• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARYA TULIS ILMIAH PEMANFAATAN EKSTRAK D

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KARYA TULIS ILMIAH PEMANFAATAN EKSTRAK D"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

KARYA TULIS ILMIAH

PEMANFAATAN EKSTRAK DAUN PEPAYA SEBAGAI

PESTISIDA ALAMI SISWA/I XII IPA 8

Semester 2

OLEH AGNES CHINTYA ( XII IPA 8 )

Guru Pembimbing :

Asep Mulyana, S.Pd.

SMA Negeri 2 Tambun Selatan

Jl. Aries Perum SKU

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNya sehingga saya dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah yang berjudul “ Pemanfaatan ekstrak daun pepaya (Carica Papaya L) sebagai pestisida alami ” dengan baik. Karya tulis ilmiah ini, dapat diselesaikan dengan baik karena dukungan dan partisipasi berbagai pihak. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada :

1) Bapak Asep Mulyana selaku guru Biologi yang telah mengijinkan saya menyusun karya tulis ilmiah ini.

2) Berbagai pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah mendukung dan berpartisipasi dalam penyelesaian karya tulis ilmiah ini.

Karya tulis ilmiah ini merupakan hasil penelitian, yang saya lakukan untuk memenuhi tugas mandiri terstruktur mata pelajaran Biologi di kelas XII semester 2 tahun pelajaran 2016/ 2017. Saya menentukan judul “ Pemanfaatan ekstrak daun pepaya (Carica Papaya L) sebagai pestisida alami ” yang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan sebagai wahana bacaan yang dapat memberikan informasi tentang tanaman pepaya dan juga berbagai manfaat tanaman pepaya.

Saya menyadari bahwa penulisan karya tulis ilmiah ini, masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif sangat saya harapkan. Akhirnya saya berharap agar karya tulis ilmiah ini, memberikan manfaat bagi masyarakat secara umum.

Tambun Selatan, 20 Februari 2017

Agnes Chintya

(3)

Kata Pengantar 1 Daftar Isi 2

Abstrak 3

Bab I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang Masalah 4-5 1.2 Rumusan Masalah5

1.3 Tujuan Penelitian 5

1.4 Manfaat Penelitian 5

Bab II Tinjauan Pustaka

2.1 Tanaman Pepaya 6

2.2 Deskripsi Daun Pepaya 6 2.3 Pestisida 6

2.4 Kimia Pestisida 6-7

Bab III Metodologi

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 8 3.2 Teknik Penelitian 8

3.3 Sistematika Penulisan 8

Bab IV Pembahasan

4.1 Kandungan Kimia dari Daun Pepaya 9

4.2 Penggunaan Pestisida Alami dari Daun Pepaya dalam Bidang Pertanian 10 4.3 Pembuatan Pestisida Alami dari Daun Pepaya 10-11

Bab V Penutup

5.1 Kesimpulan 12 5.2 Saran 12

Lampiran 13

Daftar Pustaka14

(4)

Chintya, Agnes. 2017. Pemanfaatan ekstrak daun papaya sebagai pestisida alami. SMA Negeri 2 Tambun Selatan.

Pemakaian pestisida sintesis berawal dari pelaksanaan program intensifikasi pertanian yang berorientasi pada peningkatan hasil panen yang sebesar- besarnya. Berkembangnya penggunaan pestisida sintesis yang dinilai praktis oleh para petani dan pecinta tanaman untuk mencegah tanamannya dari serangan hama, ternyata membawa dampak negatif yang cukup besar bagi manusia dan lingkungan. Beberapa hal yang melatar belakangi penulis melakukan penelitian terhadap daun papaya (Carica papaya L) sebagai peptisida yang ramah lingkungan, sebagai berikut ; Adanya dampak negatif dari penggunaan pestisida sintetis yang dapat meningkatkan daya tahan hama terhadap pestisida (resistansi hama itu sendiri), membengkaknya biaya perawatan akibat tingginya harga pestisida dan penggunaan yang kurang tepat dapat mengakibatkan keracunan bagi manusia dan ekosistem di lingkungan menjadi tidak stabil / tidak seimbang, tingkat kesadaran (awareness) masyarakat kita terhadap dampak negatif peptisida masih sangat rendah. Masih sering terlihat petani menyemprotkan peptisida tanpa memakai pelindung. Bahkan wadah bekas peptisida sering dibuang disembarang tempat. Pemakaian pestisida sering tidak bijaksana, dosis dan konsentrasi yang dipakai kadang- kadang ditingkatkan hingga melampaui batas yang disarankan, dengan alasan dosis yang rendah sudah tidak mampu lagi mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Selain itu, kekayaan alam yang ada dan dapat kita olah menjadi pestisida alami yang ramah lingkungan belum kita maksimalkan pemanfaatannya.

