KEPEMIMPINAN YANG EFEKTIF
A. Pengertian Kepemimpinan
Dari beberapa sumber kepemimpinan didefinisikan berbeda-beda. Misalnya Chung dan Megginson (1981, 280) mengatakan bahwa :
1. Kepemimpinan adalah suatu alat manajemen. Para manajer melakukan kepemimpinan untuk mempengaruhi para pegawai guna mencapai tujuan-tujuan organisasi.
2. Kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi orang-orang lain dengan maksud mencapai tujuan-tujuan tertentu.
3. Kepemimpinan adalah suatu fenomena sosial yang komplek yang dipengaruhi oleh sejumlah faktor personal, interpersonal, dan organisasional yang meliputi sifat-sifat personal pemimpin, perilaku pemimpin, dan faktor-faktor situasional.
Black (dalam Irawati, 2004) mendefinisikan kepemimpinan sebagai kemampuan melakukan persuasi orang-orang lain untuk bekerjasama di bawah arahannya sebagai suatu tim untuk menyelesaikan tujuan-tujuan tertentu yang dirancang.
Ada beberapa istilah atau konsep yang perlu digaris-bawahi dari definisi tersebut. Pertama, kepemimpinan sebagai alat manajemen. Dalam konteks organisasi, kepemimpinan dipandang sebagai alat yang digunakan oleh para manajer, pemimpin, kepala, ketua, direktur, dan apapun sebutannya bagi pejabat yang bertanggungjawab mengelola suatu unit kerja atau satuan organisasi. Alat untuk apa? Dalam hal ini kepemimpinan dimengerti sebagai alat untuk mempengaruhi orang-orang lain atau pegawai.
Kedua, kepemimpinan sebagai kemampuan yang dimiliki manajer dan pejabat lain sejenis itu. Kemampuan apa? Yaitu kemampuan melakukan persuasi atau pendekatan pada orang-orang lain. Dikaitkan dengan “mempengaruhi”, kiranya persuasi yang dilakukan itu juga dalam rangka untuk “mempengaruhi” orang-orang lain/pegawai.
Ketiga, kepemimpinan sebagai kegiatan, pekerjaan, proses yang dilakukan oleh manajer dan pejabat lain yang sejenisnya. Kegiatan, pekerjaan, atau proses apa? Dari definisi tersebut di atas dapat dikatakan secara jelas bahwa kegiatan, pekerjaan, atau proses itu adalah proses mempengaruhi orang-orang lain atau kegiatan melakukan persuasi orang-orang lain.
Berkenaan dengan kegiatan kepemimpinan yang intinya adalah proses mempengaruhi atau melakukan persuasi orang-orang lain tersebut, pada tabel di bawah disebutkan banyak kegiatan yang dapat dilakukan oleh manajer atau pemimpin dalam rangka memiliki pengaruh dan kekuasaan atas orang lain (Fleet, 1994), dalam rangka menjamin terciptanya keefektifan/efektivitas organisasi (Hall dan Quinn, 1991).
Dari definisi kepemimpinan di atas juga jelas dinyatakan tujuan kepemimpinan, yang intinya adalah untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi. Jadi kepemimpinan adalah alat, kemampuan, kegiatan melakukan persuasi dan mempengaruhi orang-orang lain (pegawai) yang dimaksudkan agar mereka melakukan pekerjaan, tugas-tugas untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi.
B. Model-Model Keefektifan Organisasi dam Implikasinya bagi Pemimpin
Hall dan Quinn (1991) menyebutkan lima model keefektifan organisasi yaitu : model sistem sumber daya, model tujuan, model kepuasan partisipan, model fungsi sosial, dan model kontradiksi.
2. Menurut model tujuan, terdapat dua model tujuan yaitu model sederhana dan komplek. Model sederhana mendefinisikan keefektifan sebagai tingkat kemampuan organisasi merealisasikan tujuannya (Etzioni, 1964). Sedangkan model komplek terjadi bilamana organisasi memiliki tujuan yang banyak, beragam, dan berbeda-beda, bahkan bertentangan. Pemimpin yang efektif, dapat mencapai tujuan organisasi betapapun kompleknya tujuan. Pemimpin juga dapat menunjukkan kemampuannya untuk membuat yang komplek menjadi sederhana, dan menentukan tujuan-tujuan yang bebas konflik.
