunyai

hubungan subordinatif dengan induk (Kridalaksana, 1988: 85).

Dalam frasa nomina yang terdiri dari tiga kata dalam bahasa Indonesia,

nomina yang sebagai induk dapat berupa kata N atau FN. Berikut ini contohnya:

(7) Gumpalan rumput kering menggelinding dan berhenti karena terhalang pematang.

(8) Tiga ujung kulub terarah pada titik yang sama.

Frasa gumpalan rumput kering (7) frasa gumpalan rumput merupakan

induk dan kata kering sebagai unsur perluasan yang mempunyai hubungan

subordinataif dengan induk, yaitu gumpalan rumput yang termasuk kategori FN

nomina yang berinti N gumpalan. Begitu pula frasa tiga ujung kulup (8), kata kulup

(29)

hubungan subordinatif dengan induk, yaitu kulup yang termasuk kategori N. Hal

ini dapat dibuktikan teknik lesap, seperti tampak pada kalimat berikut:

(7a) Gumpalan rumput Φ menggelinding dan berhenti karena terhalang

pematang.

(8a) Φ Kulub terarah pada titik yang sama.

Frasa verba adalah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata

golongan verba (Ramlan, 1983: 154). Berikut ini contohnya:

(9) Dua perjaka tanggung sedang menuruni bukit membawa sepikul kayu bakar.

Frasa sedang menuruni (9) mempunyai distribusi yang sama dengan kata

menuruni. Kata menuruni termasuk golongan verba, karena itu frasa sedang

menuruni termasuk golongan frasa verba. Persamaan distribusi tampak seperti

kalimat di bawah ini.

(9a) Dua perjaka tanggung - menuruni bukit membawa sepikul kayu bakar.

Frasa bilangan (numeralia) adalah frasa yang mempunyai distribusi yang

sama dengan kata bilangan (Ramlan, 1983: 146). Berikut ini contohnya.

(10) dua ekor kambing sedang makan rumput di lapangan.

Frasa dua ekor dalam dua ekor kambing (10) yang mempunyai distribusi

yang sama dengan kata dua. Kata dua termasuk golongan numeralia sehingga frasa

dua ekor dapat dikatakan sebagai frasa numeralia. Persamaan distribusi itu tampak

seperti kalimat berikut.

(10a) dua - kambing sedang makan rumput di lapangan.

Frasa keterangan adalah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan

(30)

(11) Pesta kemarin malam membuat para tamu bahagia.

Frasa kemarin malam dalam pesta kemarin malam (11) yang mempunyai

distribusi yang sama dengan kata kemarin. Kata kemarin termasuk golongan

adverbia, karena itu, frasa kemarin malam termasuk golongan frasa adverbia.

Persamaan distribusi tampak seperti kalimat di bawah ini.

(11a) Pesta kemarin - membuat para tamu bahagia.

Frasa depan (preposisi) adalah frasa yang diawali oleh kata depan sebagai

penanda, diikuti oleh kata/frasa golongan nomina, verba, bilangan, atau adverbia

sebagai penanda. Berikut ini contohnya.

(12) Urat-urat di tangan mulai menegang.

Frasa di tangan dalam urat-urat di tangan (12) termasuk frasa preposisi

karena frasa di tangan terdiri atas preposisi di sebagai penanda, diikuti nomina

tangan sebagai petanda.

Frasa endosentrik yang koordinatif adalah frasa yang unsur-unsurnya setara

(Ramlan, 1983: 142) sedangkan frasa endosentrik yang apositif adalah frasa yang

unsur unsurnya tidak dapat dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau

(Ramlan, 1983: 143)

1.6.3 Unsur Frasa Menurut Jumlah Kata

Anton Moeliono dkk., ed. (1988) dalam bukunya yang berjudul Tata Bahasa

Baku Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa unsur pembangun suatu frasa adalah

unsur inti yang dinamakan unsur pusat dan konstituen bawahan yang merupakan

perluasan dari inti dinamakan pewatas atau atribut. Berarti dalam frasa nomina yang

(31)

(unsur pusat) dan frasa yang merupakan konstituen bawahan (atribut) atau frasa

yang menduduki fungsi sebagai unsur pusat dan kata yang menduduki fungsi

sebagai atribut.

1.6.4 Unsur Frasa Menurut Kategori

Kategori adalah golongan satuan bahasa yang anggotanya mempunyai

perilaku sintaksis dan sifat hubunganya sama (KBBI, 2008: 635). Menurut

Moeliono, dkk.,ed. (1988: 30) dalam bahasa Indonesia terdapat empat kategori

utama, yaitu nomina atau kata benda, verba atau kata kerja adjektiva atau kata sifat,

dan adverbia atau kata keterangan. Selain itu, ada satu kelompok lain yang

dinamakan kata tugas yang terdiri atas sub-kelompok yang kecil, misalnya preposisi

atau kata depan, konjungsi atau kata sambung, dan partikel.

Dalam frasa nomina yang terdiri dari tiga kata, kata atau frasa yang

merupakan unsur pusat selalu berkategori nomina sedangkan kata atau frasa yang

merupakan atribut dapat berupa nomina atau bukan nomina.

1.6.5 Makna Frasa

Makna adalah pertautan yang ada antara satuan bahasa (Djajasudarma, 1993:

13). Chaer (1989: 59-62) menyebutkan bahwa berdasarkan jenis semantiknya,

makna dapat dibedakan atas makna gramatikal dan makna leksikal.

