• Tidak ada hasil yang ditemukan

INTERAKSI EL-NINO, MONSUN DAN TOPOGRAFI LOKAL TERHADAP ANOMALI CURAH HUJAN DI PULAU JAWA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "INTERAKSI EL-NINO, MONSUN DAN TOPOGRAFI LOKAL TERHADAP ANOMALI CURAH HUJAN DI PULAU JAWA"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

INTERAKSI EL-NINO, MONSUN DAN TOPOGRAFI LOKAL

TERHADAP ANOMALI CURAH HUJAN DI PULAU JAWA

Haries Satyawardhana and Erma Yulihastin Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer, LAPAN Jl. Djunjunan 133, Bandung, Jawa Barat, Indonesia

Email: hariessatha@gmail.com ABSTRAK

Penelitian ini menggunakan data curah hujan TRMM

(Tropical Rainfall Measuring Mission) dan angin NNRP

(NCEP/NCAR Reanalysis Project) untuk melakukan satu

diheterogenitas spasial dari variabilitas iklim di Pulau Jawa. Kajian mengenai anomali curah hujan pada saat El Nino telah banyak dilakukan, El Nino membawa pengaruh kering di Pulau Jawa. Namun, dalam penelitian ini kajian El Nino dihubungkan dengan monsun Australia dan topografi lokal di Pulau Jawa. Hasil dari penelitian ini adalah adanya anomali positi fcurah hujan di Pulau Jawa pada saat El Nino terjadi pada bulan DJF (Desember, Januari, Februari). Hal ini disebabkan adanya anomali angin monsun selama El Nino. Pengaruh El Nino pada saat musim peralihan (SON – September, Oktober, November) adalah adanya penguatan angin monsun tenggara di Pulau Jawa. Sebaliknya pada saat DJF, terjadi pelemahan angin monsun barat laut yang menyebabkan kuatnya siklus diurnal baik angin darat-laut maupun angin lembah-gunung sehingga meningkatkan curah hujan di daerah pegunungan yang lebih dekat ke pantai selatan dibandingkan dengan pantai Utara Jawa. Oleh karena itu, variabilitas siklus diurnal berhubungan dengan

ketidak-simetrisan topografi lokal yang menyebabkan adanya

kecenderungan pola: basah untuk daerah selatan dan kering untuk daerah utara.

Keywords: curah hujan TRMM, AUSMI, SOI

ABSTRACT

This research using rainfall data from TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) and wind from NNRP (NCEP / NCAR

(2)

reanalysis Project) to study the spatial heterogeneity of climate variability in Java. The study of the precipitation anomalies during El Nino have been carried out, in which the influence of El Nino actually give a dry condition over Java. However, in this research study of the El Nino is associated with the Australian monsoon and the local topography in Java. The result is El Nino give a positive rainfall anomalies would occur in southern part of Java during DJF (December, January, and February). This due to the monsoon winds anomalies during El Nino, at which time the transitional seasons (SON - September, October, and November) has been strengthening of the southeast monsoon winds on the island of Java. In contrast, in DJF the northwest monsoon winds is weakening, which cause strong diurnal cycle both land-sea breeze or wind-mountain valleys thus increasing rainfall in mountainous areas, which are closer to the south coast compared to the northern coast of Java. Therefore, the variability of the diurnal cycle associated with non-symmetrical local topography that causes the tendency of patterns: wet to dry to the south and the north.

Keywords: TRMM rainfall, AUSMI, SOI

1 PENDAHULUAN

Iklim di Indonesia terutama yang berkaitan dengan variasi curah hujan dipengaruhi oleh sistem monsun Asia-Australia dan

interaksi laut-atmosfer pada skala luas seperti El Nino Southern

Oscillation (ENSO). Aldrian, et.al., (2007) menyatakan bahwa

monsun dan ENSO lebih banyak menjadi pendorong variasi

musim dan variasi interannual dari hujan dan kejadian ekstrem di

Indonesia.ElNino berpengaruh terhadap penurunan curah hujan di Benua Maritim Indonesia (BMI), namun tidak berlaku untuk semua wilayah, antara lain di selatan Jawa Barat (Qian, et.al, 2010). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan respons curah hujan terhadap kejadian El Nino di setiap daerah di BMI, khususnya di Pulau Jawa. Pengecualian yang terjadi selatan Jawa tersebut menarik untuk dikaji lebih lanjut,apalagi mengingat Pulau Jawa merupakan sentra pertanian (Malian, et.al., 2004).

