• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Judul PENGARUH METODE ACTIVE LEARNING

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "A. Judul PENGARUH METODE ACTIVE LEARNING"

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)

A. Judul

PENGARUH METODE ACTIVE LEARNING TERHADAP MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADU EKONOMI KELAS VIII DI MTs. NW EMBUNG RAJA KECAMATAN TERARA KABUPATEN LOMBOK TIMUR TAHUN PELAJARAN 2013/2014

B. Latar Belakang

Sistem pembelajaran pendidikan pada umumnya sampai saat ini masih didominasi oleh metode ceramah. Metode ini tidak begitu banyak mengembangkan kemampuan berfikir peserta didik terutama dalam memecahkan suatu permasalahan. Sering dijumpai dalam pembelajaran guru hanya menggunakan metode yang monoton, dalam menggunakan metode tersebut guru hanya memberikan materi melalui ceramah, pemberian tugas dan diskusi bebas. Dengan demikian guru tidak bisa mengembangkan pembelajaran yang menarik. Ada kesan guru takut untuk merancang pembelajaran sendiri, sehingga dari bahan belajar sampai metode evaluasi nyaris tidak ada perbedaan.

(2)

Guru dalam melaksanakan metode ceramah atau ekspositorinya masih sering terjebak ke dalam pemberian hafalan untuk dilatihkan kepada siswanya. Mereka hanya diminta untuk menghafal, bukan tidak penting bagi peserta didik mengetahui hal ini, akan tetapi jika hal ini saja yang diberikan pada siswanya maka akan ada kecenderungan peserta didik merasa bosan dan jenuh pada mata pelajaran yang diajarkan.

Kekhawatiran lain yang mungkin timbul akibat adanya rasa bosan dan jenuh ini adalah peserta didik menjadi malas bahkan tidak mau lagi mengikuti pelajaran. Akibatnya ialah tidak ada minat dan motivasi peserta didik untuk belajar.

(3)

peserta didik tidak berkembang dalam kecepatan yang sama, (8) Usahakan mengembangkan situasi belajar yang memungkinkan setiap anak bekerja dengan kemampuannya masing-masing pada tiap pelajaran, dan (9) Usahakan untuk melibatkan peserta didik dalam berbagai kegiatan. (Mulyasa, 2002:186) Guru adalah praktisi dalam dunia pendidikan. Guru menjadi ujung tombak dalam upaya menyukseskan program pembelajaran dan pendidikan pada umumnya. Oleh karena itu, guru diharapkan secara terus menerus berupaya meningkatkan mutu proses dan hasil belajar. Upaya itu tentu tidak dapat dilaksanakan manakala guru kurang memahami realitas yang ada serta permasalahan pembelajaran yang dihadapi atau dilaksanakannya. Untuk itu penting yang harus dimiliki guru adalah kemampuan untuk mengenali permasalahan, baik yang berkenaan dengan materi pembelajaran, pengelolaan kelas, metode pembelajaran, media pembelajaran, minat dan motivasi belajar siswa, kemampuan siswa, dan yang terlebih kemampuan guru itu sendiri.

(4)

Pendidikan merupakan upaya manusia untuk memperluas cakrawala pengetahuannya dalam rangka membentuk nilai, sikap, dan perilaku. Sebagai upaya yang bukan saja membuahkan manfaat yang besar, pendidikan juga merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang sering dirasakan belum memenuhi harapan. Hal itu disebabkan banyak lulusan pendidikan formal yang belum dapat memenuhi kriteria tuntutan lapangan kerja yang tersedia, apalagi menciptakan lapangan kerja baru sebagai presentase penguasaan ilmu yang diperolehnya dari lembaga pendidikan. Kondisi seperti ini merupakan gambaran rendahnya kualitas pendidikan kita.

Banyak faktor yang turut mempengaruhi rendahnya kualitas pendidikan. Apabila pendidikan dilihat sebagai suatu sistem maka faktor yang turut mempengaruhi kualitas pendidikan tersebut, menurut Deming meliputi: (1) input mentah atau siswa, (2) lingkungan instruksional, (3) proses pendidikan, dan (4) keluaran pendidikan. Dalam proses pendidikan, sebenarnya di dalamnya terdapat motivasi belajar, akan tetapi bila hal ini tidak diperankan dengan baik oleh guru seorang peserta didik tidak akan mempunyai semangat untuk melakukan aktifitas belajar.

(5)

yang seseorang lihat sudah tentu akan membangkitkan minatnya sejauh apa yang ia lihat itu mempunyai hubungan dengan kepentingannya sendiri. Banyak anak dengan inteligensi yang rendah disebabkan tidak ada motivasi dalam belajar. Fungsi motivasi yang seharusnya sebagai pendorong, penggerak, dan pengarah perbuatan belajar tidak dijalankan dengan baik.

Dalam kegiatan belajar mengajar, apabila ada seseorang siswa, misalnya tidak berbuat sesuatu yang seharusnya dikerjakan, maka perlu diselidiki sebab sebabnya. Sebab sebab itu biasanya bermacam-macam, mungkin ia tidak senang, mungkin sakit, lapar, ada problem pribadi dan lain lain. Hal ini berarti pada diri anak tidak terjadi perubahan energi, tidak terangsang afeksinya untuk melakukan sesuatu, karena tidak memiliki tujuan atau kebutuhan belajar. Keadaan semacam inilah perlu dilakukan daya upaya yang dapat menemukan sebab musababnya dan kemudian mendorong seseorang peserta didik itu mau melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan, yakni belajar. Dengan kata lain peserta didik itu perlu diberikan rangsangan agar tumbuh motivasi pada dirinya. Singkatnya perlu diberikan motivasi (Sardiman, 2011:74).

(6)

peserta didik jangan begitu saja mempersalahkan pihak siswa, sebab mungkin saja guru tidak berhasil dalam memberikan motivasi yang mampu membangkitkan semangat dan kegiatan peserta didik untuk berbuat/belajar. Jadi tugas guru bagaimana mendorong para peserta didik agar pada dirinya tumbuh motivasi. Dalam hal ini sudah barang tentu peran guru sangat penting. Bagaimana guru melakukan usaha -usaha untuk dapat menumbuhkan dan memberikan motivasi agar anak didiknya melakukan aktivitas belajar dengan baik. Untuk dapat belajar dengan baik diperlukan proses dan motivasi yang baik pula. Hasil belajar akan menjadi optimal, kalau ada motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan makin berhasil pula pelajaran itu. Jadi motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi para siswa.

Mengingat hal tersebut di atas, penulis mencoba meneliti tentang pengaruh penerapan active learning sebagai salah satu cara untuk memotivasi peserta didik dalam belajar. Serta untuk mengasah pola fikir peserta didik agar ia terbiasa dalam berfikir kritis analistis argumentatif punya kepekaan sosial yang tinggi serta dapat memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapinya, baik dimasa sekarang maupun dimasa yang akan datang.

