(Studi Kasus di Rista Bussiness Sampung Ponorogo)
SKRIPSI
Oleh:
WULAN SUCI PUJO UTAMI NIM 210214255
Pembimbing:
Dr. SAIFULLAH, M.Ag. 196208121993031001
JURUSAN HUKUM EKONOMI SYARIAHFAKULTAS SYARIAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERIPONOROGO
iii ABSTRAK
Utami,Wulan Suci Pujo. 2018. Tinjaun Hukum Islam Terhadap Praktik Jual Beli Database Pin Konveksi (Studi Kasus di Rista Bussiness Sampung Ponorogo). Jurusan Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo. Pembimbing Dr. Saifullah,M.Ag.
Kata Kunci: Jual beli, Ijarah, Gharar, keuntungan, Database Pin Konveksi.
Jual beli database pin konveksiadalah jual beli file yang didalamnya berisi beberapa pin atau kumpulan pin-pin dan kontak distributor atau produsen (pabrik) yang menjual barang seperti baju,tas, dan barang-barang impor maupun lokal dan beberapa produk lainnya yang sudah dikumpulkan dalam satu file.. Dalam praktiknya file yang diperjualbelikan tersebut didalamnya terdapat beberapa pin atau kontak yang tidak dapat dihubungi atau tidak valid. Namun oleh penjual tidak dijelaskan dalam proses transaksi jual beli database pin konveksi itu dan dalam keuntungannya sebagaimana dalam teori bahwa dalam pengambilan keuntungan dalam Islam tidak ada batasannya namun harus dengan jalan yang benar dalam memperolehnya yaitu tanpa adanya penipuan, manipulasi, penimbunan dan sebagainya dan selain itu, terdapat ketidakjelasan pada obyek yang diperjualbelikan karena tidak semua kontak dapat dihubungi dan tidak ada pihak yang dapat dimintai pertanggungjawaban apapun ketika pin/kontak tersebut tidak dapat dihubungi sehingga sangat merugikan pembeli. Dari latar belakang diatas penulis menggunakan dua rumusan masalah dalam penelitian. (1) Bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap transaksi dalam jual beli database pin konveksi? (2) Bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap cara perolehan keuntungan dalam jual beli database pin konveksi?
Di dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif, dengan
jenis penelitian lapangan (Field Research). Teknik pengumpulan data yang dilakukan
dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap data kependudukan. Kemudian teknik pengolahan kata itu terdapat di teori buku, selanjutnya terjun langsung di lapangan kemudian dapat ditarik kesimpulan dari analisa penulis. Dan kemudian dianalisis dengan hukum Islam.
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kehidupan ini manusia memerlukan orang lain untuk memenuhi
kebutuhannya, sehingga terjadilah interaksi dalam masyarakat, yaitu jual beli.
Secara etimologi jual beli diartikan pertukaran sesuatu dengan sesuatu (yang
lain). 1 Inti dari jual beli adalah suatu perjanjian tukar-menukar benda atau barang
yang mempunyai nilai secara sukarela diantara kedua belah pihak, yang satu
menerima benda-benda dan pihak lain menerimanya sesuai dengan perjanjian atau
ketentuan yang telah dibenarkan syara’ dan disepakati.2
Para ulama telah sepakat bahwa jual beli diperbolehkan dengan alasan
bahwa manusia tidak mampu mencukupi kebutuhan dirinya, tanpa bantuan orang
lain. Namun demikian, bantuan atau barang milik orang lain yang dibutuhkannya
itu, harus diganti dengan barang lainnya yang sesuai.3 Hal ini sejalan dengan
sebuah hadith riwayat imam Tirmidzi dari Amr bin ‘Auf, Rasulullah SAW. Bersabda: “segala macam transaksi dibolehkan berlangsung antara sesama kaum
muslim kecuali transksi yang menghalalkan yang haram atau mengharamkan
yang halal. Kaum muslim boleh membuat segala macam persyaratan yang
1Rachmat Syafe’i,
Fiqih Muamalah (Bandung: CV. Pustaka Setia,2001),73. 2
Hendi Suhendi, Fiqih Muamalah (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008),68
3Rachmat Syafe’i
2
disepakati kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang
haram”4
Jual beli dikatakan belum sah sebelum ija>b qabu>l dilakukan, sebab
ija>b qabu>l berorientasi pada kerelaan hati. Jual beli sebagai kibat dari
terbentuknya akad antara kedua belah pihak maka di dalamnya harus terdapat
sikap transparansi dan tanggung jawab antara keduanya, karena setiap orang yang
melakukan akad terikat kepada isi akad yang telah disepakati bersama pihak lain
dalam akad. Sehingga seluruh isi akad adalah sebagai peraturan yang wajib
dilakukan oleh para pihak yang mengikatkan diri dalam akad.
Syarat-syarat benda yang menjadi objek akad ialah suci atau mungkin
disucikan sehingga tidak sah penjualan benda-benda najis seperti babi, khamr,
darah dan lain sebagainya. Memberi manfaat menurut syara’, maka dilarang jual
beli benda-benda yang tidak boleh diambil manfaatnya menurut syara’(seperti
menjual babi,cicak,katak dan lainnya), Tidak boleh ditaklikan, yaitu digantungkan
kepada hal-hal lain, Tidak dibatasi waktunya, Dapat diserahkan dengan cepat
maupun lambat, Kepemilikan sendiri, Dapat dikrtahui artinya barang yang
diperjualbelikan harus dapat diketahui banyaknya, beratnya,takarannya,
ukuran-ukuran yang lainnya, maka tidaklah sah jual beli yang menimbulkan keraguan
pada salah satu pihak. 5
4
Kuswara, Mengenal MLM Syariah dari Halal Haram, Kiat Berwirausaha, Sampai Dengan Pengelolaannya. (Depok: QultumMedia, 2005), 74
5
Dalam hadith yang diriwayatkan Ahmad, Rasulullah bersabda ‘’janganlah
kamu membeli ikan di dalam air, karena jual beli seperti itu termasuk gharar, alias nipu’’ (Riwayat Ahmad). Maka jual beli gharar yaitu jual beli yang samar sehingga ada kemungkinan terjadi penipuan, seperti penjualan ikan yang masih di
kolam atau menjual kacang tanah yang atasnya kelihatan bagus tetapi di
bawahnya jelek adalah dilarang atau haram.6
Hikmah disyariatkannya jual beli adalah seorang muslim bisa
mendapatkan apa yang dibutuhkannya dengan sesuatu yang ada ditangan
saudaranya tanpa kesulitan yang berarti. Diharapkan dalam sistem jual beli harus
ada sikap saling mengntungkan, baik yang bersifat sosial maupun keuntungan
yang bersifat ekonomi.7
Akhir-akhir ini di tengah-tengah masyarakat Indonesia muncul sistem
perdagangan baru yang dikenal dengan istilah Multi Level Marketing yang di
singkat MLM. Sistem perdagangan ini di praktekkan oleh berbagai perusahaan,
baik yang berskala lokal, nasional, religional maupun internasional.8
Jual beli mengalami perkembangan dari waktu ke waktu yang mana dulu
manusia melakukan trnasaksi jual beli secara langsung, kini dengan
berkembangnya teknologi, transaksi jual beli pun dapat dilakukan tanpa harus
bertemu dengan calon pembeli. Hal tersebut tentunya lebih memudahkan manusia
dalam melakukan transaksi, dimana pembeli tidak perlu datang ke toko untuk
6
ibid.,81. 7
Ismail Nawawi, Fiqih Muamalah Klasik dan Kontemporer (Bogor: Ghalia Indonesia, 2012),89. 8
4
melakukan transaksi, cukup dengan transfer sejumlah uang tertentu kepada
penjual melalui Automatic Teller Machine (ATM), sehingga lebih menghemat
waktu danbiaya bagi pihak pembeli.9
Disamping itu, kemajuan teknologi juga menguntungkan bagi pihak
penjual. Dalam menawarkan produknya, dulu seseorang harus memasang iklan
agar produknya dikenal banyak masyarakat dengan biaya yang tidak sedikit,
sedangakan kini bisa dilakukan melalui media sosial, tentunya biaya yang
dikeluarkan terjangkau. Dengan adanya kemudahan ini, tentunya membuka
peluang bagi masyarakat yang ingin berbisnis dagang. Segala sesuatu yang dirasa
bermanfaat bagi mayarakat, maka dapat diperjualbelikan. Hal ini terbukti dengan
adanya bisnis yang sedang ramai diperbincangkan oleh masyarakat yaitu bisnis
yang hanya bermodal sekali namun akan mendapatkan keuntungan yang berkali
lipat yang mana, bisnis itu dikenal dengan jual beli database pin konveksi.10
Jual beli database pin konveksi adalah jual beli beberapa pin atau
kumpulan pin-pin distributor atau produsen (pabrik) yang menjual barang seperti
distributor baju, tas, sepatu,boneka, matras, gamis, jilbab, wedges, jeans, kaos,
celana, jam tangan, kosmetik, parfum, smartphone, barng-barang import maupun
lokal dan beberapa produk lainnya yang sudah dikumpulkan dalam satu file. Jadi
dengan adanya pin konveksi kita bisa beli barang dengan harga murah langsung
dari pabriknya (first hand) dan kita dapat menjual nya kembali pin tersebut untuk
9
Sri Wigati,Jurnal Bisnis Jual Beli Database Pin Konveksi, Maliyah Vol 07. No 01, Juni 2017, 139.