(3)

Fenomena El Nino merupakan salah satu penyebab terjadinya perubahan intensitas curah hujan di Indonesia di mana pengaruh kering (basah) yang ditimbulkan oleh El Nino (La Nina) memegang peranan penting dalam prediksi onset monsun untuk penentuan kalender tanam di Indonesia. Selain itu, ENSO juga berpengaruh terhadap lama musim hujan maupun kemarau di Indonesia. Hal ini sesuai dengan Boer dan Subiah (2005) yang mengemukakan bahwa awal musim hujan pada tahun El Nino dapat mundur sampai 4-6 dasarian dan maju pada tahun La Nina.

Selain ENSO, fenomena monsun juga mempengaruhi pola musim hujan dan kemarau di BMI. Monsun merujuk pada siklus tahunan yang membedakan secara tegas keadaan atmosfer selama fase kering dan fase basah. Siklus tahunan ini membagi fase kering dan fase basah menjadi dua periode. Fase kering dipengaruhi oleh musim dingin yang terjadi di berbagai benua dengan massa udara di atmosfer yang bersifat dingin dan kering (Webster, et.al., 1998). Sebaliknya, fase basah dipengaruhi oleh musim panas dengan udara yang bersifat lembap. Monsun dibangkitkan oleh perbedaan pemanasan antara lautan dan daratan disebabkan oleh pergerakan semu matahari, bentuk dan topografi benua, baik Benua Asia, Eropa, Afrika, Maritim, Amerika dan Australia (Li dan Yanai, 1996; Hung, et.al., 2004; Chang, et.al., 2005). Adapun letak strategis geografis BMI yaitu berada di antara area perlintasan monsun regional yakni monsun Asia-Australia.

Angin monsun dan daerah curah hujan maksimum

selanjutnya sangat terkait dengan migrasi Inter-Tropical

Convegence Zone (ITCZ) di atas Jawa setiap tahun. Hal ini

mengakibatkan musim hujan selama musim dingin BBU (belahan bumi utara) dan musim kering selama musim panas BBU, dengan musim peralihan diantaranya. Apabila terjadi fenomena El Nino, maka akan terdapat gangguan terhadap ITCZ tersebut, sehingga terjadi inkonsistensi terhadap curah hujan di Pulau Jawa.

Makalah ini bertujuan untuk mengkaji variasi curah hujan terhadap kondisi topografi di Pulau Jawa akibat adanya pelemahan monsun yang diakibatkan fenomena El Nino. Pemahaman mengenai interaksi antara monsun dan El Nino ini penting mengingat fenomena ENSO dan monsun Asia-Australia

(4)

merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kondisi iklim di Indonesia. Selain itu penelitian ini juga mengkaji pengaruh topografi terhadap curah hujan dari pelemahan monsun akibat El Nino.

Gambar 1. Topografi Pulau Jawa, garis putus-putus (107.5° dan 110.5° BT) adala hgaris yang digunakan untuk analisis cross section yang digunakan di Bab 4.

2 DATA DAN METODOLOGI

2.1 DATA

Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data

curah hujan bulanan dari satelit TRMM (Tropical Rainfall

Measuring Mission) 3B43 dan data SOI yang didapatkan dari

http://www.bom.gov.au/. Indeks AUSMI didapatkan dengan menghitung rata-rata area angin zonal level 850 mb dari area 110°-130°BT, 15°LS-5°LU. Data curah hujan bulanan dari satelit berbentuk data grid dengan periode 1998-2011, dengan resolusi spasial 0.25°. Batas Wilayah Indonesia dalam penelitian ini adalah 5ºLU-11ºLS dan 95º-141ºBT. Data angin berasal

dariNCEP/NCAR Reanalysis Project (NNRP) II yang mempunyai

resolusi spasial 2.5° dan Data Era Interim dengan resolusi spasial 0.25° dan kedua data angin tersebut mempunyai temporal bulanan.

