Kepemimpinan yang Efektif dalam gereja (1)

27 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakar Masalah

Kepemimpinan berasal dari kata “pimpin” yang berarti tuntun, bina atau bimbing. Pimpin dapat pula berarti menunjukan jalan yang baik dan benar, tetapi dapat pula berarti mengepalai pekerjaan atau kegiatan. Dengan demikian, kepemimpinan adalah hal yang berhubungan dengan proses menggerakan, memberikan tuntunan, binaan dan bimbingan, menunjukan jalan, memberi keteladanan, mengambil resiko, mempengaruhi dan meyakinkan pihak lain, mengarahkan dan masih banyak lagi artinya.

Dalam setiap organisasi harus memiliki pemimpin agar berjalan dengan baik. Tanpa adanya pemimpin tentu sangat sulit dan tidak mudah dalam menjalankan semua elemen dan komponen yang ada dalam organisasi tersebut. Seorang pemimpin tidak begitu saja dipiliih dan ditentukan. Ada kriteria-kriteria tertentu yang harus dimiliki olehnya. Segenap kemampuan dalam berpikir dan berbuat menjadi pertimbangan yang sangat urgen diperhatikan.

(2)

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis dapat mengidentifikasi masalah sebagai berikut: kepemimpinan yang efektif di dalam suatu organisasi.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan dari latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah yang dimaksud dengan kepemimpinan? 2. Bagaimanakah prinsip, teori, tipe kepemimpinan? 3. Bagaimanakah peran dan fungsi kepemimpinan? 4. Apa saja syarat-syarat kepemimpinan?

5. Apa saja asas-asas kepemimpinan?

6. Bagaimanakah tanda-tanda kepemimpinan yang efektif?

7. Bagaimanakah cara mengembangkan sifat pemimpin yang efektif?

1.4 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui definisi kepemimpinan.

2. Untuk mengetahui prinsip, teori, tipe kepemimpinan. 3. Untuk mengetahui peran dan fungsi kepemimpinan. 4. Untuk mengetahui syarat-syarat kepemimpinan. 5. Untuk mengetahui asas-asas kepemimpinan.

6. Untuk mengetahui tanda-tanda kepemimpinan yang efektif. 7. Untuk mengetahui mengembangkan sifat pemimpin yang efektif.

1.5 Manfaat Penulisan

Manfaat dari penulisan ini adalah: 1. Untuk penulis/diri sendiri.

Untuk dapat menambah wawasan dan pengetahuan serta dapat mengaplikasikan dan mensosialisasikan teori yang telah diperoleh selama perkuliahan.

2. Sebagai referensi pustaka dan sebagai referensi bagi peneliti berikutnya.

1.6 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan ini merupakan gambaran umum mengenai isi dari keseluruhan pembahasan, yang bertujuan untuk memudahkan pembaca dalam mengikuti alur pembahasan yang terdapat dalam penulisan proposal ini. Adapun sistematika penulisan adalah sebagai berikut :

(3)

Berisi tentang latar belakang kepemimpinan yang efektif yang akan dibahas yaitu mengenai konsep kepemimpinan, identifikasi masalah, rumusan masalah yang akan bahas, tujuan dan manfaat yang akan dilakukan, serta sistematika penulisan.

BAB 2 : TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini berisikan tentang uraian teoritis yang akan menguraikan teori-teori yang berhubungan dengan hal-hal yang menjadi pembahasan penelitian. BAB 3 : METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini berisikan tentang jenis penelitian, lokasi dan waktu penelitian, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data, serta populasi dan sampel. BAB 4 : PEMBAHASAN

Bab ini berisikan tentang pembahasan mengenai kepemimpinan yang efektif serta bagaimana cara mengembangkan sifat pemimpin yang efektif. BAB 5 : PENUTUP

(4)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Kepemimpinan menurut Para Ahli

Banyak definisi kepemimpinan diberikan para ahli, diantaranya:

1. Sondang P. Siagian

Kepemimpinan adalah suatu kegiatan untuk mempengaruhi perilaku orang-orang, agar mau bekerja sama menuju kepada suatu tujuan tertentu yang mereka inginkan bersama.

2. Soerjono Soekanto

Kepemimpinan adalah kemampuan dari seseorang untuk mempengaruhi orang lain, sehingga orang lain itu bertingkah laku sebagaimana dikehendakinya. 3. Raymond J. Burby

Kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin yang oleh kata dan atau tindakannya mendorong orang-orang untuk mengikutinya dengan suka rela. 4. Pariata Westra

Kepemimpinan adalah proses pengaruh mempengaruhi antar pribadi atau orang dalam situasi tertentu melalui proses komunikasi yang terarah untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

5. Ordway Tead

Kepemimpinan adalah suatu kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang guna bekerja sama menuju kepada suatu tujuan tertentu yang diinginkan.1)

6. Miftah Thoha

Kepemimpinan adalah kegiatan untuk mempengaruhi perilaku orang lain, atau seni mempengaruhi perilaku manusia, baik perseorangan maupun kelompok. 7. Hadari

Kepemimpinan dari dua konteks, struktural dan nonstruktural. Dalam konteks struktural kepemimpinan diartika sebagai proses pemberian motivasi agar orang-orang yang dipimpin melakukan kegiatan dan pekerjaan sesuai dengan

(5)

program yang telah ditetapkan. Adapun dalam konteks nonstruktural kepemimpinan dapat diartikan sebgai proses memengaruhi pikiran, perasaan, tingkah laku, dan mengerahkan semua fasilitas untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama.