10
mendapatkan laba. Dengan menjadi reseller pin konveksi kita tidak akan merugi,
karena modalnya hanya satu kali dan akan mendapatkan keuntungan berkali kali
lipat.
Cara kerja bisnis ini adalah mula-mula pembeli mendatangi penjual pin
yaitu yang disebut dengan leader. Kemudian pembeli pin memilih harga pin yang
ditawarkan yaitu harganya bervariasi antara Rp. 100.000,00 sampai Rp.
500.000,00 karena yang menjual banyak sehingga leader/seller berbeda
koleksinya. Kemudian ketika sudah membeli pin tersebut dapat menjualnya
kembali ke lainnya dengan harga suka-suka. Rista Bussiness menjual database pin
konveksi seharga Rp. 500.000,00. Lalu dalam sehari ada 4 orang yang membeli
pin di Rista Bussiness maka 4 x Rp. 500.000,00 = Rp. 2.000.000,00 dalam
seminggu maka 7 x Rp. 2.000.000,00 = Rp. 14.000.000,00 dan jika sebulan maka
30 x Rp. 2.000.000,00 = Rp. 60.000.000,00. Inilah yang disebut dengan modal
satu kali tetapi mendapatkan keuntungan berkali-kali atau berlipat- lipat. Namun
dengan mendapatkan keuntungan yang berlipat kerap sekali dimanfaatkan oleh
pelaku bisnis ini yang menjual pin yang tidak aktif alias tidak valid sehingga
kerap sekali mengakibatkan penipuan.
Keuntungan yang didapatkan dari bisnis jual beli database pin konveksi
diperoleh dari penjualan pin konveksi yang kemudian pin konveksi tersebut dapat
diperjualbelikan kembali kepada pembeli lainnya dengan ketentuan harga yang
ditetapkan oleh penjual. Kak Dela membeli pin konveksi kepada Rista Bussiness
6
lain dengan harga Rp. 450.000,00 atau bahkan lebih tergantung si penjual akan
menjual dengan harga berapa semakin tinggi harga yang ditetapkan maka
semakin tinggi pula keuntungan yang didapatkan. Maka dari sini terdapat
kejanggalan yaitu melakukan kegiatan jual beli yang bertujuan dapat mengambil
keuntungan dari perbedaan harga ketika membeli dan menjual sehingga dalam
kegiatan jual beli database pin konveksi ini mengandung unsure spekulasi yang
tinggi. Dalam bisnis ini bisa menjadi untung dan bahkan bisa tidak atau merugi.
Jika untung maka keuntungan 100% menjadi milik pribadi dan sebaliknya jika
merugi tidak akan mendapat keuntungan apa-apa. Kerugian yang ditimbulkan
disebabkan karena pihak tersebut tidak memanfaatkan kesempatan yang ada yaitu
tidak melakukan promosi, tidak pandai-pandai membuat promosi, tidak membuka
online shop sehingga tidak mendapatkan keuntungan, modal tidak kembali dan
tidak mendapatkan apa-apa. 11
Dalam bisnis jual beli database pin konveksi ini menjanjikan keuntungan
berkali lipat karena, dalam bisnis ini hanya bermodal sekali saja untuk modal
awal pembelian pin. Sekumpulan pin tersebut dapat diperjualbelikan lagi ke orang
lain tanpa adanya pemindahan kepemilikan dalam artian, walaupun file yang
berisikan pin tersebut oleh penjual telah dijual ke orang lain namun, si penjual
tetap dapat menguasainya dan dapat diperjualbelikan ke orang lain lagi sampai
tidak ada batasnya. Sehingga inilah yang dimaksud dengan keuntungan berkali
lipat dengan modal sekali. Padahal dalam jual beli ketika barang telah dibeli maka
11
kepemilikan atas barang tersebut secara langsung akan berpindah ke tangan
pembeli sehingga penjual tidak lagi dapat menguasai kepemilikan barang
tersebut.
Berangkat dari latar belakang di atas penulis tertarik untuk melakukan
sebuah penelitian mengenai bisnis ini dengan judul: ‘’Tinjauan Hukum Islam
Terhadap Praktik Jual Beli Database Pin Konveksi (Studi kasus di Rista Bussiness
Sampung Ponorogo)’’
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan fokus penelitian diatas, maka rumusan masalah pada penelitian
ini sebagai berikut:
1. Bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap transaksi dalam jual beli database
pin konveksi di Rista Bussiness Sampung Ponorogo?
2. Bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap cara perolehan keuntungan dalam
jual beli database pin konveksi di Rista Bussiness Sampung Ponorogo?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mendeskripsikan tinjauan hukum Islam terhadap akad dalam jual beli
database pin konveksi di Rista Bussiness Sampung Ponorogo.
2. Untuk mendeskripsikan tinjauan hukum Islam terhadap keuntungan dalam
8
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Secara Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memerkaya khazanah pengetahuan
masalah ilmu muamalah tentang bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap
praktik jual beli database pin konveksi di Rista Bussiness Sampung
Ponorogo. Selain itu juga dapat dijadikan bahan perbandingan dengan
penelitian lainnya.
2. Secara Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sumbangan moril
tentang status hukum mengenai praktik jual beli database pinkonveksi dan
sumbangan pikiran kepada semua pihak yang terkait serta yang lebih
membutuhkannya lebih khusus bagi penulis wawasan dan pengembangan
karya ilmiah.
E. Telaah Pustaka
Sejauh ini penulis menemukan beberapa penelitian terdahulu diantaranya
sebagai berikut:
Skripsi yang disusun oleh Suryadi dari IAIN Ponorogo yang berjudul
‘’Tinjauan Hukum Islam Terhadap Jual Beli Benda Maya Game Online (Studi
Kasus di Warnetku Jalan Sultan Agung Ponorogo)’’ didalamnya menjelaskan
Adapun kesimpulan dari skripsi tersebut adalah bahwa berakad melaui dunia
maya dalam jual beli game online tersebut tidak sesuai dengan yang diakadkan
yaitu benda tersebut tidak bermanfaat, selain itu pihak penjual dan pembeli pun
belum baligh. Sedangakn mekanisme jual beli game online di warnet-ku tersebut
tidak sesuai dengan hukum islam karena menyalahi perjanjian dalam transaksi
jual beli pada kenyataan di lapangan dan termasuk dalam jual beli gharar atau
penipuan. 12
Selanjutnya skripsi yang disusun oleh Muhammad Irkham Firdaus,
seorang penulis dari IAIN Ponorogo yang berjudul’’Jual Beli Perspektif Fiqih
(Studi Kasus di Toko Reog Ponorogo). Dalam praktik jual beli ini diperbolehkan menurut perspektif fiqih karena terpenuhinya ija>b qabu>l antara kedua belah
pihak selain itu objek jual beli secara online di Toko Reog Ponorogo tersebut
menurut perspektif fiqih adalah boleh karena telah memenuhi syarat sahnya
barang yang diperjualbelikan menurut Islam serta penyelesaian sengketa anatara
pihak penjual dan pembeli yakni dengan adanya tanggung jawab dari pihak
penjual atas kerusakan barang yang dikirimkan kepada pembeli diperbolehkan
dan telah sesuai dengan fiqih.13
Berikutnya Skripsi yang disusun oleh EKA RAHAYU yang berjudul
‘’Tinjauan Hukum Islam terhadap Praktik Social Media Business (SMB) di
12Suryadi, ‘’Tinjauan Hukum Islam Terhadap Jual Beli Benda Maya Game Online (Studi Kasus
di Warnet-ku Jalan Sultan Agung Ponorogo)’’, (Skripsi, STAIN Ponorogo, Ponorogo, 2012), 73. 13
Muchammad Fatchul Fauzi, ‘’Jual beli Online Perspektif Fiqih (Studi Kasus di Toko Reog
10
Kecamatan Ngawi Kabupaten Ngawi. Dalam skripsi tersebut menganalisis akad yang dilakukan dalam Social Media Business (SMB). Adapun kesimpulannya
adalah kedudukan akad dalam Social Media Business tidak sah menurut Islam
karena tidak memenuhi salah satu syarat akad yakni dari awal mengandung cacat
dengan tidak disebutkan secara jelas mengenai kontak yang terdapat dalam paket
file. Obyek yang diperjualbelikan pada praktik ini ditinjau dari hukum Islam
adalah haram karena tidak terpenuhinya syarat-syarat obyek dan file tidak dapat
dikuasai secara nyata. 14
Dari telaah pustaka di atas, dapat diketahui persamaan dan perbedaan
dengan penelitian sebelumnya. Penelitian ini membahas mengenai akad dan
keuntungan yang hanya bermodal satu kali namun mendapatkan keuntungan yang
berali lipat dalam praktik jual beli database pin konveksi ditinjau dari hukum
Islam. Oleh sebab itu skripsi ini berjudul ‘’ Tinjauan Hukum Islam Terhadap
Praktik Jual Beli Database Pin Konveksi (Studi Kasus di Rista Bussiness
Sampung Ponorogo).
