STRATEGI KAMPANYE POLITIK CALON INCUMBENT DAN PENDATANG BARU DALAM PEMILIHAN KEPALA DAERAH (Studi Kasus: Tim Kampanye Pasangan Danny Setiawan-Iwan Sulanjana
dan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf di Kota Bogor, Jawa Barat)
Oleh: Yuddi Yustian
A14204057
PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS PERTANIAN
RINGKASAN
YUDDI YUSTIAN. STRATEGI KAMPANYE POLITIK CALON
INCUMBENT DAN PENDATANG BARU DALAM PEMILIHAN KEPALA DAERAH (Studi Kasus: Tim Kampanye Pasangan Danny Setiawan-Iwan Sulanjana dan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf di Kota Bogor, Jawa Barat). Di bawah bimbingan SARWITITI S. AGUNG).
Perubahan sistematika pemilihan kepala daerah yang ditandai dengan disahkannya Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang merupakan revisi dari Undang-undang No. 22 Tahun 1999, telah mengubah tata cara pemilihan kepala daerah yang sebelumnya dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) menjadi dipilih secara langsung oleh masyarakat melalui pemilihan umum yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perubahan tata cara pemilihan tersebut juga merubah cara-cara dan pendekatan kampanye politik yang dijalankan oleh masing-masing pasangan calon. Saat pemilihan dilakukan oleh DPRD, kampanye dengan cara lobi politik kepada anggota dewan lebih diutamakan, sedangkan dalam pemilihan secara langsung oleh masyarakat, pengenalan calon kepala daerah kepada masyarakat melalui kampanye politik yang melibatkan masyarakat dijadikan cara utama untuk menarik perhatian dan suara dari konstituen yaitu masyarakat daerah setempat.
diyakini akan membentuk suatu citra politik bagi pasangan calon yang dikampanyekan. Citra politik yang menarik dan dianggap penting oleh masyarakat akan mendorong pemilih untuk menjatuhkan pilihan politiknya kepada calon tersebut.
Subjek dari penelitian ini adalah pasangan Danny Setiawan-Iwan Sulanjana (DA’I) yang berstatus sebagai calon incumbent dan didukung oleh Partai Golkar dan Partai Demokrat, dan pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf (HADE) sebagai calon pendatang baru yang didukung oleh PKS dan PAN. Perbedaan status antara kedua calon kepala daerah tersebut diyakini akan mempengaruhi teknik-teknik dan bentuk kampanye politik yang dijalankan oleh kedua pasangan calon kepala daerah. Penelitian dalam skripsi ini memfokuskan pada aspek perencanaan strategi kampanye politik, kegiatan kampanye politik yang dilakukan, kesesuaian citra antara yang ditangkap oleh pemilih dan citra yang dikomunikasikan oleh tim kampanye politik, serta perbandingan strategi kampanye politik dari tim kampanye calon gubernur incumbent dan calon gubernur pendatang baru, di Kota Bogor.
30 responden yang memilih pasangan DA’I dan 30 responden yang memilih pasangan HADE. Responden tersebut dipilih dari tiga kecamatan di Kota Bogor, yaitu Kecamatan Bogor Tengah, Bogor Utara, dan Kecamatan Tanah Sareal.
Hasil penelitian ini mengungkap bahwa mekanisme kerja tim kampanye HADEyang bekerja berdasarkan masing-masing partai politik pendukung menjadi HADE PKS dan HADE PAN, ternyata lebih efektif dalam menjalankan kegiatan kampanye yang hanya berlangsung kurang dari dua minggu. Sementara itu tim kampanye DA’I yang anggota-anggotanya berasal dari Partai Golkar dan Partai Demokrat, justru mengalami berbagai hambatan yang menyebabkan kondisi ”saling tunggu” karena sulitnya koordinasi antara anggota-anggota tim kampanye dari parpol yang berbeda. Selain itu jumlah dana, konsolidasi internal dan eksternal yang dilakukan, targeting sasaran kampanye, serta kalimat positioning, ternyata mempengaruhi bentuk-bentuk kegiatan kampanye yang dilakukan dan pada akhirnya berperan menjadi faktor-faktor yang berpengaruh untuk memenangkan pemilihan kepala daerah.
yang melakukan perjanjian ”kontrak politik”. Selain itu, bentuk-bentuk kampanye yang inovatif dan bermanfaat untuk masyarakat juga turut mempengaruhi pilihan politik masyarakat.
Usia dan tingkat pendidikan pemilih ternyata tidak mempengaruhi kesesuaian citra politik pasangan calon kepala daerah yang ditangkap oleh pemilih dan yang dikomunikasikan oleh tim kampanye. Persentase kesesuaian citra dari kedua pasangan berdasarkan usia dan tingkat pendidikan pemilih pasangan DA’I dan HADEyang lebih dari 50 persen (kecuali pemilih HADE yang berpendidikan menengah yaitu sebesar 30 persen), menunjukkan bahwa usia dan tingkat pendidikan tidak berhubungan dengan kemampuan individu dalam menangkap citra dengan tepat.
STRATEGI KAMPANYE POLITIK CALON INCUMBENT DAN PENDATANG BARU DALAM PEMILIHAN KEPALA DAERAH (Studi Kasus: Tim Kampanye Pasangan Danny Setiawan-Iwan Sulanjana
dan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf di Kota Bogor, Jawa Barat)
Oleh: Yuddi Yustian
A14204057
SKRIPSI
Sebagai Syarat untuk Mendapatkan Gelar Sarjana Pertanian pada
Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor
PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS PERTANIAN
PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Dengan ini menyatakan bahwa Skripsi yang ditulis oleh: Nama : Yuddi Yustian
NRP : A14204057
Judul : STRATEGI KAMPANYE POLITIK CALON INCUMBENT DAN PENDATANG BARU DALAM PEMILIHAN KEPALA DAERAH (Studi Kasus: Tim Kampanye Pasangan Danny Setiawan-Iwan Sulanjana dan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf di Kota Bogor, Jawa Barat)
Dapat diterima sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Menyetujui, Dosen Pembimbing
Dr. Ir. Sarwititi S. Agung, MS NIP. 131 879 331
Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian
Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M.Agr NIP. 131 124 019
PERNYATAAN
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL
STRATEGI KAMPANYE POLITIK CALON INCUMBENT DAN
PENDATANG BARU DALAM PEMILIHAN KEPALA DAERAH (Studi Kasus: Tim Kampanye Danny Setiawan-Iwan Sulanjana dan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf di Kota Bogor, Jawa Barat) INI BENAR-BENAR MERUPAKAN HASIL KARYA YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI KARYA ILMIAH PADA SUATU PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN DAN JUGA BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH. DEMIKIAN PERNYATAAN INI SAYA BUAT DENGAN SESUNGGUHNYA DAN SAYA BERSEDIA MEMPERTANGGUNG JAWABKAN PERNYATAN INI.
Bogor, September 2008
Yuddi Yustian
RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama Yuddi Yustian, merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, yang dilahirkan di Bandung pada tanggal 2 Desember 1985 dari orangtua bernama Buntara, SE dan Kenny Afantini. Pendidikan formal penulis dimulai di SD Negeri Pengadilan 5 Bogor dan lulus pada tahun 1997, selanjutnya penulis melanjutkan pendidikan di SLTP Negeri 2 Bogor dan lulus pada tahun 2000, kemudian dilanjutkan di SMU PGRI I Bogor dan lulus pada tahun 2003. Pada tahun 2004 penulis diterima di Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB).
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Penulisan skripsi ini ditujukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Skripsi ini berjudul: STRATEGI KAMPANYE POLITIK CALON INCUMBENT DAN PENDATANG BARU DALAM PEMILIHAN KEPALA DAERAH (Studi Kasus: Tim Kampanye Danny Setiawan-Iwan Sulanjana dan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf di Kota Bogor, Jawa Barat).
Penelitian yang ditulis dalam skripsi ini bertujuan untuk menganalisis dan melakukan perbandingan pada tahap-tahap perencanaan dan kegiatan kampanye politik, pada pemilihan kepala daerah Jawa Barat yang dilakukan oleh tim kampanye calon incumbent dan pendatang baru. Penelitian skripsi ini merupakan proses belajar yang dilakukan oleh penulis agar penulis dapat mengenal, mempelajari, dan menganalisis fakta-fakta mengenai kampanye politik, yang kemudian disajikan dalam bentuk karya ilmiah berupa skripsi.
Demikianlah skripsi ini disusun dengan suatu tema tulisan yang dipandang cukup relevan untuk ditelaah lebih lanjut saat ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para akademisi dan pihak-pihak yang berkepentingan.
