DAMPAK KEBIJAKAN TARIF IMPOR BERAS TERHA

18 

Teks penuh

(1)

14

|

EDISI 01 • TAHUN XX • MEI 2014

Abstrak

P

eneli an ini bertujuan untuk menganalisis dampak kebijakan tarif impor beras terhadap kesejahteraan produsen dan konsumen. Data yang digunakan dalam peneli an ini adalah data sekunder yang berasal dari berbagai sumber yaitu; Badan Pusat Sta s k (BPS), Bulog, Kementerian Perdagangan, Keuangan dan Pertanian, yang mencakup harga beras domes k, harga beras dunia (CIF), konsumsi, produksi, impor, dan tarif impor beras. Data tahun 2010, dijadikan sebagai data dasar dalam analisis. Hasil analisis menunjukkan bahwa liberalisasi perdagangan beras (pembebasan tarif) memberikan surplus ekonomi nasional yang makin besar, hal tersebut berar ekonomi nasional makin efi sien. Namun dari segi distribusi, produsen menerima surplus yang semakin kecil daripada konsumen, yang berar aspek pemerataan manfaat dari kebijakan pemerintah dak terwujud. Oleh karena petani padi pada umumnya miskin, maka keberpihakan pemerintah kepada petani sangat diperlukan untuk mengentaskan mereka dari kemiskinan. Dengan alasan tersebut, dan penyediaan lapangan kerja serta pembangunan perdesaan, maka kebijakan yang bersifat protek f sangat diperlukan, baik dengan pengenaan tarif impor beras, pengaturan, pengawasan, dan pembatasan impor beras.

Kata Kunci: Tarif Impor Beras, Surplus Produsen dan Konsumen

DAMPAK KEBIJAKAN TARIF IMPOR BERAS

TERHADAP SURPLUS PRODUSEN DAN

KONSUMEN

Akhmad

Dosen Koper s Wil.IX Sulawesi

Dipekerjakan pada STIE-YPUP Makassar dan Alumni S3 Ilmu Eknomi Pertanian PPs-IPB (Email: akhmad09@yahoo.co.id)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

I

ndonesia adalah negara konsumen beras terbesar ke ga di dunia setelah RRC dan India. Di samping faktor besarnya jumlah penduduk, hal ini juga disebabkan oleh kenyataan bahwa 95 persen penduduk Indonesia masih menggantungkan konsumsi utama pangannya pada beras. Tingginya ketergantungan penduduk Indonesia terhadap beras mengakibatkan komodi ini dak hanya memiliki nilai strategis secara ekonomi tetapi juga secara sosial dan poli k (Simbolon, 2005).

(2)

EDISI 01 • TAHUN XX • MEI 2014

|

15

Konsumsi beras masyarakat Indonesia dapat dikatakan nggi karena se ap orang di Indonesia mengkonsumsi beras se ap tahun sebesar 139,5 kg. Konsumsi beras Indonesia lebih besar dua kali lipat dari konsumsi beras dunia pada angka 60 kg per tahun (EOCD; 2013; Chris anto, E., 2013)

Begitu pen ngnya beras, maka negara-negara berkembang terutama Indonesia telah menjadikan swasembada beras sebagai tujuan kebijakan nasional. Dalam sejarah, Indonesia pernah menjadi pelopor dalam revolusi hijau yang mendorong peningkatan produksi pangan terutama padi pada tahun 1960-an. Mulai saat itu

ngkat kesejahteraan penduduk meningkat dan penduduk miskin berkurang secara signifi kan. Tingkat ketahanan

pangan pun terus meningkat yang dicirikan dengan terjadinya surplus beras sehingga negara mencapai swasembada pangan pada tahun 1984 (Riyadi, 2002;)

Garis kebijakan perberasan Indonesia adalah mengupayakan pemenuhan kebutuhan beras domes k dari produksi dalam negeri atau swasembada. Dengan garis kebijakan tersebut, kebijakan impor ditempatkan sebagai residual atau menutupi defi sit kebutuhan beras dalam

negeri (Irawan, 2001). Oleh karena itu, pen ng untuk diketahui posisi neraca beras nasional. Sebagai komoditas yang strategis, produksi beras domes k yang tersedia untuk dikonsumsi merupakan tolak ukur bagi ketersediaan bahan pangan pokok bagi masyarakat Indonesia.

Untuk memberikan dukungan bagi peningkatan produksi padi dan pendapatan petani, pemerintah telah mengimplementasikan berbagai kebijakan perberasan. Pada periode sebelum krisis (1970-1996), pemerintah telah mengimplementasikan kebijakan harga dasar gabah (HDG), kebijakan subsidi benih, kebijakan subsidi pupuk, kebijakan subsidi kredit usaha tani padi, manajemen stok dan monopoli impor oleh bulog, penyediaan Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) untuk pengadaan gabah oleh Bulog, subsidi untuk Bulog dalam melakukan operasi pasar yaitu pada saat harga beras

nggi Bulog harus menjual dengan harga murah, dan kebijakan tarif impor beras. Pada periode krisis (1997-1999), pemerintah menerapkan kebijakan transisi yaitu menghapus semua kebijakan kecuali kebijakan harga dasar gabah dan melakukan liberalisasi impor beras

dengan mencabut monopoli impor yang dipegang oleh Bulog dan menetapkan tarif bea masuk beras sebesar nol persen. Pada periode pasca krisis (2000-2004), pemerintah kembali menerapkan kebijakan harga dasar pembelian gabah oleh pemerintah (HDPP), dan kebijakan tarif impor beras sejak 7 Januari 2004 sampai dengan saat ini.

Peningkatan jumlah penduduk dan ngkat konsumsi rata-rata per kapita beras mengakibatkan konsumsi beras sering kali melebihi produksi. Sampai saat ini swasembada beras masih tetap diupayakan dan menjadi salah satu prioritas kebijakan pemerintah meskipun konsepsi swasembada telah berubah dengan membuka kemungkinan impor sampai batas tertentu yaitu terutama pada saat kekeringan, dan melakukan ekspor pada saat surplus.

Adanya kecenderungan melakukan impor beras pada saat konsumsi beras lebih besar dibanding produksi, perlu mendapat perha an dari pemerintah agar supply beras dalam negeri dak meningkat yang akan berakibat pada penurunan harga beras yang dapat menurunkan pendapatan petani. Oleh karena itu pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan tarif impor beras untuk melindungi produsen beras dalam hal ini petani.

Murahnya harga beras akan menguntungkan konsumen akan tetapi sebaliknya produsen (petani) akan dirugikan. Oleh karena itu pemerintah telah mengeluarkan kebijakan bea masuk impor beras untuk melindungi produsen (petani) dari gejolak pasar dunia. Tarif bea masuk berdasarkan atas Peraturan Menteri Keuangan No. 180/ PMK.011/2007 sebesar Rp 450per kg.

(3)

16

|

EDISI 01 • TAHUN XX • MEI 2014

Tabel 1. menunjukkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir produksi beras mengalami peningkatan, hal disebabkan antara lain karena ngkat produk vitas lahan akibat menggunakan teknologi produksi yang semakin membaik. Akan tetapi peningkatan produksi beras tersebut, belum dapat memenuhi kebutuhan akan konsumsi beras masyarakat yang juga semakin meningkat disebabkan karena pertambahan jumlah penduduk. Oleh karena itu impor beras diperlukan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri.

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka maka peneli an ini bertujuan untuk menganalisis dampak kebijakan tarif impor beras terhadap kesejahteraan produsen (petani), konsumen, pemerintah dan perekonomian secara keseluruhan.

TINJAUAN PUSTAKA

Kebijakan Perberasan Indonesia

Terpenuhinya pangan yang cukup, baik dalam jumlah maupun mutu, aman, merata, dan terjangkau oleh seluruh rumah tangga merupakan sasaran utama dalam pembangunan ekonomi se ap negara di dunia, apakah itu negara produsen dan net ekspor r maupun pengimpor pangan. Bagi negara industri yang miskin sumber daya pertanian seper Singapura, sasaran tersebut dapat dipenuhi dengan meningkatkan daya beli rakyat dan kemampuan ekonomi negaranya. Bagi sebagian besar negara berkembang, pemenuhan kebutuhan pangan itu

terutama mengandalkan kemampuan produksi domes k (Amrullah, S. 2005).

Bagi Indonesia, rumusan di atas merupakan defi nisi

ketahanan pangan yang diformulasikan dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan. Untuk implementasinya, GBHN 1999-2004 mengarahkan agar ketahanan pangan ini dicapai dengan memanfaatkan sumber daya, kelembagaan, dan budaya lokal; serta memperha kan kesejahteraan para produsennya, yang

pada umumnya adalah para petani, peternak dan nelayan kecil.

