BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Partisipan Penelitian
Riset partisipan dalam penelitian ini adalah penderita Tuberkulosis yang sedang menjalankan pengobatan di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Paru dr. Ario Wirawan Salatiga. Jumlah seluruh riset partisipan dalam penelitian yaitu 30 orang. Riset partisipan yang diteliti memiliki karakteristik berdasarkan jenis kelamin, usia, serta tingkat pendidikan. Berikut adalah tabel 4.1 yang mendeskripsikan karakteristik riset partisipan.
Tabel 4.1 Karakteristik PenderitaTuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan RSP dr. Ario Wirawan Salatiga
berdasarkan Jenis Kelamin, Usia, serta Pendidikan (n:30) Karakteristik Riset Partisipan Jumlah (n:30) Presentase (%) Jenis Kelamin : Pria Wanita 13 17 43,33 56,67 Usia : 15-30 tahun 31-45 tahun 46-60 tahun 18 5 7 60 16,67 23,33 Tingkat Pendidikan : SLTP SLTA/SMK 10 20 33,33 66,67
Tabel di atas menunjukan bahwa untuk jenis kelamin, mayoritas riset partisipan yaitu wanita dengan 56,67% sedangkan pria 43,33%. Mayoritas usia riset partisipan pada usia 15-30 tahun dengan 60%, usia 46-60 tahun dengan 23,33%, dan usia 31-45 tahun dengan 16,67%. Tingkat pendidikan riset partisipan mayoritas SLTA/SMK dengan 66,67% dan SLTP dengan 33,33%.
4.2 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas
Sebelum peneliti menyebar kuesioner/angket di Rumah Sakit Paru dr. Ario Wirawan Salatiga, terlebih dahulu peneliti melakukan pengujian validitas dan reliabilitas di Unit Pelayanan Terpadu Balai Kesehatan Paru Masyarakat Salatiga untuk mengetahui validitas dan reliabilitas angket yang akan digunakan. Terdapat dua jenis kuesioner/angket yang digunakan oleh peneliti yaitu kuesioner/angket Spiritualitas Perspective Scale (SPS) yang terdiri dari 10 pernyataan dan
kuesioner/angket kepatuhan pengobatan yang terdiri dari 12 pernyataan.
4.2.1 Hasil Uji Validitas
Pengujian validitas kuesioner/angket penelitian diujikan pada 28 orang penderita Tuberkulosis yang sedang menjalankan pengobatan di Unit Pelayanan Terpadu Balai Kesehatan Paru Masyarakat. Sebelumnya peneliti terlebih dahulu melakukan uji validitas pada 24 orang penderita Tuberkulosis, tetapi berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan bantuan SPSS terdapat beberapa item dari kedua kuesioner (spiritualitas dan kepatuhan pengobatan) yang tidak valid sehingga peneliti melakukan penambahan dalam pengujian validitas lagi pada 4 orang penderita Tuberkulosis yang sedang menjalankan pengobatan di Unit Pelayanan Terpadu Balai Kesehatan Paru Masyarakat sehingga menjadi 28 orang. Berdasarkan uji validitas kuesioner penelitian Spiritualitas Perspective Scale (SPS) dan kuesioner kepatuhan
pengobatan dengan menggunakan teknik pearson product moment, dalam program SPSS 16,0 for window, diketahui
N=28 didapatkan koefisien korelasi item total ≥ 0,20 sehingga kuesioner/angket penelitian tersebut valid dan layak untuk disebarkan kepada riset partisipan yang sebenarnya. Berikut hasil uji validitas item kedua kuesioner/angket dalam tabel 4.2 dan tabel 4.3.
