M
ungkin bagi sebagian orang selembar kertas, atau setas limbah rumah tangga tak jadi masalah. Tapi begitu kertas dan limbah rumah tangga itu berkumpul dengan sampah sejenis dari banyak orang, persoalan akan timbul, apalagi di perkotaan yang lahannya terbatas. Dan faktanya menunjukkan potensi timbulan sampah terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk.Timbulan sampah
Tidak tersedia data berapa persisnya jumlah timbulan sampah di Indonesia. Namun berdasar hasil perhitungan Bappenas sebagaimana tercantum dalam Buku Infrastruktur Indonesia, pada tahun 1995 perkiraan timbulan sampah di Indonesia mencapai 22,5 juta ton, dan meningkat lebih dua kali lipat pada tahun 2020 menjadi 53,7 juta ton. Sementara di kota besar di Indonesia diperkirakan tim-bulan sampah per kapita berkisar antara
600 – 830 gram per hari.
Sebagai ilustrasi betapa besarnya tim-bulan sampah yang dihasilkan, data beberapa kota besar di Indonesia dapat menjadi rujukan. Kota Jakarta setiap hari menghasilkan timbulan sampah sebesar 6,2 ribu ton, Kota Bandung sebe-sar 2,1 ribu ton, Kota Surabaya sebesebe-sar 1,7 ribu ton, dan Kota Makassar 0,8 ribu ton (Damanhuri, 2002). Jumlah tersebut membutuhkan upaya yang tidak sedikit dalam penanganannya.
Berdasarkan data tersebut diperki-rakan kebutuhan lahan untuk TPA di Indonesia pada tahun 1995 yaitu seluas 675 ha, dan meningkat menjadi 1.610 ha pada tahun 2020. Kondisi ini akan men-jadi masalah besar dengan memper-hatikan semakin terbatasnya lahan kosong khususnya di perkotaan. Salah satu contoh terkini adalah kesulitan pemerintah DKI Jakarta dalam
menyedi-3
Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004
Kita tidak pernah lepas dari sampah. Setiap hari ada saja
sampah yang harus kita buang. Entah di kantor,
di rumah, di manapun kita berada. Tidak heran ketika
kita tidak mengelola dengan baik maka sampah
akan dengan mudah kita temui bertebaran
di sekitar kita.
A P O R A N U T A M A
L
SAMPAH
Masih Jadi ‘Sampah’
SAMPAH
Masih Jadi ‘Sampah’
akan lahan untuk pengolahan sampah setelah TPA Bantar Gebang tidak dapat dipergunakan lagi.
Penanganan Sampah
Menurut data BPS, pada tahun 2001 timbulan sampah yang diangkut hanya mencapai 18,03 persen, sementara selebih-nya ditimbun 10,46 persen, dibu-at kompos 3,51 persen, dibakar 43,76 persen, dan lainnya (dibuang ke sungai, pekarangan kosong dan lainnya) 24,24 persen. Terlihat bahwa sampah yang diangkut masih sangat sedikit, demikian pula sampah yang diproses menjadi kom-pos, sementara yang dibakar dan dibuang ke tempat yang tidak seharusnya bahkan masih mencapai 68 persen. Kondisi ini menunjukkan masih besarnya potensi sampah menjadi sumber pencemaran baik udara, maupun air termasuk menja-di pemicu timbulnya penyakit. Di dae-rah perkotaan sekalipun, sampah yang dibakar dan dibuang sembarangan masih mencapai 50,76 persen. Proporsi sampah yang ditimbun sendiri masih cukup besar mencapai 10,46 persen. Sampah seperti plastik dan sejenisnya relatif sulit diurai sehingga penanganan sampah dengan cara menimbun menjadi kurang tepat. Pengomposan juga belum populer di masyarakat.
Sebagian besar Tempat Pengolahan Akhir (TPA) sampah direncanakan meng-gunakan sistem sanitary landfill. Namun dalam perjalanan waktu, akhirnya seba-gian besar TPA tersebut akhirnya meng-gunakan sistem open dumping (70 persen) dan hanya sebagian kecil yang tetap menggunakan sistem controlled
landfilldan sanitary landfill (30 persen).
Beberapa kota yang menerapkan
con-trolled landfill di antaranya Jakarta,
Bandung, Semarang, Surabaya, Padang, Malang, Yogyakarta, Pontianak, Balik-papan, Banjarmasin, dan Denpasar.
