• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP ETIKA LINGKUNGAN DALAM KEARIFAN L

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KONSEP ETIKA LINGKUNGAN DALAM KEARIFAN L"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PERMASALAHAN

Krisis lingkungan yang terjadi akhir-akhir ini berakar pada kesalahan perilaku manusia, dan kesalahan perilaku manusia berakar pada kesalahan cara pandang manusia dengan alam atau tempat manusia dalam keseluruhan alam semesta. Oleh karena itu krisis lingkungan hanya bisa diatasi dengan merubah perilaku fundamental pada cara pandang dan perilaku manusia.

Kemajuan industri yang tidak disertai dengan kepedulian kemanusiaan atau kepedulian terhadap lingkungan akan membawa kehidupan di bumi ini sedikit demi sedikit mendekati kehancuran. Salah satu contoh yang sedang marak terjadi sekarang adalah eksploitasi terhadap sumber daya alam sebagai komoditas untuk memenuhi kebutuhan pasar. Contoh kerusakan lingkungan yang dewasa ini sering menjadi perbincangan khalayak umum salah satunya adalah kebakaran lahan hutan di beberapa daerah di Indonesia, antara lain adalah di Riau, Sumatra Selatan, dan Kalimantan Tengah yang menyebabkan terjadinya bencana kabut asap yang pada akhirnya akan sangat merugikan bagi manusia. Pembangunan PLTU di Batang yang bila itu di realisasikan akan menyebabkan terjadinya degradasi kesuburan tanah, sedang hal itu mengancam mata pencaharian penduduk sekitar yang menggantungkan hidupnya pada pertanian. Reklamasi Tanjung Benoa yang merubah fungsi hutan mangrove menjadi daerah pariwisata yang tidak ramah terhadap lingkungan, karena mengancam keberlangsungan mangrove yang akan segera tergerus oleh berbagai timbunan dan bangunan-bangunan

(2)

merangsang manusia untuk memperhatikan dan mempertimbangkan segala dampak yang ditimbulkan dalam pengelolahan lingkungan hidup (Widayanti 2012:7).

Berdasarkan hal-hal di atas, maka usaha-usaha penyelamatan lingkungan hidup dimulai dari hal yang fundamental yaitu perubahan cara pandang manusia terhadap alam. Merefleksikan kerangka pikir yang sudah ada, sehingga diperoleh pandangan yang menghormati kehidupan dan menjaga keberlanjutan hidup. Manusia bukan bagian yang terpisah dari alam, melainkan satu komponen yang terdapat di dalam alam itu sendiri. Manusia harus paham, bahwa ketika alam krisis dan rusak, maka dampaknya juga secara langsung akan dirasakan oleh mereka.

Kerusakan lingkungan hidup salah satunya berkaitan dengan bagaimana manusia memelihara lingkungan disekitarnya. Pemeliharaan lingkungan hidup telah banyak diterapkan, misalnya salah satu hal yang biasa dilakukan adalah penghijauan. Alangkah baiknya jika upaya pemeliharaan lingkungan hidup becermin pada keadaan sosial budaya masyarakat. Potensi-potensi budaya yang dimiliki oleh masyarakat dapat dijadikan rujukan untuk membuat suatu konsep pemeliharaan lingkungan hidup yang berbasis pengetahuan lokal. Hal ini bisa dilakukan dengan menggali kearifan lokal yang terdapat dalam dinamika kehidupan masyarakat. Sangat penting kiranya bagi kita mengetahui setiap potensi atau kemampuan yang ada dalam masyarakat atau dengan local genius. seperti yang dikatakan oleh Soejanto Poespowardojo (Ayatrohaedi, 1986:33) bahwa local genius ini sentral, karena merupakan kekuatan yang mampu bertahan terhadap unsur-unsur yang datang dari luar dan yang mampu pula berkembang untuk masa-masa mendatang. Hilang atau musnahnya local genius berarti pula memudarnya kepribadian suatu masyarakat.

(3)

sebenarnya bukanlah hal yang baru, karena pandangan ini berakar dari rasa penghormatan terhadap alam, yang kita tahu pandangan ini ada dalam dimensi pemikiran timur. Masalah lingkungan adalah masalah universal yang juga merupakan masalah kehidupan. Baik dalam pemikiran Barat maupun Timur, sama-sama menghadapi masalah ini, penulis memahami bahwa konsep Deep Ecology bisa digunakan untuk melihat konsep etika lingkungan dalam kearifan lokal dalam masyarakat tertentu.

Etika lingkungan merupakan kebijaksanaan moral manusia dalam bergaul dengan lingkungannya. Etika lingkungan diperlukan agar setiap kegiatan yang menyangkut lingkungan dipertimbangkan secara cermat sehingga keseimbangan lingkungan tetap terjaga. Dalam penerapan etika lingkungan yang perlu diperhatikan adalah :

a. Manusia merupakan bagian dari lingkungan yang tidak terpisahkan sehngga perlu menyayangi semua kehidupan dan lingkungannya selain dirinya sendiri. b. Manusia sebagai bagian dari lingkungan, hendaknya selalu berupaya untuk menjaga terhadap pelestarian , keseimbangan dan keindahan alam.

c. Kebijaksanaan penggunaan sumber daya alam yang terbatas termasuk bahan energi.

d. Lingkungan disediakan bukan untuk manusia saja, melainkan juga untuk makhluk hidup yang lain.

Di samping itu, etika lingkungan tidak hanya berbicara mengenai perilaku manusia terhadap alam, namun juga mengenai relasi di antara semua kehidupan alam semesta, yaitu antara manusia dengan manusia yang mempunyai dampak pada alam dan antara manusia dengan makhluk hidup lain atau dengan alam secara keseluruhan.

(4)

menuntuk suatu pemahaman yang baru tentang relasi etis yang ada dalam alam semesta ini disertai adanya prinsip-prinsip baru sejalan dengan relasi etis.

