ANALISA KASUS
“Konflik Agraria Antara Masyarakat Adat Suku Anak Dalam
Jambi Dengan PT. Asiatic Persada (Wilmar Group)”
Kelas C 1
Nama Kelompok:
1. Ihwanun Mudhofir Hariri (031311133156 ,e-mail: [email protected])
2. Rizki Ariyo Guntoro (031311133195, e-mail: [email protected])
FAKULTAS HUKUM
Konflik Agraria Antara Masyarakat Adat Suku Anak Dalam Jambi Dengan PT. Asiatic Persada (Wilmar Group)
Jakarta, GATRAnews - Konflik agraria terus memanas hingga seorang Suku Anak Dalam (SDA) bernama Puji bin Tayat meregang nyawa dengan tangan terborgol dan kaki diikat. Pelakunya diduga kuat dilakukan oknum militer dan petugas keamanan PT Asiatic Persada di Jambi.
"Kembalikan lahan yang selama ini diklaim PT Asiatic Persada kepada Suku Anak Dalam," tegas Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Iwan Nurdin, di Jakarta, Senin (10/3).
Iwan mengungkapkan, perampasan tanah, konflik agraria, dan kekerasan terhadap Suku Anak Dalam (SAD) di Jambi terus berlangsung sejak 7 Desember 2013 hingga Maret 2014 kini dan sekitar 700 rumah gubuk milik SAD telah dihancurkan oleh aparat keamanan dan perusahaan sawit PT Asiatik Persada.
Akibatnya, sekitar 3.000 jiwa lebih warga SAD sejak saat itu terusir dari tanah leluhurnya dan tidak dapat pulang kembali ke rumahnya karena berkonflik dengan PT Asiatik Persada yang merupakan perusahaan sawit asing milik Malaysia yang menklaim sekitar 27.150 hektar lahan.
Menurut Iwan, pada 8 Januari 2014, ribuan pengungsi SAD pernah diusir dari kantor Pemprov Jambi melalui pernyataan, Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Jambi, Syahrasadin. Syahrasadin mengultimatum warga SDA 3 x 24 jam segera membubarkan diri dan menghentikan aksi unjuk rasa serta segera meninggalkan Kota Jambi.
“Selebihnya, kami akan melakukan evakuasi. Ini sudah berlarut-larut. Sudah meresahkan masyarakat Provinsi Jambi dan aparat penegak hukum secara keseluruhan. Kami meminta Pemkab Batanghari untuk menjemput warganya ke sini. Apabila tidak ditaati, kami serahkan kepada aparat TNI Polri untuk mengambil tindakan,” tutur Iwan menirukan pernyataan pejabat Jambi.
masuk menuju lokasi tanah adat. SAD kemudian mendirikan tenda di pinggir jalan dusun Sosial I, II, dan Bungku.
Berlarut-larutnya penyelesaian konflik agraria itu merenggut satu orang petani SAD pada Rabu, (5/3), akibat dianiaya aparat keamanan dan preman perusahaan sawit PT Asiatik Persada. Negara abai, bahkan aparat yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam melayani rakyat, justru menjadi pelopor menggusur warga SAD.
"Belum usai pengusutan tuntas kasus penggusuran atas 3.000 warga SAD, (7/12/2013), kini jaminan keamanan dan perlindungan negara terhadap warga nyata-nyata absen dengan tewasnya satu petani SAD karena tindak kekerasan atas konflik agraria itu.
Segala cara penyelesaian sengketa antara warga SAD dan PT Asiatic Persada telah ditempuh tanpa menemui jalan keluar yang memenuhi rasa keadilan agraria. Kini upaya penyelesaian konflik agraria runtuh, karena lahirnya korban jiwa dari Suku Anak Dalam.
"Atas kejadian ini, Konsorsium Pembaruan Agraria menuntut, tangkap dan adili pelaku kekerasan, penculikan, dan penggusuran terhadap Suku Anak Dalam di Jambi hingga mengakibatkan jatuhnya korban luka dan tewas," tegas Iwan.
Kemudian, kembalikan lahan yang selama ini diklaim PT Asiatic Persada kepada Suku Anak Dalam serta pulihkan hak atas tanah Suku Anak Dalam, jamin keselamatan dan keamanan SAD dari segala ancaman penggusuran, pengusiran, dan kekerasan demi penegakkan Pasal 33 UUD 1945 dan UUPA 1960.
