• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sifat Melawan Hukum Materiel versus Kepu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Sifat Melawan Hukum Materiel versus Kepu"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Sifat Melawan Hukum Materiel versus Keputusan MK Laporan oleh: Artanti Hendriyana

[Unpad.ac.id, 14/08] Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) RI Nomor 003/PUU-IV/2006 tanggal 25 Juli 2006 menghendaki dihilangkannya implementasi ajaran sifat melawan hukum materiel dalam tindak pidana korupsi. Namun dalam praktiknya, aparat penegak hukum masih saja menerapkan ajaran sifat melawan hukum materiel pasca keputusan MK tersebut. Hal ini mengakibatkan timbulnya ketidakpastian hukum dan penyalahgunaan wewenang (abuse of power) oleh aparat penegak hukum.

Juniver Girsang (Foto: Dadan T.)

“Putusan MK RI tersebut merupakan salah satu solusi adanya jaminan kepastian hukum yang diberikan dalam penanganan perkara tindak pidana korupsi, karena MK menghendaki penerapan sifat melawan hukum formil dalam mengejawantahkan unsur tindak pidana korupsi dalam Pasal 2 ayat (1) UU PTPK, yang selama ini justru dijadikan ruang multitafsir akibat dari implementasi ajaran sifat melawan hukum materiel,” jelas Juniver Girsang saat mempresentasikan disertasinya yang berjudul “Implementasi Ajaran Sifat Melawan Hukum Materiel dalam Tindak Pidana Korupsi Dihubungkan dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor: 003/PUU-IV/2006” pada Sidang Terbuka Promosi Doktor di Ruang Sidang Gedung Pascasarjana Unpad, Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung, Jumat (13/08).

Dalam disertasinya, Juniver Girsang menjelaskan bahwa ajaran sistem melawan hukum formal yaitu apabila suatu perbuatan telah mencocoki semua unsur yang termuat dalam rumusan tindak pidana, perbuatan tersebut adalah tindak pidana. Jika ada alasan pembenar, maka alasan-alasan tersebut harus juga disebutkan secara tegas dalam undang-undang. Sedangkan ajaran materiel mengakui alasan pembenar di luar undang-undang. Dengan perkataan lain, alasan pembenar dapat berada pada hukum yang tidak tertulis.

(2)

Juniver Girsang menjelaskan, bahwa selama di lapangan ia banyak menemukan penanganan perkara tindak hukum pidana, khususnya tindak korupsi masih sangat subjektif. Bahkan, penanganan di suatu daerah bisa berbeda dengan penanganan di daerah lain.

“Dengan adanya keputusan MK yang menyebutkan bahwa sifat hukum formil harus sudah pasti, maka harus sudah pasti pula apa yang dilakukan seseorang dikatakan melakukan suatu tindak pidana, apa yang dimaksud kerugian negara, dan berapa kerugian negara yang dituduhkan kepada seseoang tersebut,” jelas Founder Juniver Girsang & Partners ini saat mempertahankan disertasinya.

Kemudian, Juniver Girsang menyatakan, dengan adanya keputusan MK ini, maka tidak akan ada lagi multitafsir mengenai suatu perbuatan tindak pidana korupsi, khususnya mengenai unsur yang harus dipenuhi seseorang oleh seseorang sehingga dinyatakan telah melakukan suatu perbuatan. Menurutnya, kepastian hukum bisa tercapai apabila semuanya sudah ditangani sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

“Kalau tidak, kedepannya bisa terjadi abuse of power karena seseorang yg menangani kasus perkara ini bisa berdasarkan kepentingannya sendiri, kelompoknya, atau untuk tujuan-tujuan yang betul-betul melanggar hukum. Inilah alasan mengapa keputusan MK harus kita diakomodir untuk kepastian hukum,” tegas Juniver Girsang.

Pada sidang kali ini, bertindak sebagai ketua tim promotor yaitu Prof. Dr. H. Romli Atmasasmita, SH, LLM., didampingi oleh Prof. Dr. Hj. Komariah Emong Sapardjadja, SH dan Prof. Dr. Indriyanto Seno Adji, SH. MH, dengan tim oponen ahli Prof. Dr. H. Rukmana Amanwinata, SH, MH., Prof. Dr. Hj. Mien Rukmini, SH, MS., Prof. Dr. I Nyoman Serikat Putradjaya, SH, MH., Dr. Hj. Efa Laela Fakhirah, SH, MH., dan Dr. Indra Perwira, SH, MH.

Juniver Girsang akhirnya berhasil meraih gelar Doktor dengan predikat “Cumlaude”. Dihadapan para undangan, pria yang kini aktif sebagai Ketua Umum Perhimpunan Penasehat Hukum Pajak (PPHP) ini mengucapkan rasa syukur dan terimakasihnya kepada seluruh pihak yang telah membantunya dalam penyelesaian disertasi tersebut. “Saya berharap di masa mendatang disertasi ini dapat memberikan sumbangsih bagi penegak hukum di Indonesia, khususnya dalam menangani tindak korupsi, harapnya.

(3)

Terminologi sifat melawan hukum dapat ditemukan sebagai salah satu unsur tindak pidana korupsi dalam Pasal 2 UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Tegasnya pasal tersebut menyatakan: “setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp. 200.000.000,00 dan paling banyak Rp. 1.000.000.000 (satu milyar Rupiah)

Kata melawan hukum dalam pasal tersebut kemudian dalam penjelasanya, mencakup perbuatan melawan hukum dalam arti formil maupun dalam arti materil, yakni meskipun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan, namun apabila perbuatan tersebut dianggap tidak tercela karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau norma kehidupan sosial dalam masyarakat, maka perbuatan tersebut dapat dipidana.

Sebenarnya istilah melawan hukum materil dalam Pasal 2 ayat 1 UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun 2001 tidak dapat dipergunakan lagi Pasca Putusan MK No. 003/ PUU- IV/ 2006 tanggal 25 Juli 2006 yang menyatakan bahwa “penjelasan Pasal 2 ayat 1 tersebut dinyatakan telah bertentangan dengan UUD NRI Tahun 1945 dan telah dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.”

(4)

Argumentasi dari hakim tersebut masih menggunakan perbuatan melawan hukum materil sebagai berikut:

(5)

korupsi dalam Putusan MA RI No 275 K/ Pid/ 1983 tanggal 28 Desember 1983, untuk pertama kalinya dinyatakan secara tegas bahwa korupsi secara materil melawan hukum karena perbuatan tersebut adalah perbuatan yang tidak patut, tercela dan menusuk perasaan hati masyarakat banyak, dengan memakai tolok ukuran asas-asas hukum yang bersifat umum dan menurut kepatutan dalam masyarakat.

Tentunya dari putusan MA RI di atas memunculkan pertanyaan sebagai berikut:

Jika sudah dibatalkan oleh MK penjelasan perbuatan melawan hukum materil, kenapa masih digunakan oleh MA, apakah masih dibolehkan MA menggunakan unsur perbuatan melawan hukum materil tersebut dengan melakukan penemuan hukum kembali ?

Apakah mesti MARI tunduk pada putusan MK yang sudah membatalkan pengertian perbuatan melawan hukum materil itu ?

Kedua pertanyaan tersebut, sebenarnya lahir dari satu konsep atau asas hukum yang kita anut saat ini yaitu asas legalitas yang sederhananya terdapat dalam Pasal 1 KUHP “Tidak ada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali undang-undang mengaturnya lebih dahulu”. Olehnya itu dalam hukum pidana sangat dilarang penggunaan analogi.

(6)

Sepanjang hakim itu melakukan penafsiran terhadap maksud Pasal 2 ayat 1 UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No 20 Tahun 2001, tidak mengubah maksud dari pasal tersebut, tetap dimungkinkan. Misalnya dengan berpatokan pada adanya unsur kerugian Negara dan ternyata bertentangan dengan nilai keadilan yang dianut dalam masyarakat tetap dapat dipidana. Tapi kalau tidak melanggar nilai keadilan yang dianut dalam masyarakat, orang yang merugikan keuangan Negara itu bisa lepas dari tuntutan pidana.

Sebuah contoh sederhana, seorang kepala daerah mencairkan dana bantuan bencana alam, namun dari bantuan tersebut masih ada sisanya, sisanya kemudian ia anggarkan lagi untuk pembangun jalan dan jembatan, dimungkinkan terjadi kerugian Negara, tetapi terpenuhinya memperkaya diri sendiri baik itu sebuah korporasi tidak ada, dalam penggunaan anggaran sisa itu karena tidak diperuntukan untuk yang demikian. Berarti tidak terpenuhilah perbuatan korupsinya. Inilah yang dimaksud perbuatan melawan hukum materil berfungsi negatif. Perbuatan tersebut terpenuhi melanggar undang-undang namun dalam tataran substantif, oleh masyarakat bukan dipandang sebagai perbuatan pidana.

Kalau kita membuka RUU KUHP Pasal 1 ayat 1 dan ayat 2, kelihatan sudah menganut istilah melawan hukum materil berfungsi positif dan berfungsi negatif.

(7)

Sepertinya di masa mendatang, asas legalitas yang dianut di Indonesia tidak lagi bersifat absolut, karena secara tersirat sudah diakui hukum yang tidak tertulis dalam masyarakat.

Kalau kita mencari dasar konstitusioanlanya asas legalitas dalam UUD NRI Tahun 1945 dalam Pasal 1 ayat 3 “negara Indonesia berdasarkan atas hukum, tidak ada embel-embel konsep Negara hukum rechstaat ataukah konsep Negara hukum rule of law yang kita gunakan, berarti dengan tidak adanya embel-embel tersebut dilakukan secara sengaja, dengan tujuan memberi tempat yang luas pada pemenuhan rasa keadilan (the rule of law). Artinya demi tegaknya keadilan, seyogianya perbuatan yang tidak wajar, tercela, atau yang tidak sesuai dengan nilai-nilai dalam masyarakat dapat dipidana secara formal tidak ada hukum tertulis yang melarangnya (konsep Negara hukum prismatic dalam Mahfud: 2006)

Agar tercipta kejelasan dalam pemahaman pengertian “melawan hukum” mari kita lihat pembagiannya dalam hukum pidana. Sifat melawan hukum adalah suatu frase yang memiliki empat makna (Hiariej: 2006)

Sifat melawan hukum umum diartikan sebagai syarat umum dapat dipidananya suatu perbuatan atau dengan kata lain merupakan syarat tertulis untuk dipidananya suatu perbuatan

Sifat melawan hukum khusus biasanya kata melawan hukum dicantumkan dalam rumusan delik. Sifat melwan hukum formil mengandung arti semua bagian (unsur-unsur ) dari rumusan delik itu telah terpenuhi

(8)

Dalam perkembangan selanjutnya sifat melawan hukum materil itu masih dibagi lagi menjadi dua yaitu sifat melwan hukum materil dalam fungsinya yang berfungsi negatif dan sifat melawan hukum materil dalam fungsinya yang berfungsi positif

Sifat melawan hukum dalam fungsinya yang negatif diartikan bahwa meskipun perbuatan tersebut memenuhi unsur delik tetapi tidak bertentangan dengan rasa keadilan masyarakat, maka perbuatan tersebut tidak dipidana. Sedangkan sifat melawan hukum materil berfungsi positif, mengadung arti bahwa meskipun perbuatan tersebut tidak diatur dalam perundang-undangan, namun jika perbuatan tersebut dianggap tidak tercela karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau norma-noram kehidupan sosial dalam masyarakat, maka perbuatan tersebut dapat dipidana.

Pertnyaan sekarang, kira-kira yang dibatalkan oleh MK, perbuatan melawan hkum material dalam arti yang bagaimana ? kalau diartikan bahwa perbuatan melawan hukum dalam arti tidak boleh menggunakan analogi, karena dianutnya asas legalitas dalam hukum pidana sepertinya kurang tepat, karena untuk konteks sekarang cara kita menerapakan asas legalitas tidak lagi absolute, bahkan dengan diberikanya hak bagi hakim untuk menggali nilai –nilai hukum yang hidup di dalam masyarakat berdasarkan UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman menunjukan ada indikasi dapat diterapkannya perbuatan melawan hukum materil yang terbagi atas dua itu (berfungsi negatif dan berfungsi positif).

(9)

korupsi seperti terjadinya kerugian Negara, memperkaya diri sendiri ataukah sebuah korporasi. Kalau begitu dalam penelaahan asas, hingga teori dan tujuan hukum (tidak melihat sasaran utama putusan MK sebagai putusan yang final and binding). Maka perbuatan melawan hukum materil yang berfungsi positif dan berfungsi negative, masih layak diterapkan oleh hakim dalam memeriksa perkara tindak pidana korupsi.

Berbeda halnya kalau berbicara persoalan ranah kewenangan MK dan sasaran dari pada putusannya, karena MK yang bertindak sebagai judicial court (bukan justice court), yang mana MK bertindak seolah-olah sebagai UUD sebagai landasan tertinggi dari UU, maka mau tidak mau Pengadilan Umum dan jajarannya harus tunduk pada putusan MK tersebut.

Di sinilah kelebihan dan kekurangan yang dimiliki dengan hadirnya MK, karena putusan MK tidak dikenal lagi upaya hukum untuk menganulir putusannya. Satu-satunya cara adalah dengan merivisi UU tersebut melalaui pembahasan kembali di legislatif.

Sifat Melawan Hukum Materiil dan Formiil Dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU PTPK)

(Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi No. 003/PUU-IV/2006)

Frase berbuatan melawan hukum telah menjadi suatu frase yang sering disebut-sebut sebagi frase ampuh bagaikan pedang pusaka yang dipandang mampu memerangi tindak pidana korupsi. Frase melawan hukum marak dibicarakan oleh banyak kalangan baik dari kalangan pakar hukum, hakim, jaksa , akademisi dan para praktisi hukum dalam hal ini pengacara yang banyak mengani kasus korupsi. . Ulasan mengenai sifat melawan hukum ini merupakan sebuah telaah normatif dan diikuti dengan perkembangan sifat melawan hukum terhadap praktek hukum positif di Indonesia

Pengertian Sifat Melawan Hukum

(10)

perundang-undangan dipakai istilah perbuatan pidana (UU Dar. Th. 1951 No.1), peristiwa pidana (didalam kostitusi RIS maupun UUDS Th. 1950), dan tindak pidana sebagai istilah yang sering dipergunakan dalam Undang-Undang Pemberantasan Subversi, Korupsi dan lain-lainnya. Sedangkan dalam literatur-literatur sering dipakai istilah pelanggaran pidana, perbuatan yang boleh dihukum, perkara hukum perdata dan lain-lain. Didalam ilmu pengetahuan hukum secara universal dikenal dengan istilah “delik”. Didalam perundang-undangan dan literatur hukum pidana Belanda dikenal istilah strafbaarfeit. Menurut ahli hukum Belanda, Vos memandang strafbaarfeit adalah suatu kelakuan manusia yang diancam pidana oleh peraturan perundang-undangan, jadi suatu kelakuan yang pada umumnya dilarang dengan ancaman pidana. Menurut Pompe pengertian strafbaarfeit dibedakan menjadi dua, yaitu definisi menurut teori adalah suatu pelanggaran terhadap norma, yang dilakukan karena kesalahan si pelanggar dan diancam dengan pidana untuk mempertahankan tata hukum dan menyelamatkan kesejahteraan umum. Definisi menurut hukum positif adalah suatu kejadian/feit yang oleh peraturan undang-undang dirumuskan sebagai perbuatan yang dapat dihukum. Jadi strafbaarfeit mempunyai dua arti yaitu menunjuk kepada perbuatan yang diancam dengan pidana oleh undang-undang, dan menunjuk kepada perbuatan (yang melawan hukum) yang dilakukan dengan kesalahan oleh orang yang dapat dipertanggungjawabkan.

Hubungan antara strafbaarfeit dan “melawan hukum” adalah “melawan hukum” merupakan bagian dari elemen strafbaarfeit. Menurut Pompe, elemen strafbaarfeit adalah wederrechtelijkheid (unsur melawan hukum), schuld (unsur kesalahan) dan subsociale (unsur bahaya/ganguan/merugikan).

Pengertian sifat melawan hukum yang berlaku didalam hukum positif di Indonesia tidak bisa dilepaskan dengan pengertian sifat melawan hukum yang ada didalam praktek hukum positif Negeri Belanda mengingat Hukum Materiil Pidana di Indonesia dalam hal ini Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) masih mengambil dari Hukum Pidana di Belanda.

(11)
(12)

kata lain walaupun kata”melawan hukum” tidak disebutkan dalam rumusan delik, maka secara diam-diam sifat melawan hukum tersebut telah ada dalam suatu delik.

Sifat melawan hukum formal adalah jika seluruh bagian dari unsur-unsur dari rumusan delik telah terpenuhi atau jika seluruh bagian inti yang lain telah terbukti. Melawan hukum material terdapat dua pandangan, pertama, sifat melawan hukum material dilihat dari sudut perbuatannya. Hal ini mengandung arti perbuatan yang melanggar atau membahayakan kepentingan hukum yang hendak dilindungi oleh pembuat undang-undang dalam rumusan delik tertentu. Kedua, sifat melawan hukum material dilihat dari sumber hukumnya. Hal ini mengandung makna bertentangan dengan hukum tidak tertulis atau hukum yang hidup dalam masyarakat , asas-asas kepatutan atau nilai-nilai keadilan dan kehidupan sosial dalam masyarakat.

Sifat melawan hukum materiil dalam hukum pidana sebenarnya berasal dari Jerman dengan salah satu ilmuwan hukumnya yaitu Von Liszt. Secara tegas Von Liszt menyatakan bahwa setiap perbuatan yang anti sosial adalah wederrechtelijk. Perkembangan selanjutnya sifat melawan hukum material ini masih dibagi lagi menjadi sifat melawan hukum materiil dalam fungsinya yang negatif dan sifat melawan hukum material dalam fungsinya yang positif.

Sifat melawan hukum material dalam fungsinya yang negatif adalah suatu perbuatan yang memenuhi unsur delik tetapi tidak bertentangan dengan rasa keadilan masyarakat, maka perbuatan pidana tersebut tidak dapat dipidana, sepert perkara korupsi jika dilakukan dengan demi kepentingan umum, negara tidak dirugikan dan terdakwa tidak mendapatkan untung, dalam hukum secara formal sudah melawan hukum tetapi jika dikaitkan dengan sifat melawan hukum materiil perbuatan korupsi tersebut bukan merupakan melawan hukum. Sedangakn sifat melawan hukum materiil dalam fungsinya yang positif, mengandung arti bahwa meskipun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan namun perbuatan tersebut dianggap tercela karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau norma-norma kehidupan sosial dalam masyarakat maka perbuatan tersebut dapat dipidana.

Ajaran sifat Melawan Hukum Dalam Undang-Undang Pemberantansan Tindak Pidana Korupsi (UU PTPK)

(13)

mengandung keempat makna tentang ajaran sifat melawan hukum yakni sifat melawan hukum umum, sifat melawan hukum khusus, sifat melawan hukum formal dan sifat melawan hukum materiil. Dalam hal sifat melawan hukum umum dan sifat melawan hukum formal telah melekat dengan sendirinya, mengingat korupsi adalah perbuatan pidana sedangkan sifat melawan hukum khusus tergambar dari kata “melawan hukum” yang ada dalam rumusan delik, sementara sifat melawan hukum secara eksplisit dicantumkan dalam penjelasan.

Dalam penjelasan Pasal 2 ayat (1) UU PTPK, pembuat undang-undang menegaskan sikapnya bahwa didalam undang tersebut sifat melawan hukum yang dimaksud dalam undang-undang tersebut tidak hanya sifat melawan hukum formal melainkan juga sifat melawan hukum materiil baik dari sudut pandang perbuatannya maupun dari sudut pandang sumber hukumnya Sifat melawan hukum materiil dari sudut pandang perbuatannnya yaitu kepentingan hukum yang hendak dilindungi oleh pembuat undang-undang adalah keuangan negara dan perekonomian negara. Sedangkan sifat melawan hukum materiil sudut pandang sumber hukumnya yaitu perbuatan bertentangan dengan hukum tidak tertulis atau hukum yang hidup dalam masyarakat, asa-asas kepatutan atau nilai-nilai keadilan dan kehidupan sosial dalam masyarakat. Jika frase” melawan hukum” tidak dijelaskan secara eksplisit seperti yang terdapat dalam Pasal 2 ayat (1), maka secara implisit harus ditafsirkan bahwa kata”melawan hukum” yang dimaksud tidak hanya melawan hukum formal tetapi juga melawan hukum materiil. Menurut Vos, seorang pakar hukum yang mengajarkan sifat melawan hukum materiil dengan tegas mengatakan bahwa melawan hukum sebagai unsur konstitutif setiap perbuatan pidana, tidak hanya melawan hukum tertulis tetapi juga melawan hukum tidak tertulis dalam masyarakat. Pendapat Vos ini diperkuat oleh ahli hukum pidana Belanda lainnya yaitu Van Hatum dan Pompe. Pompe menyatakan bahwa melawan hukum berarti bertentangan dengan hukum baik hukum yang tertulis maupun hukum yang tidak tertulis.

Sifat melawan hukum dalam penjelasan Pasal 2 Ayat (1) UU PTPK sebelum Putusan Mahkamah Konstitusi No. 003/PUU-IV/2006, seolah-olah sama perbuatan melawan hukum dalam hukum perdata (Pasal 1365 KUH Perdata) atau dalam istilah hukum perdata disebut onrechtmatige daad dengan melawan hukum dalam hukum pidana (wederrechtelijkheid).

(14)

Code Civil Perancis, Pasal 1401 Burgelijk Wetboek Belanda dan Pasal 1365 KUH Perdata Indonesia. Dalam disertasi tersebut Komariah mengutip pendapa ahli hukum Belanda Van Bemmelen menyatakan bahwa arti melawan hukum di bidang hukum pidana tidak ada bedanya dengan arti melawan hukum di bidang hukum perdata, seperti termuat dalam Pasal 1401 BW (Pasal 1365 KUH Perdata).

Dalam konteks undang-undang pemberantasan tidak pidana korupsi sebenarnya terlihat jelas bahwa terlihat jelas bahwa melawan hukum dalam hukum pidana (wederrechtelijk) dengan melawan hukum dalam hukum perdata (onrechmatige) tidak memiliki perbedaan. Hal ini diindikasikan dengan adanya ketentuan Pasal 33 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang menyatakan, “Dalam hal tersangka meninggal dunia pada saat dilakukan penyidikan, sedangkan secara nyata telah ada kerugian keuangan negara, maka penyidik segera menyerahkan berkas perkara hasil penyidikan kepada Jaksa Pengacara Negara atau diserahkan kepada instasi yang dirugikan untuk dilakukan gugatan perdata terhadap ahli warisnya”. Gugatan perdata yang dilakukan oleh Jaksa Pengacara Negara adalah Pasal 1365 KUH Perdata tentang onrechtmatige daad atau perbuatan melawan hukum.

(15)

Referensi

Dokumen terkait

Pemberian terapi farmakologik dapat dipertimbangkan apabila (1) konsentrasi kolesterol LDL darah tetap > 190 mg/dL setelah dilakukan terapi diet pada subjek yang tidak mempunyai

[r]

Hal tersebut terjadi karena kurangnya sosialisasi tentang aturan yang mewajibkan setiap perusahaan mengikutsertakan karyawannya dalam program jaminan sosial BPJS

4USBUFHJ LFQBMB TFLPMBI TBOHBU NFNQFOHBSVIJ LPNQFUFOTJ QSPGFTJPOBM HVSV ZBOH EJMBLVLBO EFOHBO QFNCJOBBO EBO NFNCFSJ LFTFNQBUBO LFQBEB HVSV

Berdasarkan beberapa penelitian dan literatur tentang teh putih menunjukkan bahwa, kandungan aktif yang terdapat dalam teh berupa EGCG yang merupakan derivat dari

Ketika suatu logam tidak berada dalam kesetimbangan dengan larutan yang mengandung ion-ionnya, nilai potensial elektrodanya akan berbeda dari potensial korosi bebas dan selisih

Bar adalah suatu tempat yang menyediakan atau menyajikan minuman beralkohol dan minuman tidak beralkohol, disamping itu bar juga digunakan oleh tamu untuk berkumpul, santai