Hal-hal tersebut di atas, menjadi dasar mengapa penulis tertarik untuk mengungkapkan “ Daun Pepaya (Carica papaya L) Sebagai Pestisida Alami ”. Berdasarkan data- data yang penulis paparkan di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : Apakah daun papaya dapat dijadikan pestisida alami ramah lingkungan yang dapat menggantikan pestisida sintesis. Tujuan dari penelitian ini adalah : mengetahui kandungan kimia dari daun papaya, mengetahui cara pembuatan pestisida alami dari daun papaya, dan juga dapat mengetahui manfaat ekstrak daun papaya sebagai pestisida alami.

Pepaya (Carica papaya L) merupakan tumbuhan yang berbatang tegak dan basah. Tinggi pohon pepaya dapat mencapai 8 sampai 10 meter dengan akar yang kuat. Pepaya atau bahasa latinnya Carica Papaya L, termasuk family Caricaceae yang tidak begitu besar ruang lingkupnya. Memang sebelum perang telah didatangkan jenis pepaya yaitu Carica Candamarcensis. Menurut sejarah, asal dari pohon papaya ini adalah Mexico bagian selatan. Sedangkan orang yang berjasa menyebarkan papaya ke daerah tropis adalah orang-orang dari Spanyol.

Kata kunci : daun pepaya; pestisida ; alami.

BAB I

(5)

1.1 Latar Belakang Masalah

Berkembangnya penggunaan pestisida sintesis yang dinilai praktis oleh para petani dan pecinta tanaman untuk mencegah tanamannya dari serangan hama, ternyata membawa dampak negatif yang cukup besar bagi manusia dan lingkungan. Menurut WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) tercatat bahwa di seluruh dunia terjadi keracunan pestisida antara 44.000 -2.000.000 orang setiap tahunnya. Dampak negatif dari penggunaan pestisida sintetis adalah meningkatnya daya tahan hama terhadap pestisida (resistansi hama itu sendiri), membengkaknya biaya perawatan akibat tingginya harga pestisida dan penggunaan yang kurang tepat dapat mengakibatkan keracunan bagi manusia dan ekosistem di lingkungan menjadi tidak stabil / tidak seimbang.

Pemakaian pestisida sintesis berawal dari pelaksanaan program intensifikasi pertanian yang berorientasi pada peningkatan hasil panen yang sebesar- besarnya, tanpa memperhatikan dampak negatif terhadap lingkungan. Petani benar-benar dirangsang untuk menggunakan pestisida secara besar-besaran. Pada saat pelaksanaan program intensifikasi pertanian digiatkan, subsidi pemerintah terhadap pestisida mencapai 80%, sehingga harga pestisida menjadi sangat murah, terlebih lagi dengan adanya kemudahan memperoleh kredit. Program penyuluhan pertanian pun selalu merekomendasikan penyemprotan pestisida secara berkala tanpa melihat ada tidaknya hama yang menyerang tanaman, sehingga penyemprotan bisa dilakukan setiap minggu sepanjang musim tanam.

Namun, akhir-akhir ini disadari bahwa pemakaian pestisida sintesis ibarat pisau bermata dua. Dibalik manfaatnya yang besar bagi peningkatan produksi pertanian, tersembunyi bahaya yang mengerikan. Para ilmuwan telah menyadari bahwa dibalik kemudahan dan keunggulan pestisida sintesis, tersembunyi biaya mahal yang harus ditanggung oleh manusia di berbagai belahan bumi. Bahaya yang dimaksud adalah pencemaran lingkungan dan keracunan. Menurut WHO paling tidak 20.000 orang per tahun meninggal akibat keracunan pestisida, sekitar 5.000-10.000 orang per-tahun mengalami dampak yang sangat fatal, seperti kanker, cacat tubuh, kemandulan, dan penyakit liver. Berbagai jenis pestisida terakumulasi di tanah dan air yang berdampak buruk terhadap keseluruhan ekosistem, beberapa spesies katak jantan di Amerika Serikat dilaporkan mengalami perubahan genetic menjadi berkelamin ganda (hermaprodit) akibat keracunan Atrazin (bahan aktif herbisida yang sangat banyak dipakai di AS) dan telah terakumulasi pada tanah dan air (Intisari, Juli 2002). Tragedi Bhopal di India pada bulan Desember 1984 merupakan peringatan keras untuk produksi pestisida sintesis. Saat itu, bahan kimia metil isosianat telah bocor dari pabrik Union Carbide yang memproduksi pestisida sintesis (Sevin). Tragedi itu menewaskan lebih dari 2.000 orang dan mengakibatkan lebih dari 50.000 orang dirawat akibat keracunan. Kejadian ini merupakan musibah terburuk dalam sejarah produksi insektisida sintesis.