Makna gramatikal adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya proses

gramatikal seperti afiksasi, reduplikasi, dan komposisi, sedangkan makna leksikal

(32)

obsevasi alat indera, atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan

kita

Pertemuan unsur-unsur dalam suatu frasa menimbulkan hubungan makna

(Ramlan, 1983: 148). Pada penelitian ini dibahas hubungan makna yang terjadi

karena pertemuan unsur-unsur pembentuk frasa nomina yang terdiri dari tiga kata.

Pada frasa gumpalan rumput kering (7) terdiri dari unsur frasa gumpalan rumput

dan kata kering. Pertemuan kata kering yang merupakan unsur atribut menyatakan

makna ´penjelas´ bagi unsur frasa gumpalan rumput dalam frasa gumpalan rumput

kering. kata tiga yang merupakan unsur atribut menyatakan makna `jumlah` bagi

frasa ujung kulup yang merupakan unsur pusat dalam frasa tiga ujung kulub (8).

1.7 Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap, yaitu (1) tahap pengumpulan

data, (2) tahap analisis data, dan (3) tahap penyajian data. Pelaksanaan setiap tahap

menggunakan metode dan teknik tertentu.

1.7.1 Metode dan Teknik Pengumpulan Data

Data penelitian adalah kalimat yang mengandung frasa nomina yang terdiri

dari tiga kata. Data diperoleh dari sumber tertulis dan lisan. Data tertulis diperoleh

dari novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dan surat kabar harian

Kompas sedangkan data lisan diperoleh dari ujaran-ujaran orang lain.

Penyediaan data lisan dilakukan dengan metode simak. Penerapan

selanjutnya digunakan teknik sadap, yaitu menyadap penggunaan bahasa

(33)

adalah teknik catat, yaitu mencatat data yang diperoleh dari sumber tertulis maupun

lisan. Pengumpulan data yang diperoleh dari sumber tertulis dan lisan tersebut

kemudian diklasifikasikan berdasarkan struktur, unsur dan kategori pembentukan.

1.7.2 Metode dan Teknik Analisis Data

Langkah berikutnya adalah menganalisis data yang sudah terklasifikasi

dengan menggunakan metode agih. Metode agih merupakan metode penelitian

bahasa yang alat penentunya ada di dalam dan merupakan bagian dari bahasa yang

diteliti (Sudaryanto, 1993: 15). Untuk menerapkan metode ini digunakan teknik

dasar metode agih yaitu teknik bagi unsur langsung. Teknik lanjutan yang

kemudian digunakan adalah teknik sisip, teknik lesap, teknik baca markah, dan

teknik ganti.

Menurut Sudaryanto (1993: 31), teknik bagi unsur langsung merupakan

teknik analisis data dengan cara membagi suatu konstruksi menjadi beberapa bagian

dan bagian-bagian itu dipandang sebagai bagian yang langsung membentuk

kontruksi yang dimaksud. Dalam penelitian ini, teknik_ini digunakan untuk

menentukan bagian – bagian konstruksional dari suatu fungsi. Hasil penerapan

teknik bagi unsur langsung menjadi dasar bagi analisis data selanjutnya. Contoh

kerja teknik bagi unsur langsung dalam kalimat (8) Sepasang burung bangau

melayang meniti angin.

Kalimat tersebut dibagi menjadi empat bagian yaitu:

a. sepasang burung bangau,

b. melayang,

c. meniti, dan

(34)

Teknik sisip adalah teknik analisis data dengan cara menyisipkan satuan

kebahasaan lain di antara konstruksi yang dianalisis (Kesuma, 2003: 60).

Dalam penelitian ini, teknik sisip digunakan untuk menentukan hubungan makna

yang dihasilkan oleh pertemuan unsur-unsur dalam frasa nomina. Berikut ini

contohnya.

(9) Batik tulis Pekalongan diekspor ke berbagai mancanegara.

(10) Pulau Bali mempunyai laut berair jernih.

Frasa batik tulis Pekalongan (9) dan laut berair jernih (10) masing –masing terdiri atas dua unsur, yaitu frasa batik tulis dan kata pekalongan (9) dan kata laut

dan frasa berair jernih. Kata Pekalongan yang merupakan unsur atribut menyatakan

makna ´asal´ bagi frasa batik tulis yang merupakan unsur pusat dalam frasa batik

tulis Pekalongan (9). Hal ini dapat dibuktikan dengan penyisipan preposisi dari

sebagai penanda asal di antara kedua unsur tersebut. Begitu pula frasa berair jernih

yang merupakan unsur atribut menyatakan makna ´pejelas´ bagi kata laut yang

merupakan unsur pusat dalam frasa laut berair jernih (10) karena hubungan makna

ini ditandai oleh kemungkinan diletakannya konjungsi yang di antara kedua

unsurnya. Kalimat di atas menjadi:

(9b) Batik tulis dari Pekalongan diekspor ke berbagai mancanegara.

(10b) Pulau Bali mempunyai laut yang berair jernih.

Teknik lesap ialah teknik analisis data dengan cara melesapkan satuan

kebahasaan yang dianalisis (Sudaryanto, 1993: 40). Dalam penelitian ini, teknik

lesap digunakan untuk membuktikan kadar keintian satuan kebahasaan dalam suatu

(35)

(11) Banyak naskah melayu tersebar di pulau ini..

(12) Bau keringat laki-laki membuat setiap anak perempuan menjadi cepat dewasa..

Frasa naskah melayu (11) dan bau keringat (12) masing-masing merupakan

unsur pusat dalam frasa banyak naskah melayu (11) dan bau keringat laki-laki (12)

karena memiliki distribusi yang sama dengan seluruh frasanya sedangkan kata

banyak (11) dan laki-laki (12) masing – masing merupakan unsur atribut. Hal ini

dapat dibuktikan dengan menggunakan teknik lesap, yaitu melesapkan unsur

atributnya kalimat di atas masih tetap gramatikal, seperti tampak pada kalimat

berikut.

