• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor-faktor kualitas air

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Faktor-faktor kualitas air"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

KADAR AIR

Air : - bukan sebagai gizi

- sangat esensial dalam kelangsungan proses biokimiawi

Air dalam bahan makanan :

Air bebas : terdapat dalam ruang antar sel dan

inter-granular dan pori-pori pada bahan.

Air yang terikat secara lemah:

 terserap (teradsobsi) pada permukaan koloid makro

molekuler: seperti protein, pektin, pati, selulosa

 terdispersi diantara koloid tersebut  merupakan pelarut zat-zat dalam sel  mempunyai sifat air bebas

 dapat dikristalkan pada proses pembekuan

 Ikatan antara air dengan koloid berupa ikatan H

Air yang terikat kuat : membentuk hidrat, ikatan

bersifat ionik, sukar dihilangkan/diuapkan, tidak membeku pada 0oF

(3)

Faktor-faktor kualitas air

Sifat fisik: warna, bau, rasa, kekeruhan

Sifat kimiawi: padatan dan gas terlarut, pH, kesadahan

Kandungan mikrobia: alga, bakteri patogen, bakteri bukan patogen

Asal air Bahan

organik mikrobiaJumlah Mineral

Permukaan dapat tinggi dapat tinggi rendah

Sumur dapat tinggi dapat tinggi biasanya rendah Artesis rendah rendah tinggi

Perbedaan kandungan bahan organik, jumlah mikrobia dan mineral pada berbagai sumber air

(4)

Aktivitas air (Aw)

ERH

Aw =  100

Aw = aktivitas air

ERH = kelembaban relatif seimbang

Hukum Rault

Mw

Aw =  Mw +Ms

Aw = aktivitas air

Mw = jumlah mol air

(5)

Penentuan Kadar Air :

Metode pengeringan (thermogravimetri)Metode destilasi (thermovolumetri)

Metode khemisMetode fisis

Metode khusus : kromatografi NMR

(6)

1. Thermogravimetri

Prinsip :

menguapkan air yang ada dalam bahan dengan pemanasan kemudian menimbang bahan

sampai berat konstan.

mudah dan murah

Pengurangan berat = jumlah air dalam bahan

sampel : 1 – 2 g

Alat : botol timbang, oven, eksikator, timbangan

(7)

Kadar air dalam berat basah (wb = wet basis) a - b

ka =  x 100% a

k a = kadar air (% wb)

a = berat sampel sebelum pengeringan b = berat sampel sesudah pengeringan

Kadar air dalam berat kering (db = dry basis)

berat air

k.a =  x 100% berat bahan kering

(8)

Kelemahan :

1. Bahan selain air ikut hilang : alkohol,

asam asetat, minyak atsiri.

2. Dapat terjadi reaksi selama pemanasan

yang menghasilkan air/zat mudah

menguap yang lain.

gula : dekomposisi, karamelisasi

lemak : oksidasi

3. Bahan yang mengandung bahan yang

dapat mengikat air secara kuat sukar

melepaskan airnya meskipun

(9)

Untuk mempercepat penguapan air dan

mencegah reaksi lain  dilakukan pemanasan

dengan suhu rendah, tekanan vakum.

bahan kering (higroskopis) ditempatkan dalam

ruang tertutup yang kering (misal:

desikator/eksikator) yang telah diberi bahan penyerap air (kapur aktif; H2SO4; silika gel;

Al(OH)3; KCl; KOH; K2SO4; barium oksida/BaO)

Untuk mengetahui kejenuhan silika gel :

(10)

2. Thermovolumetri

Prinsip :

menguapkan air dengan zat-zat “pembawa” cairan kimia yang mempunyai td > air dan tidak bercampur dengan air dan mempunyai BJ < BJ air (toluen,

xylen, benzen, tetrakhloretilen, xylol)

Baik untuk menentukan k.air zat yang kandungan

airnya kecil

Oksidasi senyawa lipid dan dekomposisi senyawa

gula dapat dihindari

Bahan yang mengandung gula/protein tinggi sering

di asbes (serbuk)  mencegah superheating

Untuk memperluas kontak dengan cairan kimia dan

memperlancar destilasi pada bahan  + tanah

(11)

2. Thermovolumetri

Cara :

 Sampel (mengandung air ± 2 – 5 ml) ditambah

75 – 100 ml zat kimia.