Tabel 4.2 Validitas Item Skala Spiritualitas Item-Total Statistics
Variabel Corrected item-Total Correlation Keterangan VAR00001 .305 Valid VAR00002 .387 Valid VAR00003 .398 Valid VAR00004 .325 Valid VAR00005 .212 Valid VAR00006 .665 Valid VAR00007 .756 Valid VAR00008 .550 Valid VAR00009 .515 Valid VAR00010 .628 Valid
Tabel 4.3 Validitas Item Skala Kepatuhan Pengobatan Item-Total Statistics Variabel Corrected Item-Total
Correlation Keterangan VAR00001 .727 Valid VAR00002 .782 Valid VAR00003 .859 Valid VAR00004 .802 Valid VAR00005 .848 Valid VAR00006 .672 Valid VAR00007 .838 Valid
VAR00008 .840 Valid
VAR00009 .723 Valid
VAR00010 .702 Valid
VAR00011 .477 Valid
VAR00012 .525 Valid
4.2.3 Hasil Uji Reliabilitas
Setelah melakukan uji validitas maka peneliti juga melakukan uji reliabilitas kuesioner/angket penelitian dengan menggunakan teknik Alpha-Cronbach. Berdasarkan uji reliabilitas instrument angket skala spiritualitas (SPS) diperoleh reliabilitas koefisien alpha cronbach’s :0,780, sedangkan untuk instrument angket
skala kepatuhan pengobatan diperoleh reliabilitas koefisien alpha cronbach’s :0,942. Berdasarkan hasil pengolahan data uji coba instrument angket skala spiritualitas dan angket kepatuhan pengobatan, sudah dapat digunakan atau instrument sudah reliabel dikategorikan dapat diterima (acceptable) untuk angket skala spiritualitas dan sangat bagus (excellent) untuk angket skala kepatuhan pengobatan.
4.3 Pelaksanaan Penelitian 4.3.1 Prosedur Penelitian
4.3.1.1 Tahap Persiapan
Sebelum melakukan penelitian, peneliti melakukan persiapan antara lain proses perizinan yaitu, peneliti meminta surat pengantar dari Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan yang berisi izin untuk melakukan penelitian. Surat pengantar tersebut ditujukan kepada Direktur Rumah Sakit Paru dr. Ario Wirawan Salatiga untuk memohon izin melakukan penelitian, pengambilan data, serta penyebaran kuesioner/angket penelitian.
4.3.1.2 Tahap Pelaksanaan Penelitian
Beberapa hal yang dilakukan dalam tahap pelaksanaan antara lain peneliti melakukan pengambilan data dengan cara membagikan kuesioner/angket kepada riset partisipan, kemudian data tersebut dikumpulkan dan disiapkan untuk diolah.
4.3.1.3 Tahap Akhir
Beberapa hal yang dilakukan pada tahap akhir antara lain, peneliti mengecek kembali data
kuesioner/angket yang telah dikumpulkan kemudian memberikan skoring terhadap data dari kedua alat ukur. Setelah data selesai diberi skoring, kemudian data diolah menggunakan bantuan program SPSS 16,0 for window menggunakan analisis regresi sederhana.
4.3.2 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Paru dr Ario Wirawan Salatiga selama 2 minggu sejak tanggal 19 Maret sampai dengan 30 Maret 2012. Peneliti memilih Rumah Sakit Paru dr. Ario Wirawan Salatiga, karena Rumah Sakit ini telah menjalin kerjasama dengan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga dan rumah sakit ini adalah salah satu Rumah Sakit khusus penyakit paru yang ada di Salatiga. Rumah Sakit ini memiliki dua Unit Instalasi Rawat Jalan yaitu poli eksekutif dan poli terpadu, peneliti melakukan penelitian di poli terpadu, karena jumlah penderita Tuberkulosis di poli ini lebih banyak dibandingkan poli eksekutif serta penderita Tuberkulosis yang menjalankan pengobatan di poli ini menggunakan program bantuan pemerintah JAMKESMAS (Jaminan Kesehatan Masyarakat). Jumlah tenaga kesehatan di poli ini ada 11
orang, dengan 4 dokter spesialis, 5 perawat ruangan, dan 2 orang tenaga portir.
