• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Keuangan dan analisis (3)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Keuangan dan analisis (3)"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Tujuan dari manajemen keuangan adalah memaksimalkan kekayaan para pengusaha dan pemegang saham dalam jangka panjang, tetapi bukan untuk memaksimalkan ukuran-ukuran akuntansi seperti laba bersih. Disini, kita akan mempelajari bagaimana laporan keuangan digunakan oleh manajer untuk memperbaiki kinerja perusahaannya.

Laporan Keuangan jelas telah banyak mendapat perbaikan selama ini, sehingga laporan tersebut memberikan banyak informasi positif yang dapat digunakan oleh manajer, investor, kreditor, pelanggan, pemasok, dan regulator.

Ada beberapa cara dalam mengetahui suku bunga maupun keadaan perusahaan pada waktu itu, dengan melihat laporan mereka beberapa periode. Berikut adalah cara-cara yang dapat digunakan jika kita ingin menanamkan saham pada suatu perusahaan, sehingga kita juga dapat menggunakan metode prediksi atau peramalan pada investasi kita nantinya.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apa yang dimaksud dengan Analisis Rasio Keuangan? 2. Apa tujuan dari Analisis Rasio?

(2)

BAB II

PEMBAHASAN

2.2 ANALISIS KEUANGAN (ANALISIS RASIO)

Analisis Rasio Keuangan atau Financial Ratio adalah suatu alat analisa yang digunakan oleh perusahaan untuk menilai kinerja keuangan berdasarkan data perbandingan masing-masing pos yang terdapat di laporan keuangan seperti Laporan Neraca, Rugi / Laba, dan Arus Kas dalam periode tertentu.

Menurut Roos, Westerfield & Jordan (2004:78) Rasio Keuangan adalah “Hubungan yang dihitung dan informasi keuangan suatu perusahaan dan digunakan untuk tujuan perbandingan”. Sedangkan menurut Jumingan (2006:242) “Analisis Rasio Keuangan merupakan analisis dengan membandingkan satu pos laporan dengan dengan pos laporan keuangan lainnya, baik secara individu maupun bersama-sama guna mengetahui hubungan diantara pos tertentu, baik dalam neraca maupun dalam laporan laba rugi”.

Rasio mengambarkan suatu hubungan dan perbandingan antara jumlah tertentu dalam satu pos laporan keuangan dengan jumlah yang lain pada pos laporan keuangan yang lain. Dengan menggunakan metode analisis seperti berupa rasio ini akan dapat menjelaskan atau memberikan gambaran tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan. Dengan rasio keuangan pula dapat membantu Perusahaan dalam mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan keuangan perusahaan.

Menurut Gitman (2006:54) analisis rasio keuangan adalah bahwa rasio keuangan meliputi metode untuk menghitung dan mengintepretasikan rasio keuangan untuk menganalisis dan mengawasi kinerja perusahaan.

Laporan Keuangan melaporkan posisi perusahaan pada satu titik waktu dan kegiatan operasinya selama beberapa periode lalu. Namun, nilai riilnya ada pada kenyataan bahwa laporan tersebut dapat digunakan untuk membantu meramalkan laba di masa depan.

(3)

2.3 RASIO DAPAT DIHITUNG BERDASARKAN FINANCIAL STATEMENT YANG TERSEDIA DALAM:

Balance sheet

Neraca Keuangan (Balance sheet) merupakan laporan keuangan yang mencakup asset, kewajiban (liability), dan modal (Equity/Ekuitas).

Income statement

Laporan laba /rugi (income statement) disebut juga laporan pendapatan dan biaya (profit and loss statement) atau hasil operasi (statement of operation), yaitu suatu laporan yang dibuat secara sistematis berisikan gambaran ringkasan tentang penghasilan (income) dan beban (expenses) dalam periode tertentu dari suatu perusahaan.

2.4 TUJUAN ANALISIS KEUANGAN

Tujuan umum laporan keuangan menurut Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI) terdiri dari lima tujuan, masing-masing adalah sebagai berikut:

1. Untuk memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai aktiva dan kewajiban serta modal suatu perusahaan.

2. Untuk memberikan informasi yang dapat dipercaya mengenai perubahan dalam aktiva neto (aktiva dikurangi kewajiban) suatu perusahaan yang timbul dari kegiatan usaha dalam rangka memperoleh laba.

