TESIS
SASTRA LISAN LAKON
LAHIRE PANJI
PADA PERTUNJUKAN
WAYANG TOPENG MALANG PADEPOKAN MANGUN DHARMA
(Kajian Sastra Lisan Ruth H Finnegan)
OLEH
EGGY FAJAR ANDALAS 121414153025
MAGISTER KAJIAN SASTRA DAN BUDAYA FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS AIRLANGGA
TESIS
SASTRA LISAN LAKON
LAHIRE PANJI
PADA PERTUNJUKAN
WAYANG TOPENG MALANG PADEPOKAN MANGUN DHARMA
(Kajian Sastra Lisan Ruth H Finnegan)
OLEH
EGGY FAJAR ANDALAS 121414153025
PROGRAM STUDI KAJIAN SASTRA DAN BUDAYA
FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
SASTRA LISAN LAKON
LAHIRE PANJI
PADA PERTUNJUKAN
WAYANG TOPENG MALANG PADEPOKAN MANGUN DHARMA
(Kajian Sastra Lisan Ruth H Finnegan)
TESIS
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Pada Program Magister Kajian Sastra dan Budaya
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga
Oleh
EGGY FAJAR ANDALAS 121414153025
MAGISTER KAJIAN SASTRA DAN BUDAYA FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA
vii
ABSTRAK
Cerita Panji merupakan cerita klasik Sastra Jawa yang berkembang pada periode Majapahit. Ceritanya berkisah mengenai kesatria-kesatria Jawa dengan latar tempat di Jawa, bukan India. Sebagai sebuah sastra Jawa klasik yang memiliki dampak luas terhadap kesusastraan Jawa, Cerita Panji bertransformasi dalam berbagai bentuk, salah satunya pertunjukan Wayang Topeng Malang. Sebagai dasar lakon pertunjukan Wayang Topeng Malang, Cerita Panji yang digunakan dalam pertunjukan adalah Cerita Panji Lisan. Dalam pertunjukan dalang tidak menggunakan teks baku (naskah) sebagai media dialog yang dibacakannya. Dalang menceritakan kisah dalam pertunjukannya hanya didasarkan pada aspek ingatannya saja. Salah satu lakon yang bersumber dari Cerita Panji lisan, yaitu Lahire Panji. Cerita ini mengisahkan mengenai orang tua Panji Asmarabangun, yaitu Panji Amiluhur dan Dewi Sakyaningrat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi dan transmisi, pertunjukan (struktur dan tekstur), serta fungsi cerita bagi masyarakat. Untuk menjawab ketiga permasalahan tersebut digunakan teori sastra lisan Ruth Finnegan.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra. Penelitian dilakukan di Padepokan Mangun Dharma, Desa Tulusbesar, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Sumber data penelitian, yaitu (1) pertunjukan yang dilakukan pada bulan Februari 2016 yang dipentaskan oleh Padepokan Seni Mangun Dharma, (2) dalang pertunjukan, (3) masyarakat, dan (4) dokumen. Untuk mengumpulkan data digunakan teknik (1) perekaman, (2) wawancara, (3) pengamatan, (4) pemotretan, (5) pencatatan, dan (6) studi dokumen. Adapun instrumen penelitian ini, yaitu 1) peneliti, 2) panduan wawancara, 3) catatan lapangan, dan 4) alat rekam. Analisis data dilakukan tidak hanya mendeskripsikan data yang telah diperoleh, tetapi juga memaknainya.
viii
dengan lakon Lahire Panji berfungsi sebagai media pengharapan kelahiran dan kerukunan antarmanusia, sarana pembelajaran, hiburan, dan sarana pemertahanan tradisi.
ix
ABSTRACT
Panji Tales is a classic Javanese Literature which is established during Majapahit period. It tells about Javanese knights which takes place in Java, not in India. As a classic Javanese literature that have wide influence towards Javanese literature, Panji Tales have been transformed in many forms, one of them is Malang Mask Puppet show. As the basis of the show, Panji Tales that is used is the oral Panji Tales. In that show the puppeteer does not use or read manuscript as a media of dialogue. He tells a story based on his memories. One of the plays that came from oral Panji Tales is Lahire Panji. This play tells about parents of Panji Asmarabangun, they are Panji Amiluhur and Goddes Sakyaningnrat. This research aims to figure out compositions and transmissions, shows (structures and textures), also functions of the tales for society. In order to answer these three problems, Ruth Finnegan’s theory of oral literature is used.
This is a qualitative research with sociology of literature as it’s approach. This research is conducted in Padepokan Mangun Dharma, Tulusbesar Village, Tumpang Subdistrict, Malang Regency. Data source of this research are, (1) performance that was held on February 2016 which was performed by Padepokan Sri Mangun Dharma, (2) the puppeteers of the show, and (3) documents. Techniques that are used for gathering data are (1) recording, (2) interviewing, (3) observing, (4) photographing, (5) making notes, and (6) studying documents. There are also instruments of this research such as (1) researcher, (2) interview guidelines, (3) field notes, and (4) recorder. Analysis of the data is conducted by not only descripting data which is gathered but also interpreting it.