(11a) Φ Naskah melayu tersebar di pulau ini.

(12a) Bau keringat Φ membuat setiap anak perempuan menjadi cepat

dewasa..

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa unsur pusat tidak mungkin

dilesapkan. Apabila unsur pusat dilesapkan, bagian kalimat sisanya tidak

gramatikal. Hal ini tampak pada kalimat berikut.

(11b) * Banyak Φtersebar di pulau ini.

(12b) *. Bau Φ membuat setiap anak perempuan menjadi cepat dewasa.

Teknik baca markah adalah teknik analisis data dengan cara “ membaca

pemarkah atau penanda“ dalam suatu konstruks (Kesuma, 2007: 66). Pemarkah itu

adalah alat seperti imbuhan, kata penghubung, kata depan, dan artikel yang

menyatakan ciri ketatabahasaan (Kridalaksana, 2001: 161).

Dalam penelitian ini, teknik baca markah digunakan untuk menentukan

(36)

(13) Cerita nenek itu hanya bisa kurekam setelah aku dewasa.

(14) Sampean berdua ini tidak tau diuntung!

Dalam frasa cerita nenek itu (13) dan sampean berdua ini (14), unsur kata itu

dan ini masing-masing yang merupakan atribut menyatakan hubungan makna

´penentu´ bagi frasa cerita nenek dan sampean berdua yang merupakan unsur pusat.

Teknik ganti adalah teknik analisis data dengan cara mengganti satuan

kebahasaan tertentu di dalam suatu konstruksi dengan satuan kebahasaan yang lain

di luar konstruksi yang bersangkutan (Kesuma, 2007: 58).

Dalam penelitian ini, teknik ganti digunakan untuk menentukan satuan

kemaknaan yang terjadi karena pertemuan unsur-unsur pembentuk frasa nomina.

Berikut ini contohnya.

(15) Setiap hari saya makan sebutir telur ayam.

(16) Segelas air putih berada di meja makan.

Dalam frasa sebutir telur ayam (15) kata sebutir yang merupakan unsur

atribut menyatakan hubungan makna ´satu´ bagi frasa telur ayam karena kata

sebutir dapat diganti dengan frasa satu butir. Begitu dalam frasa segelas air putih

(16), kata segelas yang merupakan atribut menyatakan makna ´satu´ bagi frasa air

putih yang merupakan unsur pusat karena kata segelas dapat diganti dengan frasa

satu gelas, seperti tampak pada kalimat berikut.

(15a) Setiap hari saya makan satu butir telur ayam.

(16a) Satu gelas air putih berada di meja makan.

Teknik ubah ujud atau teknik parafrasa adalah teknik analisis data dengan

(37)

63). Dalam penelitian ini, teknik ubah ujud digunakan untuk menentukan satuan

makna yang dihasilkan oleh pertemuan unsur dalam frasa. Berikut ini contohnya.

(17) Sang raja dangdut menikah siri lagi.

Kata sang yang merupakan unsur atribut menyatakan makna ´julukan´ atau

´sebutan´ bagi unsur raja dangdut. Hal ini dapat dibuktikan dengan mengubah

struktur frasa sang raja dangdut menjadi penyanyi lagu dangdut yang terkanal.

Kalimat di atas menjadi sebagai berilut.

(17a) Penyanyi lagu dangdut yang terkenal menikah siri lagi.

1.7.3 Metode Penyajian Hasil Analisis Data

Hasil analisis data yang berupa struktur frasa nomina yang terdiri dari tiga kata disajikan secara informal dan formal, sedangkan yang berupa hubungan makna

unsur-unsur pembangun frasa nomina disajikan secara informal. Menurut

Sudaryanto (1993: 145), penyajian analisis hasil analisis data secara informal adalah

penyajian analisis data dengan menggunakan kata-kata biasa sedangkan penyajian

hasil analisis data secara formal adalah penyajian hasil analisis data dengan

menggunakan kaidah.

Dalam analisis data tentang struktur frasa nomina yang terdiri dari tiga kata,

penulis menyajikan secara informal dan formal. Secara informal, yaitu dengan

memaparkan kaidah atau rumusan struktur frasa nomina secara runut dengan

menggunakan kata-kata yang mudah dipahami sedangkan secara formal, yaitu hasil

analisis data tersebut diwujudkan juga dalam bentuk diagram pohon supaya mudah

(38)

1.8 Sistematika Penyajian

Laporan hasil penelitian ini disusun dalam empat bab. Bab I berupa

pendahuluan. Pendahuluan meliputi latar belakang masalah, alasan pemilihan topik,

tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian,

dan sistematika penyajian.

Bab II berisi uraian tentang struktur frasa nomina yang terdiri tiga kata dalam

bahasa Indonesia meliputi bentuk struktur frasa nomina yang dihasilkan dari

perluasan unsur pusat ke arah kiri maupun kanan. Dalam struktur frasa nomina

diuraikan tentang penentuan dan kategori unsur-unsur pembentuk frasa nomina.

Dari uraian tersebut dapat dibuat rumusan atau kaidah penyusunan frasa nomina

yang terdiri dari tiga kata.

Bab III berisi uraian tentang hubungan makna unsur-unsur pembentuk frasa

nominayang terdiri atas makna gramatikal yang dihasilkan oleh frasa nomina yang

beratribut di sebelah kiri dan kanan unsur pusat dan frasa nomina yang koordinatif.