Filsafat pokok Deep Ecology disebut Naess sebagai Ecosophy T yang mengombinasi antara eco yang berarti rumah tangga dan sophy yang berarti kearifan. Sedangkan T disini tidak memiliki makna apapun, karena sebagaimana yang dikatakan oleh Naess bahwa kita bisa saja menyebutnya dengan X, Y, atau Z. Dalam Deep Ecology norma utamanya adalah Self-realisation. Manusia adalah bagian dari alam sehingga dia harus merealisasikan dirinya dalam komunitas ekologis menjadi self ecology.

Repong dalam terminologi Kec. Sumber Jaya adalah sebidang lahan kering yang ditumbuhi beraneka-ragam jenis tanaman produktif, umumnya tanaman tua (perennial crops), seperti damar, duku, durian, petai, jengkol, tangkil, manggis, kandis dan beragam jenis kayu yang bernilai ekonomis serta beragam jenis tumbuhan liar yang dibiarkan hidup. Disebut Repong damar karena pohon damar merupakan tegakan yang dominan jumlahnya pada setiap bidang repong. ( Suwito: 2001)

Repong damar adalah fase final dalam tahapan linier sistem pengelolaan lahan kering (darak) di daerah Kec. Sumber Jaya, yaitu fase ketika lahan hutan baik hutan primer maupun hutan sekunder yang dibuka dan dibabat kandas akan mencapai format seperti hutan alam kembali setelah 20 tahun kemudian. Michon & de Foresta (1994) menyebutkan bahwa secara ekologis fase perkembangan Repong damar tersebut menyerupai tahapan suksesi hutan alam dengan segala keuntungan ekologisnya seperti perlindungan tanah, evolusi iklim mikro, dan lain sebagainya.

a. Perumusan Masalah

1. Bagaimana kearifan lokal Repong damar yang terdapat dalam masyarakat desa TriBudi Syukur, Kec. Sumber Jaya, Lampung?

(5)

Syukur, Kec. Sumber Jaya, Lampung?

b. Keaslian Penelitian

Penelitian tentang etika lingkungan sudah pernah dilakukan. Adapun penelitian yang menggunakan etika lingkungan sebagai objek formal dalam penelitiannya pernah dilakukan sebelumnya oleh Irman Putra pada tahun 1995 dengan judul "Etika Lingkungan Hidup Masyarakat kerinci dan relevansinya terhadap Pembangunan Taman Nasional Kerinci-Seblat". Selain itu teori etika lingkungan terutama Deep Ecology terdapat juga dalam skripsi yang di susun oleh Fatmawati Indah L.G pada tahun 2007 dengan judul " Konsep Ekofeminisme Vandana Shiva (suatu alternatif pemecahan permasalahan lingkungan hidup) sedangkan dalam hal kearifan lokal yang kaitannya dengan lingkungan hidup adalah konsep etika lingkungan dalam kearifan lokal masyarakat lereng utara Gunung Arjuna ditinjau dari deep ecology Arne Naess oleh Ayu Tyas Fitriani, pada 9 Juli 2008 yang sangat dipengaruhi budaya Jawa. Analisis Deep Ecology tentang konsep etika dalam kearifan lokal masyarakat lereng utara Gunung Arjuna.

Sampah plastik sebagai masalah lingkungan hidup ditinjau dari Deep Ecology Arnr Naess oleh Warisma Tri Wulansari, 7 oktober 2009 memang membahas Arne Naess dengan konsep Deep Ecology menawarkan perubahan terhadap gaya hidup manusia yang konsumtif. Pola hidup konsumtif manusia dalam menggunakan plastik menyebabkan semakin meningkatnya tumpukan sampah plastik.

(6)

objek formal dan material yang berbeda. Objek formal penelitian ini adalah teori ekosentrisme dan objek materialnya adalah konsep Repong damar sebagai bentuk pelestarian lingkungan alam di Desa Tri Budi Syukur, Kec. Sumber Jaya, Lampung.

c. Manfaat Penelitian

1. Bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat, memperkaya khazanah ilmu pengetahuan dan filsafat dalam bidang etika lingkungan

2. Bagi masyarakat, memberikan sebuah sumbangan pemikiran bagi masyarakat pada umumnya dan aktivis pada khususnya terutama penggiat pengelamatan lingkungan hidup agar lebih kritis dalam melaksanakan upayaupaya penyelamatan lingkungan.

3. Bagi peneliti, memperkaya pengetahuan dan pengalaman bagi penulis sendiri mengenai tema yang bersangkutan.

B. TUJUAN PENELITIAN

Penulisan ini memiliki tujuan untuk menjawab rumusan permasalahan diatas, yaitu:

1. Untuk mengetahui kearifan lokal Repong damar yang terdapat dalam masyarakat desa Tri Budi Syukur, Kec. Sumber Jaya, Lampung.

2. Untuk mengetahui analisis Deep Ecology Arne Naees tentang konsep etika lingkungan Repong damar yang terdapat dalam kearifan lokal masyarakat desa Tri Budi Syukur, Kec. Sumber Jaya, Lampung?

