• Tidak ada hasil yang ditemukan

S SEJ 0705758 Chapter1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "S SEJ 0705758 Chapter1"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Megi Ginanjar Rahmat, 2014

DAMPAK REVOLUSI BUNGA DI PORTUGAL TERHADAP DINAMIKA MASYARAKAT TIMOR PORTUGIS (1974-1976)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Portugal sebelum terjadinya kudeta militer 25 April 1974 adalah suatu

negara Republik dengan pemerintahannya yang bersifat otoriter, fasistis dan

tidak demokratis, Portugal sebagai kolonialis Eropa termasuk kolonialis

tertua dan juga merupakan kolonialis yang paling terakhir melepaskan

kolonial-kolonialnya (Soekanto, 1976: 25). Sampai tahun 1951 negara

jajahan Portugal di Asia dan Afrika secara resmi memiliki status koloni dan

ditempatkan di bawah menteri koloni-koloninya yang menetapkan garis

besar pemerintahannya yang dijadikan propinsi dan diberi otonomi terbatas,

akan tetapi dalam kenyataannya pemerintahan Portugal menganggap sepi

aspirasi kemerdekaan rakyat Afrika dan berusaha menumpas

gerakan-gerakan kemerdekaan dan negara-negara tersebut dapat dianggap masih

tetap sebagai negara jajahan dan koloni sehingga negara jajahan Portugal di

Afrika berpendapat agar memberikan kemerdekaan kepada negaranya

(Soekanto, 1976: 27).

Dalam bukunya yang berjudul Funu Perjuangan Timor Lorosae

Belum Selesai. Horta (1998: 26) mengungkapkan bahwa “ orang-orang

Portugis datang ke Timor dua taun setelah menaklukkan Malaka pada tahun

1511”, kedatangan orang Portugis tidak mengubah dominasi politik dan

setelah beberapa abad terjadi manipulasi politik, perdagangan, agama

(kristenisasi) dan penggunaan kekerasan secara terang-terangan, hanya pada

tahun 1912 Portugis dapat melakukan kontrol yang kuat terhadap sebagian

besar bagian timur pulau, Donn Boaventura pimpinan penduduk asli Timur

yang berakhir berkuasa ditundukan setelah hampir berkuasa selama dua

puluh tahun memberontak. Pada abad ke 16 dan 17 tahta Portugis

(2)

Megi Ginanjar Rahmat, 2014

DAMPAK REVOLUSI BUNGA DI PORTUGAL TERHADAP DINAMIKA MASYARAKAT TIMOR PORTUGIS (1974-1976)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

goa oleh seorang raja muda, pada abad ke 18 terbentuklah pemerintahan di

pulau Timor gubernur pertamanya adalah Antonio Coelho Guerreiro yang

diangkat pada tahun 1701, dengan memulai strategi de vide et impera cara

ini akan menjadi karakteristik kolonial Portugis sampai dua abad kemudian,

dengan jalan menyogok, menawarkan jabatan militer kepada para kepala

kampung, persekutuan secara licik dengan cara mengeksploitasi persaingan

suku, Guerrero dapat menguasai satu persatu kekuasaan pemerintah

penduduk asli (Horta, 1998: 28).

Sebelum munculnya pergolakan tahun 1974 memuat tentang

peristiwa-peristiwa penting yang dimana menyusulnya terjadinya Revolusi

Bunga di Portugal pada tahun 1974, kemudian terjadinya proses

berintegrasinya Timor ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun

1976 dan menjadikan Timor Portugal sebagai Propinsi yang ke 27. Suasana

di Timor di penggalan pertama tahun 1974 akan berubah menjadi kekacauan

jika tidak terjadi kudeta militer di Ibu Kota Portugal Lisabon pada tanggal

25 April 1974, kudeta yang sering disebut sebagai Revolusi Bunga itu

ternyata bukan hanya menggoncangkan negara Portugal secara keseluruhan

tetapi juga dirasakan oleh kolonial-kolonialnya salah satu diantaranya

adalah seperti yang dialami di Timor (Lapian, 1988: 26-27).

