i
PENINGKATAN PEMBELAJARAN MEMBACA MEMINDAI MELALUI
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE
PAIR CHECK
PADA SISWA KELAS VIII MTS MASDARUL ULUM OGAN ILIR
TESIS
Nurjanah
Nomor Induk Mahasiswa 20136011036
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
iv
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Nurjanah
NPM : 20136011036
Program Studi : Pendidikan Bahasa Indonesia
Dengan ini saya menyatakan dengan sebenarnya bahwa tesis saya yang berjudul ‖ Peningkatan Pembelajaran Membaca Memindai Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Pair Check Pada Siswa Kelas VIII Mts Masdarul Ulum Ogan Ilir‖ adalah hasil karya saya sendiri. Apabila di kemudian hari ternyata bukan hasil karya saya, maka saya bersedia diberikan sanksi sesuai dengan pasal 70 Undang-Undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang berbunyi ― Lulusan yang karya ilmiah yang digunakan untuk mendapatkan gelar akademik, profesi, atau vokasi sebagaimana dimaksud pasal 25 ayat (2) terbukti merupakan jiplakan, saya bersedia menerima sanksi yang sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku atau denda sebesar Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan kurungan 2 tahun penjara. Demikianlah pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Palembang, Februari 2016
Yang menyatakan,
Nurjanah 20136011036
v
PERSEMBAHAN DAN MOTO
Tesis ini kupersembahkan kepada:
- Ibu (Hj. Kartina) dan ayahku (H. Majasun Naktra)
serta mertuaku (Almarhumah Maryam dan Almarhum Fuadi Zen) - Suamiku Muhamad Nasir, S.Pd., M.Pd.
- Anak-anakku terkasih: Carisna Aprianti dan Muhamad Nurhidayatullah Pascadh
- Saudara-saudaraku, Indra Kesuma Nusantara, Makenoru Wiriantini, Heri Ismawan, dan Elsiana
- Almamater tercinta
- Bapak dan Ibu dosen yang telah membekaliku ilmu pengetahuan dan teman-teman kuliah maupun seprofesi tanpa terkecuali yang selalu memotivasiku untuk menyelesaikan studi
Moto:
―Ilmu tanpa amal bagaikan sebuah pohon yang tak
berbuah‖
vi
KATA PENGANTAR
Tesis ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Magister Pendidikan (M.Pd.) pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Program Pascasarjana Universitas PGRI Palembang.
Dengan selesainya tesis ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr. Hj. Missriani, M.Pd. dan Bapak Drs. Sjech Dullah, M.Pd. selaku pembimbing, yang telah memberikan bimbingan selama penulisan tesis ini.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Rektor Universitas PGRI Palembang Bapak Dr. H. Syarwani Ahmad, MM, Direktur Program Pascasarjana Universitas PGRI Palembang Bapak Dr. Tahrun, M.Pd., dan Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Program Pascasarjana Universitas PGRI Palembang Ibu Dr. Hj. Missriani, M.Pd. yang telah memberikan kemudahan dalam pengurusan administrasi penulisan tesis ini.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Fiki Yanzelma, Kepala MTs Masdarul Ulum, yang telah memberikan kemudahan dalam pengumpulan data. Kepada Bapak Andi Sriwijaya, guru Bahasa Indonesia di MTs Masdarul Ulum, yang menjadi kolabarotor dalam penelitian ini, penulis haturkan terima kasih atas kesediaannya. Juga kepada segenap siswa MTs Masdarul Ulum yang telah secara sukarela membantu peneliti untuk membuktikan ketepatan penggunaan metode pembelajaran ini demi kemauan hasil belajar mereka. Juga pihak lain yang telah memberikan bantuannya sehingga tesis ini dapat penulis selesaikan.
Mudah-mudahan tesis ini dapat bermanfaat bagi pengajaran bidang studi Bahasa dan Sastra Indonesia di MTs Masdarul Ulum.
Palembang, Maret 2016
vii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN KOMISI PENGUJI ... iii
HALAMAN PERNYATAAN ... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN DAN MOTO ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GRAFIK ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
ABSTRAK ... xiv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 5 C. Pembatasan Masalah ... .... 5 D. Perumusan Masalah ... .... 6 E. Pemecahan Masalah ... .... 6 F. Tujuan ... ... 6 G. Manfaat Penelitian ... ... 6
viii
A. Kajian Teoretik ... 7
1. Konsep Penelitian Tindakan ... 7
2. Pengertian Membaca ... 19
3. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif ... 31
4. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Pair Check... 33
B. Temuan Penelitian Terdahulu yang Relevan ... 36
C. Kerangka Pikir ... ... 38
D. Hipotesis Tindakan ... 39
E. Kriteria Keberhasilan PTK ... 39
BAB III RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN ... 41
A. Subjek Penelitian ... 41
B. Waktu dan Lamanya Tindakan ... 41
C. Lokasi Penelitian ... 42
D. Prosedur Penelitian ... 42
E. Teknik Pengumpulan Data ... 46
F. Teknik Analisis Data ... 47
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 53
A. Hasil Penelitian Siklus I ... 53
1. Perencanaan Tindakan ... 53
2. Pelaksanaan Tindakan ... 54
3. Observasi ... 55
4. Refleksi ... 69
ix
1. Perencanaan Tindakan ... 72
2. Pelaksanaan Tindakan ... 73
3. Observasi ... ... 75
4. Refleksi ... 90
C. Pembahasan Hasil Penelitian ... 91
D. Keterbatasan Penelitian ... 102
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 103
A. Simpulan ... ... 103
B. Saran ... ... 104
x
DAFTAR TABEL
Tabel 1 : Membaca Memindai ... 31
Tabel 2 : Jadwal Kegiatan ... 41
Tabel 3 : Penilaian Terhadap Lima Deskripsi ... 45
Tabel 4 : Observasi Guru ... 45
Tabel 5 : Penilaian Kegiatan Siswa Selama Pbm ... 47
Tabel 6 : Indikator Penilaian ... 48
Tabel 7 : Rincian Perolehan Nilai Tiap Siswa ... 49
Tabel 8 : Hasil Observasi Guru ... 57
Tabel 9 : Aktivitas Siswa Membaca Memindai ... 62
Tabel 10 : Hasil Belajar Siswa Membaca Memindai ... 65
Tabel 11 : Hasil Tes Yang Dicapai Siswa ... 66
Tabel 12 : Hasil Observasi Guru Siklus Ii ... 78
Tabel 13 : Aktivitas Siswa Membaca Memindai ... 82
Tabel 14 : Hasil Belajar Siswa Membaca Memindai ... 85
Tabel 15 : Hasil Tes Yang Dicapai Siswa ... 87
Tabel 16 : Distribusi Frekuensi Tes Siklus I Dan II ... 93
xi
DAFTAR GRAFIK
Grafik 1 : Observasi Guru pada Siklus I ... 59
Grafik 2 : Data Observasi Siswa pada Siklus I ... 63
Grafik 3 : Sebaran Nilai Tes Siklus I ... 66
Grafik 4 : Sebaran Nilai Tes Siklus I ... 67
Grafik 5 : Persentase Nilai Siklus I ... 68
Grafik 6 : Ketuntasan Siklus I ... . 69
Grafik 7 : Observasi Guru pada Siklus II ... 79
Grafik 8 : Aktivitas Siswa pada Siswa pada Siklus II .. 83
Grafik 9 : Sebaran Nilai Tes Siklus II ... 86
Grafik 10 : Persentase Nilai Siswa Siklus II ... 88
Grafik 11 : Persentase Nilai Siswa Siklus II ... 88
Grafik 12 : Ketuntasan Siklus II ... .. 89
Grafik 13 : Nilai Tes Siklus I dan II ... 94
Grafik 14 : Frekuensi Nilai Tes Siklus I dan II . 96 Grafik 15 : Persentase Nilai Tes Siklus I dan II ... 97
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 : Empat Langkah PTK Model Lewin... 12 Gambar 2 : Penelitian Tindakan Menurut Elliot ... 13 Gambar 3 : Penelitian Model Dave Ebbut ... 15 Gambar 4 : Penelitian Model Kemmis Dan Mc Tagart ... 16 Gambar 5 : Siklus Tindakan Kelas ... 43
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Lembar Observasi Guru ... 108
Lampiran 2 : Lembar Observasi Siswa ... 112
Lampiran 3 : Instrumen Tes Membaca Memindai ... 113
mpiran 4 : RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), Siklus I, dan Siklus ... 118
Lampiran 5 : Dokumentasi Foto ... 122
Lampiran 6 : Kartu Bimbingan `... ... 130
Lampiran 7 : Surat Izin Penelitian ... 135
Lampiran 8 : Surat Keterangan Meneliti ... ... 136
1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) disebutkan bahwa mata pelajaran bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulisan.