F. Metode Penelitian
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian lapangan (field research), yaitu
penelitian yang dilakukan di lapangan atau dalam masyarakat, yang berarti
14
Eka Rahayu, ‘’Tinjauan Hukum Islam Terhadap Praktik Social Media Bussiness (SMB) di
bahwa datanya diambil atau didapat dari lapangan atau masyarakat.15
Meskipun penelitian ini berbasis penelitian lapangan, penulis juga
menggunakan sumber-sumber data kepustakaan dengan memanfaatkan
buku-buku, hasil penelitian, dan internet digunakan untuk menelaah hal-hal
yang berkenaan dengan jual beli dalam Islam.
Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah pendekatan
kualitatif yaitu tata cara penelitian dengan menggunakan pengamatan atau
wawancara.16 Karena penelitian akan meneliti langsung mengenai jual beli
database pin konveksi di Ristaa Bussiness Sampung Ponorogo.
2. Kehadiran Peneliti
Dalam penelitian ini secara langsung dilakukan dilapangan untuk
memperoleh data yang peneliti butuhkan dan bertemu secara langsung
dengan pihak-pihak yang terkait dengan praktik jual beli database pin
konveksi ini.
3. Lokasi Penelitian
Dalam penelitian ini, lokasi yang diambil oleh peneliti yaitu penlitian
yang dilakukan di Rista Bussiness Desa Sampung Kecamatan Sampung
Kabupaten Ponorogo.
15
Jusuf Soewadji, Pengantar Metodologi Penelitian (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2012), 21. 16
12
4. Sumber Data
Adapun data-data yang penulis butuhkan untuk memecahkan masalah
yang menjadi pokok pembahasan dalam penyusunan skripsi ini diantaranya:
a. Penerapan akad dalam praktik jual beli database pin konveksi di Rista
Bussiness ponorogo
b. Pendapatan keuntungan yang diperoleh dari praktik jual beli database pin
konveksi di Rista Bussiness Sampung Ponorogo.
Berdasarkan data-data yang diteliti dalam penelitian ini, maka sumber
data yang diperlukan diantaranya:
a. Data primer
Data primer adalah jenis data yang diperoleh langsung dari
obyek penelitian dari sumber asli. Dalam hal ini, maka proses
pengumpulan datanya perlu dilakukan dengan memperhatikan siapa
sumber utama yang akan dijadikan objek penelitian.dalam penelitian
ini sumber primer berasal dari hasil wawancara peneliti dengan para
member penjual pin konveksi.17
b. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dalam bentuk yang
sudah jadi, sudah dikumpulkan dan diolah pihak lain, biasanya sudah
17
dalam bentuk publikasi. Data sekunder ini biasanya sebagai pelengkap
dari data primer.Sumber sekunder, diperoleh dari masyarakat.18
5. Teknik Pengumpulan Data
Tehnik yang dipakai untuk pengumpulan data dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut:
a. Tehnik wawancara
Wawancara merupakan salah satu metode dalam pengumpulan
data dengan jalan mengajukan pertanyaan secara langsung oleh
pewawancara (pengumpul data) kepada responden, dan jawaban-jawaban
responden dicatat atau direkam dengan alat perekam.19 Dalam wawancara
ini penulis melaksanakan wawancara terhadap para pihak atau member
yang terkait dengan praktik jual beli database pin konveksi.
b. Tehnik Observasi
Observasi merupakan tehnik pengumpulan data yang dilakukan
dengan cara mengadakan penelitian secara teliti, serta pencatatan secara
sistematis. Observasi ini dilakukan dengan cara mengamati proses
transaksi jual beli database pin konveksi di Rista Bussiness ini yang
berkaitan dengan sistemnya.
18 Ibid. 19
14
c. Tehnik Dokumentasi
Tehnik dokumentasi ini digunakan untuk memperoleh data
mengenai hal-hal atau variabel yang berupa transkip, catatan,buku, surat
kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya. 20
Dalam penelitian ini dokumentasi digunakan sebagai bahan untuk
mendukung analisa terhadap persoalan yang menjadi tema penelitian,
sehingga kesimpulannya akan bersifat lebih kredibel.
6. Analisis Data
Dalam menganalisa data yang bersifat kualitatif akan dilakukan tiga
tahapan, yaitu: reduksi data, display data dan mengambil kesimpulan dan
verifikasi dalam proses analisa. Dalam proses reduksi data, bahan-bahan yang
sudah terkumpul dianalisis, disusun secara sistematis, dan ditonjolkan
pokok-pokok permasalahanya atau yang mana dianggap penting. Sedangkan display
data merupakan proses pengorganisasian data sehingga mudah untuk
dianalisis dan disimpulkan. Proses ini dapat dilakukan dengan cara membuat
matrik, diagram, ataupun grafik.21
Kemudian data yang sudah difokuskan dan ditipologikan (dipolakan)
akan disusun secara sistematis untuk disimpulkan sehingga makna data bisa
ditemukan. Agar kesimpulan lebih mendalam dan akurat, maka data yang
20
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), 236.
21
baru bisa digunakan sehingga hasil penelitian diharapkan akan lebih
sempurna.22
Melalui tahapan kerja ini peneliti ingin mengungkapkan secara jelas
permasalahan yang ada yaitu, terkait tinjauan hukum islam terhadap akad
dalam praktik jual beli database pin konveksi dan keuntungan berkali lipat
yang diperoleh dalam praktik jual beli database pin konveksi ini.
7. Pengecekan Keabsahan Data
Kriteria yang digunakan dalam pengecekan data atau pemeriksaan
keabsahan data dalam penelitian ini adalah pengecekan dengan kriteria
kredabilitas. Kredibitas adalah suatu kriteria untuk memenuhi bahwa data dan
informasi yang dikumpulkan harus mengandung nilai kebenaran, yang berarti
bahwa penelitian kualitatif dapat dipercaya oleh pembaca.
Adapun dalam penelitian ini, peneliti dalam pemeriksaan keabsahan
hanya menggunakan cara triagulasi karena cara ini merupakan cara yang
paling sesui dengan penelitian yang dilakukan.adapun yang dikaksud
triangulasi yaitu verivikasi dengan menggunakan berbagai sumber informasi
dan berbagai metode pengumpulan data. Sedangkan triangulsi yang digunakn
dalam penelitian ini sebagai berikut: mendampingkan apa yang dikatakan
secara pribadi, membandingkan dari wawancara dengan isi dokumen terkait,
membandingkan apa yang di katakan orang tentang situasi penelitian dengan
16
apa yang dikatakan sepanjang waktu, dan membandingkan keadaan dan
perspektif seseorang dari berbagai pendapat dan pandangan orang lain.23
8. Tahap-tahapan Penelitian
Tahap-tahap yang berlaku untuk sebuah penelitian adalah:
a. Research planning merupakan perencanaan untuk penelitian. Penelitian merumuskan persoalan secara jelas, menentukan sumber data yang akan
diambil, dan selanjutnya menentukan metode yang akan ditempuh dan
dari sumber apa yang di dapatkan.
b. Data collection (pengumpulan data dan informasi). Agar pencapaian itu dapat diwujudkan maka pemilihan dan penentuan metode pengumpulan
data serta penentuan instrumen pengumpulan adalah instrumen yang harus
dicermati secara baik.
c. Data analiting yaitu, pengelolahan data hasil riset kegiatan analisis yang
meliputi: a) editing, pemeriksaan data yang berhasil dihimpun. b) cooding,
mengatur dengan memberikan tanda pada data yang terkumpul. c)
tabulating, membuat daftar klasifikasi bila diperlukan. d) analiting,
menganalisis data yang terkumpul.24
23
M. Junaidi Ghony dan Fauzan Al-manshur, Metodologi Penelitian Kualitatif (Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2012), 322-323
24
G. Sistematika Pembahasan
Untuk mempermudah pembahasan dalam penelitian ini akan disusun
dalam beberapa bab dan masing-masing bab dibagi menjadi sub-sub bab sebagai
berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini mengemukakan tentang latar belakang pemilihan judul
tinjauan hukum Islam terhadap praktik jual beli database pin
konveksi (studi kasus di Rista Bussiness Sampung Ponorogo).