Sangat disayangkan, belum banyak penelitian tentang dampak negatif pemakaian pestisida sintesis di Indonesia. Sementara itu, hasil penelitian yang ada kurang disosialisasikan, sehingga tingkat kesadaran masyarakat kita terhadap dampak negatif pestisida masih sangat rendah. Masih sering terlihat petani menyemprotkan pestisida tanpa memakai pelindung. Pemakaian pestisida sering tidak bijaksana, dosis dan konsentrasi yang dipakai kadang-kadang ditingkatkan hingga melampaui batas yang disarankan, dengan alasan dosis yang rendah sudah tidak mampu lagi mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Selain itu, wadah bekas pestisida sering dibuang disembarang tempat.

(6)

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa saja kandungan kimia dari daun pepaya (Carica papaya L)?

2. Bagaimana penggunaan pestisida alami dari daun pepaya (Carica papaya L) dalam bidang pertanian ?

3.

Bagaimana cara membuat pestisida alami dari daun papaya (Carica papaya L) ?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian yang dapat diambil dari identifikasi masalah tersebut adalah untuk mengetahui :

1.

Kandungan kimia dari daun pepaya (Carica papaya L).

2.

Penggunaan pestisida alami dari daun pepaya (Carica papaya L) dalam bidang pertanian.

3.

Pembuatan pestisida alami dari daun pepaya (Carica papaya L).

1.4 Manfaat Penelitian

1. Memberikan informasi dan masukan kepada masyarakat, untuk dapat mengelola atau membuat sendiri pestisida alami dari bahan baku daun pepaya yang tersedia di alam.

2. Untuk mengetahui kandungan kimia apa saja yang terdapat pada daun pepaya (Carica papaya L).

3. Untuk mengetahui bagaimana penggunaan pestisida alami dari daun pepaya (Carica papaya L) dalam bidang pertanian.

4. Untuk mengetahui cara membuat pestisida alami dari daun pepaya (Carica papaya L).

BAB II

(7)

2.1 Tanaman Pepaya

Pepaya atau bahasa latinnya (Carica Papaya L), termasuk family Caricaceae yang tidak begitu besar ruang lingkupnya. Memang sebelum perang telah didatangkan jenis pepaya yaitu Carica candamarcensis. Pepaya (Carica papaya L) merupakan tumbuhan yang berbatang tegak dan basah. Pepaya menyerupai palma, bunganya berwarna putih dan buahnya yang masak berwarna kuning kemerahan, rasanya seperti buah melon. Tinggi pohon pepaya dapat mencapai 8 sampai 10 meter dengan akar yang kuat. Helaian daunnya menyerupai telapak tangan manusia. Apabila daun pepaya tersebut dilipat menjadi dua bagian persis di tengah, akan nampak bahwa daun pepaya tersebut simetris. Rongga dalam pada buah pepaya berbentuk bintang apabila penampang buahnya dipoting melintang. Tanaman ini juga dibudidayakan di kebun-kebun luas karena buahnya yang segar dan bergizi.

2.2 Deskripsi Daun Pepaya

Dari beberapa penelitian dijelaskan, batang dan daun pada tumbuhan pepaya mengandung banyak getah putih seperti susu (white milky latex), yang berpeluang dikembangkan sebagai antikanker. Manfaat getah pepaya untuk kesehatan dibuktikan Bouchut secara ilmiah, seperti dikutip Journal Society of Biology, yang menyatakan daun pepaya bersifat antitumor atau kanker. Peran itu dimungkinkan oleh kandungan senyawa karpain, alkaloid bercincin laktonat dengan tujuh kelompok rantai metilen. Dengan konfigurasi itu, tak hanya tumor dan penyakit kulit yang disembuhkan, karpain ternyata juga ampuh menghambat kinerja beberapa mikroorganisme yang menggangu fungsi pencernaan. Sehingga efektif untuk menekan penyebab tifus. Daun pepaya juga mengandung berbagai macam zat, antara lain vitamin A, B1, kalori, protein, lemak, hidrat arang, kalsium, fosfor, besi, dan air.