Result of this research shows that Panji Tales which is used in puppet mask show have “fluid” characteristic with some variations and innovations in the form of “sanggitan” which is done by puppeteer in interpreting a play. Process of compositing the tale not only done before the show but also when the show is played. In the process of compositing the tales which is used in the show, some context that is influenced the puppeteer in composing it are found, they are the situation and the duration of the show. In inheriting this oral literature, the transmission way that is used is nyantrik. Transmission model to be a puppeteer of a show not only done inter-personally, but also related with God. There are two kinds of inheritance, puppeteer according to blood lines and not blood lines. According to temporal and stage aspect there are developments such as, time of the show that does not only run all night long but also few hours and there is a change in stage that used to be done in a yard, now is done on a stage. In the story of Lakon Lahire Panji that was performed is found that the story does not have a certain plot in every show. Time background that is used is not related with history. In Lakon Lahire Panji show as a puppet mask performance there are some escorting instrument which is used such as gamelan, kendhang¸ kenong, and gong with special characteristic in gamelan with pelog’s key. Costumes that are used are not standardised but based on characteristic of each padepokan in interpreting a story in their show. In another side, performance of Malang Puppet Mask Show with Lahire Panji play is functioned as media of human expectancy of birth and harmony among them, tools of learning, entertainment, and maintaining tradition.
x
KATA PENGANTAR
Pertama kali penulis mengenal Cerita Panji adalah ketika pada akhir tahun 2014 diajak
oleh saudara untuk ikut menyaksikan pertunjukan Wayang Topeng Malang. Pada kesempatan itu, penulis hanya menikmati pertunjukan sebagai bentuk hiburan semata. Pada tahun 2015, tiba-tiba penulis teringat mengenai pertunjukan tersebut. Penulis menyadari
bahwa lakon yang dimainkan dalam pertunjukan tersebut bukanlah berasal dari cerita Mahabarata maupun Ramayana, seperti pertunjukan wayang kulit. Dengan memanfaatkan
berbagai literatur yang tersedia, penulis mulai mencari tahu mengenai pertunjukan wayang topeng dan sumber lakon yang digunakan dalam cerita. Fakta yang penulis dapat bahwa
sumber lakon yang digunakan dalam pertunjukan Wayang Topeng Malang berasal dari Cerita Panji.
Dengan tumbuhnya kertarikan terhadap Cerita Panji, penulis mulai membaca
mengenai Cerita Panji dari berbagai literatur yang tersedia. Penelitian yang selama ini ada lebih banyak berbicara mengenai Cerita Panji yang berasal dari naskah-naskah kuno yang disimpan di berbagai perpustakan dalam negeri maupun luar negeri. Di sisi lain, penulis
mendapati bahwa Cerita Panji yang digunakan dalam pertunjukan Wayang Topeng Malang berasal dari sastra lisan dan dalam pertunjukannya sama sekali tidak digunakan naskah.
Cerita Panji yang digunakan dalam pertunjukan berasal dari cerita lisan generasi terdahulu yang dipelajari dan diingat oleh seorang dalang wayang topeng tanpa bantuan dari media tulis. Permasalahan mengenai Cerita Panji lisan tersebut sangat jarang mendapat perhatian
dari para peneliti. Dengan latar belakang keilmuan S1 penulis di bidang sastra—sejak S1 menekuni sastra lisan—fenomena tersebut memberikan ketertarikan kepada penulis untuk
xi
Dengan segala kendala moril maupun materil selama penelitian ini dilakukan,
akhirnya penulis mengucap syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidaya-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul “Sastra
Lisan Lakon Lahire Panji pada Pertunjukan Wayang Topeng Padepokan Mangun Dharma.” Selain sebagai syarat kelulusan pada program studi S2 Kajian Sastra dan Budaya Universitas Airlangga, penulisan tesis ini telah memberikan manfaat secara akademik maupun pribadi
kepada penulis selama proses penelitian di lapangan dilakukan.
Tentunya dalam proses penyelesaian tesis ini penulis banyak menemui halangan dan
rintangan. Akan tetapi, berkat dukungan serta bantuan kepada sejumlah pihak tesis ini dapat diselesaikan. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih
kepada pihak-pihak berikut.
1. Prof. Dr. I. B. Putera Manuaba, Drs., M.Hum. selaku dosen pembimbing I yang telah memberikan pengarahan kepada penulis dalam pelaksanaan penelitian
maupun penulisan tesis ini.
2. Dr. Trisna Kumala Satya Dewi, Dra., M.S. selaku dosen pembimbing II yang telah banyak memberikan saran dan waktu selama penulisan tesis dilakukan.
3. Diah Ariani Arimbi, S.S., M.A., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga.
4. Dra. Nur Wulan, M.A., Ph.D. selaku Ketua Jurusan Program Studi Kajian Sastra dan Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga.
5. Ki Soleh Adi Pramono, pemimpin sekaligus dalang di Padepokan Mangun Dharma,
xii
6. Kedua orang tua tercinta, Ir. Widyo Leksono dan Hartiningsih, S.Pd yang tidak
pernah lelah untuk selalu memberikan motivasi, doa, kasih sayang, dan dukungan moril maupun materiil.
7. Kakak tercinta, Yudhistira Adi Prasetya, S.S dan Aditya Hendra Leksana, dan adik tercinta drh. Radhian Fadiar Sahistya yang selalu menjadi penyemangat untuk hidup lebih baik melalui inspriasi, motivasi, dukungan, dan semangat kepada
penulis dalam menyelesaikan tesis.
8. Istriku tercinta, Dina Rini Puspitaningtyas, Amd. Kep. dengan penuh cinta dan
tanpa lelah memberikan dukungan dan semangat kepada penulis untuk menyelesaikan tesis ini.
9. Berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Penulis menyadari tesis ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karenanya,
xiii
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Pendekatan Penelitian ... 38
3.2 Lokasi Penelitian ... 39
3.3 Sumber Data ... 40
3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 41
3.5 Instrumen Penelitian ... 43
3.6 Teknik Pengalihan Wacana Lisan ke Tulisan (Transkripsi) ... 44
3.7 Analisis Data ... 44
3.8 Sistematik Penulisan ... 45
BAB IV KONDISI SOSIO-BUDAYA TUMPANG DAN SEJARAH PERTUNJUKAN WAYANG TOPENG MALANG LAKON PANJI 4.1 Kondisi Sosio-Budaya Tumpang ... 49
4.1.1 Kondisi Geografis Tumpang ... 49
4.1.2 Sistem Religi Masyarakat Tumpang ... 50
4.1.3 Mata Pencaharian Masyarakat Tumpang ... 51
4.1.4 Kesenian Masyarakat Tumpang ... 52
4.2 Sejarah Pertunjukan Wayang Topeng Malang Lakon Panji ... 53
xiv
4.2.2 Wayang Topeng Malang Padepokan Mangun Dharma ... 56
4.2.3 Sejarah Padepokan Mangun Dharma ... 57
4.2.4 Pemimpin Padepokan Mangun Dharma ... 60
4.2.5 Cerita Panji dalam Pertunjukan Wayang Topeng Malang Padepokan Mangun Dharma ... 61
BAB V TRANSMISI DAN KOMPOSISI CERITA PANJI 5.1 Proses Transmisi ... 65
5.1.1 Cara Transmisi ... 66
5.1.2 Model Transmisi Berdasarkan Garis Keturunan ... 68
5.2 Proses Komposisi ... 73
5.2.1 Proses Komposisi Cerita Masa Dahulu dan Masa Kini ... 75
5.2.2 Peran Konteks Pertunjukan dalam Komposisi Cerita ... 77
BAB VI STRUKTUR TEKS DAN TEKSTUR LAKON LAHIRE PANJI 6.1 Pertunjukan Wayang Topeng Lakon Lahire Panji ... 82
6.2 Struktur Teks Lakon Lahire Panji ... 86
6.2.1 Transkrip dan Terjemahan Teks Lisan Lakon Lahire Panji ... 86
6.2.2 Alur Cerita Lakon Lahire Panji ... 90
6.2.3 Tokoh dan Penokohan Lakon Lahire Panji ... 93
6.2.4 Latar Cerita Lakon Lahire Panji ... 96
6.2.5 Tema dan Amanat Lakon Lahire Panji ... 97
6.3 Tekstur Pertunjukan Lakon Lahire Panji ... 98
6.3.1 Instrumen Pengiring ... 98
6.3.2 Kostum ... 99
6.3.3 Gerak Tari ... 105
6.4 Kesatuan Organik ... 106
BAB VII FUNGSI CERITA LAKON LAHIRE PANJI BAGI MASYARAKAT PENDUKUNGNYA 7.1 Dalang Soleh Adi Pramono dan Cerita Panji ... 111
7.2 Fungsi Lakon Lahire Panji bagi Masyarakat Pendukungnya ... 114
7.2.1 Media Pengharapan ... 115
7.2.2 Sarana Pembelajaran ... 119
7.2.3 Hiburan ... 120
7.2.4 Sarana Pemertahanan Tradisi ... 122
BAB VIII SIMPULAN DAN SARAN 8.1 Simpulan ... 124
8.2 Saran ... 127
DAFTAR PUSTAKA ... 129
xv DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
xvi DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
Gambar I-1. Korpus Cerita Panji ... 3
Gambar IV-1. Peta Kecamatan Tumpang ... 49
Gambar IV-2. Gerbang Masuk Desa Tulusbesar... 56
Gambar IV-3. Padepokan Mangun Dharma ... 56
Gambar IV-4. Kiri: Tempat Alat Musik, Kanan: Panggung Pertunjukan ... 57
Gambar IV-5. Ki Soleh Adi Pramono ... 60
Gambar VI-1. Suasana Pertunjukan ... 84
Gambar VI-2. Ilustrasi Arena Pertunjukan ... 84
Gambar VI-3. Variasi Tata Letak Pertunjukan Padepokan Mangun Dharma ... 85
Gambar VI-4. Alur Cerita Lakon Lahire Panji Pada Pertunjukan 27 Februari 2016 91 Gambar VI-5. Alur Cerita Lakon Lahire Panji Pada Urutan Lakon Dokumentasi Ki SAP ... 92
Gambar VI-12. Instrumen Musik Pengiring Pertunjukan ... 99
Gambar VI-13. Kostum Prabu Amiluhur ... 100
Gambar VI-14. Kostum Dewi Kilisuci ... 102
Gambar VI-15. Kostum Prabu Kalingga ... 103
Gambar VI-16. Kostum Dewi Sakyaningrat ... 104
xvii DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
Lampiran I. Daftar Narasumber Penelitian... 133
Lampiran II Transkrip Wawancara ... 134
Lampiran III Lakon Lahire Panji Dokumentasi Ki Soleh Adi Pramono ... 163
Lampiran IV Lakon Lahire Panji Cerita Lisan Bukan Pertunjukan ... 166
1
Cerita Panji merupakan karya sastra asli Jawa yang menyebar luas hingga ke berbagai wilayah Nusantara, bahkan hingga Asia Tenggara daratan, yaitu Jawa, Bali, Palembang, Makasar, Lombok, Malaysia, Kamboja, dan Thailand (Poerbatjaraka, 1968: 408—410;
Zoetmulder, 1994: 532—533; Fang, 2013: 115—116; Kievan, 2014: 29—30). Cerita Panji memiliki banyak sekali varian. Pada versi tertulis (naskah), Kaeh (1989) mendaftar
setidaknya terdapat 329 naskah Panji, 140 buah di antaranya merupakan Panji Jawa (Saputra, 2014: 29). Di samping versi tertulis tersebut masih terdapat banyak lagi versi cerita lisannya yang belum terdata. Bahkan terdapat beberapa dongeng yang dapat diklasifikasikan
dalam bentuk Cerita Panji, antara lain Keong Emas, Timun Emas, Panji Laras, Andhe-andhe Lumut, dan Kethek Ogleng (Saputra, 2014: 26). Oleh karena itu, tidak salah jika Robson
(1971: 12—13) menyebut Cerita Panji sebagai suatu genre karena Cerita Panji memiliki banyak varian dengan nama tokoh dan penceritaan (recit) yang merujuk pada cerita yang sama.