Pengolahan data menggunakan perangkat lunak GrADS untuk pengolahan spasial data TRMM dan penghitungan koefisien korelasi curah hujan dengan AUSMI, sedangkan perangkat lunak lain digunakan untuk pemrosesan data deret waktu untuk melihat koefisien korelasi AUSMI dan SOI, serta

(5)

untuk mengeplot cross section dari kedua daerah yang berbeda topografinya.

2.2 METODOLOGI

Metode penelitian dijelaskan sebagai berikut:

1) Penghitungan indeks untuk monsun Australia menggunakan data angin zonal NNRP level 850 mb, lalu dilakukan perata-ratan per musim untuk tiap tahun.

2) Analisis yang pertama dilakukan adalah mengkaji daerah yang curah hujannya dipengaruhi oleh monsun musim panas Australia, dengan melakukan korelasi secara spasial antara curah hujan TRMM dan AUSMI.

3) Setelah itu dilakukan analisis pengaruh ENSO terhadap monsun yang diwakili oleh SOI dan AUSMI (baik berupa deret waktu, deviasi maupun koefisien korelasinya). Hal ini penting untuk menentukan waktu dan tahun-tahun El Nino yang melemahkan monsun musim panas Australia (ditemukan korelasi yang tinggi pada bulan DJF).

4) Perata-rataan dilakukan secara klimatologis untuk tahun El Nino, selanjutnya diamati anomalinya berupa pengurangan atau penambahan curah hujan serta kecepatan angin monsun.

5) Analisis penampang melintang dilakukan untuk melihat pengaruh topografi terhadap anomali curah hujan yang terjadi selama DJF dan SON pada saat El Nino terjadi (garis putus-putus pada Gambar 1).

3 HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Interaksi Monsun Australia-ENSO

Korelasi AUSMI dengan curah hujan untuk di wilayah Indonesia, mendapatkan daerah yang berkorelasi tinggi adalah di bagian selatan Indonesia, termasuk Pulau Jawa dan sekitarnya, baik di daratan maupun perairan. Hal ini menandakan bahwa Indonesia bagian selatan dipengaruhi oleh monsun Australia dimana onset monsun Australia berdasarkan penelitian Kajikawa, et.al., (2009) menggunakan AUSMI terjadi pada bulan Desember-Februari. Hal ini mempunyai kesamaan dengan Indonesia bagian selatan yang sebagian besar mempunyai curah hujan maksimum pada bulan DJF.

(6)

Gambar 2. Korelasi spasial antara AUSMI dan curah hujan (TRMM), menggunakan data periode Januari 1998 – Februari 2011.

Gambar 2 menunjukkan korelasi spasial antara AUSMI dan curah hujan TRMM dengan periode data Januari 1998 – Februari 2011. Terlihat bahwa korelasi di Pulau Jawa antara 0.5-0.6.

Gambar 3 menunjukkan nilai SOI dan AUSMI yang menandakan adanya pelemahan monsun pada saat El Nino. El Nino ditandai dengan nilai SOI negatif pada tahun 1998, 02/03, 04/05, 06/07 dan 09/10, secara bersamaan nilai AUSMI pada bulan DJF pun menurun. Kajikawa, et.al, (2009) menyatakan bahwa El Nino memberikan efek negatif pada monsun musim panas Australia (DJF), dimana pada saat El Nino kuat, monsun musim panas Australia (yang merupakan periode basah di Australia) melemah. Dengan melemahnya angin monsun maka Australia mengalami penurunan curah hujan dibandingkan pada saat normal. Sebaliknya monsun musim panas Australia menguat apabila terjadi La Nina.