Selain itu Lebih dari 50 asam amino terkandung dalam getah pepaya, antara lain asam aspartat, treonin, serin, asam glutamat, prolin, glisin, alanin, valine, isoleusin, leusin, tirosin, fenilalanin, histidin, lysin, arginin, tritophan, dan sistein. Bahan-bahan tersebut biasanya dipadukan dalam bahan baku industri kosmetik untuk menghaluskan kulit, menguatkan jaringan agar lebih kenyal, dan menjaga gigi dari timbunan plak. Selain bermanfaat bagi kulit, daun pepaya terutama dapat digunakan untuk kesehatan wanita antara lain untuk mengobati keputihan, demam akibat nifas, melancarkan haid dan melancarkan air susu ibu (ASI). Daun dari tumbuhan ini memiliki berbagai manfaat seperti : Mengobati jerawat, obat demam berdarah, penambah nafsu makan, dan nyeri haid.

2.3 Pestisida

Pestisida adalah sebutan untuk semua jenis obat (zat/bahankimia) pembasmi hama yang ditunjukkan untuk melindungi tanaman dari serangga-serangga, jamur, bakteri, virus, dan hama lainnya seperti tikus, bekicot, dan nematode (cacing) serta zat pengatur tumbuh pada tumbuhan di luar pupuk.

2.4 Kimia Pestisida

(8)

yang sering ditemukan adalah daya, toksisitas, rumus empiris, rumus bangun, formulasi, berat molekul dan titik didih.

Cara kerja pestisida :

1. Pestisida kontak, berarti mempunyai daya bunuh setelah tubuh jasad terkena sasran.

2. Pestisida fumigan, berarti mempunyai daya bunuh setelah jasad sasaran terkena uap

atau gas

3. Pestisida sistemik, berarti dapat ditranslokasikan ke berbagai bagian tanaman melalui

jaringan. Hama akan mati kalau mengisap cairan tanaman.

4. Pestisida lambung, berarti mempunyai daya bunuh setelah jasad sasaran memakan

pestisida.

(9)

METODOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Proses pembuatan pestisida dari daun papaya dan uji coba di laksanakan di labolatorium sekolah. Waktu pelaksanaannya dilakukan pada bulan Februari 2017.

3.2 Teknik Penelitian

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan pengumpulan data dengan sumber terpercaya.

3.3. Sistematika Penulisan

Karya tulis ini terdiri atas 5 bab. Bab 1 akan menjelaskan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian. Bab 2 akan menjelaskan tentang tanaman pepaya, deskripsi daun papaya, pestisida, dan kimia pestisida. Bab 3 akan menjelaskan tentang tempat dan waktu penelitian, teknik penelitian, serta sistematika penulisan. Bab 4 yaitu Pembahasan akan membahas 3 poin, yaitu :

1. Kandungan kimia dari daun pepaya

2. Penggunaan pestisida alami dari daun pepaya dalam bidang pertanian 3. Pembuatan pestisida alami dari daun pepaya

(10)

PEMBAHASAN

4.1 Kandungan Kimia dari Daun Pepaya

Dari beberapa kandungan yang ada pada daun pepaya tersebut yang diduga memiliki potensi sebagai larvasida adalah enzim papain, saponin, flavonoid, dan tanin (Priyono, 2007).

a. Enzim Papain

Enzim papain adalah enzim proteolitik yang berperan dalam pemecahan jaringan ikat, dan memiliki kapasitas tinggi untuk menghidrolisis protein eksoskeleton yaitu dengan cara memutuskan 12 ikatan peptida dalam protein sehingga protein akan menjadi terputus (Nani dan Dian, 1996). Enzim papain dapat banyak ditemukan pada daun pepaya. Enzim papain dalam daun pepaya ini efektif dalam mengendalikan “ulat dan hama” pada tumbuhan.