Salah satu keterampilan bahasa yang harus dikuasai dan dipahami dengan baik oleh siswa agar mampu berkomunikasi seperti dimaksud adalah keterampilan membaca. Menurut Iskandarwassid (2013:245), ―Keterampilan membaca merupakan suatu keterampilan yang sangat unik serta berperan penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan, dan sebagai alat komunikasi bagi kehidupan manusia.‖
Dijelaskan Tampubolon (2015:48), salah satu tujuan membaca adalah menemukan informasi fokus. ―Informasi fokus dapat ditemukan di bagian atau berbagai bagian tertentu dari bacaan. Untuk menemukan informasi fokus dengan efisien, pada umumnya teknik yang dipergunakan adalah dengan teknik baca tatap (scanning) atau membaca memindai.‖
Secara rinci dipaparkan Tampubolon (2015:49) bahwa pembaca dapat mempergunakan teknik baca tatap (scanning), yaitu membaca dengan cepat dan dengan memusatkan perhatian untuk menemukan bagian bacaan yang berisi informasi fokus yang telah ditentukan, dan seterusnya membaca bagian itu dengan teliti sehingga informasi fokus itu ditemukan dengan tepat dan dipahami benar.
Dalam membaca memindai pembaca harus menemukan keterangan penting yang diperlukan dalam waktu relatif singkat. ‖Guru harus memiliki pemahaman yang luas dan tinggi dari prinsip-prinsip, teori-teori, dan praktik-
2
praktik yang berhubungan dengan membaca pada seluruh tingkatan,‖ (Tarigan, dkk, 2011:82). Hal ini perlu dilakukan agar aktivitas siswa dapat berkembang secara baik. Namun, kenyataan di lapangan siswa kelas VIII MTs. Masdarul Ulum masih mengalami kesulitan dalam memahami ragam wacana, misalnya mencari informasi yang terdapat dalam sebuah wacana sehingga kemampuan membaca siswa masih rendah, khususnya dalam membaca memindai.
Pengalaman peneliti selama ini, pada umumnya siswa kelas VIII masih mengalami kesulitan dan terkendala dalam membaca memindai. Berdasarkan hasil ulangan membaca memindai tahun 2013--2014 dan 2014--2015 nilai siswa kelas VIII MTs Masadarul Ulum Ogan Ilir masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Disebut mencapai KKM jika persentase siswa yang mendapat nilai 65--100 lebih dari 85%. Hasil yang diperoleh dari membaca memindai tahun 2013--2014 dari 26 siswa, 10 siswa (38,5%) memperoleh nilai dengan persentase pencapaian pembelajaran 40--55 yang termasuk kriteria sangat kurang, 5 siswa (19,2%) memperoleh nilai dengan persentase pencapaian pembelajaran 56--64 yang termasuk kriteria kurang, 8 siswa (30,8%) memperoleh nilai dengan persentase pencapaian pembelajaran 65--75 yang termasuk kriteria cukup, 3 siswa (11,5%) memperoleh nilai dengan persentase pencapaian pembelajaran 76--85 yang termasuk kriteria baik. Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa dari 26 siswa, yang mendapat nilai 65--100 hanya berjumlah 11 orang (42,3%).
Pada tahun 2014--2015 dari 25 siswa, 8 siswa (32%) memperoleh nilai dengan persentase pencapaian pembelajaran 40--55 yang termasuk kriteria sangat kurang, 3 siswa (12%) memperoleh nilai dengan persentase pencapaian pembelajaran 56-64 yang termasuk kriteria kurang, 7 siswa (28%) memperoleh nilai dengan persentase pencapaian pembelajaran 65--75 yang termasuk kriteria cukup, 5 siswa (20%)
3
memperoleh nilai dengan persentase pencapaian pembelajaran 76--85 yang termasuk kriteria baik, hanya 2 siswa (8%) memperoleh nilai dengan persentase pencapaian pembelajaran 86--100 yang termasuk kriteria sangat baik. Di tahun ini, tidak ada siswa yang memperoleh nilai dengan persentase pencapaian pembelajaran 30--39 atau yang termasuk kriteria gagal. Berdasarkan data yang dirincikan di atas, dapat diketahui bahwa ternyata siswa yang mendapat nilai 65--100 hanya berjumlah 14 orang (56%).
Ristiani (dalam Tarigan, dkk, 2011:167) menyatakan bahwa:
―Keterampilan membaca siswa SMP umumnya tidak sama. Ada yang baru memiliki keterampilan dalam membaca sebagian saja, ada pula yang ternyata telah menguasai keterampilan yang sempurna. Tugas guru lah dalam menghadapi anak yang lambat atau yang kurang Sehingga hasilnya pun bisa menjadi lebih baik. Di samping itu mengadakan latihan
kelompok, melaporkan keberhasilan mereka dan
mengorganisasikan bahan lain kepada mereka. Hal ini
dilakukan mengingat banyaknya jumlah siswa dalam kelas, dan mungkin guru pun mengalami kesulitan dalam pendekatan
terhad individu.‖
Untuk itu, guru harus dapat meningkatkan keterampilan membaca anak didiknya. Guru harus dapat membantu siswa untuk mengatasi masalah yang dihadapi siswanya. Salah satunya dengan menggunakan model pembelajaran yang bervariasi dan sesuai dengan materi pembelajaran maupun karakteristik siswa.
Agar hasil belajar maksimal, faktor yang menentukan adalah penggunaan model pembelajaran kooperatif. Daryanto (2012:229) mengemukakan model pembelajaran kooperatif dipandang sebagai proses pembelajaran yang aktif, sebab peserta didik akan lebih banyak belajar melalui proses pembentukan dan penciptaan, kerja dalam kelompok dan berbagi pengetahuan serta tanggung jawab individu merupakan kunci keberhasilan pembelajaran.
Begitu juga pendapat yang dikemukakan Aunurahman (2009:140), ―Keberhasilan proses pembelajaran tidak terlepas dari kemampuan guru mengembangkan dan menggunakan model-model
4
pembelajaran yang berorientasi pada peningkatan intensitas keterlibatan siswa secara efektif dalam proses pembelajaran. Pengembangan model pembelajaran yang tepat pada dasarnya bertujuan untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat belajar secara aktif dan menyenangkan sehingga siswa dapat meraih hasil belajar dan prestasi yang optimal.‖
―Pemilihan model pembelajaran hendaknya dilandasi prinsip efisiensi dan efektivitas dalam mencapai tujuan pembelajaran dan tingkat keterlibatan anak didik. Pemilihan model pembelajaran yang tepat diarahkan agar peserta didik dapat melaksanakan kegiatan secara optimal,‖ (Uno, 2012:9)
Salah satu model pembelajaran kooperatif yang dapat digunakan, menurut Taniredja (2014:120) adalah Model Pembelajaran Pair Check. Dalam pembelajaran membaca pun, tentunya penggunaan model pembelajaran kooperatif pair check perlu diupayakan secara optimal. Hal itu diharapkan agar siswa terbiasa bersikap kritis dan peka dalam menanggapi berbagai fenomena dan makna yang terdapat di dalam sebuah tulisan dengan ragam yang berbeda.
Berdasarkan permasalahan yang ditemukan dalam pembelajaran membaca memindai di MTs. Masdarul Ulum Ogan Ilir seperti dipaparkan di atas, peneliti perlu melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul ―Peningkatan Kemampuan Membaca Memindai Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Pair Check Siswa Kelas VIII MTs. Masdarul Ulum Ogan Ilir‖.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan permasalahan yang ditemui selama ini dalam pembelajaran membaca, khususnya membaca memindai di MTs Masdarul Ulum, masalah-masalah dalam penelitian ini dapat diidentifikasi sebagai berikut.
1. Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran membaca memindai pada siswa kelas VIII MTs. Masdarul Ulum Ogan Ilir?
5
2. Bagaimanakah proses pembelajaran membaca memindai dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe pair check pada siswa kelas VIII MTs. Masdarul Ulum Ogan Ilir?
3. Bagaimanakah meningkatkan kemampuan membaca memindai dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe pair check pada siswa kelas VIII MTs. Masdarul Ulum Ogan Ilir?