8. Tanembaum dan Massarik

Kepemimpinan adalah suatu proses atau fungsi sebagai suatu peran yang memerintah.2)

Maka dari beberapa defenisi yang disampaikan diatas dapat kita pahami bahwa kepemimpian merupakan suatu usaha untuk memengaruhi orang dengan cara memberikan motivasi dan arahan supaya mereka mau bekerja sama demi mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama.

2.2 Prinsip, Teori, Tipe dan Gaya Kepemimpinan

2.2.1 Prinsip Kepemimpinan

Prinsip sebagai paradigma terdiri dari beberapa ide utama berdasarkan motivasi pribadi dan sikap serta mempunyai pengaruh yang kuat untuk membangun dirinya atau organisasi. Menurut Stephen R. Covey (1997), prinsip adalah bagian dari suatu kondisi, realisasi dan konsekuensi. Prinsip merupakan suatu pusat atau sumber utama sistem pendukung kehidupan yang tampil dengan 4 dimensi seperti: keselamatan, bimbingan, sikap yang bijaksana, dan kekuatan. Karakteristik seorang pemimpin didasarkan pada prinsip-prinsip (Stephen R. Covey) sebagai berikut:

1. Seorang yang belajar seumur hidup 2. Berorientasi pada pelayanan

3. Membawa energi yang positif a) Percaya pada orang lain

b) Keseimbangan dalam kehidupan c) Melihat kehidupan sebagai tantangan d) Sinergi

(6)

e) Latihan mengembangkan diri sendiri

Mencapai kepemimpinan yang berprinsip tidaklah mudah, karena beberapa kendala dalam bentuk kebiasaan buruk, misalnya kemauan dan keinginan sepihak, kebanggaan dan penolakan, dan ambisi pribadi. Untuk mengatasi hal tersebut, memerlukan latihan dan pengalaman yang terus-menerus. Latihan dan pengalaman sangat penting untuk mendapatkan perspektif baru yang dapat digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan.3)

2.2.2 Teori Kepemimpinan

Seorang pemimpin harus mengerti tentang teori kepemimpinan agar nantinya mempunyai referensi dalam menjalankan sebuah organisasi. Beberapa teori tentang kepemimpinan antara lain :

1. Teori Kepemimpinan Sifat ( Trait Theory )

Analisis ilmiah tentang kepemimpinan berangkat dari pemusatan perhatian pemimpin itu sendiri. Teori sifat berkembang pertama kali di Yunani Kuno dan Romawi yang beranggapan bahwa pemimpin itu dilahirkan, bukan diciptakan yang kemudian teori ini dikenal dengan ”The Greatma Theory”. Dalam perkembanganya, teori ini mendapat pengaruh dari aliran perilaku pemikir psikologi yang berpandangan bahwa sifat – sifat kepemimpinan tidak seluruhnya dilahirkan akan tetapi juga dapat dicapai melalui pendidikan dan pengalaman. Sifat–sifat itu antara lain : sifat fisik, mental, dan kepribadian. Keith Devis merumuskan 4 sifat umum yang berpengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi, antara lain :

a) Kecerdasan

(7)

Pemimpin yang mempunyai kecerdasan yang tinggi di atas kecerdasan rata–rata dari pengikutnya akan mempunyai kesempatan berhasil yang lebih tinggi pula. Karena pemimpin pada umumnya memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengikutnya.

b) Kedewasaan dan Keluasan Hubungan Sosial

Umumnya di dalam melakukan interaksi sosial dengan lingkungan internal maupun eksternal, seorang pemimpin yang berhasil mempunyai emosi yang matang dan stabil. Hal ini membuat pemimpin tidak mudah panik dan goyah dalam mempertahankan pendirian yang diyakini kebenarannya.

c) Motivasi Diri dan Dorongan Berprestasi

Seorang pemimpin yang berhasil umumnya memiliki motivasi diri yang tinggi serta dorongan untuk berprestasi. Dorongan yang kuat ini kemudian tercermin pada kinerja yang optimal, efektif dan efisien.

d) Sikap Hubungan Kemanusiaan

Adanya pengakuan terhadap harga diri dan kehormatan sehingga para pengikutnya mampu berpihak kepadanya.

