• Tidak ada hasil yang ditemukan

GANGGUAN MENTAL DAN PERILAKU AKIBAT PENG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "GANGGUAN MENTAL DAN PERILAKU AKIBAT PENG"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1 PENDAHULUAN

I. PENDAHULUAN

Amfetamin adalah suatu stimulan dan menekan nafsu makan. Amfetamin menstimulasi sistem saraf pusat melalui peningkatan zat-zat kimia tertentu di dalam tubuh. Hal ini menyebabkan terjadinya peningkatan heart rate dan tekanan darah, menekan nafsu makan serta berbagai efek yang lain. Penggunaan amfetamin dengan suatu kelainan psikiatri berhubungan dengan ketergantungan dan penyalahgunaannya.1,5

Amfetamin adalah kelompok narkoba yang dibuat secara sintetis dan akhir-akhir ini menjadi populer di Asia Tenggara. Amfetamin biasanya berbentuk bubuk putih, kuning atau coklat dan kristal kecil berwarna putih. Cara memakai amfetamin yang paling umum adalah dengan menghirup asapnya.1,5

(2)

BAB II

STATUS PSIKIATRI

Nama Pasien : Tn. AS Tanggal Periksa : 19 Juli 2017

Dokter Pemeriksa : dr. Tumpak Saragi. Sp. KJ

KETERANGAN PRIBADI PASIEN

 Nama : Tn. AS

 Jenis Kelamin : Laki-laki

 Tempat, tanggal Lahir/ Umur : Jambi, 19 Juni 1995 / 22 Tahun  Status Perkawinan : Belum Menikah

 Bangsa : Indonesia

 Suku : Melayu

 Agama : Islam

 Pendidikan : SMA

 Pekerjaan : Cleaning Service

 Alamat : Simp. III Sipin, Jambi

 Pernah masuk Rumah Sakit dengan :

-KETERANGAN DARI ALLO/INFORMAN

 Nama : Ny. R

 Jenis Kelamin : Perempuan

 Umur : - Tahun

 Pekerjaan : IRT

(3)

 Kesan pemeriksa/ Dokter terhadap keterangan yang diberikan : Dapat dipercaya

I. ANAMNESIS

Keterangan/ anamnesis di bawah ini diperoleh dari : 1. Autoanamnesis

2. Alloanamnesis

1. Pasien datang ke fasilitas kesehatan ini atas keinginan Keluarga pasien

2. Sebab utama pasien dibawa keluarganya ke RSJ Os Ketawa sendiri

3. Keluhan utama pasien dan telah berlangsung selama Os Ketawa sendiri sejak 3 bulan lalu

4. Riwayat perjalanan penyakit pasien sekarang

Os Ketawa sendiri sejak 3 bulan lalu, terkadang marah – marah, Os. Sering merasa pusing pada malam hari. Os. memakai narkoba selama ± 2 tahun, dalam sebulan 1-3x memakai sabu, Os. mendapatkan sabu (Ampetamin) membeli sendiri dan diberikan temanya. Os. memakai dengan cara menghisap. Os. sudah berhenti memakai narkoba 7 bulan lalu.

5. Riwayat penyakit pasien sebelumnya

(4)

6. Riwayat Keluarga pasien

Alamat Simp. III Sipin, Jambi Simp. III Sipin, Jambi

Hubungan Akrab Akrab

7. Gambaran seluruh faktor-faktor fisik dan mental yang bersangkut paut dengan perkembangan kejiwaan os selama masa sebelum sakit (pramorbid)

(5)

b. Riwayat masih bayi dan anak-anak  Pertumbuhan fisik : normal  Minum ASI : √

 Usia mulai bicara : seperti pada anak umumnya  Usia mulai jalan : seperti pada anak umumnya

c. Kesehatan fisik masa kanak-kanak Pasien sehat

d. Kepribadian serta tempramen sewaktu anak-anak Os sewaktu anak-anak adalah seorang anak yang ceria.

e. Masa sekolah

f. Masa remaja

Kenakalan remaja (+),Perokok berat (+), Penggunaan obat terlarang (+) g. Riwayat pekerjaan

Os. Bekerja cleaning service

h. Percintaan, perkawinan, kehidupan sosial, dan rumah tangga : Tidak ada masalah

8. Stressor psikososial  Tidak ada

Perihal SD SMP

Umur 7-12 tahun 12-15 tahun

Prestasi Baik Baik

(6)

9. Riwayat penyakit fisik yang pernah diderita os  Tidak ada

10. Pernah suicide : tidak ada

11. Penggunaan alkohol/zat adiktif lainnya : (+)

II. PEMERIKSAAN PSIKIATRIK KHUSUS A. Gambaran Umum

1. Penampilan : Rapi Sikap Tubuh : baik Cara berpakaian : rapi Kesehatan fisik : sehat 2. Perilaku dan aktifitas psikomotor