C. Rumusan Masalah

(7)

D. Batasan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang di atas, maka untuk menghindari perbedaan persepsi dalam memahami dan mengartikan masalah. Maka peneliti perlu memberikan batasan masalah, sebagai berikut:

a. Objek Penelitian

Objek yang diteliti adalah pengaruh metode active learning terhadap motivasi belajar peserta didik kelas VIII MTs. NW Embung Raja kecamatan Terara.

b. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas VIII MTs. NW Embung Raja Kecamatan Terara Tahun Pelajaran 2013/2014.

c. Lokasi Penelitian

Tempat atau lokasi penelitian akan dilaksanakan di kelas VIII MTs. NW Embung Raja Kecamatan Terara Tahun Pelajaran 2013/2014. E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka yang menjadi tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh metode active learning terhadap motivasi belajar peserta didik kelas VIII MTs. NW Embung Raja Kecamatan Terara Lombok Timur.

F. Manfaat Penelitian

Adapun hasil penelitian ini diharapkan memiliki manfaat, baik secara teoritis maupun praktis. Adapun manfaat yang dimaksud:

(8)

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan pengembangan ilmu pengetahuan dan menambah informasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan pengaruh metode mengajar terhadap motivasi belajar peserta didik pada mata pelajaran IPS terpadu Ekonomi di MTs. NW Embung Raja kecamata terara, serta dapat menjadi acuan bagi peneliti dalam melaksanakan tugas pengajaran di masa-masa yang akan datang.

2. Manfaat secara praktis

a. Dapat dijadikan sebagai pedoman bagi pendidik khususnya di dalam memotivasi peserta didik agar prestasi belajar peserta didik sesuai dengan yang diharapkan.

b. Dari hasil penelitian dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk sekolah-sekolah, khususnya pada MTs. NW Embung Raja kecamata Terara, serta dapat menjadi acuan bagi peneliti dalam melaksanakan tugas pengajaran dimasa-masa yang akan datang, sebagai upaya dalam meningkatkan kelangsungan proses belajar mengajar terutama yang menyangkut motivasi belajar peserta didik.

G. Sistimatika Pembahasan

Adapun sistimatika pembahasan pada proposal ini sebagai berikut: a. Judul

(9)

f. Manfaat penelitian

1. Manfaat secara teoritis 2. Manfaat secara praktis g. Sistimatika pembahasan

h. Tinjauan pustaka dan perumusan hipotesis 1. Pengertian penegasan istilan

2. Penelitian yang relevan 3. Landasan teori

4. Perumusan hipotesis i. Metode penelelitian

1. Jenis penelitian 2. Populasi dan sampel 3. Data penelitian

a. Tipe dan sumber data b. Teknik pengumpulan data 4. Variable penelitian

(10)

H. Tinjauan Pustaka dan Perumusan Hipotesis 1. Definisi Operasional Variabel

Untuk menghindari terjadinya penafsiran yang berbeda-beda diantara pembaca, maka perlu diberikan batasan-batasan pengertian pada beberapa istilah yang digunakan dalam judul penelitian ini. Beberapa istilah yang perlu dijelaskan pengertiannya antara lain: (1) Metode active learning (2) Motivasi Belajar.

a. Metode active learning

Metode active learning merupakan suatu proses kegiatan belajar mengajar yang subjek didiknya terlibat secara intelektual dan emosional, sehingga peserta didik betul-betul berperan dan berpartisipasi aktif dalam melakukan kegiatan belajar sehingga tujuan pengajaran dapat dicapai lebih baik.

b. Motivasi Belajar

(11)

2. Penelitian yang relevan

Penerapan metode active learning dalam pembelajaran sebelumnya telah dikembang oleh Ali Muhtadi yang berjudul “Model Pembelajaran “Active Learning” dengan Metode Kelompok untuk Meningkatkan Kualitas Proses Pembelajaran di Perguruan Tinggi” menyimpulkan bahwa model pembelajaran active learning mampu mendorong minat, motivasi, kesiapan, dan tanggung jawab belajar mahasiswa dalam setiap langkah pembelajaran.

3. Landasan teori.

A. Metode Active Learning 1. Pengertian Active Learning

(12)
(13)

hal itu aku simpan?” Manusia dengan potensi dasar yang ia miliki termasuk otak tersebut perlu diaktifkan, sehingga berfungsi semaksimal mungkin melalui proses belajar yang ia lakukan.

Agar proses pembelajaran aktif bisa berjalan dengan baik, maka pendidik sebagai penggerak belajar peserta didik dituntut untuk menggunakan dan menguasai strategi pembelajaran aktif. Strategi pembelajaran aktif sangat diperlukan karena peserta didik mempunyai cara belajar yang berbeda-beda. Ada yang senang belajar dengan membaca. Berdiskusi dan ada juga yang senang dengan cara langsung praktik. Inilah yang sering disebut dengan gaya belajar atau learning style. Disamping itu penggunaan strategi pembelajaran aktif bagi pendidik adalah sangat membantu atau memudahkan dalam mengajar. Bagi pendidik yang memiliki banyak jam mengajar, dan apabila dalam mengajar hanya berorientasi pada ceramah saja, maka jelas pendidik yang bersangkutan akan kehabisan energi karena mengekspos suara lisan melalui ceramah secara terus-menerus.

Dilihat dari subjek didik maka metode active learning merupakan proses kegiatan yang dilakukan peserta didik dalam rangka belajar. Dilihat dari segi guru/pengajar maka metode active learning merupakan bagian strategi mengajar yang menuntut keaktifan optimal subjek didik.

(14)

salah satu cara strategi belajar mengajar yang menuntut keaktifan dan partisipasi peserta didik seoptimal mungkin sehingga peserta didik mampu mengubah tingkah lakunya secara lebih efektif dan efisien. 2. Prinsip-prinsip Metode Active Learning

Proses belajar-mengajar yang dapat memungkinkan metode active learning harus dilaksanakan dan dilaksanakan secara sistematik. Dalam pelaksanaan mengajar hendaknya diperhatikan beberapa prinsip belajar sehingga pada waktu proses belajar-mengajar peserta didik melakukan kegiatan belajar secara optimal. Ada beberapa prinsip belajar yang dapat menunjang tumbuhnya Cara belajar peserta didik aktif diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Perhatian dan motivasi

Dari kajian teori belajar pengolahan informasi terungkap bahwa tanpa adanya perhatian tak mungkin terjadi belajar. Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada peserta didik apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Sedangkan motivasi mempunyai peranan memberi tenaga yang mengerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang.

b. Keterlibatan Langsung/Berpengalaman

Dalam belajar peserta didik tidak sekedar mengamati secara langsung tetapi ia harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan bertanggung jawab terhadap hasilnya.

