• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Hukum Islam Terhadap Praktik Jual Beli Database Pin Konveksi (Studi Kasus di Rista Bussiness Sampung Ponorogo) - Electronic theses of IAIN Ponorogo

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Tinjauan Hukum Islam Terhadap Praktik Jual Beli Database Pin Konveksi (Studi Kasus di Rista Bussiness Sampung Ponorogo) - Electronic theses of IAIN Ponorogo"

Copied!
96
0
0

Teks penuh

(1)

(Studi Kasus di Rista Bussiness Sampung Ponorogo)

SKRIPSI

Oleh:

WULAN SUCI PUJO UTAMI NIM 210214255

Pembimbing:

Dr. SAIFULLAH, M.Ag. 196208121993031001

JURUSAN HUKUM EKONOMI SYARIAHFAKULTAS SYARIAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERIPONOROGO

(2)
(3)
(4)

iii ABSTRAK

Utami,Wulan Suci Pujo. 2018. Tinjaun Hukum Islam Terhadap Praktik Jual Beli Database Pin Konveksi (Studi Kasus di Rista Bussiness Sampung Ponorogo). Jurusan Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo. Pembimbing Dr. Saifullah,M.Ag.

Kata Kunci: Jual beli, Ijarah, Gharar, keuntungan, Database Pin Konveksi.

Jual beli database pin konveksiadalah jual beli file yang didalamnya berisi beberapa pin atau kumpulan pin-pin dan kontak distributor atau produsen (pabrik) yang menjual barang seperti baju,tas, dan barang-barang impor maupun lokal dan beberapa produk lainnya yang sudah dikumpulkan dalam satu file.. Dalam praktiknya file yang diperjualbelikan tersebut didalamnya terdapat beberapa pin atau kontak yang tidak dapat dihubungi atau tidak valid. Namun oleh penjual tidak dijelaskan dalam proses transaksi jual beli database pin konveksi itu dan dalam keuntungannya sebagaimana dalam teori bahwa dalam pengambilan keuntungan dalam Islam tidak ada batasannya namun harus dengan jalan yang benar dalam memperolehnya yaitu tanpa adanya penipuan, manipulasi, penimbunan dan sebagainya dan selain itu, terdapat ketidakjelasan pada obyek yang diperjualbelikan karena tidak semua kontak dapat dihubungi dan tidak ada pihak yang dapat dimintai pertanggungjawaban apapun ketika pin/kontak tersebut tidak dapat dihubungi sehingga sangat merugikan pembeli. Dari latar belakang diatas penulis menggunakan dua rumusan masalah dalam penelitian. (1) Bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap transaksi dalam jual beli database pin konveksi? (2) Bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap cara perolehan keuntungan dalam jual beli database pin konveksi?

Di dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif, dengan

jenis penelitian lapangan (Field Research). Teknik pengumpulan data yang dilakukan

dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap data kependudukan. Kemudian teknik pengolahan kata itu terdapat di teori buku, selanjutnya terjun langsung di lapangan kemudian dapat ditarik kesimpulan dari analisa penulis. Dan kemudian dianalisis dengan hukum Islam.

(5)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam kehidupan ini manusia memerlukan orang lain untuk memenuhi

kebutuhannya, sehingga terjadilah interaksi dalam masyarakat, yaitu jual beli.

Secara etimologi jual beli diartikan pertukaran sesuatu dengan sesuatu (yang

lain). 1 Inti dari jual beli adalah suatu perjanjian tukar-menukar benda atau barang

yang mempunyai nilai secara sukarela diantara kedua belah pihak, yang satu

menerima benda-benda dan pihak lain menerimanya sesuai dengan perjanjian atau

ketentuan yang telah dibenarkan syara’ dan disepakati.2

Para ulama telah sepakat bahwa jual beli diperbolehkan dengan alasan

bahwa manusia tidak mampu mencukupi kebutuhan dirinya, tanpa bantuan orang

lain. Namun demikian, bantuan atau barang milik orang lain yang dibutuhkannya

itu, harus diganti dengan barang lainnya yang sesuai.3 Hal ini sejalan dengan

sebuah hadith riwayat imam Tirmidzi dari Amr bin ‘Auf, Rasulullah SAW. Bersabda: “segala macam transaksi dibolehkan berlangsung antara sesama kaum

muslim kecuali transksi yang menghalalkan yang haram atau mengharamkan

yang halal. Kaum muslim boleh membuat segala macam persyaratan yang

1Rachmat Syafe’i,

Fiqih Muamalah (Bandung: CV. Pustaka Setia,2001),73. 2

Hendi Suhendi, Fiqih Muamalah (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008),68

3Rachmat Syafe’i

(6)

2

disepakati kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang

haram”4

Jual beli dikatakan belum sah sebelum ija>b qabu>l dilakukan, sebab

ija>b qabu>l berorientasi pada kerelaan hati. Jual beli sebagai kibat dari

terbentuknya akad antara kedua belah pihak maka di dalamnya harus terdapat

sikap transparansi dan tanggung jawab antara keduanya, karena setiap orang yang

melakukan akad terikat kepada isi akad yang telah disepakati bersama pihak lain

dalam akad. Sehingga seluruh isi akad adalah sebagai peraturan yang wajib

dilakukan oleh para pihak yang mengikatkan diri dalam akad.

Syarat-syarat benda yang menjadi objek akad ialah suci atau mungkin

disucikan sehingga tidak sah penjualan benda-benda najis seperti babi, khamr,

darah dan lain sebagainya. Memberi manfaat menurut syara’, maka dilarang jual

beli benda-benda yang tidak boleh diambil manfaatnya menurut syara’(seperti

menjual babi,cicak,katak dan lainnya), Tidak boleh ditaklikan, yaitu digantungkan

kepada hal-hal lain, Tidak dibatasi waktunya, Dapat diserahkan dengan cepat

maupun lambat, Kepemilikan sendiri, Dapat dikrtahui artinya barang yang

diperjualbelikan harus dapat diketahui banyaknya, beratnya,takarannya,

ukuran-ukuran yang lainnya, maka tidaklah sah jual beli yang menimbulkan keraguan

pada salah satu pihak. 5

4

Kuswara, Mengenal MLM Syariah dari Halal Haram, Kiat Berwirausaha, Sampai Dengan Pengelolaannya. (Depok: QultumMedia, 2005), 74

5

(7)

Dalam hadith yang diriwayatkan Ahmad, Rasulullah bersabda ‘’janganlah

kamu membeli ikan di dalam air, karena jual beli seperti itu termasuk gharar, alias nipu’’ (Riwayat Ahmad). Maka jual beli gharar yaitu jual beli yang samar sehingga ada kemungkinan terjadi penipuan, seperti penjualan ikan yang masih di

kolam atau menjual kacang tanah yang atasnya kelihatan bagus tetapi di

bawahnya jelek adalah dilarang atau haram.6

Hikmah disyariatkannya jual beli adalah seorang muslim bisa

mendapatkan apa yang dibutuhkannya dengan sesuatu yang ada ditangan

saudaranya tanpa kesulitan yang berarti. Diharapkan dalam sistem jual beli harus

ada sikap saling mengntungkan, baik yang bersifat sosial maupun keuntungan

yang bersifat ekonomi.7

Akhir-akhir ini di tengah-tengah masyarakat Indonesia muncul sistem

perdagangan baru yang dikenal dengan istilah Multi Level Marketing yang di

singkat MLM. Sistem perdagangan ini di praktekkan oleh berbagai perusahaan,

baik yang berskala lokal, nasional, religional maupun internasional.8

Jual beli mengalami perkembangan dari waktu ke waktu yang mana dulu

manusia melakukan trnasaksi jual beli secara langsung, kini dengan

berkembangnya teknologi, transaksi jual beli pun dapat dilakukan tanpa harus

bertemu dengan calon pembeli. Hal tersebut tentunya lebih memudahkan manusia

dalam melakukan transaksi, dimana pembeli tidak perlu datang ke toko untuk

6

ibid.,81. 7

Ismail Nawawi, Fiqih Muamalah Klasik dan Kontemporer (Bogor: Ghalia Indonesia, 2012),89. 8

(8)

4

melakukan transaksi, cukup dengan transfer sejumlah uang tertentu kepada

penjual melalui Automatic Teller Machine (ATM), sehingga lebih menghemat

waktu danbiaya bagi pihak pembeli.9

Disamping itu, kemajuan teknologi juga menguntungkan bagi pihak

penjual. Dalam menawarkan produknya, dulu seseorang harus memasang iklan

agar produknya dikenal banyak masyarakat dengan biaya yang tidak sedikit,

sedangakan kini bisa dilakukan melalui media sosial, tentunya biaya yang

dikeluarkan terjangkau. Dengan adanya kemudahan ini, tentunya membuka

peluang bagi masyarakat yang ingin berbisnis dagang. Segala sesuatu yang dirasa

bermanfaat bagi mayarakat, maka dapat diperjualbelikan. Hal ini terbukti dengan

adanya bisnis yang sedang ramai diperbincangkan oleh masyarakat yaitu bisnis

yang hanya bermodal sekali namun akan mendapatkan keuntungan yang berkali

lipat yang mana, bisnis itu dikenal dengan jual beli database pin konveksi.10

Jual beli database pin konveksi adalah jual beli beberapa pin atau

kumpulan pin-pin distributor atau produsen (pabrik) yang menjual barang seperti

distributor baju, tas, sepatu,boneka, matras, gamis, jilbab, wedges, jeans, kaos,

celana, jam tangan, kosmetik, parfum, smartphone, barng-barang import maupun

lokal dan beberapa produk lainnya yang sudah dikumpulkan dalam satu file. Jadi

dengan adanya pin konveksi kita bisa beli barang dengan harga murah langsung

dari pabriknya (first hand) dan kita dapat menjual nya kembali pin tersebut untuk

9

Sri Wigati,Jurnal Bisnis Jual Beli Database Pin Konveksi, Maliyah Vol 07. No 01, Juni 2017, 139.