"Mendesak dilaksanakannya reformasi agraria sejati demi penyelesaian konflik agraria secara nasional yang telah banyak menimbulkan korban jiwa serta menyengsarakan kaum tani, buruh, dan nelayan," desaknya. (IS)
Kronologi Kejadian
Akibat tindakan kekerasan oleh TNI dan security PT. Asiatic Persada itu: seorang warga SAD bernama Puji (34 tahun) meninggal dunia dan 5 warga SAD lainnya mengalami luka parah. Berikut ini adalah kronologis kejadian tersebut:
Pukul 15.12 WIB:
Terjadi aksi penculikan atau pengambilan paksa terhadap Sdr. Titus (26 Tahun) oleh aparat TNI. Titus ditangkap di rumahnya di dusun Mentilingan, desa Bungku, Batanghari, saat sedang berkumpul dengan keluarganya. Ia kemudian dibawa dengan menggunakan mobil patroli kepolisian.
Diduga: penculikan terhadap Titus ini dilakukan karena ia menyaksikan pencabutan plang/papan pengumuman di lahan sengketa oleh aparat TNI. Pemasangan plang ini dilakukan sebagai bentuk pemberian informasi bahwa status lahan masih dalam sengketa antara warga Mentilingan versus PT. Jummer Tulen dan PT. Maju Perkasa Sawit (keduanya anak perusahaan PT. Asiatic Persada).
Pukul 15.15 WIB:
Sebanyak 6 orang aparat TNI kemudian membawa Titus menuju lokasi pabrik PT. Asiatic Persada di Sungai Kandang, Desa Bungku [kira-kira 3 kilometer dari rumah korban]. Namun, di tengah jalan, tepatnya di dusun Padang Salak, Titus diturunkan dari mobil dan kemudian dianiaya ramai-ramai oleh aparat TNI. Tak hanya dipukuli dan diinjak-injak, Titus juga dikencingi oleh seorang anggota TNI.
Pukul 15.40 WIB:
Titus akhirnya tiba di lokasi pabrik dalam keadaan penuh luka pukulan. Saat itu, dua orang anggota TNI kembali menganiaya Titus dengan menggunakan rotan dan memukul bagian belakang nya. Tak lama kemudian, anggot TNI memerintahkan Titus menjilati darahnya sendiri yang bercucuran di lantai kantor PT. Asiatic Persada.
Pukul 16.10 WIB:
Keluarga korban dan warga lainnya sebanyak 20 orang yang terdiri dari Petani Mentilingan dan Suku Anak Dalam (SAD) datang untuk menanyakan keadaan Sdr. Titus di kantor PT. Asiatic Persada. Warga datang dengan menumpangi kendaraan bermotor dan mobil Carry. Namun, warga belum sempat menyampaikan maksudnya untuk negosiasi mendesak pembebasan Titus, aparat TNI langsung melepaskan berondongan tembakan ke arah atas dan ke bawah yang menyasar warga.
mendapat penganiaayaan dan dikeroyok beramai-ramai adalah: Sdr. Puji (34 Tahun), Sdr. Khori Kuris (71 Tahun), Sdr. Adi (24 Tahun), Sdr. Ismail (38 Tahun), Sdr. Yanto (31 Tahun), dan Sdr. Dadang (56 Tahun).
Sdr. Puji diseret dan dipukuli beramai-ramai oleh security PT. Asiatic Persada dan anggota TNI. Saat itu korban masih di atas motornya. Saat diseret dan dipukuli, Sdr. Puji sama sekali tidak melakukan perlawanan.
Sejumlah warga yang berusaha menyelematkan puji diberondong dengan rentetan tembakan oleh anggota TNI. Akhirnya, warga berlarian untuk menyelamatkan diri.
Pukul 16.45 WIB:
Saksi mata dari warga melihat mobil ambulance milik PT. Asiatic Persada keluar dari areal pabrik. Saksi mata melihat Titus dan Puji berada di atas ambulance itu. Saat itu, menurut pengakuan saksi warga, Titus masih dipukuli dan disiksa di atas ambulance oleh security PT. Asiatic Persada.
Pukul 19.30 WIB:
Sdr. Puji, yang sudah sekarat, tiba di Rumah SakitBayangkara, Kota Jambi. Dan saat itu, korban langsung ditinggal pergi/kabur oleh orang-orang PT. Asiatic Persada yang membawanya. Menurut pihak RS Bayangkara, saat tiba, Sdr. Puji masih dalam keadaan hidup tapi sudah sangat kritis.