 Panaskan sampai mendidih menguap

 Uap air dan zat kimia diembunkan tampung  Volume air dapat langsung diketahui

Alat penampung = tabung stark Dean

(12)

3. Metode kimiawi

a. Cara titrasi Karl Fischer (1935)

 Menitrasi sampel dengan larutan iodin dalam

metanol

 Reagen lain : Sulfur dioksida dan piridin

Metanol dan piridin  melarutkan Iodin dan sulfur

dioksida agar reaksi dengan air lebih baik, mengikat H2SO4 yang terbentuk. sehingga akhir titrasi dapat lebih jelas dan tepat

Selama ada air dalam bahan iodin bereaksi

Saat air habis  iodin akan bebas (warna

kuning coklat): titrasi dihentikan

Untuk memperjelas pewarnaan: dapat ditambahkan metilen biru  akhir titrasi berwarna

(13)

Cara titrasi Karl Fischer (1935)

Reaksi :

I2 + SO2 + 2 C6H5N  C6H5N.I2 + C6H5N.SO2

C6H5N.I2 + C6H5N.SO2 + C6H5N + H2O  2(C6H5N.HI) + C6H5N.SO3

C6H5N.SO3 + CH3OH  C6H5N(H)SO4CH3

I2 + metilen biru  hijau

Titrasi dilakukan dalam kondisi bebas pengaruh

kelembaban (ruang tertutup)

dipakai untuk penentuan kadar air : alkohol,

ester-ester, senyawa lipida, lilin, pati, tepung gula, madu dan bahan makanan yang

(14)

b. Cara Calsium Karbid

Dasar : CaC2 + H2O ←→ CaO + C2H2 ↓ diukur Cara pengukuran gas C2H2:

Menimbang campuran sebelum dan sesudah

reaksi. Kehilangan bobot = berat asetilen

 Mengumpulkan gas C2H2 yang terbentuk  ukur

volume  dianggap gas ideal

 Mengukur tekanan gas C2H2 yang terbentuk

 Dengan menangkap gas C2H2 dengan larutan Cu  tembaga asetilen : Gravimetri

Volumetri Kolorimetri

untuk analisa = tepung, sabun, kulit, biji panili,

(15)

c. Cara Asetil Khlorida

Dasar :

Reaksi asetilklorida + air

asam

titrasi

dengan basa

CH

3

COCl larutkan dalam toluol dan

dispersikan dalam piridin

H

2

O + CH

3

COCl

CH

3

COOH + HCl

Untuk : bahan minyak, mentega, margarin,

rempah-rempah dan bahan-bahan yang

(16)

4. Metode Fisis

Berdasar tetapan dielektrikum

Perlu kurva standar

hubungan antara

kadar air dan tetapan dielektrikum

Berdasar daya hantar listrik/resitensi

Alat : moisture meter

Berdasar resonasi nuklir magnetik

(Nuclear magnetic Number)

Dasar : sifat-sifat magnetik dari inti atom

(17)

ANALISA ABU DAN MINERAL

Abu : Zat organik sisa hasil pembakaran suatu bahan organik.

Kadar abu berhubungan dengan mineral suatu bahan. Mineral dalam suatu bahan :

Garam organik : garam-garam asam mallat, oksalat,

asetat, pektat.

Garam anorganik : garam fosfat, karbonat, khlorida,

sulfat, intrat.

Senyawa kompleks yang bersifat organis

Komponen mineral dalam suatu bahan :

Ca, P, Fe, Na, K, Mg, S, Co, Zn.

Penentuan konsentituen mineral :

Penentuan abu (total, larut dan tidak larut)Penentuan individu komponen AAS

Kegunaan analisa kadar abu

:- Menentukan baik tidaknya suatu proses pengolahan.Mengetahui jenis bahan yang digunakan

(18)

Penentuan kadar abu secara langsung (Cara kering)

Oksidasi semua zat organik pada suhu tinggi (500–600oC)

 penimbangan zat yang tertinggal setelah proses

pembakaran.

Bahan berkadar air tinggi  harus dikeringkan dulu.

Bahan yang mengandung banyak zat mudah menguap dan berlemak  pengabuan mula-mula dengan suhu rendah

sampai asam hilang.