10

(9)

mendapatkan laba. Dengan menjadi reseller pin konveksi kita tidak akan merugi,

karena modalnya hanya satu kali dan akan mendapatkan keuntungan berkali kali

lipat.

Cara kerja bisnis ini adalah mula-mula pembeli mendatangi penjual pin

yaitu yang disebut dengan leader. Kemudian pembeli pin memilih harga pin yang

ditawarkan yaitu harganya bervariasi antara Rp. 100.000,00 sampai Rp.

500.000,00 karena yang menjual banyak sehingga leader/seller berbeda

koleksinya. Kemudian ketika sudah membeli pin tersebut dapat menjualnya

kembali ke lainnya dengan harga suka-suka. Rista Bussiness menjual database pin

konveksi seharga Rp. 500.000,00. Lalu dalam sehari ada 4 orang yang membeli

pin di Rista Bussiness maka 4 x Rp. 500.000,00 = Rp. 2.000.000,00 dalam

seminggu maka 7 x Rp. 2.000.000,00 = Rp. 14.000.000,00 dan jika sebulan maka

30 x Rp. 2.000.000,00 = Rp. 60.000.000,00. Inilah yang disebut dengan modal

satu kali tetapi mendapatkan keuntungan berkali-kali atau berlipat- lipat. Namun

dengan mendapatkan keuntungan yang berlipat kerap sekali dimanfaatkan oleh

pelaku bisnis ini yang menjual pin yang tidak aktif alias tidak valid sehingga

kerap sekali mengakibatkan penipuan.

Keuntungan yang didapatkan dari bisnis jual beli database pin konveksi

diperoleh dari penjualan pin konveksi yang kemudian pin konveksi tersebut dapat

diperjualbelikan kembali kepada pembeli lainnya dengan ketentuan harga yang

ditetapkan oleh penjual. Kak Dela membeli pin konveksi kepada Rista Bussiness

(10)

6

lain dengan harga Rp. 450.000,00 atau bahkan lebih tergantung si penjual akan

menjual dengan harga berapa semakin tinggi harga yang ditetapkan maka

semakin tinggi pula keuntungan yang didapatkan. Maka dari sini terdapat

kejanggalan yaitu melakukan kegiatan jual beli yang bertujuan dapat mengambil

keuntungan dari perbedaan harga ketika membeli dan menjual sehingga dalam

kegiatan jual beli database pin konveksi ini mengandung unsure spekulasi yang

tinggi. Dalam bisnis ini bisa menjadi untung dan bahkan bisa tidak atau merugi.

Jika untung maka keuntungan 100% menjadi milik pribadi dan sebaliknya jika

merugi tidak akan mendapat keuntungan apa-apa. Kerugian yang ditimbulkan

disebabkan karena pihak tersebut tidak memanfaatkan kesempatan yang ada yaitu

tidak melakukan promosi, tidak pandai-pandai membuat promosi, tidak membuka

online shop sehingga tidak mendapatkan keuntungan, modal tidak kembali dan

tidak mendapatkan apa-apa. 11

Dalam bisnis jual beli database pin konveksi ini menjanjikan keuntungan

berkali lipat karena, dalam bisnis ini hanya bermodal sekali saja untuk modal

awal pembelian pin. Sekumpulan pin tersebut dapat diperjualbelikan lagi ke orang

lain tanpa adanya pemindahan kepemilikan dalam artian, walaupun file yang

berisikan pin tersebut oleh penjual telah dijual ke orang lain namun, si penjual

tetap dapat menguasainya dan dapat diperjualbelikan ke orang lain lagi sampai

tidak ada batasnya. Sehingga inilah yang dimaksud dengan keuntungan berkali

lipat dengan modal sekali. Padahal dalam jual beli ketika barang telah dibeli maka

11

(11)

kepemilikan atas barang tersebut secara langsung akan berpindah ke tangan

pembeli sehingga penjual tidak lagi dapat menguasai kepemilikan barang

tersebut.

Berangkat dari latar belakang di atas penulis tertarik untuk melakukan

sebuah penelitian mengenai bisnis ini dengan judul: ‘’Tinjauan Hukum Islam

Terhadap Praktik Jual Beli Database Pin Konveksi (Studi kasus di Rista Bussiness

Sampung Ponorogo)’’

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan fokus penelitian diatas, maka rumusan masalah pada penelitian

ini sebagai berikut:

1. Bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap transaksi dalam jual beli database

pin konveksi di Rista Bussiness Sampung Ponorogo?

2. Bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap cara perolehan keuntungan dalam

jual beli database pin konveksi di Rista Bussiness Sampung Ponorogo?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mendeskripsikan tinjauan hukum Islam terhadap akad dalam jual beli

database pin konveksi di Rista Bussiness Sampung Ponorogo.

2. Untuk mendeskripsikan tinjauan hukum Islam terhadap keuntungan dalam

(12)

8

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1. Secara Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memerkaya khazanah pengetahuan

masalah ilmu muamalah tentang bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap

praktik jual beli database pin konveksi di Rista Bussiness Sampung

Ponorogo. Selain itu juga dapat dijadikan bahan perbandingan dengan

penelitian lainnya.

2. Secara Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sumbangan moril

tentang status hukum mengenai praktik jual beli database pinkonveksi dan

sumbangan pikiran kepada semua pihak yang terkait serta yang lebih

membutuhkannya lebih khusus bagi penulis wawasan dan pengembangan

karya ilmiah.

E. Telaah Pustaka

Sejauh ini penulis menemukan beberapa penelitian terdahulu diantaranya

sebagai berikut:

Skripsi yang disusun oleh Suryadi dari IAIN Ponorogo yang berjudul

‘’Tinjauan Hukum Islam Terhadap Jual Beli Benda Maya Game Online (Studi

Kasus di Warnetku Jalan Sultan Agung Ponorogo)’’ didalamnya menjelaskan

(13)

Adapun kesimpulan dari skripsi tersebut adalah bahwa berakad melaui dunia

maya dalam jual beli game online tersebut tidak sesuai dengan yang diakadkan

yaitu benda tersebut tidak bermanfaat, selain itu pihak penjual dan pembeli pun

belum baligh. Sedangakn mekanisme jual beli game online di warnet-ku tersebut

tidak sesuai dengan hukum islam karena menyalahi perjanjian dalam transaksi

jual beli pada kenyataan di lapangan dan termasuk dalam jual beli gharar atau

penipuan. 12

Selanjutnya skripsi yang disusun oleh Muhammad Irkham Firdaus,

seorang penulis dari IAIN Ponorogo yang berjudul’’Jual Beli Perspektif Fiqih

(Studi Kasus di Toko Reog Ponorogo). Dalam praktik jual beli ini diperbolehkan menurut perspektif fiqih karena terpenuhinya ija>b qabu>l antara kedua belah

pihak selain itu objek jual beli secara online di Toko Reog Ponorogo tersebut

menurut perspektif fiqih adalah boleh karena telah memenuhi syarat sahnya

barang yang diperjualbelikan menurut Islam serta penyelesaian sengketa anatara

pihak penjual dan pembeli yakni dengan adanya tanggung jawab dari pihak

penjual atas kerusakan barang yang dikirimkan kepada pembeli diperbolehkan

dan telah sesuai dengan fiqih.13

Berikutnya Skripsi yang disusun oleh EKA RAHAYU yang berjudul

’Tinjauan Hukum Islam terhadap Praktik Social Media Business (SMB) di

12Suryadi, ‘’Tinjauan Hukum Islam Terhadap Jual Beli Benda Maya Game Online (Studi Kasus

di Warnet-ku Jalan Sultan Agung Ponorogo)’’, (Skripsi, STAIN Ponorogo, Ponorogo, 2012), 73. 13

Muchammad Fatchul Fauzi, ‘’Jual beli Online Perspektif Fiqih (Studi Kasus di Toko Reog

(14)

10

Kecamatan Ngawi Kabupaten Ngawi. Dalam skripsi tersebut menganalisis akad yang dilakukan dalam Social Media Business (SMB). Adapun kesimpulannya

adalah kedudukan akad dalam Social Media Business tidak sah menurut Islam

karena tidak memenuhi salah satu syarat akad yakni dari awal mengandung cacat

dengan tidak disebutkan secara jelas mengenai kontak yang terdapat dalam paket

file. Obyek yang diperjualbelikan pada praktik ini ditinjau dari hukum Islam

adalah haram karena tidak terpenuhinya syarat-syarat obyek dan file tidak dapat

dikuasai secara nyata. 14

Dari telaah pustaka di atas, dapat diketahui persamaan dan perbedaan

dengan penelitian sebelumnya. Penelitian ini membahas mengenai akad dan

keuntungan yang hanya bermodal satu kali namun mendapatkan keuntungan yang

berali lipat dalam praktik jual beli database pin konveksi ditinjau dari hukum

Islam. Oleh sebab itu skripsi ini berjudul ‘’ Tinjauan Hukum Islam Terhadap

Praktik Jual Beli Database Pin Konveksi (Studi Kasus di Rista Bussiness

Sampung Ponorogo).