3. Untuk memberikan informasi keuangan yang membantu para pemakai laporan di dalam menaksir potensi perusahaan dalam menghasilkan laba.

4. Untuk memberikan informasi penting lainnya mengenai perubahan dalam aktiva dan kewajiban suatu perusahaan, seperti informasi mengenai aktivitas pembiayaan investasi.

(4)

2.5 KEGUNAAN ANALISIS KEUANGAN

Dengan menganalisis prestasi keuangan, seorang analis keuangan akan dapat menilai apakah manajer keuangan dapat merencanakan dan mengimplementasikan ke dalam setiap tindakan secara konsisten agar tujuan perusahaan dapat tercapai.

Menurut Agus Sartono (2001:113) analisis keuangan mencakup analisis rasio keuangan, analisis kelemahan dan kekuatan dibidang finansial akan sangat membantu dalam menilai prestasi manajemen masa lalu dan prospeknya dimasa datang. Rasio tersebut dapat memberikan indikasi apakah perusahaan memiliki kas yang cukup untuk memenuhi kewajiban finansialnya, besarnya hutang yang cukup rasional, efisiensi manajemen persediaan, perencanaan pengeluaran investasi yang baik, dan struktur modal yang sehat sehingga tujuan memaksimumkan kemakmuran pemegang saham dapat dicapai.

Dari sudut investor, memperkirakan masa mendatang merupakan hal yang terpenting dari menganalisis laporan keuangan, sehingga analisis laporan keuangan bagi investor dapat bermanfaat dalam menentukan kebijaksanaannya dalam melakukan antisipasi terhadap kemungkinan situasi yang buruk dimasa yang akan datang. Dengan menganalisis laporan keuangan tersebut akan diketahui kelebihan dan kekurangan perusahaan serta perkembangan perusahaan dimasa sekarang yang dapat dijadikan sebagai pedoman bagi perencanaan perusahaan dimasa yang akan datang.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa tujuan dari analisis keuangan adalah:

1. Menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan (aset, liabilitas, dan ekuitas).

(5)

2.6 RASIO KEUANGAN

1. Rasio Likuiditas (Liquidity Ratio)

Aset Likuid merupakan aset yang diperdagangkan di pasar aktif sehingga dapat dikonversi dengan cepat menjadi kas pada harga pasar yang berlaku. Dengan kata lain, Rasio Likuiditas yaitu rasio yang menunjukkan hubunganantara kas dan asset lancar perusahaan lainnya dengan kewajiban lancarnya.

Dua Rasio Likuiditas yang umum digunakan adalah Rasio Lancar dan Rasio Cepat atau Acid Test.

a. Current Ratio ( Rasio Lancar)

Rasio Likuiditas yang pertama adalah Rasio Lancar, yang dihitung dengan membagi aset lancar dengan kewajiban lancar.

 Aset lancar meliputi kas, efek yang dapat diperdagangkan, piutang usaha, dan persediaan.

 Kewajiban lancar terdiri atas utang usaha, wesel tagih jangka pendek, utang lancar jangka panjang, pajak dan gaji yang masih harus dibayar.

Jika suatu perusahaan mengalamikesulitan keuangan, perusahaan mulai lambat membayar taguhan (utang usaha), pinjaman bank, dan kewajiban lainnya yang akan meningkatkan kewajiban lancar. Jika kewajiban lancar naik lebih cepat daripada aset lancar, rasio lancar akan turun dan ini merupakan pertanda adanya masalah.

Rasio Lancar= Aset lancar

Kewajiban Lancar

.

a. Quick Ratio (Rasio Cepat) atau Acid Test

Rasio Likuiditas kedua yang sering digunakan adalah rasio cepat atau Acid Test

yang dihitung dengan mengurangi persediaan dengan aset lancar, kemudian membagi sisanya dengan kewajiban lancar. Persediaan paada umumnya merupakan aset lancar perusahaan yang paling tidak likuid sehingga persediaan merupakan aset dimana kemungkinan besar akan terjadi kerugian jika terjadi likuid.

Current ratio

=

Current assets

(6)

Oleh karena itu, rasio yang mengukur kemampuan suatu perusahaan untuk membayar kewajiban jangka pendek tanpa mengandalkan penjualan persediaan sangat penting artinya. Namun, jika piutang usaha dapat ditagih, perusahaan dapat melunasi kewajiban lancarnya tanpa harus melikuidasi persediaan.

