• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seminar Nasional Teknologi Informasi 2016

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Seminar Nasional Teknologi Informasi 2016"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI ADMINISTRASI

PENGAJUAN PERKARA GUGATAN TINGKAT PERTAMA

BERBASIS WEB DENGAN FITUR MOBILE

(Studi Kasus :BAGIAN KEPANITERAAN MUDA PERKARA

PTUN PADANG)

Husnil Kamil

1)

, Hadiyatul Husna

2)

1,2)

Prodi Sistem Informasi FTI Universitas Andalas

Kampus UNAND, Limau Manis, Padang

Email: [email protected])[email protected]2)

ABSTRACT

Litigation administrative information system is an information system that manages the administration of litigation at the Deputy Registrar Case in the Administrative Lower Court (Administrative Court) Padang. Currently the filling process of a case in the Administrative Lower Court Padang requires the ligitant to come directly to the court. It can be difficult for ligitant that not a Padang City resident. Therefore, it needs a information system that enable the administration of litigation is done by doing online. This system developed by using Rational Unified Process. The stages of development system are business process modeling, description of requirements, analysis and design, implementation phase, the testing phase. Modeling of bussiness process is done by using Business Process Modeling Notation. Functional requirements description is taken from bussiness modelling and outlined in a form of a table. Analysis and design is done by using use case diagrams, use case scenarios, sequence diagrams. The implementation phase is done by making the design of Entity Relationship Diagram (ERD) and Class Diagram and interface design. At the implementation stage, there is activity of coding the system by using PHP programming language for web application and Java for mobile application. The result of this stage is as system that had been tested by using the black box method. The test results indicate that the ligitation administrative information system is built according to the functional requirement that had been set from previous step.

Key

words

Information System, Ligitation administrative,

Administrative Lower Court, Rational Unified Process

1. Pendahuluan

Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) merupakan salah satu lembaga peradilan di Indonesia di bawah kekuasaan Mahkamah Agung, yang mengurus sengketa yang terjadi pada pelaksanaan administrasi negara atau tata usaha negara. Sama seperti beberapa lembaga peradilan lainnya, PTUN saat ini sudah mulai menerapkan sistem informasi dalam pelaksanaan aktifitas instansinya. Salah satu dari sistem informasi yang telah diterapkan di PTUN adalah Sistem Informasi Administrasi Perkara Pengadilan Tata Usaha Negara (SIAD-PTUN). Aplikasi SIAD-PTUN merupakan aplikasi yang dapat membantu pengguna dalam mengolah data administrasi perkara.

Walaupun telah menggunakan sistem informasi dalam pengolahan data perkara, PTUN Padang masih mengandalkan sistem manual dalam aktifitas penerimaan perkara. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, dalam proses penerimaan perkara tersebut, penggugat harus datang langsung ke PTUN Padang untuk mengajukan gugatan yang dimilikinya. Pengajuan gugatan secara langsung memiliki kekurangan. Pihak penggugat yang berdomisili di luar kota Padang harus mengalokasikan biaya dan waktu untuk mengurus proses administrasi.

Dengan kemajuan teknologi saat ini harusnya pengajuan perkara dapat dilakukan dimana saja. Salah satu kemajuan teknologi saat ini adalah berkembangnya aplikasi web yang dapat diakses kapan saja dan dimana saja serta meningkatnya penggunaan perangkat mobile. Menurut data dari eMarketer saat ini pengguna smartphone di Indonesia pada tahun 2014 mencapai 38.2 juta pengguna[1]. Tahun 2018 Indonesia diprediksikan akan menjadi negara dengan pengguna smartphone terbesar ke-4 di dunia dengan perkiraan jumlah pengguna 103 juta pengguna.Perangkat mobile ini dapat dimanfaatkan sebagai perangkat dalam mengakses sistem informasi yang diperlukan. Salah satu kelebihan perangkat mobile adalah portabilitasnya sehingga dapat

(2)

dibawa kemana saja. Dengan menggunakan perangkat mobile, pengguna bisa mendapatkan informasi kapan saja dan dimana saja.