2. Teori Kepemimpinan Perilaku dan Situasi

Berdasarkan penelitian, perilaku seorang pemimpin yang mendasarkan teori ini memiliki kecendrungan kearah dua hal, yaitu:

(8)

yang ada dalam hal ini seperti: membela bawahan, memberi masukan kepada bawahan dan bersedia berkonsultasi dengan bawahan.

b) Struktur Inisiasi yaitu kecendrungan seorang pemimpin yang memberikan batasan kepada bawahan. Contohnya yaitu, bawahan mendapat instruksi dalam pelaksanaan tugas, kapan, bagaimana pekerjaan dilakukan, dan hasil yang akan dicapai.

Jadi, berdasarkan teori ini, seorang pemimpin yang baik adalah bagaimana seorang pemimpin yang memiliki perhatian yang tinggi kepada bawahan dan terhadap hasil yang tinggi pula.

3. Teori Kewibawaan Pemimpin

Kewibawaan merupakan faktor penting dalam kehidupan kepemimpinan, sebab dengan faktor itu seorang pemimpin akan dapat mempengaruhi perilaku orang lain baik secara perorangan maupun kelompok sehingga orang tersebut bersedia untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh pemimpin.

4. Teori Kepemimpinan Situasi

Seorang pemimpin harus merupakan seorang pendiagnosa yang baik dan harus bersifat fleksibel, sesuai dengan perkembangan dan tingkat kedewasaan bawahan.

5. Teori Kelompok

Agar tujuan kelompok (organisasi) dapat tercapai, harus ada pertukaran yang positif antara pemimpin dengan pengikutnya.4)

(9)

2.2.3 Tipe dan Gaya Kepemimpinan

Gaya kepemimpinan adalah cara seorang pemimpan bersikap, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain dalam mempengaruhi orang untuk melakukan sesuatu. Gaya tersebut bisa berbeda–beda atas dasar motivasi, kuasa ataupun orientasi terhadap tugas atau orang tertentu. Diantara beberapa gaya kepemimpinan, terdapat pemimpin yang positif dan negatif, dimana perbedaan itu didasarkan pada cara dan upaya mereka memotivasi karyawan. Apabila pendekatan dalam pemberian motivasi ditekankan pada imbalan atau reward (baik ekonomis maupun nonekonomis) berarti telah digunakan gaya kepemimpinan yang positif. Sebaliknya jika pendekatannya menekankan pada hukuman atau punishment, berarti dia menerapkan gaya kepemimpinan negatif. Pendekatan kedua ini dapat menghasilakan prestasi yang diterima dalam banyak situasi, tetapi menimbulkan kerugian manusiawi. Selain gaya kepemimpinan di atas masih terdapat gaya lainnya, diantaranya:

1. Otokratis

Kepemimpinan seperti ini menggunakan metode pendekatan kekuasaan dalam mencapai keputusan dan pengembangan strukturnya. Kekuasaan sangat dominan digunakan. Memusatkan kekuasaan dan pengambilan keputusan bagi dirinya sendiri, dan menata situasi kerja yang rumit bagi pegawai sehingga mau melakukan apa saja yang diperintahkan. Kepemimpinan ini pada umumnya negatif, yang berdasarkan atas ancaman dan hukuman. Meskipun demikian, ada juga beberapa manfaatnya antaranya memungkinkan pengambilan keputusan dengan cepat serta memungkinkan pendayagunaan pegawai yang kurang kompeten.

(10)

Lebih banyak mendesentrelisasikan wewenang yang dimilikinya sehingga keputusan yang diambil tidak bersifat sepihak.

3. Demokrasi

Ditandai adanya suatu struktur yang pengembangannya menggunakan pendekatan pengambilan keputusan yang kooperatif. Di bawah kepemimpinan pemimpin yang demokrasis cenderung bermoral tinggi dapat bekerjasama, mengutamakan mutu kerja dan dapat mengarahkan diri sendiri.

4. Kendali Bebas

Pemimpin memberikan kekuasaan penuh terhadap bawahan, struktur organisasi bersifat longgar dan pemimpin bersifat pasif. Yaitu pemimpin menghindari kuasa dan tanggung–jawab, kemudian menggantungkannya kepada kelompok baik dalam menetapkan tujuan dan menanggulangi masalahnya sendiri.5)

Dilihat dari orientasi pemimpin, terdapat dua gaya kepemimpinan yang diterapkan, yaitu gaya konsideral dan struktur, atau dikenal juga sebagai orientasi pegawai dan orientasi tugas. Beberapa hasil penelitian para ahli menunjukkan bahwa prestasi dan kepuasan kerja pegawai dapat ditingkatkan apabila konsiderasi merupakan gaya kepemimpinan yang dominan. Sebaliknya, para pemimpin yang berorientasi tugas yang terstruktur, percaya bahwa mereka memperoleh hasil dengan tetap membuat orang–orang sibuk dan mendesak mereka untuk berproduksi.