Bab IV berisi kesimpulan dan saran. Kesimpulan dari hasil penelitian

mencakup kesimpulan dari struktur frasa nomina, kategori pengisi unsur-unsur

pembentuk, dan makna gramatikal yang dihasilkan dari pertemuan unsur-unsur

(39)

22

DALAM BAHASA INDONESIA

2.1 Pengantar

Pada bab ini diuraikan empat bentuk struktur pembangun frasa nomina

yang terdiri dari tiga kata dalam bahasa Indonesia. Pada perluasan inti frasa atau

unsur pusat ke arah kiri ada dua kemungkinan, yaitu berupa frasa (Fr) bila unsur

pusatnya adalah kata nomina (N) dan berupa kata (K) bila unsur pusatnya adalah

frasa nomina (FN). Begitu juga dalam perluasan inti frasa ke arah kanan, terdapat

dua kemungkinan juga. yaitu berupa frasa (Fr) bila unsur pusatnya adalah kata

nomina (N) dan kata (K) bila unsur pusatnya adalah frasa nomina (FN).

2.2. Frase Nomina yang Berstruktur Frasa Numeralia (FNum) + Kata Nomina (N)

Perluasan unsur pusat ke arah kiri yang berupa frasa hanyalah frasa

numeralia. Frasa nomina ini terdiri dari tiga kata yang dibangun dari frasa

numeralia yang terdiri terdiri atas kata numeralia dan kata penggolong menduduki

fungsi sebagai unsur atribut dan kata nomina menduduki fungsi sebagai unsur

pusat. Kata numeralia adalah kata yang dapat diikuti oleh penggolong, seperti

kata-kata orang, ekor, lembar, kodi, buah, meter, dan sebagainya (Ramlan, 1982:

(40)

(18) Dua lembar kertas berada di atas meja.

(19) Tiga orang petani sedang membajak sawah.

(20) Empat ekor ayam akan dipotong oleh ayah.

(21) Sepuluh butir telur berada di sarangnya.

Frasa dua lembar kertas (18), tiga orang petani (19), empat ekor ayam

(20), dan sepuluh butir telur (21) masing-masing terdiri dari tiga kata, yaitu kata

dua, lembar, dan kertas (18), kata tiga, orang, dan petani (19), kata empat, ekor,

dan ayam (20), dan kata sepuluh, butir, dan telur (21). Kata kertas berkaitan

dengan kata dua (18), kata petani berkaitan dengan kata tiga (19), kata ayam

berkaitan dengan kata empat (20), kata telur berkaitan dengan kata sepuluh (21),

sehingga frasa dua lembar kertas (18), tiga orang petani (19), empat ekor ayam

(20), dan sepuluh butir telur (21) terdiri dari dua unsur, yaitu unsur frasa dua

lembar dan unsur kata kertas (18), unsur frasa tiga orang dan kata petani (19),

unsur frasa empat ekor dan unsur kata ayam (20), dan unsur frasa sepuluh butir

dan unsur kata telur (21). Selanjutnya unsur frasa dua lembar (18) terdiri dari kata

dua dan lembar, unsur tiga orang (19) terdiri dari kata tiga dan orang, unsur

empat ekor (20) terdiri dari kata empat dan ekor, dan unsur sepuluh butir (21)

terdiri dari kata sepuluh dan butir, Berikut ini diagramnya:

(18a) (19a)

dua lembar kertas tiga orang petani

dua lembar tiga orang

(41)

(20a) (21a)

empat ekor ayam sepuluh butir telur

empat ekor sepuluh butir

empat ekor ayam sepuluh butir telur

Unsur frasa dua lembar (18a), tiga orang (19a) empat ekor (20a), dan sepuluh

butir (21a) merupakan unsur atribut berkategori frasa numeralia yang terdiri atas

numeralia dua (18a), tiga (19a), empat (20a), sepuluh (21a) dan kata penggolong

lembar (18a), orang (19a), ekor (20a), butir (21a), sedangkan kata nomina kertas

(18a), petani (19a), ayam (20a), dan telur (21a) sebagai unsur pusat karena

kata-kata tersebut memiliki distribusi yang sama dengan seluruh frasanya, yaitu kata-kata

kertas memiliki distribusi yang sama dengan frasa dua lembar kertas (18a), kata

petani memiliki distribusi yang sama dengan frasa tiga orang petani (19a), kata

ayam memiliki distribusi yang sama dengan frasa empat ekor ayam (20a), dan

kata telur memiliki distribusi yang sama dengan frasa sepuluh butir telur (21a).

Persamaan distribusi kalimat di atas tampak seperti pada kalimat berikut:

(18c) Φ Kertas berada di atas meja.

(19c) Φ Petani sedang membajak sawah.

(20c) Φ Ayam dipotong oleh ayah

(21c) Φ Telur berada di sarangnya.

Sebaliknya jika unsur pusat dilesapkan maka kalimat di atas tidak gramatikal lagi.

Kalimat di atas akan tampak seperti:

(18d) *Dua lembar Φ berada di atas meja.

(42)

(20d) *Empat ekor Φ akan dipotong oleh ayah.

(21d) *Sepuluh butir Φberada di sarangnya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa frasa nomina yang terdiri dari tiga

kata dalam bahasa Indonesia yang atributnya berupa frasa numeralia dapat

dirumuskan sebagai berikut:

FN

F Num

Num Pg N

2.3 Frasa Nomina yang Berstruktur Kata (K) dan Frasa Nomina (FN)

Perluasan nomina ke arah kiri yang unsur pusatnya berwujud frasa dalam

frasa nomina yang terdiri dari tiga kata adalah kata. Ada beberapa jenis kategori

kata yang dapat menduduki kata tersebut, yaitu kata numeralia, penggolong, dan

sandang, sedangkan unsur frasa yang merupakan unsur pusatnya adalah frasa

nomina terdiri atas kata nomina dan nomina atau kata lain.