Dengan terjadinya Revolusi Bunga bagi rakyat Timor disambut

dengan perasaan gembira dan terharu mendengarkan kesaksian

mengisahkan tentang kegembiraan yang ditimbulkan oleh berbagai

peristiwa di Lisbon dan berbagai wilayah jajahan lainnya di kalangan

orang-orang muda yang tertarik politik. Tapi pada umumnya mereka juga setuju

bahwa masyarakat Timor tidak siap karena sejarahnya untuk terlibat dalam

kegiatan politik pada awal bulan Mei 1974, ketika Gubernur Alves Aldeia

bertanya kepada Junta de Salvacao Nacional (JSN) di Lisbonuntuk

menjelaskan kebijakan kolonialnya yang baru, ia diinstruksikan untuk

bertindak sesuaidengan prinsip-prinsip program Moviento Forcas Armada

(3)

Megi Ginanjar Rahmat, 2014

DAMPAK REVOLUSI BUNGA DI PORTUGAL TERHADAP DINAMIKA MASYARAKAT TIMOR PORTUGIS (1974-1976)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

untuk tidak memperburuk hubungan dengan Indonesia (Tomodok, 1994:

77-78).

Adanya pergantian pemerintahan di Portugal sebagai hasil kudeta 25

April 1974 yang mempengaruhi perkembangan politik di daerah-daerah

jajahannya, terutama dalam aspirasi politik untuk melepaskan diri dari

ikatan penjajahan menuju kemerdekaan. Dalam konteks ini perubahan yang

terjadi di Timor jelas akan mempunyai pengaruh terhadap keamanan

nasional Indonesia terutama dalam arti terbukanya kemungkinan masuknya

pengaruh atau kegiatan-kegiatan negara asing yang hendak menggarap

Timor Timur dengan tujuan agar dalam perkembangannya berada dalam

posisi yang menguntungkan strategi politik atau militernya. Oleh karena itu,

lahirnya pemerintahan baru di Portugal yang juga membawa

perubahan-perubahan konstelasi politik di Timor, oleh Indonesia juga dianggap sebagai

sentakan untuk melancarkan bantuannya mempercepat proses pembebasan

dan pengintegrasian Timor ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia

(Soekanto, 1976: 108).

Hak penentuan nasib sendiri untuk semua wilayah jajahan juga

dicantumkan sebagai suatu kewajiban bagi negara Portugal dalam konstitusi

tahun 1975, ketentuan ini terbukti menjadi penting dalam melanjutkan

komitmen resmi Portugal ataspenentuan nasib sendiri rakyat Timor Timur

dalam tahun-tahun selanjutnya yang berat.Pembentukan partai-partai politik

di Timor Timur mendengarkan kesaksian yang menggambarkan bagaimana

Revolusi Bungasegera menggelorakan perhatian rakyat Timor Timur

mengenai masa depan politik wilayah tersebut. Garis besar politik Portugal

khususnya terhadap Timor Timur adalah melaksanakan dekolonisasi untuk

maksud pemerintahan Portugis yang baru memberikan kelonggaran kepada

rakyat Timor Timur untuk mendirikan partai-partai politik guna

menyalurkan aspirasi mereka tentang bagaimana dekolonisasi itu harus

(4)

Megi Ginanjar Rahmat, 2014

DAMPAK REVOLUSI BUNGA DI PORTUGAL TERHADAP DINAMIKA MASYARAKAT TIMOR PORTUGIS (1974-1976)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Proses dekolonisasi itu dilakukan Portugis berdasarkan prinsip hak

penentuan nasib sendiri bagi bangsa jajahan (Resolusi Majelis Umum PBB

1514/1960). Sejalan dengan kebijakan tersebut, pada Mei 1974, Portugis

menyatakan memberikan izin kepada rakyat Timor Timur untuk mendirikan

partai-partai politik agar dapat menentukan masa depannya melalui

referendum yang akan dilaksanakan pada tanggal 13 Maret 1975.

Referendum tersebut meliputi tiga pilihan yaitu menjadi daerah otonomi

dalam federasi dengan Portugal; menjadi negara bebas dan merdeka

(sebagai bagian commonwealth Portugal atau tidak) dan terakhir bergabung

dengan Republik Indonesia (Departemen Luar Negeri RI, 1982: 41).

Kebijakan Portugis tersebut disambut dengan pembentukan

partai-partai yang masing-masing mempunyai aspirasinya sendiri. (Etan, 2006:

16-17) tiga partai tersebut adalah:

Pertama, Uni Demokratik Timor (União Democratica Timorense, UDT),

yang didirikan pada tanggal 11 Mei 1974. Para pendirinya

cenderungkonservatif secara politik dan banyak di antaranya memiliki

hubungan dengan penguasa kolonialPortugis, yang mencerminkan

keistimewaan status dan fungsi sosial mereka sebagai perantaraantara

orang-orang Timor dan penjajah Portugis. Presiden pertama UDT adalah

Francisco Lopesda Cruz. Para pendiri yang lain yaitu César Augusto da

Costa Mouzinho sebagai Wakil Presiden, Mário dan João Carrascalão, serta

Domingos de Oliveira,Sekretaris Jenderal serikat tersebut. Manifesto awal

UDT mengusulkan “otonomi progresif” di bawah Portugal, meskipun UDT

juga mendukung hak untuk penentuan nasib sendiri. UDTmengumumkan

perubahan posisinya pada tanggal 1 Agustus 1974 ketika menyatakan bahwa

tujuan akhirnya adalah kemerdekaan setelah satu periode federasi dengan

Portugal. UDT juga secara spesifik menolak integrasi dengan negara lain.