Peneliti mengikuti kegiatan pelayanan kerja dengan perawat poli sehingga langsung memberikan kuesioner/angket kepada penderita yang datang berobat, langsung diisi dan langsung diambil kembali oleh peneliti saat itu juga. Selama 2 minggu penelitian, rata-rata jumlah penderita Tuberkulosis yang datang berobat perharinya sekitar 6 orang. Dalam penelitian ini, peneliti mengalami hambatan-hambatan diantaranya yaitu ada beberapa partisipan yang menolak untuk mengisi kuesioner, kesulitan dalam berkomunikasi dengan beberapa partisipan (tidak bisa berbahasa indonesia) sehingga peneliti meminta tolong perawat poli untuk membantu menjelaskan maksud dan tujuan peneliti, serta tidak ada tempat khusus yang disiapkan bagi peneliti dan riset partisipan untuk mengisi kuesioner/angket sehingga peneliti dan riset partisipan cukup merasa terganggu dengan keramaian yang ada diruangan.
4.4 Hasil Penelitian
4.4.1 Uji Normalitas Data
Uji normalitas dilakukan untuk melihat apakah dalam model regresi variabel terikat dan variabel bebas keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak dan menghindari bias dalam analisis data (Wijaya, 2009:126). Analisis pengujian normalitas data menggunakan teknik uji kolmogorov smirnov test (uji K-S) dengan menggunakan
bantuan SPSS versi 16.0. Dikatakan data berdistribusi normal jika nilai signifikansinya > 0,05. Hasil analisis uji normalitas variabel spiritualitas dan kepatuhan pengobatan dapat dilihat dalam tabel berikut.
Tabel 4.3 Hasil Uji Normalitas Variabel Spiritualitas dan Kepatuhan Pengobatan Penderita Tuberkulosis di Instalasi
Rawat Jalan RSP dr. Ario Wirawan, Salatiga. One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Spiritualitas Kepatuhan
N 30 30
Normal Parametersa Mean 42.73 52.97
Std. Deviation 4.242 5.223
Most Extreme Differences Absolute .098 .119
Positive .087 .089
Negative -.098 -.119
Kolmogorov-Smirnov Z .537 .654
Dalam uji normalitas pada tabel 4.4 dengan menggunakan kolmogorov smirnov test (uji K-S), diperoleh signifikansi untuk variabel spiritualitas dengan (2-tailed P) > α = P (0,935) > α (0,05) dan untuk variabel kepatuhan pengobatan dengan (2-tailed P) > α = P (0,787) > α (0,05) dengan ketentuan jika signifikansi < 0,05 maka distribusi ditolak dan apabila signifikansi > 0,05 maka distribusi diterima. Oleh karena itu data variabel spiritualitas dan kepatuhan pengobatan merupakan data yang normal karena signifikansi > 0,05.
Berikut ini adalah gambar grafik distribusi normal variabel spiritualitas penderita Tuberkulosis dan kepatuhan penderita Tuberkulosis dalam menjalankan pengobatan di Instalasi Rawat Jalan RSP dr. Ario Wirawan, Salatiga.
Gambar 4.1 P-P Plot Distribusi Data Pada Variabel Spiritualitas.
Gambar 4.2 P-P Plot Distribusi Data Pada Variabel Kepatuhan.
Berdasarkan uji normalitas yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa sebaran variabel spiritualitas dan variabel kepatuhan pengobatan berdistribusi normal. Hal ini dibuktikan dengan nillai signifikansi variabel spiritualitas dan kepatuhan yang > 0,05 serta pada gambar plot yang dapat membentuk garis lurus, dengan asumsi bahwa ketika plot mendekati garis dan dapat membentuk garis lurus maka data pada variabel tersebut berdistribusi normal.