Bogor, September 2008
DAFTAR ISI
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA ANALISIS... 9
2.1. Tinjauan Pustaka... 9
2.1.1. Definisi Kampanye Politik ... 9 2.1.2. Teknik-teknik Kampanye Politik ... 11
2.1.3. Strategi Kampanye Politik ... 12
2.1.4. Tahapan Pemasaran Politik ... 13
2.1.8. Fenomena Kekalahan Calon Incumbentdalam Pilkada ... 26
3.2. Penentuan Subjek Penelitian dan Responden Polling... 33
3.3. Teknik Pengumpulan Data... 36
3.4. Teknik Analisis Data dan Penyajian Data... 37
BAB IV PROFIL CALON GUBERNUR DAN TIM KAMPANYE ...
BAB V PERENCANAAN STRATEGI KAMPANYE POLITIK... 48
5.1. Tahapan Perencanaan Strategi Kampanye Politik DA’I... 48
5.1.1. Anggaran Biaya dan Pendanaan Kampanye ... 49
5.1.2. Konsolidasi Internal dan Eksternal Tim Kampanye ... 50
5.2. Tahapan Perencanaan Strategi Kampanye Politik HADE... 55
5.2.1. Anggaran Biaya dan Pendanaan Kampanye ... 56
5.2.2. Konsolidasi Internal dan Eksternal Tim Kampanye ... 57
5.3. Perbandingan Perencanaan Strategi Kampanye Politik ... 62
6.1. Kegiatan Kampanye Politik Tim DA’IKota Bogor...
6.1.3. Kampanye Dialogis dan Silaturahmi dengan Tokoh
Pemuda ...
6.2. Kegiatan Kampanye Politik Tim HADE Kota Bogor ... 75
6.2.1. Kampanye Massa Tidak Langsung ... 75
6.2.2. Kampanye Massa Langsung ... 81
6.2.3. Kunjungan Langsung ke Masyarakat oleh Pasangan
HADE...
6.3. Kendala dalam Pelaksanaan Kegiatan Kampanye ... 86
6.4. Pengaruh Kampanye terhadap Keputusan Memilih DA’I
dan HADE ... 87
6.5. Perbandingan Kegiatan Kampanye DA’Idan HADE ... 89
BAB VII PENCITRAAN PASANGAN CALON GUBERNUR ... 93
7.1. Pencitraan Pasangan Calon Gubernur oleh Tim Kampanye DA’I 93
7.2. Pencitraan Pasangan Calon Gubernur oleh Tim Kampanye
HADE ... 95
BAB VIII STRATEGI KAMPANYE POLITIK DAN
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA... 102
8.1. Strategi Kampanye Politik ... 102
8.2. Faktor-faktor Kemenangan Pasangan Pendatang Baru (HADE) .. 104
8.3. Faktor-faktor Kekalahan Pasangan Incumbent(DA’I)... 106
BAB IX KESIMPULAN DAN SARAN... 109
9.1. Kesimpulan ... 109
9.2. Saran ... 112
DAFTAR PUSTAKA... 114
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Matriks Organisasi Pendukung Pasangan DA’Idi Kota Bogor ... 51 Tabel 2. Matriks Organisasi Pendukung Pasangan HADEdi Kota
Bogor ... 58 Tabel 3. Matriks Perbandingan Perencanaan Strategi Kampanye Politik .... 62 Tabel 4. Matriks Analisis Iklan Radio DA’Idan Hubungannya dengan
Sasaran Kampanye... 68 Tabel 5. Matriks Analisis Iklan Radio DA’Idan Hubungannya dengan
Citra yang ingin dibentuk... 69 Tabel 6. Matriks Analisis Iklan Radio DA’Idan Hubungannya dengan
Slogan Kampanye ... 70 Tabel 7. Matriks Analisis Iklan Radio HADEdan Hubungannya
dengan sasaran Kampanye ... 77 Tabel 8. Matriks Analisis Iklan Radio HADEdan Hubungannya
dengan Citra yang Ingin Dibentuk ... 78 Tabel 9. Matriks Analisis Iklan Radio HADE dan Hubungannya
dengan Slogan Kampanye ... 78 Tabel 10. Persentase Pemilih DA’Idi Kota Bogor yang Memilih
Tabel 11. Persentase Pemilih DA’Idi Kota Bogor yang Memilih
karena Pengaruh Kampanye HADE, 2008... 88 Tabel 12. Matriks Kegiatan Kampanye HADEdi Kota Bogor ... 90 Tabel 13. Matriks Kegiatan Kampanye DA’I di Kota Bogor ... 91 Tabel 14. Persentase Citra yang Ditangkap oleh Pemilih DA’I
Berdasarkan Tingkat Pendidikan Pemilih di Kota Bogor, 2008... 94 Tabel 15. Persentase Citra yang Ditangkap oleh Pemilih DA’I
Berdasarkan Usia Pemilih di Kota Bogor, 2008 ... 95 Tabel 16. Persentase Citra yang Ditangkap oleh Pemilih HADE
Berdasarkan Tingkat Pendidikan Pemilih di Kota Bogor, 2008... 96 Tabel 17. Persentase Citra yang Ditangkap oleh Pemilih HADE
Berdasarkan Usia Pemilih di Kota Bogor, 2008 ... 97 Tabel 18. Persentase Perbandingan Kesesuaian Citra Pasangan DA’I
dan HADEBerdasarkan Usia Pemilih di Kota Bogor, 2008... 98 Tabel 19. Persentase Perbandingan Kesesuaian Citra Pasangan DA’I
dan HADEBerdasarkan Tingkat Pendidikan Pemilih di Kota
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Tahapan MarketingPolitik ... 15
Gambar 2. Kriteria Calon Gubernur Menurut Warga Jawa Barat ... 25
Gambar 3. Kerangka Analisis Strategi Kampanye Politik Calon Incumbentdan Pendatang Baru dalam Pemilihan Kepala Daerah, 2008 ... 29
Gambar 4. Baligo Pasangan DA’Idi daerah Pondok Rumput, Kota Bogor ... 70
Gambar 5. Juru Kampanye sedang Mengkampanyekan Pasangan DA’I ... 71
Gambar 6. Pawai Motor Simpatik Pendukung DA’I ... 73
Gambar 7. Pamflet Kampanye Pasangan HADE... 79
Gambar 8. Baligo Pasangan HADEdi Jalan Juanda Bogor ... 80
Gambar 9. Kampanye HADE di Lapangan Sempur Kota Bogor ... 81
Gambar 10. Kunjungan Ahmad Heryawan ke Pasar Anyar Bogor ... 83
Gambar 11. Kunjungan Dede Yusuf ke Stasiun Kereta Api Bogor ... 83
Gambar 12. Kampanye Direct Selling HADEdi Jembatan Merah, Kota Bogor... 85
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Struktur Tim Kampanye DA’IKota Bogor ...117
Lampiran 2. Struktur Tim Kampanye HADEKota Bogor ...119
Lampiran 3. Catatan Lapang Kampanye HADE...121
Lampiran 4. Catatan Lapang Kampanye DA’I...123
Lampiran 5. Kuesioner PollingPemilih DA’I...124
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Reformasi di segala bidang yang dilakukan pasca pemerintahan orde baru pada bulan Mei 1998, telah membawa perubahan yang sangat besar dalam kehidupan demokrasi politik di Indonesia. Disahkannya Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang merupakan revisi dari Undang-undang No. 22 Tahun 1999, telah mengubah tata cara pemilihan kepala daerah. Kepala daerah yang sebelumnya dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) diubah menjadi dipilih langsung oleh masyarakat. Ketentuan ini tertuang dalam pasal 56 ayat 1 undang-undang tersebut yaitu, ‘Kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih dalam satu pasangan calon yang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil’. Dengan demikian gubernur, bupati dan walikota yang masa jabatannya berakhir pada tahun 2005 dan setelahnya akan dipilih secara langsung oleh rakyat dalam suatu pemilihan langsung yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Perubahan tata cara pemilihan tersebut juga akan merubah cara-cara dan pendekatan kampanye politik yang dijalankan oleh masing-masing pasangan calon. Saat pemilihan dilakukan oleh DPRD, kampanye dengan cara lobi politik kepada anggota dewan lebih diutamakan, sedangkan dalam pemilihan secara langsung oleh masyarakat, pengenalan calon kepala daerah kepada masyarakat melalui kampanye politik yang melibatkan masyarakat dijadikan cara utama untuk menarik perhatian dan suara dari konstituenyaitu masyarakat daerah setempat.
Kampanye merupakan hal yang sangat esensial dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. Selama masa kampanye yang dilaksanakan dalam jangka waktu 14 hari dan berakhir tiga hari sebelum pemungutan suara, pasangan calon kepala daerah bersama tim kampanyenya akan berusaha memperkenalkan dirinya serta memaparkan visi-misi mengenai rancangan kebijakan pembangunan daerah selama lima tahun ke depan masa kepemimpinannya jika terpilih.
langsung pun bergantung pada penggunaan beragam media massa dalam kampanye politik yang dilakukannya (Nimmo, 2005).