Pengajuan perkara dengan penerapan sistem informasi bukan merupakan hal yang baru. Sudah ada beberapa penelitian yang membahas tentang sistem informasi pengajuan perkara. Salah satunya Laporan Akhir oleh Octari Ameliya Kirti dengan judul Sistem Informasi Pendaftaran Perkara Online Pada Pengadilan Agama Palembang Kelas 1A. Selain itu, beberapa pengadilan di Indonesia juga sudah menerapkan sistem informasi pada aktifitas tersebut, sebagian lainnya masih merencanakan sistem tersebut sebagai inovasi baru. Salah satu pengadilan yang telah menerapkan sistem seperti ini yaitu, Pengadilan Agama Ponorogo. Hal tersebut tertera dalam tulisan Inovasi Pelayanan Publik Peradilan 2015 Sistem Informasi Pendaftaran Perkara (SIDaRa) dengan penanggung jawab Drs. Abdullah Shofwandi, yang menjelaskan mengenai sistem informasi pendaftaran perkara yang diterapkan di lingkungan Pengadilan Agama Ponorogo.

Berdasarkan permasalahan diatas, maka perlu dilakukan penelitan untuk membangun sistem informasi administrasi pengajuan perkara gugatan tingkat pertama dengan studi kasus PTUN Padang. Sistem informasi yang dibangun dilengkapi dengan aplikasi mobile untuk mempermudah penggugat mendapatkan informasi gugatannya.

2. Landasan Teori

2.1 Peradilan Tata Usaha Negara

Peradilan Tata Usaha Negara merupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan proses mengadili perkara administrasi negara dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan. Dalam pasal 5 ayat 1 UU PTUN tahun 1986 dijelaskan bahwa kekuasaan kehakiman di lingkunganPeradilan Tata Usaha Negara dilaksanakan oleh Pengadilan Tata Usaha Negara dan Pengadilan Tinggi Usaha Negara, Selanjutnya dielaskan pada Pasal 8 UU PTUN 1986 bahwa Pengadilan Tata Usaha Negara merupakan pengadilan tingkat pertama dan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara merupakan pengadilan tingkat banding.

Dalam Pengadilan Tata Usaha Negara terdapat satu baigan yang mengurus urusan administrasi keperkaraan aktif. Bagian ini disebut dengan Kepaniteraan Muda Perkara. Kepaniteraan Muda Perkara dipimpin oleh seorang Panitera Muda Perkara. Dalam menjalankan tugasnya, Panitera Muda Perkara dibantu oleh petugas Meja I, Meja II dan Meja III. Tugas pokok Kepaniteraan Muda Perkara pada gugatan tahap pertama adalah sebagai berikut[2]:

1. Melakukan administrasi perkara, mempersiapkan persidangan perkara, menyimpan berkas perkara yang masih berjalan dan urusan lain yang berhubungan dengan masalah Tata Usaha Negara.

2. Memberi nomor register pada setiap perkara yang diterima Kepaniteraan.

3. Mencatatn setiap perkara yang diterima ke dalam buku daftar disertai catatan singkat tentang isinya.

4. Membantu Hakim dengan mengikuti jalannya siding pengadilan selaku Panitera Pengganti. 5. Mencatat jadwal siding sesuai laporan dari

Panitera/Panitera Pengganti.

2.2 Rational Unified Process

Metode yang digunakan dalam pengembangan sistem adalah metode RUP (Rational Unified Process). RUP menggunakan konsep object oriented, dengan aktifitas yang berfokus pada pengembagnan model dengan menggunakan Unified Model Language (UML) [3]. RUP adalah tahapan pengembangan sistem secara iteratif khusus pemrograman berorientasi objek[4]. Arsitektur RUP memiliki dua dimensi yaitu dimensi horizontal yang menyatakan fase dari pengembangan perangkat lunak dan dimensi vertikal yang menyatakan langkah-langkah atau workflow dari pengembangan perangkat lunak.

Pada penelitian ini tahapan pengembangan sistem informasi dilakukan hanya pada tahapan Core Process Workflow. Terdapat 5 tahap yang dilakukan dari 6 tahap yang ada yaitu:

1. Bussiness Modelling Workflow 2. Requirement Workflow 3. Analysis and Design Workflow 4. Implementation Workflow 5. Test Workflow

Dalam penelitian ini tidak dilakukan tahapan deployment workflow yang merupakan tahapan terakhir dalam pengembangan sistem. Tahap deployment tidak dilakukan karena sistem yang dibangun belum diimplementasikan di PTUN Padang karena keputusan pemakaian sistem informasi di luar cakupan penelitian ini, namun tergantung dari PTUN itu sendiri.

