BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.Landasan Secara Teoritis Dan Yuridis Tentang Pernikahan 1. Pengertian Pernikahan
Perkawinan dalam bahasa arab disebut al-Nikah, yang menurut bahasa
bermakna berkumpul, menindas, dan memasukan1
Pernikahan (zawaj) Menurut bahasa diartikan adh-dhamm (berkumpul
atau bergabung) dan ikhtilath (bercampur). Dalam bahasa Arab misalnya
dikatakan:
“Pohon-pohon itu kawin; dimaksudkan ketika bergabung satu dengan
yang lain”. Atau jika dikatakan:
“Hujan itu bergabung dengan tanah; maksudnya ketika air hujan
bercampur dengan tanah”.2
Makna percampuran bagian dari adh-dhamm karena adh-dhamm meliputi
gabungan fisik yang satu dengan yang lain dan gabungan ucapan satu dengan
yang lain; yang pertama gabungan dalam bersenggama dan yang kedua gabungan
dalam akad.
1
Tim penyusun IAIN Syarif Hidayatullah, ensiklopedi IslamIndonesia. (Jakarta: Kencana prenada Media Grup. 2006) , cet. 2, hlm. 38
Nikah menurut istilah syara‟adalah suatu akad atau perikatan untuk
menghalalkan hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan dalam rangka
mewujudkan kebahagiaan hidup keluarga, yang diliputi rasa ketentraman serta
kasih sayang dengan cara yang diridlai Allah swt.3
Perkawinan suatu cara yang dipilih oleh Allah sebagai jalan bagi manusia
untuk beranak, berkembangbiak dan kelestarian hidupnya, setelah masing-masing
pasangan siap melakukan perannnya yang positif dalam mewujudkan tujuan
perkawinan. Sebagaimana firnan Allah SWT QS . Al-Hujarat ayat 13 :4
Artinya:“Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”.5
Sebagian ulama Syafi‟iyah memandang bahwa akad nikah adalah akad
ibahah, yaitu memperbolehkan suami menyutubuhi (menggauli) istrinya.6
3
Ahmad Azhar Basyir, Hukum Perkawinan Islam, (Yogakarta: UII Press, 2000), Ed. I, Cet. 9, hlm. 14
4
Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, (Bandung, Al Ma‟arif, 1980) cet I, hlm. 7
5
Yayasan Penyelenggara penterjemah/pentafsir Al-Qur‟an , Al-Qur‟an dan terjemahannya, (Jakarta:1971), hlm. 847
6
Chuzaim T. Yanggo dan Hafiz Ashary, Problematika Hukum Islam kontemporer (I),
Sehubungan dengan pengertian nikah dalam hukum Islam seperti telah
diuraikan, tampaknya tidak berbeda dengan pengertian perkawinan dalam UU
No.1/1974 tentang perkawinan. BAB I pasal I berbunyi: ”Perkawinan ialah ikatan
lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri
dengan tujuan membentuk sebuah keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan
kekal abadi berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa”.7
Hakikat perkawinan yang digambarkan dalam UU No I/1974 tersebut
sejalan dengan hakekat perkawinan dalam Islam. Karena keduanya tidak hanya
memandang dari segi ikatan kontrak lahirnya saja, tapi sekaligus ikatan pertautan
kebatinian antara suami-istri yang ditunjukan untuk membina keluarga yang kekal
dan bahagia sesuai dengan kehendak Tuhan Yang Maha Esa. 2. Anjuran Menikah
Islam Menganjurkan pernikahan dan mendorong para pemuda agar
menikah, sebagaimana hadits shahih yang diriwayatkan dari Ibnu Mas‟ud bahwa
Rasulullah SAW bersbda:
Artinya:
”Wahai para pemuda, barang siapa diantara kalian yang mampu biaya nikah, menikahlah! Sesungguhnya menikah itu bisa lebih memejamkan pandangan mata dan lebih memelihara farj (alat kelamin). Barang siapa yang tidak mampu, henaklah ia berpuasa. Sesungguhnya ia sebagai
perisai baginya.”
Dalam anjuran nikah diatas disepakati para Ulama. Maksud biaya nikah
adalah biaya konsekuensi nikah yakni mempersiapkan tempat tinggal dan
7
memberi nafkah hidup. Makna perisai (wija‟) adalah mematahkan (qath‟un),
tidak mampu menikah. Demikian itu karena puasa menyuburkan rohani dalam
jiwa dan menguatkan kehendak, yakni mengendalikan hawa nafsu dan hal-hal
yang haram.8
3. Hukum Nikah
Meskipun pada dasarnya Islam mengajurkan kawin, apabila ditinjau dari
keadaan yang melaksanakannya, perkawinan dapat dikenai hukum wajib, sunah,
haram, makruh, dan mubah.
a. Pernikahan yang wajib
Perkawinan hukumnya wajib bagi orang yang telah mempunyai
keinginan kuat untuk nikah dan telah mempunyai kemampuan untuk
melaksanakan dan memikul beban kewajiban dalam hidup perkawinan
serta ada kekhawatiran, apabila tidak kawin, ia akan mudah tergelincir
untuk berbuat zina.