Pemimpin yang positif, partisipatif dan berorientasi konsiderasi, tidak selamanya merupakan pemimpinyan terbaik. Fiedler telah mengembakan suatu model pengecualian dari ketiga gaya kepemimpinan diatas, yakni model kepemimpinan

(11)

kontigennis. Model ini menyatakan bahwa gaya kepemimpinan yang paling sesuai bergantung pada situasi dimana pemimpin bekerja. Dengan teorinya ini Fiedler ingin menunjukkan bahwa keefektifan ditunjukkan oleh interaksi antara orientasi pegawai dengan 3 variabel yang berkaitan dengan pengikut, tugas dan organisasi. Ketiga variabel itu adalah hubungan antara pemimpin dengan anngota ( Leader – member rolations), struktur tugas (task strukture), dan kuasa posisi pemimpin (Leader position power). Variabel pertama ditentukan oleh pengakuan atau penerimaan (akseptabilitas) pemimpin oleh pengikut, variabel kedua mencerminkan kadar diperlukannya cara spesifik untuk melakukan pekerjaan, variabel ketiga menggambarkan kuasa organisasi yang melekat pada posisi pemimpin.

Model kontingensi Fieldler ini serupa dengan gaya kepemimpinan situasional dari Hersey dan Blanchard. Konsepsi kepemimpinan situasional ini melengkapi pemimpin dengan pemahaman dari hubungan antara gaya kepemimpinan yang efektif dengan tingkat kematangan (muturity) pengikutnya. Perilaku pengikut atau bawahan ini amat penting untuk mengetahui kepemimpinan situasional, karena bukan saja pengikut sebagai individu bisa menerima atau menolak pemimpinnya, akan tetapi sebagai kelompok, pengikut dapat menemukan kekuatan pribadi apapun yang dimiliki pemimpin.

Menurut Hersey dan Blanchard (dalam Ludlow dan Panton,1996 : 18 dst), masing–masing gaya kepemimpinan ini hanya memadai dalm situasi yang tepat meskipun disadari bahwa setiap orang memiliki gaya yang disukainya sendiri dan sering merasa sulit untuk mengubahnya meskipun perlu.6)

2.3 Peran dan Fungsi Kepemimpinan

(12)

berbagai macam peran pemimpin berdasarkan kewenangan dan status formal yang didapat dari organisasi. Menurutnya, kewenangan dan status formal yang didapat dari organisasi melahirkan tiga macam peran antar manusia. Peran antar manusia ini selanjutnya melahirkan tiga macam peran informatif. Selanjutnya peran informatif melahirkan empat macam peran pembuat keputusan.

1. Peran Antar Manusia

Tiga jenis peran yang langsung mengalir dari kewenangan formal adalah peran antar manusia, yang terdiri atas:

a) Peran selaku tokoh, karena posisinya selaku kepala dalam organisasi, setiap pemimpin mempunyai kewajiban untuk melakukan kegiatan yang bersifat seremonial. Misalnya, seorang Walikota terkadang harus menggunting pita dalam acara pembukaan sebuah kompleks Real estate, seorang Komandan menyematkan tanda jasa kepada bawahannya, dan lain-lain.

b) Peran selaku pemimpin, karena jabatannya, pemimpin bertanggungjawab atas segala sesuatu yang dikerjakan anak buahnya. Inilah yang disebut perannya selaku pemimpin. Pemimpin misalnya bertanggungjawab atas penggajian dan latihan kerja anak buahnya. Selain itu merupakan tugasnya yang tidak langsung untuk memotivasi dan meningkatkan semangat kerja anak buahnya. Ia harus berusaha menyelaraskan kebutuhan anak buahnya dengan kepentingan organisasi. Secara formal, organisasi hanya menyediakan sejumlah kewenangan, namun kepemimpinanlah yang menentukan sejauh mana kekuasaan yang tersedia akan dimanfaatkan.

(13)

dengan anak buahnya, dan hanya sekitar 7% saja dengan atasannya. Hubungan dengan teman sejawatnya (misalnya antar kepala bagian) dilakukan dengan cara informal, pribadi dan lisan, tetapi informasi yang terkumpulkan ternyata sangat efektif.

2. Peran Informatif

Mengalir dari peran hubungan antar manusia yang dimainkannya, baik dengan anak buah maupun dengan jaringan kerja yang dihadapinya, pemimpin dapat diibaratkan sebagai pusat syaraf organisasi. Ia tidak perlu mengetahui segalanya, tetapi ia pasti lebih mengetahui dari setiap anggota stafnya. Hal ini dapat dipahami karena selaku orang yang memiliki wewenang formal, ia memiliki akses yang memudahkan untuk mengadakan hubungan baik dengan anak buahnya, maupun dengan pihak ketiga. Peran informatif ini terdiri atas:

a) Peran selaku pencatat (monitor), karena jaringan kontak pribadinya demikian luas, pemimpin dapat mengumpulkan informasi dari berbagi pihak. Informasi itu didapatnya secara langsung, termasuk yang berupa desas-desus, kabar angin atau spekulasi. Informasi ini dapat berupa informasi lunak yang berguna bagi kepentingan organisasi. b) Peran selaku penyebar (disseminator), Informasi yang berhasil

didapatkannya berdasarkan hubungan pribadinya, boleh jadi ada yang perlu diketahui oleh anak buahnya. Pemimpin dapat memberikan informasi yang diperlukan itu secara langsung. Mungkin pemimpin menjadi penghubung antara anak buah yang saling menguntungkan, jika diantara mereka secara formal tidak ada jalur informasi satu sama lain.