3. Menurut model kepuasan partisipan, organisasi yang efektif adalah organisasi yang dapat memenuhi kebutuhan anggotanya. Oleh karena itu, pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang mampu mengatur dan mengusahakan sumber daya organisasi sehingga dapat memenuhi kebutuhan anggotanya.
4. Menurut model fungsi sosial, organisasi yang efektif adalah organisasi yang dapat melakukan sesuatu atau lebih hal bagi masyarakat. Tarcot Parsons yang melihat organisasi sebagai sistem menyatakan bahwa semua sistem sosial harus memecahkan empat masalah dasar yaitu : adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi, dan latensi.
- Organisasi bertanggungjawab melakukan adaptasi yaitu mengakomodasi tuntutan lingkungan
masyarakat dan alam pada organisasi.
- Organisasi harus berusaha menentukan tujuan, membatasi tujuan, dan memobilisasi sumber daya
untuk mencapainya.
- Organisasi harus melakukan integrasi yaitu menetapkan, mengorganisasikan, mengkoordinasikan,
dan menyatukan hubungan-hubungan di antara anggota organisasi sebagai satu entitas.
- Organisasi harus memperhatikan, memelihara hal latensi atau keberlanjutan pola-pola kultural dan
motivasi sistem organisasi.
Dari kacamata model fungsi sosial ini, pemimpin yang efektif mampu melakukan tanggungjawab sosial dengan memecahkan permasalahan yang berkenaan dengan keempat masalah dasar tersebut.
5. Menurut model kontradiksi yang dikemukakan oleh John Rohrbaugh, organisasi memiliki atau menghadapi lingkungan, tujuan, anggota dan pilihan waktu yang bersifat plural dan mengandung potensi konflik. Pemimpin yang efektif mempunyai kemampuan untuk menghadapi dan mengatasi organisasi yang memiliki unsur-unsur yang plural dan tidak bebas konflik itu. Pluralitas di dalam organisasi harus dilihat sebagai kekayaan, keindahan, dan oleh karena itu setiap unsur yang ada di dalam organisasi harus dijaga dan dimanfaatkan untuk kepentingan organisasi. Setiap perbedaan dan konflik sangat mungkin terjadi, tetapi pemimpin yang efektif harus mampu mengelola perbedaan, jangan sampai menjadi sumber konflik yang menghancurkan organisasi.
C. Pengertian Kepemimpinan yang Efektif
Melihat kelima model keefektifan organisasi tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa setiap pemimpin harus melakukan satu atau lebih hal, kegiatan untuk menjaga dan mencapai predikat pemimpin dan organisasi yang “efektif”. Berdasarkan kelima model tersebut maka dapat dikatakan bahwa pemimpin dan organisasi yang efektif memiliki ciri-ciri :
- Mampu mengeksploitasi dan menggunakan sumberdaya lingkungan untuk menjaga kelangsungan
fungsi organisasi.
- Mampu mencapai/merealisasikan tujuan organisasi yang mungkin banyak, beragam, berbeda-beda
dan bahkan bertentangan.
- Mampu memenuhi kebutuhan individu atau kelompok.
- Mampu melakukan penyesuaian tuntutan lingkungan
- Mampu melakukan integrasi (mengorganisir, mengkoordinir, menyatukan) anggota-anggota yang
saling berhubungan
- Mampu memelihara dan menjaga keberlanjutan pola kultural dan motivasi organisasi
- Mampu menghadapi lingkungan, tujuan, anggota, pilihan waktu yang bersifat plural dan berpotensi
konflik.
Harmon dan Mayer (1986, 40) mengatakan bahwa dalam konteks organisasi, keefektifan (efektivitas, effectiveness) mempunyai focus pada dua hal, yaitu mendapatkan suatu pekerjaan yang dilakukan, dan pelaksanaan pekerjaan tersebut mempunyai dampak yang sesuai bagi sasaran dan tujuan organisasi. Mendasarkan pada pengertian ini, maka dapat dikatakan bahwa keefektifan kepemimpinan mempunyai dua aspek yang tidak dapat dipisahkan yaitu pelaksanaan pekerjaan dan dampaknya pada sasaran atau tujuan organisasi.