Cerita yang dimaksud dengan Cerita Panji adalah cerita mengenai kisah cinta seorang Pangeran Kerajaan Jenggala bernama Panji Inu Kertapati, biasanya memiliki beragam nama
samaran, dengan putri Kerajaan Kediri bernama Sekartaji atau Candrakirana, juga memiliki beragam nama samaran lainnya. Kisah percintaan keduanya diliputi berbagai rintangan hingga mengharuskan keduanya berjuang untuk mempersatukan kisah cinta mereka. Kisah
biasanya dialami oleh salah satu tokoh yang mengharuskannya untuk melakukan pengembaraan, dengan melakukan penyamaran-penyamaran agar identitasnya tidak
2 menemui musuh dan terlibat dalam peperangan yang pada akhirnya dimenangkannya. Kisah
cerita diakhiri dengan bertemunya kedua tokoh dan menikah.
Cerita Panji merupakan cerita klasik Sastra Jawa yang berkembang pada periode
Majapahit (Poerbatjaraka, 1968: 404). Pernyataan Poerbatjaraka tersebut didukung oleh data arkeologis yang telah membuktikan bahwa Cerita Panji pertama kali dikenal pada zaman Majapahit, hingga kini belum ditemukan data arkeologis yang lebih tua dari zaman tersebut
(Munandar dan Susanti, 2014: 9). Cerita Panji sangat populer dalam kehidupan masyarakat Nusantara dan Asia Tenggara di masa lalu hingga saat ini. Hal ini dapat dilihat dari
banyaknya varian Cerita Panji yang terdokumentasikan dalam bentuk naskah-naskah kuno bahkan juga dalam cerita lisan masyarakat yang telah menyebar hingga ke wilayah Asia
Tenggara. Bahkan hingga kini Cerita Panji masih digunakan sebagai dasar lakon suatu pertunjukan di berbagai tempat di Jawa. Poerbatjaraka (1968: 404), menyatakan bahwa kepopuleran Cerita Panji pada masa lalu sebagai akibat kebosanan masyarakat pada saat itu
yang hanya membaca cerita-cerita yang berasal dari India. Bahkan di Bali secara eksklusif Cerita Panji disajikan melalui sastra kidung yang berbeda dengan cerita-cerita epos dari India yang dikisahkan melalalui kakawin (Zoetmulder, 1994: 532—533). Hal tersebut
memperlihatkan bahwa kehadiran Cerita Panji juga telah membawa bentuk sastra baru dalam kesusastraan Nusantara pada masa lalu. Berbeda dengan sastra kakawin yang banyak
terpengaruh oleh epos-epos dari India, Cerita Panji merupakan cerita asli yang berasal dari Jawa. Ceritanya berkisah mengenai kesatria-kesatria Jawa dengan latar tempat di Jawa, bukan India.
Dalam Cerita Panji, dengan berbagai variannya yang ada, digunakan latar kerajaan-kerajaan Jawa Timur pada periode abad 10-16 M, yaitu Jenggala atau Kuripan, Daha atau
3 kini. Cerita Panji dianggap sebagai kisah historis antara raja-raja yang hidup pada masa itu.
Pangeran Kerajaan Jenggala, bernama Panji Inu Kertapati, dan Putri Kerajaan Kediri, bernama Galuh Candrakirana atau Sekartaji, dianggap sebagai tokoh yang
merepresentasikan hubungan di antara dua kerajaan tersebut. Menurut Kievan (2014: 39), pasangan antara Kerajaan Jenggala dan Kediri memainkan peran kunci dalam pembagian kerajaan sepeninggal Raja Airlangga. Kisah mengenai Panji sebagai putra dari Lembu
Amiluhur, putra kedua Kerajaan Jenggala bernama Resi Gatayu, yang menyunting putri dari Kediri bernama Dewi Candra Kirana pun termuat dalam Babad Tanah Jawi (Olthof, 2008:
15). Terlepas dari perdebatan mengenai apakah Cerita Panji merupakan kisah mengenai raja-raja di Jawa pada masa itu atau bukan, Cerita Panji sebagai peristiwa historis antara raja-raja-raja-raja
Jawa pada masa itu dianggap sebagai kebenaran historis bagi pemangku seni pertunjukan Wayang Topeng di Malang. Bahkan keberadaan makam serta pengikut-pengikut tokoh dalam Cerita Panji masih dikenali dan dipercaya dimakamkan pada beberapa wilayah di
bagian Jawa Timur (wawancara dengan Ki SAP, 22 Februari 2016).
