TINDAK PEMBELAJARAN GURU FISIKA
DALAM IMPLEMENTASI STANDAR PROSES KURIKULUM 2013
I G. D. Santika, I. B. P. Mardana, P. Artawan
Jurusan Pendidikan Fisika
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
e-mail: {[email protected], [email protected],
[email protected]}@undiksha.ac.id
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan pemahan guru tentang Standar Proses Kurikulum 2013, (2) mendeskripsikan tindak guru dalam perencanaan pembelajaran berbasis Standar Proses Kurikulum 2013, (3) mendeskripsikan tindak guru dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis Standar Proses Kurikulum 2013, (4) mendeskripsikan tindak guru dalam evaluasi pembelajaran berbasis Standar Proses Kurikulum 2013, dan (5) mendeskripsikan problematika yang dihadapi guru dalam implementasi Standar Proses Kurikulum 2013 dan upaya penyelesaiannya. Penelitian ini dilaksanakan selama empat bulan pada semester genap Tahun Pelajaran 2014/2015. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif studi kasus. Subjek penelitian ini adalah dua orang guru fisika yang mengajar di kelas XI MIA SMAN 1 Singaraja. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara semiterstruktur, dan studi dokumen. Analisis data dilakukan secara periodik dengan menggunakan model analisis interaktif Miles & Huberman. Hasil penelitian menunjukkan temuan-temuan sebagai berikut. (1) Guru memahami bagian-bagian Standar Proses Kurikulum 2013 dari workshop kurikulum dan teks Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013. (2) Perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran yang dilakukan guru sebagian besar telah sesuai dengan Standar Proses Kurikulum 2013. (3) Sebagian besar permasalahan dan kendala yang dihadapi guru dalam penerapan Standar Proses Kurikulum 2013 disebabkan karena ketidaksesuaian antara banyaknya tugas guru dengan alokasi waktu pembelajaran yang tersedia.
Kata kunci: tindak guru, pembelajaran fisika, Kurikulum 2013
Abstract
teaching plan, the teaching process, and the learning evaluation delivered by the teachers are mostly in accordance with the Standard Process of Curriculum 2013; and (3) the teachers’ problems and difficulties in the implementation of Standard Process of Curriculum 2013 are mostly caused by the mismatch between the demands of Standard Process of Curriculum 2013 and the time allocation provided.
Keywords: teaching actions, physics learning, and Curriculum 2013
PENDAHULUAN
Kesuksesan implementasi Standar Proses Kurikulum 2013 terletak pada
peran profesionalisme guru dalam
melaksanakan pembelajaran. Guru adalah orang yang berhadapan langsung dengan siswa, sehingga memberikan pengaruh
langsung terhadap keberhasilan
pembelajaran siswa. Oleh karena itu, guru dituntut memiliki kesiapan, kompetensi, komitmen, kesungguhan, dan tanggung jawab terhadap pelaksanaan Kurikulum 2013. Kompetensi yang dimaksud tidak hanya pada penguasaan bahan ajar, tetapi guru juga harus mampu melakukan
pembelajaran yang menyenangkan,
menarik, dan menantang bagi siswa. Sejak diterapkan pada Juli 2013, banyak permasalahan yang dihadapi guru
dalam menerapkan Standar Proses
Kurikulum 2013. Permasalahan yang terjadi bersifat kompleks, mulai dari
pemahaman guru tentang konsep
pembelajaran berbasis Standar Proses
Kurikulum 2013, sampai dengan
permasalahan dalam perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Kustijono dan Wiwin (2014), dalam penelitiannya tentang pandangan guru
SMK di kota Surabaya terhadap
pelaksanaan Kurikulum 2013 dalam
pembelajaran fisika berhasil mengungkap bahwa (1) guru berpandangan belum
sepenuhnya memahami prinsip
pembelajaran, terutama yang terkait
dengan perbedaan pendekatan
kontekstual dengan pendekatan ilmiah, perbedaan pembelajaran parsial dengan
pembelajaran terpadu, perbedaan
pembelajaran yang menekankan jawaban
tunggal dengan pembelajaran yang
membutuhkan jawaban multi dimensi,
perbedaan pembelajaran verbalisme
dengan pembelajaran yang aplikatif, dan pembelajaran yang berprinsip bahwa
siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas, (2) guru berpandangan belum sepenuhnya memahami prinsip penilaian, diantaranya cara menilai kompetensi sikap, cara menilai keterampilan, dan menyusun instrumen penilaian yang sesuai kaidah, (3) guru berpandangan penyusunan RPP masih terkendala, terutama pada sumber
belajar, media pembelajaran yang
bervariasi, media yang sesuai dengan
materi pembelajaran, pendekatan
pembelajaran saintifik, penilaian autentik, penilaian yang sesuai dengan indikator pencapaian kompetensi, dan pedoman penskoran, (4) guru berpandangan masih belum dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan standar
proses, yaitu guru belum terbiasa
menyampaikan kompetensi yang akan
dicapai kepada siswa, belum
melaksanakan pembelajaran kontekstual dan saintifik, belum memfasilitasi siswa mengolah atau menganalisis informasi
untuk membuat kesimpulan, belum
menggunakan media pembelajaran yang bervariasi, dan media yang digunakan belum menghasilkan pesan yang menarik, dan (5) guru berpandangan masih belum dapat melaksanakan penilaian sesuai standar, terutama yang berhubungan dengan cara mengembangkan instrumen penilaian yang sesuai dengan kaidah,
serta cara mengembangkan rubrik
penilaian dari instrumen yang
dikembangkan tersebut.
Secara umum, tindak guru dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi
pembelajaran merupakan bentuk
terjemahan pemahaman guru terhadap Standar Proses Kurikulum 2013 itu sendiri. Dengan demikian, kualitas pemahaman yang rendah akan memberikan hasil implementasi kurikulum yang rendah pula. Kompetensi guru juga ikut menentukan
Standar Proses Kurikulum 2013. Namun demikian, bukan berarti bahwa tindak
pembelajaran guru dan semua
permasalahan serta kendala pembelajaran dipengaruhi oleh rendahnya kompetensi dan pemahaman guru tentang Standar Proses Kurikulum 2013. Faktor eksternal lain, seperti manajemen sekolah, kondisi fisik sekolah, kondisi siswa, ketersediaan alokasi waktu, kewajiban guru di luar jam
pembelajaran, dan manajemen
pengawasan akademik juga berpotensi mempengaruhi tindak serta permasalahan guru dalam pembelajaran. Lebih ekstrim lagi, permasalahan tersebut mungkin
disebabkan oleh tingginya tuntutan
Standar Proses Kurikulum 2013 terhadap proses pembelajaran, sehingga guru tidak
mampu memenuhi semua tuntutan
tersebut.