Cara berjalan : normal

Motorik : normal

3. Sikap terhadap pemeriksa : kooperatif

B. Pembicaraan dan fragmen pembicaraan

Gaya bicara : gaya bicara spontan Pembendaharaan bahasa : Normal

C. Afek, mood, dan emosi lainnya

Afek : Euforia

Mood : Euforia

D. Pikiran

Bentuk pikir : Psikotik Arus pikir : Flight of Ideas

Isi Pikir : Ekstasi

E. Persepsi : Halusinasi auditorik(-), halusinasi visual(√) F. Mimpi dan fantasi :

(7)

1. Kesadaran : kompos mentis 2. Orientasi W/T/O : baik

3. Konsentrasi dan kalkulasi : baik

4. Memori : baik

5. Pengetahuan umum : baik 6. Pikiran abstrak : baik

H. Insight : Derajat 6 yaitu menyadari dirinya sakit dan butuh bantuan tetapi tidak memahami penyebab sakitnya..

I. Kemampuan mengendalikan rangsang dari dalam diri : terganggu

III. PEMERIKSAAN INTERNA

Keadaan Umum

Sensorium : Compos mentis Suhu : 36.5 BB : 50 Nadi: 90 x/menit Pernafasan : 20x/menit TB : 160

TD : 120/80 mmHg Turgor : Baik Status Gizi : Cukup

 Sistem Kardiovaskular : dalam batas normal  Sistem Respiratorik : dalam batas normal  Sistem Gastrointestinal : dalam batas normal  Sistem Urogenital : dalam batas normal

IV. PEMERIKSAAN LABORATORIUM DAN DIAGNOSTIK KHUSUS LAINNYA :NARKOBA (-)

V. PEMERIKSAAN OLEH PSIKOLOG/PETUGAS SOSIAL DAN LAIN-LAIN :tidak dilakukan

VI.RESUME

(8)

Lambat, Gangguan Psikotik Onset Lambat (F15.75) dengan pedoman diagnostik yakni:

 Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Stimulansia, Gangguan Psikotik Residual atau Onset Lambat, Gangguan Psikotik Onset Lambat (F15.75)

Sebagai tambahan :

a. Halusinasi Taktil ( merasa ada yang menjilat, merasa tangan putus )

b. Predominasi halusinasi visual, afek yang secara umum serasi, hiperaktivitas, hiperseksualitas, kebingungan dan inkoherensi, serta sedikit bukti gangguan proses pikir (seperti asosiasi longgar).

c. Psikologis. Efek simpang psikologis yang disebabkan oleh penggunaan amfetamin mencakup kegelisahan, disforia, insomnia, iritabilitas, sikap bermusuhan, dan kebingungan Konsumsi amfetamin juga dapat menginduksi gejala gangguan ansietas seperti gangguan ansietas menyeluruh dan gangguan panik serta ide rujukan, waham paranoid, dan halusinasi.

VII. DIAGNOSIS BANDING

1. Gangguan mental yang sudah ada tersambung oleh penggunaan zat dan yang muncul setelah kembali setelah pengaruh zat tersebut menghilang (misalnya anxietas fobik, gangguan depresif, skizofrenia atau gangguan skizotipikal).

2. Gangguan psikotik akut dan sementara (F23.)

3. Cedera organik dan retardasi mental ringan atau sedang (F70-F71) yang terdapat bersama dengan penyalahgunaan zat psikotik.

(9)

 Aksis I : Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Stimulansia, Gangguan Psikotik Residual atau Onset Lambat, Gangguan Psikotik Onset Lambat (F15.75)

 Aksis II : tidak ada diagnosis  Aksis III : tidak ada diagnosis  Aksis IV : Lingkungang Sosial

 Aksis V : GAF 70-61 beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam fungsi, secara umum masih baik.

IX. TERAPI

1. Terapi di Rawat Jalan a. Nudep 12,5 mg b. Haloperidol 0,5 mg c. Trihexyphenidyl 2 mg d. Fluoxetine 15 mg

X. PROGNOSIS

(10)

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA I. DEFINISI

Amfetamin adalah kelompok obat psikoaktif sintetis yang disebut stimulan sistem saraf pusat (SSP) (stimulants). Amfetamin merupakan satu jenis narkoba yang dibuat secara sintetis dan kini terkenal di wilayah Asia Tenggara. Amfetamin dapat berupa bubuk putih, kuning, maupun coklat, atau bubuk putih kristal kecil.