Analisis lebih lanjut digunakan standar deviasi untuk melihat besarnya penyimpangan yang disebabkan El Nino dan La

(7)

-7.0 -5.0 -3.0 -1.0 1.0 3.0 5.0 7.0 D JF 1 9 9 8 SO N 1 9 9 8 D JF 1 9 9 9 SO N 1 9 9 9 D JF 2 0 0 0 SO N 2 0 0 0 D JF 2 0 0 1 SO N 2 0 0 1 D JF 2 0 0 2 SO N 2 0 0 2 D JF 2 0 0 3 SO N 2 0 0 3 D JF 2 0 0 4 SO N 2 0 0 4 D JF 2 0 0 5 SO N 2 0 0 5 D JF 2 0 0 6 SO N 2 0 0 6 D JF 2 0 0 7 SO N 2 0 0 7 D JF 2 0 0 8 SO N 2 0 0 8 D JF 2 0 0 9 SO N 2 0 0 9 D JF 2 0 1 0 SO N 2 0 1 0 Tahun A U S M I -25.0 -20.0 -15.0 -10.0 -5.0 0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0 S O I AUSMI SOI

Nina (Gambar 4-a), serta digunakan scatter plot untuk melihat

korelasi antara kedua indeks (Gambar 4-b).

Gambar 4-a menunjukkan bahwa deviasi terbesar pada AUSMI terjadi pada Bulan Februari. Deviasi yang besar di bulan DJF ini ditengarai merupakan pengaruh dari ENSO. Fenomena ENSO yang ditunjukkan oleh SOI, mempunyai korelasi yang besar pada saat monsun musim panas Australia (4-b), di mana AUSMI

dan SOI mempunyai koefisien korelasi (r) 0.8 (r2=0.675),

sedangkan pada bulan lain deviasi tidak terlalu besar dan nilai korelasi tidak tinggi (tidak disertakan/digambarkan dalam makalah ini).

Gambar 3. Time series untuk AUSMI dan SOI, untuk tahun El Nino yang digunakan ditandai oleh lingkaran (DJF), dan kotak (SON).

Gambar 4. a) Rata-rata dan standar deviasi AUSMI selama

periode 1998 – 2011; b) Scatter plot antara kedua

indeks: SOI dan AUSMI pada DJF. -8 -6 -4 -2 0 2 4 6 8 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Bulan A U S M I R2 = 0.6753 0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 -30.0 -20.0 -10.0 0.0 10.0 20.0 SOI A U SMI a b

(8)

3.2 Dampak Interaksi Monsun-ENSO pada Skala Luas

Untuk menganalisis proses yang multi skala, dilakukan analisis skala luas untuk mengamati pola spasial El Nino dan Monsun Australia. Skala yang lebih kecil dijelaskan di bagian selanjutnya. Gambar 4 memperlihatkan komposit antara data curah hujan TRMM, angin dan divergensi selama SON (5-a) dan DJF (5-b). Perpindahan curah hujan monsunal di Asia-Australia disebabkan oleh perbedaan pemanasan yang dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu: adanya pergerakan semu matahari pada arah utara-selatan, dan perbedaan kontras panas skala besar

(planetary scale) antara daratan-lautan pada arah barat-timur

(benua Eurasia dan Samudera Pasifik), yang keduanya mempunyai kapasitas panas yang berbeda. Hasilnya adalah curah hujan maksimum yang bergerak tahunan secara kontinyu di antara barat laut dan tenggara. Hal ini menyebabkan curah hujan maksimum terjadi di selatan dan timur dataran tinggi Tibet pada saat musim panas BBU (JJA), lalu berpindah ke arah tenggara pada musim gugur BBU (SON), sampai ke Indonesia dan Australia pada musim dingin BBU (DJF), dan kembali ke arah barat laut pada saat musim semi BBU (MAM).

Gambar 5. Komposit rata-rata curah hujan TRMM (mm; warna), angin NNRP (m/s; vektor) dan divergensi (interval

5x10-6 s-1; kontur), untuk a) SON dan b) DJF, periode

tahun 1998 – 2011.

Namun karena panas inersia di lautan lebih besar

dibandingkan daratan, maka terdapat lag (terlambat) panas ± 1 –

2 bulan terhadap pergerakan semu matahari tersebut sehingga

(9)

menyebabkan angin monsun di Indonesia pada saat SON masih sama arahnya dengan JJA, yaitu dari Australia (tenggara) menuju Asia (barat laut) (Qian, et.al., 2010). Pada musim peralihan SON (Gambar 5-a) tampak bahwa angin monsun di Pulau Jawa mempunyai arah dari tenggara, sedangkan pada DJF (Gambar 5-b) berlawanan arah dengan SON yaitu angin monsun barat laut.