F. Metode Penelitian

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian lapangan (field research), yaitu

penelitian yang dilakukan di lapangan atau dalam masyarakat, yang berarti

14

Eka Rahayu, ‘’Tinjauan Hukum Islam Terhadap Praktik Social Media Bussiness (SMB) di

(15)

bahwa datanya diambil atau didapat dari lapangan atau masyarakat.15

Meskipun penelitian ini berbasis penelitian lapangan, penulis juga

menggunakan sumber-sumber data kepustakaan dengan memanfaatkan

buku-buku, hasil penelitian, dan internet digunakan untuk menelaah hal-hal

yang berkenaan dengan jual beli dalam Islam.

Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah pendekatan

kualitatif yaitu tata cara penelitian dengan menggunakan pengamatan atau

wawancara.16 Karena penelitian akan meneliti langsung mengenai jual beli

database pin konveksi di Ristaa Bussiness Sampung Ponorogo.

2. Kehadiran Peneliti

Dalam penelitian ini secara langsung dilakukan dilapangan untuk

memperoleh data yang peneliti butuhkan dan bertemu secara langsung

dengan pihak-pihak yang terkait dengan praktik jual beli database pin

konveksi ini.

3. Lokasi Penelitian

Dalam penelitian ini, lokasi yang diambil oleh peneliti yaitu penlitian

yang dilakukan di Rista Bussiness Desa Sampung Kecamatan Sampung

Kabupaten Ponorogo.

15

Jusuf Soewadji, Pengantar Metodologi Penelitian (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2012), 21. 16

(16)

12

4. Sumber Data

Adapun data-data yang penulis butuhkan untuk memecahkan masalah

yang menjadi pokok pembahasan dalam penyusunan skripsi ini diantaranya:

a. Penerapan akad dalam praktik jual beli database pin konveksi di Rista

Bussiness ponorogo

b. Pendapatan keuntungan yang diperoleh dari praktik jual beli database pin

konveksi di Rista Bussiness Sampung Ponorogo.

Berdasarkan data-data yang diteliti dalam penelitian ini, maka sumber

data yang diperlukan diantaranya:

a. Data primer

Data primer adalah jenis data yang diperoleh langsung dari

obyek penelitian dari sumber asli. Dalam hal ini, maka proses

pengumpulan datanya perlu dilakukan dengan memperhatikan siapa

sumber utama yang akan dijadikan objek penelitian.dalam penelitian

ini sumber primer berasal dari hasil wawancara peneliti dengan para

member penjual pin konveksi.17

b. Data sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dalam bentuk yang

sudah jadi, sudah dikumpulkan dan diolah pihak lain, biasanya sudah

17

(17)

dalam bentuk publikasi. Data sekunder ini biasanya sebagai pelengkap

dari data primer.Sumber sekunder, diperoleh dari masyarakat.18

5. Teknik Pengumpulan Data

Tehnik yang dipakai untuk pengumpulan data dalam penelitian ini

adalah sebagai berikut:

a. Tehnik wawancara

Wawancara merupakan salah satu metode dalam pengumpulan

data dengan jalan mengajukan pertanyaan secara langsung oleh

pewawancara (pengumpul data) kepada responden, dan jawaban-jawaban

responden dicatat atau direkam dengan alat perekam.19 Dalam wawancara

ini penulis melaksanakan wawancara terhadap para pihak atau member

yang terkait dengan praktik jual beli database pin konveksi.

b. Tehnik Observasi

Observasi merupakan tehnik pengumpulan data yang dilakukan

dengan cara mengadakan penelitian secara teliti, serta pencatatan secara

sistematis. Observasi ini dilakukan dengan cara mengamati proses

transaksi jual beli database pin konveksi di Rista Bussiness ini yang

berkaitan dengan sistemnya.

18 Ibid. 19

(18)

14

c. Tehnik Dokumentasi

Tehnik dokumentasi ini digunakan untuk memperoleh data

mengenai hal-hal atau variabel yang berupa transkip, catatan,buku, surat

kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya. 20

Dalam penelitian ini dokumentasi digunakan sebagai bahan untuk

mendukung analisa terhadap persoalan yang menjadi tema penelitian,

sehingga kesimpulannya akan bersifat lebih kredibel.

6. Analisis Data

Dalam menganalisa data yang bersifat kualitatif akan dilakukan tiga

tahapan, yaitu: reduksi data, display data dan mengambil kesimpulan dan

verifikasi dalam proses analisa. Dalam proses reduksi data, bahan-bahan yang

sudah terkumpul dianalisis, disusun secara sistematis, dan ditonjolkan

pokok-pokok permasalahanya atau yang mana dianggap penting. Sedangkan display

data merupakan proses pengorganisasian data sehingga mudah untuk

dianalisis dan disimpulkan. Proses ini dapat dilakukan dengan cara membuat

matrik, diagram, ataupun grafik.21

Kemudian data yang sudah difokuskan dan ditipologikan (dipolakan)

akan disusun secara sistematis untuk disimpulkan sehingga makna data bisa

ditemukan. Agar kesimpulan lebih mendalam dan akurat, maka data yang

20

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), 236.

21

(19)

baru bisa digunakan sehingga hasil penelitian diharapkan akan lebih

sempurna.22

Melalui tahapan kerja ini peneliti ingin mengungkapkan secara jelas

permasalahan yang ada yaitu, terkait tinjauan hukum islam terhadap akad

dalam praktik jual beli database pin konveksi dan keuntungan berkali lipat

yang diperoleh dalam praktik jual beli database pin konveksi ini.

7. Pengecekan Keabsahan Data

Kriteria yang digunakan dalam pengecekan data atau pemeriksaan

keabsahan data dalam penelitian ini adalah pengecekan dengan kriteria

kredabilitas. Kredibitas adalah suatu kriteria untuk memenuhi bahwa data dan

informasi yang dikumpulkan harus mengandung nilai kebenaran, yang berarti

bahwa penelitian kualitatif dapat dipercaya oleh pembaca.

Adapun dalam penelitian ini, peneliti dalam pemeriksaan keabsahan

hanya menggunakan cara triagulasi karena cara ini merupakan cara yang

paling sesui dengan penelitian yang dilakukan.adapun yang dikaksud

triangulasi yaitu verivikasi dengan menggunakan berbagai sumber informasi

dan berbagai metode pengumpulan data. Sedangkan triangulsi yang digunakn

dalam penelitian ini sebagai berikut: mendampingkan apa yang dikatakan

secara pribadi, membandingkan dari wawancara dengan isi dokumen terkait,

membandingkan apa yang di katakan orang tentang situasi penelitian dengan

(20)

16

apa yang dikatakan sepanjang waktu, dan membandingkan keadaan dan

perspektif seseorang dari berbagai pendapat dan pandangan orang lain.23

8. Tahap-tahapan Penelitian

Tahap-tahap yang berlaku untuk sebuah penelitian adalah:

a. Research planning merupakan perencanaan untuk penelitian. Penelitian merumuskan persoalan secara jelas, menentukan sumber data yang akan

diambil, dan selanjutnya menentukan metode yang akan ditempuh dan

dari sumber apa yang di dapatkan.

b. Data collection (pengumpulan data dan informasi). Agar pencapaian itu dapat diwujudkan maka pemilihan dan penentuan metode pengumpulan

data serta penentuan instrumen pengumpulan adalah instrumen yang harus

dicermati secara baik.

c. Data analiting yaitu, pengelolahan data hasil riset kegiatan analisis yang

meliputi: a) editing, pemeriksaan data yang berhasil dihimpun. b) cooding,

mengatur dengan memberikan tanda pada data yang terkumpul. c)

tabulating, membuat daftar klasifikasi bila diperlukan. d) analiting,

menganalisis data yang terkumpul.24

23

M. Junaidi Ghony dan Fauzan Al-manshur, Metodologi Penelitian Kualitatif (Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2012), 322-323

24

(21)

G. Sistematika Pembahasan

Untuk mempermudah pembahasan dalam penelitian ini akan disusun

dalam beberapa bab dan masing-masing bab dibagi menjadi sub-sub bab sebagai

berikut:

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini mengemukakan tentang latar belakang pemilihan judul

tinjauan hukum Islam terhadap praktik jual beli database pin

konveksi (studi kasus di Rista Bussiness Sampung Ponorogo).