Kemudian terdapat rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat
penelitian, kerangka teori, tinjauan pustaka, metode penelitian dan
sistematika pembahasan.
BAB II : LANDASAN TEORI
Berisi uraian mengenai landasan teori yang digunakan untuk
menganalisis permasalahan yang diangkat dalam skripsi ini. Dalam
bab ini diungkapkan mengenai konsep jual beli dalam Islam yang
meliputi dasar hukum jual beli, rukun jual beli, syarat jual beli atau
jual beli yang dilarang dalam Islam, pada sub berikutnya akan
diuraikan mengenai objek yang diperjualbelikan serta perolehan
18
BAB III : PRAKTIK JUAL BELI DATABASE PIN KONVEKSI DI RISTA
BUSSINESS SAMPUNG PONOROGO
Pada bab ini akan dijelaskan tentang data-data yang merujuk pada
himpunan dan wawancara serta berbagai dokumen yang penulis
telah kumpulkan serta telah dikonfirmasikan mengenai praktik jual
beli database pin konveksi. Dalam penjelasan gambaran umum
mengenai praktik jual beli pin konveksi meliputi sejarah berdirinya,
lokasi, dan obyek yang diperjualbelikan dalam jual beli ini.
Sedangakan penjelasan tentang mekanismenya atau cara kerjanya
meliputi transaksi jual beli pin konveksi serta perolehan bonus atau
keuntungan yang didapatkan. Dan inilah yang sangat penting karena
merupakan bagian permasalahan dalam penelitian ini untuk
menemukan hukum dari praktik jual beli database pin konveksi ini.
BAB IV : TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK JUAL
BELI DATABASE PIN KONVEKSI (Studi Kasus di Rista
Bussiness Sampung Ponorogo)
Bab ke IV ini sebagai hasil dari jawaban dan merupakan bab
terpenting untuk pembahasan status hukum dari akad dalam jual
beli database pin konveksi dan keuntungan atau bonus yang
BAB V : PENUTUP
Bab ini merupakan bab terakhir pembahasan skripsi yang
didalamnya berisikan kesimpulan sebagai jawaban dan rumusan
masalah, saran-kritik yang dilengkapi dengan lampiran-lampiran
sebagai solusi untuk kemajuan dan pengembangan pihak-pihak
yang terkait dalam permasalahan ini.
20 BAB II KAJIAN TEORI
A. Hukum Jual Beli dalam Islam 1. Pengertian Jual beli
Secara etimologi jual beli berarti al-mubadalah (saling tukar
menukar/barter).1 Selain itu, jual beli juga diartikan:
ئشب ئش ةلب اقم
Artinya: ‘’pertukaran sesuatu dengan sesuatu (yang lain).’’
Kata lain dari al-ba’y> adalah asy-syira>’, al-muba>dah, dan
at-tija>ra>h. Berkenaan dengan kata at-tija>rah, dalam al-Qur’an surat Fathir
ayat 29 dinyatakan ‘’Mereka mengharapkan tija>ra>h (perdagangan) yang
tidak akan rugi’’
Adapun jual beli menuurut terminologi adalah, para ualama berbeda
pendapat dalam mendefinisikannya, antara lain:
a. Ulama Hanafiyah
Jual beli adalah pertukaran harta (benda) dengan harta berdasarkan cara
khusus (yang diperbolehkan)
b. Menurut Imam Nawawi dalam Al-Majmu’
Jual beli adalah pertukran harta dengan harta untuk kepemilikan.
c. Menurut Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni
1
Jual beli adalah pertukaran harta dengan harta untuk saling menjadikan
milik. 2
2. Landasan Syara’
Dasar hukum jual beli adalah sebagai berikut:
a. Firman Allah dalam Q.S Al-Baqarah (2): 282
…
اوُدِهْشَتْساَو
ِنْيَديِهَش
ْنِم
ْمُكِلاَجِر
ْنِإَف
َْل
اَنوُكَي
ِْيَلُجَر
لُجَرَ ف
ِناَتَأَرْماَو
ْنَِّمِ
َنْوَضْرَ ت
َنِم
ِءاَدَهُّشلا
ْنَأ
َّلِضَت
اَُهُاَدْحِإ
َرِِّكَذُتَ ف
اَُهُاَدْحِإ
ىَرْخلأا
لاَو
َبْأَي
ُءاَدَهُّشلا
اَذِإ
اَم
اوُعُد
لاَو
اوُمَأْسَت
ْنَأ
ُهوُبُتْكَت
اًيرِغَص
ْوَأ
اًيرِبَك
َلِإ
ِهِلَجَأ
ْمُكِلَذ
ُطَسْقَأ
َدْنِع
َِّللّا
ُمَوْ قَأَو
ِةَداَهَّشلِل
َنْدَأَو
لاَأ
اوُباَتْرَ ت
لاِإ
ْنَأ
َنوُكَت
ًةَراَِتِ
ًةَرِضاَح
اَهَ نوُريِدُت
ْمُكَنْ يَ ب
َسْيَلَ ف
ْمُكْيَلَع
حاَنُج
لاَأ
اَهوُبُتْكَت
اوُدِهْشَأَو
اَذِإ
ْمُتْعَ ياَبَ ت
لاَو
َّراَضُي
بِتاَك
لاَو
ديِهَش
ْنِإَو
اوُلَعْفَ ت
ُهَّنِإَف
قوُسُف
ْمُكِب
اوُقَّ تاَو
ََّللّا
ُمُكُمِِّلَعُ يَو
َُّللّا
َُّللّاَو
ِِّلُكِب
ءْيَش
ميِلَع
(
٢٨٢
)
3Artinya : ...dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki
diantara kamu. Jika tidak ada (saksi) dua orang laki-laki, maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan diantara orang-orang yang kamu sukai dari para saksi (yang ada), agar jika seorang lupa maka yang seorang lagi mengingatkannya. Dan janganlah kamu bosan menuliskannya, untuk batas waktunya baik (utang itu) kecil maupun besar. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah, lebih dapat menguatkan kesaksian, dan lebih dapat menguatkan kesaksian,dan lebih mendekatkan kamu kepada ketidakraguan, kecuali jika hal itu merupakan perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak menuliskannya. Dan ambillah saksi apabila kamu berjual beli, dan janganlah penulis dipersulit dan begitu juga saksi, jika kamu lakukan (yang demikian), maka sungguh, hal itu suatu kefasikan pada kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan
2Rachmat Syafe’i,
Fiqih Muamalah (Bandung: CV . Pustaka Setia,2001),74. 3
22
pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S Al-Baqarah : 282).4
b. Firman Allah dalam Q.S An-Nisa (4): 29
يا
َنيِذَّلا اَهُّ يَأ
اوُنَمآ
َلا
اوُلُكْأَت
ْمُكَلاَوْمَأ
ْمُكَنْ يَ ب
ِلِطاَبْلاِب
ْنَأ َّلاِإ
َنوُكَت
ًةَراَِتِ
ْنَع
ضاَرَ ت
َلاَو ْمُكْنِم
اوُلُ تْقَ ت
ْمُكَسُفْ نَأ
َّنِإ
ََّللّا
اًميِحَر ْمُكِب َناَك
5Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling
memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka diantara kamu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.6
c. Hadith Nabi : ‘’ dari Rifa’ah ibn Rafi’ , bahwa Rasulullah Saw, dianya salah seorang sahabat mengenai pekerjaan (profesi) apa yang paling baik, Rasulullah Saw., ketika itu menjawab: usaha tangan manusia sendiri dan jual beliyang diberkati’’.
d. Hadith Nabi, Rasulullah menyatakan:
َو
اََّنَِّا
ُعْيَ بْلا
ْنَع
ضاَرَ ت
(
هاور
ىقهيبلا
و
نبا
هامج
)
Artinya: jual beli itu didasarkan kepada suka sama suka ‘’. (HR. Al
-Baihaqi)7
e. Hadith Nabi, Rasulullah Saw., bersabda: ‘’Pedagang yang jujur dan
terpercaya itu sejajar (tempatnya di surga) dengan para Nabi, para
shiddiqin, dan para syuhada’’. (HR. Tirmidzi). 8
4
Departemen Agama RI, AL-Qur’an dan Terjemahnya,(Jakarta: PT. Sygma Examedia Arkanleema,2009),48.
