• Tidak ada hasil yang ditemukan

s pgsd penjas 1304341 chapter1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "s pgsd penjas 1304341 chapter1"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

Dalam pembelajaran pendidikan jasmani, guru dituntut mampu mengelola kegiatan pembelajaran dan mengembangkan kemampuan dasar untuk mencapai tujuan dari pembelajaran. Menurut Paturisi (2012, hlm. 4), “Pendidikan jasmani dan olahraga adalah proses pendidikan melalui aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih untuk mencapai tujuan pendidikan”. Sedangkan menurut Pangrazi

dan Dauer (dalam Suherman dan Mahendra, 2001, hlm. 6), „Pendidikan Jasmani

merupakan bagian dari program pendidikan umum yang memberi kontribusi, terutama melalui pengalaman gerak, terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh‟. Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan jasmani adalah suatu pendidikan yang memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan anak didik untuk belajar dengan cara-cara yang benar melalui pengalaman gerak yang bermacam-macam, terhadap pertumbuhan dan perkembangan secara menyeluruh.

Tujuan umum dari pendidikan jasmani di sekolah dasar yaitu memacu pada pertumbuhan dan perkembangan jasmani, mental, sosial dan emosional yang saling mendukung sehingga dapat membentuk dan mengembangkan kemampuan dasar, dan menanamkan jiwa, sikap dan nilai yang dapat membiasakan hidup yang sehat. Sedangkan ruang lingkup program pengajaran pendidikan jasmani yang diajarkan di sekolah dasar, mulai dari kelas I sampai kelas VI pada setiap semester ditekankan pada usaha memacu pertumbuhan dan perkembangan jasmani, mental, emosional, dan sosial.

(2)

Sarana prasarana merupakan salah satu bagian yang penting dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Sarana dan prasarana tersebut meliputi alat-alat, ruangan, dan lahan untuk melakukan aktivitas pendidikan jasmani, termasuk olahraga. Idealnya sarana dan prasarana ini harus lengkap, tetapi juga meliputi sarana dan prasarana yang dimodifikasi dalam berbagai ukuran dan alatnya. Dengan lengkap dan tidak lengkapnya sarana dan prasarana pembelajaran sangat mempengaruhi maksimal dan tidak maksimalnya suatu tujuan pembelajaran dalam pencapaiannya. Sarana yang lengkap bisa memudahkan seorang guru dalam pembelajaran yang dilaksanakannya, karena dengan sarana prasarana yang lengkap, guru bisa leluasa untuk memberikan materi yang dibutuhkan untuk para muridnya, sebaliknya jika sarana prasarana yang tidak lengkap akan menyulitkan guru dalam penyampaian materi yang ingin disampaikan kepada para muridnya, sedangkan pembelajaran bulutangkis itu sendiri menggunakan alat dan media.

Bulutangkis atau badminton merupakan salah satu olahraga dengan

menggunakan raket yang dimainkan oleh dua orang apabila bermain secara perorangan (tunggal), serta empat orang atau dua pasangan apabila bermain secara ganda yang saling berlawanan. Menurut Subarjah (2011, hlm. 19), “Tujuan dari permainan bulutangkis adalah memperoleh angka dan kemenangan dengan cara menyeberangkan dan menjatuhkan satelkok di bidang permainan lawan dan berusaha agar lawan tidak dapat memukul satelkok atau menjatuhkannya di daerah permainan sendiri”.

Menurut Subarjah (2011, hlm. 44), “Pukulan drive dilakukan mendatar lurus

atau menyamping, dilakukan untuk melakukan serangan atau mengembalikan kok

dengan cepat ke daerah lawan”. Sedangkan menurut Poole (2011, hlm. 55)

“Pukulan drive merupakan pukulan menyerang yang keras dan datar, yang

dianggap sebagai pukulan menyerang”.