Pergeseran UDT menunjukkan partai inibisa berubah-ubah, dalam hal ini

(5)

Megi Ginanjar Rahmat, 2014

DAMPAK REVOLUSI BUNGA DI PORTUGAL TERHADAP DINAMIKA MASYARAKAT TIMOR PORTUGIS (1974-1976)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

bahwa nasionalisme merupakan kekuatan yang semakin berkembang di

dalam Timor.

Kedua, Asosiasi Sosial Demokratik Timor (Asociação Social Democrata de

Timor, ASDT) atau FRETELIN didirikanpada tanggal 20 Mei 1974. Para

pendiri ASDT sebagian besar adalah pemuda Timor yang terpelajar, dari

beragam latar belakang; beberapa dari dalam pemerintahan Portugis, yang

lain dari kelompok bawah tanah anti penjajah pada awal tahun 1970-an.

Karena lebih tua dan lebih dikenal ketimbang para pendiri asosiasi yang

berusia muda, Francisco Xavier do Amaral diangkat sebagai Presiden. Para

tokoh kunci yang lain termasuk Mári Alkatiri, José Ramos Horta, Nicolau

Lobato dan Justino Mota. ASDT menerbitkan manifestonya pada tanggal 22

Mei, yang menegaskan hak untuk merdeka, dan sikap anti penjajahan.

Asosiasi itu juga menyatakan komitmennya untuk suatu kebijakan

“bertetangga baik” dengan negara-negara kawasan tanpa merugikan

kepentingan rakyat Timor. Kemudian pada September 1975 berubah

menjadi Frente Revolucionaria de Timor Leste Indepedente (Front

Revolusioner Timor Leste Merdeka, Fretelin) yang menginginkan

kemerdekaan segera (Singh, 1996: 22-23).

Ketiga Asosiasi Rakyat Demokratik Timor (Associação Popular

Democrática Timorense, Apodeti), yang didirikan pada tanggal 27 Mei

1974. Meskipun nama ini secara lugas dapat menjabarkan tujuan utama

Apodeti, nama itu tampaknya dianggap terlalu transparan. Presiden pendiri

asosiasi ini adalah Arnaldo dos Reis Araújo, tapi ahli strateginya adalah

José Fernando Osório Soares, yang keluar dari ASDT untuk menjadi

Sekretaris Jenderal Apodeti. Tokoh penting lain adalah pemilik perkebunan

kopi, Hermenegildo Martins. Liurai Atsabe, Guilherme Maria Gonçalves,

bergabung dengan Apodeti tidak lama setelah pembentukannya, dengan

membawa pendukung yang berasal dari basis kekuasaan regionalnya (Horta,

1998: 47-50). Konsul Indonesia di Dili, Elias Tomodok, menjadi

(6)

Megi Ginanjar Rahmat, 2014

DAMPAK REVOLUSI BUNGA DI PORTUGAL TERHADAP DINAMIKA MASYARAKAT TIMOR PORTUGIS (1974-1976)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

selama periode tahun 1974-75. Manifesto Apodeti menyatakan tujuan

integrasi yang bersifat otonom dengan Indonesia, sesuai hukum

internasional. Senada dengan dua partai besar yang lain, Apodeti mengutuk

sejumlah keburukan dalam pemerintahan Portugis seperti korupsi dan

diskriminasi, dan juga berjanji akan menghormati hak-hak asasi manusia

dan kebebasan individu.

Dengan terbentuknya organisasi-organisasi tersebut, untuk

menentukan kedudukan Timor Timur dikemudian hari maka diadakan

referendum dengan ketiga organisasi tersebut sebagai wadah pembawa

aspirasi rakyat dan sebagai suatu kenyataan yang hidup untuk menentukan

nasib sendiri (Soekanto, 1976: 380).