(15)

Belajar adalah melatih daya yang ada pada manusia yang terdiri atas daya mengamat, menanggap, mengingat, menghayal, merasakan, berpikir, dan sebagainya. Dengan mengadakan pengulangan maka daya-daya tersebut akan berkembang dan menjadi sempurna.

d. Balikan dan Penguatan

Sumber penguatan belajar untuk pemuasan kebutuhan berasal dari luar dan dari dalam dirinya. Penguat belajar yang berasal dari luar seperti nilai, pengakuan prestasi siswa, persetujuan pendapat siswa, ganjaran, hadiah, dan lain-lain. Sedangkan penguat dari dalam dirinya bisa terjadi apabila respon yang dilakukan peserta didik betul-betul memuaskan dirinya dan sesuai dengan kebutuhannya (Dimyati dan Mudjiono, 2013:42).

Prinsip-prinsip di atas penting dilaksanakan pada waktu mengajar Sehingga mendorong kegiatan belajar peserta didik seoptimal mungkin.

3. Ciri-ciri Metode Active Learning

(16)

a. Situasi kelas menantang peserta didik melakukan kegiatan belajar secara bebas tapi terkendali.

b. Guru Tidak mendominasi pembicaraan tetapi lebih banyak memberikan rangsangan berpikir kepada peserta didik untuk memecahkan masalah.

c. Guru menyediakan dan mengusahakan sumber belajar bagi siswa, bisa sumber tertulis, sumber manusia, misalnya murid itu sendiri menjelaskan permasalahan kepada murid lainnya, berbagai media yang diperlukan, alat bantu pengajaran, termasuk guru sendiri sebagai sumber belajar.

d. Kegiatan belajar peserta didik bervariasi, ada kegiatan yang sifatnya bersama sama dilakukan oleh semua siswa, ada kegiatan belajar yang dilakukan secara kelompok dan ada pula kegiatan belajar yang harus dilakukan oleh masing-masing siwa secara mandiri. Penetapan kegiatan belajar tersebut diatur oleh guru secara sistematik dan terencana.

e. Hubungan guru dengan peserta didik sifatnya harus mencerminkan hubungan manusiawi bagaikan hubungan bapak dan anak, bukannya hubungan pimpinan dengan bawahan. Guru menempatkan diri sebagai pembimbing semua peserta didik yang memerlukan bantuan manakala mereka menghadapi persoalan belajar.

(17)

g. Belajar tidak hanya dilihat dan diukur dari segi hasil yang dicapai peserta didik tapi juga dilihat dan diukur dari segi proses belajar yang dilakukan siswa.

h. Adanya keberanian peserta didik mengajukan pendapatnya melalui pertanyaan atau pernyataan gagasannya, baik yang diajukan kepada guru maupun kepada peserta didik lainnya dalam pemecahan masalah belajar.

i. Guru Senantiasa menghargai pendapat peserta didik terlepas dari benar atau salah, dan tidak diperkenankan membunuh atau mengurangi/menekan pendapat peserta didik di depan peserta didik lainnya. Guru bahkan harus mendorong peserta didik agar selalu mengajukan pendapatnya secara bebas.

Ciri-ciri di atas merupakan sebagian kecil dari hakikat belajar active learning dalam praktek pengajaran. Untuk dapat mewujudkan ciri-ciri di atas bukanlah hal yang mudah tapi perlu pengenalan teori strategi dan teori penyusunan satuan pelajaran.

4. Teknik-teknik Pembelajaran Active Learning

Agar proses pembelajaran active learning bisa berjalan dengan baik, maka pendidik sebagai penggerak belajar peserta didik dituntut untuk menggunakan dan menguasai strategi pembelajaran (Yasin, 2008:181).

(18)

senang belajar dengan membaca, berdiskusi dan ada juga yang senang dengan cara langsung praktik. Disamping itu penggunaan strategi pembelajaran active learning bagi pendidik adalah sangat membantu atau memudahkan dalam mengajar. Bagi pendidik yang memiliki banyak jam mengajar, dan apabila dalam mengajar hanya berorientasi pada ceramah saja, maka jelas pendidik yang bersangkutan akan kehabisan energi karena mengekspos suara lisan melalui ceramah secara terus-menerus. Untuk itu sangat diperlukan penggunaan berbagai jenis strategi pembelajaran active learning.

Beberapa strategi dalam pembelajaran aktif tersebut, antara lain adalah sebagai berikut:

a. Poster comment (mengomentari gambar) Yaitu suatu strategi yang digunakan pendidik dengan maksud mengajak peserta didik untuk memunculkan ide apa yang terkandung dalam suatu gambar. Gambar tersebut tentu saja berkaitan dengan pencapaian suatu kompetensi dalam pembelajaran. Langkah-langkah penerapannya:

1. Pendidik menyediakan potongan gambar yang dihubungkan dengan materi bahasan.

2. Jangan ada tulisan apapun dalam gambar tersebut.

(19)

4. Peserta didik boleh mengeluarkan pendapat yang berbeda, karena pikiran manusia juga berbeda-beda.

5. Pendidik sudah mempersiapkan rumusan jawaban yang tepat mengenai gambar tersebut, sehingga peserta didik merasa dapat penjelasan sekaligus dapat pula menyaksikan gambarnya.

Dengan strategi ini peserta didik diharapkan dapat memberi masukan berupa pendapat/ide yang bervariasi karena setiap pikiran manusia itu berbeda-beda, dengan berbagai macam pendapat dari peserta didik tersebut akan dapat ditarik benang merahnya tentang inti pokok dari materi yang diajarkan.

b. Index Card Matc (Mencari Pasangan Jawaban)

Yaitu suatu startegi yang digunakan pendidik dengan maksud mengajak peserta didik untuk menemukan jawaban yang cocok dengan pertanyaan yang sudah disiapkan. Langkah-langkah penerapannya:

1. Siapkan materi yang sudah dipelajari di rumah, dan atau yang sudah pernah dialami sebagai pengalaman.

2. Buatlah potongan kertas sejumlah peserta didik di kelas, yang berisi tentang pertanyaan dan jawaban.

(20)

4. Peserta didik disuruh mencari pasangan soal dan jawabannya, setelah ketemu suruh mereka duduk berdekatan. Dan mulailah satu persatu membacakan atau mencocokkan soal dan jawabannya, yang lain mendengarkan barangkali ada kekeliruan pasangan.

5. Pendidik mengoreksi dengan cara mendengarkan dan sekaligus menjelaskan bahwa strategi ini sebagai latihan persiapan ujian akhir atau ulangan.

c. Everyone is teacher Here (semua adalah pendidik/guru)

Yaitu strategi yang digunakan oleh pendidik dengan maksud meminta peserta didik untuk semuanya berperan menjadi narasumber terhadap sesama temannya di kelas belajar. Langkah-langkah penerapannya:

1. Berikan bahan bacaan dan minta peserta didik untuk membaca bahan tersebut.

2. Mintalah setiap peserta didik untuk membuat pertanyaan dari materi terdahulu lalu bagikan kembali kepada semua peserta. 3. Kocoklah kertas pertanyaan tersebut, lalu bagikan kembali

kepada semua peserta.