Penyebab rendahnya penerapan
sis-tem sanitary landfilldi Indonesia, antara
lain, rendahnya disiplin pengelola dalam menerapkan prosedur teknis, terbatasnya anggaran untuk operasi dan pemeli-haraan, sulitnya mendapatkan tanah penutup, terbatasnya ketersediaan alat berat, rendahnya kualitas sumber daya manusia, dan belum terorganisasikannya pemulung di lokasi TPA sebagai bagian terpadu sistem sanitary landfill.
Karakteristik Sampah
Karakteristik sampah perkotaan berbeda dengan sampah perdesaan. Secara umum, sampah perkotaan di Indonesia memiliki komposisi 80 persen sampah organik, dan selebihnya sampah non-organik. Sampah non organik terse-but separuhnya merupakan sampah plas-tik.
Isu Utama
Cakupan pelayanan pengelolaan per-sampahan yang masih rendah khususnya di perkotaan dapat berdampak pada meningkatnya wabah penyakit menular seperti tipus, kolera, muntaber, disentri, pes, leptospirosis, salmonelosis, demam gigitan tikus. Selain juga sampah yang dibuang ke sungai dan saluran pembu-angan berpotensi menimbulkan banjir.
Prinsip pengurangan timbulan sam-pah pada dasarnya telah dikenal dan
mulai dilakukan walaupun masih dalam skala kecil dan sebagian besar dilakukan oleh pemulung. Pengomposan pun sudah dila-kukan namun dalam jumlah yang sangat terbatas.
Sementara itu TPA yang ada tidak dikelola dengan baik. Masih terjadi pembakaran sampah untuk mengurangi timbunan sampah, dan tidak terkelolanya gas metan yang dihasilkan oleh timbunan sampah. Sementara dalam Kyoto Protocolyang sudah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia, pengurangan gas metan men-jadi salah satu persyaratan. Masalah lain-nya yang timbul akibat pengelolaan TPA yang tidak sesuai persyaratan di antaranya timbulnya bau, menurunnya kualitas air akibat pembuangan sampah ke sungai, merembesnya air lindi dari TPA ke air tanah dangkal dan air per-mukaan, pencemaran udara serta mere-baknya dioxin yang bersifat karsinogen.
Kesadaran masyarakat akan kebersih-an sudah baik tetapi terbatas hkebersih-anya pada lingkungan halaman rumah saja. Rumah memang bebas dari sampah tetapi sam-pah tersebut dibuang tidak pada tempat-nya seperti selokan, sungai, dan bahkan halaman kosong milik tetangga. Feno-mena NIMBY (Not In My Backyard) sa-ngat terasa di sini.
Hal ini juga didorong oleh belum tersedianya pelayanan persampahan yang memadai.
Jika dibandingkan dengan kesediaan membayar pelayanan air minum maka kesediaan membayar pengelolaan sam-pah relatif lebih rendah. Ini terjadi kare-na masyarakat tidak mengetahui sebe-narnya seperti apa pengelolaan sampah itu berlangsung.
Rendahnya tingkat pengorbanan masyarakat untuk memberikan kon-tribusinya berbanding terbalik dengan jumlah timbulan sampah. Kebutuhan lahan untuk lokasi TPA meningkat. Perlu
A P O R A N U T A M A
L
4
Percik
Vol. 5 Tahun I/ Agustus 2004
Penanganan Sam pah (%)
0
Diangkut Ditimbun Dibuat Kompos
dicari alternatif pengolahan sampah yang tidak memerlukan lahan yang luas.
Di sisi lain, saat ini belum tersedia kebijakan nasional persampahan yang dapat menjadi payung pengelolaan per-sampahan oleh seluruh pemangku kepentingan. Peraturan-peraturan yang ada ‘tercecer’ di daerah atau instansi sek-toral. Wajar bila hingga kini belum terwu-jud sistem kelembagaan, koordinasi dan integrasi pengelolaan sampah.
Dimulainya era otonomi daerah men-jadikan pengelolaan sampah menjadi kewenangan pemerintah daerah. Namun di lain pihak, masih banyak pemerintah daerah yang menganggap persampahan bukan prioritas. Ini terlihat dari minim-nya alokasi anggaran ke sektor ini.
