TUGAS TERSTRUKTUR II GEOLOGI PANAS BUMI
‘’WAYANG WINDU’’
Oleh:
1. Deni Rachman (H1F012007)
2. Dalfa Fatihatussalimah (H1F012008) 3. Satrio Budi Harjo (H1F012009) 4. Erzandy Eka Putra (H1F012010) 5. Shisil Fitriana (H1F012013)
KEMENTRIAN RISET DAN TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
Geologi
A. Fisiografi Jawa Barat
Bronto dkk. (2006) membagi satuan batuan gunungapi di daerah Bandung Selatann berdasarkan atas sumber asal erupsi gunungapi menjadi sembilan satuan batuan ditambah satuan batuan Piroklastik Pangalengan dan Endapan Aluvium. Seluruh satuan batuan dan endapan tersebut menumpang di atas batuan gunungapi Miosen (12,0 ± 0,1 juta tahun yang lalu) yang berada di bawah permukaan. Stratigrafi daerah penelitian (Gunung Wayang Windu dan sekitarnya) mengacu kepada Bronto dkk (2006) ditunjukkan pada Gambar III.5 sebagai berikut:
1. Satuan Batuan Gunungapi Windu (WiV), tersusun atas litologi andesit horblenda dan batuan ubahan hidrotermal.
2. Satuan Batuan Gunungapi Bedil (BdV), tersusun atas litologi andesit horblenda dan batuan ubahan hidrotermal.
3. Satuan Batuan Gunungapi Malabar (MV), tersusun atas litologi basal-andesit basal.
4. Satuan Batuan Gunungapi Wayang (WaV), tersusun atas litologi andesit horblenda dan batuan ubahan hidrotermal.
5. Satuan Batuan Piroklastik Pangalengan (PV), tersusun atas litologi aliran lava basal dan batuan piroklastik mengalami ubahan hidrotermal.
6. Satuan Batuan Gunungapi Kendang (GKV), tersusun atas litologi andesit- andesit basal.
7. Satuan Batuan Gunungapi Kuda (KV), tersusun atas litologi andesit basal piroksen.
8. Satuan Batuan Gunungapi Tilu-Lamajan (TLV), tersusun atas litologi aliran lava basalt.
B. Struktur Jawa Barat
Pola struktur geologi yang berkembang di Jawa Barat mempunyai tiga arah utama (Pulunggono dan Martodjojo, 1994 dalam Gambar III.6), yaitu:
1. Arah Meratus, berarah timurlaut - baratdaya yang diwakili oleh sesar Cimandiri, sesar naik Rajamandala serta sesar lainnya di daerah Purwakarta, mengikuti pola busur umur Kapur yang menerus ke Pegunungan Meratus di Kalimantan. 2. Arah Sumatera, berarah baratlaut – tenggara yang diwaklili oleh Sesar Baribis,
sesar-sesar di lembah Cimandiri dan Gunung Walat.
Daerah penelitian masuk ke dalam busur magmatik yang dipresentasikan oleh barisan gunungapi aktif sepanjang sumbu Pulau Jawa. Struktur geologi yang berkembang di daerah ini diperkirakan berasal dari tegasan berarah utara – selatan yang dihasilkan oleh proses subduksi Lempeng Samudra Hindia dengan Lempeng Benua Eurasia (Alzwar dkk., 1992). Gunung Malabar terletak pada busur Kuarter Sunda yang terbentuk sebagai hasil subduksi kedua lempeng tersebut. Gunung Malabar merupakan Gunungapi Kuarter yang terletak pada batas selatan.
C. Stratigrafi Daerah Penelitian
D. Stratigrafi Daerah Penelitian
Lapangan panas bumi Wayang-Windu terletak di dalam zona vulkanik aktif berumur Kuarter. Sistem panasbumi ini terletak pada batuan berumur Pleistosen dengan kisaran umur antara 1,0 – 0,147 juta tahun yang lalu (jtl). Pada periode tersebut terdapat dua pusat gunungapi aktif, yaitu komplek gunungapi Malabar dan kubah lava Wayang Windu. Keduanya menghasilkan endapan lava yang relatif lebih muda (147.000 tahun yang lalu). Kemudian lava tersebut tertutupi oleh endapan sedimen yang lebih muda dan produk vulkanik epiklastik yang mengisi daerah lembah Wayang-Windu kurang dari 50.000 tahun yang lalu (Ganda dkk., 1992). Perselingan antara breksi-tuf dengan aliran lava merupakan perlapisan penciri umur Pleistosen. Beberapa retas yang hadir pada zona dangkal telah memotong batuan di permukaan yang berkaitan dengan perkembangan kubah lava Wayang-Windu (Ganda dkk., 1992). Bogie dan Mackenzie (1998) menggunakan konsep fasies vulkanik tersebut untuk menjelaskan hubungan antara formasi di daerah Wayang Windu (Gambar III.8).
dari perselingan lava, breksi dan lahar yang berkomposisi andesit-basaltik hingga dasitik. Lava memiliki fenokris berupa plagioklas, augit, hipersten dan magnetik; dan andesit- basaltik mengandung olivin; sedangkan dasit memiliki fenokris berupa hornblenda dan kuarsa. Pengukuran umur batuan menggunakan K-Ar menunjukkan bahwa Formasi Malabar berumur 0,23 ± 0,03 jtl (Bogie dan Mackenzie, 1998; Gambar III.8).