5
Al-Qur’an,4: 29. 6
. Departemen Agama RI, AL-Qur’an dan Terjemahnya,...83. 7
Ibnu Majah,2/737: 2185. 8
3. Rukun dan Syarat Jual Beli
Rukun (unsur) ba’y (jual beli) terdiri atas:
a. Pihak-pihak;
Yaitu: penjual, pembeli, dan pihak lain yang terlibat dalam
perjanjian tersebut.
b. Objek
Objek jual beli terdiri dari benda yang berwujud maupun yang
tidak berwujud, yang bergerak maupun yang tidak bergerak dan yang
terdaftar maupun yang tidak terdaftar.
Menurut Sayid Sabiq, syarat objek jual beli, yaitu:
1. Suci barangnya
2. Barangnya dapat dimanfaatkan
3. Barang tersebut milik sendiri, kecuali bila dikuasakan untuk
menjualnya oleh pemiliknya.
4. Barang tersebut dapat diserahterimakan
Bila barang tersebut tidak dapat diserahterimakan, seperti menjual
ikan yang masih ada di air, maka jual beli tersebut tidak sah. Hal ini
berdasarkan hadith: ‘’ janganlah kamu menjual ikan yang ada di
dalam air, karena itu mengandung ghara>r (ketidakpastian).
5. Barang tersebut dan harganya diketahui
Bila barang tersebut atau harganya tidak diketahui, maka jual beli
24
6. Barang tersebut sudah diterima oleh pembeli (qabdh).9
Menurut Kompilasi Hukum Ekonomi Syari’ah, syarat objek yang
diperbolehkan adalah:
1) Barang yang diperjualbelikan harus sudah ada
2) Barang yang diperjualbelikan harus dapat diserahterimakan
3) Barang yang diperjualbelikan harus berupa barang yang memiliki
nilai/ harga tertentu
4) Barang yang diperjualbelikan harus halal
5) Barang yang diperjualbelikan harus diketahui oleh pembeli
6) Kekhususan barang yang diperjualbelikan harus diketahui
7) Penunjukan dianggap memenuhi syarat kekhususan barang yang
dijualbelikan jika barang itu ada di tempat jual beli
8) Sifat barang yang yang dapat diketahui secara langsung oleh
pembeli tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut
9) Barang yang dijual harus ditentukn secara pasti pada waktu
akad.10
Para ahli hukum Islam mensyaratkan beberapa syarat pada objek
akad yaitu:
1) Objek akad dapat diserahkan atau dapat dilaksanakan.
9
Syamsul Anwar, Hukum Perjanjian Syariah,(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2010),191. 10
Objek akad disyaratkan harus dapat diserahkan apabila
objek tersebut berupa barang seperti dalam akad jual beli atau
dapat dinikmati atau diambil manfaatnya apabila objek itu
berupa manfaat benda seperti dalam sewa-menyewa benda
(ija>rah al-manafi’). Apabila objek akad berupa suatu perbuatan seperti mengajar, melukis, mengerjakan suatu pekerjaan itu harus
mungkin dan dapat dilaksanakan. 11
Dasar ketentuan ini disimpulkan dari beberapa hadith
Nabi Saw. Antara lain adalah :
1. Hadith Hakim Ibn Hazm yang menyatakan bahwa Nabi Saw.
Bersabda: ‘’jangan engkau menjual barang yang tidak ada padamu ‘’(HR. Nasa’i)12
2. Hadis Abu Hurairah yang mengatakan: Rasulullah Saw.
Melarang jual beli lempar krikil dan jual beli ghara>r. (HR.
Muslim).13
Larangan menjual barang yang tidak ada pada seseorang
dalam hadis pertama causa legis-nya adalah karena Nabi Saw.
Mempertimbangkan bahwa barang itu tidak dapat dipastikan
apakah akan dapat diserahkan oleh penjual atau tidak. Atas dasar
11
Syamsul Anwar,Hukum Perjanjian Syariah,...191. 12
An-Nasa’i, Sunan an-Nasa’i(a-Mujtaba),(Alleppo: Maktab al-Mathbu’at al-Islamiyyah, 1406/1096),VII/ 289: 4613.
13
26
itu disimpulkan suatu aturan umum mengenai objek akad, yaitu
bahwa objek tersebut harus merupakan barang yang dapat
dipastikan bisa diserahkan. Hadith kedua melarang jual beli
lempar kirkil dan jual beli ghara>r di sisni adalah objek yang
tidak dapat dipastikan apakah akan bisa diserahkan atau tidak.
Larangan dalam kedua hadith di atas dan banyak hadith
lain serupa diabstraksikan aturan umum bahwa objek akad harus
dapat dipastikan bisa diserahkan atau dilaksanakan.14
Ahli hukum Syafi’i mengatakan ‘’tidak dibenarkan jual
beli objek yang tidak ada, seperti buah yang belum jadi
berdasarkan alasan hadits riwayat Abu Hurairah bahwa Nabi
Saw. Melarang jual beli ghara>r, dan yang dimaksud dengan
ghara>r adalah sesuatu yang tidak dapat dipastikan perihalnya
dan tidak diketahui kelanjutannya. Terdapat beberapa
kemungkinan mengenai ada dan tidaknya objek pada waktu
penutupan akad sebagai berikut:
1. Objek ada secara sempurna pada waktu penutupan akad
2. Objek ada secara belum sempurna pada waktu penutupan
akad.
3. Objek tidak ada sama sekali pada waktu penutupan akad,
akan tetapi dipastikan akan ada di kemudian hari.
14
4. Objek tidak ada atau ada sebagian, akan tetapi tidak dapat
dipastikan adanya secara sempurna di kemudian hari.
5. Objek absolut tidak ada pada waktu penutupan akad dan
tidak mungkin ada dikemudian hari. 15
2) Objek akad harus tertentu atau dapat ditentukan
Syarat kedua objek akad adalah bahwa objek tersebut
tertentu atau dapat ditentukan. Dasar ketentuan ini adalah
larangan Nabi Saw. Mengenai jual beli krikil yang telah dikutip
di atas. Sehingga dari larangan ini diabstraksikan ketentuan
umum bahwa suatu objek akad harus tertentu atau dapat
ditentukan.
Dalam Pasal 303 Mursyid al-Hairan mengenai syarat ini
ditegaskan: untuk sahnya akad atas beban mengenaikekayaan
disyaratkan bahwa objek akad tersebut tertentu sedemikian rupa
sehingga dapat meniadakan ketidakjelasan yang mencolok baik
penentuan itu dilakukan dengan cara menunjuknya atau
menunjuk tempatnya yang khusus jika objek tersebut ada pada
waktu akad atau dengan menjelaskan kualifikasinya serta dengan
menjelaskan jumlahnya jika objek itu merupakan barang yang
dapat dihitung, atau dengan cara lain semacam itu yang dapat
menghilangkan ketidakjelasan mencolok; penyebutan jenis saja
15
28
tidak cukup untuk menggantikan penyebutan jumlah atau
kualifikasi.
Objek akad itu tertentu artinya diketahui dengan jelas
oleh para pihak sedemikian rupa sehngga tidak menimbulkan
sengketa. Ketika objek tidak jelas dan menimbulkan sengketa
maka akadnya tidak sah. Ketidakjelasan kecil (sedikit) yang
tidak membawa kepada persengketaan tidak membatalkan akad
.16
Apabila objek akad berupa benda, maka kejelasan objek
tersebut terkait apakah objek tersebut hadir (ada) di majelis akad
(tempat ditutupnya perjanjian) atau tidak. Bialamana objek
dimaksud ada (hadir) pada majlis akad, maka kejelasan objek
tersebut menurut ahli-ahli hukum Hanafi dan Hanbali, cukup
dengan menunjukkannya kepada mitra janji sekalipun objek
tersebut berada di dalam tempat tertutup seperti gandum,gula
dalam karung. Menurut ahli hukum Maliki penunjukan tidak
cukup melainkan harus dilihat secara langsung jika hal itu
memang dimungkinkan. Jika tidak mungkin dilihat, cukup
dideskripsikan. Ahli hukum Syafi’i mengharuskan melihat secara
langsung terhadap objek, baik objek itu hadir atau tidak di
tempat dilakukannya akad.
16
Objek akad yang tidak ada di majlis akad dapat
dideskripsikan dengan suatu keterangan yang dapat memberikan
gambaran yang jelas dan menghilangkan ketidakjelasan
mencolok mengenai objek. 17
3) Objek akad dapat ditransaksikan menurut syarak
Suatu objek dapat ditransaksikan dalam hukum Islam
apabila memenuhi kriteria-kriteria berikut:
1. Tujuan objek tersebut tidak bertentangan dengan transaksi,
dengan kata lain sesuatu tidak dapat ditransaksikan apabila
tranasaksi tersebut bertentangan dengan tujuan yang
ditentukan unutk sesuatu tersebut.