Poole (2011, hlm. 56) menjelaskan bahwa,

Pukulan forehand drive dimainkan di sisi kanan tubuh pemain dan mirip

dengan lemparan samping pada permainan baseball. Pada saat terjadi

(3)

Manfaat dari pembelajaran bulutangkis yang menarik dan tepat nantinya akan mendapatkan hasil yang maksimal dari pembelajaran permainan bulutangkis

tersebut. Jadi, berdasarkan hal tersebut bahwa pembelajaran forehand drive

bulutangkis mengacu pada tugas gerak siswa sekolah dasar agar lebih termotivasi. Seperti yang sudah dibahas oleh peneliti, bahwa menggunakan permainan dan media yang tidak asing bagi siswa sekolah dasar akan mampu mengangkat kualitas pembelajaran tersebut.

Bagi siswa sekolah dasar yang lebih penting adalah menggunakan permainan yang menarik dan juga media yang memanfaatkan barang bekas dan mudah dicari dan tidak asing bagi siswa seperti tali. Apabila permainan itu dilakukan dengan giat dan semangat maka hasilnya akan nyata dicapai. Keamanan dalam pembelajaran forehand drive bulutangkis itu sendiri berhubungan dengan kesiapan siswa dalam melakukan forehand drive bulutangkis seperti aspek fisik, aspek mental, serta kemampuan awal siswa dalam mempelajarai gerak dasar forehand drive bulutangkis. Maka disini sangat terlihat siswa yang semangat dan termotivasi untuk mengikuti kegiataan pembelajaran dan bisa melakukan gerak dasar forehand drive bulutangkis dengan baik dan benar ada juga siswa yang belum bisa melakukannya dengan baik dan benar karena masih merasa gerogi dan merasa kurang percaya diri untuk mencobanya. Terlihat peran guru sangat penting untuk memperhatikan seluruh siswanya dari anak yang semangat dan termotivasi sampai anak yang kurang semangat dan termotivasi ada juga anak yang tidak menyenangi pembelajaran bulutangkis ini dengan demikian pembelajaran

bulutangkis ini menggunakan permainan lempar shuttlecock dan menggunakan

media tali, seperti permainan lempar shuttlecock dimana siswa melakukan lempar menggunakan kok sampai melewati net dan tidak melewati tali yang berada di atas net.

(4)

serta siswa mampu menyerap apa yang disampaikan oleh guru harus ada variasi dalam pembelajaran dan permainan maka hasil pembelajaran akan lebih.

Menurut Suherman (2001, hlm. 10), “Dalam konteks pembelajaran ada tiga

komponen yang harus bekerja sebagai suatu sistem yaitu materi, lingkungan, dan disiplin siswa”. Oleh karena itu, perlu adanya strategi pembelajaran dan metode yang tepat untuk disampaikan kepada siswa dalam menyikapi kendala dan masalah kesulitan belajar dan kurang motivasi yang dialami setiap siswa. Seperti contoh kasus pembelajaran bulutangkis di kelas V SDN Cikoneng 1 Kab. Sumedang. Dalam upaya memperbaiki proses belajar mengajar peneliti akan mencoba mengatasi permasalahan yang timbul dalam satu kelas ketika belajar

gerak dasar forehand drive bulutangkis, dengan terlebih dahulu peneliti

melakukan observasi yang bertujuan untuk mendapatkan data dan dokumentasi melalui analisis dan wawancara dengan guru dan siswa.

Setelah melakukan penelitian di lapangan, peneliti menemukan masalah yang harus dipecahkan. Dimana peserta didik dengan berbagai faktor kesulitan dalam melakukan gerak dasar forehand drive bulutangkis. Padahal guru sudah

menjelaskan tentang bagaimana melakukan gerak dasar forehand drive

bulutangkis mulai dari sikap awal sampai sikap akhir dan siswa terlihat kurang serius dalam mengikuti pembelajaran permainan bulutangkis. Tetapi pada proses kegiataan belajar mengajar, siswa diharuskan untuk bisa melakukan gerak dasar forehand drive agar siswa mencapai hasil belajar yang optimal sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditentukan yaitu 75. Bukti empiric yang peneliti cantumkan dalam penelitian hanya sebagai acuan bukan verifikasi dan hasilnya tidak harus seperti kemampuan seorang atlet, karena pada dasarnya kemampuan manusia berbeda satu sama lain, apalagi siswa sekolah dasar yang masih perlu diperbaiki.