3. Pemodelan Proses Bisnis dan Analisa

Kebutuhan

Tahapan pertama dari rangkaian RUP adalah Bussiness Modelling Workflow dan Requirement Workflow. Bussiness Modelling dilakukan dengan menggunakan kakas BPMN (Bussiness Process Modelling Notaion). Pengajuan gugatan perkara di PTUN memiliki beberapa proses, yaitu:

a. Pengajuan perkara b. Pembayaran gugatan

c. Prosedur pengesahan gugatan d. Penetapan gugatan

e. Pengesahan penetapan f. Penyerahan dokumen

(3)

Setiap proses dimodelkan dengan BPMN. Gambar 1 merupakan BPMN dari salah satu proses dari sistem yang sedang berjalan yaitu proses pengajuan perkara.

Gambar 1. BPMN Pengajuan perkara

Berdasarkan analisis dan pembuatan BPMN, maka dapat disusun kebutuhan dari sistem informasi administrasi pengajuan perkara. Daftar kebutuhan sistem tersebut dapat dijabarkan dalam Tabel 1.

Tabel 1 Kebutuhan fungsional sistem. No. Kebutuhan sistem

1. Daftar akun

2. Mengajukan gugatan 3. Tambah tergugat manual 4. Upload pembayaran 5. Memberikan penetapan 6. Mengelola data majelis 7. Print Data Gugatan Terdaftar

8. Memberikan penetapan panitera pengganti

9. Menghapus tergugat tidak terpakai 10. Menonaktifkan gugatan

11. Menerima pembayaran 12. Lihat gugatan

13. Print Laporan Periodik

4. Analisisdan Desain

Kebutuhan fungsional yang telah berhasil di identifikasi dimodelkan dengan menggunakan use case. Berikut merupakan analisis use case dari aplikasi yang dibangun.Use case sistem yang dibangun dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Use case diagram

Setiap use case yang berhasil diidentifikasi perlu dianalisa untuk menentukan perilaku sistem dan komponen-komponen yang terlibat untuk masing-masing use case. Untuk itu perlu dilakukan analisa lebih lanjut dengan menggunakan use case scenario dan sequence diagram. Use case scenario memodelkan informasi aksi yang dilakukan oleh aktor terhadap sistem dan reaksi yang diberikan oleh sistem terhadap suatu aksi.Sequencediagram menunjukkan komponen-komponen sistem yang terlibat dalam sebuah use case berikut dengan urutan aksi dan reaksinya. Tabel 2menunjukkan salah satu use case scenario dari use case mengajukan gugatan.

Tabel 2 Skenario use case mengajukan gugatan

Aktor : Penggugat

Kondisi awal : Aktor telah login

Kondisi akhir : Aktor berada di halaman lihat data gugatan

Aksi Reaksi

1. Aktor memilih menu

pengajuan perkara

2. Sistem menampilkan

halaman pengajuan perkara

3. Aktor mengisi data

perkara dan memilih

tombol ajukan

4. Sistem menyimpan data yang dimasukkan

5. Sistem menampilkan

halaman tambah tergugat 6. Pengguna memilih tombol

tambah

7. Sistem menyimpan data tergugat yang dipilih pada suatu gugatan

8. Sistem menampilkan halaman lihat list gugatan

(4)

Sequence diagram pengajuan gugatan menggambarkan kelakuan objek-objek pada

usecasemengajukan perkara. Penggambaran sequence diagram pengajuan perkara dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Sequence diagram pengajuan perkara Pada tahapan ini juga dilakukan proses perancangan

sistem. Perancangan yang dilakukan perancangan basis data, kelas diagram dan rancangan antarmuka sistem. Untuk aplikasi mobile dilakukan rancangan state aplikasi dengan menggunakan statechart diagram.

Perancangan basis data yang dilakukan adalah perancangan ERD (Entity Relationship Diagram). Rancangan ERD yang dibuat menghasilkan 14 buah tabel dengan tabel gugatan sebagai tabel utamanya. ERD hasil rancangan sistem dapat dilihat pada

Gambar 4.

Diagram kelas menggambarkan hubungan antar kelas. Dalam hal ini kelas yang dimaksud merupakan kelas yang terhubung dengan sistem basis data. Dalam perancangan class diagram, telah berhasil diidentifikasi sebanyak 16 class diagram yang dibutuhkan untuk membangun aplikasi. Sebagian diagram kelas yang digunakan dapat dilihat pada Gambar 5.Gambar 5 menunjukkan class diagram yang terlibat dalam proses pengajuan perkara.

Statechart diagram, atau yang biasa juga disebut state diagram digunakan untuk mendokumentasikan beragam kondisi/keadaan yang bisa terjadi terhadap sebuah class dan kegiatan apa saja yang dapat merubah kondisi/keadaan tersebut[5]. Pada penelitian proses perancangan, statechart diagram digunakan untuk memodelkan state aplikasi mobile. Statechart diagram aplikasi mobile dapat dilihat padaGambar 6.

