“Membangun dan Menghadirkan
Perencana sebagai Sebuah Kekuatan dan
Profesi yang Dihargai dan Disegani dalam
Sebuah Sistem Perencanaan
Pembangunan di Indonesia”
Dr. Haryanto, SE, MA
Ketua Umum (KETUM) Pengurus Nasional AP2I 2015-2018
Eksistensi Profesi Perencana selama ini belum mendapatkan perhatian dari berbagai pemangku kepentingan. Untuk itu, Pengurus Nasional AP2I akan terus berupaya membangun dan menghadirkan Perencana sebagai sebuah kekuatan dan profesi yang dihargai dan disegani dalam sebuah sistem perencanaan pembangunan di Indonesia. Keyakinan tentang pengakuan sebuah profesi sejatinya tidaklah mudah. Oleh sebab itu, kita tidak boleh surut pada niat, dan tidak boleh berhenti hanya pada karya-karya normatif, lisan maupun tulisan, namun perlu diwujudkan dalam bentuk karya nyata yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Sudah saatnya, dan sudah waktunya Profesi Perencana untuk mengambil peran, ikut andil, dan menjadi bagian kekuatan dalam merumuskan tujuan, sasaran, strategi dan arah kebijakan Pembangunan Nasional dan Daerah. Untuk itu, Pengurus Nasional AP2I bersama para Anggotanya akan bergerak maju, pantang menyerah dan mendobrak budaya pesimisme para Profesional Perencana (Ketum )
MP: Apa yang melatarbelakangi pemikiran Bapak sehingga peran Perencana perlu diperkuat dalam Sistem Perencanaan Pembangunan?
KETUM: sebelum ke fokus pertanyaan, saya ingin jelaskan terlebih dahulu tentang definisi Perencana yang saya maksudkan disini. Dalam Kepmenpan 16/2001 tentang Jabatan Fungsional Perencana dan Angka Kreditnya, yang dimaksud Perencana adalah para pemegang Jabatan Fungsional Perencana. Tapi saya ingin menggarisbawahi disini bahwa dalam konteks Anggota Asosiasi Perencana Pemerintah Indonesia, Perencana adalah para ASN, baik Pejabat Administrasi, Pejabat Pimpinan Tinggi, maupun Pejabat Fungsional Perencana yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh untuk melaksanakan kegiatan
perencanaan pada unit kerja perencanaan pusat dan daerah. Dalam pemikiran saya, mestinya dibangun sebuah sistem bahwa perencana yang memegang jabatan
struktural (administrasi dan pimpinan tinggi) dan perencana yang memegang jabatan fungsional itu ibarat dua sisi koin mata uang. Kalau tidak ada salah satu mestinya koin itu tidak berfungsi, tapi kenyataannya kan tidak? Pengalaman yang saya dapatkan dari
berbagai pengamatan (meskipun tidak semuannya) menunjukkan bahwa di dalam sebuah unit kerja perencanaan, tidak ada Pejabat Fungsional Perencana pun tetap dapat berjalan. Lantas apa fungsinya pejabat fungsional perencana disana? Nah ini, dari sini saya akan menjelasakan pertanyaan Saudara. Perencana adalah profesi. Setiap profesi akan selalu berkaitan dengan kepentingan masyarakat. Baik dalam arti
indvidu maupun kelembagaan, di mana nilai- nilai kemanusiaan berupa keselamatan, keamanan, kelangsungan hidup, dan sebagainya perlu diperhatikan; maka untuk menjalankan suatu profesi harus terlebih dahulu ada izin khusus. Sebuah profesi biasanya memiliki asosiasi profesi, kode etik, serta proses sertifikasi, dan lisensi yang khusus untuk bidang profesi perencanaan. Disamping itu, juga sebuah profesi ditandai oleh empat karakteristik, yaitu adanya pengetahuan khusus, yaitu keahlian dan keterampilan yang dimiliki, adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi,
mengabdi pada kepentingan masyarakat, ada izin khusus untuk menjalankan suatu profesi. Pertanyaannya, adakah perencana yang tersertifikasi oleh Asosiasi Profesi Perencana di Indonesia ini? Apa jaminannya, bahwa
seseorang mengerjakan tugas-tugas perencanaan (seperti: RPJM, Renstra, RKP, RKA, kebijakan, program dan kegiatan) akan benar-benar berdampak kepada kepentingan masyarakat, dan nilai-nilai kemanusiaan berupa keselamatan, keamanan,
kelangsungan hidup masyarakat banyak telah diperhatikan?