Sementara itu, curah hujan maksimun sangat berkaitan

dengan ITCZ (Inter-tropical Convergence Zone), dimana area

konvergensi di Indonesia lebih banyak terlihat di periode DJF dibandingkan SON. Pada saat SON, konvergensi terlihat di utara dan barat Indonesia, mencakup Laut China Selatan dan barat

Pulau Sumatra dengan konvergensi -3x10-6 s-1 (kontur pada

Gambar 5). Sedangkan konvergensi di Pulau Jawa hanya terlihat sedikit. Sementara pada DJF, hampir di semua daerah di Pulau Jawa terjadi konvergensi yang kuat sehingga menyebabkan sebagian besar daerah mempunyai curah hujan yang tinggi.

Gambar 6 menunjukkan anomali curah hujan dan angin pada tahun El Nino pada SON dan DJF, dimana pengaruh El Nino berkurang secara bertahap dari pra-monsun (SON) sampai masuk ke monsun basah (DJF). El Nino menguatkan angin monsun dari Australia pada SON, sehingga memberikan pengaruh yang lebih kering dibandingkan klimatologisnya. Hal ini dapat terlihat pada gambar 6-a, dimana terdapat anomali negatif dari curah hujan sehingga di seluruh daerah di Jawa mengalami penurunan curah hujan pada saat El Nino terjadi. Anomali angin pada Gambar 6, Gambar 7 (c), (d) dan (e) bukan menunjukkan arah angin, namun menunjukkan pengurangan vektor angin antara El Nino dan klimatologis. Pada Gambar 6-a pada SON di tahun El Nino, anomali arah angin masih terlihat timuran, yang menandakan bahwa angin monsun pada saat El Nino terjadi lebih kuat dibandingkan klimatologisnya. Hal ini yang menyebabkan pengurangan curah hujan SON pada saat El Nino. Sedangkan pada DJF (Gambar6-b) arah dan kecepatan angin pada saat El Nino sama dengan klimatologis nya, hanya angin baratan pada DJF di tahun El Nino melemah jika dibandingkan dengan klimatologisnya, hal ini menyebabkan pengurangan curah hujan di Jawa juga terjadi pada saat DJF. Halini sama dengan penelitian sebelumnya dimana pada saat El Nino terjadi anomali angin kearah timuran, yang sama arahnya dengan angin monsun

(10)

pada saat SON, namun berlawanan dengan monsun pada DJF (Hamada, et.al., 2002). Pada DJF, pelemahan monsun Asia pada saat El Nino terjadi sehingga mempengaruhi penurunan curah hujan di selatan Indonesia. Menariknya, anomali curah hujan yang positif justru terjadi di selatan Jawa Barat pada saat El Nino dan ini sesuai dengan penelitian sebelumnya (Qian, et.al., 2010), yang akan dibahas di bagian selanjutnya.

Gambar 6. Komposit anomali curah hujan TRMM (mm; warna) dan angin NNRP (m/s; vektor) pada saat El Nino untuk a) SON, dan b) DJF. Kotak merah adalah daerah yang terdapat anomali positif dari pelemahan monsun akibat El Nino. Tahun El Nino yang digunakan adalah 98, 02/03, 04/05, 06/07 dan 09/10.

3.3 Respons Interaksi Monsun-El Ninoterhadap Topografi di Jawa

Gambar 7 memperlihatkan data curah hujan TRMM dan angin selama SON (a) dan DJF (b), sedangkan komposit pada (c) dan (d) adalah anomali curah hujan selama El Nino dalam dua musim yang berbeda. Curah hujan meningkat secara bertahap dari pra-monsun (SON) sampai masuk ke monsun basah (DJF). Curah hujan yang tinggi terdapat di daratan jika dibandingkan dengan lautan. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan Qian (2008) bahwa curah hujan terkonsentrasi di pulau (daratan) dikarenakan adanya konvergensi angin laut ke daratan dan

a

)

b

)

(11)

konvergensi angin lembah ke pegunungan, sehingga menyebabkan penguatan proses konvektif. Hal ini menghasilkan curah hujan yang lebih tinggi pada DJF dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.