Rancanganberikutnya yang dilakukan adalah rancangan antarmuka sistem. Gambar 7 merupakan rancangan antarmuka halaman web pengajuan perkara. Sedangkan Gambar 8 merupakan tampilan rancangan antarmuka aplikasi mobile untuk halaman detail perkara.

(5)

Gambar 5. Class Diagram

Gambar 6 Statechart aplikasi mobile

Gambar 7. Rancangan antarmuka halaman web pengajuan perkara

Gambar 8. Rancangan Antarmuka aplikasi mobil untuk halaman detail perkara

5. Implementasi

Implementasi sistem informasi administrasi pengajuan perkara dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa batasan. Batasan-batasan tersebut meliputi:

a. Aplikasi sistem informasi administrasi pengajuan perkara diimplementasikan dengan mengesampingkan pertimbangan-pertimbangan yang berkaitan dengan hukum acara dalam setiap aktifitasnya.

b. Aplikasi sistem informasi administrasi pengajuan perkara ini tidak menyertakan fungsional pembayaran secara lengkap.

Sistem Informasipelayanan administrasigugatan perkaratingkat pertama pada PTUN padang diimplementasikan dengan spesifikasi perangkat lunak sebagai berikut:

 Database: PosgreSQL  Web Server: Apache 2  Bahasa Pemrograman: PHP

Sedangkan untuk pengembangan aplikasi mobile dilakukan dengan menggunakan kakas Eclipse Juno dengan Android SDK v 24.

Gambar 9merupakan implementasi dari antarmuka sistem yang telah dibuat. Gambar tersebut merupakan antarmuka dari halaman pengajuan perkara.

Gambar 9. Antarmuka pengguna halaman pengajuan perkara

Gambar 10. Antarmuka pengguna halaman detail gugatan pada aplikasi mobile

(6)

6. Pengujian

Pengujian terhadap sistem menggunakan data uji yang sesuai dengan proses tata laksana sistem. Fokus pengujian tersebut dijabarkan pada Tabel 3.

Tabel 3. Fokus pengujian

No Item Uji Detail Pengujian

1. Mengajukan

perkara

- Penambahan gugatan

- Input data gugatan dengan lengkap

- Input data gugatan tidak lengkap

2. Menambahkan

tergugat manual

- Penambahan tergugat

- Input data tergugat dengan lengkap

- Input data tergugat tidak lengkap

3. Pembayaran - Konfirmasi penolakan pembayaran

- Input alasan penolakan dan password

- Alasan penolakan tidak diinputkan

password tidak diinputkan

- Alasan penolakan diinputkan password

tidak diinputkan

- Alasan penolakan tidak diinputkan

password diinputkan

- Alasan penolakan diinputkan dan password

diinputkan dan tapi tidak sesuai

- Konfirmasi penerimaan pembayaran

- Input catatan penerimaan dan password

user

- Catatan penerimaan tidak diinputkan, input

hanya password user

- Catatan penerimaan tidak diinputkan,

password tidak diinputkan

4. Melihat daftar

gugatan

- Lihat daftar gugatan penggugat

- Halaman yang dipilih penggugat (seluruh

gugatan)

5. Melihat detail

data gugatan

- Lihat detail gugatan penggugat

- Gugatan yang dipilih oleh penggugat

6. Login (mobile) - Input username dan password

7. Melihat List

Gugatan (mobile)

- Memilih tombol acara biasa atau acara

cepat

Pengujian sistem dilakukan dengan menggunakan metode black-box testing. Black Box merupakan pengujian untuk mengetahui apakah semua fungsi perangkat lunak telah berjalan semestinya sesuai dengan kebutuhan fungsional yang telah didefinsikan[6]. Salah satu bentuk pengujian item dapat dijabarkan seperti pada Tabel 4. Tabel tersebut menggambarkan pengujian dengan item uji web mengajukan perkara. Perilaku yang diberikan ketika pengujian ini yaitu ketika data yang dimasukkan lengkap.

