• Tidak ada hasil yang ditemukan

KORELASI ADVERSITYQUOTIENT DAN PRESTASI AKADEMIK MAHASISWA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KORELASI ADVERSITYQUOTIENT DAN PRESTASI AKADEMIK MAHASISWA"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

416

KORELASI

ADVERSITYQUOTIENT

DAN PRESTASI AKADEMIK MAHASISWA

Nurhidayati 1), Wharyanti Ika P 2)

1Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan , Universitas Muhammadiyah Purworejo email: [email protected]

2 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan , Universitas Muhammadiyah Purworejo email: [email protected]

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) adakah hubungan yang positif dan signifikan antara Adversity Quotient dengan prestasi akademik Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika,dan 2) adakah pengaruhAdversity Quotient dengan prestasi akademik Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelatif.Teknik sampling dalam penelitian ini adalah total sampling, sehingga diperoleh sampel penelitian sebanyak 25 orang. Metode pengumpulan data menggunakan dokumentasi dan kuisioner.Instrumen penelitian berupa lembar kuisioner Adversity Quotient untuk pengumpulan data Adversity Quotient.Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah analisis korelasi product moment pearson menggunakan program SPSS (IBM SPSS versi 23). Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data diperoleh 1) terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara Adversity Quotient dengan prestasi akademik Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika. Hal tersebut terlihat dari nilai rxy = 0,489 dan

signifikansi = 0,013 dan 2) terdapat pengaruh yang nyata (signifikan) antara Adversity Quotient dengan prestasi akademik Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika. Hal tersebut disimpulkan berdasarkan nilai t hitung = 2,690dengan nilai signifikansi 0,013 < 0,05 .Kemudian berdasarkan perhitungan koefisien determinasi, Adversity Quotient mempengaruhi prestasi akademik sebesar 23,9%. Adapun persamaan regresinya adalah

Y = 1,998 + 0,017X

.

Kata kunci: Adversity Quotient, Prestasi Akademik mahasiswa 1. PENDAHULUAN

Pendidikan adalah salah satu upaya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.Hanya dengan pendidikan kita dapat menciptakan keunggulan dalam menghadapi persaingan global.Sehingga pendidikan adalah hal yang wajib bagi setiap warga Negara.Hal ini sesuai dengan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1 Pasal 1 (1) pendidikan didefinisikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses belajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlakmulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Namun pada kenyataannya kondisi pendidikan di Negara ini masih jauh dari harapan.hal ini karena mutu pendidikan serta

kualitas pendidikan di Negara kita masih rendah. Melihat pentingnya pendidikan bagi keberlangsungan Negara, maka haruslah segera di tingkatkan sumber daya manusia dan menciptakan generasi penerus yang memiliki kualitas serta moral yang baik. Hal ini terletak pada proses kegiatan pembelajaran berlangsung. Untuk memperbaiki mutu pendidikan sehingga menghasilkan kecerdasan bangsa maka dari sisi proses pembelajaran harus ada pembenahan.

Terkait dengan perbaikan proses pembelajaran berarti terkait dengan tenaga pendidik yaitu guru. Untuk dapat melakukan pembenahan guru harus dapat melihat faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi hasil pembelajaran pada saat proses pembelajaran berlangsung.

Berdasarkan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 Pasal 58 (1) evaluasi belajar peserta didik dilakukan

(2)

417 untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Evaluasi belajar mahasiswa dapat dilihat melalui prestasi akademik yang diraihnya.

Prestasi akademik adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seorang mahasiswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya (Winkel, 2009).Prestasi akademik juga dapat mengetahui seberapa jauh keefektifannya dalam mengubah perilaku para mahasiswa kearah tujuan pendidikan yang diharapkan.Sanjaya (dalam Wardiana dkk, 2014) menjelaskan bahwa perubahan perilaku ini diakibatkan oleh adanya pengalaman dan latihan.Perwujudan bukti keberhasilan belajar tersebut dapat diukur atau dinilai dengan menggunakan tes standar (Sobur, 2011).

Keberhasilan mahasiswa melalui tugas-tugas yang terstandar pada masa perkuliahan inilah yang mendorong mahasiswa mampu mencapai prestasi akademik yang baik, yang ditunjukkan denganIndeks Prestasi Kumulatif (IPK). Bagi mahasiswa untuk memperoleh prestasi akademik yangtinggi tidaklah mudah. 2. KAJIAN LITERATUR DAN

PENGEMBANGAN HIPOTESIS a. Adversity Quotient

Adversity quotient adalah kecerdasan yang dimiliki seseorang untuk mengatasi kesulitan dan sanggup untuk bertahan hidup, dalam hal ini tidak mudah menyerah dalam menghadapi setiap kesulitan hidup.