Sesuai dengan hasil dan data yang telah dilakukan observasi oleh peneliti pada tanggal 16 Desember 2016 pada saat pembelajaran bulutangkis kelas V SDN

Cikoneng 1 Kab. Sumedang tentang forehand drive bulutangkis, siswa

(5)

Tabel 1.1

Data Awal Tes Hasil Belajar Siswa

(6)

Keterangan :

Berdasarkan nilai KKM yaitu 75.

T : Tuntas

BT : Belum Tuntas Skor Ideal : 12

Berdasarkan hasil observasi data awal dari jumlah murid 21 orang hanya 4 orang saja yang dikatakan lulus atau sekitar 19,05%, sedangkan 17 orang atau sekitar 80,95% belum dikatakan lulus karena tidak dapat mencapai KKM yang telah ditentukan yaitu 75. Atau dapat dikatakan tingkat ketidak lulusannya yaitu mencapai 80,95% dari jumlah siswa 21 orang. Sedangkan hasil observasi di SDN Cikoneng 1, terbukti bahwa proses kegiatan pembelajaran gerak dasar forehand drive bulutangkis, terdapat beberapa masalah yang dianalisis langsung oleh peneliti di saat mengobservasi, diantaranya:

1. Perencanaan

Pada saat peneliti melaksanakan observasi terhadap Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) guru penjas kelas V SDN Cikoneng 1 dengan materi

pembelajaran gerak dasar forehand drive bulutangkis, ternyata masih perlu

diperbaiki dan ditingkatkan. Permasalahan pada IPKG 1 yaitu perumusan indikator dan tujuan pembelajaran permainan bulutangkis hanya terfokus pada teknik dasar saja tanpa adanya pengembangan alat, media dan permainan saat pembelajaran bulutangkis.

2. Kinerja Guru

Pada saat peneliti melaksanakan observasi terhadap kinerja guru dalam proses kegiatan pembelajaran gerak dasar forehand drive ternyata masih perlu diperbaiki dan ditingkatkan. Permasalahan pada IPKG 2 yaitu kinerja guru sebagian besar tidak berorientasi pada perencanaan pembelajaran yang telah

dibuat, kemudian mendemonstrasikan gerak dasar forehand drive tidak didukung

(7)

3. Aktivitas siswa

Pada saat peneliti melaksanakan observasi terhadap aktivitas siswa dalam proses kegiatan pembelajaran gerak dasar forehand drive ternyata masih perlu diperbaiki dan ditingkatkan. Permasalahan pada aktivitas siswa yaitu kurang disiplin, semangat, dan kerjasama diantara siswa pada penerapan gerak dasar forehand drive bulutangkis.

4. Hasil tes

Pada saat peneliti melaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tes gerak dasar forehand drive permainan bulutangkis, hasilnya dari 21 orang siswa kelas V SDN Cikoneng 1 Kab. Sumedang, sebagian besar belum mampu melakukan gerak dasar tersebut.

Sehingga siswa dalam hasil belajar mengenai pembelajaran bulutangkis sangat kurang, peneliti merasa perlu memberikan alternatif atau memberikan solusi yang dihadapi oleh siswa kelas V SDN Cikoneng 1 Kab. Sumedang. Jadi menurut peneliti jatuhnya tingkat kelulusan siswa tentang pembelajaran

bulutangkis khususnya pembelajaran forehand drive bisa dikarenakan tidak

menariknya pembelajaran yang disampaikan oleh guru, sarana olahraga yang kurang memadai, guru yang kurang membantu dalam proses pembelajaran dan kesiapan guru dalam mengajar.

Melihat pemaparan data di atas menunjukan kurangnya antusias dan motivasi siswa dan siswa merasa jenuh pada saat pembelajaran penjas berlangsung dan ditambah kurangnya fasilitas pembelajaran yang layak untuk

melakukan pembelajaran bulutangkis yaitu gerak dasar forehand drive. Sehingga

siswa dalam hasil belajar mengenai pembelajaran gerak dasar forehand drive

bulutangkis sangat kurang, maka dalam penerapan forehand drive dalam

pembelajaran bulutangkis, peneliti merasa perlu memberikan alternatif atau memberikan solusi yang dihadapi oleh siswa kelas V SDN Cikoneng 1 Kab. Sumedang.