2. Sifat atau hakikat dari objek itu tidak bertentangan dengan
transaksi, dengan kata lain sesuatu tidak dapat ditransaksikan
apabila sifat atau hakikat sesuatu itu tidak memungkinkan
transaksi.
3. Objek tersebut tidak bertentangan dengan ketertiban umum.18
Sedangkan syarat jual beli adalah sebagai berikut:
1) Dilakukan saling ridha antara penjual dan pembeli.
17
Ibid,.204. 18
30
Rukun ridha:
Para ulama menyebutkan, rukun saling ridha ada 2:
a. Ilmu (mengetahui dan menyadari) dan
b. al-ikhtiyar (tidak ada paksaan). Sebagaimana dinyatakan
dalam kaidah fiqhiyyah yang artinya ‘’Unsur paksaan,
menggugurkan ridha’’.
2) Penjual dan pembeli termasuk orang yang boleh
bertransaksi.
Seseorang disebut memiliki ahliyah fi tasharruf ketika
baligh, berakal, dan rasyid (dewasa dalam harta). Anak
kecil, atau yang tidak dewasa, tidak boleh melakukan
transaksi, kecuali atas izin dan pengawasan walinya.
3) Orang yang akad harus pemilik, atau mewakili pemilik
karena seseorang tidak boleh men-transaksikan milik orang
lain. Baik menjual barang orang lain maupun membeli
dengan uang orang lain.
4) Barang yang dijual, manfaatnya mubah.
5) Barang memungkinkan untuk diserah-terimakan
6) Barang harus diketahui ketika akad
Untuk mengetahui barang, bisa dg 2 cara yaitu dengan
melihatnya secara langsung dan dengan memahami kriteria
7) Harga barang telah ditentukan ketika akad. 19
c. Kesepakatan
Kesepakatan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dan harapan
masing-masing pihak, baik kebutuhan hidup naupun pengembangan
usaha.
Ketika terjadi perubhan akad jual beli akibat perubahan harga,
maka akad terakhir yang dinyatakan berlaku.
Kesepakatan penjual dan pembeli meliputi:
1. Penjual dan pembeli wajib mnyepakati nilai objek jual beli yang
diwujudkan dalam harga.
2. Penjual wajib menyerahkan objek jual beli sesuai dengan harga yang
telah diepakatai, dan pembeli wajib menyerahkan uang atau benda
yang setara nilainya dengan objek jual beli.
3. Jual beli terjadi dan mengikat ketika objek jual beli diterima pembeli,
sekalipun tidak dinyatakan secara langsung
4. Pembeli boleh menwarkan penjualan barang dengan harga borongan,
dan persetujuan pembeli atas tawaran itu mengharuskan untuk
membeli keseluruhan barang dengan harga yang disepakati.
5. Pembeli tidak boleh memilah-milah benda dagangan yang
diperjualbelikan dengan cara borongan dengan maksud membeli
sebagian saja.
19
32
6. Penjual diperbolehkan menawarkan berbagai jenis barang dagangan
secara terpisah dengan harga yang berbeda.20
4. Akad Jual Beli
Kata akad berasal dari bahasa Arab al-‘aqad bentuk jamaknya
al-‘uqud yang mempunyai arti antara lain:
1. Mengikat (ar-rabith), yaitu mengumpulkan dua ujung tali dan mengikat
salah satunya dengan yang lain sehingga bersambung, kemudian keduanya
menjadi sepotong benda.
2. Sambungan (ial-‘aqd), yaitu sambungan yang memegang kedua ujung itu
dan mengikatnya.
3. Janji (al-‘ahdl), sebagaimana yang dijelaskan Al-Qur’an dalam Surat Ali
Imran : 76
َيِقَّتُمْلا ُّبُِيُ ََّللّا َّنِإَف ٰىَقَّ تاَو ِهِدْهَعِب َٰفَْوَأ ْنَم ٰىَلَ ب
Artinya: “(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang
dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.”
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian akad
paling tidak mencakup:
1. Perjanjian (al-‘ahd)
2. Persetujuan dua buah perjanjian atau lebih
3. Perikatan (al-‘aqd).21
20
Adapun secara istilah (terminologi) ada beberapa definisi tentang
akad, pengertian tersebut ada yang bersifat umum dan bersifat khusus.
1) Pengertian akad secara umum adalah:
Setiap yang diinginkan manusia untuk mengerjakannya, baik
keinginan tersebut berasal dari kehendaknya sendiri, misalnya dalam hal
wakaf, atau kehendak tersebut timbul dari dua orang, misalnya dalam hal
jual beli, ija>rah.
2) Pengertian akad secara khusus adalah:
Perikatan yang ditetapkan dengan ija>b qa>bul berdasarkan
ketentuan syara’ yang berdampak pada objeknya.
3) Pengertian akad menurut Hendi Suhendi adalah:
Berkumpulnya serah terima diantara dua pihak atau perikatan
seseorang yang berpengaruh pada kedua belah pihak.22
Akad dibagi menjadi beberapa macam sesuai dengan yang menjadi
segi tinjauan pembagiannya, adapun pembagian akad adalah sebagai berikut:
a) ‘Aqad Munjiz yaitu akad yang dilaksanakan langsung pada waktu
selesainnya akad. Pernyataan akad yang diikuti dengan pelaksanaan akad
ialah pernyataan yang tidak disertai dengan syarat-syarat dan tidak pula
ditentukan setelah adanya akad.
21
Qomarul Huda, Fiqh Muamalah 26. 22
34
b) ‘Aqad Mu’alaq yaitu akad yang dalam pelaksanaannya terdapat
syarat-syarat yang telah ditentukan dalam akad, misalnya penentuan penyerahan
barang-barang yang diakadkan setelah adanya pembayaran.23
c) ‘Aqad Mudhaf yaitu akad yang dalam pelaksanaanya terdapat syarat-syarat mengenai penangguhan pelaksanaan akad, pernyataan yang
pelaksanaannya ditangguhkan hingga waktu yang telah ditentukan.24
Dari pemaparan di atas maka penulis dapat menyimpulkan
bahwasannya yang dimaksud dengan akad adalah kesepakatan, perjanjian
antara dua belah pihak/lebih di mana ada suatu ikatan antara seseorang
dengan orang lain.
5. Macam-macam Jual Beli
Jua beli dapat ditinjau dari beberapa segi. Ditinjau dari segi
hukumnya, jual beli ada dua macam, jual beli yang sah menurut hukum dan
batal menurut hukum, dari segi objek jual beli dan segi pelaku jual beli.
Ditinjau dari benda yang dijadikan objek jual beli dapat dikemukakan
pendapat Imam Tqqiyuddin bahwa jual beli dibagi menjadi tiga bentuk yaitu
jual beli benda yang kelihatan atau nampak, jual beli yang disebutkan
sifat-sifatnya dalam janji dan jual beli benda yang tidak ada.25Jual beli benda yang
kelihatan adalah pada waktu melakukan akad jual beli benda atau barang
yang diperjual belikan ada di depan penjual dan pembeli. Hal ini lazim
23
Sohari Sahrani, Fikih Muamalah 47. 24
Hendi Suhendi, Fikih Muamalah 51. 25
dilakukan masyarakat banyak dan boleh dilakukan, seperti membeli beras di
pasar.26
Jual beli yang disebutkan sifat-sifatnya dalam perjanjian ialah jual
beli salam atau pesanan. Menurut kebiasaan para pedagang, salam adalah
untuk jual beli yang tidak tunai, salam pada awalnya berarti meminjamkan
barang atau sesuatu yang seimbang dengan harga tertentu, maksudnya ialah
perjanjian yang penyerahan barang-barangnya ditangguhkan hingga masa
tertentu, sebagai imbalan harga yang telah ditetapkan di akad.
Dalam salam berlaku semua syarat jual beli dan syarat-syarat
tambahannya seperti berikut:
1. Ketika melakukan akad salam disebutkan sifat-sifatnya yang mungkin
dijangkau oleh pembeli, baik berupa barang yang dapat ditakar,
ditimbang, maupun diukur.
2. Dalam akad harus disebutkan segala sesuatu yang bisa mempertinggi dan
memperendah harga barang itu, misalnya benda itu berupa kapas,
sebutkan jenis kapas saclarides nomor satu, nomor dua dan seterusnya.
3. Barang yang akan diserahkan hendaknya barang-barang yang biasa
didapatkan di pasar.