Dalam rangka meningkatkan pendapatan petani dan pengembangan ekonomi pedesaan, pemerintah telah menetapkan kebijakan perberasan melalui Inpres Nomor 9 tahun 2002. Inpres tersebut sebenarnya merupakan penyempurnaan dari Inpres Nomor 9 tahun 2001, yang mengatur tentang kebijakan perberasan secara komprehensif. Perubahan pada Inpres Nomor 9 Tahun 2002 dan terakhir adalah Inpres No.13/2005 yang berlaku 1 Januari 2006.

Salah satu ketentuan yang diatur di sana adalah penetapan impor dan ekspor beras dalam kerangka menjaga kepen ngan petani dan konsumen; serta impor manakala ketersediaan beras dalam negeri dak mencukupi. Ketentuan ini bermakna bahwa, perlindungan terhadap petani diutamakan. Rasionalnya adalah karena harga beras murah di pasar dunia dak merefl eksikan

Tabel 1. Data Produksi, Konsumsi, dan Impor Beras Indonesia Tahun 2001 sampai 2010

Tahun Produksi Beras Indonesia Konsumsi Beras Indonesia Impor Beras Indonesia

2001

(4)

EDISI 01 • TAHUN XX • MEI 2014

|

17

ngkat efi siensi, namun telah terdistorsi oleh berbagai

bantuan dan subsidi. Hasil peneli an Husein Sawit dan Rusastra (2005) memperlihatkan bahwa hampir 80% pendapatan petani padi di negara kaya kelompok OECD misalnya, berasal dari bantuan pemerintah. Oleh karena itu, adalah dak adil buat petani padi/beras, yang sebagian besar petani dengan lahan yang sempit untuk bersaing dalam dunia perdagangan yang amat dak adil itu.

Perlindungan dari serbuan impor, dak terkecuali beras dapat ditempuh dengan dua cara yaitu hambatan tarif (tariff Barrier; TB) dan hambatan bukan tarif (non tariff Barrier; NTB). Instrumen yang paling primi f dalam NTB adalah pelarangan impor atau pelarangan ekspor. Namun, ada juga yang menempuh kebijakan monopoli dan penetapan kuota impor untuk mengelola impor/ ekspor suatu produk.

Hambatan tarif dianggap paling transparan, sehingga semua hambatan non tarif wajib dihapus dan dikonversikan ke dalam hambatan tarif sesuai dengan ketentuan perdagangan mul lateral World Trade Organiza on (WTO). Indonesia telah meno fi kasikan

tarif beras di WTO sebesar 180% dan diturunkan menjadi 160% untuk 2004, membuka pasar minimum (minimum market access) sebesar 70 ribu ton/tahun dengan ngkat tarif dalam kuota (in-quota tariff ) 90%.

Mulai Januari 2000, pemerintah menetapkan tarif spesifi k sebesar Rp 430/kg atau setara dengan 30% ad

valorem. Impor dikontrol ketat, misalnya harus melalui jalur merah guna mencegah penyelundupan, dan terakhir adalah tarif bea masuk berdasarkan atas Peraturan Menteri Keuangan No. 93/PMK.011/2007 sebesar Rp 450 per kg.

Konsep Surplus Produsen dan Surplus

Konsumen

Kebijakan harga dasar (fl oor price) dilakukan untuk melindungi produsen pada saat panen raya dan kebijakan harga ter nggi (ceiling price) dilakukan untuk melindungi konsumen pada saat paceklik. Sementara itu dalam hal perdagangan dunia, pemerintah dapat

melindungi produsen maupun konsumen domes k berupa kebijakan tarif, kuota dan monopoli impor untuk kasus negara pengimpor dalam upaya melindungi atau subsidi ekspor untuk Negara pengekspor. Kebijakan ini umumnya berdampak terhadap konsumen, produsen dan pemerintah. Dampak yang di mbulkan dapat diketahui dengan menggunakan pendekatan teori ekonomi kesejahteraan (welfare economics), yaitu dengan konsep pengukuran surplus konsumen (consumer surplus) dan surplus produsen (producer’s surplus).

Surplus konsumen didefi nisikan sebagai perbedaan

antara jumlah maksimum yang ingin dibayar oleh konsumen terhadap jumlah tertentu dari produksi. Sedangkan surplus produsen adalah perbedaan antara jumlah uang yang benar-benar diterima produsen dengan jumlah uang minimum yang diinginkan oleh produsen tersebut (Tweeten, L. 1989; Pindiyck, R.S., dan D.L. Rubinfeld. 2007).

Terdapat ga dasar postulat yang pen ng dalam penggunaan surplus konsumen dan surplus produsen untuk mengukur kesejahteraan yaitu: pertama permintaan merupakan refl eksi dari keinginan untuk membayar,

kedua penawaran merupakan refl eksi dari biaya marginal

(marginal cost), dan ke ga perubahan pada pendapatan individu bersifat penambahan (addi ve) (Krugman, P.R., and M. Obs eld. 2002; Pindiyck, R.S., dan D.L. Rubinfeld. 2007 ).

Dampak Kebijakan Tarif Impor Beras

(5)

18

|

EDISI 01 • TAHUN XX • MEI 2014

Q D

S

Pd

Pt

Pw

a

Q1 Q2 Q0 Q3 Q4

b

c d

e f g h i

j P

Sumber: Ellis, 1992.

Gambar 2. Dampak Kebijakan Tarif impor terhadap Surplus Produsen dan Konsumen

Ti k keseimbangan pada pasar domes k adalah Pd dan Qo. Pada kondisi sebelum tarif ditetapkan, surplus konsumen sebesar a,b,c.d.e,f,g,h, dan i, sementara surplus produsen j. Di mana Pw, merupakan harga beras dunia. Sedangkan setelah diberlakukannya tarif impor sebesar t, maka surplus konsumen berkurang menjadi a,b,c,d, sementara surplus produsen meningkat menjadi j dan e. Pemerintah melakukan impor sebesar Q3-Q2 untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. Besarnya tarif impor adalah Pt-Pw sehingga memberikan penerimaan pemerintah sebesar g dan h. Namun perekonomian secara keseluruhan mengalami kerugian sosial (dead weight loss) sebesar f dan i.

Husain Sawit (2007) mengatakan pada saat Indonesia menerapkan ngkat tarif moderat terhadap beras, ternyata kurang efek f, dan penyelundupan bertambah. Pada periode 2000-2003 misalnya, ditaksir

dak kurang dari 50 persen beras yang masuk ke Indonesia melalui berbagai pelabuhan, terbanyak melalui Selat Malaka adalah illegal (Tabor, 2002). Akibatnya adalah pola pergerakan harga gabah yang musiman menjadi porak poranda. Karena kekurangan beras di kantong-kantong konsumen sebagian besar diisi oleh beras impor. Harga gabah ngkat produsen di musim panen raya dalam beberapa tahun malah lebih nggi dari musim paceklik atau musim panen padi gadu. Akibatnya perdagangan antar pulau dan antar wilayah dak bergairah, beras

dari sentra produsen terhambat mengalir ke wilayah konsumen, terutama ke perkotaan, (Ir anta, 2004).

DATA DAN METODE ANALISIS

Data yang digunakan peneli an ini adalah data tahun 2010 berasal dari berbagai sumber di antaranya adalah Badan Pusat Sta s k (BPS) Bulog dan Kementerian keuangan, perdagangan, dan pertanian, berupa harga beras dunia (CIF), konsumsi beras, produksi beras, jumlah impor beras, dan tarif impor beras. Data tahun 2010 akan dijadikan sebagai data dasar dalam analisis. Selain itu dalam melakukan analisis terhadap dampak kebijakan tarif impor beras, penulis menggunakan angka elas sitas permintaan dan penawaran beras dari peneli an terdahulu yaitu Hadi dan Wiryanto (2005).

Analisis dampak kebijakan tarif impor beras dilakukan dengan menghitung distribusi manfaat (gains) dan kerugian (losses) yang diperoleh produsen, konsumen, pemerintah dan masyarakat secara keseluruhan. Adapun teknik perhitungan yang digunakan untuk menganalisis dampak kebijakan tarif impor beras terhadap produsen, konsumen, pemerintah dan masyarakat secara keseluruhan dapat dilihat pada Tabel 2.

Asumsi-asumsi yang digunakan dalam pengukuran pada Tabel 3 diantaranya sebagai berikut :

1. Harga CIF beras adalah harga dunia (Rupiah per kg) ditambah dengan biaya transportasi dan asuransi sebesar 7,5%

2. Angka elas sitas permintaan dan penawaran beras didasarkan pada hasil peneli an Hadi dan Budi (2005) masing-masing sebesar -0.14589 dan 0.15607 3. Tarif bea masuk berdasarkan atas Peraturan Menteri

Keuangan Nomor. 93/PMK.011/2007 sebesar Rp 450 per kg.