Pukul 20.00 WIB:
Lima warga SAD korban pemukulan lainnya tiba di RSUD Raden Mataher, Kota Jambi. Untuk diketahui, jarak tempuh dari lokasi Desa Bungku ke Kota Jambi adalah lebih dari 3 Jam perjalanan atau + 150 Kilometer.
Pukul 22.00 WIB:
Warga SAD yang berada di lokasi Tenda-tenda pengungsian warga di Trans-Sosial, Johor, Desa Bungku, masih mendengar rentetan tembakan dari lokasi PT. Asiatic Persada. Pukul 22.50 WIB:
Warga SAD dan perwakilannya baru mengetahui keberadaan Sdr. Puji di RS Bayangkara. Mereka pun berusaha untuk menjenguk dan melihat langsung keadaan Puji.
Pukul 23.03 WIB:
Sdr. Puji Bin Tayat menghembuskan nafas terakhir. Saat itu Sdr. Puji meninggal dalam keadaan tangan diborgol dan kaki diikat tali tambang. Saksi warga juga melihat kondisi wajah korban rusak lebam penuh darah.
tubuhnya. Saudara Puji bahkan sempat jatuh dari bangsal dan tergeletak di lantai hingga meninggal.
Untuk diketahui, saat ini sebanyak 700an warga masih bertahan di tenda-tenda darurat di Tran-sosial 1, Dusun Johor, Desa Bungku, sementara sebagian dari warga yang tergusur lainnya menumpang di rumah-rumah warga Tranmigrasi lainnya dan di hutan-hutan.
Juni 2014.
RUMUSAN MASALAH
1. Konflik dalam pandangan sosiologi
Hakekat konflik memang tak terpisahkan dari manusia, ada sebuah kata-kata klasik yang dituliskan dalam buku karya Prof.Peter Mahmud “Pengantar Ilmu Hukum” yakni kata “Ubi Societas ibi ius”1 yang dierjemahkan hukum ada sejak
masyarakat ada. Dari situ akan timbul sebuah pertanyaan besar dalam diri kita, yakni kenapa Hukum ada semenjak manusia ada, dengan adanya kata-kata kelasik tersebut itu bisa kita buat kesepakatan bahwa sejak dahulu bahwa konflik itu sudah ada, itu bisa dibuktikan dengan adanya hukum semenjak adanya masyarakat, hukum yang dimaksutkan adalah hukum mengenai bagaimana masyarakat pada zaman dulu (Masyarakat Adat) dalam menyelesaikan suatu permasalahan atau konflik.
Konflik pada dasarnya adalah sesuatu yang tidak terhindarkan dalam kehidupan manusia yang bermasyarakat. Konflik merupakan bagian dari interaksi sosial yang bersifat disosiatif. Konflik ini jika dibiarkan berlarut-larut dan
berkepanjangan serta tidak segera ditangani akan menimbulkan terjadinya disintegrasi sosial suatu bangsa. Suatu keadaan yang memiliki peluang besar untuk timbulnya konflik adalah perbedaan. Perbedaan yang dimaksud adalah perbedaan kepentingan.
Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
Dalam perkembangannya teori konflik dibahas lebih spesifik dengan lahirnya cabang baru sosiologi yang membahas tentang konflik yaitu sosiologi konflik. Istilah sosiologi konflik diungkapkan oleh George Simmel tahun 1903 dalam artikelnya The Sociology of conflict. George simmel kemudian dekenal sebagai bapak dari sosiologi konflik. Dalam tulisan berikutnya akan dibahas beberapa tokoh dan pandangannya mengenai teori konflik seperti Max Weber, Emilie Durkheim, Ibnu Khaldun dan George simmel.
Ibnu Khaldun menyampaikan bahwa bagaimana dinamika konflik dalam sejarah manusia sesungguhnya ditentukan oleh keberadaan kelompok sosial (‘ashobiyah) berbasis pada identitas, golongan, etnis, maupun tribal. Kelompok sosial dalam struktur sosial mana pun dalam masyarakat dunia memberi kontribusi terhadap berbagai konflik.2 Dari sini dapat kita lihat bagaimana Ibnu Khaldun yang hidup pada
abad ke-14 juga telah mencatat dinamika dan konflik dalam perebutan kekuas
Max Weber berpendapat konflik timbul dari stratifikasi sosial dalam masyarakat. Setiap stratifikasi adalah posisi yang pantas diperjuangkan oleh manusia dan kelompoknya .3 Weber berpendapat bahwa relasi-relasi yang timbul adalah
usaha-usaha untuk memperoleh posisi tinggi dalam masyarakat. Weber menekankan arti penting power (kekuasaan) dalam setiap tipe hubungan sosial. Power (kekuasaan) merupakan generator dinamika sosial yang mana individu dan kelompok dimobilisasi atau memobilisasi. Pada saat bersamaan power (kekuasaan) menjadi sumber dari konflik, dan dalam kebanyakan kasus terjadi kombinasi kepentingan dari setiap struktur sosial sehingga menciptakan dinamika konflik.