Rumus dari Quick Ratio atau Acid test (Rasio Cepat) adalah:

RasioCepat(Acid test)=Aset lancarPersediaan

Kewajiban Lancar

b. Cash Ratio ( Rasio kas)

Merupakan Rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek dengan kas yang tersedia dan yang disimpan di Bank.

Cash Ratio dapat dihitung dengan Rumus yaitu:

Rasio Kas= Kas+efek

Kewajiban Lancar

2. Ratio Solvabilitas (Leverage Ratio)

Rasio ini disebut juga leverage ratio yaitu mengukur perbandingan dana yang disediakan oleh pemiliknya dengan dana yang dipinjam dari kreditur perusahaan tersebut.

Rasio ini dimaksudkan untuk mengukur sampai seberapa jauh aktiva perusahaan dibiayai oleh hutang rasio ini menunjukkan indikasi tingkat keamanan dari para pemberi pinjaman (Bank).

Adapun Rasio yang tergabung dalam Rasio Leverage adalah:

Quick ratio

=

Current assets

Inventory

Current liabilities

Cash ratio

=

Cash

Current liabilities

/ =

(7)

a. Total Debt to Equity Ratio (Rasio Hutang terhadap Ekuitas)

Merupakan Perbandingan antara hutang – hutang dan ekuitas dalam pendanaan perusahaan dan menunjukkan kemampuan modal sendiri, perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibanya.

Rasio ini dapat dihitung denga rumus yaitu :

Total Debt¿equity Ratio=Total Hutang

Modal

b. Total Debt to Total Asset Ratio (Rasio Hutang terhadap Total Aktiva)

Rasio ini merupakan perbandingan antara hutang lancar dan hutang jangka panjang dan jumlah seluruh aktiva diketahui. Rasio ini menunjukkan berapa bagian dari keseluruhan aktiva yang dibelanjai oleh hutang.

Rasio ini dapat dihitung dengan rumus yaitu:

Total Debt¿Total Aset Ratio=Total Hutang

Total Aktiva

Catatan: Semakin tinggi nilai persentase Rasio Solvabilitas ini adalah semakin buruk kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban jangka panjangnya.

Total debt to equity ratio

=

Cureent liabilities

+

Long term debt

Equity

Long term debt to equity ratio

=

Long term debt

Equity

Total debt to total assets ratio

=

Total debt

Total assets

Time

int

erest earned ratio

=

EBIT

(8)

3. Rasio Aktifitas (Activity Ratio)

Rasio untuk mengukur seberapa efektif perusahaan dalam memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya. Rasio Manajemen Aset merupakan rasio yang mengukur seberapa efektif perusahaan mengelola asetnya. Jika perusahaan memiliki terlalu banyak aset, maka biaya medalnya telalu tinggi dan labanya akan tertekan. Dilain pihaknya, jika aset terlalu rendah, maka penjualan yang menguntungkan akan hilang.

Ada beberapa jenis rasio Solvabilitas antara lain:

a. Rasio Perputaran Total Aset (Total Assets Turn Over)

Rasio untuk mengukur tingkat perputaran total aktiva atau aset perusahaan, dan dihitung dengan membagi penjualan dengan total aset.

Rumus menghitung Total Assets Turn Over Ratio:

Total Assets TurnOve r Ratio= Penjualan

Total AktivaX100

b. Rasio Perputaran Piutang (Receivable Turn Over)

Rasio untuk mengukur tingkat perputaran piutang dengan membagi nilai penjualan kredit terhadap piutang rata-rata. Semakin tinggi rasio ini akan semakin baik dan menunjukan modal kerja yang ditanamkan dalam piutang rendah.

Rumus menghitung Receivable Turn Over Ratio:

Receivable Turn Ratio=

Penjualan Ratarata Piutang

c. Periode Penagihan Rata-rata (Average Collection Period Ratio)

Rasio untuk mengukur berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh perusahaan dalam menerima seluruh tagihan dari konsumen.