2.3.1 Frasa Nomina yang Berstruktur Kata Numeralia (KNum) +Frasa Nomina (N+N)

Frasa ini terdiri tiga kata, yaitu kata numeralia menduduki fungsi sebagai

unsur atribut dan frasa nomina yang terdiri atas kata nomina dan nomina

(43)

(22) Dua gembong teroris telah ditangkap polisi.

(23) Beberapa mahasiswa sastra membaca puisi karya Chairil Anwar.

(24) Sepuluh pemuda kampung berkumpul di gardu ronda.

Frasa dua gembong teroris (22), beberapa mahasiswa sastra (23), dan

sepuluh pemuda kampung (24) masing-masing terdiri dari tiga kata, yaitu kata

dua, gembong, dan teroris (22), beberapa, mahasiswa, dan sastra (23), dan

sepuluh, pemuda, dan kampung (24). Kata teroris berkaitan dengan kata gembong

(22), kata sastra berkaitan dengan kata mahasiswa (23), dan kata kampung

berkaitan dengan kata pemuda (24) sehingga frasa dua gembong teroris (22),

beberapa mahasiswa sastra (22), dan sepuluh pemuda kampung (23) terdiri dari

dua unsur, yaitu kata dua dan frasa gembong teroris (22), kata beberapa dan frasa

mahasiswa sastra (23), dan kata sepuluh dan frasa pemuda kampung (24).

Berikut ini diagramnya:

(22a) (23a)

dua gembong teroris beberapa mahasiswa

gembong teroris mahasiswa sastra

dua gembong teroris beberapa mahasiswa sastra

(24a)

sepuluh pemuda kampung

pemuda kampung

(44)

Kata dua dalam (22a), beberapa (23a), dan sepuluh (23a) merupakan

unsur atribut berkategori kata numeralia, sedangkan frasa gembong teroris (22a),

mahasiswa sastra (23a), dan pemuda kampung (24a) merupakan unsur pusat

berkategori frasa nomina yang terdiri atas kata nomina dan nomina karena

frasa-frasa tersebut memiliki distribusi yang sama dengan seluruh frasa-frasanya. Selanjutnya

frasa nomina gembong teroris (22a) terdiri atas kata nomina gembong dan teroris,

mahasiswa sastra (23a), terdiri atas kata nomina mahasiswa dan sastra dan

pemuda kampung (24a) terdiri atas kata nomina pemuda dan kampung.

Persamaan distribusi kalimat di atas tampak seperti kalimat di bawah ini:

(22b) ΦGembong teroris telah ditangkap polisi.

(23b) Φ Mahasiswa sastra membaca puisi karya Chairil Anwar.

(24b) Φ Pemuda kampung berkumpul di gardu ronda.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa frasa nomina yang terdiri dari

tiga kata dalam bahasa Indonesia yang beratribut kata numeralia (Num) dapat

dirumuskan seperti bagan sebagai berikut:

(FN)

FN

(45)

2.3.2 Frasa Nomina yang Berstruktur Kata Penggolong + Frasa Nomina (N+N)

Frasa nomina ini terdiri atas tiga kata, yaitu kata penggolong menduduki fungsi sebagai unsur atribut dan frasa nomina yang terdiri atas kata nomina dan

nomina menduduki fungsi sebagai unsur pusat. Berikut ini contohnya:

(25) Selembar kertas surat berada di atas meja.

(26) Tubuhnya terbungkus sehelai kain sutra.

(27) Segumpal cahaya kemerahan datang dari langit menuju Dukuh Paruk.

Frasa selembar kertas surat (25), sehelai kain sutra (26) , dan segumpal

cahaya kemerahan (27) masing-masing terdiri dari tiga kata, yaitu kata selembar,

kertas, dan surat (25), kata sehelai, kain, dan sutra (26), dan kata segumpal,

cahaya, dan kemerahan (27). Kata surat berkaitan dengan kertas (22), kata sutra

berkaitan dengan kain (23), dan kata kemerahan berkaitan dengan cahaya (27),

sehingga frasa selembar kertas surat (25), sehelai kain sutra (26), dan segumpal

cahaya kemerahan (27) terdiri atas dua unsur, yaitu kata selembar dan frasa

kertas surat (25), kata sehelai dan frasa kain sutra (26), dan kata segumpal dan

frasa cahaya kemerahan (27). Berikut ini diagramnya.

(25a ) (26a)

selembar kertas surat sehelai kain sutra

kertas surat kain sutra

(46)

(27a)

segumpal cahaya kemerahan

cahaya kemerahan

segumpal cahaya kemerahan

Kata selembar (25a), sehelai (26a), dan segumpal (27a) merupakan unsur

atribut berkategori kata penggolong sedangkan frasa kertas surat (25a), kain sutra

(26a), dan cahaya kemerahan (27a) merupakan unsur pusat berkategori frasa

nomina karena memiliki distribusi yang sama dengan seluruh frasanya.

Selanjutnya frasa nomina kertas surat (25a) terdiri atas kata nomina kertas dan

surat, kain sutra (26a) terdiri atas kata nomina kain dan sutra, dan cahaya

kemerahan (27a) terdiri atas kata nomina cahaya dan kemerahan.

Persamaan distribusi kalimat di atas tampak seperti di bawah ini.

(25b) Φ Kertas surat berada di atas meja.

(26b) Tubuhnya terbungkus Φ kain sutra.