(21)

5. Panggil secara bergantian setiap peserta untuk membaca pertanyaan dan jawabannya masing-masing.

6. Minta peserta lain untuk memberi tanggapan.

7. Strategi ini bertujuan untuk memberikan kesempatan yang sama kepada setiap peserta didik untuk berperan sebagai guru bagi kawannya.

8. Dengan ini diharapkan agar peserta didik yang pasif dapat ikut terlibat dalam pembelajaran aktif.

d. Team Quiz

Langkah-langkah metode kuis berkelompok adalah:

1. Pilihlah topik yang dapat disampaikan dalam tiga bagian. 2. Bagilah peserta didik menjadi tiga kelompok yaitu A, B dan C. 3. Sampaikan kepada peserta didik format penyampaian pelajaran

kemudian mulai penyampaian materi. Batasi penyampaian materi maksimal 10 menit.

4. Setelah penyampaian, minta kelompok A menyiapkan pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan materi yang baru saja disampaikan. Kelompok B dan C menggunakan waktu ini untuk melihat lagi catatan mereka.

(22)

6. Kelompok A memberi pertanyaan kepada kelompok C, jika kelompok C tidak bisa menjawab, lemparkan kepada kelompok B.

7. Jika tanya jawab selesai, lanjutkan pelajaran kedua dan tunjuk kelompok B untuk menjadi kelompok penanya. Lakukan seperti proses untuk kelompok A.

8. Setelah kelompok B selesai dengan pertanyaannya, lanjtkan penyampaian materi pelajaran ketiga dan tunjuk kelompok C sebagai kelompok penanya.

9. Akhiri pelajaran dengan menyimpulkan Tanya jawab dan jelaskan sekiranya ada pemahaman peserta didik yang keliru (Suprijono, 2009:114).

e. Jigsaw

Yaitu strategi kerja kelompok yang terstruktur didasarkan pada kerjasama dan tanggung jawab. Kelebihan strategi ini adalah dapat melibatkan seluruh peserta didik dan setiap peserta didik memikul suatu tanggung jawab yang signifikan dalam kelompok.

Langkah-langkah penerapannya:

1. Kelas diatur ke dalam sejumlah kelompok pangkalan kira-kira enam anggota masing-masing.

(23)

3. Di dalam kelompok pangkalan, setiap peserta didik meneliti satu dari isu atau pertanyaan yang berbeda-beda itu.

4. Kelompok menugaskan tugas khusus untuk angota-anggota kelompok pangkalan atau membiarkan kelompok berunding diantara mereka mengenai siapa yang melakukan apa.

5. Apa hasil kesimpulan dari masing-masing topik bacaan tersebut, setelah selesai meneliti dan membacanya. Kemudian peserta didik disuruh menguraikan atau membacakan.

Pada dasarnya model jigsaw merupakan salah satu model dari cooperative learning yakni dengan membentuk diskusi atau learning community. Rasa dalam satu kelompok ini memungkinkan peserta didik menghadapi perubahan-perubahan di hadapannya. Ketika belajar lebih senang dengan yang lain dari pada sendirian, mereka memiliki dorongan emosional dan intelektual, yang memungkinkan mereka melampaui tingkat pengetahuan dan ketrampilan mereka sekarang. Jerome Bruner dalam Mel Silberman mengenalkan sisi sosial dari belajar dalam buku klasiknya yang berjudul Toward a Theory of Instruction. Ia mendeskripsikan suatu kebutuhan yang dalam untuk merespon yang lain dan secara bersama-sama dengan mereka terlibat dalam mencapai tujuan, yang ia sebut reciprocity. 5. Kebaikan dan Kelemahan Metode Active Learning

(24)

Proses belajar mengajar baru berhasil apabila guru memiliki kewibawaan di depan kelas. Secara lahir kewibawaan guru banyak ditentukan oleh penampilannya, posisinya di depan kelas, perkataan dan tulisannya. Secara batin kewibawaan ditumpang oleh penguasaan bahan yang diajarkan, penguasaan metode dan media pendidikan yang dipilihdan digunakan, dan penguasaan alat penelitian yang diterapkan (Oemar Hamalik, 2007:142). Disamping itu guru juga memperhatikan keikutsertaan peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar, diusahakan peserta didik aktif dan berpartisipasi secara penuh dalam belajar, kewibawaan juga timbul karena kemahiran guru dalam pengorganisasi waktu, bahan, dan siswa. Kebaikan-kebaikan metode active learning adalah sebagai berikut:

c. Prakarsa peserta didik dalam kegiatan belajar, yang ditujukan melalui keberanian memberikan urung pendapat tanpa secara eksklusif diminta misalnya di dalam diskusi-diskusi, mengemukakan usul dan saran di dalam pendekatan tujuan atau cara kerja kegiatan belajar, kesediaan mencari alat atau sumber dan lain sebagainya.

(25)

dihadapi serta komitmennya untuk menyelesaikan tugas tersebut dengan sebaik-baiknya.

e. Peranan guru yang lebih banyak sebagai fasilitator merupakan sisi lain daripada kadar tinggi prakarsa serta tanggung jawab peserta didik di dalam kegiatan belajar.

f. Belajar dengan pengalaman langsung, kekayaan variasi bentuk dan alat kegiatan belajar mengajar merupakan indikator yang dominan dalam metode active learning.

g. Indikator terakhir yang dikemukakan dalam masalah ini adalah kualitas interaksi antar siswa, baik intelektual maupun sosial, emosional sehingga meningkatkan peluang. Pembentukan kepribadian seutuhnya, terutama yang berkaitan dengan keamanan dan kemampuan bekerjasama di dalam memecahkan masalah, baik yang berkenaan dengan kegiatan Intra maupun Ekstra Kurikuler

(26)

Hakikat pendidikan adalah proses kemanusiaan yang hanya dilakukan oleh manusia. Ini berarti bahwa prakarsa dan tanggung jawab belajar ada pada subjek didik. Oleh karena itu untuk mendidik sendiri harus secara eksklusif. Belajar tidak berarti hanya menerima pengetahuan saja, tetapi belajar dapat terjadi dari hasil interaksi antara sesama peserta didik atau prakarsa dirinya di dalam mengembangkan kemampuan yang ada pada dirinya

Terjadinya kadar metode active learning yang menurun ini terjadi akibat tidak keterlibatannya mental secara optimal di dalam kelas maupun di luar kelas. Beberapa kelemahan dari metode active learning adalah sebagai berikut:

a. Tidak menjamin dalam melaksanakan

keputusan. Kendatipun telah tercapai persetujuan, namun keputusan-keputusan itu belum tentu dapat dilaksanakannya. b. Diskusi tidak dapat diramalkan, pada

mulanya diskusi diorganisasi secara baik tetapi selanjutnya mungkin saja mengarah ke tujuan lain, sehingga terjadi (Free Foryall) terutama jika kepemimpinan diskusi tidak produktif.

c. Memasyarakatkan agar semua peserta didik

memiliki ketrampilan berdiskusi yang diperlukan untuk berpartisipasi secara aktif.