Berdasarkan paparan tersebut,
tindak pembelajaran guru dalam
implementasi Standar Proses Kurikulum 2013 perlu diteliti untuk memperoleh gambaran mendalam tentang pemahaman guru terhadap Standar Proses Kurikulum 2013, tindak guru dalam implementasi Standar Proses Kurikulum 2013 pada perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran, permasalahan dan kendala guru dalam penerapan Standar Proses Kurikulum 2013, serta upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi permasalahan dan kendala tersebut. Gambaran tersebut akan menunjukkan seberapa jauh Standar Proses Kurikulum 2013 telah dilaksanakan
dan apa permasalahan guru serta
kekurangan Standar Proses Kurikulum 2013 di lapangan. Dengan demikian,
gambaran tersebut dapat dijadikan
sebagai acuan oleh pemerintah dalam
menyempurnakan Standar Proses
Kurikulum 2013.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan selama empat bulan pada semester genap Tahun Pelajaran 2014/2015. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif studi kasus.
Instrumen yang digunakan dalam
penelitian ini adalah peneliti sendiri. Sumber data penelitian ini dipilih melalui
purposive sampling.
Data penelitian ini adalah (1)
checklist kesesuaian perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran guru dengan Standar Proses Kurikulum
2013, (2) transkrip observasi
pembelajaran yang dilakukan guru, (3) transkrip wawancara dengan guru, siswa, kepala sekolah, dan pengawas akademik dari Dinas Pendidikan, serta (4) catatan lapangan yang dibuat peneliti. Data tersebut dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara semiterstruktur, dan studi dokumen.
Analisis data dilakukan secara
periodik selama dan setelah pengumpulan data dengan menggunakan model analisis interaktif Miles & Huberman
.
Terdapat tigatahapan analisis data yang dilakukan, yaitu (1) reduksi data, (2) paparan data, serta (3) penarikan simpulan dan verifikasi data. Keabsahan data ditentukan melalui triangulasi sumber data dan triangulasi metode pengumpulan data.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pemahaman Guru tentang Standar Proses Kurikulum 2013
Berdasarkan hasil analisis data, ditemukan bahwa guru telah memahami
bagian-bagian dalam perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran berbasis Standar Proses Kurikulum 2013. Guru memperoleh pengetahuan tentang Standar Proses Kurikulum 2013 dari
workshop kurikulum dan teks
Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013.
Guru memahami bahwa perbedaan
Standar Proses Kurikulum 2013 dengan Standar Proses Kurikulum 2006 terletak pada spesifikasi pengembangan aspek kepribadian siswa. Pada Kurikulum 2006, pengembangan aspek kepribadian siswa dituntut secara implisit dan sederhana,
sedangkan pada Kurikulum 2013,
pengembangan aspek kepribadian siswa dituntut secara eksplisit, terperinci, dan ditambah dengan pengembangan aspek religius.
Pelaksanaan pembelajaran
berbasis Kurikulum 2013 dipahami oleh guru sebagai proses pengembangan
aspek sikap, pengetahuan, dan
pendekatan saintifik yang didukung oleh tiga model pembelajaran rekomendasi pusat, yaitu discovery learning, problem
based learning, dan project based
learning. Guru menilai pembelajaran
berbasis pendekatan saintifik bukan
merupakan hal yang baru karena dalam
Kurikulum 2006, guru telah sering
menerapkan model pembelajaran
kooperatif yang juga memuat kegiatan pembelajaran 5M. Hal ini sesuai dengan temuan Dewi (2015), bahwa pendekatan saintifik sebenarnya telah diterapkan sejak KTSP, hanya saja dalam KTSP hal tersebut tidak dikenal dengan istilah pendekatan saintifik.
Guru memahami bahwa evaluasi pembelajaran berbasis Standar Proses Kurikulum 2013 berbeda dengan Standar
Proses Kurikulum 2006. Evaluasi
pembelajaran berbasis Kurikulum 2013 dinilai lebih kompleks dan terperinci. Pada Standar Proses Kurikulum 2006, guru diberikan kebebasan dalam menentukan metode penilaian untuk semua aspek,
sedangkan dalam Standar Proses
Kurikulum 2013, semua metode penilaian
telah ditentukan oleh pusat. Guru
ditemukan tidak memahami teknis
penyusunan rubrik penilaian aspek
religius, sikap, dan keterampilan. Guru
juga tidak memahami rasional
penggunaan sistem modus dalam
rekapitulasi nilai akhir aspek sikap dan sistem nilai tertinggi dalam rekapitulasi nilai akhir aspek keterampilan. Selama ini, guru hanya menyiapkan jenis nilai yang dituntut dalam form rekapitulasi nilai akhir
siswa, tanpa memahami proses
pembobotan dan pengolahan nilai akhir tersebut. Guru menilai sistem penilaian tersebut tidak adil dan tidak layak diterapkan karena siswa dengan rincian nilai harian yang berbeda berpotensi memperoleh nilai akhir yang sama. Guru memprediksi jika siswa mengetahui sistem
penilaian tersebut, maka terdapat
kemungkinan siswa tidak akan mengikuti pembelajaran dengan serius. Hal ini sesuai dengan temuan Kustijono dan Wiwin (2014) bahwa guru fisika masih belum dapat melaksanakan penilaian sesuai standar penilaian karena guru belum memahami teknis pengembangan
instrumen penilaian yang sesuai dengan kaidah.
Guru mengungkapkan bahwa
teknis penilaian hasil belajar tidak
dilatihkan dalam workshop pusat.
Permasalahan tersebut juga tidak dapat diselesaikan dalam workshop sekolah.
Guru mengaku telah menyampaikan
semua permasalahan dan konsep
pembelajaran yang tidak dipahaminya kepada pengawas akademik dari Dinas Pendidikan. Namun, pengawas akademik juga tidak mengetahui solusi dan informasi yang ditanyakan, sehingga solusi dari
permasalahan tersebut harus
ditangguhkan. Pengawas mengaku perlu menanyakan hal tersebut pada pengawas yang lain, sehingga proses tersebut menjadi berantai. Bahkan menurut guru,
jawaban instrukstur pusat terhadap
pertanyaan yang diajukannya terkadang juga tidak pas.
Pemahaman guru tentang Standar
Proses Kurikulum 2013 merupakan
sesuatu yang penting karena hal tersebut akan mempengaruhi tindak pembelajaran guru. Oleh karena itu, guru secara mandiri
harus terus mengembangkan
pengetahuannya melalui pelatihan,
seminar, diklat, workshop, serta belajar mandiri dari teks Permendikbud dan internet. Disamping itu, kepala sekolah dan pengawas akademik dari Dinas Pendidikan, selaku tim supervisi, harus melakukan pengawasan secara holistik dari pemahaman guru sampai dengan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran yang dilakukan, bukan hanya sebatas pengawasan administrasi perangkat pembelajaran. Alawiyah (2014)
menjelaskan bahwa rendahnya
pemahaman guru tentang Standar Proses Kurikulum 2013 dikarenakan beberapa
kekurangan dalam proses pelatihan.
pemerintah, sehingga pelatihan bukan hanya sekadar kegiatan formalitas.
Tindak Guru dalam Perencanaan
Pembelajaran Berbasis Standar Proses Kurikulum 2013
Pada perencanaan pembelajaran, guru menyiapkan RPP, LKS, dan media pembelajaran. Guru membuat RPP secara individu pada workshop sekolah yang dilaksanakan setiap awal semester. Pada
workshop tersebut, guru membuat RPP
sampel untuk beberapa KD. Teknis guru dalam membuat RPP ditemukan sebagai berikut. Pertama, guru memetakan KI-KD
yang termuat dalam silabus untuk
menentukan tingkat kesulitan materi yang
akan diberikan kepada siswa.