4.4.2 Uji Linearitas
Uji linearitas bertujuan untuk mengetahui apakah dua variabel mempunyai hubungan yang linear atau tidak secara signifikan. Analisis pengujian linearitas data dengan menggunakan test for linearity dengan program SPSS versi
16,0 for window. Hasil analisis pengujian linearitas antara variabel spiritualitas dan kepatuhan pengobatan penderita Tuberkulosis dapat dilihat dalam tabel berikut
Tabel 4.4 Hasil Linearitas Variabel Spiritualitas dan Kepatuhan Pengobatan Penderita Tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan RSP dr. Ario Wirawan, Salatiga.
Model
Sum of
Squares Df Mean Square F Sig. 1 Regression 79.536 1 79.536 3.130 .088a
Residual 711.431 28 25.408 Total 790.967 29
a. Predictors: (Constant), spiritualitas b. Dependent Variable: kepatuhan
Hasil Analisis menunjukkan bahwa harga F sebesar 3,130 dengan dengan signifikansi 0,088. Interpretasi hasil analisis dilakukan dengan:
1. Susun hipotesis
H0 : Model regresi linear H1 : Model regresi tidak linear
2. Menetapkan taraf signifikansI (misalnya α = 0,05).
3. Membandingkan signifikansi yang ditetapkan dengan signifikansi yang diperoleh dari analisis (Sig.)
Bila α ≥ Sig., maka H1 diterima, berarti regresi tidak
linier.
Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa signifikansi 0,05 < 0,088, berarti model regresi H0 diterima yaitu regresi linier. Berikut ini adalah gambar hubungan linearitas antara variabel spiritualitas dan kepatuhan pengobatan penderita Tuberkulosis dalam menjalankan pengobatan di Instalasi Rawat Jalan RSP dr. Ario Wirawan Salatiga.
Gambar 4.3 P-P Plot Linearitas Antara Variabel Spiritualitas dan Kepatuhan Pengobatan
Penderita Tuberkulosis
Berdasarkan gambar grafik P-P Plot dapat dilihat bahwa semakin dekat plot mendekati garis maka semakin besar pula hubungannya.
4.4.3 Analisa Deskriptif
4.4.3.1 Analisa Deskriptif Spiritualitas Penderita Tuberkulosis
Analisis variabel spiritualitas digunakan 5 kategori, dengan rumus sebagai berikut :
=
−
ℎ
I
=
= 8Tabel 4.5 Kategori Variabel Spiritualitas Penderita Tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan
RSP dr. Ario Wirawan, Salatiga
D
Dari tabel 4.5 presentasi spiritualitas penderita Tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan RSP dr. Ario
Kategori Range Frekuensi Presentase (%) Sangat Tinggi 46-50 9 27% Tinggi 37-45 20 60% Sedang 28-36 1 3% Rendah 19-27 0 0 Sangat Rendah 10-18 0 0 Jumlah 30 100%
Wirawan Salatiga terbesar pada kategori tinggi dengan presentasi 60%.
4.4.3.2 Analisis Deskriptif Kepatuhan Pengobatan Penderita Tuberkulosis
Analisis deskriptif variabel kepatuhan pengobatan penderita Tuberkulosis digunakan 5 kategori dengan
rumus :
=
−
ℎ
I =
=
9,6 = 10(
dibulatkan)
Tabel 4.6 Variabel Kepatuhan Pengobatan Penderita Tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan
RSP dr. Ario Wirawan Salatiga
Kategori Range Frekuensi Presentase
(%) Sangat Tinggi 52-60 17 51 % Tinggi 42-51 12 36% Sedang 32-41 1 3 % Rendah 22-31 0 0 Sangat Rendah 12-21 0 0 Jumlah 30 100%
Dari tabel 4.6 diperoleh presentase kepatuhan pengobatan penderita Tuberkulosis dalam menjalankan pengobatan di Instalasi Rawat Jalan RSP dr. Ario Wirawan Salatiga berada pada kategori sangat tinggi dengan 51%.
4.4.4 Uji Regresi Sederhana
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi sederhana.