Pemimpin suatu organisasi mempunyai tanggungjawab untuk melaksanakan tugas kepemimpinan dan mencapai sasaran atau tujuan organisasional. Kepemimpinan yang efektif berkenaan dengan pelaksanaan tugas kepemimpinan dan dampaknya pada sasaran atau tujuan organisasional. Kepemimpinan yang efektif berarti pemimpin menunjukkan kemampuannya dalam melaksanakan tugas-tugas kepemimpinan sehingga orang-orang (pengikutnya) mau melaksanakan pekerjaan yang mempunyai dampak baik pada sasaran dan tujuan organisasi.
Tabel
Tindakan dan Dampak Kepemimpinan Untuk Mengukur Keefektifan Kepemimpinan
NO.
TINDAKAN PEMIMPIN
DAMPAK
1.
Menemukan motivator rahasia yang
menggerakkan orang lain : kebutuhan,
harapan, keinginan.
Mendapat kekuasaan dan penguasaan
mutlak atas orang lain; menghemat
banyak waktu, tenaga, dan uang; bisa
mempengaruhi, mengendalikan dan
mendapat kekuasaan penuh dan
penguasaan mutlak atas setiap orang;
menjadi orang dengan kepribadian yang
menarik dan kuat.
2.
Membuat
orang
menaruh
perhatian dengan cara mengetahui
dengan tepat siapa orang-orang yang
ada di sekeliling, menemukan apa
yang diinginkannya di atas
segala-galanya, dan menetapkan secara tepat
bagaimana bisa membantunya
mendapatkan apa yang diinginkan.
Anda tidak mendapat kesulitan sama
sekali dalam membujuk orang lain
menerima gagasan, usul, dan pandangan
Anda, produk atau jasa Anda; Anda
dipandang memiliki kepribadian yang
menarik, positif, dan menyenangkan
sehingga keyakinan dan kemampuan
Anda sendiri juga meningkat; Anda bisa
membuat orang lain berpikir dan
bertindak yang menyenangkan terhadap
diri Anda; anda akan mendapatkan
kekuasaan dan penguasaan atas orang
lain sehingga mereka selalu melakukan
apa yang Anda inginkan.
3.
Miliki kemampuan untuk melakukan
pekerjaan tertentu dan keyakinan pada
diri sendiri (Jadilah orang profesional)
NO.
TINDAKAN PEMIMPIN
DAMPAK
4.
Memberikan perintah yang jelas dan
lugas, yang akan mudah dipahami;
mengetahui standar pelaksanaan
pekerjaan dan hasilnya; menggunakan
pujian, pengakuan akan upaya
orang-orang, dan meyakinkan akan nilainya;
menerangkan bahwa pekerjaan
dipandang penting; membuat orang
merasakan tenteram dan aman atau
tidak takut kehilangan pekerjaan.
Orang akan cepat menanggapi
perintah. Orang akan bekerja lebih
baik. Menyingkirkan pemborosan,
kebingung-an, dan usaha sia-sia.
5.
Menerapkan manajemen partisipatif
atau peran serta : meminta gagasan
Bawahan mendukung sepenuhnya,
melakukan pekerjaan dengan baik dan
tepat waktu.
7.
Membuat rencana yang mantap,
cermat, dan rasional.
Orang/organisasi donor memberikan
bantuan, meloloskan proposal bantuan.
10.
Membentuk pasukan, karyawan,
pelanggan yang loyal dengan cara
memenuhi kebutuhan dan keinginan
mereka.
Pasukan, karyawan dan pelanggan
menjadi loyal, hormat, percaya, yakin,
sukarela, bekerjasama, mendukung
Anda.
NO.
TINDAKAN PEMIMPIN
DAMPAK
11.