Berdasarkan pemetaan tersebut, guru
menyusun indikator pembelajaran.
Selanjutnya, guru memetakan
pengalaman belajar yang dapat dilakukan
sesuai dengan karakteristik materi,
karakteristik siswa, dan ketersediaan alokasi waktu. Berdasarkan pemetaan
tersebut, guru menentukan tujuan
pembelajaran dan komponen RPP
lainnya. Hasil studi terhadap dokumen RPP guru menunjukkan bahwa RPP dibuat untuk setiap KD pembelajaran. Setiap KD pembelajaran direncanakan untuk dilaksanakan lebih dari satu kali pertemuan, sehingga dalam satu RPP memuat skenario pembelajaran untuk masing-masing pertemuan. Guru tidak membedakan RPP untuk kelas yang berbeda karena karakteristik siswa pada kedua kelas yang diajar tidak jauh berbeda.
Guru mengungkapkan bahwa RPP yang telah dibuat di awal semester sebagaian besar tidak sesuai dengan pembelajaran yang dilakukan. Hal ini dikarenakan pada saat membuat RPP,
guru belum memperoleh kalender
pendidikan, sehingga alokasi waktu yang direncanakan sering berbeda dengan kondisi pembelajaran yang sebenarnya. Selain itu, guru juga belum mengetahui karakteristik siswa yang diajar, sehingga guru perlu merevisi kembali metode pembelajaran dan LKS yang termuat pada RPP agar sesuai dengan kondisi kelas yang sebenarnya. Komponen RPP yang
dibuat oleh guru ditemukan tidak sesuai dengan sistematika RPP yang termuat dalam Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013. Komponen RPP tersebut lebih sesuai dengan Standar Proses Kurikulum 2006. Materi pembelajaran dalam RPP tersebut tidak dikategorikan berdasarkan fakta, konsep, prinsip, dan prosedur, melainkan dipaparkan secara terperinci sesuai dengan urutan materi yang akan disampaikan di kelas. RPP tersebut juga tidak memuat indikator ketercapaian hasil pembelajaran pada aspek keterampilan, serta tidak memuat tujuan pembelajaran untuk semua aspek.
Guru mengaku tidak memahami
teknis pengkategorian materi
pembelajaran berdasarkan fakta konsep, prinsip, dan prosedur. Guru menilai pemaparan materi berdasarkan kategori tersebut tidak membantu guru dalam mengajar. Guru mengaku terbebani oleh tuntutan penyusunan RPP yang detail. Guru menilai belum ada instruksi yang jelas terkait pemanfaatan buku guru dan buku siswa dalam Kurikulum 2013.
Menurut guru, RPP yang dibuat
seharusnya mengacu pada buku tersebut, sehingga guru tidak perlu membuat RPP
yang detail. Skenario kegiatan
pembelajaran dalam RPP guru ditemukan tidak dipaparkan berdasarkan
langkah-langkah pembelajaran berbasis
pendekatan saintifik dan model
pembelajaran berbasis penyingkapan,
melainkan dipaparkan berdasarkan
kategori kegiatan eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi serta model pembelajaran STAD. Hal ini sejalan dengan temuan Herfinaly, et al (2014) bahwa sebagian besar guru masih menggunakan model pembelajaran lama seperti Jigsaw, TSTS, dan STAD.
Berdasarkan paparan tersebut,
dapat dijelaskan bahwa guru masih
menerapkan teknis perencanaan
pembelajaran Kurikulum 2006. Hal ini dikarenakan oleh beberapa hal. Pertama, guru masih memiliki persepsi bahwa
penyusunan RPP hanya sebatas
hanya sebatas pada keberadaan
perangkat pembelajaran, tanpa
mengevaluasi kebenaran dan kualitas perangkat pembelajaran tersebut. Kedua,
guru menilai bahwa perencanaan
pembelajaran Kurikulum 2013 terlalu sulit dan memberatkan. Hal ini dapat dipahami karena dalam perencanaan pembelajaran
Kurikulum 2013, guru harus
mengkategorikan materi pembelajaran
berdasarkan fakta, konsep, prinsip, dan
prosedur; merencanakan aktivitas
pembelajaran berbasis pendekatan
saintifik; menyiapkan media pembelajaran yang bervariasi; dan menyiapkan berbagai macam instrumen penilaian aspek sikap,
pengetahuan, dan keterampilan.
Pemerintah juga tidak memberikan
instruksi yang jelas terhadap penggunaan buku guru dan buku siswa. Guru
ditemukan tidak menggunakan buku
tersebut. Guru justru menggunakan buku
lain yang dibeli di luar sekolah.
Perencanaan pembelajaran yang dibuat oleh guru seharusnya disinergikan dengan buku tersebut, sehingga guru tidak harus mengetik ulang hal-hal yang sebenarnya sudah termuat dalam buku tersebut. Ketiga, guru tidak memahami komponen RPP Kurikulum 2013, sehingga guru
menggunakan RPP Kurikulum 2006
dengan menyesuaikannya hanya pada KI dan KD. Hal ini dapat dipahami karena dalam RPP Kurikulum 2013, guru harus menerapkan salah satu dari tiga model pembelajaran rekomendasi pusat, yaitu
discovery learning, problem based
learning, dan project based learning,
sehingga terdapat peluang di mana guru
belum memahami sintaks model
pembelajaran tersebut. Guru juga belum mehamami teknis pengkategorian materi pembelajaran berdasarkan fakta, konsep, prinsip, dan prosedur, sehingga setiap menyusun RPP, guru harus membaca kembali definisi dari setiap kategori tersebut.
Tindak Guru dalam Pelaksanaan
Pembelajaran Berbasis Standar Proses Kurikulum 2013
Pelaksanaan pembelajaran
merupakan implementasi dari RPP.
Pelaksanaan pembelajaran berbasis
Standar Proses Kurikulum 2013 meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Berdasarkan hasil observasi dan studi dokumen yang dilakukan peneliti, dapat dijelaskan bahwa pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru telah sesuai dengan RPP yang dibuat. Pada kegiatan pendahuluan, guru
ditemukan menyampaikan salam
pembuka, melakukan absensi singkat,
memberikan apersepsi, dan
menyampaikan garis besar kegiatan
pembelajaran yang akan dilakukan. Guru
tidak selalu mengaitkan materi
pembelajaran pada pertemuan
sebelumnya dengan materi pembelajaran yang sedang dibahas. Hal tersebut sering
dilakukan pada kegiatan inti. Guru
ditemukan tidak menyampaikan indikator dan tujuan pembelajaran. Guru juga tidak selalu menyampaikan teknik penilaian yang akan dilakukan. Hasil wawancara menunjukkan bahwa guru memahami
tuntutan kegiatan pendahuluan
pembelajaran berdasarkan Standar
Proses Kurikulum 2013. Guru juga ditemukan merencanakan hal tersebut dalam RPP yang dibuatnya. Namun, guru mengaku tidak dapat melakukan semua tuntutan tersebut secara terperinci pada setiap pembelajaran. Guru menilai bahwa absensi tidak harus dilakukan dengan menanyakan kehadiran siswa satu per
satu pada setiap pertemuan. Guru
mengungkapkan absensi terperenci hanya perlu dilakukan jika guru belum hafal semua nama siswa. Jika guru sudah mengenal semua siswa, kegiatan absensi
dapat dilakukan hanya dengan
menanyakan siswa yang tidak hadir dan
alasan ketidakhadirannya. Indikator,
tujuan pembelajaran, dan teknik penilaian menurut guru tidak perlu disampaikan karena waktu yang terbatas dan kegiatan tersebut terkesan membosankan. Guru mengungkapkan, kegiatan tersebut dapat dilakukan dengan memberikan silabus secara langsung kepada siswa. Dengan demikian, siswa dapat mengetahui dan mempersiapkan materi pembelajaran yang akan diberikan.