Berdasarkan beberapa permasalahan di atas mengenai dinamika sosial

politik Timor Timur pasca Revolusi Bunga, dimana sebelum terjadinya

kudeta di Timor Timur mengalami penjajahan oleh bangsa Portugis dan

mengalami kekacauan, kemudian muncul reaksi dalam

perlawanan-perlawanan salah satu perlawanan-perlawanan terhadap pemerintahan kolonial Portugis

yang cukup besardan terorganisasi adalah Perlawanan Viqueque. Dengan

adanya pergantian pemerintahan di Portugal sebagai hasil kudeta yang

mempengaruhi perkembangan politik di daerah-daerah jajahannya, terutama

dalam aspirasi politik untuk melepaskan diri dari ikatan penjajahan menuju

kemerdekaan. Permasalahan yang timbul adalah bagaimana keadaan sosial

politik di Timor Timur setelah berhasilnya kudeta atau Revolusi Bunga

dilaksanakan.

Permasalahan tersebut membuat ketertarikan penulis untuk mengkaji

lebih dalam mengenai sosial politik di Timor Timur pasca Revolusi Bunga.

Berdasarkan permasalahan diatas kemudian penulis bermaksud mengangkat

peristiwa tersebut ke dalam sebuah skripsi yang berjudul DAMPAK

REVOLUSI BUNGA DI PORTUGAL TERHADAP DINAMIKA

MASYARAKAT TIMOR PORTUGIS (1974-1976). Maksud yang

(7)

Megi Ginanjar Rahmat, 2014

DAMPAK REVOLUSI BUNGA DI PORTUGAL TERHADAP DINAMIKA MASYARAKAT TIMOR PORTUGIS (1974-1976)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

berdarah untuk mengakhiri kediktatoran yang berjalan selama 50 tahun

rezim Caetano yang terjadi atas pemerintahan sebelumnya yang bersifat

otoriter, dan tidak demokratis di Portugal, tahun 1974 merupakan terjadinya

Revolusi Bunga di bawah pimpinan Jendral De Spinola terhadap

pemerintahan Caetano, kemudian pada tahun 1976 merupakan

berintegrasinya Timor Timur ke dalam wilayah Republik Indonesia.

1.2 Rumusan dan Batasan Masalah

Berdasarkan pokok-pokok pemikiran di atas terdapat beberapa

permasalahan yang akan menjadi kajian dalam penulisan skripsi ini. Adapun

permasalahan pokoknya adalah bagaimana dampak Revolusi Bunga

Terhadap Dinamika Masyarakat Timor Timur 1974-1976?

Sementara untuk membatasi kajian penelitian ini, maka diajukan

beberapa pertanyaan sekaligus sebagi rumusan masalah yang akan dibahas

dalam penulisan skripsi ini antara lain:

1. Mengapa terjadi Revolusi Bunga di Portugal ?

2. Bagaimana proses terjadinya Revolusi Bunga di Portugal 1974-1976?

3. Bagaimana dampak dari Revolusi Bunga di Portugal terhadap kehidupan

masyarakat Timor Timur 1974-1976?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang hendak penulis capai dalam penulisan ini antara

lain:

1. Mendeskripsikan kondisi Timor Timur sebelum terjadi Revolusi Bunga.

2. Mendeskripsikan proses terjadinya Revolusi Bunga di Portugal

1974-1976.

3. Mendeskripsikan kondisi sosial politik Timor Timur pasca Revolusi

Bunga 1974-1976.

1.4 Manfaat penelitian

(8)

Megi Ginanjar Rahmat, 2014

DAMPAK REVOLUSI BUNGA DI PORTUGAL TERHADAP DINAMIKA MASYARAKAT TIMOR PORTUGIS (1974-1976)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

1. Bagi peneliti dapat mengaplikasikan teori-teori yang didapat dibangku

perkuliahan.

2. Menambahkan penulisan sejarah Indonesia pada Masa Orde Baru.

3. Menambah kajian sejarah SMA kelas XII IPA semester 2 sesuai dengan

Standar Kompetisi 3. Merekontruksi perjuangan bangsa Indonesia sejak

masa Proklamasi sampai masa Reformasi, Kompetensi Dasar 3.1

merekontruksi perkembangan masyarakat Indonesia pada masa Orde

Baru.

1.5 Struktur Organisasi

Adapun sistematika dalam penulisan skripsi yang akan dilakukan oleh

peneliti adalah :

Bab I Pendahuluan, Bab ini akan dipaparkan tentang latar belakang

masalah yang berisi gambaran umum mengenai permasalahan yang akan

peneliti kaji, yaitu tentang pengaruh Revolusi Bunga terhadap dinamika

sosial politik di Timor Portugis 1974-1976. Bab ini juga berisi perumusan

dan pembatasan masalah yang disajikan dalam bentuk pertanyaan untuk

mempermudah peneliti mengkaji dan mengarahkan pembahasan serta

metode dan teknik penelitian sebagai cara untuk mendapatkan data dan

fakta, dan terakhir sistematika penulisan.