Menghadapi perlawanan dan
mengatasi penentangan dengan cara
memberi keterangan dan menawarkan
kepada karyawan, pelanggan, dan
pasukan tentang pentingnya pekerjaan
dan keuntungan konkrit tertentu yang
akan memenuhi kebutuhan dan
keinginan mereka.
Orang akan melakukan yang Anda
inginkan, mengikuti perintah Anda.
12.
Menulis surat/memo yang sempurna :
gagasan, keinginan, dan tujuan ditulis
secara jelas, menggunakan kata-kata
yang diketahui maksudnya, logis,
obyektif
Orang melakukan kehendak/tujuan Anda.
13.
Mengetahui sasaran/tujuan/keinginan,
berusaha dengan mengerahkan
segala-galanya yang Anda miliki, belajar
untuk rukun, menolak kelancangan
orang tanpa menghancurkan dirinya
dan
diri
Anda,
belajar
mewakilkan atau
membagi
tanggungjawab kepada bawahan.
Anda menjadi penguasa, dipercaya
melakukan hal-hal yang lebih besar, dan
keinginan Anda dituruti.
14.
Mengubah musuh menjadi teman setia
dengan cara tidak melakukan
pergunjingan dan fitnah, tidak
mengkritik atau mengatakan kesalahan
orang lain, dan tidak mengejek orang
lain.
Anda mendapat banyak sahabat, mampu
mengontrol orang lain, dikagumi,
dihormati, berkembang kemampuan seni
hubungan antar manusia
15.
Mengambil inisiatif untuk memimpin
Meminta nasihat, pandangan, bantuan
orang lain.
Mengenal nama, pekerjaan, dan hobi
orang lain.
Mengontrol sikap dan emosi diri.
Anda mendapatkan pelayanan istimewa,
orang lain akan membantu Anda.
Bisa menjalin persahabatan.
Orang lain juga akan mengontrol sikap
dan emosinya terhadap Anda.
16.
Melakukan sesuatu terlebih dahulu.
Memberi sesuatu terlebih dahulu.
Selalu memilih bersikap
yang
menyenangkan, percakapan yang
penuh kegembiraan.
Orang akan minta pengarahan, petunjuk,
dan akan melakukan sesuatu tanpa
membantah. Anda akan menjadi tuan,
penguasa,
mendapatkan
cinta,
penghormatan. Tercipta suasana damai,
menyenangkan, bahagia, kerjasama,
saling menolong, suka cita.
NO.
TINDAKAN PEMIMPIN
DAMPAK
17.
Memadamkan kemarahan orang lain
dengan cara mau mendengarkan
ceritanya dari awal sampai akhir tanpa
menyela sama sekali; sabar dan tidak
melawan; menemukan fakta
permasalahan dan memperbaiki atau
memulihkannya; membuat orang
merasa penting dan menaruh perhatian
padanya; meminta maaf.
Mengubah orang lain menjadi teman,
sahabat, ramah, mau kerjasama,
cinta, meningkatkan hubungan kerja.
18.
Menguasai seni hidup untuk maju :
menunjukkan sebagai individu yang
menguasai pengetahuan dan cakap
bekerja, mengetahui cara kerja
organisasi luar dalam, menjadi sumber
informasi dan pengetahuan, selalu
tinggal di kantor lebih lama,
berpenampilan sebagai eksekutif,
bersikap dan bertindak profesional
seperti tidak membesarkan persoalan
kecil, menyatakan rasa keberatan
dengan tenang dan sopan,
mengembangkan kemampuan untuk
menyesuaikan diri, bersikap antusias
terhadap pekerjaan, tidak takut
mengambil risiko yang masuk akal,
tidak menghindari tanggungjawab.
19.
Membaca peta kekuasaan organisasi
yang kelihatan dan tidak kelihatan;
menonjolkan kekuasaan pribadi,
menonjolkan isyarat kekuasaan
(karisma, daya tarik) tanpa suara,
menguasai dan mengontrol orang yang
benar-benar memiliki kekuasaan.
Mencapai puncak kekuasaan, mendapat
kekuasaan besar atas orang lain,
mencapai sukses
20.