4. Bagaimanakah hasil yang diperoleh dalam pembelajaran membaca memindai dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe pair check pada siswa kelas VIII MTs. Masdarul Ulum Ogan Ilir?
C. Pembatasan Masalah
Permasalahan yang diuraikan dalam identifikasi masalah di atas masih terlalu luas sehingga tidak mungkin untuk diteliti dalam penelitian ini secara keseluruhan dan mendalam. Oleh karena itu, penelitian ini akan dibatasi hanya pada peningkatan kemampuan membaca memindai melalui penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe pair check pada siswa kelas VIII MTs. Masdarul Ulum Ogan Ilir.
D. Perumusan Masalah
Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah ―Bagaimanakah meningkatkan pembelajaran membaca memindai melalui model pembelajaran kooperatif tipe pair check pada siswa kelas VIII MTs. Masdarul Ulum Ogan Ilir?‖
E. Pemecahan Masalah
Untuk mencapai tujuan pembelajaran membaca memindai, peneliti berinisiatif mengambil langkah tindakan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe pair check. Alasan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe pair check diharapkan dapat mengatasi kesulitan siswa dalam membaca memindai karena
6
penggunaan model pembelajaran tersebut lebih banyak memberikan semangat dan membangkitkan minat siswa serta melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran membaca, khususnya membaca memindai.Target yang diharapkan dalam pembelajaran ini ialah 85% siswa kelas VIII MTs. Masdarul Ulum, Ogan Ilir mampu menemukan informasi tertentu melalui membaca memindai.
F. Tujuan
Tujuan dalam penelitian ini untuk meningkatkan kemampuan membaca memindai melalui model pembelajaran kooperatif tipe pair check pada siswa kelas VIII MTs. Masdarul Ulum Pemulutan, Ogan Ilir.
G. Manfaat Penelitian
Penelitian ini memiliki manfaat sebagai berikut.
1. Bagi siswa, penelitian ini merupakan upaya meningkatkan pembelajaran membaca memindai pada siswa kelas VIII MTs. Masdarul Ulum Ogan Ilir dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe pair check.
2. Bagi guru, penelitian ini dapat memberikan pengalaman dan pengetahuan dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe pair check untuk meningkatkan pembelajaran membaca memindai pada siswa kelas VIII MTs. Masdarul Ulum Ogan Ilir.
3. Bagi sekolah, penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah dan menciptakan output siswa yang bisa lebih berkualitas.
7 BAB 2
KAJIAN TEORETIK
A. Kajian Teoretik
1. Konsep Penelitian Tindakan a. Hakikat Penelitian Tindakan
Penelitian tindakan (action research) merupakan penelitian yang berorientasi pada penerapan tindakan. Bertujuan meningkatkan mutu pembelajaran atau memecahkan masalah pada suatu kelompok subjek yang diteliti dan mengamati tingkat keberhasilan atau akibat tindakannya untuk kemudian diberikan tindakan lanjutan yang bersifat penyempurnaan tindakan sehingga diperoleh hasil yang lebih baik. Iskandar ((2011:21) menjelaskan action research merupakan penelitian ilmiah yang dilakukan secara rasional, sistematis dan empiris reflektif terhadap berbagai tindakan guru dan dosen (tenaga pendidik), kolaborasi (tim peneliti) yang sekaligus sebagai peneliti, sejak disusunnya perencanaan sampai penilaian terhadap tindakan nyata di kelas yang berupa kegiatan belajar mengajar untuk memperbaiki dan meningkatkan kondisi pembelajaran yang dilakukan.
Sementara, tujuannya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan atau pengajaran yang diselenggarakan oleh guru dan dosen/pengajar-peneliti itu sendiri, yang dampaknya diharapkan tidak ada lagi permasalahan yang mengganjal dalam proses pembelajaran di kelas.
Selanjutnya, Yoni (2012:7) menjelaskan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh guru sendiri. Hasil penelitian ini dapat bermanfaat di antaranya sebagai alat pengembangan kurikulum, sekolah, dan keahlian mengajar.
8
Dengan kata lain penelitian tindakan merupakan suatu penelitian yang mampu menawarkan cara baru untuk memperbaiki dan meningkatkan proses pembelajaran.
Penelitian tindakan dimaksudkan untuk menguji praktik-praktik secara sistematis dan hati-hati dengan menggunakan teknik-teknik tertentu berdasarkan asumsi bahwa penyelenggaraan tersebut akan menjadi lebih baik jika dilakukan kajian yang mendalam untuk mencari solusi terhadap masalah-masalah yang dihadapi menjadi lebih efektif bila didorong untuk memeriksa dan menilai pekerjaan yang dihasilkan dan kemudian saling membantu dan bekerja sama dalam pengembangan potensi.
Esensi penelitian tindakan, menurut Yoni (2012:6) terletak pada adanya tindakan dalam situasi alami untuk memecahkan masalah praktis. Penelitian tindakan biasa digunakan untuk meningkatkan pendidikan, terutama kualitas praktisi (guru) dalam proses kegiatan belajar mengajar.
PTK, seperti dijelaskan Aqib (2014: 18) merupakan salah satu cara yang strategis bagi guru untuk memperbaiki layanan kependidikan yang harus diselenggarakan dalam konteks pembelajaran di kelas dan peningkatan kualitas program sekolah secara keseluruhan. Hal itu dapat dilakukan mengingat tujuan penelitian tindakan kelas adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan praktik pembelajaran di kelas secara berkesinambungan. Tujuan ini melekat pada diri guru dalam penuntasan misi profesional kependidikannya.
Pada dasarnya penelitian tindakan dilaksanakan sebagai tindakan pencarian solusi perbaikan terhadap proses demi memperoleh hasil yang lebih baik. Penelitian tindakan mengawali penyelidikan reflektif pada diri sendiri , yang dilakukan dengan tujuan untuk memecahkan masalah, meningkatkan praktik atau memperdalam pemahaman yang dilakukan secara kolaboratif.
9
Penelitian tindakan merupakan kegiatan yang dilakukan oleh guru atau peneliti untuk memperbaiki dan meningkatkan hasil dengan mengubah cara, metode, pendekatan atau strategi yang berbeda dari biasanya. Cara, metode, pendekatan atau strategi tersebut berupa proses yang harus diamati secara cermat, dilihat kelancaran dan kesesuaiannya. Penelitian tindakan harus dapat menunjukkan bahwa tindakan yang diberikan kepada siswa memang berbeda dari apa yang sudah biasa dilakukan. Adanya kesadaran dan keinginan untuk meningkatkan diri. Tindakan yang dilakukan harus berbeda dari biasanya, karena yang biasa sudah jelas menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Oleh karena itu, guru melakukan tindakan yang diperkirakan dapat memberikan hasil yang lebih baik.
Secara sederhana penelitian tindakan merupakan belajar dengan melakukan di mana adanya identifikasi masalah, melakukan sesuatu untuk memecahkan masalahnya, mengamati bagaimana usahanya, dan jika belum juga memadai, dicoba lagi. Tujuan umum dari penelitian tindakan adalah untuk memberikan kontribusi kepada kepedulian praktisi dalam situasi problematik secara langsung. Dengan demikian, ada dua komitmen dalam penelitian tindakan untuk mengkaji suatu sistem dan secara bersamaan untuk berkolaborasi dengan anggota dari sistem tersebut dalam mengubah apa yang secara bersama-sama disepakati sebagai arah yang diinginkan.
Penelitian tindakan menghadirkan suatu perkembangan bidang penelitian pendidikan yang mengarahkan pengidentifikasian karakteristik kebutuhan pragmatis dari praktisi bidang pendidikan untuk mengorganisasi penyelidikan reflektif ke dalam pengajaran di kelas. Penelitian tindakan adalah sebuah proses yang dirancang untuk memperdayakan semua partisipan dalam proses (siswa, guru, dan peserta lainnya)
10
dengan maksud untuk meningkatkan praktik yang diselenggarakan dalam pengalaman pendidikan. Semua partisipan merupakan anggota aktif dalam sebuah penelitian.
Pada kesempatan ini, penelitian tindakan mengawali penelitiannya dari telaah atau pengkajian situasi dan kondisi yang dilanjutkan secara hierarkis ke arah perencanaan, pelaksanaan proses tindakan disertai pemantauan. Penelitian tindakan pada satu siklus akan diakhiri dengan refleksi timbal balik dari tindakan dengan evaluasi menuju ke arah pengembangan secara profesional. Hal ini akan dilakukan secara kolaboratif.
b. Model Penelitian Tindakan 1) Penelitian Tindakan Kurt Lewin
Menurut Iskandar (2011:28) Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pertama kali diperkenalkan Kurt Lewin pada tahun 1946. ―Konsep inti Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ialah dalam satu siklus terdiri dari empat langkah yaitu: (1) perencanaan (planning), (2) tindakan (acting), (3) observasi (observing), dan (4) refleksi (reflecting)‖.