Kemudian terdapat rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat

penelitian, kerangka teori, tinjauan pustaka, metode penelitian dan

sistematika pembahasan.

BAB II : LANDASAN TEORI

Berisi uraian mengenai landasan teori yang digunakan untuk

menganalisis permasalahan yang diangkat dalam skripsi ini. Dalam

bab ini diungkapkan mengenai konsep jual beli dalam Islam yang

meliputi dasar hukum jual beli, rukun jual beli, syarat jual beli atau

jual beli yang dilarang dalam Islam, pada sub berikutnya akan

diuraikan mengenai objek yang diperjualbelikan serta perolehan

(22)

18

BAB III : PRAKTIK JUAL BELI DATABASE PIN KONVEKSI DI RISTA

BUSSINESS SAMPUNG PONOROGO

Pada bab ini akan dijelaskan tentang data-data yang merujuk pada

himpunan dan wawancara serta berbagai dokumen yang penulis

telah kumpulkan serta telah dikonfirmasikan mengenai praktik jual

beli database pin konveksi. Dalam penjelasan gambaran umum

mengenai praktik jual beli pin konveksi meliputi sejarah berdirinya,

lokasi, dan obyek yang diperjualbelikan dalam jual beli ini.

Sedangakan penjelasan tentang mekanismenya atau cara kerjanya

meliputi transaksi jual beli pin konveksi serta perolehan bonus atau

keuntungan yang didapatkan. Dan inilah yang sangat penting karena

merupakan bagian permasalahan dalam penelitian ini untuk

menemukan hukum dari praktik jual beli database pin konveksi ini.

BAB IV : TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK JUAL

BELI DATABASE PIN KONVEKSI (Studi Kasus di Rista

Bussiness Sampung Ponorogo)

Bab ke IV ini sebagai hasil dari jawaban dan merupakan bab

terpenting untuk pembahasan status hukum dari akad dalam jual

beli database pin konveksi dan keuntungan atau bonus yang

(23)

BAB V : PENUTUP

Bab ini merupakan bab terakhir pembahasan skripsi yang

didalamnya berisikan kesimpulan sebagai jawaban dan rumusan

masalah, saran-kritik yang dilengkapi dengan lampiran-lampiran

sebagai solusi untuk kemajuan dan pengembangan pihak-pihak

yang terkait dalam permasalahan ini.

(24)

20 BAB II KAJIAN TEORI

A. Hukum Jual Beli dalam Islam 1. Pengertian Jual beli

Secara etimologi jual beli berarti al-mubadalah (saling tukar

menukar/barter).1 Selain itu, jual beli juga diartikan:

ئشب ئش ةلب اقم

Artinya: ‘’pertukaran sesuatu dengan sesuatu (yang lain).’’

Kata lain dari al-ba’y> adalah asy-syira>’, al-muba>dah, dan

at-tija>ra>h. Berkenaan dengan kata at-tija>rah, dalam al-Qur’an surat Fathir

ayat 29 dinyatakan ’Mereka mengharapkan tija>ra>h (perdagangan) yang

tidak akan rugi’’

Adapun jual beli menuurut terminologi adalah, para ualama berbeda

pendapat dalam mendefinisikannya, antara lain:

a. Ulama Hanafiyah

Jual beli adalah pertukaran harta (benda) dengan harta berdasarkan cara

khusus (yang diperbolehkan)

b. Menurut Imam Nawawi dalam Al-Majmu’

Jual beli adalah pertukran harta dengan harta untuk kepemilikan.

c. Menurut Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni

1

(25)

Jual beli adalah pertukaran harta dengan harta untuk saling menjadikan

milik. 2

2. Landasan Syara’

Dasar hukum jual beli adalah sebagai berikut:

a. Firman Allah dalam Q.S Al-Baqarah (2): 282

اوُدِهْشَتْساَو

ِنْيَديِهَش

ْنِم

ْمُكِلاَجِر

ْنِإَف

َْل

اَنوُكَي

ِْيَلُجَر

لُجَرَ ف

ِناَتَأَرْماَو

ْنَِّمِ

َنْوَضْرَ ت

َنِم

ِءاَدَهُّشلا

ْنَأ

َّلِضَت

اَُهُاَدْحِإ

َرِِّكَذُتَ ف

اَُهُاَدْحِإ

ىَرْخلأا

لاَو

َبْأَي

ُءاَدَهُّشلا

اَذِإ

اَم

اوُعُد

لاَو

اوُمَأْسَت

ْنَأ

ُهوُبُتْكَت

اًيرِغَص

ْوَأ

اًيرِبَك

َلِإ

ِهِلَجَأ

ْمُكِلَذ

ُطَسْقَأ

َدْنِع

َِّللّا

ُمَوْ قَأَو

ِةَداَهَّشلِل

َنْدَأَو

لاَأ

اوُباَتْرَ ت

لاِإ

ْنَأ

َنوُكَت

ًةَراَِتِ

ًةَرِضاَح

اَهَ نوُريِدُت

ْمُكَنْ يَ ب

َسْيَلَ ف

ْمُكْيَلَع

حاَنُج

لاَأ

اَهوُبُتْكَت

اوُدِهْشَأَو

اَذِإ

ْمُتْعَ ياَبَ ت

لاَو

َّراَضُي

بِتاَك

لاَو

ديِهَش

ْنِإَو

اوُلَعْفَ ت

ُهَّنِإَف

قوُسُف

ْمُكِب

اوُقَّ تاَو

ََّللّا

ُمُكُمِِّلَعُ يَو

َُّللّا

َُّللّاَو

ِِّلُكِب

ءْيَش

ميِلَع

(

٢٨٢

)

3

Artinya : ...dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki

diantara kamu. Jika tidak ada (saksi) dua orang laki-laki, maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan diantara orang-orang yang kamu sukai dari para saksi (yang ada), agar jika seorang lupa maka yang seorang lagi mengingatkannya. Dan janganlah kamu bosan menuliskannya, untuk batas waktunya baik (utang itu) kecil maupun besar. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah, lebih dapat menguatkan kesaksian, dan lebih dapat menguatkan kesaksian,dan lebih mendekatkan kamu kepada ketidakraguan, kecuali jika hal itu merupakan perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak menuliskannya. Dan ambillah saksi apabila kamu berjual beli, dan janganlah penulis dipersulit dan begitu juga saksi, jika kamu lakukan (yang demikian), maka sungguh, hal itu suatu kefasikan pada kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan

2Rachmat Syafe’i,

Fiqih Muamalah (Bandung: CV . Pustaka Setia,2001),74. 3

(26)

22

pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S Al-Baqarah : 282).4

b. Firman Allah dalam Q.S An-Nisa (4): 29

يا

َنيِذَّلا اَهُّ يَأ

اوُنَمآ

َلا

اوُلُكْأَت

ْمُكَلاَوْمَأ

ْمُكَنْ يَ ب

ِلِطاَبْلاِب

ْنَأ َّلاِإ

َنوُكَت

ًةَراَِتِ

ْنَع

ضاَرَ ت

َلاَو ْمُكْنِم

اوُلُ تْقَ ت

ْمُكَسُفْ نَأ

َّنِإ

ََّللّا

اًميِحَر ْمُكِب َناَك

5

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling

memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka diantara kamu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.6

c. Hadith Nabi : ‘’ dari Rifa’ah ibn Rafi’ , bahwa Rasulullah Saw, dianya salah seorang sahabat mengenai pekerjaan (profesi) apa yang paling baik, Rasulullah Saw., ketika itu menjawab: usaha tangan manusia sendiri dan jual beliyang diberkati’’.

d. Hadith Nabi, Rasulullah menyatakan:

َو

اََّنَِّا

ُعْيَ بْلا

ْنَع

ضاَرَ ت

(

هاور

ىقهيبلا

و

نبا

هامج

)

Artinya: jual beli itu didasarkan kepada suka sama suka ‘’. (HR. Al

-Baihaqi)7

e. Hadith Nabi, Rasulullah Saw., bersabda: ‘’Pedagang yang jujur dan

terpercaya itu sejajar (tempatnya di surga) dengan para Nabi, para

shiddiqin, dan para syuhada’’. (HR. Tirmidzi). 8

4

Departemen Agama RI, AL-Qur’an dan Terjemahnya,(Jakarta: PT. Sygma Examedia Arkanleema,2009),48.

5

Al-Qur’an,4: 29. 6

. Departemen Agama RI, AL-Qur’an dan Terjemahnya,...83. 7

Ibnu Majah,2/737: 2185. 8

(27)

3. Rukun dan Syarat Jual Beli

Rukun (unsur) ba’y (jual beli) terdiri atas:

a. Pihak-pihak;

Yaitu: penjual, pembeli, dan pihak lain yang terlibat dalam

perjanjian tersebut.

b. Objek

Objek jual beli terdiri dari benda yang berwujud maupun yang

tidak berwujud, yang bergerak maupun yang tidak bergerak dan yang

terdaftar maupun yang tidak terdaftar.