Membantu orang lain memecahkan
masalahnya
Mengubah seseorang yang punya
masalah menjadi pekerja yang puas,
ramah, dan Anda dapat menguasai dan
mengontrol mereka.
21.
Melakukan pengorganisasian,
departe-menisasi, dan pendelegasian
wewe-nang.
Anda bisa menguasai dan mengontrol
banyak orang hanya melalui beberapa
orang, menghemat tenaga, waktu
22.
Mengubah cara berpikir orang (cuci
otak)
Orang mau melakukan apa yang Anda
inginkan.
NO.
TINDAKAN PEMIMPIN
DAMPAK
23.
Membuat orang lain membuka rahasia
suksesnya. Belajar menjadi sukses dari
orang lain yang terlebih dulu sukses.
Meningkatkan keberhasilan, keefektifan.
24.
Aktif dalam organisasi. Aktif dalam
lingkaran kekuasaan.
25.
Datang awal, mau kontak/beramah
tamah dengan elite kekuasaan,
mengajak orang lain pesta.
Menjadi pusat perhatian. Mencapai
kekuasaan, pengaruh, dan kontrol atas
orang lain.
Sumber : Diolah dari James K. Van Fleet, 1994
D. Faktor-Faktor yang Berkaitan dengan Keefektifan Kepemimpinan
Berdasarkan pandangan Chung dan Megginson(1981, 282), dapat dikatakan bahwa keefekifan kepemimpinan tergantung pada faktor kesesuaian perilaku pemimpin dengan faktor situasional. Dan faktor kesesuaian perilaku pemimpin dengan faktor situasional ini terkait dengan perilaku pemimpin dan faktor situasional. Sedangkan perilaku pemimpin berhubungan dengan/dipengaruhi oleh sifat-sifat personal pemimpin. Hubungan berbagai faktor tersebut disebut sebagai model proses kepemimpinan yang integral (An Integrated Leadership Process Model).
1. Faktor Kesesuaian Perilaku/Gaya Pemimpin
Perilaku berarti cara menjalankan atau berbuat. Dalam kepemimpinan, perilaku berarti cara pemimpin bertindak mempengaruhi para pengikutnya. Pola perilaku adalah model, cara pimpinan bertindak mempengaruhi para bawahan, yang dimaksudkan untuk mencapai kepemimpinan yang efektif.
Di dalam usaha mempengaruhi bawahannya, pimpinan perlu menggunakan pola perilaku tertentu yang dipandang sesuai dan dapat diterima oleh para bawahannya. Sesuai berarti cocok dengan situasi yang dihadapi, sehingga perilaku atau tindakannya itu kena benar pada sasaran yang dimaksudkan yaitu efektifnya kepemimpinan. Jadi dalam usaha mempengaruhi bawahannya, pimpinan perlu memperhatikan situasi yang dihadapi untuk menentukan pola perilaku di dalam menjalankan kepemimpinannya, agar kepemimpinannya bisa efektif.
Pimpinan akan berhasil dalam kepemimpinannya jika ia mampu berperilaku secara pantas, sesuai kondisi situasi yang dihadapi. Misalnya apabila petunjuk dibutuhkan, pimpinan dapat memberi petunjuk. Jika kebebasan partisipasi dipandang perlu pimpinan dapat memberi kebebasan (Hunneryager & Heckman, 1967, 301). Perilaku yang sesuai dengan kekuatan atau faktor situasional akan mendatangkan keefektifan kepemimpinan. Seperti dikatakan oleh Reddin (1970, 135) bahwa hasil keefektifan manajerial berasal dari suatu kesesuaian gaya dan situasi. Jadi perilaku pimpinan akan mendatangkan keefektifan kepemimpinan apabila perilaku yang digunakan dalam menjalankan kepemimpinannya sesuai dengan faktor situasional. Berkaitan dengan pola perilaku partisipatif misalnya pimpinan berperilaku partisipatif secara efektif apabila situasi bawahan berpengalaman dan paham mengenai pekerjaan, tugas, dan fungsinya; kelompok menunjukkan saling bergantung, saling menerima, dan mempunyai keterkaitan tugas dan fungsi; pekerjaan, tugas, dan fungsi organisasi sedemikian besar dan bervariasi sehingga butuh pendelegasian demi kesuksesannya; dan waktu untuk menyelesaikan atau melaksanakan pekerjaan yang bersangkutan dengan tugas organisasi longgar sehingga pimpinan sendiri lebih dapat bersikap fleksibel untuk melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan.