Tabel 4.7 Hasil Analisis Pengaruh Variabel Spiritualitas Terhadap Kepatuhan Pengobatan
Penderita Tuberkulosis Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .317a .101 .068 5.041
a. Predictors: (Constant), spiritualitas
b. Dependent Variable: kepatuhan
R square (R2) atau kuadrat R menunjukan koefisien determinasi. Angka ini akan diubah dalam bentuk persentase yang artinya presentase sumbangan pengaruh variabel independen terhadap dependen. Dari perhitungan SPSS yang dilakukan, didapatkan hasil R2 sebesar 0,101
yang diubah dalam bentuk persentase menjadi 10,1%, artinya presentase sumbangan pengaruh variabel spiritualitas terhadap kepatuhan pengobatan. Berikut ini pada tabel 4.9 adalah hasil regresi linear sederhana.
Tabel 4.8 Hasil Analisis Regresi Sederhana Variabel Spiritualitas Terhadap Kepatuhan Pengobatan Penderita Tuberkulosis di Instalasi
Rawat Jalan RSP dr. Ario Wirawan, Salatiga
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 36.284 9.474 3.830 .001 Spiritualitas .390 .221 .317 1.769 .088 a. Dependent Variable: kepatuhan
Berdasarkan hasil regresi pada tabel, maka dapat disusun persamaan sebagai berikut :
Y = a + bX
Y = 36, 284 + 0,390X Keterangan :
Y = Nilai prediksi variabel dependen a = Konstanta nilai Y jika X = 0
b = Koefisien regresi yaitu nilai peningkatan atau penurunan variabel Y didasarkan pada variabel X X = Variabel independen
4.4.4.1 Uji Hipotesis
Pengujian yang bertujuan untuk mengetahui apakah kesimpulan pada sampel dapat berlaku untuk populasi (dapat digeneralisasi). Uji hipotesis dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
Uji t
Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah variabel bebas (X) berpengaruh secara signifikan terhadap variabel terikat (Y). Langkah-langkah pengujian sebagai berikut:
1. Merumuskan hipotesis
Ho : X tidak berpengaruh terhadap Y Ha : X berpengaruh terhadap Y
2. Menentukkan t hitung dan taraf signifikansi
Dari output didapat t hitung sebesar (1,769) dan signifikansi (0,088).
3. Menentukkan t tabel
t tabel dapat dilihat pada tabel statistik pada signifikansi 0,05/2=0,025 dengan derajat kebebasan df=n-2 atau (30-2=28) hasil yang diperoleh t tabel sebesar 2,0484
4. Kriteria pengujian
Jika H0 diterima, maka t hitung < t tabel Berdasarkan signifikansi :
Jika signifikansi > 0,05 maka Ho diterima Jika signifikansi < 0,05 maka Ho ditolak. 5. Membuat kesimpulan
Karena t hitung (1.769) < dari t tabel (2,0484) dan signifikansi 0,088 > 0,05 maka H0 diterima. Artinya tidak ada pengaruh secara signifikan antara aspek spiritualitas terhadap kepatuhan penderita Tuberkulosis dalam menjalankan pengobatan.
4.5 Pembahasan Hasil Penelitian
4.5.1 Spiritualitas penderita Tuberkulosis
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, spiritualitas dari penderita Tuberkulosis yang sedang menjalankan pengobatan di Instalasi Rawat Jalan RSP dr. Ario Wirawan Salatiga dengan jumlah total riset partisipan sebanyak 30 orang diperoleh hasil yaitu 27% atau 9 orang riset partisipan yang memiliki kategori tingkat spiritualitas yang sangat tinggi, kemudian 60% atau 20 orang riset partisipan yang memiliki kategori tingkat spiritualitas yang tinggi, dan 3% atau 1 orang riset partisipan yang memiliki kategori tingkat spiritualitas yang sedang. Berdasarkan
hasil dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa mayoritas tingkat spiritualitas penderita Tuberkulosis termasuk dalam kategori tinggi dengan jumlah presentase 60%.