(6)

EDISI 01 • TAHUN XX • MEI 2014

|

19

Tabel 2. Pengukuran Dampak Kebijakan Peningkatan Tarif Impor Beras

Variabel Notasi dan Formula

Harga CIF (Rp/kg) P

Tarif impor (Rp/kg) T Harga beras (Rp/kg) P’ Konsumsi beras (Ribu ton) Qc Produksi beras (Ribu ton) Qp Impor beras (Ribu ton) Qc - Qp Elas sitas permintaan Ed Elas sitas penawaran Es Peningkatan harga beras dengan tarif baru (Rp/kg)

P’ - P

Penambahan produksi (Ribu ton) ∆ Qp = Es Qp (P’ - P)/P Kehilangan konsumsi (Ribu ton) ∆ Qc = Ed Qc(P’ - P)/P Produksi setelah tarif impor (Ribu

ton)

Qp’ = Qp + ∆ QP Konsumsi setelah tarif impor

(Ribu ton)

Qc’ = Qc + ∆ Qc Impor setelah tarif impor (Ribu

ton)

Qc’- Qp’ Perubahan surplus konsumen

(Rp)

Qc (P’ - P) - 0.5 (P’ - P) (Qc’ - Qc) Perubahan surplus produsen (Rp Qp(P’ - P) + 0.5 (P’ - P) ( Qp’- Qp) Penerimaan pemerintah dari

tarif (Rp)

T (Qc’ – Qp’)

Efek kesejahteraan bersih (Rp) 0.5(P’- P)(Qp’-Qp)+ 0.5 (P’ - P) (Qc-Qc’)

Sumber : Tweeten, L. (1989)

Skenario Kebijakan Tarif Impor Beras

Tulisan ini menganalisis dampak kebijakan tarif impor beras dengan menggunakan dua skenario kebijakan sebagai berikut:

1. Skenario 1 dengan tarif impor beras diturunkan dari Rp. 450 per kg menjadi Rp. 200 per kg.

2. Skenario 2 dengan peningkatan tarif impor beras dari Rp. 450 per kg menjadi Rp. 700 per kg.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Kebijakan Tarif Impor Beras

Terdapat beberapa instrumen kebijakan yang dapat digunakan pemerintah dalam mengatasi permasalahan impor. Salah satu kebijakan perdagangan tersebut di antaranya adalah tarif. Ada beberapa tujuan yang dapat dicapai dengan dikeluarkannya kebijakan tarif di antaranya adalah sebagai sumber penerimaan pemerintah dan untuk melindungi sektor-sektor tertentu dalam negeri (Krugman and Obs eld, 2000).

Dalam kebijakan perdagangan, tarif pada dasarnya adalah sejenis pajak yang sifatnya diskrimina f yang dikenakan hanya pada barang yang memasuki daerah pabean tertentu (custom area). Pada umumnya tarif dikenakan terhadap barang-barang yang diimpor dan jarang digunakan untuk barang ekspor karena akan menghambat ekspor.

Kebijakan tarif impor yang dikeluarkan oleh pemerintah akan berdampak pada kesejahteraan produsen, konsumen, penerimaan pemerintah, dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Pada bagian ini akan dianalisis dampak kebijakan peningkatan tarif impor beras terhadap surplus; produsen, konsumen, penerimaan pemerintah, dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan, dengan dua skenario kebijakan yaitu (skenario 1) dengan menurunkan tarif impor beras dari Rp. 450 menjadi Rp 200 per kg, (skenario 2) dengan menaikkan tarif impor beras dari Rp 450 per kg menjadi Rp 700 per kg. Data yang digunakan dalam analisis ini adalah data beras tahun 2010.

(7)

20

|

EDISI 01 • TAHUN XX • MEI 2014

Dampak Kebijakan Tarif Impor Beras

terhadap Kesejahteraan Produsen

Secara teori s, penurunan tarif impor beras akan menurunkan harga eceran beras di pasar domes k, dan sebaliknya meningkatkan tarif impor akan menaikkan harga eceran beras di pasar domes k . Penurunan dan peningkatan harga eceran beras di pasar domes k selanjutnya akan berdampak pada harga jual gabah di ngkat petani. Pada tahun 2010 produksi beras dalam negeri sebesar 37.854.537 ton sementara konsumsi beras dalam negeri sebesar 38.550.000 ton. Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat atau kebutuhan nasional akan beras, maka pemerintah melakukan impor beras sebesar 695.463 ton. Adanya kebijakan impor beras tersebut, maka untuk melindungi produsen dalam negeri (petani), memaksa pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan tarif impor beras. Tarif impor beras yang ditetapkan berdaskan Peraturan Menteri Keuangan No. 93/PMK.011/2007 yaitu sebesar Rp 450 per kg.

Apabila elas sitas penawaran beras sebesar 0,15607 maka skenario kebijakan penurunan tarif impor beras dari Rp. 450 menjadi Rp 200 per kg (skenario 1) mengakibatkan produksi beras domes k turun menjadi sebesar 37.700.303 ton atau turun sebesar 0,41 persen. Akibat turunnya tarif impor beras juga akan berpengaruh terhadap surplus produsen. Kebijakan tarif impor sebesar Rp 200 per kg menyebabkan surplus produsen turun sebesar Rp 5.832.455.874 .000,-.

Sebaliknya apabila pemerintah menaikkan tarif impor beras dari Rp 450 per kg menjadi Rp. 700 per kg (skenario 2), maka akan menyebabkan produksi beras domes k naik dari 37.854.537 ton menjadi 37.977.204 ton atau naik sebesar 0,32 persen. Dengan tarif impor beras ini, juga menaikkan surplus produsen menjadi Rp. 7.416.723.429.000,-.

Tabel 3. Analisis Dampak Kebijakan Peningkatan Tarif Impor Beras

Variabel Dasar Skenario 1 Skenario 2

Harga CIF (Rp/kg) 5.512 5.512 5.512

Tarif Impor Beras (Rp/kg) 450 200 700

Harga Beras di ngkat Produsen (Rp/kg) 5.708 5.458 5.958

Produksi beras (000 kg) 37.854.537 37.854.537 37.854.537

Konsumsi Beras (000 kg) 38.550.000 38.550.000 38.550.000

Impor beras (000 kg) 695.463 695.463 695.463

Elas sitas permintaan (Ed) -0,14589 -0,14589 -0,14589

Elas sitas penawaran (Es) 0,15607 0,15607 0,15607

Peningkatan harga beras dengan tarif baru (Rp/kg) 0 -154 195,6

Penambahan produksi ( 000 kg) 0 -154.234 122.667

Produksi beras setelah tarif (000 kg) 37.854.537 37.700.303 37.977.204

Perubahan konsumsi (000 kg) 0 137.543 -104.659

Konsumsi beras setelah tarif (000 kg) 38.550.000 38.687.543 38.445.341

Impor beras setelah tarif (000 kg) 695.463 833.006 468.137

Perubahan surplus produsen (Rp.000) - -5.832.455.874 7.416.723.429

Perubahan surplus konsumen (Rp.000) - 6.124.775.452 -7.530.529.370

Penerimaan pemerintah dari tarif (Rp.000) 312.958.350 166.601.200 327.696.208

Efek kesejahteraan bersih (Rp.000) 312.958.350 458.920.778 213.890.267

Keterangan :

(8)

EDISI 01 • TAHUN XX • MEI 2014

|

21

Berdasarkan uraian tersebut, maka jelaslah bahwa apabila dilihat dari sisi produsen saja, maka semakin

nggi tarif impor yang diterapkan oleh pemerintah akan menyebabkan ngginya harga beras di dalam negeri, yang berdampak terhadap naiknya harga beras di ngkat petani, sehingga memacu produsen/petani untuk meningkatkan produksi beras dalam negeri, sehingga mengakibatkan kesejahteraan produsen/petani meningkat.

Dampak Kebijakan Tarif Impor Beras

terhadap Kesejahteraan Konsumen

Kebijakan tarif impor beras selain berdampak pada produsen juga berdampak pada konsumen. Apabila kebijakan tarif impor beras diturunkan dari Rp. 450 menjadi Rp 200 per kg (skenario 1) dengan elas sitas permintaan beras sebesar -0.14589 akan mengakibatkan konsumsi beras mengalami peningkatan dari 38.550.000 ton menjadi 38.687.543 ton, naik sebesar 137.543 ton atau sebesar 0,36 persen.