Pimpinan dalam berperilaku perlu mempunyai kemampuan, kecakapan membaca situasi yaitu kemampuan untuk melihat baik-buruk situasi, yang kemudian digunakan untuk memilih atau menentukan pola perilaku yang sesuai/cocok dengan situasi agar terjadi kepemimpinan yang efektif.
Dalam kaitannya dengan tanggungjawab pimpinan dalam tugas kepemimpinannya dapat dikatakan bahwa pimpinan yang fleksibel dan tanggap terhadap tuntutan situasi, akan lebih mampu menentukan perilaku, cara bertindak yang sesuai dengan situasi untuk mempengaruhi bawahannya, sehingga mencapai kepemimpinan yang efektif.
Terdapat beberapa pola perilaku pemimpin : perilaku pemimpin direktif, perilaku pemimpin dukungan, perilaku pemimpin partisipatif, dan perilaku pemimpin berorientasi penyelesaian tugas (Chung dan Megginson, 1981, 296-299). Setiap pola perilaku cocok dan efektif hanya dalam situasi tertentu.
Perilaku pemimpin direktif mempunyai ciri-ciri utama yaitu bahwa pemimpin menunjukkan susunan tugas pekerjaan para bawahan dan membimbing mereka untuk mencapai sasaran. Perilaku ini menunjukkan dominasi tindakan campur tangan pemimpin yang ketat terhadap pekerjaan dan pelaksanaan kerja bawahan, sehingga inisiatif para bawahan sendiri terkekang, atau kurang. Perilaku bawahan telah diarahkan sedemikian rupa dengan ketentuan-ketentuan atau batasan-batasan tanggungjawab yang jelas. Perilaku pemimpin direktif akan efektif pada situasi seperti bawahan tidak kompeten, dan tugas dalam situasi tidak terstruktur (tidak teratur).
Perilaku pemimpin dukungan dapat dilihat dari tindakan pemimpin yang mengutamakan keterbukaan dan menggunakan cara-cara pendekatan yang halus kepada para bawahan dengan tujuan untuk memelihara suasana yang mendukung pelaksanaan kegiatan mencapai tujuan organisasi. Pemimpin menunjukkan maksud kepentingan secara pribadi kepada bawahan, ramah, bersahabat, mudah didekati, memberi sarana konsultasi, memperjuangkan keharmonisan kelompok, menggunakan hadiah sebagai sarana menambah dukungan, dan mempergunakan hadiah yang positif lebih daripada sanksi yang negatif. Perilaku dukungan ini efektif dijalankan pada situasi misalnya para bawahan bersifat terbuka, bermotivasi hubungan interpersonal yang kuat.
Perilaku partisipatif ditunjukkan dari pemimpin yang membagikan tanggungjawab pelaksanaan pekerjaan dan pemeliharaan fungsi-fungsi kepada para anggota kelompok kerja. Pemimpin partisipatif mendistribusikan kekuasaan kepada bawahan di dalam proses pembuatan keputusan dan pelaksanaannya. Jadi pemimpin partisipatif memberikan kesempatan kepada bawahan untuk berpartisipasi di dalam proses pencapaian tujuan kelompok/organisasi. Perilaku partisipatif dapat efektif dalam situasi bawahan menunjukkan kompetensi, dan berpendidikan (literer).
Perilaku pemimpin berorientasi penyelesaian tugas menekankan rasa ikatan kelompok terhadap tujuan atau sasaran tugas organisasi, mengharapkan bawahan melaksanakan pekerjaan secara maksimal, dan menunjukkan kepercayaan yang tinggi terhadap kemampuan bawahan untuk memikul tanggungjawab pelaksanaan tugas. Perilaku berorientasi penyelesaian tugas cocok dan efektif dilakukan pada situasi pekerjaan yang terstruktur/teratur, jelas, dan didukung sarana prasarana, sistem dan prosedur kerja yang memadai.