Menurut Sayid Sabiq, syarat objek jual beli, yaitu:

1. Suci barangnya

2. Barangnya dapat dimanfaatkan

3. Barang tersebut milik sendiri, kecuali bila dikuasakan untuk

menjualnya oleh pemiliknya.

4. Barang tersebut dapat diserahterimakan

Bila barang tersebut tidak dapat diserahterimakan, seperti menjual

ikan yang masih ada di air, maka jual beli tersebut tidak sah. Hal ini

berdasarkan hadith: ‘’ janganlah kamu menjual ikan yang ada di

dalam air, karena itu mengandung ghara>r (ketidakpastian).

5. Barang tersebut dan harganya diketahui

Bila barang tersebut atau harganya tidak diketahui, maka jual beli

(28)

24

6. Barang tersebut sudah diterima oleh pembeli (qabdh).9

Menurut Kompilasi Hukum Ekonomi Syari’ah, syarat objek yang

diperbolehkan adalah:

1) Barang yang diperjualbelikan harus sudah ada

2) Barang yang diperjualbelikan harus dapat diserahterimakan

3) Barang yang diperjualbelikan harus berupa barang yang memiliki

nilai/ harga tertentu

4) Barang yang diperjualbelikan harus halal

5) Barang yang diperjualbelikan harus diketahui oleh pembeli

6) Kekhususan barang yang diperjualbelikan harus diketahui

7) Penunjukan dianggap memenuhi syarat kekhususan barang yang

dijualbelikan jika barang itu ada di tempat jual beli

8) Sifat barang yang yang dapat diketahui secara langsung oleh

pembeli tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut

9) Barang yang dijual harus ditentukn secara pasti pada waktu

akad.10

Para ahli hukum Islam mensyaratkan beberapa syarat pada objek

akad yaitu:

1) Objek akad dapat diserahkan atau dapat dilaksanakan.

9

Syamsul Anwar, Hukum Perjanjian Syariah,(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2010),191. 10

(29)

Objek akad disyaratkan harus dapat diserahkan apabila

objek tersebut berupa barang seperti dalam akad jual beli atau

dapat dinikmati atau diambil manfaatnya apabila objek itu

berupa manfaat benda seperti dalam sewa-menyewa benda

(ija>rah al-manafi’). Apabila objek akad berupa suatu perbuatan seperti mengajar, melukis, mengerjakan suatu pekerjaan itu harus

mungkin dan dapat dilaksanakan. 11

Dasar ketentuan ini disimpulkan dari beberapa hadith

Nabi Saw. Antara lain adalah :

1. Hadith Hakim Ibn Hazm yang menyatakan bahwa Nabi Saw.

Bersabda: ‘’jangan engkau menjual barang yang tidak ada padamu ‘’(HR. Nasa’i)12

2. Hadis Abu Hurairah yang mengatakan: Rasulullah Saw.

Melarang jual beli lempar krikil dan jual beli ghara>r. (HR.

Muslim).13

Larangan menjual barang yang tidak ada pada seseorang

dalam hadis pertama causa legis-nya adalah karena Nabi Saw.

Mempertimbangkan bahwa barang itu tidak dapat dipastikan

apakah akan dapat diserahkan oleh penjual atau tidak. Atas dasar

11

Syamsul Anwar,Hukum Perjanjian Syariah,...191. 12

An-Nasa’i, Sunan an-Nasa’i(a-Mujtaba),(Alleppo: Maktab al-Mathbu’at al-Islamiyyah, 1406/1096),VII/ 289: 4613.

13

(30)

26

itu disimpulkan suatu aturan umum mengenai objek akad, yaitu

bahwa objek tersebut harus merupakan barang yang dapat

dipastikan bisa diserahkan. Hadith kedua melarang jual beli

lempar kirkil dan jual beli ghara>r di sisni adalah objek yang

tidak dapat dipastikan apakah akan bisa diserahkan atau tidak.

Larangan dalam kedua hadith di atas dan banyak hadith

lain serupa diabstraksikan aturan umum bahwa objek akad harus

dapat dipastikan bisa diserahkan atau dilaksanakan.14

Ahli hukum Syafi’i mengatakan ‘’tidak dibenarkan jual

beli objek yang tidak ada, seperti buah yang belum jadi

berdasarkan alasan hadits riwayat Abu Hurairah bahwa Nabi

Saw. Melarang jual beli ghara>r, dan yang dimaksud dengan

ghara>r adalah sesuatu yang tidak dapat dipastikan perihalnya

dan tidak diketahui kelanjutannya. Terdapat beberapa

kemungkinan mengenai ada dan tidaknya objek pada waktu

penutupan akad sebagai berikut:

1. Objek ada secara sempurna pada waktu penutupan akad

2. Objek ada secara belum sempurna pada waktu penutupan

akad.

3. Objek tidak ada sama sekali pada waktu penutupan akad,

akan tetapi dipastikan akan ada di kemudian hari.

14

(31)

4. Objek tidak ada atau ada sebagian, akan tetapi tidak dapat

dipastikan adanya secara sempurna di kemudian hari.

5. Objek absolut tidak ada pada waktu penutupan akad dan

tidak mungkin ada dikemudian hari. 15

2) Objek akad harus tertentu atau dapat ditentukan

Syarat kedua objek akad adalah bahwa objek tersebut

tertentu atau dapat ditentukan. Dasar ketentuan ini adalah

larangan Nabi Saw. Mengenai jual beli krikil yang telah dikutip

di atas. Sehingga dari larangan ini diabstraksikan ketentuan

umum bahwa suatu objek akad harus tertentu atau dapat

ditentukan.

Dalam Pasal 303 Mursyid al-Hairan mengenai syarat ini

ditegaskan: untuk sahnya akad atas beban mengenaikekayaan

disyaratkan bahwa objek akad tersebut tertentu sedemikian rupa

sehingga dapat meniadakan ketidakjelasan yang mencolok baik

penentuan itu dilakukan dengan cara menunjuknya atau

menunjuk tempatnya yang khusus jika objek tersebut ada pada

waktu akad atau dengan menjelaskan kualifikasinya serta dengan

menjelaskan jumlahnya jika objek itu merupakan barang yang

dapat dihitung, atau dengan cara lain semacam itu yang dapat

menghilangkan ketidakjelasan mencolok; penyebutan jenis saja

15

(32)

28

tidak cukup untuk menggantikan penyebutan jumlah atau

kualifikasi.

Objek akad itu tertentu artinya diketahui dengan jelas

oleh para pihak sedemikian rupa sehngga tidak menimbulkan

sengketa. Ketika objek tidak jelas dan menimbulkan sengketa

maka akadnya tidak sah. Ketidakjelasan kecil (sedikit) yang

tidak membawa kepada persengketaan tidak membatalkan akad

.16

Apabila objek akad berupa benda, maka kejelasan objek

tersebut terkait apakah objek tersebut hadir (ada) di majelis akad

(tempat ditutupnya perjanjian) atau tidak. Bialamana objek

dimaksud ada (hadir) pada majlis akad, maka kejelasan objek

tersebut menurut ahli-ahli hukum Hanafi dan Hanbali, cukup

dengan menunjukkannya kepada mitra janji sekalipun objek

tersebut berada di dalam tempat tertutup seperti gandum,gula

dalam karung. Menurut ahli hukum Maliki penunjukan tidak

cukup melainkan harus dilihat secara langsung jika hal itu

memang dimungkinkan. Jika tidak mungkin dilihat, cukup

dideskripsikan. Ahli hukum Syafi’i mengharuskan melihat secara

langsung terhadap objek, baik objek itu hadir atau tidak di

tempat dilakukannya akad.

16

(33)

Objek akad yang tidak ada di majlis akad dapat

dideskripsikan dengan suatu keterangan yang dapat memberikan

gambaran yang jelas dan menghilangkan ketidakjelasan

mencolok mengenai objek. 17

3) Objek akad dapat ditransaksikan menurut syarak

Suatu objek dapat ditransaksikan dalam hukum Islam

apabila memenuhi kriteria-kriteria berikut:

1. Tujuan objek tersebut tidak bertentangan dengan transaksi,

dengan kata lain sesuatu tidak dapat ditransaksikan apabila

tranasaksi tersebut bertentangan dengan tujuan yang

ditentukan unutk sesuatu tersebut.

2. Sifat atau hakikat dari objek itu tidak bertentangan dengan

transaksi, dengan kata lain sesuatu tidak dapat ditransaksikan

apabila sifat atau hakikat sesuatu itu tidak memungkinkan

transaksi.

3. Objek tersebut tidak bertentangan dengan ketertiban umum.18

Sedangkan syarat jual beli adalah sebagai berikut:

1) Dilakukan saling ridha antara penjual dan pembeli.

17

Ibid,.204. 18

(34)

30

Rukun ridha:

Para ulama menyebutkan, rukun saling ridha ada 2:

a. Ilmu (mengetahui dan menyadari) dan

b. al-ikhtiyar (tidak ada paksaan). Sebagaimana dinyatakan

dalam kaidah fiqhiyyah yang artinya ‘’Unsur paksaan,

menggugurkan ridha’’.