Selain itu, kebijakan penurunan tarif impor beras dari Rp. 450 menjadi Rp 200 per kg akan menyebabkan naiknya kesejahteraan konsumen. Hal tersebut ditunjukkan oleh meningkatnya surplus konsumen sebesar Rp. 6.124.775. 452.000,-. Peningkatan konsumsi beras dan kesejahteraan konsumen disebabkan karena, dengan turunnya tarif impor beras menyebabkan harga beras dalam negeri akan lebih murah, sehingga konsumen dalam negeri akan menerima harga yang lebih rendah dari harga sebelumnya. Sebaliknya apabila pemerintah menaikkan tarif impor beras dari Rp 450 per kg menjadi Rp. 700 per kg, dengan elas sitas permintaan beras sebesar -0.14589 akan mengakibatkan konsumsi beras dalam negeri mengalami penurunan dari 38.550.000 ton menjadi 38.445.341 ton, turun sebesar 254.659 ton atau 0,27 persen.

Selain itu kebijakan menaikkan tarif impor beras dari Rp 450 menjadi Rp. 700 per kg akan menyebabkan turunnya kesejahteraan konsumen. Hal ini ditunjukkan oleh penurunan surplus konsumen sebesar Rp. 7.530.529.370.000,-. Penurunan konsumsi beras dan kesejahteraan konsumen terjadi karena adanya kenaikan tarif impor beras, menyebabkan konsumen dalam negeri

akan menerima harga yang lebih nggi dari sebelumnya.

Uraian di atas menunjukkan bahwa, apabila kita melihat dari sisi konsumen saja, maka semakin nggi tarif impor yang dikenakan terhadap komoditas beras, akan menyebabkan ngginya harga beras di dalam negeri, sehingga memaksa konsumen untuk mengurangi konsumsinya, yang tentunya mengakibatkan permintaan beras dalam negeri berkurang, karenanya kesejahteraan konsumen turun.

Dampak Kebijakan Tarif Impor Beras

terhadap Penerimaan Pemerintah

Salah satu sumber penerimaan pemerintah antara lain berasal dari tarif impor. Pada kajian dengan penerapan tarif impor beras sebesar Rp 450 per kg pada ini tahun 2010. Pemerintah mengimpor beras sebesar 695.463 ton, maka tentunya menambah penerimaan pemerintah sebesar Rp. 312.958.350.000, pada tahun 2010,

Sementara itu, apabila pemerintah menurunkan tarif impor beras dari Rp. 450 per kg menjadi Rp. 200 per kg (skenario 1), maka penerimaan pemerintah dari tarif impor beras turun dari Rp. 312.958.350.000,- menjadi Rp. 166.601.200.000,- atau sebesar 46,76 persen. Penurunan penerimaan pemerintah ini disebabkan karena turunnya tarif impor beras dari Rp.450 per kg menjadi Rp. 200 per kilo gram, meskipun volume impor beras meningkat dari 695.463 ton menjadi 833.006 ton.

Sebaliknya apabila pemerintah menaikkan tarif impor beras dari Rp. 450 per kg menjadi Rp. 700 per kg (skenario 2), maka penerimaan pemerintah naik dari Rp.312.958.350.000,- menjadi Rp. 327.696.208.000,-. Kenaikan penerimaan pemerintah ini disebabkan karena

nggi tarif impor beras yang ditetapkan, walaupun impor dan konsumsi beras dalam negeri menurun sebesar 104.659 ton yang disebabkan karena naiknya harga beras dalam negeri.

(9)

22

|

EDISI 01 • TAHUN XX • MEI 2014

dengan baik khususnya dampak tarif terhadap permintaan dan penawaran beras di dalam negeri. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa apabila pemerintah menaikkan tarif impor beras, maka penerimaan pemerintah dari tarif impor beras akan meningkat, disebabkan naiknya tarif impor namun karena permintaan dalam negeri berkurang sebagai akibat kenaikan harga di dalam negeri yang memaksa konsumen untuk mengurangi konsumsinya dan produksi beras dalam negeri meningkat, sehingga kenaikan penerimaan pemerintah atas kenaikan tarif tersebut rela f sangat kecil. Sebaliknya apabila pemerintah menurunkan tarif impor beras, maka penerimaan pemerintah menurun, disebabkan besarnya penurunan tarif impor dak sebanding dengan peningkatan permintaan beras dan penurunan volume produksi dalam negeri. Dengan demikian peningkatan tarif impor dak menjamin penerimaan pemerintah meningkat, dan sebaliknya penurunan tarif juga dak menjamin turunnya penerimaan pemerintah dari tarif impor beras.

Dampak Kebijakan Tarif Impor terhadap

Kesejahteraan Masyarakat

Dampak kebijakan pemerintah dapat diukur dari kesejahteraan masyarakat atau perekonomian secara keseluruhan (Total Net Walfare Eff ect). Ukuran ini sudah memperhitungkan perubahan-perubahan yang terjadi pada surplus produsen, surplus konsumen dan penerimaan pemerintah.

Berdasarkan uraian sebelumnya bahwa penerapan kebijakan penurunan tarif impor beras dari Rp. 450 per kg menjadi Rp 200 per kg memberikan pengaruh nega f terhadap peningkatan produksi yang akan berdampak pada penurunan surplus produsen sebesar Rp. 5.832.455.874.000,-. Akan tetapi kebijakan tersebut memberikan dampak posi f terhadap surplus konsumen sebesar Rp. 6.124.775.452.000,-, dan penerimaan pemerintah turun dari Rp. 312.958.350.000,- menjadi Rp. 166.601.200.000,- atau turun 46,77 persen. Dengan demikian penerapan kebijakan penurunan tarif impor beras sebesar Rp 200 per kg (skenari 1) dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan dari Rp. 312.958.350.000,- menjadi Rp. 458.920.778.000,-.

Sementara apabila pemerintah menaikkan tarif impor beras dari Rp. 450 per kg menjadi Rp 700 per kg akan memberi dampak posi f terhadap peningkatan produksi yang disebabkan karena naiknya harga beras dalam negeri, yang berdampak pada peningkatan surplus produsen sebesar Rp. 7.416.723.429 .000,-. Akan tetapi kebijakan tersebut memberikan pengaruh nega f terhadap surplus konsumen sebesar Rp. 7.530.529.370.000,- dan penerimaan pemerintah juga mengalami kenaikan dari Rp. 312.958.350.000. menjadi Rp. 327.696.208.000,-. Jadi penerapan kebijakan tarif impor beras sebesar Rp 700 per kg dapat menurunkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan dari Rp. 312.958.350.000,- menjadi Rp. 213.890.267.000,-.

Hasil kajian di atas, sejalan temuan Hadi dan Wiryono (2005) yang mengkaji dampak kebijakan proteksi terhadap ekonomi beras di Indonesia menemukan bahwa sistem perdagangan yang makin liberal memberikan surplus ekonomi nasional yang makin besar, hal tersebut berar ekonomi nasional makin efi sien. Namun dari segi

distribusi, produsen menerima surplus yang jauh lebih kecil daripada konsumen, yang berar aspek pemerataan manfaat dari kebijakan pemerintah dak terwujud. Mengingat bahwa petani padi pada umumnya miskin, maka keberpihakan pemerintah kepada petani sangat diperlukan untuk mengentaskan mereka dari kemiskinan. Dengan alasan ini dan alasan lain seper penyediaan lapangan kerja dan pembangunan perdesaan, maka kebijakan yang bersifat protek f masih tetap diperlukan, baik dengan pengenaan tarif impor beras, maupun pengaturan, pengawasan dan pembatasan impor beras.

(10)

EDISI 01 • TAHUN XX • MEI 2014

|

23

kesejahteraan produsen berkurang. Besarnya perubahan penerimaan pemerintah dak hanya ditentukan oleh perubahan tarif, tetapi juga oleh faktor lain, seper elas sitas transmisi harga dan elas sitas permintaan dan penawaran.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah dikemukakan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

Kebijakan tarif impor, apabila hanya dilihat dari sisi produsen, menunjukkan bahwa semakin nggi tarif impor yang diterapkan oleh pemerintah akan menyebabkan

ngginya harga beras di dalam negeri, yang berdampak terhadap naiknya harga gabah di ngkat petani, sehingga memacu produsen/petani untuk meningkatkan produksi beras dalam negeri, sehingga kesejahteraan produsen/ petani meningkat.

Kebijakan tarif impor beras, jika hanya dilihat dari sisi konsumen saja, maka semakin nggi tarif impor yang dikenakan terhadap komoditas beras, akan menyebabkan ngginya harga beras di dalam negeri, sehingga memaksa konsumen untuk mengurangi konsumsinya, yang tentunya mengakibatkan permintaan beras dalam negeri berkurang, dan kesejahteraan konsumen akan menurun.

Kebijakan pemerintah menaikkan tarif impor beras, dak menjamin penerimaan pemerintah dari tarif impor akan meningkat, dan sebaliknya penurunan tarif impor juga dak menjamin turunnya penerimaan pemerintah atas tarif impor beras. Besarnya perubahan penerimaan pemerintah dak hanya ditentukan oleh perubahan tarif, tetapi juga oleh faktor lain, seper elas sitas transmisi harga, serta elas sitas permintaan dan penawaran.