Berdasarkan uraian tersebut maka dilakukan penelitian dengan judul

“Meningkatkan gerak dasar forehand drive bulutangkis melalui permainan lempar

shuttlecock dengan menggunakan media tali di kelas V SDN Cikoneng 1 Kab.

(8)

B.Rumusan dan Pemecahan Masalah Penelitian 1. Rumusan Masalah Penelitian

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, mengacu pada judul penelitian penulis merumuskan masalah umum penelitian sebagai berikut :

a. Bagaimana perencanaan pembelajaran gerak dasar forehand drive bulutangkis

melalui permainan lempar shuttlecock dengan menggunakan media tali di kelas V SDN Cikoneng 1 Kab. Sumedang?

b. Bagaimana pelaksanaan kinerja guru dalam pembelajaran gerak dasar forehand

drive bulutangkis melalui permainan lempar shuttlecock dengan menggunakan media tali di kelas V SDN Cikoneng 1 Kab. Sumedang?

c. Bagaimana aktivitas siswa saat pembelajaran gerak dasar forehand drive

bulutangkis melalui permainan lempar shuttlecock dengan menggunakan media tali di kelas V SDN Cikoneng 1 Kab. Sumedang?

d. Bagaimana hasil belajar siswa dalam pembelajaran gerak dasar forehand drive

bulutangkis melalui permainan lempar shuttlecock dengan menggunakan media tali di kelas V SDN Cikoneng 1 Kab. Sumedang?

2. Pemecahan Masalah Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan di atas, maka peneliti

memberikan alternatif tindakan dengan melalui permainan lempar shuttlecock

dengan menggunakan media tali untuk meningkatkan hasil belajar siswa terhadap

pembelajaran forehand drive. Pembelajaran gerak dasar forehand drive

bulutangkis melalui permainan lempar shuttlecock dengan menggunakan media

tali. Ada beberapa langkah-langkah sebagai berikut :

a. Tahapan perencanaan, pada tahapan ini guru mempersiapkan siswa ke arah

pembelajaran forehand drive dan mengacu kepada IPKG 1 yang meliputi

perumusan tujuan pembelajaran, mengembangkan dan mengorganisasikan materi, media, sumber belajar dan metode pembelajaran, merencanakan skenario kegiatan pembelajaran, serta merencanakan prosedur, jenis dan menyiapkan alat penilaian.

b. Tahapan pelaksanaan yang mengacu pada IPKG 2, pada tahapan ini guru

(9)

cara-cara pembelajaran forehand drive serta memberikan bantuan kepada siswa yang tidak bisa melakukan gerakan forehand drive.

c. Tahapan aktivitas siswa, pada tahapan ini guru mengetahui aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Hal ini terkait dengan nilai kerjasama, sportivitas, dan kedisiplinan siswa saat pembelajaran forehand drive serta memberikan motivasi kepada siswa agar lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran forehand drive.

d. Tahapan evaluasi, pada tahapan ini guru mengevaluasi siswa dengan

mengadakan tes, dimana setiap siswa melakukan gerakan forehand drive dan dicatat hasilnya.

C.Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan penelitian

Tujuan penelitian yaitu meningkatkan proses hasil pembelajaran penjas di SD khususnya tentang gerak dasar forehand drive dalam permainan bulutangkis pada siswa kelas V SDN Cikoneng 1 Kab. Sumedang. Berdasarkan masalah yang dipaparkan, maka tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah :

a. Untuk mengetahui perencanaan pembelajaran gerak dasar forehand drive

bulutangkis melalui permainan lempar shuttlecock dengan menggunakan media tali di kelas V SDN Cikoneng 1 Kab. Sumedang.

b. Untuk mengetahui pelaksanaan kinerja guru dalam pembelajaran gerak dasar forehand drive bulutangkis melalui permainan lempar shuttlecock dengan menggunakan media tali di kelas V SDN Cikoneng 1 Kab. Sumedang.

c. Untuk mengetahui aktivitas siswa pada pembelajaran gerak dasar forehand

drive bulutangkis melalui permainan lempar shuttlecock dengan menggunakan media tali di kelas V SDN Cikoneng 1 Kab. Sumedang.

d. Untuk mengetahui hasil belajar siswa pada pembelajaran gerak dasar forehand

drive bulutangkis melalui permainan lempar shuttlecock dengan menggunakan media tali di kelas V SDN Cikoneng 1 Kab. Sumedang.