Alasan ketentuan tersebut adalaha sebagai menjaga diri dari
perbuatan zina adalah wajib. Apabila seseorang tertentu penjagaan diri itu
hanya akan terjamin dengan jalan kawin, bagi orang itu, melakukan
perkawinan hukumnya dalah wajib. Qa‟idah fiqqiyah mengatakan :
“sesuatu yang mutlak diperlukan untuk menjalankan suatu kewajiban,
hukumnya dalah wajib”. Atau dengan kata lain, “ Apabila suatu
kewajiban tidak akan terpenuhi tanpa adanya suatu hal, hal itu wajib pula
8
hukumnya.” Penerapan kaidah itu dalam masalah perkawinan adalah
apabila seseorang hanya dapat menjaga diri dari perbuatan zina dengan
jalan pernikahan, baginya pernikahan itu wajib hukumnya.
b. Pernikahan yang sunnah
Pernikahan sunnah hukumnya bagi orang yang telah berkeinginan
kuat untuk nikah dan telah mempunyai kemampuan untuk melaksanakan
dan memikul kewajiban-kewajiban dalam pernikahan, tetapi apabila tidak
nikah juga tidak ada kekhawatiran akan berbuat zina.9
Alasan hukum sunah ini diperoleh dari ayat-ayat al-Qur‟an dan
hadits-hadits Nabi sebagaimana telah disebutkan dalam hal Islam
mengajurkan pernikahan diatas. Kebanyakan Ulama berpendapat bahwa
beralasan ayat-ayat al-Qur‟an dan hadits-hadits Nabi saw itu, hukum dasar
pernikahan adalah sunnah.
Ulama mazhab Syafi‟i berpendapat bahwa hukum asal pernikahan
adalah mubah. Ulama-ulama mazhab Dhahiri berpendapat bahwa
perkawinan wajib dilakukan bagi orang yang telah mampu tanpa dikaitkan
adanya kekhawatiran akan berbuat zina apabila tidak nikah.
c. Pernikahan yang Haram
Pernikahan hukumnya haram bagi orang yang belum berkeinginan
serta tidak mempunyai kemampuan untuk melaksanakan dan memikul
9
kewajiban-kewajiban hidup perkawinan sehingga apabila kawin juga akan
berakibat menyusahkan istrinya.10
Al-Qurtubi, salah seorang ulama terkemuka dalam mazhab Maliki
berpendapat bahwa apabila calon suami menyadari tidak akan mampu
memenuhi kewajiban nafkah dan membayar mahar (mas kawin) untuk
istrinya, atau kewajiban lain yang menjadi hak istri, tidak halal mengawini
seorang kecuali apabila ia menjelaskan keadaannya itu calon istri; atau ia
bersabar sampai merasa akan dapat memenuhi hak-hak istrinya, barulah ia
boleh melakukan pernikahan.
Beliau juga mengatakan bahwa orang yang mengetahui pada
dirinya terdapat penyakit yang dapat menghalangi kemungkinan
melakukan hubungan dengan calon istri tidak akan merasa tertipu.
d. Pernikahan yang makruh
Pernikahan hukumnya makruh bagi seorang yang mampu dalam
segi materil, cukup mempunyai daya tahan mental dan agama hingga tidak
khawatir akan terseret dalam perbuatan zina, tetapi mempunyai
kekhawatiran tidak dapat memenuhi kewajiban-kewajiban terhadap
istrinya, meskipun tidak akan berakibat menyusahkan pihak istri;
misalnya, calan istri tergolong orang kaya atau calon suami belum
mempunyai keinginan untuk kawin.
Imam Ghazali berpendapat bahwa apabila suatu pernikahan
dikhawatirkan akan berakibat mengurangi semangat beribadah kepada
10
Allah dan semangat bekerja dalam bidang ilmiah, hukumnya lebih makruh
dari pada yang telah disebutkan di atas.
e. Pernikahan yang mubah
Pernikahan hukumnya mubah bagi yang mempunyai harta, tetapi
apabila tidak nikah tidak merasa khawatir akan berbuat zina dan andaikata
nikah pun tidak merasa khawatir akan menyia-nyiakan kewajibannya
terhadap istri. Pernikahan dilakukan sekedar untuk memenuhi syahwat dan
kesenangan bukan dengan tujuan membina keluarga dan menjaga
keselamatan.11
4. Tujuan pernikahan
Pernikahan adalah salah satu sunnatullah yang umum berlaku pada semua
makhluk tuhan, baik pada manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan. Hal ini
kita temukan dalam firman Allah: QS. Adz-Dzariyat : 49.
