• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARYA ILMIAH Toleransi Antar Umat Beraga

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KARYA ILMIAH Toleransi Antar Umat Beraga"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

KARYA ILMIAH

TENTANG

TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA MENURUT

AL-

QUR’AN DAN HADITS

DI SUSUN OLEH :

Nama : Normayanti Lebeharia

Nim : (160301010)

Jurusan : PAI

Semester : III

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

AMBON

2018

(2)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pada dasarnya, setiap agama membawa kedamaian dan keselarasan hidup. Namun pada kenyataannya, agama yang tadinya berfungsi sebagai pemersatu tak jarang menjadi suatu unsure konflik. Hal tersebut disebabkan adanya truth claim atau klaim kebenaran pada setiap penganutnya.Setiap agama pasti memiliki kebenaran. Kebenaran yang benar itu didasarkan pada tuhan satu-satunya sumber kebenaran. Dalam tatanan sosial, klaim kebenaran berubah menjadi suatu sumber pemahaman yang tidak lagi utuh dan mutlak karena pemahaman kebenaran itu dinilai subjektif, personal oleh pemeluk agama klaim pembenaran muncul di tengah-tengah kemajemukan budaya-budaya dan agama. Padahal jika di pahami lebih mendalam kemajemukan diciptakan untuk membuat mereka saling mengenal, memahami, dan bekerja sama satu sama lain. Allah, berfirman:

‘’hai manusia, sungguh kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh yang paling mulia di antara kamu disisi allah ialah orang yang

paling bertakwa. Sungguh, allah maha mengetahui lagi mahateliti.’’ (QS. Al-Hujurat:13)

Ayat tersebut sangat tepat dan memang harus di pamahi seutuhnya oleh bangsa Indonesia, yang memiliki keberagaman sosial budaya dan agama sangat tinggi. Sampai pada akhir klaim pembenaran itu tidak pernah ada, sehingga kerukunan umat beragama yang merupakan poin penting dapat tercapai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dan bernegara di Indonesia.

Menurut Ali Mustafa Yaqup (2000), pada ayat tersebut sekurang-kurangnya ada dua buah teori yaitu: pertama, teori persamaan hak bagi manusia (nadhariyah al-musawah). Persamaan ini berlaku untuk seluruh manusia tanpa melihat perbedaan masing-masing individu, kelompok, etnis, warna kulit, kedudukan, keturunan, dan lain sebagainya. Namun, pada praktik sehari-hari, perbedaan hak-hak sosial yang di sebabkan perbedaan warna kulit, keturunan, kebangsaan, kedudukan dan lain-lain masih mewarnai sebagian besar belahan dunia, khususnya di Negara-negara maju dan salah satunya di Indonesia. Perbedaan status hak-hak sosial dalam pelayanan, kekebalan hukum bagi sementara bangsawan adalah contoh konkret bahwa dikriminasi sosial masih menjadi bagian dari kehidupan modern. Padahal Al-Qur’an diturunkan untuk menghalangi diskriminasi tersebut.

(3)

bagaimana kita menyikapi semua perbedaan menghasilkan leberagaman untuk menciptakan suatu kerukunan dan sikap didalam kemajemukan.

B. Rumusan Masalah

1. Menyikapi Membangun Toleransi Di Tengah Kehidupan Umat Beragama

(4)

BAB II

PEMBAHASAN

A. Membangun Toleransi Di Tengah Kehidupan Umat Beragama

Secara sosiologis. Membangun masyarakat yang toleran tidak semudah membalik telapak tangan karena sejarah manusia pada hakekatnya adalah sejarah toleransi. Realitas sosial masyarakat disuguhi dengan peristiwa yang mengisahkan tentang intoleransi yang hampirterjadi di setiap saat, dari masa ke masa. Oleh karena itu, jalan menuju toleransi harus di buka kembali dengan berbagai potensi yang mungkin dilakukan. Tentu saja jalan tersebut harus di mulai dengan khazanah setiap agama, adat dan kelompok masyarakat yang mempunyai perhatian untuk membangun toleransi yang sudah rapuh. Dengan demikian, lambat laun toleransi akan menemukan momennya di tengah menguatnya tindakan intoleran. Kita sebagai masyarakat beragama harus benar-benar memperhatikan sikap. Apakah kita mendukung sikap toleransi atau intoleran yang akhirnya akan menyebabkan ketidak rukunan, khususnya antar umat beragama dan dan didalam kemajemukan lainnya. Ketika toleransi sudah mulai di terapkan dalam kehidupan, secara otomatis tidak ada keterpaksaan dan pemaksaan dan khususnya dalam beragama. Toleransi di terapkan, maka lahirlah kesadarandan pengertian ketika masing-masing penganut agama menyebarkan agamanya. Allah swt., berfirman:

Zuhairi Miswari dalam bukunya Al-Qur’an Kitab Toleransi (2007) mengatakan, dalam kehidupan sosial komptesi merupakan salah satu karakter utama relasi antar umat beragama yang tidak bisa diabaikan. Tapi permasalahannya apakah kompetisi tersebut harus berakhir

dengan pemaksaan atau diskriminasi? Dalam Al-Qur’an ditulis sebuah rambu agar kompetisi

diletakkan dalam dalam konteks kebaikan, Allah swt, berfirman, ‘Hendaklah kalian berlomba-lomba dalam kebaikan’ (QS. Al-Baqarah:148). Firman ini dapat menjadi landasan teologis bahwa kebaikan merupakan tujuan utama dari agama-agama terutama islam. Ayat ke-256 dalam surah Al-Baqarah patut menjadi perhatian bersama agar dalam dakwah dapat mempertimbangkan aspek toleransi dan kasih sayang yang telah di gariskan oleh Allah dan Rasulullah. Tidak di perkenankan adanya pemaksaan, karena sesungguhnya antara kebaikan dan kedzaliman sudah jelas. Memaksakan kehendak bukanlah hak manusia.

B. Prinsip-Prinsip Toleransi dalam Dakwah Islam

seruhlah (manusia) kepada jalan tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya tuhanmu dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.’(QS. An-Nahl:125)

(5)

selanjutnya pada metode penyampaiannya. Hal ini perlu digaris bawahi, karena pemikiran yang argumentative , tapi tidak disampaikan dengan cara yang santun dan elegan, maka akan menimbulkan dampak yang negative. Ketiga, debat yang konstruktif dan inovatif (wa ja-dilhum bi allati hia ahsan). Pesan tentang debat yang konstruktif dan inovatif hendak mengingatkan umat islam agar tidak mnegubur tradisi debat. Tidak terkecuali debat dengan orang-orang muslim. Justru Al-Qur’an menganjurkan agar umat islam berdebat dengan orang-orang nonmuslim. Tetapi tidak sembarang debat. Sebab debat yang di sarankan Allah adalah debat yang konstruktif. Allah berfiman, ‘janganlah kalian berdebat dengan ahlul

kitab kecuali dengan cara terbaik.’ (QS. Al-Ankabut:46). Perbedaan pendapat dalam

perdebatan merupakan suatu keniscayaan. Sikap ynag di ambil dalam perdebatan yaitu mengakui perbedaan atau menerima pendapat orang lain sebagai kebaikan yang mungkin membawa keselamatan. Keempat, teologi ‘Allah Mahatau’ atas jalan yang sesat dan jalan

yang benar. Teologi merupakan puncak dari dakwah dan debat hanyalah sebagai cara untuk menangkap dan memahmi hakikat pesan Allah. Jalan menuju Allah harus dilakukan dengan cara-cara terbaik, argumentative, elegan, dan konstruktif. Sebaliknya, bila dilakukan dengan serampangan, emosional dan destruktif, akan menimbulkan masalah sosial. Maka dari itu, pada akhirnya dakwah dan debat harus di rem dengan sebuah pandangan teologis, bahwa Allah Mahatau dan Dialah yang menentukan hidayah kepada siapapun yang dikehendakinya.

C. Toleransi Kepada Pemeluk Agama Lain Dalam Pandangan Islam

(6)

BAB III PENUTUP

(7)

DAFTAR PUSTAKA

Amirulloh Syarbini. Al-Qur’an & Kerukunan Hidup Umat Beragama. Jakarta 2011. PT Elex Media Komputindo.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan beberapa pengertian toleransi, peneliti mengambil kesimpulan bahwa toleransi beragama adalah sikap hormat menghormati antara pemeluk agama yang berbeda-beda dan

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan toleransi beragama adalah sikap menghormati, menghargai terhadap kepercayaan atau agama yang berbeda dan tidak

Toleransi dalam pergaulan hidup antara umat beragama yang didasarkan kepada setiap agama menjadi tanggung jawab pemeluk agama sendiri dan mempunyai bentuk ritual

Toleransi beragama mempunyai arti sikap lapang dada seseorang untuk menghormati dan membiarkan pemeluk agama untuk melaksanakan ibadah menurut ajaran dan ketentuan

Pengertian toleransi ada yang ditafsirkan secara negatif dan ada yang positif.. membiarkan dan tidak meyakini atau tidak mengganggu agama lain/kelompok lain. Namun bagi

Buktinya, toleransi umat beragama terlihat di jaringan Gusdurian Pamekasan, anggotanya tidak hanya terdiri dari orang muslim saja, akan tetapi ada juga dari saudara kita dari non muslim

Sukoharjo 081215954822 ¹[email protected] Abstrak Pasal 28E ayat 1 Undang-Undang Dasar Tahun 1945 “UUD 1945” menjelaskan bahwa “setiap orang bebas memeluk agama

Sesuai dengan hasil penelitian bahwa masyarakat Kelurahan Liabuku Kecamatan Bungi kota Baubau secara tidak langsung, telah menerapkan toleransi antar agama dengan model moderasi