2) Penjual dan pembeli termasuk orang yang boleh

bertransaksi.

Seseorang disebut memiliki ahliyah fi tasharruf ketika

baligh, berakal, dan rasyid (dewasa dalam harta). Anak

kecil, atau yang tidak dewasa, tidak boleh melakukan

transaksi, kecuali atas izin dan pengawasan walinya.

3) Orang yang akad harus pemilik, atau mewakili pemilik

karena seseorang tidak boleh men-transaksikan milik orang

lain. Baik menjual barang orang lain maupun membeli

dengan uang orang lain.

4) Barang yang dijual, manfaatnya mubah.

5) Barang memungkinkan untuk diserah-terimakan

6) Barang harus diketahui ketika akad

Untuk mengetahui barang, bisa dg 2 cara yaitu dengan

melihatnya secara langsung dan dengan memahami kriteria

(35)

7) Harga barang telah ditentukan ketika akad. 19

c. Kesepakatan

Kesepakatan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dan harapan

masing-masing pihak, baik kebutuhan hidup naupun pengembangan

usaha.

Ketika terjadi perubhan akad jual beli akibat perubahan harga,

maka akad terakhir yang dinyatakan berlaku.

Kesepakatan penjual dan pembeli meliputi:

1. Penjual dan pembeli wajib mnyepakati nilai objek jual beli yang

diwujudkan dalam harga.

2. Penjual wajib menyerahkan objek jual beli sesuai dengan harga yang

telah diepakatai, dan pembeli wajib menyerahkan uang atau benda

yang setara nilainya dengan objek jual beli.

3. Jual beli terjadi dan mengikat ketika objek jual beli diterima pembeli,

sekalipun tidak dinyatakan secara langsung

4. Pembeli boleh menwarkan penjualan barang dengan harga borongan,

dan persetujuan pembeli atas tawaran itu mengharuskan untuk

membeli keseluruhan barang dengan harga yang disepakati.

5. Pembeli tidak boleh memilah-milah benda dagangan yang

diperjualbelikan dengan cara borongan dengan maksud membeli

sebagian saja.

19

(36)

32

6. Penjual diperbolehkan menawarkan berbagai jenis barang dagangan

secara terpisah dengan harga yang berbeda.20

4. Akad Jual Beli

Kata akad berasal dari bahasa Arab al-‘aqad bentuk jamaknya

al-‘uqud yang mempunyai arti antara lain:

1. Mengikat (ar-rabith), yaitu mengumpulkan dua ujung tali dan mengikat

salah satunya dengan yang lain sehingga bersambung, kemudian keduanya

menjadi sepotong benda.

2. Sambungan (ial-‘aqd), yaitu sambungan yang memegang kedua ujung itu

dan mengikatnya.

3. Janji (al-‘ahdl), sebagaimana yang dijelaskan Al-Qur’an dalam Surat Ali

Imran : 76

َيِقَّتُمْلا ُّبُِيُ ََّللّا َّنِإَف ٰىَقَّ تاَو ِهِدْهَعِب َٰفَْوَأ ْنَم ٰىَلَ ب

Artinya: “(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang

dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.”

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian akad

paling tidak mencakup:

1. Perjanjian (al-‘ahd)

2. Persetujuan dua buah perjanjian atau lebih

3. Perikatan (al-‘aqd).21

20

(37)

Adapun secara istilah (terminologi) ada beberapa definisi tentang

akad, pengertian tersebut ada yang bersifat umum dan bersifat khusus.

1) Pengertian akad secara umum adalah:

Setiap yang diinginkan manusia untuk mengerjakannya, baik

keinginan tersebut berasal dari kehendaknya sendiri, misalnya dalam hal

wakaf, atau kehendak tersebut timbul dari dua orang, misalnya dalam hal

jual beli, ija>rah.

2) Pengertian akad secara khusus adalah:

Perikatan yang ditetapkan dengan ija>b qa>bul berdasarkan

ketentuan syara’ yang berdampak pada objeknya.

3) Pengertian akad menurut Hendi Suhendi adalah:

Berkumpulnya serah terima diantara dua pihak atau perikatan

seseorang yang berpengaruh pada kedua belah pihak.22

Akad dibagi menjadi beberapa macam sesuai dengan yang menjadi

segi tinjauan pembagiannya, adapun pembagian akad adalah sebagai berikut:

a) ‘Aqad Munjiz yaitu akad yang dilaksanakan langsung pada waktu

selesainnya akad. Pernyataan akad yang diikuti dengan pelaksanaan akad

ialah pernyataan yang tidak disertai dengan syarat-syarat dan tidak pula

ditentukan setelah adanya akad.

21

Qomarul Huda, Fiqh Muamalah 26. 22

(38)

34

b) ‘Aqad Mu’alaq yaitu akad yang dalam pelaksanaannya terdapat

syarat-syarat yang telah ditentukan dalam akad, misalnya penentuan penyerahan

barang-barang yang diakadkan setelah adanya pembayaran.23

c) ‘Aqad Mudhaf yaitu akad yang dalam pelaksanaanya terdapat syarat-syarat mengenai penangguhan pelaksanaan akad, pernyataan yang

pelaksanaannya ditangguhkan hingga waktu yang telah ditentukan.24

Dari pemaparan di atas maka penulis dapat menyimpulkan

bahwasannya yang dimaksud dengan akad adalah kesepakatan, perjanjian

antara dua belah pihak/lebih di mana ada suatu ikatan antara seseorang

dengan orang lain.

5. Macam-macam Jual Beli

Jua beli dapat ditinjau dari beberapa segi. Ditinjau dari segi

hukumnya, jual beli ada dua macam, jual beli yang sah menurut hukum dan

batal menurut hukum, dari segi objek jual beli dan segi pelaku jual beli.

Ditinjau dari benda yang dijadikan objek jual beli dapat dikemukakan

pendapat Imam Tqqiyuddin bahwa jual beli dibagi menjadi tiga bentuk yaitu

jual beli benda yang kelihatan atau nampak, jual beli yang disebutkan

sifat-sifatnya dalam janji dan jual beli benda yang tidak ada.25Jual beli benda yang

kelihatan adalah pada waktu melakukan akad jual beli benda atau barang

yang diperjual belikan ada di depan penjual dan pembeli. Hal ini lazim

23

Sohari Sahrani, Fikih Muamalah 47. 24

Hendi Suhendi, Fikih Muamalah 51. 25

(39)

dilakukan masyarakat banyak dan boleh dilakukan, seperti membeli beras di

pasar.26

Jual beli yang disebutkan sifat-sifatnya dalam perjanjian ialah jual

beli salam atau pesanan. Menurut kebiasaan para pedagang, salam adalah

untuk jual beli yang tidak tunai, salam pada awalnya berarti meminjamkan

barang atau sesuatu yang seimbang dengan harga tertentu, maksudnya ialah

perjanjian yang penyerahan barang-barangnya ditangguhkan hingga masa

tertentu, sebagai imbalan harga yang telah ditetapkan di akad.

Dalam salam berlaku semua syarat jual beli dan syarat-syarat

tambahannya seperti berikut:

1. Ketika melakukan akad salam disebutkan sifat-sifatnya yang mungkin

dijangkau oleh pembeli, baik berupa barang yang dapat ditakar,

ditimbang, maupun diukur.

2. Dalam akad harus disebutkan segala sesuatu yang bisa mempertinggi dan

memperendah harga barang itu, misalnya benda itu berupa kapas,

sebutkan jenis kapas saclarides nomor satu, nomor dua dan seterusnya.

3. Barang yang akan diserahkan hendaknya barang-barang yang biasa

didapatkan di pasar.

4. Harga hendaknya dipegang di tempat akad berlangusng.

Jual beli benda yang tidak ada serta tidak dapat dilihat ialah jual beli

yang dilarang oleh agama Islam karena barangnya tidak tentu atau masih

(40)

36

barang titipan yang akibatnya dapat menimbulkan kerugian pada salah asatu

pihak. Sementara itu, merugikan dan menghancurkan harta benda seseorang

tidak diperbolehkan.27

Ditinjau dari segi pelaku akad (subjek), jual beli terbagi menjadi tiga

bagian, yaitu dengan lisan, dengan perantara, dan dengan perbuatan.

Akad jual beli yang dilakukan dengan lisan adalah akad yang

dilakukan oleh kebanyakan orang. Bagi orang bisu diganti dengan isyarat

karena isyarat merupakan pembawaan alami dalam menampakkan kehendak.

Hal ini yang dipandang dalam akad adalah maksud atau kehendak dan

pengertian, bukan pembicaraan dan pernyataan.