Sebagai sebuah sastra Jawa klasik yang memiliki dampak luas terhadap kesusastraan Jawa, Cerita Panji bertransformasi dalam berbagai bentuk. Beragam bentuk transformasi
Cerita Panji digambarkan sebagai berikut (Saputra, 2014: 28).
Gambar I-1. Korpus Cerita Panji
Di samping ketiga hal tersebut, Manuaba dkk. (2013: 53), menambahkan bahwa Cerita Panji
4 masyarakat hingga saat ini. Bahkan kini Cerita Panji dapat ditemukan di berbagai sumber
online, seperti wikipedia.com, sampangkab.go.id, jawatimuran.wordpress.com, indofabel.com (Rich, 2014: 197—198). Melalui penggambaran tersebut terlihat bahwa
dampak dari Cerita Panji dalam mempengaruhi bentuk-bentuk seni dan budaya maupun media penyaluran Cerita Panji masih begitu tinggi. Kehadiran Cerita Panji dalam konteks masa lalu hingga masa kini tetap memperoleh ruang di masyarakat Nusantara.
Dalam konteks masyarakat Jawa Timur tokoh Panji sangatlah dikenal. Bahkan “Panji” telah menjadi ikon identitas budaya khas Jawa Timur yang menunjuk pada tradisi panjang “Budaya Panji” yang berakar di wilayah ini (Kievan, 2014: 6—7). Panji tidak hanya dikenal
sebagai tokoh dalam sebuah cerita, tetapi Panji telah menjadi “budaya” yang berkembang
dengan berbagai bentuknya (Nurcahyo, 2015: 4). Salah satu bentuk seni pertunjukan di Jawa Timur, khususnya Malang, yang terinspirasi dari Cerita Panji, yaitu pertunjukan wayang topeng.
Hubungan antara Cerita Panji dan seni-seni pertunjukan di wilayah Jawa Timur telah sangat lama, khususnya drama-tari. Sejak kemunduran kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah pada abad X Masehi, di Jawa Timur (periode abad X-XI Masehi) berkembang seni
pertunjukan bernama rakět (Soedarsono, 1990: 5). Berbeda dengan wayang wwang yang mempertunjukkan cerita Rāmāyana dan Mahābhārata, rakět menampilkan Cerita Panji.
Rakět merupakan nama lain untuk gambuh di Bali (Robson, 1971: 33). Dari hal tersebut
terlihat bahwa relasi antara Cerita Panji dan pertunjukan drama-tari—dalam konteks saat ini di Malang disebut dengan Wayang Topeng Malang atau Topeng Panji—telah ada sejak masa
Kerajaan Majapahit. Bahkan, dalam Nāgarakěrtāgama yang ditulis oleh Mpu Prapanca dinyatakan bahwa Raja Hayamwuruk dan ayahnya (Kertawardhana) sering berpartisipasi
5 membuktikan bahwa relasi antara Cerita Panji dan seni pertunjukan, khususnya drama-tari
telah ada sejak zaman Majapahit.
Berdasarkan hal tersebut, rakět atau tari topeng merupakan tari istana yang sangat
digemari oleh bangsawan pada masa itu. Akan tetapi, dalam proses perjalanannya, seni pertunjukan topeng di Jawa Timur yang pada awalnya merupakan seni pertunjukan istana telah berkembang menjadi kesenian rakyat (Sumintarsih, 2012: 27). Periode perkembangan
pertunjukan Topeng di Jawa Timur berakhir seiring runtuhnya kerajaan Majapahit dan berpindahnya pusat kerajaan ke Demak, Jawa Tengah. Salah satu penyebab hal ini adalah
Kerajaan Demak mengembangkan kebudayaan yang bercorak Islam. Meskipun begitu perkembangan topeng pada periode kerajaan-kerajaan Islam tidak berhenti. Sunan Kalijaga
dikenal sebagai pencipta pertunjukan topeng (Sumarsam, 2003: 47; Sumintarsih, 2012: 27). Sekiranya hal tersebutlah yang menjelaskan mengenai masih eksisnya pertunjukan topeng hingga saat ini. Terlebih setelah hadirnya Islamisasi di pulau Jawa, khususnya Jawa Timur.
Relasi antara Cerita Panji dan pertunjukan wayang topeng di Malang hingga kini sangat kuat. Pertunjukan wayang topeng di wilayah Malang diperkirkan baru muncul pada awal abad XX Masehi dengan tokohnya Kek Tirtono dan Reni (Hidajat, 2008: 18—19).
Pertunjukan Wayang Topeng Malang merupakan bentuk pertunjukan berbentuk drama yang ditampilkan oleh penari yang mengenakan topeng. Para penari bergerak mengikuti alur
cerita yang dinarasikan oleh seorang dalang. Dalang bertindak sebagai penggubah cerita sekaligus narator tokoh-tokoh dalam cerita yang ditampilkannya. Segala bentuk ucapan dalang yang menunjuk pada tokoh cerita yang diperankan oleh penari diikuti sesuai dengan
narasi yang diucapkannya. Jadi, di samping estetika tari yang ditampilkan, aspek kesusastraan dalam pertunjukan wayang topeng sangatlah banyak. Oleh karenanya, bentuk
6 maupun Wayang Topeng Malang saja (Hidajat, 2008). Bahkan dalam kehidupan masyarakat
di Malang, jenis pertunjukan ini oleh masyarakat sekitar disebut dengan Topeng Panji yang diikuti dengan nama padepokan yang menampilkannya, seperti “Topeng Panji Jabung”
ataupun “Topeng Panji Kedhungmangga” (Timoer, 1979: 2). Jenis pertunjukan ini disebut
dengan pertunjukan Topeng Panji oleh masyarakat di Malang karena pertunjukan ini menampilkan cerita-cerita Panji dalam setiap pertunjukannya.