Luwarso (n.d.)dalamAmir (2006) menyatakan bahwa politik di era media massa adalah soal membuat citra. Tim kampanye dari setiap pasangan calon kepala daerah akan berusaha menciptakan citra diri yang positif dari pasangan calon tersebut di mata masyarakat, sebab citra diri yang positif dan prestasi calon kepala daerah berpengaruh besar bagi pemilih pemula dalam menentukan pilihannya (Suryatna, 2007). Kelebihan-kelebihan tersebut harus dikemas dengan baik melalui kegiatan kampanye politik yang telah disiapkan secara matang, sehingga dapat dijadikan sebagai nilai jual bagi pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang mengikuti pemilihan umum.
Penelitian mengenai strategi komunikasi dalam pemilihan kepala daerah sebelumnya telah dilakukan oleh Yuddho (2007). Yuddho mencoba mengkaji strategi komunikasi yang dilakukan oleh tim kampanye calon Gubernur Banten yaitu Ratu Atut dalam Pilkada Banten di Kota Tangerang dan mencari faktor kekalahan Ratu Atut di Kota tersebut, tetapi penelitian itu dirasa kurang sempurna karena Yuddho hanya menggali strategi komunikasi dari satu pasangan calon gubernur dan tidak melakukan perbandingan strategi dengan pasangan calon gubernur lainnya. Hal tersebut menjadi kelemahan penelitian, karena kekalahan Ratu Atut belum tentu hanya disebabkan oleh faktor kurang maksimalnya kinerja tim kampanye Ratu Atut, tetapi mungkin karena strategi komunikasi yang dijalankan oleh calon gubernur lainnya lebih tepat sasaran.
penelitian tersebut tidak membahas mengenai proses penyusunan rencana kampanye yang dilakukan oleh tim kampanye pasangan calon kepala pemerintahan. Amir (2006), berhasil mengidentifikasi beberapa faktor penentu kemenangan SBY-JK dalam pemilihan umum langsung Presiden RI tahun 2004, yaitu faktor ketokohan atau figur pribadi SBY, faktor kepemimpinan, strategi memilih pasangan, momen atau peristiwa khusus, jajak pendapat atau polling, serta program hukum dan janji kampanye. Kombinasi dari beberapa faktor tersebut yang didokumentasikan oleh media massa telah menimbulkan citra tersendiri di benak pemilih. Sementara itu, penelitian Suryatna (2007) tentang hubungan karakteristik pemilih dan terpaan informasi kampanye politik dengan perilaku memilih dalam pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Cianjur tahun 2006, menemukan bahwa terdapat hubungan nyata antara karakteristik pemilih dan terpaan informasi kampanye dengan perilaku memilih. Penelitian Suryatna ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan jumlah responden sebanyak 100 orang pemilih yang terdaftar dalam pilkada Cianjur.
sehingga pada akhirnya akan mendorong masyarakat untuk memberikan suaranya kepada calon tersebut (Nimmo, 2005; Amir 2006).
Penelitian dalam skripsi ini memfokuskan pada aspek perencanaan strategi kampanye politik, kegiatan kampanye politik yang dilakukan, kesesuaian citra antara yang ditangkap oleh pemilih dan citra yang dikomunikasikan oleh tim kampanye politik, serta perbandingan strategi kampanye politik dari tim kampanye calon gubernur incumbent dan calon gubernur pendatang baru di daerah pemilihan Kota Bogor. Subjek dari penelitian ini adalah tim kampanye pasangan Danny Setiawan dan Iwan Sulanjana (DA’I) sebagai calon incumbent dan pasangan Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf (HADE) sebagai pendatang baru.
Hasil dari pelaksanaan pemilihan kepala daerah Jawa Barat periode 2008-2013, menempatkan pasangan HADEsebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat pilihan masyarakat dengan jumlah suara sebanyak1 5.238.449 suara (39,29%), sedangkan pasangan DA’Imemperoleh suara sebanyak 3.410.544 suara (25,58%). Sementara itu untuk pemilihan di Kota Bogor, pasangan HADE juga mampu mengungguli pasangan DA’I dengan jumlah suara sebanyak 191.167 suara (52,55%) berbanding dengan jumlah suara pasangan DA’I sebanyak 73.271 suara (20,10%).
1.2. Perumusan Masalah
Kegiatan kampanye politik yang dilakukan sebelum disahkannya Undang-undang No. 32 Tahun 2004 mengenai tata cara pemilihan kepala daerah, hanya
1
Hasil penghitungan suara Pilgub.
dipusatkan dalam internal pemerintahan atau kampanye antar elit politik. Sebelum undang-undang tersebut disahkan, kepala daerah dipilih oleh DPRD melalui mekanisme musyawarah sehingga pendekatan utama dalam kampanye yang digunakan adalah lobi politik kepada anggota-anggota DPRD.
Setelah disahkannya Undang-undang No. 32 Tahun 2004 yang menetapkan bahwa kepala daerah dipilih langsung oleh masyarakat, cara dan pendekatan dalam kampanye pemilihan kepala daerah ikut berubah pula. Bentuk kampanye yang umum digunakan saat ini lebih banyak bersentuhan langsung dengan masyarakat sebagai konstituennya, hal tersebut dilakukan untuk meraih simpati dan dukungan dari masyarakat secara langsung. Bentuk kampanye tersebut antara lain adalah debat publik, apel akbar, kegiatan sosial, kunjungan ke pusat aktivitas masyarakat (kantor, sekolah, pasar), kunjungan ke rumah sakit, dan sebagainya.
Bentuk-bentuk kampanye tersebut dihasilkan melalui tahapan perencanaan strategi komunikasi dan kampanye serta pemasaran politik yang dilakukan oleh tim kampanye pasangan calon kepala daerah. Proses pemasaran politik tersebut meliputi tahap segmentasi, targeting dan positioning. Hasil dari proses tersebut akan memudahkan tim kampanye dalam menyusun strategi kampanye untuk menjaring pemilih sebanyak-banyaknya.
masa kampanye dan dilakukan berulang-ulang, sehingga pada akhirnya akan melekat di pikiran pemilih dan mendorong pemilih untuk menjatuhkan pilihannya pada calon kepala daerah tersebut.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang telah dikemukakan di atas, maka timbul pertanyaan besar yang dirumuskan ke dalam perumusan masalah umum, yaitu sejauh mana efektivitas strategi kampanye yang dijalankan oleh kedua pasangan, dan faktor-faktor apa saja yang menyebabkan kemenangan pasangan HADE sebagai calon pendatang baru, dan faktor-faktor apa saja yang menyebabkan kekalahan pasangan DA’I sebagai calon incumbent dalam pemilihan Kepala Daerah Jawa Barat di Kota Bogor. Pertanyaan umum tersebut dirinci ke dalam perumusan masalah khusus, sebagai berikut:
1. Bagaimana tim kampanye calon kepala daerah incumbent dan calon kepala daerah pendatang baru, melakukan tahapan pemasaran politik dan perencanaan strategi kampanye pemilihan kepala daerah Jawa Barat 2008 di Kota Bogor?
2. Bagaimana bentuk kegiatan kampanye politik yang dilakukan oleh tim kampanye calon kepala daerah incumbent dan calon kepala daerah pendatang baru, untuk meraih dukungan masyarakat dan suara pemilih dalam pemilihan kepala daerah Jawa Barat 2008 di Kota Bogor?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan-perumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Menggambarkan bagaimana tim kampanye calon kepala daerah incumbent dan calon kepala daerah pendatang baru, melakukan tahapan pemasaran politik dan perencanaan strategi komunikasi dalam kampanye pemilihan kepala daerah Jawa Barat 2008 di Kota Bogor.
2. Mengkaji bentuk kegiatan kampanye politik yang dilakukan oleh tim kampanye calon kepala daerah incumbent dan calon kepala daerah pendatang baru, untuk meraih dukungan masyarakat dan suara pemilih dalam pemilihan kepala daerah Jawa Barat 2008 di Kota Bogor.
3. Menganalisis kesesuaian citra diri pasangan DA’I dan HADE yang dibentuk oleh tim kampanyenya dengan citra diri pasangan DA’I dan HADE yang terkonstruksi dalam pikiran masyarakat Kota Bogor sebagai sasaran kegiatan kampanye politik.
1.4. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai:
1. Referensi bagi praktisi komunikasi dalam mendesain sebuah strategi komunikasi dan kampanye politik untuk pemilihan umum.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA ANALISIS
2.1. Tinjauan Pustaka
2.1.1. Definisi Kampanye Politik
Terdapat banyak definisi mengenai kampanye yang dikemukakan oleh para ilmuwan komunikasi, namun berikut ini adalah beberapa definisi yang populer. Snyder (2002) dalam Venus (2004), mendefinisikan bahwa kampanye komunikasi merupakan aktivitas komunikasi yang terorganisasi, secara langsung ditujukan kepada khalayak tertentu, pada periode waktu yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan tertentu. Pfau dan Parrot (1993) dalam Venus (2004), mendefinisikan kampanye sebagai kegiatan yang dilakukan secara sadar untuk menunjang dan meningkatkan proses pelaksanaan yang terencana pada periode tertentu yang bertujuan mempengaruhi khalayak sasaran tertentu. Rogers dan Storey (1987)dalamVenus (2004), mendefiniskan kampanye sebagai serangkaian kegiatan komunikasi yang terorganisasi dengan tujuan untuk menciptakan dampak tertentu terhadap sebagian besar khalayak sasaran secara berkelanjutan dalam periode waktu tertentu.