Total Assets Turn Over

=

Net sales

Total assets

Receivable turn over

=

Net credit sales

(9)

Rumus menghitung Average Collection Period Ratio:

Average Collection Period Ratio=Ratarata Piutang x360

Penjualanbersih

d. Rasio Perputaran Persediaan (Inventory Turn Over)

Rasio untuk mengukur tingkat efisiensi pengelolaan perputaran persediaan yang dimiliki terhadap penjualan. Sesuai dengan namanya, rasio ini menunjukkan berapa kali pos tersebut “berputar” sepanjang tahun. Perputaran yang jumlahnya jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata industry, ini menunjukkan bahwa perusahaan terlalu banyak menyimpan perediaan.

Kelebihan perediaan tentunya tidak produktif dan mencerminkan investasi dengan tingkat pengembalian yang rendah atau nol. Semakin tinggi rasio ini akan semakin baik dan menunjukkan pengelolaan persediaan yang efisien.

Rumus menghitung Inventory Turn Over Ratio:

Rasio perputaran persediaan= Penjualan

Persediaan

e. Average Day’s Inventory

Digunakan untuk mengukur periode (hari) rata-rata persediaan barang dagangan berada di gudang perusahaan.

Rumusnya sebagai berikut:

Average Day ’ s Inventory= 360hari

Perputaran Persediaan

Average Collection Period

=

Average receivable x

360

Net credit sales

Inventory Turn Over

=

CGS

Average Inventory

Average days inventory

=

360

days

(10)

f. Working Capital Turn Over

Rasio untuk mengukur tingkat perputaran modal kerja bersih (Aktiva Lancar-Hutang Lancar) terhadap penjualan selama suatu periode siklus kas dari perusahaan.

Rumus menghitung Working Capital Turn Over Ratio:

WorkingCapital Turn Ratio=

Penjualan ModalHutang

g. Rasio Perputaran Aset Tetap (Fixed Assets Turn Over)

Rasio untuk mengukur perbandingan antara aktiva tetap yang dimiliki terhadap penjualan. Rasio ini berguna untuk mengevaluasi seberapa besar tingkat kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan aktiva tetap yang dimiliki secara efisien dalam rangka meningkatkan pendapatan.

Rumus menghitung Fixed Assets Turn Over Ratio:

Rasio Perputaran Aset Tetap= Penjualan

Aktivatetap

Catatan: Semakin tinggi nilai persentase Rasio Activity ini adalah semakin baik, kita bisa membandingkannya dengan nilai rata-rata dari industri sejenis di pasar agar dapat menilai seberapa efisien Anda mengelola sumber daya yang dimiliki.

Working Capital Turn Over

=

Sales

Current assets

Current liabilities

Fixed assets turn over

=

Net sales

(11)

4. Rasio Rentabilitas atau Profitabilitas (Probability Ratio) / Kinerja Manajemen

Rasio ini disebut juga sebagai Ratio Profitabilitas yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba atau keuntungan, profitabilitas suatu perusahaan mewujudkan perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba tersebut.

Rasio Profitabilitas adalah sekelompok rasio yang menunjukkan kombinasi dari pengaruh likuiditas, manajemen aset, dan utang pada hasil operasi. Atau dengan kata lain rasio yang mencerminkan hasil akhir dari seluruh kebijakan keuangan dan keputusan operasional.

Yang termasuk dalam ratio ini adalah:

a. Margin Laba Kotor(Gross Profit Margin)

Merupakan perandingan antar penjualan bersih dikurangi dengan Harga Pokok penjualan dengan tingkat penjualan, rasio ini menggambarkan laba kotor yang dapat dicapai dari jumlah penjualan.

Rasio ini dapat dihitung dengan rumus yaitu:

Gross Profit Margin=Laba Kotor

Penjualan

b. Margin Laba Bersih (Net Profit Margin)

Merupakan rasio yang digunaka nuntuk mengukur laba bersih sesudah pajak lalu dibandingkan dengan volume penjualan.

Rasio ini dapat dihitung dengan Rumus yaitu:

Net Profit Margin=Laba setelah Pajak

Penjualan Bersih

c. Operating Ratio

Gross Profit Margin= SalesCGS Sales

Profit margin

=

Net operating income

Net sales

Net profit margin

=

Net profit after tax

(12)

Operating Ratio digunakan untuk mengukur biaya operasi per rupiah penjualan, semakin kecil angka rasio menunjukan kinerja yang semakin baik. Rumusnya sebagai berikut:

Operating Ratio=HPP+Adm . PenjualanUmum

Penjualan Bersih

d. Earning Power of Total investment

Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan netto. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus yaitu:

Earning Power of Totalinvestment=Laba sesudah Pajak

Total Aktiva

e. Return on Equity (Pengembalian atas Modal)

Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi seluruh pemegang saham, baik saham biasa maupun saham preferen.