Salah satu lakon pertunjukan Wayang Topeng Malang yang dipentaskan oleh Padepokan Mangun Dharma, yaitu kisahan dengan Lakon Lahire Panji. Berbeda dengan
varian Cerita Panji lain, cerita ini berkisah mengenai kisah kehidupan cinta orang tua Panji Asmarabangun, yaitu Panji Amiluhur dan Dewi Sakyaningrat. Hal tersebut tampak berbeda
dengan varian Cerita Panji yang selama ini ada yang lebih berkisah mengenai kehidupan cinta Panji Asmarabangun dan Sekartaji. Kehadiran kisahan lakon Lahire Panji dalam pementasan Wayang Topeng Malang fenomena yang menarik untuk diteliti. Hal tersebut
berkaitan dengan Cerita Panji yang digunakan dalam pertunjukan Wayang Topeng Malang merupakan Cerita Panji yang berasal dari sastra lisan yang hidup di masyarakat. Berbeda dengan Cerita Panji yang bersumber dari manuskrip ataupun sastra tulis, Cerita Panji lisan
lahir dan hidup di masyarakat. Oleh karenanya, keberadaan kisahan Lakon Lahire Panji pastilah tidak terlepas dari aspek kehidupan sosio-budaya masyarakat yang menyimpan
aspek historis dan estetis yang diturunkan antargenerasi hingga saat ini. Kisahan Lakon Lahire Panji yang digunakan dalam pertunjukan Wayang Topeng Malang diciptakan (komposisi), diwariskan (transmisi), dan dipertunjukan secara lisan.
Sebagai sebuah sastra lisan, kisahan Lakon Panji yang dipentaskan dalam pertunjukan Wayang Topeng Malang memunculkan sejumlah persoalan, seperti mengenai cara yang
7 hingga mampu bertahan hingga saat ini, keterkaitan struktur teks cerita yang sering
dikaitakan dengan realitas historis, maupun fungsi lakon pertunjukan bagi kehidupan masyarakatnya. Hal tersebut mengingat bahwa Cerita Panji yang digunakan sebagai dasar
lakon pertunjukan tidaklah memiliki teks baku (naskah). Cerita Panji yang digunakan dalam pementasan pertunjukan wayang topeng hanya berasal dari daya ingat dalangnya saja. Dalang mempelajari cerita secara lisan, mengingatnya, menampilkannya, dan
mengajarkannya kembali kepada generasi penerus secara lisan. Di sisi lain, kehadiran pertunjukan Wayang Topeng di Malang terkait dengan kebutuhan masyarakat di sana.
Pertunjukan biasanya ditanggap sesuai dengan kebutuhan hajat masing-masing penanggapnya. Terlebih penyajian pertunjukan Cerita Panji dalam pertunjukan wayang
topeng disajikan dengan bentuk drama-tari. Oleh karenanya, pemahaman terhadap aspek kebudayaan masyarakat yang diwariskan dari tradisi lisan leluhur sangatlah penting untuk dilakukan. Sebagai produk sastra lisan, Cerita Panji telah menjadi bagian dari kehidupan
sosio-budaya masyarakat di sana sehingga sangatlah penting untuk memahami produk budaya berbentuk sastra lisan ini yang sampai saat ini masih hidup di kalangan masyarakat Kabupaten Malang.
Kehadiran Cerita Panji sebagai bentuk sastra asli Jawa yang dipertentangkan dengan bentuk sastra kuno lain yang banyak terpengaruh dari epos India, seperti Rāmāyana dan Mahābhārata, mendapat banyak perhatian dari peneliti dunia. Penelitian mengenai Cerita
Panji yang pernah dilakukan pada masa awal lebih berfokus pada aspek historisitas cerita. Hasil dari sejumlah penelitian tersebut merupakan sebuah usaha untuk menentukan awal
keberadaan Cerita Panji. Penelitian awal mengenai Cerita Panji dilakukan oleh Rasser. Rasser (1922) menyarankan mengenai hubungan historis antara Cerita Panji dengan
8 Singasari, dan Raden Wijaya, pendiri Majapahit, kemungkinan sebagai purwarupa Panji
(Kievan, 2014: 38). Selain Rasser, Berg (1928) mengemukakan bahwa tahun penyebaran Cerita Panji terjadi antara tahun 1277-1400 M, yaitu di mulai pada Pamalayu (Poerbatjaraka,
1968: 403). Akan tetapi, pendapat tersebut ditentang oleh Poerbatjaraka yang menyatakan bahwa Cerita Panji bermula pada zaman kejayaan Majapahit dan tersebar ke wilayah Nusantara jauh setelahnya (Poerbatjaraka, 1968: 404). Perdebatan penentuan mengenai
kapan lahirnya atau berkembangnya Cerita Panji di Nusantara hingga kini masih diperdebatkan.