Berdasarkan beberapa definisi di atas, Venus (2004) mengidentifikasi bahwa aktivitas kampanye setidaknya harus mengandung empat hal yakni, (1) ditujukan untuk menciptakan efek atau dampak tertentu (2) ditujukan kepada jumlah khalayak sasaran yang besar (3) dipusatkan dalam kurun waktu tertentu dan (4) dilakukan melalui serangkaian tindakan komunikasi yang terorganisasi.
untuk memperoleh dukungan politik dari masyarakat (Arifin, 2003). Salah satu jenis kampanye politik adalah kampanye massa, yaitu kampanye politik yang ditujukan kepada massa (orang banyak), baik melalui hubungan tatap muka maupun dengan menggunakan berbagai media, seperti surat kabar, radio, televisi, film, spanduk, baligo, poster, folder dan selebaran serta medium interaktif melalui komputer (internet). Penyampaian pesan politik melalui media massa merupakan bentuk kampanye yang handal dalam hal menjangkau khalayak luas.
Kampanye politik saat ini sudah mengadopsi prinsip-prinsip pemasaran dan pembentukan citra. Hal tersebut dimungkinkan terjadi karena perubahan sistematika pemilihan kepala daerah dari yang sebelumnya dipilih oleh legislatif menjadi dipilih langsung oleh masyarakat. Menurut Ruslan (2005), kampanye politik merupakan jenis kampanye yang pada umumnya dimotivasi oleh hasrat untuk meraih kekuasaan politik. Tujuan dari kampanye ini adalah untuk memenangkan dukungan masyarakat terhadap kandidat-kandidat yang diajukan partai politik agar dapat menduduki jabatan-jabatan politik yang diperebutkan lewat proses pemilihan umum. Kampanye politik dapat diartikan pula sebagai bentuk komunikasi politik yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang atau organisasi politik dalam waktu tertentu untuk memperoleh dukungan politik dari rakyat (Arifin, 2003).
dituliskan, gambar, lukisan, foto, film, gerak tubuh, ekspresi wajah dan segala cara bertindak. Orang-orang yang mengamati simbol-simbol itu, menginterpretasikannya dengan cara-cara yang bermakna sehingga membentuk citra mental tentang simbol-simbol tersebut.
2.1.2. Teknik-teknik Kampanye Politik
Selama masa kampanye, tim kampanye berusaha menggalang dukungan dan simpati pemilih agar pemilih menjatuhkan pilihannya pada calon kepala daerah yang dikampanyekannya. Tim kampanye poltik menggunakan teknik-teknik kampanye politik yang kemudian diwujudkan dalam suatu bentuk kegiatan kampanye politik untuk mempengaruhi pemilih. Imawan (1997) dalam Amir (2006) merumuskan beberapa teknik kampanye politik, yaitu:
1. Kampanye dari rumah ke rumah (door to door campaign), yaitu calon kepala daerah mendatangi langsung para pemilih sambil menanyakan persoalan-persoalan yang dihadapi. Kampanye ini efektif dilakukan pada pemilihan umum tahun 1955, dengan mendatangi orang-orang yang pilihannya dianggap masih ragu dan dapat dibujuk atau diancam untuk mengubah sikap dan pilihan politik mereka.
2. Diskusi Kelompok (group discussion), dilakukan dengan membentuk kelompok-kelompok diskusi kecil yang membicarakan masalah yang dihadapi masyarakat.
dan sebagainya. Teknik inilah yang dilarang dalam kampanye Pemilu 1992, karena selain tidak efektif juga berpotensi menimbulkan bentrokan fisik. 4. Kampanye massa tidak langsung (indirect mass campaign), yang dilakukan
dengan cara berpidato di radio, televisi atau memasang iklan di media cetak dan elektronik.
2.1.3. Strategi Kampanye Politik
Strategi dalam pengertian sempit maupun luas terdiri dari tiga unsur, yaitu tujuan (ends), sarana (means), dan cara (ways). Dengan demikian strategi adalah cara yang digunakan dengan menggunakan sarana yang tersedia untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan (Nasution, 2006). Tujuan akhir dalam kampanye pemilihan kepala daerah adalah untuk membawa calon kepala daerah yang didukung oleh tim kampanye politiknya menduduki jabatan kepala daerah yang diperebutkan melalui mekanisme pemilihan secara langsung oleh masyarakat.
2.1.4. Tahapan Pemasaran Politik
Menurut Nursal (2004), pada dasarnya pemasaran politik adalah serangkaian aktivitas terencana, strategis tetapi juga taktis, berdimensi jangka panjang dan jangka pendek, untuk menyebarkan makna politik kepada para pemilih. Tujuannya membentuk dan menanamkan harapan, sikap, keyakinan, orientasi, dan perilaku pemilih. Perilaku pemilih yang diharapkan adalah dukungan dalam berbagai bentuk, khususnya menjatuhkan pilihan pada kandidat tertentu.
Pemasaran politik bertitik tolak dari konsep meaning, yakni political meaning yang dihasilkan oleh stimulus politik berupa komunikasi politik, baik lisan maupun non-lisan, baik langsung maupun tanpa perantara. Makna yang muncul dari stimulus tersebut berupa persepsi yang tidak selalu mencerminkan makna yang sebenarnya. Makna tersebut pada akhirnya akan mempengaruhi sikap, aspirasi dan perilku politik, termasuk pilihan politik.
Menurut Baines et al. (n.d.) dalam Nursal (2004), pemasaran politik adalah cara-cara yang digunakan organisasi politik untuk enam hal berikut:
1. Mengkomunikasikan pesan-pesannya, ditargetkan atau tidak ditargetkan, langsung atau tidak langsung, kepada para pendukungnya dan para pemilih lainnya.
3. Berinteraksi dan merespon dengan para pendukung, influencers, para legislator, para kompetitor, dan masyarakat umum dalam pengembangan dan pengadaptasian kebijakan-kebijakan dan strategi.
4. Menyampaikan kepada semua pihak berkepentingan atau stakeholders, melalui berbagai media, tentang informasi, saran dan kepemimpinan yang diharapkan atau dibutuhkan dalam negara demokrasi.
5. Menyelenggarakan pelatihan, sumberdaya infomasi dan materi-materi kampanye untuk kandidat, para agen, pemasar, dan atau para aktivis partai. 6. Berusaha mempengaruhi dan mendorong para pemilih, media-media dan
influencers penting lainnya untuk mendukung partai atau kandidat yang diajukan organisasi dan atau supaya jangan mendukung para pesaing.
Menurut Nursal (2004), fungsi dari kegiatan pemasaran politik adalah sebagai berikut:
1. Sarana untuk menganalisis posisi pasar, yakni memetakan persepsi dan preferensi para pemilih, baik konstituen, terhadap kontestan-kontestan yang akan bertarung di arena pemilu.
2. Sarana untuk menetapkan tujuan objektif kampanye, marketing effort dan pengalokasikan sumberdaya.
3. Sarana untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi alternatif-alternatif strategi. 4. Sarana untuk mengimplementasikan strategi untuk membidik
segemen-segmen tertentu yang menjadi sasaran berdasarkan sumberdaya yang ada. 5. Sarana untuk memantau dan mengendalikan penerapan strategi untuk
Menurut O’Shaughnessy (2001) dalam Firmanzah (2007)2, marketing politik tidak menjamin sebuah kemenangan, tapi menyediakan toolsbagaimana menjaga hubungan dengan pemilih untuk membangun kepercayaan dan selanjutnya memperoleh dukungan suara.
Kompetisi dalam memperebutkan suara pemilih, menuntut tim kampanye dari masing-masing kandidat kepala daerah untuk mendesain suatu formulasi khusus untuk menjaring suara pemilih sebanyak mungkin. Formulasi khusus tersebut berbentuk strategi komunikasi dan tahapan strategi pemasaran politik yang dijalankan untuk mengidentifikasi khalayak pemilih potensial yang sesuai dengan platform kandidat kepala daerah. Tahapan strategi pemasaran politik tersebut terdiri dari tiga tahap3, yaitu segmentasi, targeting, dan positioning (Gambar 1).
Gambar 1. Tahapan Marketing Politik
2
2.1.4.1. Segmentasi
Segmentasi adalah proses pengelompokan yang menghasilkan kelompok berisi individu-individu yang dihasilkan disebut sebagai segmen. Menurut Nursal (2004), segmentasi pada dasarnya bertujuan untuk mengenal lebih jauh kelompok-kelompok khalayak, hal ini berguna untuk mencari peluang, menggerogoti segmen pemimpin pasar, merumuskan pesan-pesan komunikasi, melayani lebih baik, menganalisa perilaku konsumen, mendesain produk dan lain sebagainya. Para politisi perlu memahami konsep segmentasi karena berhadapan dengan para pemilih yang sangat heterogen, para politisi dapat memberi tawaran politik yang efektif bila mereka mengetahui karakter segmen yang menjadi sasaran.