b. Flavonoid

Flavonoid merupakan salah satu senyawa yang bersifat racun yang terkandung di dalam daun pepaya. Beberapa sifat khas dari 13 flavonoid yaitu memiliki bau yang sangat tajam, rasanya yang pahit, dapat larut dalam air dan pelarut organik, dan juga mudah terurai pada temperatur tinggi. Dinata (2008), mengatakan bahwa flavonoid merupakan senyawa yang dapat bersifat menghambat makan ulat hama. Flavonoid berfungsi sebagai inhibitor pernapasan sehingga menghambat sistem pernapasan). Bagi tumbuhan pepaya itu sendiri flavonoid memiliki peran sebagai pengatur kerja antimikroba dan antivirus.

c. Saponin

Senyawa lainpada daun pepaya yang memiliki peran sebagai insektisida dan larvasida adalah saponin. Saponin merupakan senyawa terpenoid yang memiliki aktifitas mengikat sterol bebas dalam sistem pencernaan, sehingga dengan menurunnya jumlah sterol bebas akan mempengaruhi proses pergantian kulit pada serangga (Dinata, 2009). Saponin terdapat pada seluruh bagian tanaman pepaya seperti akar, daun, batang, dan bunga. Senyawa aktif pada saponin berkemampuan membentuk busa jika dikocok dengan air dan menghasilkan rasa pahit yang dapat menurunkan tegangan 14 permukaan sehingga dapat merusak membran sel serangga dan hama serangga seperti ulat. (Mulyana, 2002).

d. Tanin

Tanin merupakan salah satu senyawa yang termasuk ke dalam golongan polifenol yang terdapat dalam tanaman pepaya. Mekanisme kerja senyawa tanin adalah dengan mengaktifkan sistem lisis sel karena aktifnya enzim proteolitik pada sel tubuh serangga yang menjadi hama seperti ulat yang terpapar tanin (Harborne , 1987). Menurut Harborne (1987), senyawa kompleks yang dihasilkan dari interaksi tanin dengan protein tersebut bersifat racun atau toksik yang dapat berperan dalam menghambat pertumbuhan dan mengurangi nafsu makan ulat melalui penghambatan aktivitas enzim pencernaan. Tanin mempunyai rasa yang sepat dan memiliki kemampuan menyamak kulit. Tanin terdapat luas dalam tumbuhan berpembuluh, dalam angiospermae terdapat khusus dalam jaringan kayu. Umumnya tumbuhan yang mengandung tanin dihindari oleh hewan pemakan tumbuhan karena rasanya yang sepat. Salah satu fungsi tanin dalam tumbuhan adalah sebagai penolak hewan herbivore dan sebagai pertahanan diri bagi tumbuhan itu sendiri.

(11)

Pestisida Alami dari daun papaya ini merupakan jenis pestisida yang mudah terurai (biodegradable) di alam, sehingga tidak mencemarkan lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak, karena residunya akan terurai dan mudah hilang.

Pestisida alami dapat membunuh atau mencegah serangan hama dan penyakit melalui cara kerja yang unik, yaitu dapat melalui perpaduan berbagai cara atau secara tunggal.

Cara kerja pestisida alami sangat spesifik, yaitu :

 merusak perkembangan telur, larva dan pupa.

 menghambat pergantian kulit.

Beberapa sasaran yang dapat dikendalikan dengan aplikasi pestisida alami dari daun pepaya.

 Berbagai jenis ulat

 Cendawan

 Mosaik virus

 Embun tepung

 Hama yang terdapat dalam tanah

 Trips dan kutu kebul

 Hama – hama pengisap

Beberapa keunggulan dari pestisida alami, antara lain :

a) Mudah terurai di alam dan ramah lingkungan.

b) Relatif aman bagi manusia dan ternak karena residunya mudah hilang.

c) Dapat membunuh hama/penyakit tanaman (ekstrak daun pepaya, tembakau, biji mahoni, dsb).

d) Sebagai pengumpul/perangkap hama tanaman (tanaman orok-orok, temblek ayam). e) Bahan baku mudah didapat dan ekonomis.

f) Dosis yang digunakan tidak mengikat dan beresiko dibandingkan dengan penggunaan pestisida sintetis.

g) Merupakan pemecahan masalah hama jangka pendek/cepat.

(12)

1. Penumbuk 2. Penyaring 3. Wadah 4. Pengaduk 5. Alat penyemprot

6. Daun pepaya (Carica papaya L)

Dalam penelitian ini, daun papaya digunakan sebagai bahan utama dalam pembuatan pestisida alami.