Berikut dalam tabel 4.10 adalah hasil analisis variabel spiritualitas dengan karakteristik riset partisipan berdasarkan jenis kelamin, umur, dan tingkat pendidikan.
Tabel 4.9 Analisis Variabel Spiritualitas Dengan Karakteristik Riset Partisipan Berdasarkan Jenis
Kelamin, Usia, dan Tingkat Pendidikan
Karakteristik Jumlah (n=30) Presentase spiritualitas Jenis Kelamin Pria Wanita 13 17 13% 12,9% Usia 15 – 30 tahun 31 – 45 tahun 46 – 60 tahun 18 5 7 12,2% 12% 13,4% Tingkat pendidikan SLTP SLTA/SMEA 10 20 12,4% 12.8%
Berdasarkan hasil analisis variabel spiritualitas dengan karakterisitik jenis kelamin, usia, dan tingkat pendidikan pada tabel di atas, maka dapat dianalisis sebagai berikut:
1. Jenis kelamin
Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa, tingkat spiritualitas riset partisipan antara wanita dan pria hampir sama yaitu, diperoleh 12,9% tingkat spiritualitas untuk wanita dan 13% tingkat spiritualitas untuk pria. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa, perbedaan jenis kelamin antara wanita dan pria tidak mempengaruhi tingkat spiritualitas seseorang.
2. Usia
Usia merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat spiritualitas seseorang. Hasil penelitian menunjukan bahwa riset partisipan dengan usia 15-30 tahun sebanyak 18 orang memiliki tingkat spiritualitas dengan presentase 12,2%. Usia 31-45 tahun sebanyak 5 orang memiliki tingkat spiritualitas dengan presentase 12%, sedangkan pada usia 46-60 tahun sebanyak 7 orang memiliki tingkat spiritualitas yang tinggi dengan presentase 13,4%. Pada usia 46-60 tahun seseorang telah melewati perkembangan kehidupannya dan telah
cukup banyak memiliki pengalaman hidup. Menurut Sutisna (2010), perkembangan usia dapat menentukan proses pemenuhan kebutuhan spiritual, karena setiap tahap perkembangan memiliki cara meyakini kepercayaan terhadap Yang Maha Kuasa.
3. Tingkat Pendidikan
Hasil dari penelitian ini diperoleh bahwa, tingkat spiritualitas riset partisipan berdasarkan tingkat pendidikan SLTP dan SLTA/SMEA hampir sama. Untuk riset partisipan dengan tingkat pendidikan SLTP sebanyak 10 orang memiliki tingkat spiritualitas 12,4%, dan riset partisipan dengan tingkat pendidikan SLTA/SMEA sebanyak 20 orang memiliki tingkat spiritualitas 12,8%. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan bahwa, tingkat pendidikan tidak mempengaruhi tingkat spiritualitas seseorang.
Menurut Farran (dalam Potter Perry, 2005:564) setiap individu memiliki pemahaman tersendiri mengenai spiritualitas karena masing-masing memiliki cara pandang yang berbeda mengenai hal tersebur. Perbedaan definisi dan konsep spiritualitas dipengaruhi oleh budaya, perkembangan, pengalaman hidup seseorang, serta
persepsi mereka tentang hidup dan kehidupan. Pengaruh tersebut nantinya dapat mengubah pandangan seseorang mengenai konsep spiritulitas dalam dirinya sesuai dengan pemahaman yang ia miliki dan keyakinan yang ia pegang teguh. Hal serupa juga diungkapkan Wiramihardjo (2009:145), bahwa spiritualitas adalah kekuatan-kekuatan yang bersangkutan dan nilai (value) dan makna (meaning). Nilai dari sesuatu dan makna apa yang terdapat dalam suatu situasi itu merupakan dorongan utama yang melahirkan suatu perilaku.