Keempat langkah PTK, oleh Aqib (2014:21) digambarkan secara rinci sebagai berikut:
11
Gambar 1
Empat Langkah dalam PTK Model Lewin
Model ini, seperti dijelaskan Aqib (2014:21), oleh Ernest T Stringer dielaborasi lagi menjadi: (a) perencanaan (planning), (b) pelaksanaan, (c) penilaian (evaluating).
Berdasarkan langkah-langkah itu, selanjutnya penelitian dapat dikembangkan lagi menjadi beberapa siklus, yang akhirnya menjadi kumpulan beberapa siklus.
2) Penelitian Tindakan Elliot
Model Elliot menekankan pendefinisian ulang dari evolusi yang tetap dari tujuan asli melalui serangkaian peninjauan berulang setiap siklus. Menurut Aqib (2014:24), ―Peninjauan tersebut harus mencakup beberapa tingkatan analisis. Desain ini membolehkan fleksibilitas yang jauh lebih besar.‖
12
Gambar 2
Penelitian Tindakan Menurut Elliot
Penelitian tindakan model John Elliot ini tampak lebih detail dan rinci. Dikatakan demikian oleh karena di dalam setiap siklus dimungkinkan terdiri dari beberapa aksi yaitu antara 3-5 aksi (tindakan). Sementara iru setiap aksi kemungkinan terdiri dari beberapa langkah yang terealisasi dalam bentuk kegiatan belajar-mengajar. Maksud disusunnya secara terinci pada Model John Elliot ini, supaya terdapat kelancaran yang lebih tinggi antara taraf-taraf di dalam pelaksanaan aksi atau proses belajar-mengajar. Selanjutnya dijelaskan pula olehnya bahwa terincinya setiap aksi atau tindakan sehingga menjadi beberapa langkah oleh karena suatu pelajaran terdiri
Ide Awal Perencanaan Umum langkah tindakan 1, 2,3 Monitoring Implementasi dan efeknya Penjelasan kegagalan tentang implementasi Monitoring Implementasi dan efek
Penjelasan Kegagalan dan Efek
Monitoring Implementasi dan efek
Implementasi Langkah Tindakan
Revisi Perencanaan Umum
Perbaikan Perencanaan Langkah Tindakan 1, 2, 3
Implementasi Langkah Berikutnya
Revisi Ide Umum
Perbaikan Perencanaan Langkah Tindakan 1,2, 3
Implementasi Langkah Berikutnya
13
dari beberapa subpokok bahasan atau materi pelajaran. Di dalam kenyataan praktik di lapangan setiap pokok bahasan biasanya tidak dapat diselesaikan dalam beberapa bentuk. Itulah yang menyebabkan John Elliot menyusun model yang berbeda secara skematis dengan model lainnya.
3) Penelitian Tindakan Dave Ebbut
Aqib (2014:26) menjelaskan bahwa sesudah Dave Ebbut mempelajari model-model PTK yang dikemukakan para ahli sebelumnya, dia berpendapat bahwa model-model PTK yang ada seperti yang dikemukakan John Elliot, Kemmis dan Taggart dipandang sudah cukup bagus. Akan tetapi dalam model itu masih ada beberapa hal atau bagian yang belum tepat sehingga masih perlu dibenahi.
Dave Ebbut merasa tidak puas dengan model-model PTK yang ada sebelumnya, dia kemudian memperkenalkan model PTK yang disusunnya sendiri berbeda dengan model sebelumnya. Secara skematis model Ebbut dapat digambarkan sebagai berikut.
14 Gambar 3
Penelitian Model Dave Ebbut
4) Penelitian Tindakan Kemmis dan McTaggart
Model ini dikembangkan oleh Stephen Kemmis dan Robert McTaggart. ―Mereka menggunakan empat komponen penelitian tindakan (perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi) dalam satu sistem spiral yang terkait sebagai dasar untuk memahami bagaimana melakukan tindakan untuk mengembangkan pendidikan‖ (Aqib, 2014:22).
Model yang dikembangkan Kemmis dan Taggart tampak masih begitu dekat dengan model yang diperkenalkan Kurt Lewin. Dikatakan demikian, oleh karena di dalam satu siklus atau putaran terdiri dari empat komponen seperti halnya yang dilaksanakan oleh Kurt Lewin.
Hanya saja, sesudah suatu siklus selesai diimplementasikan, khususnya sesudah adanya refleksi, kemudian diikuti dengan adanya perencanaan ulang yang dilaksanakan dalam bentuk siklus tersendiri. Demikian seterusnya, atau dengan
Ide Umum Survei Rencana keseluruhan deUmum Tindakan 1 Umum Monitoring Survei Tindakan 2 dst nya Ubah rencana umum atau atau Rencana yg sdh direvisi Ide Umum yg diubah survei Ide baru Ide Umum
15
beberapa kali siklus. Untuk alur pelaksanaannya yang lebih jelas dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar 4
Model Penelitian Kemmis dan McTaggart
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan model Kemmis dan McTaggart dikarenakan model tersebut pada hakikatnya berupa perangkat-perangkat atau untaian-untaian dengan satu perangkat terdiri dari empat komponen, yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Keempat komponen yang berupa untaian tersebut dipandang sebagai satu siklus. Oleh karena itu, pengertian siklus
Siklus I
16
adalah suatu putaran kegiatan yang terdiri dari perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Hasil refleksi digunakan untuk merencanakan siklus berikutnya untuk memecahkan masalah. Keunggulan model ini sangat dimengerti untuk melaksanakan suatu tindakan memecahkan permasalahan.
Model Kemmis dan McTaggart ini sangat cocok digunakan bagi peneliti pemula yang hendak memecahkan masalah yang terjadi di dalam proses belajar mengajar. Model ini sangat mempermudah dalam pelaksanaannya dibandingkan dengan model Elliot yang telah dijelaskan sebelumnya. Model Elliot sangat skematis dan terperinci.
Pada kesempatan ini penelitian tindakan mengawali penelitiannya dari telaah atau pengkajian situasi dan kondisi yang dilanjutkan secara hierarkis ke arah perencanaan, pelaksanaan proses tindakan disertai pemantauan. Penelitian tindakan pada satu siklus akan diakhiri dengan refleksi timbal balik dari tindakan dengan evaluasi menuju ke arah pengembangan secara profesional. Hal ini akan dilakukan secara kolaboratif.
Pada penerapannya penelitian tindakan mempunyai berbagai bentuk yang mengakibatkan pengaruh pada langkah-langkah tersebut. Model yang dipopulerkan oleh Stephen Kemmis dan Robin McTaggart ini mereka memformulasikan bahwa setelah refleksi diadakan maka diadakan perencanaan ulang yang menjadi revisi terhadap pelaksanaan sebelumnya. Perencanaan dan pelaksanaan ulang tersebut ditindaklanjuti dengan aksi observasi serta refleksi. Kegiatan demikian disebut siklus berikutnya. Dengan demikian siklus akan berlanjut sampai beberapa kali sampai menemukan cara atau teknik yang cocok untuk menanggulangi ataupun meringankan masalah yang dihadapi peran partisipan, praktisi dan kolaborator akan sangat dominan mempengaruhi dalam pengambilan keputusan sebagai landasan kebijakan siklus berikutnya.
17
Berdasarkan beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan merupakan penelitian yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan dalam kegiatan pembelajaran. Keadaan dan situasi yang ada di dalam proses pembelajaran dilaksanakan guna meningkatkan kualitas pembelajaran secara efektif. Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan permasaalahan yang dijumpai guru. Tujuan penelitian tindakan yaitu untuk memperbaiki mutu dan praktik pembelajaran yang dilaksanakan guru demi tercapainya tujuan pembelajaran.
Penelitian tindakan bermaksud untuk meningkatkan hasil belajar siswa, maka harus berkaitan dengan pembelajaran. Dengan kata lain penelitian tindakan ini harus menyangkut upaya guru dalam bentuk proses pembelajaran. Hal yang perlu dipahami bahwa penelitian tindakan bukan sekadar mengajar seperti biasanya, tetapi harus mengandung satu pengertian, bahwa tindakan yang didasarkan atau upaya peningkatan hasil yang lebih baik dari sebelumnya.