Di samping penelitian mengenai aspek historisitas Cerita Panji, penelitian mengenai naskah-naskah kuno Cerita Panji pun telah dilakukan, seperti usaha penerjemahan Cerita
Panji yang dilakukan oleh Rassers (1922), Poerbatjaraka (1968), Sulastin Sutrisno dkk (1983) (Kievan, 2014: 35). Di samping itu, penelitian Karsono H Saputra berjudul Aspek Kesastraan Serat Panji Angreni (1998) meneliti hubungan antarunsur pembentuk tata
bangun teks PA KBG 185 yang didasarkan pada pernyataan Poerbatjaraka bahwa teks tersebut terdiri dari tiga bagian dan ditulis oleh tiga orang yang berbeda. Penelitian tersebut melihat kesinambungan dari tiga bagian yang ditulis oleh tiga orang tersebut apakah
merupakan wacana yang utuh.
Selain penelitian-penelitian yang membahas mengenai naskah dan aspek historisitas
Cerita Panji berdasarkan bukti arkeologis dan keterkaitannya dengan sejarah, juga telah dilakukan penelitian mengenai pertunjukan Wayang Topeng Malang. Penelitian-penelitian tersebut dapat dikelompokkan ke dalam lima kategori berdasarkan fokus penelitiannya.
Pertama, penelitian-penelitian yang menganalisis struktur dan makna simbol-simbol dalam
pertunjukan Wayang Topeng Malang, seperti Hidajat (2004), Astrini dkk. (2013), dan
9 Pujiyanto dan Hidajat (2014). Ketiga, penelitian yang berfokus pada aspek transformasi
Cerita Panji dalam pertunjukan Wayang Topeng Malang, seperti yang dilakukan oleh Hikmah (2011). Keempat, penelitian yang menelusuri aspek historis-sosiologis pertunjukan
Wayang Topeng Malang, seperti yang dilakukan oleh Kamal (2010). Kelima, penelitian yang melihat aspek nilai-nilai dalam pertunjukan Wayang Topeng Malang, seperti Sumintarsih dkk. (2012).
Berdasarkan pada penelitian-penelitian terdahulu mengenai Cerita Panji maupun pertunjukan Wayang Topeng tersebut, permasalahan mengenai Cerita Panji versi lisan
dalam pertunjukan Wayang Topeng Malang belum pernah diteliti. Terlihat juga bahwa terdapat beragam pendekatan yang digunakan dalam mengkaji Wayang Topeng Malang,
tetapi sebagai produk kebudayaan lisan aspek kelisanan diabaikan dalam penelitian-penelitian tersebut. Penelitian yang dilakukan pun tidak didasarkan pada pertunjukannya, tetapi hanya berorientasi pada teks. Data yang diambil pun terlepas dari konteks dan proses
penciptaannya, sehingga cerita Panji dalam pertunjukan wayang topeng yang berasal dari sastra lisan dianggap sama dengan sastra tulis, padahal karakteristik dari sastra lisan dan sastra tulis sangat berbeda. Fakta tersebut sangatlah berbeda dengan di lapangan, yaitu Cerita
Panji yang digunakan dalam pertunjukan Wayang Topeng berasal dari sastra lisan. Dalang mengingat cerita yang didapatkannya dari dalang sebelumnya sehingga cerita yang
didapatkannya berasal dari sumber-sumber lisan pendahulunya. Artinya, dalam pertunjukannya dalang tidak menggunakan teks baku (naskah) sebagai media dialog yang dibacakannya. Dalang menceritakan kisah dalam pertunjukannya hanya didasarkan pada
aspek ingatannya saja. Oleh karena teks yang digunakan dalam pertunjukan bersifat lisan, dimungkinkan banyak variasi dalam setiap cerita yang berasal dari satu induk cerita. Hal ini
10 Di sisi lain, sebagai produk sastra Jawa yang berkembang dalam kehidupan
masyarakat, keberadaan Cerita Panji dalam kehidupan masyarakat Kabupaten Malang merupakan produk sastra yang akan selalu terkait dengan pengarang, yaitu dalang, dan
penonton pertunjukannya. Pengarang sebagai makhluk sosial dan bagian dari struktur sosial masyarakat pasti akan selalu terkait dengan kondisi maupun realitas sosial tempatnya hidup. Jadi, sastra tidak akan dapat dipahami secara baik tanpa refrensinya terhadap konvensi
sosial. Begitu pun signifikansi sosial dari aktivitas sastra tidak dapat dijelaskan tanpa mengingat bahwa apa yang terlibat adalah sastra, bukan hanya beberapa “fungsi sosial”
eksternal.