Rasio ini dapat dihitung dengan rumus yaitu:

Returnon Equity= Laba sesudah Pajak

Ekuitas Pemegang Saham

Catatan : Semakin tinggi nilai persentase Rasio Profitabilitas ini adalah adalah semakin baik, sebaiknya Anda bisa membandingkannya dengan nilai rata-rata dari industri sejenis di pasar.

Operating ratio

=

CGS

+

Adm

exp

enses

+

selling

exp

enses

+

General

exp

enses

Net sales

Earning Power

=

Earning after tax

Total assets

Rate of return on net worth

=

Earning after tax

(13)

Sampai sejauh apa perusahaan menggunakan pendanaan melalui utang (financial leverage)—selanjutnya, kita akan menggunakan istilah leverage—akan memberikan 3 dampak penting:

1. Menghimpun dana melalui uang, pemegang saham dapat mengendalikan perusahaan dengan jumlah investasi ekuitas yang terbatas.

2. Kreditor melihat ekuitas atau dana yang diberikan oleh pemilik sebagai batas pengaman.

3. Jika hasil yang diperoleh dari aset perusahaan lebih tinggi daripada tingkat bunga yang dibayarkan, maka pengguaan utang akan “mengungkit” (leverage) atau memperbesar pengembalian atas ekuitas atau ROE.

a. Total Utang terhadap Total Aset

Rasio total utang terhadap total aset, yang umumnya disebut rasio utang (debt ratio), mengukur presentase dana yang diberikan oleh kreditor.

Total utang termasuk seluruh kewajiban lancar dan utang jangka panjang. Kreditor lebih menyukai rasio utang yang rendah karena makin rendah rasio utang, makin besar perlindungan terhadap kerugian kreditor jika likuidasi. Di sisi lain, pemegang saham menginginkan lebih banyak leverage karena akan memperbesar laba yang diharapkan.

RasioUtang=TotalUtang

Total Aset

b. Rasio Kelipatan Pembayaran Bunga (time-interest-earned-TIE)

Rasio Kelipatan Pembayaran Bunga (TIE) mengukur sampais sejauh apa laba operasi dapat mengalami penurunan sebelum perusahaan tidak mampu memenuhi biaya bunga tahunannya.

Rasiokelipatan pembayaran bunga= EBIT

(14)

6. Rasio Nilai Pasar

ROE (Return On Equity) mencerminkan pengaruh dari seluruh rasio lain dan merupakan ukuran kinerja tunggal yang terbaik dilihat dari kacamata akuntansi. Investor sudah pasti menyukai nilai ROE yang tinggi, karena umumnya memiliki korelasi positif dengan harga saham yang tinggi. Namun, ada beberapa faktor lain yang terlibat. Seperti

leverage keuangan umumnya akan meningkatkan ROE tapi juga akan meningkatkan resiko perusahaan, yang tidak disukai oleh investor. Jadi, jika ROE yang tinggi diperoleh melalui penggunaan utang dalam jumlah yang sangat besar, harga saham kemungkinan akan lebih rendah dari yang seharusnya dengan utang yang lebih sedikit dan ROE yang lebih rendah.

Rasio nilai pasar memberikan indikasi bagi manajemen tentang bagaimana pandangan investor terhadap resiko dan prospek perusahaan di masa depan. Jika rasio likuiditas, manajemen aset, manajemen utang, dan profatibilitas semuanya terlihat baik dan berjalan stabil, maka rasio nilai pasar juga akan tinggi, nilai saham kemungkinan tinggi sesuai dengan yang diperkirakan.

a. Rasio Harga/Laba

Rasio Harga laba (price/earning—P/E) menunjukkan jumlah yang rela dibayarkan oleh investor setiap setiap laba yang dilaporkan.

Rasioharga/laba(P/E)=Harga persaham

Laba persaham

b. Rasio Harga/Arus Kas

Di beberapa industri, harga saham memiliki hubungan yang lebih erat dengan arus kas daripada laba bersih. Karena itu, investor sering melihat rasio harga/arus kas (price/cash flow ratio) seperti berikut ini:

Rasio harga/arus kas= Harga persaham

Arus kas persaham

(15)

c. Rasio Nilai Pasar/Nilai Buku

Rasio harga pasar suatu saham terhadap nilai bukunya memberikan indikasi pandangan investor atas perusahaan. Perusahaan yang dipandang baik oleh investor —yang artinya perusahaan dengan laba dan arus kas yang aman serta terus mengalami pertumbuhan—dijual dengan rasio nilai buku yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan dengan pengembalian yang rendah.