Senyawa ini memiliki nama kimia α–methylphenethylamine merupakan suatu senyawa yang telah digunakan secara terapetik untuk mengatasi obesitas, attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD), dan narkolepsi. Amfetamin meningkatkan pelepasan katekolamin yang mengakibatkan jumlah neurotransmiter golongan monoamine (dopamin, norepinefrin, dan serotonin) dari saraf pra-sinapsis meningkat. Amfetamin memiliki banyak efek stimulan diantaranya meningkatkan aktivitas dan gairah hidup, menurunkan rasa lelah, meningkatkan mood, meningkatkan konsentrasi, menekan nafsu makan, dan menurunkan keinginan untuk tidur. Akan tetapi, dalam keadaan overdosis, efek-efek tersebut menjadi berlebihan.

Secara klinis, efek amfetamin sangat mirip dengan kokain, tetapi amfetamin memiliki waktu paruh lebih panjang dibandingkan dengan kokain (waktu paruh amfetamin 10 – 15 jam) dan durasi yang memberikan efek euforianya 4 – 8 kali lebih lama dibandingkan kokain. Hal ini disebabkan oleh stimulator-stimulator tersebut mengaktivasi “reserve powers” yang ada di dalam tubuh manusia dan ketika efek yang ditimbulkan oleh amfetamin melemah, tubuh memberikan “signal” bahwa tubuh membutuhkan senyawa-senyawa itu lagi. Berdasarkan ICD-10 (The International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems), kelainan mental dan tingkah laku yang disebabkan oleh amfetamin diklasifikasikan ke dalam golongan F15 (Amfetamin yang menyebabkan ketergantungan psikologis).

(11)

Amfetamin terdiri dari dua senyawa yang berbeda: dextroamphetamine murni dan levoamphetamine murni. Karena dextroamphetamine lebih kuat daripada levoamphetamine, dextroamphetamine juga lebih kuat daripada campuran amfetamin.

Amfetamin dapat membuat seseorang merasa energik. Efek amfetamin termasuk rasa kesejahteraan, dan membuat seseorang merasa lebih percaya diri. Perasaan ini bisa bertahan sampai 12 jam, dan beberapa orang terus menggunakan untuk menghindari kehilangan efek obat. Pada dosis tertentu, hampir semua pecandu menjadi psikotik, karena amfetamin dapat menyebabkan kecemasan hebat, paranoia dan gangguan pengertian terhadap kenyataan hidup. Reaksi psikotik meliputi halusinasi dengar dan lihat (melihat dan mendengar benda yang sebenarnya tidak ada) dan merasa sangat berkuasa. Efek tersebut bisa terjadi pada siapa saja, tetapi yang lebih rentan adalah pengguna dengan kelainan psikiatri (misalnya skizofrenia).

Ada dua jenis amfetamin, yaitu:

o Methamfetamin ice, dikenal sebagai shabu. Nama lainnya shabu-shabu. SS, ice, crystal, crank. Cara penggunaannya dibakar dengan menggunakan kertas alumunium foil dan asapnya dihisap, atau dibakar dengan menggunakan botol kaca yang dirancang khusus (bong). Ice adalah bentuk murni dari methamphetamine yang dapat diinhalasi, diisap seperti rokok, atau disuntikkan secara intravena oleh pelaku penyalahgunaan zat. Ice paling banyak digunakan di Pantai Barat di Amerika Serikat dan di Hawaii. Efek psikologis dari Ice berlangsung selama beberapa jam dan digambarkan cukup kuat. Tidak seperti crack cocaine, yang harus diimpor, ice adalah suatu obat sintetik yang dapat dibuat dalam laboratorium gelap setempat. Beberapa badan hukum dan dokter ruang gawat darurat perkotaan berpendapat bahwa ice dapat menjadi obat yang disalahgunakan secara luas selama lima tahun mendatang.

(12)

inex, cece, cein, Terdiri dari berbagai macam jenis antara lain : white doft, pink heart, snow white, petir yang dikemas dalam bentuk pil atau kapsul. Obat amfetamin klasik (dextroamphetamine, methamphetamine, dan methylphenidate) mempunyai efek utamanya melalui sistem dopaminergik. Sejumlah obat yang disebut dengan amfetamin racikan / designer amphetamine (MDMA, ecstacy, XTC, Adam, MDEA/Eve, MMDA, DOM/STP) telah dibuat dan mempunyai efek neurokimiawi pada sistem serotonergik dan dopaminergik dan efek perilaku yang mencerminkan suatu kombinasi aktifitas obat mirip amfetamin dan mirip halusinogen. Beberapa ahli farmakologis mengklasifikasikan amfetamin racikan sebagai halusinogen; tetapi, Kaplan dan Sadock mengklasifikasikan obat tersebut dengan amfetamin karena strukturnya yang sangat berhubungan. MDMA merupakan yang paling banyak diteliti dan kemungkinan merupakan yang paling banyak tersedia.1,2,5