C. TINJAUAN PUSTAKA

(7)

mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya (Soeharto, 1997). Lingkungan hidup juga bisa diartikan sebagai suatu sistem kompleks yang berada di luar individu yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan organisme. Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk lain. (Sugandhy, 2009)

Manusia berinteraksi dengan lingkungan hidup yang akhirnya akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan hidup. Manusia terbentuk dan dibentuk oleh lingkungan hidup karena manusia hidup dari unsur-unsur lingkungan hidup, misalnya udara untuk bernafas, air untuk minum. Manusia adalah bagian integral dari lingkungan hidup dan di antara keduanya tidak dapat dipisahkan (Soemarwoto, 1997)

Lingkungan juga termasuk dalam kajian moral yaitu dalam etika lingkungan. Etika lingkungan adalah refleksi kritis atas norma-norma dan prinsip atau nilai moral yang selama ini dikenal dalam komunitas manusia untuk diterapkan secara lebih luas dalam komunitas ekologi (Keraf, 2002). Etika lingkungan tidak hanya berbicara mengenai perilaku manusia terhadap alam. Etika lingkungan juga berbicara mengenai relasi si antara semua kehidupan alam semesta (Keraf, 2002). Dalam perkembangan teori etika lingkungan, terdapat teori-etika lingkungan, terdapat beberapa teori antara lain antroposentrisme, biosentrisme, ekosentrisme, dan ecofeminisme (Keraf, 2002). Perbedaan yang paling menonjol dalam teori lingkungan tersebut di atas adalah bagaimana manusia memposisikan dirinya di alam semesta. Misalnya ekosentrisme, dalam teori ini etika diperluas untuk mencangkup komunitas ekologis seluruhnya (Keraf, 2002).

D. LANDASAN TEORI

(8)

yang berarti ethos (jamaknya:ta etha), yang berarti adat istiadat atau kebiasaan. Dalam arti ini, etika berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik, tata cara hidup yang baik, baik pada diri seseorang atau masyarakat. Kebiasaan hidup yang baik ini kemudian dianut dan diwariskan dari satu generasi ke generasi yang lain (Keraf, 2002). Dengan demikian persoalan etia itu tidak sekedar ingin mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk dalam perbuatan, melainkan juga mempersoalkan bagaimana seharusnya menjadi baik dan bagaimana seharusnya meninggalkan yang buruk.

Etika lingkungan Hidup merupakan thema yang meletakkan etika sebagai praaksiologidan melibatkan secara langsung persoalan-persoalan kehidupan manusia. Penilaian moral bagi tingkah laku manusia meliputi seluruh aspek dan segi kehidupannya. Dalam hal ini segi yang menyangkut tanggung jawab etika manusia terhadap lingkungan hidupnya. Disini terkait tanggung jawab manusia terhadap diri sendiri, Manusia lain (sesama manusia), serta Tuhan pencipta (Widayanti, 2012)

Etika lingkungan merupakan bagian dari etika yang mengkaji tentang masalah moral, kaitannya dengan lingkungan hidup. Dalam hal ini moral tidak berlaku pada hubungan antar manusia saja, tapi juga berlaku pada hubungan manusia manusia dengan sekitarnya atau alam sebagai tempat tinggalnya. Bisa dikatakan tidak hanya berlaku pada komunitas manusia saja akan tetapi juga berlaku pada komunitas ekologi (Keraf, 2002) inilah pokok dari ekosentrisme yang akan penulis gunakan sebagai pisau analisis dalam menganalisa konsep etika lingkungan yang terdapat dalam kearifan lokal masyarakat desa Tribudi Syukur.

(9)

Salah satu versi teori ekosentrisme ini adalah teori etika lingkungan yang Sekarang ini popular dikenal sebagai Deep Ecology. Sebagai sebuah istilah, Deep Ecology pertama kali diperkenalkan oleh Arne Naess, seorang filsuf norwegia, tahun 1973. Naess kemudian dikenal sebagai salah seorang tokoh utama gerakan Deep Ecology hingga sekarang. (Keraf, 2002)

E. METODE PENELITIAN 1. Bahan dan Materi Penelitian

Penelitian ini adalah kombinasi antara penelitian di lapangan dan pustaka. Objek material didapatkan dari dokumentasi yang ada di media sosial youtube dan melalui observasi di lapangan yang dilakukan dengan wawancara secara informal dengan masyarakat di daerah setempat serta dengan melalukan riset perpustakaan. Sedangkan objek formalnya, penulis menggunakan buku berjudul Etika Lingkungan karangan Sony Keraf sebagai buku primer.

Sedangkan untuk pustaka pendukung adalah beberapa buku yang berkaitan dengan tema yang bersangkutan terutama yang bersangkutan dengan tema penelitian, yaitu etika, etika lingkungan, Deep Ecology Arne Naees dan Repong damar.

2. Analilis Penelitian

Penelitian ini juga menggunakan unsur metodis filosofis untuk melakukan peninjauan secara filosofis khusunya Etika. Unsur metodis itu antara lain

1. Deskripsi : Peneliti menguraian secara teratur hal-hal yang menjadi objek formal maupun objek material dalam penelitian. Yaitu hal-hal yang bersangkutan dengan etika, etika lingkungan, Deep Ecology, kearifan Repong damar.

(10)

pengaruh-pengaruh yang dialaminya, maupun dalam perjalanan hidupnya sendiri. (Anton Bakker. 1990:70)

3. Interpretasi : Pemikiran Deep Ecology Arne Naess dan konsep Repong damar di selami, untuk kemudian dengan setepat mungkin menangkap arti dan nuansa uraian yang disajikan desertai dengan

4. Koherensi Internal : Agar dapat memberikan interpretasi tepat mengenai penelitian, semua konsep-konsep dan aspek-aspek dilihat menurut keselarasannya satu sama lainnya. Ditetapkan inti dasar pikiran, dan topik sentral di dalamnya. (Anton Bakker. 1990 : 69)

5. Holistika : Untuk memahami konsep-konsep dan konsepsi filosofis tentang objek material dan formal dengan betul-betul, mereka dilihat dalam rangka keseluruhan visi mengenal manusia, dunia, dan Tuhan, sejauh yang dapat ditemukan. (Anton Bakker. 1990 : 69)

F. HASIL YANG AKAN DICAPAI

(11)

G. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN 4.1Anggara Biaya

No .