Adversity quotient merupakan suatu teori yang dicetuskan oleh Paul G StolzUntuk menjembatani kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ).karena menurut Stolz (2000) kedua hal itu saja tidak cukup untuk menjadi tolok ukur yang akan memprediksi keberhasilan seseorang.Baginya, meskipun seseorang memiliki IQ dan EQ yang baik namun tidak memiliki daya juang yang tinggi dan kemampuan merespons kesulitan yang baik dalam dirinya, maka kedua hal tersebut akan menjadi sia sia saja.

Stoltz (2000) mengatakan bahwa kemampuan untuk menilai apa yang seseorang lakukan dengan benar atau salah dan bagaimana dirinya

dapat memperbaikinya merupakan hal yang mendasar untuk mengembangkan diri sebagai pribadi. Respon seseorang terhadap asal-usul sumber kesulitan yang rendah dapat menghentikan lingkaran umpan balik ini karena adanya beban mempersalahkan diri sendiri yang terus-menerus, yang akan menggerogoti kemampuan individu untuk belajar dari kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan. Seperti kritik, rasa bersalah, dan penyesalan hanya bermanfaat dalam situasi dan dosis ukuran yang sesuai.Jika terlampau maka dapat sangat melemahkan semangat dan menjadi destruktif.

Stoltz (2000) mengatakan bahwa sekali rasa bersalah menjadi destruktif, rasa bersalah tersebut dapat menghancurkan energi, harapan, harga diri, dan sistem kekebalan seseorang.

Adversity quotient berarti bisa juga disebut dengan ketahanan atau daya tahan seseorang ketika menghadapi masalah.Stein & Book (2004) menjelaskan bahwa ketahanan adalah kemampuan untuk menghadapiperistiwa yang tidak menyenangkan dan situasi yang penuh tekanan tanpa menjadi berantakan, dengan secara aktif dan pasif mengatasi kesulitan. Ketahanan ini berkaitan dengan kemampuan untuk tetap tenang dan sabar, serta kemampuan menghadapi kesulitan dengan kepala dingin, tanpa terbawa emosi. Orang yang tahan menghadapi kesulitan akan menghadapi, bukan menghindari, tidak menyerah pada rasa tidak berdaya atau putus asa.

Adversity quotient berarti bisa juga disebut dengan ketahanan atau daya tahan seseorang ketika menghadapi masalah.Stein & Book (2004) menjelaskan bahwa ketahanan adalah kemampuan untuk menghadapi peristiwa yang tidak menyenangkan dan situasi yang penuh tekanan tanpa menjadi berantakan, dengan secara aktif dan pasif mengatasi kesulitan.Ketahanan ini berkaitan dengan kemampuan untuk tetap tenang dan sabar, serta kemampuan menghadapi kesulitan dengan kepala dingin, tanpa terbawa emosi.

Orang yang tahan menghadapi kesulitan ataupun menyerah pada keadaan.akan menghadapi, bukan menghindari, tidak menyerah pada rasa tidak berdaya atau putus asa.Harry (Hidayati, 2003) telah menemukan bahwa selain bahwa selain IQ (intelligence quotient) dan EQ (emotial

(3)

418

quotient), memang ada unsur lain yang yang memiliki pengaruh besar dalam keberhasilan hidup atau karir seseorang yaitu AQ (adversity quotient).

Adversity quotient yang dimaksudkan di sini adalah ketangguhan , ketenangan dalam menghadapi berbagai masalah dan dapat mencari alternatif solusi masalah. Penelitian yang saat ini berkembang dengan adanya fakta lain yakni semakin tinggi karir individu, maka semakin banyak masalah yang dihadapi, dan hal inilah yang mendorong para HRD (Human Resource Development) Supervisor mencari pegawai dengan nilai plus AQ (Adversity Quantity) artinya orang yang tangguh, tenang menghadapi berbagai masalah dan dapat mencari alternatif solusi masalah tersebut.

Sedangkan dalam proses pembelajaran di sekolah, setiap siswa diharapkan dapat memperoleh prestasi belajar yang memuaskan. Prestasi tersebut di peroleh dengan cara belajar, baik di sekolah maupun di rumah. Akan tetapi terkadang siswa dihadapkan dengan berbagai hambatan, baik dari dalam diri siswa tersebut maupun dari lingkungan sekitar siswa, sehingga siswa menjadi kurang bersemangat.Hal ini tentu saja dapat membuat prestasi siswa menjadi menurun atau bahkan tinggal kelas.