Kegiatan inti merupakan proses
pembelajaran untuk mencapai
interaktif, inspiratif, menyenangkan,
menantang, memotivasi siswa untuk
berpartisipasi aktif, serta memberikan
ruang yang cukup bagi prakarsa,
kreativitas, dan kemandirian sesuai
dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis siswa. Kegiatan inti menggunakan pendekatan saintifik yang disesuaikan dengan karakteristik mata
pelajaran dan karakteristik siswa.
Berdasarkan hasil observasi, dapat
dijelaskan bahwa kegiatan inti
pembelajaran dilakukan oleh guru dengan metode demonstrasi, diskusi, presentasi, ceramah, dan tanya jawab. Dengan
metode tersebut, semua aspek
pendekatan saintifik dapat diupayakan dengan baik. Guru memfasilitasi kegiatan
mengamati dengan menyuruh siswa
mengamati proses terjadinya gelombang longitudinal pada slinki serta gelombang transversal pada tali dan air. Pada praktikum Melde, guru menugaskan siswa
mengamati pola gelombang yang
terbentuk pada benang yang digetarkan dengan vibrator. Siswa dituntut untuk menunjukkan bukit gelombang, lembah gelombang, perut gelombang, dan simpul gelombang. Pada saat pembelajaran, guru
ditemukan menayangkan gambar
fenomena dampak pemanasan global; gambar fenomena gelombang, seperti difraksi, refleksi, dan interferensi; animasi flash gelombang berjalan dan gelombang stasioner, dan video praktikum tangki riak. Penayangan gambar, animasi, dan video tersebut dilakukan dengan menggunakan
media powerpoint. Pada materi
gelombang, guru ditemukan menggambar pola gelombang berjalan dan gelombang stasioner di papan tulis. Pada materi teori kinetik gas dan pemanasan global, selain menggunakan buku, siswa diberikan kesempatan menggunakan internet untuk
mengakses informasi. Guru
mengungkapkan bahwa kegiatan
mengamati juga dilakukan dengan
mengajak siswa membayangkan
fenomena alam yang pernah dialaminya. Kegiatan menanya terjadi ketika
siswa tidak memahami solusi
permasalahan yang termuat pada LKS,
pada saat siswa tidak memahami
penurunan rumus dan solusi latihan soal
yang dibuat guru di papan tulis, serta pada saat kelompok lain mempresentasikan hasil tugas proyek. Pada saat siswa
melakukan demonstrasi karakteristik
gelombang longitudinal, guru membimbing
siswa dengan pertanyaan-pertanyaan
konseptual, seperti “mengapa tali rafia
yang diikatkan pada slinki tidak berpindah
posisi secara horizontal?” Pada saat
praktikum Melde, guru menuntun siswa
dengan pertanyaan “bolehkah warna kabel
yang dipasang pada vibrator dan catu
daya ditukar posisinya?”, serta “apa yang
terjadi dengan pola gelombang pada
benang jika massa beban ditambah?”.
Namun demikian, antusiasme siswa dalam bertanya ditemukan kurang tinggi. Siswa jarang bertanya setelah guru memaparkan atau mendemonstrasikan suatu konsep atau fenomena. Siswa bahkan tidak
pernah bertanya pada saat guru
memberikan kesempatan bertanya di akhir pembelajaran. Hal ini sesuai dengan hasil temuan Wardani, et al (2014) di mana sebagian besar kegiatan menanya dalam
pembelajaran dilakukan oleh guru.
Wardani menjelaskan bahwa kegiatan menanya tersebut tidak sesuai dengan Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013 karena kegiatan 5M adalah kegiatan yang dilakukan oleh siswa.
Kegiatan mencoba diupayakan
dengan menyuruh siswa melakukan
demonstrasi, praktikum, dan latihan soal. Latihan soal diberikan setelah guru
menjelaskan materi dengan metode
ceramah. Kegiatan menalar dilakukan dengan memberikan siswa permasalahan pada LKS yang merupakan tindak lanjut
dari demonstrasi, praktikum, dan
pemaparan konsep yang telah dilakukan. Guru juga ditemukan sering memberikan
pertanyaan apa, mengapa, dan
bagaimana saat pembelajaran
berlangsung. Dalam menyelesaikan
menuliskan jawaban di papan tulis dan menjelaskannya di depan kelas.
Pada kegiatan penutup, guru
mengkonfirmasi apakah terdapat siswa yang ingin bertanya, dilanjutkan dengan penyampaian materi pembelajaran dan
rencana kegiatan pada pertemuan
selanjutnya, pemberian PR, sembahyang,
dan salam penutup. Guru tidak
merangkum materi yang telah dipelajari. Kegiatan merangkum materi dilakukan secara periodik diakhir pemaparan setiap konsep pada kegiatan inti.
Berdasarkan temuan tersebut,
dapat dijelaskan bahwa sebagian besar
tuntutan pelaksanaan pembelajaran
berbasis Standar Proses Kurikulum 2013 telah dilaksanakan dengan baik oleh guru. Terdapat beberapa bagian yang tidak
dapat dilakukan akibat keterbatasan
alokasi waktu pembelajaran. Namun
demikian, guru telah menerapkan strategi tertentu agar inti dari pembelajaran dapat
terlaksana dengan baik. Kegiatan
mengamati dan mengkomunikasikan
dalam pendekatan saintifik sebagian besar juga telah terlaksana. Permasalahan yang ditemukan adalah rendahnya kualitas
pelaksanaan kegiatan menanya,
mencoba, dan menalar dalam pendekatan saintifik.