II. EPIDEMIOLOGI

Pada banyak Negara, penggunaan obat terlarang lebih sering terjadi pada orang yang berusia muda, laki-laki lebih sering dari pada perempuan, dan pada orang dengan social ekonomi yang rendah, pada daerah dengan rata-rata masalah social yang lebih tinggi4. Dilaporkan pada masa anak usia SMA (senior high school) penggunaan stimulan lebih tinggi dari pada penggunaan kokain.4,5

(13)

Survei dua populasi digunakan sebagai kriteria dianostik yang dapat diterima untuk mengukur besernya penyalahgunaan dan ketergantungan yaitu studi Epidemiologic Catchment Area (ECA). ECA melaporkan kombinasi kategori antara ketergantungan dan penyalahgunaan amfetamin dan obat yang mirip amfetamin, yaitu: prevalensi 1 bulan, 6 bulan, dan seumur hidup berturut-turut 0,1; 0,2; dan 1,7 persen. Rata-rata ketergantungan seumur hidup untuk umur 15-54 tahun yaitu 1,7%; 15% responden memiliki kebiasaan penggunaan stimulant tanpa indikasi medis. Diantara yang dilaporkan tanpa indikasi medis 11% ditemukan criteria ketergantungan.4,5 III. ETIOLOGI

Ketergantungan obat, termasuk amfetamin dan zat yang mirip amfetamin dipandang sebagai suatu hasil dari sebuah proses interaksi dari banyak faktor (social, psikologi, kultural, dan biologi) yang mempengaruhi kebiasaan penggunaan obat. Proses ini pada beberapa kasus, kehilangan fleksibilitas yang berkaitan dengan penggunaan obat merupakan tanda ketergantungan obat. Tetapi, tidak semua orang sama tergantung bagaimana biasanya efek dari obat yang diberikan apakah sama atau dari kesamaan faktor yang dipengaruhi. Faktor farmakologi diyakini sangat penting dalam kelanjutan penggunaan dan menuju ke arah ketergantungan dari obat tersebut. Amfetamin memiliki potensi untuk meningkatkan mood dan efek euforigenik pada manusia dan efek menguatkan pada hewan percobaan.

Faktor sosial, kultural, dan ekonomi merupakan faktor penentu yang sangat berpengaruh terhadap alasan pemakaian, pemakaian yang berkelanjutan, dan relaps. Pemakaian yang berlebihan lebih jauh berkaitan dengan ketersediaan amfetamin atau obat yang mirip amfetamin.2,3,5

(14)

perbaikan dari gejala mungkin akan lebih lama (sampai beberapa hari) dengan amfetamin dibandingkan kokain, tergantung pada pH urine. Toleransi dan sensitisasi dari kebanyakan pengguna amfetamin untuk terapi memerlukan dosis yang semakin tinggi untuk memperoleh efek euforik yamg sama, pada mereka terjadi peningkatan toleransi. Sebagian toleransi meningkatkan efek kardiovaskular amfetamin.3,5

Penggunaan amfetamin yang kronik yang memiliki status paranoid dan psikosis toksik biasanya meningkat yang diyakini sebagai fenomena akibat peningkatan sentisisasi. Bagi yang memiliki riwayat psikosis mugkin akan sangat cepat untuk mendapatkan serangan berikutnya. Mekanisme perubahan kronik SSP terhadap pengaruh amfetamin terlihat dalam beberapa perubahan adaptif dari otak. Sebagai contoh, stimulasi reseptor dopamine mengaktifkan cAMP pada neuron di dalam nucleus dan striatum. Aktivasi ini menginisiasi suatu rantai intraseluler menghasilkan perubahan ekspresi dari gen, sebagian dimediasi oleh fosforilasi dari faktor transkripsi cAMP Response Element Binding Protein (CREB). Salah satu kerja dari CREB adalah meningkatkan tarnskripsi dari dynorphin dalam RNA. Fungsi ini sangat penting karena dynorphin adalah suatu agonis selektif k-opioid, agonis k-resetor menghambat pelepasan dopamine. Akson kolateral dari neuron pada nucleus melepaskan dynorphin pada k-reseptor yang berada pada dopaminergik terminal, dengan begitu menghambat aktivitas dopaminergik. Tetapi apabila penggunaan amfetamin dihentikan dan pelepasan dopamine belebihan terhenti, kompensasinya level yang tinggi dari dynorphin menetap dan kemudian akan menghilangkan efek dopaminergik, ini menyebabkan terjadinya anhedonia dan disforia akibat withdrawal amfetamin.