Adversity quotient dalam penelitian ini adalah kemampuan seseorang menghadapi sebuah kesulitan dan tantangan yang dihadapinya, kemudian memberikan respon berdasarkan dimensi control, origin dan ownership, reach, dan endurance. Keempat dimensi ini digunakan untuk mengukur adversity quotient.

b. Prestasi Akademik

Prestasi belajar merupakan ukuran keberhasilan yang diperoleh siswa selama proses belajarnya. Keberhasilan itu ditentukan oleh berbagai faktor yang saling berkaitan.

Menurut Slameto (2003: 54-72) faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:

a. Faktor internal

yaitu faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, faktor intern terdiri dari:

1. Faktor jasmaniah (kesehatan dan cacat tubuh)

2. Faktor psikologis (inteligensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan)

3. Faktor kelelahan b. Faktor eksternal

yaitu faktor dari luar individu. Faktor ekstern terdiri dari:

1. Faktor keluarga ( cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar belakang kebudayaan )

2. Faktor sekolah (metode mengajar guru, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar belajar diatas ukuran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah 3. Faktor masyarakat (kegiatan siswa dalam

masyarakat, mass media, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat). Menurut Muhibbin Syah (2006: 144) bahwa prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh setidaknya tiga faktor yakni:

a. Faktor internalyaitu faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, faktor intern terdiri dari:

1. Faktor jasmaniah yang meliputi kesehatan dan cacat tubuh

2. Faktor psikologis yang meliputi tingkat inteligensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan

3. Faktor kelelahan.

b. Faktor eksternalyaitu faktor dari luar individu. Faktor ekstern terdiri dari:

1. Faktor keluarga yaitu cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar belakang kebudayaan

2. Faktor dari lingkungan sekolah yaitu metode mengajar guru, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar belajar diatas ukuran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah

(4)

419 3. Faktor masyarakat yaitu kegiatan siswa

dalam masyarakat, mass media, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat.

Prestasi belajar dalam penelitian ini adalah prestasi belajar pada mahasiswa di perguruan tiggi.Sehingga disebut sebagai prestasi akademik.Prestasi Akademik dalam penelitian ini adalah tingkat keberhasilan studi yang dicapai oleh mahasiswa dari semua kegiatan akademik yang diikuti mahasiswa dalam jangka tertentu, yang dinyatakan dalam bentuk bilangan. Indeks Prestasi terdiri atas 2 macam, yaitu Indeks Prestasi (IP) dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) pada setiap semesternya.

c. Hipotesis penelitian

Hipotesis dalam penelitian ini antara lain: 1. Terdapat hubungan yang positif dan

signifikan antara Adversity Quotient dan prestasi akademik mahasiswa program studi pendidikan Fisika

2. Terdapat pengaruh yang nyata antara Adversity Quotient dan prestasi akademik mahasiswa program studi pendidikan Fisika 3. METODE PENELITIAN

a. Tempat dan waktu penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di program studi pendidikan fisika Universitas Muhammadiyah Purworejo. Penelitian dilaksanakan pada bulan oktober tahun ajaran 2016/2017.

b. Populasi, sampel, dan sampling Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa program studi pendidikan Fisika Universitas Muhammadiyah Purworejo yang berjumlah 25 mahasiswa. Teknik sampling menggunakan total sampling. sampel penelitian diperoleh sebanyak 25 mahasiswa.

c. Variable penelitian

Variabel dalam penelitian ini terdiri dari 1 variabel bebas dan 1 variabel terikat.Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Adversity Quotient dan variable terikatnya adalah prestasi akademik mahasiswa. Definisi

operasional masing-masing variabel sebagai berikut:

a. Adversity Quotient

Adversity quotient dalam penelitian ini adalah kemampuan seseorang menghadapi kesulitan dan tantangan yang dihadapinya, kemudian memberikan respon berdasarkan dimensi control, origin dan ownership, reach, dan endurance. b. Prestasi akademik

Prestasi

Akademik

dalam

penelitian

ini

adalah tingkat keberhasilan studi yang dicapai oleh mahasiswa dari semua kegiatan akademik yang diikuti mahasiswa dalam jangka tertentu, yang dinyatakan dalam bentuk bilangan. d. Instrument penelitian

Instrument dalam penelitian ini menggunakan lembar kuisioner untuk Adversity Quotient. lembar kuisioner tersebut dihitung menggunakan skala likert. Adapun lembar kuisioner tersebut berisi pernyataan-pernyataan yang terdiri dari empat pilihan jawaban yaitu sangat sesuai (SS), sesuai (S), tidak sesuai (TS), dan sangat tidak sesuai (STS).Penilaian item favorable bergerak dari skor 3 (sangat sesuai), 2(sesuai), 1 (tidak sesuai), dan 0 (sangat tidak sesuai).Sedangkan penilaian unfavorable bergerak dari skor 0 (sangat sesuai), 1 (sesuai), 2 (tidak sesuai), dan 3 (sangat tidak sesuai).