Curah hujan yang tinggi pada saat DJF, terdapat di Jawa tengah dengan lebih tinggi di sebelah utara dibandingkan selatan. Ini disebabkan oleh adanya angin monsun dari Asia yang melewati Laut China Selatan dan dibelokkan Pulau Sumatera dan sampai di utara Pulau Jawa. Namun pada saat El Nino, anomali curah hujan positif justru terjadi di bagian selatan Pulau Jawa.Pada Gambar 7 (e) menunjukkan bahwa pada DJF terlihat angin baratan di atas Pulau Jawa lebih kuat terjadi pada saaat El Nino jika dibandingkan dengan klimatologis-nya. Hal ini ditunjukkan oleh magnitudo yang bernilai positif di semua lokasi penelitian. Hal ini diakibatkan pelemahan Monsun Asia sebagaimana dijelaskan sebelumnya.

Pelemahan angin monsun pada saat DJF mengakibatkan pengurangan curah hujan di Pulau Jawa dan sekitarnya, namun dapat menguatkan siklus diurnal baik angin darat-laut maupun angin gunung-lembah (Qian, et.al, 2010). Hal ini dijelaskan oleh penelitian sebelumnya dengan menggunakan simulasi model RegCM3 yang mempunyai resolusi tinggi dengan menggunakan input data NNRP. Dimana Qian, et.al., (2010) menunjukkan bahwa pada pagi hari yaitu pada 01.00 - 13.00 WIB anomali angin menunjukkan karakter angin darat yang menyebar dari pulau Jawa menuju lautan di sekitarnya. Selama sore dan malam 13.00-01.00 WIB, anomali angin dan hujan menunjukkan pola angin laut, memusat dari arah laut utara dan selatan menuju ke tengah pulau, lebih dominan di pegunungan dekat pantai selatan Jawa. Anomali siklus diurnal dari angin dan curah hujan mempunyai fase yang sama dengan klimatologisnya (Hamada, et.al., 2002). Oleh karena itu siklus diurnal pada DJF di tahun El Nino menguat, dengan konvergensi yang intensif pada komponen angin lembah yang menuju ke arah gunung sehingga dapat meningkatkan curah hujan di atas pegunungan. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa angin monsun yang lebih lemah pada DJF selama El Nino mengurangi pengaruh dari panas lokal yang menggerakkan siklus diurnal angin, dan kemudian memperkuat angin darat-laut, angin lembah-gunung, sehingga membentuk

(12)

distribusi hujan di atas normal di wilayah pegunungan dalam skala lokal.

Gambar 7. Komposit rata-rata curah hujan TRMM (mm; warna) dan angin NNRP (m/s; vektor) pada a) SON, dan b) DJF, serta anomali curah hujan TRMM dan angin NNRP pada saat El Nino untuk c) SON, d) DJF dan e) Komposit magnitudo dan vektor selisih angin DJF (EN-Clim) dari Data Era Interim resolusi 0.25. Kotak merah adalah daerah yang terdapat anomali positif dari pelemahan monsun akibat El Nino.

a ) b ) c ) d) e)

(13)

Analisis lebih lanjut mengenai pengaruh topografi pegunungan selama kejadian El Nino yang berkaitan dengan pola anomali positif curah hujan di Jawa, akan dijelaskan pada Gambar 8. Curah hujan SON pada saat El Nino lebih kecil dari klimatologinya, ini ditunjukkan oleh anomali curah hujan yang bernilai negatif dari pantai utara sampai dengan selatan. Hal ini disebabkan oleh adanya sirkulasi skala besar yaitu kenaikan massa udara (konvergensi) yang tertekan selama El Nino akibat perpindahan Sirkulasi Walker. Anomali curah hujan mulai tinggi di area pegunungan yaitu di lintang 7° LS (Gambar 8-a). Sedangkan anomali negatif juga terdapat di area perairan sekitar Pulau Jawa yang konsisten dengan anomali divergensi level rendah (akibat pergeseran sirkulasi Walker) yang menurunkan curah hujan di BMI (diindikasikan oleh Gambar 4-a). Penguatan angin monsun tenggara selama SON pada tahun El Nino cenderung mengganggu panas lokal dan siklus diurnal angin sehingga kurang dapat mempengaruhi pengurangan hujan. Selain itu, penguatan angin monsun tenggara yang melewati gurun di Australia Utara telah menambah pengaruh kering di wilayah BMI, khususnya di Pulau Jawa dan sekitarnya.