E. Struktur Geologi Daerah Penelitian
Windu juga mempengaruhi pola struktur di daerah ini. Pada bagian tenggara Pangalengan terdapat dataran tinggi Ranca Gede dan kerucut-kerucut vulkanik Wayang Windu. Gunung Wayang dan Gunung Windu masing-masing mempunyai ketinggian 2.182 m dan 2.054 mdpl, dan kedua puncak kerucut terpisah dalam jarak sekitar 1,6 km (Gambar III.9). Kedua gunung tersebut termasuk dalam tipe B (dimasa lampau pernah aktif), dengan sisa keaktifannya adalah berupa kawah dan hembusan solfatara dan fumarol.
Sistem Panas Bumi
A. Batuan Reservoir
DAS Cisangkuy yang terletak pada litologi batuan beku (andesit dan basalt) mempunyai nilai densitas rata-rata rekahan yang lebih tinggi (5,3 m/m2). Sedangkan dua DAS lainnya yang terletak pada litologi batuan sedimen (batupasir dan batulempung) memiliki densitas rekahan masing-masing 4,1 m/m2 untuk DAS Cilaki dan sebesar 3,1 m/m2 untuk DAS Citarum.
B. Batuan Penutup
Batuan penutup pada daerah Wayang Windu berupa lava yang terdiri dari andesit dan basalt.
C. Sumber Panas
Terdapat tiga zona yang diperkirakan sebagai daerah resapan untuk reservoir panasbumi Wayang Windu. Daerah resapan tersebut terletak di bagian baratlaut (Sungai Cisangkuy), baratdaya (Sungai Cilaki) dan timurlaut (Sungai Citarum) dari lapangan panasbumi Wayang Windu D. Kondisi Reservoir
Diinterpretasikan bahwa reservoir lapangan panasbumi Wayang Windu merupakan tipe transisi antara kondisi dominasi uap dan dominasi air dengan empat pusat upwelling. Pada umumnya semakin ke arah selatan semakin berumur lebih muda dan lebih didominasi oleh reservoir dominasi air, hal ini konsisten dengan umur pusat volkanik. Temperatur reservoir adalah sekitar 260-325 derajat Celcius yang ditemukan pada kedalaman 1300 meter hingga 2500 meter.
E. Pola Hidrologi
Model hipotetik yang dibuat oleh Sudarman dkk. (1986) memperlihatkan bahwa air meteorik sebagian besar berinfiltrasi dari bagian barat dan barat daya, meliputi daerah Gunung Karancang, Gunung Kencana dan Gunung Walang. Interpretasi berdasarkan data geokimia air dari manifestasi dan sumur-sumur pemboran yang dilakukan oleh Suminar dkk. (2003), Hendrasto dan Hutasoit (2011) menjelaskan adanya pendugaan arah aliran air yang masuk ke dalam reservoir panasbumi Wayang Windu, serta terdapat resapan air hangat di bagian utara dan selatan dan resapan air dingin di bagian barat dari Gunung Bedil.
Wayang Windu telah dilakukan oleh Hutasoit dan Hendrasto (2007). Penelitian tersebut berdasarkan atas analisis isotop stabil (δ18O dan δ2H) dari sampel air hujan, mataair panas, mataair dingin, kondensat fumarola dan fluida dari sumur pemboran panasbumi. Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa terdapat daerah resapan untuk mata air panas yang berbeda dengan daerah resapan untuk fluida reservoir dan kondensat fumarol. Daerah resapan untuk mataair panas berada pada kisaran elevasi 1.988 – 2.839 m dari permukaan laut (dpl), sedangkan daerah resapan untuk fluida reservoir dan kondensat fumarol terletak pada kisaran elevasi 1.314 – 1.602 mdpl, yang berada di sebelah barat, selatan dan timur dari area produksi uap lapangan panasbumi Wayang Windu.
F. Manifestasi
Di lapangan Wayang Windu ini ditemukan beberapa manifestasi: mata air panas
fumarola
steaming ground atau tanah beruap.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim .2007. Catatan Kuliah Panasbumi. Retrieved 26 Desember 2007 from http://taman.blogsome.com/
Dickson Mary H. dan Fanelli Mario. 2004. What is Geothermal Energy? Prepared on February 2004. From http://iga.igg.cnr.it/index.php
Dwikorianto. Tavip. dan Ciptadi. 2006. Exsplorasi, Exsploitasi & Pengembangan Panasbumi di Indonesia. Seminar Nasional HM Teknik Geologi UNDIP 2006