Uji instrument penelitian meliputi validitas menggunakan korelasi Product Momendan uji reliabilitasmenggunakan Formula Alpha Cronbach. Keduanya diolah menggunakan program SPSS (IBM SPSS versi 23).

e. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah analisis korelasi Product Moment

Pearson dan analisis regresi

(5)

420 menggunakan program SPSS (IBM SPSS versi 23).

4. HASIL DAN PEMBAHASAN a. Hasil Uji Prasyarat

UJI NORMALITAS

Uji prasyarat yang harus dipenuhi dalam penelitian ini sebelum melakukan uji hipotesis adalah data berdistribusi normal dan linier. Maka dilakukan uji normalitas terlebih dahulu, adapun uji normalitas yang dilakukan disini adalah uji normalitas menggunakan teknik one Kolmogorov Smirnov test (ks-z) dengan taraf signifikansi 0,05. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai signifikansi Adversity Quotient sebesar 0,200 dan IPK sebesar 0,200. Oleh karena nilai signifikansi kedua variabel lebih dari 0,05 maka dapat disimpulkan kedua variabelberdistribusi normal.Berikut rangkuman uji normalitas menggunakan program SPSS disajikan dalam tabel 1.

Tabel 1 Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

Statistic Df Sig. Statistic df Sig.

AQ .134 25 .200* .944 25 .179

IPK .106 25 .200* .962 25 .464

*. This is a lower bound of the true significance. a. Lilliefors Significance Correction

UJI LINEARITAS

Uji linieritas dilakukan sebagai dasar pemenuhan syarat uji hipotesis yang akan menggunakan statistic parametrik. Berdasarkan hasil analisis diperoleh hasil dalam output SPSS dimana nilai signifikansi = 0,380 lebih besar 0,05 yang artinya bahwa terdapat hubungan yang linear secara signifikan antara variable bebas dan variable terikatnya. Atau terdapat hubungan yang linear antara Adversity quotient dan prestasi akademik mahassiswa program studi fisika.Berikut disajikan rangkuman uji linieritas pada tabel 2.

b. Hasil Uji Hipotesis Hipotesis pertama

Hasil uji hipotesis pertama pada penelitian ini diperoleh dari perhitungan uji korelasi product momen Pearson menggunakan program SPSS. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan diketahui nilai koefisien korelasi pearson sebesar 0,489 dengan signifikansi 0,013 (p < 0,05), hal ini menunjukkan bahwa hipotesis penelitian yang disusun peneliti diterima. Sehingga dengan ini dapat dinyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara adversity quotient dengan prestasi akademik masiswa program studi fisika.Nilai r yang bernilai positif menunjukkan bahwa arah hubungan kedua variable bernilai positif.Jadi dapat disimpulkan terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara adversity quotient dan prestasi akademik mahasiswa pada program studi Fisika. Berikut disajikan tabel uji korelasi pada tabel 3.

Tabel 3 Correlations AQ IPK AQ Pearson Correlation 1 .489* Sig. (2-tailed) .013 N 25 25

IPK Pearson Correlation

.489* 1

Sig. (2-tailed) .013

N 25 25

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

Hipotesis kedua

Hasil perhitungan uji regresi diperoleh bahwa nilai t hitung = 2,690 dan signifikansi sebesar 0,013 (0,05) Tabel 2 ANOVA Table Sum of Squares df Mean Square F Sig. IPK * AQ Between Groups (Combined) .610 14 .044 1.720 .196 Linearity .207 1 .207 8.157 .017 Deviation from Linearity .403 13 .031 1.224 .380 Within Groups .253 10 .025 Total .864 24

(6)

421 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang nyata (signifikan) antara variable adversity quotient terhadap prestasi akademik mahasiswa. Berikut disajikan tabel uji regresinya: Tabel 4 Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 1.998 .462 4.329 .000 AQ .017 .006 .489 2.690 .013 a. Dependent Variable: IPK

Nilai koefisian determinasi yang dihasilkan sebesar 0,239 atau 23,9%. Hasil ini menunjukkan bahwa pengaruh variable adversity quotient terhadap prestasi akademik adalah 23,9%, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variable yang lainnya. Berikut disajikan tabel perolehan nilai koefisien determinasi pada tabel 5.