Dalam Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013, dijelaskan bahwa alur pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah sebagai berikut. Dalam kegiatan mengamati, guru membuka secara luas dan bervariasi kesempatan siswa untuk melakukan pengamatan melalui kegiatan melihat, menyimak, mendengar, dan membaca. Guru memfasilitasi siswa untuk melakukan pengamatan, melatih mereka untuk memperhatikan hal yang penting
dari suatu objek. Dalam kegiatan
mengamati, guru membuka kesempatan secara luas kepada siswa untuk bertanya mengenai apa yang sudah dilihat, disimak, dan dibaca. Guru membimbing siswa untuk dapat mengajukan pertanyaan tentang hasil pengamatan objek yang konkrit sampai kepada objek yang abstrak
berkenaan dengan fakta, konsep,
prosedur, atau pun hal lain yang lebih abstrak, pertanyaan yang bersifat faktual sampai kepada pertanyaan yang bersifat
hipotetik. Sampai situasi tersebut, siswa masih memerlukan bantuan guru untuk mengajukan pertanyaan sampai ke tingkat di mana siswa mampu mengajukan
pertanyaan secara mandiri. Melalui
kegiatan bertanya tersebut, dikembangkan rasa ingin tahu siswa. Semakin siswa terlatih dalam bertanya, rasa ingin tahu siswa semakin dapat dikembangkan. Pertanyaan tersebut menjadi dasar untuk mencari informasi yang lebih lanjut dan beragam dari sumber yang ditentukan guru sampai dengan sumber yang ditentukan sendiri oleh siswa dan dari sumber yang tunggal sampai sumber yang beragam. Tindak lanjut dari bertanya adalah menggali dan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber melalui berbagai cara. Untuk itu, siswa dapat
ditugaskan membaca buku atau
mengakses internet, memperhatikan
fenomena atau objek yang lebih teliti, atau bahkan melakukan eksperimen. Dari kegiatan tersebut, terkumpul sejumlah informasi. Informasi tersebut menjadi dasar bagi kegiatan berikutnya, yaitu mengasosiasi informasi untuk menemukan
keterkaitan satu informasi dengan
informasi lainnya, menemukan pola dari keterkaitan informasi, dan mengambil berbagai kesimpulan dari pola yang
ditemukan. Kegiatan terakhir adalah
menuliskan atau menceritakan apa yang
ditemukan dalam kegiatan mencari
informasi, mengasosiasikan, dan
menemukan pola tersebut. Hasil tersebut disampikan di kelas dan dinilai oleh guru sebagai hasil belajar peserta didik atau kelompok peserta didik tersebut.
Berdasarkan alur tersebut, maka yang harus dilakukan guru pada kegiatan
pendahuluan adalah memberikan
apersepsi yang menarik agar siswa menyadari manfaat materi yang akan dipelajari. Dengan demikian, rasa ingin tahu siswa akan merangsang siswa untuk
bertanya, mengajukan hipotesis,
mengumpulkan informasi, menalar, dan mengkomunikasikan. Kegiatan mengamati yang diberikan harus sesuai dengan kenyataan dalam kehidupan keseharian siswa, tidak hanya sebatas imajinasi. Oleh
karena itu, guru setidaknya harus
mengajak siswa mengamati fenomena riil
di lingkungan sekitar. Namun,
kenyataannya guru belum melaksanakan hal tersebut, sehingga kegiatan menanya sebagian besar didominasi oleh guru. Kegiatan menanya yang dilakukan siswa hanya sebatas pertanyaan prosedural tentang teknis mengerjakan LKS dan teknis melakukan praktikum. Siswa tidak mengajukan pertanyaan hipotetik yang mengarah pada pengungkapan suatu
konsep, sehingga kegiatan
mengumpulkan informasi, menalar, dan mengkomunikasikan yang dilakukan siswa seolah-olah terpisah, tidak berhubungan satu sama lainnya. Keterbatasan waktu
pembelajaran merupakan penyebab
utama permasalahan ini. Alokasi waktu pembelajaran untuk setiap pertemuan tidak dapat digunakan untuk menerapkan pendekatan saintifik secara ideal. Hal ini
diperparah oleh banyaknya materi
pembelajaran yang harus diselesaikan,
sehingga guru tergesa-gesa dalam
melaksanakan pembelajaran. Akibatnya,
sebagian besar pelaksanaan
pembelajaran didominasi oleh guru.
Pelaksanaan kegiatan pembelajaran 5M seolah-olah hanya sebatas formalitas.
Tindak Guru dalam Evaluasi
Pembelajaran Berbasis Standar Proses Kurikulum 2013
Bagian terakhir dalam Standar Proses Kurikulum 2013 adalah evaluasi pembelajaran, yang terdiri atas penilaian hasil belajar, remedial, dan pengayaan. Guru ditemukan melakukan penilaian
aspek sikap, pengetahuan, dan
keterampilan dengan metode penilaian yang sesuai dengan tuntutan Standar Proses Kurikulum 2013. Penilaian aspek pengetahuan dilakukan melalui tes lisan dan tes tulis berupa kuis, tugas, PR, ulangan harian, ulangan tengah semester,
dan ulangan akhir semester. Guru
ditemukan kewalahan dalam memeriksa
hasil ulangan, membuat analisis
ketercapaian indikator, membahas soal ulangan, dan memberikan remedi. Tes lisan dilakukan secara bertahap dalam
beberapa kali pertemuan. Hal ini
dikarenakan alokasi waktu pembelajaran tidak mencukupi untuk memberikan tes
lisan bagi 36 orang siswa sekaligus. Guru
mengaku mengalami kedala dalam
membuat soal dan rubrik penilaian tes lisan karena soal yang dibuat harus mencakup semua materi yang telah diajarkan. Selain itu, guru juga harus membuat soal yang berbeda sebanyak jumlah siswa untuk menghindari peluang siswa membocorkan atau memperoleh soal yang sama.
Aspek sikap dinilai melalui
penilaian observasi, penilaian jurnal, penilaian diri, dan penilaian antar siswa.
Namun demikian, hanya penilaian
observasi yang dilakukan secara periodik. Penilaian jurnal, penilaian diri, dan penilaian antar siswa dilakukan sekali dalam satu semester. Hal ini dikarenakan
instrumen penilaian yang digunakan
banyak, jumlah siswa yang banyak, dan alokasi waktu yang terbatas. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Luthfi Maulana (dalam Dewi, 2015) diketahui bahwa pemahaman guru paling rendah terdapat pada aspek penilaian sikap. Hal
ini yang menyulitkan guru dalam
melakukan penilaian sikap. Terhadap permasalahan tersebut, penilaian diri dan penilaian antar siswa dilakukan dengan
menugaskan siswa mem-fotocopy dan
mengisi instrumen penilaian tersebut secara mandiri di rumah. Hal tersebut tidak sesuai dengan Permendikbud Nomor 66 Tahun 2013, di mana penilaian diri dan penilaian antar siswa dilakukan secara simultan setiap sebelum ulangan harian.
Guru mengungkapkan bahwa hasil
penilaian diri dan penilaian antar siswa cenderung tidak valid karena siswa menjawab pertanyaan kuesioner secara subjektif. Guru mengaku mengganti nilai penilaian diri dan penilaian antar siswa berdasarkan catatan pada penilaian jurnal. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari siswa yang nakal memperoleh nilai akhir aspek sikap yang tinggi akibat tingginya nilai dari penilaian diri dan penilaian antar siswa. Hal ini tidak sesuai dengan prinsip
penilaian yang termuat dalam
Permendikbud Nomor 66 Tahun 2013, di mana penilaian hasil belajar harus dilakukan secara objektif.