3. Faktor Situasional deskripsi tugas, kebijaksanaan, peraturan, atau pernyataan-pernyataan. Kepada pimpinan misalnya diberlakukan nilai bahwa pimpinan yang diharapkan ialah seseorang yang dinamis, imajinatif, tegas dan pasti dalam mengambil keputusan, persuasif, kooperatif, atau mempunyai human relation skill. Dengan anggapan, bila harapan ini terpenuhi pimpinan dapat berperilaku atau bertindak tertentu seperti yang diinginkan sehingga dapat diterima, dan efektif kepemimpinannya. Pada bawahan misalnya dipersyaratkan mempunyai pengalaman tertentu, dan paham mengenai jabatan, pekerjaan yang bersangkutan dengan tugas dan fungsinya agar mampu melaksanakan tugas dan berpartisipasi dalam pembuatan keputusan, dan mampu melaksanakan kegiatan sesuai rencana, sehingga pimpinan pun dapat efektif berperilaku partisipatif, mengikutsertakan bawahan dalam pembuatan keputusan, dan menyerahkan pengendalian atau kemajuan, kelancaran tugas, fungsi, dan pelaksanaan pekerjaan.
mempertimbangkan bagaimana anggota-anggota bawahan bekerjasama secara efektif sebagai suatu kelompok. Jika kelompok kerja efektif maka pimpinan efektif menjalankan perilaku partisipatif, misalnya. Sebab jika antar satuan kerja bawahan saling tergantung, saling menerima, dan ada keterkaitan tugas untuk terlaksananya pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya, maka partisipasi atau keikutsertaan bawahan itu menentukan kelancaran proses pencapaian tujuan organisasi. Didalam situasi ini, pimpinan dapat efektif berperilaku partisipatif.
Masalah, tugas dan fungsi organisasi yang ada juga menentukan seberapa kewenangan untuk memecahkan atau melaksanakan tugas akan didelegasikan oleh pimpinan kepada bawahannya. Masalah, tugas, dan fungsi yang besar dan luas, atau terdiri bermacam-macam bidang menuntut pimpinan agar berperilaku atau bertindak partisipatif supaya pekerjaan dapat terlaksana dan dapat diselesaikan dengan sukses.
Waktu juga merupakan suatu faktor situasi yang menentukan perilaku pemimpin. Jika pimpinan butuh untuk mengambil keputusan atau tindakan yang bersifat segera, ia bisa tidak melibatkan orang-orang lain. Sebaliknya apabila waktu longgar, maka menjadi sangat mungkin bagi pimpinan untuk mengikutsertakan bawahan dalam proses pengambilan keputusan dan dalam pelaksanaan/penyelesaian suatu tugas. Pimpinan dapat berperilaku fleksibel menurut kelonggaran waktu. Pimpinan dapat mengatur waktu untuk menyelesaikan pekerjaan, tugas, fungsi, dan masalah organisasi.
4. Sifat-Sifat Personal Pemimpin.
Sifat personal pemimpin adalah kualitas, ciri-ciri atau karakteristik yang secara kodrati dimiliki seorang pemimpin, yang mempengaruhi segenap pikiran, tindakan, ataupun perilakunya. Sifat personal pemimpin dapat dilihat dari dimensi-dimensi sikap, motivasi, dan kepribadiannya.
Sikap merupakan suatu cara bereaksi terhadap suatu rangsangan yang timbul dari seseorang atau dari situasi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sikap pemimpin adalah cara bereaksi pemimpin terhadap rangsangan yang datang dari orang-orang lain yang dipimpin ataupun dari situasi lingkungan di mana pemimpin itu berkarya. Diharapkan pemimpin bersikap luwes, suka membantu, beremosi stabil, mempunyai kerelaan memberikan pengaruhnya pada orang-orang yang dipimpin, dan berinisiatif, kaya akan ide dan usaha untuk melaksanakan tugas, sehingga bawahan merasa puas, dan bergairah di dalam melaksanakan pekerjaan. Dalam kaitannya dengan pelaksanaan tugas, kebesaran pribadi pemimpin terletak pada kedalaman watak manusiawi mereka : imajinasi, kehendak, ketabahan, keberanian, kecakapan, dan kemauan untuk bekerja dan berhubungan dengan orang-orang lainnya, termasuk untuk menanggung risiko kegagalan (bandingkan dengan Lowney, 2005, 84).