Pertama, kita akan menghitung nilai buku per saham seperti yang dinyatakan berikut ini:

Nilai buku per saham= Ekuitas biasa

Jumlah s ahamberedar

Selanjutnya, kita membagi harga pasar per saham dengan nilai buku per saham untuk mendapatkan rasio nilai pasar/nilai buku (market/book—M/B)

R asio nilai pasar/nilai buku=M/B=Harga pasar per saham

Nilai buku per saham

Jika suatu perusahaan menerima tingkat pengembalian atas aset yang renadah, maka rasio M/B-nya akan relatif lebih rendah dibanding rata-rata perusahaan lain. sementara itu, perusahaan yang berhasil mencapai tingkat pengembalian atas aset yang tinggi, sehingga mengakibatkan nilai pasarnya jauh melebihi nilai bukunya.

7. Menyatukan Rasio: Persamaan Du Pont

Margin laba dikalikan perputaran total aset yang disebut dengan persamaan dasar Du pont (basic Du Pont equation), dan dapat menunjukkan tingkat pengembalian atas aset (return on assets—ROA):

ROA=Margin laba x Perputaran total Aset

¿Laba bersih

Penjualan x

(16)

Jika perusahaan didanai hanya dengan ekuitas biasa, tingkat pengembalian atas aset (Return On Assets—ROA) dan pengembalian atas ekuitas (Return On Equity—ROE) akan sama karena total aset akan sama dengan ekuitas biasa:

ROA=Laba bersih

Total Aset =

Laba bersih

Ekuitas biasa=ROE

Persamaan ini hanya berlaku jika perusahaan tidak menggunakan utang. Jika menggunakan utang, ekuitas biasanya lebih kecil dari total aset. Jadi, pengembalian atas pemegang saham biasa (ROE) harus lebih besar dari ROA. Untuk mendapatkan pengembalian atas ekuitas (ROE) dari pengembalian atas aset (ROA), kita dapat mengalikannya dengan multiplier ekuitas, yaitu rasio total aset terhadap ekuitas biasa:

Multiplier ekuitas= Total Aset

(17)

STUDI KASUS

Pada tabel 1 berikut dapat dilihat bahwa grafik menunujukkan tingkat pengembalian atas ekuitas biasa Allied yang terus menurun sejak tahun 2002 meskipun rata-rata industri relatif stabil. Perusahaan yang menggunakan utang dalam jumlah besar (leverage lebih besar) seharusnya akan memiliki multiplier ekuitasnya.

2001 2002 2003 2004 2005 0

Rasio Rumus Perhitungan Rasio Rata-rataIndustri Komentar

Likuiditas

Lancar Aset Lancar

Kewajiban Lancar

$1.000

$310 = 3,2x 4,2x Buruk

Cepat Aset LancarPersediaan

(18)

Perputaran total aset

Penjualan Total aset

$3.000

$2.000 = 1,5x 1,8x Sedikit rendah

Manajemen utang

$2.000 = 53% 40% Tinggi (beresiko)

Rasio Rumus Perhitungan Rasio Rata-rataIndustri Komentar

Kelipatan pembayaran bunga (TIE)

Laba sblm bunga dan pajak(EBIT)

Beban bunga

$1.000

$310 = 3,2x 4,2x Buruk

Cakupan EBITDA

EBITDA+Pmby . sewa guna ush Bunga+Pmby . pokok+Pmby . sewa guna ush

Laba sblm bunga dan pajak(EBIT)

Total Aset

Harga/arus kas Harga Per saham

Arus kas per saham

Pengembalian atas ekuitas (ROE) Allied bergantung pada ROA dan penggunaan leverage.

(19)

¿5,9X $2.000 $940

= 59% X 2,13

= 12,5%

Ketika digabungkan, persamaan kedua tabel membentuk persamaan Du Pont yang diperlukan (extended Du Pont) yang menunjukkan bagaimana margin laba, rasio perputaran total aset, dan multiplier ekuitas bergabung untuk melakukan ROE.