Segmentasi pada pemasaran politik dikatakan efektif jika segmen-segmen yang dihasilkan memenuhi lima syarat (Kotler, 1994) dalamNursal (2004), yaitu: 1. Dapat diukur, khalayak hasil dari segmentasi harus dapat diukur untuk
memproyeksikan jumlah perolehan suara yang mungkin diraih dari setiap segmen.
2. Dapat diakses, khalayak hasil segmentasi harus dapat diakses untuk menyampaikan makna politik kepada khalayak seperti melalui media massa, rapat umum, surat, kontak pribadi dan bentuk komunikasi lainnya.
3. Substansial, jumlah populasi dari setiap segmen yang relatif homogen harus cukup besar dan signifikan terhadap total perolehan suara.
4. Respon khas, segmentasi dikatakan efektif jika setiap segmen yang dihasilkan tersebut memberikan respon khas terhadap tawaran politik tertentu.
satu atau beberapa segmen itu. Program pemasaran khas tersebut diciptakan berdasarkan karakter khas segmen pasar yang dibidik.
Segmentasi dapat dilakukan dengan banyak pendekatan. Para pemasar dapat memilih salah satu pendekatan atau mengkombinasikan beberapa pendekatan sebagai kerangka menyusun strategi pemasaran. Nursal (2004) dan Ruslan (2005) menyajikan beberapa pendekatan untuk melakukan segmentasi dalam pemasaran politik, yaitu:
1. Segmentasi Demografis
Adalah pemilahan para pemilih berdasarkan tingkat sosial ekonomi, usia rata-rata dan tingkat pendidikan. Segmentasi demografis dalam pemasaran politik dapat memberi pemahaman yang mendalam mengenai karakteristik khalayak pemilih.
2. Segmentasi Agama
Adalah pemilahan para pemilih berdasarkan agama dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat. Hingga saat ini, segmentasi berdasarkan agama merupakan salah satu pendekatan segmentasi yang penting dalam memahami karakter pemilih Indonesia.
3. Segmentasi Geografis
4. Segmentasi Psikografis
Adalah pemilahan para pemilih berdasarkan kecenderungan pilihan, preferensi, keinginan, citra-rasa, gaya hidup, sistem nilai atau pola yang dianut, hingga masalah-masalah yang sifatnya pribadi.
2.1.4.2. Targeting
Targeting atau menetapkan sasaran adalah memilih salah satu atau beberapa segmen yang akan dibidik untuk mencapai sasaran obyektif. Targeting dilakukan untuk memfokuskan kegiatan kampanye dan isu yang dibuat. Sebelum menentukan target sasaran kampanye, terlebih dahulu dimulai dengan memahami wilayah pemilihan. Tim kampanye harus melihat jumlah total pemilih di suatu wilayah, dari situ akan ditetapkan jumlah pemilih minimal yang harus diraih untuk memenangkan pemilihan secara umum.
Khalayak sasaran yang dipilih oleh tim kampanye kandidat kepala daerah terutama adalah individu-individu yang dianggap masih belum menjatuhkan pilihannya kepada kandidat kepala daerah tertentu. Selain itu, kampanye juga dilakukan kepada basis massa pendukung utamanya dalam rangka proses reinforcement.
2.1.4.3. Positioning
meaningful. Positioning yang efektif akan menunjukkan perbedaan nyata dan keunggulan seorang kandidat dibandingkan dengan kandidat pesaing.
Political positioningmenurut Kasali (1998) seperti diadaptasi oleh Nursal (2004), dapat didefinisikan sebagai strategi komunikasi untuk memasuki pikiran pemilih agar seorang kandidat kepala daerah mengandung arti tertentu yang berbeda yang mencerminkan keunggulannya terhadap kandidat pesaing dalam bentuk hubungan yang asosiatif. Positioning adalah sebuah strategi komunikasi yang bersifat dinamis, berhubungan dengan event marketing, berhubungan dengan atribut kandidat, memberi makna penting kepada para pemilih, atribut-atribut yang dipakai harus unik, harus diungkapkan dalam bentuk pernyataan yang enak dan mudah didengar serta terpercaya.
Berikut adalah beberapa persyaratan positioning statement (slogan kampanye) yang efektif seperti yang disarankan oleh Nursal (2004), yaitu:
1. Harus dapat mewakili citra yang hendak ditanam dalam benak para pemilih. 2. Citra itu harus berupa hubungan asosiatif yang mencerminkan karakter suatu
kontestan.
3. Kata-kata itu diolah dalam suatu bentuk rangkaian kalimat menarik yang disampaikan dengan manis. Kata-kata itu adalah atribut yang menunjukkan segi-segi keunggulan kontestan terhadap kontestan pesaing; solusi bahwa kontestan bersangkutan mampu mengatasi masalah yang dihadapi para pemilih; kumpulan atribut yang menguntungkan pemilih; atau secara sederhana mewakili unique selling proposition.
dipasarkan percaya dan mampu meyakinkan bahwa kontestan tersebut memenuhi klaim tersebut.
5. Pernyataan yang dihasilkan harus cukup singkat, mudah diulang-ulang dalam iklan, promosi, pidato, event, dan bentuk sosialisasi lainnya, dan harus memiliki dampak yang kuat terhadap para pemilih sasaran.
6. Mengandung kalimat yang unik dan bukti yang mendukung (Meyer, 1998). 7. Disebarluaskan dengan teknik-teknik yang jitu, pilihan media yang pas,
frekuensi yang optimal, dan momentum waktu yang tepat.
Positioning harus dikomunikasikan kepada para pemilih agar persepsi pemilih tentang citra calon kepala daerah dan wakil kepala daerah sesuai dengan citra yang dikehendaki oleh tim kampanye. Oleh karena itu, perlu diciptakan pernyataan singkat atau slogan kampanye yang menjadi inti dari komunikasi calon kepala daerah. Slogan kampanye tersebut adalah tema utama tunggal yang menjadi titik sentral pemasaran calon kepala daerah. Slogan kampanye tersebut harus ditampilkan berulang-ulang melalui berbagai media komunikasi agar dapat memasuki benak para pemilih. Proses penyusunan dan penyampaian produk politik pada akhirnya bertujuan untuk menopang dan memperkuat positioning.
2.1.5. Persuasi Politik
dengan sadar atau tidak orang-orang yang terlibat dalam politik mencoba untuk mengubah persepsi, pikiran, perasaan, dan pengharapan lawan bicaranya.
McGuire (1968) dalam Nimmo (2005) telah mengembangkan teori tentang bagaimana orang menginterpretasikan imbauan persuasif. Agar persuasi terjadi, McGuire percaya bahwa harus ada enam langkah berurutan untuk memproses informasi persuasif, keenam langkah tersebut adalah: (1) Penyajian, dimana harus ada imbauan persuasif terlebih dahulu yang disajikan melalui beragam saluran komunikasi, (2) Perhatian, harus ada orang yang memperhatikan imbauan persuasif tersebut sehingga menciptakan keterlibatan aktif khalayak persuasif, (3) Pemahaman, memerlukan lebih banyak lagi tindakan dari anggota khalayak persuasif. Pemahaman berarti mengerti argumentasi dan kesimpulan pesan, (4) Penerimaan, tahap dimana khalayak persuasif menganggap bahwa imbauan persuasif tersebut relevan dengan keadaan dirinya, (5) Retensi, menunjukkan bahwa seseorang tetap pada pandangan yang baru diperolehnya dalam jangka waktu yang lama; bukan hanya sekedar menyatakan persetujuan dan kemudian melupakan seluruh pandangan itu, (6) Tanggapan ketaatan,tindakan yang sesuai dengan imbauan persuasif, merupakan hasil praktis dari kegiatan ini.
orientasi pendekatan, yaitu apa diarahkan kepada perseorangan atau kelompok. Ketiga, semua pendekatan tersebut mengesankan pandangan yang berbeda tentang apa yang memungkinkan terbentuknya ketertiban masyarakat. Keempat, masing-masing menggunakan fokus yang berbeda dalam merumuskan kampanye persuasi.
2.1.5.1. Persuasi Politik Sebagai Propaganda
Menurut Jacques Ellul (1965) dalam Nimmo (2005), propaganda didefinisikan sebagai komunikasi yang digunakan oleh suatu kelompok terorganisasi yang ingin menciptakan partisipasi aktif atau pasif dalam tindakan-tindakan suatu massa yang terdiri atas individu-individu, dipersatukan secara psikologis melalui manipulasi psikologis dan digabungkan dalam suatu organisasi. Definisi dari Ellul tersebut menghasilkan ciri-ciri utama dari propaganda, yaitu: (1) komunikasi satu-kepada-banyak, (2) beroperasi kepada orang-orang yang mengidentifikasi dirinya sebagai anggota kelompok, (3) sebagai mekanisme kontrol sosial dengan menggunakan persuasi untuk mencapai ketertiban dalam masyarakat.