(27b) Φ Cahaya kemerahan datang dari langit menuju Dukuh Paruk.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa frasa nomina yang terdiri dari

tiga kata dalam bahasa Indonesia yang berstruktur kata penggolong dan frasa

nomina yang terdiri dapat dirumuskan sebagai berikut:

FN

FN

(47)

2.3.3 Frasa Nomina yang Berstruktur Kata Penggolong (Pg) + Frasa Nomina (N+Adj)

Adjektiva adalah kata yang menerangkan nomina dan secara umum dapat

bergabung dengan kata lebih dan sangat (KBBI, 2008: 10). Frasa nomina yang

berstruktur ((Pg+(N+Adj)) terdiri atas dua unsur, yaitu kata penggolong

menduduki fungsi sebagai atribut, dan frasa nomina yang terdiri atas kata nomina

dan adjektiva menduduki fungsi sebagai unsur pusat. Berikut ini contohnya:

(28) Sehelai kain biru berada di atas meja.

(29) Sepotong ranting kecil berguguran jatuh di tanah.

(30) Seekor unggas besar mengapung ke udara dengan tikus sawah di cakarnya.

(31) Secercah warna terang tampak di langit.

Frasa sehelai kain biru (28), sepotong ranting kecil (29), seekor unggas

besar (30), dan secercah warna terang (31) masing-masing terdiri dari tiga kata,

yaitu kata sehelai, kain, dan biru (28), sepotong, ranting, dan kecil (29), seekor,

unggas, dan besar (30), secercah, warna,dan terang (31). Kata biru berkaitan

dengan kain (28), kata kecil berkaitan dengan ranting (29), kata besar berkaitan

dengan unggas (30), dan kata terang berkaitan dengan warna (31) sehingga frasa

sehelai kain biru (28), sepotong ranting kecil (29), seekor unggas besar (30), dan

secercah warna terang (31) terdiri dari dua unsur, yaitu unsur kata sehelai dan

unsur frasa kain biru (28), unsur kata seekor dan unsur frasa ranting kecil (29),

unsur kata seekor dan unsur frasa unggas besar (30), dan unsur kata secercah dan

(48)

(28a) (29a)

Kata sehelai (28a), sepotong (29a), seekor (30a), dan secercah (31a)

merupakan unsur atribut berkategori kata penggolong sedangkan frasa kain biru

(28a), ranting kecil (29a), unggas besar (30a), dan warna terang (31a)

merupakan unsur pusat berkategori frasa nomina karena memiliki distribusi yang

sama dengan seluruh frasanya. Selanjutnya frasa nomina kain biru (28a) terdiri

atas kata nomina kain dan adjektiva biru, ranting kecil (29a) terdiri atas kata

nomina ranting dan adjektiva kecil, unggas besar (30a) terdiri atas kata nomina

unggas dan adjektiva besar, dan warna terang (31a) terdiri atas kata nomina

warna dan adjektiva terang. Persamaan distribusi kalimat di atas tampak seperti

dalam kalimat di bawah ini.

(28b) Φ Kain biru berada di atas meja.

(29b) Φ Ranting kecil berguguran jatuh di tanah.

(30b) ΦUnggas besar mengapung ke udara dengan tikus sawah di cakarnya.

(49)

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa frasa nomina yang terdiri dari

tiga kata dalam bahasa Indonesia yang beratribut kata penggolong dapat

dirumuskan sebagai berikut:

FN

FN

Pg N Adj

2.3.4 Frasa Nomina yang Berstruktur Artikel + Frasa Nomina

Menurut Moeliono (1988) dalam bukunya yang berjudul Tata Bahasa

Baku Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa artikel adalah kata tugas yang

membatasi makna jumlah nomina. Dalam bahasa Indonesia ada tiga kelompok

artikel: (1) artikel yang menyatakan jumlah tunggal adalah sang, sri, hang, dan

hang, (2) artikel yang mengacu ke makna kelompok adalah para, dan (3) artikel

yang menyatakan makna netral adalah si.

Struktur frasa ini terdiri atas dua unsur, yaitu artikel menduduki fungsi

sebagai atribut dan frasa nomina yang terdiri atas kata nomina dan nomina atau

kata lain menduduki fungsi sebagai unsur pusat. Berikut ini contohnya:

(32) Sang pangeran tampan lagi jatuh cinta.

(33) Si gadis manis sedang belajar.

Frasa sang pangeran tampan (32) dan si gadis manis (33), masing-masing

terdiri dari tiga kata, yaitu kata sang, pangeran,dan tampan (32) dan si, gadis, dan

(50)

berkaitan kata gadis (33), sehingga frasa sang pangeran tampan (32) dan si gadis

manis (33) terdiri dari dua unsur, yaitu kata sang dan frasa pangeran tampan (32)

dan kata Si dan frasa gadis manis (33). Berikut ini diagramnya.

(32a) (33a)

sang pangeran tampan si gadis manis

pangeran tampan gadis manis

sang pangeran tampan si gadis manis

Kata sang (32a) dan si (33a) merupakan unsur atribut berkategori artikel,

sedangkan frasa pangeran tampan (32a) dan gadis manis (33) merupakan unsur

pusat karena frasa tersebut memiliki distribusi yang sama dengan seluruh

frasenya. Persamaan distribusinya tampak pada kalimat (32b), dan (33b).

Frasa pangeran tampan (32a), dan gadis manis (33a) berkategori frasa

nomina yang terdiri atas nomina dan adjektiva, yaitu frasa pangeran tampan (32)

terdiri dari nomina pangeran dan adjektiva tampan, begitu pula frasa gadis manis

(33) terdiri dari nomina gadis dan adjektiva manis.

(32b) Φ Pangeran tampan lagi jatuh cinta.

(33b) Φ Gadis manis sedang belajar.