(14)

Informasi tentu saja bukan akhir dari segala kegiatan. Informasi merupakan masukan dasar untuk membuat keputusan. Pemimpin memainkan peran utama dalam proses pembuatan keputusan. Karena wewenang dan kedudukan formalnya sebagai pusat syaraf organisasi, hanya dialah yang bisa mengambil keputusan yang bersifat strategis. Peran pemimpin dalam membuat keputusan terdiri dari:

a) Peran selaku wiraswastawan (entrepreneur), pemimpin bertanggungjawab untuk memajukan dan menyesuaikan organisasinya dengan perkembangan lingkungan. Peranannya selaku pengumpul informasi, suatu ketika mungkin menemukan gagasan-gagasan baru. Gagasan-gagasan baru ini kalau dianggap baik, dapat diterapkan di dalam organisasi yang dipimpinnya.

b) Peran selaku penanggulang gangguan, tidak ada suatu organisasi pun yang selalu berjalan mulus. Suatu saat pasti akan mengalami gangguan tertentu yang disebabkan perkembangan keadaan. Gangguan itu bukan saja disebabkan keterbatasan pemimpin untuk mengenali situasi, tetapi juga karena pemimpin yang terbaik pun tidak mungkin meramalkan akibat dari seluruh tindakannya. Gangguan itu datang dari suatu hal yang diluar jangkauannya. Selaku pemimpin ia harus mampu mengatasinya. Jika perannya selaku wisaswastawan berupa inisiatif untuk mengadakan perubahan dengan sukarela, perannya selaku penanggulang gangguan merupakan seharusnya yang mesti dilakukan. c) Peran selaku pembagi sumberdaya, peran ini adalah tanggungjawab

pemimpin untuk menentukan “siapa akan dapat apa” dalam organisasi yang dipimpinnya. Sumberdaya yang paling penting untuk diatur pembagiannya adalah waktu yang dimilikinya. Selanjutnya pemimpin dibebani tugas untuk mengatur pola hubungan formal yang mengatur bagaimana pekerjaan dibagi dan dikoordinasikan.

(15)

perjanjian demi perjanjian. Penutupan perjanjian ini nampaknya telah merupakan tugasnya yang rutin, yang mengalir dari kedudukannya sebagai pusat syaraf organisasi dan kewenangan yang dimilikinya dalam organisasi.7)

Kesepuluh peran pemimpin tersebut merupakan suatu keterpaduan yang tidak mudah dipisahkan satu sama lainnya. Tidak ada satu peran pun yang bisa berdiri sendiri.

Fungsi–fungsi kepemimpinan adalah sebagai berikut :

1. Fungsi Perencanaan

Seorang pemimpin perlu membuat perencanaan yang menyeluruh bagi organisasi dan bagi diri sendiri selaku penanggung jawab tercapainya tujuan organisasi.

2. Fungsi memandang ke depan

Seorang pemimpin yang senantiasa memandang ke depan berarti akan mampu mendorong apa yang akan terjadi serta selalu waspada terhadap kemungkinan. Hal ini memberikan jaminan bahwa jalannya proses pekerjaan ke arah yang dituju akan dapat berlangusng terus menerus tanpa mengalami hambatan dan penyimpangan yang merugikan. Oleh sebab seorang pemimpin harus peka terhadap perkembangan situasi baik di dalam maupun diluar organisasi sehingga mampu mendeteksi hambatan-hambatan yang muncul, baik yang kecil maupun yang besar.

3. Fungsi pengembangan loyalitas

Pengembangan kesetiaan ini tidak saja diantara pengikut, tetapi juga untuk para pemimpin tingkat rendah dan menengah dalam organisai. Untuk mencapai kesetiaan ini, seseorang pemimpin sendiri harus memberi teladan baik dalam pemikiran, kata-kata, maupun tingkah laku sehari – hari yang menunjukkan kepada anak buahnya pemimpin sendiri tidak pernah

(16)

mengingkari dan menyeleweng dari loyalitas segala sesuatu tidak akan dapat berjalan sebagaimana mestinya.

4. Fungsi Pengawasan

Fungsi pengawasan merupakan fungsi pemimpin untuk senantiasa meneliti kemampuan pelaksanaan rencana. Dengan adanya pengawasan maka hambatan–hambatan dapat segera diketemukan, untuk dipecahkan sehingga semua kegiatan kembali berlangsung menurut rel yang elah ditetapkan dalam rencana .

5. Fungsi mengambil keputusan

Pengambilan keputusan merupakan fungsi kepemimpinan yang tidak mudah dilakukan. Oleh sebab itu banyak pemimpin yang menunda untuk melakukan pengambilan keputusan. Bahkan ada pemimpin yang kurang berani mengambil keputusan.