Dalam Standar Penilaian
terdapat tiga aspek yang dinilai dalam
pembelajaran, yaitu aspek sikap,
pengetahuan, dan keterampilan. Guru
ditemukan mengalami kebingungan
terhadap hal ini karena pada rumusan
kompetensi inti terdapat empat
kompetensi inti yang harus dicapai dan
dievaluasi. Namun, dalam standar
penilaian, hal ini mengerucut menjadi tiga aspek, di mana penilaian aspek religius
ditumpangtindihkan dengan penilaian
sikap. Padahal, aspek religius dan aspek sikap merupakan dua hal yang berbeda.
Guru mengungkapkan bahwa dalam
Kurikulum 2013 tidak dijelaskan standar
pengembangan dan penilaian aspek
religius siswa. Pengembangan dan
penilaian aspek religius yang dilakukan selama ini berbeda-beda sesuai dengan persepsi guru terhadap definisi konseptual dan operasional religiusitas. Sebagian guru percaya bahwa aspek religius dapat dinilai berdasarkan tingkat ketekunan siswa dalam berdoa dan sembahyang di awal dan akhir pembelajaran. Sebagaian guru memiliki persepsi bahwa religiusitas tidak dapat dinilai hanya dari tingkat ketekunan siswa dalam berdoa dan sembahyang. Permasalahan yang sama juga ditemukan oleh Dewi (2015), di mana
guru mengalami kesulitan dalam
menyusun indikator dan penilaian yang berkaitan dengan aspek spiritual siswa.
Dalam Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013 dijelaskan bahwa kompetensi dasar dari KI-1 dan KI-2 tidak harus dikembangkan dalam indikator karena
keduanya dicapai melalui proses
pembelajaran tidak langsung.
Pembelajaran tidak langsung merupakan
imbas dari pembelajaran langsung.
Pembelajaran langsung berkenaan
dengan pengembangan KI-3 dan KI-4 yang berturut-turut memuat kompetensi
pengetahuan dan kompetensi
keterampilan, yang direncanakan oleh guru dalam RPP. Kedua pembelajaran ini terjadi secara terintegrasi dan tidak
terpisah. Namun demikian, dalam
Permendikbud Nomor 66 Tahun 2013, guru dituntut untuk melakukan penilaian aspek sikap secara simultan dengan metode penilaian yang telah ditentukan.
Penilaian aspek sikap merupakan
akumulasi penilaian aspek religius dan sosial. Hal ini menjadi problematika tersendiri, karena dalam penilaian di kelas, guru hanya mungkin menilai hal-hal yang
ditampilkan siswa secara eksplisit,
sedangkan untuk hal-hal yang bersifat implisit, hampir tidak mungkin dapat dievaluasi.
Penilaian aspek keterampilan
dilakukan melalui penilaian kinerja
praktikum, penilaian proyek, dan penilaian
portofolio. Guru ditemukan telah
melakukan dua kali penilaian praktikum.
Guru ditemukan tidak melakukan
praktikum Melde untuk materi pokok
karakteristik gelombang, padahal
praktikum tersebut seharusnya dilakukan sesuai dengan tuntutan silabus. Hal ini dikarenakan alokasi waktu yang tidak
mencukupi. Guru mengaku harus
menyelesaikan target ketercapaian materi
sebelum ulangan akhir semester
berlangsung. Selain itu, guru juga
ditemukan mengalami kendala dalam pelaksanaan praktikum tangki riak karena alat yang tersedia di laboratorium fisika rusak. Upaya yang dilakukan untuk
mengatasi masalah tersebut adalah
dengan menayangkan video praktikum
tangki riak. Penilaian proyek pada
semester kedua telah dilakukan sebanyak dua kali. Penilaian portofolio dilakukan bersamaan dengan penilaian proyek. Nilai proyek diambil dari hasil penilaian produk dan presentasi, sedangkan nilai portofolio diambil dari hasil penilaian proposal dan laporan. Hal tersebut dilakukan karena keterbatasan alokasi waktu.
Rekapitulasi nilai akhir semester untuk aspek sikap, pengetahuan, dan
keterampilan dilakukan dengan
menggunakan form rekapitulasi penilaian dalam bentuk Microsoft Exel yang telah memuat rumus pembobotan nilai sesuai dengan Standar Proses Kurikulum 2013. Dalam Permendikbud Nomor 104 Tahun 2014, dijelaskan bahwa penilaian hasil belajar siswa dilakukan menggunakan acuan kriteria. Rekapitulasi nilai akhir semester untuk aspek sikap dilakukan dengan menggunakan sistem penilaian berbasis modus. Rekapitulasi nilai akhir
semester untuk aspek pengetahuan
Rekapitulasi nilai akhir untuk semester aspek keterampilan dilakukan dengan menggunakan sistem nilai tertinggi. Guru
mengaku tidak memahami rasional
penggunaan sitem penilaian aspek sikap dan aspek keterampilan tersebut. Guru menilai sistem penilaian tersebut tidak adil dan tidak layak diterapkan karena siswa dengan rincian nilai harian yang berbeda berpotensi memperoleh nilai akhir yang sama. Guru memprediksi jika siswa mengetahui sistem penilaian tersebut, maka terdapat kemungkinan siswa tidak akan mengikuti pembelajaran dengan serius.
Berdasarkan temuan tersebut,
dapat dijelaskan bahwa tidak semua jenis penilaian dapat dilakukan oleh guru. Guru
tidak melakukan penilan observasi,
penilaian diri, penilaian jurnal, penilaian lisan, dan penilaian portofolio secara periodik. Padahal dalam Permendikbud Nomor 66 Tahun 2013, dijelaskan bahwa penilaian tersebut harus dilakukan secara berkesinambungan. Penilaian observasi memiliki kelemahan yaitu terjadinya sikap
yang tidak “alami” ketika siswa menyadari
bahwa guru sedang melakukan penilaian observasi. Hal tersebut akan menggeser hakikat pembelajaran yang seharusnya terjadi secara alami dan penuh kesadaran menjadi sesuatu yang harus dilakukan karena paksaan atau unsur transaksional dengan nilai. Penilaian jurnal didefinisikan sebagai catatan pendidik di dalam dan di luar kelas yang berisi informasi hasil
pengamatan tentang kekuatan dan
kelemahan siswa yang berkaitan dengan sikap dan perilaku. Berdasarkan definisi tersebut, hasil penilaian jurnal akan memberikan informasi yang lebih jelas terkait dengan sikap setiap siswa. Namun demikian, guru akan kesulitan melakukan penilaian jurnal untuk kelas dengan jumlah siswa yang banyak dan dengan alokasi waktu yang terbatas.
Penilaian diri merupakan teknik penilaian dengan cara meminta siswa untuk mengemukakan kelebihan dan
kekurangan dirinya dalam konteks
pencapaian kompetensi. Penilaian antar siswa merupakan teknik penilaian dengan cara meminta siswa untuk saling menilai terkait dengan pencapaian kompetensi.
Penilaian diri dan penilaian antar siswa
dilakukan secara simultan sebelum
ulangan harian. Hasil penilaian diri dan penilaian antar siswa cenderung subjektif.
Hal ini dikarenakan siswa memiliki
kepentingan berupa tekanan psikologis untuk memperoleh nilai sikap yang tinggi. Dengan demikian, penilaian diri dan penilaian teman sejawat sebaiknya tidak digunakan sebagai bagian dari nilai sikap. Hasil penilaian ini sebaiknya hanya digunakan sebagai bahan evaluasi oleh pihak guru terhadap ketercapaian indikator pembelajaran. Menurut Kunandar (2013), kelemahan dari penilaian sikap adalah
bahwa penilaian tersebut sangat
tergantung pada situasi yang dialami siswa, sehingga hasilnya berpeluang berbeda, memerlukan waktu pengamatan yang cukup lama, dan terlalu banyak format yang melelahkan guru.
Problematika Guru dalam Penerapan Standar Proses Kurikulum 2013 dan Upaya Penyelesaiannya
Hasil temuan menunjukkan bahwa permasalahan dan kendala yang dihadapi oleh guru dalam penerapan Standar Proses Kurikulum 2013 disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut. Pertama, guru masih memiliki persepsi bahwa beberapa bagian dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran hanya sebatas formalitas dan kurang berpengaruh terhadap hasil pembelajaran siswa, sehingga hal tersebut dinilai tidak perlu dilakukan. Hal ini diperparah oleh perilaku pengawas akademik yang tidak
melakukan supervisi secara holistik.
Kegiatan supervisi hanya sebatas pada
keberadaan perangkat pembelajaran.
Kedua, guru belum memahami beberapa
bagian dalam perencanaan, pelaksanaan,
dan evaluasi pembelajaran berbasis
Standar Proses Kurikulum 2013. Hal tersebut dikarenakan rendahnya kualitas pelatihan dan supervisi akademik yang dilakukan pemerintah. Untuk menyiapkan guru yang ideal dalam Kurikulum 2013,
diperlukan pendidikan dan pelatihan
kepala sekolah, yaitu guru matematika, guru bahasa Indonesia, guru sejarah, dan guru bimbingan konseling (BK). Guru yang dilatihkan tersebut kemudian ditugaskan mengimbaskan hasil pelatihan kepada guru lain melalui workshop kurikulum sekolah. Banyak permasalahan yang tidak
dapat diselesaikan dalam workshop
sekolah karena kurangnya pemahaman guru tentang Standar Proses Kurikulum 2013. Guru mengungkapkan bahwa permasalahan yang sama yang diajukan dalam workshop pusat terkadang juga tidak memperoleh solusi yang jelas.
Ketiga, guru menilai bahwa
penerapan Standar Proses Kurikulum 2013 memberatkan dan sulit untuk
dilaksanakan. Secara administratif,
pemerintah pusat telah menyiapkan
perangkat pelaksanaan pembelajaran,
seperti silabus dan form rekapitulasi penilaian, sehingga tidak perlu lagi disiapkan oleh guru. Namun demikian, guru dituntut berperan secara aktif
sebagai motivator, fasilitator, dan
evaluator pembelajaran. Hal ini menjadi kendala tersendiri bagi para guru karena tidak semua guru memiliki kompetensi tersebut. Hal ini dapat dipahami karena dalam Kurikulum 2013, guru dituntut
merencanakan dan melaksanakan
pembelajaran berbasis pendekatan
saintifik yang didukung oleh model pembelajaran rekomendasi pusat. Guru harus memberikan pengalaman belajar konseptual dan kontekstual dengan media pembelajaran yang variatif. Pada evaluasi pembelajaran, guru dituntut melakukan berbagai jenis penilaian aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Keempat,
siswa belum terbiasa dengan
pembelajaran berbasis pendekatan
saintifik. Akibatnya, aspek menanya, mencoba, dan menalar dalam pendekatan saintifik tidak dapat berjalan secara maksimal. Perlu waktu relatif lama bagi guru untuk melatih siswa agar terbiasa
dengan pembelajaran berbasis
pendekatan saintifik. Kelima, kurangnya
fasilitas pendukung kegiatan
pembelajaran. Penerapan pendekatan
saintifik memerlukan pengalaman belajar yang riil. Oleh karena itu, guru harus menggunakan media pembelajaran yang
bervariatif untuk mendukung pelaksanaan
pembelajaran. Untuk memperoleh
informasi yang luas, sumber belajar yang digunakan siswa harus berbasis ICT. Oleh karena itu, sekolah harus menyiapkan akses internet untuk mendukung proses pembelajaran. Selain itu, fisika merupakan mata pelajaran yang tidak terpisah dengan kegiatan praktikum. Oleh karena itu, alat dan bahan praktikum yang tersedia
setidaknya minimal sesuai dengan
tuntutan praktikum dalam silabus.
Terakhir, permasalahan utama
penerapan Standar Proses Kurikulum 2013 adalah ketidaksesuaian tuntutan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi
pembelajaran dengan alokasi waktu
pembelajaran yang tersedia. Pemerintah pusat tidak memperhitungkan waktu yang
diperlukan guru untuk melakukan
perencanaan dan evaluasi pembelajaran. Alokasi waktu yang terhitung saat ini hanya pelaksanaan pembelajaran tatap muka sebanyak 24 jam pelajaran. Hal ini diperparah karena alokasi waktu tersebut terpotong oleh kegiatan upacara bendera
dan kegiatan hari Jumat. Padahal
perencanaan dan evaluasi pembelajaran
dituntut secara periodik selama
pembelajaran. Akibatnya, pelaksanaan pembelajaran tidak berlangsung secara maksimal karena guru terfokus pada penilaian pembelajaran. Alokasi waktu pelaksanaan pembelajaran tersebut juga akan semakin berkurang akibat terpotong pelaksanaan ulangan harian dan remedi.
Terdapat beberapa upaya yang telah dilakukan guru untuk mengatasi permasalahan dan kendala penerapan Standar Proses Kurikulum 2013. Guru secara mandiri telah berupaya mencari
informasi tentang konsep-konsep
pembelajaran yang belum dipahaminya
melalui internet. Guru juga telah
mendiskusikan konsep-konsep
pembelajaran yang belum dipahaminya
dengan pengawas akademik mata
pelajaran fisika dari Dinas Pendidikan. Namun demikian, diskusi yang dapat dilakukan hanya sebatas pada sistematika penyusunan administrasi pembelajaran.
Pengawas akademik tidak mampu
memberikan solusi terhadap
pembelajaran fisika. Hal ini dikarenakan pengawas akademik tersebut adalah pengawas akademik mata pelajaran kimia. Dinas Pendidikan Kabupaten Buleleng
belum memiliki pengawas akademik
khusus untuk mata pelajaran fisika, sehingga tugas kepengawas tersebut diberikan kepada pengawas akademik mata pelajaran kimia.