(27)

e. Dapat menjadi palsu (tidak murni lagi) jika pemimpin mengalami kesulitan mempertemukan berbagai pendapat padahal dia telah mengetahui jawaban yang diinginkan, sehingga ia menolak pendapat peserta lain.

f. Dapat didominasi oleh active learning seseorang atau sejumlah peserta didik sehingga dia menolak pendapat peserta lain.

Jadi kelemahan metode peserta didik yang pandai akan bertambah pandai, peserta didik yang bodoh akan tertinggal. Disamping ketrampilan kegiatan siswa, guru juga harus terampil memilih dan menggunakan metode yang tepat pada waktu proses belajar mengajar, karena tidak semua guru didukung oleh literature yang cukup kuat dan tidak semua guru mampu menafsirkan dan mengolah informasi metode active learning dan tepat sesuai dengan misi hakikat metode active learning yang dimaksud.

B. Motivasi Belajar

1. Pengertian Motivasi Belajar

(28)

daya penggerak yang telah menjadi aktif. Motif menjadi aktif pada saat-saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat mendesak. Atau dengan kata lain motivasi adalah dorongan yang terdapat dalam diri seseorang untuk berusaha mengadakan perubahan tingkah laku yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhannya.

Menurut Mc. Donald, “Motivation is a energy change within the person characterized by affective arousal and anticipatory goal reactions.”Motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan MC.Donald ini mengandung tiga unsur yang saling terkait yaitu;

a. Bahwa motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia.

b. Motivasi ditandai dengan timbulnya perasaan/ feeling/ afeksi seseorang.

c. Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan. Jadi motivasi dalam hal ini sebenarnya merupakan respon dari suatu aksi, yakni tujuan.

(29)

Selanjutnya Hamalik mengatakan motivasi mempunyai dua komponen, yakni komponen dalam (inner component) dan komponen luar (outer component). Komponen dalam ialah perubahan di dalam diri seseorang, keadaan merasa tidak puas, ketegangan psikologis. Komponen luar ialah apa yang diinginkan seseorang, tujuan yang menjadi arah kelakuannya. Jadi komponen dalam ialah kebutuhan-kebutuhan yang hendak dipuaskan, sedangkan komponen luar adalah tujuan yang hendak dicapai.

Motivasi belajar merupakan daya penggerak psikis dari dalam diri seseorang untuk dapat melakukan kegiatan belajar dan menambah ketrampilan, pengalaman. Motivasi mendorong dan mengarah minat belajar untuk tercapai suatu tujuan. Siswa akan bersungguh-sungguh belajar karena termotivasi mencari prestasi, mendapat kedudukan dalam jabatan, menjadi politikus, dan memecahkan masalah.

(30)

kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai. Dikatakan keseluruhan, karena pada umumnya ada beberapa motif yang bersama-sama menggerakkan siswa untuk belajar. 2. Macam-Macam Motivasi Belajar

Motivasi dalam belajar dibagi menjadi dua yaitu: a. Motivasi intrinsik.

Yang disebut dengan motivasi instrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tudak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Siswa termotivasi untuk belajar semata-mata untuk menguasai nilai-nilai yang terkandung dalam bahan pelajaran, bukan karena keinginan lain seperti ingin mendapat pujian, nilai yang tinggi, atau hadiah dan sebagainya.

(31)

Jadi, motivasi intrinsik muncul berdasarkan kesadaran dengan tujuan esensial, bukan sekedar atribut dan seremonial.

b. Motivasi ekstrinsik.

Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar, seperti: angka, kredit, ijazah, tingkatan, hadiah, medali, pertentangan dan persaingan dan lain-lain. Jadi yang penting bukan karena belajar ingin mengetahui sesuatu, tetapi ingin mendapatkan nilai yang baik, atau agar mendapat hadiah. Motivasi ekstrinsik bukan berarti motivasi yang tidak diperlukan dan tidak baik dalam pendidikan. Motivasi ekstrinsik diperlukan agar siswa mau belajar. Motivasi ekstrinsik tidak selalu buruk akibatnya. Motivasi ekstrinsik sering digunakan karena bahan pelajaran kurang menarik perhatian anak didik.

Kesalahan penggunaan bentuk-bentuk motivasi ekstrinsik akan merugikan anak didik. Akibatnya, motivasi ekstrinsik bukan berfungsi sebagai pendorong, tetapi menjadikan siswa malas belajar. 3. Fungsi Motivasi Dalam Belajar

(32)

Ada tiga fungsi motivasi yang dipaparkan oleh Martinis Yamin dalam belajar, yaitu:

a. Motivasi sebagai pendorong perbuatan

Dengan adanya motivasi anak didik akan terdorong/tergerak untuk melakukan perbuatan seperti belajar.

b. Motivasi sebagai penggerak perbuatan

Ia berfungsi sebagai mesin bagi mobil. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.

c. Motivasi sebagai pengarah perbuatan

Mengarahkan perbuatan kepada pencapaian tujuan yang diinginkan. Sama halnya dengan pendapat yang dikemukakan oleh Tabrani dalam bukunya pendekatan dalam proses belajar mengajar yaitu:

a. Mendorong timbulnya kelakuan atau perbuatan. b. Mengharapkan aktivitas belajar peserta didik.

c. Menggerakkan dan menentukan cepat atau lambatnya suatu perbuatan (Tabrani Rusyan, 1989).

(33)

tingkat pencapaian prestasi belajarnya. Dengan demikian motivasi itu mempengaruhi adanya kegiatan.

4. Prinsip-Prinsip Motivasi Belajar

Motivasi mempunyai peranan penting dalam aktivitas belajar seseorang. Tidak ada seorang pun yang belajar tanpa motivasi. Tidak ada motivasi berarti tidak ada kegiatan belajar. Ada beberapa prinsip motivasi dalam belajar seperti dalam uraian berikut ini:

a. Motivasi sebagai dasar penggerak yang mendorong aktivitas belajar. Seseorang melakukan aktivitas belajar karena ada yang mendorongnya. Motivasilah sebagai dasar penggeraknya yang mendorong seseorang untuk belajar.

b. Motivasi instrinsik lebih utama daripada motivasi ekstrinsik dalam belajar.Kepuasan yang didapat oleh individu itu sesuai dengan ukuran yang ada di dalam dirinya sendiri.

c. Motivasi berupa pujian lebih baik daripada hukuman.