(15)

amfetamin menyebabkan induksi dan akumulasi protein mirip Fos, antigen kronik yang terkat pada Fos (FRAs)(dimediasi oleh fosforilasi dari CREB). Kronik FRAs ini dapa bertahan lama dan berbeda dari protein yang mirip dengan Fos yang tampak setelah pemakaian obat sekali. Selain itu perubahan persisten dari transkripsi gen merubah morfologi neuron. Transmisi glutamate, yang berfungsi penting untuksiklus modulasi dan efek sensitisasi sikap terhadap kokain, tidak tampak untuk menolak amfetamin pada keadaan ini. Perbedaan ini mungkin penting, pembeda perubahan adaptif diinduksi oleh dua kelas stimulant. Obat yang mirip amfetamin melepaskan norepinefrin dan serotonin. Beberapa diantara efeknyanya yang sama dengan toksisitas amfetamin, khususnya toksisitas kardiovaskular.3,5

IV. MEKANISME KERJA

Amfetamin bekerja merangsang susunan saraf pusat melepaskan katekolamin (epineprin, norepineprin, dan dopamin) dalam sinaps pusat dan menghambat dengan meningkatkan rilis neurotransmiter entecholamin, termasuk dopamin. Sehingga neurotransmiter tetap berada dalam sinaps dengan konsentrasi lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama dari biasanya. Semua sistem saraf akan berpengaruh terhadap perangsangan yang diberi kanel.8,11

Efek klinis amfetamin akan muncul dalam waktu 2-4 jam setelah penggunaan. Senyawa ini memiliki waktu paruh 4-24 jam dan dieksresikan melalui urin sebanyak 30% dalam bentuk metabolit. Metabolit amfetamin terdiri dari p-hidroksiamfetamin, p-hidroksinorepedrin, dan penilaseton.8,11

Karena waktu paruhnya yang pendek menyebabkan efek dari obat ini relatif cepat dan dapat segera terekskresikan, hal ini menjadi salah satu kesulitan tersendiri untuk pengujian terhadap pengguna, bila pengujian dilakukan lebih dari 24 jam jumlah metabolit sekunder yang di terdapat pada urin menjadi sangat sedikit dan tidak dapat lagi dideteksi dengan KIT.8,11

(16)

Pengaruh amfetamin terhadap pengguna bergantung pada jenis amfetamin, jumlah yang digunakan, dan cara menggunakannya. Dosis kecil semua jenis amfetamin akan meningkatkan tekanan darah, mempercepat denyut nadi, melebarkan bronkus, meningkatkan kewaspadaan, menimbulkan euforia, menghilangkan kantuk, mudah terpacu, menghilangkan rasa lelah dan rasa lapar, meningkatkan aktivitas motorik, banyak bicara, dan merasa kuat.3,7,11

Dosis sedang amfetamin (20-50 mg) akan menstimulasi pernafasan, menimbulkan tromor ringan, gelisah, meningkatkan aktivitas montorik, insomnia, agitasi, mencegah lelah, menekan nafsu makan, menghilangkan kantuk, dan mengurangi tidur.3,7,11

Penggunaan amfetamin berjangka waktu lama dengan dosis tinggi dapat menimbulkan perilaku stereotipikal, yaitu perbuatan yang diulang terus-menerus tanpa mempunyai tujuan, tiba-tiba agresif, melakukan tindakan kekerasan, waham curiga, dan anoneksia yang berat.3,7,11

Efek Samping

(17)

(gigi gemeretuk), sesak nafas, tremor, dan ataksia. Wanita hamil yang menggunakan amfetamin sering melahirkan bayi dengan berat lahir rendah, lingkar kepala kecil, usia kehamilan dini, dan retardasi pertumbuhan.9,11

Psikologis. Efek simpang psikologis yang disebabkan oleh penggunaan amfetamin mencakup kegelisahan, disforia, insomnia, iritabilitas, sikap bermusuhan, dan kebingungan Konsumsi amfetamin juga dapat menginduksi gejala gangguan ansietas seperti gangguan ansietas menyeluruh dan gangguan panik serta ide rujukan, waham paranoid, dan halusinasi.9,11