Artinya:
“Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan, supaya kamu
mengingat akan kebesaran Allah”.12
Menurut Asaf A.A., fyzee, tujuan pernikahan dapat dilihat dari tiga aspek,
yaitu:
11
Ibid. hlm 16
12
a. Aspek Agama ( Ibadah )
1) Pernikahan merupakan pertalian yang teguh antara suami-istri dan
turunan, pertalian yang dalam hidup dan kehidupan merupakan
perpaduan yang suci dan kebiasaan yang bermutu tinggi dalam
perkembangbiakan manusia sebagai karunia Tuhan. Allah sudah
berfirman dalam QS. An Nahl (16): 72
Artinya
:
” Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rizki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?.13
2). Pernikahan merupakan salah satu sunah Nabi dan mereka dijadikan
tauladan dalam kehidupan.
HR Turmudzi dari Abu Ayyub, Sabda Rasullah SAW: “Empat
perkara yang merupakan suatu sunnah para Nabi, celak,
wangi-wangian, bersugi dan nikah”.
13
HR. Bukhari dan Muslim, yang menceritakan tiga orang sahabat telah
bersumpah, masing-masing ada yang tidak akan menikah selamanya,
ada pula yang mau shalat terus menerus sepanjang malam, dan ada
pula yang akan puasa siang hari untuk selama-lamanya, berita itu
sampai kepada Nabi lalu bersabda:
”Tetapi saya shalat, tidur, puasa berbuka dan kawin. Barang siapa
yang tidak menyukai sunnahku, maka ia bukan umatku”.
3). Perkawinan membawa rizki dan menghilangkan kesulitan-kesulitan:
Q.S Al-Nur (24) : 32
Artinya:
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya. Dan Allah maha luas (pemberianNya) lagi maha mengetahui”. 14
Maksudnya: hendaklah laki-laki yang belum kawin atau
wanita- wanita yang tidak bersuami, dibantu agar mereka dapat kawin.
H.R. Turmudzi dari Abu Hurairah, sabda Rasulullah SAW, yang
Artinya:
14
“Tiga golongan yang berhak mendapat bantuan Allah; pejuang di
jalan Allah, Mukatab (budak yang membebaskan dirinya dari tuannya)
yang mau melunasi pembayarannya, dan orang kawin mau
menjauhkan dirinya dari yang haram”.
4). Isteri merupakan simpanan yang paling baik.
H.R. Turmudzi dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Tsauban, kata
Tsauban ketika turun QS. At-Taubah(9) : 34,
Artinya:“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang „alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan
mendapat) siksa yang pedih,”15
Ketika itu kami bersama Rasulullah SAW dalam salah satu
perjalanan, lalu sebagian sahabat ada yang berkata: “Telah ada ayat
turun tentang emas dan perak. Dan anda kata kami ada yang lain lebih
15
baik, tentu akan kami simpan. Nabi saw menyebut: “Lisan yang selalu
berdzikir, hati yang selalu bersyukur dan isteri yang mukminah yang
menunjang iman suaminya”.
H.R. Muslim dari Abdullah Ibn Umar, Rasulullah SAW bersabda,
yang Artinya:
“Dunia ini laksana perhiasan dan perhiasan yang terbaik adalah
wanita yang shalihah”.
b. Aspek Sosial
1) Memberikan perlindungan kepada kaum wanita yang secara umum
fisiknya lemah karena setelah kawin, ia mendapat perlindungan dari
suami, baik masalah nafkah atau gangguan orang lain.
QS. An-Nisa‟ (4) : 34:
Artinya:
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh
karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas
sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah
menafaqahkan sebagian dari harta mereka”16.
16
2) Mendatangkan sakinah (ketenteraman batin) bagi suami, menimbulkan
mawaddah dan wahabbah (cinta kasih) serta rahmah (kasih sayang)
antara suami-isteri, anak-anak dan seluruh anggota keluarga.
QS. Al-Rum (30) : 21,
Artinya:“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan mersa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum berfikir”.17
HR Muslim Abu Daud dan Turmudzi dari Abu Hurairah, Rasulullah
SAW, bersabda yang Artinya:
“Sesungguhnya wanita itu menghadap dengan rupa setan, dan membelakangi dengan rupa setan pula, jika ada seseorang diantara mu tertarik kepada seseorang perempuan, hendaklah
ia datangi istrinya, agar hawa nafsunya dapat tersalurkan”.
3) Memelihara kerukunan hidup berumah tangga dan kerukunan,
sehingga terciptanya stabilitas keluarga dan masyarakat, tolong
menolong menyelesaikan masalah, dan berbagi rasa dalam senang dan
duka.