Bab II Tinjauan Pustaka dan Landasan Teoretis, dalam bab ini

akan diuraikan dan dikaji mengenai beberapa konsep dan teori yang relevan

dengan tema penelitian, kajian pustaka ini digunakan penulis sebagai

landasan berfikir dalam mengkaji dan menganalisis permasalahan.

Kemudian penulis akan mengemukakan penjelasan mengenai

konsep-konsep yang relevan dengan tema yang akan diangkat, serta menyediakan

suatu kerangka pemikiran yang mencakup beberapa teori yang akan dipakai

dalam membuat analisis. Masih sedikit yang membahas lengkap sesuai

dengan judul yang peneliti angkat, tetapi peneliti menggunakan referensi

(9)

Megi Ginanjar Rahmat, 2014

DAMPAK REVOLUSI BUNGA DI PORTUGAL TERHADAP DINAMIKA MASYARAKAT TIMOR PORTUGIS (1974-1976)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

berfikir bagi penulis untuk dapat memahami temuan-temuan yang diperoleh

di lapangan yang berhubungan dengan dinamika sosial politik pasca

revolusi bunga 1974-1976.

Bab III Metodologi Penelitian, Bab ini akan dibahas tentang

langkah-langkah, metode dan teknik penelitian yang ditempuh oleh peneliti

dalam melaksanakan penelitian yaitu pencarian sumber, pengolahan sumber

dengan menggunakan kritik eksternal dan internal, serta interpretasi berupa

analisis fakta-fakta yang sudah didapat dan terakhir historiografi yaitu

penulisan laporan penelitian.

BAB IV Dampak Revolusi Bunga di Portugal Terhadap Dinamika

Masyarakat Timor Portugis (1974-1976), Bab ini memuat uraian

penjelasan dan analisis dari hasil penelitian yang berkaitan dengan

permasalahan dalam rumusan masalah. Dalam bab ini akan dibahas

mengenaiDampak Revolusi Bunga Terhadap Dinamika Sosial Politik Timor

Portugis 1974-1976. Selain itu, dalam bab ini akan dipaparkan pula

beberapa analisis yang dapat mempermudah dalam pemecahan masalah

dalam penelitian ini.

Bab V Kesimpulan, Bab ini merupakan pembahasan terakhir dimana

peneliti memberikan suatu kesimpulan dari hasil interpretasi terhadap

jumlah masalah dalam penelitian. Interpretasi peneliti ini disertai dengan

analisis peneliti dalam membuat kesimpulan atas jawaban-jawaban dari

permasalahan-permasalahan yang dirumuskan dalam suatu rumusan

masalah. Selain itu, dalam bab ini juga berisikan saran dari peneliti yang

Referensi

Dokumen terkait

Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Liang (2005), menjelaskan bahwa biji kering dari salagundi memliki efektivitas menurunkan tekanan darah (antihipertensi),

Dari kondisi geografis Indonesia yang rawan dengan kejadian gempa dan melihat beberapa keuntungan dan kelemahan oleh sistem flate plate antara lain lebih ekonomis,

Keputusan hakim yang menyatakan seseorang bersalah atas perbuatan pidana yang dimaksud dalam pasal 13, menentukan pula perintah terhadap yang bersalah untuk

Objektif pengauditan dijalankan adalah untuk menilai sama ada pengurusan Tanah Rizab Melayu (TRM) oleh Jabatan Tanah Dan Galian Negeri Perlis telah dilaksanakan

posisi fitur pada wajah seperti mata, hidung, dan mulut sehingga peran dari blok pre- processing cukup vital dalam sistem pengenalan wajah yang telah dibuat,

Hasil uji statistik 0,000 maka dapat disimpulkan ada perbedaan signifikan antara pretest tingkat kelelahan mata sebelum dilakukan senam mata dan post test 4 tingkat kelelahan

Dari analisis diatas data yang telah dilakukan menunjukkan bahwa hipotesis pertama yang diajukan yakni ada perbedaan abnormal return sebelum dan sesudah peristiwa mundurnya

Tubektomi (Metode Operasi Wanita/ MOW) adalah metode kontrasepsi mantap yang bersifat sukarela bagi seorang wanita bila tidak ingin hamil lagi dengan cara mengoklusi tuba