VI. DIAGNOSIS

DSM-IV-TR mencantumkan banyak gangguan terkait amfetamin (atau lir-amfetamin) (Tabel 9.3-l) namun hanya merinci kriteria diagnosis intoksikasi amfetamin (Tabel 9.3-2), keadaan putus amfetamin (Tabel 9.3-3), dan gangguan terkait amfetamin yang tak-tergolongkan (Tabel 9.3-4) pada bagian gangguan terkait amfetamin (atau lir-arnfetamin). Kriteria diagnosis gangguan terkait amfetamin (atau lir-amfetamin) lain tercantum dalam bagian DSM-IV-TR yang berhubungan dengan gejala fenomenologis primer (contohnya psikosis).9,13

Ketergantungan Amfetamin dan Penyalahgunaan Amfetamin

Kriteria DSM-IV-TR untuk ketergantungan dan penyalahgunaan dapat diterapkan pada amfetamin dan zat terkait. Ketergantungan amfetamin dapat mengakibatkan penurunan spiral yang cepat dari kemampuan seseorang untuk menghadapi kewajiban dan stres yang berkaitan dengan keluarga dan pekerjaan. Seseorang yang menyalahgunakan amfetamin membutuhkan dosis tinggi amfetamin yang semakin meningkat untuk memeroleh rasa tinggi (high) yang biasa, dan tanda fisik penyalahgunaan amfetamin (contohnya penurunan berat badan dan ide paranoid) hampir selalu timbul dengan diteruskannya penyalahgunaan.9,12,13

(18)

Sindrom intoksikasi kokain (menghalangi reuptake dopamin) dan amfetamin (menyebabkan pelepasan dopamin) sifatnya serupa. Oleh karena penelitian tentang penyalahgunaan dan intoksikasi kokain dilakukan lebih teliti dan mendalam dibanding pada amfetamin, literatur klinis tentang amfetamin sangat dipengaruhi temuan klinis pada penyalahgunaan kokain. Pada DSM-IV-TR, kriteria diagnosis intoksikasi amfetamin dan intoksikasi kokain terpisah namun hampir sama. DSM-IV-TR merinci gangguan persepsi sebagai gejala intoksikasi amfetamin. Bila tidak ada uji realitas yang intak, dipikirkan diagnosis gangguan psikotik terinduksi amfetamin dengan awitan saat intoksikasi. Gejala intoksikasi amfetamin sebagian besar pulih setelah 24 jam dan umumnya akan hilang sepenuhnya setelah 48 jam.9,12,13

Keadaan Putus Amfetamin

Setelah intoksikasi amfetamin, terjadi uash dengan gejala ansietas, gemetar, mood disforik, letargi, kelelahan, mimpi buruk disertai tidur dengan rapid eye moventent yang berulang), sakit kepala, berkeringat hebat, kram otot, kram perut, dan rasa lapar yang tak terpuaskan. Gejala putus zat biasanya memuncak dalam 2 sampai 4 hari dan hilang dalam I minggu. Gejala putus zat yang paling serius adalah depresii yang terutama dapat menjadi berat setelah penggunaan amfetamin dosis tinggi terus-menerus dan dapat dikaitkan dengan ide atau perilaku bunuh diri. Kriteria diagnosis DSM-IV-TR untuk keadaan putus amfetamin (Tabel 9.3-3) merinci bahwa mood disforik dan perubahan fisiologis diperlukan untuk diagnosis tersebut.9,12,13

Delirium pada lntoksikasi Amfetamin

(19)

lirium. Tidak jarang mahasiswa universitas yang menggunakan amfetamin untuk belajar kilat menghadapi uiian menunjukkan delirium jenis ini.9,12,13

Gangguan Psikotik Terinduksi Amfetamin

Kemiripan klinis psikosis terinduksi amfetamin dengan skizofrenia paranoid telah memicu penelitian intensif tentang neurokimiawi psikosis terinduksi amfetamin untuk menguraikan patofisiologi skizofrenia paranoid. Tanda gangguan psikotik terinduksi amfetamin adalah adanya paranoia. Gangguan psikotik terinduksi amfetamin dapat dibedakan dengan skizofrenia paranoid dengan sejumlah karakteristik pembeda yang ditemukan pada gangguan psikotik terinduksi amfetamin, yaitu adanya predominasi halusinasi visual, afek yang secara umum serasi, hiperaktivitas, hiperseksualitas, kebingungan dan inkoherensi, serta sedikit bukti gangguan proses pikir (seperti asosiasi longgar). Pada beberapa studi, peneliti juga mencatat bahwa meski gejala positif gangguan psikotik terinduksi amfetamin dan skizofrenia mirip, gangguan psikotik terinduksi amfetamin biasanya tidak memiliki af'ek mendatar dan alogia seperti pada skizofrenia. Namun, secara klinis, gangguan psikotik terinduksi amf'etamin yang akut mungkin tidak dapat dibedakan dengan skizofrenia, dan hanya resolusi gejala.9,12,13