Jenis Pengeluaran Biaya (Rp)

1. Peralatan Penunjang (35%) Rp. 3.500.000

2. Bahan Habis Pakai (40%) Rp. 4.000.000

3. Perjalanan (15%) Rp. 1.500.000

4. Lain-lain (10%) Rp. 1.000.000

Jumlah Rp. 10.000.000

4.2Jadwal Kegiatan

No. Jenis Kegiatan Bulan PIC

1 2 3 4 5

1. Survei dan observasi awal 2. Penulusuran Pustaka awal 3. Izin Penelitian

4. Wawancara dan observasi 5. Analisis data

6. Penyusunan laporan akhir

(12)

BAB II

KEARIFAN LINGKUNGAN MASYARAKAT DESA TRIBUDI SYUKUR

A. Sejarah Desa Tribudi Syukur

Pada tanggal 14 November 1952, Presiden Republik Indonesia Ir Soekarno, melakukan peletakan batu pertama pendirian Tugu Peringatan yang sekarang terletak di Kelurahan Tugu Sari depan Koramil Kecamatan Sumberjaya. Tugu tersebut sebagai tanda diresmikannya keseluruhan wilayah Way Tenong dan Way Tebu menjadi wilayah yang bernama Sumberjaya. Oleh Presiden Soekarno dinamakan Sumberjaya karena beliau menginginkan wilayah itu sebagai sumber kejayaan.

Wilayah kecamatan Sumberjaya sebelumnya merupakan hutan belantara yang termasuk bagian dari wilayah Kerajaan/Marga Kenali (sekarang masuk wilayah kecamatan Belalau) kemudian datanglah penduduk baru yang berasal dari Marga Balik Bukit dan Sumatera Selatan, tetapi sekarang belum diketahui secara pasti kapan penduduk tersebut datang dan membuka wilayah hutan belantara tersebut. Penduduk dari Marga Balik Bukit membuka wilayah hutan Way Tebu yang sekarang menjadi Pekon Muarajaya I & Muarajaya II. Setelah wilayah-wilayah ini berkembang dengan pesat maka Pasirah Kenali dengan Upacara Adat meresmikan wilayah tersebut menjadi marga yang berdiri sendiri, yang berada di wilayah Way Tenong diberi nama Marga Way Tenong dan yang berada di Way Tebu diberi nama Way Tebu.

(13)

Purawiwitan, Simpangsari dan Puralaksana. Rombongan ini berasal dari kabupaten Tasikmalaya dibawah pimpinan Bandaniji Suja'i Kanta Atmaja dan Tanu Wijaya dan membuka hutan yang sekarang menjadi pekon Tribudi Syukur dan Sukapura.

Untuk menghindari persengketaan wilayah Way Tebu dan wilayah Way tenong yang semula merupakan wilayah kekuasaan Bukit Kemuning maka diresmikanlah keseluruhan wilayah Way Tebu dan wilayah Way tenong tersebut menjadi wilayah yang berdiri sendiri di beri nama Sumberjaya oleh Presiden RI Ir Soekarno. (http://www.mahamerulambar.com/2010/12/tugu-ir-soekarno-sumber-jaya-lampung.html)

B. Kondisi Geografis

Sumberjaya adalah nama sebuah kecamatan di wilayah Kabupaten Lampung Barat, Propinsi Lampung, yang pada tahun 2000 dimekarkan menjadi dua kecamatan yaitu, Kecamatan Sumberjaya dan Kecamatan Way Tenong. Dalam tulisan ini daerah Sumberjaya mengacu pada keadaan sebelum tahun 2000, yaitu terdiri atas 28 desa dengan total luas wilayah 54.194 hektar atau 10,9% dari total luas Kabupaten Lampung Barat.

Kecamatan Sumberjaya merupakan salah satu kecamatan tertua dari 26 kecamatan yang ada di Kabupaten Lampung Barat. Letak geografis Kecamatan Sumberjaya adalah sebagai berikut:

- Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan banjit

- Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Kebun Tebu - Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Way Tenong

- Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Bukit Kemuning Lampung Utara

(14)

Dilihat dari topografinya, Sumberjaya sebagain besar berbukit dan bergelombang, dengan ketinggian antara 700-1600 m, suhu udara berkisar 18-24O C. Dengan curah hujan rata-rata 2500-3250mm per tahun, dengan jumlah bulan basah 8-9 bulan, dan bulan kering 3-4 bulan dalam setahun. (http://lampungbaratkab.bps.go.id/)

C. Sosial Masyarakat

Bagi seseorang yang baru pertama kali datang ke Kecamatan Sumberjaya, kesan teduh akan segera dirasakan ketika memandang repong damar yang berdampingan dengan petak-petak sawah di tepi pantai yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia itu. Bahkan, bagi yang belum pernah melihat pohon damar, bukan tidak mungkin akan menyangka bahwa repong-repong damar tersebut adalah hutan alam bagian dari kawasan TNBBS (Taman Nasional Bukit Barisan Selatan).

Secara fisik, kenampakan tegakan repong damar dewasa memang tidak jauh berbeda dengan hutan alam. Batang pohonnya yang menjulang tinggi dan tajuknya yang rimbun nampak jelas menggambarkan eksotika hutan tropika. Di bawahnya, terlihat berbagai pohon buah-buahan yang ditanam di sela-sela damar seperti petai, durian, nangka, cempedak, dan duku. Burung pun tampak nyaman berterbangan dari pohon ke pohon tanpa kuatir gangguan manusia. Secara ekologis, keberadaan repong damar mempunyai nilai tinggi. Selain berfungsi sebagai daerah tangkapan air, repong damar juga dikenal sebagai zone penyangga atau pelindung kawasan TNBBS untuk konservasi keragaman hayati. Di samping itu, masyarakat Tribudi Syukur masih kokoh memegang aturan adat tak tertulis bahwa masyarakat tidak dibenarkan menebang pohon damar untuk diambil kayunya kecuali pohon yang tumbang secara alami.