4. Harga hendaknya dipegang di tempat akad berlangusng.
Jual beli benda yang tidak ada serta tidak dapat dilihat ialah jual beli
yang dilarang oleh agama Islam karena barangnya tidak tentu atau masih
36
barang titipan yang akibatnya dapat menimbulkan kerugian pada salah asatu
pihak. Sementara itu, merugikan dan menghancurkan harta benda seseorang
tidak diperbolehkan.27
Ditinjau dari segi pelaku akad (subjek), jual beli terbagi menjadi tiga
bagian, yaitu dengan lisan, dengan perantara, dan dengan perbuatan.
Akad jual beli yang dilakukan dengan lisan adalah akad yang
dilakukan oleh kebanyakan orang. Bagi orang bisu diganti dengan isyarat
karena isyarat merupakan pembawaan alami dalam menampakkan kehendak.
Hal ini yang dipandang dalam akad adalah maksud atau kehendak dan
pengertian, bukan pembicaraan dan pernyataan.
Penyampaian akad jual beli melalui utusan, perantara, tulisan, atau
surat-menyurat sama halnya dengan ijab qabul dengan ucapan, misalnya via
Pos dan Giro. Jual beli ini dilakukan antara bpenjual dan pembeli tidak
berhadapan dalam satu majelis, tetapi melalui pos atau Giro, jaul beli seperti
ini diperbolehkan oleh syara’ dalam pemahaman sebagian ulama, bentuk ini
hampir sama dengan bentuk jual beli salam, hanya saja jual beli salam antara
penjual dan pembeli saling berhadapan dalam satu majelis akad, sedangkan
dalam jual beli via Pos atau Giro antara penjual dan pembeli tidak berada .28
Jual beli dengan perbuatan (saling memberikan) atau dikenal dengan
istilah mu’athah yaitu mengambil atau memberikan barang tanpa ijab dan
kabul, seperti seseorang mengambil dan memberikan barang tanpa ijab dan
27
Ibid,.76. 28
qabul, seperti seseorang mengambil rokok yang sudah bertuliskan harganya,
dibandrol oleh penjual dan kemudian diberikan uang pembayarannya kepada
penjual. Jual beli yang demikian dilakukan tanpa sighat ijab qabul antara
penjual dengan pembeli. 29
Jual beli yang dilarang dan batal hukumnya adalah sebagai berikut:
a. Barang yang dihukumkan najis oleh agama seperti anjing, babi, berhala,
bangkai, dan khamr.
b. Jual beli sperma (mani) hewan seperti mengawinkan seekor domba jantan
dengan betina agar dapat memperoleh turunan. Jual beli ini haram
hukumnya.
c. Jual beli anak binatang yang masih berada dalam perut induknya. Jual
beli ini dilarang, karena barangnya belum ada dan tidak tampak.
d. Jual beli dengan muhaqallah. Baqalah berarti tanah, sawah, dan kebun.
Maksudnya disini adalah menjual tanaman-tanaman yang masih di ladang
atau sawah. Hal ini dilarang karena ada persangkaan riba didalamnya.
e. Jual beli dengan mukhadharah, yaitu menjual buah-buahan yang belum
pantas dipanen, seperti menjual rambutan yang masih hijau, mangga yang
masih kecil-kecil, dan yang lainnya. Hal ini dilarang karena barang
tersebut masih samar, dalam artian mungkin saja buah tersebut jatuh
tertiup angin kencang atau yang lainnya sebelum diambil oleh si
pembelinya.
29
38
f. Jual beli dengan muammassah yaitu jual beli secara sentuh- menyentuh.
Hal ini dilarang karena mengandung tipuan dan kemungkinan akan
menimbulkan kerugian bagi salah satu pihak.
g. Jual beli dengan munabadzah, yaitu jual beli secara lempar melempar.
Hal ini dilarang karena mengandung tipuan dan tidak ada ijab dan qabul.
h. Jual beli dengan muzabanah,yaitu menjual buah yang basah dengan buah
yang kering, seperti menjual padi kering dengan bayaran padi basah,
sedangkan ukurannya dengan dikilo sehingga akan merugikan pemilik
padi kering.
i. Menentukan dua harga untuk satu barang yang diperjual belikan
j. Jual beli dengan syarat (iwadh mahjul). Jual beli seperti ini hampir sama
dengan jual beli dengan menentukan dua harga, hanya saja di sini
dianggap sebagai syarat, seperti sseorang berkata, ‘’ aku jual rumahku
yang butut ini kepadamu dengan syarat kamu mau menjual mobilmu
padaku’’.
k. Jual beli ghara>r yaitu jual beli yang samar sehingga ada kemungkinan
terjadi penipuan, seperti penjualan ikan yang masih di kolam atau
menjual kacang tanah yang atasnya terlihat bagus namun bawahnya jelek.
l. Jual beli dengan mengecualikan sebagian benda yang dijual, seperti
seseorang menjual sesuatu dari benda itu ada yang dikecualikan salah
m. Larangan menjual makanan hingga dua kali penakaran. Hal ini
menunjukkan kurangnya saling percaya antara penjual dan pembeli. 30
Ada beberapa macam jual beli yang dilarang oleh agama, tetapi sah
hukumnya,tetapi yang melakukannya mendapat dosa. Jual beli tersebut
anatara lain:
a. Menemui orang-orang desa sebelum mereka masuk ke pasar untuk
membeli benda-bendanya dengan harga yang semurah-murahnya,
sebelum mereka tahu harga pasaran, kemudian ia jual dengan harga yang
setinggi-tingginya.
b. Menawar barang yang sedang ditawar oleh orang lain.
c. Jual beli dengan Najasyi, ialah sseorang menambah atau melebihi harga
temannya dengan maksud memancing-mancing orang agar orang tersebut
mau membeli barang kawannya.
d. Menjual diatas penjualan orang lain, umpamanya seseorang berkata: ‘’
kembalikan saja barang itu kepada penjualnya, nanti barangku saja kau
beli dengan harga yang lebih murah dari itu.31
6. Khiy>ar Dalam Jual Beli
Kata khiy>ar dalam bahasa arab berarti pilihan. Sedangkan secara
terminologi khiy>ar mnurut para Ulama Fiqih ialah hak pilih bagi salah satu
atau kedua belah pihak yang melaksanakan transaksi untuk melangsungkan
30
Ibid.,79-81. 31
40
atau membatalkan transaksi yang disepakati sesuai kondisi masing-masing
pihak yang melakukan transaksi.32
Ulama membagi khiy>ar kepada beberapa macam, yaitu:
a. Khiy>ar Majlis yaitu antara penjual dan pembeli boleh memilih akan melnanjutkan jual beli atau membatalkannya, selama keduanya masih ada
dalam satu tempat (majlis). Khiy>ar majlis dapat dilakukan dalam
berbagai jual beli.
b. Khiy>ar syarat, yaitu penjualan yang didalamnya disyaratkan sesuatu baik oleh penjual maupun oleh pembeli.
c. Khiy>ar Aib, yaitu dalam jual beli ini disyaratkan kesempurnaan benda-benda yang dibeli.
d. Khiy>ar Ta’yin, yaitu hak memilih antara barang-barang yang diperjualbelikan.
e. Khiy>ar ru’yah, yaitu hak pilih bagi pembeli untuk menyatakan berlaku atas batalnya jual beli yang ia lakukan terhadap objek yang belum ia lihat
ketika akad berlangsung.
f. Khiy>ar Naqd, yaitu jual beli yang dilakukan oleh dua orang denga syarat bila pembeli tidak melakukan Khiy>ar ini dalam waktu tetentu, maka
tidak terjadi jual beli antara keduanya.
g. Khiy>ar Wasf, yaitu memilih membatalkan (fasakh) atau meneruskan jual beli pada saat ditemukna bahwa barang yang dibeli tersebut tidak sesuai
32
dengan sifat-sifat yang dikehendakinya. Menurut para ahli fikih,khiy>ar
wasf boleh diwarisi.
Adanya hak khiy>ar dimasksudkan guna menjamin agar akad yang
dilakukan benar-benar terjadi atas kerelaan penih pihak-pihak bersangkutan
karena adanya kerelaan itu merupakan asas bagi sahnya suatu akad. 33
7. Perselisih Dalam Jual Beli
Penjual dan pembeli dalam melakukan jual beli hendaknya berlaku
jujur, berterus terang dan mengatakan yang sebenarnya, jangan berdusta dan
bersumpah dusta, sebab sumpah dan dusta itu memghilangkan keberkahan
jual beli. Rasulullah saw. Bersabda:
ِةَك ْرَ بْلِل ةَقِحَْهُ ِةَعْلِِّسلِل ةَعَفْ نَم ُفْلَْلْ َأ
(
ملسم و ى ر اخبلا هاور
.)