MP: Perencana outputnya kan pelayanan kepada pemerintah bukan langsung kepada masyarakat, seperti dokter atau notaris yang langsung kepada masyarakat, kenapa profesi perencana perlu disertifikasi? KETUM: Tadi saya sduah jelaskan bahwa melayani masyarakat, itu dalam arti individu
dan kelembagaan. Seperti halnya, profesi pengadan barang dan jasa, profesi akuntan pemerintah itu tidak langsung memberikan pelayanan kepada individu, tetapi kepada masyarakat dalam arti kelembagan, danpara pemegang profesi tersebut tetap wajib bersertifikasi. Kata kuncinya adalah
pekerjaan yang memerlukan pengetahuan khusus, yaitu keahlian dan keterampilan yang dimiliki, serta adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi yang ditetapkan oleh organisasi profesi. Menyusun Renstra, RPJM, RKP, dan dokumen perencanaan lain, mungkin saja bisa dikerjakan oleh setiap orang lulusan S1, dengan membaca,
kemudian cut paste sana sini, akan selesai,
tetapi apakah telah mengikuti kaidah-kaidah, pengethaun, pendekatan, norma dan
prinsip-prinsip penyusunan dokumen perencanaan seperti diatur dalam UU 25/2004 tentang SPPN dan aturan turunannya? Siapa yang mengontrol dan
memberikan quality assurance?
MP: apakah model sertifikasi perencana ini tidak memperpanjang jalur birokrasi? dan mengakibatkan inefisiensi?
KETUM: Saya kira, cara melihatnya bukan masalah panjangnya birokrasi dan inefiensi, tapi harus dilihat secara holistik dan jangka panjang. Kita ini kan sudah memasuki MEA, dimana bukan hanya barang dan jasa saja
yang bebas keluar masuk tapi juga tenaga kerja. MEA mensyaratkan adanya
penghapusan aturan-aturan yang
sebelumnya menghalangi perekrutan tenaga
“Ketika, misalnya, penyusunan dokumen
perencanaan itu dipihak ketigakan, kalau
tidak ada sertifikasi kompetensi
perencana, apa instrumen untuk
screening kompetensi pihak ketiga
tersebut?”
kerja asing. Bukannya tidak mungkin nantinya, kalau para tenaga asing yang masuk ke Indonesia akan lebih baik dalam pembuatan kajian teknokratis, penyusunan Renstra, dan penyusunan dokumen
perencanaan. Ketika penyusunan dokumen perencanaan itu di pihak ketiga kan, kalau tidak ada sertifikasi kompetensi perencana, apa instrumen untuk screening pihak ketiga? Bahkan Bapak Wakil Presiden Jusuf Kalla, dalam sebuah kesempatan
pernah menyampaikan akan pentingnya sertifikasi, misalnya, bagi PNS yang
dipromosikan menduduki jabatan tertentu pada instansi pemerintah. Pegawai itu harus memenuhi standar kompetensi pada jabatan yang akan diamanatkan kepadanya, bukan berdasarkan suka atau tidak suka, atau kepentingan politis tertentu. Misalnya, kalau mau ke Dishub (Dinas Perhubungan) harus sertifikasi Dishub. Jangan Kepala Pasar, karena ikut kampanye (calon kepala daerah), jadi kepala Dinas Perhubungan. Menurut saya Beliau, Pak Jusuf Kalla, sangat visioner.
MP: Jadi sertifikasi perencana ini tidak hanya untuk ASN pak?
KETUM: Saya kira begitu. Semua orang yang terkait dengan pekerjaan perencanaan pembangunan (struktural, fungsional, dosen, para tenaga ahli, pengajar program studi di bidang perencanan pembangunan) kalau profesinya ingin diakui yang mestinya harus mempunyai sertifikasi profesi perencana.
MP: Bagaimana dengan para Pejabat
Pimpinan Tinggi di Bappenas atau Bappeda, misalnya? Apakah mereka juga perlu ujian sertifikasi perencana?