Dari pendapat diatas bisa kita simpulkan bahwa konflik itu ada semenjak manusia (masyarakat) ada, teori mengenai konflik kini masuk dalam cabang baru ilmu sosiologis, adapun beberapa pandangan mengenai konflik mengatakan bahwa konflik itu timbul sebagai bentuk dari dinamika sosial, masyarakat selalu dihadapkan pada permasalahan dan didalam permasalahan itu identik dengan persaingan dimana manusia ingin menguasai, manusia ingin yang lebih dan memiliki ambisi. yang namanya persaingan pasti menimbulkan suatu konflik dan konflik tersebut hendaknya dimanajemen dengan baik.
2. Hakekat Tanah Adat Secara Yuridis Sosiologis
Mengenai hakekat tanah adat itu sudah ada sejak masyarakat adat lahir, Tanah bagi masyarakat adat adalah Ibu, dimana tanah digunakan masyarakat adat untuk bernaung, mencari penghidupan, dan menjalankan aktivitasnya, selain itu tanah bagi masyarakat adat adalah hak purba, yang mana hak itu sudah melekat dan turun temurun dari nenek moyang masyarakat adat.
Adapun sifat dari tanah itu sendiri adalah sesuatu yang kekal, meski dihancurkan, dibakar, di bom, dan kenak bencana alam tanah masih tetap ada dan tidak berpindah. Mengenai fakta yang terjadi tanah digunakan oleh masyarakat adat sebagai tempat tinggal persekutuan, memberikan penghidupan pada persekutuan, tempay untuk dikebumikan (masyarakat adat yang meninggal), dan tempat para leluhur bernaung.4 (hal 197)
Mengenai hak purba, sejatinya hak itu hanya dimiliki oleh suatu suku tertentu dan pada dasarnya tidak boleh orang luar (asing) memanfaatkan tanah tersebut, apalagi memiliki. Menurut Sri Endah Kinasih5 (Fisip 124) mengenai hak purba yang terjadi
diluar jawa itu hanya persekutuan hukum itu sendiri beserta para warganya yang berhak dengan bebas menggunakan tanah-tanah liar di wilayah kekuasaannya, kemudian Orang luar hanya boleh mempergunakan tanah itu dengan izin penguasa persekutuan (kepala suku), semisal tidak ada izin dianggap melakukan pelanggaran.
Selain itu Sri Endah Kinasih dalam tulisannya juga menyebutkan bahwa warga persekutuan hukum boleh mengambil manfaat dari wilayah hak purba untuk keperluan somah/brayat/keluarganya sendiri, jika dimanfaatkan untuk orang lain maka dia dipandang sebagai orang asing maka harus mendapatkan izin dari kepala suku.
Dan hal yang paling esensial dari tulisan Sri Endah Kinasih adalah Hak Purba tidak dapat dilepaskan, dipindah tangankan, dan diasingkan untuk selamanya. Bahkan untuk menjamin keabadian hak purba ini, hak purba juga meliputi tanah yang sudah digarap dan sudah dimiliki sebagai hak perorangan.