Kebijakan ke Depan
Penyelesaian persampahan mau tidak mau harus dilakukan secara sistemik dan terintegrasi dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Apalagi pada 2025 telah dicanangkan sebagai tahun zero waste (bebas sampah) dunia. Beberapa langkah yang bisa diambil dalam rangka menuju ke arah itu yakni:
1. Mengurangi volume timbulan sam-pah dengan menggunakan konsep 3R (reduce, reuse, dan recycle).
Metode ini perlu disosialisa-sikan ke tengah-tengah masya-rakat agar mereka mau menggu-nakan kembali dan mendaur ulang sampahnya. Tentu langkah ini perlu dibarengi penyadaran akan pentingnya memilah sam-pah di rumah tangga sehingga memudahkan pengolahan pada tahap berikutnya. Konsep 3R akan makin efektif jika didukung peraturan perundang-undangan yang memberikan penghargaan dan hukuman (reward and
pu-nishment) kepada semua
pe-mangku kepentingan yang ter-kait, apakah itu pemulung,
ma-syarakat, dan lainnya. Selain itu, peman-faatan sampah sebagai sumber energi
(wasre to energy) layak untuk
diper-hatikan mengingat hingga kini belum ada pihak yang mempraktekkan langkah ini di Indonesia. Bila sampah telah terman-faatkan sejak dari hulu maka sistem
sani-tary landfill tidak memerlukan lahan
yang luas dengan biaya besar. Sanitary
landfill hanya digunakan untuk
mengo-lah residu dari hasil pembakaran insine-rator.
2. Peningkatan peran masyarakat
dan dunia usaha
Langkah mengurangi timbulan sam-pah tidak akan efektif tanpa peran aktif masyarakat. Merekalah penghasil utama sampah dan mereka pula yang merasakan dampak negatifnya bila sampah tak dikelola dengan baik. Kuncinya adalah peningkatan kesadaran dan tanggung jawab dalam pengelolaan sampah. Masyarakat bisa berperan sebagai a) pe-ngelola (mengurangi timbulan sampah dari sumber); b) pengawas (mengawasi tahapan pengelolaan agar berjalan dengan benar); c) pemanfaat (memanfaatkan sampah secara individu, kelompok, atau kerja sama dengan dunia usaha); d) pengolah (mengoperasikan dan memelihara sarana dan prasarana peng-olah sampah); e) penyedia biaya
pengelo-laan (lihat diagram.)
3. Peningkatan peran antarpemerin-tah daerah dalam pengelolaan sampah
Persoalan sampah pada dasarnya bukan persoalan individual kota tapi per-soalan regional. Polusi udara, air, dan tanah berdampak pada wilayah yang luas melintasi batas administratif. Oleh kare-na itu penentuan lokasi TPA yang selama ini berdasarkan wilayah administratif men-jadi tidak relevan. Di masa mendatang kon-sep TPA regional dan terpusat (regional
solid waste management) perlu
dikem-bangkan sebagai upaya bersama dalam mengatasi kesulitan lahan TPA.
4. Pengembangan teknologi baru Kemampuan pelayanan persampahan tergantung pada pilihan teknologi yang tersedia. Penggunaan teknologi yang tepat akan mengoptimalkan pengelolaan persampahan. Oleh karena itu, penggu-naan teknologi baru bisa menjadi alter-natif peningkatan kemampuan pengelo-laan persampahan khususnya di kota besar.
5. Peningkatan kampanye perilaku hidup bersih dan sehat
Pengelolaan sampah tak akan berhasil tanpa ada kesadaran masyarakat bahwa lingkungan sehat juga merupakan kebutuhan pokok mereka. Peningkat-an kesadarPeningkat-an ini harus dilakukPeningkat-an secara terus menerus kepada seluruh lapisan masyarakat. Program edukasi di bidang kesehatan perlu ditanam-kan sejak dini kepada siswa sekolah.
Akhirnya, meningkatkan kepe-dulian semua pemangku
kepenting-an (stakeholder) di bidang
persam-pahan tak bisa ditawar-tawar lagi. Seberapa canggih teknologi, uang banyak, sumber daya bagus, tapi tidak ada perhatian serius dari pe-mangku kepentingan, maka persoal-an sampah akpersoal-an tetap menjadi ‘sam-pah’. OM/MJ