(15)

repong damar. Berbagai keunikan dalam repong damar ini sering dijadikan sebagai bahan penelitian para mahasiswa dan ilmuwan. Banyak sarjana sampai doktor baik dari dalam maupun luar negeri yang terlahir dengan mengambil repong damar Krui sebagai obyek studi mereka. Terakhir kali, seorang mahasiswa S3 dari Belanda datang untuk mempelajari mata pencaharian & kepemilikan lahan petani di sini.(http://my-journey-blog.blogspot.com) Repong damar di Lampung Barat adalah sebuah potret keserasian hidup manusia dengan alam. Di tengah maraknya kerusakan hutan yang muncul akibat konflik kepentingan, repong damar masyarakat Pesisir Lampung Barat seolah memberikan pelajaran bahwa keserasian antara manusia dan lingkungan bukan suatu hal yang tidak mungkin diwujudkan. Akan tetapi, gambaran indah itu juga bukan hal yang mudah diperoleh. Untuk membuat repong damar, perlu upaya kerja keras dan keuletan.

D. Repong Damar

Repong dalam terminologi Krui adalah sebidang lahan kering yang ditumbuhi beraneka-ragam jenis tanaman produktif, umumnya tanaman tua (perennial crops), seperti damar, duku, durian, petai, jengkol, tangkil, manggis, kandis dan beragam jenis kayu yang bernilai ekonomis serta beragam jenis tumbuhan liar yang dibiarkan hidup. Disebut repong damar karena pohon damar merupakan tegakan yang dominan jumlahnya pada setiap bidang repong.

Repong damar adalah fase final dalam tahapan linier sistem pengelolaan lahan kering (darak) di daerah Krui, yaitu fase ketika lahan hutan (baik hutan primer maupun hutan sekunder) yang dibuka dan dibabat kandas akan mencapai format seperti hutan alam kembali setelah 20 tahun kemudian. Michon & de Foresta (1994) menyebutkan bahwa secara ekologis fase perkembangan repong damar tersebut menyerupai tahapan suksesi hutan alam dengan segala keuntungan ekologisnya seperti perlindungan tanah, evolusi iklim mikro, dan lain sebagainya.

(16)

disengaja atau tidak oleh sang petani, ternyata berlangsung dalam kondisi ekologis yang sesuai dan saling mendukung satu sama lain. Sehingga proses-proses produksi yang terkait dalam seluruh tahapan pengembangan repong bisa membuahkan efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi. Pada gilirannya, kegiatan produktif yang berlangsung secara bertahap itu akan memberikan kontribusi ekonomi bagi petani secara terus-menerus dalam jangka panjang. Resin damar yang dipanen secara berkala memberi pendapatan tunai secara rutin untuk nafkah keluarga. Dari repong juga bisa dipetik hasil tanaman lainnya, serta juga bisa digunakan sebagai kayu bakar, bahan bangunan dan juga beragam jenis tumbuhan obat.

Repong damar, yaitu areal yang ditanami secara campuran dengan jenis tanaman utama pohon damar (Shorea javanica). Repong damar, seperti yang ditulis oleh Suwito merupakan asosiasi tanaman pepohonan dengan struktur vegetasi kompleks yang menyerupai hutan alam, dan strukturnya didominasi oleh pohon damar. Repong damar adalah sebuah contoh pengelolaan sumber daya alam yang penting, di mana penduduk setempat menjinakkan pohon liar secara mandiri tanpa bantuan dari pihak luar. Manfaatnya adalah jaminan terhadap kebutuhan ekonomi penduduk dengan melindungi tanah dan sumber-sumber air, serta konservasi sejumlah besar jenis-jenis binatang dan tumbuh-tumbuhan dari hutan alam (Suwito. 2001).

(17)
(18)

BAB III

PEMIKIRAN ETIKA LINGKUNGAN A. Etika

Seperti halnya dengan banyak istilah lain yang menyangkut konteks ilmiah, istilah “etika” pun berasal dari bahasa Yunani kuno. Kata Yunani ethos dalam bentuk tunggal mempunyai banyak arti, yaitu : tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan adat, akhlak, watak, perasaan, sikap, cara berfikir. Dalam bentuk jamak (ta etha) artinya adalah adat kebiasaan. Dan arti terakhir inilah menjadi latar belakang bagi terbentuknya istilah “etika” yang oleh filsuf Yunani besar Aristoteles (384-322 SM) sudah dipakai untuk menunjukan filsafat moral. Jadi, jika kita membatasi diri pada asal-usul kata ini, maka “etika” berarti: ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan. (Bartens, 1994).

Dalam memberikan sebuah definisi etika Menurut K. Bertens, dalam bukunya yang berjudul Etika (1994). yaitu secara umumnya sebagai berikut: 1. Etika adalah niat, apakah perbuatan itu boleh dilakukan atau tidak sesuai pertimbangan niat baik atau buruk sebagai akibatnya. .

2. Etika adalah nurani (bathiniah), bagaimana harus bersikap etis dan baik yang sesungguhnya timbul dari kesadaran dirinya.

3. Etika bersifat absolut, artinya tidak dapat ditawar-tawar lagi, kalau perbuatan baik mendapat pujian dan yang salah harus mendapat sanksi.

4. Etika berlakunya, tidak tergantung pada ada atau tidaknya orang lain yang hadir. a. Menurut Maryani & Ludigdo : etika adalah seperangkat aturan atau norma atau pedoman yang mengatur perilaku manusia,baik yang harus dilakukan maupun yang harus ditinggalkan yang di anut oleh sekelompok atau segolongan masyarakat atau prifesi.