HR Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas‟ud, Rasulullah SAW,
17
bersabda, yang Artinya:
“Hai para pemuda, barang siapa diatara kamu telah sanggup memberi nafkah, maka kawinlah, karena kawin itu lebih merundukan mata dan lebih memelihara faraj (kemaluan). Dan barang siapa tidak sanggup member nafkah maka hendaklah berpuasa, karena puasa itu melemahkan syahwat”.
HR. Ahmad dan ditashihkan Ibnu Hibban, Rasulullah SAW bersabda,
yang Artinya:
“Nabi SAW memerintahkan kita nikah dan mencegah kita
beribadah saja tanpa nikah, beliau bersabda: “kawinlah
wanita yang simpatik (banyak kasih sayangnya) dan yang peranak, karena aku bangga dengan banyaknya kamu pada
hari kiamat”.
c. Aspek Hukum
Pernikahan sebagai akad, yaitu perikatan dan perjanjian yang
luhur antara suami-istri untuk membina rumah tangga bahagia.
Sebagaimana Allah berfirman Dalam QS. An-Nisa‟ (4) : 21.
Artinya:
“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-istri. Dan merekan (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat”.18
Dari uraian diatas, tampak secara nyata tujuan pernikahan,
antara lain :
18
a. Menyalurkan naluri seksual secara halal dan sah;
b. Melestarikan keturunan dan terpeliharanya nasab dengan jelas;
c. Menimbulkan rasa cinta, kasih sayang dan ramah tamah diantara
kelompok kelurga dalam rumah tangga;
d. Mendorong adanya tanggung jawab untuk membiayai dan
memelihara anggota keluarga;
e. Timbulnya sikap tolong menolong, toleransi dan saling menghargai
diantara kedua belah pihak, timbulnya pembagian tugas-tugas
diantara suami istri, ada yang berupaya mencari nafkah, dan ada
yang menjaga serta mendidik dan menjaga anak.
Bila disimak pula tujuan pernikahan dalam UU No.I/1974
tentang perkawinan, bahwa perkawinan ialah untuk membentuk
keluarga bahagia yang kekal, ini berarti :
a. Suami istri saling membantu serta saling melengkapi.
b. Masing-masing dapat mengembangkan kepribadiannya dan untuk
mengembangkan kepribadian itu, suami-istri harus saling
membantu.
c. Dan tujuan akhir yang dikejar oleh keluarga bangsa Indonesia ialah
keluarga bahagia yang sejahtera spiritual dan material.19
5. Syarat dan rukun pernikahan
Syarat-syarat sahnya nikah ada empat hal, yaitu:
19Ibid
a. Calon kedua mempelai sudah diketahui dengan jelas. Tidak cukup
hanya dengan mengatakan, ”saya nikahkan anak saya,” sedang
memiliki banyak anak. Atau dengan mengatakan, ”saya nikahkan anak
laki-laki saya,” sedangkan ia memiliki beberapa anak laki-laki. Maka,
akan menjadi jelas jika orang tua yang bersangkutan memakai isyarat
dengan menunjuk seseorang yang dimaksud atau menyebut namanya
atau menyebut sifat-sifat istimewanya.
b. Kedua calon mempelai telah ikhlas atau ridla satu sama lain. Nikah
tidak akan menjadi sah jika ada unsur paksaan dari salah satu pihak,
sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a.,
”janganlah kamu menikahi seorang janda sebelum ia diajak
berunding dan janganlah kamu menikahi seoranga gadis kecuali ia ia
telah memberi izin dan rela.” (Muttafaqun ’Alaih)
Namun, disana ada pengecualian bagi calon mempelai yang masih
kecil dan belum baligh atau ia bodoh dan idiot, maka bagi walinya ada
hak untuk menikahkannya, meski secara paksa.
c. Adanya wali bagi wanita untuk memenikahkannya, sebagaimana sabda
Nabi saw.,
”Tidak sah nikahnya seorang wanita tanpa adanya wali.” (HR lima
Imam Hadits kecuali an-Nasa’i)
Diantara orang yang dapat menjadi wali bagi calon mempelai
wanita adalah sebagai berikut:
1. Ayahnya.
2. Kakeknya atau ayah dari ayahnya terus keatas.
3. Anak laki-lakinya, cucunya terus kebawah.
4. Saudara laki-laki sekandung (seayah dan seibu).
5. Saudara laki-laki seayah.
6. Anak laki-laki dari saudara laki-laki, baik sekandung maupun
seayah saja.
7. Paman (saudara kandung ayah)
8. Paman dari saudara seayah dengan ayahnya.
9. Anak laki-laki dari paman (sekandung dengan ayah atau hanya
seayah dengan ayahnya)
10.Laki-laki terdekat dari saudaranya yang ada, dilihat dari garis ahli
warisnya.