Pada saat awal musim basah (wet season), di Pulau Jawa

terjadi pembalikan arah angin monsun dari timuran menjadi baratan (lihat Gambar 5-b dan Gambar 7-b). Dalam hal ini, terjadi anomali curah hujan positif ( Gambar 6-b dan 7-d) di selatan sebagian Jawa Barat (daerah pegunungan), namun anomali negatif terjadi di sebagian utara Jawa (daerah pantai) yang mengindikasikan kuatnya angin lembah yang memusat di puncak pegunungan sehingga menghasilkan curah hujan di atas

normal. Jika dibandingkan dengan daerah yang datar (flat),

terdapat pola deret waktu yang sama pada dua musim (SON dan DJF), di mana anomali curah hujan dari utara sampai selatan mempunyai nilai negatif. Hal ini berarti bahwa curah hujan pada saat El Nino selalu di bawah klimatologinya, hanya magnitudo curah hujan untuk DJF lebih tinggi daripada SON.

(14)

Gambar 8. Potongan melintang (cross section) utara-selatan untuk curah hujan TRMM (mm), dengan kondisi klimatologi (garis putus-putus), El Nino (solid) dan El-Nino dikurangi klimatologis (silang) di bujur 107,5° BT dan 110,5° BT dimana penggambaran pulau ditunjukkan oleh garis tebal di sumbu x. Curah hujan yang ditunjukkan adalah a) dan c) untuk bulan SON dan b) dan d) untuk bulan DJF, sedangkan a) dan b) menggambarkan kondisi pegunungan dan c) dan d) menggambarkan daerah yang datar.

S-O-N Daerah datar

-100 -50 0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 -6 .1 25 -6 .3 25 -6 .5 25 -6 .7 25 -6 .9 25 -7 .1 25 -7 .3 25 -7 .5 25 -7 .7 25 -7 .9 25 -8 .1 25 -8 .3 25 -8 .5 25 -8 .7 25 Lintang C H ( m m ) Clim EN EN-Clim D-J-F Pegunungan -100 -50 0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 -6 .1 25 -6 .3 25 -6 .5 25 -6 .7 25 -6 .9 25 -7 .1 25 -7 .3 25 -7 .5 25 -7 .7 25 -7 .9 25 -8 .1 25 -8 .3 25 -8 .5 25 -8 .7 25 Lintang C H ( m m ) Clim EN EN-Clim

d)

D-J-F Daerah datar -100 -50 0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 -6.1 25 -6.3 25 -6.5 25 -6.7 25 -6.9 25 -7.1 25 -7.3 25 -7.5 25 -7.7 25 -7.9 25 -8.1 25 -8.3 25 -8.5 25 -8.7 25 Lintang C H ( m m ) Clim EN EN-Clim a ) c ) b ) d)

(15)

4. KESIMPULAN

Pada periode SON selama tahun El Nino, terjadi pergeseran Sirkulasi Walker menyebabkan penguatan angin monsun tenggara di Pulau Jawa. Hal ini mengurangi intensitas siklus diurnal sehingga menyebabkan adanya anomali curah hujan negatif hampir di seluruh Pulau Jawa. Sedangkan kejadian El Nino pada saat DJF, hampir di semua daerah terjadi penurunan curah hujan, namun di daerah selatan Jawa Barat justru terdapat anomali curah hujan positif. Pelemahan monsun barat pada DJF akibat El Nino menyebabkanadanya anomali curah hujan negatif di pantai utara Jawa, namun meningkatkan curah hujan di pegunungan sebelah selatan Jawa.

Ucapan terima kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Didi Satiadi selaku Kepala Bidang Pemodelan Atmosfer yang telah mendukung dan memberikan masukan konstruktif kepada Penulis demi perbaikan substansif terhadap makalah ini.