(19)

c. Menurut Aristoteles: di dalam bukunya yang berjudul Etika Nikomacheia, Pengertian etika dibagi menjadi dua yaitu, Terminius Technicus yang artinya etika dipelajari untuk ilmu pengetahuan yang mempelajari masalah perbuatan atau tindakan manusia. dan yang kedua yaitu, Manner dan Custom yang artinya membahas etika yang berkaitan dengan tata cara dan kebiasaan (adat) yang melekat dalam kodrat manusia (in herent in human nature) yang terikat dengan pengertian “baik dan buruk” suatu tingkah laku atau perbuatan manusia.

d. Menurut Kamus Webster: etika adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang apa yang baik dan buruk secara moral.

e. Menurut Ahli filosofi: Etika adalah sebagai suatu studi formal tentang moral. f. Menurut Ahli Sosiologi: Etika adalah dipandang sebagai adat istiadat,kebiasaan dan budaya dalam berperilaku.

B. Etika Lingkungan

Etika Lingkungan berasal dari dua kata, yaitu Etika dan Lingkungan. Etika berasal dari bahasa yunani yaitu “Ethos” yang berarti adat istiadat, kebiasaan dan praktek. Ada tiga teori mengenai pengertian etika, yaitu: etika Deontologi, etika Teologi, dan etika Keutamaan. Etika Deontologi adalah suatu tindakan di nilai baik atau buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban. Etika Teologi adalah baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan atau akibat suatu tindakan. Sedangkan Etika keutamaan adalah mengutamakan pengembangan karakter moral pada diri setiap orang. (Keraf, 2006)

(20)

Hal-hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan penerapan etika lingkungan adalah sebagai berikut:

a. Manusia merupakan bagian dari lingkungan yang tidak terpisahkan sehngga perlu menyayangi semua kehidupan dan lingkungannya selain dirinya sendiri.

b. Manusia sebagai bagian dari lingkungan, hendaknya selalu berupaya untuk emnjaga terhadap pelestarian , keseimbangan dan keindahan alam.

c. Kebijaksanaan penggunaan sumber daya alam yang terbatas termasuk bahan energy.

d. Lingkungan disediakan bukan untuk manusia saja, melainkan juga untuk makhluk hidup yang lain.

Etika Lingkungan memiliki beberapa perbedaan-perbedaan. Tetapi bukan berarti munculnya etika lingkungan ini memberi jawaban langsung atas pertanyaan mengapa terjadi kerusakan lingkungan. Namun paling tidak dengan adanya gambaran etika lingkungan ini dapat sedikit menguraikan norma-norma mana yang dipakai oleh manusia dalam melakukan pendekatan terhadap alam ini. Dengan demikian etika lingkungan berusaha memberi sumbangan dengan beberapa norma yang ditawarkan untuk mengungkap dan mencegah terjadinya kerusakan lingkungan.tuhan ekonomi.

Etika lingkungan sangat diperlukan sebagai akibat dari kurangnya muatan moral dalam hubungan manusia dengan alam. Manusia cenderung memandang alam dari segi ekonomis dan instrumentalistik. Alam bernilai hanya untuk menambang kebutuhan ekonomi modern yang menekankan segi pertumbuhan ekonomi sebagai kriteria kebehasilan pembangunan. Pengeksploitasian sumberr daya alam dan pencemaran lingkungan adalah bukti-bukti sekaligus dampak dari sikap materialistis tersebut (Borrong. 2000).

C. Biografi Arne Naess

(21)

penulis buku pelajaran, komentator sosial dan filosof, karya-karyanya mencangkup berbagai subyek dan telah menarik minat pembaca dalam skala luas. Sebagai pendaki yang gigih dan telah memimpin beberapa ekspedisi Norwegia, Naess merupakan pendukung ekologi yang terkenal. Sebagai kaum intelektual, kehidupan Naess tidak terlepas dari aktivitas keilmuan di universitas, kehidupan Naess tidak terlepas dari kehidupan keilmuan di universitas. Pada tahun 1933 dia lulus dari Universitas Oslo, kemudian melanjutkan studinya di Paris, Vienna, dan Barkeley. Di Vienna, dia terlibat di Vienna Circle, belajar psikoanalisis selama 14 bulan dengan Edward Hitschmann (sekolah kepribadian milik Freud). Di Berkeley ia bekerja dengan seorang psikologi yang brilian dan belajar teorinya E.C Tolman. Pada tahun 1936 menyelesaikan kuliah S2 dengan judul thesis Erkenntnis und wissenschaftliches Verhalten. Naess menjadi proffesor pada umur 27 tahun, lalu dia menjadi profesor di Universitas Oslo dari 1939-1969, kemudian menjalani kehidupannya sebagai seorang filsuf dan naturalis. Dari tahun 1970 beraktivitas sebagai aktivis lingkungan dan sejak tahun 1991 bekerja di SUM (Senter for Utvikling og Mijo) atau The Centre for Development and the Environment.

Arne Naess berpartisipasi dalam gerakan perdamaian khususnya pada tahun 1940-1955 dan gerakan gerakan kepedulian lingkungan yang dalam atau “the deep ecology movement” terutama pada tahun 1970 sampai akhir hayatnya yaitu pada tanggal 12 Januari 2009. Dia memimpin sebuah proyek UNESCO pada kontroversi timur atau barat (Perang dingin) di Paris pada tahun 1948-1949. Naess menjadi pendukung politik hijau di Eropa. Pada tahun 1958, Naess mengenalkan sebuah jurnal filsafat intedisipliner yang bernamakan Inquiry.

(22)

telah tinggal disana selama kurang lebih 20 tahun dan kemudian dia bertempat tinggal berpindah-pindah selama hampir 70 tahun (Cocola, 2006).

Gunung bagaikan ayah bagi seorang Naess, saat dia kehilangan seorang ayahnya di masa kecil. Di saat seorang ayah telah tiada, keberadaan gunung menjadi pengganti bagi Naess dan menjadi tempat berbagi secara spiritual tentang sebuah pertlian keluarga (Drengson, 1992). Sejak kecil Naess sangat tertarik dan terbiasa dengan kondisi alam terutama gunung. Gunung menjadi tempat terbaik bagi Naess untuk berefleksi dan mengungkapkan pemikiran-pemikirannya dalam sebuah karya.