Tabel 5 Model Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .489a .239 .206 .16901 a. Predictors: (Constant), AQ

Berdasarkan tabel koefisien diskriminasi di atas dapat dituliskan persamaan regresi dari penelitian ini yaitu Y = a + bX = 1,998 + 0,017X. dari persamaan tersebut dapat disimpulkan bahwa konstanta 1,998 menyatakan bahwa jika tidak ada nilai adversity quotient maka nilai prestasi akademik sebesar 1,998 dan koefisien regresi X sebesar 0,017 menyatakan bahwa setiap penambahan 1 nilai adversity quotient, maka nilai prestasi akademik bertambah sebesar 0,017.

c. Pembahasan

Pada hasil analisis data didapatkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara adversity Quotient dan prestasi akademik mahasiswa program studi pendidikan fisika, artinya

semakin tinggi adversity quotient seseorang maka akan semakin tinggi pula pprestasi akademik seseorang. Hasil analisis regresi pada penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara adversity quotient terhadap prestasi akademik mahasiswa program studi pendidikan fisika.

Berdasarkan analisis korelasi product moment pearson diketahui bahwa peran adversity quotient terhadap perolehan prestasi akademik sebesar 23,9% selebihnya dipengaruhi oleh faktor lain.

Hasil penelitian sejalan dengan yang diungkapkan oleh Stoltz bahwa adversity quotient merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki untuk mendapatkan keberhasilan selain kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional.

Dengan adversity quotient seseorang akan memiliki daya juang yang lebih tinggi untuk mendapatkan sesuatu. Selain memiliki daya juang yang tinggi seseorang yang memiliki adversity quotient juga lebih tangguh dan lebih tenang dalam menghadapi permasalahan. Jadi dengan semangat daya juang yang tinggi, serta ketangguhan serta ketenangan akan menghasilkan suatu penyelesaian dari permasalahan yang sedang dihadapi.

5. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa 1) terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara adversity quotient dan prestasi akademik mahasiswa program studi pendidikan fisika dan 2) terdapat pengaruh yang signifikan adversity quotient dan prestasi akademik mahasiswa program studi

pendidikan fisika.

(7)

422 6. REFERENSI

Alex, Sobur.2011. Psikologi Umum, Bandung: CV PUSTAKA SETIA

Eggen, P.D. and Kauchak.D.P. 1996.Learning and Teaching. 2 nd ed. Needdham Height, Massachussets: Allyn and Bacon.

Ratumanan. 2002. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Stoltz. 2000. Adversity Quotient Mengubah Hambatan Menjadi Peluang.Grasindo: Jakarta.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Undang undang sisdiknas UU RI Nomer 20 tahun 2003, Sinar Grafika

Wingkel, 2009, Psikologi Pengajaran, Yogyakarta: Media Abadi

Gambar

Tabel 1  Tests of Normality
Tabel 5  Model Summary  Model  R  R  Square  Adjusted R Square  Std. Error of the Estimate  1  .489 a .239  .206  .16901  a

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mendapat bukti empiris pengaruh tipe kepribadian conventional, adversity quotient, dan motivasi berprestasi pada kinerja akademik

tidak ada hubungan yang positif dan signifikan antara adversity quotient. dengan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa pendidikan dokter UMY yang menjadi responden mempunyai kategori prestasi akademik kurang.. Dari hasil

Melalui penelitian yang dilakukan oleh peneliti, maka dapat disimpulkan adanya hubungan negatif signifikan antara adversity quotient dengan Prokrastinasi akademik dalam

Kesimpulannya adversity quotient mempengaruhi proses dan hasil belajar seseorang, orang-orang yang memiliki adversity quotient tinggi akan menghasilkan prestasi

Serta mengacu pada penjelasan di atas, penelitian terkait Pengaruh Efikasi Diri dan Adversity Quotient Terhadap Prestasi Akademik Mahasiswa FKIP UNS angkatan 2019- 2021 menarik

Mahasiswa dengan prestasi akademik tinggi juga memiliki kecerdasan emosional yang lebih tinggi dibanding mahasiswa dengan prestasi akademik buruk.12 Hasil penelitian ini menunjukkan

Hal ini berarti individu yang memiliki Adversity Quotient yang tinggi maka akan memliki tingkat stres akademik yang rendah, begitupula sebaliknya Sehingga Hipotesis penelitian ini