2.1.5.2. Persuasi Politik Sebagai Periklanan
organisasi atau kepemimpinan yang seakan-akan dapat mengirimkan kelompok pembeli itu kepada penjual. Setiap individu bertindak atas pilihannya sendiri. Periklanan mengandalkan keselektifan konvergen dalam menciptakan ketertiban masyarakat.
2.1.5.3. Persuasi Politik Sebagai Retorika
Menurut pemikiran Nimmo (2005), retorika politik berbeda dengan propaganda dan periklanan dalam hal-hal yang penting. Retorika adalah komunikasi dua arah, satu-kepada-satu bukan satu-kepada-banyak, ia bekerja melalui hubungan interpersonal yang inheren, yang menghubungkan orang-orang bukan sebagai anggota kelompok (propaganda) atau individu-individu yang anonim (periklanan). Retorika politik adalah suatu proses yang memungkinkan terbentuknya ketertiban masyarakat melalui negosiasi.
2.1.6. Pencitraan Politik
Ketokohan adalah gambaran orang yang memiliki kredibilitas atau kompetensi, daya tarik dan kekuasaan yang sah. Menurut Nimmo (1978) dalam Amir (2006), orang yang memiliki ketokohan adalah orang yang memiliki sifat-sifat pemegang jabatan ideal yang cenderung abstrak seperti kedewasaan, kejujuran, kesungguhan, kekuatan, kegiatan dan energi yang merupakan gabungan sifat pahlawan politik. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberi suara dalam pemilu cenderung menjatuhkan pilihannya kepada kandidat yang sesuai dengan citra jabatan ideal baginya. Citra diri ini dapat terbentuk melalui pengalaman langsung (melalui pergaulan dan aktivitas yang lama dengan politisi tersebut) juga melalui pengalaman tidak langsung, yaitu media massa, karena media massa memiliki pengaruh dalam membentuk citra dan mengangkat status seseorang. Selain itu, ketokohan juga berhubungan dengan daya tarik fisik tubuh, busana dan dukungan fisik lainnya. Strategi ketokohan merupakan upaya untuk membangun citra diri calon kepala daerah sebagai seorang yang memiliki sifat-sifat pahlawan politik dan daya tarik fisik.
Berdasarkan temuan survei Lembaga Survei Indonesia (LSI)4 yang dilakukan pada 24-29 September 2007 kepada 808 sampel yang tersebar di 82 Desa/Kelurahan dari seluruh Kabupaten dan Kota di Jawa Barat. Sebanyak 30,3 persen responden menginginkan gubernur yang mampu mengatasi masalah ekonomi, sedangkan 28,1 persen mengharapkan gubernur yang jujur, dan 19,7 persen responden menginginkan gubernur yang perhatian pada rakyat. Data lengkapnya dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Kriteria Calon Gubernur Menurut Warga Jawa Barat
Saat ini citra seorang calon pemimpin dimunculkan dengan perencanaan melalui upaya-upaya periklanan, yang disebut Bensman dan Rosenberg (n.d.) dalam Yuddho (2007) sebagai pseudocharisma. Upaya ini ditemukan pada banyak kampanye politik, terutama yang menggunakan televisi. Proses membentuk citra dalam politik sudah menyerupai kemunculan bintang film di dunia hiburan yang hanya mengutamakan tampilan fisik dan popularitas dalam
4
pelaksanaan kampanye. Hal ini kemudian menjadikan para calon pemimpin menjadi seperti selebritis, sehingga saat ini populer istilah “politisi selebriti” karena maraknya iklan politik yang menampilkan tokoh-tokoh politik di berbagai media massa.
2.1.7. Tim Kampanye
Tim Kampanye adalah sebuah tim yang dibentuk oleh pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan kampanye calon kepala daerah dan wakil kepala daerah5. Anggota tim kampanye sebagian besar berasal dari anggota partai politik pendukung pasangan calon kepala daerah. Tugas mereka adalah merumuskan rencana-rencana strategis sebagai bagian dari usaha untuk memenangkan pasangan yang didukungnya.
Menurut Nimmo (2005), karakteristik komunikator (juru kampanye) dalam kampanye politik adalah berpendidikan tinggi melebihi rata-rata populasi, memiliki pendapatan dan status sosial yang lebih tinggi, terlibat aktif dalam politik, memiliki kepercayaan politik, dan berpengaruh besar terhadap pembuatan kebijakan.
2.1.8. Fenomena Kekalahan Calon Incumbentdalam Pilkada
Calon incumbent yang mengikuti pemilihan kepala daerah sebenarnya memiliki peluang lebih besar untuk keluar sebagai pemenang dibandingkan dengan calon kepala daerah pendatang baru, karena dalam menjalankan kampanye politiknya calon incumbent memiliki beberapa keuntungan antara lain mereka sudah dikenal oleh masyarakat setempat, selain itu sebagai kepala daerah yang
5
masih menjabat, calon incumbentjuga dapat memanfaatkan program-program dan anggaran pemerintah untuk memperkuat popularitasnya sebelum masa kampanye resmi dimulai6. Calon incumbent juga dapat menciptakan isu yang menarik dengan penciptaan opini publik melalui media massa, sehingga publikasi kampanyenya semakin meluas. Sementara itu calon gubernur pendatang baru memiliki kelebihan antara lain sebagai pilihan alternatif bagi sebagian masyarakat yang tidak puas dengan kinerja gubernur sebelumnya.
Berdasarkan temuan Jaringan Pendidikan Pemilih Untuk Rakyat (JPPR)7, pada tahun 2005, dari 211 pilkada langsung yang diikuti oleh incumbent, sebanyak 124 pilkada langsung (59,05%) dimenangkan oleh incumbent, sedangkan di 87 daerah pemilihan (40,95%) calon incumbent mengalami kekalahan. Pada tahun 2007, dari 31 calon incumbent yang maju dalam pilkada, setengahnya (15 orang) mengalami kekalahan.
Fenomena kekalahan incumbent dalam pemilihan kepala daerah secara langsung sebenarnya adalah merupakan suatu kewajaran, karena dalam pemilihan kepala daerah secara langsung yang dipilih oleh masyarakat adalah orang yang didukung oleh partai. Hal tersebut berbeda dengan pemilihan legislatif, karena dalam pemilihan legislatif partai yang didukung oleh orang (calon anggota-anggota legislatif), sehingga yang penting dalam pemilihan kepala daerah adalah faktor figur dari calon kepala daerah8.
6
Fenomena Kekalahan Incumbent dalam Pilkada.
http://www.jppr.or.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=589 (Diakses tanggal 11 Juni 2008)
7 Loc.cit. 8
As Rifai. Teori Dasar Pilkada dan Kekalahan Incumbent. 2008.
2.2. Kerangka Analisis
Mekanisme kerja tim kampanye politik yang meliputi cara kerja tim kampanye, jumlah anggota pada tiap bidang, dan pengaruh partai dalam tim kampanye, ikut mempengaruhi tahap-tahap perencanaan kampanye politik. Tahap-tahap perencanaan yang terpengaruh itu antara lain adalah, konsolidasi internal dan eksternal partai yang akan mempengaruhi jumlah anggaran dan sumber dana yang diterima. Tahapan pemasaran politik yang meliputi tahap segmentasi, targeting, dan positioning, ikut terpengaruh pula oleh mekanisme kerja tim kampanye politik.
Setelah melalui tahap-tahap perencanaan kampanye politik yang meliputi konsolidasi internal dan eksternal, perencanaan anggaran biaya dan sumber dana, segmentasi, targeting, dan positioning, maka dirumuskanlah teknik-teknik kampanye yang akan dilakukan untuk menjaring dukungan dan pemilih sebanyak mungkin. Teknik-teknik kampanye tersebut antara lain adalah (1) kampanye dari rumah ke rumah, (2) diskusi kelompok, (3) kampanye massa langsung, dan (4) kampanye massa tidak langsung.
teknik-teknik kampanye yang dijalankan oleh tim kampanye politk masing-masing pasangan calon kepala daerah. Kerangka analisis dari penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Kerangka Analisis Strategi Kampanye Politik Calon Incumbentdan Pendatang Baru dalam Pemilihan Kepala Daerah, 2008
2.3. Definisi Konseptual
1. Mekanisme kerja tim kampanye politik meliputi, cara kerja tim kampanye, jumlah anggota tiap bidang, dan pengaruh partai dalam tim kampanye.