Rancangan atau desain penelitian tindakan yang dipergunakan menurut Kemmis dan Mc Taggart meliputi empat alur yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebelum melaksanakan tindakan terlebih dahulu peneliti merencanakan secara seksama jenis tindakan yang akan dilakukan. Setelah rencana disusun secara matang barulah tindakan itu dilakukan. Bersamaan dengan dilaksanakannya tindakan, peneliti mengamati proses pelaksanaan tindakan itu sendiri dan akibat yang ditimbulkannya. Selanjutnya berdasarkan hasil pengamatan tersebut peneliti kemudian melakukan refleksi atas tindakan yang telah dilakukan. Jika hasil refleksi menunjukkan perlunya dilakukan perbaikan atas tindakan yang dilaksanakan, maka rencana tindakan perlu disempurnakan lagi agar tindakan yang dilaksanakan berikutnya tidak sekedar
18
mengulang apa yang telah diperbuat sebelumnya. Demikian seterusnya sampai masalah yang diteliti dapat dipecahkan secara optimal.
2. Pengertian Membaca
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian membaca adalah ‖Melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati); mengeja atau melafalkan apa yang tertulis, mengucapkan, mengetahui‖ (Depdiknas, 2005:83). ‖Membaca merupakan kegiatan untuk mendapatkan makna dari apa yang tertulis dalam teks‖ (Iskandarwassid, 2013:246). Pendapat lain dari Tarigan (2013:7), ‖Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis‖.
Menurut Nurhadi (2010:13), ‖Membaca adalah sebuah proses yang kompleks dan rumit‖. Kompleks artinya dalam proses membaca terlibat berbagai faktor internal dan faktor eksternal pembaca. Faktor internal dapat berupa intelegensi (IQ), minat sikap, bakat, motivasi, tujuan membaca dan sebagainya. Faktor eksternal bisa dalam bentuk sarana membaca, teks bacaan, faktor lingkungan, kebiasaan, dan tradisi membaca. Pengertian membaca menurut Sulistiati (Tarigan, 2011:108), ‖Membaca dapat diartikan sebagai proses perbuatan yang dilakukan dengan sadar dan bertujuan untuk mengenal lambang yang disampaikan penulis untuk menyampaikan makna‖. Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan membaca adalah suatu proses atau kegiatan yang dilakukan dengan sadar dan bertujuan untuk memperoleh pesan dan memahami isi/makna yang tertulis.
19
Menurut Tampubolon (2015:35), ‖Tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan‖.
Nurhadi (2010:137) menyebutkan bahwa tujuan membaca secara khusus adalah (1) mendapatkan informasi faktual, (2) memperoleh keterangan tentang sesuatu yang khusus dan problematis, (3) memberi penilaian terhadap karya tulis seseorang, (4) memperoleh kenikmatan emosi, dan (5) mengisi waktu luang. Sebaliknya, secara umum, tujuan membaca adalah: (1) mendapatkan informasi, (2) memperoleh pemahaman, dan (3) memperoleh kesenangan.
Membaca tanpa tujuan bagaikan perahu yang berlayar tanpa tujuan, ibarat pergi ke pasat tanpa tujuan, sehingga bingung apa yang harus dicari dan dibeli. Oleh karena itu, tujuan membaca mempunyai arti penting, maka tentukanlah terlebih dahulu tujuan yang akan dicapai dalam membaca suatu buku.
Selain tujuan membaca, bahan yang akan dibaca pun penting membantu membangunkan motivasi yang tinggi. Tujuan yang ditentukan dalam membaca akan mempengaruhi apa yang perlu dibaca dan bagaimana cara membacanya.
Adapun tujuan membaca menurut Daryanto dan Rahardjo (2012:79) sebagai berikut:
(1) memahami secara detail dan menyeluruh isi buku; (2) menangkap ide pokok/gagasan utama buku secara cepat; (3) mendapatkan informasi tentang sesuatu, mengenali makna kata/istilah sulit, mengetahui peristiwa penting yang terjadi di seluruh dunia dan masyarakat di sekitar, memperoleh kenikmatan dari karya fiksi, ingin memperoleh informasi tentang lowongan pekerjaan, ingin mencari merek barang yang cocok untuk dibeli, ingin menilai kebenaran gagasan pengarang, ingin mendapatkan alat tertentu, dan ingin mendapatkan keterangan tentang pendapat seseorang (ahli) atau keterangan tentang definisi suatu istilah.
b. Ciri-Ciri Pembaca yang Baik
Ada empat ciri yang dapat disebut sebagai pembaca yang baik, yaitu: ―Pembaca yang baik tahu mengapa dia membaca; pembaca yang baik memahami apa yang
20
dibacanya; pembaca yang baik harus menguasai kecepatan membaca; pembaca yang baik harus menguasai media cetak‖ (Tarigan, 2013:120).
Pembaca yang baik tahu mengapa dia membaca, maksudnya tahu dan sadar mengapa dia membaca. Dia membaca untuk mencari informasi dan menikmati bacaan.
Pembaca yang baik memahami apa yang dibacanya, menuntut konsentrasi dan suatu kemampuan yang erat sekali berhubungan dengan maksud serta menuntut pengetahuan mengenai kata-kata dan keresponsifan terhadap organisasi bagian sebagai suatu keseluruhan. Pengalaman menunjukkan bahwa para siswa yang mempunyai kosakata yang memadai, dan keterampilan dalam meringkas serta merangkumkan tidak akan menemui kesulitan dalam pemahaman.
Pembaca yang baik harus dapat menguasai kecepatan membaca dan selalu dapat menyesuaikannya dengan sifat cetakan yang menuntut perhatiannya secara mendalam dan serius. Adapun beberapa hal yang harus diketahui dan dikuasai oleh pembaca secara baik, yaitu sebagai berikut.
a) Membaca sekilas, memetik secara kasar tiga atau empat hal dalam satu halaman untuk memperoleh gambaran umum bagian sebagian suatu keseluruhan;
b) Membaca dengan cepat, membaca segala sesuatu secara cepat untuk mencari hal tertentu yang diinginkan;
c) Membaca demi kesenangan, suatu cara membaca yang melewatkan hal-hal yang kurang menarik dan membaca lambat-lambat hal-hal yang menarik hati;
d) Membaca secara serius bahan-bahan yang penting dan tidak akan kehilangan sesuatu hal.
21
Pembaca yang baik harus mengenal media cetak, maksudnya pembaca harus mengenal secara baik bentuk-bentuk kontemporer media cetak, yang meliputi: paperbacks (buku saku, buku berjilid tipis, kulit kertas), media grafika (komik, kartun, foto, diagram, peta, dan lain-lain), majalah, surat kabar.
c. Kebiasaan Membaca yang Tidak Efisien
Kebiasaan membaca yang tidak efisien umumnya mengurangi kemampuan membaca. Menurut Nurhadi (2010:110), ada empat tipe pembaca yang tidak efisien, yaitu:
a) tipe pembaca yang memvokalkan apa yang dibacanya, b) tipe pembaca bergerak,
c) membaca sambil tiduran (berbaring), d) tipe pembaca yang tidak berkonsentrasi.
Tipe pembaca yang suka memvokalkan apa yang dibacanya adalah tipe pembaca yang suka membaca dengan suara keras. Banyak orang melakukan cara membaca melafalkan apa yang dibacanya kata demi kata. Jika seseorang membaca dengan memvokalkan apa yang dibacanya berarti ia melakukan dua kegiatan sekaligus, yaitu berpikir dan berbicara. Jelas sekali tindakan tersebut menghambat kecepatan membaca dan menghambat pemahaman. Tipe pembaca ini adalah pembaca yang kurang efektif.
Tipe pembaca bergerak adalah tipe pembaca yang dalam perbuatan dan tindak membacanya diikuti oleh gerak-gerik sebagian anggota badannya, baik disengaja maupun tidak. Misalnya, membaca sambil menggerak-gerakkan kepala, membaca sambil menggoyang-goyangkan kaki, atau membaca sambil menggerak-gerakkan bibir dan sebagainya. Tipe pembaca bergerak sebenarnya tidak begitu mengganggu, tetapi
22
menghilangkan kebiasaan ini akan dapat menambah konsentrasi dalam menghadapi bacaan.