11.Majikan yang memerdekaannya.
d. Adanya dua orang saksi dalam pelaksanaan akad nikah, sebagaimana
yang disebut dalam hadits yang diriwayatkan oleh Jabir (hadits
marfu‟),
”tidak sah suatu akad tanpa adanya wali dan dua orang saksi yang
adil.”
Hadits ini mengindikasikan bahwa tidak sah suatu pernikahan bila
tidak ada dua orang saksi yang adil.
Imam Turmudzi, ”ini adalah amalan yang telah diamalkan para
sahabat Nabi saw. Dan orang-orang setelah mereka dari para tabi‟in
dan yang mengikutinya. Mereka berkata, tidak sah suatu nikah tanpa
ada saksi. Dan tidak ada yang berbeda pendapat dalam hal ini, kecuali
hanya sekelompok ulama pada zaman ini.”20
Dalam UU Perkawinan No I tahun 1974, mengenai syarat- syarat
perkawinan diuraikan dalam BAB II pasal 6, sebagai berikut:
1. Perkawinan harus didasarkan persetujuan kedua mempelai.
2. Untuk melangsungkan perkawinan seseorang yang belum berumur 21 tahun
harus mendapat izin kedua orang tua.
3. Dalam hal salah seorang dari kedua orang tua telah meninggal dunia atau
dalam keadaan tidak mampu menyatakan kehendaknya, maka izin dimaksud
20
ayat (2) pasal ini cukup memperoleh dari orang tua yang mampu
menyatakan kehendaknya.21
Rukun-rukun Nikah, berdasarkan Hadits Nabi saw. Dalam kitab al-Bahr
dari Nashir, Syafi‟i dan Zuhar, sebagaimana dikutip dalam kitab Nailul Authar
jilid 5, bahwa:”setiap pernikahan yang tidak dihadiri oleh empat (unsur), yaitu
mempelai laki-laki, akid yang mengakadkan, dan dua orang saksi, maka
perkawinan itu tidak sah.”22
Oleh karena itu, rukun perkawinan dalam Hukum Islam adalah wajib
dipenuhi oleh orang-orang Islam yang akan melangsungkan perkawinan. Dampak
dari sah atau tidaknya perkawinan adalah mempengaruhi atau menentukan hukum
kekeluargaan lainnya, baik dalam bidang hukum perkawinan itu sendiri, maupun
di bidang hukum kewarisan.
Salah satu contoh dampak sahnya atau tidak sahnya hubungan hukum
antara anak, yang melahirkan sebagai hasil dari perkawinan ibu dan ayahnya yang
mempengaruhi hukum perkawinan maupun hukum kewarisan. Dalam perkawinan
yang sah, yaitu perkawinan yang dilaksanakan menurut Agama sesuai pasal 2 ayat
(1) UU perkawinan berakibat terhadap hubungan hukum antara anak yang
dilahirkan hasil perkawinan yang sah dengan ibu dan ayahnya adalah menjadi sah
pula.
a. Calon mempelai laki-laki
21
Tim redaksi nuansa aulia, Op. Cit, hlm. 81-82
22
Calon mempelai laki-laki harus dalam kondisi kerelaannya dan
persetujuannya dalam melakukan perkawinan. Hal ini terkait dengan asas
kebebasan memilih pasangan hidup dalam perkawinannya. Menurut hadits Nabi
saw yang diriwayatkan oleh jama‟ah kecuali Imam Bukhari, dari Ibnu Abbas ra.
Bahwa Nabi saw bersabda: ”perempuan janda itu lebih berhak atas dirinya dari
pada walinya, sedang gadis diminta izinnya dan izinnya adalah diamnya”.23
b. Calon mempelai permpuan
Hukum perkawinan dalam Islam telah menentukan dalam hadits Nabi saw,
bahwa calon mempelai perempuan harus dimintakan izinnya atau persetujuannya
sebelum dilangsungkannya akad nikah, sebagaimana dimuat dalam asas
persetujuan dan asas kebebasan memilih pasangan, serta asas kerelaan.
c. Wali Nikah
Ketentan-ketentuan hadits Nabi saw tentang kedudukan wali nikah
merupakan dasar hukum perkawinan. Menurut Nabi saw yang diriwayatkan oleh
Imam yang Lima dari Abu Musa ra. Beliau bersabda: ”Tidak nikah melainkan
dengan adanya wali.24
d. Saksi Nikah
Dasar hukum saksi nikah ditentukan dalam hadits-hadits Nabi saw yang
menentukan bahwa saksi merupakan rukun nikah yang wajib dipenuhi pada setiap
pelaksanaan akad perkawinan berlangsung
23
Ibid, hlm. 108
24
Hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Ibnu Hanbal dari Imran bin
Hashain dari Nabi saw, bahwa ”Tidak ada nikah kecuali dengan wali dan dua
saksi yang adil.”