Dari uraian di atas frasa nomina yang terdiri dari tiga kata dalam bahasa

Indonesia yang beratribut artikel dapat dirumuskan sebagai berikut:

FN

FN

(51)

2.4 Frasa Nomina yang Berstruktur Frasa Nomina (FN) + Kata (K)

Frasa yang berstruktur FN + K terdiri atas dua unsur, yaitu FN

menduduki fungsi sebagai unsur pusat dan K menduduki fungsi sebagai atribut.

Selanjutnya unsur FN terdiri atas kata nomina dan nomina atau bukan nomina

sedangkan unsur K dapat berupa kata nomina atau bukan nomina.

2.4.1 Frasa Nomina yang Berstruktur Frasa Nomina (N+N) + Kata Nomina

Frasa nomina yang berstruktur frasa nomina (FN) dan kata Nomina (N)

terdiri atas dua unsur, yaitu FN yang terdiri atas nomina dan nomina menduduki

fungsi sebagai unsur pusat dan kata nomina menduduki fungsi sebagai atribut .

Berikut ini contohnya:

(34) Hotel di Mekkah sudah siap menyambut jemaah hajiIndonesia.

(35) Kedatangan tentara Amerika di Irak menimbulkan masalah baru bagi

warga.

(36) Pesawat pengintai Amerika mendarat di Irak.

(37) Bau keringat laki-laki membuat setiap anak perempuan menjadi cepat

dewasa.

Frasa jemaah haji Indonesia (34), kedatangan tentara Amerika (35) ,

pesawat pengintai Amerika (36), dan bau keringat laki-lakit (37) masing-masing

terdiri atas tiga kata yaitu kata jemaah, haji, dan Indonesia (34), kedatangan,

tentara, dan Amerika (35), pesawat, pengintai, dan Amerika (36), dan bau,

keringat, dan laki-laki (37). Kata Indonesia berkaitan dengan kata jemaah (34),

Amerika berkaitan dengan kedatangan (35), kata Amerika berkaitan dengan kata

pesawat (36), dan kata laki-laki berkaitan dengan kata bau (37) sehingga frasa

(52)

Amerika (36), dan bau keringat laki-laki (37) terdiri atas dua unsur, yaitu frase

jemaah haji dan kata Indonesia (34), frase kedatangan tentara dan kata Amerika

(35), frasa pesawat pengintai dan kata Amerika (36), dan frasa bau keringat dan

kata laki-laki (37). Berikut ini diagramnya:

(34a) (35a)

jemaah haji Indonesia kedatangan tentara Amerika

jemaah haji kedatangan tentara

jemaah haji Indonesia kedatangan tentara Amerika

(36a) (37a)

pesawat pengintai Amerika bau keringat laki-laki

pesawat pengintai bau keringat

pesawat pengintai Amerika bau keringat laki-laki

Frasa jemaah haji (34a), kedatangan tentara (35a), pesawat pengintai

(36a), dan bau keringat (37a) merupakan unsur pusat berkategori frasa nomina.

Selanjutnya frasa nomina jemaah haji (34a) terdiri atas kata nomina jemaah dan

haji, kedatangan tentara (35a) terdiri atas kata nomina kedatangan dan tentara,

pesawat pengintai (36a) terdiri atas kata nomina pesawat dan pengintai dan bau

keringat (37a) terdiri atas kata nomina bau dan keringat sedangkan kata Indonesia

(34a), Amerika (35a), (36a) dan laki-laki (37a) merupakan atribut berkategori

kata nomina. Hal ini dapat dibuktikan dengan melesapkan unsur atribut kalimat

tersebut masih tetap gramatikal. Kalimat di atas tampak seperti berikut ini.

(53)

(34b) Hotel di mekkah sudah siap menyambut jemaah haji Φ .

(35b) Kedatangan tentara Φ di Irak menimbulkan masalah baru bagi

warga.

(36b) Pesawat pengintai Φmendarat di Irak.

(37b) Bau keringat Φ membuat setiap anak perempuan menjadi cepat

dewasa.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa frasa nomina yang terdiri dari

tiga kata yang beratribut kata nomina dapat dirumuskan seperti bagan di bawah

ini:

FN

FN

N N N

2.4.2 Frasa Nomina yang Berstruktur Frasa Nomina (N+N) + Pronomina Pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengganti orang atau benda

(KBBI, 2008: 1105). Frasa nomina ini terdiri dari dua unsur, yaitu frasa nomina

yang terdiri atas kata nomina dan nomina menduduki fungsi unsur pusat dan

pronomina menduduki fungsi sebagai atribut. Berikut ini contohnya.

(38) Kebaya batik ibu terbuat dari kain sutra.

(39) Sepeda motor dia berwarna hitam.

(40) Sarjana sastra kita banyak bekerja di Jakarta.

Frasa kebaya batik ibu (38), sepeda motor dia (39), dan sarjana sasatra

(54)

(38), sepeda, motor, dan kita (39), dan sarjana, sastra, dan kita (40). Kata ibu

berkaitan dengan kata kebaya (38), kata dia berkaitan dengan kata sepeda (39),

dan kata kita berkaitan dengan kata sarjana (40) sehingga frasa kebaya batik ibu

(38), sepada motor dia (39), dan sarjana sastra kita (40) terdiri dari dua unsur,

yaitu frasa kebaya batik dan kata ibu (38), frasa sepeda motor dan kata dia (39),

dan frasa sarjana sastra dan kata kita (40). Berikut ini diagramnya.