Penyampaian akad jual beli melalui utusan, perantara, tulisan, atau

surat-menyurat sama halnya dengan ijab qabul dengan ucapan, misalnya via

Pos dan Giro. Jual beli ini dilakukan antara bpenjual dan pembeli tidak

berhadapan dalam satu majelis, tetapi melalui pos atau Giro, jaul beli seperti

ini diperbolehkan oleh syara’ dalam pemahaman sebagian ulama, bentuk ini

hampir sama dengan bentuk jual beli salam, hanya saja jual beli salam antara

penjual dan pembeli saling berhadapan dalam satu majelis akad, sedangkan

dalam jual beli via Pos atau Giro antara penjual dan pembeli tidak berada .28

Jual beli dengan perbuatan (saling memberikan) atau dikenal dengan

istilah mu’athah yaitu mengambil atau memberikan barang tanpa ijab dan

kabul, seperti seseorang mengambil dan memberikan barang tanpa ijab dan

27

Ibid,.76. 28

(41)

qabul, seperti seseorang mengambil rokok yang sudah bertuliskan harganya,

dibandrol oleh penjual dan kemudian diberikan uang pembayarannya kepada

penjual. Jual beli yang demikian dilakukan tanpa sighat ijab qabul antara

penjual dengan pembeli. 29

Jual beli yang dilarang dan batal hukumnya adalah sebagai berikut:

a. Barang yang dihukumkan najis oleh agama seperti anjing, babi, berhala,

bangkai, dan khamr.

b. Jual beli sperma (mani) hewan seperti mengawinkan seekor domba jantan

dengan betina agar dapat memperoleh turunan. Jual beli ini haram

hukumnya.

c. Jual beli anak binatang yang masih berada dalam perut induknya. Jual

beli ini dilarang, karena barangnya belum ada dan tidak tampak.

d. Jual beli dengan muhaqallah. Baqalah berarti tanah, sawah, dan kebun.

Maksudnya disini adalah menjual tanaman-tanaman yang masih di ladang

atau sawah. Hal ini dilarang karena ada persangkaan riba didalamnya.

e. Jual beli dengan mukhadharah, yaitu menjual buah-buahan yang belum

pantas dipanen, seperti menjual rambutan yang masih hijau, mangga yang

masih kecil-kecil, dan yang lainnya. Hal ini dilarang karena barang

tersebut masih samar, dalam artian mungkin saja buah tersebut jatuh

tertiup angin kencang atau yang lainnya sebelum diambil oleh si

pembelinya.

29

(42)

38

f. Jual beli dengan muammassah yaitu jual beli secara sentuh- menyentuh.

Hal ini dilarang karena mengandung tipuan dan kemungkinan akan

menimbulkan kerugian bagi salah satu pihak.

g. Jual beli dengan munabadzah, yaitu jual beli secara lempar melempar.

Hal ini dilarang karena mengandung tipuan dan tidak ada ijab dan qabul.

h. Jual beli dengan muzabanah,yaitu menjual buah yang basah dengan buah

yang kering, seperti menjual padi kering dengan bayaran padi basah,

sedangkan ukurannya dengan dikilo sehingga akan merugikan pemilik

padi kering.

i. Menentukan dua harga untuk satu barang yang diperjual belikan

j. Jual beli dengan syarat (iwadh mahjul). Jual beli seperti ini hampir sama

dengan jual beli dengan menentukan dua harga, hanya saja di sini

dianggap sebagai syarat, seperti sseorang berkata, ‘’ aku jual rumahku

yang butut ini kepadamu dengan syarat kamu mau menjual mobilmu

padaku’’.

k. Jual beli ghara>r yaitu jual beli yang samar sehingga ada kemungkinan

terjadi penipuan, seperti penjualan ikan yang masih di kolam atau

menjual kacang tanah yang atasnya terlihat bagus namun bawahnya jelek.

l. Jual beli dengan mengecualikan sebagian benda yang dijual, seperti

seseorang menjual sesuatu dari benda itu ada yang dikecualikan salah

(43)

m. Larangan menjual makanan hingga dua kali penakaran. Hal ini

menunjukkan kurangnya saling percaya antara penjual dan pembeli. 30

Ada beberapa macam jual beli yang dilarang oleh agama, tetapi sah

hukumnya,tetapi yang melakukannya mendapat dosa. Jual beli tersebut

anatara lain:

a. Menemui orang-orang desa sebelum mereka masuk ke pasar untuk

membeli benda-bendanya dengan harga yang semurah-murahnya,

sebelum mereka tahu harga pasaran, kemudian ia jual dengan harga yang

setinggi-tingginya.

b. Menawar barang yang sedang ditawar oleh orang lain.

c. Jual beli dengan Najasyi, ialah sseorang menambah atau melebihi harga

temannya dengan maksud memancing-mancing orang agar orang tersebut

mau membeli barang kawannya.

d. Menjual diatas penjualan orang lain, umpamanya seseorang berkata: ‘’

kembalikan saja barang itu kepada penjualnya, nanti barangku saja kau

beli dengan harga yang lebih murah dari itu.31

6. Khiy>ar Dalam Jual Beli

Kata khiy>ar dalam bahasa arab berarti pilihan. Sedangkan secara

terminologi khiy>ar mnurut para Ulama Fiqih ialah hak pilih bagi salah satu

atau kedua belah pihak yang melaksanakan transaksi untuk melangsungkan

30

Ibid.,79-81. 31

(44)

40

atau membatalkan transaksi yang disepakati sesuai kondisi masing-masing

pihak yang melakukan transaksi.32

Ulama membagi khiy>ar kepada beberapa macam, yaitu:

a. Khiy>ar Majlis yaitu antara penjual dan pembeli boleh memilih akan melnanjutkan jual beli atau membatalkannya, selama keduanya masih ada

dalam satu tempat (majlis). Khiy>ar majlis dapat dilakukan dalam

berbagai jual beli.

b. Khiy>ar syarat, yaitu penjualan yang didalamnya disyaratkan sesuatu baik oleh penjual maupun oleh pembeli.

c. Khiy>ar Aib, yaitu dalam jual beli ini disyaratkan kesempurnaan benda-benda yang dibeli.

d. Khiy>ar Ta’yin, yaitu hak memilih antara barang-barang yang diperjualbelikan.

e. Khiy>ar ru’yah, yaitu hak pilih bagi pembeli untuk menyatakan berlaku atas batalnya jual beli yang ia lakukan terhadap objek yang belum ia lihat

ketika akad berlangsung.

f. Khiy>ar Naqd, yaitu jual beli yang dilakukan oleh dua orang denga syarat bila pembeli tidak melakukan Khiy>ar ini dalam waktu tetentu, maka

tidak terjadi jual beli antara keduanya.

g. Khiy>ar Wasf, yaitu memilih membatalkan (fasakh) atau meneruskan jual beli pada saat ditemukna bahwa barang yang dibeli tersebut tidak sesuai

32

(45)

dengan sifat-sifat yang dikehendakinya. Menurut para ahli fikih,khiy>ar

wasf boleh diwarisi.

Adanya hak khiy>ar dimasksudkan guna menjamin agar akad yang

dilakukan benar-benar terjadi atas kerelaan penih pihak-pihak bersangkutan

karena adanya kerelaan itu merupakan asas bagi sahnya suatu akad. 33

7. Perselisih Dalam Jual Beli

Penjual dan pembeli dalam melakukan jual beli hendaknya berlaku

jujur, berterus terang dan mengatakan yang sebenarnya, jangan berdusta dan

bersumpah dusta, sebab sumpah dan dusta itu memghilangkan keberkahan

jual beli. Rasulullah saw. Bersabda:

ِةَك ْرَ بْلِل ةَقِحَْهُ ِةَعْلِِّسلِل ةَعَفْ نَم ُفْلَْلْ َأ

(

ملسم و ى ر اخبلا هاور

.)

Artinya: ”Bersumpah dapat mempercepat lakunya dagangan, tetapi dapat

menghilangkan berkah”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Para pedangan yang jujur, benar dan sesuai dengan ajaran Islam

dalam dagangnnya, mereka dikumpulkan dengan para nabi, sahabat dan

orang-orang yang mati syahid pada hari kiamat. Bila antara penjual dan

pembeli berselisih pendapat dalam suatu benda yang diperjualbelikan, maka

yang dibenarkan adalah kata-kata yang punya barang bila antara keduanya

tidak ada sanksi dan bukti lainnya.34

8. Larangan dalam Ekonomi Islam

33

Mardani , Hukum Sistem Ekonomi Islam ,172-173. 34

(46)

42

a) Riba

Riba secara etimologis adalah pertumbuhan, (growth), naik (rise),

membengkak (increase), dan tambahan (addition) atau sesuatu yang

lebih, bertambah, sebagaimana terdapat dalam QS. Al-Hajj (22):5,

An-Nahl (16): 92, QS. Ar-Rum (30): 39, dan QS. Fushilat (41):39.

Menurut Abdul Ghafur Anshori, istilah riba berasal dari kata

r-b-w, yang digunakan dalam Al-Qur’an sebanyak dua puluh kali. Di dalam

al-Qur’an riba dapat dipahami dalam delapan arti yaitu pertumbuhan,

peningkatan, bertambah, meningkat, menjadi besar, dan besar, dan juga

digunakan dalam artian bukit kecil. Walaupun istilah tampak dalam

beberapa makna, namun dapat diambil satu pengertian umum yaitu

meningkat (increase)baik menyangkut kualitas maupun kuantitas.35

Dengan kata lain riba artinya tumbuh dan membesar. Secara

terminologi, riba dapat diartikan sebagai pengambilan tambahan dari

harta pokok secara bathil, sehingga hukumnya diharamkan.