Dalam hadits tersebut ditentukan bahwa setiap perkawinan wajib
disaksikan oleh dua orang saksi yang adil.25
e. Ijab dan Kabul
Dasar hukum ijab qabul terdapat dalam hadits Nabi saw yang
diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa Nabi saw bersabda:
”bertaqwalah kamu sekaliaan kepada Allah dalam menggauli wanita
(istri) sesungguhnya kamu mengawininya dengan amanat Allah dan kamu menghalalkan kehormatannya dengan kalimat Allah (ijab kabul).”26
Dalam Kompilasi Hukum Islam pun disebutkan dalam BAB IV bagian
kesatu tentang rukun nikah pasal 14 KHI, yaitu:
a. Calon Suami.
b. Calon istri.
c. Wali nikah.
d. Dua orang saksi.
e. Ijab dan kabul.27
6. Halangan Pernikahan
25
Ibid, hlm. 114
26
Ibid, hlm. 115
27
Pada dasarnya setiap laki-laki muslim dapat saja menikahi wanita yang ia
sukai, tetapi prinsip itu tidak berlaku mutlak, karena ada batasan-batasan dalam
pernikahan.
Pembatasan itu bersifat larangan, dan larangan itu dikategorikan menjadi
dua macam: pertama keharaman bersifat selamanya, dan yang kedua adalah
keharaman yang bersifat sementara.
a. Larangan yang bersifat selamanya28
Larangan yang bersifat selamanya ini disebabkan:
1. Karena hubungan keturunan (mahram nasab)
2. Karena hubungan semenda (mahram musyaharah) yaitu hubungan
kekeluargaan yang timbul karena perkawinan yang telah menjadi
terlebih dahulu.
3. Karena hubungan susunan.
b. Larangan yang bersifat sementara
Larangan yang bersifat sementara ini dikarenakan adanya hal-hal tertentu
yang pada saat larangan itu bisa hilang:
1. Istri orang lain, termasuk yang masih dalam status masa tunggu (iddah)
2. Bekas istri sendiri yang telah ditalak li‟an dan talak ba‟in
3. Poligami yang sudah mempunyai empat orang istri
4. Poligami yang mana antara istrinya dengan calon istri yang baru
mempunyai hubungan mahram
5. Musyrik dan kafir
28
6. Perbedaan agama
7. Murtad
8. Pelacur
9. Budak sahaya
10. Sedang dalam ihram
7. Sebab-sebab dilarangnya pernikahan
a. Penghalang Perkawinan
Pada dasarnya laki-laki adalah pasangan bagi wanita. Allah menciptakan
tumbuh-tumbuhan, binatang maupun manusia secara berpasang-pasangan.
Dalam QS. Yasin ayat 36 disebutkan:
Artinya:
“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan
semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri
mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui”.29
Namun demikian, menurut hukum Islam tidak setiap laki-laki dibolehkan
kawin dengan setiap perempuan. Ada di antara perempuan yang tidak boleh
dinikahi oleh laki-laki tertentu karena antara keduanya terdapat penghalang
perkawinan yang dalam fiqh munakahat disebut dengan mawani‟ an-nikah.
29
Dimaksud dengan penghalang perkawinan atau mawani‟ an-nikah yaitu
hal-hal, pertalian-pertalian antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan
yang menghalangi terjadinya perkawinan dan diharamkan melakukan akad
nikah antara keduanya.30
Secara garis besar, larangan kawin antara seorang pria dan seorang wanita
menurut syara‟ dibagi menjadi dua, yaitu larangan sementara dan larangan
selamanya. Di antara larangan-larangan selamanya ada yang telah di sepakati
dan ada pula yang tidak disepakati. Dan yang disepakati ada tiga, yaitu :31
1. Nasab ( keturunan )
2. Pembesanan ( karena pertalian kerabat semenda )
3. Sesusuan
Sedangkan yang diperselisihkan ada dua, yaitu :
a. Zina
b. Li‟an
Larangan-larangan sementara ada sembilan, yaitu :
a. Larangan bilangan
b. Larangan mengumpulkan
c. Larangan kehambaan
d. Larangan kafir
e. Larangan ihram
f. Larangan kawin karena pertalian nasab
30
M. Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam, (Jakarta: Sinar Grafika 1995), hlm. 45
31
Larangan kawin tersebut didasarkan pada firman Allah dalam surat
An-Nisa‟ ayat 23 :
Artinya:
“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara-saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan....”32
Berdasarkan ayat di atas, wanita-wanita yang haram dinikahi untuk
selamanya (larangan selamanya) karena pertalian Nasab adalah :
- Ibu : yang dimaksud ialah perempuan yang ada hubungan darah
dalam garis ke atas, yaitu ibu, nenek (baik dari pihak ayah maupun
ibu dan seterusnya ke atas)
- Anak perempuan : yang dimaksud ialah wanita yang mempunyai
hubungan darah dalam garis lurus ke bawah, yakni anak
perempuan, cucu perempuan, baik dari anak laki-laki maupun anak
perempuan ke bawah.