(38a) (39a)

kebaya batik ibu sepeda motor dia

kebaya batik sepeda motor

kebaya batik ibu sepeda motor dia

(40a)

sarjana sastra kita

sarjana sastra

sarjana sastra kita

Frasa kebaya batik (38a), sepeda motor (39a), dan sarjana sastra (40a)

menduduki fungsi sebagai unsur pusat berkategori frasa nomina karena memiliki

distribusi yang sama dengan seluruh frasanya. Selanjutnya frasa nomina kebaya

batik (38a) terdiri atas nomina kebaya dan batik, sepeda motor (39a) terdiri atas

nomina sepada dan motor, dan sarjana sastra (40a) terdiri atas nomina sarjana

dan sastra sedangkan kata ibu (38a), dia (39a), dan kita (40a) menduduki fungsi

(55)

Persamaan distribusi kalimat di atas tampak seperti kaimat di bawah ini:

(38b) Kebaya batik Φ terbuat dari kain sutra.

(39b) Sepeda motor Φberwarna hitam.

(40b) Sarjana sastra Φbanyak bekerja di Jakarta.

Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa frasa nomina yang terdiri

dari tiga kata dalam bahasa Indonesia yang beratribut pronomina dapat

dirumuskan seperti bagan berikut:

FN

FN

N N Pr

2.4.3 Frasa nominal yang Berstruktur Frasa Nomina (N+N) + Adjektiva Frasa nomina yang berstruktur frasa nomina dan Adjektiva terdiri dari dua

unsur, yaitu frasa nomina yang terdiri atas nomina dan nomina menduduki fungsi

sebagai unsur pusat dan adjektiva menduduki fungsi sebagai atribut. Berikut ini

contohnya:

(41) Pembalap sepeda terbaik mendapat penghargaan dari presiden.

(42) Pemain basket tertinggi memasukan bola dengan mudah.

(43) Pemukiman rumah terindah berada di sekitar Gunung Merapi.

Frase pembalap sepeda terbaik (41), pemain basket tertinggi (42), dan

pemukiman rumah terindah (43) masing-masing terdiri atas tiga kata, yaitu kata

(56)

pemukiman, rumahnilai, dan terindah (43). Kata terbaik berkaitan dengan kata

pembalap (41), kata tertinggi berkaitan dengan kata pemain (42), dan kata

terindah berkaitan dengan kata pemukiman (43) sehingga frase pembalap sepeda

terbaik (41), pemain basket tertinggi (42), dan pemukiman rumah terindah (43)

terdiri dari dua unsur, yaitu frasa pembalap sepeda dan kata terbaik (41), frasa

pemain basket dan kata tertinggi (42), dan frasa pemukiman rumah dan kata

terindah (43). Berikut ini diagramnya:

Frasa pembalap sepeda (41a), pemain basket (42a), dan perumahan

terindah (43a) menduduki fungsi sebagai unsur pusat berkategori frasa nomina

karena frasa-frasa tersebut memiliki distribusi yang sama dengan seluruh

frasanya. Selanjutnya frasa nomina pembalab sepeda (41a) terdiri atas kata

nomina pembalap dan sepeda, pemain basket (42a) terdiri atas kata nomina

pemain dan basket, dan pemukiman rumah terdiri atas kata nomina pemukiman

dan rumah (43a) sedangkan kata terbaik (41a), tertinggi (42a), dan terbaik (43a)

(57)

melesapkan unsur atributnya kalimat di atas tetap gramaitikal. Kalimat di atas

tampak seperti kalimat berikut:

(41b) Pembalap sepeda Φ mendapat penghargaan dari presiden.

(42b) Pemain tertinggi Φ memasukan bola dengan mudah.

(43b) Pemukiman rumah Φberada di sekitar Gunung Merapi.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa frasa nomina yang terdiri

darai tiga kata dalam bahasa Indonesia yang beratribut kata adjektiva dirumuskan

seperti bagan di bawah ini:

FN

FN(N+N)

N N Adj

2.4.4 Frasa Nomina yang Berstruktur Frasa Nomina (N+N) + Demonstrativa Demonstrativa adalah kata yang berfungsi untuk menunjuk atau menandai

secara khusus orang atau benda, misal ini dan itu (KBBI, 2008: 310). Frasa

nomina yang berstruktur frasa nomina dan demonstrativa terdiri dari dua unsur,

yaitu frasa nomina yang terdiri atas nomina dan nomina menduduki fungsi

sebagai unsur pusat dan kata demonstrativa menduduki fungsi sebagai unsur

atribut. berikut ini contohnya:

(44) Dukun ronggeng itu mulai berdiri goyah.

(45) Pembakaran kue ini memerlukan listrik 200 watt.

(58)

Frasa dukun ronggeng itu (44), pembakaran kue ini (45), dan penulisan

buku ini (46) masing-masing terdiri dari tiga kata, yaitu kata dukun, ronggeng, dan

itu (44), pembakaran, kue, dan ini (45), dan kata penulisan, buku, dan ini (46).

Kata itu berkaitan dengan kata dukun (44), kata ini berkaitan dengan kata

pembakaran (45), dan kata ini berkaitan dengan kata penulisan (46) sehingga

frasa dukun ronggeng itu (44), pembakaran kue ini (45), dan penulisan buku ini

(46) terdiri dari dua unsur, yaitu unsur frasa dukun ronggeng dan kata itu (44),

frasa pembakaran kue dan kata ini (45), dan frasa penulisan buku dan kata ini

(46). Berikut ini diagramnya:

Frasa dukun ronggeng (44a), pembakaran kue (45a), dan penulisan buku

(46a) menduduki fungsi senagai unsur pusat berkategori frasa nomina.

Selanjutnya frasa nomina dukun ronggeng (44a) terdiri atas kata nomina dukun

dan ronggeng, pembakaran kue (45a) terdiri atas kata nomina pembakaran dan

kue, dan penulisan buku (46a) terdiri atas kata nomina penulisan dan buku

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...