Dalam beberapa hari atau temuan positif pada uji tapis zat dalam urin yang akhirnya akan menunjukkan diagnosis yang tepat. Terapi pilihan untuk gangguan psikotik terinduksi amfetamin adalah penggunaan .jangka pendek obat antipsikotik seperti haloperidol (Haldol).9,12,13

Gangguan Mood Terinduksi Amfetamin

(20)

Gangguan Ansietas Terinduksi Amfetamin

Amfetamin, seperti kokain, clapat menginduksi gejala yang serupa dengan yang terlihat pada gangguan obsesif-kompulsif, gangguan panik, dan terutama, gangguan tbbia. Awitan gangguan ansietas terinduksi amfetamin juga dapat terjadi saat inloksikasi atau putus zat.9,12,13

Disfungsi Seksual Terinduksi Amfetamin

Amfetamin sering digunakan untuk meningkatkan pengalaman seksual; namun, dosis tinggi dan penggunaan jangka panjang dikaitkan dengan gangguan ereksi dan disfungsi seksual lain. Disfungsi ini diklasifikasikan dalam DSM-IV-TR sebagai disfungsi seksual terinduksi amletamin.9, 12,13

Gangguan Tidur Terinduksi Amfetamin

Intoksikasi amfetamin dapat mer.rimbulkan insomnia dan deprivasi tidur, sementara orang yang sedang mengalami keadaan putus amfetamin dapat mengalami hipersomnolen dan mimpi buruk.9, 12,13

Gangguan yang Tak-Tergolongkan

(21)
(22)

VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Laboratorium :6

 Elektrolit : akut bisa memberikan gambaran hipokalemi sedangkan pada intoksikasi amfetamin yang berat memberikan gambaran hiperkalemi.  Glukosa darah : pada pemeriksaan gula darah memberikan gambaran

hipoglikemi

 Fungsi ginjal : gagal ginjal berhubungan dengan rhabdomyolisis dan trombosis arteri ginjal pernah dilaporkan pada penyalahgunaan amfetamin.  Urinalisis untuk skrining amfetamin atau zat adiktif lain yang digunakan

bersama-sama,

 Tes kehamilan : semua wanita yang berada dalam usia subur sbaiknya dilkukan tes kehamilan

 Fungsi hati : kerusakan hati mungkin terjadi pada intoksikasi akut. Sebagai tambahan, pasien yang menggunakan amfetamin beresiko untuk terinfeksi hepatitis, yang pada akirnya bias menyebabkan perubahan mental.

 Jumlah sel darah : anemia, lekositosis, dan leucopenia

 Toksikologi : Urine drug screens : Benzoylecogonine (bentuk metabolic kokain) bisa ditemukan pada urin 60 jam setelah menggunakan amfetamin. Pada pengguna amfetamin yang berat bisa ditemukan sampai 22 hari.

 Enzim jantung : pada pengguna amfetamin terdapat angka prevalensi yang tinggi untuk terjadinya myocardial infection, pasien yang datAng dengan nyeri dada dan riwayat penggunaan amfetamin bisa dipikirkan untuk melakukan pemeriksaan enzim jantung.

2. Gambaran Radiologi :  Chest x-Ray

(23)

3. Tes lain : Analisa gas darah, ECG

VIII. PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan intoksikasi amfetamin:7

a. Bila suhu badan naik, berikan kompres dingin, minum air dingin, atau selimut hipotermik.

b. Bila kejang, berikan diazepam 10-30 mg per oral atau parenteral; atau klordiazepoksid 10-25 mg per oral secara perlahan-lahan dan dapat diulang setiap 15-20 menit.

c. Bila tekanan darah naik, berikan obat anti hipertensi.

d. Bila terjadi takikardma, berikan beta-blocker, seperti propanolol, yang sekaligus juga untuk menurunkan tekanan darah.

e. Untuk mempercepat ekskresi amfetamin, lakukan asidifikasi air seni dengan memberi amonium klorida 500 mg per oral setiap 3-4 jam. f. Bilatimbul gejala psikosis atau agitasi, beri halopendol 3 kali 2-5 mg. Penatalaksanaan putus amfetamin:7

a. Rawat di tempat yang tenang dan biarkan pasien tidur dan makan sepuasnya.

b. Waspada terhadap kemungkinan timbulnya depresi dengan ide bunuh diri. c. Dapat diberikan anti depresi.