Macam-macam riba antara lain yaitu:

1) RibaQard

Yaitu suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang

disyaratkan terhadap yang berhutang.

2) Riba Jahiliyah

35

(47)

Yaitu riba yang terjadi karena adanya utang yang dibayar lebih

dari pokoknya karena peminjaman tidak mampu melunasi utangnya

setelah jatuh tempo. Ketidakmampuan mengembalikan utang ini

kemudian dimanfaatkan oleh kreditor untuk mengambil keuntungan.

Dalam perbankan syari’ah cara seperti ini dilarang karena merupakan

bagian dari riba. Oleh karena itu ulama memberikan definisi riba

jahiliyah yaitu utang dibayar lebih dari pokoknya karena si peminjam

tidak mampu membayar utangnya pada waktu yang ditetapkan..

3) Ribafadhl

Yaitu riba yang timbul akibat pertukaran barang sejenis yang

tidak memenuhikriteria secara kualitas, kuantitas, dan penyerahan yang

tidak dilakukan secara tunai, pertukaran jenis ini mengandung

ketidakjelasan (ghara>r) bagi kedua belah pihak terhadap barang yang

dipertukarkan. Dalam lembaga keuangan perbankan, riba fadhl dapat

ditemui pada transaksi jual beli valuta asing yang tidak dilakukan

secara tunai.

Dalam definisi lain, riba fadhl yaitu pertukaran anatar barang

sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda, sedangkan barang

yang dipertukarkan itu termasuk jenis ribawi.

4) Riba Nasi’ah

Yaitu riba yang timbul karena adanya utang piutang yang tidak

(48)

44

ghunmi) dan hasil usaha yang muncul bersama biaya (al-kharaj bi dhaman). Dengan demikian keuntungan (al-ghunmu) muncul tanpa

adanya risiko (al-ghunmi) atau hasil usaha (al-kharaj) yang diperoleh

tanpa adanya biaya modal (dhaman) akan mengakibatkan terjadinya

riba. Menurut definisi lain, riba nasi’ah yaitu penangguhan penyerahan

atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan jenis

barang ribawi lainnya. Riba nasi’ah muncul adanya perbedaan,

perubahan, atau tambahan anatara yang diserahkan saat ini dan

diserahkan kemudian.36

b) Ghara>r

Ghara>r secara etimologis berarti risiko, tiupan dan menjatuhkan diri atau harta pada jurang kebinasaan. Sedangkan secara terminologis

ghara>r adalah sebagai berikut:

a. Menurut UU No 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syari’ah, ghara>r yaitu transaksi yang objeknya tidak jelas, tidak dimiliki, tidak

diketahui keberadaannya, atau tidak dapat diserahkan pada saat

transaksi dilakukan kecuali diatur lain dalam syariah.

36

(49)

b. Menurut Rachmadi Usman, ghara>r adalah transaksi yang mengandung tipuan dari salah satu pihak sehngga pihak lain

dirugikan.

c. Imam Malik mendefinisikan ghara>r sebagai jual beli objek yang

belum ada dan dengan demikian belum dikatahui kualitasnya oleh

pembeli apakah kualitas barang itu baik atau buruk.

d. Menurut Ibn Hazim, terdapat ghara>r dalam suatu jual beli apabila

pembeli tidak mengetahui apa yang dibelinya dan penjual tidak

mengetahui apa yang dijualnya.

Dianatara penyebab terjadinya ghara>r adalah ketidakjelasan

pada barang atau harga. Ketidakjelasan pada barang disebabkan oleh fisik

barang tidak jelas, sifat barang tidak jelas, ukuran barang tidak

jelas,barang bukan milik penjual, seperti menjual rumah yang bukan

miliknya dan barang yang tidak dapat diserahterimakan, seperti menjul

jam tangan yang hilang.

Sedangkan ketidakjelasan pada harga disebabkan oleh penjual

tidak menentukan harga, penjual memberikan dua pilihan dan pembeli

tidak menentukan salah satunya dan tidak jelas jangka waktu pembayaran

Ghara>r dibedakan menjadi 3 macam yaitu:

a. Jual beli sesuatu yang tidak ada, seperti jual beli hablul habalah

b. Jual beli sesuatu yang tidak diserahterimakan, seperti unta yang

(50)

46

c. Jual beli sesuatu yang tidk dapat diketahui secara mutlak atau tidak

dapat diketahui jenis atau ukurannya.37

c) Maisir

Secara etimologis maisir yaitu memperoleh sesuatu dengan sangat

mudah tanpa kerja keras atau mendapat keuntungan tanpa kerja.

Sedangkan secara terminologis maisir adalah sebagai berikut:

a. Menurut UU No 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syari’ah, maisir adalah transaksi yang digantungkan kepada suatu keadaan yang tidak

pasti dan bersifat untung-untungan.

b. Menurut Muhammad Ayub, baik maisir maupun qimar dimaksudkan

sebagai permainan untung-untungan (game of chance). Dengan kata

lain, yang dimaksudkan dengan maisir adalah perjudian (gambling

dan wagering)

c. Menurut Rachmadi Usman, maisir adalah barang yang mengandung

unsur perjudian, untung-untungan atau spekulasi yang tinggi.

d. Menurut Ascarya, maisir adalah segala sesuatu yang mengandung

unsur judi, taruhan, atau permainan beresiko.38

d)Barang Haram

Barang yang diharamkan dilarang dijualbelikan. Dalam Islam,

barang haram diklasifikasikan kepada dua macam, yaitu:

37

Ibid.,104 38

(51)

1. Haram karena zat (substansi) nya misalanya:

a. Babi, anjing, dan anak yang lahir dari perkawinan keduanya.

b. Bangkai, kecuali ikan dan belalang

c. Binatang yang menjijikan sperti cacing,kutu,lintah,dan

sebagainya.

d. Binatang yang mempunyai taring

e. Binatang yang berkuku pencakar yang memakan mangsanya

dengan cara menerkam dan menyambar

f. Binatang yang dilarang oleh Islam untuk membunuhnya seperti

lebah, burung hud hud, kodok, dan semut.

g. Daging yang dipotong dari binatang halal padahal binatang

tersebut masih hidup

h. Binatang yang beracun dan membahayakan bila dimakan

i. Binatang yang hidup di dua alam seperti kura-kura, buaya, biawak

dan sebagainya.

j. Darah, urine, feses dan plasenta

k. Minyak, lemak dan tulang dari binatang telah disebutkan diatas

l. Binatang yang disembelih bukan atas nama Allah

m. Khamr (minuman keras)

2. Barang yang diharamkan bukan karena zat (substansi) nya tetapi

karena cara memperolehnya dengan jalan yang diharamkan seperti:

(52)

48

b. Merampok

c. Begal

d. Menipu

e. Menyuap

f. Korupsi 39

e) Zalim

Secara etimologis, zalim mempunyai arti bertindak lalim, atau

aniaya, mengurangi, menyimpang, menindas, bertindak

sewenang-wenang, dan tidak adil. Secara terminologis, zalim

Gambar

Gambar 3.1 Perbedaan mekanisme penjualan anatara bisnis umum dengan bisnis jual beli
Gambar 3.2 Testimoni keberhasilan anggota bimbingan Rista Bussiness yang di upload di
Gambar 3.4 Bukti tranferan pembeli ke rekening Arista sebagai bentuk persetujuan

Referensi

Dokumen terkait

Maka berdasarkan pendekatan mas}lah}ah mursalah , jus cacing untuk keperluan pengobatan hukumnya adalah boleh, jual beli jus cacing sudah mememenuhi rukun dan syarat dan

Sebagaimana jual beli pesanan di toko ‚Berlian Busana Ponorogo‛, praktiknya dalam melakukan transaksi jual beli dengan sistem salam kurang begitu memperhatikan

Muamalah merupakan hubungan kepentingan sesama manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Muamalah dapat ditempuh dengan cara jual beli, sewa- menyewa, tukar-menukar,

Jual beli adalah suatu bentuk transaksi mu’amalah yang sering dilakukan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya. Jual beli yang sah menurut hukum Islam ialah jual beli yang

Jual beli adalah suatu bentuk transaksi mu’amalah yang sering dilakukan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya. Jual beli yang sah menurut hukum Islam ialah jual beli yang

ulama madhhab yang berkaitan dengan transaksi jual beli mata uang yang penyelesaiannya dilakukan paling lambat dalam jangka waktu dua hari.. Dalam fiqih, jumhur

Penyerahan secara nyata dan sah secara hukum pada transaksi jual beli dapat dilakukan melalui penyerahan obyek jual beli dari penjual kepada pembeli, maupun

Dalam jual beli yang dilakukan oleh masyarakat Desa Sumberbening saat transaksi jual beli beras penjual maupun pembeli mereka menggunakan alat takar batok dari penjual.9 Islam dengan