Tipe pembaca sambil berbaring merupakan kebiasaan membaca yang tidak efisien terutama apabila ditinjau dari segi kesehatan mata. Kebiasaan membaca sambil berbaring memaksa mata bekerja lebih keras.
Kebiasaan membaca yang tidak efisien menurut Tampubolon (2015:10) adalah sebagai berikut.
a) Membaca dengan suara terdengar. b) Membaca dengan suara seperti berbisik. c) Membaca dengan bibir bergerak.
d) Membaca dengan kepala bergerak.
e) Membaca dengan menunjuk baris bacaan dengan jari atau alat lainnya.
f) Membaca kata demi kata.
g) Susah mengadakan konsentrasi sewaktu membaca. h) Cepat lupa isi bagian-bagian bacaan yang telah dibaca.
i) Tidak dapat dengan cepat menemukan pikiran pokok dalam bacaan.
j) Tidak dapat dengan cepat menemukan informasi tertentu yang diperlukan dalam bacaan.
k) Jarang sekali membaca.
d. Metode Kecepatan Membaca
Kemampuan membaca adalah hasil dari pembiasaan dan latihan sehingga diperoleh tahap yang tinggi keefektifannya (Nurhadi, 2010:53). Kebiasaan membaca sehari-hari adalah penentu dalam latihan. Menurut Tampubolon (20`5:228), ―usaha pembentukan kebiasaan membaca ada dua aspek yang perlu diperhatikan, yaitu minat
23
(perpaduan antara keinginan, kemauan, dan motivasi) dan keterampilan membaca.‖ Keterampilan membaca yang dimaksud adalah keterampilan mata dan penguasaan teknik-teknik membaca. Kalau minat tidak berkembang (tidak ada), maka kebiasaan membaca sudah tentu tidak akan berkembang.
Kebiasaan membaca ialah kegiatan membaca yang telah membudaya dalam suatu masyarakat. Hal yang perlu dicapai ialah kebiasaan membaca yang efisien, yaitu kebiasaan membaca yang disertai minat yang baik dan keterampilan membaca yang efisien. Untuk tujuan tertentu kita perlu menggunakan kemampuan membaca cepat. Misalnya ketika kita dihadapkan pada sebuah buku yang menarik di sebuah toko buku, sementara waktu yang tersedia terbatas serta kantong yang penuh tidak memungkinkan untuk membeli buku tersebut. Untuk mengetahui keseluruhan isi buku secara cepat diperlukan teknik membaca cepat.
Nurhadi (2010:54) menyatakan bahwa ada beberapa metode untuk meningkatkan kecepatan membaca, yaitu metode kosakata, metode motivasi (minat), metode bantuan alat, dan metode gerak mata. Metode kosakata adalah metode mengembangkan kecepatan membaca melalui pengembangan kosakata. Metode ini mengarahkan perhatian pada aspek perbendaharaan kata seorang pembaca. Kosakata seseorang itu terbatas jumlahnya, dan akan selalu berkembang terus sesuai sesuai dengan kemampuannya menambah kosakata itu setiap hari.
Metode motivasi adalah metode yang memotivasi para pemula (pembaca yang mengalami hambatan dalam kecepatan membacanya) dengan berbagai macam rangsangan bacaan yang menarik sehingga tumbuh minat membaca. Kebiasaan membaca yang tinggi akan meningkatkan kecepatan dan pemahaman terhadap bacaan. Semakin tertarik atau berminatnya seseorang pada jenis buku tertentu, semakin tinggi kecepatan dan pemahaman seseorang. Oleh karena itu, untuk
24
meningkatkan kecepatan membaca siswa berikan motivasi dan rangsangan dengan buku atau bahan bacaan yang diminatnya.
Metode bantuan alat adalah metode yang dikembangkan dengan menggunakan alat. Misalnya ketika seseorang membaca (melihat baris-baris bacaan), gerak matanya dipercepat dengan bantuan alat yang berupa ujung pensil, ujung jari, atau alat penunjuk khusus dari kayu. Pertama dengan kecepatan rendah, kemudian dipercepat dan terus dipercepat. Jadi, kecepatan mata mengikuti kecepatan gerak alat.
Metode gerak mata adalah metode yang paling banyak dipakai dan dikembangkan orang saat ini. Metode ini diterapkan dengan cara mengembangkan kecepatan membaca dengan meningkatkan kecepatan gerak mata. Dengan kecepatan
mata berarti kecepatan gerak mata dalam menyusun unit-unit bahasa dalam bacaan. .
e. Membaca Memindai (Scanning)
Membaca adalah aktivitas yang selalu ada dalam kehidupan sehari-hari. Jenis bacaan yang dibaca pun pasti berbeda-beda sesuai dengan lingkungan kita, seperti jenis bacaan di lingkungan mahasiswa pasti akan berbeda dengan jenis bacaan orang-orang kantoran ataupun ibu rumah tangga. Hal ini menuntut pembaca untuk menggunakan trik-trik tertentu dalam mengambil informasi pada setiap jenis bacaan yang dibutuhkan. Informasi yang dicari dari suatu bacaan tersebut bisa berupa fakta-fakta dan detail.
Jika kita hanya membutuhkan suatu fakta tertentu saja, atau informasi tertentu saja, atau data statistik tertentu saja, misalnya, kita perlu melompati lainnya dan langsung mencari ke hal tertentu itu saja. Teknik melompat (skipping) untuk langsung kesasaran yang kita cari itu disebut membaca memindai. Berikut ini akan diuraikan mengenai membaca memindai.
25
Menurut Ngalimun (2014:62), ―Scanning adalah suatu teknik membaca untuk mendapatkan suatu informasi tanpa membaca yang lain-lain‖. Senada dengan Tampubolon (2015:49) ―Scanning adalah membaca dengan cepat dan memusatkan perhatian untuk menemukan bagian bacaan yang berisi informasi fokus yang telah ditentukan‖. Membaca scanning disebut juga membaca memindai. Ketika seseorang membaca memindai, dia akan melampaui banyak kata.Teknik membaca ini berguna untuk mencari beberapa informasi secepat mungkin. Biasanya kita membaca kata per kata dari setiap kalimat yang dibacanya. Dengan berlatih teknik membaca memindai, seseorang bisa belajar membaca untuk memahami teks bacaan dengan cara yang lebih cepat dan hasil yang jauh lebih baik . Namun, membaca dengan cara memindai ini tentunya tidak asal digunakan. Jika keperluan untuk membaca buku teks, puisi, surat penting dari ahli hukum, dan sebagainya, perlu lebih detail membacanya.
Membaca memindai berarti mencari informasi spesifik secara cepat dan akurat. Memindai artinya pembaca seolah-olah terbang di atas halaman-halaman buku yang dibacanya. Membaca dengan teknik memindai artinya menyapu halaman buku untuk menemukan sesuatu yang diperlukan. Membaca memindai berkaitan dengan menggerakkan mata secara cepat ke seluruh bagian halaman tertentu untuk mencari kata dan frasa tertentu.
Teknik membaca memindai adalah teknik menemukan informasi dari bacaan secara cepat dan akurat, dengan cara menyapu halaman demi halaman secara merata, kemudian ketika pembaca sampai pada bagian yang dibutuhkan, gerakan mata berhenti. Selama kegiatan membaca dilakukan, mata bergerak cepat, meloncat-loncat, dan tidak melihat kata demi kata.
‖Informasi yang akan dicari dengan membaca memindai dari sebuah teks sebaiknya merupakan informasi yang telah tertata secara sistematis dan teratur,
26
misalnya kamus, buku telepon, daftar harga dan sebagainya‖ (Maryati dan Sutopo, 2012:31). Untuk mendukung keberhasilan memindai dari sebuah teks, maka ketika melakukan pemindaian teks pembaca harus siap untuk mencatat informasi yang sudah diperoleh. Oleh karena itu, sebaiknya pembaca dapat selalu menerapkan strategi temukan dan catat sehingga kegiatan membaca yang dilakukan akan jauh lebih maksimal.
1) Langkah-Langkah Membaca Memindai
Untuk memperoleh informasi yang akurat dari teks secara cepat dan tepat perlu dilakukan dengan membaca memindai. Pada kegiatan memindai, pembaca memerhatikan langkah-langkah yang benar. Maryati dan Sutopo (2008:31) mengemukakan, untuk memperoleh informasi tertentu secara cepat dan tepat dari sebuah teks, pembaca harus memindai informasi yang tertata secara sistematis. Kemudian temukan informasi yang kita butuhkan dan catatlah informasi yang sudah diperoleh.