Keputusan–keputusan yang bersifat rumit dan kompleks sebab masalahnya menyangkut perhitungan–perhitungan secara teknis agar diambil dengan bantuan seorang ahli dalam bidang yang akan diambil keputusannya.

6. Fungsi memberi motivasi

Seorang pemimpin perlu selalu bersikap penuh perhatian terhadap anak buahnya. Pemimpin harus dapat memberi semangat, membesarkan hati, mempengaruhi anak buahnya agar rajin bekerja dan menunjukkan prestasi yang baik terhadap organisasi yang dipimpinnya. Pemberian anugerah yang berupa ganjaran, hadiah, piujian atau ucapan terima kasih sangat diperlukan oleh anak buah sebab mereka merasa bahwa hasil jerih payahnya diperhatikan dan dihargai oleh pemimpinnya.8)

2.4 Syarat-Syarat Kepemimpinan

Syarat dari seorang pemimpin adalah sebagai berikut:

1. Syarat Minimal

a) Watak yang baik ( karakter, budi, dan moral) b) Inteligensi yang tinggi

(17)

c) Kesiapan lahir dan batin

2. Syarat-Syarat Yang Lain Yang Diperlukan a) Sadar akan tanggung jawab

b) Memiliki sifat-sifat kepemimpinan yang menonjol

c) Membimbing dirinya dan bawahan dengan asas dan prinsip kepemimpinan

d) Mengenal anak buah

e) Paham mengukur dan menilai kepemimpinan.9) 2.5 Asas-Asas Kepemimpinan

Sebagai kata lain asas-asas kepemimpinan adalah landasan dalam kepemimpinan yang menjadi acuan dalam menjalankan sebuah kepemimpinan:

1. Takwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa

2. Member suri tauladan

3. Ikut bergiat menggugah semangat bawahan

4. Mempengaruhi dan member semangat

5. Waspada

6. Tingkah laku sederhana dan tidak boros

7. Loyal

8. Sabar, efektif dan efisien

9. Keberanian

10.Rela menerima10)

9 Nasrul Syakur Chaniago, Manajemen Organisasi, (Citapustaka, Bandung: 2011) hlm. 79.

(18)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan keadaan objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan data dan fakta yang tampak dengan sebagaimana semestinya.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di perpustakaan Soeman H.S dan dilanjutkan dirumah selama lima hari mulai dari tanggal 7 Oktober 2015 hingga 11 Oktober 2015. Alasan peneliti melakukan penelitian di Perpustakaan Soeman H.S karena disana terdapat banyak literatur buku yang berhubungan dengan bahan penulisan penulis untuk memperoleh informasi dan Perpustakaan Soeman H.S yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kediaman penulis serta penulis dapat memanfaatkan waktu lebih kurang 5 hari dengan maksimal untuk menyelesaikan penulisan serta dapat menghemat biaya yang tidak dibutuhkan.

3.3 Jenis dan Sumber Data

Jenis dan sumber data dari penelitian ini bersumber dari data sekunder. Data sekunder adalah data yang tidak langsung diperoleh dari sumber pertama dan telah tersusun dalam bentuk dokumen tertulis.11) Data penelitian ini data sekunder yang

diperoleh dari jurnal, skripsi, dan buku-buku referensi.

3.4 Populasi dan Sampel 3.4.1 Populasi

Menurut Sugiyono (2004), populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

3.4.2 Sampel

(19)

Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.12)

3.5 Teknik Pengumpulan Data

(20)

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Kepemimpinan yang Efektif

Kepemimpinan berlangsung dalam kehidupan manusia sehari-hari. Kepemimpinan sebagai suatu proses dapat berlangsung di dalam dan di luar suatu organisasi. Kepemimpinan yang efektif merupakan proses yang dinamis, karena berlangsung di lingkungan suatu organisasi sebagai sistem kerjasama sejumlah manusia untuk mencapai tujuan tertentu, yang bersifat dinamis pula.

Semua orang mungkin saja bisa menjadi pemimpin, tetapi tidak semuanya bisa menjadi pemimpin yang sukses. Ada beberapa tanda yang bisa dilihat apakah seseorang bisa menjadi pemimpin yang baik dan amanah. Seorang pemimpin tentu saja memikul tanggung jawab yang berat. Jika ia gagal menjadi seorang pemimpin yang baik, maka dampaknya bisa menjadi sangat buruk bagi orang-orang yang dipimpinnya. Jika ia tidak mampu memimpin, tentu saja hal ini akan berdampak pada kemajuan dan kelanggengan sebuah perusahaan.

Karena itulah, sebuah gaya kepemimpinan yang tepat sangat perlu dimiliki oleh seorang atasan. Berikut beberapa tanda atau ciri pemimpin yang baik dan sukses.

1. Berani dan penuh percaya diri

(21)

kepemimpinan ini ialah, jangan pernah takut mengambil risiko dan jangan pernah takut melakukan kesalahan.