Fiedler, seperti dikutip Chung dan Megginson, mengatakan bahwa berkenaan dengan motivasinya, pemimpin dapat dibedakan menjadi dua : pemimpin bermotivasi hubungan (relation-motivated leader), dan pemimpin yang bermotivasi tugas (task-motivated leader). Bisa jadi pemimpin memiliki satu atau kedua motivasi tersebut sekaligus.
Pemimpin bermotivasi hubungan cenderung menaruh perhatian terhadap pelaksanaan pekerjaan yang baik dengan cara menekankan pada pemeliharaan hubungan antar pribadi (interpersonal), karena harga dirinya sangat tergantung pada bagaimana orang lain berhubungan dengannya. Pemimpin ini sangat peka terhadap kebutuhan-kebutuhan dan perasaan bawahan. Bahkan apabila terdapat orang-orang yang tidak ingin bekerjasama dengan orang-orang tertentu, pemimpin masih menaruh respek dan perhatian terhadap mereka. Karena kepekaannya itu maka pemimpin bermotivasi hubungan menjadi efektif dalam menerapkan perilaku partisipatif.
situasi-situasi yang tidak mendukung, pemimpin bermotivasi tugas dapat menjadi pemimpin direktif. Pemimpin dapat efektif berperilaku penyelesaian tugas, di dalam situasi yang baik ini.
Tentang kepribadian, Rice (1965) mengatakan bahwa kepribadian seseorang terbentuk sejak lahir, merupakan warisan keturunan, dan dari pengalaman-pengalaman yang dilalui, terutama yang terjadi pada masa kanak-kanak dan masa muda yang sulit sekali diubah setelah ia menjadi dewasa. Kombinasi unsur-unsur keturunan seperti kejiwaan, dorongan, nafsu, naluri dan unsur-unsur yang berasal dari masyarakat seperti norma-norma dan nilai-nilai kemasyarakatan membentuk keadaan kejiwaan yang biasa disebut kepribadian itu.
Uris mendefinisikan kepribadian sebagai corak seorang individu dengan suatu perasaan/emosi tertentu. Dalam studi kepemimpinan dibedakan tiga tipe atau corak kepribadian pemimpin yaitu kepribadian yang mengutamakan kekuasaan, kepribadian yang mengutamakan persamaan, dan kepribadian yang mengutamakan kebebasan. Bentuk-bentuk kepribadian itu memang diperlukan menurut konteks situasi tertentu yang ada di dalam organisasi. Oleh karena itu, pemimpin harus pandai-pandai memainkan corak perasaan atau emosi (kepribadian)-nya menurut situasi. Baik pemimpin maupun bawahan, kadang-kadang memerlukan ketegasan dari sumber kekuasaan. Dan pada dasarnya ingin dihargai sama sebagai sesama. Tetapi juga mendambakan keleluasaan gerak sehingga tidak terkekang untuk mengembangkan diri dan inisiatifnya, di samping untuk menyumbangkan kemampuan bagi kemajuan kelompok di dalam melaksanakan tugas.
Hubungan sifat personal pemimpin dengan perilaku pemimpin dapat dikatakan sebagai berikut : bahwa sifat-sifat personal pemimpin ikut menentukan pola perilakunya. Pemimpin mampu untuk berperilaku tertentu apabila ia mempunyai sifat-sifat kecenderungan tertentu. Misalnya pemimpin yang mempunyai sifat motivasi hubungan yang kuat akan mampu secara efektif berperilaku partisipatif. Sebab pemimpin cenderung mampu menghimpun bawahan di dalam suatu kelompok, dan menggerakkan mereka untuk ikut serta atau berpartisipasi di dalam usaha mencapai kesuksesan tugas organisasi.
E. Penutup