Penelitian ini berusaha untuk memberikan kontribusi terhadap pengetahuan sastra
lisan masyarakat Kabupaten Malang dengan mengeksplorasi aspek-aspek kelisanan (komposisi, transmisi, dan pertunjukan), teks lakon pertunjukan, serta fungsi Lakon Lahire Panji bagi kehidupan masyarakatnya. Oleh karenanya, penelitian ini penting untuk
dilakukan karena sejumlah alasan. Pertama, sebagai produk kebudayaan sastra lisan yang diturunkan dari mulut ke mulut akan hilang begitu saja tanpa adanya proses pendokumentasian. Kedua, fakta mengenai aspek kelisanan yang memiliki ciri bahwa tidak
adanya teks baku memungkinkan terjadinya proses penciptaan ulang pada setiap pertunjukannya. Akan tetapi, fakta tersebut cenderung diabaikan pada penelitian-penelitian
sebelumnya, padahal hal tersebut merupakan hal yang mendasar dan sangat penting bagi sebuah sastra lisan yang diturunkan dari mulut ke mulut. Ketiga, telah cukup banyak penelitian terhadap objek ini, tetapi kajian yang dilakukan pun banyak menaruh perhatian
terhadap aspek struktur dan semiotika pertunjukan, sedangkan cerita diabaikan. Keempat, dengan dilakukannya penelitian dengan pendekatan yang berbeda dengan
11 digunakan Pemerintah Kabupaten Malang dalam melestarikan dan mempromosikan wisata
budaya ini.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini memahami Cerita Panji yang berjudul Lakon Lahire Panji yang digunakan dalam pertunjukan Wayang Topeng Malang
secara menyeluruh. Artinya, penelitian tidak hanya berfokus pada permasalahan teks ceritanya, tetapi proses penciptaan dan fungsi cerita dalam kehidupan masyarakat juga
menjadi fokus penelitian. Terdapat tiga permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini. Permasalahan tersebut sebagai berikut.
1) Bagaimanakah komposisi dan transmisi Lakon Lahire Panji pada pertunjukan Wayang Topeng Malang Padepokan Mangun Dharma?
2) Bagaimanakah struktur teks dan tekstur pertunjukan Lakon Lahire Panji pada
pertunjukan Wayang Topeng Malang Padepokan Mangun Dharma?
3) Bagaimanakah fungsi cerita Lakon Lahire Panji bagi masyarakat pendukungnya?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan sejumlah alasan yang terkait dengan tujuan dan
manfaat yang diberikan. Adapun tujuan dan manfaat penelitian ini sebagai berikut. 1.3.1 Tujuan Penelitian
1) Mengetahui proses komposisi dan transmisi Lakon Lahire Panji pada pertunjukan
Wayang Topeng Malang Padepokan Mangun Dharma.
2) Menjelaskan struktur teks dan tekstur pertunjukan Lakon Lahire Panji pada
pertunjukan Wayang Topeng Malang Padepokan Mangun Dharma.
12 1.3.2 Manfaat Penelitian
Penelitian ini memberikan dua manfaat, yaitu manfaat teoretis dan praktis. Adapun manfaat penelitian ini sebagai berikut.
1) Manfaat Teoretis
Penelitian ini memberikan manfaat terhadap pengembangan kajian sastra lisan yang ada di masyarakat. Jika selama ini hasil kesusastraan lisan dipahami sebagai hasil
kebudayaan masyarakat kolektif yang memiliki atau mengandung konsepsi mengenai cara berfikir masyarakatnya, sistem pengetahuan masyarakatnya, atau pun sebagai
sebuah produk kesenian yang cenderung didekati sebagai gejala tekstual, bentuk pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini melihatnya sebagai sebuah hasil
kreativitas individu dengan melihat teks sastra sebagai gejala kelisanan. Dengan digunakannya bentuk pendekatan baru terhadap materi sastra lisan yang ada di masyarakat akan memberikan sumbangan pemikiran baru untuk memikirkan kembali
konsep mengenai sastra lisan yang hidup di masyarakat yang diturunkan dari mulut ke mulut saja. Penelitian ini juga berguna untuk mengembangkan pengetahuan mengenai sastra lisan, khususnya bergenre drama-tari.
2) Manfaat Praktis
Manfaat praktis dari dilakukannya penelitian ini, yaitu dapat mendokumentasikan sastra
lisan yang berkembang di masyarakat yang hanya diturunkan dari mulut ke mulut sehingga keberadaannya akan hilang tanpa adanya pendokumentasian, serta mengembangkan penelitian terhadap materi sastra lisan yang ada di masyarakat secara
holistik dengan mempertimbangkan aspek sosio-budaya, serta aspek kelisanan yang
merupakan bagian dari “teks” sastra lisan. Adapun berikut manfaat bagi pihak-pihak
13 1. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Penelitian ini dapat digunakan sebagai materi bahan ajar atau kurikulum yang berbasis pada budaya budaya lokal kepada para siswa di sekolah. Sastra lisan tidaklah
dipahami hanya sebagai hasil kebudayaan masyarakat yang berfungsi sebagai media hiburan saja, tetapi memiliki nilai-nilai dan kearifan lokal masyarakatnya. Dengan digunakannya contoh atau pun materi yang berasal dari lingkungan sekitarnya, siswa
akan lebih mengenal hasil kebudayaannya dan juga memahami nilai-nilai serta sejarah dari sastra lisan yang ada di Kabupaten Malang.
2. Dinas Pariwisata
Pertunjukan Wayang Topeng Malang selama ini telah menjadi salah satu wisata
budaya yang dikedepankan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Malang untuk menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara untuk datang berkunjung ke Kabupaten Malang. Penelitian ini bermanfaat dalam melengkapi data historis
maupun budaya yang telah dimiliki, yaitu berupa aspek estetis dan kelisanan sebagai hasil sastra lisan masyarakat Kabupaten Malang yang diturunkan dari mulut ke mulut saja tanpa adanya teks baku. Penelitian ini juga bermanfaat sebagai media
pendokumentasian yang dapat digunakan sebagai promosi wisata dari aspek yang selama ini belum diketahui oleh masyarakat luas.
3.Guru atau Pengajar
Penelitian ini dapat digunakan guru atau pun pengajar untuk memberikan pembelajaran mengenai nilai-nilai melalui sastra pertunjukan. Penelitian ini juga