Berdasarkan hasil penelitian dan kajian teoretis yang ada, peneliti menyimpulkan bahwa spiritualitas setiap orang itu berbeda, tergantung bagaimana cara pandang dan cara pemaknaan terhadap spiritualitas itu sendiri. Cara pandang dan cara pemaknaan yang berbeda ini tidak terlepas dari proses seseorang dalam menjalani kehidupannya, faktor-faktor internal dan eksternal dari seseorang bisa menjadi latar belakang yang mempengaruhi cara pandang dan pemaknaan seseorang terhadap spiritualitas itu sendiri. Menurut peneliti pengalaman hidup, lingkungan sosial, dan kebudayaan seseorang yang dapat mempengaruhi cara pandang dan cara pemaknaan seseorang terhadap definisi spiritualitas.
4.5.2 Kepatuhan Pengobatan Penderita Tuberkulosis
Hasil penelitian yang diperoleh bahwa, kepatuhan penderita Tuberkulosis dalam menjalankan pengobatan dengan jumlah total riset partisipan sebanyak 30 orang diperoleh hasil yaitu 51% atau 17 orang riset partisipan yang memiliki tingkat kepatuhan yang sangat tinggi dalam menjalankan pengobatan, 36% atau 12 orang riset partisipan yang memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi dalam menjalankan pengobatan, dan 3% atau 1 orang yang memiliki tingkat kepatuhan yang sedang dalam menjalankan pengobatan. Berdasarkan hasil dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa mayoritas tingkat kepatuhan pengobatan penderita Tuberkulosis termasuk dalam kategori sangat tinggi dengan jumlah presentase 51%.
Berikut dalam tabel 4.11 adalah hasil analisis variabel kepatuhan pengobatan dengan karakteristik riset partisipan berdasarkan jenis kelamin, umur, dan tingkat pendidikan.
Tabel 4.10 Analisis Variabel Kepatuhan Pengobatan Dengan Karakteristik Riset Partisipan Berdasarkan Jenis Kelamin, Usia, dan
Tingkat Pendidikan Karakteristik Jumlah (n=30) Presentase kepatuhan pengobatan Jenis kelamin Pria Wanita 13 17 15% 15,4% Umur 15 – 30 tahun 31 – 45 tahun 46 – 60 tahun 18 5 7 15% 16,2% 15% Tingkat Pendidikan SLTP SLTA/SMEA 10 20 15% 16%
Berdasarkan hasil analisis variabel kepatuhan pengobatan dengan karakterisitik jenis kelamin, usia, dan tingkat pendidikan pada tabel di atas, maka dapat dianalisis sebagai berikut:
1. Jenis kelamin
Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa, tingkat kepatuhan riset partisipan antara wanita dan pria hampir
sama yaitu, diperoleh 15,4% tingkat kepatuhan untuk wanita dan 15% tingkat kepatuhan untuk pria. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan bahwa perbedaan jenis kelamin tidak mempengaruhi tingkat kepatuhan seseorang dalam menjalankan pengobatan. 2. Usia
Hasil penelitian menunjukan bahwa riset partisipan dengan usia 15-30 tahun sebanyak 18 orang memiliki tingkat kepatuhan dengan presentase 15%. Usia 31-45 tahun sebanyak 5 orang memiliki tingkat kepatuhan dengan presentase 16,2%, sedangkan pada usia 46-60 tahun sebanyak 7 orang memiliki tingkat kepatuhan dengan presentase 15%. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan bahwa sebagian besar riset partisipan berada pada usia produktif yaitu 15-30 tahun, pada usia produktif manusia cenderung mempunyai mobilitas yang tinggi sehingga kemungkinan terpapar oleh kuman TB lebih besar. Penelitian ini juga menunjukan bahwa, presentase kepatuhan pengobatan riset partisipan berdasarkan usia menunjukkan bahwa pada usia 31-45 tahun memiliki tingkat kepatuhan yang lebih tinggi yaitu 16,2%, artinya usia mempengaruhi kepatuhan seseorang dalam menjalankan pengobatan.