Artinya: ”Bersumpah dapat mempercepat lakunya dagangan, tetapi dapat
menghilangkan berkah”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Para pedangan yang jujur, benar dan sesuai dengan ajaran Islam
dalam dagangnnya, mereka dikumpulkan dengan para nabi, sahabat dan
orang-orang yang mati syahid pada hari kiamat. Bila antara penjual dan
pembeli berselisih pendapat dalam suatu benda yang diperjualbelikan, maka
yang dibenarkan adalah kata-kata yang punya barang bila antara keduanya
tidak ada sanksi dan bukti lainnya.34
8. Larangan dalam Ekonomi Islam
33
Mardani , Hukum Sistem Ekonomi Islam ,172-173. 34
42
a) Riba
Riba secara etimologis adalah pertumbuhan, (growth), naik (rise),
membengkak (increase), dan tambahan (addition) atau sesuatu yang
lebih, bertambah, sebagaimana terdapat dalam QS. Al-Hajj (22):5,
An-Nahl (16): 92, QS. Ar-Rum (30): 39, dan QS. Fushilat (41):39.
Menurut Abdul Ghafur Anshori, istilah riba berasal dari kata
r-b-w, yang digunakan dalam Al-Qur’an sebanyak dua puluh kali. Di dalam
al-Qur’an riba dapat dipahami dalam delapan arti yaitu pertumbuhan,
peningkatan, bertambah, meningkat, menjadi besar, dan besar, dan juga
digunakan dalam artian bukit kecil. Walaupun istilah tampak dalam
beberapa makna, namun dapat diambil satu pengertian umum yaitu
meningkat (increase)baik menyangkut kualitas maupun kuantitas.35
Dengan kata lain riba artinya tumbuh dan membesar. Secara
terminologi, riba dapat diartikan sebagai pengambilan tambahan dari
harta pokok secara bathil, sehingga hukumnya diharamkan.
Macam-macam riba antara lain yaitu:
1) RibaQard
Yaitu suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang
disyaratkan terhadap yang berhutang.
2) Riba Jahiliyah
35
Yaitu riba yang terjadi karena adanya utang yang dibayar lebih
dari pokoknya karena peminjaman tidak mampu melunasi utangnya
setelah jatuh tempo. Ketidakmampuan mengembalikan utang ini
kemudian dimanfaatkan oleh kreditor untuk mengambil keuntungan.
Dalam perbankan syari’ah cara seperti ini dilarang karena merupakan
bagian dari riba. Oleh karena itu ulama memberikan definisi riba
jahiliyah yaitu utang dibayar lebih dari pokoknya karena si peminjam
tidak mampu membayar utangnya pada waktu yang ditetapkan..
3) Ribafadhl
Yaitu riba yang timbul akibat pertukaran barang sejenis yang
tidak memenuhikriteria secara kualitas, kuantitas, dan penyerahan yang
tidak dilakukan secara tunai, pertukaran jenis ini mengandung
ketidakjelasan (ghara>r) bagi kedua belah pihak terhadap barang yang
dipertukarkan. Dalam lembaga keuangan perbankan, riba fadhl dapat
ditemui pada transaksi jual beli valuta asing yang tidak dilakukan
secara tunai.
Dalam definisi lain, riba fadhl yaitu pertukaran anatar barang
sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda, sedangkan barang
yang dipertukarkan itu termasuk jenis ribawi.
4) Riba Nasi’ah
Yaitu riba yang timbul karena adanya utang piutang yang tidak
44
ghunmi) dan hasil usaha yang muncul bersama biaya (al-kharaj bi dhaman). Dengan demikian keuntungan (al-ghunmu) muncul tanpa
adanya risiko (al-ghunmi) atau hasil usaha (al-kharaj) yang diperoleh
tanpa adanya biaya modal (dhaman) akan mengakibatkan terjadinya
riba. Menurut definisi lain, riba nasi’ah yaitu penangguhan penyerahan
atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan jenis
barang ribawi lainnya. Riba nasi’ah muncul adanya perbedaan,
perubahan, atau tambahan anatara yang diserahkan saat ini dan
diserahkan kemudian.36
b) Ghara>r
Ghara>r secara etimologis berarti risiko, tiupan dan menjatuhkan diri atau harta pada jurang kebinasaan. Sedangkan secara terminologis
ghara>r adalah sebagai berikut:
a. Menurut UU No 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syari’ah, ghara>r yaitu transaksi yang objeknya tidak jelas, tidak dimiliki, tidak
diketahui keberadaannya, atau tidak dapat diserahkan pada saat
transaksi dilakukan kecuali diatur lain dalam syariah.
36
b. Menurut Rachmadi Usman, ghara>r adalah transaksi yang mengandung tipuan dari salah satu pihak sehngga pihak lain
dirugikan.
c. Imam Malik mendefinisikan ghara>r sebagai jual beli objek yang
belum ada dan dengan demikian belum dikatahui kualitasnya oleh
pembeli apakah kualitas barang itu baik atau buruk.
d. Menurut Ibn Hazim, terdapat ghara>r dalam suatu jual beli apabila
pembeli tidak mengetahui apa yang dibelinya dan penjual tidak
mengetahui apa yang dijualnya.
Dianatara penyebab terjadinya ghara>r adalah ketidakjelasan
pada barang atau harga. Ketidakjelasan pada barang disebabkan oleh fisik
barang tidak jelas, sifat barang tidak jelas, ukuran barang tidak
jelas,barang bukan milik penjual, seperti menjual rumah yang bukan
miliknya dan barang yang tidak dapat diserahterimakan, seperti menjul
jam tangan yang hilang.
Sedangkan ketidakjelasan pada harga disebabkan oleh penjual
tidak menentukan harga, penjual memberikan dua pilihan dan pembeli
tidak menentukan salah satunya dan tidak jelas jangka waktu pembayaran
Ghara>r dibedakan menjadi 3 macam yaitu:
a. Jual beli sesuatu yang tidak ada, seperti jual beli hablul habalah
b. Jual beli sesuatu yang tidak diserahterimakan, seperti unta yang
46
c. Jual beli sesuatu yang tidk dapat diketahui secara mutlak atau tidak
dapat diketahui jenis atau ukurannya.37
c) Maisir
Secara etimologis maisir yaitu memperoleh sesuatu dengan sangat
mudah tanpa kerja keras atau mendapat keuntungan tanpa kerja.
Sedangkan secara terminologis maisir adalah sebagai berikut:
a. Menurut UU No 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syari’ah, maisir adalah transaksi yang digantungkan kepada suatu keadaan yang tidak
pasti dan bersifat untung-untungan.
b. Menurut Muhammad Ayub, baik maisir maupun qimar dimaksudkan
sebagai permainan untung-untungan (game of chance). Dengan kata
lain, yang dimaksudkan dengan maisir adalah perjudian (gambling
dan wagering)
c. Menurut Rachmadi Usman, maisir adalah barang yang mengandung
unsur perjudian, untung-untungan atau spekulasi yang tinggi.
d. Menurut Ascarya, maisir adalah segala sesuatu yang mengandung
unsur judi, taruhan, atau permainan beresiko.38
d)Barang Haram
Barang yang diharamkan dilarang dijualbelikan. Dalam Islam,
barang haram diklasifikasikan kepada dua macam, yaitu:
37
Ibid.,104 38
1. Haram karena zat (substansi) nya misalanya:
a. Babi, anjing, dan anak yang lahir dari perkawinan keduanya.
b. Bangkai, kecuali ikan dan belalang
c. Binatang yang menjijikan sperti cacing,kutu,lintah,dan
sebagainya.
d. Binatang yang mempunyai taring
e. Binatang yang berkuku pencakar yang memakan mangsanya
dengan cara menerkam dan menyambar
f. Binatang yang dilarang oleh Islam untuk membunuhnya seperti
lebah, burung hud hud, kodok, dan semut.
g. Daging yang dipotong dari binatang halal padahal binatang
tersebut masih hidup
h. Binatang yang beracun dan membahayakan bila dimakan
i. Binatang yang hidup di dua alam seperti kura-kura, buaya, biawak
dan sebagainya.
j. Darah, urine, feses dan plasenta
k. Minyak, lemak dan tulang dari binatang telah disebutkan diatas
l. Binatang yang disembelih bukan atas nama Allah
m. Khamr (minuman keras)
2. Barang yang diharamkan bukan karena zat (substansi) nya tetapi
karena cara memperolehnya dengan jalan yang diharamkan seperti:
48
b. Merampok
c. Begal
d. Menipu
e. Menyuap
f. Korupsi 39
e) Zalim
Secara etimologis, zalim mempunyai arti bertindak lalim, atau
aniaya, mengurangi, menyimpang, menindas, bertindak
sewenang-wenang, dan tidak adil. Secara terminologis, zalim