Tabel 4. Pengujian Item Uji Mengajukan Perkara

Pengujian Item Uji Web Mengajukan Perkara (Data masukan: lengkap)

Input Ekspektasi Hasil Kesimpulan

Input data gugatan dengan lengkap Sistem diharapkan dapat menyimpan data dan masuk ke halaman pengajuan lanjut Berhasil menyimpan data dan mengarahkan pengguna untuk masuk ke halaman pengajuan lanjut [ v ] Diterima [ ] Ditolak

Pengujian terhadap sistem menunjukkan bahwa seluruh fitur yang ditentukan dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Pengujian ini tidak dilakukan dengan menggunakan stakeholder dari PTUN. Namun pengujian ini dilakukan oleh pengguna umum dengan berpatokan dari kebutuhan fungsional yang didapatkan dari PTUN.

7. Kesimpulan

Sistem informasi pengajuan perkara gugatan tingkat pertama telah dilakukan. Sistem ini dibangun untuk mengatasi permasalahan yang terjadi pada proses pendaftaran perkara gugatan tingkat pertama PTUN. Terdapat 6 proses yang diidentifikasi dan 13 kebutuhan fungsional sistem. Aplikasi yang dibangun merupakan aplikasi berbasiskan web beserta aplikasi mobilenya. Aplikasi mobile digunakan bagi penggugat untuk mendapatkan informasi terkait gugatan yang diajukan. Sistem ini telah diuji dengan menggunakan metode black-box tesing dan telah sesuai dengan kebutuhan fungsional yang diharapkan.

Aplikasi sistem informasi administrasi pengajuan perkara masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut baik itu pada aplikasi web maupun aplikasi mobile, untuk dapat memenuhi kebutuhan sistem. Beberap hal yang dapat jadi pertimbangan dalam pengembangan leselanjutnya adalah fasilitas bagi penggugat untuk mengirim pesan kepada Panitera Muda Perkara sebagai bentuk konsultasi dan notifikasi yang bersifat realtime.

REFERENSI

[1] EMarketer, "2 Billion Consumers Worldwide to Get Smartphones by 2016," eMarketer, 2014. [Online]. Available: http://www.emarketer.com/Article/2-Billion-Consumers-Worldwide-Smartphones-by-2016/1011694. [Accessed 10 03 2016].

[2] Peradilan Tata Usaha Negara, Buku Pedoman

Pelaksanaan Administrasi Kepaniteraan Peradilan Tata Usaha Negara, Jakarta: Direktur Jendral Badan Peradilan Militer dan Peradilan Tata Usaha Negara Mahkamah Agung RI, 2012.

[3] Y. Siswantoro, Rancang Bangun Aplikasi Pemesanan dan Penjualan Kue Berbasis Mobile Android (Studi Kasus Cherie Cake's - Halim Perdana Kusuma), Bandung: Unikom, 2013.

[4] A. R. &. Shalahuddin, Rekayasa Perangkat Lunak, Bandung: Penerbit Modula, 2011

[5] R. Wirawan, "Statechart Diagram," 2010. [Online]. Available:

http://rio_wirawan.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files /29031/Materi+7.ppt. [Accessed 06 2016].

[6] A. Rouf, Pengujian Perangkat Lunak dengan

Menggunakan Metode White Box dan Black Box, Semarang: STMIK HIMSYA, 2012

Gambar

Gambar 1. BPMN Pengajuan perkara
Gambar 3. Sequence diagram pengajuan perkara
Tabel 3. Fokus pengujian

Referensi

Dokumen terkait

Pada persiapan ini tim pelaksana kegiatan sosialisasi melakukan beberapa persiapan yaitu persiapan alat dan bahan sebagai penunjang kegiatan, persiapan pembuatan produk

Surat Pelantikan Penceramah Borang Pengesahan Menghadiri Latihan, Borang Penilaian Keberkesanan Latihan (SOK/LAT/BR02/ LATIHAN 05) Surat/memo peringatan/dokumen lain

Dengan tetap mempertahankan asumsi distribusi normal, lakukan uji hipotesis yang 

Negara sebagai pihak pemilik budaya tradisional (dalam hal ini pemerintah daerah setempat) memiliki kewajiban dalam rangka pemeliharaan dan pengelolaan budaya tersebut,

Diharapkan isi buku ini, secara metaforis, dapat mendo- rong Anda menjadi Coach yang mampu berperan seba- gaimana jamu beras kencur : menghibur, menyembuhkan dan/atau

Adapun kriteria inklusi tersebut adalah pasien yang mencabut gigi molar permanen pertama bawah lebih dari 1 bulan, pasien yang telah kehilangan gigi molar permanen

Perahu atau kapal yang berbasis di Barru, Sulawesi Selatan memiliki daerah penangkapan ikan demersal khususnya jenis ikan karang ekonomis penting dengan rawai