4 Soerojo Wignjodipoero, S.H, Pengantar Dan Asas-Asas Hukum Adat, PT. Toko Gunung Agung, Hlm. 197
5 Sri Endah Kinasih, Buku Ajar Hukum Adat Departemen Antropologi FISIP Unair, PT. Revka Petra Media,
Hlm. 124
3.1. Menurut Pandangan Yuridis Normatif
Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 Alinea IV telah jelas disebutkan bahwa salah satu tujuan dibentuknya negara Indonesia adalah untuk memajukan kesejahteraan umum. Artinya, seluruh tindakan negara dalam hal ini oleh pemerintah harus difokuskan pada sebesar-besar kemakmuran rakyat, utamanya yang berkenaan dengan SDA. Hal itu sebagaimana tertuang dalam pasal 33 ayat (3) UUD NRI 1945 yang menyatakan “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”. Pasal ini mengamanatkan kepada pemerintah sebagai penyelenggara negara untuk dapat mengelola bumi, air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dengan sebaik-baiknya untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Tujuan negara yang lain sesuai dengan pembukaan UUD NRI 1945 adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dari sini jelas bahwa bangsa Indonesia menghormati seluruh tumpah darahnya yakni segala entitas individu dan kelompok yang ada dan membentuk bangsa Indonesia. Dapat dikatakan bahwa tujuan terakhir setiap negara ialah menciptakan kebahagiaan bagi rakyatnya (bonum publicu, common good, common weal). Roger H. Soltau mengatakan tujuan negara ialah memungkinkan rakyatnya berkembang serta menyelenggarakan daya ciptanya sebebas mungkin. Sedangkan menurut Harold J. Laski, tujuan negara adalah menciptakan keadaan dimana rakyatnya dapat mencapai terkabulnya keinginan-keinginan secara maksimal, tujuan negara untuk memakmurkan dan mensejahterakan rakyatnya tersebut tidak terlepas juga dengan tujuan negara yang lain yakni dengan cara melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.
pasal 18 B ayat (2) yang menyebutkan “Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang” dan dalam pasal 28 I ayat (3) yang menyebutkan “Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban”. Dalam Undang-Undang No. 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA) pasal 3 jo. pasal 58 masih mengakui hak ulayat dan hak-hak lainnya sejenis yang tidak bertentangan dan selama belum diatur secara khusus. Sedangakan dalam Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutan tidak secara rinci mengatur keberadaan hak ulayat, UU kehutanan hanya mengatur mengenai keberadaan hutan adat dan masyarakat hukum adat dan rumusan mengenai hutan adat adalah hutan negara yang berada dalam wilayah masyarakat hukum adat.
Hak ulayat adalah suatu sifat komunaltistik yang menunjuk adanya hak bersama oleh para anggota masyarakat hukum adat atas suatu tanah tertentu. Dalam pelaksanaannya, kelompok tersebut bisa merupakan masyarakat hukum adat yang teritorial (Desa, Marga magari, hutan) bisa juga merupakan masyarakat hukum adat geneologik atau keluarga, seperti suku. Hak Ulayat disebut juga sebagai hak purba (Djojodigoeno) atau hak pertuanan (Soepomo) yaitu hak yang dimiliki oleh suatu persekutuan hukum adat (sehingga sifatnya merupakan hak bersama) untuk menguasai seluruh tanah beserta segala isinya dalam lingkungan wilayah persekutuan tersebut dan merupakan hak atas tanah yang tertinggi dalam hukum adat.6
6 Joeni Arianto K, “Power Point Hukum Tanah Adat” joeniarianto.wordpress.comdiakses 22 Juni 2014
a) Kasus ini berawal dari Pencadangan Tanah sesuai SK Gubernur Jambi No. 188.4/599/1985, yang mencadangkan tanah seluas 40.000 Ha untuk perkebunan sawit PT. Bangun Desa Utama (BDU).
b) Surat Keputusan Gubernur tersebut di tindak lanjuti dengan Surat Keputusan Mendagri No.SK.46/HGU/DA/1986 tanggal 1 September 1986 tentang Pemberian HGU kepada PT. BDU seluas 20.000 Ha yang terletak di Kec. Muaro Bulian, Kab. Batang Hari. Izin HGU itu berlaku sampai dengan 31 Desember 2021.
c) Berdasarkan SK Menteri Kehakiman tanggal 6 Juni 1992 No: C.4726 HT.01.04 Tahun 1992, PT. Bangun Desa Utama beralih menjadi PT. Asiatic Persada.
d) Dalam ijin prinsip PT. Asiatic Persada, terdapat kewajiban hukum untuk melepaskan area pemukiman, perladangan, dan semak belukar milik masyarakat, yang kemudian disebut sebagai tanah adat Suku Anak Dalam (SAD) yang terdapat di tiga perkampungan (dusun tua) yaitu, Padang Salak, Pinang Tinggi dan Tanah Menang.
e) Keberadaan perkampungan Suku Anak Dalam sudah ada sejak zaman Belanda. Hal ini diketahui berdasarkan Surat Keterangan tanggal 20 Desember 1940 dari BC Mantri Politic. Surat Keterangan tanggal 20 November 1940 dari Mantri Politic Menara Tembesi di buat di hadapan Gez En Accord Muara Tembesi, di saksikan Penghulu Dusun Singkawang dan Pasirah Pemayung Ulu, menerangkan wilayah perkampungan masyarakat Suku Anak Dalam Dusun Pinang Tinggi, Padang Salak dan Tanah Menang wilayah Sungai Bahar. f) Surat ini di kuatkan dengan surat sebelumnya yaitu Surat Resident Palembang
No: 211 Tanggal 4 September 1930 dan No: 233 Tanggal 25 Oktober 1927.