Liberalisasi perdagangan beras (pembebasan tarif) memberikan surplus ekonomi nasional yang makin besar, hal tersebut berar ekonomi nasional makin efi sien. Namun dari segi distribusi, produsen menerima

surplus yang makin jauh lebih kecil daripada konsumen, yang berar aspek pemerataan manfaat dari kebijakan pemerintah dak terwujud. Oleh karena petani padi pada

umumnya miskin, maka keberpihakan pemerintah kepada petani sangat diperlukan untuk mengentaskan mereka dari kemiskinan. Dengan alasan ini dan penyediaan lapangan kerja serta pembangunan perdesaan, maka kebijakan yang bersifat protek f masih tetap diperlukan, baik dengan pengenaan tarif impor beras, maupun pengaturan, pengawasan dan pembatasan impor beras.

Rekomendasi

Penerapan kebijakan tarif impor beras untuk melindungi produsen/petani di dalam negeri dan sekaligus meningkatkan produksi beras dalam negeri perlu dipertahankan, namun perlu diiku dengan kebijakan lain yang dapat meringankan beban konsumen, terutama konsumen dari kalangan rumah tangga miskin.

Untuk tetap mempertahankan kesejahteraan rakyat (konsumen) yang telah dirugikan akibat diterapkannya kebijakan impor maka sebaiknya pemerintah memberikan kompensasi kerugian kepada konsumen seper operasi pasar dan beras miskin (raskin).

(11)

24

|

EDISI 01 • TAHUN XX • MEI 2014

DAFTAR PUSTAKA

Amrullah, S. 2005. Beras Dalam Dinamika Ekonomi Poli k. Majalah Pangan, 14 (44): 48 – 60.

Chris anto, E., 2013. Faktor Yang Memengaruhi Volume Impor Beras Di Indonesia. Jurnal JIBEKA Volume 7 No 2 Agustus 2013: 38 – 43.

Ellis, F. 1992. Agricultural Policies in Developing Countries. Cambridge University Press, New York.

EOCD. Kebijakan-kebijakan dalam bidang Pertanian: Pemantauan dan Evaluasi 2013 Negara-negara OECD dan Negara-negara Berkembang. www. oecd.org/publishing/corrigenda

Hadi, P.U. dan B. Wiryono. 2005. Dampak Kebijakan Proteksi Terhadap Ekonomi Beras di Indonesia. Hasil Peneli an. Pusat Peneli an Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor

Irawan, P.B. 2001. Dimensi Kemiskinan dan Kewaspadaan Pangan. Majalah Pangan. 10 (37): 30 – 36.

Irianta, B. (2004) Analisis dampak kebijakan tarif impor beras terhadap daya saing dan profi tabilitas usahatani

padi sawah di Propinsi Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan periode 2002-2003. h p://www.digilib.ui.ac.id/ opac/ themes/libri2/detail.jsp?id=90381&lokasi=lokal.

Krugman, P.R., and M. Obs eld. 2002. Interna onal Economics, Theory and Policy. Addi on Westey Publishing Company, USA.

Mursyid, A. M., Sutomo, dan A. Syaefullah. 1992. Meredam Gejolak Harga. Media Komunikasi dan Informasi Pangan, Jakarta, 3 (12): 43–54

Nopirin, 1990. Ekonomi Internasional. Edisi Ke ga. Balai Penerbit Fakultas Ekonomi universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Pindiyck, R.S., dan D.L. Rubinfeld. 2007. Microeconomic. Edisi Keenam. Indeks, Jakarta.

Pranolo. T. 2002. LoI - IMF dan Implikasinya Terhadap Peranan Bulog. Dalam Bulog: Pergulatan Dalam Pemantapan Peranan dan Penyesuaian Kelembagaan. Kumpulan Naskah Dalam Rangka Menyambut 35 Tahun Bulog. Editor: M. H. Sawit, T. Pranolo, A. Saifullah, B. Djanuardi, dan Sapuan. Ins tut Pertanian Bogor-Press. Bogor.

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian. 2013. Bule n Analisis Perkembangan Harga Komodi Pertanian. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Sekretariat Jenderal Kementrian Pertanian. www.pusda n.deptan.go.id

Rachman,H.P.S., S.H. Suhar ni, dan G. S. Hardono. 2008. Dampak Liberalisasi Perdagangan Terhadap Kenerja Ketahanan Pangan Nasional. Pusat Peneli an Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor

Riyadi, D. M. M. 2002. Permasalahan dan Agenda Pengembangan Ketahanan Pangan. Prosiding Seminar: Tekanan Penduduk, Degradasi Lingkungan dan Ketahanan Pangan. Pusat Studi Pembangunan dan Proyek Koordinasi Kelembagaan Ketahanan Pangan, Bogor.

Saefullah, A. 1991. Government Interven on and Rice Price Stabiliza on in Indonesia. Indonesian Food Journal, Jakarta, 2(3): 80 – 102.

Sapuan. 2000. Perjalanan Bulog 35 Tahun: Refleksi Terhadap Pelaksanaan

Tugas Pokoknya. Dalam Bulog: Pergulatan Dalam Pemantapan Peranan dan Penyesuaian Kelembagaan. Kumpulan Naskah Dalam Rangka Menyambut 35 Tahun Bulog. Editor; M. H. Sawit. T. Pranolo, A. Saifullah, B. Djanuardi,. Ins tut Pertanian Bogor, Bogor.

Sawit, M.H. 2006. Indonesia dalam Tatanan Perubahan Perdagangan Beras Dunia. h p//www.bulog.co.id./htm. [17 Jun 2008].

Melindungi Industri Padi/Beras: Menerapkan Tarif Kuota dan Menerapkan. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian.

Sawit, M H., dan I.W. Rusastra (2005), “Globalisasi dan Ketahanan Pangan di Indonesia”, bagian laporan peneli an Road Map Memperkuat Ketahanan Pangan, PEM UI, Jakarta

Simbolon, J.S.C. 2005. Analisis Integrasi Pasar Beras Domes k dengan Pasar Beras Dunia. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian, Ins tut Pertanian Bogor. Bogor.

Tabor, S.R. 2002. “State Trading Enterprises and Tarif Quota’s: Issues and Debates”, EMSI Netherland (mimeo).

(12)

EDISI 01 • TAHUN XX • MEI 2014

|

25

ABSTRAK

K

eberlanjutan pertanian dalam rangka menghasilkan pangan akan banyak dipengaruhi oleh SDM pertanian. SDM pertanian dalam hal ini adalah petani petani akan menggerakkan sejauh apa produk vitas pertanian dalam meneghasilkan pangan. Secara faktual Indonesia banyak membutuhkan suplai dari Negara lain untuk memenuhi kecukupan pangan. Apabila kondisi tersebut berlanjut maka keinginan untuk mencapai kedaulatan pangan tentu jauh dari harapan. Kesenjangan-kesenjangan tersebut memberikan arah dan tujuan

dari kajian yaitu: (a) menguraikan kondisi tantangan global terhadap ketersediaan pangan dan dinamikanya, (b) menguraikan karakteris k SDM pertanian saat ini, dan (c) menganalisis implikasi karakteris k SDM terhadap Kedaulatan pangan. Metode kajian menggunakan studi pustaka dengan pemaknaan terhadap data sekunder. Hasil analisis menunjukkan bahwa: (i) kompleksitas tantangan global memberikan indikasi Indonesia perlu meningkatkan ketersediaan pangan, (ii), karakteris k SDM pertaniaan saat ini memiliki kualifi kasi daya saing yang rendah dan (iii) diperlukan upaya sistema s dalam memfasilitasi regenarasi SDM pertanian dalam menyongsong era persaingan pasar bebas.

Kata Kunci: Regenerasi, SDM Pertanian, dan Kedaulatan Pangan

PENDAHULUAN

P

ertanian adalah salah satu sektor vital dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pertanin juga memiliki peran strategis bagi kehidupan bangsa. Kondisi yang vital dan dan strategis ini secara keseluruhan dak dapat digan kan oleh sector lainnya.

Pertanian adalah penyedia pangan bagi penduduk Indonesia. Pertanian adalah pabrik alami yang menghasilkan produk-produk pangan yang amat dibutuhkan oleh seluruh bangsa Indonesia. Sebagai penyedia pangan, maka pertanian memiliki peran yang tak tergan ka oleh sector lainnya.

URGENSI REGENERASI SDM PERTANIAN DALAM

UPAYA MENCAPAI KEDAULATAN PANGAN

Muksin

Bustang A.M.

Politeknik Negeri Jember

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

Pertanian juga merupakan penyedia mayoritas dari bahan baku industri kecil dan menengah. Sekitar 87% bahan baku dari industry kecil dan menengah adalah berbasis dari proses pertanian. Pertanian dengan demikian memberikan potensi bagi dinamika perekonomian bangsa.