Terapi pada Psikosis Akibat Penggunaan Amfetamin

(24)

dapat diulang setiap empat jam. Dapat juga dipakai halopenidol tiga kali 1-5 mg.7

`

IX. KOMPLIKASI

Penyalahgunaan amfetamin dalam kurun waktu yang cukup lama atau dengan dosis yang tinggi dapat mengakibatkan timbul banyak masalah diantaranya:10

 Psychosis (pikiran menjadi tidak nyata, jauh dari realitas)  Kelainan psikologis dan tingkah laku

 Pusing-pusing

 Perubahan mood atau mental

 Kesulitan bernapas

 Kekurangan nutrisi

 Gangguan jiwa

(25)
(26)

BAB IV ANALISIS KASUS

Anamnesis dan pemeriksaan psikiatrik yang dilakukan terhadap pasien Tn. AS umur 22 tahun yang datang ke Poli Rawat Jalan RSJD Jambi tanggal 19 Juli 2017, Os Ketawa sendiri sejak 3 bulan lalu, terkadang marah – marah, Os. Sering merasa pusing pada malam hari. Os. memakai narkoba selama ± 2 tahun, dalam sebulan 1-3x memakai sabu, Os. mendapatkan sabu (Ampetamin) membeli sendiri dan diberikan temanya. Os. memakai dengan cara menghisap. Os. sudah berhenti memakai narkoba 7 bulan lalu.

Pada pemeriksaan status mentalis didapatkan seorang laki-laki dengan penampilan yang tampak sehat dan rapih, kesadaran kompos mentis, perilaku dan aktivitas yang normal, banyak bicara, afek euforia, mood euforia, halusinasi visual dan taktil fungsi intelektual yang masih baik, daya konsentrasi yang baik, orientasi tempat, waktu, dan orang baik, ada gangguan sensasi persepsi berupa halusinasi visual dan auditorik, pengendalian impuls terganggu, insight derajat 6. Dari gambaran hal diatas, pasien menunjukan gejala psikotik: kegelisahan, Euforia, insomnia, iritabilitas, sikap bermusuhan, dan kebingungan Konsumsi amfetamin juga dapat menginduksi gejala gangguan ansietas seperti gangguan ansietas menyeluruh dan gangguan panik serta ide rujukan, waham paranoid, dan halusinasi.

Diagnosis yang ditujukan bagi pasien ini adalah Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Stimulansia, Gangguan Psikotik Residual atau Onset Lambat, Gangguan Psikotik Onset Lambat (F15.75).

(27)

Penatalaksanaan yang diberikan pada penderita ini adalah dengan farmakoterapi dan nonfarmakoterapi. Jenis farmakoterapi yang digunakan pada penderita ini adalah golongan neuroleptik tipikal yaitu Haloperidol dengan pertimbangan untuk mengatasi gejala postif yang dominan pada pasien ini. Nudep, Trihexyphenidyl, Fluoxetine.

Selain terapi obat-obatan, juga bisa diterapkan terapi psikososial yang terdiri dari terapi perilaku, terapi kejuruan dan psikoedukasi keluarga.

(28)

BAB V KESIMPULAN

(29)

DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan, Sadock. 2010. Sinopsis psikiatri. Ilmu pengetahuan perilaku psikitri klinis edisi 10. Alih bahasa: Widjaja kusuma. Jawa barat: Binarupa aksara 2. Departemen Kesehatan R I. 1993. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis

Gangguan Jiwa di Indonesia (PPDGJ). Edisi ke III. Jakarta.

3. Kusminarno, Ketut. 2002. Penanggulangan penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA). Cermin dunia kedokteran no. 135 hal 17-20. Jakarta.

5. Arikel Kedokteran. 2010. Gangguan Mental dan Perilaku akibat penggunaan Kokein. Available at : http://www.artikelkedokteran.com/273/gangguan-mental-dan-perilaku-akibat-penggunaan-kokain.html.

6. Meme Sadudulur. 2011. GANGGUAN MENTAL DAN PERILAKU AKIBAT PENGGUNAAN ZAT PSIKOAKTIF. Available at : http://amaliayudha.blogspot.com/2011/12/jiwa.html.

7. Hamdani. 2012. Amfetamin. Available at : http://catatankimia.com/catatan/amfetamin.html. Wahyuni, Amilia. 2011. Gangguan Mental dan Perilaku akibat Penggunaan Stimulansia (Amfetamin). Samarinda. Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman.

8. Madihah, Diha. 2011. Bahaya Amfetamin. Available at : http://apotekerbercerita.wordpress.com/2011/06/27/bahaya-amfetamin. 9. Elvira, Sylvia D. dan Hadisukanto, Gitayanti. 2007. Buku Ajar PSIKIATRI.

(30)

10. Thomb, David A. 2006. Buku Saku PSIKIATRI. Edisi ke 6. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC

Referensi

Dokumen terkait