Setiap orang senang dihargai dan tidak suka dihukum dalam bentuk apapun juga. Memuji orang lain berarti memberikan penghargaan atas prestasi kerja orang lain. Hal ini akan memberikan semangat kepada seseorang untuk lebih meningkatkan prestasi kerjanya.

d. Motivasi berhubungan erat dengan kebutuhan dalam belajar.

(34)

e. Motivasi dapat memupuk optimisme dalam belajar.

Siswa yang mempunyai motivasi dalam belajar selalu yakin dapat menyelesaikan setiap pekerjaan yang dilakukan. Dia yakin bahwa belajar bukanlah kegiatan yang sia-sia. Hasilnya pasti akan berguna tidak hanya kini, tetapi juga hari-hari mendatang.

f. Motivasi melahirkan prestasi dalam belajar.

Tinggi rendahnya motivasi selalu dijadikan indikator baik buruknya prestasi belajar seorang siswa.

g. Teknik dan prosedur mengajar yang bermacam-macam itu efektif untuk memelihara minat siswa. Cara mengajar yang yang bervariasi ini akan menimbulkan situasi belajar yang menantang dan menyenangkan.

h. Pemahaman yang jelas tentang tujuan belajar akan merangsang motivasi. Apabila seseorang telah mengetahui tujuan yang hendak dicapainya, perbuatan kearah itu akan lebih besar daya dorongnya. i. Tugas-tugas yang bersumber dari diri sendiri akan menimbulkan

minat yang lebih besar untuk mengerjakannya ketimbang bila tugas-tugas itu dipaksakan oleh guru. Apabila siswa diberi kesempatan untuk menemukan masalah sendiri dan memecahkannya sendiri, ia akan mengembangkan motivasi dan disiplin yang lebih baik.

(35)

Agar peranan motivasi lebih optimal, maka prinsip-prinsip motivasi dalam belajar tidak hanya sekedar diketahui, tetapi harus diterangkan dalam aktivitas belajar mengajar. Peran guru sangat penting dalam menumbuhkan motivasi belajar siswa, karena dengan tanpa adanya motivasi kegiatan belajar tidak akan terlaksana dengan maksimal.

5. Bentuk-Bentuk Motivasi Dalam Belajar

Ada beberapa bentuk motivasi yang dapat dimanfaatkan dalam rangka mengarahkan belajar siswa di kelas sebagai berikut:

a. Memberi angka

Angka merupakan alat motivasi yang cukup memberikan rangsangan kepada siswa untuk mempertahankan atau bahkan lebih meningkatkan prestasi belajar mereka di masa mendatang. Angka ini biasanya terdapat dalam buku rapor sesuai jumlah mata pelajaran yang diprogramkan dalam kurikulum.

b. Hadiah

Hadiah adalah memberikan sesuatu kepada orang lain sebagai penghargaan. Dalam dunia pendidikan hadiah bisa dijadikan sebagai alat motivasi agar senantiasa mempertahankan dan meningkatkan prestasi belajar.

c. Kompetisi

Kompetisi adalah persaingan untuk mendorong siswa agar bergairah belajar.

(36)

Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai suatu tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri.

e. Memberi ulangan

Para siswa akan belajar dengan giat kalau mengetahui kalau akan ada ulangan.

f. Mengetahui hasil

Dengan mengetahui hasil pekerjaan, siswa terdorong untuk belajar lebih giat.

g. Pujian

Seorang siswa akan senang dipuji atas hasil pekerjaan yang telah mereka selesaikan. Hal ini akan membesarkan jiwa seseorang dan akan lebih bergairah dalam mengerjakannya.

h. Hukuman

Hukuman yang mendidik yakni bertujuan untuk memperbaiki sikap dan perbuatan siswa yang dianggap salah. Sehingga dengan hukuman siswa tidak akan mengulangi kesalahan atau pelanggaran.

i. Hasrat untuk belajar

Hasrat berarti ada unsur kesengajaan dalam kegiatan belajar, sehingga sudah barang tentu hasilnya akan jauh lebih baik.

j. Minat

(37)

menyuruh. Siswa yang berminat terhadap suatu mata pelajaran akan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, karena ada daya tarik baginya.

k. Tujuan yang diakui angka merupakan alat motivasi yang cukup. Dengan memahami tujuan yang harus dicapai, dirasakan anak sangat berguna dan menguntungkan, sehingga menimbulkan gairah untuk terusbelajar (Sardiman, 2011:91).

Bentuk-bentuk motivasi seperti di atas tersebut hanyalah sebagian cara untuk mengarahkan belajar siswa agar termotivasi untuk selalu bersemangat dalam belajar. Guru harus kreatif dalam memberikan suatu cara untuk memotivasi siswanya agar mereka tidak merasa bosan atau jenuh, sehingga akan menciptakan suasana kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan.

6. Indikator Siswa Termotivasi

Indikator yang bisa dijadikan patokan bahwa siswa itu termotivasi adalah: a. Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam waktu yang

lama, tidak berhenti sebelum selesai). b. Ulet menghadapi kesulitan.

c. Tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi. d. Ingin mendalami bahan/bidang pengetahuan yang diberikan.

(38)

f. Menunjukkan minat terhadap macam-macam masalah “orang dewasa” (misalnya terhadap pembangunan, korupsi, keadilan dan sebagainya). g. Senang dan rajin belajar, penuh semangat, capat bosan dengan

tugas-tugas rutin dapat mempertahankan pendapat-pendapatnya (kalau sudah yakin akan sesuatu, tidak mudah melepaskan hal yang diyakini tersebut). h. Mengejar tujuan-tujuan jangka panjang (dapat menunda pemuasan

kebutuhan sesaat yang ingin dicapai kemudian). i. Senang mencari dan memecahkan soal-soal.

Jadi tugas dari guru adalah selalu melihat perkembangan dari siswanya, agar nantinya bisa dijadikan evaluasi agar lebih baik lagi, karena setiap siswa mempunyai motivasi belajar yang berbeda.

Posisi guru dan dan siswa boleh berbeda, tetapi keduanya tetap seiring dan setujuan. Seiring dalam arti kesamaan langkah dalam mencapai tujuan bersama. Siswa berusaha mencapai cita-citanya dan guru dengan ikhlas mengantar dan membimbing siswa ke pintu gerbang cita-citanya. Untuk itulah guru perlu memotivasi penuh agar tujuan dan cita-citanya tercapai.