2. Konsolidasi internal dan eksternal adalah kegiatan penguatan dan perawatan lembaga, dengan cara menggalang dukungan dari organisasi-organisasi lain
Segmentasi Targeting Positioning
Teknik-teknik Kampanye Mekanisme Kerja Tim Kampanye Politik
Citra Mengenai Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat
Konsolidasi
Anggaran dan sumber
dana Kampanye
Keterangan Gambar:
(konsolidasi eksternal), maupun dengan cara pelatihan anggota sebagai persiapan dalam melakukan kampanye politik (konsolidasi internal).
3. Anggaran dan Sumber dana kampanye, anggaran menunjukkan jumlah biaya yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan kampanye politik, sedangkan sumber dana menunjukkan asal atau pemberi dana kampanye.
4. Segmentasi adalah pengelompokan yang menghasilkan kelompok berisi individu-individu yang dihasilkan disebut sebagai segmen. Indikator dari segmentasi yang efektif adalah jika segmen-segmen yang dihasilkan memenuhi lima syarat: dapat diukur, dapat diakses, substansial, mempunyai respon khas, dan bisa dibidik dengan program pemasaran yang khas.
5. Targeting adalah pemilihan salah satu atau beberapa segmen yang akan dibidik untuk mencapai sasaran obyektif. Segmen yang menjadi sasaran haruslah segmen yang menjanjikan jumlah suara potensial untuk memenangi pemilihan umum.
6. Positioningadalah tindakan untuk menancapkan citra tertentu ke dalam benak para pemilih agar tawaran produk politik dari suatu kandidat memiliki posisi khas, jelas dan meaningful. Positioning yang efektif akan menunjukkan perbedaan nyata dan keunggulan seorang kandidat dibandingkan dengan kandidat pesaing.
kelompok diskusi untuk membicarakan masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat, juga sebagai sarana penampungan ide dan aspirasi dari kelompok peserta diskusi, (3) kampanye massa langsung dengan cara melakukan aktivitas-aktivitas yang menarik perhatian masyarakat, biasanya dengan pengerahan banyak orang/pendukung, dan (4) kampanye massa tidak langsung yang dilakukan dengan media perantara seperti media massa, baligo, pamflet, stiker, dan kaos.
BAB III METODOLOGI 3.1. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan ini dipilih karena dianggap mampu memberikan pemahaman yang mendalam dan rinci berkaitan dengan suatu peristiwa atau gejala sosial yang dalam hal ini mengenai strategi kampanye politik dalam pemilihan kepala daerah Jawa Barat di Kota Bogor. Pendekatan kualitatif juga digunakan untuk mengetahui kondisi tentang permasalahan penelitian yang didasarkan pada pemahaman serta pembentukan pemahaman yang diikat oleh teori terkait dan penafsiran peneliti.
Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus. Tipe studi kasus yang dipilih ialah studi kasus instrumental, seperti yang dikemukakan oleh Stake dalam Sitorus (1998), bahwa studi kasus instrumental merupakan kajian atas suatu kasus khusus untuk memperoleh wawasan atas suatu isu atau wawasan untuk penyempurnaan teori. Kasus khusus yang dibahas dalam penelitian ini adalah strategi komunikasi dan kampanye politik dalam Pemilihan Kepala Daerah Jawa Barat periode 2008-2013 di Kota Bogor, yang menggunakan teori pemasaran politik dari Nursal (2004) sebagai pijakan teori utama.
Pengukuran kesesuaian citra dan pengaruh kampanye politik yang dikomunikasikan oleh tim kampanye kepada khalayak pemilih DA’Idan HADE di Kota Bogor, dilakukan dengan metode polling. Menurut Eriyanto (1999), polling digunakan untuk mendapatkan informasi tentang suatu fenomena, dalam hal ini polling digunakan untuk melihat bagaimana pandangan khalayak pemilih DA’I dan HADE mengenai pencitraan terhadap pasangan DA’I dan HADE. Citra yang ingin dibentuk oleh tim kampanye DA’I dan HADE diperoleh melalui wawancara dengan anggota tim kampanye DA’I dan HADE serta pengamatan selama masa kampanye melalui tulisan-tulisan pada atribut kampanye masing-masing pasangan calon kepala daerah dan wakil wakil kepala daerah.
3.2. Penentuan Subjek Penelitian dan Responden Polling
Kota Bogor dengan jumlah 52,55 persen, AMAN 27,35 persen, dan DA’I 20,10 persen. (2) Status pasangan HADE sebagai pendatang baru dalam pentas politik Jawa Barat, sedangkan pasangan DA’I sebagai incumbent (gubernur yang sedang menjabat selama masa kampanye). Pasangan AMAN(Agum Gumelar dan Nu’man Abdul Hakim) tidak disertakan dalam penelitian, karena tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pasangan DA’I dan AMAN. Ketidakbedaan tersebut terutama dalam hal status sebagai incumbent dimana Nu’man Abdul Hakim sebagai wakil gubernur yang sedang menjabat saat pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah akan dilangsungkan.
Penentuan tineliti untuk metode kualitatif dilakukan secara sengaja (purposive), tineliti dalam penelitian ini merupakan perwakilan dari tim kampanye pasangan DA’I danHADE di Kota Bogor. Tineliti dalam penelitian kualitatif tidak tergantung kepada jumlah, melainkan potensi tiap tineliti untuk memberi pemahaman teoritis yang lebih baik mengenai aspek yang dipelajari (Sitorus, 1998). Tineliti dalam penelitian ini adalah Bapak Hr dan Bapak Jm dari tim kampanye DA’I Kota Bogor, serta Ibu An dan Bapak Im dari tim kampanye HADEKota Bogor.
digunakan untuk menghindari keseragaman responden berdasarkan karakteristik tertentu dari responden polling yang kerangka sampelnya tidak tersedia.
Sampel metode polling dalam penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu sampel yang mewakili pemilih pasangan HADE dan pemilih pasangan DA’I di Kota Bogor. Masing-masing sampel tersebut terdiri dari 30 responden, sehingga total responden dalam penelitian ini adalah 60 orang. Responden dikelompokan berdasarkan tingkat pendidikan yang digolongkan ke dalam pendidikan tinggi, sedang, dan rendah. Responden juga dikelompokkan ke dalam dua kelompok usia yaitu, kelompok dewasa awal dan kelompok dewasa tengah (Hurlock, 1980), yaitu pemilih yang berusia kurang atau sama dengan 35 tahun dan pemilih yang berusia lebih dari 35 tahun. Pembedaan responden berdasarkan tingkat pendidikan dan usia didasarkan pada dugaan bahwa proses pembentukan citra dari pasangan calon gubernur dan wakil gubernur dipengaruhi oleh faktor tingkat pendidikan dan usia responden.
Data hasil polling tidak ditujukan untuk uji statistik melainkan hanya untuk mendeskripsikan kesesuaian citra yang dikomunikasikan oleh tim kampanye DA’I dan HADE, dengan citra yang ditangkap oleh pemilih DA’I dan HADEdalam kampanye Pemilihan Kepala Daerah Jawa Barat di Kota Bogor.
3.3. Teknik Pengumpulan Data
Data kualitatif yang dihasilkan selama penelitian ini dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yaitu:
a. Data hasil pengamatan: tulisan dalam bentuk deskripsi mengenai situasi, kejadian/peristiwa, orang-orang, interaksi dan perilaku yang diamati secara langsung di lapangan, yang disajikan dalam bentuk catatan lapang, saat penulis melakukan pengamatan kegiatan kampanye HADE pada tanggal 27 Maret 2008 dan kampanye DA’I pada tanggal 8 April 2008 di Lapangan Sempur, Kota Bogor.
b. Data hasil pembicaraan: kutipan langsung dari pernyataan anggota tim kampanye DA’I dan HADE yang menjadi tineliti dalam penelitian ini, mengenai pengalaman, sikap, keyakinan dan pandangan/pemikiran mereka dalam kesempatan wawancara dengan peneliti. Hasil pembicaraan yang dimaksud berupa tanggapan tineliti dari pertanyaan yang diajukan kepada mereka seputar perencanaan strategi komunikasi dan kampanye politik, pelaksanaan kegiatan kampanye politik, dan citra diri yang ingin dibentuk dari pasangan DA’Idan HADE.
dan HADE di Kota Bogor, dan artikel berita dari media massa cetak dan elektronik mengenai kampanye politik pasangan DA’I dan HADE di Kota Bogor.
Sementara itu, data hasil polling didapatkan dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam kuesionerpolling. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan kampanye politik dan pencitraan mengenai pasangan DA’I dan HADE yang dimaknai oleh pemilihnya. Penyebaran kuesioner polling dilakukan di tiga wilayah Kota Bogor, yaitu Kecamatan Tanah Sareal, Kecamatan Bogor Tengah, dan Kecamatan Bogor Utara.