Pada tahun 1972 Naess mendapatkan Honorary Doktorates dari Universitas Stockholm dan Universitas Pendidikan Olahraga dan Jasmani Negeri Norwegia tahun 1995. Naess juga menjadi anggota kehormatan dari The Norwegian Alpine Club dan tahun 2002 dan The Norwegian Tourist Association tahun 2002.

D. Konsep Deep Ecology

Deep ecology merupakan salah satu versi teori ekosentrisme. Sebagai sebuah istilah, deep ecology pertama kali diperkenalkan pada tahun 1973 oleh Arne Naess, seorang filsuf Norwegia. Deep ecology menuntut suatu etika baru yang tidak terpusat pada manusia (antroposentrisme), tetapi berpusat pada makhluk hidup seluruhnya dalam kaitan dengan upaya mengatasi persoalan lingkungan hidup. Etika baru ini tidak mengubah sama sekali hubungan antara manusia dengan manusia. Manusia dan kepentingannya bukan lagi ukuran bagi segala sesuatu yang lain (Keraf. 2006)

Ekologi dalam (Deep ecology) merupakan etika yang memandang bahwa manusia merupakan bagian integral dari lingkungannya. Konsep ini menempatkan sistem etika baru dan memiliki implikasi positif dalam kelestarian alam.

(23)

bahwa lingkungan moral harus melampaui spesies manusia dengan memasukkan komunitas yang lebih luas. Komunitas yang lebih luas disini maksudnya adalah komunitas yang menyertakan binatang dan tumbuhan serta alam.

Secara umum Deep ecology dalam ini menekankan hal-hal berikut : 1. Manusia adalah bagian dari alam.

2. Menekankan hak hidup mahluk lain, walaupun dapat dimanfaatkan oleh manusia, tidak boleh diperlakukan sewenang-wenang.

3. Prihatin akan perasaan semua mahluk dan sedih kalau alam diperlakukan sewenang-wenang.

4. Kebijakan manajemen lingkungan bagi semua mahluk. 5. Alam harus dilestarikan dan tidak dikuasai.

6. Pentingnya melindungi keanekaragaman hayati. 7. Menghargai dan memelihara tata alam.

8. Mengutamakan tujuan jangka panjang sesuai ekosistem.

(24)

BAB IV

ANALISIS DEEP ECOLOGY ARNE NAESS TERHADAP REPONG DAMAR DI DESA TRIBUDI SYUKUR

A. Telaah Deep ecology arne naess terhadap kearifan lokal Repong damar di Desa Tribudi Syukur.

1. Self-Realisation

Relasi instrinsik antar spesies-spesies dalam jaringan biosfer. Repong damar merupakan Salah satu cara pengelolaan hutan secara efesien dan efektif. Dikatakan begitu karena dalam pengelolaannya terdapat tahap-tahap penanaman tanaman produktif (mulai dari tanaman subsistem sampai tanaman tua) berikut perawatannya yang disengaja atau tidak oleh sang petani, ternyata berlangsung dalam kondisi ekologis yang sesuai dan saling mendukung satu sama lain. Sehingga proses-proses produksi yang terkait dalam seluruh tahapan repong bisa membuahkan efesiensi penggunaan faktor-faktor produksi. Pada gilirannya, kegiatan produktif yang berlangsung secara bertahap itu akan memberikan kontribusi ekonomi bagi petani secara terus menerus dalam jangka panjang. Resin damar yang dipanen secara berkala memberi pendapatan tunai secara rutin untuk menafkahi keluarga. Dari repong juga bisa dipetik hasil tanaman lain, ditambah lagi kayu bakar, bahan bangunan dan juga beragam jenis tumbuhan obat yang biasanya hidup di bawah pohon damar..

Pohon damar bersifat dominan, tumbuh normal, berbunga, berbuah dan menghasilkan getah secara berkelanjutan. Hal ini menunjukan bahwa fase perkembangan Repong damar berlangsung dalam kondisi ekologis yang sesuai dan saling mendukung satu sama lain.

(25)

2. Biospheric egalitarianism

Pengakuan bahwa semua organisme dan makhluk hidup adalah anggota yang sama statusnya dari suatu keseluruhan yang terkait sehingga mempunyai martabat yang sama. Dia tidak hanya memusatkan perhatian pada dampak pencemaran bagi kesehatan manusia, tetapi juga pada pada kehidupan secara keseluruhan.

Repong damar memiliki komposisi spesies yang mirip dengan hutan alam di Taman Nasional, baik komposisi spesies tanaman, satwa liar seperti mamalia kecil dan burung. Repong damar Krui merupakan sebuah potret keserasian hidup manusia dengan alam. Di tengah maraknya kerusakan hutan yang muncul akibat konflik kepentingan, repong damar masyarakat Pesisir Lampung Barat seolah memberikan pelajaran bahwa keserasian antara manusia dan lingkungan bukan suatu hal yang tidak mungkin diwujudkan. Akan tetapi, gambaran indah itu juga bukan hal yang mudah diperoleh. Untuk membuat repong damar, perlu upaya kerja keras dan keuletan.

(26)

3. Pengakuan dan penghargaan terhadap keanekaragaman dan kompleksitas ekologis dalam hubungan simbiosis

Prinsip ini menekankan pada nilai, kualitas, cara hidup yang baik, bukan menekankan pada sikap rakus dan tamak. Ada batas untuk hidup secara layak sebagai manusia, yang selaras dengan alam.