2. Manfaat penelitian

Berdasarkan gambaran umum di atas, dapat di peroleh informasi berkenaan

(10)

permainan lempar shuttlecock dengan menggunakan media tali di kelas V SDN Cikoneng 1 Kab. Sumedang. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan masukan bagi berbagai pihak yang berkepentingan dengan pembinaan dan

pengembangan pendidikan jasmani di SDN Cikoneng 1 Kab. Sumedang.

Adapun manfaat yang diambil dari penelitian tersebut adalah sebagai

berikut :

1. Manfaat bagi siswa

Siswa akan lebih mudah dalam melaksanakan gerak dasar forehand drive dalam permainan bulutangkis, sehingga akan berdampak kepada peningkatan hasil belajar siswa itu sendiri.

2. Manfaat bagi guru

Sebagai umpan balik dari pembelajaran sebelumnya sehingga guru yang merangkap jadi pelatih dapat mengkaji sendiri praktek pembelajaran, berbagai teknik pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan dan kemampuan dalam olahraga permainan bulutangkis.

3. Manfaat bagi sekolah

Hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangsih yang baik pada sekolah dalam rangka memperbaiki pembelajaran pada khususnya dan sekolah pada umumnya.

4. Manfaat bagi peneliti

Menambah pengetahuan, mempunyai kemampuan penggunaan media pembelajaran, dan dapat digunakan rujukan bagi peneliti yang lain.

D.Struktur Organisasi Skripsi

Struktur organisasi skripsi dengan judul “Meningkatkan gerak dasar

forehand drive bulutangkis melalui permainan lempar shuttlecock dengan

menggunakan media tali di kelas V SDN Cikoneng 1 Kab. Sumedang” terdiri dari beberapa bab, yaitu bab I sampai dengan bab V. Untuk lebih jelasnya berikut penulis memaparkan struktur organisasi skipsi yang penulis buat. Struktur organisasi skripsi yang dibuat oleh penulis :

1. Judul dan Pernyataan Maksud Penulisan

2. Lembar Pengesahan

(11)

4. Lembar Persembahan

5. Abstrak

6. Kata Pengantar

7. Ucapan Terima Kasih

8. Daftar Isi

9. Daftar Tabel

10.Daftar Gambar

11.Daftar Diagram

12.Daftar Lampiran

13.BAB I Pendahuluan

A.Latar Belakang Masalah

B. Rumusan dan Pemecahan Masalah Penelitian

1. Rumusan Masalah Penelitian

2. Pemecahan Masalah Penelitian

C.Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

2. Manfaat Penelitian

D.Struktur Organisasi Skripsi E. Batasan Istilah

14.BAB II LANDASAN TEORETIS

A.Kajian Pustaka

B. Hasil Penelitian Yang Relevan

C.Hipotesis Tindakan

15.BAB III METODE PENELITIAN

A.Lokasi dan Waktu penelitian

B. Subjek Penelitian

C.Metode dan Desain Penelitian

1. Metode Penelitian

2. Desain Penelitian D.Prosedur Penelitian

E. Pengumpul Data

(12)

G.Validitas Data

16.BAB IV PAPARAN DATA DAN PEMBAHASAN

A.Paparan Data

B. Paparan Pendapat Siswa dan Guru

C.Pembahasan

17.BAB V SIMPULAN DAN SARAN

A.Simpulan

B. Saran

18.Daftar Pustaka

19.Lampiran

20.Riwayat Hidup

E.Batasan Istilah

Untuk mempermudah dan menghindari salah tafsir terhadap istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka peneliti perlu memberikan definisi dalam judul penelitian sebagai berikut :

1. Pembelajaran

Pembelajaran adalah upaya maksimal dari seorang guru sebagai pengajar dan seorang siswa sebagai pembelajar dalam merancang atau mengelola segala sesuatu hal yang berkaitan dengan proses kegiatan belajar mengajar untuk memperoleh hasil belajar yang maksimal (Mulyanto, 2016, hlm. 11).