Adapun cara lain untuk memindai suatu informasi tertentu secara cepat dan tepat adalah sebagai berikut.
a) Menggerakkan mata seperti anak panah langsung meluncur ke bawah untuk menemukan informasi yang telah ditetapkan sebelumnya.
b) Setelah informasi tersebut ditemukan, kecepatan membaca diperlambat untuk menemukan keterangan lengkap dari informasi yang dicari.
b) Pembaca dituntut memiliki pemahaman yang baik berkaitan dengan karakteristik yang dibaca (misalnya, kamus disusun secara alfabetis dan ada keyword di setiap halaman bagian kanan atas, ensiklopedi disusun secara alfabetis dengan pembalikan untuk istilah yang terdiri dari dua kata, dan sebagainya.
27 2) Tujuan Membaca Memindai
Menurut Mikulecky (dikutip Ngalimun, 2014:122),
Membaca memindai bertujuan untuk menemukan informasi khusus dengan sangat cepat, yang diperlukan adalah kemampuan mata kita menjangkau kelompok-kelompok kata sebanyak-banyaknya secara sekaligus dan kemampuan berpindah dari satu jangkauan pandangan ke jangkauan pandangan berikutnya dengan cepat sampai menemukan informasi khusus yang kita cari.
Membaca memindai merupakan jenis membaca cepat dengan tujuan untuk menemukan informasi dalam teks secara cepat yang telah ditentukan sebelumnya oleh pembaca. Pembaca telah menentukan kata yang dicari sebelum kegiatan membaca dilakukan, dia tidak membaca bagian lain dari teks kecuali informasi yang telah ditentukan. Selain itu, tujuan membaca memindai untuk mendapatkan informasi lebih spesifik dari sebuah teks. Ini dilakukan jika pembaca telah mengetahui dengan pasti apa yang dicari sehingga berkonsentrasi mencari jawaban yang jauh lebih spesifik dari bacaan yang dihadapinya.
3) Contoh Membaca Memindai
Membaca memindai, misalnya mencari arti kata di kamus, membaca acara siaran di televisi, membaca daftar perjalanan, mencari nomor telepon di buku telepon. Selain itu, membaca daftar menu makan, membaca jadwal pelajaran, mencari pada papan pengumuman, dan mencari topik pada daftar isi sebuah buku termasuk juga membaca memindai.
Menurut Nurhadi (2010:114), contoh membaca scanning atau memindai ialah: (1) mencari makna kata tertentu dalam kamus, (2) mencari pendapat-pendapat atau definisi sebuah istilah menurut ahli-ahli tertentu, (3) mencari nomor telepon seorang sahabat dalam buku telepon, (4) mencari keterangan tentang sebuah istilah dan penjelasannya dalam ensiklopedi, dsbnya.‖
28
Tampubolon (2015:49) mengemukakan contoh membaca memindai yang disebutnya baca-tatap, seperti menemukan informasi tertentu di bagian tertentu dari sebuah buku. Juga untuk menentukan informasi fokus tertentu, misalnya suatu penjelasan tentang satu istilah.
Contoh lain membaca memindai ialah mencari makna kata tertentu dalam kamus. Kamus merupakan buku yang memuat perbendaharaan kata dan makna suatu bahasa tertentu yang idealnya tidak terbatas jumlahnya. Untuk mempercepat menemukan kata yang dicari, terlebih dahulu pembaca harus mempelajari kamus tersebut.
Beberapa tahapan yang dapat dilakukan untuk mencari kata dan maknanya dalam kamus dengan membaca memindai adalah sebagai berikut.
1) Menentukan kata yang akan dicari maknanya.
2) Mencari kata tersebut dengan langsung membuka halaman pertama yang mengandung huruf awal dari kata yang dicari. Misalnya, mencari makna kata silogisme. Pembaca langsung membuka halaman pertama yang berhuruf awal s. Untuk memudahkannya, pembaca
dapat memanfaatkan pembatas huruf yang biasanya selalu ada pada kamus. Setelah itu, pembaca memindai halaman tersebut ke halaman berikutnya sampai akhirnya menemukan kata-kata yang termasuk silogisme.
3) Setelah menemukan, lalu membaca dengan teliti makna kata-kata tersebut.
Dalam membaca kamus, pembaca perlu memerhatikan petunjuk sebagai berikut.
1) Memerhatikan ejaan kata tersebut dengan saksama.
29
3) Memerhatikan asal usul katanya, yang biasanya ditulis dalam kurung. Tidak cepat memilih suatu makna kata karena satu kata kadang-kadang mempunyai makna lebih dari satu dan diperinci dengan angka 1, 2, 3.
4) Memerhatikan contoh kalimat yang dapat memperjelas makna kata yang dicari. Untuk dapat lebih cepat menemukan makna kata yang dicari, hendaknya memerhatikan petunjuk yang biasanya ada pada setiap halaman.
Berikut adalah tabel kesimpulan yang berkaitan dengan membaca memindai.
Tabel 1
Membaca Memindai
Komponen Membaca Memindai
Pengertian
Membaca memindai digunakan untuk mendapatkan informasi spesifik dari sebuah teks. Biasanya, ini dilakukan jika Anda telah mengetahui dengan pasti apa yang Anda cari sehingga berkonsentrasi mencari jawaban yang spesifik. Memindaiberkaitan dengan menggerakan mata secara cepat keseluruh bagian halaman tertentu untuk mencari kata dan frasa tertentu.
Contoh Membaca memindai untuk menemukan nomor tertentu pada buku telepon, kata dalam kamus, bentuk kata baku dalam deretan kata, dsb.
Strategi Langkah-langkah membaca memindai:
Pembaca memindai informasi yang tertata secara sistematis dan temukan informasi yang dibutuhkan serta catatlah informasi itu.
30 3. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
Slavin (dikutip Taniredja dkk., 2014:55) mengemukakan, ―In cooperative learning methods, students work together in four teams to master material initially presented by the teacher”. Dari uraian tersebut di atas, dapat dikemukakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dalam sistem belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang berjumlah 4-6 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang dan memotivasi untuk siswa lebih bergairah dalam belajar.
Senada dengan pendapat Daryanto (2014:241), ―Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok dan setiap siswa dalam kelompok-kelompok-kelompok-kelompok tersebut mempunyai kemampuan yang berbeda-beda.‖ Selain itu, Anita Lie (dalam Yoni, 2012:159) mengungkapkan bahwa model pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekadar belajar dalam sebuah kelompok. Ada unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif yang dapat membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan secara asal-asalan. Adapun unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:
a. saling ketergantungan positif, b. tanggung jawab perseorangan, c. tatap muka,
d. komunikasi antaranggota, e. evaluasi proses kelompok.
Karakteristik pembelajaran kooperatif menurut Arends (dikutip Yoni, 2012;160), yaitu sebagai berikut.
a. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menguasai materi. b. Kelompok terdiri dari siswa yang berprestasi tinggi, sedang, dan rendah.
31
c. Bila memungkinkan anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku dan jenis kelamin yang berbeda-beda.
d. Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok.
Jadi, pembelajaran kooperatif mendorong manusia untuk saling bertukar pikiran, pengalaman dan gagasan-gagasan sehingga dapat membangun pengetahuan dan membelajarkan. Aktivitas siswa dalam pembelajaran kooperatif meningkatkan kemampuan yang telah dimilikinya maupun meningkatkan kemampuan baru, baik dalam aspek pengetahuan, sikap maupun keterampilan.
4. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Pair Check
a. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Pair Check
―Model pembelajaran pair check merupakan model pembelajaran berkelompok atau berpasangan yang dipopulerkan oleh Spencer Kagen tahun 1993‖ (Taniredja dkk, 2014:120). Menurut Moody & Gifford dalam Slavin (2005:91) menemukan bahwa sementara tidak ada perbedaan dalam perolehan pencapaian dari kelompok-kelompok yang homogen dan heterogen, pembagian siswa berpasangan menunjukkan pencapaian yang jauh lebih besar dalam bidang ilmu pengetahuan daripada kelompok yang terdiri atas empat atau lima orang, dan kelompok dengan jenis kelamin yang homogen ternyata kinerjanya jauh lebih baik dari pada kelompok campuran.
Menurut Aqib (2014:34), ―Model pembelajaran pair check adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang berpasangan yang bertujuan untuk mendalami atau melatih materi yang telah dipelajari sebelumnyanya‖. Salah satu keunggulan model ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep/topik dalam suasana yang jauh lebih menyenangkan. Model ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia. Jadi, model pembelajaran kooperatif pair check merupakan salah satu model pembelajaransiswa berpasangan.