- Saudara perempuan, baik seayah seibu, seayah saja, atau seibu
saja.33
32
Yayasan penyelenggara penterjemah/pentafsir Al Qur‟an, Op. Cit, hlm. 120
33
b. Larangan kawin karena sepersusuan
Larangan kawin karena hubungan sesusuan berdasarkan pada
lanjutan surat An-Nisa‟ ayat 23 di atas :
Artinya:
“(Diharamkan atas kamu mengawini) dan ibu-ibumu yang
menyusui kamu dan saudara-saudara perempuan sepersusuan”.34
- Kemenakan susuan perempuan, yakni anak perempuan dari saudara
ibu susuan.
- Saudara susunan perempuan, baik saudara seayah kandung maupun
seibu saja.
c. Larangan yang bersifat sementara
Wanita-wanita yang haram dinikahi tidak untuk selamanya (bersifat
sementara) adalah sebagai berikut :
1. Wanita yang terkait perkawinan dengan laki-laki lain, haram dinikahi
oleh seorang laki-laki. Keharaman ini disebutkan dalam An-Nisa‟
ayat 24 :
Artinya:
34
“Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang
bersuami...”35
2. Wanita yang sedang dalam „iddah, baik i‟ddah cerai maupun
„iddah ditinggal mati.
3. Wanita yang ditalak tiga, haram kawin lagi dengan bekas
suaminya, kecuali kalau sudah kawin lagi dengan orang lain
dan telah berhubungan kelamin serta dicerai oleh suami
terakhir itu dan telah habis masa „iddahnya.
B.Landasan Secara Teoritis dan Yuridis Tentang akad nikah 1. Pengertian dan unsur akad nikah
Akad nikah nikah adalah perikatan hubungan perkawinan antara mempelai
laki-laki dan perempuan yang dilakukan didepan kedua saksi laki-laki dengan
menggunakan kata-kata ijab-kabul. Ijab dikatakan oleh pihak perempuan, yang
kebanyakan fukaha dilakukan oleh walinya (wakilnya), dan qabul adalah
pernyataan menerima dari pihak laki-laki, serta disebutkan mas kawin (mahar)
yang semestinya sudah ada dalam akad nikah.
Akad (Shighat) ijab dan qabul. Keduanya menjadi rukun akad.
Bergantung pada keduanyalah hakekat suatu dan wujudnya secara syara‟. Disini
ada beberapa syarat pada ijab dan qabul, sebagian menetap pada shighat akad
nikah dan sebagian yang lain menetap pada lafadz yang menentukan keabsahan
akad nikah. Berikut ini penjelasan beberapa syarat akad nikah:
35Ibid
a. Shighat akad nikah berbentuk kata kerja
Lafadz yang mengungkapkan ijab-qabul yang menunjukan
penyelenggaraan akad nikah berbentuk kata kerja (fi‟il). Pada dasarnya lafadz
yang digunakan mengungkap penyelenggaraan akad dalam syara‟ hendaknya fi‟il
madhi (kata kerja bentuk lampau). Seperti zawwajtu atau tazawwajtu (aku
nikahkan engkau), ungkapan inilah yang kemudian disebut ijab. Kemudian
dijawab, radhitu (aku ridha) dan wafaqtu (aku setuju) dan qabiltu (aku terima),
yang kemudian disebut qabul.36
b. Lafadz yang maknanya jelas
Hendaknya lafadz yang dugunakan menunjukan pernikahan baik secara
materi maupun subtansinya, baik dalam makna yang sebenarnya (makna hakiki)
secara bahasa kiasan (majas) yang sudah terkenal, atau sampai ketingkat makna
yang sebenarnya dalam bahasa maupun makna kiasan yang disertai indicator.
Dengan demikian, makna lafadz tersebut menjadi jelas dalam akad pernikahan.37
Dari pengertian akad nikah tersebut kita ketahui adanya empat unsur
(rukun) akad nikah, yaitu
a. Mempelai laki-laki dan perempuan
b. Wali mempelai perempuan
c. Dua orang saksi laki-laki
d. Ijab dan qabul.38
2. Pihak-pihak yang melakukan akad.
36
Abdul Aziz dan Abdul Wahhab Sayyed Hawwas, FiqhMunakahat Khitbah, Nikah dan talak, diterjemah oleh Abdul Majid Khon, (Jakarta: Sinar Grafika Offset, 2009), cet. I, hlm. 60
37Ibid
, hlm. 62
38
Seperti halnya dalam akad nikah secara umumnya, pihak-pihak yang
melakukan akad nikah (mempelai laki-laki dan perempuan) diisyaratkan
mempunyai kecakapan sempurna yaitu telah baligh, berakal sehat, dan tidak
terpaksa.