(13)

26

|

EDISI 01 • TAHUN XX • MEI 2014

Apabila dilihat dari perspek f kepen ngannya pada jumlah tenaga kerja, maka pertanian menyerap sekiar 33,32% total tenaga kerja. Kondisi lainnya adalah bahwa pada rumah tangga pedesaan bergantung sekitar 70% dari sector pertanian sebagai sumber utama pendapatan. Dalam konteks ketenagakerjaan, maka pertanian memiliki peran vital dalam menutup lubang pengangguran terbuka yang semakin besar. Kondisi tersebut memberikan klarifi kasi bahwa pertanian menjadi factor penutup bagi

potensi pengangguran yang besar. Terdapat fakta bahwa pertanian adalah suatu keniscayaan bagi keberlanjutan kehidupan manusia, dalam konteks penyediaan pangan (Luckey, et al: 2013)

Sisi lain dari pertanian adalah sektor ini memiliki peran yang dak ringan dari upaya mencegah atau menyelesaikan masalah lingkungan. Sebagai “organisasi” yang bersandar dari proses alamiah, maka pertanian memiliki peran dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 8 juta ton (Kementerian pertanian, 2014). Peran terhadap upaya menjaga kelestarian amat vital di tengah semakin meningkatnya persoalan-persoalan lingkungan dewasa ini.

Peran strategis pertanian memberikan sinyal bahwa peran-peran pen ng tersebut dak dapat digan kan oleh sector lainnya. Ketetapan peran-peran strategis tersebut, tentu dapat diupayakan apabila kondisi atau factor-faktor penyokong tersebut antara lain adalah SDM pertanian sebagai kelompok pengelola dari “organisasi” pertanian.

Peran strategis juga secara linear akan berdampak terhadap kemampuan menerjemahkan tantangan-tantangan dari luar. Tantangan dari luar dalam hal ini adalah lingkungan global yang memberikan potensi untuk memperbesar peran pertanian dalam mensejahterakan bangsa ataukah sebaliknya. Ar nya peran pertanian yang lemah tentu akan memberikan dampak yang kurang menguntungkan pada kondisi ketersediaan pangan bangsa dan juga implikasi ketergantungan terhadap Negara lainnya.

Isu-isu terkait pangan pada masa depan akan menjadi isu pen ng dan masuk dalam ranah atau kawasan yang berpotensi menjadi sumber konfl ik.

Kondisi ini didasarkan pada fakta bahwa ketersediaan pangan dan jumlah kebutuhan terhadap pangan daklah sebanding. Dalam konteks ketersediaan pangan aspek-aspek terhadap kemampuan produksi dianggap lemah, sedangkan kebutuhan pasokan atau permintaan dari waktu ke waktu terus meningkat.

Beberapa kondisi yang kurang menguntungkan memberikan kontribusi signifikan dalam konteks

kemampuan produksi pertanian. Semakin mengecilnya lahan pertanian, konversi lahan pertanian yang terus berlanjut, kerusakan lingkungan, dan mutu kelembagaan petani yang dinilai rendah adalah kondisi-kondisi yang kurang menguntungkan tersebut. Bila terus berlanjut kondisi ini tentu berdampak nega ve terhadap kemampuan produksi dalam negeri sekaligus menurunnya daya saing.

Daya saing yang lemah tentu akan merugikan Indonesia mengingat pasar terpadu ASEAN sudah di depan mata. Sebagaiman kita kitehui bahwa implementasi

The ASEAN Economic Community (AEC) akan berlaku pada tahun 2015. Integrasi pasar dan pintu masuk pasar global yang dak dian sipasi, tentu akan sangat merugikan bangsa Indonesia.

Salah satu faktor pen ng bagi upaya melakukan proses produksi yang tepat, adalah dengan menyiapkan SDM yang memenuhi standar kebutuhan sector pertanian. SDM yang tepat yang dibutuhkan adalah sesuai dengan kebutuhan dalam rangka memenuhi upaya-upaya yan dapat dilakukan dalam memenuhi ekspektasi daya saing yang tepat. Dalam konteks ini para pelaku atau SDM yang tepat sangat diharapkan dapat melaksanakan kegiatan pertanian yang sesuai.

SDM pertanian yang tangguh, akan memberikan peran yang sesuai dengan kondisi persaiangan saat ini. SDM yang memliki kompetensi tentu memberikan kontribusi pada kemajuan usaha tani. Kesiapan, kualifi kasi

dan kompetensi yang memadai sebagai SDM usahatani akan berontribusi dalam produk vitas, daya adaptasi dan keberlanjutan usahatani. Apabila kondisi atau situasi peran SDM pertanian dapat diselenggarakan, maka berdampak pada signifi kan dalam memfasilitasi upaya

(14)

7

Berdasarkan latar belakang tersebut maka menilai kembali bagaimana SDM pertanian dan peran yang dapat dimainkan adalah upaya vital yang sangat secara potensial dan actual akan memberikan jawaban terhadap persoalan-persolan pertanian, produksi, maupun daya saing serta kedaulatan pangan. Kedaulantan pangan telah menjadi suatu tahapan sangat vital dalam keberlanjutan kehidupan berbangsa dan bernegara. Berfokus pada pemikiran tersebut maka tujuan dari penulisan ar kel ini adalah: (a) menguraikan kondisi tantangan global terhadap ketersediaan pangan dan dinamikanya, (b) menguraikan karakteris k SDM pertanian saat ini, dan (c) menganalisis implikasi karakteris k SDM terhadap Kedaulatan pangan.

METODE PENELITIAN

Metode pengkajian terhadap relevansi regenerasi SDM untuk pencapaian kedaulatan pangan menggunakan penelusuran pustaka (studi pustaka) khususnya yang terkait dengan SDM pertanian terkini. Penelusuran sumber pustaka memanfaatkan hasil peneli an terdahulu baik dari publikasi on line maupun referensi dalam bentuk buku, berkala maupun sumber ilmiah lainnya. Kajian terhadap hasil peneli an diharapkan dapat memberikan informasi terkini yang relevan dengan kondidi SDM petani.

Untuk menghasilkan analisis yang relevan, maka pengamatan terhadap data utama dilakukan terhadap hasil data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Sta s (BPS) dan data bersumber dari peneli an lainnya atau peneli an terdahulu. Peneli an terdahulu yang dimaksud adalah peneli an yang dilakukan oleh peneli maupun karya peneli lainnya. Peneli berupaya unutk melakukan proses pembandingan terhadap data dari hasil penelusuran pustaka, dan melakukan analisi untuk keperluan menjawab pertanyaan peneli an.

Selanjutnya dari hasil komparasi dan analisis data tersebut tersebut peneli melakukan review terhadap kajian-kajian yang memiliki substansi dan ruang lingkup masalah yang relevan. Berdasarkan review tersebut peneli melakukan sintesa untuk memberikan pemahaman dan pemaknaan atas informasi yang

diperoleh. Berdasarkan keseluruhan ak vitas tersebut peneli melakukan sintesa untuk melakukan pemaknaan dan menyusun implikasi maupun penarikan kesimpulan dari kajian tersebut. Sintesa memberikan gambaran terhadap informasi faktual di lapngan khususnya dalam kehidupan dan dinamika SDM pertanian.

HASIL DAN PEMBAHAAN

Tantangan Produksi Pertanian

Kedaulatan pangan berhubungan erat dengan produk vitas pertanian. Produk fi tas pertanian

memberi gambaran tentang kinerja pertanian dalam penyelenggaraan usahatani. Kinerja usahatani adalah hasil yang dicapai dalam bentuk ouput proses produksi. Produk vitas pertanian berhubungan erat secara langsung dengan dengan faktor-faktor sumberdaya. Faktor-faktor sumberdaya adalah sumberdaya alam termasuk lahan, air, iklim, sumberdaya sarana produksi dan sumberdaya manusia sebagai pelaku usahatani. Faktor-faktor sumberdaya tersebut saling berinteraksi dalam menentukan dinamika produk vitas pertanian (Muksin, 2014).

Salah satu ukuran produk vitas pertanian dapat dikaitkan dengan kondisi ketersediaan pangan nasional dan dinamika untuk memenuhi kebutuhan pangan tersebut. Kebutuhan dari pangan nasional cukuop besar dapat diama dari nilai rupiah yang dibelanjakan dari APBN untuk kebutuhan pangan tersebut. Sebagaimana hasil kajian beberapa peneli an bahwa pada tahun 2009 sekitar 5 persen dari APBN atau sekitar 50 triliun digelontorkan untuk menyediakan atau membeli enam komoditas pangan, yaitu kedelai, gandum, daging, sapi, susu dan gula, termasuk garam. Kondisi ini menunjukkan betapa besarnya ketergantungan pangan kita kepada negara lain.