32
b. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Pair Check
Model pembelajaran kooperatif tipe pair check ini cocok untuk menyampaikan semua level materi, termasuk dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Adapun langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe pair check adalah sebagai berikut.
1) Bekerja berpasangan
Guru membentuk tim berpasangan berjumlah 2 (dua) siswa. Setiap pasangan mengerjakan soal yang pas sebab semua itu akan membantu masalah.
2) Pelatih mengecek
Apabila partner benar pelatih memberi kupon 3) Bertukar peran
Seluruh partner bertukar peran dan mengulangi langkah 1-3 4) Pasangan mengecek
Seluruh pasangan tim kembali bersama dan membandingkan jawaban 5) Penegasan guru
Guru mengarahkan jawaban /ide sesuai konsep (Taniredja dkk, 2014:120). Berikut ini dipaparkan sintak dari model pembelajaran kooperatif pair check. 1) Guru menjelaskan konsep.
2) Siswa dibagi menjadi beberapa tim. Dalam setiap tim terdiri dari 4 orang. Dalam setiap tim, terdiri dari 2 pasangan. Setiap pasangan dalam satu tim ada yang menjadi pelatih dan adapula yang menjadi partner.
3) Guru membagikan soal kepada si partner.
4) Partner menjawab soal, dan si pelatih bertugas mengecek jawabannya. Untuk setiap soal yang dijawab benar, pelatih memberi kupon.
33
5) Bertukar peran. Si pelatih menjadi partner dan si partner menjadi pelatih. 6) Guru membagikan soal kepada si partner.
7) Partner menjawab soal, dan si pelatih bertugas untuk mengecek jawabannya. Untuk setiap soal yang dijawab benar, pelatih memberi kupon.
8) Setiap pasangan kembali ke tim awal dan mencocokkan jawaban satu sama lain.
9) Guru membimbing dan memberikan arahan atas jawaban dari berbagai soal dan mengecek jawabannya.
10) Tim yang paling banyak mendapat kupon selanjutnya akan diberi hadiah. 11) Evaluasi, guru memberikan evaluasi kepada semua kelompok
pasangan tersebut dengan memberikan post test.
12) Refleksi, hasil yang diperoleh pada tahap pengamatan tersebut kemudian dikumpulkan, dianalisis, dan selanjutnya dievaluasi oleh peneliti untuk mengetahui berhasil tidaknya tindakan yang dilakukan.
c.Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Pair Check
Adapun kelebihan dan kekurangan model pembelajaran kooperatif tipe pair check ini adalah sebagai berikut.
1) Kelebihan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Pair Check a) Meningkatkan kemandirian siswa
b) Meningkatkan partisipasi siswa untuk menyumbangkan pemikiran karena merasa leluasa dalam mengungkapkan pendapatnya.
c) Membentuk kelompoknya lebih mudah dan lebih cepat d) Melatih kecepatan berpikir siswa.
34
2) Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Pair Check a) Tidak selamanya mudah bagi siswa untuk mengatur cara berpikir sistematik.
b) Lebih sedikit ide yang masuk.
c) Jika ada perselisihan, tidak ada penengah dari siswa dalam kelompok yang bersangkutan sehingga banyak kelompok yang melapor dan dimonitor.
B. Temuan Penelitian Terdahulu yang Relevan
Penelitian tentang peningkatan kemampuan membaca memindai dengan model pembelajaran terpadu membaca dan menulis pernah dilakukan oleh peneliti terdahulu. Penelitian tersebut dilakukan oleh Eva Fatmawati (2013) berjudul ―Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Melalui Metode CIRC untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Memindai Siswa Kelas V SD Negeri Paseh 2 Kecamatan Paseh Kabupaten Sumedang‖. Hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif melalui metode CIRC dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca memindai. Guru dapat melakukan pembelajaran membaca memindai melalui penerapan model kooperatif CIRC dengan baik. Siswa juga dapat menikmati pembelajaran membaca memindai dengan senang hati dan tanpa beban. Peningkatan ini dihitung dari sebelum melakukan tindakan (tes awal) sampai dilakukan tindakan siklus I dan II.
Selain itu, penelitian ini juga pernah dilakukan oleh Hamdani (2010) dengan judul ―Peningkatan Kemampuan Membaca Scanning (Memindai) dengan Model Chart Ekspose Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Air Tiris Kabupaten Kampar Tahun Pelajaran 2008--2009‖. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan model chart
35
Hasil evaluasi siswa siklus I pertemuan 1 rata-rata kemampuan siswa adalah 66,1 dengan kategori kurang, pada siklus I pertemuan 2 rata-rata kemampuan siswa adalah 69,7 dengan kategori sedang. Sedangkan pada siklus II pertemuan 1 rata-rata kemampuan siswa adalah 72,9 dengan kategori sedang, pada siklus II pertemuan 2 rata-rata kemampuan siswa adalah 79,9 dengan kategori baik. Hal itu berarti bahwa penggunaan model chart ekspose pada siklus pertama maupun siklus kedua cukup memberikan peningkatan terhadap kemampuan membaca scanning (memindai) siswa. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa penelitian tindakan ini telah mampu meningkatkan membaca scanning (memindai) siswa.
Penelitian serupa yang lain juga pernah dilakukan oleh Abdan Syakur (2009) dengan judul ―Penerapan Model Pair Check dalam Meningkatkan Kemampuan Menulis Karangan Narasi pada Siswa Kelas V SD Muhammadiyah Kabupaten Bantaeng.‖ Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa Pembelajaran menulis karangan narasi melalui penerapan strategi pair check menunjukkan efektivitasnya dalam meningkatkan keterampilan siswa menulis karangan. Hasil tindakan pembelajaran tahap pramenulis ditandai dengan meningkatnya kemampuan siswa dalam hal (1) pemilihan tema, (2) penulisan kerangka karangan, dan (3) penentuan judul. Secara kuantitatif hasil tindakan pada tahap pramenulis siklus I adalah 72,5 dan pada siklus II 86,6.
Hasil tindakan pembelajaran tahap saat menulis, yang ditandai dengan meningkatnya kemampuan siswa dalam hal (1) pengembangan kerangka karangan menjadi sebuah karangan yang utuh dan padu, (2) organisasi gagasan, (3) penggunaan unsur-unsur kebahasaan, (4) penggunaan ejaan dan tanda baca, serta (5) informasi faktual. Secara kuantitatif, hasil tindakan siklus I adalah 60 dan pada siklus II 71,5. Hasil tindakan pembelajaran tahap pasca menulis ditandai dengan
36
meningkatnya kemampuan siswa dalam hal perbaikan dan perevisian unsur-unsur kebahasaan dan ejaan dan tanda baca, serta unsur-unsur kebahasaan lainnya. Secara kuantitatif, hasil tindakan pada siklus I adalah 63 dan pada siklus II 75. Secara keseluruhan rerata hasil siklus I adalah 64.5 yakni berkualifikasi cukup, dan pada siklus II meningkat menjadi 76.5, yakni berkualifikasi baik. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pair check dapat meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi.
C. Kerangka Pikir
Membaca merupakan suatu proses atau kegiatan yang dilakukan dengan sadar dan bertujuan untuk memperoleh pesan dan memahami isi/makna yang tertulis. Kegiatan membaca merupakan salah satu kemampuan berbahasa yang bersifat aktif produktif. Berkaitan dengan kegiatan membaca di kalangan siswa terdapat permasalahan, yaitu pada umumnya kemampuan siswa dalam membaca masih rendah. Selain itu, guru juga mengalami kendala dalam mengajarkan keterampilan membaca. Kendala tersebut di antaranya berkaitan dengan metode pembelajaran yang digunakan. Metode ceramah yang monoton membuat siswa bosan dan tidak bersemangat dalam belajar. Oleh karena itu, dibutuhkan model pembelajaran yang tepat agar para siswa dapat meningkatkan kemampuan membaca.
Adapun model pembelajaran yang tepat untuk keterampilan membaca khususnya membaca memindai adalah model pembelajaran kooperatif tipe pair check. Kemampuan membaca memindai melalui model pembelajaran kooperatif tipe pair check menuntut guru untuk dapat membimbing siswa selama proses/kegiatan membaca berlangsung. Dengan demikian, guru tidak hanya sekadar menerangkan materi dengan menggunakan metode ceramah, tetapi dapat menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe pair check sehingga siswa merasa senang dan lebih