Menurut pendapat kebanyakan fukaha‟, mempelai perempuan tidak boleh
menikahkan dirinya sendiri, harus dilakukan oleh walinya.
Bahkan atas dasar pertimbangan “maslahah mursalah” dapat pula
diadakan ketentuan umur yang melampaui umur baligh (sekitar 15 tahun), apabila
terdapat motif yang benar-benar dapat diharapkan akan lebih dapat
menyampaikan tercapainya tujuan perkawinan seperti ketentuan UU perkawinan
No. I/1974 pasal 7 ayat I, bahwa calon mempelai laki-laki sekurang-kurangnya
mencapai umur 19 tahun dan calon mempelai perempuan sekurang-kurangnya
mencapai umur 16 tahun.39
3. Objek Akad Nikah
Objek dalam akad nikah bukan orang yang terkait dalam perjanjian, tetapi
apa yang menjadi persetujuan bersama, yaitu halalnya melakukan hubungan
timbul balik antara suami istri. Hal ini berarti, dengan adanya akad nikah, tidak
terjadi penguasaan suami terhadap pribadi istri atau sebaliknya.
Oleh karena itu, diperlukan adanya syarat bahwa calon mempelai
perempuan tidak haram dinikah oleh calon suami, atau dengan kata lain, tidak
dapat dilarang perkawinan antara calon-calon suami istri.40
4. Shighat akad nikah
39
Ibid, hlm 26
40
Pada dasarnya akad nikah dapat terjadi dengan menggunakan bahasa
apapun yang dapat menunjukan keinginan serta dapat dimengerti pihak-pihak
bersangkutan dan dapat dipahami pula oleh para saksi.
Di Indonesia sering dipergunakan bahasa Arab dikalangan mereka yang
memahami. Mempergunakan bahasa Indonesia dan bahasa Daerah juga dipandang
sah dan tidak dapat dikatakan bahwa menggunakan bahasa yang satu lebih utama
dari pada menggunakan bahasa yang lain.
Pada dasarnya ijab qabul dilakukan secara lisan. Dalam hal secara lisan
tidak mungkin dilakukan karena salah satu pihak buta huruf misalnya, dapat
dilakukan dengan isyarat.
Antara ijab dan qabul disyaratkan terjadi dalam satu majlis, tidak
disela-selai dengan pembicaraan lain atau perbuatan-perbuatan yang menurut adat
kebiasaan dipandang mengalihkan akad yang sedang dilakukan. Ulama-ulama
mazhab Imam Syafi‟i mensyaratkan harus langsung, yaitu setelah wali mempelai
perempuan menyatakan ijab, mempelai laki-laki harus segera menyatakan
qabulnya tanpa antara waktu. Peandapat ini yang disering dipraktekan dikalangan
kebanyakan kaum muslimin di Indonesia.41
5. Shighat akad nikah disertai syarat
Salah satu prinsip perkawinan dalam Islam, seperti diatas, ialah adanya
keabsahan mengajukan syarat dalam akad. Syarat yang diajukan dalam akad itu
dipandang mengikat apabila tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan
41Ibid
ajaran Islam, tidak menghalalkan yang haram dan tidak mengharamkan yang
halal.
Hal ini diajarkan dalam QS. Al-Isra: 34,
Artinya:
“….dan penuhilah janji karena janji itu pasti akan diminta
pertanggungjawaban.”
Hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim dan
lain-lain dari Uqbah bin Amir mengajarkan: “syarat-syarat yang lebih berhak
dipenuhi ialah yang berhubungan dengan perkawinan.”42
Pelaksanaan ijab qabul dalam akad nikah, dalam pasal 27 KHI tentang
akad nikah, menentukan bahwa pelaksanaan ijab dan qabul antara wali (dari pihak
calon mempelai perempuan) dengan calon mempelai laki-laki harus jelas beruntun
dan tidak berselang waktu. Akad nikah. Pelaksanaan ucapa ijab nikah ang
semestinya dilakukan oleh “wali nikah” dapat diwakilkan kepada orang lain yang
memenuhi syarat (pasal 28 KHI).
Ucapan ijab yang diucapkan pada akad nikah itu dilakukan atas nama
“wali nikah” untuk menikahkan calon mempelai perempuan bersangkutan.
Qabul diucapkan oleh mempelai laki-laki secara pribadi. Akan tetapi,
dalam kondisi tertentu qabul nikah dapat diwakilikan kepada lelaki lain, dengan
ketentuan bahwa calon mempelai lelaki bersangkutan memberi kuasa yang tegas
42Ibid
secara tertulis, bahwa penerimaan wakil atas nama akad nikah (qabul) itu adalah
untuk mempelai lelaki. Hal ini ditentukan dalam pasal 29 KHI.43
43