(15)

28

|

EDISI 01 • TAHUN XX • MEI 2014

terus menuruan. Data beberapa peneli an menyebutkan bahwa secara ideal angka pasokan pangan atas kebutuhan jumlah penduduk, saat ini dinilai berada pada angka ketersediaan 30-40persen dari jumlah keseluruhan. Kondisi tersebut secara factual tentu mempriha nkan dan banyak memunculkan banyak kekhawa ran.

Semakin meningkatnya permintaan pangan, sementara pasokan terhadap pangan dak sebanding mengakibatkan terjadinya kecenderungan peningkatan harga terhadap pangan. Kecenderungan harga pangan tersebut misalnya terjadi pada gandum, padi, dan jagung serta beberapa komodi lainnya khususnya komodi yang dapat digunakan sebagai bahan pangan dan bahan baku energi. Kelangkaan pangan selain factor-faktor tersebut, juga dipicu oleh “alih fungsi” beberapa komodi pertanian yang pada awalnya dimanfaatkan untuk bahan baku pangan, pada saat ini juga diupayakan sebagai bahan baku untuk menghasilkan energy.

Beberapa materi dan tanaman, seper kelapa sawit, jagung, ubi kayu, tebu, tanaman jarak, kemiri sunan dan kotoran ternak dapat diolah menjadi sumber energi. Permintaan energi final masa mendatang

akan naik hampir ga kali lipat tahun 2030, dan BBM masih mendominasi dengan porsi sebesar 31,1 persen. “Perebutan” peruntukan bahan baku tersebut berimbas terhadap ketersediaan pangan (Kementan, 2014).

Indonesia sampai saat ini adalah Negara pengimpor bahan pangan seper gandum, beras, dan kedelai dan beberapa komoditas lainnya. Jumlah impor tersebut memiliki konsekuensi ketergantungan Indonesia terhadap beberapa Negara untuk memenuhi kebtuhan pangan. Semakin besar jumlah kebutuhan pangan, semakin besar ketergantungan Indonesia terhadap Negara-negara penyedia pangan. Bila kondisi tersebut berlanjut maka krisis pangan akan benar-benar terjadi. Kecenderungan semakin meningkatnya impor beberapa komoditas oleh Indonesia, dinilai sebagai kondisi yang membahayakan. Indonesia dinilai sudah masuk dalam jebakan pangan (food trap) (Wibowo, 2014).

Terdapat penilaian yang dikemukakan oleh ahli sosiopoli k bahwa dinamika ketersediaan pangan bagi penyuplai dan bagi Negara-negara yang membutuhkan

dapat dijadika sebagai alat tukar. Negara-negra yang memiliki kecukupan atas pangan sangat mungkin akan dapat “mendikte” atau bahkan mengontrol terhadap Negara-negara yang membutuhkan pangan. Dalam konteks ini maka interaksi dalam perdagangan pangan dapat menjadi alat tukar poli k atas suatu kepen ngan tertentu dari suatu Negara.

Produksi pangan berasal dari proses produksi pertanian. Sementara produksi dan perdagangan yang terkait langsung dengan sarana produksi hanya dikuasai atau dikontrol oleh hanya lima Mul na onal Corpora on

(MNC), sehingga petani hanya memiliki peran kecil dalam kontribusi terhadap perdagangan. Dengan demikian krisis pangan dan ancaman terhadap ketersediaan pangan disejajarkan dengan konsepsi ancaman tradisional dan non tradisional pada keamanan nasional. Krisis terhadap keberlanjutan pertanian adalah konsekuensi logis dari kondisi saat ini. Sebagaimana tela diuraikan bahwa produk vitas pertanian terus mengalami penurunan. Produk vitas yang menurun memberikan ancaman serius terhadap kedaulatan pangan. Bahkan ancaman terhadap krisis pangan dimasukkan sebagai ancaman serius terhadap ketahanan dan kemanan Negara (Bappenas, 2009).

Karakteris

Ɵ

k Petani

Sebagaimana data Badan Pusat Sta s k (BPS) bahwa hampir 67 persen angkatan kerja menggantungkan hidupnya di sektor pertanian. Kondisi ini memberikan gambaran bahwa peran pertanian cukup ngggi. Sektor pertanian dengan demikian masih menjadi salah satu media dalam menutupi potensi pengangguran terbuka.

(16)

EDISI 01 • TAHUN XX • MEI 2014

|

29

terjadi penurunan ditandai dengan menyempitnya lahan pertanian. Kepemilikan lahan oleh petani semakin rendah secara signifi kan.

Beberapa masalah lain yang terkait dengan sumberdaya alam dan lingkungan adalah masalah lain iklim yang dak menentu, rusak atau adanya jaringan irigasi sebagai akibat langsung dari adanya konversi lahan, kecenderungan rusaknya lahan pertanian sebagai akibat laju peningkatan pelaksanaan intensifi kasi pertanian,

indikasi meningkatnya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) sebagai akibat ke dakseimbangan ekologis (muksin, 2002), meningkatnya persaingan produk pertanian khususnya tanaman pangan dan hor kultura yang berasal dari luar negeri, dan produk vitas Sumberdaya Manusia (Wibowo, 2014). Faktor sumberdaya manusia bahkan dianggap yang paling menonjol apabila dilihat dari karakteris k petani dan potensi persaingan yang akan dihadapi oleh bangsa Indonesia.

Secara sta s k karakteris k petani Indonesia kurang menggembirakan. Masih berdasarkan hasil sensus tahun 2003 jumlah petani gurem (keluarga petani yang menguasai lahan kurang dari 0,5 ha) sekitar 31,17 juta. Jumlah tersebut menurun bila dibandingkan hasil sensus tahun 2013 sebesar 26,13 juta. Kondisi tersebut menunukkan terjadi penyusutan sebasar 5,04 juta petani guem yang umumnya adalah petani tanaman pangan atau hampir berjumlah 75 persen.

Kehilangan atau adanya jumlah petani sebanyak 5 juta orang adalah jumlah yang signifi kan apabila

dikornversi sebagai sumberdaya yang menghasilkan output pangan. Semakin menurunnya jumlah petani tentu berkorelasi langsung dengan jumlah output pangan yang dihasilkan, dengan sumsi bahwa petani yang hilang tersebut adalah sebagian besar adalah petani tanaman pangan.

Berdasarkan peneli an hilangnya 5,04 juta petani tersebut diindikasikan sebagai meningkatnya jumlah petani yang kehilangan lahan. Ar nya petani gurem melepaskan kepemilikan lahan kepada orang lain. Petani gurem tersebut dimungkinkan berpindah profesi sebagai tenaga kasar dan buruh tani sebagai pekerja informal. Selain itu regenerasi petani berjalan sangat lambat.

Ar nya petani baru yang masuk menjadi petani jumlahnya sangat dak signifi kan dibanding dengan yang keluar dari

profesi sebagai petani.

Selain jumlah secara kuan tas, faktor umur petani juga kurang menggembirakan. Apabila dilihat dari umur produk f, saat ini mayoritas petani adalah kelompok menjeleng usia senja yang masih bekerja. Berdasarkan SP 2013 sebagian besar petani berumur diatas 45 tahun atau 50-an tahun. Kategori umur tersebut mengindikasikan fase memasuki masa pensiun dalam pelaksanaan pekerjannya. Apabila dianggap umur produk f sampai 55 tahun, maka kelompok petani yang ada saat ini adalah kelompok yang hanya menyisakan beberapa tahun saja untuk pensiuan. Ar nya pada tahap ini, petani kurang memiliki kemampuan secara fisik untuk melakukan

pekerjaan-pekerjaan usaha tani.

Pada aspek ngkat pendidikan, mayoritas petani juga memperiha nkan. Para generasi tua petani berpendidikan Sekolah dasar (SD). Petani yang berpendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat jumlahnya cukup kecil yaitu sekitar 5 persen. Tingkat pendidikan formal memiliki pengaruh langsung dalam kemampuan berpikir dan ketanggapan merespon dinamikan lingkungan usahatani dan penguasaan teknologi. Penguasaan teknologi petani digolongkan hanya mengaplikasikan teknologi tradisional. Selain itu kemampuan petani dalam menerjemahkan tantangan dinamika lingkungan saat ini juga belum memenuhi harapan yang diinginkan (Muksin, 2007).

Selain faktor tersebut, factor mo vasi para petani umumnya rendah. Indikasi dari hal tersebut adalah adanya alasan bertani. Sebagian besar alasan menjalankan usaha karena dak memiliki kemampuan lain. Para petani menganggap sebenarnya usahatani dinilai dak menguntungkan secara signifikan (Muksin, 2007).