C. Pengaruh penerapan metode active learning terhadap motivasi belajar siswa dalam mata pelajaran IPS terpadu

(39)

belajar mengajar berlangsung dengan efektif dan efisien maka harus menggunakan metode yang tepat dan sesuai terhadap materi yang diajarkan oleh guru. Dengan demikian akan menciptakan suasana belajar yang menjunjung KBM yang efektif dan efisien. Hal tersebut akan dicapai suatu kondisi belajar yang optimal jika kemampuan dan ketrampilan dikuasai atau dipenuhi guru dalam setiap pembelajaran siswa.

Ketika kegiatan belajar mengajar berproses guru harus ikhlas dalam bersikap dan berbuat, serta mau memahami peserta didiknya dengan segala konsekuensinya. Semua kendala yang terjadi dapat menjadi penghambat jalannya KBM baik yang berasal dari peserta didik maupun yang bersumber dari luar diri peserta didik harus guru hilangkan, dan bukan membiarkannya karena keberhasilan belajar mengajar lebih banyak ditentukan oleh guru dalam menggunakan metode pembelajaran yang tepat.

Konsep belajar John Dewey menekankan bahwa belajar itu menyangkut apa yang harus dikerjakan peserta didik untuk dirinya sendiri. Guru adalah pembimbing dan pengarah, yang mengemudikan jalannya kegiatan pembelajaran, tetapi tenaga untuk menggerakkan tersebut haruslah berasal dari murid yang belajar (Dimyati dan Mudjiono, 2013:116).

(40)

seseorang mengalami perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman yang diperolehnya.

Dari batasan belajar yang dikemukakan oleh Dewey serta Gage dan Berliner, kita dapat menandai bahwa belajar merupakan suatu proses yang melibatkan manusia secara orang per orang sebagai satu kesatuan organisasi sehingga terjadi perubahan pada pengetahuan, ketrampilan, dan sikapnya. Dengan demikian, dalam belajar orang tidak mungkin melimpahkan tugas-tugas belajarnya kepada orang lain. Orang yang belajar adalah orang yang mengalami sendiri metode active proses belajar.

Diantara salah satu kemampuan penerapan leaning adalah mengupayakan siswa untuk belajar, berdasarkan gambaran-gambaran nilai dari macam-macam dan tujuan perlu disyaratkan bagi guru untuk mencapai tujuan instruksional bidang IPS terpadu ekonomi. Dari penjelasan tersebut penulis dapat mengambil kesimpulan:

a. Penerapan metode active learning dapat memantapkan arah dan tujuan pelajaran IPS terpadu ekonomi pada peserta didik dari aspek motivasi belajar peserta didik.

b. Pendidikan yang erat hubungannya dengan tingkah laku akan ditunjang oleh fungsi serta tujuan penerapan metode active learning berdasarkan motivasi belajar peserta didik.

(41)

efektif dan efisien, dalam rangka memenuhi tujuan pengajaran, dan motivasi belajar peserta didik sebagai akibat dari perolehan dari pengajar.

3. Perumusan hipotesis

Ho: Variabel penerapan metode active learning tidak berpengaruh secara signifikan terhadap motivasi belajar.

Ha: Variabel penerapan metode active learning berpengaruh secara signifikan terhadap variabel motivasi belajar.

I. Metode Penelitian 1. Jenis penelitian

(42)

Dengan metode deskriptif penelitian survei, yaitu bertujuan untuk menjelaskan, meringkaskan berbagai kondisi, berbagai situasi, atau berbagai variabel yang timbul di masyarakat yang menjadi objek penelitian itu berdasarkan apa yang terjadi.

2. Populasi dan sampel a. Populasi

Pengertian populasi menurut Sugiyono (2013:117) adalah sebagai berikut: “wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.” Arikunto mengatakan bahwa populasi adalah keseluruhan dari subjek penelitian. Populasi dibatasi sebagai sejumlah penduduk atau individu yang paling sedikit mempunyai sifat yang sama.Berdasarkan pengertian di atas, maka yang jadi populasi penelitian ini adalah seluruh siswa MTs. NW Embung Raja kecamatan Terara yang berjumlah 263 siswa.

Tabel 1. Jabaran populasi

Kelas Populasi

VII 102

VIII 99

IX 62

Jumlah 263

Sumber: Arsip MTs. NW Embung Raja b. Sampel

(43)

wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2010:174). Sample dalam penelitian ini adalah sebagian siswa kelas VIII MTs. NW Embung Raja, karena peneliti akan menggunakan teknik random dalam menentukan sampel karena setiap anggota populasi terpilih menjadi anggota sampel dengan peluang yang sama (Subama dan Sudrajat, 2001:117), maka sampel pada penelitian ini semua kelas VIII yang berjumlah 99 siswa.

Tabel 2. Jabaran sampel

Kelas Sampel

VIII.A 39

VIII.B 39

VIII.C 21

Jumlah 99

3. Data penelitian

a. Jenis dan sumber data

Adapun sumber data yang dapat diperoleh melalui, yaitu:

1. Data primer adalah yang langsung diperoleh dari sumber data pertama di lokasi penelitian atau objek penelitian. Dalam hal ini kepala sekolah, guru, siswa dan pihak yang terkait (Sugiyono, 2013:308)

2. Sumber data sekunder yaitu data yang lebih dulu dikumpulkan oleh Orang yang ada di luar penyelidikan. Dalam hal ini buku-buku (literatur) dan dokumen-dokumen yang ada (Sugiyono, 2013:308)

(44)

Untuk mendapatkan data yang ada hubungannya dengan penulisan ini, penulis memakai beberapa metode sebagai berikut:

1. Metode Observasi

Observasi adalah pengamatan yang meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh alat indera (Arikunto, 2002:133). Sedangkan menurut Margono (2005:58) observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian.

Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa observasi adalah pengamatan terhadap proses terjadinya sesuatu kegiatan dalam situasi tertentu. Dalam melakukannya harus secara langsung dalam artian bahwa dalam melakukan pengamatan peneliti mengamati secara langsung apa yang nampak/terjadi di lapangan sehingga data yang diinginkan betul-betul akurat. 2. Kuisioner/Angket

(45)

langsung sebagai instrumen penelitian, yaitu responden menajawab tentang dirinya, dan dilihat dari bentuknya kuisioner ini termasuk rating scale (skala bertingkat), yaitu sebuah pertanyaan diikuti oleh kolom-kolom yang menunjukkan tingkatan-tingkatan. Adapun sakala pengukuruan yang digunakan dalam angket ini menggunakan skala Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, persepsi seseorang atau sekelompok orang.