7 http://www.prd.or.id/media/20130125/resume-kasus-konflik-agraria-petani-jambi.html
diakses 24 Juni 2014
Burung Antu Pemusiran. Dan beberapa surat-surat berlogo Garuda tentang keterangan hak milik yang masih tulis tangan, yang dibuat oleh Kepala Kampung pada tahun 1977.
h) Mulanya Menteri Kehutanan memberi pelepasan kawasan hutan seluas 27.252 Ha dari 40.000 Ha lahan pencadangan Gubernur Jambi, lalu HGU seluas 20.000 Ha direalisasikan menjadi milik PT. BDU yang berganti nama menjadi PT. Asiatic Persada, dan kemudian perusahaan CDC-Pacrim Inggris di tahun 2000 menjadi pemegang saham mayoritas, lalu pada tahun 2006 pemegang saham mayoritas berpindah lagi keperusahaan Cargill Amerika Serikat, dan di tahun 2010 saham mayoritas dibeli Willmar Group Malaysia. Sedangkan sisanya 7.150 Ha jatuh ketangan PT. Maju Perkasa Sawit (MPS) dan PT. Jammer Tulen, keduanya anak perusahaan Willmar Group.
i) Dengan mengantongi izin tersebut, pihak perusahaan menggusur tiga dusun, Tanah Menang, Pinang Tinggi dan Padang Salak. Perampasan tanah disertai dengan pelanggaran HAM, membuat kehidupan SAD sangat memprihatinkan. j) Jumlah SAD berdasarkan hasil verfikasi Pemda Batanghari, sebanyak
1.900-an jiwa, y1.900-ang tersebar di tiga ka,pung tersebut.
k) Pada tanggal 18 Juli s/d 25 Juli 2007, Kanwil BPN Jambi mengadakan penelitian di lapangan. Hasilnya, pihak BPN mengakui keberadaan bekas perkampungan SAD Kelompok 113 tersebut.
l) Semula, pihak perusahaan tidak mengakui hasil penelitian dan fakta hukum tersebut. PT. Asiatic Persada menawarkan lahan 1000 Ha dengan pola Koperasi Primer untuk Anggota (KKPA). Oleh karena itu, SAD 113 menyatakan bahwa tidak setuju dengan kesepakatan pola 1000 Ha KKPA. m) Pada bulan Maret 2012, ditemukanlah peta mikro yang menjelaskan
keberadaan wilayah tiga dusun tersebut, sebagaimana tertuang dalam Ijin Prinsip Badan Inventarisasi dan Tata Guna Hutan Jakarta No. 393/VII-4/1987 tanggal 11 Juli 1987, tertera keterangan lokasi yang dilepaskan seluas 27.150 Ha terdapat lokasi masih berhutan 23.00 Ha, belukar 1.400 Ha, perladangan 2.100 Ha, dan pemukiman penduduk 50 Ha.
o) Pada September 2012, Komnas-HAM memediasi pertemuan warga Pemda Jambi, SAD 113, dan Perusahaan. Dalam pertemuan tersebut disepekati akan diadakan proses pengukuran wilayah enclaveing, dan pembuatan batas berupa parit gajah, yang ditanggung oleh pihak perusahaan. Akan tetapi, hingga saat ini, kesepakatan tersebut belum dilaksanakan oleh pihak PT. Asiatic persada.