(17)

30

|

EDISI 01 • TAHUN XX • MEI 2014

penyelenggaran penyuluhan, dan kesulitan menghitung secara kuan ta f kontribusi atau keuntungan secara ekonomis atas penyelenggaraan (Milburn et al., 2010).

Petani adalah manajer dari usahataninya. Petani adalah SDM yang dengan segala keterbatasan atau kelebihannya akan melaksanakan usaha tani. Petani sebagai pengelola adalah Sumber Daya Manusia (SDM) yang menyelenggarakan proses usaha. SDM dalam usahatani akan menentukan bagaimana produk vitas usahatani melalui kemampuan menjalankan usaha dan proses pengambilan keputusan. Kemampuan yang dimaksud adalah bagaimana petani melaksanakan teknis budidaya, pemanenan, pengelolaan pasca panen, dan pemasaran, serta kemampuan merespon dinamika lingkungan yang terkait dengan usahatani. Kemampuan merespon adalah kemampuan petani dalam menerjemahkan kebutuhan dalam menjalankan usahataninya, menyikapi dan menerjemahkan tantangan-tantangan termasuk ancaman-ancaman terhadap usaha taninya. Kemampuan petani akan mengarahkan petani dalam menjalankan usahataninya secara efi sien dan

efek f dalam mencapai tujuan.

Secara faktual ngkat kemampuan kemampuan petani yang menopang produk vitas usahatani masih dinilai rendah. Indikator lemahnya kemampuan petani antara lain jumlah petani yang semakin berkurang. Indikator lainnya adalah melemahnya kemampuan fi sik

dan non fi sik yang terkait langsung dengan umur petani,

dan melemahnya mo vasi petani dalam menjalankan usaha tani (Muksin, 2014).

Kesimpulan dan Implikasi

Kemampuan menghasilkan produk pertanian dipengaruhi oleh luas lahan, mutu lahan, dinamika lingkungan dan iklim, input teknologi dan jumlah maupun mutu dari SDM petani. Apabila lahan dan dinamika iklim adalah sesuatu yang memerlukan kebijakan eksternal dan kolabora f seluruh pelaku pertanian di dunia, maka SDM petani dalam konteks ini akan lebih banyak bertumpu pada kemampuan petani dan kebjujakan internal dari Negara masing-masing. Ke dakmampuan SDM petani atau rendahnya SDM petani dari suatu Negara, dak akan

lantas merugikan Negara bersangkutan, akan tetapi lebih banyak kepada Negara tersebut.

Berdasarkan uraian sebelumnya bahwa produk vitas SDM petani yang menurun berkaitan dengan jumlahnya, umur, kemampuan, dan mo vasi melaksanakan usaha. Kondisi produk vitas petani yang menurun, mengindikasikan adanya kebutuhan regenerasi dari pelaku usahatani. Apabila kondisi rendahnya SDM tak tergan kan, maka krisis pangan dan kedaulatan bangsa ini tentu dipertaruhkan.

Regenerasi akan diharapkan memebrikan “energi’ baru baik yang bersifat fi sik maupun non sik. Bersifat sik

terkait dengan kebutuhan umur produk f yang secara jasmaniah mampu menopang kerja-kerja fi sik dalam

usahatani. Bersifat non fi sik terkait dengan kemampuan

belajar untuk selanjutnya melakukan adopsi inovasi dalam menjalankan usaha tani. Kemampuan belajar terus-menerus dan penguasaan terhadap teknologi khususnya dalam pemanfaatan teknologi informasi akan berdampak posi f bagai peningkatan daya saing petani.

Regenerasi adalah pergan an SDM baik dalam makna sebagai pelaku pertanian maupun sebagai pergan an paradigma berpikir tentang pertanian. Regenerasi adalah pergan an pelaku usahatani yang memiliki kemampuan memadai dalam menjalankan usahatani untuk merespon dinamika lingkungan. Pergan an dan keberlanjutan generasi dalam melanjutkan usahatani, bermakna melanjutkan kon nyuitas proses produksi pertanian dan menjaga kesinambungan ketersediaan pangan, serta keberlanjutan pertanian dalam jangka panjang. Dengan potensi yang besar pada SDM pemuda, maka adanya permasalahan usahatani di Indonesia amat mungkin diatasi.

(18)

EDISI 01 • TAHUN XX • MEI 2014

|

31

Regenerasi menjadi kebutuhan untuk memfasilitasi produk vitas SDM pelaku usahatani. SDM usahatani yang dak memiliki daya saing atau kompetensi dalam mengupayakan usahatani dan agribisnis pada hakekatnya adalah ancaman seja terhadap kedaulatan pangan. Perlu upaya serius dalam menata dan membuat roadmaph regenerasi SDM petani dan kemampuan memproduksi pangan. Kedaulatan pangan menjadi terminology fi nal

untuk memberdayakan Indonesia sebagai bangsa. Kondisi tersebut memberikan alasan logis keperluan regenerasi pertanian. Regenerasi pelaku usaha tani adalah keberlanjutan usahatani untuk menyediakan pangan bagi bangsa. Bangsa yang dak dapat menyediakan pangan, adalah bangsa yang lemah. Regenerasi menjadi kewajiban bersama untuk merespon kondisi kebutuhan pangan dalam negeri, dan merespon persaingan di lingkungan global.

Mewujudkan upaya regenerasi yang tepat, menjadi keharusan semua pihak. Pihak-pihak dimaksud adalah pemerintah, swasta, maupun masyarakat. Ke ga komponen bangsa ini seharusnya melakukan upaya sistema s untuk memfasilitasi terintegrasinya rencana, implementasi, dan evaluasi dalam memberdayakan SDM pertanian khususnya pola regenerasi yang dikembangkan. Kebutuhan mendesak terhadap regenerasi, kebutuhan terhadap peningkatan kompetensi petani berikutnya seharusnya sudah menjadi salahsatu blueprint yang diketahui oleh semua pihak atau komponen bangsa.

DAFTAR PUSTAKA

Bappenas, 2009. Grand Strategi Keamanan Nasional. Bppenas, Jakarta.

BPS. 2003a. Sta s k Pemuda Indonesia 2003. BPS, Jakarta

____. 2003b. Sensus Pertanian 2003 Angka Nasional hasil Penda aran Rumah Tangga (Angka Sementara). BPS, Jakarta.

____. 2003c. Sensus Pertanian 2003 Hasil Penda aran Rumah Tangga Propinsi Jawa Timur. BPS, Jakarta.

Luckey, AN., TP. Murphrey, RL. Cummins. 2013. Assessing Youth Percep ons and Knowledge of Agriculture: The Impact of Par cipa ng in an AgVenture Program. Journal of Exten on (JoE). Volume 51, Number 3: 2. Diakses pada 2 Maret 2014) dari www.joe.org

Milburn, LS., SJ. Mulley, and C. Kline, 2010. The End of the Beginning and the Beginning of the End: The Decline of Public Agricultural Extension in Ontario. Journal of Exten on (JoE). Volume 48, Number 6: 5-6. (Diakses pada 2 Maret 2014) dari www.joe.org

Muksin. 2007. Kompetensi Pemuda Tani yang Perlu dikembangkan di Jawa Timur. IPB, Bogor, Hal 154-161.

.2014. Implikasi Minat Dan Kompetensi Agribisnis Pemuda Pedesaan Terhadap Kedaulatan Pangan. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional UNS, 24 April 2014.

Rosset P., 2011. Food Sovereignty and Alterna ve Paradigms to Confront Land Grabbing and the Food and Climate Crises. Development. Volume 54, Number 1: 21-30. (Diakses pada 7 Maret 2014) dari www.search.proquest.com

Suswono. 2014. Kebijakan Pembangunan Pertanian Untuk Mewujudkan Kedaulatan Pangan dan Energi dalam Menyongsong Era Asia. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional UNS, 24 April 2014

Figur

Tabel 1. menunjukkan bahwa dalam beberapa
Tabel 1 menunjukkan bahwa dalam beberapa . View in document p.3
Tabel 1. Data Produksi, Konsumsi, dan Impor Beras Indonesia Tahun 2001 sampai 2010
Tabel 1 Data Produksi Konsumsi dan Impor Beras Indonesia Tahun 2001 sampai 2010. View in document p.3
Tabel 2. Pengukuran Dampak Kebijakan Peningkatan Tarif Impor Beras
Tabel 2 Pengukuran Dampak Kebijakan Peningkatan Tarif Impor Beras. View in document p.6
Tabel 3.|EDISI 01 • TAHUN XX • MEI 2014
Tabel 3 EDISI 01 TAHUN XX MEI 2014 . View in document p.6
Tabel 3. Analisis Dampak Kebijakan Peningkatan Tarif Impor Beras
Tabel 3 Analisis Dampak Kebijakan Peningkatan Tarif Impor Beras. View in document p.7

Referensi

Memperbarui...