DAFTAR RUJUKAN

Aldrian E., Gates, L.D. and Widodo, F.H., 2007: Seasonal variability of Indonesian rainfall in ECHAM4 simulations

and in the reanalyses: The role of ENSO, Theoretical and

Applied Climatology, 87, 41–59.

Boer, R., and A. R. Subbiah., 2005: Agriculture drought in Indonesia. Monitoring and Predicting Agricultural Drought: A Global Study, V. S. Boken, A. P. Cracknell, and R. L. Heathcote, Eds., Oxford University Press, 330–344.

Chang, C. P., Z. Wang, J. McBride, and C.-H. Liu., 2005: Annual cycle of Southeast Asia–Maritime Continent Rainfall and

Asymmetric Monsoon Transition. Journal of Climate, 18,

287–301.

Hamada, J. I., M. D. Yamanaka, J. Matsumoto, S. Fukao, P. A. Winarso, and T. Sribimawati., 2002: Spatial and temporal variations of the rainy season over Indonesia and their link

(16)

Hung, C.-W., X. Liu, and M. Yanai., 2004: Symmetry and asymmetry of the Asian and Australian summer monsoons.

Journal of Climate, 17, 2413–2426.

Kajikawa, Y., B. Wang, J. Yang., 2009: A Multi-time scale

Australian Monsoon Index. InternationalJournal of

Climatology, DOI: 10.1002/joc.1955.

Li, C., and M. Yanai., 1996: The onset and interannual variability of the Asian summer monsoon in relation to land–sea

thermal contrast. Journal Climate, 9, 358–375.

Malian, AH. Mardianto S., Ariani M., 2004: Faktor-faktor yang mempengaruhi Produksi, Konsumsi dan Harga Beras serta

Inflasi Bahan Makanan. Jurnal Agro Ekonomi, Vol. 22 no 2,

Oktober 2004: 119 – 146.

Qian, J. H., 2008: Why precipitation is mostly concentrated over

islands in the Maritime Continent. Journal of Atmospheric

Science, 65, 1428–1441.

Qian, J. H., A.W. Robertson and V. Moron., 2010: Interactions

among ENSO, the Monsoon, and Diurnal Cycle in Rainfall Variability over Java, Indonesia. Journal of Atmospheric

Science, 67, 3509-3524.

Webster P. J., V. O. Magaña, T. N. Palmer, J. Shukla, R. A. Tomas, M. Yanai and T. Yasunari., 1998: Monsoons: processes,

predictability, and the prospects for prediction. Journal of

Gambar

Gambar 1.  Topografi Pulau Jawa, garis putus-putus (107.5° dan
Gambar  2.  Korelasi  spasial  antara  AUSMI  dan  curah  hujan
Gambar  4-a  menunjukkan  bahwa  deviasi  terbesar  pada  AUSMI  terjadi pada  Bulan  Februari
Gambar 5.  Komposit rata-rata curah hujan TRMM (mm; warna),
+4

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan di atas, dapat dilihat bahwa besarnya angka gambaran sindroma dispepsia fungsional pada mahasiswa FK Ukrida

Kedung Pengilon Waduk Kedungsuren Brangsong kaliwungu selatan Mijen Singorojo Boja Limbangan Mijen Singorojo Sta 25 N E W S.

Bab IV berisi penjelasan analisis tentang perbedaan bentuk, tekstur, warna, posisi, gaya, dan ekspresi ornamen Liong pada atap Kelenteng Tay Kak Sie Semarang dengan

rekaman, dalam proses penelitian ini merupakan sumber data utama, dengan menggunakan teknik sampling, yaitu dengan cara mewawancarai kepada pihak kepala madrasah sebagai

Kebijakan yang ditinjau adalah kebijakan dalam bentuk regulasi yang mempunyai kaitan dengan penanganan kemacetan di Kota Makassar terutama pada Jalan Andi Pangeran Pettarani,

Goal dari The Spirit of Sobean ini adalah melahirkan destinasi baru di Buleleng selain 86 Daya Tarik wisata (DTW) di Buleleng. Penetapan 86 DTW ini merujuk pada

Pembelajaran matematika dengan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dapat meningkatkan task commitment ditunjukkan melalui pelaksanaan