3.4. Teknik Analisis Data dan Penyajian Data
Selama peneliti melakukan pengumpulan data di lapangan, peneliti juga melakukan analisis data. Semua data yang telah didapat kemudian diolah melalui tiga jalur analisis data kualitatif yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan (Miles dan Huberman, 1992). Secara rinci, tahapan analisis data dijabarkan sebagai berikut:
a. Reduksi data, dilakukan dengan cara memberikan kode terhadap data-data yang sesuai dengan kebutuhan data penelitian untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari perumusan masalah penelitian.
dilakukan oleh tim kampanye pasangan HADE dan DA’I di Kota Bogor. Tabel juga digunakan untuk menjelaskan persentase kesesuaian citra dari pemilih DA’I dan HADE. Kutipan langsung digunakan untuk menjelaskan proses perencanaan strategi komunikasi dan mengetahui citra yang diharapkan muncul dalam benak masyarakat sebagai sasaran kegiatan kampanye, sedangkan gambar digunakan untuk menunjukkan kegiatan-kegiatan kampanye yang dilakukan oleh tim kampanye masing-masing pasangan calon kepala daerah.
c. Penarikan kesimpulan, dilakukan selama proses pengumpulan data dengan tetap meninjau data-data yang telah dikumpulkan sebelumnya untuk memastikan bahwa data yang dibutuhkan sudah lengkap, sehingga penarikan kesimpulan dapat dilakukan dengan tepat berdasarkan data-data yang sudah terkumpul.
BAB IV
PROFIL CALON GUBERNUR DAN TIM KAMPANYE 4.1. Profil Pasangan Incumbent (DA’I)
Danny Setiawan adalah Gubernur Jawa Barat periode 2003-2008 yang mencalonkan kembali (incumbent) dalam pemilihan Gubernur Jawa Barat periode 2008-2013. Latar belakang pendidikan dan pekerjaan Danny Setiawan banyak dihabiskan di bidang pemerintahan, ia merupakan lulusan Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN), lalu melanjutkan pendidikan pemerintahannya di IIP Malang, kemudian dilanjutkan kembali dengan mengambil program S2 Kebijakan Publik di Universitas Padjadjaran Bandung. Sebelum menjadi Gubernur Jawa Barat periode 2003-2008 melalui pemilihan yang dilakukan oleh DPRD Jawa Barat, Danny Setiawan juga pernah menjabat beberapa jabatan di lingkungan pemerintahan, di antaranya adalah sebagai Camat Cimarga Kabupaten Lebak, Kepala Bagian Pemerintahan di Kabupaten Lebak, Kepala Bidang Sosial dan Budaya BAPPEDA Tk. I Jawa Barat, Kepala Dinas Pendapatan Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
kampanye DA’I Kota Bogor menekankan isu “pilih orang Bogor asli!!” selama masa kampanye pemilihan gubernur di Kota Bogor.
Pasangan Danny Setiawan dan Iwan Sulanjana dapat dikatakan sebagai pasangan yang berpengalaman dalam memerintah Jawa Barat. Kombinasi antara pengalaman Danny Setiawan yang pernah menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat dan Iwan Sulanjana sebagai mantan panglima militer daerah Jawa Barat, dijadikan sebagai nilai jual utama selama masa kampanye oleh tim kampanye pasangan DA’I. Adapun visi pasangan DA’I untuk Jawa Barat adalah penguatan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan keunggulan Jawa Barat, guna mewujudkan visi Jawa Barat sebagai provinsi termaju.
4.2. Profil Tim Kampanye DA’IKota Bogor
Bogor dari Fraksi Golkar dan Fraksi Demokrat juga tergabung dalam tim kampanye DA’I.
Partai Golkar mempunyai pengaruh yang lebih besar dibandingkan Partai Demokrat dalam tim kampanye DA’I, hal itu terjadi karena calon gubernur yaitu Danny Setiawan merupakan kader partai Golkar, sehingga Partai Golkar lebih mempunyai tanggung jawab memenangkan kader partainya dalam pemilihan kepala daerah Jawa Barat. Besarnya pengaruh Partai Golkar dibandingkan Partai Demokrat dapat dilihat dari terpilihnya kader Golkar, yaitu Tauhid Jagorga Tagor sebagai ketua tim kampanye DA’IKota Bogor.
Struktur tim kampanye DA’I terdiri dari sembilan bidang kerja beserta ketua, wakil ketua, sekretaris, wakil sekretaris, bendahara, wakil bendahara, dan penanggung jawab, dengan total jumlah anggota tim kampanye sebanyak 36 anggota. Bidang-bidang kerja tersebut antara lain adalah, bidang kesekretariatan, bidang perencanaan, bidang advokasi dan hukum, bidang logistik, bidang kampanye, bidang humas dan media massa, bidang monitor dan evaluasi, bidang pemungutan suara dan saksi, serta bidang penggalangan massa.
Kota Bogor adalah kantor sekretariat Partai Golkar Kota Bogor. Hal tersebut dilakukan sebagai langkah untuk menghemat biaya kampanye, selain itu keputusan tersebut juga diambil dengan melihat keadaan bahwa tim kampanye DA’I Jawa Barat juga berkantor di sekretariat DPD Partai Golkar Jawa Barat di Bandung.
4.3. Profil Pasangan Pendatang Baru (HADE)
Ahmad Heryawan merupakan politisi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang juga menjabat sebagai ketua umum Persatuan Umat Islam (PUI). Saat mencalonkan diri sebagai calon Gubernur Jawa Barat periode 2008-2013, Ahmad Heryawan menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta. Latar belakang pekerjaannya kebanyakan dihabiskan di bidang pendidikan, antara lain sebagai dosen Universitas Ibnu Khaldun Bogor, dosen tidak tetap ekstensi Fakultas Ekonomi UI, dosen Pusat Studi Islam Al-Manar, hingga menjadi pembimbing haji Ummul Quro.
Pasangan Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf merupakan pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat periode 2008-2013 termuda. Usia mereka berdua saat diresmikan menjadi calon gubernur adalah 41 tahun, hal tersebut dijadikan sebagai isu utama oleh tim kampanye mereka dalam pemilihan kepala daerah Jawa Barat. Pada awal terbentuk koalisi antara PKS dan PAN, belum ditentukan siapa yang akan maju sebagai calon gubernur dan wakil gubernur, namun akhirnya posisi calon gubernur dan wakil gubernur pun terisi dengan cara menentukan yang lebih tua usianya di antara pasangan Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf. Ahmad Heryawan akhirnya ditentukan sebagai calon gubernur karena usianya lebih tua tiga bulan daripada Dede Yusuf.
4.4. Profil Tim Kampanye HADEKota Bogor
Tim kampanye pasangan calon Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf (HADE) terdiri dari tiga komponen yaitu, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN), dan organisasi masyarakat Persatuan Umat Islam (PUI). Ketiga komponen organisasi tersebut sepakat mencalonkan pasangan HADE untuk maju sebagai Calon Gubernur Jawa Barat setelah melalui proses yang cukup panjang.
Tim kampanye HADE Kota Bogor dibentuk oleh dua partai politik pendukung yaitu PKS dan PAN, yang didukung juga dengan bantuan personil untuk anggota kampanye dari PUI Kota Bogor. Pembentukan tim kampanye diawali dengan pertemuan di antara ketiga komponen tersebut, yang pada akhirnya menetapkan Dadang Ruchyana dari PKS sebagai Ketua tim kampanye HADE di Kota Bogor. Setelah itu dibentuklah bidang-bidang kerja beserta anggotanya untuk memaksimalkan pelaksanaan kampanye. Bidang-bidang tersebut adalah, bidang jaringan dan kewilayahan, bidang advokasi dan hukum, bidang media dan humas, bidang pendanaan, bidang logistik, dan bidang pengamanan suara. Bidang-bidang tersebut dibentuk sesuai dengan bidang-bidang yang terdapat pada tim kampanye HADE Jawa Barat, penyeragaman bidang kerja tersebut dilakukan untuk memudahkan koordinasi antar tim kampanye pusat dan daerah.
bidang disesuaikan dengan kebutuhan kerja tiap bidang tersebut. Delapan anggota DPRD Kota Bogor dari Fraksi PKS dan Fraksi PAN juga ikut bergabung dengan tim kampanye HADE Kota Bogor. Selain tim kampanye resmi, pelaksanaan kampanye HADEdi Kota Bogor juga didukung oleh lebih dari 10.000 kader PKS dan simpatisan HADE. Proses kreatif dan perencanaan kampanye juga dilakukan dengan melibatkan kader-kader dan simpatisan di luar tim kampanye resmi HADE.
Konseptor utama kampanye HADE di Kota Bogor adalah Bapak Iman Nugraha yang menjabat sebagai koordinator bidang Media dan Humas, Ia bertugas untuk menggalang kampanye melalui media massa. Bapak Iman mampu membina hubungan baik dengan para wartawan media massa, dan kemudian menggerakkan wartawan-wartawan tersebut sebagai peliput kampanye HADE di Kota Bogor. Bapak Im mampu melakukan hal-hal tersebut karena sebelumnya Ia pernah bekerja di bidang jurnalistik dan Ia juga pernah aktif di LSM Yayasan SIDIK (Studi dan Informasi Dunia Islam Kontemporer) Jakarta.