Repong damar, yaitu areal yang ditanami secara campuran dengan jenis tanaman utama pohon damar (Shorea javanica). Repong damar, seperti yang ditulis oleh Suwito merupakan asosiasi tanaman pepohonan dengan struktur vegetasi kompleks yang menyerupai hutan alam, dan strukturnya didominasi oleh pohon damar. Repong damar adalah sebuah contoh pengelolaan sumber daya alam yang penting, di mana penduduk setempat menjinakkan pohon liar secara mandiri tanpa bantuan dari pihak luar. Manfaatnya adalah jaminan terhadap kebutuhan ekonomi penduduk dengan melindungi tanah dan sumber-sumber air, serta konservasi sejumlah besar jenis-jenis binatang dan tumbuh-tumbuhan dari hutan alam.

Sedang untuk membuat repong damar, masyarakat membuka hutan (pulan) untuk ditanami padi ladang. Areal tanaman padi ini mereka sebut darak. Sesudah panen padi mereka mengubah darak menjadi kebun dengan cara menanam kopi, lada atau cengkeh, dengan harapan memberi penghasilan untuk selama 10 sampai 15 tahun. Fase kebun ini mereka sebut batin kejutan, yang mencerminkan harapan mereka memperoleh hasil yang besar dari tanaman tersebut.Bersamaan dengan itu mereka juga menanam damar disertai beberapa jenis pohon yang akan menghasilkan buah dalam umur yang agak panjang seperti duku, durian, petai, jengkol dan sebagainya. Sistim wanatani repong damar akan berproduksi secara ekonomis mulai umur kira-kira 20 tahun sejak membuka hutan dan berlangsung terus sampai selama puluhan atau mungkin lebih dari seratus tahun.

(27)

Ecolifestyle pada dasarnya adalah hidup sederhana dan tidak berlebihan. Seperti istilah yang diutarakan Naess “ sederhana dalam sarana, tapi kaya tujuan” (simple in means but rich in end).

Dalam Pengelolaan Repong damar memerlukan biaya dan tenaga kerja yang relatif rendah. Hal ini antara lain disebabkan oleh proses produksi yang terkait dalam seluruh tahapan pengembangannya bisa membuahkan efesiensi penggunaan faktor-faktor produksi. Pada fase Repong damar, pengeluaran biaya untuk pengelolaan hampir tidak ada, dan tenaga kerja yang digunakan untuk pemeliharaan repong, dalam bentuk pembabatan ringan semak sekitar pohon damar dan pemeliharaan lubang sadap, dapat dilakukan oleh tenaga anggota keluarga. Petani pada umumnya berpendapat bahwa semak belukar yang ada di repong akan lebih meningkatkan produksi getah damar.

Bagi seseorang yang baru pertama kali datang ke wilayah Sumberjaya, kesan teduh akan segera dirasakan ketika memandang repong damar yang berdampingan dengan petak-petak sawah di tepi pantai yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia itu. Bahkan, bagi yang belum pernah melihat pohon damar, bukan tidak mungkin akan menyangka bahwa repong-repong damar tersebut adalah hutan alam bagian dari kawasan TNBBS.

(28)
(29)

BAB V PENUTUP a. Kesimpulan

Keberhasilan sistem pengelolaan Repong damar sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor ekologi, ekonomi-bisnis, dan sosial-budaya. Faktor ekologi yang paling berpengaruh adalah tempat tumbuh yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman, kemampuan peran dan fungsi ekosistem Repong damar terhadap ekosistem-ekosistem lain sebagai faktor pendukungnya, dan keadaan komposisi jenis yang beranekaragam.

Deep Ecology hadir untuk menuntut suatu pemahaman etika baru yang tidak terpusat pada manusia dan kebutujannya, melainkan berpusat pada makhluk hidup seluruhnya dalam kaitan dengan upaya mengatasi persoalan lingkungan hidup. Etika baru ini tidak mengubah sama sekali hubungan antara manusia dengan manusia. Manusia dan kepentingannya bukan lagi ukuran bagi segala sesuatu yang lain.

Arne Naess dalam konsep Deep Ecology membagi pemikirannya dalam istilah platformnya seperti Self Realisation, Biospheric Egalitarianism, Pengakuan dan penghargaan terhadap keanekaragaman, serta Eco-lifestyle yang merupakan salah satu dasar terbentuknya keadaan ekologi dalam yang lestari dan berkelanjutan.

b. Saran

Berbagai publikasi yang ada bahkan telah menunjukkan kesalahan-kesalahan asumsi masa lalu, yang memandang sepele kemampuan penduduk lokal dalam mengelola sumber daya hutan secara baik dan berkelanjutan. Kajian mereka mengungkapkan bahwa komunitas lokal sebenarnya memiliki dan mampu mengembangkan institusi-institusi yang kondusif bagi pengelolaan sumber daya berkelanjutan secara teknologi, ekonomis maupun sosial budaya. Pengelolaan

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian diketahui pengaruh ukuran KAP, opini audit, pergantian manajemen, financial distress, dan ukuran perusahaan klien terhadap auditor switching

Analisis studi gerakan dan waktu dengan Menggunakan Toyota Production System dilakukan di assembly shop, pada line Trimming 1, proses persiapan booster, karena

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada h u r u f a, perlu menetapkan Keputusan Bupati tentang Penetapan Penerima Bantuan Paket Sembako Pada Saat Darurat

Mengutip laporan keuangan, hingga kuartal III/2017, perusahaan berkode saham ROTI ini mengantongi penjualan senilai Rp 1,82 triliun atau turun tipis 0,65% dari periode yang sama

Dalam hal penjualan kembali Unit Penyertaan REKSA DANA BNP PARIBAS PRIMA USD dilakukan oleh Pemegang Unit Penyertaan melalui media elektronik, maka Formulir Penjualan Kembali

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 07/PMK.05/2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 45/PMK.05/2007 PERJALANAN DINAS JABATAN DALAM NEGERI BAGI

Terjadinya sengketa mengenai hak cipta karena adanya pelanggaran yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun