• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Tahap Persiapan - BAB IV

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "1. Tahap Persiapan - BAB IV"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

44 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini dimulai pada tanggal 31 Mei 2013 sampai dengan tanggal 10 Juni 2013 di MAN 2 Palembang. Sampel penelitian adalah siswa kelas XI IPA 1 dan XI IPA 2 Tahun Ajaran 2012/2013. Penelitian dilaksanakan selama 4 kali pertemuan. Berikut adalah jadwal kegiatan yang dilakukan peneliti selama proses penelitian:

Tabel 4

Jadwal Kegiatan Penelitian No. Tanggal Kegiatan

1. 13 Mei 2103 – 24 Mei 2013

Mengurus keperluan administrasi penelitian.

2. 31 Mei 2013 – 10 Juni 2013

Melakukan penelitian dilapangan.

Adapun tahap –tahap yang peneliti lakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Tahap Persiapan

(2)

45

Kemudian guna melaksanakan penelitian langsung di MAN 2 Palembang, peneliti terlebih dahulu mengurus Surat Izin Penelitian Setelah mendapatkan Surat Izin dari Kanwil, kemudian peneliti menghubungi sekolah tempat penelitian.

Selanjutnya peneliti menemui Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum guna menentukan guru mata pelajaran yang kelasnya akan digunakan untuk keperluan penelitian. Setelah menentukan guru mata pelajaran, peneliti menemui guru mata pelajaran matematika yang bersangkutan untuk menentukan kelas yang akan digunakan untuk objek penelitian.

Berikut adalah jadwal penelitian yang telah disepakati dengan guru mata pelajaran :

Tabel 5

Jadwal Penelitian di Lapangan

No. Tanggal Kegiatan

1. 31 mei 2013 Pembelajaran ke 1 2. 04 Juni 2013 Pembelajaran ke 2 3. 07 Juni 2013 Pembelajaran ke 3 4. 10 Juni 2013 Pembelajaran ke 4

2. Tahap Pelaksanaan

(3)

46 a. Observasi

Selama proses pengajaran, peneliti meminta bantuan 2 orang observer untuk melakukan observasi. Observasi dilakukan selama pembelajaran berlangsung di kelas eksperimen, yaitu dimulai ketika awal pembelajaran sampai peneliti menutup kegiatan pengajaran. Observasi hanya dilakukan di kelas eksperimen karena dalam lembar observasi terdapat indikator dan deskriptor respon siswa yang muncul selama proses pembelajaran di beri perlakuan dengan pendekatan Problem Posing, sedangkan di kelas kontrol tidak diberikan perlakuan dengan pendekatan Problem Posing

sehingga observasi tidak dilakukan di kelas kontrol. b. Wawancara

(4)

47

Pada wawancara pasca pertemuan ketiga, peneliti menanyakan mengenai kegiatan siswa selama diskusi kelompok yang berkaitan dengan kemampuan berpikir kreatif yang diharapkan, meliputi aspek kreatif, kerja keras, komunikatif, rasa ingin tahu. Pada wawancara pasca pertemuan keempat, peneliti menanyakan mengenai proses siswa dalam menyelesaikan soal tes yang berkaitan dengan kemampuan berpikir kreatif yang diharapkan, meliputi respon siswa berupa sikap mandiri, kreatif, rasa ingin tahu, dan kerja keras.

c. Test

Setelah melakukan tiga kali pertemuan, peneliti melakukan tes akhir terhadap siswa subyek penelitian. Tes terdiri dari 4 soal uraian dan dilaksanakan selama 2 x 45 menit. Tes dilakukan untuk melihat kemampuan berpikir kreatif yang muncul pada siswa selama tes berlangsung.

3. Tahap Pengolahan Data

(5)

48

dan wawancara dari proses pembelajaran kemudian dianalisis dan key points dapat ditandai untuk mempermudah coding dan pengklasifikasian. Selanjutnya dilakukan coding data, data yang telah ditranskrip kemudian dikelompokkan ke dalam tema tertentu dan diberi kode untuk melihat kesamaan temuan. Lalu yang terakhir dilakukan adalah proses interpretasi, peneliti mengkaitkan hasil temuan penelitian dengan berbagai teori tentang kemampuan berpikir kreatif.

B. Deskripsi Pembelajaran Pada Kelas Eksperimen

Proses pembelajaran yang dilakukan, yaitu : 1) Pertemuan Pertama

Berikut adalah deskripsi pembelajaran pada pertemuan pertama: (1). Peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran, memberikan

motivasi kepada siswa dengan menjelaskan pentingnya mempelajari materi limit fungsi dan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari serta mengingatkan siswa pada materi terkait.

(2). Orientasi siswa terhadap masalah

(6)

49

barang tertentu yang nilainya mencapai limit, misalnya harganya Rp 9.900,- sehingga kalian harus membayar Rp 10.000,-. Sekarang coba kalian diskripsikan contoh limit fungsi lainnya dalam kehidupan sehari-hari ?

(1) (2)

Gambar 1. Peneliti memberikan permasalahan kepada siswa 2. Seorang siswa mengemukakan idenya untuk

menyelesaikan masalah

(3). Tahap 1: Mengorganisasikan siswa untuk belajar

Siswa terlebih dahulu dibagi menjadi 8 kelompok yang terdiri dari 4-5 siswa. Setiap kelompok diberikan LKS untuk mereka diskusikan bersama teman sekelompoknya.

(7)

50

pertanyaan-pertanyaan yang dapat membantu siswa berfikir mengenai langkah penyelesaian LKSnya.

Gambar 3. Peneliti memberikan arahan pada siswa

(5) Tahap 3 : Mengembangkan dan menyajikan hasil pemecahan masalah

Pada tahap ini siswa diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya baik secara lisan maupun tulisan. Kelompok lain wajib memperhatikan presentasi dari kelompok yang berada didepan kelas. Bagi kelompok yang memiliki jawaban berbeda dipersilahkan untuk menyampaikan hasil diskusi mereka.

(6) Tahap 4: Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

(8)

51 2) Pertemuan Kedua

Berikut adalah deskripsi pembelajaran pada pertemuan kedua:

(1). Peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran, memberikan motivasi kepada siswa dengan menjelaskan pentingnya mempelajari materi limit fungsi dan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari serta mengingatkan siswa pada materi terkait.

(2). Orientasi siswa terhadap masalah

Peneliti memberikan masalah kepada siswa dan meminta siswa mengemukakan idenya untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan. Permasalahan yang diberikan yaitu mengenai cara menghitung nilai limit dengan menggunakan sifat-sifat fungsi limit di satu titik. Misalnya lim(2 2 4)

1 

x

x =... , tentunya setelah

siswa mampu menyelesaikan soal tersebut, maka pembelajaran dengan Problem Posing mulai digunakan.

(3). Tahap 1 : Mengorganisasikan siswa untuk belajar

Siswa terlebih dahulu dibagi menjadi 8 kelompok yang masing-masing terdiri dari 4-5 siswa. Setiap kelompok diberikan LKS untuk mereka diskusikan bersama teman sekelompoknya.

(4). Tahap 2 : Menjelaskan materi dan membimbing siswa membuat soal sendiri (Problem Posing)

(9)

52

mampu menyelesaikan contoh soal yang peneliti berikan selanjutkan siswa dibimbing untuk membuat soal sendiri tentang materi limit fungsi yang nantinya akan di bahas oleh kelompok lain. Ini adalah salah satu contoh soal yang dibuat oleh siswa dan diselesaikan oleh kelompok lain :

(5). Tahap 3: Mengecek kevalidan soal yang di buat siswa dan memberikan soal tersebut kepada kelompok lain untuk diselesaikan secara berkelompok

Pada tahap ini peneliti mengecek semua soal-soal yang telah di buat oleh siswa supaya tidak ada kekeliruan siswa lain untuk menjawab soal tersebut dan peneliti juga membantu siswa yang kesulitan dalam menyelesaikan soal yang diberikan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat membantu siswa berfikir mengenai langkah penyelesaian soalnya.

Soal yang dibuat oleh

siswa

(10)

53

(6). Tahap 4 : Mengembangkan dan menyajikan hasil pemecahan masalah

Pada tahap ini siswa diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya baik secara lisan maupun tulisan. Kelompok lain wajib memperhatikan presentasi dari kelompok yang berada didepan kelas. Bagi kelompok yang memiliki jawaban berbeda dipersilahkan untuk menyampaikan hasil diskusi mereka.

(4) (5)

Gambar 4. Siswa mempresentasikan hasil diskusi secara lisan 5. Siswa mempresentasikan hasil diskusi secara tulisan (7). Tahap 5: Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan

masalah

(11)

54 3) Pertemuan Ketiga

Berikut adalah deskripsi pembelajaran pada pertemuan ketiga:

(1). Peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran, memberikan motivasi kepada siswa dengan menjelaskan pentingnya mempelajari materi limit fungsi dan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari serta mengingatkan siswa pada materi terkait.

(2). Orientasi siswa terhadap masalah

Peneliti memberikan masalah kepada siswa dan meminta siswa mengemukakan idenya untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan. Permasalahan yang diberikan yaitu mengenai cara menghitung limit fungsi di titik yang tak berhingga. Misalnya

x =..., tentunya setelah siswa mampu menyelesaikan

soal tersebut, maka pembelajaran dengan Problem Posing mulai digunakan.

(3). Tahap 1 : Mengorganisasikan siswa untuk belajar

Siswa terlebih dahulu dibagi menjadi 8 kelompok yang terdiri dari 4-5 siswa. Setiap kelompok diberikan LKS untuk mereka diskusikan bersama teman sekelompoknya.

(4). Tahap 2 : Menjelaskan materi dan membimbing siswa membuat soal sendiri (Problem Posing)

(12)

55

mampu menyelesaikan contoh soal yang peneliti berikan selanjutkan siswa dibimbing untuk membuat soal sendiri tentang materi limit fungsi yang nantinya akan di bahas oleh kelompok lain.Ini adalah salah satu contoh hasil soal yang dibuat oleh siswa dan diselesaikan oleh kelompok lain :

(5). Tahap 3: Mengecek kevalidan soal yang di buat siswa dan memberikan soal tersebut kepada kelompok lain untuk diselesaikan secara berkelompok

Pada tahap ini peneliti mengecek semua soal-soal yang telah di buat oleh siswa supaya tidak ada kekeliruan siswa lain untuk menjawab soal tersebut dan peneliti juga membantu siswa yang kesulitan dalam Soal yang dibuat oleh siswa

Penyelesaian oleh kelompok

(13)

56

menyelesaikan soal yang diberikan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat membantu siswa berfikir mengenai langkah penyelesaian soalnya.

(6). Tahap 4 : Mengembangkan dan menyajikan hasil pemecahan masalah Pada tahap ini siswa diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Kelompok lain wajib memperhatikan presentasi dari kelompok yang berada didepan kelas. Bagi kelompok yang memiliki jawaban berbeda dipersilahkan untuk menyampaikan hasil diskusi mereka.

Gambar 6. Masing-masing ketua kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompok

(14)

57

Gambar 7. Siswa menyimpulkan hasil pembelajaran pada hari itu 4) Pertemuan Keempat

Pada pertemuan keempat, peneliti melaksanakan tes akhir kepada siswa. Tes dilakukan selama 90 menit dan siswa diminta untuk mengerjakannya secara kelompok. Soal yang diberikan berupa 4 buah soal pemecahan masalah mengenai limit fungsi.

Gambar 8. Siswa mengerjakan soal tes C. Deskripsi Pembelajaran Pada Kelas Kontrol

(15)

58

peneliti ambil adalah nilai hasil tes setiap pertemuannya. Berikut adalah pendeskripsian pembelajaran di kelas kontrol:

(1). Peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran, memberikan motivasi kepada siswa dengan menjelaskan pentingnya mempelajari materi limit fungsi dan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari serta mengingatkan siswa pada materi terkait.

(2). Orientasi siswa terhadap masalah

Peneliti memberikan masalah kepada siswa dan meminta siswa mengemukakan idenya untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan. Permasalahan yang diberikan yaitu Dalam kehidupan sehari-hari tentunya kalian pernah mengaplikasikan limit fungsi. Misalnya ketika kalian belanja ke Mall tentunya ada harga barang tertentu yang nilainya mencapai limit, misalnya harganya Rp 9.900,- sehingga kalian harus membayar Rp 10.000,-. Sekarang coba kalian diskripsikan contoh limit fungsi lainnya dalam kehidupan sehari-hari ?

(16)

59

(3). Tahap 1 : Mengorganisasikan siswa untuk belajar

Siswa terlebih dahulu dibagi menjadi 8 kelompok yang terdiri dari 4-5 siswa. Setiap kelompok diberikan LKS untuk mereka diskusikan bersama teman sekelompoknya.

Gambar 10. Siswa sedang duduk berkelompok

(4). Tahap 2: Memberikan penjelasan tentang materi limit dan membimbing siswa menyelesaikan masalah

Pada tahap ini peneliti membantu siswa yang kesulitan dalam menyelesaikan LKS dengan mengajukan pertanyaan - pertanyaan yang dapat membantu siswa berfikir mengenai langkah penyelesaian LKSnya.

(17)

60

(5). Tahap 3: Mengembangkan dan menyajikan hasil pemecahan masalah Pada tahap ini siswa diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya baik secara lisan maupun tulisan. Kelompok lain wajib memperhatikan presentasi dari kelompok yang berada didepan kelas. Bagi kelompok yang memiliki jawaban berbeda dipersilahkan untuk menyampaikan hasil diskusi mereka.

(18)

61 D. Hasil Penelitian

Analisis data hasil penelitian dibuat berdasarkan hasil observasi, wawancara dan test. Berikut hasil analisis kemampuan berpikir kreatif yang muncul selama proses pembelajaran.

1. Observasi

Tabel 6

Respon siswa selama Proses Pembelajaran No. Kemampuan berpikir

(19)

62

Grafik Respon siswa selama pembelajaran menggunakan Problem Posing

Dari table dan diagram di atas, dapat diketahui bahwa respon siswa yang muncul selama proses pembelajaran adalah kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, menghargai prestasi, komunikatif, rasa ingin tahu. Sedangkan nilai yang tidak muncul adalah semangat. 2. Wawancara

Wawancara dengan siswa digunakan untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pembelajaran dengan menggunakan Pendekatan Problem Posing. Dari wawancara terhadap sejumlah siswa yang peneliti cantumkan di pembahasan observasi yang menunjukkan bahwa siswa merasa senang belajar matematika dengan pendekatan Problem Posing.

(20)

63 3. Test

Berikut adalah hasil analisis posttest siswa ditunjukkan oleh grafik di bawah ini:

1. Kemampuan Berfikir Lancar

Soal no. 1: Sebuah bola dijatuhkan ke permukaan bumi dengan d(t) adalah jarak bola ke permukaan bumi (m) pada saat t detik. Misalkan d(t) = 16 t2. Kecepatan bola (m/detik) setelah 2 detik diberikan dalam bentuk

Hitunglah kecepatan bola setelah 2 detik.

Tabel 7. Persentase kemampuan berpikir lancar soal posttest no 1 kelas eksperimen dan kelas kontrol

Eksperimen Kontrol

64,7 % 48,6 %

Berdasarkan grafik diatas, tampak bahwa kemampuan berpikir lancar di kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan

(21)

64

kelas kontrol. Dalam menyelesaikan masalah pada soal posttest siswa di kelas eksperimen lebih banyak mendapatkan cara alternatif untuk menjawab soal tersebut dibandingkan kelas kontrol.

Gambar 12. Jawaban yang berbeda yang diselesaikan oleh kelas eksperimen

(22)

65 2. Kemampuan Berpikir Luwes

Soal no. 3 : populasi orang (N) dari suatu kota kecil t tahun yang akan datang dimulai dari sekarang diperkirakan pada sebuah fungsi tersebut.

Tentukan populasinya pada waktu yang sangat panjang. Apakah dengan menghitung N

t

lim ? Jelaskan jawabanmu ! Tabel 8. Persentase kemampuan berpikir luwes soal posttest no 5

kelas eksperimen dan kelas kontrol

Eksperimen Kontrol

76,4 % 54,05 %

(23)

66

Gambar 14. Jawaban dengan menggunakan konsep limit

Gambar 15. Jawaban dengan menggunakan pemfaktoran 3. Kemampuan Berpikir Orisinal

Soal no. 2: Luas sebuah elips dengan panjang sumbu mayor 2a adalah ( a2c2)dimana cadalah jarak titik fokus ke pusat. Tentukan limit dari luas elips tersebut ketika cmendekati nol. Jelaskan jawaban anda !

Konsep limit digunakan

untuk menjawab soal

Difaktorkan tapi solusi tetap

(24)

67

Tabel 9. Persentase kemampuan berpikir orisinal soal posttest no 2 kelas eksperimen dan kelas kontrol

Eksperimen Kontrol

73,5 % 54,05 %

Berdasarkan grafik diatas, tampak bahwa kemampuan berpikir orisinal di kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Pada soal terdapat kalimat yang meminta siswa untuk menuliskan cara yang baru dalam menyelesaikan soal yaitu penulisan limit ketika c mendekati 0 (

0 lim 

c ). Dalam menyelesaikan

masalah pada soal posttest sebagian siswa di kelas eksperimen mampu menuliskan penyelesaian dengan cara yang baru untuk menjawab soal tersebut dibandingkan kelas kontrol.

(25)

68

4. Kemampuan Berpikir Memperinci

Soal no. 4: Tentukanlah nilai limit berikut :

Untuk bilangan konstanta a0,a1,...,andanb0,b1,...,bmdisetiap

kasus berikut : a. n < m b. n = m c. n > m

Tabel 10. Persentase kemampuan berpikir memperinci soal posttest

no 4 kelas eksperimen dan kelas kontrol

Eksperimen Kontrol

26,4 % 13,5 %

Berdasarkan grafik diatas, tampak bahwa kemampuan berpikir memperinci di kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Dalam menyelesaikan masalah pada soal posttest sebagian siswa di kelas eksperimen mampu menambah penjelasan

(26)

69

atau gagasan untuk menjawab soal tersebut dibandingkan kelas kontrol.

Penyelesaiannya yang benar :

(27)

70

Gambar 16. Jawaban siswa yang tepat soal no. 4 pada posttest Penyelesaian yang salah :

Gambar 17. jawaban siswa yang salah soal no. 4 pada posttest

(28)

71

Dari kedua gambar diatas terlihat jelas bahwa siswa belum mampu menganalisis soal dalam menyelesaikan masalah.

Selanjutnya analisis data hasil test dilakukan untuk menguji hipotesis, yaitu ada pengaruh signifikan antara pendekatan

Problem Posing terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa kelas XI Madrasah Aliyah Negeri 2 Palembang.

Sebelum peneliti melakukan pengujian hipotesis penelitian, terlebih dahulu akan di analisis mengenai normalitas dan homogenitas data baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol. Data yang di analisis adalah hasil tes kemampuan berpikir kreatif siswa yaitu posttest.

Data yang diperoleh dari penelitian pada kelas eksperimen dan kelas kontrol berupa skor nilai posttest kedua kelompok. Nilai yang diperoleh dari eksperimen ini akan dianalisis menggunakan uji-t dengan taraf signifikan 5%. Untuk mengolah data tersebut lebih lanjut dibutuhkan rata-rata nilai, simpangan baku dari nilai- nilai kedua kelompok.

Tabel 11. Hasil posttest kelas eksperimen dan kontrol

Kelas Rata-rata Simpangan Baku

Jumlah Siswa

Eksperimen 85,23 6,84 34

(29)

72 A.Uji Normalitas

1. Kelas Eksperimen

Dari perhitungan data kelas eksperimen setelah perlakuan dengan rata-rata = 85,23; simpangan baku = 6,84; modus = 86,84; nilai tertinggi = 100; nilai terendah = 70; banyak kelas interval = 6 dan panjang kelas interval =5 diperoleh kemiringan kurva=-0,235. Karena -1< Km <1, maka data nilai hasil tes kemampuan pemecahan masalah kelas eksperimen berdistribusi normal. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran I.

2. Kelas Kontrol

Dari perhitungan data kelas eksperimen setelah perlakuan dengan rata-rata = 71,45; simpangan baku = 7,97; modus = 72,5; nilai tertinggi = 85; nilai terendah = 55; banyak kelas interval = 6 dan panjang kelas interval = 5 diperoleh kemiringan kurva = -0,13. Karena -1< Km <1, maka data nilai hasil tes kemampuan pemecahan masalah kelas eksperimen berdistribusi normal. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran II.

B. Uji Homogenitas

(30)

73

Hasil perhitungan untuk kelas eksperimen di dapat varians= 46,79 dan untuk kelas kontrol varians = 63,58. Dari perbandingannya diperoleh Fhitung = 1,35 sedangkan dari tabel distibusi F dengan taraf signifikan 5% dan dk pembilang = 36 dan dk penyebut 33, diperoleh Ftabel = 1,77. Karena Fhitung > dari Ftabel, (Ho di tolak Ha diterima) maka model signifikan. Perhitungan lengkap dapat dilihat pada lampiran III.

Setelah data di uji kenormalitas dan homogenitasnya, maka untuk melihat adakah pengaruh signifikan antara pendekatan

Problem Posing terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa, peneliti menguji hipotesis menggunakan t-test.

C. Uji Hipotesis

Untuk melihat adakah pengaruh signifikan antara pendekatan

Problem Posing terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa, peneliti menguji hipotesis dengan t-test.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa data kemampuan berpikir kreatif siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol berdistribusi normal dan homogen.

(31)

74 2

n = 37 dan simpangan baku Sgab= 7,45 diperoleh thitung = 7,82

dengan α = 5% dan dk = ( 37+34)-2 = 69, diperoleh ttabel = 1,99. Kriteria pengujian Ho ditolak dan Ha diterima jika thitung > ttabel, berdasarkan hasil tersebut ternyata thitung > ttabel yaitu 7,82 > 1,99. Dengan demikian dari hasil pengujian hipotesis tersebut Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti ada pengaruh signifikan antara pendekatan Problem Posing terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada

lampiran IV. E. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian ada 8 indikator respon siswa selama pembelajaran dengan Problem Posing terdapat 7 indikator yang muncul dan 1 indikator yang tidak muncul. Berikut indikator respon siswa yang muncul yaitu sebagai berikut :

a) Kerja Keras

Persentase rata-rata nilai kerja keras dalam penelitian ini adalah 74%. Persentase itu menunjukkan bahwa nilai kerja keras telah muncul dengan baik selama proses pembelajaran. Sesuai dengan tujuannya, pembelajaran dengan pendekatan Problem Posing

(32)

75

Nilai kerja keras dapat dilihat melalui observasi dan latihan tertulis siswa.

Selama proses pembelajaran fokus siswa terhadap pekerjaannya masing-masing sudah baik, baik dalam aktifitas diskusi kelompok kecil maupun diskusi kelas. Siswa berusaha untuk menyelesaikan tugas yang diberikan dengan sebaik mungkin.

Gambar 18. Siswa fokus pada pekerjaan kelompoknya masing- masing

Selain dari observasi, kerja keras juga dapat dilihat dari hasil pekerjaan siswa. Dalam mengerjakan soal siswa dituntut untuk teliti dan tidak mudah menyerah dalam mengerjakan soal. Pada soal yang memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi, siswa harus mencoba berkali-kali untuk menyelesaiakannya. Sikap pantang menyerah dan tidak mudah putus asa harus dimiliki siswa agar dapat menyelesaikan soal. Seperti pada kutipan wawancara berikut.

Kutipan wawancara peneliti dengan Deni :

(33)

76

Peneliti : Langsung dapat jawabannya waktu dioret - oret ? Deni : Idak, bu. Kami berapo kali cari - cari dulu.

Dari kutipan di atas dapat diketahui bahwa siswa tersebut bersama kelompoknya tidak langsung mendapatkan jawaban dari soal, tetapi mereka mencari ulang beberapa kali untuk mendapatkan hasil yang dimaksud soal. Dalam hal ini, kelompok Deni memiliki kerja keras untuk menyelesaikan soal tersebut dan tidak mudah putus asa sehingga mau mencoba untuk mengerjakan berulang-ulang.

Meski tidak keseluruhan siswa mengerjakan soal dengan tepat namun sikap fokus dalam pembelajaran, pantang menyerah, tidak mudah putus asa dan ketelitian siswa dalam menyelesaikan permasalahan yang diberikan telah menunjukkan persentase yang baik, hal tersebut berarti bahwa nilai kerja keras telah diterapkan dan muncul selama pembelajaran.

b) Kreatif

(34)

77

terhadap pemilihan suatu alternatif penyelesaian masalah yang digunakannya.

Dalam penelitian ini nilai kreatif muncul sebesar 79 %. Rata - rata persentase tersebut menunjukkan bahwa dengan pendekatan

Problem Posing nilai kreatif dapat muncul dengan baik.

Gambar 19. Siswa menggunakan cara alternatif untuk mempermudah mengerjakan tugas.

c) Mandiri

Dalam penelitian ini, nilai mandiri telah direncanakan dalam RPP pertemuan keempat dan diharapkan muncul pada pertemuan tersebut. Pada proses pembelajaran nilai mandiri telah muncul pada siswa, namun persentasenya masih tergolong kategori cukup, khususnya pada pertemuan keempat. Persentase rata - rata nilai mandiri adalah sebesar 64,38 %.

(35)

78

Pada pertemuan pertama sampai dengan petemuan ketiga, nilai mandiri dapat dikategorikan cukup baik. Siswa dapat mengerjakan tugasnya masing-masing dengan baik sesuai dengan pembagian tugas di kelompoknya. Peneliti membantu siswa dengan cara membimbing dan mengarahkan siswa melalui pertanyaan-pertanyaan yang dapat membantu mereka berfikir dan menemukan penyelesaian masalah.

Sedangkan pada pertemuan keempat inilah nilai mandiri siswa dapat dikategorikan kurang. Pada pertemuan tersebut siswa diberikan 4 soal uraian untuk dikerjakan secara mandiri. Akan tetapi dalam pelaksanaannya siswa masih berdiskusi dengan teman sebangku atau teman yang duduk tidak jauh darinya untuk memastikan langkah penyelesaian soal. Setelah memastikan langkah pengerjaan, kemudian siswa umumnya menuliskan jawaban dengan cara penulisannya masing-masing dikertas jawaban. Ada pula siswa yang meminta bantuan kepada peneliti untuk membantu mereka menemukan penyelesaian masalah.

Dari wawancara peneliti dengan siswa berikut dapat diketahui bahwa siswa berikut juga berdiskusi dengan teman sebangkunya saat mengerjakan soal mandiri.

Kutipan wawancara peneliti dengan Fani : Peneliti : Kok tanya sama Dyah? Nyontek ya ?

Fani : Idak, bu. Waktu latihan kan dio duduk dengan aku, jadi aku

(36)

79

Kemunculan nilai mandiri yang belum maksimal dalam penelitian dikarenakan kurangnya kemampuan peneliti untuk mengontrol kelas tersebut. Selain itu agar tujuan pembelajaran dapat berjalan maka aturan yang jelas sangat dibutuhkan agar siswa mengetahui kapan mereka diharapkan berbicara satu sama lain dan kapan diharapkan mereka untuk bekerja secara mandiri.

d) Demokratis

Nilai demokratis merupakan salah satu nilai yang telah direncanakan dalam RPP peneliti, nilai ini dapat dilihat dari observasi selama proses pembelajaran, diantaranya adalah dengan melihat cara siswa dalam menghargai kesamaan hak antara dirinya dan teman sekelasnya. Pada penelitian ini, nilai demokratis telah muncul pada siswa selama proses pembelajaran dengan rata - rata persentase sebesar 80 % .

(37)

80

Seperti pada pertemuan pertama, pada tahap apersepsi, peneliti mengingatkan kembali kepada siswa mengenai limit. Pada tahap tersebut peneliti meminta siswa untuk menyampaikan pendapatnya mengenai contoh limit dalam kehidupan sehari-hari. Peneliti kemudian menunjuk seorang siswa untuk menyampaikan pendapatnya, siswa tersebut menyatakan bahwa SPBU juga termasuk contoh real dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian siswa yang lain menyampaikan bahwa pendapat tersebut tidak tepat. Menurutnya harga yang jual itu akan bulat tanpa limit. Peneliti kemudian mengajak siswa untuk menganalisis pendapat yang disampaikan oleh siswa-siswa tersebut. Pada tahap tersebut siswa-siswa tidak saling menyalahkan satu sama lain dan memberikan kesempatan untuk saling menyampaikan pendapat.

Pada pertemuan kedua, di mana saat kelompok penyaji mempresentasikan hasil diskusinya, terdapat beberapa kelompok peserta yang memiliki jawaban berbeda. Kelompok yang berbeda pendapat ini kemudian diminta untuk menyampaikan pendapatnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa nilai demokratis telah diterapkan siswa dalam pembelajaran.

(38)

81

Kemudian, pada wawancara dengan Annisa diketahui bahwa nilai demokratis juga telah diterapkan oleh siswa ketika menyikapi perbedaan pendapat dalam kelompoknya. Adapun kutipan wawancara peneliti dengan Annisa adalah sebagai berikut.

Kutipan wawancara peneliti dengan Annisa :

Peneliti : Terus kemarin ambil keputusan terakhir untuk

ngerjain itu kayak mana? Ambil pendapat Annisa atau Irfan?

Annisa : Ambil pendapat Annisa. Karena bener jawaban Annisa, bu.

Peneliti : Diskusi gak sama Irfan?

Annisa : Diskusi, bu. Sudah dikasih tahu bahwa itu bukan sifat limit.

Dari kutipan tersebut diketahui bahwa Annisa dan Irfan memiliki pendapat yang berbeda dalam menyelesaikan permasalahan yang diberikan di LKS. Maka untuk mengambil keputusan akhir, kelompok tersebut melakukan diskusi dan diperoleh kesimpulan bahwa jawaban yang akan digunakan adalah jawaban Annisa.

e) Rasa Ingin Tahu

(39)

82

mengumpulkan dan mencari tahu informasi yang sesuai dengan permasalahan yang akan diselesaikan, kemudian melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah (Supinah, 2010:21).

Rasa ingin tahu dapat dilihat langsung melalui observasi dan pengerjaan soal oleh siswa. Rasa ingin tahu siswa juga dapat disimpulkan melalui wawancara.

Kutipan wawancara peneliti dengan Fani :

Peneliti : Kenapa kok kamu mau dengerin temen yang lagi presentasi di depan ?

Fani : Biar ngerti, bu. Kan soalnyo lain-lain. Biar ngerti jugo. Adanya keinginan Fani untuk memperhatikan penjelasan dari kelompok lain yang sedang presentasi menunjukkan bahwa siswa tersebut memiliki rasa ingin tahu.

(40)

83

mereka mencoba mencari dan menemukan informasi yang dapat membantu mereka menyelesaikan permasalahan.

f) Menghargai Prestasi

Nilai menghargai prestasi dalam penelitian ini direncanakan dalam RPP peneliti, akan tetapi nilai tersebut muncul dalam pembelajaran, persentasenya adalah sebesar 74 %. Hal tersebut juga dapat dilihat dari kutipan wawancara berikut.

Kutipan wawancara peneliti dengan Bella :

Peneliti : Kenapa presentasi temennya didengerin ?

Bella : Biar ngerti, bu. Terus biar kalau kita maju, didengerin

juga sama kawan - kawan. Kutipan wawancara peneliti dengan Deni :

Peneliti : Kemarin sewaktu kawannya menjelaskan di depan kelas, kamu dengeringak mereka jelasin apa ?

Deni : Dengerin, bu. Peneliti : Kenapa ?

Deni : Biar nambah ngerti, apa lagikan soalnya ada yang beda, jadi biar faham, bu.

(41)

84 g) Komunikatif

(42)

85

Berikut adalah soal-soal yang dibuat oleh siswa ( Problem Posing ) pada pertemuan kedua :

Gambar 22. soal Problem Posing 1

Gambar 23. soal Problem Posing 2

(43)

86

(44)

87

Gambar 26. soal Problem Posing 5

(45)

88

(46)

89

Gambar 30. soal Problem Posing 9 Gambar 31. soal Problem Posing 10 Dari gambar 30 dan gambar 31 diatas, dapat dilihat bahwa keragaman soal yang dibuat oleh siswa walaupun hanya sekedar tanda – dan + saja. Pada gambar

sebelumnya ( gambar 28 ) soal yang dibuat oleh siswa adalah

sedangkan pada gambar 30 di atas

2

x namun kedua soal tersebut tetaplah

(47)

90

Berikut adalah soal yang dibuat siswa ( Problem Posing ) pada pertemuan ketiga :

Gambar 31. soal Problem Posing 11

Pada gambar diatas, di ketahui bahwa ada 3 soal yang dibuat oleh kelompok penyaji namun jawaban dari kelompok pembahas hanya 2 soal. Ini dikarenakan kelompok pembahas kurang memahami soal yang diajukan oleh kelompok penyaji. Namun jawaban kelompok pembahas memiliki banyak gagasan yang baru. Pada soal no 1 kelompok pembahas menjawab dengan rumus singkat sedangkan pada soal no 2 kelompok pembahas memberikan 2 solusi dengan cara yang berbeda yaitu dengan substitusi dan dengan pendiferensialan.

(48)

91

Seharusnya 0 ) 2 (ylim 

Gambar 32. soal Problem Posing 12

(49)

92

Gambar (33) diatas adalah soal yang dibuat oleh siswa pada pertemuan ketiga, pada gambar diatas siswa masih ada yang lupa dalam menuliskan lim

sebelum nilai lim dimasukkan. Pengerjaan soal diatas sudah tepat dijawab oleh siswa namun tetap mengurangi penilaian karena kekurang telitian siswa dalam mengerjakan soal.

Gambar 34. soal Problem Posing 14

Jawaban pada gambar 34 diatas belum tepat karena pada langkah awal mengerjakan soal tersebut sudah ditemukan kesalahan dalam merasionalkan. Sehingga perhitungan akhirnya tidak menemukan solusi yang benar.

(50)

93

Posing menekankan pada peran aktif dan kekreatifan peserta didik untuk membangun pengetahuannya sendiri maupun kelompok. Dengan berkelompok kemampuan berpikir kreatif peserta didik akan lebih berkembang.

Berkembangnya kemampuan berpikir kreatif peserta didik karena adanya peran aktif peserta didik sesuai dengan pendapat Alberti, Jacquie (Slavin, Robert E, 2010 : 39 ) “ cara terbaik untuk mengajari para siswa supaya memberikan penjelasan lengkap dan bukannya hanya sekedar berbagi jawaban adalah membuat siswa sebagai model dalam

pembelajaran”. Dengan adanya diskusi kelompok dan kreatif siswa membuat soal sendiri, akan melatih peserta didik untuk dapat menyelesaikan masalah dengan cara sendiri dan jika terbiasa akan mengembangkan kemampuan berpikir kreatif pada siswa.

Setelah masing-masing kelompok telah selesai membuat soal maka kelompok yang lainpun harus siap menjawab soal tersebut dengan tepat. Hal ini sesuai dengan Uno (2011:139) bahwa “proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan sendiri aturannya baik berupa konsep, teori dan definisi”.

(51)

94

yang dijelaskan oleh guru, sehingga sulit bagi mereka untuk menyelesaikan permaslahan yang lainnya. Hal tersebut yang menyebabkan pendekatan

Problem posing memiliki pengaruh positif terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa.

Adapun kendala yang dihadapi pada pendekatan Problem Posing yaitu kurangnya alokasi waktu yang diberikan dalam proses pembelajaran, ditambah lagi oleh peserta didik yang sulit beradaptasi dengan teman kelompoknya, sehingga sering kebingungan menyelesaikan permasalahan.

Berdasarkan hasil perolehan dan pengelolahan data yang diuji melalui analisis statistik dapat diperoleh beberapa gambaran bahwa penggunaan Pendekatan Problem Posing pada materi limit fungsi dapat memberikan hasil yang maksimal pada kemampuan berpikir kreatif siswa daripada menggunakan model pembelajaran langsung. Hal ini terjadi karena peserta didik yang menggunakan pendekatan Problem Posing terbiasa dengan memecahkan masalah yang disajikan sehingga mampu mengeksploras kemampuan yang dimiliki peserta didik. Peran aktif pada peserta didik mampu melatih kemampuan berpikir kreatif peserta didik. Sedangkan pembelajarn langsung kurang membuat peserta didik dalam memecahkan masalah. Kemungkinan besar karena kurangnya keterlibatan mereka selama pembelajaran.

Hasil pengolahan data untuk pembelajaran menggunakan pendekatan

(52)

95

pembelajaran dengan penggunakan pendekatan Problem Posing terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa sudah cukup efektif untuk diterapkan.

Berdasarkan dari wawancara pula terhadap beberapa siswa, bahwa mereka merasa lebih aktif dan kreatif dalam belajar selama menggunakan pendekatan Problem Posing daripada tidak menggunakan, peneliti sering mengamati adanya peningkatan berpikir kreatif siswa dalam belajar disetiap pertemuannya. Itu karena pendekatan Problem Posing adalah sebuah pendekatan yang melatih berpikir kreatif yang berpusat pada siswa.

Gambar dibawah ini akan menjelaskan beberapa ketidaktuntasan siswa dalam menganalisis soal dan menyelesaikan soal dengan benar.

Gambar 35. Jawaban siswa soal no. 1 pada pertemuan ke 3 dengan rumus praktis dan mudah Siswa menggunakan

(53)

96

Gambar 36. Jawaban siswa soal no. 1 pertemuan ke 3 dengan cara merasionalkan

Dari kedua gambar diatas dapat disimpulkan bahwa siswa mempunyai kemampuan berpikir lancar, yaitu dapat mencetuskan banyak cara, gagasan dalam menyelesaikan masalah

Namun, soal dibawah ini juga menunjukkan kesalahan siswa dalam menjawab soal :

Gambar 37. Jawaban siswa yang benar soal no. 1 pertemuan ke-2 Jawaban yang

benar, namun cara penulisan yang salah

Menggunak an kuadrat sempurna

(54)

97

Gambar 38. Jawaban siswa yang salah soal no. 1 pertemuan ke 2 Jawaban yang

salah, sedangkan cara penulisan

Gambar

Gambar 3. Peneliti memberikan arahan pada siswa
Gambar 4. Siswa mempresentasikan hasil diskusi secara lisan
Gambar 8.  Siswa mengerjakan soal tes
Gambar 10. Siswa sedang duduk berkelompok
+7

Referensi

Dokumen terkait

1) Kejadian osteoporosis meningkat postmenopause. 2) Wanita yang mengalami ooforektomi bilateral memperlihatkan gejala osteoporosis lebih dini dan hebat. 3) Penderita yang

This thesis focuses on the character analysis of Pak Dogol and Wak Long as clowns in wayang kulit Kelantan. The three objectives of this thesis are: 1) to explore the

Penggunaan media dalam pengajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam merangkap pengertian yang diberikan

terhadap pemasaran dalam konteks bank, dapat menjadikan peluang bagi pihak manajemen bank BNI untuk menggencarkan promosinya sehingga semakin memperkuat positioning

Menurut Oemi Abdurrachman (1993), di dalam penyampaian sesuatu pesan seringkali timbul salah pengertian, sehingga dengan demikian terjadi hal-hal yang tidak

Industri properti sebagai salah satu kegiatan di sektor riil perkembangannya sangat bergantung pada kondisi ekonomi makro, di antaranya pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan suku

Kreativitas dalam menawarkan alternative solusi Tugas Ceramah Diskusi Kelompok Studi Kasus Cost Benefit Analysis : pohon keputusan 10 6. Mahasiswa mampu menghitung dan

(test marketing) Yaitu tahapan dari pengembangan produk baru dimana produk dan program pemasaran diuji dilingkungan pasar yang lebih realistis. Pengujian meliputi seluruh program