Dari persepektif hukum administrasi PT. Asiatic Persada memang memiliki izin baik Hak Guna Usaha maupun izin-izin lainnya dan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku, namun yang jadi persoalan adalah mengenai keluarnya izin tersebut apakah bertentangan dengan ketentuan atau norma-norma lain, izin hak Guna Usaha (HGU) merupakan sebuah Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN) dimana KTUN dikeluarkan oleh Badan atau pejabat Tata Usaha Negara (sesuai pasal 1 Angka 3 UU No. 5 Tahun 1986) adapun dikeluarkanya KTUN menurut Prof. Hadjon harus memenuhi beberapa ketentuan yakni sesuai dengan peraturan peundang-undangan, memenuhi ketentuan Asas-Asas Umum Pemerintahan Yang Baik (AUPB), dan tidak boleh bertentangan dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Jika menurut fakta memang PT. Asiatic Persada memiliki izin baik HGU dan izin-izin lainnya, namun izin tersebut bertentangan dengan AUPB dan HAM, mengenai AUPB asas yang dilanggar adalah Asas Kecermatan dimana pemberi izin kurang cermat dalam memberikan izin tersebut, sebab lokasi yang digunakan usaha PT. Asiatic Persada ditempati oleh masyarakat adat Suku Anak Dalam Jambi, selain melanggar asas kecermatan KTUN tersebut (HGU) juga melanggar ketentuan Hak Asasi Manusia (HAM) karena dengan dikeluarkannya KTUN tersebut masyarakat Suku Anak Dalam yang merupakan bagian dari bangsa Indonesia harus kehilangan tempat tinggal, tentunya ini melanggar konstitusi kita yakni pasal 28H ayat (1) UUD NRI 1945. Jadi sepatutnya KTUN (HGU) PT. Asiatic Persada digugat di Pengadilan Tata Usaha Negara, dan oknum-oknum yang terlibat dalam kasus pelanggaran HAM dan kasus penganiayaan harus diadili jika sipil di Pengadilan Negeri (lingkup peradilan umum), jika militer di Pengadilan Militer sesuai dengan kompetensi absolutnya masing-masing.
3.2. Analisa kasus dalam pandangan Yuridis Sosiologis
yang hidup liar di wilayah mereka8 adalah hak ulayat (persekutuan) mereka, jadi
secara sosiologis wajar kalau masyarakat Suku Anak Dalam menuntut untuk dikembalikan hak ulayatnya.
Seperti yang kita ketahui pada kasus tersebut adalah salah satu contoh konflik Agraria yang masih menyelimuti negeri ini, ketidak konsistennya peraturan yang ada di negeri ini yang menangani masalah Agraria membuat masalah Agraria rawan sekali yang namanya konflik, sehingga masyarakat Indonesia khususnya masyarakat adat membutuhkan yang namanya suatu peraturan yang dapat menangani masalah-masalah Agraria ini.
Dari sudut pandang sosial tindakan yang dilakukan oleh PT. Asiatic Persada sangatlah terlalu berlebihan, karena tidak hanya merampas mata pencaharian dan tempat tinggal masyarakat Suku Anak Dalam Jambi namun juga sudah melakukan tindakan yang tidak manusiawi atau bisa dikatakan Melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) karena sudah sangat jelas melanggar ketentuan-ketentuan yang ada di dalam Konstitusi Indonesia, terutama dalam pasal 28 UUD NRI 1945 yang menyebutkan mengenai HAM.
8 Soerojo Wignjodipoero, S.H, Pengantar Dan Asas-Asas Hukum Adat, Jakarta, PT. Toko
Gunung Agung, 1995, hlm. 199
yang mengembang tugas menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia justru malah menganiyaya warga sendiri, bahkan yang lebih mengecewakan bahwa yang di bela sama aparat kita adalah PT. Asiatic Persada yang jelas-jelas adalah perusahaan asing milik Malaysia.
Dari berita diatas dikatakan bahwa salah satu warga suku anak dalam yang meninggal, sebelum meninggal dianiyaya dan di ikat tangan dan kakinya, tentu itu merupakan sebuah kejahatan yang sangat tidak manusiawi, dan sepatutnya itu harus diadili karena Negara kita adalah negara hukum.
Dengan adanya peristiwa tersebut jelas yang mengalami kerugian adalah masyarakat Suku Anak Dalam, sebab setelah adanya konflik itu masyarakat Suku Anak Dalam mengungsi karena kehilangan tempat tinggal, dalam segi psikologis mereka tentu mereka sangat trauma dengan adanya peristiwa tersebut. Dampak dari peristiwa tersebuk juga berdampak pada keadaan sosial masyarakat Suku Anak Dalam, yang dulunya mereka berkebun, bertani, kini harus kehilangan mata pencaharian mereka, yang dulunya punya hutan tempat mereka mengabdi dan mencari penghidupan kini harus kehilangan itu semua.