ROE = (Margin laba) (perputaran total aset) (Multiplier ekuitas)

¿Laba bersih

Penjualan x

Penjualan Totalaset x

Total aset Ekuitas biasa

Untuk Allied, kita mendapatkan:

ROE = (3,9%) (1,5) (2,13)

= 12,5%

Tingkat pengembalian 12,5% tentunya dapat langsung dihitung: Penjualan dan Total Aset akan saling menghilangkan, hingga tinggal menyisakan Laba bersih/ Ekuitas biasa = $117,5/$940 = 12,5%. Namun, persamaan Du Pont yang diperluas menunjukkan kepada kita bagaimana margin laba, perputaran aset, dan penggunaan utang bersama-sama menentukan pengembalian atas ekuitas.

(20)
(21)

BAB III

PENUTUP

3.1 SIMPULAN

1. Analisis Rasio Keuangan atau Financial Ratio adalah suatu alat analisa yang digunakan oleh perusahaan untuk menilai kinerja keuangan berdasarkan data perbandingan masing-masing pos yang terdapat di laporan keuangan seperti Laporan Neraca, Rugi / Laba, dan Arus Kas dalam periode tertentu.

2. Rasio keuangan dirancang untuk membantu kita mengevaluasi laporan keuangan. 3. Tujuan dari pembuatan laporan keuangan bagi manajer keuangan adalah dapat

memantau dan membuat keputusan yang tepat untuk rencana kedepannya. Bagi manajer perusahaan, dapat mempertimbangkan rencana dan prospek yang akan dilakukan oleh perusahaan pada periode berikutnya.

4. Macam-macam Analisis Rasio ada 4, yaitu a. Liquidity ratio (Rasio Likuiditas) b. Leverage ratio (Ratio Solvabilitas) c. Activity ratio (Rasio Aktifitas)

d. Profitability ratio (Rasio Rentabilitas atau Profitabilitas)

5. Rasio Likuiditas yaitu rasio yang menunjukkan hubunganantara kas dan asset lancar perusahaan lainnya dengan kewajiban lancarnya.

6. Leverage ratio yaitu mengukur perbandingan dana yang disediakan oleh pemiliknya dengan dana yang dipinjam dari kreditur perusahaan tersebut.

7. Activity ratio untuk mengukur seberapa efektif perusahaan dalam memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya.

8. Rasio Profitabilitas adalah sekelompok rasio yang menunjukkan kombinasi dari pengaruh likuiditas, manajemen aset, dan utang pada hasil operasi.

(22)

3.1 SARAN

 Bagi perusahaan, mereka perlu memantau keadaan keauangan perusahaan, agar kas yang diperoleh tidak terlalu tinggi, sehingga menentukan nilai likuiditasnya. Hal ini dapat diatasi dengan investasi beresiko rendah. Pengambilan hutang sebaiknya juga mempertimbangkan produktifitas perusahaan, agar resiko dari hutang itu tidak menganggu kinerja perusahaan. Dan untuk produktifitas, perusahaan harus terus meningkatkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan, apakah itu dari peningkatan penjualan atau penggunaan aktiva dan modal yang optimal.

Gambar

Tabel 1 Tabel 2

Referensi

Dokumen terkait

Rasio profitabilitas merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan

Return On Equity (ROE) adalah rasio profitabilitas untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba yang tersedia bagi pemegang saham perusahaan, yang sering dijadikan

Rasio Solvabilitas (Solvency Ratio) atau sering juga disebut dengan Rasio Leverage (Leverage Ratio) adalah suatu rasio keuangan yang mengukur kemampuan perusahaan untuk

Penulis dalam skripsi ini menggunakan beberapa rasio keuangan khususnya rasio profitabilitas untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh keuntungan, dengan

• Rasio Cair ( Acid Ratio ) atau sering pula disebut sebagai Rasio Cepat ( Quick Ratio ) adalah sebuah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan suatu perusahaan

Rasio profitabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba, (Fahmi, 2015:120).Rasio profitabilitas dalam penelitian ini menggunakan

Rasio Profitabilitas (profitability ratio), rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan atau laba dalam suatu periode tertentu. Rasio ini juga

Rasio profitabilitas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba, baik yang berhubungan dengan penjualan maupun berhubungan dengan aktiva atau