Data diolah dengan menggunakan skala Likert dengan jawaban atas pertanyaan yaitu skala nilai 1-5. Nilai yang dimaksud adalah skor atas jawaban responden, dimana nilai yang digunakan peneliti adalah sebagai berikut:

1. TP = Tidak pernah Skor jawaban 1

2. JR = Jarang Skor jawaban 2

3. KD = Kadang-kadang Skor jawaban 3

4. SR = Sering Skor jawaban 4

5. SLL = Selalu Skor jawaban 5

4. Variable penelitian

Variable adalah obyek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian (Arikunto, 2010: 161).Variabel adalah gejala yang menjadi penelitian atau apa saja yang menjadi perhatian penelitian yaitu:

a. Variable Bebas X (Indevenden Variabel)

(46)

Variable bebas dalam penelitian ini adalah Pengaruh metode active learning

b. Variable terikat Y (Devenden Variabel)

Yaitu variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variable bebas. Adapun variable pada penelitian ini yaitu motivasi belajar siswa

5. Analisis data

Sebagaimana dimaklumi bahwa data merupakan kedudukan yang sangat penting bagi suatu penelitian, karena data merupakan penggambaran variabel yang diteliti dan berfungsi sebagai alat untuk membuktikan hipotesis. Oleh sebab itu benar tidaknya data, sangat menentukan bermutu tidaknya hasil penelitian. Sedangkan benar tidaknya data, tergantung dari baik tidaknya instrumen pengumpul data. Instrumen yang baik harus memenuhi harus memenuhi dua persyaratan penting, yaitu validitas dan reliabilitas.

a. Uji validitas

(47)

korelasi antara skor masing-masing pertanyaan dan skor total dengan menggunakan rumus korelasi Product Moment.

Teknik korelasi Product Moment ini digunakan untuk mencari hubungan dan membuktikan hipotesis hubungan dua variabel bila data kedua variabel berbentuk interval atau ratio, dan sumber data dari dua variabel atau lebih tersebut adalah sama. Teknik analisis data product moment dengan angka kasar digunakan untuk menemukan pengaruh penerapan metode active learning terhadap motivasi belajar siswa. Valid tidaknya suatu item instrument dapat diketahui dengan membandingkan indeks Korelasi Product Moment atau r hitung dengan nilai kritisnya dan rumus Product Moment yang digunakan adalah sebagai berikut:

Rxy=

N

XY

(

X

)(

Y

)

√¿ ¿ ¿

Keterangan:

Rxy = Koofisien korelasi antara variable x dan y N = Jumlah subjek penelitian

xy= Jumlah hasil perkalian antara skor x dan skor y ∑ x = Jumlah skor x

∑ y = Jumlah skor y

b. Uji reliabilitas

(48)

alat pengukur dipakai dua kali untuk mengukur gejala yang sama dan hasil pengukuran yang diperoleh relatif konsisten, maka alat pengukur tersebut reliabel. Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama akan menghasilkan data yang sama. Uji reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach, yaitu sebagai berikut:

r11=

(

k

(k−1)

)

(

1−

δb2

δt2

)

Keterangan:

R11 = Reliabilitas instrument

K = Banyaknya butir pertanyaan atau soal

δb2

=¿ Jumlah varians butir

δt2❑= Varians total (Arikunto, 2010:239) Uji reliabilitas ini dihitung dengan cara mengkorelasikan skor item satu dengan skor item yang lain kemudian hasilnya dibandingkan dengan nilai kritis pada tingkat signifikan 5 % (α = 0, 05). Jika koefisien korelasi lebih besar dari nilai kritis, maka alat ukur tersebut dikatakan reliabel.

(49)

Untuk menguji hipotesis yang diajukan bermakna atau tidak maka digunakan perhitungan uji t. Uji t (parsial) merupakan uji statistik secara individu untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat, yaitu sebagai berikut:

t = rn−2

1−r2

Di mana:

t = Nilai thitung atau tes signifikan korelasi r = Koefisien korelasi hasil rhitng

n = Jumlah responden (Sugiyono, 2013:257)

Kesimpulan

Menolak Ho dan menerima Ha secara parsial variabel penerapan metode active learning berpengaruh terhadap variable dependen motivasi belajar, atau menerima Ho dan menolak Ha artinya bahwa secara parsial variable penerapan metode active learning tidak berpengaruh terhadap variabel dependen motivasi belajar.

(50)

N o

Kegiatan

Bulan

Juni Juli Agustus

Minggu Minggu Minggu

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1 Penyusunan Proposal X X

2 Konsultasi Proposal X X X

3 Penelitian X

4 Pengumpulan Data X

5 Analisis Data X

6 Penyusunan Skripsi X

7 Konsultasi Skripsi X X

(51)

DAFTAR PUSTAKA

Hamalik, Oemar. 2007. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara Mudjiono dan Dimyati. 2013. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka

Cipta

Muhtadi, Ali. Model Pembelajaran “Active Learning” dengan Metode Kelompo untuk Meningkatkan Kualitas Proses Pembelajaran di Perguruan Tinggi Mulyasa, 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: PT Remaja

Rosdakarya.

Nurdin Syarifuddin dan Usman Basyiruddin. 2002. Guru Profesional Dan Implementasi kurikulum. Jakarta: Ciputat Pers.

Riyanto, yatim. 2001. Metodologi penelitian pendidikan. Surabaya: SIC

Rusyan, Tabrani. 1989. Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: CV Remaja Rosdakarya.

Sardiman. 2011. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Subama dan sudrajat. 2001. Dasar-dasar penelitian ilmiah. Bandung: CV Pustaka setia.

Sugiyono, 2013. Metode penelitian pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: CV Alfabeta.

Gambar

Tabel 1. Jabaran populasi
Tabel 2. Jabaran sampel

Referensi

Dokumen terkait

It is also far too anarchic; the study of international or global political econ- omy may lead one to believe that realist accounts of the world err by placing too much emphasis on

Salah satu dari sistem informasi yang telah diterapkan di PTUN adalah Sistem Informasi Administrasi Perkara Pengadilan Tata Usaha Negara (SIAD-PTUN).. Aplikasi SIAD-PTUN

Pembuktian kualifikasi tidak dapat diwakilkan, kecuali kuasa direktur yang mempunyai kewenangan untuk mewakili direktur sesuai tercantum dalam Akta Notaris Pendirian dan

Konsep ihsan yang dimaksud ‘Izz al-Din adalah menegakkan segala bentuk kemaslahatan dan mencegah segala bentuk kemafsadatan yang berhubungan dengan manusia, flora,

Memperhatikan surat Saudara nomor ...tanggal ...tentang permohonan persetujuan pemusnahan , dengan ini kami sampaikan bahwa arsip yang Saudara usulkan untuk

Tujuan pembahasan dalam butir ini adalah untuk mendorong pembaca, terutama orang-orang dalam gereja, juga para pemimpin Kristen untuk melatih diri dengan kepekaan- kepekaan sosial

In this research, the writer presents the findings based on 5 types of imagery and power of imagery in Suzanne Collins’s novel “Catching Fire”.. Through data analysis, it

(2) Penyaluran Dana Desa tahap II untuk BLT Desa bulan kedelapan sampai dengan bulan kedua belas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2) huruf b angka