KETUM: Ya kita lihat nanti, kalau pekerjaan di Bappenas unit kerjanya di inspektorat, biro SDM, atau biro Umum, kan itu bukan
pekerjaan perencanaan dalam konteks KepmenPAN 16/2001 loh ya. Kalau yang di sektoral atau regional (termasuk di Bappeda)
itu kan memang pekerjaan sehari- hari bidang perencanaan pembangunan; sementara instrumen pemberian sertifikasi profesi bisa saja dilakukan dengan
mempertimbangkan pengalaman dan masa kerja misalnya.
MP: Terus apa peran Bappenas dalam Program Sertifikasi Perencana ini pak? KETUM: peran Bappenas dalam hal ini sangat penting saya kira, karena salah satu aspek regulasi, nantinya berupa Peraturan Kepala Bappenas. Kalau dalam pemikiran saya, aspek pendidikan dan pelatihan untuk sertifikasi dikoordinir oleh Bappenas, tetapi uji kompetensinya dilakukan oleh Asosiasi Perencana Pemerintah Indonesia (AP2I).
MP: Bukankah produk perencanaan itu bersifat kolektif, sementara profesi lebih bersifat individu?
KETUM: Begini, produk-produk yang bersifat kolektif akan berkualitas apabila dikerjakan oleh para individu yang kompeten. Ambil contoh lagi misalnya, pengadaan barang dan jasa, itu pekerjaan kolektif atau individu? Saya kira kolektif kan, dan dikerjakan oleh sebuh Tim yang disebut Panitia Pengadaan barang dan jasa. Panitia pengadaan itu teridiri atas individu-individu yang
tersertifikasi dibidang pengadaan barang dan jasa. Begitu juga dokumen perencanaan pembangunan , yang merupakan hasil kerja sebuah tim, dimana tim tersebut berisi orang-orang yang tersertifikasi.
MP: Bagaimana dengan penguatan peran perencana di bidang penganggaran?
KETUM: Wah ilmu saya tidak nyampai kalau
untuk menjawab pertanyaan itu. Tapi kalau boleh berpendapat (pendapat pribadi ya), begini, kita para ASN itu kan bekerja untuk satu, satu untuk negeri, yaitu kesejahteraan masyarakat Indonesia. Perencanaan diatur dengan UU 25/2014, sementara
penganggaran diatur dengan UU 17/2003. Ada PP No. 40/2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional, dan PP 90/2010 tentang Penyusunan RKA KL. Saya juga pernah membaca hasil kajian, memang kalau perencanan dan penganggaran dipisah potensi terjadi deviasi antara yang
direncanakan dengan yang dianggarakan mungkin saja terjadi. Untuk itu, mungkin perlu ada kajian untuk melihat kembali kedua PP ini. Kalau saya mempunyai
pemikiran, apakah tidak sebaiknya kedua PP itu dimungkinkan untuk mengatur agar lembaga/kementerian (baik itu Banggar DPR, Bappenas, dan Kementerian Keuangan, serta para K/L) dimungkinkan untuk duduk
bersama mulai dari proses perencanaan hingga penganggaran (penyusunan APBN). Toh pendekatan perencanaan sekarang kan holistik, integratif, tematik, spasial dengan
prinsip money follow program bukan lagi
money follow function,
jadi demi kesejahteraan rakyat, ya kita
hilangkanlah ego sektoral. Mungkin, Kementerian Keuangan mulai
dilibatkan, bukan hanya sekedar sebagai mitra kerja, ketika Bappenas menentukan prioritas nasional dalam RKP untuk memberikan masukan terkait estimasi kemampuan keuangan negara, sementara Bappenas juga terus dilibatkan pada tahap penyusunan RKA K/L hingga APBN untuk memastikan bahwa prioritas nasional telah mendapat kan alokasi yang semestinya. Ini pemikiran saya loh, mungkin selama ini sudah seperti itu, saya juga belum begitu mengetahui detail mekanismenya.
MP: Apakah Bapak yakin dengan sertifikasi profesi perencana, maka Peran Perencana akan semakin kuat dan lebih disegani? KETUM: Insya Allah ya....Coba kita bayangkan kalau kita mempunyai kompetensi yang tinggi di bidang tertentu, maka kita akan
disegani dan dicari-cari orang untuk melakukan