Untuk memunculkan sifat ini, sebaiknya atasan melakukan evaluasi, hal penting dan menantang apa yang bisa dilakukannya. Selain itu, setiap hari selama satu minggu, buatlah tiga sampai lima hal tentang gaya kepemimpinan yang efektif jika diterapkan, kemudian terapkan gaya tersebut pada minggu berikutnya

2. Mempertajam kekuatan

Seorang ahli di bidang emotional intelligence, Daniel Goleman, melakukan penelitian terhadap gaya kepemimpinan di 500 perusahaan dan menemukan beberapa tipe kepemimpinan yang menonjol, misalnya melihat jauh ke depan (visionary), demokratis, dan senang melatih. Nah, carilah keahlian atau kekuatan Anda dan jadikan hal tersebut sebagai gaya kepemimpinan Anda. Gaya kepemimpinan tersebut nantinya bisa menjadi ciri khas Anda. Gaya tersebut juga akan menjadi kekuatan yang akan mengantarkan Anda pada kesuksesan di dunia karier.

3. Padukan beberapa gaya kepemimpinan

Meski memiliki ciri khas gaya kepemimpinan, sebaiknya seorang pemimpin juga bisa memadukan beberapa gaya kepemimpinan sekaligus dalam dirinya. Dalam penelitiannya, Goleman juga menegaskan bahwa para pemimpin yang sukses umumnya memadukan beberapa gaya kepemimpinan pada dirinya karena satu gaya saja tidak pernah cukup mengatasi masalah yang banyak. Jika misalnya seorang atasan pria harus banyak berinteraksi dengan karyawan yang kebanyakan perempuan atau sebaliknya, gunakan pendekatan dengan gaya kepemimpinan yang lembut dan penuh perhatian. Tapi di saat tertentu, gunakan gaya kepemimpinan maskulin yang tegas.

(22)

4. Ciptakan tujuan

Untuk menjadi seorang pemimpin yang baik, seseorang harus bisa mengomunikasikan tujuan, visi, dan misi yang ingin dicapai oleh timnya. Dengan mengomunikasikan, ini akan membuat bawahan merasa terpacu untuk mencapai target, dan atasan sang pemimpin juga bisa melihat bahwa pemimpin ini bisa membimbing anak buahnya.

Untuk bisa menemukan tujuan dan visi yang tepat, pelajarilah semua hal yang terjadi di luar perusahaan. Setelah itu, tentukan tujuan, bangun kerja tim, dan gerakkan mereka semua untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

5. Pemberi semangat

Pemimpin yang terbaik adalah manusia karena manusia bisa memberikan semangat dan mampu memotivasi karyawannya. Pemimpin haruslah bisa menempatkan dirinya sebagai seorang motivator saat karyawannya menemui halangan.Seorang pemimpin harus bisa melihat potensi setiap karyawannya hingga tiap karyawan bisa memberikan yang terbaik bagi perusahaan. Karena itulah, seorang pemimpin yang baik seharusnya selalu bertanya pada dirinya sendiri, ”apa yang bisa saya berikan pada tim saya hari ini?”

6. Seimbang

Setiap pemimpin harus bisa mengukur risiko yang dihadapinya. Selain itu, ciptakan waktu yang tepat untuk menikmati hidup di luar pekerjaan.

7. Menjadi diri sendiri

Tak ada yang lebih baik selain menjadi diri sendiri. Karena itulah, jadilah pemimpin yang sesuai dengan kepribadian Anda, jangan berusaha untuk menjadi orang lain yang bukan diri Anda.13)

Beberapa orang berpendapat bahwa seorang pemimpin yang efektif dapat menyebabkan pengikutnya secara tidak sadar dengan kemampuan dirinya berkorban demi organisasi. Definisi yang lebih baik dari pemimpin efektif mengerjakan dengan menghargai bawahannya dengan kemampuan diri mereka dalam mencapai visi yang

(23)

telah diformulasikan dan bekerja untuk mewujudkannya. Terdapat beberapa hal bagaimana pemimpin memotivasi bawahan yaitu:

1. Meyakinkan bawahan bahwa visi organisasi (dan peran bawahan dalam hal ini) penting dan dapat dicapai.

2. Menantang bawahan dengan tujuan, proyek, tugas, dan tanggung jawab dengan memperhitungkan perasaan diri bawahan akan sukses, prestasi, dan kecakapan.