Terhadap permasalahan
ketersediaan alat dan bahan praktikum
tangki riak, guru telah berupaya
menayangkan video praktikum tangki riak. Guru juga telah melakukan upaya-upaya
penyelesaian terhadap permasalahan
penilaian jurnal, penilaian diri, penilaian antar siswa, dan penilaian portofolio yang terkendala akibat kurangnya alokasi waktu dan banyaknya jumlah siswa. Guru telah
berupaya menggabung pelaksanaan
penilaian portofolio ke dalam tugas proyek, sehingga dalam satu tugas, guru dapat melakukan dua jenis penilaian sekaligus. Permasalahan pelaksanaan penilaian diri dan penilaian antar siswa diselesaikan dengan menugaskan siswa melakukan penilaian secara mandiri di
rumah. Namun demikian, upaya
penyelesaian permasalahan tersebut
hanya sebatas pada formalitas
ketercapaian pelaksanaan penilaian untuk memperoleh nilai yang dituntut dalam form
rekapitulasi nilai akhir, sehingga, terdapat beberapa jenis penilaian yang hanya dilakukan sekali dalam satu semester. Penilaian tersebut seharusnya dilakukan secara alami dan periodik, sehingga tujuan riil penilaian otentik dapat tercapai.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil temuan dan pembahasan, kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) Guru memahami bagian-bagian Standar Proses Kurikulum 2013 dari workshop kurikulum dan teks Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013. Guru menilai bahwa perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran berbasis pendekatan saintifik bukan merupakan hal yang baru karena dalam Kurikulum 2006,
guru sering menerapkan model
pembelajaran kooperatif yang juga
memuat kegiatan 5M. (2) Pada
perencanaan pembelajaran, guru
menyiapkan RPP, LKS, dan media pembelajaran. Kompenonen RPP yang dibuat sebagian besar masih mengikuti sistematika RPP Kurikulum 2006. (3)
Pelaksanaan pembelajaran yang
dilakukan guru sebagian besar telah sesuai dengan Standar Proses Kurikulum
2013, yaitu memuat kegiatan
pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Kegiatan menanya didominasi
oleh guru. Pertanyaan siswa tidak
hipotetik, sehingga aspek-aspek
pendekatan saintifik yang dilakukan siswa
seolah-olah terpisah (4) Evaluasi
pembelajaran yang dilakukan guru
sebagian besar telah sesuai dengan Standar Proses Kurikulum 2013, yaitu penilaian hasil belajar aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan, program
remedial, dan pengayaan. Namun
demikian, sebagian besar penilaian tidak dapat dilakukan secara periodik. (5)
Sebagian besar permasalahan dan
kendala yang dihadapi guru dalam penerapan Standar Proses Kurikulum 2013 disebabkan oleh ketidaksesuaian antara banyaknya tugas guru dengan alokasi waktu pembelajaran yang tersedia.
Berdasarkan simpulan tersebut,
dapat diajukan beberapa saran sebagai berikut. (1) Agar aspek-aspek pendekatan saintifik dapat berjalan dengan maksimal, pada kegiatan pendahuluan, guru harus memberikan apersepsi yang mampu menumbuhkan rasa ingin tahu siswa. Kegiatan apersepsi harus didukung oleh penayangan fenomena fisis yang dekat dengan kehidupan keseharian siswa. Fenomena fisis tersebut dapat ditampilkan dalam bentuk gambar, video, atau bahkan
dengan mengajak siswa melakukan
observasi langsung ke lingkungan sekitar.
(2) Kegiatan menanya yang dilakukan
siswa belum maksimal. Pertanyaan yang diajukan oleh siswa tidak hipotetik,
sehingga aspek-aspek pendekatan
saintifik tidak terlaksana dengan baik. Guru perlu melatih siswa untuk bersikap skeptis agar siswa mampu mengajukan
pertanyaan hipotetik. As’ari (2014)
menjelaskan bahwa terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan guru untuk
pertanyaan hipotetik. Cara-cara tersebut adalah sebagai berikut. (a) Questioning
Breakfast, sebelum pembelajaran dimulai,
siswa diminta untuk menuliskan
pertanyaan sesuai dengan materi yang akan dibahas. (b) Questioning Appraisal, pemberian penghargaan kepada siswa yang memiliki kuantitas dan kualitas
pertanyaan investigatif yang baik.,
sehingga siswa mempersepsi kegiatan menanya sebagai suatu kegiatan yang bermanfaat. (c) Completing what if or what
if not questions, siswa diberi tugas untuk
melengkapi pertanyaan yang dimulai dengan kata-kata “bagaimana kalau” dan
kata “bagaimana kalau tidak”. (3)
Terhadap materi pembelajaran yang
abstrak dan sulit untuk dipraktikumkan, guru disarankan untuk melaksanakan praktikum visual dengan menggunakan aplikasi flash atau PhET yang dapat diunduh dari internet. (4) Terhadap
permasalahan pelaksanaan penilaian
pembelajaran yang disebabkan oleh
banyaknya jumlah siswa dan kurangnya alokasi waktu, guru disarankan untuk melakukan penilaian secara bertahap. (5) Kepala sekolah dan pengawas akademik
dari Dinas Pendidikan sebagai tim
supervisi harus mengevaluasi
implementasi Standar Proses Kurikulum 2013 secara holistik dari perencanaan sampai dengan evaluasi pembelajaran,
tidak hanya sebatas pengawasan
administratif, sehingga kekurangan dan kelemahan Standar Proses Kurikulum 2013 dapat diketahui dan diperbaiki.
Guru hendaknya selalu aktif
DAFTAR PUSTAKA
As’ari, A. R. 2014. Berbagai permasalahan
pembelajaran matematika dalam
Kurikulum 2013 dan upaya
mengatasinya. Makalah. Seminar
Nasional Solusi Problematika
Implementasi Kurikulum 2013
untuk Mewujudkan Pembelajaran yang Berkualitas, 16 Maret 2014. Dewi, M. Y. 2015. Implementasi Kurikulum
2013 pada mata pelajaran Bahasa
Indonesia SMA Negeri di
Kabupaten Bantul Yogyakarta.
Skripsi. Jurusan Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta. Herfinaly, R., Natalina, M., & Yustina.
2014. Kesiapan guru biologi dalam
mengimplementasikan Kurikulum
2013 untuk mencapai
pembelajaran yang efektif pada tingkat SMA di Kota Pekanbaru.
Artikel Penelitian.
Kemendikbud. 2013a. Lampiran Peraturan
Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan RI Nomor 81A Tahun
2013 tentang Implementasi
Kurikulum. Jakarta: Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan. Kemendikbud. 2013b. Peraturan Menteri
Pendidikan Dan Kebudayaan
Republik Indonesia Nomor 65
Tahun 2013 tentang Standar
Proses.
Kemendikbud. 2013c. Peraturan Menteri
Pendidikan Dan Kebudayaan
Republik Indonesia Nomor 66
Tahun 2013 tentang Standar
Penilaian.
Kunandar. 2013. Penilaian Autentik.
Jakarta: Raja Grafindo Persada. Kustijono, R. & Wiwin, E. 2014.
Pandangan guru terhadap
pelaksanaan Kurikulum 2013
dalam pembelajaran fisika SMK di kota Surabaya. Jurnal Pendidikan
Fisika dan Aplikasinya. 4(1): 1-14.
Sugiyono. 2010. Metode penelitian
kuantitatif, kualitatif, dan R&D.
Bandung: Alfabeta.
Sutrisno, L. 2013. Kurikulum 2013: Apa yang baru? Artikel Online.
Wardani, E. R. S., Budiono, J. D., &
Indana, S. 2014. Analisis
kesesuaian kegiatan pembelajaran pendekatan saintifik dengan tujuan pembelajaran di SMAN Mojokerto.
BioEdu Berkala Ilmiah Pendidikan