Bahan yang membentuk buih  dikeringkan dulu dalam

oven dan ditambah zat anti buih (olive, parafin). Wadah : krus (porselin, silika, quarts, nikel, platina) Krus porselin : banyak dipakai

 murah

 berat konstan cepat dicapai

 mudah pecah

Krus porselin berlapis silika  asam karena terjadi

(19)

Krus dari gelas vycor  900oC, tahan asam dan

beberapa bahan kimia kecuali basa. Bahan basis  krus platina

Suhu pengabuan

 tergantung komponen yang ada, beberapa bahan

menguap/terdekomposisi pada t tinggi. K2CO3 – 700oC

CaCO3 – 600 – 650oC

MgCO3 – 300 – 400oC

 Ketiganya bersama  membentuk senyawa

(20)

Cara mempercepat pengabuan :

1. Mencampur bahan dengan pasir kwarsa

murni (bebas abu)

untuk memperluas

permukaan.

2. Menambahkan campuran gliserol-alkohol

ke dalam sampel sebelum pengabuan

terbentuk kerak poreus

oksidasi lebih

cepat.

3. Menambah H2O2 pada sampel untuk

membantu proses oksidasi bahan.

Pengabuan dilakukan dengan mulfle sampai

diperoleh abu berwarna putih keabu-abuan

(ada abu yang tidak berwarna putih tetapi

kehijauan, kemerah-merahan).

Waktu : 2 – 8 jam

berat konstan dengan

selang waktu pengabuan 30’.

(21)

Pengabuan secara tidak langsung (Cara basah)

Terutama untuk digesti sampel untuk penentuan

trace elemen dan logam-logam beracun.

Prinsip : memberikan bahan kimia tertentu ke

dalam bahan sebagai pengabuan, seperti :

 H2SO4 : oksidator kuat

 Campuran H2SO4 dan K2SO4  menaikan titik

didih

 Campuran H2SO4 dan HNO3

• oksidator kuat

• pengabuan = 350oC

 Asam perklorat dan HNO3

• untuk bahan yang sangat sulit teroksidasi • explosif

(22)

Penentuan abu tidak larut asam

Campur bahan dengan HCl 10%

aduk, panaskan, saring dg kertas Whatman

no.52

residu = abu tidak larut asam

Jika abu banyak

akibat pencucian bahan

tidak sempurna ataukontaminasi tanah

Penentuan abu larut air

Melarutkan abu dengan akuades

saring

filtrat dikeringkan

timbang residunya

untuk index kandungan buah dalam jelly

Alkalinitas abu

untuk uji asal bahan

abu dari sayuran dan buah-buahan:

bereaksi alkalis

Referensi

Dokumen terkait

Air minum yang baik adalah air minum tidak boleh mengandung racun, zat-zat kimia tertentu dalam jumlah melampaui batas yang telah ditentukan..

Bangunan pembawa mempunyai fungsi membawa/mengalirkan air dari sumbernya menuju petak irigasi. Bangunan pembawa meliputi saluran primer, saluran sekunder, saluran tersier

Warga desa Denai Kuala tidak mengetahui bahwa ada kemungkinan air laut yang terinstrusi ke dalam air tanah tersebut terdapat kandungan zat-zat kimia yang dapat

Reaktor koagulasi–flokulasi dilengkapi dengan alat pengaduk/agitator agar bahan kimia yang dibubuhkan dapat bercampur dengan air limbah.. Oleh karena kecepatan

Zat kimia ini adalah satu pelarut yang mutlak, yang mempunyai kekuatan untuk melarutkan banyak zat kimia yang lain, layaknya garam-garam, gula, asam, lebih dari satu

Senyawa X mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: merupakan cairan pada temperatur kamar dan tekanan normal; tidak bercampur sempurna dengan air; tidak menghilangkan warna larutan

Air tidak mengandung lumpur lebih dari 2 gram/liter karena dapat mengurangi daya lekat atau bisa juga mengembang (pada saat pengecoran karena bercampur dengan air) dan menyusut (pada

Terbuat dari bahan yang tidak mempengaruhi sifat sampel, baik sifat fisik maupun kimia sehingga sebisa mungkin menggunakan bahan wadah yang tidak memicu terjadi interaksi zat-zat