Jika kita kembali menoleh ke masa lalu kita dimana pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan di Nusantara rakyat banyak yang makmur, namun semenjak adanya Revolusi Industri penjajah mulai berdatangan ke bumi Ibu Pertiwi dan mengeruk kekayaan yang ada di dalamnya. Keadaan itu diperparah dengan dikeluarkannya Undang-Undang No. 1 Tahun 1967 mengenai penanaman modal asing oleh zaman Orde Baru (rezim Soeharto) dimana Investor (asing) dengan seluas-luasnya menanamkan modal untuk mengeruk kekayaan yang ada di Bumi Ibu Pertiwi, alhasil kapitalisme merajalela di negeri ini.
Budaya kapitalisme dan haus akan materi duniawi kian merasuk dalam jiwa manusia, hal itu yang membuat aparat penegak hukum dan aparatur negara baik sipil dan militer yang membela PT. Asiatic Persada lupa diri, mereka lebih mementingkan perutnya daripada mempertahankan kehidupan saudara-saudaranya yang tertindas.
bisa dikatakan sesuai dengan Negeri kita, TNI/POLRI dan oknum-oknum lain yang turutserta melindungi PT. Asiatic Persada untuk melawan bahkan menganiaya dan menghabisi nyawa warga Suku Anak Dalam tentunya mereka melakukan itu karena di bayar. Jadi inilah yang menjadikan negeri ini selalu terpuruk dalam masalah kemajuan, karena mensegala-galakan uang daripada “fairness” dan “Honesty”. Selama kami kuliah di Fakultas Hukum Unair selalu disuguhkan dengan hal-hal yang normatif, Kepastian Hukum yang di junjung tinggi.
Secara analisa yuridis normatif PT. Asiatic Persada sudah mengantongi ijin Hak Guna Usaha (HGU) sehingga bisa melakukan kegiatan usaha, namun yang jadi pertanyaan adalah cara memperoleh ijin HGU-nya, dalam hukum administrasi sertifikat HGU merupakan suatu Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN) karena dikeluarkan oleh pejabat Tata Usaha Negara, namun yang jadi permasalahan adalah apakah pejabat yang mengeluarkan KTUN sudah melihat aturan perundang-undangan yang ada, namun jika sudah dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan apakah Pejabat yang mengeluarkan KTUN tersebut sudah melihat Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik (AUPB), lalu juga ada Hak Asasi Manusia apakah sudah dilihat oleh Pejabat yang mengeluarkan KTUN tersebut, jika dalam mengeluarkan izin HGU tersebut tidak melalui prosedur yang ditetapkan maka sepatutnya KTUN tersebut cacat dan harus di cabut, maka sudut pandang Yuridis Normatif masyarakat Suku Anak Dalam bisa mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) di Kota/kabupaten mereka.
9 Prof.Dr.Peter Mahmud Marzuki, S.H, M.S, LL.M, Penelitian Hukum, Jakarta: Kencana
Prenada Media Group, 2005, hlm. 7
Menurut pandangan socio legal, meskipun PT. Asiatic persada memiliki HGU namun dengan adanya HGU itu justru bertentangan dengan kepentingan masyarakat Adat Suku Anak Dalam Jambi, seharusnya itu harus dikembalikan dalam hukum masyarakat (adat). Karena merekalah yang mendiami tanah itu, sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia ini ada mereka dan persekutuannya sudah ada dan mendiami tanah tersebut, sepatutnya kepentingan mereka (Suku Anak Dalam) lebih diperhatikan dan dijamin untuk menjaga kelestarian dan kemakmuran bagi mereka daripada mementingkan kepentingan kapitalis (PT Asiatic Persada) yang hakekatnya hanya akan memperkaya investor.
Daftar Bacaan:
M.Siahaan, Masyarakat Informasi dan Net Generation di Era Post-Industrial , dalam Hotman, Narwoko, J. Dwi & Suyanto, Bagong, Sosiologi Teks Pengantar Dan Terapan, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2004.
Wignjodipoero, Soerojo, Pengantar Dan Asas-Asas Hukum Adat, Jakarta: PT Toko Gunung Agung, 1995.
Marzuki, Peter Mahmud, Penelitian Hukum, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2005.
Marzuki, Peter Mahmud, Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008.
Hadjon, M.Philipus, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2008.
Susan, Novri, Pengantar Sosiologi Konflik dan Isu-Isu Konflik Kontemporer, Jakarta:Prenada Media, 2009.
Dasar Hukum:
UUD NRI 1945