3. Memberikan penghargaan kepada bawahan yang berkinerja baik dengan penghargaan, uang, dan promosi.

Kepemimpinan berbeda dengan manajemen. Kunci dari kepemimpinan adalah membangun visi dasar (tujuan, misi, agenda) suatu organisasi. Sedangkan kunci manager adalah mengimplementasikan visi. Manager dan bawahan bertindak dengan berbagai cara untuk mencapai tujuan akhir.14)

4.2 Mengembangkan Sifat Pemimpin yang Efektif

Sifat pemimpin harus dikembangkan sendiri karena sifat seseorang berbeda satu sama lain. Kepribadian ikut mempengaruhi sifat dan perilaku kepemimpinan seseorang. Seorang pemimpin yang harus memiliki sifat-sifat (traits) pemimpin seperti:

1. Kejujuran / Integritas atau Honesty /Integrity.

2. Kepercayaan diri/ Self-Confidence 3. Originality/Creativity

4. Flexibility/Adaptability 5. Charisma

Pemimpin harus senantiasa meningkatkan kemampuan, mempraktikkan keterampilan, mencari peluang, dan mengembangkan potensi anak buah. Sebagai pedoman bagi pemimpin adalah “perlakukan orang lain sebagaimana Anda ingin

(24)

diperlakukan”. Dengan cara itu seorang pemimpin berusaha memandang suatu keadaan dari sudut pandang orang lain atau tenggang rasa.

Merujuk pada pendapat Geofrey G. Meredith, kualitas pemimpin dapat diukur dengan memperhatikan sejumlah hal berikut:

1. Yakinkan bahwa dirinya seorang pemimpin.

2. Banyak orang yang mencari bapak untuk minta dipimpin atau bertanya. 3. Kembangkan dan terapkan ide-ide baru

4. Mainkan peranan aktif dalam kehidupan masyarakat 5. Tingkatkan kekuasaan dan hilangkan kelemahan.

6. Tingkatkan program dan rencana tentang kepemimpinan. 7. Belajarlah dari kesalahan terdahulu.

8. Berorientasilah kepada hasil dan selesaikan sesuatu yang telah dimulai. 9. Gunakan kekuatan sebagai pemimpin untuk membantu orang lain 10. Yakinkan orang lain tentang kemampuan

11. Dengarkan masukan, saran, dan nasihat atau kritik sekalipun, dan 12. Lakukan perubahan ke arah kemajuan.15)

(25)

BAB V

PENUTUP

5.1 Simpulan

Seorang pemimpin yang efektif harus mempunyai keberanian untuk mengambil keputusan dan memikul tanggung jawab atas akibat dan resiko yang timbul sebagai konsekwensi daripada keputusan yang diambilnya. Tentunya dalam mengambil keputusan. Seorang pemimpin harus punya pengetahuan, keterampilan, informasi yang mendalam dalam proses menyaring satu keputusan yang tepat. Disamping itu, seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dapat mempengaruhi dan mengarahkan segala tingkah laku dari bawahan sedemikian rupa sehingga segala tingkah laku bawahan sesuai dengan keinginan pimpinan yang bersangkutan. Untuk itu seorang pemimpin setidaknya harus memiliki kriteria-kriteria tertentu, misalnya kemampuan bisa "perceptive" dan objektif.

Dalam mengarahkan dan memotivasi bawahan supaya melakukan pekerjaan dengan sesuai, seorang pemimpin bisa memilih suatu gaya kepemimpinan tertentu apakah gaya otokratis, gaya partisipatif dan bahkan gaya Kendali bebas yang sesuai dengan situasi dan lingkungan para bawahan. Hanya dengan jalan demikian pencapaian tujuan dapat terlaksana dengan efisien dan efektif.

Jadi, Kepemimpinan efektif adalah keterampilan managerial dalam pelaksanaan kerja bersama. Seorang pemimpin diharapkan memiliki kecakapan teknis maupun managerial yang profesional. Kecakapan teknis sesuai dengan bidangnya, sedangkan kecakapan managerial menuntut perannya dalam memimpin orang lain.

5.2 Saran

(26)
(27)

DAFTAR PUSTAKA

Bahan Makalah Manajemen Semester II ANA Lokal C. [2014]

Geofrey G, Meredith. [Tanpa Tahun]. Kewirausahaan: Teori dan Praktek. Jakarta: PPM.

Handayaningrat, Suwarno. [1992]. Pengantar Studi Ilmu Administrasi Negara dan Manajemen. Jakarta: Hajl Masagung.

Locke, Edwin A, Shelley Kirkpatrick, Jill K. Wheeler, Jodi Schneider, Kathryn Niles, Harold Goldstein, Kurt Welsh, Dong-Ok Chah [1991]. The Essence of Leadership, The Four Keys to Leading Successfully. New York: Lexington Books.

Mesiono. [2010]. Manajemen Organisasi. Bandung: Citapustaka

Mintzberg, Henri. [1975]. The Manager’s Job : Folklore and Fact (dalam Harvard Business Review Vol 53.

P Robbins, Stephen. [1994]. Teori Organisasi: Struktur, Desain & Aplikasi. a.b. Jusuf Udaya, Lic.,Ec. Englewood Cliffs:Prentice Hall, Inc - Jakarta: Penerbit Arcan.

Ranupandojo, Heidjrachman. [Tanpa Tahun]. Tanya Jawab Manajemen. Unit Penerbitan dan Percetakan AMP YKPN: Yogyakarta.

Sugiono. 2004. Statistika Untuk Penelitian. [Tanpa Penerbit].

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...