7. Air

Air digunakan sebagai pencampur sekaligus pemancing agar air dalam daun pepaya keluar.

8. Detergen

Detergen digunakan sebagai zat pencampur dan untuk membantu dalam membunuh hama.

9. Minyak tanah

Minyak tanah digunakan untuk membantu proses penguraian agar hama cepat terbunuh.

 Cara Kerja :

1. Siapkan alat dan bahan

2. Menumbuk daun pepaya hingga halus

3. Hasil tumbukan direndam dengan air kemudian ditambahkan detergen dan minyak tanah. Rendam semalaman

(13)

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

1. Daun pepaya (Carica papaya L) mengandung berbagai macam zat, antara lain: vitamin A 18250 SI , vitamin B1 0,15 mg, vitamin C 140 mg, kalori 79 kal, protein 8,0 gram, lemak 2 gram, hidrat Arang 11,9 gram, kalsium 353 mg, fosfor 63 mg, besi 0,8 mg, air 75,4 gram , papayotin, kautsyuk, karpain, karposit, Daun pepaya mengandung bahan aktif “Papain”, sehingga efektif untuk mengendalikan “ulat dan hama penghisap”.

2. Pestisida alami merupakan pemecahan jangka pendek untuk mengatasi masalah hama dengan cepat. Pestisida alami harus menjadi bagian dari sistem pengendalian hama terpadu, dan hanya digunakan bila diperlukan (tidak digunakan jika tidak terdapat hama yang merusak tanaman). Pestisida alami dari ekstrak daun pepaya memiliki beberapa manfaat, antara lain: dapat digunakan untuk mencegah hama seperti aphid, rayap, hama kecil, dan ulat bulu serta berbagai jenis serangga.

5.2 Saran

1. Sebaiknya para petani dan pencinta tanaman menggunakan pestisida alami sebagai pengganti dari pestisida sintesis yang digunakan agar keseimbangan lingkungan tetap terjaga.

(14)

LAMPIRAN

(15)

DAFTAR PUSTAKA

http://biologiflor.blogspot.co.id/2015/10/pemanfaatan-ekstrak-daun-pepaya-carica.html

http://kebuncabekecil.blogspot.co.id/2015/01/pemanfaatan-ekstrak-daun-pepaya-sebagai.html

http://www.kompasiana.com/ikpj/pemanfaatan-ekstrak-daun-pepaya-carica-

papaya-sebagai-pestisida-alami-yang-ramah-lingkungan_54ff4e03a33311ad4c50fb2f

http://data-smaku.blogspot.co.id/2012/10/karya-tulis-pemanfaatan-ekstrak-daun.html

http://herbanabi.com/blogs/pemanfaatan-ekstrak-daun-pepaya-sebagai-pestisida-alami/

Referensi

Dokumen terkait

Formula Tablet Salut Film Ekstrak Daun Pepaya ( Carica papaya L.) menggunakan Kollicoat Protect sebagai Penyalut.. Denanda Rosita Rizky

Salah satu dampak revolusi industri yang telah terjadi dan masih terus berlanjut pada masa sekarang dalam kehidupan dan peradaban manusia adalah dampak bagi lingkungan yang ada

Ekstrak daun pepaya (Carica papaya Linn) diduga memiliki efek sebagai larvasida terhadap Aedes aegypti karena memiliki berbagai zat metabolit aktif berupa

Perlu dilakukan penelitian tentang penggunaan ekstrak daun pepaya ( Carica papaya L. ) sebagai larvisida terhadap spesies nyamuk yang lain.. Chemical Methods for the

Ekstrak daun pepaya (Carica papaya Linn) diduga memiliki efek sebagai larvasida terhadap Aedes aegypti karena memiliki berbagai zat metabolit aktif berupa

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan konsentrasi ekstrak daun pepaya (Carica papaya L.) terbaik sebagai biopestisida terhadap ulat grayak pada

Sebagai kesimpulan dari penelitian ini dapat dinyatakan bahwa pemberian ekstrak daun pepaya ( Carica papaya L.) memberikan pengaruh terhadap awal munculnya gejala,

Dan dari itu semua sampah pasti nya menimbulkan dampak yang kurang baik untuk lingkungan maupun untuk manusianya, baik itu penyemaran lingkungan hingga berdampak banjir, banjir