3. Tingkat pendidikan
Hasil penelitian yang diperoleh bahwa riset partisipan dengan tingkat pendidikan SLTP memiliki tingkat kepatuhan dalam menjalankan pengobatan dengan presentase 15%, sedangkan riset partisipan dengan tingkat pendidikan SLTA/SMEA memiliki tingkat kepatuhan dalam menjalankan pengobatan dengan presentase 16%. Dari penelitian ini menunjukan bahwa, tingkat pendidikan mempengaruhi kepatuhan seseorang dalam menjalankan pengobatan.
Menurut Depkes RI (2007) Pada penderita Tuberkulosis, penderita yang patuh berobat adalah yang menyelesaikan pengobatan secara teratur dan lengkap tanpa terputus selama minimal 6 bulan sampai dengan 9 bulan. Kepatuhan sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu motivasi orang, persepsi terhadap kerentangan, dan keyakinan tentang pengendalian atau pencegahan penyakit, variabel lingkungan, kualitas instruksi kesehatan, dan kemampuan untuk mengakses sumber-sumber (Capernito, 1998:634).
Berdasarkan hasil penelitian dan kajian teoritis yang ada peneliti mengambil kesimpulan bahwa kepatuhan
pengobatan penderita Tuberkulosis dipengaruhi oleh dua faktor yang sangat berperan penting yaitu faktor internal yaitu mencakup pengetahuan, pemahaman, serta kesadaran diri dari penderita Tuberkulosis dan faktor eksternal yaitu mencakup lingkungan sosial dan budaya dari penderita tuberkulosis itu sendiri.
4.5.3 Pengaruh Aspek Spiritualitas Terhadap Kepatuhan Pengobatan Penderita Tuberkulosis
Berdasarkan hasil analisis dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara aspek spiritualitas dengan kepatuhan pengobatan penderita Tuberkulosis dalam menjalankan pengobatan di Instalasi Rawat Jalan, Rumah Sakit Paru dr. Ario Wirawan Salatiga. Penelitian ini menghasilkan analisis koefisien konstan signifikan 0,088 dengan tingkat signifikansi 0,05 dan nilai t tabel 2,0484. Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan kajian teori Dwidiyanti (2008) yang mengungkapkan bahwa spiritualitas dapat menjadi sumber kekuatan dan penyembuhan. Pemenuhan spiritualitas pada individu dapat menjadi sumber kekuatan dan pembangkit semangat individu yang sedang sakit yang dapat turut mempercepat proses kesembuhan.
Menurut Reed (dalam Kozier dkk, 1995:995)
spiritualitas yaitu mengacu pada bagaimana manusia mencari makna kehidupan melalui hubungan intrapersonal, interpersonal dan, transpersonal. Taylor dan Craven (dalam Dwidiyanti 2008:69-70), mengungkapkan bahwa spiritualitas dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu, tahap perkembangan seseorang, keluarga, latar belakang etnik dan budaya, pengalaman hidup sebelumnya, krisis dan perubahan, terpisah dari ikatan spiritual, isu moral terkait dengan terapi.
Jika dihubungkan dengan penelitian ini, menurut
peneliti perbedaan hasil penelitian dengan teori yang ada ditimbulkan dari pandangan dan cara pemaknaan seseorang terhadap spiritualitas. Setiap orang memiliki cara pandang dan pemaknaan terhadap spiritualitas yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan eksternal di antaranya pengalaman hidup, lingkungan sosial, dan kebudayaan. Oleh sebab itu, peneliti menyimpulkan bahwa perbedaan cara pandang dan pemaknaan ini yang nantinya akan mempengaruhi perilaku seseorang terhadap spiritualitas. Menurut peneliti, perbedaan hasil penelitian dengan kajian teori juga bisa dipengaruhi oleh jumlah sampel, dalam penelitian ini
peneliti hanya membatasi jumlah sampel sebanyak 30 orang. Apabila penelitian ini diberlakukan dalam jumlah sampel yang lebih besar (diatas 30 orang), kemungkinan juga akan mempengaruhi hasil dari penelitian ini.