2. Gerak Dasar

Gerak dasar merupakan kemampuan yang biasa siswa lakukan guna

meningkatkan kualitas hidup (Ma‟mun dan Saputra, 2000, hlm. 20). Gerak dasar

manusia terdiri atas tiga macam yaitu gerak dasar lokomotor gerakan yang dilakukan mengakibatkan seseorang berpindah tempat, non lokomotor yang artinya seseorang bergerak tidak berpindah tempat dan manipulative ialah gerakan yang dilakukan dengan mempermainkan benda (Mulyanto, 2016, hlm. 31-32).

3. Bulutangkis

Bulutangkis yaitu permainan olahraga yang menggunakan raket dan cock

(Sari, 2015, hlm. 18). Sedangkan menurut Qalbi (2017, hlm. 51) “Bulutangkis

merupakan cabang olahraga yang dimainkan oleh pemain single atau double

(13)

4. Drive

Pukulan drive dilakukan mendatar lurus atau menyamping, dilakukan untuk melakukan serangan atau mengembalikan kok dengan cepat ke daerah lawan (Subarjah, 2011, hlm. 44).

5. Permainan

Sementara „permainan‟ atau yang lebih popular disebut games, adalah situasi bermain yang terkait dengan beberapa aturan atau tujuan tertentu. Ada rule of games yang disepakati bersama dan ditentukan dari luar untuk melakukan kegiatan dalam tindakan yang bertujuan, menurut Tedjasaputra (dalam Nugraha dan Rukmana, 2016, hlm.1). Sedangkan menurut Kusmaedi (2009, hlm. 4),

“Permainan adalah kegiatan yang didalamnya terdapat aturan-aturan yang

merupakan kesepakatan dari komunitas tertentu. Dalam permainan unsur-unsur kesenangan dan kepuasan tetap ada”.

6. Lempar Shuttlecock

Lempar yaitu melempar, ialah membuang jauh-jauh atau melontari (KBBI, 2005, hlm. 657). Kok adalah bola yang digunakan dalam permainan bulutangkis, terbuat dari rangkaian bulu angsa yang disusun membentuk kerucut terbuka, pangkal berbentuk setengah bola yang terbuat dari gabus (Hetti, 2010, hlm. 22).

7. Media Tali

Tali adalah barang yang berutas-utas panjang, dibuat dari bermacam-macam bahan (sabut kelapa, ijuk, plastic, dsb) ada yang dipintal ada yang tidak, gunanya untuk mengikat, mengebat, menghela, menarik, dsb (KBBI, 2005, hlm. 1127).

Menurut Sudin dan Saptani (2009, hlm. 3) bahwa,

Media hendaknya dapat dimanipulasi, dapat dilihat, didengar, dan dibaca. Apapun batasan tersebut yaitu bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.

Media tali adalah tali yang digunakan sebagai alat batas atau target untuk melakukan gerakan. Jadi dapat disimpulkan bahwa lempar shuttlecock

Referensi

Dokumen terkait

Nilai Specific Moisture Extraction Rate (SMER) bahan yang dikeringkan secara bersamaan adalah 0,032 – 0,057 kg/kWh.. Dari proses pengeringan yang dilakukan memperlihatkan bahwa

Penerapan Metode Experiental Based Learning dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Menumbuhkan Civic Disposition pada Siswa.. Universitas Pendidikan Indonesia |

Sebagai Koordinator pengampu Mata kuliah KI4091 Tugas Akhir I, KI4092 Tugas Akhir II dapat dilakukan oleh Ketua Program Studi Sarjana Kimia, sedangkan sebagai

[r]

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi sebagian syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Departemen Pendidikan. Geografi Fakultas Pendidikan Ilmu

Hewan-hewan tersebut mengalami PERUBAHAN PADA tahap-tahap pertumbuhannya sampai mirip dengan induknya. Ini

ABSTRAK ... KATA PENGANTAR ... UCAPAN TERIMA KASIH ... DAFTAR TABEL ... DAFTAR GAMBAR ... DAFTAR LAMPIRAN ... Latar Belakang ... Rumusan Masalah ... Tujuan Penelitian ...

Penggunaan Buku Catatan Interaktif Untuk Menilai Kemampuan Literasi.. Kuantitatif Siswa Pada Materi